Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA
Dosen Teologi dan Filsafat FF-UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI
Sekarang tanggal 23 Desember. Besok 24 Desember. Besok sore pukul 17.00 itulah Misa Sore/Malam Natal Pertama di Paroki kami di Santo Martinus, Lanud Sulaiman, Bandung. Kali ini saya bertugas menjadi dirigen karena isteriku harus membantu kelompok sopran yang tidak begitu kuat. Saya berharap semoga semuanya berjalan dengan baik. Menjelang perayaan Natal seperti ini, entah mengapa, selalu saja ada sebuah perasaan haru-indah yang masuk dan melanda ke dalam hati. Mungkin karena Natal itu adalah sebuah pesta keluarga, sebuah pesta romantis, sebuah pesta nostalgia, kelahiran.
Sebagai persiapan natal tahun ini saya membaca kembali sebuah buku lama yang saya terjemahkan dulu. Terjemahan itu diterbitkan Kanisius tahun 1995. Itu hasil karya seorang ahli Kitab Suci Katolik Amerika, imam kongregasi Saint Sulpice bernama Raymond E.Brown (REB). Judul buku itu dalam bahasa Inggris ialah: An Adult Christ at Christmas. Dalam terjemahan bahasa Indonesia judulnya ialah: Kristus Yang Dewasa Pada Masa Natal. Sekarang saya membaca buku itu dalam teks Inggris. Sebagaimana buku Kedatangan Kristus Pada Masa Advent, yang sudah saya ulas sedikit dalam karangan lain, buku tentang Natal ini, merupakan versi populer dari buku babon beliau: The Birth of Messiah.
Mengenai buku ini saya ingin mengatakan dua hal. Pertama, buku ini merupakan gerak terakhir dari perjalanan wahyu Kristologis yang berjalan mundur. REB memberi istilah: Regresive Christology, atau Kristologi regresif, Kristologi yang bergerak mundur. Mungkin pembaca bertanya, bergerak mundur ke mana? Untuk menjelaskan hal itu baiklah saya jelaskan dengan cara ini.
Pengalaman iman paling fundamental orang Kristen perdana ialah perjumpaan dengan Kristus yang bangkit dari alam maut. Beberapa hari sebelumnya, mereka menyaksikan Yesus mengalami sakratulmaut setelah mengalami penderitaan yang mengerikan berupa penyaliban. Yesus mati secara amat terhina di salib. Para pengikut itu sudah memakamkan Yesus di tempat yang layak setelah meminta ijin penguasa. Tanpa diduga-duga, tiga hari (hari ketiga) sesudah peristiwa kematian itu tiba-tiba Yesus menampakkan Diri dan memberitahukan bahwa Ia bangkit dari mati. Pengalaman itu begitu mencengangkan bagi mereka. Ketercengangan itu, mendorong mereka, yang tadinya dilanda ketakutan ngeri, mulai bergerak mewartakan pengalaman dan peristiwa agung itu.
Saat mereka mewartakan peristiwa agung yang mencengangkan itu, ada yang menerimanya dan percaya. Ada juga yang tidak percaya dan menolak. Mereka yang menolak, tentu tidak akan berurusan apa-apa lagi dengan hal itu. Sedangkan mereka menerima, peristiwa itu menjadi pokok dan dasar iman mereka. Mereka begitu yakin dengan kepercayaan itu sehingga mereka tidak bisa diam. Mereka terus bergerak untuk mewartakannya dan bersaksi tentang peristiwa mendasar itu. Saat mereka mewartakan hal itu, bisa dibayangkan bahwa terbangun apa yang oleh E.Schillebeeckx disebut cathecetical relationship, relasi kateketis. Yang dimaksudkan ialah sbb: saat para murid perdana mewartakan kabar kebangkitan Kristus, para pendengar yang menerima dan percaya, karena didorong rasa ingin tahu yang dalam, bertanya kepada para pewarta itu. Pertanyaan mereka ialah: Kristus yang menderita sengsara, wafat, dan bangkit ini, dulunya seperti apa?
Karena ditantang oleh pertanyaan seperti itu dalam relasi kateketis, maka para pewarta awal mula itu pun mulai menyusun, dalam bentuk ingatan kolektif dan personal, pelbagai macam ingatan akan Yesus yang berkarya di muka umum. Dari situ muncul koleksi beberapa ajaran dan nasihat Yesus. Dari situ juga muncul koleksi beberapa kesaksian tentang mukjizat yang pernah dikerjakan Yesus. Sejak itu tersedia dua koleksi ingatan akan peristiwa Yesus. Pertama, ingatan akan peristiwa sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus. Kedua, ingatan akan peristiwa Yesus berkarya di depan umum.
Ternyata gelombang relasi kateketis itu tidak berhenti di situ. Setelah mendapat cerita tentang Yesus yang tampil di muka umum, muncul pertanyaan lain dari para pendengar yang ingin tahu, tentang masa kecil Yesus. Markus tidak memiliki kisah masa kanak-kanak (The Infancy Narratives). Kisah-kisah itu hanya kita dapatkan dari Matius dan Lukas. Kedua penginjil ini menceritakan kepada kita kisah masa kanak-kanak Yesus yang oleh REB diulas secara mendalam dalam buku The Birth of Messiah tadi. Yohanes melangkah lebih jauh lagi, melampaui kelahiran itu sendiri. Yohanes berbicara tentang pada awal mula, en arche, kesaksian tentang Kristologi pra-eksistensi. Keempat injil yang kita miliki tidak menyinggung masa-masa remaja dan masa Yesus sebagai pemuda. Sebab menurut kisah Lukas, kisah masa kanak-kanak itu diakhiri dengan usia duabelas tahun. Diduga saat Yesus tampil berkarya di muka umum, ia berusia 29-30 tahun. Maka kita tidak tahu apa-apa tentang tahun-tahun yang gelap itu (the missing years in the life of Jesus). Ada banyak spekulasi apokrif tentang hal itu. Tetapi saya tidak membahas hal itu di sini. Saya saya cukupkan sampai di sini saja ulasan itu.
Akhirnya, ini yang kedua, saya hanya mau mengatakan bahwa menurut REB, pola yang terjadi pada peristiwa warta kebangkitan, juga terjadi pada pola warta atau kisah kelahiran. Ada yang menerima dan menjadi percaya. Itu diwakili oleh para gembala (Lukas) dan tiga raja dari Timur (Matius). Yang menolak diwakili Raja Herodes yang mencoba membunuh Yesus (Matius). Kisah penolakan itu kita rasakan juga dalam kisah-kisah Natal ini.
Sebagai orang Kristen tentu kita akan terus menggemakan kisah-kisah penerimaan akan Yesus walau tidak usah terlalu heran bahwa akan selalu ada orang yang menolaknya juga sekarang ini. Tetapi kita jangan berkecil hati. Sebab Yesus sendiri juga sudah ditolak. Sebagai para pengikut kita tidak bisa berharap akan nasib yang lebih baik. Urusan kita ialah menerima Yesus itu dan mewartakan Dia dengan cara dan kesaksian hidup kita. Sebab itu yang paling kuat dan penting.
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Sunday, December 23, 2018
Saturday, December 22, 2018
HIDUP BERSAKU-TANGAN
Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.
Dosen Filsafat dan Teologi FF-UNPAR, Bandung. Anggota LBI.
Beberapa waktu lalu saya mendapat kiriman video pendek lewat beberapa WA Group. Film itu sangat menarik. Bahkan mendapat penghargaan tertinggi dalam kompetisi perfilman di Amerika dengan kategori film animasi terpendek. Saya lupa judulnya. Tetapi di sini saya memakai judul lain: Hidup Bersaku Tangan. Film ini berkisah tentang pria yang apatis (cuek) terhadap dunia sekitarnya. Apatisme (cuekisme) itu ditampakkan dengan cara ia berjalan: kedua tangannya dimasukkan ke saku celananya. Tampaknya ia bahagia dan menikmati gayanya itu. Ia tidak menaruh peduli pada apa yang terjadi dengan orang lain di sekitarnya. Ia merasa bahwa ia tidak perlu menaruh peduli atau bertanggung-jawab terhadap apa pun yang terjadi di sekitarnya.
Beberapa adegan dalam film itu mengilustrasikan hal itu. Pertama, saat pria itu masuk lift. Saat pintu lift itu menutup, dan saat yang sama ada gadis yang juga ingin masuk. Tetapi rada terlambat. Seharusnya pria itu bisa menolong gadis kecil itu masuk lift asal pria itu mau menekan tombol penahan pintu. Tetapi hal itu tidak ia lakukan karena kedua tangannya tertancap aman-nyaman dalam sakunya. Ia hanya menonton gadis itu yang dengan tatap matanya membahasakan permohonan bantuan dan rada kecewa bahwa pertolongan itu tidak ia dapatkan.
Kasus kedua. Ada orang sedang memasukkan belanjaan ke mobil. Tetapi troley-nya menggelinding kencang di trotoar menjauh darinya. Ia tidak sanggup mengejarnya. Troley itu melaju persis di samping pria tadi. Tetapi ia tidak mengeluarkan tangannya untuk menahan troley itu. Ia sama sekali tidak mau membantu padahal si empunya troley melambaikan tangan meminta bantuan. Kasus ketiga ada seorang anak kecil bermain balon. Saat ia bersin balon itu terlepas. Pria itu tidak menolong dengan menangkap balon itu. Kasus keempat, saat si pria tadi tidak menaruh perhatian terhadap tawaran manis dan ramah seorang sukarelawati yang menawarkan sebuah program kemanusiaan. Pria itu tidak menerima poster kecil yang ditawarkan sukarelawati tersebut, karena kedua tangannya tertancap di saku celananya. Ia berjalan lewat begitu saja. Tidak ada satu peristiwa pun yang mendorong dia untuk mengeluarkan tangannya dari sakunya dan diulurkan kepada orang di sekitar.
Akhirnya saat itu tiba. Tanpa diduga-duga. Saat ia menunggu lampu hijau untuk menyeberang di traffic light, tiba-tiba tangannya yang tertancap di saku celana itu dipegang oleh nenek tua. Saat lampu hijau menyala bagi para pejalan kaki, ia pun menyeberang dengan sangat pelan mengikuti gerak si nenek tua tersebut. Karena tua, maka nenek itu berjalan lambat. Dan pria itu, walau kedua tangannya masih tertancap di sakunya, mencoba berjalan dengan sabar mengikuti langkah si nenek tua itu. Sementara lalu lintas padat. Ada yang sabar menunggu si nenek berjalan lewat. Tetapi ada juga yang tidak sabar. Ia ngebut bahkan di lampu hijau untuk pejalan kaki. Persis saat itulah, si pengemudi yang ngebut itu hampir menabrak si lelaki cuek tadi dan nenek. Tepat saat itulah si pria tadi mengeluarkan tangan kanannya dan meminta kepada si pengemudi ngebut itu agar berhenti. Dan tepat pada waktunya, mobil tadi berhenti persis di samping mereka berdua.
Saat itulah, pria tadi menyadari arti penting tangannya. Nenek tua itu berterima-kasih dengan mengecup pipinya. Terjadilah perubahan, transformasi, metanoia, perubahan hati, perubahan (meta) cara berpikir (nous) itu. Saat tiba di rumah, pria tadi duduk di sofa lalu memandang mula-mula tangan kanannya yang berhasil menolong mereka dari tabrakan. Lalu memandang kedua tangannya, juga tangan kiri yang dipakai si nenek tadi berpegangan saat menyeberang. Entah apa yang dipikirkan si pria itu. Tetapi kita bisa menduga: Ternyata tanganku yang selama ini tertancap di sakuku, bisa juga berbuat sesuatu untuk menolong orang lain, betapa pun hal itu sangat kecil dan sederhana. Sejak itu terjadi perubahan besar dalam hidup orang tersebut: ia tidak lagi cuek, tidak lagi apatis. Melainkan menaruh perhatian, kepedulian. Semua kejadian di atas tadi, terulang kembali tetapi sekarang ia menaruh peduli. Ia berubah dari saku-tangan ke tangan yang rela membantu, tangan yang terulur kepada sesama.
Dalam bahasa Melayu klasik ada ungkapan serupa itu: pangku tangan. Istilah berpangku tangan dalam kultur Melayu dipakai untuk mengungkapkan sikap malas. Itu adalah orang yang tidak mau berbuat apa-apa. Ia hanya duduk dan kedua tangannya diletakkan di atas pangkuannya. Tetapi kemalasan juga adalah sebentuk apatisme atau cuekisme terhadap hidup. Kemalasan adalah sebuah sikap yang tidak menaruh kepedulian terhadap hidup itu sendiri.
Dalam kitab Amsal ada empat nasihat Guru Hikmat untuk menasihati kaum muda yang belum berpengalaman (berpendidikan). Salah satunya ialah nasihat untuk menjauhi kemalasan dan orang malas. Sebab kemalasan dan orang malas dianggap sebagai racun berbahaya dan membahayakan. Tiga yang lain ialah nasihat untuk berhati-hati terhadap teman yang jahat, terhadap wanita jalang (ada yang mengatakan “isteri orang”). Untuk menghindari semuanya itu, Guru Hikmat menganjurkan para muridnya agar mau mendengarkan suara Hikmat yang digambarkan sebagai nabiah yang mewartakan suaranya dari atas tempat terbuka dan di pinggir jalan. Kemalasan itu dalam beberapa kebudayaan dikaitkan dengan sikap tangan yaitu berpangku tangan atau bersaku tangan tadi. Orang cuek, orang apatis. Kemalasan dan cuekisme (apatisme) sangat berbahaya.
Dalam kebudayaan Manggarai, ungkapannya sedikit lain, tetapi maknanya sama. Yaitu temba-tesang. Posisinya sbb: orang duduk di lantai. Lalu kedua siku tangannya diletakkan di atas pahanya (berpangku tangan), kemudian kedua telapak tangannya menopang dagu dan jari kedua tangannya menempel di pipi. Itu tanda malas. Dalam kebudayaan Manggarai duduk seperti itu, lonto temba-tesang adalah tanda malas. Biasanya orang tua melarang atau menasihati anak-anaknya, terutama perempuan, agar tidak lonto-temba-tesang, sebab posisi duduk seperti itu adalah tanda kemalasan, tanda ketidak-sigapan.
Dosen Filsafat dan Teologi FF-UNPAR, Bandung. Anggota LBI.
Beberapa waktu lalu saya mendapat kiriman video pendek lewat beberapa WA Group. Film itu sangat menarik. Bahkan mendapat penghargaan tertinggi dalam kompetisi perfilman di Amerika dengan kategori film animasi terpendek. Saya lupa judulnya. Tetapi di sini saya memakai judul lain: Hidup Bersaku Tangan. Film ini berkisah tentang pria yang apatis (cuek) terhadap dunia sekitarnya. Apatisme (cuekisme) itu ditampakkan dengan cara ia berjalan: kedua tangannya dimasukkan ke saku celananya. Tampaknya ia bahagia dan menikmati gayanya itu. Ia tidak menaruh peduli pada apa yang terjadi dengan orang lain di sekitarnya. Ia merasa bahwa ia tidak perlu menaruh peduli atau bertanggung-jawab terhadap apa pun yang terjadi di sekitarnya.
Beberapa adegan dalam film itu mengilustrasikan hal itu. Pertama, saat pria itu masuk lift. Saat pintu lift itu menutup, dan saat yang sama ada gadis yang juga ingin masuk. Tetapi rada terlambat. Seharusnya pria itu bisa menolong gadis kecil itu masuk lift asal pria itu mau menekan tombol penahan pintu. Tetapi hal itu tidak ia lakukan karena kedua tangannya tertancap aman-nyaman dalam sakunya. Ia hanya menonton gadis itu yang dengan tatap matanya membahasakan permohonan bantuan dan rada kecewa bahwa pertolongan itu tidak ia dapatkan.
Kasus kedua. Ada orang sedang memasukkan belanjaan ke mobil. Tetapi troley-nya menggelinding kencang di trotoar menjauh darinya. Ia tidak sanggup mengejarnya. Troley itu melaju persis di samping pria tadi. Tetapi ia tidak mengeluarkan tangannya untuk menahan troley itu. Ia sama sekali tidak mau membantu padahal si empunya troley melambaikan tangan meminta bantuan. Kasus ketiga ada seorang anak kecil bermain balon. Saat ia bersin balon itu terlepas. Pria itu tidak menolong dengan menangkap balon itu. Kasus keempat, saat si pria tadi tidak menaruh perhatian terhadap tawaran manis dan ramah seorang sukarelawati yang menawarkan sebuah program kemanusiaan. Pria itu tidak menerima poster kecil yang ditawarkan sukarelawati tersebut, karena kedua tangannya tertancap di saku celananya. Ia berjalan lewat begitu saja. Tidak ada satu peristiwa pun yang mendorong dia untuk mengeluarkan tangannya dari sakunya dan diulurkan kepada orang di sekitar.
Akhirnya saat itu tiba. Tanpa diduga-duga. Saat ia menunggu lampu hijau untuk menyeberang di traffic light, tiba-tiba tangannya yang tertancap di saku celana itu dipegang oleh nenek tua. Saat lampu hijau menyala bagi para pejalan kaki, ia pun menyeberang dengan sangat pelan mengikuti gerak si nenek tua tersebut. Karena tua, maka nenek itu berjalan lambat. Dan pria itu, walau kedua tangannya masih tertancap di sakunya, mencoba berjalan dengan sabar mengikuti langkah si nenek tua itu. Sementara lalu lintas padat. Ada yang sabar menunggu si nenek berjalan lewat. Tetapi ada juga yang tidak sabar. Ia ngebut bahkan di lampu hijau untuk pejalan kaki. Persis saat itulah, si pengemudi yang ngebut itu hampir menabrak si lelaki cuek tadi dan nenek. Tepat saat itulah si pria tadi mengeluarkan tangan kanannya dan meminta kepada si pengemudi ngebut itu agar berhenti. Dan tepat pada waktunya, mobil tadi berhenti persis di samping mereka berdua.
Saat itulah, pria tadi menyadari arti penting tangannya. Nenek tua itu berterima-kasih dengan mengecup pipinya. Terjadilah perubahan, transformasi, metanoia, perubahan hati, perubahan (meta) cara berpikir (nous) itu. Saat tiba di rumah, pria tadi duduk di sofa lalu memandang mula-mula tangan kanannya yang berhasil menolong mereka dari tabrakan. Lalu memandang kedua tangannya, juga tangan kiri yang dipakai si nenek tadi berpegangan saat menyeberang. Entah apa yang dipikirkan si pria itu. Tetapi kita bisa menduga: Ternyata tanganku yang selama ini tertancap di sakuku, bisa juga berbuat sesuatu untuk menolong orang lain, betapa pun hal itu sangat kecil dan sederhana. Sejak itu terjadi perubahan besar dalam hidup orang tersebut: ia tidak lagi cuek, tidak lagi apatis. Melainkan menaruh perhatian, kepedulian. Semua kejadian di atas tadi, terulang kembali tetapi sekarang ia menaruh peduli. Ia berubah dari saku-tangan ke tangan yang rela membantu, tangan yang terulur kepada sesama.
Dalam bahasa Melayu klasik ada ungkapan serupa itu: pangku tangan. Istilah berpangku tangan dalam kultur Melayu dipakai untuk mengungkapkan sikap malas. Itu adalah orang yang tidak mau berbuat apa-apa. Ia hanya duduk dan kedua tangannya diletakkan di atas pangkuannya. Tetapi kemalasan juga adalah sebentuk apatisme atau cuekisme terhadap hidup. Kemalasan adalah sebuah sikap yang tidak menaruh kepedulian terhadap hidup itu sendiri.
Dalam kitab Amsal ada empat nasihat Guru Hikmat untuk menasihati kaum muda yang belum berpengalaman (berpendidikan). Salah satunya ialah nasihat untuk menjauhi kemalasan dan orang malas. Sebab kemalasan dan orang malas dianggap sebagai racun berbahaya dan membahayakan. Tiga yang lain ialah nasihat untuk berhati-hati terhadap teman yang jahat, terhadap wanita jalang (ada yang mengatakan “isteri orang”). Untuk menghindari semuanya itu, Guru Hikmat menganjurkan para muridnya agar mau mendengarkan suara Hikmat yang digambarkan sebagai nabiah yang mewartakan suaranya dari atas tempat terbuka dan di pinggir jalan. Kemalasan itu dalam beberapa kebudayaan dikaitkan dengan sikap tangan yaitu berpangku tangan atau bersaku tangan tadi. Orang cuek, orang apatis. Kemalasan dan cuekisme (apatisme) sangat berbahaya.
Dalam kebudayaan Manggarai, ungkapannya sedikit lain, tetapi maknanya sama. Yaitu temba-tesang. Posisinya sbb: orang duduk di lantai. Lalu kedua siku tangannya diletakkan di atas pahanya (berpangku tangan), kemudian kedua telapak tangannya menopang dagu dan jari kedua tangannya menempel di pipi. Itu tanda malas. Dalam kebudayaan Manggarai duduk seperti itu, lonto temba-tesang adalah tanda malas. Biasanya orang tua melarang atau menasihati anak-anaknya, terutama perempuan, agar tidak lonto-temba-tesang, sebab posisi duduk seperti itu adalah tanda kemalasan, tanda ketidak-sigapan.
Monday, December 17, 2018
IMAJINASI PERSEPSI WAKTU
Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.
Dosen Fakultas Filsafat UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI.
Dulu, saat masih di Manggarai, Flores, saya melewatkan masa kecilku di SDK Lamba-Ketang, pusat Paroki Ketang. Sebelumnya Paroki ada di Rejeng. Tetapi kemudian pusat paroki dipindahkan ke Ketang. Sebagaimana biasa, selama masa hari raya gereja (Natal, Paskah, dan Pentakosta), pusat Paroki ini menjadi sangat ramai. Semua umat dari stasi datang berkumpul di pusat Paroki untuk bersama-sama merayakan Paskah, Natal, dan Pentakosta. Pusat Paroki Ketang yang biasanya tidak ramai, menjadi sangat ramai pada hari-hari Raya. Ada pertandingan bola kaki, dan bola kasti untuk tingkat SD. Ada juga pertandingan bola kaki dan bola voley untuk orang dewasa. Begitulah gambaran masyarakat yang sangat kental diwarnai oleh perayaan gereja Katolik.
Terkait dengan hari raya keagamaan dan kegerejaan ini, ada satu fenomena yang bagi saya sangat menarik. Sebagaimana dikatakan seorang antropolog (lupa namanya, apakah Paul Webb, ataukah James Fox) yang meneliti Flores termasuk Manggarai, bahwa di Flores, semut pun Katolik. Entah apa yang ia maksudkan dengan ungkapan itu. Ketika pertama kali saya membaca hal itu, tiba-tiba imajinasiku terlontar ke masa kecilku di Ketang. Saat istirahat sekolah, anak-anak biasanya keluar dari kelas dan berkumpul di halaman sekolah atau bermain di sekitar sekolah. Kami benar-benar bermain di tengah alam, apa adanya.
Saat itulah tidak jarang kami mengamati semut-semut berjalan beriring. Apabila saat itu berbarengan dengan masa menjelang minggu palma (Minggu daun-daun), maka kami mengatakan bahwa semut-semut itu pergi ke pusat paroki (entah di mana) untuk merayakan Minggu Palma. Atau saat menjelang Paskah maka kami mengatakan, semut-semut itu pergi Paskah. Atau saat menjelang Pentakosta, maka kami mengatakan bahwa semut-semut itu pergi Pentakosta. Atau menjelang Natal, maka kami mengatakan bahwa semut-semut itu pergi Natal. Jadi, begitulah saya memahami ucapan si antropolog tadi. Bahkan kalau ada semut yang kebetulan membawa ranting kecil, maka kami mengatakan bahwa semut itu memikul daun palma untuk dibagikan kepada seluruh umat yang hadir. Kalau pas tidak lagi ada hari raya gerejani (yaitu masa biasa), maka kami membayangkan bahwa semut-semut itu beriringan untuk pergi ke sekolah (sesuatu yang begitu dekat dengan pengalaman nyata kami sebab kami memang ke sekolah setiap hari). Jadi, apa yang terjadi, dialami, dan disaksikan anak-anak dalam kehidupan nyata sosial mereka, diproyeksikan kepada kehidupan dan perilaku hidup semut-semut. Kiranya itu yang dimaksudkan si antropolog tadi ketika ia berkata bahwa di Flores semut-semutpun Katolik.
Ketika saya menulis untaian pengamatan masa kecil itu, saya bertanya secara kritis historis sebagai berikut: Bagaimanakah imajinasi persepsi waktu anak-anak dulu sebelum generasi kami, generasi para orang tua kami yang kiranya termasuk generasi pertama dalam proses menjadi Katolik. Saya membayangkan bahwa kategori pembagian waktu yang mereka pakai kiranya tidak berasal dari kategori pembagian waktu yang ditawarkan Gereja sebagaimana yang terjadi pada masa kami. Kiranya mereka memakai kategori pembagian waktu lama atau tradisional. Karena itu, titik acuan yang mereka pakai pun bukan pesta atau perayaan Gerejani, melainkan pesta atau perayaan asli Manggarai.
Saya membayangkan (karena belum pernah mengalaminya), betapa anak-anak dulu, saat mengamati semut-semut berjalan, mengatakan bahwa semut-semut ini pergi menghadiri pesta penti di salah satu kampung. Mungkin juga mereka berkata bahwa semut-semut itu pergi pesta wagal, salah satu titik puncak pesta perkawinan dalam tradisi Manggarai. Atau bisa juga mengatakan bahwa semut-semut itu pergi bermain caci di salah satu kampung. Saya juga membayangkan bahwa kalau ada seekor semut yang tampak lebih besar dari yang lain, maka semut itu dianggap sebagai ketua rombongan dalam ritual ba leso (harafiah: membawa matahari) untuk pesta caci di kampung lain.
Dengan demikian masing-masing angkatan memiliki imajinasi persepsi ruang dan waktunya sendiri. Imajinasi itu sangat tergantung pada kerangka hidup sosial keagamaan yang paling dominan mereka alami. Dulu saat gereja belum begitu berpengaruh, pasti imajinasi waktu itu dipengaruhi oleh pelbagai pesta adat yang dulu memang sangat banyak dalam kehidupan orang Manggarai. Dewasa ini, saat orang menjadi Katolik, maka imajinasi persepsi waktu itu dipengaruhi oleh pelbagai pesta atau perayaan liturgi gereja. Jadi, ada sebuah pergeseran besar dari imajinasi persepsi waktu yang lama ke imajinasi persepsi waktu yang baru.
Bisa dipahami bahwa imajinasi persepsi waktu yang lama, semuanya sudah tergeser karena dewasa ini orang Manggarai tidak lagi memakai sistem Kalender tradisional mereka sendiri. Melainkan mereka sudah memakai sistem kalender masehi atau internasional. Dalam penelitian saya, saya menemukan bahwa para peneliti Manggarai dulu sudah menemukan setidaknya empat atau lima sistem kalender tradisional itu yang berpusat pada pesta penti. Memang dewasa ini pesta penti itu masih ada, tetapi rasanya sudah sedikit pudar oleh pesta dan perayaan-perayaan besar dari kehidupan liturgi Gereja. Maka tidak mengherankan bahwa imajinasi persepsi ruang orang Manggarai dewasa ini, sangat dipengaruhi oleh sistem kalender modern yang mereka pakai.
Kembali ke semut-semut di atas tadi. Tentu saja semut-semut itu akan selalu berperilaku seperti itu dari dulu sampai kapanpun. Hanya saja, cara anak-anak mencoba memahami dan melukiskan perilaku hidup semut itu, yang berubah atau mengalami pergeseran. Dan tentu saja hal itu tidak terhindarkan sama sekali.
Dosen Fakultas Filsafat UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI.
Dulu, saat masih di Manggarai, Flores, saya melewatkan masa kecilku di SDK Lamba-Ketang, pusat Paroki Ketang. Sebelumnya Paroki ada di Rejeng. Tetapi kemudian pusat paroki dipindahkan ke Ketang. Sebagaimana biasa, selama masa hari raya gereja (Natal, Paskah, dan Pentakosta), pusat Paroki ini menjadi sangat ramai. Semua umat dari stasi datang berkumpul di pusat Paroki untuk bersama-sama merayakan Paskah, Natal, dan Pentakosta. Pusat Paroki Ketang yang biasanya tidak ramai, menjadi sangat ramai pada hari-hari Raya. Ada pertandingan bola kaki, dan bola kasti untuk tingkat SD. Ada juga pertandingan bola kaki dan bola voley untuk orang dewasa. Begitulah gambaran masyarakat yang sangat kental diwarnai oleh perayaan gereja Katolik.
Terkait dengan hari raya keagamaan dan kegerejaan ini, ada satu fenomena yang bagi saya sangat menarik. Sebagaimana dikatakan seorang antropolog (lupa namanya, apakah Paul Webb, ataukah James Fox) yang meneliti Flores termasuk Manggarai, bahwa di Flores, semut pun Katolik. Entah apa yang ia maksudkan dengan ungkapan itu. Ketika pertama kali saya membaca hal itu, tiba-tiba imajinasiku terlontar ke masa kecilku di Ketang. Saat istirahat sekolah, anak-anak biasanya keluar dari kelas dan berkumpul di halaman sekolah atau bermain di sekitar sekolah. Kami benar-benar bermain di tengah alam, apa adanya.
Saat itulah tidak jarang kami mengamati semut-semut berjalan beriring. Apabila saat itu berbarengan dengan masa menjelang minggu palma (Minggu daun-daun), maka kami mengatakan bahwa semut-semut itu pergi ke pusat paroki (entah di mana) untuk merayakan Minggu Palma. Atau saat menjelang Paskah maka kami mengatakan, semut-semut itu pergi Paskah. Atau saat menjelang Pentakosta, maka kami mengatakan bahwa semut-semut itu pergi Pentakosta. Atau menjelang Natal, maka kami mengatakan bahwa semut-semut itu pergi Natal. Jadi, begitulah saya memahami ucapan si antropolog tadi. Bahkan kalau ada semut yang kebetulan membawa ranting kecil, maka kami mengatakan bahwa semut itu memikul daun palma untuk dibagikan kepada seluruh umat yang hadir. Kalau pas tidak lagi ada hari raya gerejani (yaitu masa biasa), maka kami membayangkan bahwa semut-semut itu beriringan untuk pergi ke sekolah (sesuatu yang begitu dekat dengan pengalaman nyata kami sebab kami memang ke sekolah setiap hari). Jadi, apa yang terjadi, dialami, dan disaksikan anak-anak dalam kehidupan nyata sosial mereka, diproyeksikan kepada kehidupan dan perilaku hidup semut-semut. Kiranya itu yang dimaksudkan si antropolog tadi ketika ia berkata bahwa di Flores semut-semutpun Katolik.
Ketika saya menulis untaian pengamatan masa kecil itu, saya bertanya secara kritis historis sebagai berikut: Bagaimanakah imajinasi persepsi waktu anak-anak dulu sebelum generasi kami, generasi para orang tua kami yang kiranya termasuk generasi pertama dalam proses menjadi Katolik. Saya membayangkan bahwa kategori pembagian waktu yang mereka pakai kiranya tidak berasal dari kategori pembagian waktu yang ditawarkan Gereja sebagaimana yang terjadi pada masa kami. Kiranya mereka memakai kategori pembagian waktu lama atau tradisional. Karena itu, titik acuan yang mereka pakai pun bukan pesta atau perayaan Gerejani, melainkan pesta atau perayaan asli Manggarai.
Saya membayangkan (karena belum pernah mengalaminya), betapa anak-anak dulu, saat mengamati semut-semut berjalan, mengatakan bahwa semut-semut ini pergi menghadiri pesta penti di salah satu kampung. Mungkin juga mereka berkata bahwa semut-semut itu pergi pesta wagal, salah satu titik puncak pesta perkawinan dalam tradisi Manggarai. Atau bisa juga mengatakan bahwa semut-semut itu pergi bermain caci di salah satu kampung. Saya juga membayangkan bahwa kalau ada seekor semut yang tampak lebih besar dari yang lain, maka semut itu dianggap sebagai ketua rombongan dalam ritual ba leso (harafiah: membawa matahari) untuk pesta caci di kampung lain.
Dengan demikian masing-masing angkatan memiliki imajinasi persepsi ruang dan waktunya sendiri. Imajinasi itu sangat tergantung pada kerangka hidup sosial keagamaan yang paling dominan mereka alami. Dulu saat gereja belum begitu berpengaruh, pasti imajinasi waktu itu dipengaruhi oleh pelbagai pesta adat yang dulu memang sangat banyak dalam kehidupan orang Manggarai. Dewasa ini, saat orang menjadi Katolik, maka imajinasi persepsi waktu itu dipengaruhi oleh pelbagai pesta atau perayaan liturgi gereja. Jadi, ada sebuah pergeseran besar dari imajinasi persepsi waktu yang lama ke imajinasi persepsi waktu yang baru.
Bisa dipahami bahwa imajinasi persepsi waktu yang lama, semuanya sudah tergeser karena dewasa ini orang Manggarai tidak lagi memakai sistem Kalender tradisional mereka sendiri. Melainkan mereka sudah memakai sistem kalender masehi atau internasional. Dalam penelitian saya, saya menemukan bahwa para peneliti Manggarai dulu sudah menemukan setidaknya empat atau lima sistem kalender tradisional itu yang berpusat pada pesta penti. Memang dewasa ini pesta penti itu masih ada, tetapi rasanya sudah sedikit pudar oleh pesta dan perayaan-perayaan besar dari kehidupan liturgi Gereja. Maka tidak mengherankan bahwa imajinasi persepsi ruang orang Manggarai dewasa ini, sangat dipengaruhi oleh sistem kalender modern yang mereka pakai.
Kembali ke semut-semut di atas tadi. Tentu saja semut-semut itu akan selalu berperilaku seperti itu dari dulu sampai kapanpun. Hanya saja, cara anak-anak mencoba memahami dan melukiskan perilaku hidup semut itu, yang berubah atau mengalami pergeseran. Dan tentu saja hal itu tidak terhindarkan sama sekali.
Saturday, December 15, 2018
PARADOKS ADVENT YANG BERNUANSA NATAL
Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.
Dosen Fakultas Filsafat UNPAR. Anggota LBI dan ISBI.
Dosen Fakultas Filsafat UNPAR. Anggota LBI dan ISBI.
Pengantar Singkat
Pada tahun 1988 seorang ahli kitab suci Katolik dari Amerika Serikat (Fakultas Teologi Catholic University of America di Washington DC) menerbitkan buku populer dengan judul agak aneh: A Coming Christ In Advent. Aneh karena judul itu berarti, jika diterjemahkan secara harafiah, Kristus yang datang pada Masa Advent. Jadi, judul ini menyiratkan kenyataan bahwa pada masa Advent pun (masa penantian akan kedatangan Tuhan) Kristus justru sudah datang. Oh iya, nama pakar kitab suci itu ialah Pater Raymond E.Brown SS (namanya selanjutnya akan disingkat menjadi REB saja. Sedangkan SS yang ada di belakang namanya itu adalah singkatan nama kongregasinya, karena ia berasal dari kongregasi yang bernama Saint Sulpice, sebuah kongregasi yang berasal dari Prancis).Dalam waktu yang relatif singkat Lembaga Biblika Indonesia (LBI), lewat beberapa penerjemah handal yang bekerja di bawah koordinasi Prof.Dr.Martin Harun OFM, menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Indonesia. Versi terjemahan Indonesianya terbit pada tahun 1991 (Kanisius, Yogyakarta). Penerjemah buku ini adalah teman saya, Markus K.Mara (dalam kerjasama dengan Dr.Martin Harun OFM). Judul terjemahan Indonesia juga tidak kurang anehnya Kedatangan Kristus dalam Advent. Aneh, karena masih Advent kok ngomong tentang Kristus yang sudah datang? Itulah masalahnya. Tetapi dalam kacamata teologi exegese Raymond E.Brown hal itu memang sangat dimungkinkan.
Versi Populer dari Sebuah Opus Magnum
Buku ini adalah versi populer (yang sangat ringan) dari salah satu opus magnum REB, yang sudah terbit pada akhir tahun 70-an. Judul Opus Magnum itu ialah The Birth of Messiah (Kelahiran Sang Mesias). Hingga saat ini salah satu buku raksasa (babon) dalam exegese Perjanjian Baru ini khusus mengenai totalitas peristiwa Yesus Kristus, belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Semoga nanti ada orang-orang dan penerbit nekat yang berani menerjemahkan dan menerbitkan kaya itu. Menurut kata REB sendiri, buku raksasa ini dimaksudkan bagi para ahli, sebagai sumbangan ilmiah akademik untuk studi Kitab Suci.Sedangkan untuk melayani kebutuhan dan kepentingan pastoral umat biasa pada umumnya di paroki-paroki, REB mengolah kembali buku itu dalam bentuk yang lebih ringan dan sangat populer. Tidak ada catatan dan rujukan yang rumit-rumit yang membuat kepala pusing bahkan saat untuk melihatnya saja sebelum membacanya. Hasil dari kerja pengolahan ulang itu ialah adanya dua buku, yaitu A Coming Christ In Advent (Kedatangan Kristus dalam Advent) dan An Adult Christ at Christmas (Kristus Yang Dewasa Pada Masa Natal). Buku terakhir ini juga sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia (Kanisius, Yogyakarta 1995). Penerjemahnya ialah saya sendiri (Fransiskus Borgias) dalam kerja-sama dengan Pater Martin Harun OFM.
Tafsir Kitab Suci Dalam Bingkai Tahun Liturgis
Ketika buku Kedatangan Kristus dalam Advent terbit (1991), saya membacanya. Pada tahun 2018 yang silam, entah mengapa saya merasa sangat tertarik lagi untuk membaca buku itu. Tetapi pada tahun 2018 itu saya membacanya dalam versi bahasa Inggris. Perlu juga diinformasikan bahwa pada akhir tahun 80an buku-buku tadi terbit dalam bentuk buku-buku kecil. Karena memang dimaksudkan untuk menghindari kesan ilmiah-angker, yang biasanya bisa dengan segera membuat ciut nyala untuk mulai melihat dan membacanya.Lalu kira-kira pada tahun 2007 seri buku kecil-kecil itu diterbitkan menjadi satu buku tebal. Buku edisi baru ini memiliki daya tarik tersendiri karena dilengkapi dengan edisi dan pengantar kritis oleh salah seorang murid REB di CUA. Dalam koleksi gabungan yang cukup besar ini, tampak bahwa REB menaruh perhatian besar pada upaya menafsirkan Kitab Suci dalam rangka pemakaian liturgis sepanjang tahun. Nah penerapan praktis untuk kepentingan liturgis itulah yang merupakan sumbangan terbesar buku ini. Inilah makna terdalam dan terpenting dari buku kompilasi itu. Semoga nanti ada pihak yang menerbitkan kompilasi itu ke bahasa Indonesia. Dan saya kira, penafsiran yang baik dan benar hanya ada dalam rangka pemakaian liturgis saja.
Natal Antisipatif Dalam Advent
Saya kembali ke buku Advent tadi. Saat membaca kembali buku itu saya seakan-akan mendapat pembenaran teologis-biblis-exegetis-liturgis mengenai perasaan, pengalaman, dan imajinasi religius yang saya rasakan setiap kali saya mengarungi masa Advent selama ini. Pengalaman yang saya maksud sudah diungkapkan dengan padat dalam judul di atas tadi: Yakni bahwa saya sudah mengalami aroma nuansa dan suasana Natal bahkan dalam dan selama masa Advent itu sendiri. Perayaan masa Advent itu seakan-akan seperti sudah mengantisipasi dalam kerinduan akan perayaan dan peristiwa Natal itu. Hal ini terasa sangat paradoksal.Selama ini saya selalu merasa aneh dan rada canggung juga dengan perasaan paradoksal itu. Advent, tetapi kok sudah beraroma, bernuansa Natal. Sudah lama saya berusaha mencari jawaban dan penjelasan terhadap hal ini. Tetapi saya belum berhasil menemukannya. Namun setelah saya membaca kembali buku Raymond E.Brown saya merasa mendapat sebuah pencerahan dan pembenaran: yaitu bahwa perasaan, pengalaman dan imajinasi religius itu tidak salah sama sekali. Mengapa begitu? Sebab menurut Raymond E.Brown, seluruh misteri peristiwa Kristus yang kita imani sudah dikisahkan dalam kisah-kisah injil mengenai masa-kanak-kanak Yesus (Infancy Narratives) yang dibacakan selama masa Advent.
Beberapa Momen Pengalaman Antisipatif Itu
Perasaan dan pengalaman itulah yang coba saya uraikan dalam bagian akhir dari tulisan ini. Pertama-tama, sejak kita mulai memasuki masa Advent, maka umat, terutama sekali mereka yang terlibat secara aktif dalam kelompok koor di lingkungan maupun paroki, mulai sibuk mempersiapkan lagu-lagu untuk perayaan malam Natal maupun hari Natal dan masa-masa Natal sesudahnya. Mereka melatih diri untuk membawakan lagu-lagu tersebut dengan sangat serius. Sebab ada keyakinan yang sudah sangat lama tertanam dalam diri kita bahwa siapa yang bernyanyi dengan baik, sudah berdoa dua kali (qui bene cantat bis orat, begitu kata Santo Agustinus dulu).Terkait dengan fakta dan kebiasaan itu, dan ini yang kedua, maka kita mengarungi masa Advent sudah dengan nuansa dan aroma Natal justru karena kumandang getar-getar nada lagu-lagu yang kita latih tersebut secara bersama-sama dan dengan sangat serius dan intensif. Mau tidak mau kita (yang berlatih lagu-lagu Natal pada masa Advent itu) terhanyut juga dalam suasana dan nuansa aroma Natal itu. Hal itu terjadi karena dan melalui latihan lagu-lagu tersebut walaupun perayaan Natal itu sendiri belum tiba. Hal itulah yang sama namakan “paradoks Advent”. Dinamakan paradoks karena kita melewati Advent itu sudah dalam nuansa dan aroma Natal. Kita merayakan Natal secara antisipatif dalam dan selama Advent. Dan memang sudah selalu demikian adanya selama ini.
Ketika Nyanyian Bermetamorfosis Menjadi Doa
Semakin mendekati pesta Natal, maka latihan-latihan persiapan itu pun semakin intensif dan bahkan koor itu sudah “jadi.” Cara mereka menyanyikan dan membawakan lagu-lagu Natal itu sudah matang. Karena sudah “jadi” dan sudah matang, dan ini yang ketiga, maka nyanyian-nyanyian itu pun seakan-akan mengalami sebuah proses metamorfosis, mengalami sebuah transformasi menjadi untaian doa-doa. Tatkala hal itu terjadi, maka syair-syair lagu natal itu pun sudah melampaui sekadar syair atau puisi untuk nyanyian sebab ia mengalami transformasi atau metamorfosis menjadi ayat-ayat suci doa yang mengisi hati nurani kita, dan dari dalam hati kita syair-syair itu seakan membubung ke atas, ke langit, in excelsis Deo.Syair-syair lagu yang menjadi doa itu, menjadi sangat intens justru karena sudah masuk dan meresap ke dalam hati kita dan dari dalam hati itu memancar keluar dan ke atas. Memang benar kata santo Agustinus dulu, bahwa saat kita bernyanyi dengan baik (Qui bene cantat), kita sudah berdoa dua kali (bis orat). Dua kali itu bagi saya bukan terutama perkara jumlah (kwantitas) melainkan soal mutu dan intensitas (kwalitas). Nyanyian yang mengalir dan memancar keluar dari dalam hati, menjadi sebuah doa yang sangat indah.
Semakin mendekati Natal, semakin mendekati masa-masa akhir Advent, rasa hati kita pun semakin dibayang-bayangi oleh suasana sukacita Natal yang sedang mendatang dan mendatangi kita sekarang dan di sini. Hal itulah yang bisa menjelaskan suatu perasaan psikologis dalam diri kita mengapa ada rasa pesona tertentu yang bersifat natalis (jadi sudah melampaui ciri Adventis) dalam diri kita walau kita masih berada dalam masa Advent.
Catatan Penutup
Setelah membaca buku REB ini, akhirnya saya tahu mengapa orang-orang Katolik tidak bisa (tidak boleh) merayakan Natal pada masa Advent. Alasannya, ialah karena selama masa Advent kita membaca bacaan-bacaan liturgis yang berbeda dengan bacaan-bacaan liturgis untuk Perayaan Masa Natal itu sendiri. Sebagai orang Katolik kita tidak bisa dan tidak boleh membaca teks-teks liturgis Natal pada masa Advent. Sesederhana itu. Titik.Namun demikian, walaupun secara liturgis kita tidak atau belum boleh merayakan perayaan natal (natalan) pada dan selama masa Advent, tetapi secara praktis-psikologis, kita sebenarnya sudah mengalami dan merasakan seluruh suasana natalis itu dalam seluruh masa adventis. Hal itu terjadi, sebagaimana sudah dikatakan di atas tadi, karena selama masa Advent kita sudah sibuk dan secara intensif melatihkan lagu-lagu Natal. Dan ketika latihan itu sudah "jadi" dan mencapai tingkat "kematangan" rohani tertentu, maka untaian kata-kata syair lagu-lagu Natal itu berubah menjadi doa yang mengalir keluar dari dalam hati kita. Dengan cara ini, kita sudah Natalis juga di tengah masa Adventis. Tetapi, masa itu tetaplah masa Advent.
Tuesday, December 11, 2018
MEMAHAMI DAN MENIKMATI KIDUNG AGUNG 2:1-7
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI.
Puji-memuji yang dimulai dalam 1:9, berlanjut di sini. Dalam ay.1, si kekasih (perempuan) menyebut diri Bunga Mawar Saron dan bunga bakung di lembah-lembah. Para ahli sibuk mendiskusikan metafora bunga ini. Saya membacanya sebagai sebuah penghargaan-diri yang muncul dalam diri perempuan itu. Ia merasa kecantikannya bagai bunga langka.
Setelah memuji diri, dalam ayat 2 si kekasih itu memuji kekasihnya dengan memakai perbandingan pohon apel di antara pepohonan hutan. Si Perempuan dengan mudah mengenali dan membedakan kekasihnya itu di antara para pemuda, semudah ia mengenali dan membedakan pohon apel di hutan. Pengenalan itu dibantu oleh buah dan daun pohon tersebut. Daun apel itu rimbun dan subur sehingga bisa menjadi naungan. Buahnya manis dan lezat sehingga memanjakan langit-langit mulut orang yang memakannya. Itulah daya tarik pohon apel. Seluruh sosok kedirian yang terpancar dari kekasih pria mendatangkan rasa sejuk dan kenyamanan bagi kekasihnya (ay.3).
Dalam imajinasi cintanya, kekasih perempuan membayangkan bahwa kekasih pria mengajaknya ke rumah pesta (ay.4). Perempuan itu membayangkan bahwa perjalanan ke pesta itu penuh semarak, di mana kekasih pria mengaraknya dengan panji-panji meriah. Tetapi bagi si perempuan panji paling utama ialah cinta yang ia bayangkan berkibar di atas kepalanya. Membayangkan semuanya itu ia serasa gemetar karena terhanyut oleh suasana kemesraan cinta yang menyebabkan dirinya lemas dan dahaga. Itulah yang ia ungkapkan di bagian akhir ayat 5: sebab sakit asmara aku. Sakit asmara menyebabkan dirinya lemas dan dahaga. Itu sebabnya dalam ayat 5 ia berkata: “Kuatkanlah aku dengan penganan kismis, segarkanlah aku dengan buah apel.” Kismis dan apel terasa manis.
Ternyata imajinasi asmara dan kemesraannya tidak berhenti pada gejolak rasa rindu, melainkan terus melangkah ke bayangan akan kemesraan yang lebih dalam lagi dalam berpelukan (ay.6). Hal itu tampak dari apa yang dikatakan di sana: Tangan kirinya ada di bawah kepalaku. Tidak mudah memaknai hal ini. Tetapi saya memahami begini. Bagian bawah kepala ialah bagian belakang leher. Jadi, yang dimaksudkan ialah tengkuk. Tangan kiri kekasih pria melingkar di belakang tengkuknya dan tangan kanannya memeluk sang kekasih. Tetapi, sebagaimana sudah dikatakan dalam bagian awal uraian ini, tafsir Kidung Agung itu berada dalam alur alegori, perumpamaan yang menunjuk kepada realitas lain yang lebih dalam. Yang dibayangkan dalam alegori ini adalah intensitas relasi yang semakin intim dan dalam antara manusia dan Tuhan Allah. Bagi orang Kristiani, sebuah intensitas relasi antara manusia dan Kristus yang bermuara dalam pengalaman mistik, pengalaman keterhanyutan (extase) rohaniah.
Untaian ayat imajinasi-asmara ini ditutup dengan ungkapan yang tidak mudah. Saya memahaminya sebagai berikut. Sedemikian intensnya pengalaman imajinasi asmara itu sehingga bisa menimbulkan gejolak rasa yang tinggi. Tetapi ada juga tuntutan moral yang membatasi gejolak rasa itu. Para ahli berpendapat bahwa ayat ini menyimpan visi etis alkitabiah bahwa hubungan asmara intim harus ditunggu sampai tiba waktunya, yaitu dalam relasi yang tepat dan pantas, perkawinan. Sebelum itu, gejolak cinta jangan coba-coba dibangkitkan karena memang belum tiba waktunya (ay.7). Sadar akan bahaya itu, maka ia menegaskan perintah etis itu dengan perkataan yang keras (Kusumpahi...). Ia melarang para puteri Yerusalem agar tidak berpetualang dalam imajinasi asmara yang bisa berbahaya sebelum tiba waktunya. Sumpah itu diucapkan demi kijang-kijang dan rusa-rusa betina di padang. Mungkin yang ia maksudkan ialah bahwa dalam dunia rusa dan kijang itu, semua ada waktunya dan pada waktunya, termasuk relasi bercinta. Tidak bisa dan tidak boleh sembarangan. Kalau dipahami sebagai alegori, maka bisa dikatakan begini: relasi mistik dengan Tuhan adalah sesuatu yang sangat istimewa, sehingga butuh masa khusus, suatu tingkat kematangan rohani tinggi, bagi manusia untuk mengalaminya.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI.
Puji-memuji yang dimulai dalam 1:9, berlanjut di sini. Dalam ay.1, si kekasih (perempuan) menyebut diri Bunga Mawar Saron dan bunga bakung di lembah-lembah. Para ahli sibuk mendiskusikan metafora bunga ini. Saya membacanya sebagai sebuah penghargaan-diri yang muncul dalam diri perempuan itu. Ia merasa kecantikannya bagai bunga langka.
Setelah memuji diri, dalam ayat 2 si kekasih itu memuji kekasihnya dengan memakai perbandingan pohon apel di antara pepohonan hutan. Si Perempuan dengan mudah mengenali dan membedakan kekasihnya itu di antara para pemuda, semudah ia mengenali dan membedakan pohon apel di hutan. Pengenalan itu dibantu oleh buah dan daun pohon tersebut. Daun apel itu rimbun dan subur sehingga bisa menjadi naungan. Buahnya manis dan lezat sehingga memanjakan langit-langit mulut orang yang memakannya. Itulah daya tarik pohon apel. Seluruh sosok kedirian yang terpancar dari kekasih pria mendatangkan rasa sejuk dan kenyamanan bagi kekasihnya (ay.3).
Dalam imajinasi cintanya, kekasih perempuan membayangkan bahwa kekasih pria mengajaknya ke rumah pesta (ay.4). Perempuan itu membayangkan bahwa perjalanan ke pesta itu penuh semarak, di mana kekasih pria mengaraknya dengan panji-panji meriah. Tetapi bagi si perempuan panji paling utama ialah cinta yang ia bayangkan berkibar di atas kepalanya. Membayangkan semuanya itu ia serasa gemetar karena terhanyut oleh suasana kemesraan cinta yang menyebabkan dirinya lemas dan dahaga. Itulah yang ia ungkapkan di bagian akhir ayat 5: sebab sakit asmara aku. Sakit asmara menyebabkan dirinya lemas dan dahaga. Itu sebabnya dalam ayat 5 ia berkata: “Kuatkanlah aku dengan penganan kismis, segarkanlah aku dengan buah apel.” Kismis dan apel terasa manis.
Ternyata imajinasi asmara dan kemesraannya tidak berhenti pada gejolak rasa rindu, melainkan terus melangkah ke bayangan akan kemesraan yang lebih dalam lagi dalam berpelukan (ay.6). Hal itu tampak dari apa yang dikatakan di sana: Tangan kirinya ada di bawah kepalaku. Tidak mudah memaknai hal ini. Tetapi saya memahami begini. Bagian bawah kepala ialah bagian belakang leher. Jadi, yang dimaksudkan ialah tengkuk. Tangan kiri kekasih pria melingkar di belakang tengkuknya dan tangan kanannya memeluk sang kekasih. Tetapi, sebagaimana sudah dikatakan dalam bagian awal uraian ini, tafsir Kidung Agung itu berada dalam alur alegori, perumpamaan yang menunjuk kepada realitas lain yang lebih dalam. Yang dibayangkan dalam alegori ini adalah intensitas relasi yang semakin intim dan dalam antara manusia dan Tuhan Allah. Bagi orang Kristiani, sebuah intensitas relasi antara manusia dan Kristus yang bermuara dalam pengalaman mistik, pengalaman keterhanyutan (extase) rohaniah.
Untaian ayat imajinasi-asmara ini ditutup dengan ungkapan yang tidak mudah. Saya memahaminya sebagai berikut. Sedemikian intensnya pengalaman imajinasi asmara itu sehingga bisa menimbulkan gejolak rasa yang tinggi. Tetapi ada juga tuntutan moral yang membatasi gejolak rasa itu. Para ahli berpendapat bahwa ayat ini menyimpan visi etis alkitabiah bahwa hubungan asmara intim harus ditunggu sampai tiba waktunya, yaitu dalam relasi yang tepat dan pantas, perkawinan. Sebelum itu, gejolak cinta jangan coba-coba dibangkitkan karena memang belum tiba waktunya (ay.7). Sadar akan bahaya itu, maka ia menegaskan perintah etis itu dengan perkataan yang keras (Kusumpahi...). Ia melarang para puteri Yerusalem agar tidak berpetualang dalam imajinasi asmara yang bisa berbahaya sebelum tiba waktunya. Sumpah itu diucapkan demi kijang-kijang dan rusa-rusa betina di padang. Mungkin yang ia maksudkan ialah bahwa dalam dunia rusa dan kijang itu, semua ada waktunya dan pada waktunya, termasuk relasi bercinta. Tidak bisa dan tidak boleh sembarangan. Kalau dipahami sebagai alegori, maka bisa dikatakan begini: relasi mistik dengan Tuhan adalah sesuatu yang sangat istimewa, sehingga butuh masa khusus, suatu tingkat kematangan rohani tinggi, bagi manusia untuk mengalaminya.
MENCIPTA LAGU-LAGU ADVENT
Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.
Dosen Fakultas Filsafat UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI
Sekarang orang Katolik sedang memasuki masa Advent. Dulu kata Advent (Adventus) pernah diterjemahkan Penantian, sehingga Masa Advent menjadi Masa Penantian. Tetapi sekarang, setidaknya menurut pengamatan saya, istilah Masa Penantian itu sudah tidak begitu terdengar lagi. Jika orang mengetahui bahasa Latin memang terjemahan Penantian itu rada tidak cocok. Sebab kata Adventus itu berarti Kedatangan (dari akar kata kerja Latin Ad-venire).
Istilah itu dipakai untuk menunjukkan inti “masa” itu sendiri, yaitu masa kedatangan (Adventus) Tuhan Penyelamat. Jadi lebih tepat jika diterjemahkan “Masa Kedatangan”. Tetapi terjemahan “Masa Penantian” juga tidak seluruhnya salah. Sebab yang mau ditunjukkan dengan kata “Penantian” itu adalah sikap dan disposisi batin manusia yang sedang menantikan dengan penuh pengharapan kedatangan Tuhan yang “mendatangi” itu. Jadi, Adventus menekankan peristiwa itu dari pihak Tuhan yang “mendatangi”, mengambil prakarsa. Sedangkan Penantian menekankan peristiwa itu dari pihak manusia yang menanti, menunggu dengan penuh pengharapan.
Dinamika penantian dan pengharapan itu diungkapkan dengan salah satu praksis devosional masa Advent yaitu Lingkaran Advent. Salah satu unsur penting dalam lingkaran Advent ialah hijau daun cemara ever-green. Hal itu melambangkan pengharapan yang hidup dan membara dalam hati manusia. Hal lain yang mencolok dalam Lingkaran Advent ialah empat lilin yang tegak ke atas. Itu simbol gerak transendensi eksistensi manusia ke atas, kepada Allah, melampaui cakrawala dunia dan sejarah ini. Masih ada beberapa unsur lain yang tidak perlu dibahas di sini.
Dalam pengamatan saya Gereja Katolik membuat pembedaan yang tegas antara masa Advent dan masa Natal. Padahal suasana umum di luar Gereja, misalnya di Mall dan ruang publik lainnya, suasana dan nuansa Natal sudah sangat terasa dan tampak (misalnya, hiasan pernak-pernik natal, lagu Natal, dll). Bahkan ada himbauan agar selama masa Advent orang Katolik tidak/belum merayakan Natal atau Natalan (saya pahami Semacam Natal). Kegembiraan Natal itu harus ditunda sampai Malam Natal tanggal 24 Desember.
Tetapi saya adalah praktisi koor. Saya sangat merasakan sebuah paradoks. Yaitu, gereja belum (boleh) merayakan natal, tetapi koor-koor sudah menyanyikan lagu Natal saat mereka mengadakan latihan koor persiapan Natal. Bagi saya, paradoks itu sangat menarik. Perayaan Natal itu sendiri masih harus dinantikan, tetapi sementara itu saat ini hati dan budi kita sudah menikmatinya dengan menyanyikan lagu-lagu Natal itu dalam dan selama Latihan-latihan.
Realitas itu bagi saya membentuk satu paham teologis tersendiri: Hati kita seakan dibuat berharap-harap cemas menantikan datangnya kelahiran itu, dengan menyanyikan lagu-lagu Natal itu sekarang dan di sini dalam latihan sebagai antisipasi dan persiapan Natal. Hati kita seakan sudah dibuai dan didayu-dayu dengan nada Natal, sebelum Natal itu tiba. Buaian nada Natal itu, dengan satu dan lain cara telah menyuburkan hati, budi, dan imajinasi religius kita dalam persiapan menyongsong peristiwa Natal itu. Jadi, seakan kita mempersiapkan Natal dengan lagu-lagu Natal itu sendiri. Paradoksal. Tetapi itulah faktanya. Fakta itu tidak bisa disangkal. Tidak bisa dihindarikan. Tidak perlu juga.
Barangkali yang harus kita upayakan lebih gencar lagi ialah penciptaan lagu-lagu Adven yang lebih baru dan lebih banyak lagi. Sejauh yang saya amati, sampai saat ini, belum ada lagu Advent baru. Bahkan sebagian besar lagu Advent kita adalah warisan Gereja Barat. Hanya sedikit lagu ciptaan setempat. Mungkin dengan kekecualian yang saya ketahui yaitu di gereja Katolik Keuskupan Ruteng. Lagu Advent dalam buku Dere Serani sebagian besar terdiri atas lagu hasil karya komponis lokal Manggarai. Di tempat lain, saya belum merasakan dan menjumpai hal seperti itu. Lagu-lagunya berasal dari tradisi Eropa. Jelas ini adalah tantangan dan peluang bagi komponis gereja Lokal yang harus digerakkan dan dikoordinasi oleh komisi Liturgi untuk menciptakan lagu-lagu Advent.
Saya tidak begitu berbakat menciptakan lagu. Tetapi saya bisa menyumbang ide untuk isi syair. Misalnya dengan mengarahkan perhatian komponis pada sumber-sumber inspirasi untuk syair lagu Advent. Paling tidak untuk sementara ini saya melihat tiga sumber inspirasi yang boleh ditengok oleh komponis dan penyair.
Pertama, bacaan-bacaan liturgis yang dibacakan selama masa Advent. Liturgi Gereja Katolik menyusun sedemikian rupa teks-teks bacaan liturgisnya, sehingga memberi warna tersendiri untuk masa Advent itu. Kalau saya sebut bacaan liturgis, tentu yang saya maksud pertama-tama ialah liturgi ekaristi. Tetapi bisa juga menimba dari bacaan Offisi Ilahi. Kedua, doa-doa yang dipakai dalam dan selama masa Advent baik yang ada dalam buku bacaan Misa, maupun yang ada dalam buku Ofisi Ilahi. Perlu disadari bahwa dalam buku Ofisi Ilahi ada beberapa syair madah Advent yang indah. Isinya bisa dipergunakan sebagai sumber inspirasi bagi para komponis dan penyair untuk menyusun teks-teks lagu Advent.
Ketiga, sumber inspirasi itu bisa juga ditimba dari pernak-pernik praksis devosional selama masa Advent itu. Salah satu praksis devosional Advent ialah Corona Advent atau Lingkaran Advent. Ulasan dan penjelasan teologis tentang Corona Advent itu, bisa dipakai sebagai sumber inspirasi bagi teks lagu Advent. Hanya dengan cara ini, saya berharap bahwa masa Advent kita semakin bermakna, tidak lagi hanya kosong.
Mungkin praksis penghayatan Advent sudah tumpang tindih dengan masa persiapan Natal, tetapi hal itu tidak usah terlalu dicemaskan. Sebab masa penantian itu sejatinya “terarah” kepada yang dinantikan. Maka sukacita membayangkan tibanya yang dinantikan, bisa juga kita nikmati sekarang dan di sini dalam dan selama masa Advent.
Dosen Fakultas Filsafat UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI
Sekarang orang Katolik sedang memasuki masa Advent. Dulu kata Advent (Adventus) pernah diterjemahkan Penantian, sehingga Masa Advent menjadi Masa Penantian. Tetapi sekarang, setidaknya menurut pengamatan saya, istilah Masa Penantian itu sudah tidak begitu terdengar lagi. Jika orang mengetahui bahasa Latin memang terjemahan Penantian itu rada tidak cocok. Sebab kata Adventus itu berarti Kedatangan (dari akar kata kerja Latin Ad-venire).
Istilah itu dipakai untuk menunjukkan inti “masa” itu sendiri, yaitu masa kedatangan (Adventus) Tuhan Penyelamat. Jadi lebih tepat jika diterjemahkan “Masa Kedatangan”. Tetapi terjemahan “Masa Penantian” juga tidak seluruhnya salah. Sebab yang mau ditunjukkan dengan kata “Penantian” itu adalah sikap dan disposisi batin manusia yang sedang menantikan dengan penuh pengharapan kedatangan Tuhan yang “mendatangi” itu. Jadi, Adventus menekankan peristiwa itu dari pihak Tuhan yang “mendatangi”, mengambil prakarsa. Sedangkan Penantian menekankan peristiwa itu dari pihak manusia yang menanti, menunggu dengan penuh pengharapan.
Dinamika penantian dan pengharapan itu diungkapkan dengan salah satu praksis devosional masa Advent yaitu Lingkaran Advent. Salah satu unsur penting dalam lingkaran Advent ialah hijau daun cemara ever-green. Hal itu melambangkan pengharapan yang hidup dan membara dalam hati manusia. Hal lain yang mencolok dalam Lingkaran Advent ialah empat lilin yang tegak ke atas. Itu simbol gerak transendensi eksistensi manusia ke atas, kepada Allah, melampaui cakrawala dunia dan sejarah ini. Masih ada beberapa unsur lain yang tidak perlu dibahas di sini.
Dalam pengamatan saya Gereja Katolik membuat pembedaan yang tegas antara masa Advent dan masa Natal. Padahal suasana umum di luar Gereja, misalnya di Mall dan ruang publik lainnya, suasana dan nuansa Natal sudah sangat terasa dan tampak (misalnya, hiasan pernak-pernik natal, lagu Natal, dll). Bahkan ada himbauan agar selama masa Advent orang Katolik tidak/belum merayakan Natal atau Natalan (saya pahami Semacam Natal). Kegembiraan Natal itu harus ditunda sampai Malam Natal tanggal 24 Desember.
Tetapi saya adalah praktisi koor. Saya sangat merasakan sebuah paradoks. Yaitu, gereja belum (boleh) merayakan natal, tetapi koor-koor sudah menyanyikan lagu Natal saat mereka mengadakan latihan koor persiapan Natal. Bagi saya, paradoks itu sangat menarik. Perayaan Natal itu sendiri masih harus dinantikan, tetapi sementara itu saat ini hati dan budi kita sudah menikmatinya dengan menyanyikan lagu-lagu Natal itu dalam dan selama Latihan-latihan.
Realitas itu bagi saya membentuk satu paham teologis tersendiri: Hati kita seakan dibuat berharap-harap cemas menantikan datangnya kelahiran itu, dengan menyanyikan lagu-lagu Natal itu sekarang dan di sini dalam latihan sebagai antisipasi dan persiapan Natal. Hati kita seakan sudah dibuai dan didayu-dayu dengan nada Natal, sebelum Natal itu tiba. Buaian nada Natal itu, dengan satu dan lain cara telah menyuburkan hati, budi, dan imajinasi religius kita dalam persiapan menyongsong peristiwa Natal itu. Jadi, seakan kita mempersiapkan Natal dengan lagu-lagu Natal itu sendiri. Paradoksal. Tetapi itulah faktanya. Fakta itu tidak bisa disangkal. Tidak bisa dihindarikan. Tidak perlu juga.
Barangkali yang harus kita upayakan lebih gencar lagi ialah penciptaan lagu-lagu Adven yang lebih baru dan lebih banyak lagi. Sejauh yang saya amati, sampai saat ini, belum ada lagu Advent baru. Bahkan sebagian besar lagu Advent kita adalah warisan Gereja Barat. Hanya sedikit lagu ciptaan setempat. Mungkin dengan kekecualian yang saya ketahui yaitu di gereja Katolik Keuskupan Ruteng. Lagu Advent dalam buku Dere Serani sebagian besar terdiri atas lagu hasil karya komponis lokal Manggarai. Di tempat lain, saya belum merasakan dan menjumpai hal seperti itu. Lagu-lagunya berasal dari tradisi Eropa. Jelas ini adalah tantangan dan peluang bagi komponis gereja Lokal yang harus digerakkan dan dikoordinasi oleh komisi Liturgi untuk menciptakan lagu-lagu Advent.
Saya tidak begitu berbakat menciptakan lagu. Tetapi saya bisa menyumbang ide untuk isi syair. Misalnya dengan mengarahkan perhatian komponis pada sumber-sumber inspirasi untuk syair lagu Advent. Paling tidak untuk sementara ini saya melihat tiga sumber inspirasi yang boleh ditengok oleh komponis dan penyair.
Pertama, bacaan-bacaan liturgis yang dibacakan selama masa Advent. Liturgi Gereja Katolik menyusun sedemikian rupa teks-teks bacaan liturgisnya, sehingga memberi warna tersendiri untuk masa Advent itu. Kalau saya sebut bacaan liturgis, tentu yang saya maksud pertama-tama ialah liturgi ekaristi. Tetapi bisa juga menimba dari bacaan Offisi Ilahi. Kedua, doa-doa yang dipakai dalam dan selama masa Advent baik yang ada dalam buku bacaan Misa, maupun yang ada dalam buku Ofisi Ilahi. Perlu disadari bahwa dalam buku Ofisi Ilahi ada beberapa syair madah Advent yang indah. Isinya bisa dipergunakan sebagai sumber inspirasi bagi para komponis dan penyair untuk menyusun teks-teks lagu Advent.
Ketiga, sumber inspirasi itu bisa juga ditimba dari pernak-pernik praksis devosional selama masa Advent itu. Salah satu praksis devosional Advent ialah Corona Advent atau Lingkaran Advent. Ulasan dan penjelasan teologis tentang Corona Advent itu, bisa dipakai sebagai sumber inspirasi bagi teks lagu Advent. Hanya dengan cara ini, saya berharap bahwa masa Advent kita semakin bermakna, tidak lagi hanya kosong.
Mungkin praksis penghayatan Advent sudah tumpang tindih dengan masa persiapan Natal, tetapi hal itu tidak usah terlalu dicemaskan. Sebab masa penantian itu sejatinya “terarah” kepada yang dinantikan. Maka sukacita membayangkan tibanya yang dinantikan, bisa juga kita nikmati sekarang dan di sini dalam dan selama masa Advent.
Monday, December 10, 2018
KERENTANAN HIDUP MANUSIA
Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.
Dosen Fakultas Filsafat UNPAR Bandung; Anggota LBI dan ISBI.
Tahun 2008 silam saya pernah menulis sebuah artikel ilmiah tentang citra Gereja yang ramah. Artikel itu sudah dimuat dalam jurnal ilmiah Diskursus, pada STF Driyarkara, Jakarta, edisi Oktober 2008. Di sana saya menguraikan secara deskriptif dan argumentatif tentang beberapa aspek dari tindakan pertobatan Gereja Katolik, yang mendorong munculnya citra gereja yang ramah itu. Di situ saya menampilkan enam poin perubahan sikap gereja Katolik. Salah satu dari keenam poin perubahan itu adalah per-hati-an Gereja Katolik terhadap persoalan demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Gereja Katolik dalam sejarah dunia modern ini telah memberi per-hati-an yang penuh terhadap kedua permasalahan tersebut. Ini adalah sesuatu yang sejak awal mula tampak paradoksal, tetapi sesungguhnya hal itu sudah menjadi bagian utuh dari sepak terjang gereja Katolik itu sendiri dalam sejarah dan dalam kiprahnya di tengah dunia dan jaman ini.
Salah satu wujud nyata perubahan (metanoia) itu ialah kesediaan Paus Yohanes Paulus II untuk memohon ampunan atas pelbagai dosa dan kesalahan kemanusiaan yang pernah terjadi atau dilakukan di masa silam. Ketika mendengar hal ini saya langsung teringat akan kekerasan praksis inkuisisi yang dilakukan gereja pada abad pertengahan. Juga teringat akan praksis penjajahan terhadap dunia ketiga, seperti di Amerika Latin yang mendapat pengesahan rangkap, dari tahta suci Gereja dan dari Tahta dunia (Raja Spanyol dan Portugal pada masa itu).
Pada suatu saat saya meminjam buku dari perpustakaan CRCS-ICRS UGM Yogyakarta. Buku itu berasal dari seorang pengarang bernama Bryan S.Turner. judul bukunya sangat menarik: Vulnerability and Human Rights.
Saya langsung mulai membacanya dan saya merasa bahwa buku ini sangat penting dan menarik. Buku ini berbicara tentang fakta bahwa hidup manusia di dunia ini sangat rapuh (rentan). Ada pun hal itu disebabkan karena ada banyak faktor. Misalnya, hidup manusia bisa mudah menjadi rentan karena penyakit, atau karena pelbagai bencana alam, perang, penindasan, kekerasan, perbudakan, faktor perdagangan manusia (human trafficking). Dalam semua kondisi itu, memang hidup manusia menjadi sangat rapuh bahkan bisa masuk ke bawah zona ketidak-manusiawian yang akut dan menyedihkan. Dengan sangat mudah kita melihat betapa sedih nasib rakyat Suriah yang hingga saat ini masih dilanda perang saudara. Bencana alam (tanah longsor, gempa bumi, banjir, badai, letusan gunung berapi) masih terjadi di mana-mana; hal itu semua menyebabkan hidup manusia menjadi sangat menderita. Kira-kira hal seperti itulah yang menjadi topik utama dari buku Turner ini.
Lebih jelasnya Bryan S.Turner menguraikan tujuh pokok yang menjadi tujuh Bab utama dalam bukunya ini. Selanjutnya dalam tulisan ini, saya akan mencoba menguraikan secara singkat ketujuh pokok itu di bawah ini.
Pertama, ia berbicara tentang pelbagai macam kejahatan melawan kemanusiaan. Konotasinya yang terutama ialah menyangkut pelbagai macam kejahatan yang disebabkan oleh sesama, seperti perang, kekerasan, penindasan, kemiskinan, dan mungkin terutama proses pemiskinan. Kedua, karena adanya fakta kejahatan melawan kemanusiaan, maka hidup manusia menjadi sangat rentan, menjadi sangat serba rapuh. Fakta kerentanan itulah yang mendatangkan sengsara dan penderitaan dalam hidup manusia. Mulai dari Bab 3 sampai Bab 6 buku ini berbicara tentang hak-hak. Dalam Bab 3 misalnya, ia berbicara tentang hak-hak budaya (cultural rights) dalam keterkaitannya dengan teori pengakuan kritis. Dalam Bab 4 buku ini berbicara tentang hak-hak reproduktif dan seksual (reproductive and sexual rights). Dalam Bab 5 buku ini berbicara tentang hak-hak dari orang-orang yang cacat dan berkekurangan. Akhirnya dalam Bab 6, buku ini berbicara tentang hak-hak tubuh manusia, sebab ternyata tubuh sangat mudah menjadi objek manipulasi manusia sendiri, karena kata Michel Foucault, tubuh itu tidak pernah bersih dari efek budaya, tubuh selalu tampil dalam keadaan terkontamiasi oleh kultur.
Dengan ini dan di sini pembahasan tentang hak-hak itu sudah selesai. Lalu, akhirnya buku ini diakhiri dengan Bab 7 yang berbicara tentang fenomena yang disebut xenophobia (ketakutan akan suku bangsa lain) baik dalam bentuknya yang lama maupun terutama dalam bentuknya yang baru. Menurut pembacaan saya, dengan ini buku itu seakan-akan kembali lagi ke bagian awalnya, sebab dengan berbicara tentang xenophobia buku ini lagi-lagi berbicara tentang dunia yang, walaupun ada banyak derita dan sengsaranya, toh tetap mempunyai dasar dan alasan untuk selalu berharap dan tetap mempunyai perspektif untuk melakukan perbaikan dan pemulihan diri.
Kiranya hal-hal seperti itulah yang menjadi pesan pokok dari buku ini: kendati segala pengalaman negatif, dan segala pengalaman kegelapan, jangan sampai manusia dan kemanusiaan jatuh terjerembab dalam jurang keputus-asaan dan nihilisme yang absurd yang justru bisa mencelakakan manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Syukurlah bahwa dalam pelbagai tradisi masyarakat di dunia ini selalu ada local wisdom dan perennial wisdom yang bisa menyelamatkan manusia, yang bisa menuntun manusia keluar dari lorong-lorong kegelapan dan lorong-lorong keputus-asaan. Selalu ada keyakinan bahwa Badai pasti berlalu, selalu ada optimisme ala R.A.Kartini: habis gelap terbitlah terang.
Nglempong Lor, 18 April 2012. Ditulis dan dikembangkan lagi di Nglempong Lor, Yogyakarta, 28 Februari 2013 (Ketika terjadi Sede Vacante di Roma).
Dosen Fakultas Filsafat UNPAR Bandung; Anggota LBI dan ISBI.
Tahun 2008 silam saya pernah menulis sebuah artikel ilmiah tentang citra Gereja yang ramah. Artikel itu sudah dimuat dalam jurnal ilmiah Diskursus, pada STF Driyarkara, Jakarta, edisi Oktober 2008. Di sana saya menguraikan secara deskriptif dan argumentatif tentang beberapa aspek dari tindakan pertobatan Gereja Katolik, yang mendorong munculnya citra gereja yang ramah itu. Di situ saya menampilkan enam poin perubahan sikap gereja Katolik. Salah satu dari keenam poin perubahan itu adalah per-hati-an Gereja Katolik terhadap persoalan demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Gereja Katolik dalam sejarah dunia modern ini telah memberi per-hati-an yang penuh terhadap kedua permasalahan tersebut. Ini adalah sesuatu yang sejak awal mula tampak paradoksal, tetapi sesungguhnya hal itu sudah menjadi bagian utuh dari sepak terjang gereja Katolik itu sendiri dalam sejarah dan dalam kiprahnya di tengah dunia dan jaman ini.
Salah satu wujud nyata perubahan (metanoia) itu ialah kesediaan Paus Yohanes Paulus II untuk memohon ampunan atas pelbagai dosa dan kesalahan kemanusiaan yang pernah terjadi atau dilakukan di masa silam. Ketika mendengar hal ini saya langsung teringat akan kekerasan praksis inkuisisi yang dilakukan gereja pada abad pertengahan. Juga teringat akan praksis penjajahan terhadap dunia ketiga, seperti di Amerika Latin yang mendapat pengesahan rangkap, dari tahta suci Gereja dan dari Tahta dunia (Raja Spanyol dan Portugal pada masa itu).
Pada suatu saat saya meminjam buku dari perpustakaan CRCS-ICRS UGM Yogyakarta. Buku itu berasal dari seorang pengarang bernama Bryan S.Turner. judul bukunya sangat menarik: Vulnerability and Human Rights.
Saya langsung mulai membacanya dan saya merasa bahwa buku ini sangat penting dan menarik. Buku ini berbicara tentang fakta bahwa hidup manusia di dunia ini sangat rapuh (rentan). Ada pun hal itu disebabkan karena ada banyak faktor. Misalnya, hidup manusia bisa mudah menjadi rentan karena penyakit, atau karena pelbagai bencana alam, perang, penindasan, kekerasan, perbudakan, faktor perdagangan manusia (human trafficking). Dalam semua kondisi itu, memang hidup manusia menjadi sangat rapuh bahkan bisa masuk ke bawah zona ketidak-manusiawian yang akut dan menyedihkan. Dengan sangat mudah kita melihat betapa sedih nasib rakyat Suriah yang hingga saat ini masih dilanda perang saudara. Bencana alam (tanah longsor, gempa bumi, banjir, badai, letusan gunung berapi) masih terjadi di mana-mana; hal itu semua menyebabkan hidup manusia menjadi sangat menderita. Kira-kira hal seperti itulah yang menjadi topik utama dari buku Turner ini.
Lebih jelasnya Bryan S.Turner menguraikan tujuh pokok yang menjadi tujuh Bab utama dalam bukunya ini. Selanjutnya dalam tulisan ini, saya akan mencoba menguraikan secara singkat ketujuh pokok itu di bawah ini.
Pertama, ia berbicara tentang pelbagai macam kejahatan melawan kemanusiaan. Konotasinya yang terutama ialah menyangkut pelbagai macam kejahatan yang disebabkan oleh sesama, seperti perang, kekerasan, penindasan, kemiskinan, dan mungkin terutama proses pemiskinan. Kedua, karena adanya fakta kejahatan melawan kemanusiaan, maka hidup manusia menjadi sangat rentan, menjadi sangat serba rapuh. Fakta kerentanan itulah yang mendatangkan sengsara dan penderitaan dalam hidup manusia. Mulai dari Bab 3 sampai Bab 6 buku ini berbicara tentang hak-hak. Dalam Bab 3 misalnya, ia berbicara tentang hak-hak budaya (cultural rights) dalam keterkaitannya dengan teori pengakuan kritis. Dalam Bab 4 buku ini berbicara tentang hak-hak reproduktif dan seksual (reproductive and sexual rights). Dalam Bab 5 buku ini berbicara tentang hak-hak dari orang-orang yang cacat dan berkekurangan. Akhirnya dalam Bab 6, buku ini berbicara tentang hak-hak tubuh manusia, sebab ternyata tubuh sangat mudah menjadi objek manipulasi manusia sendiri, karena kata Michel Foucault, tubuh itu tidak pernah bersih dari efek budaya, tubuh selalu tampil dalam keadaan terkontamiasi oleh kultur.
Dengan ini dan di sini pembahasan tentang hak-hak itu sudah selesai. Lalu, akhirnya buku ini diakhiri dengan Bab 7 yang berbicara tentang fenomena yang disebut xenophobia (ketakutan akan suku bangsa lain) baik dalam bentuknya yang lama maupun terutama dalam bentuknya yang baru. Menurut pembacaan saya, dengan ini buku itu seakan-akan kembali lagi ke bagian awalnya, sebab dengan berbicara tentang xenophobia buku ini lagi-lagi berbicara tentang dunia yang, walaupun ada banyak derita dan sengsaranya, toh tetap mempunyai dasar dan alasan untuk selalu berharap dan tetap mempunyai perspektif untuk melakukan perbaikan dan pemulihan diri.
Kiranya hal-hal seperti itulah yang menjadi pesan pokok dari buku ini: kendati segala pengalaman negatif, dan segala pengalaman kegelapan, jangan sampai manusia dan kemanusiaan jatuh terjerembab dalam jurang keputus-asaan dan nihilisme yang absurd yang justru bisa mencelakakan manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Syukurlah bahwa dalam pelbagai tradisi masyarakat di dunia ini selalu ada local wisdom dan perennial wisdom yang bisa menyelamatkan manusia, yang bisa menuntun manusia keluar dari lorong-lorong kegelapan dan lorong-lorong keputus-asaan. Selalu ada keyakinan bahwa Badai pasti berlalu, selalu ada optimisme ala R.A.Kartini: habis gelap terbitlah terang.
Nglempong Lor, 18 April 2012. Ditulis dan dikembangkan lagi di Nglempong Lor, Yogyakarta, 28 Februari 2013 (Ketika terjadi Sede Vacante di Roma).
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...