Showing posts with label DUABELAS NABI KECIL. Show all posts
Showing posts with label DUABELAS NABI KECIL. Show all posts

Tuesday, June 23, 2020

MENGENAL NABI HOSEA (BGN 4)

Oleh: Fransiskus Borgias M 


 

Dalam bagian terakhir dari tulisan yang terdahulu, saya sudah mengatakan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara Hosea dan kitab Ulangan. Kitab Ulangan itu sendiri oleh banyak para pakar Alkitab dianggap sebagai sebuah karya yang berasal dari lingkungan para Imam (dari utara) itu. Untuk mendukung pernyataan ini kiranya perlu diberikan beberapa contoh kongkret berikut ini tentang kemiripan yang ada di antara mereka. Pertama, misalnya baik kitab Hosea maupun kitab Ulangan memandang Israel sebagai sebuah bangsa yang mempunyai hubungan dengan Yahweh lewat sebuah relasi perjanjian yang dipengantarai oleh Musa (hal itu misalnya tampak dalam kedua teks ini: Ul 5; Hos 8:1-3; 12:14). Kedua, baik Hosea maupun kitab Ulangan sama-sama menunjuk kepada Dekalog (sepuluh perintah) sebagai sebuah gagasan garis besar yang mendasar dari apa yang dituntut Yahweh dari umat perjanjianNya (lihat Ul 5:1-22; Hos 4:1-3). Ketiga, baik Hosea maupun kitab Ulangan sama-sama menekankan arti penting dari hal “mengenal Yahweh” dan “tidak melupakan ataupun mengabaikan hukum-hukumNya” (lihat Ul 4:9; 6:6-13; 8:11-20; Hos 4:1-3). Memang kedua hal itu sangat penting bagi Hosea dan Ulangan. Keempat, keduanya yakin dan percaya bahwa tindakan “meninggalkan perjanjian Yahweh” dengan melanggar pelbagai hukum-hukum ini akan mendatangkan pelbagai akibat yang mengerikan dan dahsyat dalam hidup mereka (lihat Ul 28; Hos 8:3). Kelima, keduanya mencirikan peranan dari para imam sejati pertama-tama ialah menjadi “para pengajar” yang mengajarkan hukum ini, dan bukan terutama “orang yang mempersembahkan kurban-kurban” (lihat Ul 33:10; 31:9-11; Hos 4:6; 8:12). Keenam, keduanya sama-sama mempunyai sikap yang kritis dan tegas terhadap lembaga kerajaan dan memandang seorang raja tertentu hanya memiliki keabsahan sebagai raja kalau ia ditunjuk (diangkat, diurapi) oleh Yahweh (Ul 17:14-15; Hos 8:4). Ketujuh, keduanya memandang patung anak sapi di Betel (walaupun mempunyai asal-usul sejak jaman Harun juga) sungguh-sungguh merupakan simbol yang tidak sah (dank arena itu tidak dapat diterima) bagi Yahweh (Ul 9:15-21; Hos 8:5-7).

Dari ketujuh daftar itu kita dapat menyimpulkan bahwa suatu kemungkinan penafsiran yang sah dan mungkin terhadap kenyataan ini ialah dengan mengatakan bahwa mereka menunjuk ke sebuah latar belakang yang sama. Kalau tidak demikian, maka sulit kiranya terdapat kesamaan ataupun kemiripan tertentu dalam beberapa hal yang penting dari kehidupan iman Israel itu sendiri. Jadi, di sini mau dikatakan bahwa pelbagai kesamaan yang mencolok di antara pelbagai tradisi menunjukkan bahwa tradisi itu mungkin mempunyai asal-usul yang kurang lebih sama. Kita mendapat sebuah kesan yang kuat bahwa keduanya (kitab Ulangan dan kitab nabi Hosea) kiranya berasal dari komunitas-komunitas imamat (Levita) yang banyak bermukin di kerajaan utara. Kita harus ingat akan hal ini dengan baik. Kita juga harus terus mengingat akan fakta bahwa kaum Levita ini sudah dikucilkan dari tempat-tempat suci yang resmi yang didukung dan diselenggarakan oleh negara. Kalau kita ingat akan kedua fakta ini, maka kiranya kita bisa dengan cukup mudah memahami mengapa Hosea itu bersikap sangat kritis terhadap status dan lembaga imamat yang sudah mapan (lihat misalnya sikap kritis itu tampak terekam dalam Hos 4:4-11).

Tetapi para imam yang ia kritik bukanlah yang berasal dari kalangan kaum Levita. Melainkan kelompok para imam yang berasal dari latar belakang “keluarga yang biasa” saja. Konon raja Yeroboam dulu sudah mengangkat dan menunjuk mereka untuk menduduki dan melayani tempat-tempat suci yang ada di wilayah kerajaan utara (1Raj 12:31). Perhatikan bahwa kritik yang diajukan oleh nabi Hosea memang sebuah kritik yang sudah sepatutnya akan muncul dari kaum Levita terhadap lembaga imamat “jadi-jadian” (yang tidak berasal dari tradisi garis keturunan imamat yang tradisional, yang dikenal Israel). Misalnya, lembaga imamat yang ia kritik itu adalah lembaga imamat yang suka akan kurban (mempersembahkan kurban) dan mengurbankan tugas pengajaran. Maka akibatnya sudah sangat jelas, yaitu umat pun menjadi sangat kekurangan pengetahuan, bahkan berada dalam keadaan tanpa pengetahuan sama sekali. Kira-kira seperti yang diungkapkannya dalam kutipan berikut ini: “umat-Ku hancur karena kekurangan pengetahuan” (Hos 4:6). Jadi, di sini juga diandaikan bahwa para imam tersebut mengabaikan tugas mereka yang sebenarnya karena terlalu menekankan ibadat-ibadat kurban. Maka dari konteks seperti ini keluarlah kritik-kritik yang sangat pedas terhadap ibadat-ibadat kurban Israel, di pelbagai tempat kudus, yang ada di kerajaan utara.

Dari seluruh uraian yang sudah dibentangkan di atas tadi, kiranya kita boleh menarik beberapa poin simpulan berikut ini. Pertama, bahwa boleh jadi Hosea itu adalah seorang petani. Tetapi sekaligus juga kita bisa mengatakan bahwa dia juga adalah seorang anggota dari para imam dari suku Levi yang sudah dikucilkan, sudah tidak diberi kepercayaan lagi. Dengan menerima kedua macam pengandaian ini kita bisa juga membayangkan dia sebagai seseorang yang sangat terlibat di dalam kegiatan studi dan juga kegiatan mempertahankan dan mendorong serta memajukan kultur kontra yang sangat rapuh dan rentan ini (Lihat Hos 8:12; di dalam teks ini kita bisa dengan mudah melihat peranan yang kiranya mungkin ia mainkan di dalam tindakan membantu karya pelestarian dari pelbagai ajaran-ajaran yang diwariskan di dalam gereja untuk kemudian dibuat dalam bentuk yang tertulis, agar orang tidak lagi mudah lupa). 


Dosen Teologi Biblika, FF-UNPAR, Bandung. Anggota LBI dan ISBI. Ketua Sekolah Kitab Suci K3S Keuskupan Bandung. 


 


Thursday, June 18, 2020

MENGENAL NABI HOSEA, BAGIAN 3

Oleh: Fransiskus Borgias M 
Dosen Teologi Biblika, FF-UNPAR, Bandung. 
Ketua Sekolah Kitab Suci K3S Keuskupan Bandung. 

 



Dalam bagian terdahulu diberitahukan bahwa nabi Hosea, dengan mengikuti usul dari exegete kondang dari Jerman, Hans Dieter Wolff, kiranya berasal dari keluarga para imam. Informasi ini penting dan menarik. Untuk bisa memahami arti penting informasi ini mungkin ada baiknya kita melihat sejenak tentang kelompok para imam ini, apa yang menjadi nasib mereka. Sebab bagaimana pun dalam kaca mata antropologi budaya modern, kelompok para imam ini adalah kelompok sub-kultur yang penting dan menarik untuk dikaji (diamati).

Hal pertama yang bisa dikatakan tentang mereka ialah bahwa pernah terjadi dalam perjalanan sejarah Israel, kelompok para imam Levita ini merupakan kelompok yang menjalankan fungsi dan peranan sebagai pemimpin (paling tidak dalam bidang ritual) dalam masyarakat Israel (lih. Ul 18:1-8). Bahkan menurut Keluaran 32:25-29, adalah Musa sendiri, yang adalah tokoh besar yang dipandang sebagai pendiri dan pemberi landasan kokoh eksistensi historis dan teologis Israel, yang telah menunjuk dan mengangkat mereka untuk menjalankan fungsi dan peran sebagai imam (bdk., juga Ul 33:8-11). Hal itu dilakukan Musa untuk memberi mereka pahala atau imbal jasa karena kelompok ini sudah sangat berjasa selama Israel sedang melewati masa-masa krisis di dalam perjalanan historis mereka. Terlebih lagi, haruslah disadari terus menerus bahwa pada masa-masa awal pendudukan Israel di Kanaan, adalah Elia tokoh yang terkenal itu, salah satu anggota dari kelompok tadi, yang bertugas sebagai imam atas seluruh Israel yang berkedudukan di pusat tempat suci bangsa itu, yakni persisnya di Silo (1Sam 1:3).

Tetapi justru pada saat itulah terjadi sebuah drama tragedi besar dalam sejarah hidup dan eksistensi mereka. Pada masa-masa itu terjadi serangkaian peperangan antara orang Israel dan orang Filistin. Dalam untaian peperangan itulah tempat suci yang sangat penting ini dihancurkan. Tidak hanya itu. Bahkan ada satu benda warisan sangat suci yang ada di tempat itu, yaitu tabut perjanjian, juga jatuh ke tangan orang Filistin (lihat 1Sam 4-6). Ketika hal itu terjadi, untuk suatu kurun waktu tertentu, Israel tidak memiliki satu pusat tempat suci sama sekali. Bahkan symbol kehadiran dan penyertaan Yahweh kepada mereka juga dirampas oleh orang lain. Tetapi untung tokoh Daud merebut kembali tabut perjanjian itu dan membawanya ke Yerusalem. Kemudian ia menempatkan tabut perjanjian itu di sana dalam sebuah kemah khusus yang didirikan untuk tabut tersebut (2Sam 7). Salah satu anggota kelompok para imam, yakni Abiathar, lagi-lagi diangkat sebagai satu dari dua imam yang bertanggung-jawab menyelenggarakan pelbagai aktifitas peribadatan di sana (lih.2Sam 8:17; informasi mengenai garis keturunan Levitikus dari Abiathar, bisa dilihat misalnya dalam 1Sam 14:3; 22:20-23).

Kemudian, tragedi maut itu terjadi lagi untuk kedua kalinya. Hal itu terjadi tatkala Daud mati. Saat itu Abiathar dan keluarganya diusir dari Yerusalem oleh Salomo (yang adalah anak Daud sendiri, dari Batsyeba, isteri Uria). Abiathar diusir karena mereka menentang Salomo yang berjuang naik tahta menggantikan kedudukan Raja yang baru mangkat (1Raj 2:26-27). Tragisnya lagi, tatkala tempat-tempat suci di kerajaan utara dibangun di bawah pemerintahan raja Yeroboam (setelah sepuluh suku Utara memisahkan diri dari dua suku Selatan dan dengan itu mereka mendirikan kerajaan utara), ternyata kaum Levita ini tidak dipandang lagi. Mereka disepelekan, disingkirkan. Ternyata orang di kerajaan utara lebih memilih orang yang berasal dari “keluarga biasa” (1Raj 12:31).

Jadi, dari untaian fakta historis itu tampak bahwa keluarga-keluarga Levita dari kerajaan Utara, walaupun mereka mempunyai garis keturunan yang sangat terhormat sebagaimana sudah ditunjukkan secara singkat di atas tadi, ternyata tidak memiliki peranan resmi apa pun sebagai para imam di salah satu tempat suci yang dibangun negara, baik itu di selatan maupun di utara. Kiranya memang demikianlah keadaannya selama kurang lebih dua abad. Itulah yang terjadi pada jaman nabi Hosea. Yaitu, mereka berasal dari garis keturunan imam, tetapi mereka tidak bertugas sebagai imam di tempat suci negara.

Kalau Hosea memang merupakan salah satu keturunan kelompok para imam, maka sangat mungkin bahwa Hosea menopang hidupnya dengan kegiatan bertani. Kiranya hanya itulah pilihan yang tersedia, sebab pada jaman itu mereka tidak lagi bertugas di tempat-tempat suci yang dibangun negara. Namun demikian, karena imamat itu bersifat herediter, maka mereka tetap merupakan kelompok imam. Nah status ini, bisa membantu kita untuk memahami Hosea. Kemudian, pada masa pembaharuan (reformasi) Yosiah tahun 621, fungsi dan peranan imamat mereka dipulihkan lagi paling tidak untuk sebagian. Kiranya pada waktu inilah mereka ditetapkan lagi dan diangkat untuk menempati jabatan dan status sebagai bawahan para imam yang berasal dari keturunan Harun di Yerusalem yang saat itu sedang menjadi pemimpin para imam di sana (2Raj 23:8-9; Bil 3:6).

Tetapi apakah kiranya yang menjadi alasan bagi kita untuk menduga bahwa Hosea mempunyai satu keterkaitan tertentu dengan tradisi Levitikus (imamat)? Kunci untuk memahami keterkaitan ini ialah adanya hubungan yang sangat erat antara Hosea dan kitab Ulangan. Banyak pakar biblika berkeyakinan bahwa kitab Ulangan ini mempunyai asal-usul dalam tradisi Imamat ini (perhatikanlah bagaimana kitab Keluaran itu menerima begitu saja sebuah kenyataan bahwa kaum Levita merupakan satu-satunya kelompok imam yang ditunjuk Yahweh) (Lihat misalnya Ul 18:1-8). (Bersambung….).

 


Wednesday, June 17, 2020

MENGENAL NABI HOSEA (BGN 2)

Oleh: Fransiskus Borgias M 

Dosen teologi Biblika FF-UNPAR, Bandung. Anggota LBI dan ISBI. 

Ketua Sekolah Kitab Suci K3S Bandung. 



Mari kita lanjutkan upaya kita untuk mengenal dan mendalami sosok pribadi nabi Hosea. Di sini kita terutama mau mengetahui dan membahas dua hal. Pertama, dari mana ia berasal. Kedua, apa pekerjaannya? Kita mulai dengan yang pertama. Sebenarnya kita tidak tahu pasti di mana nabi Hosea ini tinggal dan berkarya. Tetapi ada satu-dua hal yang bisa kita simpulkan dari apa yang dilukiskan di dalam kitabnya. Semua nama tempat yang disebut dalam kitabnya adalah nama tempat yang terletak di kerajaan Utara. Hal ini terasa sangat mencolok. Karena itu, para ahli condong untuk berkata bahwa kiranya nabi ini berasal dari dan berkarya di kerajaan Utara. Hal itu terasa mencolok lagi jika kita bandingkan dengan fakta lain dalam kitabnya yaitu bahwa tidak pernah sekalipun dalam kitab itu nama Yerusalem disebutkan. Padahal kota itu sangat penting sejak jaman kerajaan bersatu di bawah Daud dan Salomo. Tetapi Ibu kota Yudea itu tidak pernah disebutkan. Terkesan bahwa Yerusalem itu bukan apa-apa.

Sebaliknya nama-nama kota yang paling sering muncul ialah kota-kota seperti Samaria. Hal itu tidak mengherankan, sebab Samaria adalah ibukota Kerajaan Utara, Israel. Pada jaman Amos, misalnya kerajaan utara itu berada pada puncak kejayaan dan kemakmurannya secara ekonomis. Hal itu tampak dari marak dan mewahnya kegiatan peribadatan di Betel (Amos 5:21-23). Di dalam kitab Hosea kita juga temukan beberapa kali nama Efraim disebut; itu adalah suku Israel yang terbesar di kerajaan utara. Selain itu kita juga bisa menemukan penyebutan nama tempat-tempat suci yang terletak di kerajaan utara seperti Betel dan Gilgal (Hos 5:15; 6:10; 8:5). Bahkan sebuah pusat suku bangsa kuno yaitu Sikem juga disebut (6:9). Sekali lagi, Yerusalem sama sekali tidak disebutkan. Bahkan ada seorang pakar biblika yang bernama Hans Walter Wolff yang mengusulkan bahwa boleh jadi nabi Hosea ini adalah orang yang berasal dari Sikem. Penjelasan tentang teori asal-usul “dari Sikem” ini akan dijelaskan lebih lanjut di tempat lain di kemudian hari.

Walau tidak dapat dikatakan dengan pasti, dari mana nabi Hosea berasal (nama kota asal), tetapi ada satu hal yang jelas yaitu sang nabi memang hidup dan bernubuat (menyampaikan nubuatnya) di kerajaan utara. Jika anggapan ini benar, maka Hosea menjadi satu-satunya nabi yang kita pelajari di sini yang berasal dari utara dan berkarya di utara. Amos memang berkarya di utara, sebab ia bernubuat di Betel, tetapi nabi Amos sendiri berasal dari kerajaan Selatan, yaitu dari Tekoa.

Hal kedua yang akan kita ulas di sini ialah mengenai pekerjaan si nabi Hosea ini. Apa pekerjaan Hosea saat ia dipanggil oleh Yahweh untuk menjadi nabiNya? Pemahaman tentang hal ini akan sangat penting dan menentukan dalam upaya kita memahami warta kenabian Hosea. Sebab memang ada hubungan yang begitu erat antara cara hidup dan pekerjaan dan karier kenabian kelak dari seorang nabi. Kira-kira sama seperti nabi Amos yang seluruh karya kenabiannya juga turut diwarnai oleh profesinya sebelum ia menjadi nabi.

Lagi-lagi terkait dengan hal ini, sebenarnya tidak ada banyak informasi yang bisa digali dari kitabnya sendiri. Dengan kata lain, informasi yang bisa digali dari kitab Hosea itu sangat terbatas. Namun di sana-sini kita bisa menemukan beberapa jejak atau petunjuk. Kedua hal ini membuat kita mampu menarik beberapa simpulan yang kiranya masuk akal juga. Misalnya, kita coba gali informasi dalam Bab 3. Di sini nabi Hosea mengisahkan bahwa ia mengeluarkan sejumlah biaya untuk menebus kembali isterinya (Hos 3:2). Biaya itu ada yang berupa duit tunai (pecunia), ada yang berupa barang atau benda (materia). Bahkan di sana ada data yang cukup rinci mengenai biaya yang ia keluarkan. Separuh dari jumlah uang tebusan (bayaran) itu dibayar dalam bentuk perak (limabelas potong). Separuhnya dibayar dengan sejumlah ukuran jelai (kira-kira duabelas setengah gantang). Ada lagi sebagian dari biaya itu yang dibayar dengan sekantong anggur. Dari informasi yang rinci seperti ini ada satu hal yang bisa kita simpulkan tentang Hosea, yaitu bahwa Hosea saat itu tidak memiliki dana tunai yang memadai untuk membayar seluruh harga itu dengan sejumlah uang (perak). Itu sebabnya ada sebagian dari dana tersebut yang harus ia bayar dengan barang (materia) yang kiranya tersedia cukup banyak padanya, yaitu jelai dan anggur. Dari fakta itu mungkin kita bisa mengatakan bahwa Hosea adalah petani kecil walaupun belum tentu miskin.

Selain berprofesi sebagai petani kecil, ada juga pakar biblika yang menduga bahwa boleh jadi Hosea adalah anggota kelompok para Imam dari suku Levi. Inilah usulan yang diberikan Hans Dieter Wolff (Lihat Hosea, Hermeneia, Philadelphia: Fortress, 1974. Aslinya buku ini diterbitkan dalam Bahasa Jerman, tahun 1965; ini sebuah buku tua, tetapi tetap mengandung beberapa informasi penting dan berharga tentang Hosea). Bagi saya ini juga adalah informasi yang penting dan menarik untuk dicermati lebih lanjut. Umum diketahui bahwa kelompok imam ini hidup terpencar-pencar dalam beberapa kota kecil di bagian utara masa itu. Informasi tentang latar belakang Hosea yang berasal dari Keluarga imam, akan didalami lebih lanjut dalam tulisan yang akan datang. (Bersambung). 



Tuesday, June 16, 2020

MENGENAL NABI HOSEA (Bgn.I)

Oleh: Fransiskus Borgias M 

Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI. Ketua Sekolah Kitab Suci K3S Keuskupan Bandung.

 

Dalam kitab suci kita ada duabelas nabi-nabi kecil (minor prophets). Mereka disebut kecil bukan karena peran, jasa, kontribusi mereka yang kecil (tidak berarti), melainkan karena kitab yang mereka hasilkan berukuran kecil saja bahkan ada yang hanya satu bab saja. Biasanya juga tidak lebih dari 15 Bab. Yang paling panjang dari keduabelas nabi kecil itu ialah Hosea dan Zakaria (yang masing-masingnya terdiri atas 14 Bab). Yang lain jumlah babnya kurang dari jumlah tersebut. Jika dibandingkan dengan tiga atau empat nabi (Yesaya, Yeremia, Yeheskiel, Daniel) yang berukuran besar dan panjang, maka memang ukuran fisikal kitab nabi-nabi ini sangat kecil. Walaupun kitab mereka berukuran kecil, namun sesungguhnya mereka juga adalah tokoh besar yang tidak kalah daya pengaruhnya seperti para nabi yang besar-besar itu. Hosea dan Amos, misalnya, diakui sebagai nabi besar, walaupun kitab mereka kecil atau pendek.

Ini adalah urutan kanonik dari keduabelas kitab tersebut. Yang dimaksud dengan urutan kanonik ialah urutan sebagaimana yang ada dalam kitab suci kita. Di sana kita lihat urutan sbb: Hosea, Yoes, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefania, Hagai, Zakharia, Maleakhi. Tetapi urutan kanonik itu bukanlah urutan historis (kronologis). Urutan historisnya ialah sbb: ada tiga nabi yang berasal abad kedelapan sebelum Masehi. Mereka ialah, Amos, Hosea, Mikha. Ada empat nabi yang berasal dari abad ketujuh sebelum Masehi. Mereka adalah Zefania, Nahum, Habakuk, Obaja. Dan ada lima nabi yang berasal dari abad keenam sebelum Masehi. Mereka adalah Hagai, Zakaria, Maleakhi, Yoel, Yunus.

Saya akan mulai mengulas keduabelas tokoh ini berdasarkan urutan kanonis dalam Kitab Suci. Alasannya adalah karena itu merupakan urutan kanonik, urutan yang diakui resmi oleh otoritas gereja. Ini juga ada unsur pilihan personal, artinya saya memilih urutan kanonik karena saya mendukung penetapan urutan kanonik tersebut. Ini penting, mengingat dalam sejarah ada saja orang iseng yang menetapkan kanon sendiri. Karena dalam urutan kanonik kita nama pertama ialah Hosea, maka saya akan mulai dengan mengulas Hosea.

Siapakah tokoh yang bernama Hosea ini? Kita bisa mengenal nabi bernama Hosea ini dari beberapa informasi di dalam kitab itu sendiri. Informasi pertama dapat kita jumpai dalam judul Bab 1:1. Kedua, kita juga bisa belajar tentang beliau berdasarkan informasi yang ada dalam Bab 1:2-9, berupa sebuah laporan tentang dia tetapi dalam gaya diri orang ketiga. Dari sini kita bisa mengetahui tentang apa yang kiranya mendorong atau menggerakkan Hosea ini untuk menjadi nabi. Akhirnya, kita juga bisa mengetahui sesuatu tentang Hosea dari informasi yang ada dalam Bab 3, dalam mana ia memberikan sebuah laporan pribadi tentang apa yang ia alami dan ia rasakan selama ini.

Hal pertama, kita mulai dengan nama diri sang nabi itu. Dalam Hos 1:1 kita bisa temukan informasi tentang nama itu. Namanya ialah Hosea. Di sana disebutkan juga nama ayahnya, Beeri. Itu sebabnya ia disebut Hosea bin Beeri. Nama personalnya baru tampak dalam Hos 1:2. Di sana kita hanya menemukan nama diri Hosea, tanpa keterangan nama ayahnya. Hal kedua yang perlu kita ketahui ialah bahwa setelah kita mengetahui nama diri tokoh ini, kita bertanya lebih lanjut, apa arti nama ini? Sebab setiap nama orang Israel pasti mempunyai makna. Para ahli hampir sepakat dalam mengatakan bahwa nama Hosea itu mempunyai arti sbb: “Dia telah membantu”. Atau “Dia telah menyelamatkan”. Dia yang dimaksudkan di sini ialah Yahweh sendiri. Yahweh itulah yang telah membantu, Yahweh itulah yang telah menyelamatkan. Keselamatan berasal dari Yahweh itu sendiri. Perlu juga diberitahukan di sini bahwa nama Hosea ini adalah sebuah nama yang cukup popular di wilayah utara Kerajaan Israel dulu.

Pada waktu itu diduga ada cukup banyak orang bernama Hosea. Kira-kira seperti nama Pit atau Pim atau Ton di Belanda sana. Sampai ada joke di Belanda, bahwa di antara lima orang Belanda pasti salah satu di antaranya ada yang bernama entah Pim atau Pit ataupun Ton juga Frans. Kita kembali lagi ke nama Hosea tadi. Di atas tadi dikatakan bahwa di bagian utara kerajaan Israel dulu nama Hosea itu sangat popular. Sebagai bukti pendukung kita bisa menunjuk beberapa teks yang bisa memperkuat anggapan dan dugaan tersebut. Pertama, menurut Bilangan 13:8, nama Hosea itu pernah juga dipakai atau dikenakan pada tokoh pemimpin besar mereka sesudah Musa, yaitu Joshua, seorang tokoh pemimpin yang berasal dari suku Efraim yang mendiami bagian utara dari Tanah Terjanji tersebut. Dalam teks tersebut, nama tokoh besar Yoshua disebut dengan nama Hosea bin Nun. Padahal biasanya tokoh Yosua disebut Yosua bin Nun. Petunjuk bukti pendukung yang kedua ialah teks 2Raj 17:6. Menurut informasi yang dapat kita baca di dalam teks ini, kita menemukan sebuah fakta historis bahwa nama Hosea adalah juga nama dari sang raja terakhir dari kerajaan utara, Israel, sebelum kerajaan itu dihancurkan Asyur. Raja ini masih kurang lebih sejaman dengan nabi yang bernama Hosea ini. (Memang ada teks yang menulis nama ini dengan ejaan lain, yaitu Hoshea. Tetapi dalam Alkitab kita, ditulis Hosea. Bagaimana pun, keduanya adalah sama saja). (bersambung).

 


PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...