Tuesday, June 23, 2020

MENGENAL NABI HOSEA (BGN 4)

Oleh: Fransiskus Borgias M 


 

Dalam bagian terakhir dari tulisan yang terdahulu, saya sudah mengatakan bahwa ada hubungan yang sangat erat antara Hosea dan kitab Ulangan. Kitab Ulangan itu sendiri oleh banyak para pakar Alkitab dianggap sebagai sebuah karya yang berasal dari lingkungan para Imam (dari utara) itu. Untuk mendukung pernyataan ini kiranya perlu diberikan beberapa contoh kongkret berikut ini tentang kemiripan yang ada di antara mereka. Pertama, misalnya baik kitab Hosea maupun kitab Ulangan memandang Israel sebagai sebuah bangsa yang mempunyai hubungan dengan Yahweh lewat sebuah relasi perjanjian yang dipengantarai oleh Musa (hal itu misalnya tampak dalam kedua teks ini: Ul 5; Hos 8:1-3; 12:14). Kedua, baik Hosea maupun kitab Ulangan sama-sama menunjuk kepada Dekalog (sepuluh perintah) sebagai sebuah gagasan garis besar yang mendasar dari apa yang dituntut Yahweh dari umat perjanjianNya (lihat Ul 5:1-22; Hos 4:1-3). Ketiga, baik Hosea maupun kitab Ulangan sama-sama menekankan arti penting dari hal “mengenal Yahweh” dan “tidak melupakan ataupun mengabaikan hukum-hukumNya” (lihat Ul 4:9; 6:6-13; 8:11-20; Hos 4:1-3). Memang kedua hal itu sangat penting bagi Hosea dan Ulangan. Keempat, keduanya yakin dan percaya bahwa tindakan “meninggalkan perjanjian Yahweh” dengan melanggar pelbagai hukum-hukum ini akan mendatangkan pelbagai akibat yang mengerikan dan dahsyat dalam hidup mereka (lihat Ul 28; Hos 8:3). Kelima, keduanya mencirikan peranan dari para imam sejati pertama-tama ialah menjadi “para pengajar” yang mengajarkan hukum ini, dan bukan terutama “orang yang mempersembahkan kurban-kurban” (lihat Ul 33:10; 31:9-11; Hos 4:6; 8:12). Keenam, keduanya sama-sama mempunyai sikap yang kritis dan tegas terhadap lembaga kerajaan dan memandang seorang raja tertentu hanya memiliki keabsahan sebagai raja kalau ia ditunjuk (diangkat, diurapi) oleh Yahweh (Ul 17:14-15; Hos 8:4). Ketujuh, keduanya memandang patung anak sapi di Betel (walaupun mempunyai asal-usul sejak jaman Harun juga) sungguh-sungguh merupakan simbol yang tidak sah (dank arena itu tidak dapat diterima) bagi Yahweh (Ul 9:15-21; Hos 8:5-7).

Dari ketujuh daftar itu kita dapat menyimpulkan bahwa suatu kemungkinan penafsiran yang sah dan mungkin terhadap kenyataan ini ialah dengan mengatakan bahwa mereka menunjuk ke sebuah latar belakang yang sama. Kalau tidak demikian, maka sulit kiranya terdapat kesamaan ataupun kemiripan tertentu dalam beberapa hal yang penting dari kehidupan iman Israel itu sendiri. Jadi, di sini mau dikatakan bahwa pelbagai kesamaan yang mencolok di antara pelbagai tradisi menunjukkan bahwa tradisi itu mungkin mempunyai asal-usul yang kurang lebih sama. Kita mendapat sebuah kesan yang kuat bahwa keduanya (kitab Ulangan dan kitab nabi Hosea) kiranya berasal dari komunitas-komunitas imamat (Levita) yang banyak bermukin di kerajaan utara. Kita harus ingat akan hal ini dengan baik. Kita juga harus terus mengingat akan fakta bahwa kaum Levita ini sudah dikucilkan dari tempat-tempat suci yang resmi yang didukung dan diselenggarakan oleh negara. Kalau kita ingat akan kedua fakta ini, maka kiranya kita bisa dengan cukup mudah memahami mengapa Hosea itu bersikap sangat kritis terhadap status dan lembaga imamat yang sudah mapan (lihat misalnya sikap kritis itu tampak terekam dalam Hos 4:4-11).

Tetapi para imam yang ia kritik bukanlah yang berasal dari kalangan kaum Levita. Melainkan kelompok para imam yang berasal dari latar belakang “keluarga yang biasa” saja. Konon raja Yeroboam dulu sudah mengangkat dan menunjuk mereka untuk menduduki dan melayani tempat-tempat suci yang ada di wilayah kerajaan utara (1Raj 12:31). Perhatikan bahwa kritik yang diajukan oleh nabi Hosea memang sebuah kritik yang sudah sepatutnya akan muncul dari kaum Levita terhadap lembaga imamat “jadi-jadian” (yang tidak berasal dari tradisi garis keturunan imamat yang tradisional, yang dikenal Israel). Misalnya, lembaga imamat yang ia kritik itu adalah lembaga imamat yang suka akan kurban (mempersembahkan kurban) dan mengurbankan tugas pengajaran. Maka akibatnya sudah sangat jelas, yaitu umat pun menjadi sangat kekurangan pengetahuan, bahkan berada dalam keadaan tanpa pengetahuan sama sekali. Kira-kira seperti yang diungkapkannya dalam kutipan berikut ini: “umat-Ku hancur karena kekurangan pengetahuan” (Hos 4:6). Jadi, di sini juga diandaikan bahwa para imam tersebut mengabaikan tugas mereka yang sebenarnya karena terlalu menekankan ibadat-ibadat kurban. Maka dari konteks seperti ini keluarlah kritik-kritik yang sangat pedas terhadap ibadat-ibadat kurban Israel, di pelbagai tempat kudus, yang ada di kerajaan utara.

Dari seluruh uraian yang sudah dibentangkan di atas tadi, kiranya kita boleh menarik beberapa poin simpulan berikut ini. Pertama, bahwa boleh jadi Hosea itu adalah seorang petani. Tetapi sekaligus juga kita bisa mengatakan bahwa dia juga adalah seorang anggota dari para imam dari suku Levi yang sudah dikucilkan, sudah tidak diberi kepercayaan lagi. Dengan menerima kedua macam pengandaian ini kita bisa juga membayangkan dia sebagai seseorang yang sangat terlibat di dalam kegiatan studi dan juga kegiatan mempertahankan dan mendorong serta memajukan kultur kontra yang sangat rapuh dan rentan ini (Lihat Hos 8:12; di dalam teks ini kita bisa dengan mudah melihat peranan yang kiranya mungkin ia mainkan di dalam tindakan membantu karya pelestarian dari pelbagai ajaran-ajaran yang diwariskan di dalam gereja untuk kemudian dibuat dalam bentuk yang tertulis, agar orang tidak lagi mudah lupa). 


Dosen Teologi Biblika, FF-UNPAR, Bandung. Anggota LBI dan ISBI. Ketua Sekolah Kitab Suci K3S Keuskupan Bandung. 


 


No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...