Monday, June 22, 2020

ATG: MEMBACA DAN MENAFSIRKAN KITAB SUCI

Oleh: Fransiskus Borgias M. 



Tulisan saya ini terkait pandangan mengenai hubungan umat Kristen Katolik dengan Kitab Suci. Ada semacam ketakutan, keseganan, dan keengganan di kalangan umat Kristen Katolik untuk membaca, memahami, dan menafsirkan Kitab Suci. Hal itu misalnya sedikit berbeda dengan semangat yang ada dan hidup di kalangan para saudara yang terpisah, para anggota jemaat Kristen Protestan. 

Akibat dari adanya ketakutan dan keengganan tersebut ialah fakta bahwa buku Kitab Suci orang-orang Kristen Katolik itu tetap bersih, tetap mulus; tanpa catatan apa pun di dalamnya, tanpa ada garis bawah, tanpa ada stabilo, tanpa ada tanda-tanda baca, tanpa ada catatan pinggir, semacam upaya “fill the blank space” seperti yang dilakukan oleh seorang teolog napi di Filipina yang, karena tidak mempunyai buku tulis, lalu menulis ide-idenya di pinggir halaman kitab sucinya, tetapi dari praksis itu ia kemudian menemukan sebuah metafora yang baru dan orizinal dan kreatif dan juga tepat sekali mengenai hubungan antara Kristianitas dan budaya asli setempat termasuk praksis agama asli di dalamnya. Keduanya dianggap saling mengisi satu sama lain. 

Kembali ke jalur tulisan ini, pokoknya buku Kitab Suci orang-orang Kristen Katolik itu mulus-mulus. Mungkin ada juga yang sudah berdebu tebal. Mungkin juga sudah ada yang halaman kitabnya lengket satu sama lain saking karena tidak pernah dibuka. Akibatnya, kitab itu menjadi jamuran, mungkin juga lumutan. Mungkin hal ini berlebihan, tetapi bisa saja hal seperti itu memang secara nyata terjadi. Tentu saja di sana-sini ada kekecualian juga. Ada umat Kristen Katolik yang buku Kitab Sucinya penuh dengan catatan, penuh dengan coretan, penuh dengan garis bawah, penuh dengan stabile, penuh dengan pelbagai tanda baca, terutama tanda-tanda seperti tanda seru (!), tanda tanya (?), tanda bintang (*), tanda kurung (()), dst.dst. Bagi saya kalau kita menemukan tanda-tanda seperti itu di dalam buku Kitab Suci seseorang itu adalah pertanda ada sebuah perjumpaan, ada sebuah upaya perjuangan untuk memahami, perjuangan untuk menafsirkan. 

Terkait dengan hal ini tiba-tiba saja saya teringat akan sebuah dialog antara saya dengan Pater CG dulu. Memang kami pernah berdialog tentang hal ini. Menurut dia, salah satu penyebab dari adanya keengganan dan keseganan umat Kristen Katolik terhadap buku Kitab Suci ialah karena efek dari penekanan pada peranan magisterium untuk menafsirkan Kitab Suci. Akibatnya ialah bahwa umat biasa merasa tidak perlu membaca buku Kitab Suci. Toh nanti hal itu pasti akan dibacakan oleh seorang petugas liturgy. Bahkan mungkin juga ada yang diam-diam dalam hati berkata, mengapa harus repot-repot menafsirkan dan memahami, toh nanti ada petugas yang menafsirkannya, membantu kita di dalam memahami kitab suci. Biasanya memang umat Kristen Katolik itu dibantu untuk memahami. Mereka lalu menjadi sangat manja, terbiasa disuap, tinggal menelan saja. Tidak terbiasa dengan proses-proses lain yang mendahuluinya, yang memang sangat penting untuk pemahaman pribadi dan perkembangan kepribadian juga. 

Selanjutnya pater CG juga menambahkan bahwa di kalangan umat Kristen Katolik ada anggapan yang cukup kuat bahwa ilmu tafsir (exegese) itu adalah sebuah ilmu yang bersifat eksklusif untuk sekelompok kecil para ahli (para pakar). Menarik sekali bahwa di dalam seluruh kariernya sebagai seorang ahli kitab Pater CG berusaha keras untuk membongkar mitos itu dan pelbagai anggapan yang sudah melekat kuat di dalam diri pribadi masing-masing orang. Walaupun pater CG sendiri adalah seorang ahli Kitab Suci, tetapi dia adalah seorang yang menganut aliran tafsir eksistensialis atas Kitab Suci itu. Yang dimaksudkan dengan tafsir eksistensialis ialah penafsiran kitab suci berdasarkan basis pengalaman hidup masing-masing orang. 

Memang ada banyak bahaya subjektivisme, tetapi ciri originalitas tampak sangat jelas di sana. Menurut saya bahaya subjektivisme bisa diredam di dalam perjumpaan dan konfrontasi dengan pelbagai macam tafsir dan pembacaan yang lain, sedangkan originalitas itu adalah sesuatu yang mengalir dan memancar keluar dari dalam hati sanubari masing-masing orang. Itulah arti penting dari originalitas itu. 

Terkait dengan gaya dan pola tafsir seperti ini, bahkan pater CG juga pernah menyebutkan bahwa para spesialis Kitab Suci itu sebenarnya adalah spesialis fosil-fosil belaka. Itu adalah produk dari hermeneutika yang mencoba mencari dan menggali apa yang ada di belakang teks. Padahal kitab suci selalu “mengemukakan” sesuatu. Kalau Kitab Suci itu selalu “mengemukakan” sesuatu (forward something) mengapa kita harus susah-susah mencari sesuatu di belakangnya? Kira-kira begitulah kritik terhadap tendensi tafsir kritik teks dan kawan-kawannya. 

Untuk memahami Kitab Suci dan untuk membuat Kitab Suci itu bisa mendarat dan bermakna bagi hidup umat beriman, menurut Pater CG kita tidak selalu mutlak memerlukan para ahli fosil tadi. Pater CG menekankan bahwa umat beriman biasa pun juga bisa secara langsung membaca dan memahami Kitab Suci. Syaratnya sederhana saja kok, kata dia. Asal saja mereka itu bisa membaca dan menulis dengan baik. Pokoknya, harus melek huruf dan melek angka. Sesederhana itu kata pater CG. 

Untuk menegaskan kebenaran historis yang sederhana itu pater CG lalu mengatakan kepada saya: “Ingat ya Frans, Kitab Suci itu pada mulanya ditulis untuk komunitas jemaat, yang pada umumnya orang-orang sederhana. Paling tidak, mereka itu bukan spesialis ilmu tafsir. Mereka itu bukan ahli fosil. Mereka itu umat biasa saja.” “Nah, coba kamu bayangkan bagaimana surat 1Tesalonika itu misalnya dibaca di ruang gereja rumah di Tesalonika pada tahun 50an Masehi itu. mereka itu baru saja bertobat dan menjadi Kristiani, para pengikut Kristus. Mereka pada umumnya adalah umat sederhana. Paulus menulis surat 1Tesalonika itu untuk mereka tadi. 

Nah, Frans, kalau surat itu dulu berbunyi bagi mereka, seharusnya surat itu juga bisa berbunyi bagi umat masa kini, dan umat sepanjang masa, di setiap waktu dan di setiap tempat. Sekali lagi, Paulus tidak menulis surat untuk kelompok umat spesialis. Melainkan ia menulis surat untuk umat yang sederhana, tetapi mereka mempunyai akal sehat untuk bisa membaca dan menulis, serta menafsirkan. Sudah barang tentu saat surat itu dibacakan di depan komunitas jemaat, pasti ada sang pembaca (lector) yang juga berfungsi sebagai commentator dan interpreter untuk surat tadi. Tetapi tetap saja tinggal fakta bahwa umat itu adalah orang yang sederhana dan mereka bisa memahami hal itu dengan sangat baik. Kalau umat yang sederhana itu dahulu bisa memahami dengan baik, kiranya kita dewasa ini dengan kondisi kemajuan yang lebih baik bisa memahami dengan lebih baik juga. Itulah idealismenya. 
Oleh karena itu, marilah kita membaca Kitab Suci dengan mind-set seperti itu. Janganlah membuat Kitab Suci itu menjadi sesuatu yang rumit, ruwet, dan sulit. Gunakanlah saja akal sehatmu. Selanjutnya Roh Kudus akan membantu anda untuk bisa menafsirkan dan memahami dengan lebih baik. 


Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR, Bandung. Ketua Sekolah Kitab Suci Keuskupan Bandung. 


1 comment:

kl.arifin said...

saya justru membaca Alkitab dg tetap membiarkan setiap halaman bersih, sekiranya ada yg menarik, saya lebih memilih membuat catatan pada secarik kertas dan menyelipkan pada halaman Alkitab ...

beberapa waktu lalu, saya sempat melihat LAI menerbitkan Alkitab dg bagian pinggir dibuat space yg cukup besar dan secuplik video menayangkan 'promosi Alkitab tsb', space tsb. ditujukan untuk catatan-2 ayat yg menarik si pembaca atau bahkan coretan berupa gambar-2 ... saya pribadi tidak tertarik dg keadaan yg spt itu, mengotor-ngotori Alkitab ... hal ini pernah saya lakukan di masa-2 sekolah smp dan sma, saat jemu mendengar penjelasan guru, mulailah membuat gambar dan coretan-2 di pinggir buku pelajaran hahaha ...gagal fokus hahahaha

anyway pak Frans, ATG itu apa ya ?
di setiap kisah berkaitan dg Pater CG saya lihat pasti dimulai dg ATG

terimakasih atas berbagi kisah perjalanan hidup dg Pater CG, ditunggu kisah berikutnya

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...