Saturday, December 15, 2018

PARADOKS ADVENT YANG BERNUANSA NATAL

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.
Dosen Fakultas Filsafat UNPAR. Anggota LBI dan ISBI.


Pengantar Singkat 

Pada tahun 1988 seorang ahli kitab suci Katolik dari Amerika Serikat (Fakultas Teologi Catholic University of America di Washington DC) menerbitkan buku populer dengan judul agak aneh: A Coming Christ In Advent. Aneh karena judul itu berarti, jika diterjemahkan secara harafiah, Kristus yang datang pada Masa Advent. Jadi, judul ini menyiratkan kenyataan bahwa pada masa Advent pun (masa penantian akan kedatangan Tuhan) Kristus justru sudah datang. Oh iya, nama pakar kitab suci itu ialah Pater Raymond E.Brown SS (namanya selanjutnya akan disingkat menjadi REB saja. Sedangkan SS yang ada di belakang namanya itu adalah singkatan nama kongregasinya, karena ia berasal dari kongregasi yang bernama Saint Sulpice, sebuah kongregasi yang berasal dari Prancis). 

Dalam waktu yang relatif singkat Lembaga Biblika Indonesia (LBI), lewat beberapa penerjemah handal yang bekerja di bawah koordinasi Prof.Dr.Martin Harun OFM, menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Indonesia. Versi terjemahan Indonesianya terbit pada tahun 1991 (Kanisius, Yogyakarta). Penerjemah buku ini adalah teman saya, Markus K.Mara (dalam kerjasama dengan Dr.Martin Harun OFM). Judul terjemahan Indonesia juga tidak kurang anehnya Kedatangan Kristus dalam Advent. Aneh, karena masih Advent kok ngomong tentang Kristus yang sudah datang? Itulah masalahnya. Tetapi dalam kacamata teologi exegese Raymond E.Brown hal itu memang sangat dimungkinkan.

Versi Populer dari Sebuah Opus Magnum 

Buku ini adalah versi populer (yang sangat ringan) dari salah satu opus magnum REB, yang sudah terbit pada akhir tahun 70-an. Judul Opus Magnum itu ialah The Birth of Messiah (Kelahiran Sang Mesias). Hingga saat ini salah satu buku raksasa (babon) dalam exegese Perjanjian Baru ini khusus mengenai totalitas peristiwa Yesus Kristus, belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Semoga nanti ada orang-orang dan penerbit nekat yang berani menerjemahkan dan menerbitkan kaya itu. Menurut kata REB sendiri, buku raksasa ini dimaksudkan bagi para ahli, sebagai sumbangan ilmiah akademik untuk studi Kitab Suci. 

Sedangkan untuk melayani kebutuhan dan kepentingan pastoral umat biasa pada umumnya di paroki-paroki, REB mengolah kembali buku itu dalam bentuk yang lebih ringan dan sangat populer. Tidak ada catatan dan rujukan yang rumit-rumit yang membuat kepala pusing bahkan saat untuk melihatnya saja sebelum membacanya. Hasil dari kerja pengolahan ulang itu ialah adanya dua buku, yaitu A Coming Christ In Advent (Kedatangan Kristus dalam Advent) dan An Adult Christ at Christmas (Kristus Yang Dewasa Pada Masa Natal). Buku terakhir ini juga sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia (Kanisius, Yogyakarta 1995). Penerjemahnya ialah saya sendiri (Fransiskus Borgias) dalam kerja-sama dengan Pater Martin Harun OFM. 

Tafsir Kitab Suci Dalam Bingkai Tahun Liturgis 

Ketika buku Kedatangan Kristus dalam Advent terbit (1991), saya membacanya. Pada tahun 2018 yang silam, entah mengapa saya merasa sangat tertarik lagi untuk membaca buku itu. Tetapi pada tahun 2018 itu saya membacanya dalam versi bahasa Inggris. Perlu juga diinformasikan bahwa pada akhir tahun 80an buku-buku tadi terbit dalam bentuk buku-buku kecil. Karena memang dimaksudkan untuk menghindari kesan ilmiah-angker, yang biasanya bisa dengan segera membuat ciut nyala untuk mulai melihat dan membacanya. 

Lalu kira-kira pada tahun 2007 seri buku kecil-kecil itu diterbitkan menjadi satu buku tebal. Buku edisi baru ini memiliki daya tarik tersendiri karena dilengkapi dengan edisi dan pengantar kritis oleh salah seorang murid REB di CUA. Dalam koleksi gabungan yang cukup besar ini, tampak bahwa REB menaruh perhatian besar pada upaya menafsirkan Kitab Suci dalam rangka pemakaian liturgis sepanjang tahun. Nah penerapan praktis untuk kepentingan liturgis itulah yang merupakan sumbangan terbesar buku ini. Inilah makna terdalam dan terpenting dari buku kompilasi itu. Semoga nanti ada pihak yang menerbitkan kompilasi itu ke bahasa Indonesia. Dan saya kira, penafsiran yang baik dan benar hanya ada dalam rangka pemakaian liturgis saja. 

Natal Antisipatif Dalam Advent 

Saya kembali ke buku Advent tadi. Saat membaca kembali buku itu saya seakan-akan mendapat pembenaran teologis-biblis-exegetis-liturgis mengenai perasaan, pengalaman, dan imajinasi religius yang saya rasakan setiap kali saya mengarungi masa Advent selama ini. Pengalaman yang saya maksud sudah diungkapkan dengan padat dalam judul di atas tadi: Yakni bahwa saya sudah mengalami aroma nuansa dan suasana Natal bahkan dalam dan selama masa Advent itu sendiri. Perayaan masa Advent itu seakan-akan seperti sudah mengantisipasi dalam kerinduan akan perayaan dan peristiwa Natal itu. Hal ini terasa sangat paradoksal. 

Selama ini saya selalu merasa aneh dan rada canggung juga dengan perasaan paradoksal itu. Advent, tetapi kok sudah beraroma, bernuansa Natal. Sudah lama saya berusaha mencari jawaban dan penjelasan terhadap hal ini. Tetapi saya belum berhasil menemukannya. Namun setelah saya membaca kembali buku Raymond E.Brown saya merasa mendapat sebuah pencerahan dan pembenaran: yaitu bahwa perasaan, pengalaman dan imajinasi religius itu tidak salah sama sekali. Mengapa begitu? Sebab menurut Raymond E.Brown, seluruh misteri peristiwa Kristus yang kita imani sudah dikisahkan dalam kisah-kisah injil mengenai masa-kanak-kanak Yesus (Infancy Narratives) yang dibacakan selama masa Advent. 

Beberapa Momen Pengalaman Antisipatif Itu 

Perasaan dan pengalaman itulah yang coba saya uraikan dalam bagian akhir dari tulisan ini. Pertama-tama, sejak kita mulai memasuki masa Advent, maka umat, terutama sekali mereka yang terlibat secara aktif dalam kelompok koor di lingkungan maupun paroki, mulai sibuk mempersiapkan lagu-lagu untuk perayaan malam Natal maupun hari Natal dan masa-masa Natal sesudahnya. Mereka melatih diri untuk membawakan lagu-lagu tersebut dengan sangat serius. Sebab ada keyakinan yang sudah sangat lama tertanam dalam diri kita bahwa siapa yang bernyanyi dengan baik, sudah berdoa dua kali (qui bene cantat bis orat, begitu kata Santo Agustinus dulu). 

Terkait dengan fakta dan kebiasaan itu, dan ini yang kedua, maka kita mengarungi masa Advent sudah dengan nuansa dan aroma Natal justru karena kumandang getar-getar nada lagu-lagu yang kita latih tersebut secara bersama-sama dan dengan sangat serius dan intensif. Mau tidak mau kita (yang berlatih lagu-lagu Natal pada masa Advent itu) terhanyut juga dalam suasana dan nuansa aroma Natal itu. Hal itu terjadi karena dan melalui latihan lagu-lagu tersebut walaupun perayaan Natal itu sendiri belum tiba. Hal itulah yang sama namakan “paradoks Advent”. Dinamakan paradoks karena kita melewati Advent itu sudah dalam nuansa dan aroma Natal. Kita merayakan Natal secara antisipatif dalam dan selama Advent. Dan memang sudah selalu demikian adanya selama ini. 

Ketika Nyanyian Bermetamorfosis Menjadi Doa 

Semakin mendekati pesta Natal, maka latihan-latihan persiapan itu pun semakin intensif dan bahkan koor itu sudah “jadi.” Cara mereka menyanyikan dan membawakan lagu-lagu Natal itu sudah matang. Karena sudah “jadi” dan sudah matang, dan ini yang ketiga, maka nyanyian-nyanyian itu pun seakan-akan mengalami sebuah proses metamorfosis, mengalami sebuah transformasi menjadi untaian doa-doa. Tatkala hal itu terjadi, maka syair-syair lagu natal itu pun sudah melampaui sekadar syair atau puisi untuk nyanyian sebab ia mengalami transformasi atau metamorfosis menjadi ayat-ayat suci doa yang mengisi hati nurani kita, dan dari dalam hati kita syair-syair itu seakan membubung ke atas, ke langit, in excelsis Deo

Syair-syair lagu yang menjadi doa itu, menjadi sangat intens justru karena sudah masuk dan meresap ke dalam hati kita dan dari dalam hati itu memancar keluar dan ke atas. Memang benar kata santo Agustinus dulu, bahwa saat kita bernyanyi dengan baik (Qui bene cantat), kita sudah berdoa dua kali (bis orat). Dua kali itu bagi saya bukan terutama perkara jumlah (kwantitas) melainkan soal mutu dan intensitas (kwalitas). Nyanyian yang mengalir dan memancar keluar dari dalam hati, menjadi sebuah doa yang sangat indah. 

Semakin mendekati Natal, semakin mendekati masa-masa akhir Advent, rasa hati kita pun semakin dibayang-bayangi oleh suasana sukacita Natal yang sedang mendatang dan mendatangi kita sekarang dan di sini. Hal itulah yang bisa menjelaskan suatu perasaan psikologis dalam diri kita mengapa ada rasa pesona tertentu yang bersifat natalis (jadi sudah melampaui ciri Adventis) dalam diri kita walau kita masih berada dalam masa Advent.

Catatan Penutup 

Setelah membaca buku REB ini, akhirnya saya tahu mengapa orang-orang Katolik tidak bisa (tidak boleh) merayakan Natal pada masa Advent. Alasannya, ialah karena selama masa Advent kita membaca bacaan-bacaan liturgis yang berbeda dengan bacaan-bacaan liturgis untuk Perayaan Masa Natal itu sendiri. Sebagai orang Katolik kita tidak bisa dan tidak boleh membaca teks-teks liturgis Natal pada masa Advent. Sesederhana itu. Titik. 

Namun demikian, walaupun secara liturgis kita tidak atau belum boleh merayakan perayaan natal (natalan) pada dan selama masa Advent, tetapi secara praktis-psikologis, kita sebenarnya sudah mengalami dan merasakan seluruh suasana natalis itu dalam seluruh masa adventis. Hal itu terjadi, sebagaimana sudah dikatakan di atas tadi, karena selama masa Advent kita sudah sibuk dan secara intensif melatihkan lagu-lagu Natal. Dan ketika latihan itu sudah "jadi" dan mencapai tingkat "kematangan" rohani tertentu, maka untaian kata-kata syair lagu-lagu Natal itu berubah menjadi doa yang mengalir keluar dari dalam hati kita. Dengan cara ini, kita sudah Natalis juga di tengah masa Adventis. Tetapi, masa itu tetaplah masa Advent. 


No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...