Thursday, November 8, 2018

JIKA AKU MENJADI I

Oleh: Fransiskus Borgias M.



Ada sebuah acara Televisi swasta yang cukup menarik perhatian saya beberapa tahun yang lalu. Judulnya "Jika Aku Menjadi". Acara itu ditayangkan pada sebuah TV swasta nasional. Setiap kali saya menonton acara itu saya selalu teringat akan pengalamanku sendiri dulu ketika masih kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Bagi saya, praktek seperti yang dibentangkan dalam acara JAM itu sama sekali tidak serba baru. Dulu ketika masih mahasiswa filsafat di STF Driyarkara Jakarta, saya paling tidak beberapa kali menjalani dan mengalami hal serupa itu. Hanya bedanya saya dulu tanpa iklan, tanpa sponsor, tanpa tayangan di televisi. Paling tidak pada saat itu saya mempunyai tiga pengalaman. Pengalaman pertama, pengalaman bekerja sebagai buruh di pabrik perakitan mobil di Gaya Motor di bilangan Sunter Jakarta Utara. Pengalaman kedua, pengalaman bekerja sebagai pekerja sukarelawan (voluntir) di sebuah panti rehabilitasi sosial di Cibadak Sukabumi. Pengalaman ketiga, yaitu pengalaman bekerja sebagai pekerja sukarelawan di sebuah Rumah Sakit Kusta di kota Pati (panti rehabilitasi orang Kusta). Dalam tulisan yang pertama ini, saya hanya mau membuat catatan yang lebih lanjut tentang pengalaman yang pertama, pengalaman bekerja di pabrik perakitan mobil Gaya Motor.


Pada saat itu saya masih duduk sebagai mahasiswa Filsafat tingkat pertama di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkata Jakarta. Saat itu kami baru saja selesai ujian dan melewatkan tingkat pertama itu untuk masuk ke tingkat kedua. Tetapi sebelum tingkat kedua dimulai, yaitu sekitar Agustus 1984, kami mempunyai waktu dua bulan lamanya untuk berlibur. Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Tetapi di sini saya menyebut saja kegiatan-kegiatan besar yang paling utama. Yaitu pertama, kerja liburan dan kedua ret-ret tahunan di Pacet Sindanglaya, atau di tempat yang lain yang sudah ditentukan sebelumnya. Sebelum ret-ret tahunan kesempatan liburan besar itu kami isi dengan kegiatan kerja liburan, yaitu kerja untuk mengisi masa liburan kuliah. Saat itu saya mendapat tempat kerja di sebuah pabrik perakitan mobil di Gaya Motor, di Sunter. Beberapa teman lain yang seangkatan, mendapat kesempatan kerja di Astra, juga di bilangan Sunter. Kerja itu berlangsung kurang lebih selama tiga minggu.


Pada saat itu saya masih ingat dengan sangat baik bahwa kami benar-benar menjadi buruh; kami harus masuk ke kawasan pabrik perakitan itu dengan memakai moda angkutan yang biasa bagi para buruh yang lain yaitu dengan menumpang naik ojek sepeda. Saat itu saya bersama dengan dua orang teman. Kebetulan saat itu saya ditempatkan di bagian pembuatan pintu kanan mobil pick-up bak terbuka.


Hari pertama saya lewatkan dengan penuh perjuangan yang tidak ringan sama sekali. Tangan saya sangat capek dan sangat lemas semuanya. Begitu juga kaki, betis, karena saya harus berdiri hampir seharian. Bayangkan saja, dari pagi hingga petang saya memegang dan mengayunkan palu (saat itu masih serba manual semuanya). Hasilnya, tanganku menjadi kekar sekali. Begitu juga dadaku. Hari kedua dan seterusnya, saya menjadi terbiasa dengan rutinitas kerja itu. Tangan menjadi seperti sudah mati rasa saja (abal), dan ia seperti bekerja secara otomatis dan mekanis saja. Letih dan pegal otot di tangan menjadi tidak lagi begitu terasa. Setelah pengalaman itu, barulah saya sadar dan mengerti mengapa tangan para buruh itu kuat, tegar dan kekar, dan tampak seperti bekerja secara mekanis saja dan tampak tidak letih sama sekali. Rupanya hal itu terjadi karena tangan (lengan) mereka sudah terbiasa dan mereka sudah melakukan pekerjaan itu secara berulang-ulang dan terus menerus, setiap hari.


Pada saat itulah saya berkenalan dengan seorang buruh. Sesungguhnya saya bergaul cukup akrab dengan beberapa orang buruh di tempat itu. Pada saat istirahat untuk makan siang, kammi sering membicarakan gaya tentang hidup mereka, jalan hidup mereka, irama hidup mereka, cita-cita dan pandangan hidup mereka. Tetapi saya lebih mau menyoroti tokoh yang satu ini. Saat itu ia sudah berusia separuh baya. Namanya bapak Nawawi (seorang Betawi Asli dari daerah Kemayoran). Sekarang ini (saat saya menulis dan mempublish teks ini) ia pasti sudah pensiun, atau bahkan mungkin juga sudah meninggal. Saya tidak tahu lagi. Sejak saat itu kami tidak pernah saling berkontak lagi.


Saat itu saya melihat dia sebagai seorang sosok pekerja keras dan sangat tekun melewati rutinitas ayunan tangan itu. Tidak ada keluhan yang terdengar keluar dari mulutnya. Ia tabah sekali. Setelah bekerja beberapa hari lamanya, saya baru menjadi sadar dan mengerti bahwa ketekunan itu diperoleh dari kesabaran menjalani dan mengatasi irama rutinitas. Hal itu pula yang membuat tangan mereka (para buruh) seperti bergerak secara mekanis dan otomatis saja. Kerja sistem ban berkeliling memang bagus untuk efisiensi kerja, tetapi memiskinkan daya kreatif dan ekspresif dari dalam diri anak manusia itu sendiri. Tetapi buruh seperti bapak Nawawi tidak mempunyai banyak pilihan lain juga. Itulah salah satu bentuk keterasingan buruh dari kerjanya sendiri, seperti dikatakan oleh Karl Marx dalam opus magnum-nya Das Kapital. Tentu masih ada banyak Nawawi yang lain, di tempat lain, di pabrik yang lain, yang berjuang untuk bekerja demi mengadu nasib, demi sesuap nasi, agar dapur tetap ngebul, agar anak dan istri tidak kelaparan, tidak kedinginan.


Nglempong Lor, 11 Maret 2013

Wednesday, November 7, 2018

LAGU-LAGU GREGORIAN: SEBUAH CATATAN KRITIS-RINGAN

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika pada Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.




Dalam rangka menempuh Studi S3 (Ph.D. programme pada ICRS-Yogya) saya tinggal di Yogya dari tahun 2010 sampai tahun 2015. Karena sudah terbiasa aktif dalam kehidupan menggereja dan paroki, maka di Yogya pun saya mencari tempat tinggal yang terletak dalam lingkup gereja paroki yang tidak terlalu jauh dari Kampus. Akhirnya, pilihan saya jatuh kepada Paroki Santo Alfonsus Nandan. Praktis selama masa studi itu, saya tinggal di wilayah paroki tersebut. Bahkan saya melapor dan mendaftarkan diri kepada ketua lingungan Santo Ignatius Loyola Lempongsari, Ngaglik Sleman. Saat tinggal di Yogyakarta itu saya terlibat secara sangat serius dan aktif dalam kehidupan paroki, mulai dari doa lingkungan, pendalaman kitab suci, juga tugas-tugas koor maupun pemazmur di Gereja. Bahkan saya terlibat secara serius dalam sebuah koor Paroki Nandan yang cukup serius pada waktu itu. Namanya, Vocalfonsia. Dalam rangka aktifitas kehidupan menggereja dan melingkungan itulah sering sekali saya datang melayat ke warga lingkungan yang meninggal dunia. Ada satu hal yang sangat menarik perhatian saya setiap kali melayat ke rumah duka orang Katolik. Tentang hal itulah yang ingin saya tulis secara singkat di sini.


Yang saya maksudkan ialah bahwa di Yogyakarta (saya tidak tahu di tempat lain di luar Yogyakarta) ada kebiasaan petugas lingkungan memutarkan lagu-lagu gregorian dalam masa-masa duka, menunggu para pelayat sampai jenazah dimakamkan. Dan lagu-lagu gregoriun itu semuanya dalam bahasa Latin. Bukan yang versi bahasa Indonesia. Muncul macam-macam pikiran dalam benak saya. Pertama, ialah bahwa boleh jadi para petugas lingkungan itu memutarkan lagu-lagu tersebut untuk mengimbangi kebiasaan saudara-saudara muslim yang lewat toanya yang kencang memutar lagu-lagu dan doa-doa islami saat ada yang meninggal. Kalau dari masjid terdengar lantunan doa-doa berbahasa Arab, maka dari hajatan layat orang Katolik terdengar sayup-sayup (karena tidak diputar keras-keras) alunan lagu-lagu gregorian. Jadi, ada pikiran, tidak mau kalah dengan tetangga sebelah. Sebelah punya bahasa Arab, sini punya bahasa Latin. Wow. Tetapi bukan hal itu yang paling penting bagi saya. Yang paling penting ialah hal kedua berikut ini.


Kedua, rupanya petugas liturgi lingkungan kiranya tidak tahu lagu-lagu gregorian berbahasa Latin tersebut dengan baik. Akibatnya, ialah bahwa yang diputar itu, bukan hanya lagu-lagu Misa Requiem Gregorian saja, yang memang diciptakan untuk misa Requiem, misa arwah, misa untuk orang yang meninggal dunia, melainkan orang memutar juga lagu-lagu lain di luar teks-teks misa Requiem itu. Bahkan pernah saya dengar juga lagu-lagu Completorium Latin terdengar diputarkan. Dan juga lagu-lagu misa Latin lainnya yang bernada gregorian. Saat saya dengar ini semua (dan saya alami beberapa kali di kota Yogyakarta) saya lalu berpikir untuk mengusulkan kepada Komisi Liturgi KWI agar membuat rekaman khusus lagu-lagu gregorian misa Requiem untuk diputarkan pada kepentingan dan peristiwa khusus tersebut. Saya berharap bahwa dengan diterbitkannya koleksi khusus lagu-lagu misa requiem maka tidak terjadi lagi penyalah-gunaan teks-teks yang bukan requiem dalam konteks requiem. Hal itu bisa menimbulkan kesan yang salah di tengah2 umat bahwa lagu-lagu gregorian Latin adalah lagu untuk orang Mati. Kira-kira persis sama dengan lagu Be Near My God to Me (saya lupa komponisnya) yang sekarang ini dikaitkan dengan misa arwah karena versi adaptasi dari Madah Bakti dan Puji Syukur yang memakai nada lagu tersebut untuk Misa Requiem, sementara di tempat lain di Indonesia, nada-nada yang sama pernah dipakai untuk pernyataan tobat pada masa tobat di masa Adven.


Pada suatu kali, karena hal itu terjadi tidak jauh dari tempat tinggal saya, dan pengurus lingkungannya saya kenal, maka pada saat saya dengar lagu-lagu Gregorian Latin yang non-requiem diputar dalam acara layat kematian, saya pun bertanya kepada pengurus lingkungan bahwa lagu-lagu Latin gregorian yang diputarkan itu bukan lagu-lagu misa arwah atau misa requiem, melainkan lagu dari masa biasa, bahkan dari doa malam (completorium). Mendengar pertanyaan saya itu, pengurus itu dengan enteng menjawab, ah biar saja pa Frans, toh tidak ada yang tahu. Paling-paling yang tahu dan sadar hanya pa Frans saja. Yang lain tidak. Akhirnya saya diam saja, tidak bisa protes lebih lanjut, walau dalam hati saya sama sekali merasa lucu dan sekaligus tidak nyaman juga. Mungkin melihat saya yang berdiam diri, lalu pengurus lingkungan itu bertanya menyelidik kepada saya: apakah pa Frans bisa membedakan nada-nada gregorian tersebut, mana yang requiem, dan mana yang bukan. Terus terang terkejut juga saya mendengar pertanyaan yang menyelidik tersebut.


Akhirnya saya menjawab bahwa, ya, saya bisa membedakannya bahkan dengan sangat baik. Lalu saya jelaskan dengan memakai dua cara berikut ini. Pertama, saya katakan bahwa saya tahu itu lagu requiem dari bunyi teksnya. Saya memang tidak sangat ahli dalam bahasa Latin, tetapi saya sudah hafal karena mendengar lagu-lagu tersebut sejak dari masa kecil saya baik di sekolah dasar maupun di seminari kecil dan seminari menengah. Di SD ada guru yang mengajarkannya kepada kami. Begitu juga di SMP dan SMA. Kami sangat menghafalnya. Paket lagu gregorian Misa Requiem dari Liber Usualis sudah saya hafal sejak saya SD. Jadi, saya tahu itu lagu misa Requiem. Itu yang pertama. Kedua, saya juga bisa tahu dari nada-nadanya. Wow... dia terkejut dan heran. Lalu saya mengatakan bahwa sejak saya masuk seminari tinggi saya sedikit-sedikit memperhatikan juga lagu-lagu tersebut termasuk trend bunyi yang dipakai dan disusun di sana. Hal yang paling mencolok bagi saya ialah hal berikut ini. Bahwa nada-nada lagu misa requiem, memang adalah sebuah pujian juga tetapi pujian yang mengandung ratapan sedih juga. Sebagai pujian, nada-nada itu coba naik, menaik ke atas, tetapi tidak bertahan cukup lama di atas, melainkan segera turun lagi seakan-akan ke lembah tangisan, lacrimarum valle, sebab pada akhirnya lagu-lagu itu adalah lagu ratap, lagu sedih. Tidak bagus rasanya diungkap dengan nada-nada yang tinggi dengan trend menaik terus menerus. Sebagai contoh saya angkat nada yang ada dalam lagu Kyrie. Lagu itu nadanya dimulai dengan do. Lalu mencoba naik dan menaik tetapi hanya sampai ke fa, lalu turun lagi ke do. Gerak menaiknya ke fa adalah bagian dari pujian, sedangkan gerak menurunnya ke do lagi adalah bagian dari lagu sedih, lagu ratap, turun, ke lembah tangisan, lacrimarum valle. Dalam ulangan yang ketiga, lagu itu coba menempuh gerak menaik lagi bahkan sampai ke la, tetapi lagi-lagi segera turun seakan-akan terjerembab ke lembah do. Memang dalam Kyrie lain yang biasa, juga ada gerak ke lembah do, tetapi bukan ke lembah do tangisan, melainkan ke lembah kehidupan yang serba biasa lagi.


Saat saya memberi penjelasan seperti ini, saya teringat akan sebuah penjelasan yang pernah saya dengar di tempat lain mengenai lagu Joy to the world. Dikatakan bahwa syair lagu itu diciptakan oleh seorang penyair. Sedangkan nadanya diciptakan oleh seorang komponis, seorang musikus. Saat si musikus itu membaca syair lagu tersebut, maka ia juga mencoba memilih nada-nada dan berusaha berteologi juga dengan pilihan dan susunan nada tersebut. Sebuah analisis seorang ahli lalu mengatakan bahwa nada yang dipilih sang komponis itu memang menampakkan kandungan teologis yang ada dalam syair tersebut. Joy to the world, dimulai dengan nada do tinggi, jadi dari atas. Karena memang para malaekat natal itu datang dari tempat tinggi mewartakan sukacita, tetapi turun ke bumi. Do si la sol fa mi re do.... kata world sudah kena pada nada sol. Dan kata come (dari the Lord is come), kena pada nada do rendah. Itu dimaksudkan untuk menggambarkan gerak turun inkarnasi, kenosis. Tetapi dari bawah lalu lagu itu naik lagi ke atas, dengan dimuali dengan nada sol.... sol la, la si, si do.... wow sebuah analisis yang luar biasa menarik.


Jadi, walaupun nada itu netral-netral saja, tetapi musikus dan komponis yang ahli dan penuh perhatian dan menaruh peduli ternyata bisa juga berteologi dengan nada-nada yang dipilih dan disusunnya dengan cara-cara tertentu. Nah, dengan cara seperti itulah saya bisa membaca dan merasakan bahwa ini nada-nada dan kata-kata lagu gregorian untuk misa arwah.


Tuesday, November 6, 2018

BIAS GENDER DAN IBU GEREJA

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias M.



Sekitar bulan April tahun 1997 saya pernah mengikuti kegiatan kursus penyadaran gender yang diadakan (kalau tidak salah) oleh Komisi Keadilan dan Perdamaian KWI. Yang diundang untuk hadir sebagai peserta waktu itu adalah para dosen, para pastor, biarawan-biarawati, praktisi pelayanan pastoral. Kursus itu diadakan di rumah ret-ret Santa Maria Guadalupe di Jakarta. Kami menjalani proses retret penyadaran itu selama hampir satu minggu. Sejauh yang saya ingat, yang menjadi pembicara atau narasumber pada waktu itu sebagian besar adalah perempuan (bahkan mungkin semuanya perempuan).


Ada banyak hal yang menarik dalam untaian kursus penyadaran itu. Salah satunya ialah pembeberan fakta oleh seorang narasumber tentang bias-gender yang terjadi dalam pengembangan teknologi alat birth-control (pengendalian kelahiran). Bagaimana persisnya bias-gender itu terjadi? Narasumber itu (lupa namanya) mengatakan bahwa hingga saat ini nama-nama yang paling dominan dalam menelorkan teori-teori ilmu pengetahuan ialah kaum pria. Tidak hanya itu saja. Teknologi, sebagai upaya penerapan praktis dari teori-teori ilmu tersebut, juga banyak dimonopoli kaum pria.


Fakta inilah yang rawan terjangkit oleh fenomena bias-gender tadi. Mengapa dan bagaimana? Saya ingat si narasumber saat itu memberi contoh alat birth-control. Oleh karena teknologi itu dikembangkan kaum pria, maka alat tersebut lebih banyak diciptakan untuk mengontrol alat reproduksi perempuan, sedangkan alat untuk mengontrol reproduksi pria hanya sedikit. Padahal menurut si pembicara, seharusnya kaum pria-lah yang harus dikontrol. Mengapa? Karena kasarnya, kaum pria itu subur sepanjang waktu. Kalau dia “semprot” di mana saja pada perempuan yang subur maka kemungkinan besar akan hamil. Sedangkan wanita yang masa suburnya hanya terjadi sekali sebulan saja, justru merekalah yang lebih banyak dikontrol. Nah, bagi si pembicara itu, fakta seperti itulah yang dia sebut bias-gender. Bias itu terjadi karena memang lebih banyak kaum pria yang menjadi ilmuwan dan menerapkan ilmu itu secara praktis ke dalam teknologi. Sangat sedikit wanita yang terlibat dalam pengembangan ilmu dan upaya penerapan praktis ilmu itu pada teknologi. Masih menurut si pembicara tadi, itulah sebabnya terjadi bias-gender.


Kaum pria yang mengembangkan ilmu dan teknologi, lebih suka dan mungkin juga lebih mudah mengembangkan alat kontrol KB untuk dipakaikan pada perempuan. Saya masih ingat bahwa si pembicara pada waktu itu memberi sedikit data tentang jumlah alat kb untuk pria dan untuk kaum perempuan. Ternyata untuk perempuan lebih banyak (iud, susuk kb, pil kb, spiral kb eh tapi saya lupa apakah ini sama dengan iud) daripada untuk pria (kondom). Pokoknya secara dramatis si pembicara itu mengatakan bahwa untuk pria hanya satu dan untuk wanita ada empat. Padahal kesuburan pria itu sepanjang waktu sedangkan masa kesuburan perempuan hanya terjadi satu kali satu bulan saja. Tetapi justru kaum perempuan-lah yang lebih banyak dikontrol. Nah, menurut si pembicara, hal itu terjadi karena dampak dari bias-gender tadi. Tentu saja ada juga vasektomi dan tubektome untuk kaum pria.


Saya juga ingat bahwa ada seorang pembicara (juga perempuan) yang menyelingi ceramahnya dengan sebuah guyon yang menarik yaitu berupa sebuah dialog tanya jawab antara pria dan wanita: siapa yang paling kuat, apakah wanita ataukah pria? Secara otomatis dan stereotipikal, kebanyakan orang akan secara spontan menjawab bahwa yang paling kuat ialah pria atau bapa-bapa. Berbeda dengan hal itu, si pembicara tadi mengatakan bahwa yang paling kuat ialah kaum perempuan atau ibu-ibu. Mau bukti? Coba lihat jam kerja antara bapa dan ibu. Bapa mulai bekerja dari matahari terbit hingga matahari terbenam. Hebat. Tetapi coba lihat ibu: ibu-ibu itu bekerja mulai dari matahari terbit, hingga mata bapa terbenam. Hehehehe....


Tentu saja joke ini sangat karikatural dan menyederhanakan persoalan dalam hidup rumah tangga. Tetapi sedikit-sedikit kiranya juga mengandung kebenaran. Suka ataupun tidak suka. Diakui ataupun tidak diakui.


Setelah waktu seminggu berlalu, akhirnya rangkaian acara kursus penyadaran gender pun selesai. Dan sebagaimana biasa selalu ada acara evaluasi baik lisan (langsung) maupun secara tertulis. Dalam evaluasi lisan saya sempat memberi sebuah kesan dan pandangan pribadi. Dalam kesan itu saya mengatakan bahwa kalau saya dicekoki dengan ceramah model penyadaran jender seperti ini selama satu bulan, pulang-pulang saya bisa impotent. Semua peserta pada tertawa. Tetapi seorang teman mengatakan bahwa kesan itu tentu saja menandakan bahwa selruh rangkaian pelatihan itu kiranya cukup berhasil menggoyang kemapanan pandangan gender saya yang selama ini mungkin banyak biasnya. Kesan itu menandakan keterkejutan. Dan keterkejutan itu menandakan bahwa selama ini memang kita atau saya menganut pandangan-pandangan ataupun anggapan-anggapan yang bias gender.


Tentu secara pribadi saya berharap bahwa semoga acara ini mendatangkan pertobatan personal. Dan saya merasa bahwa pertobatan itu kiranya mulai tampak dalam diri saya dua tahun kemudian. Saya mulai mengajar di Fakultas Filsafat Unpar sejak awal tahun 1993. Salah satu mata kuliah yang saya asuh ialah patrologi yang mempelajari tentang para Bapa Gereja. Praktis sejak 1993 sampai 1997 saya tidak pernah mempersoalkan judul mata kuliah tersebut. Tetapi setelah kursus penyadaran gender tersebut, saya mulai melihat sesuatu yang aneh: kok gereja hanya berbicara tentang para Bapa. Di manakah para ibu? Mengapa tidak ada para ibu? Mengapa tidak ada ilmu tentang para ibu? Apakah dalam sejarah Gereja tidak ada para ibu yang berperan? Setelah pertanyaan itu muncul saya pun mulai gelisah.


Akhirnya pada tahun 1999 saya mengajukan topik proposal penelitian dengan judul “Mencari Ibu Gereja di antara Para Bapa Gereja.” Ilmu tentang para bapa Gereja secara tradisional disebut Patrologi. Ada sebuah godaan yang sangat besar dalam hati saya untuk menyebut upaya pencarian saya itu dengan Matrologi yaitu ilmu tentang para Ibu Gereja. Tetapi terus terang saja, pada tahun 1999 itu saya belum berani mengangkat dan mempublikasikan istilah itu. tetapi setelah saya pulang dari Nijmegen untuk menyelesaikan studi S2 teologi saya di sana saya berani mengangkatnya. Apalagi selama di Nijmegen studi teologi femnisme juga sangat kuat dan kencang diberikan kepada kami terutama oleh dua profesor saya, Prof.Lieve Troch dan Prof.Hedwig Meyers. Jujur saja bahwa kedua profesor teologi feminis di Nijmegen ini telah memberi banyak masukan dan bekal keberanian dalam diri saya untuk mengangkat disiplin Matrologi. Sayangnya setelah saya pulang studi S2 dari Nijmegen saya tidak lagi diberi kesempatan oleh fakultas untuk mengajarkan mata kuliah Patrologi tersebut. Tetapi saya tetap menekuni bidang itu sampai sekarang. Sejak dua tahun lalu, setelah saya selesai S3 teologi kontekstual di ICRS, saya dipercayai lagi untuk mengajarkan matakuliah patrologi tersebut.

Monday, November 5, 2018

TERINGAT KURSUS PERSIAPAN PERKAWINANKU

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias M.




Hari ini, entah mengapa, saya tiba-tiba teringat akan rangkaian kursus persiapan perkawinanku yang kujalani beberapa waktu lamanya, sebelum pemberkatan perkawinan. Pada waktu itu, kursus persiapan itu dilakukan di Sekolah para Suster Gembala Baik di Jatinegara, Jakarta Timur. Kepada kami ditampilkan beberapa nara sumber (pembicara) untuk masing-masing bidang terkait dengan kursus persiapan tersebut. Saya tidak ingat lagi semua pembicara itu. Tetapi saya masih ingat akan salah satu pembicara. Sayangnya juga saya sudah lupa namanya. Itu bukan hal terpenting. Hal terpenting bagi saya ialah apa yang ia sampaikan. Saya masih ingat hingga hari ini. Bapa itu berasal dari salah satu komisi KWI. Sesungguhnya ia tidak mempersiapkan bahan khusus, misalnya dengan memberikan paper atau makalah. Ia tidak membawa hal seperti itu. Ia tampil sederhana, apa adanya, dengan bercerita saja. Cara berceritanya juga sederhana tetapi bagi saya hidup sehingga saya tetap mengingatnya. Beginilah ceritanya:


“Dulu, waktu saya diberkati di gereja kami melewatkan malam pengantin kami di rumah. Kami tidak ke mana-mana karena terikat waktu kerja dan saat itu belum banyak orang yang menikmati honey-moon dengan pergi ke tempat khusus. Setelah melewati malam pertama, kami berdua bangun. Dalam pembicaraan pagi hari, isteri saya memulai pembicaraan sbb: “Mas.” Aku jawab: “Opo dik?” Isteriku: “Mas.... nganu mas”. Saya: “Iya dek, nganu apa toh dik?” Isteri: “Nganu mas....” Hari pertama itu, suami tidak berhasil membujuk isterinya untuk mengungkapkan apa yang ia katakan dengan kata “nganu” itu. Pada hari kedua, masih juga seperti hari kedua. Sang isteri mengulang lagi seperti kemarin: “Mas...” Suami: “Iya dek, ada apa?” Isteri: “Nganu mas.... “ Suami: “Iya dek, nganu apa?” Hari kedua pun berlalu dan si suami tidak berhasil mendapat jawaban. “Nganu” itu tetapi menjadi misteri sampai pada hari kedua. Pada hari ketiga, mereka bangun tidur. Pagi-pagi sekali. Seperti dua hari sebelumnya, si isteri juga membuka pembicaraan: “Mas nganu mas.” “Nganu apa dek? Kalau kamu hanya bilang nganu-nganu saja, saya tidak nangkap?” Kata isterinya: “Nganu mas, mulutmu itu lho.” “Mulutku kenapa dek?” Tanya suaminya. Dengan sedikit takut dan malu-malu si isteri menjawab: “Mulutmu itu mas, bau rokok.”


Setelah mendapat jawaban itu, saya ingat reaksi spontan sang pembicara yang membuat kami para peserta kursus tertawa lebar. Si pembicara saat itu berkata: “Ya ampun, kasihan banget isteriku, sudah tiga malam ngemut asbak.” Ungkapan “ngemut asbak” inilah yang membuat kami terbahak-bahak. Si pembicara kemudian bersaksi kepada kami, bahwa sejak saat itu ia berusaha keras berhenti rokok. Tujuanya hanya satu: agar isterinya tidak “ngemut asbak” lagi. Maka sejak itu, si pembicara tadi, berusaha dan berjuang keras untuk berhenti merokok. Si pembicara mengaku bahwa itu bukanlah perjuangan yang mudah. Ada banyak godaan dan rintangan. Ada banyak tantangan. Ada banyak kesulitan yang tidak mudah diatasi. Ia sungguh sadar akan hal itu, tetapi ia tahu bahwa ia harus berjuang keras dan lebih kuat lagi agar bisa mengalahkan dirinya sendiri agar bisa mengendalikan diri, dan tidak dikendalikan rokok. Ia berniat keras agar jangan sampai rokok itu menjadi penentu hidupnya. Betapa rendahnya hidupnya kalau hanya dibaktikan pada merokok saja.


Setelah berjuang lama akhirnya si nara sumber tadi berhasil mengatasi pelbagai tantangan dan kesulitan. Ia sadar bahwa ia harus berjuang melawan dirinya sendiri. Dan perjuangan itu bukan sesuatu yang mudah. Lebih mudah rasanya kalau kita melawan orang lain di luar sana. Melawan diri sendiri itulah yang paling berat di dalam perjuangan itu. Bapa itu memberi kesaksian bahwa perjuangan itu berlangsung selama lebih dari 10 tahun. Tentu saja setelah dilewati jangka waktu yang cukup panjang itu, perjuangan itu pun akhirnya menjadi sebuah kebiasaan baru, yaitu kebiasaan tanpa rokok, kebiasaan tanpa merokok.


Kemudian anak mereka (laki-laki) yang pertama terlahir setelah mereka menikah beberapa waktu lamanya. Mereka berjuang bersama untuk membesarkan dan mendidik anak tersebut. Setelah lewat 10 sampai 12 tahun, si nara sumber tadi mengaku bahwa dia baru sadar akan arti penting dari perjuangan dan pengorbanan dia selama 10 tahun belakangan ini, setelah mendengar nasihat sang isteri kepada anak sulungnya. Salah satu hal yang diajarkan sang ibu kepada anak itu ialah soal tidak merokok. Si ayah mendengar sendiri nasibat sang ibu kepada anak sulungnya yang memasuki usia remaja yang penuh keberanian melawan dan mencoba-coba hal baru: “Nak, kamu jangan merokok yah. Lihat bapamu.” Hanya itu yang disampaikan sang ibu kepada anaknya itu. Sang ibu itu meminta anak sulung laki-lakinya untuk tidak merokok, seperti yang diteladankan ayahnya.

Kata nara sumber itu selanjutnya: “Saat saya mendengar nasihat isteri saya kepada anak kami, baru saat itulah saya mengerti dan memahami makna perjuangan dan pengorbanan saya selama lebih dari sepuluh tahun. Sebuah kurun waktu yang tidak singkat. Perjuangan dan pengorbanan itu akhirnya pantas dijadikan model untuk pendidikan dan pembentukan mental dan moral anak. Ia membayangkan, apa yang terjadi, kalau 10 tahun yang lalu, ia tidak berhenti merokok? Apa yang bakal terjadi? Tentu si ibu akan kesulitan menemukan role-model bagi anaknya yang ia inginkan agar tidak merokok. Butuh waktu sepuluh tahun lamanya, untuk bisa memahami makna perjuangan dan pengorbanan itu.


Tentu role-model itu tidak hanya dalam soal merokok saja. Bisa ditarik juga role-model di beberapa aspek hidup yang lain. Kalau si ayah sudah tampil dengan tenang dan tidak mengucapkan kata-kata kasar dalam hidupnya, mungkin si ibu akan mengatakan: “Nak, kamu jangan mengucapkan kata-kata kasar ataupun makian dalam hidupmu. Lihatlah contoh ayahmu.” Sebab semua yang kita perbuat, semua yang kita katakan akan terpantul kembali, akan kembali terulang dalam perilaku anak-anak, yang memang dalam proses belajarnya telah menimba segala sesuatu dari role-model yang ia lihat dan temukan dalam diri orang-orang yang paling dekat dengan dia, kedua orang tuanya. Kalau ia melihat dan mendengarkan apa yang baik, maka pasti ia akan memantulkan kembali apa baik. Tentu saja tidak semudah itu juga. Sebab selain konteks pergaulan dalam rumah, anak-anak juga dipengaruhi oleh situasi di luara rumah. Tetapi dalam soal daya pengaruh, kiranya pergaulan di dalam rumah mempunyai peranan yang besar dan kuat di dalam membentuk watak, karakter, mentalitas dan perilaku si anak. Memang keluarga adalah sekolah paling dini bagi anak-anak.

Sunday, November 4, 2018

GERAK PEWARTAAN KRISTEN KE TIMUR

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias M.



Dulu waktu studi teologi di Nijmegen Belanda (2000-2002), saya pernah bertemu dan berkenalan dan bahkan tinggal satu dormitorium (international college) dengan seorang imam yang berasal dari Kerala, India. Ia juga studi pada program teologi yang sama dengan saya hanya kami mengambil jurusan yang berbeda. Ia mengambil spiritualitas dan saya mengambil teologi sistematik-dogmatik. Namanya Thomas Kurian Jaysheel. Dari teman saya itulah saya tahu bahwa jemaat Kristen di Kerala mempunyai keyakinan yang sangat kuat bahwa tradisi Kekristenan yang mereka miliki konon sudah berusia sangat tua. Bahkan mereka mengklaim bahwa komunitas Kristiani di Kerala itu adalah sebuah komunitas hasil bentukan dari Rasul Tomas, salah satu dari duabelas murid Yesus.


Oleh karena mereka mempunyai keyakinan historis yang sangat kuat seperti itu, demikian informasi yang saya peroleh dari pastor tadi, maka setiap anak laki-laki yang terlahir dalam keluarga Kristiani di Kerala pasti mendapat nama Tomas sebelum nama-nama lain yang menjadi ciri pembedanya yang khas diberikan kepadanya. Hal itu konon mereka lakukan untuk mengenang dan menghormati rasul Tomas yang sejak awal mula sudah datang ke India, khususnya sampai di Kerala, untuk mewartakan iman Kristen. Kelompok jemaat inilah yang kiranya dikenal dengan sebutan Syro-Malabar. Menarik bahwa dalam nama dan sebutan itu ada unsur Syro-nya yang kiranya jelas merupakan sebutan untuk Syria yang juga mempunyai tradisi iman Kristen sejak jaman post Perjanjian Baru. Memang harus saya katakan bahwa pengetahuan saya tentang gereja Syro-Malabar sudah saya peroleh jauh sebelum saya berkenalan dengan pastor tadi. Hanya sebelumnya saya belum pernah bertemu dengan salah satu orang yang berasal dari Kerala India. Nah pada waktu di Belanda saya baru sempat bertemu dengan salah satu dari mereka.


Bahwa ada komunitas Kristiani di Kerala, Malabar India, kiranya hal itu tidak sangat mengherankan bagi kita sekalian, karena memang secara historis, pasca pengejaran jemaat Kristiani pertama yang terjadi di Yerusalem oleh orang-orang Farisi (masih ada jejaknya dalam Kisah Para Rasul 8:1b-3) banyak orang Kristen yang lari keluar dari Yerusalem (exodus). Gelombang exodus itu semakin kuat terutama sekali sesudah kota Yerusalem dihancurkan oleh Roma pada tahun 70M. Pasti ada juga orang-orang Kristen perdana yang melarikan diri ke Timur sambil mewartakan Injil Kristus. Salah satunya ialah Rasul Tomas yang menurut keyakinan orang-orang di Kerala juga sudah tiba di daerah mereka, dan bahkan meninggal di tempat itu.


Hanya pertanyaannya sekarang ialah mengapa kita seakan-akan lalai dan abai memperhatikan mereka (yaitu gerak pewartaan ke Timur itu)? Tentu saja tidak mudah juga untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tetapi menurut dugaan sementara saya hal itu terutama sekali disebabkan oleh fakta bahwa mata dan perhatian kita terlalu terpusat pada gerak pewartaan Kristianitas ke arah Barat yang akhirnya memuncak ke Roma dan kemudian kota itu menjadi Katolik. Kesadaran dan perhatian kita fokus ke Barat terutama karena seluruh Perjanjian Baru memang terarah ke Barat. Yang sangat intensif mengangkat orientasi ke Barat itu ialah terutama Kisah Para Rasul dan Surat-surat Paulus. Kisah Para Rasul misalnya, praktis memberi kepada kita sebuah blueprint dalam Kis 1:8 bahwa para Rasul harus menjadi saksi Kristus, mulai dari Yerusalem, ke Yudea dan Samaria, sampai ke ujung bumi. Yang dibayangkan sebagai ujung bumi ialah Spanyol (jadi ke arah Barat).


Rasul Paulus yang menjadi salah satu tokoh paling utama di dalam Kisah Para Rasul memang seakan-akan dengan sengaja mengarahkan seluruh perhatian dan tenaganya agar bisa sampai ke Roma (dan dari Roma (lagi-lagi ya ke arah Barat), masih berharap bisa sampai ke Spanyol (juga terletak di Barat), ujung bumi yang dibayangkan. Tetapi hal itu tidak terwujud, sebab ia (Paulus) wafat sebagai martir sebelum keinginan itu dapat terwujud).


Surat-surat Paulus juga kiranya demikian adanya. Paulus mewartakan Kristus di beberapa kota di Asia Kecil dan kemudian menyeberang ke Eropa. Artinya ya ke Barat. Kisah pemenjaraan Paulus juga memuncak di Roma. Kisah kemartiran para Rasul yang pertama juga memuncak di Roma. Di Roma inilah Petrus dan Paulus mati dengan cara disalibkan. Hanya Petrus yang minta agar disalibkan terbalik, kaki ke atas kepala ke bawah. Tidak hanya Paulus yang wafat di Roma. Menurut tradisi gereja yang sangat kuat, Petrus pun wafat di kota Roma. Keduanya sama-sama wafat sebagai martir. Kisah kemartiran mereka berdua pun sangat terkenal hingga kini. Misalnya kisah kemartiran Petrus. Dikisahkan bahwa pada saat terjadi pengejaran hebat di kota Roma terhadap orang Kristiani, banyak orang lari ke luar kota Roma. Termasuk Petrus salah satu di antaranya. Saat lari keluar kota Roma itulah, Petrus bertemu dengan Yesus. Lalu Petrus bertanya kepadaNya: Quo vadis? Konon Petrus mendapat jawaban: Aku mau pergi ke dalam kota Roma untuk disalibkan. Mendengar jawaban itu, Petrus pun tahu bahwa ia tidak boleh lari kelar kota Roma melainkan terus bersaksi di dalam kota Roma. Akhirnya Petrus dan Paulus ditangkap dan disalibkan. Dewasa ini dalam tradisi tahun liturgis gereja Katolik, kedua tokoh itu dirayakan bersama pada tanggal 29 Juni.


Dengan itu maka seluruh perhatian kita ke barat. Akibatnya cukup menyedihkan. Kita lalu abai dan lalai akan perjalanan pewartaan ke Timur. Dan bahkan kita seakan-akan berpendapat bahwa pewartaan ke timur itu tidak ada. Tentu saja hal itu tidak benar. Sebab nyatanya memang ada penyebaran pewartaan ke Timur juga. Walau pun secara historis bisa dipersoalkan mengenai kebenaran dari klaim orang-orang Kerala di India, tetapi bagi saya keyakinan tersebut pasti mempunyai landasan historis juga betapa pun sangat tipis kemungkinannya. Yang jelas, eksistensi Jemaat Kerala mengingatkan kita bahwa memang ada perjalanan pewartaan ke timur, dan tidak hanya perjalanan pewartaan ke Barat. Dan kalau kita sudah sadar maka semoga kita tidak lagi lalai, abai, dan lupa. Jasmerah. Jangan sampai melupakan sejarah. Kata Bung Karno.


Saturday, November 3, 2018

ANOTASI DAN CATATAN KAKI

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias M.



Ada seorang filsuf besar abad keduapuluh (bernama Alfred Noth Whitehead), yang pada suatu saat mengatakan bahwa hanya ada satu saja filsuf besar, filsuf sejati dan filsuf utama di sepanjang sejarah Filsafat. Filsuf itu tidak lain ialah Plato. Filsuf lain sesudah dia hanyalah memberi komentar saja atas Plato. Tepatnya menurut dia Filsafat-filsafat para filsuf pasca Plato hanya sekadar memberi catatan kaki pada Plato. Jadi, filsuf original hanya satu yaitu Plato. Yang lain hanya komentator saja atas Plato; yang lain hanya tukang memberi anotasi saja pada filsafat Plato; yang lain itu hanya sekadar memberi catatan kaki (footnote) pada filsafat Plato yang dianggapi orisinal. Mungkin saja pernyataan ini terlalu berlebih-lebihan. Tetapi untuk sementara saya mau menerimanya di sini.

Jika memang benar demikian halnya, maka dalam sejarah Filsafat catatan kaki paling pertama atas pemikiran filosofis Plato dibuat oleh Aristoteles, seorang murid Plato yang paling terkenal. Kalau Plato memandang ke dunia Idea, dunia atas, yang disimbolkan dengan langit dan bintang-bintang, celestial bodies, maka Aristoteles memandang ke bumi, ke dunia nyata, dunia empiris, dunia sehari-hari, yang dilambangkan dengan kulit bumi, lumpur dan bebatuan tempat kita berdiri dan berjalan setiap hari. Singkatnya Plato itu idealisme, dan Aristoteles itu realisme atau empirisme. Itu sebabnya kedua orang ini sering digambarkan secara karikatural sebagai orang yang sedang berjalan bersama-sama, tetapi dengan arah tatapan berbeda. Yang satu ketika berjalan, seraya memandang ke atas yaitu ke langit dan bintang-bitang, simbol dunia idea itu, dunia atas itu. Itulah Plato. Sedangkan yang lain, yaitu Aristoteles, berjalan dengan memandang ke bawah, ke kakinya sendiri, ke bumi, ke bebatuan dan lumpur-lumpur, simbol dunia yang nyata, dunia empiris, dunia yang dapat diinderai, dunia yang dapat dialami secara inderawi. Masing-masing dengan risiko sendiri. Masing-masing dengan kelebihan dan kekurangan. Aristoteles yang tidak berjalan menengadah ke atas kehilangan kesempatan untuk menikmati keindahan dunia atas, dunia langit, terutama di malam hari, yang di Timur Tengah sana, konon sangat mempesona. Sebaliknya, Plato yang berjalan hanya dengan menengadah ke atas, bisa saja kakinya terantuk pada batu karena ia tidak melihat ke bawah, ke mata kakinya. Terantuk pada batu bisa menyebabkan dia jatuh tersandung, kaki terluka dan berdarah-darah.

Aristoteles sebagai seorang murid Plato tentu sangat menghormati dan mencintai Plato, sang guru. Kiranya hal itu sudah pasti dengan sendirinya. Sebuah relasi yang memang khas dalam pelbagai kawasan di dunia ini antara guru dan murid. Kira-kira seperti relasi guru-murid di Pesantren. Walaupun Aristoteles mencintai dan menghormati sang guru, hal itu tidak mencegah Aristoteles untuk bersikap kritis dan mengkritisi sang guru dan pandangan dan konsep filosofisnya. Daripada sekadar bersikap tunduk, memang Aristoteles lebih suka bersikap kritis terhadap sang guru. Tetapi ia bersikap kritis bukan demi sikap kritis itu sendiri melainkan demi menggapai dan juga membela kebenaran.

Karena itu, pada suatu saat ia berkata tentang sang guru: Aku mencintai Plato, tetapi aku lebih mencintai kebenaran. Mencintai Plato adalah menyangkut relasi personal. Sedangkan mencintai kebenaran adalah perkara kebenaran ilmiah. Demi mengupayakan apa yang ilmiah ini Aristoteles mengorbankan apa yang ada pada level relasi personal itu dan ia lebih mengutamakan hal yang berkaitan dengan substansi kebenaran itu sendiri. Karena itu, Aristoteles pun meninggalkan lorong orientasi pemikiran filosofis Plato sang Guru, lalu mulai meretas lorong pemikiran filosofisnya sendiri, yang dianggapnya sebagai kebenaran dan terasa jauh lebih realistik daripada idealisme Plato. Jadi dalam hal ini, di satu pihak Aristoteles itu hanya memberi catatan kaki saja pada filsafat Plato. Tetapi serentak juga di pihak lain, justru di sana ia mencapai dan membangun originalitasnya sendiri sebagai seorang filsuf dan aktifitas berfisafatnya. Kita tidak pernah tahu (setidaknya sejauh yang bisa saya ketahui sampai saat ini) bagaimana Plato (sang guru) sendiri memandang dan menilai pemikiran filosofis sang murid ini. Tetapi kiranya ia menghargainya sebagai sesuatu yang tetap bernilai pada dirinya sendiri. Bukan hanya sekadar sebuah anotasi atau catatan kaki belaka. Ia pasti menghargai orisinalitas pemikiran filosofis sang murid.

Di sini saya tiba-tiba teringat akan cerita di antara para rabi Yahudi mengenai hubungan Musa dan para rabi di kemudian hari yang mengisi hidupnya dengan aktifitas menafsirkan Taurat. Sedemikian canggih dan rumitnya studi dan penelitian para rabi atas kitab Taurat, maka Musa pun tergoda untuk turun dari surga dan menyelinap ke dalam kelas seorang rabi yang sedang membimbing muridnya membaca dan menafsirkan Taurat. Rabi itu sudah mengembangkan banyak teori hermeneutik untuk menafsirkan dan memahami Taurat. Konon Musa menjadi pusing karenanya. Lalu ia keluar dari kelas itu dan berkata bahwa anak-anak saya ini (yakni para rabi) sudah lebih cerdas. Dengan cerita seperti ini, tradisi para rabi mau mengatakan bahwa Musa, sang guru Hukum dalam tradisi Yahudi, sudah mengakui studi dan independensi pengikutnya yang memang mengikuti dia dalam lorong mendalami dan mencintai Taurat tetapi mereka mengikuti dia dengan kreatif. Tafsir Taurat tidak lagi terbatas pada kecerdasan dan inteligensia Musa, melainkan diserahkan kepada generasi berikut yang memiliki perlengkapan hermeneutik yang lebih canggih untuk membantu penafsiran dan pemahaman.

Kembali lagi kepada relasi Plato dan Aristoteles. Kiranya Plato tetap menghargai kredibilitas sang murid. Ia bahkan berbangga. Setiap guru pasti berbangga jika ada muridnya yang sukses dan menjadi cemerlang walau mungkin di hati kecilnya ia berharap agar murid itu tidak akan pernah melampaui kebesaran sang guru, setidaknya selama sang guru masih hidup. Jika dilihat dengan cara seperti ini, maka kita sekarang pun masih tetap punya peluang dan ruang untuk menjadi filsuf sejati, tidak hanya sekadar pemberi catatan kaki pada Plato. Atau kalau toh hanya menjadi penulis catatan kaki pada filsafat Plato, semoga kita bisa melakukan hal itu secara sangat brilian dan original sebagaimana pernah dilakukan Aristoteles.


Friday, November 2, 2018

MENGHORMATI DAN MEMANJAKAN PANENAN DAN BENIH

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias M.



Pada awal bulan April 2018 yang lalu, saya dengan beberapa rekan dosen dan tenaga pendidik dari Fakultas Filsasfat UNPAR Bandung, mengadakan acara liburan dan pembinaan bersama ke Bali. Kami melewatkan 5 hari untuk tujuan dan kepentingan itu. Selama berada di Bali, kami mengunjungi beberapa tempat yang penting dan menarik. Tetapi ada satu tempat yang ingin saya catat dan perhatikan secara khusus di sini. Pada hari kedua dari kunjungan kami ke Bali, kami mengunjungi sebuah pabrik pembuatan anggur yang terletak di Pinggir pantai Saba (yang terletak di pantai Bali Timur). Itu adalah sebuah pabrik penilangan anggur modern milik seorang ibu yang berasal dari Jakarta. Setelah memasuki usia pensiun ia membaktikan diri dan seluruh hidupnya untuk memberdayakan hidp para petani di daerah Saba dan sekitarnya dengan menjadi para petani anggur.

Selama berada di tempat itu, yang bernama Sababai Winery (Pengilangan Anggur Pantai Saba) kami melewatkan beberapa rangkaian acara. Tetapi saya mau menyoroti salah satu acara yang menurut saya amat menarik. Oleh si pemilik penilangan anggur, kami diperkenalkan untuk masuk ke dalam pabrik itu sendiri. Di sana kami berjumpa dengan beberapa orang karyawan. Ada satu pegawai yang ahli pembuatan anggur yang secara khusus datang dari Perancis untuk bekerja pada pengilangan anggur tersebut. Orang ini menunjukkan kepada kami beberapa mesin dan teknologi penyimpanan anggur yang sudah dikilang. Tetapi ada satu mesin yang sangat menarik perhatian saya. Si orang Perancis itu (sayang saya sudah lupa namanya) mengatakan bahwa mesin ini mempunyai fungsi yang sangat khusus dan unik dalam seluruh proses pengilangan tersebut. Yaitu mesin itu dipakai untuk “memanjakan” anggur yang baru saja dipetik dan dibawa dari ladang atau kebun anggur para petani. Ia mengisahkan kepada kami bahwa setelah dibersihkan anggur-anggur dari kebun tadi dimasukkan ke dalam mesin khusus itu. Ia mengatakan bahwa anggur-anggur itu harus “dimanjakan” di dalam mesin khusus ini. “Dimanjakan” itu maksudnya diperlakukan dengan sangat khusus. Misalnya, suhunya harus diatur, pergerakan dan perputaran mesinnya juga harus diatur, tingkat kebisingan bunyi mesin juga harus diatur. Pokoknya semua harus diatur agar semua berjalan seakan-akan buah-buah anggur itu sedang dibuai.

Mendengar cerita itu maka saya pun bertanya kepada dia: “Mengapa anggur-anggur itu harus diperlakukan dengan cara yang sangat khusus dan istimewa seperti itu?” Jawaban yang ia berikan kepada kami bagi saya sangat menarik: “Agar anggur-anggur itu tidak stress.” Secara spontan saya pun berseru: “Wow!”. Lalu saya pun bertanya juga: “Kok anggur bisa stress?” Begitulah reaksiku secara spontan. Lebih lanjut saya juga bertanya kepadanya: “Emangnya kalau anggur-anggur itu stress, apa yang akan terjadi?” Si Perancis itu mengatakan bahwa kalau anggur-anggur itu stress maka mereka tidak akan mengeluarkan air sama sekali. Seakan-akan mereka mutung, marah, dan kabur atau pergi dan menghilang entah ke mana. Dalam hati saya bertanya: “Kok bisa begitu yah?” “Mengapa begitu?”

Tetapi pada saat si orang Perancis itu mengatakan dan mengungkapkan semuanya itu, serta-merta saya pun teringat akan perlakuan yang diberikan oleh orang-orang tua di Manggarai dulu kepada panenan dan juga khususnya kepada benih yang akan ditanam (baik itu jagung maupun juga padi). Orang-orang Manggarai dulu memperlakukan panenan itu dengan sangat hati-hati dan bahkan juga dengan sangat hormat. Mereka sangat memanjakan panenan itu. dalam bahasa Manggarai dikatakan bahwa mereka “embong” (menggendong di punggung) panenan itu dengan diiringi lagu untuk meninabobokan (dalam bahasa Inggris cuddle) mereka. Pada awal tahun 70-an saya masih menyaksikan sikap dan perlakuan hormat yang diperlihatkan kakek saya kepada hasil panenan khususnya beberapa bagian panen yang khusus disiapkan menjadi benih (wini).

Menurut penelitian si Antropolog Amerika (yang menjadi salah seorang ahli spesialis Manggarai, jadi layak disebut Manggarainist), Maribeth Erb, bahkan panenan (jagung dan terutama padi) yang baru pertama kali dibawa dari ladang ke lumbung di rumah, diperlakukan sebagai seorang tamu terhormat. Harus diarak dengan iringan nyanyian. Dalam perarakan itu si ritual-man juga harus mengenakan hiasan kepala yang dianyam dari bulir-bulir padi (disebut bali-belo). Begitu sampai di gerbang kampung (lewang), panenan yang baru dibawa dari ladang itu disambut laksana tamu baru (meka weru) yang sangat terhormat. Maka di gerbang penyambutan akan ada ayam, tuak, sirih dan pinang (standar perlengkapan untuk menerima tamu terhormat).

Masih menurut Erb, perlakuan istimewa itu dimaksudkan agar jiwa dari panenan dan benih itu tidak kabur. Sebab jika hal itu terjadi, maka panenan yang masuk itu kosong, dan benih tidak akan tumbuh pada musim tanam yang akan datang. Oleh karena itu panenan harus diperlakukan dengan sangat baik, dimanjakan, digendong, diembong (di-embong) agar jiwanya tidak mutung dan kabur entah ke mana. Dari masa kecil (tahun 70an) saya teringat akan lagu berikut ini, yang dalam perkembangannya menjadi lagu nina-bobo untuk anak-anak, tetapi yang aslinya kiranya berasal dari ritual penghantaran dan penjemputan panenan raya dari ladang ke kampung (lagu itu saya peroleh dari ayah saya yang sudah saya hafal sejak saya masih kecil). Syair lagu itu berbunyi sbb: “Oouo...oouo...o....lelele....latung de lau galung (woja de lau lokang) o ende lelele... rendung lelo deu o ende lelele... ae ae o, ia ia o, o pari tana sale.... eko mole.... e ndai eko mole kali ngoengn ge a.” (Yang secara garis besar artinya kira-kira demikian: Oouo...oouo...o...lelele... jagung di kebun yang luas (padi di kebun yang lama) wahai ibu lelele... rimbun sekali kelihatannya dari jauh wahai ibu lelele... ae ae o, ia ia o, o jemur di tanah barat. Digendong saja... eh.... ia hanya ingin digendong saja). Lagu itu diulang-ulang di sepanjang perjalanan dari ladang ke kampung hingga tiba di gerbang (lewang) kampung. Jadi, intuisi manusia Manggarai dulu, kiranya tidak main-main, sebab ternyata intuisi “purba” itu juga masih dipraktekkan oleh sebuah pabrik pengilangan anggur yang memakai peralatan dan teknologi modern. Luar biasa.

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...