Thursday, November 1, 2018

AMANG “HAMID BUSU” DARI PERI

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias M.



Entah kenapa, saya tidak tahu penyebabnya, akhir Januari tahun 2010, saya tiba-tiba teringat akan paman (amang) saya ini. Namanya Hamid Busu. Ia berasal dari Peri, kampung kecil antara Dempol dan Daleng. Kampung Peri yang asli, yang sampai tahun 70an masih ada, sekarang sudah tidak berbekas lagi. Orang Peri sekarang tinggal di pinggir jalan raya, Ruteng ke Labuan Bajo. Kampung Peri yang asli terletak agak jauh dari jalan raya yang terletak di sebelah kiri jalan dari Ruteng ke Labuan Bajo. Amang Hamid Busu adalah anak dari Empo Mahur (salah satu tokoh masyarakat tahun 60an), kakak Kandung Kakek saya dari pihak mama, Kakek Bartolomeus Bahor yang tahun 60an dan 70an dikenal dengan sebutan Kepala Dempol (karena ia pernah bertugas sebagai Kepala Desa Dempol). Dengan cara ini saya secara singkat mencoba melukiskan hubungan kekeluargaan di antara saya dan amang Hamid Busu.

Sesungguhnya Amang Busu adalah orang baik, walau ia dilecehkan orang sekampungnya, maupun oleh orang lain dari kampung sekitar (Dempol, Daleng, Wol, Roga, Rangga, dll). Orang lebih mengenal nama belakangnya, Busu. Kiranya orang tidak tahu nama depannya, Hamid. Mungkin juga orang tidak kenal nama dirinya, Hamid Busu, karena ia sering disapa dengan ngasang ame-nya (teknonim), emad Ngantur (emad Domi). Dominikus Ngantur adalah anak sulungnya. Menurut cerita yang saya dengar dari mama saya (Katharina), amang Busu ini dulunya orang yang rajin bekerja. Sawahnya menghasilkan padi melimpah. Tetapi semangat kerja itu hilang sejak ia ditinggal mati oleh isterinya yang pertama (ibu dari Dominikus Ngantur). Menurut mama Katharina sejak saat itu, amang Busu tidak pernah bisa bangkit lagi semangat hidupnya. Sempat ia coba bangun lagi semangat dan gairah hidupnya dengan menikahi wanita Kempo. Tetapi perkawinan itu tidak berlangsung lama, karena inang kedua ini meninggal (tidak punya anak). Sejak itu hidup Amang Busu benar-benar “rusak”, tidak teratur. Ia menjadi seperti linglung dan akhirnya dikenal sebagai orang malas.

Di mata saya, amang Busu adalah orang baik. Walau agak sedikit mengesalkan, toh saya percaya pada cerita mama bahwa sejatinya amang Busu ini orang baik dan rajin (petani sawah di Lembor). Waktu kami dulu masih di Ketang (Lelak), beberapa kali ia datang menginap di rumah kami di Ketang. Selama tinggal di rumah kami, ia tidak banyak bicara. Hanya diam. Merokok. Minum kopi, makan. Tidur. Sesekali ia bicara kalau ada tamu ke rumah. Saat papa dan mama pindah ke Dempol, rupanya ia sering berkunjung ke rumah kami di Dempol. Saya bisa memahami hal itu, sebab saat kami masih di Ketang saja ia sering datang, apalagi setelah papa-mama tinggal di Dempol yang letaknya dekat dengan Peri.

Ia adalah model orang yang tercerabut dari akar kultural dan religiusnya yang asli. Ia tidak Katolik. Nama Hamid bukan nama Baptis. Nama itu adalah nama muslim. Tetapi ia bukan Islam, walau ia pernah nikah dengan inang dari Kempo, yang konon muslimah. Anak-anak dan cucu-cucunya Katolik. Saya tidak tahu apakah ia pernah dibaptis Katolik. Saya masih harus meminta informasi dari Domi apakah di akhir hidupnya ia dibaptis? Atau apakah ia dimakamkan secara Katolik. Yang jelas, selama hidupnya, karena ia tidak Katolik, ia tidak pernah ke gereja Minggu. Dalam hal ini tidak begitu mencolok sebab banyak orang Manggarai yang mengaku Katolik tetapi tidak pernah ke gereja hari Minggu. Ia tidak makan babi. Kebiasaan ini dalam bahasa Manggarai disebut woni. Orang yang tidak makan babi disebut ata woni. Woni dan ireng itu berbeda. Ireng adalah pemali, halangan karena adat, keyakinan suku. Woni, halangan karena pengaruh agama Islam. Pasti kebiasaan tidak makan babi itu karena pengaruh Islam. Ia tercerabut dan terasing dari kebudayaannya karena satu alasan yang baru sekarang aku sadari.

Begini ceritanya. Juni tahun 1987 saya TOP di Pendidikan Postulan OFM di Pagal selama satu tahun. Pada waktu itulah saya sempat ikut perayaan penti di Wol. Saya sudah lupa tanggal persisnya pesta itu. Yang jelas penti itu dilaksanakan tahun 1988. Saat itu saya melihat amang Busu seperti menjadi sangat hidup, seperti menemukan konteks ekspresi kultural-emosional-spiritualnya yang lama terpendam. Saya perhatikan bahwa ia ikut menari dan menyanyi sanda dengan penuh semangat, penuh gairah, penuh penghayatan. Tenaganya seperti tidak habis malam itu. Entah dari mana ia mendapat tenaga lebihnya. Sempat saya bertanya waktu itu, mengapa amang Busu menjadi seperti itu malam itu? Malam itu saya mendengar amang Busu berkata: Hooy agama dite ye. Mai ga. Mai pande rame.

Baru saat inilah saya seperti mendapat jawaban. Itu karena ia seperti merasa menemukan lagi lubang penyaluran ekspresi emosional dan kultural bahkan religius mitis-magis yang lama terpendam karena tergeser gereja. Dalam gereja ia merasa tidak in. Juga dalam Islam ia merasa tidak in. Ia hanya merasa in dalam dan dengan agama asli Manggarai yang berpuncak pada penti. Penti adalah pesta tahun baru, saat pembaharuan dan pembersihan segala komponen hidup kampung yang vital: Mbaru gendang, natas, compang, wae teku, uma bate duat, lima unsur ontologis kampung Manggarai, dibersihkan (barong). Doro dongkas, pui weang. Penti weki peso beo. Maka sanda-lima menjadi sangat penting dalam pesta ini. Sayang saya sendiri tidak tahu lagi cara menyanyikan sanda-lima itu. Saya berniat mencari orang yang bisa menyanyikan lagu itu, agar direkam dan dilestarikan.

Hamid Busu, model orang yang terasing dan tercerabut dari akar kulturalnya, dari agama asli Manggarai. Catatan ini sudah ada dalam buku harian saya sejak awal tahun 2010. Tetapi sekarang saya terdorong untuk mengangkatnya ke Blog karena Hari Raya Kamis Kenaikan tahun 2018, anak sulung Amang Busu (Dominikus Ngantur), diantar anaknya yang merantau di Jakarta, lejong ke rumah kami Bandung. Tidak ada maksud apa-apa, selain hanya untuk mengabadikan kenangan akan amang Busu. Cerita lama diangkat lagi ke permukaan karena pengaruh ilham perjumpaan aktual yang dialami dan dirasakan sekarang dan di sini.

Kopo, Mei 2018.
(asli ditulis awal 2010).

Wednesday, October 31, 2018

MENGENDUS YANG KUDUS

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FAKULTAS FILSAFAT UNPAR Bandung.


Entah sejak kapan, dunia akademik merumuskan tiga ranah tertinggi dari upaya pencarian dan pencapaian manusia. Ketiganya ialah Bonum, Verum, Pulchrum, Baik, Benar, Indah. Ketiga ideal itu terpampang dengan sangat jelas di sebuah dinding di Fakultas Filsafat Unpar dengan huruf logam berwarna perak mengkilat. Sangat mencolok tertancap di dinding, seakan-akan menyapa setiap orang (terutama mahasiswa) untuk membaca, menyimak, mencermati dan mencernanya. Huruf-huruf perak itu seakan hadir di sana untuk menantang pembaca. Dari kata Bonum, muncul kata benda Bonitas, atau Kebaikan (Goodness). Dari kata Verum, muncul kata benda Veritas, atau Kebenaran (Truth). Dari kata Pulchrum muncul kata benda Pulchritudo (Keindahan) (Beauty).
Masing-masing ketiga idealisme itu memiliki jalan khusus berupa sebuah disiplin ilmu untuk mencapainya atau mewujudkannya. Misalnya, untuk mencapai atau mewujudkan Bonitas (Kebaikan) orang menempatkan disiplin Etika (Ethics) sebagai jalannya. Dengan belajar Etika secara sistematis diharapkan orang bisa sampai pada Kebaikan (Bonitas), walau ada kemungkinan bahwa tidak selalu akan terjadi seperti itu. Untuk mencapai dan mewujudkan Veritas (Kebenaran), orang menempatkan disiplin Logika (Logics) untuk mencapainya atau mewujudkannya. Dengan belajar Logika (bahkan juga Matematika, Mathematics) diharapkan orang bisa mencapai Kebenaran, walaupun tidak semua orang bisa mencapai idealisme itu secara otomatis. Akhirnya, untuk mencapai Pulchritudo (Keindahan) orang menetapkan disiplin Aesthetica sebagai jalan untuk mencapai atau mewujudkannya. Lalu dikatakan bahwa tiga tonggak itu, Etika, Logika, dan Aesthetica, menjadi tonggak peradaban dan bahkan juga kemanusiaan itu sendiri.

Tetapi menurut saya tiga tiang tonggak itu belum memadai, walaupun mungkin ada yang berpendapat begitu. Masih ada tiang tonggak yang keempat. Itulah Sacrum. Dari kata Sacrum ini muncul kata benda Sacra, atau Kekudusan, Kesucian (Sacred). Bahkan menurut saya, intuisi akan yang Kudus ini termasuk salah satu intuisi paling purba dalam diri manusia. Kesadaran akan ada dan kehadiran yang Kudus diyakini sebagai sebuah struktur dasar dari keberadaan manusia itu sendiri. Dalam bukunya Sejarah Mitos (1985), Karen Armstrong secara sangat singkat menunjukkan bahwa dari penggalian purbakala, manusia-manusia purba bahkan sudah memperlihatkan tendensi kodrati itu dalam pelbagai ritual-ritual mereka. Jika ketiga tonggak di atas tadi (Bonum, Verum, Pulchrum) memiliki tiga jalan pencapaian (Etika, Logika, Aestetika), maka intuisi dan pencarian akan Yang Kudus diupayakan oleh manusia lewat jalan Ritual. Ritual adalah jalan yang ditelusuri oleh manusia, sudah sejak jaman purba, untuk mencari dan menuju kepada Yang Kudus (the Holy, The Sacred, sang Numinous, dalam bahasa Rudolf Otto, yang terkenal dengan bukunya The Idea of the Holy itu). Masih menurut Armstrong tadi, lukisan-lukisan purba di gua-gua Neanderthal di Perancis Selatan sudah menunjukkan tendensi ritualistik dalam hidup manusia purba.

Oleh karena ritual-ritual itu (terutama ritual berburu dan bercocok-tanam) sampai pada kita dalam bentuk lukisan-lukisan di dinding-dinding gua purbakala, maka bisalah dikatakan bahwa ritual, dan intuisi akan yang Kudus sesungguhnya sangat dan mungkin selalu berkelindan dengan seni, kesenian, jadi, dengan aesthetica. Orang mengungkapkan gerak hatinya untuk mengendus dan mendekati yang kudus, dalam gambar, dalam lukisan, dalam kata, dalam nada, dan bahkan juga dalam gerak tarian (entah itu spontan, maupun yang terpola; mungkin semula, bersifat spontan. Gerak terpola pasti muncul belakangan). Diam-diam saya juga merasakan dan menemukan bahwa kelindan antara aesthetica dan intuisi akan yang kudus, muncul karena sebuah sistem logika berpikir tertentu. Presisi ritual berburu, harus dibuat dalam sebuah Panduan berupa sebuah lukisan, sebuah gambar. Karena itu, akhirnya saya pun diam-diam berpikir bahwa logika, aesthetica sudah sama-sama purbanya juga dengan intuisi akan yang kudus.

Hanya mungkin bedanya ialah bahwa Logika, Etika, dan Aesthetica adalah jalan yang bersifat elitis (artinya hanya sedikit yang berusaha menempuhnya, hanya ditempuh oleh tokoh soliter), sedangkan ritual yang mencoba mengendus yang Kudus, umumnya bersifat populis, artinya semua orang bisa terlibat dan terhanyut di dalamnya. Ritual selalu merupakan pesta komunal. Sedangkan Logika, Etika, dan Aesthetica umumnya merupakan jalan individual, jalan personal. Orang bisa menjadi pintar dan profesional dalam ketiga hal itu. Sedangkan dalam ritual, selain ritual man yang karena harus memimpin maka harus juga scholar, skillful dan profesional, semua partisipan adalah sama, sederajat. Ada sebuah egalitarianisme di dalam perayaan ritual dalam rangka mengendus yang kudus. Sebuah ciri-corak yang tidak ditekankan dalam ketiga jalan yang lain. Atas dasar itulah saya mengoreksi pernyataan awal bahwa ada tiga tonggak penting peradaban. Sekarang saya yakin bahwa ada empat tonggak penting peradaban. Bahkan yang keempat, yang selama ini tidak pernah disebut, merupakan yang paling purba, dan paling penting juga, karena selalu menyangkut hidup komunal. Tentu ada ritual yang personal, tetapi pada dasarnya ritual selalu berciri komunal, atau setidak-tidaknya membawa orang kepada komunitas. Bahkan Victor Turner (dalam The Ritual Process, Structure and Anti-Structure, 1995/1969) mencirikan salah satu tahap dalam pelaksanaan ritual dengan dua kata kata kunci berikut ini: liminalitas dan communitas. Ritual membawa orang ke situasi di ambang batas (limen) peralihan. Situasi liminalitas itu membawa serta ciri communitas. Ritual membawa kepada rasa solidaritas-komunitas, membangun komunitas. Ritual lahir dari intuisi dasar akan ada dan kehadiran yang kudus (Sacrum).


Tuesday, October 23, 2018

OBITUARI: MENGENANG KRAENG HERMAN HAKIM GALUT

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias M.



Beberapa hari yang lalu, pukul 09.00 pagi Hari Minggu waktu Washington atau Hari Senin pagi waktu bagian barat Indonesia, beberapa WAG Manggarai menampilkan sebuah berita sedih yang bagi saya sendiri cukup mengejutkan juga: Bapa Herman Hakim Galut meninggal dunia di Washington DC dan jenazahnya disemayamkan di Christ House, semacam shelter (tempat tinggal, bernaung) bagi homeless people. Walau awalnya berita itu masih belum begitu jelas, tetapi akhirnya kabar itu menjadi semakin jelas dan confirmed. Ada beberapa pihak orang Manggarai (baik di Jakarta maupun di New York) yang berusaha mencari tahu kejelasan berita tersebut dengan cara menghubungi beberapa pihak terkait (terutama di Washington DC). Atas berita itu secara pribadi saya mengucapkan turut berduka yang mendalam dan juga teriring doa semoga arwah beliau mendapatkan istirahat yang abadi dan damai-tenang dalam cahaya kekal (lux aeterna) Tuhan Allah sendiri yang berdiam dalam cahaya yang tiada terhampiri. Diam-diam saya menyanyikan lagu Requiem untuk Communio sbb: Lux aeterna, luceat eis domine, cum sanctis tuis in aeternum, quia pius es.


Berita duka tentang kematian kraeng Herman Hakim Galut membangkitkan sejumlah kenangan saya akan dia. Sesungguhnya tidak ada yang sangat istimewa antara saya dan dia, tetapi tepat dan cocok juga untuk dikisahkan kembali dalam kesempatan yang unik dan istimewa ini, sekadar untuk membuat catatan kenangan (obituarium) untuk beliau. Terakhir kali saya berjumpa dengan dia dalam perayaan Natal bersama warga Indonesia di kantor kedutaan besar Indonesia di Washington DC pada Minggu Pertama bulan Desember 2014 (saya tidak ingat lagi persis tanggalnya). Saat itu saya sedang menjalankan sandwich-programme pada Georgetown University dalam kerja-sama dengan Prof.Peter C.Phan. Untuk itu saya tinggal selama kurang lebih empat bulan di negeri Paman Sam itu. Sebuah pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Saat berada di Amerika itu, sesungguhnya sudah lama saya tahu bahwa kraeng Herman Hakim ada di Amerika Serikat. Terakhir ia bekerja pada kantor Voice of America seksi Indonesia. Tetapi sesudah pensiun, saya tidak tahu lagi ia bekerja di mana dan tinggal di mana. Bahkan saya juga tidak tahu ia tinggal di negara bagian mana di Amerika Serikat.


Maka saat berjumpa di kedubes tersebut saya juga rada terkejut. Ia sudah tampak tua, rada kurus (walau dalam foto tampak seperti gemuk, tetapi sesungguhnya ia kurus), rada pucat juga, batuk-batuk, dan tampak sakit-sakitan (flu akut). Ia tidak mengenal saya lagi. Maklum hanya berjumpa beberapa kali saja selama di Jakarta pada awal tahun 90an sebelum ia hijrah ke negeri Paman Sam untuk bekerja pada VOA. Oh ya, sekarang saya ingat. Saya beberapa kali berjumpa dengan dia di Jakarta. Kami pernah berjumpa pada waktu pemberkatan nikah dari teman angkatanku di Kisol (kira-kira pada tahun 1983an), almarhum Yosef Syukur Baut, di Gereja Paskalis, Tanah Tinggi. Saya hadir bersama Paskalis Bruno Syukur (sekarang Uskup Bogor) karena almarhum Yosef secara khusus mengundang kami di Biara Padua. Yang memberkati Yosef dan isterinya pada waktu itu ialah Pater Michael Cosmas Angkur Jadu OFM (sebelum beliau diangkat menjadi uskup Bogor; kraeng Herman juga hadir dan mengiringi beberapa lagu dalam upacara pemberkatan itu). Sesudah itu kami masih berjumpa beberapa kali lagi terutama di lapangan sepak bola di lapangan Pancasila, pada awal tahun 90an. Selebihnya saya tidak begitu ingat lagi. Pada tahun 2014 kami berjumpa kembali di Washington DC tanpa terduga-duga sama sekali. Walau ia tidak mengenal saya tetapi saya masih mengenal dia. Maka saya pun langsung mendekati dan menyalami dia. Dia terkejut ketika saya memperkenalkan diri kepadanya. Rupanya dia juga masih ingat akan nama saya walaupun wajah sudah tidak begitu ingat lagi katanya.


Dalam perjumpaan yang singkat itu kami menceritakan beberapa hal. Antara lain saat itu ia menceritakan tentang rencana dan keinginannya untuk pulang dan melewatkan masa tua di Labuan Bajo. Untuk itu ia berencana membeli tanah dan membangun rumah sederhana di Labuan Bajo. Bahkan ia sempat meminta informasi singkat mengenai harga tanah di Labuan Bajo kepada saya. Saya katakan saja bahwa harga tanah di Labuan Bajo sekarang sudah mulai mahal karena kota itu menjadi pintu gerbang kota pariwisata dunia dengan trademark Komodo yang terkenal mendunia itu. Ditambah lagi ada banyak pesohor dan pebisnis dari Jakarta yang ikut menanamkan uangnya dengan membeli tanah di Labuan Bajo. Hal-hal itu ikut melambungkan harga tanah di Labuan Bajo. Mendengar informasi itu sejenak ia tampak terdiam. Tetapi ia tetap mempunyai rencana untuk melewatkan masa tua di Labuan Bajo.


Topik pembicaraan itu kemudian kami lewatkan karena saya mencoba bertanya kepadanya tentang salah satu bakat dan hobinya yang juga sangat saya kagumi. Saat itu saya bertanya: apakah kraeng Herman masih menciptakan lagu? Betapa saya terkejut karena ia mengatakan bahwa ia sudah lama sekali tidak mengembangkan bakat dan kemampuannya yang satu itu. Spontan saya katakan kepadanya bahwa saya terkejut dengan kabar itu karena sesungguhnya saya kagum dengan bakat kraeng Herman. Saat saya mengatakan itu tampak wajahnya senang dan bersinar cerah. Lalu saya mengatakan bahwa ada salah satu lagu kraeng Herman yang sudah menjadi klasik dalam Madah Bakti (No.456) dan Puji Syukur (No.682; ia hanya tahu Madah Bakti; ia tidak tahu Puji Syukur yang memang lahir belakangan saat ia sudah di Amerika Serikat). Bahkan ia juga sudah lupa dengan lagu manakah itu. Lalu saya memberitahunya: lagu yang berjudul “Panggilan Tuhan.” Lalu saya mendendangkan sepotong lagu itu. “Panggilan Tuhan Bagi UmatNya di atas Bumi ciptaan-Nya, api cintaNya, nyala kasihNya sumber semangat bagi kita.” Ia tampak tersenyum senang dan bahagia saat saya mengidungkan lagu itu. Lagu itu sekarang akan selalu bergema pada saat gereja Katolik Indonesia merayakan hari minggu panggilan. Pasti lagu itu dinyanyikan di gereja-gereja Katolik, setidaknya di tanah Jawa. Ia juga tersenyum riang mendengar informasi itu. Lalu ia mengatakan, sebenarnya ia sudah tidak puas lagi dengan beberapa bagian dari melodi lagu itu. Tetapi ia tidak merinci bagian mana dari lagu itu. Lalu ia mengatakan: kiranya itulah lagu terakhir yang ia ciptakan. Maka sekali lagi, saya nyatakan rasa kecewa saya. Tetapi dia mengatakan, ya Frans, ada saatnya kita harus berhenti. (Saya mengangguk mengiyakan hal itu). Dalam hati saya mengulangnya: Ya, ada saatnya kita harus berhenti.


Lalu topik pembicaraan kami bergeser lagi. Tanpa saya duga sama sekali ia menyinggung karangan saya dulu di majalah Basis tentang nama orang-orang Manggarai. Ia mengatakan bahwa ia sangat senang dengan tulisan itu. Karena ia tahu bahwa saya ada di Washington dalam rangka sandwich-programme, maka ia bertanya apakah riset doktoratmu sekarang ini masih ada kaitan dengan tulisanmu di Basis itu? Saya katakan ya, sebenarnya ada beberapa bagian dari topik ph.d.,-research saya terkait dengan hal itu. Ada beberapa detail dari diskusi kami malam itu yang tidak usah saya singgung lebih lanjut di sini. Tetapi ada satu hal yang tidak terlupakan. Bahwa ia mengaku pernah bertemu dengan bapa Dami N.Toda (walau tidak sempat saya tanyakan di manakah pertemuan itu terjadi, apakah di Jakarta ataukah di Hamburg tempat berkaryanya bapa Dami di Jerman). Entah bagaimana prosesnya dalam pertemuan dan percakapan itu, konon bapa Dami memuji tulisan saya itu tentu tidak lupa dengan beberapa catatan kritisnya. Tentu saja saya terkejut dengan informasi itu. Kemudian saya beritahukan kepada pa Herman bahwa yang jelas, kurang lebih hampir dua tahun sesudah tulisan itu terbit di Basis (April-Mei 1991), muncul surat dari Hamburg yang ditujukan kepada saya. Surat itu berasal dari bapa Dami. Saya katakan kepada kraeng Herman bahwa saya sangat bangga mendapat surat tanggapan dari bapa Dami. Sebab saya merasa saat itu saya bukan siapa-siapa. Tetapi karangan saya mendapat tanggapan tertulis dari pa Dami. Saya informasikan hal itu juga kepada pa Herman. Bahkan saya katakan bahwa surat kraeng Dami itu juga memberikan beberapa detail usulan untuk memperkaya dan memperdalam perspektif historis-antropologis untuk riset saya tentang nama-nama orang Manggarai.


Akhirnya saya juga memberitahukan kepada pa Herman, bahwa bulan April 2002, di Belanda, akhirnya untuk pertama kalinya saya bertemu dengan bapa Dami di Stasiun Arnhem. Saya dari Nijmegen. Kraeng Dami dari Amsterdam, sebab ia menginap di tempat pa Paul Wao dari Namo, Lembor Selatan). Pa Herman menimpali: tentu itu pertemuan yang mengesankan. Saya katakan: bagi saya amat mengesankan. Karena bisa bertemu dengan penyair Manggarai yang terkenal dan saya sukai puisi-puisinya baik yang terbit di Horizon maupun di beberapa majalah sastra lainnya. Saya ceritakan bahwa saat bertemu di Arnhem itu kami tidak berbicara tentang tulisan saya di Basis. Kami punya tujuan lain. Kraeng Dami ingin agar saya temani dia mengunjungi museum militer Belanda di Arnehm. Tujuan kami hanya satu: mencari sebuah dokumen keputusan Ratu Belanda yang memerintahkan penangkapan kakeknya (Kraeng Laki Tekek Laki Mbangir) dalam perang Belanda melawan Todo di akhir tahun 1900an. Semula saya ragu apakah dokumen itu ada. Kraeng Dami meyakinkan saya bahwa memang ada dokumen itu. Dengan tekun saya meminta informasi kepada pegawai museum: Bahwa saya dan pa Dami mau mencari informasi tentang ini-itu. Lalu kami dibawa ke sebuah ruangan, semacam perpustakaan tempat disimpannya semua dokumen kolonial. Kami dipersilahkan mencari. Kami menuju rak Indonesia. Lalu rak Manggarai. Di situlah kami berhenti. Sayalah yang pertama kali menemukan dokumen itu. Lalu saya memberitahukan hal itu kepada pa Dami. Betapa saya terkejut karena pa Dami hampir setengah berteriak mengatakan “Inilah dokumen yang saya cari.” (Kraeng Herman tersenyum mendengar cerita saya itu). Mendengar teriakan itu, petugas datang. Ada apa pa? Inilah dokumen saya cari. Saya sudah temukan. Lalu mau apa? Tanya petugas itu. Saya hanya meminta anda agar mengkopi teks ini untuk saya. Saya sedang menyiapkan sebuah naskah buku tentang kakek saya ini.


Saya bisa melihat pa Herman mulai bosan dengan cerita saya itu. Lalu saya berpindah topik. Saya katakan: Kraeng dulu terkenal sekali di Ruteng e. Katanya: Ah tidak. Terkenal apa e? Begitu ia bertanya. Lalu saya katakan: saat itu saya masih di Kisol. Kalo tidak salah kraeng Herman sudah bekerja di STKIP Ruteng (yang saat itu kalau tidak salah namanya APK Ruteng). Dengan sangat hati-hati saya tanyakan tentang satu hal yang sebenarnya agak takut saya tanyakan. Karena itu, dengan hati-hati saya bertanya: kraeng Herman masih ingat Bruder Dismas-kah? Saat mendengar nama itu ia tertawa lebar sekali. Tertawa sumringah kata orang Jawa. Ia bertanya balik: Emangnya kamu kenal orang itu? Apa yang kamu dengar? Lalu saya katakan bahwa saya mendengar kraeng Herman menampar mukanya. Bagi saya kraeng hebat sekali: karena bisa menampar muka biarawan di tanah Flores. Itu luar biasa. Lalu dia bilang: aku tidak tahu lagi apa yang terjadi saat itu. Ya sudahlah. Itu sudah lewat. Yang jelas orang itu keluar toh. Ternyata ia butuh perempuan juga. (Sesungguhnya ia memakai bahasa kasar, sehingga saya tidak mau menuliskannya di sini). Saya hanya tersenyum menimpali cerita beliau.


Kami bercerita sambil menikmati santap malam lezat perayaan natal yang disediakan pihak kedutaan. Juga sambil mendengarkan beberapa orang yang membawakan lagu-lagu natal yang indah. Juga beberapa anak-anak orang Indonesia yang mementaskan beberapa tarian. Di tengah itu semua saya juga tidak lupa mengatakan kepada beliau bahwa saya ingat juga nama alias dite dulu waktu menulis: Herman Wela Sita. Keren Kraeng. Ia tersenyum juga mendengar itu.


Tanpa terasa sudah lewat jam 9.30 malam. Pesta diakhiri. Lalu saya bertanya kepada dia: apakah boleh sebelum pulang ke Indonesia, saya lejong ke tempat dia? Ia tidak mengiyakan, juga tidak menidakkannya. Ia hanya katakan bahwa nanti ia beritahu lewat pa Rahmat (pa Rahmat adalah staf kedutaan Indonesia di Washington DC; selama di Amerika saya indekost di rumah beliau di Maryland; kemudian dengan sangat berhati-hati pa Rahmat berkata kepada saya bahwa mungkin pa Herman tidak mengundang Frans datang karena ia indekost di rumah orang, tetapi tidak diketahui persis di rumah siapa; mendengar informasi itu saya urungkan niat untuk lejong).


Sampai saya terbang kembali ke Indonesia pada tanggal 22 Desember 2014 sore hari saya tidak mendapat kabar dari dia tentang boleh tidaknya saya lejong ke tempat dia. Lalu tibalah kabar duka ini beberapa hari lalu. Selamat jalan pa Herman. Perjalananmu ke tempat istirahat abadi, tempat di mana jiwa bisa berhenti, tiada lagi mencari yang tiada henti, selain tetirah dalam bahagia dan cahaya abadi, dan kita memandang dari muka ke muka wajah Allah yang berseri-seri. Tetapi lagu ciptaanmu dalam Madah Bakti akan terus bergema abadi di dalam kubah-kubah langit gereja suci, melambung bagaikan asap-asap dupa yang terbang menguap ke langit tinggi, tempat tahta suci surgawi menanti segala puji dari makhluk di bumi ini, merana dalam rintih menanti surgi di tinggi. Kraeng Herman, seperti katamu waktu itu, ya ada saatnya kita harus berhenti. Sekarang kraeng sudah berhenti dalam tetirah abadi di dalam nyala kasih cinta Tuhan yang pernah engkau dendangkan dalam syair lagumu itu.


Bandung, 23 Oktober 2018.

Sunday, October 14, 2018

MENIKMATI KIDUNG AGUNG 1:2-2:7

Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.



Prolog 1:2-2:7: Bagian ini adalah prolog (pengantar) untuk seluruh kitab. Pengantar sebuah karya puitik atau karya dramatik biasanya berfungsi sebagai pengantar untuk seluruh kitab. Begitu juga di sini: Prolog ini berfungsi sebagai pengantar seluruh kitab. Dalam bagian ini kita temukan beberapa aktifitas yang dilakukan. Pertama, secara singkat orang melukiskan tokoh yang ada; kedua, juga mencoba membangun panggung tempat mereka (tokoh tadi) memerankan diri; ketiga, orang juga memberi petunjuk mengenai tema yang dikembangkan dalam seluruh Kitab.


Dalam banyak hal pengantar Kidung Agung ini mirip dengan lagu atau musik pembuka dalam sebuah karya-agung musikal. Tema besar terdengar singkat dan padat ditelinga, masuk kesadaran orang, kemudian berlalu. Satu melodi menyatu dengan mudah dalam kesadaran orang dan dengan itu ia pun segera berlalu. Tidak ada sesuatu pun yang dikembangkan lebih dalam lagi di sini. Pengarang membangun situasinya. Begitu juga para pendengar. Ia masuk dan berusaha mendengarkan semua dengan baik agar kelak bisa memahami dengan lebih baik juga. Dalam bagian ini tidak seluruh prolog itu dibahas. Saya hanya membahas dua unit: Kid 1:2-4 dan Kid 1:5-6. Bagian lain akan dibahas dalam ulasan yang akan datang.


Kid 1:2-4: Bagian Prolog tadi dimulai dengan seruan yang mengandung rindu dari sang Kekasih (ay 2). Dalam tiga ayat ini dengan sangat cepat kita melihat pergonta-gantian antara diri orang ketiga (ia) ke diri orang kedua (mu, engkau). Ini adalah sebuah gejala yang khas dalam Puisi Ibrani (bdk.,Mzm 23) dan puisi cinta; karena itu kita tidak usah mempersoalkannya dan tidak usah juga membuat kita bingung. Sebab para kekasih itu sering menyapa satu sama lain dalam diri orang ketiga (ia) dalam Kidung ini, dan sering juga dengan mudah berganti atau bergeser ke diri orang kedua (mu; bdk.1:12; 2:1-3; 4:6; 7:10).


Pada bagian ini Sang Kekasih itu sendirian. Sedangkan yang Dikasihinya berada jauh. Dia (she) mengungkapkan rasa rindunya akan kecupan sang kekasih pria. Ia mengibaratkan kecupan cinta itu dengan seteguk anggur manis (bdk.8:2b); bahkan kecupan itu lebih nikmat dari anggur (ay 2). Kemudian perlambang yang dipakai beralih dari citarasa kecap (taste; ay 2) ke citarasa aroma (scent; ay 3). Di sini (ay 3) nama sang Kekasih diibaratkan dengan wewangian yang tercurah. Itulah daya tarik yang menyebabkan banyak perempuan jatuh cinta kepadanya (ay 3). Si Kekasih (perempuan) menyebut sang Kekasih pria dengan sebutan “raja” (ay 4). Sebutan itu dimaksudkan untuk menekankan betapa dia (Kekasih) itu sempurna dan pantas dirindukan. Para Puteri Yerusalem terlibat dalam dialog (percakapan) dengan memuji sang Kekasih. Di sini kita boleh membayangkan mereka itu (para kekasih) sebagai para sahabat ataupun dayang-dayang pengiring Mempelai Perempuan (lihat Hak 11:34-38; Mat 25:1).


Kid 1:5-6: Di sini kita melihat bagaimana si Kekasih Perempuan itu menyapa para Puteri Yerusalem tadi. Ia melukiskan diri sebagai perempuan hitam tetapi cantik (ay 5). Ada dua metafora dipakai dalam pelukisan itu: 1). Kemah orang Kedar (qedar artinya hitam), dan 2) Tirai-tirai orang Salma (lambang keindahan dan kemewahan). Si Kekasih (Perempuan) itu menghendaki agar para puteri tidak usah mempedulikan kulitnya yang hitam; sebab ia menjadi hitam karena terbakar terik mentari (ay 6). Perubahan warna kulit itu terjadi karena saudaranya lelaki, dalam amarah mereka (tidak dijelaskan mengapa marah) menyuruh dia bekerja di kebun anggur.


Beberapa kata yang dipakai dalam ay 6 ini membangun kaitan dengan bagian akhir Kidung (bdk. 8:8-9; 8:11-12) dan memperkenalkan ibunda sang Kekasih yang disebut beberapa kali dalam teks (3:4; 6:9; 8:2). Menarik bahwa Kekasih (perempuan) itu menyebut diri kebun anggur. Hasil kebun anggur itulah yang ia persembahkan kepada Kekasihnya dalam seluruh Kitab itu. Bersambung...

Tuesday, September 11, 2018

MENIKMATI KIDUNG AGUNG 1:1

Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.



Setelah dua tulisan pengantar singkat yang sudah terbit dua bulan kemarin, kini tiba saatnya bagi kita untuk mulai membaca dan menikmati kitab Kidung Agung ini, dari ayat ke ayat. Tentu ini bukan sebuah “perjalanan” yang singkat dan gampang. Butuh ketekunan dan keseriusan. Tetapi marilah kita berusaha bersama-sama dalam rangka memahami teks Kitab yang unik dan asyik ini. Saya akan mencoba membaca dan memahaminya sedapat mungkin dan kemudian men-sharing-kan hasil pembacaan dan pemahaman saya itu untuk para pembaca sekalian melalui media majalah komunitas ini. Kita akan membaca perlahan-lahan. Dari ayat ke ayat. Dari kata ke kata. Seperti menikmati sebuah hutan, tetapi dengan meneliti kayu demi kayunya, pohon demi pohon. Semoga kelak kita bisa memahami keseluruhan hutan itu setelah membedah isinya dengan tekun dan sabar.

Saya mulai dengan Kidung Agung 1:1. Inilah ayat yang paling pertama dalam kitab ini. Dalam ayat ini kita menemukan judul dari seluruh kitab ini. Di sana tertulis kalimat singkat berikut ini: “Kidung agung dari Salomo.” Ada dua konsep yang terungkap secara tersirat dalam baris pertama ini. Pertama, dalam baris pertama ini ada judul “Kidung Agung.” Itu adalah versi terjemahan bahasa Indonesia dari sebuah judul dalam bahasa Inggris yaitu Song of Songs. Dalam bahasa Latin ada judul Canticum canticorum. Mungkin dari segi cita-rasa bahasa modern hal itu (struktur terjemahan “Kidung Agung”) terdengar ganjil atau terasa aneh. Tetapi semua ungkapan itu (bahasa Indonesia, Inggris, dan Latin) merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani yaitu “Syir Hasyirim”. Ungkapan itu sendiri dalam bahasa Ibrani merupakan sebuah bentuk superlatif (bentuk tingkatan tertinggi: baik, lebih baik, paling baik, good, better, best). Bentuk “superlatif” itu menandakan bahwa itu adalah “lagu yang paling indah”, “lagu yang paling cemerlang,” “lagu yang paling baik.” Bentuk tunggal dari kata benda (syir) itu menunjukkan bahwa karya itu harus dibaca sebagai sebuah unit (sebuah kesatuan), dan bukan sebuah antologi (bunga rampai, kumpulan dari beberapa “unit” yang bisa saja terlepas satu sama lain). Istilah Ibrani “syir” (atau kita kenal lewat bahasa Arab, syair, yang kini juga sudah menjadi salah satu kosa kata bahasa Indonesia) menunjukkan sebuah nyanyian yang penuh sukacita dan penuh semangat tinggi. Bukan lagu sendu, bukan lagu loyo-loyo atau lagu lemes. Bahkan diiringi dengan alat musik yang penuh dengan nada gembira dan semangat, nada-nada yang membangkitkan gairah dan semangat di hati para pendengarnya. Di sini para pembaca harus membayangkan musik iringan itu seperti musik irama padang pasir untuk mengiringi tari-perut yang sensasional itu.

Kedua, ada ungkapan “dari Salomo” (liselomoh). Ungkapan ini bisa dipahami dengan salah satu dari ketiga cara pemahaman berikut ini. Pertama, ungkapan itu paling sering diterjemahkan sebagai ungkapan yang mengkaitkan sang pengarang lagu dengan tokoh raja Salomo (tokoh yang diyakini sebagai tokoh paling bijaksana di seluruh bumi ini). Jadi, di sini terungkap keyakinan historis dasar bahwa pengarang kidung agung ini ialah raja Salomo. Dalam artian itu maka bisa diungkapkan secara lebih jelas dan lengkap sbb: Kidung Agung dari Salomo (sebagaimana sudah tampak jelas dari judul dalam alkitab kita). Kedua, ungkapan itu bisa juga berarti bahwa karya itu adalah sesuatu “yang dibaktikan kepada sosok atau tokoh Salomo.” (Jadi, belum tentu dari Salomo, melainkan berasal dari orang lain, tetapi dibaktikan kepada atau “dedicated to”, diperuntukkan bagi Salomo, sang raja Agung dan bijaksana). Ketiga, ungkapan itu juga bisa berarti bahwa Kidung itu ditulis menurut atau dalam gaya Salomo (sebagai seorang raja yang paling bijaksana dan dikagumi oleh banyak orang, the most wisest king in the world history) (bdk.1Raj 5:12). Ada sebuah pandangan bahwa Salomo telah menghasilkan sebuah gaya atau genre sastra tertentu, dan kidung Agung ini ditulis menurut gaya atau genre sastra Salomo. Tersirat pandangan bahwa Salomo bukan pengarang; ia hanya menginisiasi dan mengilhami sebuah gaya sastra. Dan pengarang yang menyusun Kidung ini, menyusun menurut genre-Salomo tadi, makanya dibaktikan kepada Salomo. Tetapi di sini saya mengikuti pandangan yang pertama. Bersambung.....


Thursday, August 9, 2018

SEJARAH PENERIMAAN KIDUNG AGUNG

Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Kitab Suci FF-UNPAR Bandung.



Pada akhir abad pertama Masehi, Kidung Agung bersama Amsal dan Pengkotbah diterima dalam Kanon Ibrani. Di sana, Kidung Agung terletak sesudah Rut dan sebelum Pengkotbah. Septuaginta dan Vulgata mempertahankan urutan Amsal, Pengkotbah, Kidung Agung. Ketiga kitab itu oleh kedua tradisi tadi ditempatkan bersama membentuk sastra Hikmat Kebijaksanaan.


Diterimanya kitab ini ke dalam kanon mempunyai konsekwensi tertentu. Yaitu tafsirnya pasti dipengaruhi tradisi yang lebih tua dan lebih kuat dalam Hukum dan Nabi. Dekalog menuntut kesetiaan mutlak Israel kepada Allah yang satu. Bentuk relasi manusia yang menuntut kesetiaan seperti itu ialah relasi wanita dan pria dalam perkawinan. Para nabi (Hosea, Yeremia, Yesaya) mengungkapkan relasi Israel dengan Allah dengan memakai ungkapan relasi perkawinan. Dengan itu mereka memberinya sebuah intensitas baru. Pada akhir abad pertama SM, Kidung ditafsirkan secara alegoris. Hal itu mencerminkan pengaruh tradisi yang lebih tua ini yang melihat dalam kitab itu gambaran singkat sejarah Israel mulai dari Keluaran sampai datangnya Mesias.


Rabi Akiba adalah yang bertanggung-jawab atas munculnya dorongan kuat untuk menafsirkan Kidung ini secara alegoris. Kalau Kidung itu hanya ditafsirkan secara harfiah (sebagai lagu keduniaan belaka), maka orang yang memakai tafsir seperti itu tidak akan ikut ambil bagian dalam dunia yang akan datang. Pengaruh Rabi Akiba begitu kuat sehingga tafsir alegoris ini pun akhirnya diterima umum.


Tatkala tafsir alegoris ini masuk ke dalam tradisi tafsir Kristiani awal maka tokoh-tokoh dalam kitab itu pun ditafsirkan secara baru juga juga. Misalnya, Mempelai pria adalah Kristus; Gereja adalah Mempelai wanita. Ini suatu perkembangan alamiah berdasarkan terang beberapa teks Kunci Perjanjian Baru (Mat 9:15; 25:1-13; Yoh 3:29; 2Kor 11:2; Ef 5:22-33; Why 19:6-8; 21:9-11; 22:17). Origenes mengembangkan alegori Kristus/Gereja. Kidung merupakan teks favorit pada masa Bapa Gereja awal dalam upaya mereka mengembangkan eklesiologi. Kitab ini melukiskan cinta yang segar dan muda berlawanan dengan latar belakang ciptaan baru, kasih perkawinan yang setia dan lemah lembut yang bersifat timbal balik. Origenes juga menerima kemungkinan untuk melihat jiwa individual dalam sosok Mempelai tadi. Tafsir ini diambil Gregorius Nyssa dan Ambrosius dan menerapkannya pada Maria. Kurun Abad Pertengahan menyaksikan kemekaran penuh dari pelbagai komentar atas Kitab ini. Bernardus Clairvaux menulis delapanpuluhenam kotbah tentang kitab ini. Ia menafsirkan kitab ini sebagai dialog antara Kristus dan jiwa orang Kristiani. Tradisi kaum Cistercian menyukai tafsir mistikal atas Kitab ini. Hugo dari Santo Victor dan banyak yang lainnya menerapkannya pada Maria.


Sejarah spiritualitas Kristiani menarik sangat banyak ilham dari Kidung Agung ini. Buku-buku yang menguraikan doa dan teologi doa sangat banyak mengutip kitab ini. Teresia dari Avila, Yohanes dari Salib, Luis de Leon menulis pelbagai komentar rohani tentang kitab ini. Tokoh-tokoh lain seperti Fransiskus dari Sales dan Teresa of Lisieux menulis banyak komentar juga tentang kitab ini dalam pelbagai tulisan mereka.


Tetapi liturgi Ekaristi tidak banyak mengambil dari kitab ini. Tahun ini hanya satu teks Kidung Agung yang dipakai dalam tahun liturgis: Tanggal 21 Desember, persiapan Natal, Kidung 2:8-14 dirangkai dengan Lukas 1:39-45. Dalam buku brevir ada cukup banyak teks Kidung Agung yang dikutip sebagai bacaan dalam Ibadat Bacaan.

GEREJA ROMO, GEREJA ROMA: NO

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Hidup menggereja di tingkat paroki penuh dinamika (ups and downs, joys and sorrows) tersendiri. Hal itu sangat biasa, karena hidup menggereja adalah perkara relasi antar manusia dengan sifat dan watak berbeda-beda. Di tingkat paroki yang tampak sebagai pemimpin ialah pastor paroki. Mungkin ada yang berpikir bahwa gereja adalah gereja romo, karena romo-lah yang memimpin. Umat sering menyebut romo paroki gembala (pastor, Latin). Walau romo menonjol di tingkat paroki, tetapi baik paroki maupun gereja paroki itu bukanlah gereja atau paroki romo. Akan tiba waktunya romo akan pindah ke tempat lain dan akan datang romo lain sebagai penggantinya. Begitu seterusnya.

Kalau begitu gereja milik siapa? Milik uskup? Walau uskup adalah pemimpin tertinggi gereja setempat (gereja lokal, gereja partikular), tetaplah menurut saya gereja bukan gereja uskup. Lalu milik siapa? Milik Roma, sehingga bisa disebut Gereja Roma, di bawah Paus? Juga tidak. Sebagai umat Katolik biasanya orang bangga dengan gereja Roma dengan pemimpin tertinggi, Paus. Akan terasa semakin membanggakan kalau orang membaca buku Scott Hahn, Rome sweet Home. Tidak mudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kalau dipaksakan, maka hilang nuansa keindahan ungkapan tersebut. Tetapi sekali lagi, gereja bukanlah milik Roma, walaupun semua orang menyebut Gereja Roma. Hubungan dalam urutan kata itu, bagi saya bukan tanda hubungan kepemilikan (relatio-possesiva). Sekali lagi tidak.

Kalau begitu, gereja itu milik siapa? Di sini saya teringat akan tiga hal. Pertama teringat akan kotbah Petrus sesudah peristiwa Pentakosta di Yerusalem itu. Kisah Para Rasul memberitahukan kepada kita bahwa sebagai reaksi terhadap kotbah Petrus yang berapi-api di Yerusalem pada hari Pentakosta, banyak orang bertobat dan memberi diri dibaptis. Mereka dibaptis dalam nama Yesus Kristus. Raymond E.Brown, pakar Kitab Suci dari Amerika (imam Saint Sulpice) mengatakan bahwa bagi gereja Purba, dibaptis dalam nama Yesus sangat penting. Itu menunjukkan bahwa para neobaptis itu menjadi hamba (milik) Yesus Kristus. Bukan hamba atau milik orang yang membaptisnya. Kedua, saya juga teringat akan perkataan Yesus kepada Petrus dalam injil Matius setelah Petrus menyampaikan pengakuan imannya yang sangat penting dan mendasar tentang Yesus mesias. Dalam Matius kita membaca perkataan Yesus dalam Latin: Tu es Petrus, et super haec petram aedificabo ecclesiam meam. Kata Yesus sendiri: ecclesiam meam, gerejaKu. Bukan gereja siapa-siapa. Melainkan gereja Dia, gerejaNya.

Ketiga saya juga teringat akan dialog antara Yesus dan Petrus di akhir injil Yohanes. Sesudah martabat Petrus dipulihkan Yesus dalam dialog yang mengharukan itu (karena ia menyangkal Yesus), dikisahkan bahwa Yesus berkata kepada Petrus: gembalakanlah domba-dombaKu (pasce oves meas). Hal itu diucapkan Yesus tiga kali. Sesudah penyampaian ketiga dilukiskan bahwa Petrus memandang kepada murid yang dikasihi Tuhan lalu bertanya kepada Yesus: apa yang akan terjadi dengan orang itu? Jawab Yesus, tentang orang itu, bukan urusanmu. Urusanmu ialah ikutlah Aku. Jadi, setelah Petrus diberi tugas menggembalakan domba-dombaKu, Petrus diberi kewajiban mutlak untuk mengikut Yesus. Petrus diberi tugas sebagai penggembala untuk menggembalakan domba-domba Tuhan, sambil mengikuti Tuhan. Jadi, Petrus harus menggembalakan domba-domba Tuhan menuju kepada Tuhan sendiri, mengikuti Tuhan. Petrus tidak boleh membawa dan mengikat domba-domba Tuhan itu pada dirinya sendiri. Petrus tidak boleh menyesatkannya juga.

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...