Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Kitab Suci Fakultas Filsafat UNPAR Bandung
Setelah kurang lebih sebelas tahun (2007-2018) kita “membaca dan menikmati” Mazmur, akhirnya bulan Juli 2018 ini, “ziarah” kitab Mazmur itu selesai. Saya berharap kita belajar sesuatu dari sana, diperkaya oleh pengalaman ziarah Mazmur itu. Sekarang kita bersiap-siap untuk sebuah ziarah panjang, ziarah rohani baru, menikmati Kidung Agung. Semoga Tuhan memberi kesempatan kepada kita untuk menyelesaikannya, sebagaimana kita menyelesaikan ziarah Mazmur.
Sebelum kita mulai membaca dan memahami kitab ini terlebih dahulu saya mengatakan beberapa hal sebagai pengantar. Semoga ini bisa mempermudah proses pembacaan dan pemahaman dan penikmatan nantinya. Saya berharap pembaca pernah membaca atau paling tidak pernah mendengar sesuatu tentang kitab ini sebelumnya.
Saat mulai menulis saya teringat akan pater Cletus Groenen OFM, profesor Kitab Suci saya di Seminari Tinggi Kentungan dan di skolastikat Fransiskan di biara St.Bonaventura Papringan, Yogyakarta. P.Groenen, panggilan akrabnya, suatu saat mengejutkan kami dalam kuliah, ketika ia berkata: “Bagaimana kitab ‘porno’ bisa masuk dalam kanon Kitab Suci?” Kami terdiam. Lalu ia tambahkan: “Baca saja sendiri, nanti kamu akan lihat betapa kitab itu vulgar menyebut beberapa tubuh perempuan”. Kami tetap diam. Lalu ia berkata: “Tetapi kitab itu jangan dibaca secara harfiah. Kita harus membacanya secara rohani, secara alegoris.” Tambah bingung. Alegori itu maksudnya “membaca sebagai perumpamaan”. Eksplisit menyebut A, tetapi yang dimaksud B, bahkan mungkin Z. Perlu seni dan kedalaman rohani untuk bisa melihat kaitan antara A dan B dan bahkan Z. Itulah alegori. Tidak berhenti pada level permukaan. Begitu pengantar singkat P.Groenen untuk Perjanjian Lama, termasuk Kidung Agung. Pendalaman lanjut saya peroleh dalam kuliah pater Dr.Wim van der Welden MSF.
Selanjutnya, saya mau mengatakan bahwa ini adalah kitab puisi yang merayakan dan mengagungkan cinta jasmaniah manusia. Tetapi mengapa dan untuk apa kitab semacam itu masuk ke dalam kanon? Itu pertanyaan pertama. Kitab ini juga jika dibaca untuk pertama kali tampak tidak mengandung “orientasi” keagamaan. Mengapa masuk kanon? Mengapa orang berlelah-lelah membaca, merenungkannya, dan menafsirkannya? Dan hal itu berlangsung lebih dari duaribu tahun. Agak sulit bagi kita menemukan tema biblis besar dalam kitab ini; misalnya, tema pilihan, perjanjian, nubuat, keselamatan, Hukum (Torah). Kalau mau jujur dalam kitab ini juga sulit ditemukan ajaran moral eksplisit. Lebih mengejutkan lagi, dalam kitab ini kita hanya temukan satu penyebutan eksplisit nama TUHAN (Kid 8:6). Selebihnya kita sia-sia mencari nama kudus itu.
Bagaimanakah kitab ini mengkomunikasikan “firman Allah?” Wahyu ilahi macam apa yang bisa ditemukan lewat medium pengalaman percakapan-percakapan cinta yang penuh gairah, lewat bahasa dan perlambang yang sangat sensual? Jika kita mencoba membacanya, apa yang bisa diperoleh? Pengalaman rohani macam apa? Bisakah kitab itu memperkaya secara rohani dan iman? Apakah isi kitab itu juga berfungsi dalam pewartaan, pelayanan, dan pengajaran? Kalau ya, seperti apa, dan bagaimana?
Itulah beberapa pertanyaan penting yang saya coba jawab dalam ziarah Kidung Agung ini. Semoga kita siap berziarah bersama. Berbeda dengan ziarah Mazmur, sekarang dalam ziarah Kidung Agung, kita berputar dahulu, mencari alat bantu dan bingkai pemahaman yang sama. Semoga kita bisa bersabar dalam ziarah ini. Selamat berziarah.
Nias 2, Awal Mei 2018
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Monday, July 9, 2018
Sunday, May 6, 2018
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 150
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Inilah mazmur Halel kelima. Mazmur ini diawali dengan pekik halel, pujilah Yahweh. Bahkan pekik HALELUYA itu menjadi judul mazmur 150 ini. Dengan demikian seluruh untaian mazmur dipuncaki dengan pekik HALELUYA. Mazmur ini sangat singkat. Hanya terdiri atas enam ayat. Karena itu saya tidak membaginya ke dalam unit-unit, melainkan menguraikannya sebagai satu kesatuan. Ada sesuatu yang sangat unik dalam ayat 1 ini. Kita diajak memuji Allah di tempat kudus-Nya. Itu berarti di Yerusalem. Jadi, semua diajak ke Yerusalem. Tetapi di ayat 1b ada sesuatu yang menarik lagi, sebab di sana manusia diajak memuji Tuhan di cakrawala-Nya. Artinya, kita memuji Tuhan dalam alam semesta, dan bersama dengan seluruh alam semesta. Butuh sedikit daya imajinasi untuk membayangkan pujian bercorak kosmis ini. Dalam ayat 2a diberi alasan untuk memuji Dia. Yaitu kita memuji Tuhan karena Ia kuat kuasa (perkasa). Dalam ayat 2b kita memuji Dia karena pujian itu adalah sesuatu yang layak dan pantas diberikan kepadaNya karena Ia agung dan mahadahsyat.
Dalam ayat 3 kita melihat bahwa pujian kepada Tuhan hendaknya dibantu dengan alat musik. Di sana disebutkan beberapa alat musik yaitu sangkakala, gambus dan kecapi (dua alat terakhir ini sudah disebut dalam mazmur 149). Ajakan memuji Tuhan dengan alat musik dilanjutkan dalam ayat 4. Di sini alat musik yang disebutkan khusus ialah rebana. Lalu dalam ayat 4a juga muncul unsur lain yaitu tari-tarian. Ini adalah bagian utuh dari gelombang sukacita pujian kepada Tuhan. Maka saya tegaskan lagi bahwa memuji Tuhan juga bisa diungkapkan dengan gerak tari yang ramai dan riuh rendah. Tidak perlu ada alergi terhadap gerak, terhadap tarian dalam ibadah. Dalam ayat 4b sekali lagi disebut alat musik kecapi dan ada tambahan alat musik seruling. Alat-alat ini dipakai untuk mengiringi pujian kepada Tuhan. Dalam ayat 5 muncul alat musik lain (termasuk kategori perkusi). Di sini disebutkan alat musik ceracap. Tiruan bunyi ceracap diulang secara variatif di sini (berdenting dan berdentang). Secara imajinatif saya membayangkan betapa ramai dan riuh rendahnya suasana puji-pujian yang diciptakan oleh perpaduan pelbagai musik, nyanyian, dan tarian itu. Semuanya menjadi hidup karena Tuhan. Semuanya menjadi hidup di hadapan Tuhan. Kiranya itulah yang mau ditegaskan dengan mazmur ini.
Akhirnya mazmur ini ditutup dengan himbauan bahwa semua makhluk hidup yang bernafas memuji dan memuliakan Tuhan. Dan yang bernafas itu tidak hanya manusia. Melainkan juga hewan dan tetumbuhan. Semua diajak ikut ambil bagian dalam pujian alam semesta. Semua diundang ikut ambil bagian dalam pujian kosmis. Sebagaimana biasa, mazmur ini juga diakhiri dengan pekik Haleluya, sebagaima pada awal. Di sini saya teringat akan puisi kosmis Fransiskus Asisi. Puisi itu (Laudato Si) kini terkenal lagi karena diangkat Paus Fransiskus menjadi judul salah satu ensikliknya (2015). Saya juga teringat akan nyanyian tiga pemuda dalam tanur api. Mereka memuji Tuhan alam semesta langit dengan mengajak semua unsur alam semesta dalam pujian agung. Untuk menutup uraian ini saya mengutip kitab Tambahan Daniel itu: “Pujilah Tuhan, hai matahari dan bulan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala bintang di langit, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala hujan dan embun, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.” (Tamb Dan 3:62-64).
Canggu, Bali, Awal April 2018.
Inilah mazmur Halel kelima. Mazmur ini diawali dengan pekik halel, pujilah Yahweh. Bahkan pekik HALELUYA itu menjadi judul mazmur 150 ini. Dengan demikian seluruh untaian mazmur dipuncaki dengan pekik HALELUYA. Mazmur ini sangat singkat. Hanya terdiri atas enam ayat. Karena itu saya tidak membaginya ke dalam unit-unit, melainkan menguraikannya sebagai satu kesatuan. Ada sesuatu yang sangat unik dalam ayat 1 ini. Kita diajak memuji Allah di tempat kudus-Nya. Itu berarti di Yerusalem. Jadi, semua diajak ke Yerusalem. Tetapi di ayat 1b ada sesuatu yang menarik lagi, sebab di sana manusia diajak memuji Tuhan di cakrawala-Nya. Artinya, kita memuji Tuhan dalam alam semesta, dan bersama dengan seluruh alam semesta. Butuh sedikit daya imajinasi untuk membayangkan pujian bercorak kosmis ini. Dalam ayat 2a diberi alasan untuk memuji Dia. Yaitu kita memuji Tuhan karena Ia kuat kuasa (perkasa). Dalam ayat 2b kita memuji Dia karena pujian itu adalah sesuatu yang layak dan pantas diberikan kepadaNya karena Ia agung dan mahadahsyat.
Dalam ayat 3 kita melihat bahwa pujian kepada Tuhan hendaknya dibantu dengan alat musik. Di sana disebutkan beberapa alat musik yaitu sangkakala, gambus dan kecapi (dua alat terakhir ini sudah disebut dalam mazmur 149). Ajakan memuji Tuhan dengan alat musik dilanjutkan dalam ayat 4. Di sini alat musik yang disebutkan khusus ialah rebana. Lalu dalam ayat 4a juga muncul unsur lain yaitu tari-tarian. Ini adalah bagian utuh dari gelombang sukacita pujian kepada Tuhan. Maka saya tegaskan lagi bahwa memuji Tuhan juga bisa diungkapkan dengan gerak tari yang ramai dan riuh rendah. Tidak perlu ada alergi terhadap gerak, terhadap tarian dalam ibadah. Dalam ayat 4b sekali lagi disebut alat musik kecapi dan ada tambahan alat musik seruling. Alat-alat ini dipakai untuk mengiringi pujian kepada Tuhan. Dalam ayat 5 muncul alat musik lain (termasuk kategori perkusi). Di sini disebutkan alat musik ceracap. Tiruan bunyi ceracap diulang secara variatif di sini (berdenting dan berdentang). Secara imajinatif saya membayangkan betapa ramai dan riuh rendahnya suasana puji-pujian yang diciptakan oleh perpaduan pelbagai musik, nyanyian, dan tarian itu. Semuanya menjadi hidup karena Tuhan. Semuanya menjadi hidup di hadapan Tuhan. Kiranya itulah yang mau ditegaskan dengan mazmur ini.
Akhirnya mazmur ini ditutup dengan himbauan bahwa semua makhluk hidup yang bernafas memuji dan memuliakan Tuhan. Dan yang bernafas itu tidak hanya manusia. Melainkan juga hewan dan tetumbuhan. Semua diajak ikut ambil bagian dalam pujian alam semesta. Semua diundang ikut ambil bagian dalam pujian kosmis. Sebagaimana biasa, mazmur ini juga diakhiri dengan pekik Haleluya, sebagaima pada awal. Di sini saya teringat akan puisi kosmis Fransiskus Asisi. Puisi itu (Laudato Si) kini terkenal lagi karena diangkat Paus Fransiskus menjadi judul salah satu ensikliknya (2015). Saya juga teringat akan nyanyian tiga pemuda dalam tanur api. Mereka memuji Tuhan alam semesta langit dengan mengajak semua unsur alam semesta dalam pujian agung. Untuk menutup uraian ini saya mengutip kitab Tambahan Daniel itu: “Pujilah Tuhan, hai matahari dan bulan, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala bintang di langit, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya. Pujilah Tuhan, hai segala hujan dan embun, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.” (Tamb Dan 3:62-64).
Canggu, Bali, Awal April 2018.
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 149
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Ini adalah mazmur Halel keempat. Mazmur ini termasuk sangat singkat. Hanya terdiri atas 9 ayat. Judulnya dalam Alkitab ialah “Nyanyian Kemenangan bagi orang Israel.” Karena mazmur ini singkat maka saya tidak membaginya ke dalam beberapa unit, melainkan mengulasnya sebagai satu kesatuan saja. Sebagaimana biasa dalam koleksi mazmur halel, mazmur ini dimulai dengan pekik Halel, Pujilah Yahweh. Pemazmur mengajak jemaatnya untuk menyanyikan nyanyian baru (canticum novum) bagi Tuhan. Ia meminta agar nyanyian baru itu dilambungkan sebagai pujian bagi Tuhan dan hal itu harus dilakukan di tengah jemaat (ay 1). Nyanyian dan aktifitas bernyanyi adalah ungkapan hati yang bersuka-cita dan bersorak-sorai. Pemazmur menghendaki agar Israel bersukacita atas Pencipta mereka, agar Israel bersorak-sorai atas Tuhan Raja mereka (ay 2). Pujian dan rasa sukacita itu tidak hanya diungkapkan dengan nyanyian, melainkan juga dengan tari-tarian. Jadi, gerak tarian adalah sesuatu yang sah juga dalam pujian kepada Tuhan. Tidak perlu ada sikap alergi terhadap gerak tarian karena ada tendensi kuat untuk memandang doa sebagai sikap hening dan diam. Para pemuja juga dianjurkan memakai alat musik tertentu untuk mengiringi nyanyian dan tarian mereka. Di sana disebutkan secara eksplisit alat musik seperti rebana dan kecapi (ay 3). Dalam ayat 4 diajukan alasan bagi pujian tersebut. Alasannya ialah karena Tuhan berkenan kepada umat-Nya. Tuhan memuliakan (memahkotai) orang yang rendah hati dengan shalom. Tuhan menampakkan perkenanan-Nya di tengah umat dan hal itu mendatangkan sukacita dan sorak-sorai bagi jemaat. Bahkan dalam tidur pun mereka tetap bersukacita dan bersorak-sorai (ay 5). Pemazmur menghendaki agar pujian bagi Tuhan senantiasa diucapkan umat (ay 6: ada dalam kerongkongan mereka, dan karena itu siap untuk diucapkan dengan lantang). Sampai di sini kita tidak merasa ada masalah dengan mazmur ini. Sebab ia mengajak umat melambungkan pujian bagi Tuhan pencipta dan penyelamat.
Ayat 6b terasa sedikit bermasalah, sebab di situ dilukiskan sebuah gejala kekerasan (pedang bermata dua ada di tangan mereka). Pedang itu dimaksudkan untuk melakukan pembalasan dan penyiksaan terhadap para bangsa (ay 7). Fenomena kekerasan itu terus berlanjut dalam ayat 8. Ungkapan yang ada dalam ayat 8 ini dimaksudkan untuk melukiskan tindakan untuk membuat lumpuh para penindas yang selama ini merajalela dan mendatangkan sengsara bagi umat Tuhan. Hal itu ditegaskan kembali pada awal ayat 9 di mana dikatakan bahwa semua aksi itu dimaksudkan untuk melaksanakan hukuman atas mereka. Menjadi semakin bermasalah lagi karena dalam ayat 9b dikatakan bahwa semua aksi kekerasan itu adalah sebuah semarak bagi semua orang yang dikasihi-Nya. Lalu mazmur ini diakhiri dengan pekik Halel lagi sebagaimana pada awal tadi.
Jadi mazmur ini terasa sangat paradoksal. Ada ajakan pujian, tetapi ada juga nada kekerasan. Saya mencoba memahami hal ini dengan mengatakan sebagai berikut: Tuhanlah yang menyelenggarakan hidup umat. Termasuk di dalamnya ialah tindakan pemulihan nasib umat. Pemulihan nasib umat selalu berarti mengalahkan atau menghancurkan orang yang menindas mereka selama ini. Dan semuanya itu dilihat, dalam kaca mata pengalaman iman, sebagai karya penyelenggaraan ilahi dalam dan terhadap hidup umatnya, betapa pun hal itu terasa keras. Hanya perlu diingat bahwa subjek pelaku pemulihan itu ialah Tuhan sendiri, bukan manusia. Manusia tidak berhak sama sekali untuk melakukan aksi pemulihan itu, apalagi dengan aksi balas dendam dan kekerasan.
Canggu, Denpasar, awal April 2018.
Ini adalah mazmur Halel keempat. Mazmur ini termasuk sangat singkat. Hanya terdiri atas 9 ayat. Judulnya dalam Alkitab ialah “Nyanyian Kemenangan bagi orang Israel.” Karena mazmur ini singkat maka saya tidak membaginya ke dalam beberapa unit, melainkan mengulasnya sebagai satu kesatuan saja. Sebagaimana biasa dalam koleksi mazmur halel, mazmur ini dimulai dengan pekik Halel, Pujilah Yahweh. Pemazmur mengajak jemaatnya untuk menyanyikan nyanyian baru (canticum novum) bagi Tuhan. Ia meminta agar nyanyian baru itu dilambungkan sebagai pujian bagi Tuhan dan hal itu harus dilakukan di tengah jemaat (ay 1). Nyanyian dan aktifitas bernyanyi adalah ungkapan hati yang bersuka-cita dan bersorak-sorai. Pemazmur menghendaki agar Israel bersukacita atas Pencipta mereka, agar Israel bersorak-sorai atas Tuhan Raja mereka (ay 2). Pujian dan rasa sukacita itu tidak hanya diungkapkan dengan nyanyian, melainkan juga dengan tari-tarian. Jadi, gerak tarian adalah sesuatu yang sah juga dalam pujian kepada Tuhan. Tidak perlu ada sikap alergi terhadap gerak tarian karena ada tendensi kuat untuk memandang doa sebagai sikap hening dan diam. Para pemuja juga dianjurkan memakai alat musik tertentu untuk mengiringi nyanyian dan tarian mereka. Di sana disebutkan secara eksplisit alat musik seperti rebana dan kecapi (ay 3). Dalam ayat 4 diajukan alasan bagi pujian tersebut. Alasannya ialah karena Tuhan berkenan kepada umat-Nya. Tuhan memuliakan (memahkotai) orang yang rendah hati dengan shalom. Tuhan menampakkan perkenanan-Nya di tengah umat dan hal itu mendatangkan sukacita dan sorak-sorai bagi jemaat. Bahkan dalam tidur pun mereka tetap bersukacita dan bersorak-sorai (ay 5). Pemazmur menghendaki agar pujian bagi Tuhan senantiasa diucapkan umat (ay 6: ada dalam kerongkongan mereka, dan karena itu siap untuk diucapkan dengan lantang). Sampai di sini kita tidak merasa ada masalah dengan mazmur ini. Sebab ia mengajak umat melambungkan pujian bagi Tuhan pencipta dan penyelamat.
Ayat 6b terasa sedikit bermasalah, sebab di situ dilukiskan sebuah gejala kekerasan (pedang bermata dua ada di tangan mereka). Pedang itu dimaksudkan untuk melakukan pembalasan dan penyiksaan terhadap para bangsa (ay 7). Fenomena kekerasan itu terus berlanjut dalam ayat 8. Ungkapan yang ada dalam ayat 8 ini dimaksudkan untuk melukiskan tindakan untuk membuat lumpuh para penindas yang selama ini merajalela dan mendatangkan sengsara bagi umat Tuhan. Hal itu ditegaskan kembali pada awal ayat 9 di mana dikatakan bahwa semua aksi itu dimaksudkan untuk melaksanakan hukuman atas mereka. Menjadi semakin bermasalah lagi karena dalam ayat 9b dikatakan bahwa semua aksi kekerasan itu adalah sebuah semarak bagi semua orang yang dikasihi-Nya. Lalu mazmur ini diakhiri dengan pekik Halel lagi sebagaimana pada awal tadi.
Jadi mazmur ini terasa sangat paradoksal. Ada ajakan pujian, tetapi ada juga nada kekerasan. Saya mencoba memahami hal ini dengan mengatakan sebagai berikut: Tuhanlah yang menyelenggarakan hidup umat. Termasuk di dalamnya ialah tindakan pemulihan nasib umat. Pemulihan nasib umat selalu berarti mengalahkan atau menghancurkan orang yang menindas mereka selama ini. Dan semuanya itu dilihat, dalam kaca mata pengalaman iman, sebagai karya penyelenggaraan ilahi dalam dan terhadap hidup umatnya, betapa pun hal itu terasa keras. Hanya perlu diingat bahwa subjek pelaku pemulihan itu ialah Tuhan sendiri, bukan manusia. Manusia tidak berhak sama sekali untuk melakukan aksi pemulihan itu, apalagi dengan aksi balas dendam dan kekerasan.
Canggu, Denpasar, awal April 2018.
Monday, April 2, 2018
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 148
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Pemazmur sadar bahwa manusia tidak sendirian di semesta mahaluas ini. Ada banyak makhluk lain selain dirinya. Pemazmur juga sadar bahwa sebagai ciptaan, semua mempunyai kewajiban dasar untuk memuliakan Tuhan. Manusia tidak bisa sendirian memuji Tuhan. Hal itu harus dilakukan bersama oleh seluruh ciptaan. Sadar akan hal itu maka dalam mazmur 148 ini pemazmur mengajak seluruh alam, terwakili langit dan bumi, untuk memuliakan Tuhan. Itulah judul mazmur 148 ini: “Langit dan bumi, pujilah TUHAN.” Inilah mazmur Hallel ketiga. Mazmur ini terdiri atas 14 ayat. Untuk memahami dan menikmatinya, saya membagi Mazmur ini menjadi dua. Bagian I: ayat 1-7. Bagian II: ayat 8-14.
Pemazmur menyadari bahwa Tuhan bertahta di surga tinggi. Ia mengajak seluruh ciptaan untuk memuji Tuhan (ay 1). Pemazmur mengajak malaekat-Nya untuk memuji Tuhan. Disebutkan juga di sana bala tentara-Nya, yaitu benda-benda angkasa (matahari, bulan, bintang), semuanya diajak memuji Tuhan (ay 2). Benda langit itu diperjelas dalam ayat 3 sebab di sana secara khusus disebut benda langit seperti matahari, bulan, dan bintang. Hal ini mengingatkan kita akan kidung Azarya dalam kitab Daniel. Juga mengingatkan kita akan puisi kosmis Fransiskus Asisi, Kidung Saudara Matahari. Dalam ayat 4, pemazmur mengajak langit yang mengatasi langit untuk memuji Allah. Saat penciptaan dulu, Allah memisahkan air yang di bawah dan air yang di atas. Nah, air yang di atas langit itu diajak pemazmur untuk turut dalam pujian alam semesta ini (ay 4). Pemazmur tidak sanggup menyebut satu persatu seluruh ciptaan. Karena itu ia mengajak semuanya untuk ikut dalam pujian kosmis ini (ay 5). Itu adalah kewajiban dasar seluruh makhluk sebab Tuhanlah yang menjadikan mereka, Tuhanlah yang menciptakan mereka sehingga mereka ada (ay 5). Mereka ada karena perintah-Nya, karena firman-Nya. Ayat 6 melukiskan bagaimana pada awal mula, dan itu juga menjadi alasan bagi pujian semesta ini, Allah membangun semuanya; hal itu berlaku untuk selamanya. Tuhan sudah menetapkan sebuah tata aturan bagi alam semesta ini yang tidak bisa dilanggar siapapun. Pelanggaran akan menimbulkan kekacauan ngeri (ay 6).
Setelah dalam bagian di atas tadi, pemazmur menengadahkan pandangan ke atas, ke angkasa raya, maka dalam bagian kedua (ay 7-14) mata pemazmur diarahkan ke bawah, ke bumi. Ciptaan di bumi ini harus ikut ambil bagian dalam pujian semesta. Secara khusus dalam ay 7 pemazmur mengajak ular naga dan segenap samudera raya. Karena di sini disebutkan samudera raya, maka ular naga yang dimaksudkan bukan ular naga biasa, melainkan ular naga penghuni dan penguasa palung laut kelam penuh misteri yang disebut Leviathan. Semua diajak ikut dalam kidung pujian kosmis ini. Pemazmur mengajak api, hujan es, salju, kabut, angin badai untuk ikut dalam pujian semesta ini. Yang menarik ialah bahwa pemazmur menyebut unsur-unsur ini sebagai pelaku firman Tuhan (ay 8).
Dalam ayat 9 pemazmur mengajak anasir alam seperti gunung, bukit, segala jenis pohon (buah-buahan dan pohon aras). Pemazmur juga mengajak binatang liar dan segala jenis hewan, binatang melata dan burung di udara (ay 10). Semuanya diajak memuji Tuhan. Dalam ayat 11-12 pemazmur mengajak manusia, baik penguasa dan pemerintah (raja, pembesar) maupun orang biasa dari segala umur (pemuda, pemudi, orang tua, orang muda). Semua diajak memuliakan Tuhan Allah, sebab hanya Nama Tuhan-lah yang mulia dan agung, yang sedemikian agung sehingga melampaui langit dan bumi (ay 13). Akhirnya dalam ayat 14 pemazmur khusus menyebut tindakan Tuhan bagi umat-Nya Israel. Tuhanlah yang menegakkan simbol-simbol kekuasaan dan kekuatan Israel (yaitu tanduk). Tindakan Tuhan seperti itu, menyebabkan umat kekasihNya memuliakan Dia. Tindakan itu mendatangkan sukacita dan selamat bagi Israel yang dikatakan dekat dengan Tuhan. Atas dasar semua itu, akhirnya mazmur ini, dipuncaki dengan pekik Halleluya juga. Pujilah Tuhan.
Marsudirini, Parung, Bogor, Adven 2017
Pemazmur sadar bahwa manusia tidak sendirian di semesta mahaluas ini. Ada banyak makhluk lain selain dirinya. Pemazmur juga sadar bahwa sebagai ciptaan, semua mempunyai kewajiban dasar untuk memuliakan Tuhan. Manusia tidak bisa sendirian memuji Tuhan. Hal itu harus dilakukan bersama oleh seluruh ciptaan. Sadar akan hal itu maka dalam mazmur 148 ini pemazmur mengajak seluruh alam, terwakili langit dan bumi, untuk memuliakan Tuhan. Itulah judul mazmur 148 ini: “Langit dan bumi, pujilah TUHAN.” Inilah mazmur Hallel ketiga. Mazmur ini terdiri atas 14 ayat. Untuk memahami dan menikmatinya, saya membagi Mazmur ini menjadi dua. Bagian I: ayat 1-7. Bagian II: ayat 8-14.
Pemazmur menyadari bahwa Tuhan bertahta di surga tinggi. Ia mengajak seluruh ciptaan untuk memuji Tuhan (ay 1). Pemazmur mengajak malaekat-Nya untuk memuji Tuhan. Disebutkan juga di sana bala tentara-Nya, yaitu benda-benda angkasa (matahari, bulan, bintang), semuanya diajak memuji Tuhan (ay 2). Benda langit itu diperjelas dalam ayat 3 sebab di sana secara khusus disebut benda langit seperti matahari, bulan, dan bintang. Hal ini mengingatkan kita akan kidung Azarya dalam kitab Daniel. Juga mengingatkan kita akan puisi kosmis Fransiskus Asisi, Kidung Saudara Matahari. Dalam ayat 4, pemazmur mengajak langit yang mengatasi langit untuk memuji Allah. Saat penciptaan dulu, Allah memisahkan air yang di bawah dan air yang di atas. Nah, air yang di atas langit itu diajak pemazmur untuk turut dalam pujian alam semesta ini (ay 4). Pemazmur tidak sanggup menyebut satu persatu seluruh ciptaan. Karena itu ia mengajak semuanya untuk ikut dalam pujian kosmis ini (ay 5). Itu adalah kewajiban dasar seluruh makhluk sebab Tuhanlah yang menjadikan mereka, Tuhanlah yang menciptakan mereka sehingga mereka ada (ay 5). Mereka ada karena perintah-Nya, karena firman-Nya. Ayat 6 melukiskan bagaimana pada awal mula, dan itu juga menjadi alasan bagi pujian semesta ini, Allah membangun semuanya; hal itu berlaku untuk selamanya. Tuhan sudah menetapkan sebuah tata aturan bagi alam semesta ini yang tidak bisa dilanggar siapapun. Pelanggaran akan menimbulkan kekacauan ngeri (ay 6).
Setelah dalam bagian di atas tadi, pemazmur menengadahkan pandangan ke atas, ke angkasa raya, maka dalam bagian kedua (ay 7-14) mata pemazmur diarahkan ke bawah, ke bumi. Ciptaan di bumi ini harus ikut ambil bagian dalam pujian semesta. Secara khusus dalam ay 7 pemazmur mengajak ular naga dan segenap samudera raya. Karena di sini disebutkan samudera raya, maka ular naga yang dimaksudkan bukan ular naga biasa, melainkan ular naga penghuni dan penguasa palung laut kelam penuh misteri yang disebut Leviathan. Semua diajak ikut dalam kidung pujian kosmis ini. Pemazmur mengajak api, hujan es, salju, kabut, angin badai untuk ikut dalam pujian semesta ini. Yang menarik ialah bahwa pemazmur menyebut unsur-unsur ini sebagai pelaku firman Tuhan (ay 8).
Dalam ayat 9 pemazmur mengajak anasir alam seperti gunung, bukit, segala jenis pohon (buah-buahan dan pohon aras). Pemazmur juga mengajak binatang liar dan segala jenis hewan, binatang melata dan burung di udara (ay 10). Semuanya diajak memuji Tuhan. Dalam ayat 11-12 pemazmur mengajak manusia, baik penguasa dan pemerintah (raja, pembesar) maupun orang biasa dari segala umur (pemuda, pemudi, orang tua, orang muda). Semua diajak memuliakan Tuhan Allah, sebab hanya Nama Tuhan-lah yang mulia dan agung, yang sedemikian agung sehingga melampaui langit dan bumi (ay 13). Akhirnya dalam ayat 14 pemazmur khusus menyebut tindakan Tuhan bagi umat-Nya Israel. Tuhanlah yang menegakkan simbol-simbol kekuasaan dan kekuatan Israel (yaitu tanduk). Tindakan Tuhan seperti itu, menyebabkan umat kekasihNya memuliakan Dia. Tindakan itu mendatangkan sukacita dan selamat bagi Israel yang dikatakan dekat dengan Tuhan. Atas dasar semua itu, akhirnya mazmur ini, dipuncaki dengan pekik Halleluya juga. Pujilah Tuhan.
Marsudirini, Parung, Bogor, Adven 2017
Wednesday, March 7, 2018
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 147
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Pemazmur adalah orang yang percaya. Ia tidak mempersoalkan keberadaan Allah sebab ia percaya. Ia melampaui diskusi mendasar itu. Seperti penulis Kitab Kejadian yang mengawali kitabnya bukan dengan membahas keberadaan Allah, melainkan berbicara tentang Allah yaitu menciptakan semesta. Di sini pemazmur melampaui wacana keberadaan Allah dan langsung berbicara tentang “Kekuasaan dan kemurahan TUHAN”, judul Mazmur 147, mazmur Hallel kedua. Mazmur ini cukup panjang, ada 20 ayat. Untuk menikmatinya saya membaginya dalam tiga unit berdasarkan dinamika teks. Bagian I: ayat 1-6. Bagian II: ayat 7-11. Bagian III: ayat 12-20. Saya mulai dengan yang pertama.
Pemazmur memulai mazmur ini dengan Hallel, Pujilah. Ia memuji Tuhan dengan bermazmur. Hal itu ia pandang baik, indah, dan menyenangkan. Lebih dari itu aksi memuji Tuhan dipandangnya sebagai sesuatu yang layak dilakukan manusia (ay 1). Dasar pujian ialah karena beberapa perbuatan atau karya Tuhan. Ayat 2 menyebutkan bahwa Tuhan membangun Yerusalem, lalu mengumpulkan Israel yang tercerai-berai. Yerusalem dibangun untuk dijadikan ibukota pemersatu Israel (ay 2). Ia tidak hanya membangun kota (tatanan politis); Ia juga membangun manusia, orang perorangan, terutama yang mempunyai masalah dengan hati (patah hati) dan mengalami luka (luka jasmani, luka batin) (ay 3). Dalam ayat 4 pemazmur melayangkan pandangannya ke angkasa yaitu ke pekerjaan Tuhan di sana. Tuhan menentukan jumlah bintang dan menamai mereka. Dalam ayat 6 khusus dilukiskan karya Tuhan terhadap orang tertindas. Biasanya orang tertindas tunduk karena merasa kalah, malu dan rendah (inferioritas kompleks). Tetapi Tuhan menaikkan harga diri mereka. Sebaliknya, orang fasik dicampakkan ke bumi. Menyadari semuanya itu, ayat 5 menegaskan bahwa Tuhan itu besar, amat perkasa dan bijaksana. Keakbaran, keperkasaan, dan kebijaksanaanNya tampak dalam karya-Nya menciptakan alam semesta dan mengatur hidup manusia.
Bagian II (7-11) dimulai dengan ajakan pemazmur agar manusia memuji Tuhan dengan lagu syukur dan iringan alat musik (kecapi) (ay 7). Ada juga alasan untuk pujian tersebut. Misalnya disebutkan bahwa Tuhan yang mendatangkan kesuburan dengan menurunkan hujan dari langit. Itulah yang menyuburkan bumi, gunung, dan perbukitan sehingga tumbuh rerumputan (pakan ternak) (ay 8). Dengan itu Tuhan menyelenggarakan hidup hewan. Tuhan memberi makanan kepada hewan, juga anak burung gagak (melambangkan kengerian) (ay 9). Agak sulit memahami ayat 10. Mungkin yang dimaksud ialah kuda pelengkapan perang, dan kaki laki-laki yang dimaksud ialah kaki tentara. Jika ini benar maka Tuhan dilukiskan sebagai anti perang, tidak suka kekerasan (ay 10). Baik kuda maupun kaki laki-laki melambangkan keangkuhan yang bisa membuat orang lupa Tuhan. Tuhan suka kepada orang yang takwa dan yang berharap akan kasih setia-Nya (ay 11).
Bagian III diawali dengan ajakan agar manusia memuji Allah. Secara khusus disebutkan dua nama tempat: Yerusalem dan (bukit) Sion. Kedua tempat itu melambangkan penghuninya maupun orang yang memiliki ikatan emosional dengan keduanya. Mereka dipanggil pemazmur untuk memuji dan memuliakan Tuhan (ay 12). Dalam ayat 13-19 ada beberapa alasan bagi pujian. Misalnya, dalam ay 13 dikatakan bahwa Tuhan yang membuat gerbang Yerusalem kokoh sehingga tidak ditembusi musuh dan dengan itu Tuhan menjamin hidup manusia (terutama anak-anak; tidak terancam musuh). Itulah berkat hidup yang nyata bagi mereka (mereka hidup aman dalam Yerusalem). Tuhan memberi kesejahteraan kepada wilayah kerajaan dan tidak membiarkan mereka lapar melainkan membuat mereka kenyang dengan gandum bermutu tinggi (ay 14). Tidak mudah memahami ayat 15. Tetapi saya terpikir tentang karya penciptaan pada awal mula di mana Tuhan berfirman dan dengan firman itu segala sesuatu ada. Ayat ini bisa dipahami secara harfiah, yaitu Tuhan menyampaikan firmanNya kepada manusia dengan pengantaraan para nabi. Melalui nabi firman Tuhan tersebar ke seluruh dunia.
Dilukiskan juga penyelenggaraan Tuhan terkait pengatur suhu: Ia menurunkan salju agar bumi tidak panas, begitu juga embun beku mendatangkan kesejukan dan keindahan (ay 16). Dalam ayat 17 disinggung penyelenggaraan Tuhan atas ciptaan, dalam hal ini ialah air batu (hujan es). Hal itu melambangkan kemahakuasaan-Nya dan di hadapan kemahakuasaan itu tidak ada makhluk yang bisa bertahan hidup. Tetapi alam semesta taat kepada perintahNya: alam yang dingin membeku tiba-tiba berubah mencair karena taat pada perintahNya dan saat semuanya mencair maka ia mengalir menjadi sungai (ay 18). Tuhan tidak hanya menyampaikan firman-Nya ke atas alam, melainkan secara khusus menyampaikan firman-Nya kepada Yakub. Tuhan memberikan ketetapanNya kepada Israel (ay 19). Hal itu memperlihatkan kedudukan istimewa Israel di antara segala bangsa, sebab dalam ayat 20 dikatakan bahwa hal seperti itu tidak dilakukan Tuhan kepada bangsa lain. Karena itu, bangsa lain pun tidak mengenal hukum-hukum Tuhan. Sebagaimana di awal dimulai dengan Hallel, maka di akhir mazmur ini ditutup dengan pekik Hallel juga. Pujilah.
Bandung, Natal 2017.
Pemazmur adalah orang yang percaya. Ia tidak mempersoalkan keberadaan Allah sebab ia percaya. Ia melampaui diskusi mendasar itu. Seperti penulis Kitab Kejadian yang mengawali kitabnya bukan dengan membahas keberadaan Allah, melainkan berbicara tentang Allah yaitu menciptakan semesta. Di sini pemazmur melampaui wacana keberadaan Allah dan langsung berbicara tentang “Kekuasaan dan kemurahan TUHAN”, judul Mazmur 147, mazmur Hallel kedua. Mazmur ini cukup panjang, ada 20 ayat. Untuk menikmatinya saya membaginya dalam tiga unit berdasarkan dinamika teks. Bagian I: ayat 1-6. Bagian II: ayat 7-11. Bagian III: ayat 12-20. Saya mulai dengan yang pertama.
Pemazmur memulai mazmur ini dengan Hallel, Pujilah. Ia memuji Tuhan dengan bermazmur. Hal itu ia pandang baik, indah, dan menyenangkan. Lebih dari itu aksi memuji Tuhan dipandangnya sebagai sesuatu yang layak dilakukan manusia (ay 1). Dasar pujian ialah karena beberapa perbuatan atau karya Tuhan. Ayat 2 menyebutkan bahwa Tuhan membangun Yerusalem, lalu mengumpulkan Israel yang tercerai-berai. Yerusalem dibangun untuk dijadikan ibukota pemersatu Israel (ay 2). Ia tidak hanya membangun kota (tatanan politis); Ia juga membangun manusia, orang perorangan, terutama yang mempunyai masalah dengan hati (patah hati) dan mengalami luka (luka jasmani, luka batin) (ay 3). Dalam ayat 4 pemazmur melayangkan pandangannya ke angkasa yaitu ke pekerjaan Tuhan di sana. Tuhan menentukan jumlah bintang dan menamai mereka. Dalam ayat 6 khusus dilukiskan karya Tuhan terhadap orang tertindas. Biasanya orang tertindas tunduk karena merasa kalah, malu dan rendah (inferioritas kompleks). Tetapi Tuhan menaikkan harga diri mereka. Sebaliknya, orang fasik dicampakkan ke bumi. Menyadari semuanya itu, ayat 5 menegaskan bahwa Tuhan itu besar, amat perkasa dan bijaksana. Keakbaran, keperkasaan, dan kebijaksanaanNya tampak dalam karya-Nya menciptakan alam semesta dan mengatur hidup manusia.
Bagian II (7-11) dimulai dengan ajakan pemazmur agar manusia memuji Tuhan dengan lagu syukur dan iringan alat musik (kecapi) (ay 7). Ada juga alasan untuk pujian tersebut. Misalnya disebutkan bahwa Tuhan yang mendatangkan kesuburan dengan menurunkan hujan dari langit. Itulah yang menyuburkan bumi, gunung, dan perbukitan sehingga tumbuh rerumputan (pakan ternak) (ay 8). Dengan itu Tuhan menyelenggarakan hidup hewan. Tuhan memberi makanan kepada hewan, juga anak burung gagak (melambangkan kengerian) (ay 9). Agak sulit memahami ayat 10. Mungkin yang dimaksud ialah kuda pelengkapan perang, dan kaki laki-laki yang dimaksud ialah kaki tentara. Jika ini benar maka Tuhan dilukiskan sebagai anti perang, tidak suka kekerasan (ay 10). Baik kuda maupun kaki laki-laki melambangkan keangkuhan yang bisa membuat orang lupa Tuhan. Tuhan suka kepada orang yang takwa dan yang berharap akan kasih setia-Nya (ay 11).
Bagian III diawali dengan ajakan agar manusia memuji Allah. Secara khusus disebutkan dua nama tempat: Yerusalem dan (bukit) Sion. Kedua tempat itu melambangkan penghuninya maupun orang yang memiliki ikatan emosional dengan keduanya. Mereka dipanggil pemazmur untuk memuji dan memuliakan Tuhan (ay 12). Dalam ayat 13-19 ada beberapa alasan bagi pujian. Misalnya, dalam ay 13 dikatakan bahwa Tuhan yang membuat gerbang Yerusalem kokoh sehingga tidak ditembusi musuh dan dengan itu Tuhan menjamin hidup manusia (terutama anak-anak; tidak terancam musuh). Itulah berkat hidup yang nyata bagi mereka (mereka hidup aman dalam Yerusalem). Tuhan memberi kesejahteraan kepada wilayah kerajaan dan tidak membiarkan mereka lapar melainkan membuat mereka kenyang dengan gandum bermutu tinggi (ay 14). Tidak mudah memahami ayat 15. Tetapi saya terpikir tentang karya penciptaan pada awal mula di mana Tuhan berfirman dan dengan firman itu segala sesuatu ada. Ayat ini bisa dipahami secara harfiah, yaitu Tuhan menyampaikan firmanNya kepada manusia dengan pengantaraan para nabi. Melalui nabi firman Tuhan tersebar ke seluruh dunia.
Dilukiskan juga penyelenggaraan Tuhan terkait pengatur suhu: Ia menurunkan salju agar bumi tidak panas, begitu juga embun beku mendatangkan kesejukan dan keindahan (ay 16). Dalam ayat 17 disinggung penyelenggaraan Tuhan atas ciptaan, dalam hal ini ialah air batu (hujan es). Hal itu melambangkan kemahakuasaan-Nya dan di hadapan kemahakuasaan itu tidak ada makhluk yang bisa bertahan hidup. Tetapi alam semesta taat kepada perintahNya: alam yang dingin membeku tiba-tiba berubah mencair karena taat pada perintahNya dan saat semuanya mencair maka ia mengalir menjadi sungai (ay 18). Tuhan tidak hanya menyampaikan firman-Nya ke atas alam, melainkan secara khusus menyampaikan firman-Nya kepada Yakub. Tuhan memberikan ketetapanNya kepada Israel (ay 19). Hal itu memperlihatkan kedudukan istimewa Israel di antara segala bangsa, sebab dalam ayat 20 dikatakan bahwa hal seperti itu tidak dilakukan Tuhan kepada bangsa lain. Karena itu, bangsa lain pun tidak mengenal hukum-hukum Tuhan. Sebagaimana di awal dimulai dengan Hallel, maka di akhir mazmur ini ditutup dengan pekik Hallel juga. Pujilah.
Bandung, Natal 2017.
Tuesday, February 13, 2018
MENCINTAI PAROKI SENDIRI
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Tulisan ini mau memotivasi agar orang betah “menggereja” di paroki sendiri. Niat ini muncul karena ada orang tidak betah di paroki sendiri. Pertama, ada yang betah di paroki lain (paroki orang tua, tempat baptis dan dididik jadi Katolik dll). Di sana ada banyak teman, rekan bisnis. Itu yang membuat orang betah.
Kedua, orang betah di paroki lain karena senang dengan pastor. Ada gejala “favoritisme pastor”, menyukai pastor tertentu dan tidak menyukai pastor lain. Gejala ini muncul kalau umat antipati terhadap pastor paroki, tidak menerimanya apa adanya lalu lari ke paroki lain. Menghargai paroki harus tampak dalam upaya “menerima” pastor paroki. Kalau kita tidak “menerima” pastor yang ditugaskan uskup, itu adalah sebentuk pelecehan terselubung terhadap imamat. Kita tidak memilih imam. Ketaatan kepada imam itu penting. Apa yang ditentukan uskup, itu yang kita terima. Jika tidak menyukai pastor, itu pembangkangan terselubung kepada uskup yang menugaskan pastor. Ketiga, ada yang betah di paroki lain karena fasilitasnya lebih baik (AC, jajan). Kita ke gereja bukan untuk jajan tetapi untuk bersatu dengan Tuhan. Menurut tradisi lama, orang berpuasa satu jam sebelum dan sesudah komuni.
Keempat, orang betah di paroki lain karena tuntutan di sana longgar (les agama, persiapan komuni, penguatan). Sedangkan di paroki sendiri, mungkin pastornya keras, kaku, arogan. Kelima, ada orang tua membawa anaknya aktif di paroki lain. Hal ini tidak mendidik anak sebagai warga paroki masa depan. Kalau orang tua mengajak anak ekaristi di paroki lain, orang tua seperti itu tidak mendidik anak betah di paroki sendiri. Anak mengira parokinya adalah paroki yang sering dikunjungi, padahal mereka berdomisili di paroki lain. Misalnya, rumah di Martinus, tetapi setiap Minggu anak dibawa ke Katedral.
Ada beberapa akibat praktek seperti ini. Pertama, jika tidak betah di paroki sendiri, orang akan terasing: orang tidak kenal pastor paroki, tidak tahu jadwal ibadat. Orang tidak kenal ketua dan abdi lingkungan. Orang itu tidak terlibat dalam urusan lingkungan. Ada yang tidak terlibat dalam layanan-makanan pastor karena merasa bukan bagian dari paroki. Kedua, kebiasaan seperti itu, mematikan hidup lingkungan (paroki). Walau tidak tergantung pada orang seperti itu, tetapi sikap seperti itu menyebabkan kemacetan: Kegiatan doa lingkungan, koor, pendalaman kitab suci.
Dalam hidup membiara dikenal janji stabilitas loci (tinggal di tempat sama selama hidup). Tidak seperti turis. Ide itu perlu bagi umat agar tidak bergaya-turis dalam menggereja. Para pelancong-gereja menghindari tugas dan kewajiban paroki. Karena tidak aktif di paroki sendiri, maka mereka ke paroki lain. Di sana mereka tidak bisa aktif karena bukan warga. Contoh: si A warga paroki B. Si A menghindar dari lingkungan dengan “seolah aktif” di paroki C. Nyatanya di paroki C, si A tidak bisa aktif, sebab ia bukan warga. Maka dia pun melayang-layang tidak keruan, menjadi pelancong-gereja. Mari cintai paroki sendiri.
Tulisan ini mau memotivasi agar orang betah “menggereja” di paroki sendiri. Niat ini muncul karena ada orang tidak betah di paroki sendiri. Pertama, ada yang betah di paroki lain (paroki orang tua, tempat baptis dan dididik jadi Katolik dll). Di sana ada banyak teman, rekan bisnis. Itu yang membuat orang betah.
Kedua, orang betah di paroki lain karena senang dengan pastor. Ada gejala “favoritisme pastor”, menyukai pastor tertentu dan tidak menyukai pastor lain. Gejala ini muncul kalau umat antipati terhadap pastor paroki, tidak menerimanya apa adanya lalu lari ke paroki lain. Menghargai paroki harus tampak dalam upaya “menerima” pastor paroki. Kalau kita tidak “menerima” pastor yang ditugaskan uskup, itu adalah sebentuk pelecehan terselubung terhadap imamat. Kita tidak memilih imam. Ketaatan kepada imam itu penting. Apa yang ditentukan uskup, itu yang kita terima. Jika tidak menyukai pastor, itu pembangkangan terselubung kepada uskup yang menugaskan pastor. Ketiga, ada yang betah di paroki lain karena fasilitasnya lebih baik (AC, jajan). Kita ke gereja bukan untuk jajan tetapi untuk bersatu dengan Tuhan. Menurut tradisi lama, orang berpuasa satu jam sebelum dan sesudah komuni.
Keempat, orang betah di paroki lain karena tuntutan di sana longgar (les agama, persiapan komuni, penguatan). Sedangkan di paroki sendiri, mungkin pastornya keras, kaku, arogan. Kelima, ada orang tua membawa anaknya aktif di paroki lain. Hal ini tidak mendidik anak sebagai warga paroki masa depan. Kalau orang tua mengajak anak ekaristi di paroki lain, orang tua seperti itu tidak mendidik anak betah di paroki sendiri. Anak mengira parokinya adalah paroki yang sering dikunjungi, padahal mereka berdomisili di paroki lain. Misalnya, rumah di Martinus, tetapi setiap Minggu anak dibawa ke Katedral.
Ada beberapa akibat praktek seperti ini. Pertama, jika tidak betah di paroki sendiri, orang akan terasing: orang tidak kenal pastor paroki, tidak tahu jadwal ibadat. Orang tidak kenal ketua dan abdi lingkungan. Orang itu tidak terlibat dalam urusan lingkungan. Ada yang tidak terlibat dalam layanan-makanan pastor karena merasa bukan bagian dari paroki. Kedua, kebiasaan seperti itu, mematikan hidup lingkungan (paroki). Walau tidak tergantung pada orang seperti itu, tetapi sikap seperti itu menyebabkan kemacetan: Kegiatan doa lingkungan, koor, pendalaman kitab suci.
Dalam hidup membiara dikenal janji stabilitas loci (tinggal di tempat sama selama hidup). Tidak seperti turis. Ide itu perlu bagi umat agar tidak bergaya-turis dalam menggereja. Para pelancong-gereja menghindari tugas dan kewajiban paroki. Karena tidak aktif di paroki sendiri, maka mereka ke paroki lain. Di sana mereka tidak bisa aktif karena bukan warga. Contoh: si A warga paroki B. Si A menghindar dari lingkungan dengan “seolah aktif” di paroki C. Nyatanya di paroki C, si A tidak bisa aktif, sebab ia bukan warga. Maka dia pun melayang-layang tidak keruan, menjadi pelancong-gereja. Mari cintai paroki sendiri.
Wednesday, January 31, 2018
BERUSAHA BETAH DAN CINTA PAROKI SENDIRI
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Tulisan ini mau memberi motivasi kepada warga paroki untuk berusaha betah tinggal dan menghayati hidup menggereja dan hidup parokial di paroki sendiri. Niat ini muncul karena terdorong oleh keprihatinan saya akan adanya fenomena orang tidak mau betah di paroki sendiri. Inilah beberapa gejalanya. Pertama, ada yang merasa lebih betah di paroki lain, entah itu di paroki tempat asal orang tuanya (paroki lama tempat mereka dibaptis), atau tempat mereka dididik sebagai orang Katolik, tempat mereka mula-mula aktif dalam hidup paroki dan menggereja. Biasanya di tempat seperti itu, ada banyak teman, dan mungkin ada banyak rekan dan relasi bisnis. Itu semua menjadi faktor yang menyebabkan orang terdorong untuk betah di paroki lain.
Kedua, ada juga yang betah di paroki lain, karena senang dengan pastor di sana. Merebaklah fenomena yang saya sebut “favoritisme pastor”, menyukai pastor tertentu dan tidak menyukai pastor yang lain. Fenomena ini akan menjadi-jadi, kalau umat antipati terhadap pastor paroki sendiri. Orang tidak lagi berusaha menerima pastor paroki apa adanya melainkan orang lari ke paroki lain. Ini adalah kebiasaan yang tidak baik dalam penghayatan hidup iman Katolik. Menghargai dan mencintai paroki sendiri harus tampak dalam sikap dan upaya menerima dan mencintai pastor paroki. Kalau kita tidak menerima dan mencintai pastor yang ditugaskan uskup, bisa saja itu merupakan sebentuk pelecehan terselubung terhadap martabat sakramen imamat. Ini dosa sakrilegi. Kita tidak dapat dan tidak boleh pilih-pilih imam. Ketaatan kepada imam itu sangat penting. Apa yang ditentukan uskup bagi kita, itulah yang kita terima dan kita cintai sebagai pastor paroki. Kalau kita tidak menyukai pastor paroki, jangan-jangan itu adalah sebentuk pembangkangan terselubung kepada uskup yang menugaskan pastor paroki tadi. Ngeri bukan?
Ketiga, ada juga yang lebih betah di paroki lain karena gereja dan fasilitasnya lebih baik. Misalnya, di gereja paroki itu disediakan AC. Atau di paroki itu ada banyak tempat jajan. Padahal kita ke gereja bukan untuk jajan melainkan untuk bersatu dengan Tuhan. Menurut praktek kebiasaan lama dalam tradisi hidup Katolik, orang harus menahan diri (berpuasa) dari makan-minum setidaknya satu jam sebelum dan sesudah menerima komuni kudus. Keempat, ada juga yang merasa bisa lebih betah di paroki lain karena mereka merasa di sana suasananya tidak kampungan. Sedangkan di paroki sendiri, tampak seperti kampung dan dinilai kampungan. Ini juga penilaian yang tidak pada tempatnya.
Kelima, orang bisa juga merasa lebih betah di paroki lain karena tuntutan di sana tidak macam-macam terhadap proses pendidikan agama, persiapan komuni, persiapan penerimaan sakramen penguatan untuk anak-anak. Sedangkan di paroki sendiri, mungkin pastornya dinilai terlalu keras, kaku, mungkin juga ada yang menilai kasar, arogan. Keenam, terkait dengan ini, ada juga kebiasaan orang tua yang membawa anaknya aktif di paroki lain. Praktek seperti ini sama sekali tidak mendidik anak-anak sebagai warga gereja paroki masa depan. Kalau orang tuanya sering mengajak anak mereka ikut perayaan ekaristi di paroki lain, dan bahkan aktif di gereja lain (menjadi pelayan altar atau anggota koor), maka orang tua seperti itu sama sekali tidak mendidik anaknya untuk betah di paroki sendiri. Si anak akan berpikir bahwa parokinya adalah paroki yang sering dikunjungi, padahal mereka berdomisili di paroki lain. Misalnya, rumah mereka ada di Paroki Martinus, Lanud Sulaiman, tetapi setiap hari Minggu mereka membawa anak ke Katedral dan anak itu super aktif di paroki Katedral tersebut sebagai putra altar dan anggota koor anak-anak.
Ada beberapa akibat dari praktek seperti ini. Pertama, jika orang tidak mau betah dan mencintai paroki sendiri, maka lama kelamaan orang tersebut akan menjadi terasing dari parokinya. Bentuknya bisa macam-macam. Misalnya, orang itu tidak mengenal nama pastor parokinya, atau jumlah pastor yang melayani di parokinya. Orang seperti itu juga tidak mengetahui jadwal kegiatan ibadat di gereja parokinya sendiri. Lebih menyedihkan lagi, orang seperti itu tidak mengenal ketua lingkungannya, tidak mengenal nama, tidak mengenal personalia yang melayani lingkungan. Biasanya mereka tidak mau terlibat dalam urusan lingkungan dan paroki sendiri. Toh aku bukan dari sini dan bahkan juga bukan “di sini”, padahal rumahnya jelas-jelas ada di sini (di paroki tertentu). Mungkin ada yang tidak mau terlibat dalam kegiatan pelayanan dalam bentuk menyediakan makanan pastor karena merasa bukan bagian dari paroki ini.
Bahaya kedua ialah bahwa kebiasaan seperti di atas tadi, bisa saja akan mematikan hidup lingkungan dan paroki sendiri. Walau tentu saja hidup lingkungan dan paroki tidak semuanya tergantung pada orang seperti itu, tetapi sikap seperti itu menyebabkan kemacetan dalam urusan paroki dan lingkungan sendiri. Kegiatan doa lingkungan, kegiatan koor, kegiatan pendalaman kitab suci bisa menjadi tidak hidup karena ada orang yang berpandangan seperti di atas.
Dalam sejarah hidup membiara dikenal salah satu janji yang disebut stabilitas loci, yaitu orang berjanji untuk setia tinggal di satu tempat yang sama selama hidup. Tidak berpindah-pindah seperti turis dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Ide stabilitas loci seperti itu perlu juga bagi umat agar mereka tidak hanya bergaya turis dalam hidup menggereja. Biasanya fenomena pelancong hidup menggereja adalah sebentuk penghindaran dari tugas dan kewajiban di paroki sendiri. Karena tidak mau aktif di paroki sendiri, maka mereka pergi ke paroki lain. Di paroki lain juga mereka tidak bisa aktif karena mereka bukan warga paroki tersebut. Contoh: si A warga paroki B. Sebenarnya di paroki B si A itu diharapkan untuk menjadi ketua lingkungan. Tetapi ia menghindar dengan mengatakan bahwa saya tidak aktif di paroki B, melainkan aktif di paroki C. Sementara di paroki C, si A juga tidak bisa aktif, sebab dia bukan warga paroki C. Akibatnya, dia menjadi melayang-layang tidak keruan. Seperti pelancong saja, pelancong hidup menggereja. Maka, marilah betah dan cinta pada paroki sendiri.
Tulisan ini mau memberi motivasi kepada warga paroki untuk berusaha betah tinggal dan menghayati hidup menggereja dan hidup parokial di paroki sendiri. Niat ini muncul karena terdorong oleh keprihatinan saya akan adanya fenomena orang tidak mau betah di paroki sendiri. Inilah beberapa gejalanya. Pertama, ada yang merasa lebih betah di paroki lain, entah itu di paroki tempat asal orang tuanya (paroki lama tempat mereka dibaptis), atau tempat mereka dididik sebagai orang Katolik, tempat mereka mula-mula aktif dalam hidup paroki dan menggereja. Biasanya di tempat seperti itu, ada banyak teman, dan mungkin ada banyak rekan dan relasi bisnis. Itu semua menjadi faktor yang menyebabkan orang terdorong untuk betah di paroki lain.
Kedua, ada juga yang betah di paroki lain, karena senang dengan pastor di sana. Merebaklah fenomena yang saya sebut “favoritisme pastor”, menyukai pastor tertentu dan tidak menyukai pastor yang lain. Fenomena ini akan menjadi-jadi, kalau umat antipati terhadap pastor paroki sendiri. Orang tidak lagi berusaha menerima pastor paroki apa adanya melainkan orang lari ke paroki lain. Ini adalah kebiasaan yang tidak baik dalam penghayatan hidup iman Katolik. Menghargai dan mencintai paroki sendiri harus tampak dalam sikap dan upaya menerima dan mencintai pastor paroki. Kalau kita tidak menerima dan mencintai pastor yang ditugaskan uskup, bisa saja itu merupakan sebentuk pelecehan terselubung terhadap martabat sakramen imamat. Ini dosa sakrilegi. Kita tidak dapat dan tidak boleh pilih-pilih imam. Ketaatan kepada imam itu sangat penting. Apa yang ditentukan uskup bagi kita, itulah yang kita terima dan kita cintai sebagai pastor paroki. Kalau kita tidak menyukai pastor paroki, jangan-jangan itu adalah sebentuk pembangkangan terselubung kepada uskup yang menugaskan pastor paroki tadi. Ngeri bukan?
Ketiga, ada juga yang lebih betah di paroki lain karena gereja dan fasilitasnya lebih baik. Misalnya, di gereja paroki itu disediakan AC. Atau di paroki itu ada banyak tempat jajan. Padahal kita ke gereja bukan untuk jajan melainkan untuk bersatu dengan Tuhan. Menurut praktek kebiasaan lama dalam tradisi hidup Katolik, orang harus menahan diri (berpuasa) dari makan-minum setidaknya satu jam sebelum dan sesudah menerima komuni kudus. Keempat, ada juga yang merasa bisa lebih betah di paroki lain karena mereka merasa di sana suasananya tidak kampungan. Sedangkan di paroki sendiri, tampak seperti kampung dan dinilai kampungan. Ini juga penilaian yang tidak pada tempatnya.
Kelima, orang bisa juga merasa lebih betah di paroki lain karena tuntutan di sana tidak macam-macam terhadap proses pendidikan agama, persiapan komuni, persiapan penerimaan sakramen penguatan untuk anak-anak. Sedangkan di paroki sendiri, mungkin pastornya dinilai terlalu keras, kaku, mungkin juga ada yang menilai kasar, arogan. Keenam, terkait dengan ini, ada juga kebiasaan orang tua yang membawa anaknya aktif di paroki lain. Praktek seperti ini sama sekali tidak mendidik anak-anak sebagai warga gereja paroki masa depan. Kalau orang tuanya sering mengajak anak mereka ikut perayaan ekaristi di paroki lain, dan bahkan aktif di gereja lain (menjadi pelayan altar atau anggota koor), maka orang tua seperti itu sama sekali tidak mendidik anaknya untuk betah di paroki sendiri. Si anak akan berpikir bahwa parokinya adalah paroki yang sering dikunjungi, padahal mereka berdomisili di paroki lain. Misalnya, rumah mereka ada di Paroki Martinus, Lanud Sulaiman, tetapi setiap hari Minggu mereka membawa anak ke Katedral dan anak itu super aktif di paroki Katedral tersebut sebagai putra altar dan anggota koor anak-anak.
Ada beberapa akibat dari praktek seperti ini. Pertama, jika orang tidak mau betah dan mencintai paroki sendiri, maka lama kelamaan orang tersebut akan menjadi terasing dari parokinya. Bentuknya bisa macam-macam. Misalnya, orang itu tidak mengenal nama pastor parokinya, atau jumlah pastor yang melayani di parokinya. Orang seperti itu juga tidak mengetahui jadwal kegiatan ibadat di gereja parokinya sendiri. Lebih menyedihkan lagi, orang seperti itu tidak mengenal ketua lingkungannya, tidak mengenal nama, tidak mengenal personalia yang melayani lingkungan. Biasanya mereka tidak mau terlibat dalam urusan lingkungan dan paroki sendiri. Toh aku bukan dari sini dan bahkan juga bukan “di sini”, padahal rumahnya jelas-jelas ada di sini (di paroki tertentu). Mungkin ada yang tidak mau terlibat dalam kegiatan pelayanan dalam bentuk menyediakan makanan pastor karena merasa bukan bagian dari paroki ini.
Bahaya kedua ialah bahwa kebiasaan seperti di atas tadi, bisa saja akan mematikan hidup lingkungan dan paroki sendiri. Walau tentu saja hidup lingkungan dan paroki tidak semuanya tergantung pada orang seperti itu, tetapi sikap seperti itu menyebabkan kemacetan dalam urusan paroki dan lingkungan sendiri. Kegiatan doa lingkungan, kegiatan koor, kegiatan pendalaman kitab suci bisa menjadi tidak hidup karena ada orang yang berpandangan seperti di atas.
Dalam sejarah hidup membiara dikenal salah satu janji yang disebut stabilitas loci, yaitu orang berjanji untuk setia tinggal di satu tempat yang sama selama hidup. Tidak berpindah-pindah seperti turis dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Ide stabilitas loci seperti itu perlu juga bagi umat agar mereka tidak hanya bergaya turis dalam hidup menggereja. Biasanya fenomena pelancong hidup menggereja adalah sebentuk penghindaran dari tugas dan kewajiban di paroki sendiri. Karena tidak mau aktif di paroki sendiri, maka mereka pergi ke paroki lain. Di paroki lain juga mereka tidak bisa aktif karena mereka bukan warga paroki tersebut. Contoh: si A warga paroki B. Sebenarnya di paroki B si A itu diharapkan untuk menjadi ketua lingkungan. Tetapi ia menghindar dengan mengatakan bahwa saya tidak aktif di paroki B, melainkan aktif di paroki C. Sementara di paroki C, si A juga tidak bisa aktif, sebab dia bukan warga paroki C. Akibatnya, dia menjadi melayang-layang tidak keruan. Seperti pelancong saja, pelancong hidup menggereja. Maka, marilah betah dan cinta pada paroki sendiri.
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...