Oleh: Fransiskus Borgias M.
Mulai dari Mazmur 146 sampai Mazmur 150, oleh para ahli kitab suci, disebut Mazmur Hallel. Itu disebabkan karena kelima Mazmur tersebut selalu diawali dan diakhiri dengan seruan Halleluya (Pujilah Yahweh/Tuhan). Jika dilihat dengan cara seperti ini, maka boleh dikatakan bahwa seluruh koleksi 150 Mazmur ini akhirnya dipuncaki dengan seruan Hallel tersebut. Seluruh perjalanan ziarah dalam tonggak-tonggak mazmur itu bermuara pada pekik Hallel. Dan hal itu bagi saya terasa sangat luar biasa karena akhirnya puncak seluruh ziarah kita dalam mendalami Mazmur-mazmur ini bermuara pada seruan “Pujilah Tuhan” (Laudate Dominum) itu sendiri. Tentang apakah Mazmur ini? Mari kita lihat.
Ada banyak tokoh penolong dalam hidup manusia. Bahkan dalam dunia perfilman modern (Holywood) dewasa ini, ada banyak tokoh penolong yang hebat-hebat: superman, spiderman, batman, dll. Dengan caranya sendiri tokoh-tokoh penolong ini memberi pertolongan bagi manusia yang sedang mengalami masalah ataupun kesulitan hidup. Mazmur ini juga menawarkan sosok penolong yang lain dari dunia iman dan kepercayaan. Sang penolong itu tidak lain ialah Tuhan Allah sendiri. Pemazmur yakin bahwa hanya Dia-lah satu-satunya sang penolong yang handal. Hal itulah yang dikemukakan dengan sangat jelas dalam judul Mazmur ini: “Hanya Allah satu-satunya penolong.” Mazmur ini termasuk cukup pendek. Hanya terdiri atas sepuluh ayat saja. Oleh karena itu saya akan melihat dan meninjaunya sebagai satu kesatuan yang utuh belaka.
Ia mulai dengan mengajak jiwanya sendiri untuk memuji Tuhan, halleluya, pujilah (hallelu), Tuhan (Ya, bentuk singkat dari Yahweh) (ay 1). Puji-pujian itu tidak hanya dilakukan sebentar atau sesewaktu saja (misalnya kalau ingat), melainkan ia hendak melakukannya selama ia hidup (ay 2), selama ia masih ada, dengan kata lain selama ia masih bernafas, selama masih ada nafas kehidupan. Kiranya hal itu jelas dengan sendirinya karena nafas kehidupan itu adalah roh yang berasal dari Roh Allah yang dihembuskan pada awal mula dan dengan itu mendatangkan kehidupan (bdk.Kej.2:7). Karena Pemazmur telah percaya dan hanya mengandalkan Tuhan Allah saja, maka ia pun menegaskan bahwa tidak ada pihak lain (manusia, juga yang berkedudukan tinggi sebagai bangsawan atau raja sekalipun) yang bisa memberi rasa aman kepada hidup manusia (ay 3). Mengapa demikian? Pemazmur memberi alasannya dalam ayat 4. Dan alasannya sangat jelas: karena manusia adalah makhluk yang fana juga (Kej.2:7). Ia berasal dari tanah dan pada saat mati ia akan kembali menjadi debu tanah. Jadi, karena itu, tidak ada gunanya untuk percaya dan berlindung kepada manusia, karena manusia adalah makhluk yang fana belaka, makhluk yang serba rapuh (vulnerable) juga. Sebaliknya, Mazmur ini memuji-muji berbahagia orang yang mengandalkan Tuhan sebagai penolong, atau yang menjadikan Tuhan sebagai dasar atau tumpuan pengharapan (ay 5). Percaya dan mengandalkan Tuhan Allah itu adalah sangat berdasar karena, sebagaimana diungkapkan dalam ayat 6, Tuhan itulah sang pencipta langit dan bumi. Seluruh alam semesta ini (termasuk manusia di dalamnya) diciptakan oleh Tuhan.
Tuhan tidak hanya menciptakan, melainkan Ia tetap membimbing dan melestarikan alam ciptaan-Nya dengan menjaga dan memelihara seluruh karya ciptaan tersebut. Tuhan sang pencipta itu adalah setia dan kasih serta kesetiaanNya itu berlangsung sepanjang segala abad. Karya (penciptaan dan penyelenggaraan) Tuhan masih dilukiskan terus dalam ayat berikutnya (ay 7). Kali ini Pemazmur melukiskan tugas Tuhan atas dunia ciptaanNya. Misalnya di sana disebutkan bahwa Tuhan yang menegakkan keadilan terutama keadilan bagi orang-orang yang cenderung mudah menjadi korban (victim) dalam sebuah struktur atau tatanan masyarakat. Misalnya Tuhan membela orang yang diperas (ay 7), memberi makanan (roti) kepada orang yang lapar (ay 7), Tuhan membawa kebebasan bagi orang yang terkurung (ay 7). Selain itu Tuhan juga membuka mata orang buta (agar mereka bisa melihat ay 8), Tuhan menegakkan kepala orang yang tertunduk (entah karena malu ataupun sedih, ay 8). Tidak hanya berhenti di situ saja, Tuhan pun mencintai orang-orang yang tidak bersalah (orang benar, ay 8). Tuhan melindungi orang-orang asing, orang yatim dan kaum janda (ay 9). Sebaliknya Tuhan membengkokkan jalan orang-orang jahat, orang fasik. Pokoknya, singkat kata, Tuhan tampil sebagai tokoh yang menjungkir-balikkan tatanan yang tidak adil, struktur masyarakat yang menindas. Dilihat dengan cara demikian, maka “Revolusi sosial” yang kita lihat di dalam kidung Maria (Luk.1:46-55; bdk. 1Sam.2:1-10), sudah terlebih dahulu tampak di sini.
Setelah menampilkan Tuhan dengan segala macam tindakan dan perbuatan-Nya, akhirnya pemazmur mengakhiri mazmurnya ini dengan sebuah maklumat agung: yaitu bahwa Tuhan itu raja untuk selama-lamanya. Tuhan Allah akan menjadi Raja Sion sepanjang segala abad. Karena Mazmur ini sudah dibuka dengan seruan Hallel, maka mazmur ini pun akhirnya juga ditutup dengan pekik Hallel itu, Pujilah Tuhan, Halleluya.
Bandung, awal Desember 2017
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Wednesday, January 31, 2018
Saturday, January 6, 2018
TEOLOGI "COMPLETORIUM"
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Salah satu untaian doa dalam lingkaran sehari menurut tradisi gereja Katolik khususnya tradisi hidup monastik ialah Completorium. Itu adalah bagian dari Ofisi Ilahi, yang terdiri atas pendarasan mazmur. Completorium itu adalah doa malam, doa penutup seluruh hari, doa sebelum pergi tidur malam. Dengan itu, seluruh kegiatan sehari ditutup dan dipuncaki dengan mahkota completorium, dengan doa malam. Sesudah memanjatkan doa malam (completorium) kita masuk dalam alam tidur malam, beristirahat, dalam rangka upaya memulihkan lagi tenaga jasmani kita yang sudah dipergunakan dalam kegiatan sepanjang hari. Tentu kita berharap agar keesokan harinya kita dapat bangun kembali dengan semangat baru dan segar agar kita dapat memulai lagi tugas dan kewajiban kita dalam rangka memuji dan memuliakan Tuhan dan demi keagungan dan keselamatan umat manusia.
Completorium hanya salah satu untaian waktu doa dalam bentangan sehari. Selain itu ada laudes (ibadat pagi), ibadat siang, ibadat sore (vespere), ibadat bacaan (sebelum Laudes). Total adalah lima waktu doa. Dengan demikian, tampak bahwa tradisi gereja sesungguhnya mengajarkan kita agar berdoa dalam beberapa penggal waktu. Dalam tradisi yang lebih ketat (hidup monastik kontemplatif), para Bapa Gereja mengajarkan kita tentang tujuh penggal waktu berdoa (hal itu sesuai dengan tradisi kuno orang Yahudi, yaitu bahwa mereka berbangga bahwa tujuh kali sehari mereka mengucapkan dan memuji nama Yahweh; bdk., Mzm 119:164).
Dalam tulisan ini saya mau menyoroti dua bagian dalam doa completorium, yang menurut saya erat terkait satu sama lain. Pertama, pemeriksaan batin (pengakuan dosa). Kedua, lagu singkat (responsorium) yang dinyanyikan (didaraskan) sesudah bacaan singkat (lectio brevis). Saya mulai dengan menguraikan bagian kedua, lagu singkat. Isi lagu singkat ini dalam buku Completorium kita ialah sbb: “Ke dalam tanganMu kuserahkan diriku, ya Tuhan Penyelamatku.” Dengan lagu singkat ini, kita menyerahkan diri secara total ke dalam tangan Tuhan Allah Pencipta alam semesta dan sekaligus sang Penyelamat (Salvator, Savior) kita. Kita berani melakukan hal itu (penyerahan diri secara total) karena kita percaya bahwa “Engkaulah penebusku, ya Allah yang benar.” Sebagai Allah yang benar, Ia tidak mengecewakan pengharapan dan kepercayaan kita. Tanpa kepercayaan mendasar seperti itu, mustahil kita berani menyerahkan diri secara total kepada Dia yang bersemayam dalam cahaya yang tiada terhampiri (1Tim.6:16), misteri yang tiada terpemanai. Misteri “Das Ganz Andere”, Ia yang serba sangat lain, dalam istilah Rudolf Otto.
Jika kita amati dengan teliti, maka jelas bahwa bagian awal teks lagu singkat ini diambil dari Injil Lukas 23:46. Bunyinya di sana ialah sbb: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Itu adalah kalimat pengantar sebelum Yesus wafat di salib. Sesudah mengucapkan kalimat penyerahan diri itu, Yesus wafat. Teks Lukas sendiri dikutip dari Mazmur 31:6. Dalam konteks Mazmur, seruan itu adalah doa mohon perlindungan kepada Tuhan, agar tidak mati sia-sia di tangan para lawan (musuh) yang penuh rancangan dan persekongkolan jahat. Dalam Injil Lukas, teks tadi dipakai sebagai doa pengantar menjelang wafat.
Di sini saya bertanya secara kritis: Mengapa Yesus menyerahkan roh-Nya kepada Allah di salib? Itu tidak lain karena Tuhan-lah yang empunya Roh itu. Roh itu berasal dari Allah sang Pencipta. Pada saat penciptaan, Allah sang pencipta yang menghembuskan roh itu kepada manusia (Kej.2:7: “...ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”). Dengan demikian dalam praksis Yesus di salib itu, saat kematian (the moment of death) menjadi saat untuk ingat akan pencipta, momen untuk melakukan “memento creatoris” (seperti diserukan dalam Pengkotbah 12:1). Tetapi kita tidak hanya diingatkan untuk ingat akan kematian, memento mori, melainkan juga ingat akan sang pencipta saat menjelang kematian. Tetapi dalam kasus Yesus di salib “memento mori” menjadi konteks yang sangat dekat dari “memento creatoris”: yakni saat Ia berhadapan dengan realitas maut secara sangat nyata, Ia teringat akan sang pencipta-Nya sehingga Ia pun terdorong menyerahkan kembali roh-Nya kepada sang Pencipta.
Kalau kini kita memakai teks tadi dalam dan sebagai bagian utuh dari doa malam (completorium), padahal dulu Yesus memakainya sebagai teks pengantar menuju alam maut (kematian), maka pasti ada sebuah paralelisme yang kuat antara alam maut dan alam tidur malam (kegelapan malam). Tatkala kita mau melewati misteri tidur dalam malam kelam, kita menyerahkan terlebih dahulu roh kita kepada Tuhan yang empunya roh. Kita berharap agar roh kita aman dalam naungan, pemeliharaan, dan perlindungan Tuhan seperti harapan pemazmur (31:6). Kalau besok pagi Roh itu dikembalikan kepada kita dan kita bisa bangun lagi, maka kita patut bersyukur atas peristiwa itu. Kita masih diberi kesempatan untuk melihat fajar hari baru. Kita masih diberi kesempatan untuk menghirup nafas kehidupan sekali lagi. Itulah sebuah mukjizat baru dan ajaib dalam hidup kita setiap hari dan dari hari ke hari. Sebaliknya, kalau ternyata roh itu tidak kembali kepada kita, maka tidak apa-apa juga. Mengapa? Toh sebelum tidur malam kita sudah menyerahkannya dengan baik-baik kepada Dia yang empunya roh, seperti yang terjadi dalam kasus Yesus di salib (Luk.23:46).
Dalam konteks itulah kita menyadari arti penting dari pemeriksaan batin (pengakuan dosa) di awal completorium. Dengan ini saya membahas bagian pertama dari artikel tadi. Pemeriksaan batin (pengakuan dosa) pasti dimaksudkan untuk membersihkan atau memurnikan hati, purificatio cordis. Dengan ini hati kita dibersihkan dan dimurnikan dari noda, dosa, dan kotoran yang dilakukan sepanjang hari, sebab kita mudah berdosa dengan pikiran, perkataan, perbuatan, dan dengan kelalaian kita (akukan dengan rendah hati dalam Confiteor, “Saya Mengaku” itu). Kitab Suci menganjurkan kita agar rajin menguji hati sanubari (1Kor.11:28; 2Kor.13:5) dan pandai menghitung hari hidup (Mzm.90:12) agar menjadi bijak dalam hidup yang singkat (vita brevis) ini. Semua hal itu penting dalam rangka cita-cita menjadi manusia baru dalam setiap tahap hidup, seperti saat bangun tidur di pagi hari baru. Hari baru, menjadi manusia baru (Ef.2:5; Kol.3:10), menjadi ciptaan baru (2Kor.5:17; Gal.6:15), seperti kata Paulus. Manusia lama ditinggalkan dan turut disalibkan (Rom.6:6).
Kembali ke roh yang disinggung dalam teks lagu singkat di atas tadi. Roh itulah yang dihembuskan Allah pada saat menciptakan manusia pada awal mula (Kej.2:7). Roh itu tinggal dalam hati kita. Roh itulah yang menghidupkan kita, yang menjadikan kita makhluk hidup. Bahkan Roh itu pulalah yang membantu kita untuk berdoa (Rom 8:26). Roh itu yang membantu kita mengenal Allah dan menyapa Allah sebagai Abba (Rom.8:14-17). Roh itulah yang pada awal mula mencipta dan membuat kita hidup dan berada (bdk.Kej.2:7). Karena Roh itu tinggal dalam diri kita maka tubuh kita pun adalah bait Roh Kudus (1Kor.6:19). Karena itu, tubuh harus suci, tidak boleh tercemar dosa, sebab tubuh itu bukan untuk percabulan (1Kor.6:13), melainkan untuk Tuhan dan Tuhan untuk tubuh (1Kor.6:13). Maka kita tidak boleh main-main dengan tubuh sebab tubuh itu anggota Kristus (1Kor.6:15). Kita harus memuliakan Tuhan dengan tubuh (1Kor.6:20). Demikian kata Paulus. Di sinilah letak arti penting refleksi santo Yohanes Paulus II tentang Theology of the Body yang terkenal itu.
Kembali ke completorium. Doa itu disusun sedemikian rupa sehingga seluruh rangkaian hidup kita selalu dalam keadaan siap sedia menyongsong datang dan kehadiran Tuhan. Seperti kata madah completorium: “meski mata kan tertidur, semoga hati berjaga, rapi selalu teratur, siap menyambut rajaNya.” Ini adalah idealisme injili sebagaimana yang dibentangkan dalam perumpamaan tentang lima gadis bijaksana itu (bdk.Mat.25:1-13), yang selalu bersiap sedia dengan lampu dan minyaknya yang penuh untuk menyongsong datangnya pengantin yang tiada terduga-duga pada tengah malam.
Akhirnya, Completorium kini menjadi doa resmi gereja yang diwajibkan untuk biarawan, biarawati, dan imam. Tetapi oleh karena doa itu sesungguhnya adalah doa seluruh gereja, maka seluruh anggota gereja, jadi seluruh umat beriman, harus (wajib) melakukannya juga. Kiranya itu bukan hanya tugas para biarawan atau imam saja. Melainkan kewajiban kaum beriman (awam dan klerus) seluruhnya. Tegasnya, kewajiban seluruh kaum beriman. Jika idealisme ini terjadi, maka tuduhan (beberapa kalangan) yang biasa disebut dengan istilah “monastisasi hidup doa dan kesalehan dalam tradisi gereja”, kiranya bisa ditepis. Saat semua kaum beriman berdoa dengan rutinitas, semangat, dan ketekunan yang sama maka tuduhan tadi menjadi mentah dan tidak relevan lagi. Oleh karena itu, marilah kita berdoa, tidak hanya doa malam saja, melainkan berdoa terus menerus, atau oratio continua (sebagaimana dianjurkan Paulus, dalam Ef.6:18; Flp.1:4; Kol.1:9). Dalam bagian akhir tulisan ini saya mendorong kita semua untuk selalu melantunkan Completorium sebagaimana yang diajarkan tradisi bunda gereja (mater ecclesia) yang agung dan kudus.
Salah satu untaian doa dalam lingkaran sehari menurut tradisi gereja Katolik khususnya tradisi hidup monastik ialah Completorium. Itu adalah bagian dari Ofisi Ilahi, yang terdiri atas pendarasan mazmur. Completorium itu adalah doa malam, doa penutup seluruh hari, doa sebelum pergi tidur malam. Dengan itu, seluruh kegiatan sehari ditutup dan dipuncaki dengan mahkota completorium, dengan doa malam. Sesudah memanjatkan doa malam (completorium) kita masuk dalam alam tidur malam, beristirahat, dalam rangka upaya memulihkan lagi tenaga jasmani kita yang sudah dipergunakan dalam kegiatan sepanjang hari. Tentu kita berharap agar keesokan harinya kita dapat bangun kembali dengan semangat baru dan segar agar kita dapat memulai lagi tugas dan kewajiban kita dalam rangka memuji dan memuliakan Tuhan dan demi keagungan dan keselamatan umat manusia.
Completorium hanya salah satu untaian waktu doa dalam bentangan sehari. Selain itu ada laudes (ibadat pagi), ibadat siang, ibadat sore (vespere), ibadat bacaan (sebelum Laudes). Total adalah lima waktu doa. Dengan demikian, tampak bahwa tradisi gereja sesungguhnya mengajarkan kita agar berdoa dalam beberapa penggal waktu. Dalam tradisi yang lebih ketat (hidup monastik kontemplatif), para Bapa Gereja mengajarkan kita tentang tujuh penggal waktu berdoa (hal itu sesuai dengan tradisi kuno orang Yahudi, yaitu bahwa mereka berbangga bahwa tujuh kali sehari mereka mengucapkan dan memuji nama Yahweh; bdk., Mzm 119:164).
Dalam tulisan ini saya mau menyoroti dua bagian dalam doa completorium, yang menurut saya erat terkait satu sama lain. Pertama, pemeriksaan batin (pengakuan dosa). Kedua, lagu singkat (responsorium) yang dinyanyikan (didaraskan) sesudah bacaan singkat (lectio brevis). Saya mulai dengan menguraikan bagian kedua, lagu singkat. Isi lagu singkat ini dalam buku Completorium kita ialah sbb: “Ke dalam tanganMu kuserahkan diriku, ya Tuhan Penyelamatku.” Dengan lagu singkat ini, kita menyerahkan diri secara total ke dalam tangan Tuhan Allah Pencipta alam semesta dan sekaligus sang Penyelamat (Salvator, Savior) kita. Kita berani melakukan hal itu (penyerahan diri secara total) karena kita percaya bahwa “Engkaulah penebusku, ya Allah yang benar.” Sebagai Allah yang benar, Ia tidak mengecewakan pengharapan dan kepercayaan kita. Tanpa kepercayaan mendasar seperti itu, mustahil kita berani menyerahkan diri secara total kepada Dia yang bersemayam dalam cahaya yang tiada terhampiri (1Tim.6:16), misteri yang tiada terpemanai. Misteri “Das Ganz Andere”, Ia yang serba sangat lain, dalam istilah Rudolf Otto.
Jika kita amati dengan teliti, maka jelas bahwa bagian awal teks lagu singkat ini diambil dari Injil Lukas 23:46. Bunyinya di sana ialah sbb: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Itu adalah kalimat pengantar sebelum Yesus wafat di salib. Sesudah mengucapkan kalimat penyerahan diri itu, Yesus wafat. Teks Lukas sendiri dikutip dari Mazmur 31:6. Dalam konteks Mazmur, seruan itu adalah doa mohon perlindungan kepada Tuhan, agar tidak mati sia-sia di tangan para lawan (musuh) yang penuh rancangan dan persekongkolan jahat. Dalam Injil Lukas, teks tadi dipakai sebagai doa pengantar menjelang wafat.
Di sini saya bertanya secara kritis: Mengapa Yesus menyerahkan roh-Nya kepada Allah di salib? Itu tidak lain karena Tuhan-lah yang empunya Roh itu. Roh itu berasal dari Allah sang Pencipta. Pada saat penciptaan, Allah sang pencipta yang menghembuskan roh itu kepada manusia (Kej.2:7: “...ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup”). Dengan demikian dalam praksis Yesus di salib itu, saat kematian (the moment of death) menjadi saat untuk ingat akan pencipta, momen untuk melakukan “memento creatoris” (seperti diserukan dalam Pengkotbah 12:1). Tetapi kita tidak hanya diingatkan untuk ingat akan kematian, memento mori, melainkan juga ingat akan sang pencipta saat menjelang kematian. Tetapi dalam kasus Yesus di salib “memento mori” menjadi konteks yang sangat dekat dari “memento creatoris”: yakni saat Ia berhadapan dengan realitas maut secara sangat nyata, Ia teringat akan sang pencipta-Nya sehingga Ia pun terdorong menyerahkan kembali roh-Nya kepada sang Pencipta.
Kalau kini kita memakai teks tadi dalam dan sebagai bagian utuh dari doa malam (completorium), padahal dulu Yesus memakainya sebagai teks pengantar menuju alam maut (kematian), maka pasti ada sebuah paralelisme yang kuat antara alam maut dan alam tidur malam (kegelapan malam). Tatkala kita mau melewati misteri tidur dalam malam kelam, kita menyerahkan terlebih dahulu roh kita kepada Tuhan yang empunya roh. Kita berharap agar roh kita aman dalam naungan, pemeliharaan, dan perlindungan Tuhan seperti harapan pemazmur (31:6). Kalau besok pagi Roh itu dikembalikan kepada kita dan kita bisa bangun lagi, maka kita patut bersyukur atas peristiwa itu. Kita masih diberi kesempatan untuk melihat fajar hari baru. Kita masih diberi kesempatan untuk menghirup nafas kehidupan sekali lagi. Itulah sebuah mukjizat baru dan ajaib dalam hidup kita setiap hari dan dari hari ke hari. Sebaliknya, kalau ternyata roh itu tidak kembali kepada kita, maka tidak apa-apa juga. Mengapa? Toh sebelum tidur malam kita sudah menyerahkannya dengan baik-baik kepada Dia yang empunya roh, seperti yang terjadi dalam kasus Yesus di salib (Luk.23:46).
Dalam konteks itulah kita menyadari arti penting dari pemeriksaan batin (pengakuan dosa) di awal completorium. Dengan ini saya membahas bagian pertama dari artikel tadi. Pemeriksaan batin (pengakuan dosa) pasti dimaksudkan untuk membersihkan atau memurnikan hati, purificatio cordis. Dengan ini hati kita dibersihkan dan dimurnikan dari noda, dosa, dan kotoran yang dilakukan sepanjang hari, sebab kita mudah berdosa dengan pikiran, perkataan, perbuatan, dan dengan kelalaian kita (akukan dengan rendah hati dalam Confiteor, “Saya Mengaku” itu). Kitab Suci menganjurkan kita agar rajin menguji hati sanubari (1Kor.11:28; 2Kor.13:5) dan pandai menghitung hari hidup (Mzm.90:12) agar menjadi bijak dalam hidup yang singkat (vita brevis) ini. Semua hal itu penting dalam rangka cita-cita menjadi manusia baru dalam setiap tahap hidup, seperti saat bangun tidur di pagi hari baru. Hari baru, menjadi manusia baru (Ef.2:5; Kol.3:10), menjadi ciptaan baru (2Kor.5:17; Gal.6:15), seperti kata Paulus. Manusia lama ditinggalkan dan turut disalibkan (Rom.6:6).
Kembali ke roh yang disinggung dalam teks lagu singkat di atas tadi. Roh itulah yang dihembuskan Allah pada saat menciptakan manusia pada awal mula (Kej.2:7). Roh itu tinggal dalam hati kita. Roh itulah yang menghidupkan kita, yang menjadikan kita makhluk hidup. Bahkan Roh itu pulalah yang membantu kita untuk berdoa (Rom 8:26). Roh itu yang membantu kita mengenal Allah dan menyapa Allah sebagai Abba (Rom.8:14-17). Roh itulah yang pada awal mula mencipta dan membuat kita hidup dan berada (bdk.Kej.2:7). Karena Roh itu tinggal dalam diri kita maka tubuh kita pun adalah bait Roh Kudus (1Kor.6:19). Karena itu, tubuh harus suci, tidak boleh tercemar dosa, sebab tubuh itu bukan untuk percabulan (1Kor.6:13), melainkan untuk Tuhan dan Tuhan untuk tubuh (1Kor.6:13). Maka kita tidak boleh main-main dengan tubuh sebab tubuh itu anggota Kristus (1Kor.6:15). Kita harus memuliakan Tuhan dengan tubuh (1Kor.6:20). Demikian kata Paulus. Di sinilah letak arti penting refleksi santo Yohanes Paulus II tentang Theology of the Body yang terkenal itu.
Kembali ke completorium. Doa itu disusun sedemikian rupa sehingga seluruh rangkaian hidup kita selalu dalam keadaan siap sedia menyongsong datang dan kehadiran Tuhan. Seperti kata madah completorium: “meski mata kan tertidur, semoga hati berjaga, rapi selalu teratur, siap menyambut rajaNya.” Ini adalah idealisme injili sebagaimana yang dibentangkan dalam perumpamaan tentang lima gadis bijaksana itu (bdk.Mat.25:1-13), yang selalu bersiap sedia dengan lampu dan minyaknya yang penuh untuk menyongsong datangnya pengantin yang tiada terduga-duga pada tengah malam.
Akhirnya, Completorium kini menjadi doa resmi gereja yang diwajibkan untuk biarawan, biarawati, dan imam. Tetapi oleh karena doa itu sesungguhnya adalah doa seluruh gereja, maka seluruh anggota gereja, jadi seluruh umat beriman, harus (wajib) melakukannya juga. Kiranya itu bukan hanya tugas para biarawan atau imam saja. Melainkan kewajiban kaum beriman (awam dan klerus) seluruhnya. Tegasnya, kewajiban seluruh kaum beriman. Jika idealisme ini terjadi, maka tuduhan (beberapa kalangan) yang biasa disebut dengan istilah “monastisasi hidup doa dan kesalehan dalam tradisi gereja”, kiranya bisa ditepis. Saat semua kaum beriman berdoa dengan rutinitas, semangat, dan ketekunan yang sama maka tuduhan tadi menjadi mentah dan tidak relevan lagi. Oleh karena itu, marilah kita berdoa, tidak hanya doa malam saja, melainkan berdoa terus menerus, atau oratio continua (sebagaimana dianjurkan Paulus, dalam Ef.6:18; Flp.1:4; Kol.1:9). Dalam bagian akhir tulisan ini saya mendorong kita semua untuk selalu melantunkan Completorium sebagaimana yang diajarkan tradisi bunda gereja (mater ecclesia) yang agung dan kudus.
Friday, January 5, 2018
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 145
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Kasih dan kerahiman Tuhan senantiasa mengalir bagi manusia dan seluruh makhluk ciptaan. Maka reaksi yang sepatutnya dan setepatnya dari semua makhluk hidup itu ialah menghaturkan rasa syukur kepada dan memuji Tuhan. Secara khusus pujian itu harus dilantunkan manusia. Mazmur ini berbicara tentang pujian yang dihaturkan manusia kepada Tuhan karena Tuhan mahamurah. Hal itu tampak jelas dalam judul mazmur ini “Puji-pujian karena kemurahan TUHAN.” Mazmur ini cukup panjang: ada 21 ayat. Untuk memahami dan menikmatinya, saya membagi mazmur ini ke dalam tiga bagian besar, yang dibuat berdasarkan dinamika yang ada dalam teks kita. Pertama, mencakup ayat 1-7, Kedua mencakup ayat 8-13, dan Ketiga meliputi ayat 14-21.
Saya mulai dengan yang pertama. Seluruh untaian mazmur pujian ini dikatakan berasal dari raja Daud (ay 1). Beliau mengungkapkan niatnya untuk memuji dan meluhurkan Tuhan (ay 1) untuk selamanya (selama hayat dikandung badan). Ia ingin mewujudkan rencana dan niat luhur itu dari hari ke hari (ay 2). Alasan pujian itu diberikan dalam ayat 3. Ia memuji Tuhan karena Tuhan itu mahaagung, allahuakbar. Ia sangat mulia dalam keakbaran-Nya. Tidak ada kata/bahasa manusia yang bisa dipakai untuk melukiskan keagungan Tuhan. Ia serba melampaui kata/bahasa manusia (ay 3). Karena itu, dalam ayat 4, manusia dari pelbagai keturunan, akan memuji dan memuliakan keagungan Tuhan, terutama segala karya-Nya yang memperlihatkan keperkasaan-Nya. Pemazmur berniat memuji keagungan (perbuatan ajaib, miraculum) Tuhan dengan nyanyian (ay 5). Pemazmur dan orang di sekitarnya (mereka) mau bercerita tentang kemuliaan dan perbuatan Tuhan yang dahsyat (ay 6). Manusia, dari pelbagai angkatan (generasi) tiada hentinya memahsyurkan keagungan Tuhan. Mereka temukan sumber sukacita (sorak-sorai) di dalam keagungan Tuhan yang semarak mulia (ay 7).
Lalu dalam ayat 8-9 dilukiskan beberapa sifat Tuhan (ada 6 sifat disebut di sini). Inilah awal Bagian Kedua. Secara eksplisit disebutkan sifat-sifat ini: pengasih, penyayang, panjang sabar, besar kasih setia-Nya (hesed), baik, penuh rahmat. Keenam sifat ini menjadi dasar dan sekaligus penggerak seluruh makhluk ciptaan (termasuk manusia) melantunkan syukur dan pujian kepada-Nya (ay 10). Kemuliaan kerajaan Tuhan dan keperkasaan Tuhan dimaklumkan dan menjadi topik pembicaraan orang di mana-mana (ay 11). Seluruh bangsa manusia mendapat pemberitaan tentang keperkasaan Tuhan dan kemuliaan semarak-Nya (ay 12). Kerajaan Tuhan itu akan berlangsung kekal dan berkuasa selama segala abad (ay 13a). Pemerintahan Tuhan akan disaksikan serta dialami oleh pelbagai keturunan anak manusia (ay 13b). Akhirnya, bagian kedua ini ditutup dengan menyinggung lagi salah satu sifat Tuhan yang disebut di atas tadi, ay.8. Perkataan dan perbuatan Tuhan senantiasa ditandai kesetiaan dan kasih setia (ay 13c).
Dalam bagian ketiga mazmur ini dilukiskan secara rinci mengenai beberapa perbuatan Tuhan berdasarkan kasih dan kesetiaanNya. Mula-mula dikatakan bahwa orang yang jatuh dan orang yang tertunduk (the victims) dibela Tuhan. Tuhan menjadi penopang dan penegak bagi mereka. Tuhan menjadi pembela mereka (ay 14). Itu sebabnya semua orang berharap akan Tuhan. Itulah yang diungkapkan dengan kata-kata ini: “Mata sekalian orang menantikan Engkau. Semua orang memandang kepada Tuhan.” Memandang di sini, berarti memandang untuk memohon belas-kasihan dan pembelaan. Ketika Tuhan melihat pandangan mata penuh harap itu, maka Tuhan segera bertindak (ay 15b: dan Engkaupun memberi mereka makanan pada waktunya). Tuhan bertindak tepat pada waktunya. Itulah yang mendatangkan penyelamatan dan kehidupan. Tindakan Tuhan itu dilukiskan lebih lanjut dalam ayat 16 di mana Tuhan membawa kekenyangan bagi segala makhluk hidup.
Sekali lagi dalam ay 17 ditegaskan mengenai sifat Tuhan dalam hal keadilan dan kasih setia dalam segala perbuatanNya. Tuhan tidak jauh (transenden), melainkan selalu dekat (imanen, imanuel) dengan orang yang dengan setia berseru kepadanya (ay 18). Tuhan selalu mendengar. Tuhan tidak tidur. Melainkan Tuhan mendengarkan permohonan orang yang dengan tekun dan sabar berseru (doa) kepadaNya (ay 19). Di ayat 20 dilukiskan tentang salah satu tugas Tuhan yaitu menjaga orang yang mengasihi-Nya. Sebaliknya Tuhan membinasakan orang-orang fasik (ay 20). Dengan kata lain, dalam bagian ketiga ini, pemazmur melukiskan sifat dan tindakan Tuhan kepada manusia. Kiranya itu sebabnya di ayat 21 pemazmur menutup Mazmur ini dengan pelukisan mengenai pujian yang keluar dari mulutnya yang tidak akan pernah berhenti. Bahkan bukan hanya dia sendiri (manusia) yang memuji dan meluhurkan Tuhan. Melainkan ia menegaskan bahwa segala makhluk memuji nama Tuhan. Pujian itu berlangsung sepanjang segala abad, per omnia saecula saeculorum, amen.
Bandung, Awal Desember 2017.
Kasih dan kerahiman Tuhan senantiasa mengalir bagi manusia dan seluruh makhluk ciptaan. Maka reaksi yang sepatutnya dan setepatnya dari semua makhluk hidup itu ialah menghaturkan rasa syukur kepada dan memuji Tuhan. Secara khusus pujian itu harus dilantunkan manusia. Mazmur ini berbicara tentang pujian yang dihaturkan manusia kepada Tuhan karena Tuhan mahamurah. Hal itu tampak jelas dalam judul mazmur ini “Puji-pujian karena kemurahan TUHAN.” Mazmur ini cukup panjang: ada 21 ayat. Untuk memahami dan menikmatinya, saya membagi mazmur ini ke dalam tiga bagian besar, yang dibuat berdasarkan dinamika yang ada dalam teks kita. Pertama, mencakup ayat 1-7, Kedua mencakup ayat 8-13, dan Ketiga meliputi ayat 14-21.
Saya mulai dengan yang pertama. Seluruh untaian mazmur pujian ini dikatakan berasal dari raja Daud (ay 1). Beliau mengungkapkan niatnya untuk memuji dan meluhurkan Tuhan (ay 1) untuk selamanya (selama hayat dikandung badan). Ia ingin mewujudkan rencana dan niat luhur itu dari hari ke hari (ay 2). Alasan pujian itu diberikan dalam ayat 3. Ia memuji Tuhan karena Tuhan itu mahaagung, allahuakbar. Ia sangat mulia dalam keakbaran-Nya. Tidak ada kata/bahasa manusia yang bisa dipakai untuk melukiskan keagungan Tuhan. Ia serba melampaui kata/bahasa manusia (ay 3). Karena itu, dalam ayat 4, manusia dari pelbagai keturunan, akan memuji dan memuliakan keagungan Tuhan, terutama segala karya-Nya yang memperlihatkan keperkasaan-Nya. Pemazmur berniat memuji keagungan (perbuatan ajaib, miraculum) Tuhan dengan nyanyian (ay 5). Pemazmur dan orang di sekitarnya (mereka) mau bercerita tentang kemuliaan dan perbuatan Tuhan yang dahsyat (ay 6). Manusia, dari pelbagai angkatan (generasi) tiada hentinya memahsyurkan keagungan Tuhan. Mereka temukan sumber sukacita (sorak-sorai) di dalam keagungan Tuhan yang semarak mulia (ay 7).
Lalu dalam ayat 8-9 dilukiskan beberapa sifat Tuhan (ada 6 sifat disebut di sini). Inilah awal Bagian Kedua. Secara eksplisit disebutkan sifat-sifat ini: pengasih, penyayang, panjang sabar, besar kasih setia-Nya (hesed), baik, penuh rahmat. Keenam sifat ini menjadi dasar dan sekaligus penggerak seluruh makhluk ciptaan (termasuk manusia) melantunkan syukur dan pujian kepada-Nya (ay 10). Kemuliaan kerajaan Tuhan dan keperkasaan Tuhan dimaklumkan dan menjadi topik pembicaraan orang di mana-mana (ay 11). Seluruh bangsa manusia mendapat pemberitaan tentang keperkasaan Tuhan dan kemuliaan semarak-Nya (ay 12). Kerajaan Tuhan itu akan berlangsung kekal dan berkuasa selama segala abad (ay 13a). Pemerintahan Tuhan akan disaksikan serta dialami oleh pelbagai keturunan anak manusia (ay 13b). Akhirnya, bagian kedua ini ditutup dengan menyinggung lagi salah satu sifat Tuhan yang disebut di atas tadi, ay.8. Perkataan dan perbuatan Tuhan senantiasa ditandai kesetiaan dan kasih setia (ay 13c).
Dalam bagian ketiga mazmur ini dilukiskan secara rinci mengenai beberapa perbuatan Tuhan berdasarkan kasih dan kesetiaanNya. Mula-mula dikatakan bahwa orang yang jatuh dan orang yang tertunduk (the victims) dibela Tuhan. Tuhan menjadi penopang dan penegak bagi mereka. Tuhan menjadi pembela mereka (ay 14). Itu sebabnya semua orang berharap akan Tuhan. Itulah yang diungkapkan dengan kata-kata ini: “Mata sekalian orang menantikan Engkau. Semua orang memandang kepada Tuhan.” Memandang di sini, berarti memandang untuk memohon belas-kasihan dan pembelaan. Ketika Tuhan melihat pandangan mata penuh harap itu, maka Tuhan segera bertindak (ay 15b: dan Engkaupun memberi mereka makanan pada waktunya). Tuhan bertindak tepat pada waktunya. Itulah yang mendatangkan penyelamatan dan kehidupan. Tindakan Tuhan itu dilukiskan lebih lanjut dalam ayat 16 di mana Tuhan membawa kekenyangan bagi segala makhluk hidup.
Sekali lagi dalam ay 17 ditegaskan mengenai sifat Tuhan dalam hal keadilan dan kasih setia dalam segala perbuatanNya. Tuhan tidak jauh (transenden), melainkan selalu dekat (imanen, imanuel) dengan orang yang dengan setia berseru kepadanya (ay 18). Tuhan selalu mendengar. Tuhan tidak tidur. Melainkan Tuhan mendengarkan permohonan orang yang dengan tekun dan sabar berseru (doa) kepadaNya (ay 19). Di ayat 20 dilukiskan tentang salah satu tugas Tuhan yaitu menjaga orang yang mengasihi-Nya. Sebaliknya Tuhan membinasakan orang-orang fasik (ay 20). Dengan kata lain, dalam bagian ketiga ini, pemazmur melukiskan sifat dan tindakan Tuhan kepada manusia. Kiranya itu sebabnya di ayat 21 pemazmur menutup Mazmur ini dengan pelukisan mengenai pujian yang keluar dari mulutnya yang tidak akan pernah berhenti. Bahkan bukan hanya dia sendiri (manusia) yang memuji dan meluhurkan Tuhan. Melainkan ia menegaskan bahwa segala makhluk memuji nama Tuhan. Pujian itu berlangsung sepanjang segala abad, per omnia saecula saeculorum, amen.
Bandung, Awal Desember 2017.
Wednesday, December 6, 2017
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 144
>Oleh: Fransiskus Borgias M.
Seluruh hidup manusia seharusnya merupakan untaian ucapan syukur, eucharistia, kepada Tuhan karena Ia sudah menganugerahkan banyak rahmat dan kasih karunia kepada kita. Salah satu rahmat paling mendasar ialah rahmat kehidupan itu sendiri. Tuhanlah yang memberi kehidupan kepada kita. Tuhanlah yang menyelenggarakan hidup kita. Tuhanlah yang menjamin hidup kita. Karena itu, sudah layak dan sepantasnya kita menghaturkan ucapan syukur kepada Tuhan sang sumber dan pengasal kehidupan itu sendiri.
Dalam mazmur ini kita menemukan sebuah “Nyanyian Syukur raja” karena semua pengalaman rahmat yang diterima dan dialaminya dalam hidupnya. Bahkan itulah juga yang menjadi judul mazmur ini dalam Alkitab kita. Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu 15 ayat. Berdasarkan dinamika teks itu sendiri, saya membagi teks ini ke dalam beberapa bagian. Pertama, meliputi ayat 1-4. Kedua, meliputi ayat 5-8. Ketiga, meliputi ay 9-11. Keempat, meliputi ay 12-15. Saya mengupas teks mazmur ini berdasarkan keempat bagian tersebut.
Dalam Bagian I, pemazmur melambungkan pujian kepada Tuhan, yang dialaminya sebagai benteng kokoh hidupnya. Tuhan ia alami sebagai mentor dalam hal peperangan. Kemahiran berperang dikaitkan dengan rahmat yang berasal dari Tuhan (ay 1). Tuhan sang mentor itulah yang dialaminya sebagai tempat perlindungan dan benteng pertahanan. Kata-kata sinonim dipakai untuk mengungkapkan pengalaman Tuhan sebagai pelindung (kota benteng, perisai, tempat berlindung). Tuhan sang pelindung itulah yang sumber keselamatan (ay 2). Dalam ayat 3 muncul sebuah pertanyaan reflektif-retoris yang mencoba merenungkan keluhuran martabat manusia dan teks itu menggemakan kembali apa yang sudah ada dalam Mazmur 8:5 (bdk.Ayb 7:17-18). Dalam pertanyaan retoris itu terkandung rasa heran pemazmur atas perhatian yang diberikan Tuhan kepada manusia. Hal itu terasa semakin mengherankan lagi, sebab sesungguhnya manusia itu bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Manusia itu hanya laksana angin dan bayang-bayang berlalu (ay 4).
Dalam Bagian II, pemazmur mengarahkan pandangannya ke angkasa. Ia meminta Tuhan agar sudi turun ke bumi dan menyentuh permukaan gunung sehingga gunung itu bersukaria menyambut Tuhan yang datang (ay 5). Gambaran Tuhan sebagai panglima perang perkasa di angkasa muncul kembali di sini. Sebagai panglima perang Tuhan diminta memuntahkan panahnya sehingga bisa menghancurkan musuh di bumi ini (ay 6). Pemazmur meminta agar Tuhan sudi turun dan campur tangan untuk membebaskan pemazmur dari musuh yang diibaratkannya dengan banjir bandang (ay 7). Para musuh dan orang asing itu adalah para penipu. Mulutnya penuh kebohongan. Perbuatannya pun mengandung dusta di atas dusta (ay 8).
Dalam Bagian III, pemazmur menyatakan keinginannya untuk melambungkan nyanyian baru bagi Tuhan. Ia mau mengiringi nyanyiannya dengan beberapa alat musik (gambus sepuluh tali) (ay 9). Hal itu ia lakukan karena ia mengalami bahwa Tuhanlah sang pembebas yang memberi kemenangan kepada Raja dan membebaskan Daud dari para musuhnya (ay 10). Atas dasar pengalaman dan pengamatan itu maka di akhir bagian ini, pemazmur meminta kepada Tuhan agar Ia membebaskan dirinya dari ancaman para musuh dan orang-orang asing. Mereka itu adalah kaum yang sangat berbahaya sebab mulut mereka penuh dengan kebohongan. Dan perbuatan tangan kanan mereka juga tidak layak untuk dipercayai karena mengandung dusta (ay 11).
Kalau hal itu terjadi, maka akan tercipta suatu kondisi aman sentosa dan damai sejahtera. Kondisi itulah yang memungkinkan dia mengharapkan agar anak-anak mereka (terutama yang laki-laki, sebagai andalan keturunan dan masa depan dan tenaga berperang) bisa bertumbuh laksana tanaman dan pohon subur (ay 12a). Ia juga mengharapkan bahwa anak-anak perempuan mereka akan bertumbuh menjadi cantik dan kecantikan mereka diibaratkan dengan tiang berukir yang menjadi hiasan istana-istana para raja (ay 12b). Yang didambakan tidak hanya kesejahteraan jasmani manusia. Melainkan juga ketahanan dan kedaulatan pangan yang cukup. Hal itu diungkapkan dengan gudang-gudang yang penuh dengan pelbagai barang (ay 13a). Tidak hanya benda mati di gudang. Benda hidup seperti hewan peliharaan (ternak, secara khusus disebut kambing) juga diharapkan bisa bertumbuh subur dan berkembang biak dengan baik sehingga menjadi sangat banyak jumlahnya di padang penggembalaan (ay 13b). Tidak hanya kambing yang disebut. Tidak lupa pemazmur juga menyebut sapi-sapi yang ia harapkan jumlahnya bertambah banyak, gemuk dan sehat. Apabila tiba musim kawin maka tidak ada yang keguguran dan tidak ada juga yang terluka di padang penggembalaan (ay 14). Jika semuanya itu terjadi, pemazmur yakin bahwa itu adalah penyelenggaraan kasih setia Tuhan kepada mereka. Pemazmur beranggapan bahwa orang yang mengalami untaian pengalamn seperti itu adalah orang yang berbahagia. Mereka menjadi berbahagia karena Allah mereka ialah Tuhan (ay 15).
Penulis: Dosen biblika FF-UNPAR Bandung.
Seluruh hidup manusia seharusnya merupakan untaian ucapan syukur, eucharistia, kepada Tuhan karena Ia sudah menganugerahkan banyak rahmat dan kasih karunia kepada kita. Salah satu rahmat paling mendasar ialah rahmat kehidupan itu sendiri. Tuhanlah yang memberi kehidupan kepada kita. Tuhanlah yang menyelenggarakan hidup kita. Tuhanlah yang menjamin hidup kita. Karena itu, sudah layak dan sepantasnya kita menghaturkan ucapan syukur kepada Tuhan sang sumber dan pengasal kehidupan itu sendiri.
Dalam mazmur ini kita menemukan sebuah “Nyanyian Syukur raja” karena semua pengalaman rahmat yang diterima dan dialaminya dalam hidupnya. Bahkan itulah juga yang menjadi judul mazmur ini dalam Alkitab kita. Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu 15 ayat. Berdasarkan dinamika teks itu sendiri, saya membagi teks ini ke dalam beberapa bagian. Pertama, meliputi ayat 1-4. Kedua, meliputi ayat 5-8. Ketiga, meliputi ay 9-11. Keempat, meliputi ay 12-15. Saya mengupas teks mazmur ini berdasarkan keempat bagian tersebut.
Dalam Bagian I, pemazmur melambungkan pujian kepada Tuhan, yang dialaminya sebagai benteng kokoh hidupnya. Tuhan ia alami sebagai mentor dalam hal peperangan. Kemahiran berperang dikaitkan dengan rahmat yang berasal dari Tuhan (ay 1). Tuhan sang mentor itulah yang dialaminya sebagai tempat perlindungan dan benteng pertahanan. Kata-kata sinonim dipakai untuk mengungkapkan pengalaman Tuhan sebagai pelindung (kota benteng, perisai, tempat berlindung). Tuhan sang pelindung itulah yang sumber keselamatan (ay 2). Dalam ayat 3 muncul sebuah pertanyaan reflektif-retoris yang mencoba merenungkan keluhuran martabat manusia dan teks itu menggemakan kembali apa yang sudah ada dalam Mazmur 8:5 (bdk.Ayb 7:17-18). Dalam pertanyaan retoris itu terkandung rasa heran pemazmur atas perhatian yang diberikan Tuhan kepada manusia. Hal itu terasa semakin mengherankan lagi, sebab sesungguhnya manusia itu bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Manusia itu hanya laksana angin dan bayang-bayang berlalu (ay 4).
Dalam Bagian II, pemazmur mengarahkan pandangannya ke angkasa. Ia meminta Tuhan agar sudi turun ke bumi dan menyentuh permukaan gunung sehingga gunung itu bersukaria menyambut Tuhan yang datang (ay 5). Gambaran Tuhan sebagai panglima perang perkasa di angkasa muncul kembali di sini. Sebagai panglima perang Tuhan diminta memuntahkan panahnya sehingga bisa menghancurkan musuh di bumi ini (ay 6). Pemazmur meminta agar Tuhan sudi turun dan campur tangan untuk membebaskan pemazmur dari musuh yang diibaratkannya dengan banjir bandang (ay 7). Para musuh dan orang asing itu adalah para penipu. Mulutnya penuh kebohongan. Perbuatannya pun mengandung dusta di atas dusta (ay 8).
Dalam Bagian III, pemazmur menyatakan keinginannya untuk melambungkan nyanyian baru bagi Tuhan. Ia mau mengiringi nyanyiannya dengan beberapa alat musik (gambus sepuluh tali) (ay 9). Hal itu ia lakukan karena ia mengalami bahwa Tuhanlah sang pembebas yang memberi kemenangan kepada Raja dan membebaskan Daud dari para musuhnya (ay 10). Atas dasar pengalaman dan pengamatan itu maka di akhir bagian ini, pemazmur meminta kepada Tuhan agar Ia membebaskan dirinya dari ancaman para musuh dan orang-orang asing. Mereka itu adalah kaum yang sangat berbahaya sebab mulut mereka penuh dengan kebohongan. Dan perbuatan tangan kanan mereka juga tidak layak untuk dipercayai karena mengandung dusta (ay 11).
Kalau hal itu terjadi, maka akan tercipta suatu kondisi aman sentosa dan damai sejahtera. Kondisi itulah yang memungkinkan dia mengharapkan agar anak-anak mereka (terutama yang laki-laki, sebagai andalan keturunan dan masa depan dan tenaga berperang) bisa bertumbuh laksana tanaman dan pohon subur (ay 12a). Ia juga mengharapkan bahwa anak-anak perempuan mereka akan bertumbuh menjadi cantik dan kecantikan mereka diibaratkan dengan tiang berukir yang menjadi hiasan istana-istana para raja (ay 12b). Yang didambakan tidak hanya kesejahteraan jasmani manusia. Melainkan juga ketahanan dan kedaulatan pangan yang cukup. Hal itu diungkapkan dengan gudang-gudang yang penuh dengan pelbagai barang (ay 13a). Tidak hanya benda mati di gudang. Benda hidup seperti hewan peliharaan (ternak, secara khusus disebut kambing) juga diharapkan bisa bertumbuh subur dan berkembang biak dengan baik sehingga menjadi sangat banyak jumlahnya di padang penggembalaan (ay 13b). Tidak hanya kambing yang disebut. Tidak lupa pemazmur juga menyebut sapi-sapi yang ia harapkan jumlahnya bertambah banyak, gemuk dan sehat. Apabila tiba musim kawin maka tidak ada yang keguguran dan tidak ada juga yang terluka di padang penggembalaan (ay 14). Jika semuanya itu terjadi, pemazmur yakin bahwa itu adalah penyelenggaraan kasih setia Tuhan kepada mereka. Pemazmur beranggapan bahwa orang yang mengalami untaian pengalamn seperti itu adalah orang yang berbahagia. Mereka menjadi berbahagia karena Allah mereka ialah Tuhan (ay 15).
Penulis: Dosen biblika FF-UNPAR Bandung.
Tuesday, October 31, 2017
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 143
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dalam hidup ini kita mempunyai banyak kebutuhan. Kebutuhan jasmani, dan rohani. Kebutuhan fisis dan psikis. Dalam mazmur ini disebutkan dua kebutuhan hidup yaitu pertolongan dan pengajaran. Menurut pemazmur kedua kebutuhan ini penting sehingga kita harus memintanya kepada Tuhan lewat doa: “Doa meminta pertolongan dan pengajaran”. Itulah judul mazmur pendek ini (12 ayat). Untuk memahami dan menikmatinya, saya membagi mazmur ini menjadi tiga bagian. Pertama, ayat 1-4. Kedua, ayat 5-8. Ketiga, ayat 9-12. Saya membahas mazmur ini berdasarkan pembagian tersebut.
Pemazmur mengawali mazmur ini (Bgn I) dengan permohonan kepada Tuhan agar Ia sudi mendengarkan/memperhatikan doa dan permohonannya. Itulah arti ungkapan “berilah telinga.” Tidak hanya mendengarkan dan memperhatikan saja, melainkan diharapkan bahwa Tuhan mengabulkan doa tersebut demi dua sifat Tuhan, yaitu kesetiaan dan keadilanNya (ay 1). Pemazmur yakin bahwa atas dasar kedua sifat tersebut Tuhan pasti menjawab doanya. Pemazmur meminta agar Tuhan tidak menghakimi dirinya dengan menggelar perkara dengannya, sebab ia yakin bahwa dirinya bukan mitra seimbang di meja pengadilan. Sebagai manusia, pemazmur merasa bahwa ia tidak bisa membenarkan diri di hadapan Allah. Tidak hanya pemazmur saja, bahkan seluruh manusia tidak dapat membenarkan dan membela diri di hadapan Allah (ay 2). Pemazmur mendesak Tuhan agar mengabulkan doa dan permohonannya karena ia merasa bahwa dirinya dikejar musuh yang ingin menghancurkan hidupnya (“mencampakkan nyawa ke tanah”). Musuh ingin membunuh pemazmur (“menempatkan aku di dalam gelap”; kegelapan adalah lambang dunia orang mati. Terang adalah lambang kehidupan, keselamatan kekal) (ay 3). Ini yang menyebabkan pemazmur merasa lemah dan tertegun seakan-akan tidak ada perspektif pengharapan (ay 4).
Dalam kondisi cemas dan lesu seperti itu pemazmur seakan-akan dilanda gelombang nostalgia, di mana ia teringat akan masa silam. Itulah Bagian II. Di masa silam ia terkenang akan semua hal yang dulu dilakukan Tuhan bagi umat-Nya (ay 5). Saat ia teringat akan apa yang dilakukan dan dikerjakan Tuhan, maka pemazmur pun merasa mempunyai landasan untuk berharap bahwa kini pun Tuhan masih akan bertindak sebagaimana Dia dulu sudah perbuat. Atas dasar harapan itulah maka dalam ayat 6 pemazmur menadahkan tangan kepada Tuhan. Itu bisa berarti dua: 1). Sebagai tanda memohon dan menyembah. 2). Bisa juga sebagai tanda siap menerima anugerah Allah. Atas dasar tinjauan kilas balik ke masa silam, pemazmur yakin bahwa Tuhan mengabulkan permohonannya. Saat memikirkan masa silam itulah, pemazmur merasa rindu akan Tuhan dan segala karyaNya. Ia ibaratkan kerinduan itu dengan tanah kering yang merindukan air (ay 6).
Dengan keyakinan dasar itu, pemazmur seakan-akan mendesak Allah agar Ia menjawab doa permohonannya segera, tanpa menunda. Ia merasa bahwa semangatnya sudah habis. Ia akan merasa lelah kalau Tuhan masih menunda menjawab doanya. Jadi, pemazmur mengungkapkan harapannya (ay 7a). Pemazmur berharap agar Tuhan tidak membuang muka dari padanya, sebab hal itu berarti jauh dari Tuhan, dan itu sama dengan kematian (ay 7b). Pemazmur meminta kepada Tuhan agar Ia “memperdengarkan” kasih-setia-Nya di waktu pagi. Alasannya ialah karena ia percaya akan Tuhan. Menarik bahwa pemazmur memakai kata “perdengarkan” dan bukan “perlihatkan”. Mungkin ia membayangkan kasih-setia Tuhan itu sebagai sebuah titah atau bahkan lagu yang bisa didengarkan (ay 8a). Pemazmur juga meminta agar Tuhan menunjukkan jalan yang harus ia lalui sebab pemazmur sedang melakukan perjalanan ziarah kepada Tuhan dan hanya Tuhan sendiri yang tahu jalan kepada diri-Nya (ay 8b).
Akhirnya saya bahas Bagian III. Dalam ayat 9 pemazmur meminta agar Tuhan meluputkan dirinya dari musuh sebab hanya Tuhan tempat perlindungannya (ay 9). Pemazmur juga meminta kepada Tuhan agar Ia mengajarkan kehendak-Nya kepadanya supaya ia bisa melakukan kehendak Tuhan (ay 10a). Pemazmur juga meminta agar Roh Tuhan menjadi penuntun hidupnya dalam mengarungi kehidupan di dunia ini (ay 10b). Ia juga meminta agar Tuhan sudi memberi dia kehidupan dan pembebasan dari kungkungan musuh yang membuat dia merasa terjepit. Pemazmur meminta hal ini demi keadilan Tuhan (ay 11). Setelah serangkaian permohonan untuk dirinya, di penghujung mazmur ini ia meminta Tuhan agar membinasakan musuhnya, melenyapkan orang yang mendatangkan kesesakan atas hidupnya. Ia berani memohonkan hal ini demi kasih-setia (hesed) Tuhan, dan karena ia yakin bahwa dirinya hamba Tuhan.
Abepura, Akhir Juli 2017
Penulis: Dosen Kitab Suci FF-UNPAR, Bandung.
Dalam hidup ini kita mempunyai banyak kebutuhan. Kebutuhan jasmani, dan rohani. Kebutuhan fisis dan psikis. Dalam mazmur ini disebutkan dua kebutuhan hidup yaitu pertolongan dan pengajaran. Menurut pemazmur kedua kebutuhan ini penting sehingga kita harus memintanya kepada Tuhan lewat doa: “Doa meminta pertolongan dan pengajaran”. Itulah judul mazmur pendek ini (12 ayat). Untuk memahami dan menikmatinya, saya membagi mazmur ini menjadi tiga bagian. Pertama, ayat 1-4. Kedua, ayat 5-8. Ketiga, ayat 9-12. Saya membahas mazmur ini berdasarkan pembagian tersebut.
Pemazmur mengawali mazmur ini (Bgn I) dengan permohonan kepada Tuhan agar Ia sudi mendengarkan/memperhatikan doa dan permohonannya. Itulah arti ungkapan “berilah telinga.” Tidak hanya mendengarkan dan memperhatikan saja, melainkan diharapkan bahwa Tuhan mengabulkan doa tersebut demi dua sifat Tuhan, yaitu kesetiaan dan keadilanNya (ay 1). Pemazmur yakin bahwa atas dasar kedua sifat tersebut Tuhan pasti menjawab doanya. Pemazmur meminta agar Tuhan tidak menghakimi dirinya dengan menggelar perkara dengannya, sebab ia yakin bahwa dirinya bukan mitra seimbang di meja pengadilan. Sebagai manusia, pemazmur merasa bahwa ia tidak bisa membenarkan diri di hadapan Allah. Tidak hanya pemazmur saja, bahkan seluruh manusia tidak dapat membenarkan dan membela diri di hadapan Allah (ay 2). Pemazmur mendesak Tuhan agar mengabulkan doa dan permohonannya karena ia merasa bahwa dirinya dikejar musuh yang ingin menghancurkan hidupnya (“mencampakkan nyawa ke tanah”). Musuh ingin membunuh pemazmur (“menempatkan aku di dalam gelap”; kegelapan adalah lambang dunia orang mati. Terang adalah lambang kehidupan, keselamatan kekal) (ay 3). Ini yang menyebabkan pemazmur merasa lemah dan tertegun seakan-akan tidak ada perspektif pengharapan (ay 4).
Dalam kondisi cemas dan lesu seperti itu pemazmur seakan-akan dilanda gelombang nostalgia, di mana ia teringat akan masa silam. Itulah Bagian II. Di masa silam ia terkenang akan semua hal yang dulu dilakukan Tuhan bagi umat-Nya (ay 5). Saat ia teringat akan apa yang dilakukan dan dikerjakan Tuhan, maka pemazmur pun merasa mempunyai landasan untuk berharap bahwa kini pun Tuhan masih akan bertindak sebagaimana Dia dulu sudah perbuat. Atas dasar harapan itulah maka dalam ayat 6 pemazmur menadahkan tangan kepada Tuhan. Itu bisa berarti dua: 1). Sebagai tanda memohon dan menyembah. 2). Bisa juga sebagai tanda siap menerima anugerah Allah. Atas dasar tinjauan kilas balik ke masa silam, pemazmur yakin bahwa Tuhan mengabulkan permohonannya. Saat memikirkan masa silam itulah, pemazmur merasa rindu akan Tuhan dan segala karyaNya. Ia ibaratkan kerinduan itu dengan tanah kering yang merindukan air (ay 6).
Dengan keyakinan dasar itu, pemazmur seakan-akan mendesak Allah agar Ia menjawab doa permohonannya segera, tanpa menunda. Ia merasa bahwa semangatnya sudah habis. Ia akan merasa lelah kalau Tuhan masih menunda menjawab doanya. Jadi, pemazmur mengungkapkan harapannya (ay 7a). Pemazmur berharap agar Tuhan tidak membuang muka dari padanya, sebab hal itu berarti jauh dari Tuhan, dan itu sama dengan kematian (ay 7b). Pemazmur meminta kepada Tuhan agar Ia “memperdengarkan” kasih-setia-Nya di waktu pagi. Alasannya ialah karena ia percaya akan Tuhan. Menarik bahwa pemazmur memakai kata “perdengarkan” dan bukan “perlihatkan”. Mungkin ia membayangkan kasih-setia Tuhan itu sebagai sebuah titah atau bahkan lagu yang bisa didengarkan (ay 8a). Pemazmur juga meminta agar Tuhan menunjukkan jalan yang harus ia lalui sebab pemazmur sedang melakukan perjalanan ziarah kepada Tuhan dan hanya Tuhan sendiri yang tahu jalan kepada diri-Nya (ay 8b).
Akhirnya saya bahas Bagian III. Dalam ayat 9 pemazmur meminta agar Tuhan meluputkan dirinya dari musuh sebab hanya Tuhan tempat perlindungannya (ay 9). Pemazmur juga meminta kepada Tuhan agar Ia mengajarkan kehendak-Nya kepadanya supaya ia bisa melakukan kehendak Tuhan (ay 10a). Pemazmur juga meminta agar Roh Tuhan menjadi penuntun hidupnya dalam mengarungi kehidupan di dunia ini (ay 10b). Ia juga meminta agar Tuhan sudi memberi dia kehidupan dan pembebasan dari kungkungan musuh yang membuat dia merasa terjepit. Pemazmur meminta hal ini demi keadilan Tuhan (ay 11). Setelah serangkaian permohonan untuk dirinya, di penghujung mazmur ini ia meminta Tuhan agar membinasakan musuhnya, melenyapkan orang yang mendatangkan kesesakan atas hidupnya. Ia berani memohonkan hal ini demi kasih-setia (hesed) Tuhan, dan karena ia yakin bahwa dirinya hamba Tuhan.
Abepura, Akhir Juli 2017
Penulis: Dosen Kitab Suci FF-UNPAR, Bandung.
Thursday, October 5, 2017
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 142
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Pernahkah kita merasa dikejar-kejar? Entah itu oleh target, oleh tuntutan tugas? Mungkin oleh musuh atau orang yang membenci kita? Perasaan dikejar-kejar memang terutama adalah pengalaman fisik-jasmani. Tetapi bisa juga pengalaman rohani. Dalam pengalaman seperti itu, kita mencari perlindungan, bahkan mencari pembenaran diri. Dalam salah satu tahap perjalanan hidupnya, Daud pernah dikejar-kejar musuhnya. Tentu Daud mengalami ketakutan dan kecemasan luar biasa. Sebab kalau terkejar dan tertangkap itu berarti mati. Untuk itu Daud mencari tempat persembunyian yang aman dari kejaran musuh, dalam sebuah gua. Di sana, Daud melantunkan doa permohonan. Mazmur 142 ini adalah doa permohonan saat berada dalam pengejaran musuh.
Mazmur ini dalam Alkitab kita mempunyai judul sbb: “Doa seorang yang dikejar-kejar”. Mazmur ini termasuk cukup singkat. Terdiri atas 8 ayat. Saya membahas mazmur ini sebagai satu kesatuan utuh.
Dalam ayat 1 dilukiskan tentang tempat di mana Daud berada dalam pelariannya agar luput dari kejaran. Ia berada dalam sebuah gua. Tidak dikatakan di mana persis letak gua tersebut. Dalam gua sunyi itu Daud berdoa. Ia memanjatkan doanya dengan suara nyaring/lantang. Ia lantunkan doa permohonan kepada Tuhan. Di dalam gua sunyi itu, Daud membayangkan diri menghadap hadirat Allah. Di hadapan Allah, ia mengungkapkan keluh-kesah hidupnya. Pengalaman hidup yang sesak diungkapkan kepada Allah. Kesesakan dan keluh-kesah itu muncul karena ia dikejar-kejar musuh. Musuh seakan-akan tidak membiarkan Daud istirahat sejenak (ay 3). Dalam pelarian dan pencarian tempat perlindungan itu, Daud dilanda putus-asa sehingga ia merasa semangatnya lemah-lesu. Tetapi ia percaya bahwa Tuhan tahu akan kondisinya; ia yakin bahwa Tuhan akan segera bertindak memberi pertolongan. Pemazmur merasa tidak aman sebab musuh-musuhnya telah memasang jerat perangkap di jalan yang dilaluinya. Hal itu mereka lakukan dengan sembunyi-sembunyi.
Pemazmur merasa sendirian. Di kanan dan kirinya tidak ada lagi orang yang menaruh perhatian dan kepedulian kepadanya. Orang lain sudah tidak lagi menghiraukan keberadaan dan kehadiran dia. Karena itu, ia tidak bisa mencari perlindungan pada seorang teman sebab ia tidak lagi bisa dengan mudah menemukan teman. Dalam keadaan seperti itu, ia merasa sendirian, ia merasa tidak dihiraukan. Tempat pelarian tidak hanya berupa gua sunyi. Tempat pelarian bisa juga berupa jejaring pertemanan yang melindung dan memberi rasa nyaman. Ternyata, jejaring seperti itu pun tidak tersedia lagi bagi pemazmur. Ia merasa sendirian dan kesepian (ay 5). Itu sebabnya, bisa dimengerti bahwa pemazmur berseru kepada Tuhan. Ia mencari perlindungan pada Tuhan, sebab ia tidak mendapatkan perlindungan di antara manusia yang hidup, tempat ia ada sekarang dan di sini (ay 6).
Dalam upaya mendekati Tuhan untuk mencari perlindungan, pemazmur meminta agar Tuhan sudi mendengarkan dan memperhatikan teriakannya. Ia sangat berharap akan pertolongan dari Tuhan, sebab ia merasa lemah dan tidak berdaya menghadapi musuh (ay 7a). Pemazmur juga meminta agar Tuhan sudi melepaskan dirinya dari musuh yang mengejar dia. Ia amat membutuhkan pertolongan Tuhan yang segera karena ia merasa lemah padahal musuhnya sangat kuat (ay 7b). Rupanya kejaran yang dialaminya selama ini adalah sedemikian rupa sehingga ia merasa seperti sudah terpenjara, terkepung di segala penjuru. Tidak perlu bahwa penjara yang disinggung di sini harus dipahami harfiah. Bisa juga penjara yang dimaksudkan ialah sebuah pengalaman jiwa dan rohani yang serba terkurung yang menyebabkan dia merasa tidak berdaya dan mati lemas (ay 8a). Ia meminta agar Tuhan sudi melepaskan dia dari “penjara” itu. Jika hal itu terjadi maka ia akan memuji nama Tuhan. Pada saat itulah dia akan menemukan orang-orang benar. Mereka akan mengelilingi dia sebagai ganti pengepungan yang dilakukan orang-orang jahat dan para musuhnya selama ini. Tetapi semua ini bisa terjadi dengan satu syarat: Tuhan mau berbuat baik kepada pemazmur yaitu melepaskan dan membebaskan dia dari kepungan dan kejaran musuhnya (ay 8b).
Abepura, Medio Juli 2017
Penulis: Dosen biblika FF-UNPAR Bandung. Dosen tamu STFT Fajar Timur Abepura, Papua.
Pernahkah kita merasa dikejar-kejar? Entah itu oleh target, oleh tuntutan tugas? Mungkin oleh musuh atau orang yang membenci kita? Perasaan dikejar-kejar memang terutama adalah pengalaman fisik-jasmani. Tetapi bisa juga pengalaman rohani. Dalam pengalaman seperti itu, kita mencari perlindungan, bahkan mencari pembenaran diri. Dalam salah satu tahap perjalanan hidupnya, Daud pernah dikejar-kejar musuhnya. Tentu Daud mengalami ketakutan dan kecemasan luar biasa. Sebab kalau terkejar dan tertangkap itu berarti mati. Untuk itu Daud mencari tempat persembunyian yang aman dari kejaran musuh, dalam sebuah gua. Di sana, Daud melantunkan doa permohonan. Mazmur 142 ini adalah doa permohonan saat berada dalam pengejaran musuh.
Mazmur ini dalam Alkitab kita mempunyai judul sbb: “Doa seorang yang dikejar-kejar”. Mazmur ini termasuk cukup singkat. Terdiri atas 8 ayat. Saya membahas mazmur ini sebagai satu kesatuan utuh.
Dalam ayat 1 dilukiskan tentang tempat di mana Daud berada dalam pelariannya agar luput dari kejaran. Ia berada dalam sebuah gua. Tidak dikatakan di mana persis letak gua tersebut. Dalam gua sunyi itu Daud berdoa. Ia memanjatkan doanya dengan suara nyaring/lantang. Ia lantunkan doa permohonan kepada Tuhan. Di dalam gua sunyi itu, Daud membayangkan diri menghadap hadirat Allah. Di hadapan Allah, ia mengungkapkan keluh-kesah hidupnya. Pengalaman hidup yang sesak diungkapkan kepada Allah. Kesesakan dan keluh-kesah itu muncul karena ia dikejar-kejar musuh. Musuh seakan-akan tidak membiarkan Daud istirahat sejenak (ay 3). Dalam pelarian dan pencarian tempat perlindungan itu, Daud dilanda putus-asa sehingga ia merasa semangatnya lemah-lesu. Tetapi ia percaya bahwa Tuhan tahu akan kondisinya; ia yakin bahwa Tuhan akan segera bertindak memberi pertolongan. Pemazmur merasa tidak aman sebab musuh-musuhnya telah memasang jerat perangkap di jalan yang dilaluinya. Hal itu mereka lakukan dengan sembunyi-sembunyi.
Pemazmur merasa sendirian. Di kanan dan kirinya tidak ada lagi orang yang menaruh perhatian dan kepedulian kepadanya. Orang lain sudah tidak lagi menghiraukan keberadaan dan kehadiran dia. Karena itu, ia tidak bisa mencari perlindungan pada seorang teman sebab ia tidak lagi bisa dengan mudah menemukan teman. Dalam keadaan seperti itu, ia merasa sendirian, ia merasa tidak dihiraukan. Tempat pelarian tidak hanya berupa gua sunyi. Tempat pelarian bisa juga berupa jejaring pertemanan yang melindung dan memberi rasa nyaman. Ternyata, jejaring seperti itu pun tidak tersedia lagi bagi pemazmur. Ia merasa sendirian dan kesepian (ay 5). Itu sebabnya, bisa dimengerti bahwa pemazmur berseru kepada Tuhan. Ia mencari perlindungan pada Tuhan, sebab ia tidak mendapatkan perlindungan di antara manusia yang hidup, tempat ia ada sekarang dan di sini (ay 6).
Dalam upaya mendekati Tuhan untuk mencari perlindungan, pemazmur meminta agar Tuhan sudi mendengarkan dan memperhatikan teriakannya. Ia sangat berharap akan pertolongan dari Tuhan, sebab ia merasa lemah dan tidak berdaya menghadapi musuh (ay 7a). Pemazmur juga meminta agar Tuhan sudi melepaskan dirinya dari musuh yang mengejar dia. Ia amat membutuhkan pertolongan Tuhan yang segera karena ia merasa lemah padahal musuhnya sangat kuat (ay 7b). Rupanya kejaran yang dialaminya selama ini adalah sedemikian rupa sehingga ia merasa seperti sudah terpenjara, terkepung di segala penjuru. Tidak perlu bahwa penjara yang disinggung di sini harus dipahami harfiah. Bisa juga penjara yang dimaksudkan ialah sebuah pengalaman jiwa dan rohani yang serba terkurung yang menyebabkan dia merasa tidak berdaya dan mati lemas (ay 8a). Ia meminta agar Tuhan sudi melepaskan dia dari “penjara” itu. Jika hal itu terjadi maka ia akan memuji nama Tuhan. Pada saat itulah dia akan menemukan orang-orang benar. Mereka akan mengelilingi dia sebagai ganti pengepungan yang dilakukan orang-orang jahat dan para musuhnya selama ini. Tetapi semua ini bisa terjadi dengan satu syarat: Tuhan mau berbuat baik kepada pemazmur yaitu melepaskan dan membebaskan dia dari kepungan dan kejaran musuhnya (ay 8b).
Abepura, Medio Juli 2017
Penulis: Dosen biblika FF-UNPAR Bandung. Dosen tamu STFT Fajar Timur Abepura, Papua.
Wednesday, September 6, 2017
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 141
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Hidup manusia penuh godaan dan pencobaan. Tidak ada yang luput dari cobaan. Tetapi pencobaan itulah yang membantu perkembangan dan proses pematangan hidup manusia terutama secara rohani. Tanpa pencobaan manusia akan menjadi lembek. Ibarat pohon yang tidak diterpa angin, maka akarnya tidak kuat menancap dan menukik ke bumi. Memang ada risiko tumbang dan patah kalau pohon itu terus diterpa angin kencang. Tetapi ada juga kemungkinan bahwa pohon itu akan menjadi kuat, baik batangnya yang tampak di permukaan bumi, maupun akarnya yang menancap ke dalam bumi. Begitu juga dengan hidup manusia.
Mazmur 141 ini melukiskan hidup yang penuh cobaan dan godaan. Salah satu jalan keluar yang diajukan mazmur ialah agar tidak lupa berdoa kepada Tuhan. Mazmur ini mengajar kita untuk memanjatkan doa kepada Tuhan di kala mengalami cobaan. Judul mazmur ini ialah “Doa dalam pencobaan”. Judul ini menggambarkan isinya. Mazmur ini cukup pendek (sepuluh ayat). Berdasarkan dinamika teks, mazmur ini dapat dibagi menjadi tiga bagian. Bagian I: ayat 1-4. Bagian II: ayat 5-7. Bagian III: ayat 8-10. Saya telusuri Mazmur ini berdasarkan pembagian tadi.
Dalam kesesakan dan pencobaan pemazmur, dalam Bagian I, meminta agar Tuhan datang kepadanya saat ia meminta tolong dan mendengarkan permohonannya. Dalam imajinasi religiusnya ia membayangkan bahwa doanya itu menjadi laksana asap yang membubung ke atas (ay 1). Ia juga membayangkan bahwa kedua tangannya yang terangkat ke atas saat berdoa menjadi persembahan korban pada waktu senja (ay 2). Selanjutnya, ia meminta agar Tuhan sudi menjadi penjaga mulutnya, jangan sampai mulut mengucapkan kata-kata kotor dan tidak patut (ay 3). Ia meminta agar Tuhan sudi menjaga hatinya supaya tetap lurus pada jalan benar tidak berbelok kepada kejahatan dan kefasikan. Ia yakin bahwa perbuatan fasik itu bermula dari kecondongan hati kepada yang jahat dalam sebuah solidaritas negatif dengan orang jahat (ay 4).
Dalam Bagian II pemazmur berbicara tentang pendidikan yang diberikan orang benar. Ia beranggapan bahwa pendidikan semacam ini, biarpun keras (misalnya dengan cara memalu dan menghukum), dianggapnya sebagai didikan kasih. Didikan keras orang benar itu ia kontraskan dengan minyak orang fasik. Ia merasa tidak sudi dihiasi kepalanya dengan minyak (wangi) orang fasik. Dalam pelbagai doanya pemazmur terus melawan kejahatan-kejahatan orang fasik (ay 5). Perbuatan dan tingkah laku orang fasik, suatu saat kelak pasti mendapat hukuman setimpal di hadapan hukum yang ditegakkan hakim. Jika saat itu tiba, pemazmur yakin bahwa orang fasik baru sadar betapa kata-katanya selama ini benar dan menyenangkan (walau tidak mereka ikuti) (ay 6). Secara imajinatif, pemazmur membayangkan kesudahan orang fasik kelak dalam dunia orang mati. Mereka akan mendapat hukuman yang berat dan setimpal dengan perbuatan dan tingkah laku mereka selama hidup di dunia ini. Di sini ia membayangkan sebuah penghancuran yang akan menimpa orang fasik itu kelak dalam dunia orang mati. Tulang-belulang mereka akan hancur lebur seperti batu yang dibelah dan dihancurkan di tanah (ay 7).
Berbeda dengan nasib tragis seperti itu, dalam Bagian III, pemazmur membayangkan nasibnya kelak. Ia membayangkan keselamatan, sebuah situasi luput dari orang jahat dan fasik. Itu terjadi karena pemazmur selalu memandang kepada Allah dan berharap kepada pertolongan Allah. Ia berharap Tuhan tidak mencampakkan dirinya (ay 8). Ia juga berharap agar Tuhan melindungi dia dari jerat perangkap yang dipasang orang fasik. Memang tidak mudah hidup di tengah dunia yang penuh orang fasik. Ada bermacam jebakan. Maka pemazmur meminta kepada Tuhan agar ia diselamatkan, diluputkan dari pelbagai jerat itu (terutama yang tidak tampak). Ia berharap jangan sampai tersandung dalam perbuatan jahat orang jahat. Ia sadar betapa mudahnya orang ikut arus dalam perbuatan jahat karena emosi dan euforia massa. Hal itu sangat berbahaya. Ia meminta agar ia luput dari hal seperti itu (ay 9). Jika perlindungan dan pemeliharaan Tuhan terjadi atas dirinya, maka ia luput. Sedangkan orang fasik dan jahat akan terperangkap ke dalam jerat perangkap yang mereka pasang bagi orang lain. Seperti kata pepatah ini: siapa menggali lobang, ia sendiri akan terperosok ke dalamnya. Kata orang Jerman: Wer hat eine Grube grabt, felt selbst hinein.
Abepura, Medio Juli 2017
Penulis: Dosen biblika FF-UNPAR Bandung; dosen tamu STFT Fajar Timur, Abepura, Jayapura.
Hidup manusia penuh godaan dan pencobaan. Tidak ada yang luput dari cobaan. Tetapi pencobaan itulah yang membantu perkembangan dan proses pematangan hidup manusia terutama secara rohani. Tanpa pencobaan manusia akan menjadi lembek. Ibarat pohon yang tidak diterpa angin, maka akarnya tidak kuat menancap dan menukik ke bumi. Memang ada risiko tumbang dan patah kalau pohon itu terus diterpa angin kencang. Tetapi ada juga kemungkinan bahwa pohon itu akan menjadi kuat, baik batangnya yang tampak di permukaan bumi, maupun akarnya yang menancap ke dalam bumi. Begitu juga dengan hidup manusia.
Mazmur 141 ini melukiskan hidup yang penuh cobaan dan godaan. Salah satu jalan keluar yang diajukan mazmur ialah agar tidak lupa berdoa kepada Tuhan. Mazmur ini mengajar kita untuk memanjatkan doa kepada Tuhan di kala mengalami cobaan. Judul mazmur ini ialah “Doa dalam pencobaan”. Judul ini menggambarkan isinya. Mazmur ini cukup pendek (sepuluh ayat). Berdasarkan dinamika teks, mazmur ini dapat dibagi menjadi tiga bagian. Bagian I: ayat 1-4. Bagian II: ayat 5-7. Bagian III: ayat 8-10. Saya telusuri Mazmur ini berdasarkan pembagian tadi.
Dalam kesesakan dan pencobaan pemazmur, dalam Bagian I, meminta agar Tuhan datang kepadanya saat ia meminta tolong dan mendengarkan permohonannya. Dalam imajinasi religiusnya ia membayangkan bahwa doanya itu menjadi laksana asap yang membubung ke atas (ay 1). Ia juga membayangkan bahwa kedua tangannya yang terangkat ke atas saat berdoa menjadi persembahan korban pada waktu senja (ay 2). Selanjutnya, ia meminta agar Tuhan sudi menjadi penjaga mulutnya, jangan sampai mulut mengucapkan kata-kata kotor dan tidak patut (ay 3). Ia meminta agar Tuhan sudi menjaga hatinya supaya tetap lurus pada jalan benar tidak berbelok kepada kejahatan dan kefasikan. Ia yakin bahwa perbuatan fasik itu bermula dari kecondongan hati kepada yang jahat dalam sebuah solidaritas negatif dengan orang jahat (ay 4).
Dalam Bagian II pemazmur berbicara tentang pendidikan yang diberikan orang benar. Ia beranggapan bahwa pendidikan semacam ini, biarpun keras (misalnya dengan cara memalu dan menghukum), dianggapnya sebagai didikan kasih. Didikan keras orang benar itu ia kontraskan dengan minyak orang fasik. Ia merasa tidak sudi dihiasi kepalanya dengan minyak (wangi) orang fasik. Dalam pelbagai doanya pemazmur terus melawan kejahatan-kejahatan orang fasik (ay 5). Perbuatan dan tingkah laku orang fasik, suatu saat kelak pasti mendapat hukuman setimpal di hadapan hukum yang ditegakkan hakim. Jika saat itu tiba, pemazmur yakin bahwa orang fasik baru sadar betapa kata-katanya selama ini benar dan menyenangkan (walau tidak mereka ikuti) (ay 6). Secara imajinatif, pemazmur membayangkan kesudahan orang fasik kelak dalam dunia orang mati. Mereka akan mendapat hukuman yang berat dan setimpal dengan perbuatan dan tingkah laku mereka selama hidup di dunia ini. Di sini ia membayangkan sebuah penghancuran yang akan menimpa orang fasik itu kelak dalam dunia orang mati. Tulang-belulang mereka akan hancur lebur seperti batu yang dibelah dan dihancurkan di tanah (ay 7).
Berbeda dengan nasib tragis seperti itu, dalam Bagian III, pemazmur membayangkan nasibnya kelak. Ia membayangkan keselamatan, sebuah situasi luput dari orang jahat dan fasik. Itu terjadi karena pemazmur selalu memandang kepada Allah dan berharap kepada pertolongan Allah. Ia berharap Tuhan tidak mencampakkan dirinya (ay 8). Ia juga berharap agar Tuhan melindungi dia dari jerat perangkap yang dipasang orang fasik. Memang tidak mudah hidup di tengah dunia yang penuh orang fasik. Ada bermacam jebakan. Maka pemazmur meminta kepada Tuhan agar ia diselamatkan, diluputkan dari pelbagai jerat itu (terutama yang tidak tampak). Ia berharap jangan sampai tersandung dalam perbuatan jahat orang jahat. Ia sadar betapa mudahnya orang ikut arus dalam perbuatan jahat karena emosi dan euforia massa. Hal itu sangat berbahaya. Ia meminta agar ia luput dari hal seperti itu (ay 9). Jika perlindungan dan pemeliharaan Tuhan terjadi atas dirinya, maka ia luput. Sedangkan orang fasik dan jahat akan terperangkap ke dalam jerat perangkap yang mereka pasang bagi orang lain. Seperti kata pepatah ini: siapa menggali lobang, ia sendiri akan terperosok ke dalamnya. Kata orang Jerman: Wer hat eine Grube grabt, felt selbst hinein.
Abepura, Medio Juli 2017
Penulis: Dosen biblika FF-UNPAR Bandung; dosen tamu STFT Fajar Timur, Abepura, Jayapura.
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...