Oleh: Fransiskus Borgias M.
Judul mazmur ini dalam Alkitab kita ialah “Doa minta perlindungan terhadap orang-orang jahat”. Mazmur ini terdiri atas empatbelas ayat. Orang di sekitar kita tidak melulu orang baik. Ada juga orang jahat yang mempunyai hati busuk dan merencanakan sesuatu yang tidak baik bagi kita. Kita selalu merasa terganggu oleh keberadaan dan kehadiran mereka. Terkadang kita merasa tidak berdaya menghadapi mereka. Dalam keadaan seperti itu, maka tidak ada jalan lain bagi kita selain meminta bantuan dan perlindungan Tuhan.
Mazmur ini adalah doa dari orang yang terjepit oleh ada dan kehadiran orang jahat di sekitar mereka. Karena itu dalam baris awal mazmur ini pemazmur langsung meminta kepada Tuhan agar Tuhan sudi meluputkan dia dari orang jahat. Ia meminta agar Tuhan menjaga dia dari orang yang melakukan kekerasan terhadap dirinya (ay 2). Tipikal orang jahat dilukiskan dalam ayat 3 yaitu hatinya selalu merancang apa yang jahat, dan menghasut-hasut perang. Perilaku dan terutama perkataan mereka selalu menimbulkan perbantahan dan pertikaian. Tipikal orang jahat itu dilanjutkan dalam ayat 4 yaitu orang yang lidahnya tajam menusuk dan mengandung racun mematikan. Terhadap orang seperti itulah pemazmur meminta kepada Tuhan agar Tuhan sudi memelihara dirinya.
Dalam ayat 5 dikemukakan satu jenis orang jahat, yaitu orang fasik, orang keras, dan yang berniat jahat. Pemazmur meminta agar Tuhan melindungi dia dari orang seperti ini. Akhirnya dalam ayat 6 masih ada satu lagi tipikal orang jahat yaitu orang sombong. Apa bahaya orang seperti ini? Yaitu karena mereka diam-diam merencanakan hal berbahaya bagi pemazmur. Hal yang jahat disimbolkan dengan jerat, tali jaring, dan perangkap. Itu adalah jebakan maut untuk menjerumuskan pemazmur ke dalam lubang tidak tidak terduga-duga sama sekali. Dengan kata lain, orang jahat yang dimaksudkan di sini ialah orang yang menginginkan celaka bagi kita. Ia tidak menghendaki kebahagiaan dan sukacita bagi kita.
Setelah mendeskripsikan orang jahat dalam ayat 1-6, akhirnya dalam ayat 7 pemazmur secara intens mengarahkan permohonannya langsung kepada Allah. Ia meminta agar Tuhan mendengarkan doa permohonannya. Ia meminta agar Allah melindungi dia dalam situasi yang teramat sulit, yang digambarkan di sini dengan metafora perang (hari pertarungan senjata). Ini adalah hari yang amat berbahaya bagi kepala tentara. Karena itu, ia meminta agar Tuhan melindungi kepalanya, maksudnya seluruh diri dan hidupnya dari situasi genting dan ngeri itu (ay 8).
Pemazmur juga meminta agar keinginan orang fasik tidak terpenuhi, agar segala rencana jahat mereka gagal (ay 9). Ia berharap agar orang sombong yang menghadang jalannya, kiranya terkena hukuman oleh rencana jahat mereka (ay 10). Pemazmur berharap agar Tuhan menghukum mereka dengan keras. Ada dua bentuk kekerasan yang secara khusus ia sebut di sini, yaitu ditimpa bara api (Sodom dan Gomorah) dan mereka dijebloskan ke dalam jurang yang dalam, dari mana mereka tidak bisa bangkit lagi (ay 11). Ia berharap agar keadilan dan hukum Tuhan akan segera bertindak terhadap pemfitnah dan orang yang suka kekerasan. Diam-diam ia berharap agar mereka segera dilenyapkan dari bumi ini (ay 12).
Walau dengan seru dan gencar ia mengajukan doa permohonannya akan perlindungan, tetapi akhirnya hanya Tuhanlah yang memutuskan apa yang terbaik. Itu sebabnya, di akhir mazmur ini pemazmur menyatakan keyakinannya bahwa Tuhan akan memberi keadilan kepada orang tertindas. Tuhan akan membela perkara orang miskin (ay 13). Jika hal itu sungguh sudah terjadi, maka tiada henti-hentinya mereka akan memuji nama Tuhan. Orang benar dan orang jujur (lawan dari orang jahat dan orang fasik), akan selalu berdiam di hadapan hadirat Allah, untuk memuji dan memuliakan Tuhan yang menegakkan hukum dan keadilan-Nya di muka bumi ini.
Abepura, Papua Juni 2017
Dosen Teologi Biblis FF-UNPAR Bandung, dan STFT Fajar Timur Abepura.
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Wednesday, August 9, 2017
Wednesday, June 28, 2017
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 139
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Mazmur ini berbicara tentang misteri Allah yang mahatahu (omniscient). Tidak ada yang tersembunyi bagi Allah Mahatahu ini. Juga proses terjadinya manusia. Juga hati sanubari manusia. Semua hal ini terungkap dalam judul mazmur dalam Alkitab kita: “Doa di hadapan Allah yang mahatahu”. Mazmur ini cukup panjang: 24 ayat. Untuk memahami dan menikmatinya, saya membagi Mazmur ini menjadi empat bagian: I: ay 1-6; II: ay 7-12; III: ay 13-16; IV 17-24.
Dalam bagian pertama, pemazmur melukiskan misteri pengetahuan Allah yang mahatahu. Tidak ada yang tersembunyi bagi Allah menyangkut hidup dan keberadaan manusia. Tuhan mengenal diri pemazmur (ay 1), luar dan dalam (ay 2-3). Apa saja yang dilakukan manusia, semuanya diketahui Allah (duduk, berdiri, berjalan, berbaring). Pikiran manusia pun diketahuinya (ay 2b). Allah juga tahu terlebih dahulu perkataan yang kita ucapkan (ay 4). Di hadapan Allah, manusia serba “terbuka” (telanjang) (ay 5). Tatkala manusia merenungkan hal itu, akhirnya ia sampai pada satu simpulan bahwa pengetahuan yang teliti itu adalah sesuatu yang sangat ajaib, yang tidak dapat dijangkau dan dipahami oleh manusia (ay 6).
Di hadapan pengetahuan Allah yang Mahatahu tidak ada lagi tempat tersembunyi bagi Allah, di mana manusia dapat berada seakan-akan jauh dari Allah (ay.7-8). Allah serba hadir (ada) di mana-mana (omnipresent). Allah ada di surga (tentu). Juga di dunia orang mati (syeol; ay 8). Juga di ujung bumi (ujung laut), Allah hadir di sana (ay 9). Dalam relung dan tubir kegelapan, Allah juga hadir (ay 11). Bahkan dengan kehadiran Allah, kegelapan diubah menjadi terang (ay 12). Tuhan senantiasa hadir dan ada di mana-mana. Tuhan selalu menuntun manusia, di manapun mereka berada.
Sedemikian ajaibnya pengetahuan Allah sehingga Ia bahkan mengetahui relung misteri awal mula terjadinya manusia (ay 13). Dikatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan jejaring otot hidup dalam rahim ibu. Di sini muncul citra Allah sebagai tukang tenun yang menenun jejaring otot manusia. Pemazmur sadar bahwa proses awal munculnya hidup manusia merupakan keajaiban yang luar biasa mengagumkan (ay 14b), yang disadari oleh jiwanya (14c) sehingga manusia pun mengucapkan syukur atas keajaiban itu (ay 14a). Proses terjadinya tulang-tulang dalam rahim pun diketahui Allah. Tidak ada yang tersembunyi baginya (ay 15). Semua proses dalam rahim ibu, diketahui Allah dan dicatat semuanya dalam buku kehidupan (ay 16).
Setelah pemazmur merenungkan dan memahaminya semua, akhirnya ia menarik simpulan bahwa pikirannya tidak sanggup memahaminya (ay 17). Misteri pikiran Allah tidak terselami akal manusia. Misteri itu diibaratkan dengan jumlah pasir di laut yang tidak terhitung manusia (ay 18). Di hadapan Allah yang mahatahu, sesungguhnya semua upaya manusia melawan Allah sia-sia belaka (ay 19). Dalam ayat 19, terkandung sebuah permohonan agar pemazmur dijauhkan dari orang fasik dan penumpah darah. Tetapi hendaklah disadari bahwa penistaan terhadap Allah, juga penyangkalan akan Allah (ateisme), yang dilakukan orang fasik, semuanya sia-sia belaka (ay 20). Semuanya tidak akan berhasil. Pemazmur mencoba hidup suci, menjauhi orang fasik, membenci mereka yang membenci dan melawan Tuhan (ay 21). Pemazur juga menegaskan bahwa dirinya tidak suka akan orang fasik. Ia sangat membenci orang fasik dan kefasikan (ay 22).
Di bagian akhir mazmur ini pemazmur menegaskan kesucian dan kesalehan hidupnya dengan meminta kepada Allah agar Ia menyelidiki dan mengenal relung hatinya. Pemazmur kiranya mau menegaskan di hadapan Allah betapa ia berusaha hidup suci, jalan hidupnya lurus (tidak bengkang-bengkong, ay 23). Akhirnya, pemazmur memohon kepada Allah agar Ia menuntun di jalan kekal (ay 24). Hal ini penting, agar manusia tidak menyimpang dari jalan Allah, jalan lurus, yang terarah kepada hidup abadi, hidup kekal bersama Allah.
Akhir Juni 2017, STFT Fajar Timur, Abepura, Papua.
Penulis: Dosen Biblika FF-UNPAR Bandung.
Mazmur ini berbicara tentang misteri Allah yang mahatahu (omniscient). Tidak ada yang tersembunyi bagi Allah Mahatahu ini. Juga proses terjadinya manusia. Juga hati sanubari manusia. Semua hal ini terungkap dalam judul mazmur dalam Alkitab kita: “Doa di hadapan Allah yang mahatahu”. Mazmur ini cukup panjang: 24 ayat. Untuk memahami dan menikmatinya, saya membagi Mazmur ini menjadi empat bagian: I: ay 1-6; II: ay 7-12; III: ay 13-16; IV 17-24.
Dalam bagian pertama, pemazmur melukiskan misteri pengetahuan Allah yang mahatahu. Tidak ada yang tersembunyi bagi Allah menyangkut hidup dan keberadaan manusia. Tuhan mengenal diri pemazmur (ay 1), luar dan dalam (ay 2-3). Apa saja yang dilakukan manusia, semuanya diketahui Allah (duduk, berdiri, berjalan, berbaring). Pikiran manusia pun diketahuinya (ay 2b). Allah juga tahu terlebih dahulu perkataan yang kita ucapkan (ay 4). Di hadapan Allah, manusia serba “terbuka” (telanjang) (ay 5). Tatkala manusia merenungkan hal itu, akhirnya ia sampai pada satu simpulan bahwa pengetahuan yang teliti itu adalah sesuatu yang sangat ajaib, yang tidak dapat dijangkau dan dipahami oleh manusia (ay 6).
Di hadapan pengetahuan Allah yang Mahatahu tidak ada lagi tempat tersembunyi bagi Allah, di mana manusia dapat berada seakan-akan jauh dari Allah (ay.7-8). Allah serba hadir (ada) di mana-mana (omnipresent). Allah ada di surga (tentu). Juga di dunia orang mati (syeol; ay 8). Juga di ujung bumi (ujung laut), Allah hadir di sana (ay 9). Dalam relung dan tubir kegelapan, Allah juga hadir (ay 11). Bahkan dengan kehadiran Allah, kegelapan diubah menjadi terang (ay 12). Tuhan senantiasa hadir dan ada di mana-mana. Tuhan selalu menuntun manusia, di manapun mereka berada.
Sedemikian ajaibnya pengetahuan Allah sehingga Ia bahkan mengetahui relung misteri awal mula terjadinya manusia (ay 13). Dikatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan jejaring otot hidup dalam rahim ibu. Di sini muncul citra Allah sebagai tukang tenun yang menenun jejaring otot manusia. Pemazmur sadar bahwa proses awal munculnya hidup manusia merupakan keajaiban yang luar biasa mengagumkan (ay 14b), yang disadari oleh jiwanya (14c) sehingga manusia pun mengucapkan syukur atas keajaiban itu (ay 14a). Proses terjadinya tulang-tulang dalam rahim pun diketahui Allah. Tidak ada yang tersembunyi baginya (ay 15). Semua proses dalam rahim ibu, diketahui Allah dan dicatat semuanya dalam buku kehidupan (ay 16).
Setelah pemazmur merenungkan dan memahaminya semua, akhirnya ia menarik simpulan bahwa pikirannya tidak sanggup memahaminya (ay 17). Misteri pikiran Allah tidak terselami akal manusia. Misteri itu diibaratkan dengan jumlah pasir di laut yang tidak terhitung manusia (ay 18). Di hadapan Allah yang mahatahu, sesungguhnya semua upaya manusia melawan Allah sia-sia belaka (ay 19). Dalam ayat 19, terkandung sebuah permohonan agar pemazmur dijauhkan dari orang fasik dan penumpah darah. Tetapi hendaklah disadari bahwa penistaan terhadap Allah, juga penyangkalan akan Allah (ateisme), yang dilakukan orang fasik, semuanya sia-sia belaka (ay 20). Semuanya tidak akan berhasil. Pemazmur mencoba hidup suci, menjauhi orang fasik, membenci mereka yang membenci dan melawan Tuhan (ay 21). Pemazur juga menegaskan bahwa dirinya tidak suka akan orang fasik. Ia sangat membenci orang fasik dan kefasikan (ay 22).
Di bagian akhir mazmur ini pemazmur menegaskan kesucian dan kesalehan hidupnya dengan meminta kepada Allah agar Ia menyelidiki dan mengenal relung hatinya. Pemazmur kiranya mau menegaskan di hadapan Allah betapa ia berusaha hidup suci, jalan hidupnya lurus (tidak bengkang-bengkong, ay 23). Akhirnya, pemazmur memohon kepada Allah agar Ia menuntun di jalan kekal (ay 24). Hal ini penting, agar manusia tidak menyimpang dari jalan Allah, jalan lurus, yang terarah kepada hidup abadi, hidup kekal bersama Allah.
Akhir Juni 2017, STFT Fajar Timur, Abepura, Papua.
Penulis: Dosen Biblika FF-UNPAR Bandung.
Tuesday, May 30, 2017
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 138
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Mazmur ini dalam Alkitab kita mempunyai judul sbb: “Nyanyian syukur atas pertolongan”. Pemazmur mengalami pertolongan Tuhan dan karena itu ia pun melambungkan nyanyian syukur seperti yang tertera dalam teks Mazmur ini. Mazmur ini terdiri atas delapan ayat. Jadi mazmur ini cukup singkat. Untuk memahaminya, saya membagi Mazmur ini menjadi tiga bagian. Bagian I, ayat 1-3. Bagian III, ayat 4-6. Bagian III, ayat 7-8. Saya mulai dengan melihat Bagian I.
Dalam ayat 1 Pemazmur menyatakan niatnya untuk menghaturkan syukur kepada Tuhan. Ucapan syukur itu dilakukan dengan segenap hati, sehingga walaupun ada dewa-dewa lain, ia tetap mengarahkan mata dan hatinya kepada Allah. Tuhan Allah sudah menetapkan tempat kediamanNya di Yerusalem yaitu Bait SuciNya. Itu sebabnya, pemazmur mengarahkan pandangannya ke Bait Suci (ay 2) untuk memuji nama-Nya. Kira-kira seperti Qiblat dalam tradisi berdoa dari saudara kita Muslim. Dalam ayat ini ada tiga alasan untuk pujian tersebut: karena Tuhan itu kasih, Tuhan itu setia, dan karena nama dan janji Tuhan melampaui segala sesuatu. Pemazmur merasa bahwa doanya dikabulkan Tuhan sehingga ia merasa bahwa jiwanya semakin kuat (ay 3).
Dalam Bagian II (ay 4-6), pemazmur melukiskan reaksi para bangsa di bumi ini yang diwakili para raja. Dikatakan di sana bahwa para raja di bumi bersyukur kepada Tuhan karena mereka mendengar janji Tuhan (ay 4). Mereka mengalami besarnya kemuliaan Tuhan sehingga merekapun mengungkapkan rasa syukur itu dengan nyanyian-nyanyian. Secara khusus di sini disebutkan juga jalan Tuhan (ay 5). Di akhir dari Bagian ini (ay 6) kita menemukan sebuah pelukisan mengenai salah satu sifat Tuhan: Tuhan itu tinggi tetapi ia peduli pada orang hina. Jadi, biarpun Ia sangat tinggi namun Ia memberi perhatian pada orang kecil. Sebaliknya, orang sombong dijauhi Tuhan. Dari jauh Tuhan sudah mengenal orang sombong dan Ia tidak sudi mendekati mereka.
Dalam Bagian III (ay 7-8), pemazmur kembali lagi kepada pengalaman pribadinya akan Tuhan. Beberapa pengalaman itu disebutkan di sini. Misalnya, saat ia merasa berada dalam kesesakan, saat ia diterpa amarah para musuhnya (ay 7). Ia yakin bahwa pada saat ia mengalami situasi-situasi yang sulit, Tuhan tetap membantu dia (mempertahankan hidupku, Tuhan mengulurkan tanganNya, secara khusus disebut tangan kanan). Pemazmur merasa bahwa berkat campur tangan Tuhan, ia selamat. Di awal ayat 8 kita menemukan salah satu ungkapan keyakinan iman si pemazmur. Biasanya dalam keadaan sulit, manusia merasa tidak berdaya. Dalam keadaan seperti itu, manusia hanya bisa berpasrah diri, dan dengan tenang menyerahkan diri dengan diam ke dalam kasih dan penyelenggaraan Tuhan. Tetapi, kata si pemazmur berdasasrkan pengalaman dan keyakinannya, justru dalam keadaan “diam” itulah Tuhan bertindak. Dengan tegas ia berkata: TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Kira-kira seperti dikatakan dalam ungkapan para penulis rohani dewasa ini: Tatkala kita ANGKAT TANGAN (tanda menyerah dan lemah tidak berdaya), maka Tuhan pasti TURUN TANGAN (intervensi untuk melakukan tindakan penyelamatan). Itulah misteri pengalaman iman. Tuhan bertindak di dalam ketidak-berdayaan kita.
Itu sebabnya di bagian akhir Mazmur ini (ay 8) pemazmur mengungkapkan keyakinan imannya lagi tentang pengalaman akan Tuhan. Tuhan itu penuh kasih setia (hesed). Kasih setia Tuhan itu kekal (berlangsung selamanya). Dengan bekal keyakinan akan kasih setia Tuhan yang berlangsung kekal (hingga selama-lamanya) itu, si pemazmur berharap agar Tuhan tidak meninggalkan ciptaanNya (yang dimaksudkan di sini tidak hanya manusia, apalagi hanya pemazmur saja, melainkan seluruh makhluk hidup, yang telah diciptakan Tuhan Allah sendiri). Dengan demikian doa si pemazmur di sini tidak lagi sekadar bersifat personal melainkan bersifat komunal, bahkan mondial dan universal. Luar biasa. Tampak jelas, bahwa di bagian akhir Mazmur ini si pemazmur keluar dari kungkungan lingkaran egonya sendiri dan masuk ke dalam kepedulian dan keprihatinan yang lebih luas dan besar.
Penulis: Dosen teologi biblika FF-UNPAR Bandung.
Mazmur ini dalam Alkitab kita mempunyai judul sbb: “Nyanyian syukur atas pertolongan”. Pemazmur mengalami pertolongan Tuhan dan karena itu ia pun melambungkan nyanyian syukur seperti yang tertera dalam teks Mazmur ini. Mazmur ini terdiri atas delapan ayat. Jadi mazmur ini cukup singkat. Untuk memahaminya, saya membagi Mazmur ini menjadi tiga bagian. Bagian I, ayat 1-3. Bagian III, ayat 4-6. Bagian III, ayat 7-8. Saya mulai dengan melihat Bagian I.
Dalam ayat 1 Pemazmur menyatakan niatnya untuk menghaturkan syukur kepada Tuhan. Ucapan syukur itu dilakukan dengan segenap hati, sehingga walaupun ada dewa-dewa lain, ia tetap mengarahkan mata dan hatinya kepada Allah. Tuhan Allah sudah menetapkan tempat kediamanNya di Yerusalem yaitu Bait SuciNya. Itu sebabnya, pemazmur mengarahkan pandangannya ke Bait Suci (ay 2) untuk memuji nama-Nya. Kira-kira seperti Qiblat dalam tradisi berdoa dari saudara kita Muslim. Dalam ayat ini ada tiga alasan untuk pujian tersebut: karena Tuhan itu kasih, Tuhan itu setia, dan karena nama dan janji Tuhan melampaui segala sesuatu. Pemazmur merasa bahwa doanya dikabulkan Tuhan sehingga ia merasa bahwa jiwanya semakin kuat (ay 3).
Dalam Bagian II (ay 4-6), pemazmur melukiskan reaksi para bangsa di bumi ini yang diwakili para raja. Dikatakan di sana bahwa para raja di bumi bersyukur kepada Tuhan karena mereka mendengar janji Tuhan (ay 4). Mereka mengalami besarnya kemuliaan Tuhan sehingga merekapun mengungkapkan rasa syukur itu dengan nyanyian-nyanyian. Secara khusus di sini disebutkan juga jalan Tuhan (ay 5). Di akhir dari Bagian ini (ay 6) kita menemukan sebuah pelukisan mengenai salah satu sifat Tuhan: Tuhan itu tinggi tetapi ia peduli pada orang hina. Jadi, biarpun Ia sangat tinggi namun Ia memberi perhatian pada orang kecil. Sebaliknya, orang sombong dijauhi Tuhan. Dari jauh Tuhan sudah mengenal orang sombong dan Ia tidak sudi mendekati mereka.
Dalam Bagian III (ay 7-8), pemazmur kembali lagi kepada pengalaman pribadinya akan Tuhan. Beberapa pengalaman itu disebutkan di sini. Misalnya, saat ia merasa berada dalam kesesakan, saat ia diterpa amarah para musuhnya (ay 7). Ia yakin bahwa pada saat ia mengalami situasi-situasi yang sulit, Tuhan tetap membantu dia (mempertahankan hidupku, Tuhan mengulurkan tanganNya, secara khusus disebut tangan kanan). Pemazmur merasa bahwa berkat campur tangan Tuhan, ia selamat. Di awal ayat 8 kita menemukan salah satu ungkapan keyakinan iman si pemazmur. Biasanya dalam keadaan sulit, manusia merasa tidak berdaya. Dalam keadaan seperti itu, manusia hanya bisa berpasrah diri, dan dengan tenang menyerahkan diri dengan diam ke dalam kasih dan penyelenggaraan Tuhan. Tetapi, kata si pemazmur berdasasrkan pengalaman dan keyakinannya, justru dalam keadaan “diam” itulah Tuhan bertindak. Dengan tegas ia berkata: TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Kira-kira seperti dikatakan dalam ungkapan para penulis rohani dewasa ini: Tatkala kita ANGKAT TANGAN (tanda menyerah dan lemah tidak berdaya), maka Tuhan pasti TURUN TANGAN (intervensi untuk melakukan tindakan penyelamatan). Itulah misteri pengalaman iman. Tuhan bertindak di dalam ketidak-berdayaan kita.
Itu sebabnya di bagian akhir Mazmur ini (ay 8) pemazmur mengungkapkan keyakinan imannya lagi tentang pengalaman akan Tuhan. Tuhan itu penuh kasih setia (hesed). Kasih setia Tuhan itu kekal (berlangsung selamanya). Dengan bekal keyakinan akan kasih setia Tuhan yang berlangsung kekal (hingga selama-lamanya) itu, si pemazmur berharap agar Tuhan tidak meninggalkan ciptaanNya (yang dimaksudkan di sini tidak hanya manusia, apalagi hanya pemazmur saja, melainkan seluruh makhluk hidup, yang telah diciptakan Tuhan Allah sendiri). Dengan demikian doa si pemazmur di sini tidak lagi sekadar bersifat personal melainkan bersifat komunal, bahkan mondial dan universal. Luar biasa. Tampak jelas, bahwa di bagian akhir Mazmur ini si pemazmur keluar dari kungkungan lingkaran egonya sendiri dan masuk ke dalam kepedulian dan keprihatinan yang lebih luas dan besar.
Penulis: Dosen teologi biblika FF-UNPAR Bandung.
Saturday, May 27, 2017
MASA PASKAH
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Beberapa hari lalu kita merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Sebentar lagi kita akan merayakan Hari Raya Pentakosta. Dengan itu maka masa Paskah akan berakhir dan kita akan segera memasuki masa biasa. Namun sebelum masa Paskah itu berlalu, saya mau memberikan sebuah catatan ringan tentang masa itu.
Dalam permenungan pribadi saya, Masa Paskah itu adalah sebuah masa yang sangat istimewa dalam rentang seluruh tahun liturgi kita. Mengapa ia sangat istimewa? Karena dalam rentang masa itu kita merayakan hari raya Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus dari alam maut. Ia bangkit dan mengalahkan kematian. Kunci kerajaan maut telah ia dobrak.
Nah, untuk dapat melihat dan merasakan keistimewaan masa Paskah ini, ada baiknya kita membandingkannya dengan masa-masa yang lain di sepanjang tahun liturgi gereja. Sesudah masa biasa, masa paskah merupakan masa liturgis yang panjang. Kiranya itulah keistimewaan yang pertama walaupun dalam hal itu ia menduduki urutan kedua sesudah masa biasa (dalam hal rentang panjang waktunya). Perbedaan lain terletak dalam fakta bahwa masa Paskah itu sangat berbeda dari masa-masa yang lain. Manakah perbedaannya itu? Mari kita buat sebuah perbandingan sekilas dengan masa-masa yang lain dalam tahun liturgi gereja.
Pertama, Masa Advent adalah masa persiapan untuk Natal (persiapan menuju sesuatu yang lain). Tetapi para ahli teologi liturgi berkata bahwa masa adven itu pada dasarnya mempunyai fokus ganda: pertama, sebagai persiapan menuju hari raya Natal, dan kedua, sebagai sebuah persiapan antisipatif untuk menyongsong kedatangan Kristus untuk kedua kalinya (parousia) pada akhir jaman kelak. Jadi, yang satu itu bersifat jangka pendek, yaitu akan segera tiba atau terjadi setelah empat pekan (masa adven itu sendiri berlangsung selama empat pekan). Yang satunya lagi bersifat jangka panjang, yaitu baru akan terjadi kelak pada akhir jaman nanti. Atas dasar ini orang lalu biasa dan bisa berkata bahwa Perayaan Natal juga akhirnya mengandung nuansa eskatologis, mengarahkan perhatian dan mempersiapkan kita untuk menyongsong kedatangan Kristus untuk kedua kalinya pada akhir jaman kelak.
Kedua, masa prapaskah. Rentang masa ini juga adalah sebuah masa persiapan untuk hari Raya Paskah (persiapan menuju sesuatu yang lain). Sebagaimana halnya masa advent, masa pra-paskah yang juga disebut masa puasa (saya lebih suka akan sebutan ini, karena jelas sekali tujuan dan maksudnya) ini juga terarah kepada sesuatu yang lain yang lebih besar dan lebih tinggi. Masa biasa membentuk satu keseluruhan yang utuh terintegrasi. Masa ini membentang dari pesta pembaptisan Tuhan sampai hari Rabu Abu dan juga mulai dari hari Senin sesudah Pentakosta sampai hari Sabtu sebelum atau menjelang Minggu pertama masa Adven (yang tidak lain adalah tahun baru liturgi gereja).
Nah, berbeda dengan itu semuanya, masa Paskah itu bukanlah sebuah persiapan untuk sesuatu yang lain, untuk suatu hari raya misalnya. Ia adalah sebuah masa dalam dan untuk dirinya sendiri saja. Masa Paskah itu tidak lain adalah sebuah perpanjangan dari Hari raya yang baru saja dirayakan yaitu paskah. Seakan-akan gema alleluia paskah (yang kita serukan sejak malam Paskah itu) tidak cukup digemakan selama hari Minggu Paskah itu saja dan selama masa Oktaf Paskah saja, melainkan harus terus digemakan selama hampir limapuluh hari, atau tujuh pekanan. Seakan-akan seluruh masa limapuluh hari itu dirayakan sebagai satu hari raya saja, dalam mana orang menggemakan alleluia paskah tadi. Oleh karena itu, ada orang yang berkata bahwa seluruh masa itu boleh disebut satu kesatuan sebagai hari Minggu agung, the great Sunday.
Ya, itu adalah sebuah hari Minggu yang agung, dalam mana kita nyanyikan Alleluia dengan penuh semangat, dengan lantang dan riang gembira. Hari Raya paskah adalah hari raya penuh sukacita, penuh kegembiraan, penuh nada-nada optimisme, dan penuh dengan nuansa pengharapan.
Di sini saya tiba-tiba teringat akan kritik seseorang teragama agama Kristen (kalau tidak salah, Freud, atau malah Nietzsche, pokoknya salah satu dari mereka berdua) bahwa agama Kristen itu katanya membawa kabar sukacita, tetapi hari orang Kristen (setidaknya yang dilihat dan dialami sang kritikus tadi) sama sekali tidak mencerminkan nuansa sukacita dan pengharapan tersebut. Saya tidak mau repot-repot dengan upaya mengkritik balik atau menolak anggapan seperti itu. Saya hanya mau melihatnya secara positif saja, dengan pikiran dan kehendak yang baik: Mungkin pengamatan dia itu benar adanya, karena kita masih belum cukup kuat menghayati dan memancarkan rasa sukacita dan nuansa pengharapan yang ditandai dan dirahmati daya-daya kebangkitan itu.
Oleh karena itu, menjelang lewatnya masa paskah ini, saya menghimbau kepada kaum beriman semuanya, agar hidup kita hendaknya bahkan harusnya memancarkan kabar sukacita kebangkitan itu. Ayo bangkit. Ayo bangkit. Alleluya. Alleluya.
Kopo, 27 Mei 2017
Beberapa hari lalu kita merayakan Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Sebentar lagi kita akan merayakan Hari Raya Pentakosta. Dengan itu maka masa Paskah akan berakhir dan kita akan segera memasuki masa biasa. Namun sebelum masa Paskah itu berlalu, saya mau memberikan sebuah catatan ringan tentang masa itu.
Dalam permenungan pribadi saya, Masa Paskah itu adalah sebuah masa yang sangat istimewa dalam rentang seluruh tahun liturgi kita. Mengapa ia sangat istimewa? Karena dalam rentang masa itu kita merayakan hari raya Kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus dari alam maut. Ia bangkit dan mengalahkan kematian. Kunci kerajaan maut telah ia dobrak.
Nah, untuk dapat melihat dan merasakan keistimewaan masa Paskah ini, ada baiknya kita membandingkannya dengan masa-masa yang lain di sepanjang tahun liturgi gereja. Sesudah masa biasa, masa paskah merupakan masa liturgis yang panjang. Kiranya itulah keistimewaan yang pertama walaupun dalam hal itu ia menduduki urutan kedua sesudah masa biasa (dalam hal rentang panjang waktunya). Perbedaan lain terletak dalam fakta bahwa masa Paskah itu sangat berbeda dari masa-masa yang lain. Manakah perbedaannya itu? Mari kita buat sebuah perbandingan sekilas dengan masa-masa yang lain dalam tahun liturgi gereja.
Pertama, Masa Advent adalah masa persiapan untuk Natal (persiapan menuju sesuatu yang lain). Tetapi para ahli teologi liturgi berkata bahwa masa adven itu pada dasarnya mempunyai fokus ganda: pertama, sebagai persiapan menuju hari raya Natal, dan kedua, sebagai sebuah persiapan antisipatif untuk menyongsong kedatangan Kristus untuk kedua kalinya (parousia) pada akhir jaman kelak. Jadi, yang satu itu bersifat jangka pendek, yaitu akan segera tiba atau terjadi setelah empat pekan (masa adven itu sendiri berlangsung selama empat pekan). Yang satunya lagi bersifat jangka panjang, yaitu baru akan terjadi kelak pada akhir jaman nanti. Atas dasar ini orang lalu biasa dan bisa berkata bahwa Perayaan Natal juga akhirnya mengandung nuansa eskatologis, mengarahkan perhatian dan mempersiapkan kita untuk menyongsong kedatangan Kristus untuk kedua kalinya pada akhir jaman kelak.
Kedua, masa prapaskah. Rentang masa ini juga adalah sebuah masa persiapan untuk hari Raya Paskah (persiapan menuju sesuatu yang lain). Sebagaimana halnya masa advent, masa pra-paskah yang juga disebut masa puasa (saya lebih suka akan sebutan ini, karena jelas sekali tujuan dan maksudnya) ini juga terarah kepada sesuatu yang lain yang lebih besar dan lebih tinggi. Masa biasa membentuk satu keseluruhan yang utuh terintegrasi. Masa ini membentang dari pesta pembaptisan Tuhan sampai hari Rabu Abu dan juga mulai dari hari Senin sesudah Pentakosta sampai hari Sabtu sebelum atau menjelang Minggu pertama masa Adven (yang tidak lain adalah tahun baru liturgi gereja).
Nah, berbeda dengan itu semuanya, masa Paskah itu bukanlah sebuah persiapan untuk sesuatu yang lain, untuk suatu hari raya misalnya. Ia adalah sebuah masa dalam dan untuk dirinya sendiri saja. Masa Paskah itu tidak lain adalah sebuah perpanjangan dari Hari raya yang baru saja dirayakan yaitu paskah. Seakan-akan gema alleluia paskah (yang kita serukan sejak malam Paskah itu) tidak cukup digemakan selama hari Minggu Paskah itu saja dan selama masa Oktaf Paskah saja, melainkan harus terus digemakan selama hampir limapuluh hari, atau tujuh pekanan. Seakan-akan seluruh masa limapuluh hari itu dirayakan sebagai satu hari raya saja, dalam mana orang menggemakan alleluia paskah tadi. Oleh karena itu, ada orang yang berkata bahwa seluruh masa itu boleh disebut satu kesatuan sebagai hari Minggu agung, the great Sunday.
Ya, itu adalah sebuah hari Minggu yang agung, dalam mana kita nyanyikan Alleluia dengan penuh semangat, dengan lantang dan riang gembira. Hari Raya paskah adalah hari raya penuh sukacita, penuh kegembiraan, penuh nada-nada optimisme, dan penuh dengan nuansa pengharapan.
Di sini saya tiba-tiba teringat akan kritik seseorang teragama agama Kristen (kalau tidak salah, Freud, atau malah Nietzsche, pokoknya salah satu dari mereka berdua) bahwa agama Kristen itu katanya membawa kabar sukacita, tetapi hari orang Kristen (setidaknya yang dilihat dan dialami sang kritikus tadi) sama sekali tidak mencerminkan nuansa sukacita dan pengharapan tersebut. Saya tidak mau repot-repot dengan upaya mengkritik balik atau menolak anggapan seperti itu. Saya hanya mau melihatnya secara positif saja, dengan pikiran dan kehendak yang baik: Mungkin pengamatan dia itu benar adanya, karena kita masih belum cukup kuat menghayati dan memancarkan rasa sukacita dan nuansa pengharapan yang ditandai dan dirahmati daya-daya kebangkitan itu.
Oleh karena itu, menjelang lewatnya masa paskah ini, saya menghimbau kepada kaum beriman semuanya, agar hidup kita hendaknya bahkan harusnya memancarkan kabar sukacita kebangkitan itu. Ayo bangkit. Ayo bangkit. Alleluya. Alleluya.
Kopo, 27 Mei 2017
Wednesday, May 10, 2017
PENGALAMAN “JERAMI KERING” THOMAS AQUINAS
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Pada tahun 1272-1274, Thomas mendapat tugas dari Ordonya (Ordo Praedicatorum, Ordo Pengkotbah, atau lebih sering dikenal dengan sebutan Dominikan) untuk berangkat ke Napoli. Di sana ia ditugaskan secara khusus untuk mendirikan sebuah pusat studi khusus untuk kaum Dominikan. Namun perlu disadari bahwa ini merupakan tahun-tahun terakhir dalam masa hidup Thomas. Sembari melakukan tugas umum tersebut, Thomas juga berusaha merampungkan proyek besarnya, yaitu Summa Theologia. Tentu saja hal itu masuk akal, sebab ia sudah lama membaktikan seluruh hidupnya untuk proyek tersebut.
Tetapi tanpa diduga-duga sama sekali, pada tahun 1273 Thomas mengalami sebuah pengalaman mistik. Hal itu tidak mengherankan juga karena memang Thomas Aquinas juga adalah seorang yang hidup rohani dan hidup doanya sangat mendalam dan intens. Bahwa ia akhirnya terseret ke dalam sebuah pengalaman mistik, kiranya hal itu adalah buah dari kehidupan rohaninya yang matang dan mendalam. Pengalaman rohani mistik ini sangat penting bagi seluruh kehidupan Thomas, sebab setelah ia mengalami pengalaman mistik tersebut, Thomas tidak mau lagi melanjutkan atau merampungkan proyek teologinya yang sudah disebutkan di atas tadi. Padahal itu hanya sebuah suplemen saja, bukan proyek inti. Padahal juga ia sudah menyiapkan banyak catatan persiapan untuk tujuan tersebut. Bahkan persiapan-persiapan tersebut sesungguhnya sudah sangat matang. Tinggal penyempurnaan akhir saja, tinggal sebuah finishing touch.
Tetapi ia sama sekali tidak mau lagi melanjutkan proyek itu. Melihat hal tersebut, maka sang sekretaris, Reginaldus, pun mendorong dan meminta dia untuk merampungkan proyek tersebut. Jawaban Thomas sangat mengejutkan sebagai seorang intelektual besar: “Non possum”. Artinya, saya tidak sanggup lagi. Aneh sekali. Orang yang pintarnya sekaliber Thomas merasa sudah tidak mampu lagi melanjutkan karya ilmiahnya di bidang teologi. Maka ketidak mampuan ini harus diberi sebuah penjelasan lain. Ini bukan sebuah gejala hilangnya kemampuan dan kecerdasan intelektual secara tiba-tiba.
Apa yang sesungguhnya terjadi pada diri Thomas Aquinas, sehingga ia mengatakan bahwa dirinya sudah tidak mampu lagi melanjutkan dan merampungkan karya tersebut? Dikatakan bahwa pengalaman mistik yang dialami oleh Thomas itu sangat indah. Itu adalah pengalaman perjumpaan iman yang sangat bersifat pribadi akan Allah, khususnya akan Allah Tritunggal Mahakudus yang dikenal melalui totalitas peristiwa Yesus Kristus. Pengalaman itu sedemikian indah, intens, dan mendalam, sehingga Thomas merasa bahwa seluruh apa yang sudah ia hasilkan selama ini, tidak ada artinya apa-apa lagi jika dibandingkan dengan momen-momen pengalaman mistik itu. Sedemikian indah dan dalamnya pengalaman itu sehingga ia merasa bahwa seluruh karya tulis ilmiah teologis yang telah ia hasilkan selama ini tidak lain hanyalah “jerami kering” belaka.
Ungkapan “jerami kering” itu hanya mau menunjukkan betapa tidak berartinya lagi seluruh olah rasional dia selama ini di hadapan misteri agung yang menyingkapkan diri dalam dan selama pengalaman mistik tersebut. Seluruh diri Thomas, seakan-akan terserap dan terseret ke dalam pusaran misteri pengalaman mistik tersebut sehingga ia merasa bahwa hanya itu saja yang perlu dan berharga dalam hidup ini, dan yang lain-lain sudah tidak perlu lagi, dan bahkan bila perlu dibuang saja (laksana orang membuang jerami kering yang sudah berguna lagi bahkan sebagai pakan ternak sekalipun).
Tentu saja tidak demikian. Kita tetap harus sadar dan ingat bahwa Thomas bisa sampai ke samudera pengalaman seperti itu, karena semua olah pemikiran teologis dan spiritual dia selama ini. Semua lorong itu telah membantu dia sampai ke pengalaman mistik itu. Hal itu masuk akal sebab ia melakukan semua aktifitas intelektualnya benar-benar sebagai seorang yang beriman Kristiani sejati, sebagai seorang pendoa yang tekun dan saleh. Sadar bahwa Thomas sudah tidak bisa lagi diajak untuk merampungkan suplemen bagi karyanya tersebut, maka Reginaldus, sang sekretaris, dengan memakai pelbagai catatan-catatan persiapan yang sudah dibuat oleh Thomas sendiri, mencoba merampungkan karya suplemen tersebut. Dan puji Tuhan, suplemen itu pun sudah sampai kepada kita dalam keadaan utuh dan lengkap.
Pada tahun 1272-1274, Thomas mendapat tugas dari Ordonya (Ordo Praedicatorum, Ordo Pengkotbah, atau lebih sering dikenal dengan sebutan Dominikan) untuk berangkat ke Napoli. Di sana ia ditugaskan secara khusus untuk mendirikan sebuah pusat studi khusus untuk kaum Dominikan. Namun perlu disadari bahwa ini merupakan tahun-tahun terakhir dalam masa hidup Thomas. Sembari melakukan tugas umum tersebut, Thomas juga berusaha merampungkan proyek besarnya, yaitu Summa Theologia. Tentu saja hal itu masuk akal, sebab ia sudah lama membaktikan seluruh hidupnya untuk proyek tersebut.
Tetapi tanpa diduga-duga sama sekali, pada tahun 1273 Thomas mengalami sebuah pengalaman mistik. Hal itu tidak mengherankan juga karena memang Thomas Aquinas juga adalah seorang yang hidup rohani dan hidup doanya sangat mendalam dan intens. Bahwa ia akhirnya terseret ke dalam sebuah pengalaman mistik, kiranya hal itu adalah buah dari kehidupan rohaninya yang matang dan mendalam. Pengalaman rohani mistik ini sangat penting bagi seluruh kehidupan Thomas, sebab setelah ia mengalami pengalaman mistik tersebut, Thomas tidak mau lagi melanjutkan atau merampungkan proyek teologinya yang sudah disebutkan di atas tadi. Padahal itu hanya sebuah suplemen saja, bukan proyek inti. Padahal juga ia sudah menyiapkan banyak catatan persiapan untuk tujuan tersebut. Bahkan persiapan-persiapan tersebut sesungguhnya sudah sangat matang. Tinggal penyempurnaan akhir saja, tinggal sebuah finishing touch.
Tetapi ia sama sekali tidak mau lagi melanjutkan proyek itu. Melihat hal tersebut, maka sang sekretaris, Reginaldus, pun mendorong dan meminta dia untuk merampungkan proyek tersebut. Jawaban Thomas sangat mengejutkan sebagai seorang intelektual besar: “Non possum”. Artinya, saya tidak sanggup lagi. Aneh sekali. Orang yang pintarnya sekaliber Thomas merasa sudah tidak mampu lagi melanjutkan karya ilmiahnya di bidang teologi. Maka ketidak mampuan ini harus diberi sebuah penjelasan lain. Ini bukan sebuah gejala hilangnya kemampuan dan kecerdasan intelektual secara tiba-tiba.
Apa yang sesungguhnya terjadi pada diri Thomas Aquinas, sehingga ia mengatakan bahwa dirinya sudah tidak mampu lagi melanjutkan dan merampungkan karya tersebut? Dikatakan bahwa pengalaman mistik yang dialami oleh Thomas itu sangat indah. Itu adalah pengalaman perjumpaan iman yang sangat bersifat pribadi akan Allah, khususnya akan Allah Tritunggal Mahakudus yang dikenal melalui totalitas peristiwa Yesus Kristus. Pengalaman itu sedemikian indah, intens, dan mendalam, sehingga Thomas merasa bahwa seluruh apa yang sudah ia hasilkan selama ini, tidak ada artinya apa-apa lagi jika dibandingkan dengan momen-momen pengalaman mistik itu. Sedemikian indah dan dalamnya pengalaman itu sehingga ia merasa bahwa seluruh karya tulis ilmiah teologis yang telah ia hasilkan selama ini tidak lain hanyalah “jerami kering” belaka.
Ungkapan “jerami kering” itu hanya mau menunjukkan betapa tidak berartinya lagi seluruh olah rasional dia selama ini di hadapan misteri agung yang menyingkapkan diri dalam dan selama pengalaman mistik tersebut. Seluruh diri Thomas, seakan-akan terserap dan terseret ke dalam pusaran misteri pengalaman mistik tersebut sehingga ia merasa bahwa hanya itu saja yang perlu dan berharga dalam hidup ini, dan yang lain-lain sudah tidak perlu lagi, dan bahkan bila perlu dibuang saja (laksana orang membuang jerami kering yang sudah berguna lagi bahkan sebagai pakan ternak sekalipun).
Tentu saja tidak demikian. Kita tetap harus sadar dan ingat bahwa Thomas bisa sampai ke samudera pengalaman seperti itu, karena semua olah pemikiran teologis dan spiritual dia selama ini. Semua lorong itu telah membantu dia sampai ke pengalaman mistik itu. Hal itu masuk akal sebab ia melakukan semua aktifitas intelektualnya benar-benar sebagai seorang yang beriman Kristiani sejati, sebagai seorang pendoa yang tekun dan saleh. Sadar bahwa Thomas sudah tidak bisa lagi diajak untuk merampungkan suplemen bagi karyanya tersebut, maka Reginaldus, sang sekretaris, dengan memakai pelbagai catatan-catatan persiapan yang sudah dibuat oleh Thomas sendiri, mencoba merampungkan karya suplemen tersebut. Dan puji Tuhan, suplemen itu pun sudah sampai kepada kita dalam keadaan utuh dan lengkap.
Friday, April 21, 2017
MENIKMATI DAN MEMAHAMI MAZMUR 137
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Mazmur ini terkenal karena sering dipakai dalam liturgi Gereja Katolik (terutama Brevirium) dan menjadi populer antara lain karena sebuah kelompok musik Afro-American dengan penyanyi Boney M pada tahun 60-an dan 70-an mengangkat Mazmur 137 ini sebagai teks lagu pop-reggae mereka: By the river of Babylon.
Mazmur ini cukup pendek: terdiri atas 9 ayat. Untuk memahaminya saya membaginya menjadi dua bagian: Bagian I: ayat 1-6. Bagian II: ayat 7-9. Kita mulai dengan bagian I. Dalam ayat 1 pemazmur seperti terseret ke dalam lamunan nostalgia, mengenang nasib tragis mereka di pembuangan, Babel. Saat itu mereka duduk di tepi sungai Babel (mungkin Eufrat dan Tigris, mungkin juga kanal-kanal di kota itu) sambil menangis. Mereka menangis karena teringat Sion (Yerusalem). Mereka menggantung kecapi mereka pada pohon gandarusa di tepi sungai itu (ayat 2). Dalam ayat 3 kita melihat sebuah situasi kontras: mereka menangis sedih, tetapi orang yang menawan mereka meminta agar mereka menyanyikan nyanyian sukacita. Di sini kepedihan dan kesedihan menjadi-jadi. Wajar jika mereka berduka, tetapi dipaksa untuk bernyanyi suka. Itu sangat paradoksal.
Paradoks itulah yang melahirkan pertanyaan retoris dalam ayat 4: para penindas meminta diperdengarkan nyanyian dari Sion. Itu artinya nyanyian yang berasal dari dan biasanya dinyanyikan di Tempat Kudus di Yerusalem. Bagi orang Israel nyanyian di tempat kudus hanya boleh dinyanyikan di tempat kudus itu. Tidak bisa dan tidak boleh dinyanyikan di sembarang tempat lain. Di sini mereka tidak boleh menyanyikan nyanyian Tuhan di tanah asing, tanah najis. Tetapi mereka dipaksa berbuat begitu. Terjadilah penindasan berlapis-lapis: penindasan fisik, dan rohani sekaligus. Jadi pembuangan adalah sebentuk penindasan total.
Dari dalam situasi tertindas seperti inilah muncul janji dan sumpah dalam ayat 5-6. Sumpah itu diucapkan secara bersyarat setelah peristiwa itu terjadi. Ini terasa aneh. Pemazmur bersumpah. Dalam sumpah itu ia mengucapkan dua hal: pertama, biarlah menjadi kering tangan kananku jika aku melupakan engkau Yerusalem (padahal ia melupakan). Kedua, biarlah lidahku melekat pada langit-langitku jika aku sampai melupakan engkau Yerusalem (kenyataannya ia lupa). Perhatikan baik-baik bahwa ayat 5-6 ini mempunyai struktur khusus: dimulai dengan jika (kondisional) lalu disusul dengan janji (ayat 5). Ayat 6 mempunyai struktur yang terbalik: dimulai dengan janji, disusul dengan sebuah syarat (jika).
Ayat 5 memakai kata “lupa”, sedangkan ayat 6 memakai frasa “tidak ingat”. Tangan kanan umumnya dipakai bekerja. Kalau tangan kanan itu dipotong, maka itu sama dengan tidak bisa bekerja, dan tidak bisa bekerja berarti tidak dapat makan, dan ini sama dengan kematian. Lidah dipakai untuk berbicara, bernyanyi, dan memuji. Lidah itu adalah alat tutur dalam mulut manusia. Tanpa lidah manusia sulit berbicara. Mungkin itu sebabnya dalam bahasa Inggris kata tongue dipakai untuk bahasa maupun untuk lidah. Yerusalem sebagai sumber dan puncak sukacita. Jika ini semua tidak lagi diingat maka hal itu sama dengan kematian.
Akhirnya, saya memberi catatan khusus untuk ayat 7-9. Ayat-ayat ini tidak dipakai dalam liturgi Gereja (doa-doa, breviarium, bacaan liturgis), karena isinya yang kejam berupa dendam dan kekerasan ngeri. Liturgi kita sangat selektif dalam menyaring teks Kitab Suci yang dibacakan dalam perayaan liturgis komunal. Ini adalah salah satu tanda bahwa liturgi mempunyai otoritas kanonnya sendiri: tidak otomatis teks yang masuk kanon, bisa masuk ke dalam kanon liturgis.
Ada dua bangsa yang disebut di sini. Pertama, Edom. Diduga mereka ikut membantu Babel saat menghancurkan Yerusalem. Mungkin Edom menghendaki penghancuran itu. Kedua, Puteri Babel. Mereka ini dicap sebagai orang yang suka kekerasan. Pemazmur berharap ada yang bakal membalas semua kekejaman dan kekerasan yang mereka lakukan pada suatu saat di masa yang akan datang, sebuah tindakan balas dendam yang setimpal dengan apa yang telah mereka lakukan terhadap Yerusalem di masa silam.
Ayat 9 itu mengerikan. Ia berharap akan ada kekejaman seperti itu di masa depan, sebuah aksi balas dendam atau kekejaman yang sama yang dilakukan sebelumnya. Intuisi liturgis gereja sangat tepat. Gereja tidak mengadopsi hal ini dalam liturgi, sebab jika ini dibacakan maka itu sama dengan mengajarkan balas dendam, membangkitkan rantai kekerasan, dan hal itu bertentangan dengan ajaran kasih Tuhan Yesus. Ketika Petrus memakai kekerasan dalam penangkapan Yesus di taman Getsemani, Tuhan meminta Petrus agar tidak memakai pedang sebab hal itu akan mendatangkan mata rantai kekerasan berkepanjangan. Dari salib Tuhan Yesus mengajarkan cinta kasih dan pengampunan atas mereka yang menyebabkan terjadinya sengsara dan penderitaan itu.
Bandung, Desember 2010
Dosen Teologi Biblika, FF-UNPAR Bandung.
Mazmur ini terkenal karena sering dipakai dalam liturgi Gereja Katolik (terutama Brevirium) dan menjadi populer antara lain karena sebuah kelompok musik Afro-American dengan penyanyi Boney M pada tahun 60-an dan 70-an mengangkat Mazmur 137 ini sebagai teks lagu pop-reggae mereka: By the river of Babylon.
Mazmur ini cukup pendek: terdiri atas 9 ayat. Untuk memahaminya saya membaginya menjadi dua bagian: Bagian I: ayat 1-6. Bagian II: ayat 7-9. Kita mulai dengan bagian I. Dalam ayat 1 pemazmur seperti terseret ke dalam lamunan nostalgia, mengenang nasib tragis mereka di pembuangan, Babel. Saat itu mereka duduk di tepi sungai Babel (mungkin Eufrat dan Tigris, mungkin juga kanal-kanal di kota itu) sambil menangis. Mereka menangis karena teringat Sion (Yerusalem). Mereka menggantung kecapi mereka pada pohon gandarusa di tepi sungai itu (ayat 2). Dalam ayat 3 kita melihat sebuah situasi kontras: mereka menangis sedih, tetapi orang yang menawan mereka meminta agar mereka menyanyikan nyanyian sukacita. Di sini kepedihan dan kesedihan menjadi-jadi. Wajar jika mereka berduka, tetapi dipaksa untuk bernyanyi suka. Itu sangat paradoksal.
Paradoks itulah yang melahirkan pertanyaan retoris dalam ayat 4: para penindas meminta diperdengarkan nyanyian dari Sion. Itu artinya nyanyian yang berasal dari dan biasanya dinyanyikan di Tempat Kudus di Yerusalem. Bagi orang Israel nyanyian di tempat kudus hanya boleh dinyanyikan di tempat kudus itu. Tidak bisa dan tidak boleh dinyanyikan di sembarang tempat lain. Di sini mereka tidak boleh menyanyikan nyanyian Tuhan di tanah asing, tanah najis. Tetapi mereka dipaksa berbuat begitu. Terjadilah penindasan berlapis-lapis: penindasan fisik, dan rohani sekaligus. Jadi pembuangan adalah sebentuk penindasan total.
Dari dalam situasi tertindas seperti inilah muncul janji dan sumpah dalam ayat 5-6. Sumpah itu diucapkan secara bersyarat setelah peristiwa itu terjadi. Ini terasa aneh. Pemazmur bersumpah. Dalam sumpah itu ia mengucapkan dua hal: pertama, biarlah menjadi kering tangan kananku jika aku melupakan engkau Yerusalem (padahal ia melupakan). Kedua, biarlah lidahku melekat pada langit-langitku jika aku sampai melupakan engkau Yerusalem (kenyataannya ia lupa). Perhatikan baik-baik bahwa ayat 5-6 ini mempunyai struktur khusus: dimulai dengan jika (kondisional) lalu disusul dengan janji (ayat 5). Ayat 6 mempunyai struktur yang terbalik: dimulai dengan janji, disusul dengan sebuah syarat (jika).
Ayat 5 memakai kata “lupa”, sedangkan ayat 6 memakai frasa “tidak ingat”. Tangan kanan umumnya dipakai bekerja. Kalau tangan kanan itu dipotong, maka itu sama dengan tidak bisa bekerja, dan tidak bisa bekerja berarti tidak dapat makan, dan ini sama dengan kematian. Lidah dipakai untuk berbicara, bernyanyi, dan memuji. Lidah itu adalah alat tutur dalam mulut manusia. Tanpa lidah manusia sulit berbicara. Mungkin itu sebabnya dalam bahasa Inggris kata tongue dipakai untuk bahasa maupun untuk lidah. Yerusalem sebagai sumber dan puncak sukacita. Jika ini semua tidak lagi diingat maka hal itu sama dengan kematian.
Akhirnya, saya memberi catatan khusus untuk ayat 7-9. Ayat-ayat ini tidak dipakai dalam liturgi Gereja (doa-doa, breviarium, bacaan liturgis), karena isinya yang kejam berupa dendam dan kekerasan ngeri. Liturgi kita sangat selektif dalam menyaring teks Kitab Suci yang dibacakan dalam perayaan liturgis komunal. Ini adalah salah satu tanda bahwa liturgi mempunyai otoritas kanonnya sendiri: tidak otomatis teks yang masuk kanon, bisa masuk ke dalam kanon liturgis.
Ada dua bangsa yang disebut di sini. Pertama, Edom. Diduga mereka ikut membantu Babel saat menghancurkan Yerusalem. Mungkin Edom menghendaki penghancuran itu. Kedua, Puteri Babel. Mereka ini dicap sebagai orang yang suka kekerasan. Pemazmur berharap ada yang bakal membalas semua kekejaman dan kekerasan yang mereka lakukan pada suatu saat di masa yang akan datang, sebuah tindakan balas dendam yang setimpal dengan apa yang telah mereka lakukan terhadap Yerusalem di masa silam.
Ayat 9 itu mengerikan. Ia berharap akan ada kekejaman seperti itu di masa depan, sebuah aksi balas dendam atau kekejaman yang sama yang dilakukan sebelumnya. Intuisi liturgis gereja sangat tepat. Gereja tidak mengadopsi hal ini dalam liturgi, sebab jika ini dibacakan maka itu sama dengan mengajarkan balas dendam, membangkitkan rantai kekerasan, dan hal itu bertentangan dengan ajaran kasih Tuhan Yesus. Ketika Petrus memakai kekerasan dalam penangkapan Yesus di taman Getsemani, Tuhan meminta Petrus agar tidak memakai pedang sebab hal itu akan mendatangkan mata rantai kekerasan berkepanjangan. Dari salib Tuhan Yesus mengajarkan cinta kasih dan pengampunan atas mereka yang menyebabkan terjadinya sengsara dan penderitaan itu.
Bandung, Desember 2010
Dosen Teologi Biblika, FF-UNPAR Bandung.
IVAN ILLICH DAN CARLO CARETTO
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Sudah lama sekali saya mengenal sebuah buku yang ditulis oleh seorang penulis dari Italia yang terkenal, yaitu bruder Carlo Caretto. Buku itu bahkan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Bosko Beding dan diterbitkan oleh Penerbit Nusa Indah, Ende Flores, pada tahun 1981. Judulnya: SURAT-SURAT DARI PADANG GURUN. Pada saat itu saya sudah membacanya juga dengan sangat tekun dan penuh minat, sebab pada saat itu saya sedang menjalani tahun postulat dalam Ordo Fratrum Minorum di Biara Santo Yosef, Pagal, Manggarai, Flores, NTT. Bagi saya, buku itu adalah sebuah buku yang sangat menarik dan sangat inspiratif juga dengan pelbagai percikan refleksi dari seorang pertapa yang hidup bertapa di padang gurun. Di Novisiat Papringan, Yogyakarta, Bruder Bram semakin dalam memperkenalkan kepadaku sosok Caretto ini dan sosok sang pendiri serikatnya. Caretto, pada dasarnya, dalam buku itu hanya ingin membagikan kepada para pembaca pelbagai macam percikan pengalamannya yang serba sederhana dan serba sehari-hari yang ia alami dalam hidup di gurun (seperti pengalaman mengamati gerak angin, pengalaman bertemu dengan ular, pengalaman mencari ceruk karang tempat berlindung, pengalaman pandai menghemat air sebelum mencapai sumur berikut). Semuanya ia tuangkan sebagai sebuah cetusan bahasa hati yang terpancar keluar dari lubuk hidupnya di padang gurun Sahara.
Tentu saja ada banyak pokok yang menarik perhatian saya dalam buku ini. Tetapi pada saat ini saya tidak mau membahas topik-topik itu. Di sini saya hanya mau tentang fakta bahwa buku ini aslinya diberi kata pengantar oleh seorang pemikir di bidang pendidikan, Ivan Illich. Kedua orang ini sudah terjalin dalam sebuah relasi persahabatan sejak Caretto masih aktif dalam sebuah organisasi “Aksi Katolik” (Catholic Action) di Italia. Konon dalam organisasi itu, Caretto sudah mempunyai kedudukan yang tinggi. Pada tahun 1959 mereka bertemu lagi. Pada saat itu Caretto sudah tidak lagi menjadi seorang aktifis di Aksi Katolik, melainkan ia sudah menjadi seorang Biarawan, pengikut Charles de Foucauld, Saudara Dina, Petit Freire (semoga saya menulisnya dengan benar).
Illich menemui dia kembali sebagai seorang tukang sepatu di sebuah kota di Algeria. Illich pun lalu diminta oleh Caretto untuk menulis kata pengantar bukunya yang akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, agar dengan pengantaraan Illich, buku itu bisa masuk ke dan dikenal di kalangan para pembaca di Amerika.
Tantangan itu pun diterima oleh Illich, tetapi kemudian ia menjadi bingung, sebab sesungguhnya ia tidak tahu harus menulis apa dan harus mulai dari mana atau bagaimana. Tetapi rupanya Illich berhasil menulis kata pengantar itu dan kata pengantar itu sekarang ada di bagian depan dari buku Caretto yang saya singgung di sini.
Dari kata pengantar itu saya mau menggaris-bawahi satu hal penting saat Illich mengatakan bahwa “Kehampaan padang gurun memberi kemungkinan untuk mempelajari hal-hal yang hampir mustahil: yakni dengan suka hati menerima ketidak-bergunaan kita” (p.vi). Jujur saja, sesungguhnya saya tidak tahu persis apa yang dimaksudkan Illich dengan kalimatnya itu. Tetapi oleh karena saya merasa sangat tertarik dengan kalimat itu, maka saya harus mencoba menembus dan memahaminya. Dan di sini saya coba mengungkapkan bagaimana cara saya mengartikan dan memahami ungkapan itu.
Ada dua hal yang disebut Illich dalam kutipan di atas tadi. Pertama, situasi kehampaan di padang gurun. Saya memang belum pernah mengalami hidup atau tinggal di padang gurun. Tetapi saya bisa membayangkan bahwa padang gurun itu memang tampak terasa seperti sebuah ruang kosong.
Di sini saya tiba-tiba teringat akan pengalaman saya sendiri ketika terbang dengan Kuwait Air saat terbang dari Jakarta ke Amsterdam pada tahun 2001 dan kami singgah di Kuwait City. Memang pada saat itu saya memakai jasa penerbangan Kuwait Air. Kuwait itu sesungguhnya adalah sebuah negara kecil di kawasan Teluk Persia. Ia terjepit oleh sebuah negara besar di kawasan itu, terutama oleh negara seperti Irak dan Arab Saudi. Saya sebut secara khusus Irak. Kedua negara ini (Irak dan Kuwait) berseteru satu sama lain. Irak selalu mengklaim Kuwait sebagai propinsi yang membangkang. Sementara Kuwait memandang Irak sebagai negara agresor dan tidak bersedia menerima kemerdekaan orang-orang Kuwait untuk mendirikan negara mereka sendiri. Itulah sebabnya saat pesawat yang saya tumpangi itu take off dari Kuwait City Airport, pesawat itu tidak langsung ke utara ke kawasan Balkan, lalu ke Eropa Timur dan akhirnya ke Belanda, melainkan pesawat itu terlebih dahulu memutar ke arah selatan lalu melintasi wilayah udara Arab Saudi.
Saat terbang di atas Arab Saudi itulah saya bisa melihat dari jendela betapa padang gurun (pasir) itu sangat luas seperti tidak bertepi sama sekali. Terlebih lagi, dari ketinggian tampak terasa betul betapa ia kosong dan sunyi, tandus, gersang. Dari atas ketinggian itu saya hanya membayangkan apakah ada kehidupan di bawah sana, di padang pasir itu. mungkin saja ada. Tetapi entah bagaimana hidup itu bisa berlangsung dan bertahan. Saat manusia berada di ruang hampa dan sunyi yang mahadahsyat itu, ia mau tidak mau terdorong untuk belajar satu hal, dan inilah hal kedua yang ada dalam kalimat kutipan Illich di atas tadi: “....dengan suka hati menerima ketidak-bergunaan kita.” Saya membaca ungkapan ini. Ya, dengan suka hati kita harus rela dan mampu menerima kedinaan atau kekecilan kita. Kita benar-benar kecil dan tidak berarti apa-apa dalam sebuah bentangan keluasan ruang kosong yang seperti tidak bertepi itu.
Saya tambahkan lagi satu hal di sini. Itulah kesan yang langsung didapatkan dan dirasakan Illich saat ia satu kali datang untuk berkunjung kepada Caretto, karibnya itu. Di sini saya langsung membayangkan bagaimana kesan hati dari orang yang seluruh hidupnya dilewatkan dalam gurun sunyi yang tak bertepi itu. Pasti situasi lingkungan gurun itu, mempunyai pengaruh yang sangat besar pada cara hidupnya, cara pandangannya, juga cara berpikirnya. Di sini saya tiba-tiba teringat akan kata-kata Caretto tentang tikar saat ia akan tidur pada sebuah ceruk batu karang di gurun. Kurang lebih ia mengatakan sbb: Di padang gurun, tikar adalah segala-galanya. Itulah dapurmu, itulah ruang makanmu, itulah ruang tidurmu, dan bahkan itulah kapelmu tempat engkau dalam keheningan membaca ayat-ayat suci. Benar-benar luar biasa. Kiranya orang seperti itu semakin menjadi dina dan hina dan kecil dan kecil terus menerus. Sebuah perjalanan ke dalam diri sendiri yang maha dahsyat, dan jauh di dalam diri yang sunyi, kesunyian diri, ia bisa bertemu dengan Tuhannya dan bisa berwawan-sabda dengan Dia dalam sebuah dimensi keluasan bentang kolong langit yang terang, bahkan di waktu malam.
Ya, kira-kira seperti yang ia katakan dalam salah satu bagian dari kata pengantar itu: “Di sini kita tidak perlukan obor, karena langit begitu terang benderang dengan bintang-bintangnya.” Dan lagi ia tambahkan: “....kita akan duduk di pasir. Dan sepanjang malam kita akan saling bercerita tentang tahun-tahun yang lampau dari hidup kita....Saya kira bahwa bintang Kejora yang terbit di pagi hari akan mendapat kita masih asyik dengan pembicaraan-pembicaraan itu.” (p.xix).
Betapa mengasyikkan catatan-catatan dan ingatan-ingatan seperti itu.
Fakultas Filsafat UNPAR Bandung, Jalan Nias No.2.
Sudah lama sekali saya mengenal sebuah buku yang ditulis oleh seorang penulis dari Italia yang terkenal, yaitu bruder Carlo Caretto. Buku itu bahkan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Bosko Beding dan diterbitkan oleh Penerbit Nusa Indah, Ende Flores, pada tahun 1981. Judulnya: SURAT-SURAT DARI PADANG GURUN. Pada saat itu saya sudah membacanya juga dengan sangat tekun dan penuh minat, sebab pada saat itu saya sedang menjalani tahun postulat dalam Ordo Fratrum Minorum di Biara Santo Yosef, Pagal, Manggarai, Flores, NTT. Bagi saya, buku itu adalah sebuah buku yang sangat menarik dan sangat inspiratif juga dengan pelbagai percikan refleksi dari seorang pertapa yang hidup bertapa di padang gurun. Di Novisiat Papringan, Yogyakarta, Bruder Bram semakin dalam memperkenalkan kepadaku sosok Caretto ini dan sosok sang pendiri serikatnya. Caretto, pada dasarnya, dalam buku itu hanya ingin membagikan kepada para pembaca pelbagai macam percikan pengalamannya yang serba sederhana dan serba sehari-hari yang ia alami dalam hidup di gurun (seperti pengalaman mengamati gerak angin, pengalaman bertemu dengan ular, pengalaman mencari ceruk karang tempat berlindung, pengalaman pandai menghemat air sebelum mencapai sumur berikut). Semuanya ia tuangkan sebagai sebuah cetusan bahasa hati yang terpancar keluar dari lubuk hidupnya di padang gurun Sahara.
Tentu saja ada banyak pokok yang menarik perhatian saya dalam buku ini. Tetapi pada saat ini saya tidak mau membahas topik-topik itu. Di sini saya hanya mau tentang fakta bahwa buku ini aslinya diberi kata pengantar oleh seorang pemikir di bidang pendidikan, Ivan Illich. Kedua orang ini sudah terjalin dalam sebuah relasi persahabatan sejak Caretto masih aktif dalam sebuah organisasi “Aksi Katolik” (Catholic Action) di Italia. Konon dalam organisasi itu, Caretto sudah mempunyai kedudukan yang tinggi. Pada tahun 1959 mereka bertemu lagi. Pada saat itu Caretto sudah tidak lagi menjadi seorang aktifis di Aksi Katolik, melainkan ia sudah menjadi seorang Biarawan, pengikut Charles de Foucauld, Saudara Dina, Petit Freire (semoga saya menulisnya dengan benar).
Illich menemui dia kembali sebagai seorang tukang sepatu di sebuah kota di Algeria. Illich pun lalu diminta oleh Caretto untuk menulis kata pengantar bukunya yang akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, agar dengan pengantaraan Illich, buku itu bisa masuk ke dan dikenal di kalangan para pembaca di Amerika.
Tantangan itu pun diterima oleh Illich, tetapi kemudian ia menjadi bingung, sebab sesungguhnya ia tidak tahu harus menulis apa dan harus mulai dari mana atau bagaimana. Tetapi rupanya Illich berhasil menulis kata pengantar itu dan kata pengantar itu sekarang ada di bagian depan dari buku Caretto yang saya singgung di sini.
Dari kata pengantar itu saya mau menggaris-bawahi satu hal penting saat Illich mengatakan bahwa “Kehampaan padang gurun memberi kemungkinan untuk mempelajari hal-hal yang hampir mustahil: yakni dengan suka hati menerima ketidak-bergunaan kita” (p.vi). Jujur saja, sesungguhnya saya tidak tahu persis apa yang dimaksudkan Illich dengan kalimatnya itu. Tetapi oleh karena saya merasa sangat tertarik dengan kalimat itu, maka saya harus mencoba menembus dan memahaminya. Dan di sini saya coba mengungkapkan bagaimana cara saya mengartikan dan memahami ungkapan itu.
Ada dua hal yang disebut Illich dalam kutipan di atas tadi. Pertama, situasi kehampaan di padang gurun. Saya memang belum pernah mengalami hidup atau tinggal di padang gurun. Tetapi saya bisa membayangkan bahwa padang gurun itu memang tampak terasa seperti sebuah ruang kosong.
Di sini saya tiba-tiba teringat akan pengalaman saya sendiri ketika terbang dengan Kuwait Air saat terbang dari Jakarta ke Amsterdam pada tahun 2001 dan kami singgah di Kuwait City. Memang pada saat itu saya memakai jasa penerbangan Kuwait Air. Kuwait itu sesungguhnya adalah sebuah negara kecil di kawasan Teluk Persia. Ia terjepit oleh sebuah negara besar di kawasan itu, terutama oleh negara seperti Irak dan Arab Saudi. Saya sebut secara khusus Irak. Kedua negara ini (Irak dan Kuwait) berseteru satu sama lain. Irak selalu mengklaim Kuwait sebagai propinsi yang membangkang. Sementara Kuwait memandang Irak sebagai negara agresor dan tidak bersedia menerima kemerdekaan orang-orang Kuwait untuk mendirikan negara mereka sendiri. Itulah sebabnya saat pesawat yang saya tumpangi itu take off dari Kuwait City Airport, pesawat itu tidak langsung ke utara ke kawasan Balkan, lalu ke Eropa Timur dan akhirnya ke Belanda, melainkan pesawat itu terlebih dahulu memutar ke arah selatan lalu melintasi wilayah udara Arab Saudi.
Saat terbang di atas Arab Saudi itulah saya bisa melihat dari jendela betapa padang gurun (pasir) itu sangat luas seperti tidak bertepi sama sekali. Terlebih lagi, dari ketinggian tampak terasa betul betapa ia kosong dan sunyi, tandus, gersang. Dari atas ketinggian itu saya hanya membayangkan apakah ada kehidupan di bawah sana, di padang pasir itu. mungkin saja ada. Tetapi entah bagaimana hidup itu bisa berlangsung dan bertahan. Saat manusia berada di ruang hampa dan sunyi yang mahadahsyat itu, ia mau tidak mau terdorong untuk belajar satu hal, dan inilah hal kedua yang ada dalam kalimat kutipan Illich di atas tadi: “....dengan suka hati menerima ketidak-bergunaan kita.” Saya membaca ungkapan ini. Ya, dengan suka hati kita harus rela dan mampu menerima kedinaan atau kekecilan kita. Kita benar-benar kecil dan tidak berarti apa-apa dalam sebuah bentangan keluasan ruang kosong yang seperti tidak bertepi itu.
Saya tambahkan lagi satu hal di sini. Itulah kesan yang langsung didapatkan dan dirasakan Illich saat ia satu kali datang untuk berkunjung kepada Caretto, karibnya itu. Di sini saya langsung membayangkan bagaimana kesan hati dari orang yang seluruh hidupnya dilewatkan dalam gurun sunyi yang tak bertepi itu. Pasti situasi lingkungan gurun itu, mempunyai pengaruh yang sangat besar pada cara hidupnya, cara pandangannya, juga cara berpikirnya. Di sini saya tiba-tiba teringat akan kata-kata Caretto tentang tikar saat ia akan tidur pada sebuah ceruk batu karang di gurun. Kurang lebih ia mengatakan sbb: Di padang gurun, tikar adalah segala-galanya. Itulah dapurmu, itulah ruang makanmu, itulah ruang tidurmu, dan bahkan itulah kapelmu tempat engkau dalam keheningan membaca ayat-ayat suci. Benar-benar luar biasa. Kiranya orang seperti itu semakin menjadi dina dan hina dan kecil dan kecil terus menerus. Sebuah perjalanan ke dalam diri sendiri yang maha dahsyat, dan jauh di dalam diri yang sunyi, kesunyian diri, ia bisa bertemu dengan Tuhannya dan bisa berwawan-sabda dengan Dia dalam sebuah dimensi keluasan bentang kolong langit yang terang, bahkan di waktu malam.
Ya, kira-kira seperti yang ia katakan dalam salah satu bagian dari kata pengantar itu: “Di sini kita tidak perlukan obor, karena langit begitu terang benderang dengan bintang-bintangnya.” Dan lagi ia tambahkan: “....kita akan duduk di pasir. Dan sepanjang malam kita akan saling bercerita tentang tahun-tahun yang lampau dari hidup kita....Saya kira bahwa bintang Kejora yang terbit di pagi hari akan mendapat kita masih asyik dengan pembicaraan-pembicaraan itu.” (p.xix).
Betapa mengasyikkan catatan-catatan dan ingatan-ingatan seperti itu.
Fakultas Filsafat UNPAR Bandung, Jalan Nias No.2.
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...