Oleh: Fransiskus Borgias M.
Salah satu antifon Maria yang sangat indah dan terkenal untuk masa Paskah ialah antifon yang berjudul Regina Caeli. Secara pribadi saya sangat suka akan nada-nada dan kata-kata antifon Maria ini. Biasanya antifon ini dipakai sebagai penutup dari ibadat malam (completorium). Sebelum membahas lebih lanjut tentang hal ini ada baiknya saya beberkan terlebih dahulu teks lagu antifon itu selengkapnya di sini. Regina Caeli laetare, alleluya. Quia quem meruisti portare, alleluya. Resurrexit, sicut dixit. Alleluya, Ora pro nobis Deum, Alleluya. Salah satu versi terjemahan yang kita pakai ialah sbb: Hai Ratu Surga, bersorak alleluya, sebab Kristus yang telah kaukandung, alleluya. Sudah bangkit dengan sungguh, alleluya. Sudi doakan kami, alleluya. (Ada terjemahan lain dalam buku Completorium dari Rawaseneng: Ratu Surga, bersukacitalah Alleluya, Sebab Kristus yang telah kau kandung, Alleluya. Telah bangkit, seperti diramalkannya alleluya. Doakanlah kami, pada Allah, Alleluya).
Terlepas dari rasa suka saya secara pribadi akan antifon ini, tetapi setiap kali saya menyanyikan lagu ini saya kemudian bertanya-tanya kritis dalam hati, mengapa dikatakan Maria bersukacita? Apakah yang menjadi alasan Maria bersukacita? Apakah hal itu ada dasarnya di dalam Kitab Suci? Tetapi sebelum membahas hal ini, terlebih dahulu saya membahas sesuatu tentang asal-usul antifon ini. Menurut Henri Dumont (New Catholic Encyclopedia vol.12. Thompson-Gale and The Catholic University of America, 2002. p.29) secara tradisional antifon Maria ini dinyanyikan pada penutup Completorium pada Masa Paskah. Sejak tahun 1742, dengan dekrit dari Benediktus XIV, antifon ini juga sudah dipakai untuk memuncaki doa Angelus pada masa Paskah. Kemunculannya pertama kali ialah sebagai antifon Magnificat untuk Oktaf Paskah, sudah terlacak sejak sekitar tahun 1200. Tetapi baru pada pertengahan abad ketigabelas, antifon ini dipakai sebagai penutup Completorium.
Lalu saya kembali ke pertanyaan pokok saya di atas tadi. Mengapa dikatakan Maria bersukacita? Apa dasar sukacita Maria? Apa dasar historis-biblis bagi keyakinan yang terkandung dalam antifon ini bahwa Maria bersukacita? Untaian pertanyaan-pertanyaan itulah yang ingin saya bahas lebih lanjut dalam tulisan singkat dan sederhana ini.
Kita semua tahu bahwa pada sore hari Minggu Paskah berakhirlah sudah seluruh rangkaian Triduum Paskah (Triddum Sacrum) yang sudah dimulai pada hari Kamis Putih (sore ataupun malam, tergantung kapan Ekaristi Kamis Putih dimulai). Kamis Putih masih dilewati dengan rasa sukacita, rasa bahagia, sehingga orang bisa mementaskan cinta (agape). Jum’at Agung dilewati dalam duka, sunyi, dan luka, nestapa. Luka dan duka itu masih terus berlanjut pada Sabtu Paskah. Lalu pada hari Minggu Paskah, untaian itu dipuncaki dengan pekik sukacita mendengar kabar sukacita kebangkitan. Kira-kira begitulah untaian perasaan yang muncul dalam diri saya saat melewati untaian Triduum suci itu. Nah sekarang, pada hati Minggu, saya hampir tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin penutupan Triduum Paskah ini berakhir tanpa melihat sosok santa Perawan Bunda Maria, yang hampir tidak pernah disebut dalam injil-injil perayaan paskah.
Tetapi syukurlah bahwa injil Yohanes masih cukup teliti mencatat kehadiran Bunda Maria yang berdiri di kaki salib, bersama dengan isteri Kleopas, dan Maria Magdalena (Yoh.19:25). Kita semua mendengar hal itu, karena hal itu dibacakan dalam kisah Sengsara (passio) pada hari Jum’at Agung. Dalam Passio itu kita mendengar sebuah kisah yang sangat menyentuh perasaan. Sebelum menyerahkan roh-Nya kepada Allah, Yesus menyerahkan dan mempercayakan ibu-Nya kepada “murid yang dikasihi-Nya”. Lalu selanjutnya dikatakan bahwa “sejak saat itu murid tadi menerima dia (Maria) di rumahnya.” (Yoh.19:26-27). Jadi, menurut Yohanes, betapa dekatnya Maria pada seluruh untaian peristiwa di Yerusalem itu (Fransiskus Borgias M., Saat-saat Terakhir Hidup Yesus Menurut Yohanes, Jakarta: Fidei Press, 2012).
Walaupun injil-injil tidak menyebut tentang Bunda Maria yang menyaksikan tentang peristiwa kebangkitan, tetapi secara religius-imajinatif kita dapat membayangkan bahwa Bunda Maria juga kiranya ikut serta mendengar kabar tentang penemuan fakta makam kosong itu. Pasti Maria juga tahu (karena ia sudah tinggal di rumah Yohanes) bagaimana Yohanes berlari ke lokasi pemakaman itu setelah mendengar kabar yang dibawa oleh Maria Magdalena. Kiranya kita juga bisa dengan mudah membayangkan bahwa bunda Maria sendiri mungkin saja hadir juga di taman tempat makam itu terletak. Hampir tidak ada alasan untuk menyingkirkan kemungkinan ini, sebab ia sendiri ada di dekat tempat itu.
Kiranya kita bisa mengisi “kekosongan” yang muncul karena bisunya para penginjil terkait dengan bunda Maria pada hari kebangkitan dengan imajinasi-religius kita. Misalnya kita bisa mengandaikan bahwa dia sendiri bisa saja mendapat kabar kebangkitan itu juga. Dan saat mendengar kabar itu, ia juga langsung percaya akan kabar itu. Kiranya mudah juga kita membayangkan dan bahkan menerima bahwa Kristus yang bangkit bisa saja telah menampakkan diri kepadanya juga bahkan untuk pertama kalinya sebelum kepada yang lain-lain tanpa harus menggembar-gemborkannya. Bagaimana pun juga, Bunda Maria adalah sang model murid yang menerima dan menyimpan Firman dan merenungkannya di dalam hatinya (Luk 2:51). Bunda Maria sendiri hadir di Kana tatkala Yesus untuk pertama kalinya berbicara tentang “saat” Dia (Yoh 2:4).
Kiranya dengan semua latar belakang seperti itu, kita dapat dengan mudah membayangkan bahwa Bunda Maria pun pasti sangat peka terhadap “tanda-tanda” lain yang dikerjakan oleh Anak-Nya dan memahami semua hal itu dalam terang sorotan Kitab Suci. Kiranya kita tidak usah mengganggu pelbagai meditasi dia dan keheningan dia, sebab para penginjil, khususnya Yohanes, menghormati meditasi dan keheningan itu justru dengan tidak berbicara apa-apa tentang hal itu. Begitulah cara saya menjelaskan fakta “kebisuan” para penginjil tentang kehadiran Bunda Maria di sekitar peristiwa Paskah.
Kelak kita akan menjumpai dia (Bunda Maria) lagi di Yerusalem, di ruang atas bersama dengan para murid dan beberapa orang perempuan yang lain. Di sana mereka berkumpul dan berdoa, sambil menantikan datangnya Roh Kudus (Kis 1:12-14). Setelah menyinggung tentang adegan ini, Kitab Suci tidak pernah lagi berkata sesuatu apapun tentang bunda Maria. Tetapi kita tidak dapat menyangkal fakta bahwa ia sudah terpilih menjadi bunda yang mengandung dan melahirkan sang penyelamat. Dan ia sendiri hadir di tengah-tengah dan bersama dengan para murid saat Gereja itu lahir (dalam dan melalui peristiwa Pentakosta itu). Walau ia memainkan peranan yang luar biasa agung seperti itu, bunda Maria tetaplah sosok seorang hamba Tuhan yang rendah hati dan hina-dina.
Kiranya itulah sebabnya, pada sore hari Minggu Paskah kita menyalami dia dan mengikutsertakan dia (sang Bunda) dalam sukacita seluruh kaum beriman karena peristiwa kebangkitan itu. Dengan pertimbangan itulah maka Gereja pun menyanyikan antipon “Regina Caeli” di atas tadi. Semua kaum beriman sangat bersukacita karena peristiwa kebangkitan itu. Bunda Maria, yang digelari sang Ratu Surgawi, juga turut serta diundang untuk terlibat dalam pesta yang penuh sukacita itu.
Taman Kopo Indah II, D4 No.40 Bandung.
Penulis: Teolog dan Dosen Teologi Biblika pada FF-UNPAR Bandung.
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Thursday, April 20, 2017
Thursday, April 13, 2017
DOA BAPA KAMI PADA HARI JUM’AT AGUNG
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Setiap tahun kita merayakan hari Jum’at Agung, salah satu dari tiga hari yang amat suci dalam tradisi Gereja (khususnya Katolik). Secara tradisional disebut “holy triduum” (Latin: Sacrum Triduum). Biasanya diterjemahkan “Trihari Suci” ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin di tempat lain disebut “Triduum Suci”. Pada hari itu gereja mengenang dan sekaligus juga merayakan sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus. Itulah drama Getsemani, drama via dolorosa, drama tragedi Golgota, drama penyaliban, drama penikaman dengan tombak oleh seorang serdadu, drama penyuguhan anggur asam, drama wafat, dan akhirnya drama pemakaman Tuhan Yesus. Itulah yang kita dengarkan dalam Kisah Sengsara (Passio) menurut Yohanes yang memang menjadi bacaan wajib pada Hari Jum’at Agung (setelah dalam Hari Minggu Palma kita baca masing-masing dari ketiga Injil Sinoptik dalam tata urut tahun ABC). Setiap tahun dalam suasana hening meditatif (bahkan diam dan sunyi) gereja Katolik merayakan peristiwa itu dengan sebuah upacara yang disebut upacara Jum’at Agung.
Inti upacara itu ada tiga, yaitu upacara Sabda (Kisah Sengsara atau Passio tadi), upacara penyembahan Salib (veneratio crucis), dan akhirnya upacara penerimaan komunio tanpa konsekrasi, sebab sakramen mahakudus sudah dipersiapkan dalam perayaan ekaristi hari Kamis Putih kemarinnya. Itulah sebabnya dalam buku-buku teologi liturgi dalam bahasa Inggris hal itu disebut “the mass of the presanctified communion.” Rada sulit juga menerjemahkan ungkapan ini. Pokoknya yang dimaksudkan ialah komuni suci yang diterimakan kepada umat pada hari Jum’at Agung ini tidak dikonsakrir pada hari ini (sebab memang pada hari ini tidak ada perayaan ekaristi), melainkan sudah dikonsakrir dalam perayaan ekaristi Kamis Putih kemarin sore atau malam. Ini juga adalah sebuah simbolisme teologis yang kiranya nanti bisa dibahas pada kesempatan lain.
Selesai upacara penyembahan salib (yang didahului dengan perarakan salib dan penyingkapan salib dengan iringan lagu “ecce lignum crucis” itu) dalam suasana hening-meditatif imam mempersiapkan altar untuk menuju Komunio. Kemudian semua sibori yang menyimpan sakramen mahakudus dibawa masuk ke dalam gereja (kalau tabernakel sementara terletak di luar gereja, di ruang yang lain). Lalu semuanya ditempatkan di atas altar yang sudah dipersiapkan itu (Harus diingat bahwa altar dan kawasan panti imam, sejak selesai Perayaan Ekaristi Kamis Putih malam sebelumnya, sudah dibiarkan kosong dan tanpa hiasan seperti bunga-bunga dan juga kain penutup altar. Altar telanjang, polos. Ini juga adalah sebuah simbolisme teologis yang mempunyai makna yang dalam). Setelah semuanya selesai, maka imam selebran pun membuka untaian upacara selanjutnya dengan mengajak umat untuk mengucapkan doa Bapa Kami (sebagaimana yang memang biasanya dilakukan). Semuanya berlangsung tanpa iringan musik (sebab bunyi semua alat musik adalah tanda kegembiraan, padahal misteri yang kini dirayakan adalah misteri sengsara dan duka), melainkan dalam suasana hening-meditatif umat mengucapkan atau menyanyikan doa Bapa Kami tersebut.
Terkait dengan hal ini ada seorang teolog liturgi (dari abad yang lalu, yang bernama Abbot Gueranger OSB) yang pernah mengatakan bahwa Doa Bapa kami yang kita ucapkan atau kita panjatkan pada Hari Jum’at Agung adalah sangat unik, sangat istimewa, dan sangat luar biasa. Tetapi mengapa dia mengatakan demikian? Apa keistimewaan Doa Bapa Kami yang diucapkan pada hari Jum’at Agung ini? Bukankah kata-kata Doa itu tetap satu dan sama saja? Jika demkian, lalu apa keistimewanya? Beginilah kurang lebih jalan pikiran Abbot Gueranger. Kita semua tahu bahwa doa itu diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri kepada para muridNya yang memintaNya agar diajarkan sebuah doa karena melihat para murid Yohanes berdoa dan Yohanes sendiri juga mengajarkan doa kepada para muridnya (Mat.6:9-13; Luk.11:2-4). Dari para rasul kita mewarisi doa itu untuk kita pakai sebagai sebuah contoh atau model doa. Itulah sebabnya secara tradisional doa Bapa Kami itu disebut dengan sebutan Doa Tuhan, Oratione Dominica (dalam bahasa Latin), atau Lord’s Prayer (dalam bahasa Inggris. Konon dalam bahasa Arab disebut Sholat al-Robanniyah). Disebut demikian karena Tuhan Yesus sendiri yang mengajarkan doa itu kepada para muridNya dan melalui para murid itu juga akhirnya kepada kita semua. Di sepanjang sejarah gereja dan teologi Doa ini sering sekali menjadi bahan kajian dari para teolog, mulai dari para Bapa Gereja dulu hingga sekarang ini. Dewasa ini, salah satu pokok terbesar dalam buku Katekismus Gereja Katolik adalah tentang Doa Bapa Kami ini. Tiada henti-hentinya doa ini menjadi pokok kajian para teolog, termasuk teolog masa kini Paus Benediktus XVI.
Dan sekarang perhatikan baik-baik, demikian kata Gueranger melanjutkan penjelasannya. Dalam perayaan Hari Jum’at Agung ini, si Pemberi dan Pengajar doa itu sedang tergantung di salib dengan posisi tangan terentang antara langit dan bumi. Itu adalah salah satu posisi tangan yang sedang berdoa. Tangan terentang, dengan sedikit terangkat ke atas, ke langit, ke surga. Hal itu kita bisa membayangkan saat Yesus sudah mati di kayu salib, maka tubuhNya menjadi lemas. BadanNya pasti turun ke bawah, dengan demikian tanganNya terentang dan sedikit terangkat ke atas, karena telapak atau pun pergelangannya tertahan paku-paku. Posisi tangan seperti ini mengingatkan kita akan posisi tangan Musa, tatkala ia berdoa saat orang-orang Israel berperang melawan orang-orang Amalek (Kel.17:8-16). Dikatakan di sana, ketika tangan Musa turun karena menjadi lemah, maka Israel kalah. Tetapi ketika tangan Musa terangkat ke atas, maka Israel menang, Amalek kalah (ay.11-12). Saat kita mengucapkan atau menyanyikan doa Bapa Kami itu, sang Guru yang mengajarkan doa itu, kini seakan-akan sedang mengantarkan doa yang kita ucapkan doa itu kepada Bapa di surga, lewat tangan-tanganNya yang terentang dan sedikit terangkat ke atas, ke surga. Dalam artian itulah Doa Bapa Kami yang kita ucapkan dalam upacara Jum’at Agung sangatlah istimewa dan luar biasa. Rasanya, doa itu langsung sampai ke surga, ke hadapan hadirat Bapa sendiri karena Yesus sendiri yang mengangkatnya naik ke tahta Bapa di surga. Dalam imajinasi religius saya, rasanya gema-gema suara kita mengucapkan doa suci itu bagaikan asap kurban hamba Tuhan, Habel yang saleh, yang membubung naik lurus ke surga, ke hadapan tahta Allah (Kej.4:4). Sedemikian kuatnya simbolisme kurban Habel yang saleh ini, sehingga tidak heran bahwa simbolisme ini masuk ke dalam Doa Syukur Agung I. Setiap kali imam memakai Doa Syukur Agung I ini, maka kita akan selalu mendengarkan nama Habel tersebut diucapkan.
Kembali lagi ke doa Bapa Kami tadi. Dengan latar belakang seperti di atas tadi, maka saya bisa membayangkan bahwa kalau kita mengucapkan (menyanyikan) doa Bapa Kami ini dengan sungguh-sungguh pada upacara hari Jum’at Agung niscaya doa kita akan terkabul. Karena itu, saya sangat berharap agar pastor bersama umat mengucapkan doa ini dengan cara yang istimewa juga, berbeda dari yang biasa kita ucapkan sehari-hari. Pada hari Jum’at Agung Doa Bapa kami menjadi sangat manjur dan efektif. Sadar akan hal itu saya berharap agar umat mendoakan Doa Bapa Kami ini dengan sangat sadar, sambil merenungkan sengsara, wafat, dan pemakaman Tuhan. Kita tidak usah menambahkan permohonan khusus yang aneh-aneh pada saat itu, cukup memusatkan perhatian pada tujuh butir permohonan yang ada dalam doa itu: Pater Noster, qui es in Caelis, 1). Sanctificetur nomen Tuum, 2). Adveniat regnum Tuum, 3). Fiat voluntas Tua, sicut in caelo, et in terra. 4). Panem nostrum cotidianum da nobis hodie. 5). Et dimitte nobis debita nostra, sicut et nos dimittimus debitoribus nostris. 6). Et ne nos inducas in tentationem. 7). Sed libera nos a malo.
TAMAN KOPO INDAH D4 NO.40 BANDUNG.
Setiap tahun kita merayakan hari Jum’at Agung, salah satu dari tiga hari yang amat suci dalam tradisi Gereja (khususnya Katolik). Secara tradisional disebut “holy triduum” (Latin: Sacrum Triduum). Biasanya diterjemahkan “Trihari Suci” ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin di tempat lain disebut “Triduum Suci”. Pada hari itu gereja mengenang dan sekaligus juga merayakan sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus. Itulah drama Getsemani, drama via dolorosa, drama tragedi Golgota, drama penyaliban, drama penikaman dengan tombak oleh seorang serdadu, drama penyuguhan anggur asam, drama wafat, dan akhirnya drama pemakaman Tuhan Yesus. Itulah yang kita dengarkan dalam Kisah Sengsara (Passio) menurut Yohanes yang memang menjadi bacaan wajib pada Hari Jum’at Agung (setelah dalam Hari Minggu Palma kita baca masing-masing dari ketiga Injil Sinoptik dalam tata urut tahun ABC). Setiap tahun dalam suasana hening meditatif (bahkan diam dan sunyi) gereja Katolik merayakan peristiwa itu dengan sebuah upacara yang disebut upacara Jum’at Agung.
Inti upacara itu ada tiga, yaitu upacara Sabda (Kisah Sengsara atau Passio tadi), upacara penyembahan Salib (veneratio crucis), dan akhirnya upacara penerimaan komunio tanpa konsekrasi, sebab sakramen mahakudus sudah dipersiapkan dalam perayaan ekaristi hari Kamis Putih kemarinnya. Itulah sebabnya dalam buku-buku teologi liturgi dalam bahasa Inggris hal itu disebut “the mass of the presanctified communion.” Rada sulit juga menerjemahkan ungkapan ini. Pokoknya yang dimaksudkan ialah komuni suci yang diterimakan kepada umat pada hari Jum’at Agung ini tidak dikonsakrir pada hari ini (sebab memang pada hari ini tidak ada perayaan ekaristi), melainkan sudah dikonsakrir dalam perayaan ekaristi Kamis Putih kemarin sore atau malam. Ini juga adalah sebuah simbolisme teologis yang kiranya nanti bisa dibahas pada kesempatan lain.
Selesai upacara penyembahan salib (yang didahului dengan perarakan salib dan penyingkapan salib dengan iringan lagu “ecce lignum crucis” itu) dalam suasana hening-meditatif imam mempersiapkan altar untuk menuju Komunio. Kemudian semua sibori yang menyimpan sakramen mahakudus dibawa masuk ke dalam gereja (kalau tabernakel sementara terletak di luar gereja, di ruang yang lain). Lalu semuanya ditempatkan di atas altar yang sudah dipersiapkan itu (Harus diingat bahwa altar dan kawasan panti imam, sejak selesai Perayaan Ekaristi Kamis Putih malam sebelumnya, sudah dibiarkan kosong dan tanpa hiasan seperti bunga-bunga dan juga kain penutup altar. Altar telanjang, polos. Ini juga adalah sebuah simbolisme teologis yang mempunyai makna yang dalam). Setelah semuanya selesai, maka imam selebran pun membuka untaian upacara selanjutnya dengan mengajak umat untuk mengucapkan doa Bapa Kami (sebagaimana yang memang biasanya dilakukan). Semuanya berlangsung tanpa iringan musik (sebab bunyi semua alat musik adalah tanda kegembiraan, padahal misteri yang kini dirayakan adalah misteri sengsara dan duka), melainkan dalam suasana hening-meditatif umat mengucapkan atau menyanyikan doa Bapa Kami tersebut.
Terkait dengan hal ini ada seorang teolog liturgi (dari abad yang lalu, yang bernama Abbot Gueranger OSB) yang pernah mengatakan bahwa Doa Bapa kami yang kita ucapkan atau kita panjatkan pada Hari Jum’at Agung adalah sangat unik, sangat istimewa, dan sangat luar biasa. Tetapi mengapa dia mengatakan demikian? Apa keistimewaan Doa Bapa Kami yang diucapkan pada hari Jum’at Agung ini? Bukankah kata-kata Doa itu tetap satu dan sama saja? Jika demkian, lalu apa keistimewanya? Beginilah kurang lebih jalan pikiran Abbot Gueranger. Kita semua tahu bahwa doa itu diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri kepada para muridNya yang memintaNya agar diajarkan sebuah doa karena melihat para murid Yohanes berdoa dan Yohanes sendiri juga mengajarkan doa kepada para muridnya (Mat.6:9-13; Luk.11:2-4). Dari para rasul kita mewarisi doa itu untuk kita pakai sebagai sebuah contoh atau model doa. Itulah sebabnya secara tradisional doa Bapa Kami itu disebut dengan sebutan Doa Tuhan, Oratione Dominica (dalam bahasa Latin), atau Lord’s Prayer (dalam bahasa Inggris. Konon dalam bahasa Arab disebut Sholat al-Robanniyah). Disebut demikian karena Tuhan Yesus sendiri yang mengajarkan doa itu kepada para muridNya dan melalui para murid itu juga akhirnya kepada kita semua. Di sepanjang sejarah gereja dan teologi Doa ini sering sekali menjadi bahan kajian dari para teolog, mulai dari para Bapa Gereja dulu hingga sekarang ini. Dewasa ini, salah satu pokok terbesar dalam buku Katekismus Gereja Katolik adalah tentang Doa Bapa Kami ini. Tiada henti-hentinya doa ini menjadi pokok kajian para teolog, termasuk teolog masa kini Paus Benediktus XVI.
Dan sekarang perhatikan baik-baik, demikian kata Gueranger melanjutkan penjelasannya. Dalam perayaan Hari Jum’at Agung ini, si Pemberi dan Pengajar doa itu sedang tergantung di salib dengan posisi tangan terentang antara langit dan bumi. Itu adalah salah satu posisi tangan yang sedang berdoa. Tangan terentang, dengan sedikit terangkat ke atas, ke langit, ke surga. Hal itu kita bisa membayangkan saat Yesus sudah mati di kayu salib, maka tubuhNya menjadi lemas. BadanNya pasti turun ke bawah, dengan demikian tanganNya terentang dan sedikit terangkat ke atas, karena telapak atau pun pergelangannya tertahan paku-paku. Posisi tangan seperti ini mengingatkan kita akan posisi tangan Musa, tatkala ia berdoa saat orang-orang Israel berperang melawan orang-orang Amalek (Kel.17:8-16). Dikatakan di sana, ketika tangan Musa turun karena menjadi lemah, maka Israel kalah. Tetapi ketika tangan Musa terangkat ke atas, maka Israel menang, Amalek kalah (ay.11-12). Saat kita mengucapkan atau menyanyikan doa Bapa Kami itu, sang Guru yang mengajarkan doa itu, kini seakan-akan sedang mengantarkan doa yang kita ucapkan doa itu kepada Bapa di surga, lewat tangan-tanganNya yang terentang dan sedikit terangkat ke atas, ke surga. Dalam artian itulah Doa Bapa Kami yang kita ucapkan dalam upacara Jum’at Agung sangatlah istimewa dan luar biasa. Rasanya, doa itu langsung sampai ke surga, ke hadapan hadirat Bapa sendiri karena Yesus sendiri yang mengangkatnya naik ke tahta Bapa di surga. Dalam imajinasi religius saya, rasanya gema-gema suara kita mengucapkan doa suci itu bagaikan asap kurban hamba Tuhan, Habel yang saleh, yang membubung naik lurus ke surga, ke hadapan tahta Allah (Kej.4:4). Sedemikian kuatnya simbolisme kurban Habel yang saleh ini, sehingga tidak heran bahwa simbolisme ini masuk ke dalam Doa Syukur Agung I. Setiap kali imam memakai Doa Syukur Agung I ini, maka kita akan selalu mendengarkan nama Habel tersebut diucapkan.
Kembali lagi ke doa Bapa Kami tadi. Dengan latar belakang seperti di atas tadi, maka saya bisa membayangkan bahwa kalau kita mengucapkan (menyanyikan) doa Bapa Kami ini dengan sungguh-sungguh pada upacara hari Jum’at Agung niscaya doa kita akan terkabul. Karena itu, saya sangat berharap agar pastor bersama umat mengucapkan doa ini dengan cara yang istimewa juga, berbeda dari yang biasa kita ucapkan sehari-hari. Pada hari Jum’at Agung Doa Bapa kami menjadi sangat manjur dan efektif. Sadar akan hal itu saya berharap agar umat mendoakan Doa Bapa Kami ini dengan sangat sadar, sambil merenungkan sengsara, wafat, dan pemakaman Tuhan. Kita tidak usah menambahkan permohonan khusus yang aneh-aneh pada saat itu, cukup memusatkan perhatian pada tujuh butir permohonan yang ada dalam doa itu: Pater Noster, qui es in Caelis, 1). Sanctificetur nomen Tuum, 2). Adveniat regnum Tuum, 3). Fiat voluntas Tua, sicut in caelo, et in terra. 4). Panem nostrum cotidianum da nobis hodie. 5). Et dimitte nobis debita nostra, sicut et nos dimittimus debitoribus nostris. 6). Et ne nos inducas in tentationem. 7). Sed libera nos a malo.
TAMAN KOPO INDAH D4 NO.40 BANDUNG.
KAMIS PUTIH SEBAGAI PESTA CINTA KASIH PERKAWINAN
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Mungkin penafsiran yang saya ajukan di sini tidak umum, mungkin ada juga yang menganggapnya melawan arus. Perayaan Kamis Putih biasanya dikaitkan dengan misteri Kristus, Perjamuan Akhir, institusi ekaristi (sakramen ekaristi), dan erat terkait dengan ini maka orang terpikir juga tentang misteri kehidupan imamat tahbisan (bukan imamat umum). Apalagi ada perayaan ekaristi untuk memberkati tiga jenis minyak pengurapan, yang juga sering dikenal dengan sebutan misa pontifikal itu. ada banyak simbolisme yang kuat yang menjadi objek permenungan kita pada perayaan Kamis Putih ini. Salah satunya ialah peristiwa pembasuhan kaki para murid yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri. Di sini terkenal sekali kata-kata yang diucapkan Tuhan Yesus sesudah melakukan tindakan tersebut. Inti dari kata-kata itu ialah berupa sebuah dorongan kepada para pengikutNya untuk meniru teladan yang telah Ia berikan. Itu artinya saling melayani dengan sikap rendah hati, dengan penuh kasih, dengan turun ke bawah, turun ke bagian kaki dari orang yang dilayani. Dengan kata lain, jalan pelayanan adalah jalan merendah. Begitu juga halnya dengan kata-kata institusi ekaristi, yang oleh para teolog dipandang sebagai titik awal keberadaan sakramen ekaristi dan sakramen imamat.
Dalam kaitan ini terkenal sekali kata-kata yang diucapkan Yesus baik atas roti maupun atas anggur. Atas Roti dikatakan demikian: Ambil dan makanlah, INILAH TUBUHKU YANG DIKURBANKAN BAGIMU. Atas piala yang berisi air anggur dikatakan demikian: Ambillah dan minumlah, INILAH DARAHKU, darah perjanjian baru dan kekal, YANG AKAN DITUMPAHKAN BAGIMU, dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Dengan kata-kata ini maka terjadilah ekaristi, terjadilah misteri perubahan rupa atau wujud, misteri transubstansiasi itu, roti menjadi tubuh Kristus, anggur menjadi darah Kristus. Itulah yang menjadi keyakinan kita. Saat kita mendengar kata-kata ini secara otomatis kita akan terpikir tentang perayaan ekaristi, tentang kurban Kristus, dan juga tentang para imam yang dikatakan mempunyai titik awal eksistensinya dalam perayaan perjamuan akhir dari Tuhan Yesus ini.
Berbeda dengan pandangan umum itu, saya justru mau mengkaitkan dan menerapkan kalimat institusi di atas pada hidup perkawinan. Saya beranggapan bahwa kata-kata itu diucapkan oleh Tuhan Yesus untuk setiap pengikutnya, pria dan wanita, untuk setiap bentuk dan cara hidup, bukan monopoli sebuah cara hidup tertentu saja. Tetapi mengapa saya berani melakukan hal ini? Mengapa saya berani melangkah melawan arus? Perhatikan cara saya mengutip kata-kata institusi di atas tadi. Dengan sengaja saya menulis beberapa kata dalam huruf kapital. Terus terang saja, setiap kali saya mendengar kata-kata itu, saya fokus pada kata DIKURBANKAN dan DITUMPAHKAN. Tubuh dan darah dalam hidup dan relasi perkawinan adalah laksana bahan persembahan, yang dipersembahkan bagi dan kepada satu sama lain. Sang suami memberi seluruh dirinya (dilambangkan dengan tubuh dan darah) kepada sang isteri. Bahkan siap menjadi makanan dan minuman. Begitu juga sebaliknya, sang isteri memberi seluruh dirinya (dilambangkan dengan tubuh dan darah) kepada sang suami. Bahkan siap juga untuk menjadi makanan dan minuman. Itu artinya siap dimakan dan diminum.
Hidup perkawinan adalah seluruhnya sebuah kurban, sebuah persembahan hidup, persembahan diri kepada satu sama lain. Dalam imajinasi saya, saya membayangkan bahwa pasangan suami-isteri, dalam perayaan ekaristi, membayangkan diri sebagai sang Kristus yang rela memberikan diriNya menjadi makanan dan minuman bagi umat-Nya. Dengan demikian, hidup perkawinan bagi saya adalah sebuah perwujudan nyata dari totalitas hidup Kristus sendiri. Karena sudah saling menyerahkan diri, maka terjadilah sebuah ikatan dan relasi yang serba eksklusif yang tidak terpisahkan. Penjelasan saya mengenai tidak terceraikannya perkawinan tidak lagi semata-mata bersifat legalistis (sebagai ikatan dan kewajiban hukum belaka) melainkan pertama-tama dan terutama sebagai konsekwensi dari tindakan saling menyerahkan dan mengurbankan diri di atas altar hidup rumah tangga yang terbentuk dalam dan melalui sakramen perkawinan itu. Maka bagi saya, kata-kata INILAH TUBUHKU dan INILAH DARAHKU, menjadi sebuah kalimat yang sangat kuat sebagai simbol dari teologi perkawinan yang berlandaskan pada visi teologi tubuh dari Paus Yohanes Paulus II. Saya tidak mau berhenti pada sekadar memperlihatkan tubuh itu dengan mengucapkan LIHATLAH TUBUHKU, melainkan harus melangkah lebih lanjut ke kurban, ke persembahan diri. Dalam artian itulah hidup perkawinan pun bagi saya sangat berciri ekaristis juga.
Refleksi Kamis Putih, 13 April 2017
Taman Kopo Indah II, D4 No.40 Bandung, 40218.
Mungkin penafsiran yang saya ajukan di sini tidak umum, mungkin ada juga yang menganggapnya melawan arus. Perayaan Kamis Putih biasanya dikaitkan dengan misteri Kristus, Perjamuan Akhir, institusi ekaristi (sakramen ekaristi), dan erat terkait dengan ini maka orang terpikir juga tentang misteri kehidupan imamat tahbisan (bukan imamat umum). Apalagi ada perayaan ekaristi untuk memberkati tiga jenis minyak pengurapan, yang juga sering dikenal dengan sebutan misa pontifikal itu. ada banyak simbolisme yang kuat yang menjadi objek permenungan kita pada perayaan Kamis Putih ini. Salah satunya ialah peristiwa pembasuhan kaki para murid yang dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri. Di sini terkenal sekali kata-kata yang diucapkan Tuhan Yesus sesudah melakukan tindakan tersebut. Inti dari kata-kata itu ialah berupa sebuah dorongan kepada para pengikutNya untuk meniru teladan yang telah Ia berikan. Itu artinya saling melayani dengan sikap rendah hati, dengan penuh kasih, dengan turun ke bawah, turun ke bagian kaki dari orang yang dilayani. Dengan kata lain, jalan pelayanan adalah jalan merendah. Begitu juga halnya dengan kata-kata institusi ekaristi, yang oleh para teolog dipandang sebagai titik awal keberadaan sakramen ekaristi dan sakramen imamat.
Dalam kaitan ini terkenal sekali kata-kata yang diucapkan Yesus baik atas roti maupun atas anggur. Atas Roti dikatakan demikian: Ambil dan makanlah, INILAH TUBUHKU YANG DIKURBANKAN BAGIMU. Atas piala yang berisi air anggur dikatakan demikian: Ambillah dan minumlah, INILAH DARAHKU, darah perjanjian baru dan kekal, YANG AKAN DITUMPAHKAN BAGIMU, dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Dengan kata-kata ini maka terjadilah ekaristi, terjadilah misteri perubahan rupa atau wujud, misteri transubstansiasi itu, roti menjadi tubuh Kristus, anggur menjadi darah Kristus. Itulah yang menjadi keyakinan kita. Saat kita mendengar kata-kata ini secara otomatis kita akan terpikir tentang perayaan ekaristi, tentang kurban Kristus, dan juga tentang para imam yang dikatakan mempunyai titik awal eksistensinya dalam perayaan perjamuan akhir dari Tuhan Yesus ini.
Berbeda dengan pandangan umum itu, saya justru mau mengkaitkan dan menerapkan kalimat institusi di atas pada hidup perkawinan. Saya beranggapan bahwa kata-kata itu diucapkan oleh Tuhan Yesus untuk setiap pengikutnya, pria dan wanita, untuk setiap bentuk dan cara hidup, bukan monopoli sebuah cara hidup tertentu saja. Tetapi mengapa saya berani melakukan hal ini? Mengapa saya berani melangkah melawan arus? Perhatikan cara saya mengutip kata-kata institusi di atas tadi. Dengan sengaja saya menulis beberapa kata dalam huruf kapital. Terus terang saja, setiap kali saya mendengar kata-kata itu, saya fokus pada kata DIKURBANKAN dan DITUMPAHKAN. Tubuh dan darah dalam hidup dan relasi perkawinan adalah laksana bahan persembahan, yang dipersembahkan bagi dan kepada satu sama lain. Sang suami memberi seluruh dirinya (dilambangkan dengan tubuh dan darah) kepada sang isteri. Bahkan siap menjadi makanan dan minuman. Begitu juga sebaliknya, sang isteri memberi seluruh dirinya (dilambangkan dengan tubuh dan darah) kepada sang suami. Bahkan siap juga untuk menjadi makanan dan minuman. Itu artinya siap dimakan dan diminum.
Hidup perkawinan adalah seluruhnya sebuah kurban, sebuah persembahan hidup, persembahan diri kepada satu sama lain. Dalam imajinasi saya, saya membayangkan bahwa pasangan suami-isteri, dalam perayaan ekaristi, membayangkan diri sebagai sang Kristus yang rela memberikan diriNya menjadi makanan dan minuman bagi umat-Nya. Dengan demikian, hidup perkawinan bagi saya adalah sebuah perwujudan nyata dari totalitas hidup Kristus sendiri. Karena sudah saling menyerahkan diri, maka terjadilah sebuah ikatan dan relasi yang serba eksklusif yang tidak terpisahkan. Penjelasan saya mengenai tidak terceraikannya perkawinan tidak lagi semata-mata bersifat legalistis (sebagai ikatan dan kewajiban hukum belaka) melainkan pertama-tama dan terutama sebagai konsekwensi dari tindakan saling menyerahkan dan mengurbankan diri di atas altar hidup rumah tangga yang terbentuk dalam dan melalui sakramen perkawinan itu. Maka bagi saya, kata-kata INILAH TUBUHKU dan INILAH DARAHKU, menjadi sebuah kalimat yang sangat kuat sebagai simbol dari teologi perkawinan yang berlandaskan pada visi teologi tubuh dari Paus Yohanes Paulus II. Saya tidak mau berhenti pada sekadar memperlihatkan tubuh itu dengan mengucapkan LIHATLAH TUBUHKU, melainkan harus melangkah lebih lanjut ke kurban, ke persembahan diri. Dalam artian itulah hidup perkawinan pun bagi saya sangat berciri ekaristis juga.
Refleksi Kamis Putih, 13 April 2017
Taman Kopo Indah II, D4 No.40 Bandung, 40218.
Friday, March 31, 2017
PRAKSIS PUASA DAN PANTANG KITA
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Setiap kali masa puasa dan pantang tiba, maka saya selalu teringat akan praktek pantang dan puasa yang dulu pernah diajarkan oleh ayah dan ibu kami pada waktu kami masih kecil (usia sekolah dasar). Saya masih ingat, hari Rabu dan Jum’at selama masa puasa (Prapaskah), adalah hari-hari yang tidak terlupakan oleh saya. Dulu pada masa kecil kedua hari itu juga merupakan hari yang paling sulit bagi kami. Itu disebabkan karena pada saat makan siang di kedua hari itu, kami makan sayur tanpa garam. Menu hanya ada dua saja, nasi dan sayur. Sayurnya pun hambar (hebas, dalam bahasa Manggarai) karena tidak digarami. Lebih mudah rasanya makan nasi putih saja (puasa mutih) tanpa sayur, daripada harus makan nasi dengan sayur tetapi sayurnya hambar (tidak bergaram). Tetapi kami tidak boleh melakukan hal itu (makan nasi tanpa sayur yang hambar tadi). Kami harus makan sayur yang tidak bergaram itu. Benar-benar tidak enak rasanya. Itulah praktek pantang dan puasa kami pada waktu itu. Entah dari mana ayah dan ibu kami mendapat ide itu: mengurangi konsumsi garam (pantang garam). Bila sudah selesai makan siang, maka kami pun menanti makan malam dengan penuh rindu dan gairah sebab pada saat makan malam itulah nanti sayur sudah bergaram dan ada ikan juga. Daging tidak ada. Di samping saat itu daging memang langka di kampung kami saat masa kecil, daging juga dilarang pada masa pantang dan puasa.
Memang setiap kali masa prapaskah tiba, kita mencoba menerapkan beberapa praktek puasa dan pantang yang sudah lama dijalankan dalam tradisi Gereja Katolik. Salah satunya ialah pantang daging. Pertanyaannya ialah mengapa kita puasa dan pantang daging? Saya menyadari bahwa tidak mudah juga menjawab pertanyaan ini. Tetapi pertanyaan ini harus dijawab agar jangan sampai muncul suatu anggapan negatif seperti tuduhan manikeistik yang dualistik dan bersikap negatif terhadap kedagingan, kejasmanian, terhadap tubuh. Cukup lama saya mencoba mencari jawaban dan penjelasan terhadap hal ini.
Setelah cukup lama mencari dan menggali, akhirnya saya menemukan sebuah penjelasan yang menurut saya sangat menarik perhatian. Menurut pendapat saya tradisi itu mempunyai landasan juga dalam Kitab Suci. Jika hal ini memang benar maka kiranya perlu sebuah upaya eksegese atas teks-teks Kitab Suci agar kita bisa memahami tradisi itu dengan baik, dan sekaligus bisa terhindarkan dan teratasi anggapan dan tuduhan yang bercorak negatif dan dualistik tadi. Itulah yang ingin saya usahakan dalam dan melalui tulisan singkat dan sederhana ini.
Masa puasa (dan pantang) adalah satu kurun waktu sepanjang tahun liturgi yang dibaktikan secara khusus untuk melakukan laku tapa, sesal, dan tobat. Sesal dan tobat ini diwujud-nyatakan dengan puasa (yang juga harus dilengkapi dengan doa dan amal, sehingga ketiganya menjadi tiga tiang tonggak kesalehan alkitabiah). Puasa adalah wujud dari laku tapa dan tobat. Puasa adalah sebuah upaya pengendalian diri, yang orang berlakukan secara sukarela atas dirinya sendiri sebagai silih atas dosa-dosa. Selama masa puasa ini, praksis puasa itu dilaksanakan dengan mengikuti ketetapan hukum Gereja. Menurut ketetapan dan peraturan Gereja barat, puasa pada masa puasa (yang reguler) ini tidak lebih keras daripada puasa yang ditetapkan untuk pelbagai vigilia untuk beberapa pesta atau hari raya tertentu, dan untuk hari-hari yang ditetapkan secara khusus sebagai hari puasa (di luar masa puasa. Misalnya puasa pada hari menjelang Pesta Salib Suci 14 September). Dalam tradisi Katolik puasa pada masa Puasa itu harus dijalankan selama empatpuluh hari berturut-turut dengan istirahat selingan setiap hari Minggu, sebab pada hari Minggu kita tidak berpuasa. Hari Minggu adalah hari raya, yang tidak boleh ada puasa di dalamnya.
Puasa itu amat penting dan berguna. Kiranya hal itu sudah jelas dengan sendirinya. Kitab Suci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru penuh dengan pelbagai macam pujian akan praksis yang suci ini. Tradisi para bangsa pun menunjukkan bahwa puasa itu dihargai, dihormati, dianjurkan, diwajibkan. Tidak ada bangsa atau agama (walaupun dia sudah tergerus oleh modernitas) yang tidak terkesan dengan pendapat itu bahwa puasa itu penting. Orang percaya bahwa manusia bisa menyenangkan Allah-nya dengan menundukkan kepala dan mengarahkan tubuhnya pada laku tapa dan tobat.
Para Bapa Gereja (seperti St.Basilius Agung, St.Yohanes Chrysostomus, St.Hieronimus, dan St.Gregorius Agung), mengatakan bahwa perintah yang diberikan kepada orang tua kita yang pertama (maksudnya adalah Adam dan Hawa dan kaum keturunannya sampai sebelum Nuh) dalam firdaus duniawi dulu adalah perintah pantang (atau abstinence, yaitu menahan diri dari hal memakan daging). Menurut Kitab Suci, manusia pertama dulu tidak makan daging (Kej.1:29). Menurut teks ini, makanan manusia itu bukan daging (yang diambil dari tubuh hewan yang disembelih), melainkan hanya dari tumbuh-tumbuhan yang berbiji (gandum, padi, jagung, jelai, dan sejenisnya) dan pohon-pohonan yang buahnya berbiji (kira-kira seperti mangga, apel, pir, nangka, dan alpukat, dll). Tetapi ternyata mereka tidak melaksanakan perintah itu dengan baik. Faktanya mereka (orang tua pertama itu) membangkang (Kej 3:6-7). Akibatnya, mereka pun ditimpa oleh pelbagai macam kejahatan dan penderitaan. Anak-anak mereka pun terkena hukuman itu. Hidup sengsara (melarat) merupakan contoh yang kiranya paling jelas dari hukuman yang ditimpakan oleh Allah yang murka atas manusia yang tidak taat, manusia yang memberontak. Hidup sengsara (melarat) itulah yang harus dijalani oleh manusia yang adalah mahkota ciptaan (diciptakan paling akhir dan dinilai amat baik; Kej 1:31). Saat itu manusia harus hidup dengan bersandar pada bumi ini, suatu hidup yang susah dan berat karena bumi itu tidak menghasilkan apa-apa yang baik bagi manusia selain dari semak duri dan rumput duri dan tumbuh-tumbuhan di padang (thorns and thistles). (Kej 3:17-19).
Selama hampir duaribu tahun lebih, sebelum munculnya tragedi dramatis Air Bah itu (Kej 7-8), manusia tidak mempunyai makanan lain selain dari pada buah hasil dari bumi. Dan hasil bumi itu pun hanya bisa didapatkan dengan sebuah kerja keras dan berlelah-lelah dan dengan jerih payah. Saat itu usia manusianya masih panjang-panjang (Kej 5). Kemudian Allah, karena kasihan akan manusia, memperpendek usia hidup manusia, agar manusia itu tidak mempunyai waktu dan tenaga untuk berdosa ataupun berbuat jahat (Kej 6). Jadi, usia manusia pun diperpendek lagi agar jangan sampai manusia itu semakin jatuh dan jatuh di dalam dosa. Baru pada saat itulah Allah mengijinkan manusia untuk memakan daging binatang (Kej 9:3). Tetapi daging itu bukan makanan utama. Daging itu dimaksudkan sebagai nutrisi tambahan (ingat yah, tambahan, bukan yang paling pokok), saat daya kekuatan tubuh manusia itu semakin merosot dan memburuk. Baru pada saat itulah juga, Nuh, atas sebuah ilham ilahi, membuat minuman sari buah atau semacam jus (secara khusus dalam Kitab Suci disebut minum anggur; Kej 9:20). Hal itu membantu membentuk daya tahan yang kedua bagi kelemahan dan kerapuhan jasmani manusia. jadi, makanan tambahan itu ada dua: yang pertama ialah daging dan yang kedua ialah buah-buahan (termasuk sari buahnya, jus, ataupun semacam hasil penyulingan dan fermentasi).
Maka sesunggunya praksis puasa tidak lain adalah pantang atau menahan diri dari nutrisi-nutrisi tambahan seperti ini, yang pada awalnya hanya diijinkan sebagai nutrisi tambahan untuk menopang daya tahan tubuh. Pertama-tama, puasa ini terdiri atas pantang (menahan diri dari) daging ini, karena makanan ini diberikan oleh Allah kepada manusia sebagai hukuman atas kelemahannya (yang menyebabkan dia jatuh), dan bukan terutama sebagai satu yang esensial yang bersifat mutlak untuk pemeliharaan dan penopang hidup. Artinya, kalau hal ini dikurangi ataupun ditiadakan juga tidak akan merusak apalagi sampai meniadakan (baca: mematikan) hidup manusia itu sendiri. Ia tetap bisa hidup, juga tanpa mereka (nutrisi-nutrisi tambahan tadi). Pengurangan atau peniadaan hal-hal tambahan ini, entah sebagian entah seluruhnya ataupun banyak, menurut aturan masing-masing gereja, merupakan hal yang pokok bagi gagasan puasa itu sendiri. Artinya ide puasa itu pasti harus ada unsur pengurangan atau bahkan peniadaan unsur-unsur tadi dalam makanan kita. Jadi, itu sebabnya kita tidak makan daging pada masa puasa dan pantang. Jika dilihat dengan cara seperti ini maka praksis puasa seperti itu mutlak harus dilakukan sebab itu adalah sebuah kewajiban. Biarpun orang tidak makan daging tiap hari (misalnya karena miskin), tetapi tidak makan daging pada masa puasa bagi orang Katolik adalah wajib. Jadi, tidak ada pembenaran seperti dalam kalimat seperti ini: “daging itu bukan makanan saya tiap hari. Jadi, kalau pada masa puasa saya dapat daging dengan mudah, maka saya boleh memakannya.” Itu tidak benar. Itu salah.
Dilihat dengan cara seperti ini, maka praksis puasa dan pantang daging itu bukanlah sebuah praksis manikeistis, yaitu penolakan daging karena daging itu negatif dan jahat dalam perspektif dualisme manikeis tadi. Praksis itu sangat biblis sebagaimana sudah dibentangkan secara sangat singkat di atas tadi. Itu sebabnya di daerah-daerah kantong-kantong Katolik tradisional di Eropa, tiga hari sebelum Rabu Abu (jadi mulai dengan Minggu, Senin, dan Selasa), ditandai dengan pesta kerakyatan yang dikenal dengan sebutan carnival. Konon, salah satu cara untuk menjelaskan arti dari Carnival ini ialah dengan menelusuri makna etimologisnya. Secara etimologis kata carnival ini berasal dari akar kata dalam bahasa Latin, Caro dan vale. Caro artinya daging, vale, artinya selamat tinggal. Artinya, untuk sementara selama 40 Hari, sejak hari Rabu Abu, orang mengucapkan selamat tinggal kepada daging, dan sejak itu orang tidak makan daging sampai masa puasa berlalu, sampai Hari Minggu Paskah.
Selama berabad-abad di gereja barat, telur dan susu juga tidak diijinkan, karena bahan-bahan itu dianggap atau diyakini termasuk dalam kategori makanan yang berasal dari tubuh hewan. Dewasa ini sudah ada kelonggaran untuk susu dan telur. Tetapi di gereja timur, kedua hal itu masih tetap tidak diperbolehkan pada masa puasa dan pantang. Dulu, pada masa awal Kekristenan, praksis puasa juga mencakup pengendalian diri dari minum anggur. Itu yang dapat kita baca dari informasi yang berasal dari orang-orang seperti Cyrillus, Basilius, Yohanes Chrysostomus, Theophilus dari Alexandria, dll. Di gereja barat, kebiasaan ini sudah tidak dipakai atau diikuti lagi. Orang-orang Kristiani timuran masih terus mempertahankannya lebih lama lagi, tetapi kemudian juga mereka menganggapnya sudah tidak wajib lagi untuk diikut alias mengikat.
Akhirnya, praksis puasa juga mencakup upaya mengurangi sebagian dari makanan kita yang biasa kita habiskan setiap hari. Misalnya kalau kita biasa dan bisa makan tiga kali sehari, maka dalam dan selama masa puasa orang cukup makan sekali saja. Di pelbagai tempat ada pelbagai macam penyesuaian dan modifikasi. Dewasa ini kita akrab dengan perintah makan kenyang satu kali saja. Perintah seperti ini bisa ditafsirkan sbb: cukup makan satu kali, tetapi makan sekenyang-kenyangnya. Tetapi bisa juga ditafsirkan sbb: tetap makan dua atau tiga kali, dari antara dua atau tiga itu, cukup satu kali saja yang makan kenyang. Yang lain makan setengah kenyang saja. Harus diakui bahwa ada banyak adaptasi yang sudah dilakukan sepanjang masa. Walaupun ada banyak adaptasi, tetapi inti perintah tetap sama, yaitu pengurangan jatah normal yang wajib maupun yang disukai.
Setiap kali masa puasa dan pantang tiba, maka saya selalu teringat akan praktek pantang dan puasa yang dulu pernah diajarkan oleh ayah dan ibu kami pada waktu kami masih kecil (usia sekolah dasar). Saya masih ingat, hari Rabu dan Jum’at selama masa puasa (Prapaskah), adalah hari-hari yang tidak terlupakan oleh saya. Dulu pada masa kecil kedua hari itu juga merupakan hari yang paling sulit bagi kami. Itu disebabkan karena pada saat makan siang di kedua hari itu, kami makan sayur tanpa garam. Menu hanya ada dua saja, nasi dan sayur. Sayurnya pun hambar (hebas, dalam bahasa Manggarai) karena tidak digarami. Lebih mudah rasanya makan nasi putih saja (puasa mutih) tanpa sayur, daripada harus makan nasi dengan sayur tetapi sayurnya hambar (tidak bergaram). Tetapi kami tidak boleh melakukan hal itu (makan nasi tanpa sayur yang hambar tadi). Kami harus makan sayur yang tidak bergaram itu. Benar-benar tidak enak rasanya. Itulah praktek pantang dan puasa kami pada waktu itu. Entah dari mana ayah dan ibu kami mendapat ide itu: mengurangi konsumsi garam (pantang garam). Bila sudah selesai makan siang, maka kami pun menanti makan malam dengan penuh rindu dan gairah sebab pada saat makan malam itulah nanti sayur sudah bergaram dan ada ikan juga. Daging tidak ada. Di samping saat itu daging memang langka di kampung kami saat masa kecil, daging juga dilarang pada masa pantang dan puasa.
Memang setiap kali masa prapaskah tiba, kita mencoba menerapkan beberapa praktek puasa dan pantang yang sudah lama dijalankan dalam tradisi Gereja Katolik. Salah satunya ialah pantang daging. Pertanyaannya ialah mengapa kita puasa dan pantang daging? Saya menyadari bahwa tidak mudah juga menjawab pertanyaan ini. Tetapi pertanyaan ini harus dijawab agar jangan sampai muncul suatu anggapan negatif seperti tuduhan manikeistik yang dualistik dan bersikap negatif terhadap kedagingan, kejasmanian, terhadap tubuh. Cukup lama saya mencoba mencari jawaban dan penjelasan terhadap hal ini.
Setelah cukup lama mencari dan menggali, akhirnya saya menemukan sebuah penjelasan yang menurut saya sangat menarik perhatian. Menurut pendapat saya tradisi itu mempunyai landasan juga dalam Kitab Suci. Jika hal ini memang benar maka kiranya perlu sebuah upaya eksegese atas teks-teks Kitab Suci agar kita bisa memahami tradisi itu dengan baik, dan sekaligus bisa terhindarkan dan teratasi anggapan dan tuduhan yang bercorak negatif dan dualistik tadi. Itulah yang ingin saya usahakan dalam dan melalui tulisan singkat dan sederhana ini.
Masa puasa (dan pantang) adalah satu kurun waktu sepanjang tahun liturgi yang dibaktikan secara khusus untuk melakukan laku tapa, sesal, dan tobat. Sesal dan tobat ini diwujud-nyatakan dengan puasa (yang juga harus dilengkapi dengan doa dan amal, sehingga ketiganya menjadi tiga tiang tonggak kesalehan alkitabiah). Puasa adalah wujud dari laku tapa dan tobat. Puasa adalah sebuah upaya pengendalian diri, yang orang berlakukan secara sukarela atas dirinya sendiri sebagai silih atas dosa-dosa. Selama masa puasa ini, praksis puasa itu dilaksanakan dengan mengikuti ketetapan hukum Gereja. Menurut ketetapan dan peraturan Gereja barat, puasa pada masa puasa (yang reguler) ini tidak lebih keras daripada puasa yang ditetapkan untuk pelbagai vigilia untuk beberapa pesta atau hari raya tertentu, dan untuk hari-hari yang ditetapkan secara khusus sebagai hari puasa (di luar masa puasa. Misalnya puasa pada hari menjelang Pesta Salib Suci 14 September). Dalam tradisi Katolik puasa pada masa Puasa itu harus dijalankan selama empatpuluh hari berturut-turut dengan istirahat selingan setiap hari Minggu, sebab pada hari Minggu kita tidak berpuasa. Hari Minggu adalah hari raya, yang tidak boleh ada puasa di dalamnya.
Puasa itu amat penting dan berguna. Kiranya hal itu sudah jelas dengan sendirinya. Kitab Suci baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru penuh dengan pelbagai macam pujian akan praksis yang suci ini. Tradisi para bangsa pun menunjukkan bahwa puasa itu dihargai, dihormati, dianjurkan, diwajibkan. Tidak ada bangsa atau agama (walaupun dia sudah tergerus oleh modernitas) yang tidak terkesan dengan pendapat itu bahwa puasa itu penting. Orang percaya bahwa manusia bisa menyenangkan Allah-nya dengan menundukkan kepala dan mengarahkan tubuhnya pada laku tapa dan tobat.
Para Bapa Gereja (seperti St.Basilius Agung, St.Yohanes Chrysostomus, St.Hieronimus, dan St.Gregorius Agung), mengatakan bahwa perintah yang diberikan kepada orang tua kita yang pertama (maksudnya adalah Adam dan Hawa dan kaum keturunannya sampai sebelum Nuh) dalam firdaus duniawi dulu adalah perintah pantang (atau abstinence, yaitu menahan diri dari hal memakan daging). Menurut Kitab Suci, manusia pertama dulu tidak makan daging (Kej.1:29). Menurut teks ini, makanan manusia itu bukan daging (yang diambil dari tubuh hewan yang disembelih), melainkan hanya dari tumbuh-tumbuhan yang berbiji (gandum, padi, jagung, jelai, dan sejenisnya) dan pohon-pohonan yang buahnya berbiji (kira-kira seperti mangga, apel, pir, nangka, dan alpukat, dll). Tetapi ternyata mereka tidak melaksanakan perintah itu dengan baik. Faktanya mereka (orang tua pertama itu) membangkang (Kej 3:6-7). Akibatnya, mereka pun ditimpa oleh pelbagai macam kejahatan dan penderitaan. Anak-anak mereka pun terkena hukuman itu. Hidup sengsara (melarat) merupakan contoh yang kiranya paling jelas dari hukuman yang ditimpakan oleh Allah yang murka atas manusia yang tidak taat, manusia yang memberontak. Hidup sengsara (melarat) itulah yang harus dijalani oleh manusia yang adalah mahkota ciptaan (diciptakan paling akhir dan dinilai amat baik; Kej 1:31). Saat itu manusia harus hidup dengan bersandar pada bumi ini, suatu hidup yang susah dan berat karena bumi itu tidak menghasilkan apa-apa yang baik bagi manusia selain dari semak duri dan rumput duri dan tumbuh-tumbuhan di padang (thorns and thistles). (Kej 3:17-19).
Selama hampir duaribu tahun lebih, sebelum munculnya tragedi dramatis Air Bah itu (Kej 7-8), manusia tidak mempunyai makanan lain selain dari pada buah hasil dari bumi. Dan hasil bumi itu pun hanya bisa didapatkan dengan sebuah kerja keras dan berlelah-lelah dan dengan jerih payah. Saat itu usia manusianya masih panjang-panjang (Kej 5). Kemudian Allah, karena kasihan akan manusia, memperpendek usia hidup manusia, agar manusia itu tidak mempunyai waktu dan tenaga untuk berdosa ataupun berbuat jahat (Kej 6). Jadi, usia manusia pun diperpendek lagi agar jangan sampai manusia itu semakin jatuh dan jatuh di dalam dosa. Baru pada saat itulah Allah mengijinkan manusia untuk memakan daging binatang (Kej 9:3). Tetapi daging itu bukan makanan utama. Daging itu dimaksudkan sebagai nutrisi tambahan (ingat yah, tambahan, bukan yang paling pokok), saat daya kekuatan tubuh manusia itu semakin merosot dan memburuk. Baru pada saat itulah juga, Nuh, atas sebuah ilham ilahi, membuat minuman sari buah atau semacam jus (secara khusus dalam Kitab Suci disebut minum anggur; Kej 9:20). Hal itu membantu membentuk daya tahan yang kedua bagi kelemahan dan kerapuhan jasmani manusia. jadi, makanan tambahan itu ada dua: yang pertama ialah daging dan yang kedua ialah buah-buahan (termasuk sari buahnya, jus, ataupun semacam hasil penyulingan dan fermentasi).
Maka sesunggunya praksis puasa tidak lain adalah pantang atau menahan diri dari nutrisi-nutrisi tambahan seperti ini, yang pada awalnya hanya diijinkan sebagai nutrisi tambahan untuk menopang daya tahan tubuh. Pertama-tama, puasa ini terdiri atas pantang (menahan diri dari) daging ini, karena makanan ini diberikan oleh Allah kepada manusia sebagai hukuman atas kelemahannya (yang menyebabkan dia jatuh), dan bukan terutama sebagai satu yang esensial yang bersifat mutlak untuk pemeliharaan dan penopang hidup. Artinya, kalau hal ini dikurangi ataupun ditiadakan juga tidak akan merusak apalagi sampai meniadakan (baca: mematikan) hidup manusia itu sendiri. Ia tetap bisa hidup, juga tanpa mereka (nutrisi-nutrisi tambahan tadi). Pengurangan atau peniadaan hal-hal tambahan ini, entah sebagian entah seluruhnya ataupun banyak, menurut aturan masing-masing gereja, merupakan hal yang pokok bagi gagasan puasa itu sendiri. Artinya ide puasa itu pasti harus ada unsur pengurangan atau bahkan peniadaan unsur-unsur tadi dalam makanan kita. Jadi, itu sebabnya kita tidak makan daging pada masa puasa dan pantang. Jika dilihat dengan cara seperti ini maka praksis puasa seperti itu mutlak harus dilakukan sebab itu adalah sebuah kewajiban. Biarpun orang tidak makan daging tiap hari (misalnya karena miskin), tetapi tidak makan daging pada masa puasa bagi orang Katolik adalah wajib. Jadi, tidak ada pembenaran seperti dalam kalimat seperti ini: “daging itu bukan makanan saya tiap hari. Jadi, kalau pada masa puasa saya dapat daging dengan mudah, maka saya boleh memakannya.” Itu tidak benar. Itu salah.
Dilihat dengan cara seperti ini, maka praksis puasa dan pantang daging itu bukanlah sebuah praksis manikeistis, yaitu penolakan daging karena daging itu negatif dan jahat dalam perspektif dualisme manikeis tadi. Praksis itu sangat biblis sebagaimana sudah dibentangkan secara sangat singkat di atas tadi. Itu sebabnya di daerah-daerah kantong-kantong Katolik tradisional di Eropa, tiga hari sebelum Rabu Abu (jadi mulai dengan Minggu, Senin, dan Selasa), ditandai dengan pesta kerakyatan yang dikenal dengan sebutan carnival. Konon, salah satu cara untuk menjelaskan arti dari Carnival ini ialah dengan menelusuri makna etimologisnya. Secara etimologis kata carnival ini berasal dari akar kata dalam bahasa Latin, Caro dan vale. Caro artinya daging, vale, artinya selamat tinggal. Artinya, untuk sementara selama 40 Hari, sejak hari Rabu Abu, orang mengucapkan selamat tinggal kepada daging, dan sejak itu orang tidak makan daging sampai masa puasa berlalu, sampai Hari Minggu Paskah.
Selama berabad-abad di gereja barat, telur dan susu juga tidak diijinkan, karena bahan-bahan itu dianggap atau diyakini termasuk dalam kategori makanan yang berasal dari tubuh hewan. Dewasa ini sudah ada kelonggaran untuk susu dan telur. Tetapi di gereja timur, kedua hal itu masih tetap tidak diperbolehkan pada masa puasa dan pantang. Dulu, pada masa awal Kekristenan, praksis puasa juga mencakup pengendalian diri dari minum anggur. Itu yang dapat kita baca dari informasi yang berasal dari orang-orang seperti Cyrillus, Basilius, Yohanes Chrysostomus, Theophilus dari Alexandria, dll. Di gereja barat, kebiasaan ini sudah tidak dipakai atau diikuti lagi. Orang-orang Kristiani timuran masih terus mempertahankannya lebih lama lagi, tetapi kemudian juga mereka menganggapnya sudah tidak wajib lagi untuk diikut alias mengikat.
Akhirnya, praksis puasa juga mencakup upaya mengurangi sebagian dari makanan kita yang biasa kita habiskan setiap hari. Misalnya kalau kita biasa dan bisa makan tiga kali sehari, maka dalam dan selama masa puasa orang cukup makan sekali saja. Di pelbagai tempat ada pelbagai macam penyesuaian dan modifikasi. Dewasa ini kita akrab dengan perintah makan kenyang satu kali saja. Perintah seperti ini bisa ditafsirkan sbb: cukup makan satu kali, tetapi makan sekenyang-kenyangnya. Tetapi bisa juga ditafsirkan sbb: tetap makan dua atau tiga kali, dari antara dua atau tiga itu, cukup satu kali saja yang makan kenyang. Yang lain makan setengah kenyang saja. Harus diakui bahwa ada banyak adaptasi yang sudah dilakukan sepanjang masa. Walaupun ada banyak adaptasi, tetapi inti perintah tetap sama, yaitu pengurangan jatah normal yang wajib maupun yang disukai.
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 136
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Mazmur ini melambungkan rasa syukur, senang, aman, dan nyaman yang dialami manusia karena pelbagai karya penyelenggaraan, pembebasan, penyelamatan, dan penyertaan Tuhan. Hal ini terjadi setelah pemazmur melakukan kilas balik atas sejarah. Dari hasil kilas balik itu pemazmur menyadari bahwa Tuhan selalu bertindak dalam pelbagai momen kehidupan Israel. Momen itulah yang disyukuri dengan bahagia. Rasa syukur, bahagia, senang itu ditampakkan dalam sebuah refrein yang berulang sepanjang 26 ayat. Refrein itu berbunyi: “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Terjemahan yang lebih luwes (Brevir) berbunyi sbb: “Kekal abadi kasih setianya.”
Saya membagi mazmur ini dalam beberapa bagian. Bagian pertama ayat 1-3: ini adalah ajakan awal kepada pendengar atau pembacanya. Ia memulai mazmur ini dengan ajakan untuk bersyukur kepada Tuhan, karena Ia baik. Kebaikan Tuhan tampak dalam kasih setia-Nya yang tiada berkesudahan (ay.1). Ajakan awal ini muncul lagi di akhir, ay 26. Jadi, ini adalah ucapan syukur yang tiada henti kepada Tuhan Allah yang dialami Israel sebagai Tuhan yang melampaui segala dewa (allah dan tuhan huruf kecil, ay.2,3). Fakta bahwa Tuhan itu melampaui semua dewa, patut disyukuri, sebab tindakan Tuhan melampaui semua dewa. Ia mahaperkasa, mahakasih, maharahim.
Bagian kedua ayat 4-9: pelukisan mengenai Tuhan Pencipta yang menciptakan segala sesuatu. Keagungan Tuhan tampak dalam penciptaanNya atas semesta alam. Karya itu adalah keajaiban-keajaiban besar yang dilakukan Tuhan (ay.4). Keajaiban itu didaftarkan di sini: menjadikan langit dengan bijaksana (ay.5), menciptakan bumi (seperti piring yang diletakkan di atas air; ay.6), menciptakan benda-benda penerang besar (ay.7), secara khusus disebut matahari untuk siang (ay.8), bulan dan bintang-bintang untuk malam (ay.9). Semua karya penciptaan Tuhan Allah dalam alam semesta ini patut disyukuri. Itu adalah bukti kasih Tuhan yang tiada berkesudahan. Karena bagian ini menyinggung mengenai penciptaan, maka pasti merujuk pada kisah penciptaan dalam kitab Kejadian 1.
Bagian ketiga ayat 10-16: pelukisan mengenai Allah Penebus, Pembebas, Penyelamat, Allah yang masuk ke dalam sejarah Israel. Di sini disinggung mengenai tulah-tulah (Kel.7-12) yang ditimpakan atas orang Mesir. Tidak semua tulah disebut, tetapi hanya tulah pamungkas (ke sepuluh, Kel.11-12) “memukul mati anak-anak sulung Mesir” (ay.10), yang menyebabkan Firaun membiarkan Musa menuntun Israel keluar dari Mesir. Tatkala Mesir dikejutkan dengan tulah pamungkas itu, Tuhan membawa Israel keluar dari kekacauan itu (ay.11). Hal itu terjadi karena Tuhan bertindak dengan tangan kuat dan lengan perkasa (ay.12). Kisah pembebasan itu dilanjutkan dengan detail mengenai penyeberangan laut Teberau yang dahsyat itu (ay.13), dan Israel lewat di tengah belahan yang kering (ay.14). Saat Firaun mengejar, Tuhan menutup laut itu sehingga orang Mesir mati (ay.15). Setelah melewati laut Teberau, Tuhan membimbing umatNya melewati gurun (ay.16). Semuanya ini merujuk kepada kitab Keluaran. Semuanya patut disyukuri dengan pujian: kekal abadi kasih setiaNya.
Bagian keempat ayat 17-22: ini pelukisan pendudukan Tanah Terjanji, tujuan akhir perjalanan dari Mesir. Tanah itu bukan tanah kosong. Ada raja-raja besar di sana dan di sekitarnya. Tuhan mengalahkan dan membunuh raja-raja itu (ay.17-18) agar Israel bisa dengan mulus masuk Tanah Terjanji. Secara khusus disebut dua Raja: Sihon, raja Amori (ay.19), dan Og, raja Basan (ay.20). Setelah rajanya dikalahkan, tanahnya diberikan kepada Israel (ay.21-22). Lagi-lagi, semuanya itu patut disyukuri dengan gembira.
Bagian kelima ayat 23-26: ini pelukisan lanjutan mengenai Allah penyelenggara hidup manusia. Kita tergoda untuk berpikir bahwa setelah tiba di tanah terjanji, maka selesailah tugas Tuhan bagi umatNya. Tidak. Dalam ay.23 kita melihat bahwa Tuhan mengingat Israel terus-menerus. Ia tidak melupakan mereka. Tuhan membebaskan mereka terus menerus dari semua lawan (ay.24). Tuhan memberi roti terus menerus, setiap hari kepada segala makhluk (ay.25). Perhatikan, bahwa pada ketiga ayat ini saya tambahkan keterangan “terus menerus” dan “setiap hari”, yang tidak ada dalam teks, tetapi itulah yang dimaksudkan pemazmur: Tuhan tidak pernah berhenti memperhatikan semua makhluk hidup termasuk manusia. Maka, sebagaimana di awal dimulai dengan ajakan bersyukur, di bagian akhir mazmur ini ditutup dengan ajakan untuk bersyukur atas besarnya kasih setia Tuhan yang tiada berkesudahan.
Penulis: Dosen teologi biblika, Fakultas Filsafat UNPAR
Kopo, Januari 2017.
Mazmur ini melambungkan rasa syukur, senang, aman, dan nyaman yang dialami manusia karena pelbagai karya penyelenggaraan, pembebasan, penyelamatan, dan penyertaan Tuhan. Hal ini terjadi setelah pemazmur melakukan kilas balik atas sejarah. Dari hasil kilas balik itu pemazmur menyadari bahwa Tuhan selalu bertindak dalam pelbagai momen kehidupan Israel. Momen itulah yang disyukuri dengan bahagia. Rasa syukur, bahagia, senang itu ditampakkan dalam sebuah refrein yang berulang sepanjang 26 ayat. Refrein itu berbunyi: “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Terjemahan yang lebih luwes (Brevir) berbunyi sbb: “Kekal abadi kasih setianya.”
Saya membagi mazmur ini dalam beberapa bagian. Bagian pertama ayat 1-3: ini adalah ajakan awal kepada pendengar atau pembacanya. Ia memulai mazmur ini dengan ajakan untuk bersyukur kepada Tuhan, karena Ia baik. Kebaikan Tuhan tampak dalam kasih setia-Nya yang tiada berkesudahan (ay.1). Ajakan awal ini muncul lagi di akhir, ay 26. Jadi, ini adalah ucapan syukur yang tiada henti kepada Tuhan Allah yang dialami Israel sebagai Tuhan yang melampaui segala dewa (allah dan tuhan huruf kecil, ay.2,3). Fakta bahwa Tuhan itu melampaui semua dewa, patut disyukuri, sebab tindakan Tuhan melampaui semua dewa. Ia mahaperkasa, mahakasih, maharahim.
Bagian kedua ayat 4-9: pelukisan mengenai Tuhan Pencipta yang menciptakan segala sesuatu. Keagungan Tuhan tampak dalam penciptaanNya atas semesta alam. Karya itu adalah keajaiban-keajaiban besar yang dilakukan Tuhan (ay.4). Keajaiban itu didaftarkan di sini: menjadikan langit dengan bijaksana (ay.5), menciptakan bumi (seperti piring yang diletakkan di atas air; ay.6), menciptakan benda-benda penerang besar (ay.7), secara khusus disebut matahari untuk siang (ay.8), bulan dan bintang-bintang untuk malam (ay.9). Semua karya penciptaan Tuhan Allah dalam alam semesta ini patut disyukuri. Itu adalah bukti kasih Tuhan yang tiada berkesudahan. Karena bagian ini menyinggung mengenai penciptaan, maka pasti merujuk pada kisah penciptaan dalam kitab Kejadian 1.
Bagian ketiga ayat 10-16: pelukisan mengenai Allah Penebus, Pembebas, Penyelamat, Allah yang masuk ke dalam sejarah Israel. Di sini disinggung mengenai tulah-tulah (Kel.7-12) yang ditimpakan atas orang Mesir. Tidak semua tulah disebut, tetapi hanya tulah pamungkas (ke sepuluh, Kel.11-12) “memukul mati anak-anak sulung Mesir” (ay.10), yang menyebabkan Firaun membiarkan Musa menuntun Israel keluar dari Mesir. Tatkala Mesir dikejutkan dengan tulah pamungkas itu, Tuhan membawa Israel keluar dari kekacauan itu (ay.11). Hal itu terjadi karena Tuhan bertindak dengan tangan kuat dan lengan perkasa (ay.12). Kisah pembebasan itu dilanjutkan dengan detail mengenai penyeberangan laut Teberau yang dahsyat itu (ay.13), dan Israel lewat di tengah belahan yang kering (ay.14). Saat Firaun mengejar, Tuhan menutup laut itu sehingga orang Mesir mati (ay.15). Setelah melewati laut Teberau, Tuhan membimbing umatNya melewati gurun (ay.16). Semuanya ini merujuk kepada kitab Keluaran. Semuanya patut disyukuri dengan pujian: kekal abadi kasih setiaNya.
Bagian keempat ayat 17-22: ini pelukisan pendudukan Tanah Terjanji, tujuan akhir perjalanan dari Mesir. Tanah itu bukan tanah kosong. Ada raja-raja besar di sana dan di sekitarnya. Tuhan mengalahkan dan membunuh raja-raja itu (ay.17-18) agar Israel bisa dengan mulus masuk Tanah Terjanji. Secara khusus disebut dua Raja: Sihon, raja Amori (ay.19), dan Og, raja Basan (ay.20). Setelah rajanya dikalahkan, tanahnya diberikan kepada Israel (ay.21-22). Lagi-lagi, semuanya itu patut disyukuri dengan gembira.
Bagian kelima ayat 23-26: ini pelukisan lanjutan mengenai Allah penyelenggara hidup manusia. Kita tergoda untuk berpikir bahwa setelah tiba di tanah terjanji, maka selesailah tugas Tuhan bagi umatNya. Tidak. Dalam ay.23 kita melihat bahwa Tuhan mengingat Israel terus-menerus. Ia tidak melupakan mereka. Tuhan membebaskan mereka terus menerus dari semua lawan (ay.24). Tuhan memberi roti terus menerus, setiap hari kepada segala makhluk (ay.25). Perhatikan, bahwa pada ketiga ayat ini saya tambahkan keterangan “terus menerus” dan “setiap hari”, yang tidak ada dalam teks, tetapi itulah yang dimaksudkan pemazmur: Tuhan tidak pernah berhenti memperhatikan semua makhluk hidup termasuk manusia. Maka, sebagaimana di awal dimulai dengan ajakan bersyukur, di bagian akhir mazmur ini ditutup dengan ajakan untuk bersyukur atas besarnya kasih setia Tuhan yang tiada berkesudahan.
Penulis: Dosen teologi biblika, Fakultas Filsafat UNPAR
Kopo, Januari 2017.
Sunday, March 19, 2017
PERJALANAN MENUJU PERTOBATAN EKOLOGIS
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Tahun 1999, L.Boff, menerbitkan buku tentang krisis ekologi: Cry of the Earth, Cry of the poor (1999, NY: Orbis Books). Dunia dilanda krisis ekologi yang ngeri. Bumi pun (personifikasi) sakit payah dan menangis (cry). Menurut Boff, tidak setiap golongan menderita karena tangis ibu bumi. Yang paling menderita bersama bunda bumi ialah orang miskin. Mereka mudah menjadi korban krisis ekologi. Walau bencana tidak pandang bulu, tetapi kata Boff, orang kaya mudah meluputkan diri dengan pindah ke tempat aman. Orang miskin tidak punya kemungkinan itu. Mereka terikat pada tempat mereka. Maka kata Boff: Tangis bumi, tangis orang miskin. Sesudah jadi Wapres, Al Gore terjun dalam perjuangan ekologi. Ia berusaha membangkitkan kesadaran akan krisis ekologi. Ia bikin film, The Inconvenient Truth, Kebenaran yang tidak nyaman. Film itu melukiskan fenomena krisis lingkungan yang mengancam manusia. Jika tidak disikapi, maka bencana ekologis akan menghancurkan kehidupan di bumi ini. Ngeri.
2013 silam, terjadi perubahan di Tahta Suci. Benediktus XVI diganti Fransiskus. Walau berdarah Italia, Paus baru ini lahir dan besar di Argentina. Saat terpilih, sahabatnya Kardinal Sao Paulo (OFM) berbisik: “Kalau terpilih, jangan lupa orang miskin”. Saat terpilih, Kardinal Argentina ini memilih nama Fransiskus. Ia berujar: “Saat teman saya Kardinal Sao Paulo berkata ‘Jangan lupa orang miskin’, saya sudah tahu nama yang akan saya pilih sebagai Paus.” Ia pilih Fransiskus. Sebuah pemilihan nama yang programatis. Tahun 2015, beliau terbitkan ensiklik Laudato Si. Judul itu diambil dari baris pertama puisi kosmis Fransiskus, Gita Sang Surya. Seluruh dunia membahas ensiklik lingkungan hidup ini. Dalam ensiklik itu Paus mengungkapkan banyak hal. Di sini saya menyebut dua: kesadaran ekologis dan pertobatan ekologis.
Kesadaran ekologis berarti kesadaran bahwa manusia hidup dalam sebuah jejaring relasi yang erat dengan alam. Alam adalah rumah, ruang hidup manusia. Sadar akan krisis ekologis saat ini, orang sadar bahwa dalam rumah bersama ini, manusia tidak boleh hidup sesuka hati. Ia harus memperhitungkan yang lain, yaitu semua makhluk hidup. Hidup dalam alam ini hanya bisa nyaman kalau kita memperhitungkan keseimbangan ekologis. Sejak pencerahan, hidup manusia mengalami perubahan. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan maksimalisasi rasio manusia, ditemukan banyak alat modern yang mempermudah hidup. Ternyata tidak selalu begitu. Ada banyak teknologi modern yang mengancam hidup. Industri (senjata) mengancam hidup, membawa pencemaran, perusakan, dan peracunan alam. Muncul penyakit mematikan. Teknologi pesawat udara membawa efek pencemaran udara, atmosfer, angkasa. Demikian seterusnya, sampai orang berbicara tentang bolongnya lapisan ozone dan efek rumah kaca.
Sadar akan hal itu, kita harus berbicara tentang pertobatan ekologis. Apa itu? Sederhananya sbb: Manusia dipanggil untuk mengubah cara hidup dan cara pikir (metanoia) dalam rangka perbaikan ekologi. Harus ada perubahan orientasi hidup: dari hidup eksploitasi alam, ke hidup yang bersahabat terhadap alam, sebab alam adalah rumah kita (oikos), ruang hidup kita. Perubahan cara pikir berdampak pada perubahan cara hidup, cara bertindak. Orang harus beralih dari egologi ke ekologi, dari egosentrisme ke ecosentrisme. Tetapi dari mana kita menimba ilham untuk melakukan hal itu? Ada teolog yang menggali ilham dari kitab suci agama-agama besar. Ada yang menggali ilham dari local wisdom para bangsa. Salah satunya Thomas Berry. Ia menggali ilham dari hikmat lokal Indian Amerika.
Dalam cakupan mikro saya lakukan hal itu juga. Saya gali warisan local wisdom orang Manggarai untuk disumbangkan kepada wacana global demi perbaikan lingkungan hidup, dalam rangka kesadaran ekologi baru, dan dorongan pertobatan ekologis. Orang Manggarai melihat yang suci dalam alam (batu, pohon, mata air, hutan, gunung). Saat orang berurusan dengan alam, orang harus melakukan ritual. Tidak boleh sembarangan memperlakukan alam. Ketika butuh kayu, mereka ambil di hutan dengan ritual. Mereka memperlakukan kayu seperti manusia: diarak dengan ritual penyambutan tamu agung, mempelai perempuan. Setiap kali gagal panen pasti datang kelaparan. Saat itu, mereka ke hutan mencari makan. Semua harus dilakukan dengan ritual mohon ijin hutan. Begitu krisis berlalu, orang melakukan ritual mohon-maaf, pendamaian, karena di masa lapar mereka merusak rahim hutan. Setelah krisis berlalu, mereka mohon ampun. Rekonsiliasi.
Hal itu bisa dipakai sebagai ilham gerakan kesadaran dan pertobatan ekologis. Warisan local wisdom seperti itu ada di seluruh dunia karena banyak komunitas lokal mengingat dan melestarikannya. Butuh sedikit usaha untuk menemukan dan mengaktualkannya. Di awal derap revolusi Fransiskan, Fransiskus ditanya orang: “Di mana biaramu?” Biara artinya rumah besar dengan tembok megah, kokoh dan tertutup. Il Poverello tidak punya itu. Ia naik sebuah bukit. Di sana ia bentangkan tangan, dan berkata: “Hoc est claustrum nostrum” (Ini biara kami). Ia menunjuk alam di bawah langit. Bumi ini rumah kita semua. Mari kita jaga.
Penulis: Dosen teologi biblika pada Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.
Tulisan ini sudah dimuat dalam majalah bulanan KOMUNIKASI Keuskupan Bandung, Edisi Maret 2017.
Tahun 1999, L.Boff, menerbitkan buku tentang krisis ekologi: Cry of the Earth, Cry of the poor (1999, NY: Orbis Books). Dunia dilanda krisis ekologi yang ngeri. Bumi pun (personifikasi) sakit payah dan menangis (cry). Menurut Boff, tidak setiap golongan menderita karena tangis ibu bumi. Yang paling menderita bersama bunda bumi ialah orang miskin. Mereka mudah menjadi korban krisis ekologi. Walau bencana tidak pandang bulu, tetapi kata Boff, orang kaya mudah meluputkan diri dengan pindah ke tempat aman. Orang miskin tidak punya kemungkinan itu. Mereka terikat pada tempat mereka. Maka kata Boff: Tangis bumi, tangis orang miskin. Sesudah jadi Wapres, Al Gore terjun dalam perjuangan ekologi. Ia berusaha membangkitkan kesadaran akan krisis ekologi. Ia bikin film, The Inconvenient Truth, Kebenaran yang tidak nyaman. Film itu melukiskan fenomena krisis lingkungan yang mengancam manusia. Jika tidak disikapi, maka bencana ekologis akan menghancurkan kehidupan di bumi ini. Ngeri.
2013 silam, terjadi perubahan di Tahta Suci. Benediktus XVI diganti Fransiskus. Walau berdarah Italia, Paus baru ini lahir dan besar di Argentina. Saat terpilih, sahabatnya Kardinal Sao Paulo (OFM) berbisik: “Kalau terpilih, jangan lupa orang miskin”. Saat terpilih, Kardinal Argentina ini memilih nama Fransiskus. Ia berujar: “Saat teman saya Kardinal Sao Paulo berkata ‘Jangan lupa orang miskin’, saya sudah tahu nama yang akan saya pilih sebagai Paus.” Ia pilih Fransiskus. Sebuah pemilihan nama yang programatis. Tahun 2015, beliau terbitkan ensiklik Laudato Si. Judul itu diambil dari baris pertama puisi kosmis Fransiskus, Gita Sang Surya. Seluruh dunia membahas ensiklik lingkungan hidup ini. Dalam ensiklik itu Paus mengungkapkan banyak hal. Di sini saya menyebut dua: kesadaran ekologis dan pertobatan ekologis.
Kesadaran ekologis berarti kesadaran bahwa manusia hidup dalam sebuah jejaring relasi yang erat dengan alam. Alam adalah rumah, ruang hidup manusia. Sadar akan krisis ekologis saat ini, orang sadar bahwa dalam rumah bersama ini, manusia tidak boleh hidup sesuka hati. Ia harus memperhitungkan yang lain, yaitu semua makhluk hidup. Hidup dalam alam ini hanya bisa nyaman kalau kita memperhitungkan keseimbangan ekologis. Sejak pencerahan, hidup manusia mengalami perubahan. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan maksimalisasi rasio manusia, ditemukan banyak alat modern yang mempermudah hidup. Ternyata tidak selalu begitu. Ada banyak teknologi modern yang mengancam hidup. Industri (senjata) mengancam hidup, membawa pencemaran, perusakan, dan peracunan alam. Muncul penyakit mematikan. Teknologi pesawat udara membawa efek pencemaran udara, atmosfer, angkasa. Demikian seterusnya, sampai orang berbicara tentang bolongnya lapisan ozone dan efek rumah kaca.
Sadar akan hal itu, kita harus berbicara tentang pertobatan ekologis. Apa itu? Sederhananya sbb: Manusia dipanggil untuk mengubah cara hidup dan cara pikir (metanoia) dalam rangka perbaikan ekologi. Harus ada perubahan orientasi hidup: dari hidup eksploitasi alam, ke hidup yang bersahabat terhadap alam, sebab alam adalah rumah kita (oikos), ruang hidup kita. Perubahan cara pikir berdampak pada perubahan cara hidup, cara bertindak. Orang harus beralih dari egologi ke ekologi, dari egosentrisme ke ecosentrisme. Tetapi dari mana kita menimba ilham untuk melakukan hal itu? Ada teolog yang menggali ilham dari kitab suci agama-agama besar. Ada yang menggali ilham dari local wisdom para bangsa. Salah satunya Thomas Berry. Ia menggali ilham dari hikmat lokal Indian Amerika.
Dalam cakupan mikro saya lakukan hal itu juga. Saya gali warisan local wisdom orang Manggarai untuk disumbangkan kepada wacana global demi perbaikan lingkungan hidup, dalam rangka kesadaran ekologi baru, dan dorongan pertobatan ekologis. Orang Manggarai melihat yang suci dalam alam (batu, pohon, mata air, hutan, gunung). Saat orang berurusan dengan alam, orang harus melakukan ritual. Tidak boleh sembarangan memperlakukan alam. Ketika butuh kayu, mereka ambil di hutan dengan ritual. Mereka memperlakukan kayu seperti manusia: diarak dengan ritual penyambutan tamu agung, mempelai perempuan. Setiap kali gagal panen pasti datang kelaparan. Saat itu, mereka ke hutan mencari makan. Semua harus dilakukan dengan ritual mohon ijin hutan. Begitu krisis berlalu, orang melakukan ritual mohon-maaf, pendamaian, karena di masa lapar mereka merusak rahim hutan. Setelah krisis berlalu, mereka mohon ampun. Rekonsiliasi.
Hal itu bisa dipakai sebagai ilham gerakan kesadaran dan pertobatan ekologis. Warisan local wisdom seperti itu ada di seluruh dunia karena banyak komunitas lokal mengingat dan melestarikannya. Butuh sedikit usaha untuk menemukan dan mengaktualkannya. Di awal derap revolusi Fransiskan, Fransiskus ditanya orang: “Di mana biaramu?” Biara artinya rumah besar dengan tembok megah, kokoh dan tertutup. Il Poverello tidak punya itu. Ia naik sebuah bukit. Di sana ia bentangkan tangan, dan berkata: “Hoc est claustrum nostrum” (Ini biara kami). Ia menunjuk alam di bawah langit. Bumi ini rumah kita semua. Mari kita jaga.
Penulis: Dosen teologi biblika pada Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.
Tulisan ini sudah dimuat dalam majalah bulanan KOMUNIKASI Keuskupan Bandung, Edisi Maret 2017.
Friday, March 3, 2017
HARI MINGGU PERTAMA MASA PUASA
Oleh: Dom Abbot Gueranger OSB
(penerjemah: Fransiskus Borgias M).
Pengantar Penerjemah:
Teks ini merupakan sebuah terjemahan agak bebas dari buku Abbot Gueranger OSB, The Liturgical Year, Lent, 1949. Westminster, Maryland: The Newman Press (pp.121-127). Ini adalah sebuah buku yang sudah sangat tua, buku kuno. Jadi, apa yang saya lakukan di sini adalah ibarat sebuah perjalanan ke masa silam. Ibarat menggali fosil, ibarat menambang, berharap menemukan batubara, tembaga, emas, permata, intan. Itu harapan saya. Sebuah proses belajar sendiri. Mungkin ada banyak yang tidak lagi kita ketahui, karena tidak lagi kita praktekkan. Tetapi dulu pernah ada. Banyak catatan dalam kurung untuk memperjelas isi dan maksud. Semoga berguna. Agar tidak rumit, maka semua catatan kaki yang ada dalam teks asli, saya masukkan sebagai bagian utuh dari teks dalam kurung. Sedangkan catatan yang berasal dari saya sebagai penerjemah akan diberi tanda, penerjemah dan dicetak miring. Maaf, terjemahan masih belum begitu halus. Di sana-sini masih terasa kaku, tetapi sebuah sebuah bahan dasar renungan dan pembelajaran kiranya sudah cukup memadai. Sekali lagi, semoga bermanfaat. (EFBE FRANSISKUS).
Hari Minggu ini merupakan yang pertama dari masa enam minggu dalam masa Puasa. Hari Minggu yang pertama ini merupakan salah satu dari yang paling agung di sepanjang tahun (Penerjemah: Dulu ada kebiasaan bahwa lagu pembuka pada Misa hari Minggu ini diganti dengan Litani Para Kudus. Itu karena Hari Minggu pertama ini adalah Gerbang Perdana menuju persiapan selama enam hari Minggu Puasa untuk menyongsong Hari Raya Paskah, hari Kebangkitan Tuhan Yesus, sumber dan dasar iman Kristiani. Oleh karena itu, gereja yang sedang berada dan berziarah di dunia ini mengundang juga persekutuan para kudus di surga, untuk bersama-sama dengan kita berkumpul bersama, menunggu di depan Gerbang Agung ini untuk menuju ke Puncak pesta iman dalam Paskah). Minggu pertama ini, bersama dengan hari Minggu yang lain dalam masa Puasa, memiliki kedudukan unggul yang melampaui semua hari pesta, bahkan pesta pelindung, santo-santa, ataupun pemberkatan gereja. Dalam pelbagai kalendar kuno, Minggu pertama ini disebut Minggu Invocabit. Nama itu berasal dari kata pertama yang dipakai dalam Doa Pengantar (Introitus) Ekaristi. Pada abad pertengahan (khususnya di Prancis), Minggu ini disebut Brand Sunday atau Minggu Agung. Disebut demikian, karena orang-orang muda, yang selama pesta Karnaval (Penerjemah: biasanya pesta karnaval itu diadakan pada hari selama tiga hari, mulai dari hari Minggu sampai Selasa sebelum Rabu Abu; dewasa ini masih bisa ditemukan di beberapa daerah kantong Katolik di Belanda dan Jerman dan juga di Brasil) mungkin sudah berlaku salah dan nakal, diwajibkan pada hari ini untuk datang ke gereja dengan membawa obor. Itu adalah pertanda bahwa mereka di depan umum sudah menunjukkan rasa sesal dan tobatnya karena keributan dan kegaduhan yang telah mereka timbulkan (dalam dan selama Karnaval. Penerjemah).
Masa puasa mulai dibuka secara sangat meriah dan agung pada hari ini. Kita sudah mencatat (dalam bagian lain dari buku ini. Penerjemah) bahwa keempat hari yang sudah lewat (maksudnya, Rabu Abu, Kamis, Jum’at, Sabtu; penerjemah) baru dimasukkan (sebagai bagian dari masa puasa, penerjemah) sejak jaman Santo Gregorius Agung. Tujuannya ialah agar jumlah hari puasa itu mencapai angka empatpuluh hari. Lagipula kita juga tidak bisa menganggap Hari Rabu Abu itu sebagai pembukaan agung untuk masa tersebut (Rupanya dulu memang tidak ada kewajiban bagi Umat untuk ikut mendengarkan Misa. Kiranya dewasa ini juga tidak demikian, terutama umat yang tinggal jauh dari pusat paroki. Penerjemah). Sebab (pada hari itu) umat beriman tidak diwajibkan untuk mendengarkan (mengikuti, penerjemah) Misa (Ekaristi, penerjemah). Gereja yang kudus, tatkala melihat anak-anaknya sedang berkumpul bersama (di gereja, pada hari Minggu untuk merayakan ekaristi, penerjemah), menyampaikan kepada mereka, dalam Ofisi Matituna-nya, kata-kata yang agung dan mengesankan dari santo Paus Leo Agung: “Harus menyampaikan kepada kamu, anak-anak terkasih, puasa yang paling suci dan paling utama, bagaimanakah caranya saya bisa memulainya dengan tepat, daripada dengan kata-kata dari sang rasul, dalam diri siapa Kristus sendiri sudah berbicara, dan dengan mengatakan kepadamu apa yang baru saja dibacakan: “Lihatlah! Sekarang inilah waktunya yang tepat; lihatlah! Saat inilah hari keselamatan.” Sebab walaupun (sesungguhnya, penerjemah) tidak ada satu waktupun yang tidak dipenuhi dengan rahmat ilahi, dan berkat rahmat Allah, kita bisa selalu masuk dan mendapatkan kerahiman-Nya, namun kita semua harus meningkatkan (menggandakan) upaya-upaya kita untuk menggapai kemajuan (perkembangan) rohani dan dijiwai dengan kepercayaan yang tinggi, tetapi sekarang saat peringatan dari hari penebusan kita sudah semakin mendekat, mengundang kita untuk membaktikan diri kita ke dalam banyak pekerjaan yang baik, agar dengan cara demikian kita boleh merayakan, dengan tubuh dan hati yang murni, misteri Sengsara Tuhan kita yang tiada taranya.
Adalah benar bahwa devosi dan penghormatan kita terhadap misteri yang sedemikian besar itu harus terus menerus dijaga sepanjang tahun, dan kita sendiri sepanjang waktu harus, dalam pandangan Allah, tetap sama tatkala kita semakin mendekati hari raya Paskah yang agung. Tetapi ini adalah sebuah usaha yang hanya sedikit orang dari antara kita berani menghadapi dan menanggungnya. Kelemahan daging menyebabkan kita sedikit melonggarkan sikap ketat kita; pelbagai macam kesempatan dalam hidup sehari-hari telah menyibukkan pikiran-pikiran kita; dan dengan demikian bahkan orang yang paling kuat pun menemukan bahwa hati mereka tersaput penuh oleh debu dunia ini. Itulah sebabnya Tuhan kita sudah dengan sangat tepat memberikan empatpuluh hari ini, yang praktek-prakteknya yang kudus kiranya bisa menjadi obat bagi kita, dan dengan cara itu kita pun mampu lagi menggapai kemurnian jiwa kita. Pekerjaan-pekerjaan yang baik dan puasa-puasa yang suci dalam masa ini ditetapkan sebagai suatu silih bagi, dan suatu pemusnahan dari dosa-dosa yang kita lakukan sepanjang tahun.
“Oleh karena itu, sekarang, saat kita akan memasuki hari-hari ini, yang penuh dengan banyak misteri, dan yang ditetapkan demi tujuan suci yaitu memurnikan tubuh dan jiwa, baiklah kita, umat terkasih, bertingkah-laku dengan penuh perhatian sebagaimana yang diminta sang rasul dari kita, dan membasuh diri kita dari semua kotor-cela dari tubuh dan juga dari roh: jadi itu adalah sebuah pertempuran antara dua unsur pokok yang dibuat menjadi tidak lagi begitu keras, jiwa, yang, ketika dia sendiri (jiwa) tunduk pada Allah, harus menjadi penguasa atas tubuh, akan memulihkan kembali martabat dan kedudukannya sendiri. Baiklah kita juga menghindarkan jangan sampai membuat seseorang tersinggung (marah), sehingga tidak akan ada seorang pun yang dipersalahkan atau mengucapkan hal-hal yang jahat tentang engkau. Sebab kita memang pantas mendapatkan peringatan-peringatan yang keras dari kaum tak beriman, dan kita menyebabkan lidah orang jahat mencela agama, ketika kita yang berpuasa justru mengarungi hidup yang tidak suci. Sebab puasa kita tidak sekedar terdiri atas hal menahan diri dari makanan; ia juga tidak bukan terutama sekali menyangkal makanan bagi tubuh kita; inti puasa kita ialah menahan jiwa kita dari dosa.” (Kotbah Keempat Masa Puasa. Tetapi tidak dijelaskan ini, kotbah dari siapa? Tetapi karena di depan tadi sudah disebut nama dari santo Leo Agung, maka mungkin kotbah ini berasal dari dia. Penerjemah).
Setiap hari Minggu dalam masa Puasa memberi kepada kita sebuah pesan dari Injil untuk kita renungkan. Pesan dari Injil itu sejalan dengan suasana dan citarasa yang diberikan oleh Gereja kepada kita. Hari ini dia (bunda Gereja. Penerjemah) melukiskan kepada kita perihal pencobaan Tuhan kita di gurun. Dalam pengajaran ini terkandung sebuah terang dan dorongan yang mengagumkan bagi kita.
Kita sendiri mengakui bahwa kita adalah para pendosa; pada waktu ini, kita terlibat dalam mengupayakan penebusan atas dosa-dosa yang telah kita lakukan; tetapi bagaimanakah caranya kita telah jatuh ke dalam dosa? Setan menggoda kita; kita tidak menolak godaan itu; lalu kita pun tunduk mengalah pada godaan itu, dan pada saat itulah dosa pun terjadi. Ini adalah sejarah masa silam kita; dan demikinalh juga halnya kelak di masa yang akan datang, kalau kita tidak menimba pelajaran yang diberikan kepada kita hari ini oleh Penebus kita.
Tatkala sang rasul berbicara tentang kerahiman yang mengagumkan yang ditunjukkan kepada kita oleh sang Penyelamat kita yang suci, yang telah rela membuat DiriNya sendiri menjadi sama dengan kita dalam segala hal kecuali dosa, ia dengan tepat telah menekankan pencobaan-pencobaan yang telah Ia alami (Ibr.4:15). Dia, yang adalah Allah, telah menghampakan Diri sampai serendah-rendahnya, hanya untuk membuktikan betapa sangat lembut Ia menghasihi kita. Maka di sini, kita melihat sang Santo dari segala santo sedang membiarkan roh jahat mendekati Dia, agar kita bisa belajar, dari teladanNya, bagaimana kita bisa menggapai kemenangan dalam pencobaan.
Setan sudah lama memandang (bahkan mengintai atau mengincar. Penerjemah) Yesus; setan itu sangat merasa terganggu saat menyaksikan keutamaan-keutamaan yang tiada bandingnya. Misalnya, situasi lingkungan yang sangat mengagumkan saat Ia lahir; para gembala yang dipanggil oleh para malaekat untuk datang ke palungan-Nya, dan orang-orang Majur dituntun oleh bintang; sang Bayi pun luput dari rencana jahat Herodes; kesaksian yang diberikan oleh si Nabu baru ini oleh Yohanes Pembaptis: semua hal ini, yang tampaknya sangat maju juga selama masa tiga puluh tahun yang dilewatkan dalam ketidak-tahuan (maksudnya: tertutup dari mata publik, karena hidup dan tinggal di kampung. Penerjemah) di Nazaret, merupakan sebuah misteri bagi sang ular dari neraka itu, dan membuat dia akhirnya menjadi cemas juga. Misteri Inkarnasi yang tidak terselami sudah terjadi tanpa ia (ular tadi) ketahui juga; ia (ular penggoda tadi) juga tidak pernah sekalipun curiga bahwa sang Perawan yang rendah hati, Maria, adalah dia yang sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya, bahwa ia akan mengandung dan melahirkan sang Immanuel (Yes.7:14); tetapi ia sadar bahwa waktunya sudah tiba, bahwa minggu terakhir yang dimaksudkan Daniel itu sudah mulai datang, dan bahwa orang-orang kafir sedang memandang ke Yudea untuk lahirnya seorang pembebas. Ia takut akan Yesus ini; ia berusaha keras (ingin sekali. Penerjemah) untuk berbicara dengan Dia, dan berusaha memperoleh dari Dia beberapa ungkapan yang kiranya bisa menunjukkan kepada dia apakah Dia itu memang Anak Allah atau tidak; dia akan mencobai Dia kepada beberapa tindakan dosa, yang, kalau saja Ia perbuat, akan bisa membuktikan bahwa objek dari sebuah ketakutan yang besar, bagaimana pun juga, membuktikan bahwa dia adalah Manusia yang fana belaka.
Musuh Allah dan manusia ini, tentu saja, kecewa berat. Ia mendekati Yesus; tetapi semua upaya yang ia lakukan semakin membuat ia sendiri bingung. Penebus kita, dengan semua pengendalian-diri dan sejumput keagungan sebagai Allah-Manusia, menolak semua serangan setan itu; tetapi Ia tidak menyingkapkan asal-usul surgawiNya. Lalu roh jahat itu pun mundur tanpa menemukan sesuatu apa pun yang melampaui hal ini – yaitu bahwa Yesus adalah nabi, yang setia kepada Allah. Kemudian, tatkala ia melihat Anak Manusia diperlakukan dengan hina, difitnah dan disiksa; tatkala dia menemukan bahwa upaya-upaya dia sendiri untuk membuat dia dihukum mati sungguh berhasil: maka kebanggaan dan kebutaan dia pun semakin menjadi-jadi dan mencapai puncaknya; dan sebelum Yesus wafat di kayu salib, ia baru tahu bahwa korban dia itu bukan hanya Manusia biasa, melainkan Manusia dan Allah. Pada saat itulah dia menemukan betapa semua rancangan jahatnya melawan Yesus justru telah berfungsi untuk memperlihatkan, dengan sangat indah, kerahiman dan keadilan Allah: Kerahiman Dia, karena Ia menyelamatkan umat manusia; dan keadilan Dia, karena Ia mematahkan kuasa neraka untuk selama-lamanya.
Semuanya ini adalah rancangan dari Penyelenggaraan ilahi yaitu membiarkan roh jahat untuk merusak, dengan kehadirannya, ketidak-hadiran Yesus, berbicara kepada Dia, dan menimpa Dia. Tetapi baiklah kita merenungkan dengan penuh perhatian tiga godaan itu dalam semua situasi kongkretnya; sebab Penebus kita mengalaminya hanya dengan maksud agar Dia bisa mengajar dan mendorong kita.
Kita mempunyai tiga musuh untuk dilawan; jiwa kita menghadapi tiga bahaya; sebab, sebagaimana dikatakan oleh murid yang terkasih itu, semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup! (1Yoh.2:16). Yang dimaksudkan dengan keinginan daging ialah cinta akan hal-hal jasmani, yang mendambakan apa saja yang dapat disetujui oleh daging, dan, ketika tidak dikendalikan, akan menyeret jiwa itu ke dalam kesenangan-kesenangan yang tidak sah (tidak sepatutnya. Penerjemah). Keinginan mata mengungkapkan cinta akan barang-barang dari dunia ini, seperti kekayaan dan harta benda; semuanya ini menyilaukan mata, dan pada gilirannya menggoda hati. Keangkuhan hidup adalah rasa percaya akan diri kita sendiri, yang mendorong kita ke arah kesia-siaan dan sombong, dan membuat kita lupa bahwa semua yang kita miliki, hidup kita dan setiap pemberian yang baik, kita peroleh dari Allah semuanya.
Setiap dosa kita datang dari salah satu dari ketiga sumber tadi; setiap godaan yang kita alami tertuju untuk membuat kita menerima (menyetujui) keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Maka, sang Penyelamat kita, yang akan menjadi model kita di dalam segala sesuatu, berkenan membaktikan DiriNya sendiri kepada ketiga pencobaan ini.
Pertama-tama setan mencobai Dia terkait dengan daging: dia (setan) mengusulkan kepada Dia untuk memuaskan dorongan rasa lapar, dengan mengerjakan sebuah mukjizat, yaitu mengubah batu menjadi roti. Kalau Yesus setuju, dan memperlihatkan rasa semangat untuk menyerah kepada dorongan Tubuh-Nya, maka sang penggoda akan menyimpulkan bahwa Dia hanyalah sekadar sosok makhluk fana belaka yang rapuh, yang tunduk pada keinginan seperti halnya manusia yang lain juga. Ketika ia (setan) mencobai kita, yang telah mewarisi keinginan yang jahat dari Adam, maka usul-usul dia (setan tadi) melangkah lebih jauh dari hal ini: ia berusaha untuk mengotori jiwa melalui badan. Tetapi kekudusan yang tinggi dari sang Sabda yang Menjelma tidak pernah membiarkan si setan itu memakai sebuah kekuasaan atas Yesus yaitu kekuasaan yang telah ia terima saat mencobai manusia dalam indra-indra luarannya. Maka pelajaran yang diberikan kepada kita oleh sang Anak Allah di sini, ialah pelajaran mengenai pengendalian-diri: tetapi kita tahu bahwa, bagi kita, pengendalian diri adalah induk dari kemurnian, dan bahwa ketidak-mampuan untuk mengendalikan diri justru mendorong indra-indra kita untuk memberontak.
Godaan kedua ialah keangkuhan; “Jatuhkan diriMu ke bawah, dan malaekat akan menopang Engkau dengan tangan mereka”. Sang musuh ingin sekali melihat kalau-kalau perkenanan surga telah menghasilkan dalam diri Yesus sebuah jiwa yang angkuh, yaitu suatu rasa percaya-diri yang tidak tahu bersyukur, yang menyebabkan makhluk ciptaan merebut pemberian-pemberian Allah bagi dirinya sendiri, dan melupakan sang pemberi yang maharahim itu. Di sini, juga, dia (setan) itu gagal; kerendahan hati sang Penebus kita mengacaukan keangkuhan dari malaekat pemberontak itu.
Kemudian dia (setan) melakukan ikhtiarnya yang terakhir: ia berharap agar kali ini bisa berhasil dengan cara mengganggu segi ambisiNya, sebab Dia sudah terbukti teguh dalam hal pengendalian diri dan kerendahan hati. Ia pun menunjukkan kepada Dia semua kerajaan di bumi ini, dan kemuliaan dari kerajaan itu; lalu ia pun berkata kepadaNya: “Semuanya ini akan kuberikan kepadaMu, asal saja Engkau berkenan menyembah aku.” Yesus menolak tawaran yang kurang ajar itu, dan mengusir dariNya si penggoda itu, pangeran dari dunia ini (Yoh.14:30); dengan cara ini ia mengajar kita bahwa kita harus menghinakan kekayaan dari dunia ini, sesering upaya kita untuk mendapatkan dan menyimpan mereka dengan syarat bahwa kita melanggar hukum Allah dan menyembah setan.
Tetapi baiklah kita perhatikan bagaimana sang Model ilahi kita, sang Penebus kita, mengatasi si penggoda itu. Apakah Dia mendengarkan perkataan-Nya? Apakah Dia membiarkan saat penggodaan itu, dan memberinya kekuatan dengan cara menundanya? Kita justru berbuat demikian, saat kita digoda; maka kita pun jatuh. Tetapi Tuhan kita dengan segera menghadapi setiap pencobaan dengan pedang dari sabda Allah. Ia pun mengatakan: “Dalam Kitab Suci ada Tertulis: “Manusia tidak hanya hidup dari roti saja.” Ada tertulis: “Engkau jangan mencobai Tuhan Allahmu.” Ada juga tertulis: “Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya Dialah yang patut disembah.” Hal inilah yang harus menjadi praktek kita di waktu yang akan datang. Hawa mendatangkan kekalahan atas dirinya, dan atas seluruh bangsa manusia, karena ia mendengarkan ular itu. Dia yang bermain-main dengan godaan pasti akan jatuh. Sekarang ini kita berada dalam sebuah masa yang sangat penuh rahmat; hati kita pun harus berjaga-jaga, saat-saat yang berbahaya disingkirkan, segala sesuatu yang berbau keduniaan haruslah disingkirkan; jiwa kita, yang dimurnikan dengan doa, berpuasa, dan perbuatan amal sedekah, akan bangkit dengan Kristus, kepada sebuah hidup baru; tetapi apakah kita mampu bertahan? Semuanya tergantung pada bagaimana kita bersikap di dalam menghadapi pencobaan. Di sini pada permulaan masa Puasa ini, Gereja memberi kita pesan ini dari Injil Suci, agar kita tidak hanya memiliki perintah melainkan juga teladan. Kalau kita bersikap penuh perhatian dan setia, maka pelajaran yang ia (bunda gereja) berikan kepada kita akan menghasilkan buahnya; dan ketika kita datang ke perayaan agung Paskah, maka kita pasti akan menikmati janji-janji ketekunan ini: ketekunan berjaga, pengendalian-diri, doa, dan bantuan rahmat ilahiyang tidak pernah sia-sia.
Gereja Yunani, kendati prinsip yang ia pegang untuk tidak pernah mengakui atau membiarkan adanya sebuah pesta selama masa Puasa, toh pada hari Minggu pertama Puasa ini merayakan salah satu dari hari-hari rayanya yang terbesar. Hal ini disebut Orthodoxia, dan yang dipatenkan di dalam ingatan akan pemulihan patung-patung di Konstantinopel dan kekaisaran timur, pada tahun 842, tatkala Kaisar Theodora, dengan dibantu oleh Patriark yang agung Methodius, menghentikan pengejaran Ikonoklas, dan memulihkan kepada gereja-gereja patung-patung kudus yang telah dibuang jauh oleh murka kaum bidaah itu.
Taman Kopo Indah II Blok D4 No.40 Bandung, 40218, Jawa Barat.
(penerjemah: Fransiskus Borgias M).
Pengantar Penerjemah:
Teks ini merupakan sebuah terjemahan agak bebas dari buku Abbot Gueranger OSB, The Liturgical Year, Lent, 1949. Westminster, Maryland: The Newman Press (pp.121-127). Ini adalah sebuah buku yang sudah sangat tua, buku kuno. Jadi, apa yang saya lakukan di sini adalah ibarat sebuah perjalanan ke masa silam. Ibarat menggali fosil, ibarat menambang, berharap menemukan batubara, tembaga, emas, permata, intan. Itu harapan saya. Sebuah proses belajar sendiri. Mungkin ada banyak yang tidak lagi kita ketahui, karena tidak lagi kita praktekkan. Tetapi dulu pernah ada. Banyak catatan dalam kurung untuk memperjelas isi dan maksud. Semoga berguna. Agar tidak rumit, maka semua catatan kaki yang ada dalam teks asli, saya masukkan sebagai bagian utuh dari teks dalam kurung. Sedangkan catatan yang berasal dari saya sebagai penerjemah akan diberi tanda, penerjemah dan dicetak miring. Maaf, terjemahan masih belum begitu halus. Di sana-sini masih terasa kaku, tetapi sebuah sebuah bahan dasar renungan dan pembelajaran kiranya sudah cukup memadai. Sekali lagi, semoga bermanfaat. (EFBE FRANSISKUS).
Hari Minggu ini merupakan yang pertama dari masa enam minggu dalam masa Puasa. Hari Minggu yang pertama ini merupakan salah satu dari yang paling agung di sepanjang tahun (Penerjemah: Dulu ada kebiasaan bahwa lagu pembuka pada Misa hari Minggu ini diganti dengan Litani Para Kudus. Itu karena Hari Minggu pertama ini adalah Gerbang Perdana menuju persiapan selama enam hari Minggu Puasa untuk menyongsong Hari Raya Paskah, hari Kebangkitan Tuhan Yesus, sumber dan dasar iman Kristiani. Oleh karena itu, gereja yang sedang berada dan berziarah di dunia ini mengundang juga persekutuan para kudus di surga, untuk bersama-sama dengan kita berkumpul bersama, menunggu di depan Gerbang Agung ini untuk menuju ke Puncak pesta iman dalam Paskah). Minggu pertama ini, bersama dengan hari Minggu yang lain dalam masa Puasa, memiliki kedudukan unggul yang melampaui semua hari pesta, bahkan pesta pelindung, santo-santa, ataupun pemberkatan gereja. Dalam pelbagai kalendar kuno, Minggu pertama ini disebut Minggu Invocabit. Nama itu berasal dari kata pertama yang dipakai dalam Doa Pengantar (Introitus) Ekaristi. Pada abad pertengahan (khususnya di Prancis), Minggu ini disebut Brand Sunday atau Minggu Agung. Disebut demikian, karena orang-orang muda, yang selama pesta Karnaval (Penerjemah: biasanya pesta karnaval itu diadakan pada hari selama tiga hari, mulai dari hari Minggu sampai Selasa sebelum Rabu Abu; dewasa ini masih bisa ditemukan di beberapa daerah kantong Katolik di Belanda dan Jerman dan juga di Brasil) mungkin sudah berlaku salah dan nakal, diwajibkan pada hari ini untuk datang ke gereja dengan membawa obor. Itu adalah pertanda bahwa mereka di depan umum sudah menunjukkan rasa sesal dan tobatnya karena keributan dan kegaduhan yang telah mereka timbulkan (dalam dan selama Karnaval. Penerjemah).
Masa puasa mulai dibuka secara sangat meriah dan agung pada hari ini. Kita sudah mencatat (dalam bagian lain dari buku ini. Penerjemah) bahwa keempat hari yang sudah lewat (maksudnya, Rabu Abu, Kamis, Jum’at, Sabtu; penerjemah) baru dimasukkan (sebagai bagian dari masa puasa, penerjemah) sejak jaman Santo Gregorius Agung. Tujuannya ialah agar jumlah hari puasa itu mencapai angka empatpuluh hari. Lagipula kita juga tidak bisa menganggap Hari Rabu Abu itu sebagai pembukaan agung untuk masa tersebut (Rupanya dulu memang tidak ada kewajiban bagi Umat untuk ikut mendengarkan Misa. Kiranya dewasa ini juga tidak demikian, terutama umat yang tinggal jauh dari pusat paroki. Penerjemah). Sebab (pada hari itu) umat beriman tidak diwajibkan untuk mendengarkan (mengikuti, penerjemah) Misa (Ekaristi, penerjemah). Gereja yang kudus, tatkala melihat anak-anaknya sedang berkumpul bersama (di gereja, pada hari Minggu untuk merayakan ekaristi, penerjemah), menyampaikan kepada mereka, dalam Ofisi Matituna-nya, kata-kata yang agung dan mengesankan dari santo Paus Leo Agung: “Harus menyampaikan kepada kamu, anak-anak terkasih, puasa yang paling suci dan paling utama, bagaimanakah caranya saya bisa memulainya dengan tepat, daripada dengan kata-kata dari sang rasul, dalam diri siapa Kristus sendiri sudah berbicara, dan dengan mengatakan kepadamu apa yang baru saja dibacakan: “Lihatlah! Sekarang inilah waktunya yang tepat; lihatlah! Saat inilah hari keselamatan.” Sebab walaupun (sesungguhnya, penerjemah) tidak ada satu waktupun yang tidak dipenuhi dengan rahmat ilahi, dan berkat rahmat Allah, kita bisa selalu masuk dan mendapatkan kerahiman-Nya, namun kita semua harus meningkatkan (menggandakan) upaya-upaya kita untuk menggapai kemajuan (perkembangan) rohani dan dijiwai dengan kepercayaan yang tinggi, tetapi sekarang saat peringatan dari hari penebusan kita sudah semakin mendekat, mengundang kita untuk membaktikan diri kita ke dalam banyak pekerjaan yang baik, agar dengan cara demikian kita boleh merayakan, dengan tubuh dan hati yang murni, misteri Sengsara Tuhan kita yang tiada taranya.
Adalah benar bahwa devosi dan penghormatan kita terhadap misteri yang sedemikian besar itu harus terus menerus dijaga sepanjang tahun, dan kita sendiri sepanjang waktu harus, dalam pandangan Allah, tetap sama tatkala kita semakin mendekati hari raya Paskah yang agung. Tetapi ini adalah sebuah usaha yang hanya sedikit orang dari antara kita berani menghadapi dan menanggungnya. Kelemahan daging menyebabkan kita sedikit melonggarkan sikap ketat kita; pelbagai macam kesempatan dalam hidup sehari-hari telah menyibukkan pikiran-pikiran kita; dan dengan demikian bahkan orang yang paling kuat pun menemukan bahwa hati mereka tersaput penuh oleh debu dunia ini. Itulah sebabnya Tuhan kita sudah dengan sangat tepat memberikan empatpuluh hari ini, yang praktek-prakteknya yang kudus kiranya bisa menjadi obat bagi kita, dan dengan cara itu kita pun mampu lagi menggapai kemurnian jiwa kita. Pekerjaan-pekerjaan yang baik dan puasa-puasa yang suci dalam masa ini ditetapkan sebagai suatu silih bagi, dan suatu pemusnahan dari dosa-dosa yang kita lakukan sepanjang tahun.
“Oleh karena itu, sekarang, saat kita akan memasuki hari-hari ini, yang penuh dengan banyak misteri, dan yang ditetapkan demi tujuan suci yaitu memurnikan tubuh dan jiwa, baiklah kita, umat terkasih, bertingkah-laku dengan penuh perhatian sebagaimana yang diminta sang rasul dari kita, dan membasuh diri kita dari semua kotor-cela dari tubuh dan juga dari roh: jadi itu adalah sebuah pertempuran antara dua unsur pokok yang dibuat menjadi tidak lagi begitu keras, jiwa, yang, ketika dia sendiri (jiwa) tunduk pada Allah, harus menjadi penguasa atas tubuh, akan memulihkan kembali martabat dan kedudukannya sendiri. Baiklah kita juga menghindarkan jangan sampai membuat seseorang tersinggung (marah), sehingga tidak akan ada seorang pun yang dipersalahkan atau mengucapkan hal-hal yang jahat tentang engkau. Sebab kita memang pantas mendapatkan peringatan-peringatan yang keras dari kaum tak beriman, dan kita menyebabkan lidah orang jahat mencela agama, ketika kita yang berpuasa justru mengarungi hidup yang tidak suci. Sebab puasa kita tidak sekedar terdiri atas hal menahan diri dari makanan; ia juga tidak bukan terutama sekali menyangkal makanan bagi tubuh kita; inti puasa kita ialah menahan jiwa kita dari dosa.” (Kotbah Keempat Masa Puasa. Tetapi tidak dijelaskan ini, kotbah dari siapa? Tetapi karena di depan tadi sudah disebut nama dari santo Leo Agung, maka mungkin kotbah ini berasal dari dia. Penerjemah).
Setiap hari Minggu dalam masa Puasa memberi kepada kita sebuah pesan dari Injil untuk kita renungkan. Pesan dari Injil itu sejalan dengan suasana dan citarasa yang diberikan oleh Gereja kepada kita. Hari ini dia (bunda Gereja. Penerjemah) melukiskan kepada kita perihal pencobaan Tuhan kita di gurun. Dalam pengajaran ini terkandung sebuah terang dan dorongan yang mengagumkan bagi kita.
Kita sendiri mengakui bahwa kita adalah para pendosa; pada waktu ini, kita terlibat dalam mengupayakan penebusan atas dosa-dosa yang telah kita lakukan; tetapi bagaimanakah caranya kita telah jatuh ke dalam dosa? Setan menggoda kita; kita tidak menolak godaan itu; lalu kita pun tunduk mengalah pada godaan itu, dan pada saat itulah dosa pun terjadi. Ini adalah sejarah masa silam kita; dan demikinalh juga halnya kelak di masa yang akan datang, kalau kita tidak menimba pelajaran yang diberikan kepada kita hari ini oleh Penebus kita.
Tatkala sang rasul berbicara tentang kerahiman yang mengagumkan yang ditunjukkan kepada kita oleh sang Penyelamat kita yang suci, yang telah rela membuat DiriNya sendiri menjadi sama dengan kita dalam segala hal kecuali dosa, ia dengan tepat telah menekankan pencobaan-pencobaan yang telah Ia alami (Ibr.4:15). Dia, yang adalah Allah, telah menghampakan Diri sampai serendah-rendahnya, hanya untuk membuktikan betapa sangat lembut Ia menghasihi kita. Maka di sini, kita melihat sang Santo dari segala santo sedang membiarkan roh jahat mendekati Dia, agar kita bisa belajar, dari teladanNya, bagaimana kita bisa menggapai kemenangan dalam pencobaan.
Setan sudah lama memandang (bahkan mengintai atau mengincar. Penerjemah) Yesus; setan itu sangat merasa terganggu saat menyaksikan keutamaan-keutamaan yang tiada bandingnya. Misalnya, situasi lingkungan yang sangat mengagumkan saat Ia lahir; para gembala yang dipanggil oleh para malaekat untuk datang ke palungan-Nya, dan orang-orang Majur dituntun oleh bintang; sang Bayi pun luput dari rencana jahat Herodes; kesaksian yang diberikan oleh si Nabu baru ini oleh Yohanes Pembaptis: semua hal ini, yang tampaknya sangat maju juga selama masa tiga puluh tahun yang dilewatkan dalam ketidak-tahuan (maksudnya: tertutup dari mata publik, karena hidup dan tinggal di kampung. Penerjemah) di Nazaret, merupakan sebuah misteri bagi sang ular dari neraka itu, dan membuat dia akhirnya menjadi cemas juga. Misteri Inkarnasi yang tidak terselami sudah terjadi tanpa ia (ular tadi) ketahui juga; ia (ular penggoda tadi) juga tidak pernah sekalipun curiga bahwa sang Perawan yang rendah hati, Maria, adalah dia yang sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya, bahwa ia akan mengandung dan melahirkan sang Immanuel (Yes.7:14); tetapi ia sadar bahwa waktunya sudah tiba, bahwa minggu terakhir yang dimaksudkan Daniel itu sudah mulai datang, dan bahwa orang-orang kafir sedang memandang ke Yudea untuk lahirnya seorang pembebas. Ia takut akan Yesus ini; ia berusaha keras (ingin sekali. Penerjemah) untuk berbicara dengan Dia, dan berusaha memperoleh dari Dia beberapa ungkapan yang kiranya bisa menunjukkan kepada dia apakah Dia itu memang Anak Allah atau tidak; dia akan mencobai Dia kepada beberapa tindakan dosa, yang, kalau saja Ia perbuat, akan bisa membuktikan bahwa objek dari sebuah ketakutan yang besar, bagaimana pun juga, membuktikan bahwa dia adalah Manusia yang fana belaka.
Musuh Allah dan manusia ini, tentu saja, kecewa berat. Ia mendekati Yesus; tetapi semua upaya yang ia lakukan semakin membuat ia sendiri bingung. Penebus kita, dengan semua pengendalian-diri dan sejumput keagungan sebagai Allah-Manusia, menolak semua serangan setan itu; tetapi Ia tidak menyingkapkan asal-usul surgawiNya. Lalu roh jahat itu pun mundur tanpa menemukan sesuatu apa pun yang melampaui hal ini – yaitu bahwa Yesus adalah nabi, yang setia kepada Allah. Kemudian, tatkala ia melihat Anak Manusia diperlakukan dengan hina, difitnah dan disiksa; tatkala dia menemukan bahwa upaya-upaya dia sendiri untuk membuat dia dihukum mati sungguh berhasil: maka kebanggaan dan kebutaan dia pun semakin menjadi-jadi dan mencapai puncaknya; dan sebelum Yesus wafat di kayu salib, ia baru tahu bahwa korban dia itu bukan hanya Manusia biasa, melainkan Manusia dan Allah. Pada saat itulah dia menemukan betapa semua rancangan jahatnya melawan Yesus justru telah berfungsi untuk memperlihatkan, dengan sangat indah, kerahiman dan keadilan Allah: Kerahiman Dia, karena Ia menyelamatkan umat manusia; dan keadilan Dia, karena Ia mematahkan kuasa neraka untuk selama-lamanya.
Semuanya ini adalah rancangan dari Penyelenggaraan ilahi yaitu membiarkan roh jahat untuk merusak, dengan kehadirannya, ketidak-hadiran Yesus, berbicara kepada Dia, dan menimpa Dia. Tetapi baiklah kita merenungkan dengan penuh perhatian tiga godaan itu dalam semua situasi kongkretnya; sebab Penebus kita mengalaminya hanya dengan maksud agar Dia bisa mengajar dan mendorong kita.
Kita mempunyai tiga musuh untuk dilawan; jiwa kita menghadapi tiga bahaya; sebab, sebagaimana dikatakan oleh murid yang terkasih itu, semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup! (1Yoh.2:16). Yang dimaksudkan dengan keinginan daging ialah cinta akan hal-hal jasmani, yang mendambakan apa saja yang dapat disetujui oleh daging, dan, ketika tidak dikendalikan, akan menyeret jiwa itu ke dalam kesenangan-kesenangan yang tidak sah (tidak sepatutnya. Penerjemah). Keinginan mata mengungkapkan cinta akan barang-barang dari dunia ini, seperti kekayaan dan harta benda; semuanya ini menyilaukan mata, dan pada gilirannya menggoda hati. Keangkuhan hidup adalah rasa percaya akan diri kita sendiri, yang mendorong kita ke arah kesia-siaan dan sombong, dan membuat kita lupa bahwa semua yang kita miliki, hidup kita dan setiap pemberian yang baik, kita peroleh dari Allah semuanya.
Setiap dosa kita datang dari salah satu dari ketiga sumber tadi; setiap godaan yang kita alami tertuju untuk membuat kita menerima (menyetujui) keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Maka, sang Penyelamat kita, yang akan menjadi model kita di dalam segala sesuatu, berkenan membaktikan DiriNya sendiri kepada ketiga pencobaan ini.
Pertama-tama setan mencobai Dia terkait dengan daging: dia (setan) mengusulkan kepada Dia untuk memuaskan dorongan rasa lapar, dengan mengerjakan sebuah mukjizat, yaitu mengubah batu menjadi roti. Kalau Yesus setuju, dan memperlihatkan rasa semangat untuk menyerah kepada dorongan Tubuh-Nya, maka sang penggoda akan menyimpulkan bahwa Dia hanyalah sekadar sosok makhluk fana belaka yang rapuh, yang tunduk pada keinginan seperti halnya manusia yang lain juga. Ketika ia (setan) mencobai kita, yang telah mewarisi keinginan yang jahat dari Adam, maka usul-usul dia (setan tadi) melangkah lebih jauh dari hal ini: ia berusaha untuk mengotori jiwa melalui badan. Tetapi kekudusan yang tinggi dari sang Sabda yang Menjelma tidak pernah membiarkan si setan itu memakai sebuah kekuasaan atas Yesus yaitu kekuasaan yang telah ia terima saat mencobai manusia dalam indra-indra luarannya. Maka pelajaran yang diberikan kepada kita oleh sang Anak Allah di sini, ialah pelajaran mengenai pengendalian-diri: tetapi kita tahu bahwa, bagi kita, pengendalian diri adalah induk dari kemurnian, dan bahwa ketidak-mampuan untuk mengendalikan diri justru mendorong indra-indra kita untuk memberontak.
Godaan kedua ialah keangkuhan; “Jatuhkan diriMu ke bawah, dan malaekat akan menopang Engkau dengan tangan mereka”. Sang musuh ingin sekali melihat kalau-kalau perkenanan surga telah menghasilkan dalam diri Yesus sebuah jiwa yang angkuh, yaitu suatu rasa percaya-diri yang tidak tahu bersyukur, yang menyebabkan makhluk ciptaan merebut pemberian-pemberian Allah bagi dirinya sendiri, dan melupakan sang pemberi yang maharahim itu. Di sini, juga, dia (setan) itu gagal; kerendahan hati sang Penebus kita mengacaukan keangkuhan dari malaekat pemberontak itu.
Kemudian dia (setan) melakukan ikhtiarnya yang terakhir: ia berharap agar kali ini bisa berhasil dengan cara mengganggu segi ambisiNya, sebab Dia sudah terbukti teguh dalam hal pengendalian diri dan kerendahan hati. Ia pun menunjukkan kepada Dia semua kerajaan di bumi ini, dan kemuliaan dari kerajaan itu; lalu ia pun berkata kepadaNya: “Semuanya ini akan kuberikan kepadaMu, asal saja Engkau berkenan menyembah aku.” Yesus menolak tawaran yang kurang ajar itu, dan mengusir dariNya si penggoda itu, pangeran dari dunia ini (Yoh.14:30); dengan cara ini ia mengajar kita bahwa kita harus menghinakan kekayaan dari dunia ini, sesering upaya kita untuk mendapatkan dan menyimpan mereka dengan syarat bahwa kita melanggar hukum Allah dan menyembah setan.
Tetapi baiklah kita perhatikan bagaimana sang Model ilahi kita, sang Penebus kita, mengatasi si penggoda itu. Apakah Dia mendengarkan perkataan-Nya? Apakah Dia membiarkan saat penggodaan itu, dan memberinya kekuatan dengan cara menundanya? Kita justru berbuat demikian, saat kita digoda; maka kita pun jatuh. Tetapi Tuhan kita dengan segera menghadapi setiap pencobaan dengan pedang dari sabda Allah. Ia pun mengatakan: “Dalam Kitab Suci ada Tertulis: “Manusia tidak hanya hidup dari roti saja.” Ada tertulis: “Engkau jangan mencobai Tuhan Allahmu.” Ada juga tertulis: “Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya Dialah yang patut disembah.” Hal inilah yang harus menjadi praktek kita di waktu yang akan datang. Hawa mendatangkan kekalahan atas dirinya, dan atas seluruh bangsa manusia, karena ia mendengarkan ular itu. Dia yang bermain-main dengan godaan pasti akan jatuh. Sekarang ini kita berada dalam sebuah masa yang sangat penuh rahmat; hati kita pun harus berjaga-jaga, saat-saat yang berbahaya disingkirkan, segala sesuatu yang berbau keduniaan haruslah disingkirkan; jiwa kita, yang dimurnikan dengan doa, berpuasa, dan perbuatan amal sedekah, akan bangkit dengan Kristus, kepada sebuah hidup baru; tetapi apakah kita mampu bertahan? Semuanya tergantung pada bagaimana kita bersikap di dalam menghadapi pencobaan. Di sini pada permulaan masa Puasa ini, Gereja memberi kita pesan ini dari Injil Suci, agar kita tidak hanya memiliki perintah melainkan juga teladan. Kalau kita bersikap penuh perhatian dan setia, maka pelajaran yang ia (bunda gereja) berikan kepada kita akan menghasilkan buahnya; dan ketika kita datang ke perayaan agung Paskah, maka kita pasti akan menikmati janji-janji ketekunan ini: ketekunan berjaga, pengendalian-diri, doa, dan bantuan rahmat ilahiyang tidak pernah sia-sia.
Gereja Yunani, kendati prinsip yang ia pegang untuk tidak pernah mengakui atau membiarkan adanya sebuah pesta selama masa Puasa, toh pada hari Minggu pertama Puasa ini merayakan salah satu dari hari-hari rayanya yang terbesar. Hal ini disebut Orthodoxia, dan yang dipatenkan di dalam ingatan akan pemulihan patung-patung di Konstantinopel dan kekaisaran timur, pada tahun 842, tatkala Kaisar Theodora, dengan dibantu oleh Patriark yang agung Methodius, menghentikan pengejaran Ikonoklas, dan memulihkan kepada gereja-gereja patung-patung kudus yang telah dibuang jauh oleh murka kaum bidaah itu.
Taman Kopo Indah II Blok D4 No.40 Bandung, 40218, Jawa Barat.
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...