Saturday, October 22, 2016

THE BEAVER (BERANG-BERANG)

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Hari Kamis pagi tanggal 08 September 2016, saya pulang dari Yogyakarta menuju Bandung dengan menumpang Kereta Api Lodaya pagi. Kami meninggalkan Stasiun Tugu Yogyakarta pukul 08.08 pagi. Diperkirakan kami tiba di stasiun Bandung pukul 16.00. Saat itu saya mendapat tiket dalam gerbong eksekutif 1, kursi baris kedua dari depan. Pada dinding di depan kami ada monitor televisi berukuran lumayan besar. Jadi, posisi duduk saya cukup dekat dengan monitor televisi itu. Karena itu, saya bisa mendengar dengan cukup baik semua acara yang ditayangkan di sana. Saya menikmati semuanya dengan baik. Terkadang saya menonton sambil terkantuk, tetapi juga sebagian besar yang menonton dengan sadar sepenuhnya.

Rupanya hari itu manajemen kereta api Lodaya hanya menyiapkan beberapa program yang diulang-ulang sampai tiga atau empat kali sepanjang perjalanan Yogyakarta-Bandung. Terus terang, memang rada membosankan, tetapi berguna juga untuk memperhatikan detail setiap acara yang ada. Itulah yang saya lakukan. Saya perhatikan setiap detail acara dan bahkan adegan dan dialog yang terjadi termasuk dialog berbahasa Inggris.
Salah satu acara televisi saat itu adalah film yang sebenarnya sudah saya tonton sebelumnya. Judul film itu The Beaver (Berang-berang). Film ini ditayangkan ulang kira-kira sampai tiga kali sepanjang perjalanan Yogyakarta-Bandung. Karena diulang sampai sebanyak itu maka saya pun hampir bisa menghafal untaian film adegan demi adegan.

Isi singkat film ini adalah tentang seorang pria (kepala keluarga) yang rada mengalami gangguan jiwa yang membuat dia merasa tidak mampu mengurus perusahaannya. Tetapi ia menjadi merasa mampu lagi tatkala dirinya diwakili juru bicara yaitu Berang-berang (Beaver). Berang-berang ini sangat cerdas, mampu memimpin dan mengatur dengan baik. Sesungguhnya Berang-berang itu adalah sosok kepribadian dia yang lain, semacam fenomena kepribadian ganda. Hal itu menjadi masalah dalam relasi keluarganya, pertama-tama dengan isterinya, kemudian dengan kedua anaknya, terutama anak sulungnya, kecuali dengan anak bungsunya yang tampaknya suka dan nyaman hidup bersama Berang-berang itu dalam satu rumah.

Akhirnya, hidup keluarga itu menjadi berantakan dan mereka berpisah. Setelah sekian lama berpisah, mereka bersatu lagi karena satu pengalaman tragis yang menyebabkan dia mendapat celaka dan dirawat di rumah sakit. Sejak itu ia bisa secara perlahan-lahan mulai melupakan dan melepaskan diri dari si Berang-berang tadi. Begitulah kira-kira secara singkat kisah film itu.

Tetapi dalam bagian selanjutnya dari tulisan ini saya tidak mau mengisahkan detail film itu. Saya hanya mau bercerita tentang sesuatu yang lain yang baru saya sadari setelah menonton film itu untuk ketiga kalinya. Itu berarti sudah lewat siang hari. Kereta saat itu kira-kira sudah melewati Tasik Malaya menuju Bandung. Saat itu film akan berakhir. Seperti biasa, film diakhiri dengan tayangan nama-nama para pemeran dan crew yang terlibat dalam proses pembuatan film itu. Hal itulah yang sangat unik dan menarik perhatian saya dari film ini di bagian akhirnya. Sedemikian menariknya sehingga saya tiba pada sebuah simpulan filosofis eksistensialis tentang manusia, tentang keberadaannya dan tentang relasi manusia, relasi intersubjektifitas.

Ceritanya kira-kira demikian. Masing-masing nama Crew ditampilkan dengan cara tayang yang sangat unik dan menarik. Misalnya nama Maria sebagai sutradara. Nama berikutnya sebagai asisten sutradara ialah Angela. Dari nama Maria di atas tadi, semua hurufnya menghilang dengan meleleh perlahan-lahan sehingga tersisa satu huruf terakhir yaitu a. Dari huruf a yang tersisa tadi, lalu dimunculkan nama sang asisten sutradara, Angela. Begitu seterusnya. Misalnya nama music arrangernya bernama Bernardine. Dari nama Angela di atas tadi, perlahan-lahan dilelehkan sampai tersisa huruf n. Kemudian dari huruf n yang sendirian itu dibentuk secara perlahan-lahan nama Bernardine. Begitu seterusnya. Setiap nama dikaitkan/terkait dengan nama orang lain lewat satu huruf atau fonem dari nama itu sendiri.

Tiba-tiba di sini saya mengalami peristiwa penyingkapan atau disclosure event. Ternyata yang disebut relasi intersubjektifitas itu tidak hanya terjadi secara batiniah dan jasmaniah saja, melainkan juga terjadi dalam struktur paling dasar penamaan diri kita masing-masing. Dengan satu dan lain cara nama-nama kita, lewat satu fonem tertentu, terkait dan terikat dalam sebuah jejaring relasi dengan satu sama lain. Kalau dirumuskan dengan rumusan lain sbb: masing-masing dari elemen nama kita pasti mengandung elemen fonetik dari nama orang lain atau sesama kita betapa pun orang itu asing sama sekali. Tidak ada nama manusia yang benar-benar terasing tanpa terkait dengan nama-nama dari sesamanya, nama dari orang lain di sekitarnya. Paling tidak ada satu atau dua huruf yang menghubungkannya atau mengikat-satukannya dengan yang lain. Hal itu masuk akal karena nama manusia diungkapkan secara verbal dalam bentuk-bentuk bunyi-bunyi tertentu.

Barangkali gambar dari bunyi tertentu berbeda-beda dari satu sistem bahasa ke sistem bahasa yang lain. Tetapi pada level bunyi (fonetik), toh akhirnya semuanya sama atau mengandung kesamaan. Nama Teh Khiong dari China misalnya, bisa saja ada kaitannya dengan nama si Engkus dari Tatar Sunda, lewat kesamaan bunyi entah huruf n maupun g. Itu sekadar sebuah contoh sederhana dari China dan Sunda. Nama Engkus dari tatar Sunda bisa juga dikaitkan dengan nama Erom dari Manggarai. Mereka terkait dengan huruf awal yang sama yaitu E.

Setelah saya menyadari hal itu, sekali lagi saya pun sadar bahwa relasi intersubjektifitas itu adalah mutlak. Tidak terhindarkan. No man is an island. Tidak ada manusia yang hidup dalam sebuah ruang yang pintunya serba tertutup, kedap suara, kedap relasi, sebuah huis clos. Tidak ada manusia yang hidup tanpa relasi, tanpa mengandaikan adanya relasi. Hidup selalu mutlak mengandaikan adanya relasi. “Pada awal mula adalah relasi”, demikian kata beberapa pemikir filosofis dan teologis, yang meniru kalimat terkenal dari Injil Yohanes, pada awal mula adalah sabda, en arche en ho logos. Relasi itu adalah prasyarat hidup dan ada. Tanpa relasi maka tidak bisa ada juga sebuah ada dan keberadaan. Sebuah ada tidak bisa mulai berada tanpa suatu relasi. Jadi, betapa pentingnya relasi itu bagi ada. Ada berada dengan cara berelasi, berada dalam relasi, berada secara relasional. To exist berarti to co-exist. Itu suatu hukum mutlak kehidupan para makhluk hidup di alam semesta ini. Maka janganlah menghindarkan diri dari sebuah relasi, dari sebuah kebersamaan. Dan kebersamaan selalu jamak. Tidak serba tunggal. Maka janganlah alergi dengan kemajemukan. Kemajemukan juga adalah karunia rahmat dari Tuhan sang pencipta langit dan bumi.

Yogyakarta-Bandung, awal September 2016

Thursday, October 20, 2016

BARRIGA DE ALLUGUEL

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Entah mengapa, tiba-tiba saja pada hari ini saya teringat lagi akan sebuah serial film televisi yang pernah saya terjemahkan beberapa tahun silam saat saya masih bekerja pada sebuah Production House di Jakarta. Judul film itu adalah Barriga de Alluguel. Sebuah serial film televisi import dari Brazil. Itulah sebabnya judul film itu dalam bahasa Portugis, bahasa yang dipergunakan dalam film tersebut. Tetapi saya menerjemahkannya dari teks berbahasa Inggris yang juga disediakan oleh pihak produser film itu sendiri. Secara harfiah judul itu berarti perut yang disewakan. Tentu saja perut yang dimaksudkan di sini adalah rahim. Jadi, rahim yang disewakan. Rahim itulah yang disewakan oleh orang-orang tertentu, seperti halnya orang menyewakan kontrakan kepada para pengontrak.

Beginilah kira-kira jalan ceritanya. Ada sepasang suami-isteri. Saya sudah lupa akan nama-nama mereka masing-masing. Sebut saja nama mereka ialah Fransisco dan Amelia. Mereka masih cukup muda. Usia pernikahan mereka pun juga masih muda. Karier mereka masing-masing terbilang sukses. Amelia, sang isteri adalah atlet bola Volley Brazil yang berprestasi dan kenamaan. Ia juga sangat cantik dan cerdas. Francisco, sang suami adalah seorang akuntan publik yang muda dan sukses. Tetapi sayangnya setelah beberapa tahun menikah, mereka belum juga mempunyai momongan. Bukannya mereka tidak subur alias mandul. Keduanya sangat subur. Bahkan sudah beberapa kali sang isteri hamil. Tetapi setiap kali juga ia selalu mengalami keguguran. Mungkin karena sang isteri itu super sibuk dengan kegiatannya sebagai pemain voley nasional.

Kemudian diketahui bahwa memang sang isteri itu tidak bisa hamil karena hasil pembuahan ovum tidak selalu bisa menempel dengan mudah pada dinding rahim sehingga selalu mengalami keguguran. Setelah terjadi pembuahan (conceptio) benih itu tidak bisa menempel pada dinding rahim dengan baik. Kondisi itulah yang menyebabkan mereka berdua (pasutri itu) mulai memikirkan sebuah kemungkinan lain untuk dapat memiliki anak.
Setelah dipertimbangkan dengan matang dan dengan meminta pendapat serta nasihat dan pandangan dari banyak pihak, akhirnya keduanya pun bersepakat untuk menempuh jalan menyewa rahim. Tetapi tentu saja hal itu bukan sebuah jalan yang serba mudah. Ternyata tidak gampang juga menemukan orang yang mau menyewakan rahimnya. Lagipula itu adalah sebuah eksperimen yang relatif baru dalam dunia kedokteran modern. Dan secara moral teologis hal itu masih terus menerus diperdebatkan oleh para ahli terkait. Kita tinggalkan dulu cerita itu di sini. Mari kita menuju ke bagian lain dari panggung kisah.

Sementara itu, ada seorang gadis muda. Ia cantik. Saya juga sudah lupa namanya. Kita sebut saja untuk sementara, namanya Gabriela. Berbeda dengan pasutri yang sudah disebutkan di atas tadi, si Gabriela ini berasal dari keluarga yang kurang begitu berada. Lingkungan tempat ia tinggal juga adalah lingkungan kelas menengah ke bawah. Namun si Gabriela ini memiliki selera dan kemauan yang tinggi untuk hidup enak, berpenampilan parlente, hidup seperti kalangan kelas menengah ke atas. Tetapi apa mau dikata, keinginan itu tidak bisa terwujud karena mereka keluarga miskin. Ia juga tidak bisa berharap banyak dari sang kekasih, Alexandro, yang memang sangat mencintainya tetapi penghasilannya tidaklah besar. Ia hanya sopir truk trailer. Bertahun-tahun ia bekerja keras, membanting tulang dan menabung agar suatu hari kelak ia bisa memilik truk trailer sendiri. Sebagai sopir, ia tidak bisa memanjakan sang kekasih yang mempunyai keinginan dan selera tinggi. Ia juga tidak bisa selalu berada dekat sang kekasih, sebab ia selalu bepergian dengan truknya karena tuntutan pekerjaannya.

Pada suatu saat, ia mampu membeli truk trailer sendiri. Ia sangat bahagia dan bangga dengan sukses dan pencapaian itu. Sang ibu juga sangat bahagia dan bangga melihat sang anak bahagia dan bangga. Ia bermimpi agar ia bisa membawa serta sang kekasih dalam pelbagai perjalanan tugasnya, untuk sekadar bertamasya ala sopir truk. Karena itu ia pun menghias truknya dengan indah, penuh dengan bunga-bunga plastik kesukaan Gabriela, sang kekasih. Tetapi rupanya sang kekasih tidak sabar menanti.

Diam-diam ia didekati pasangan suami-isteri di atas tadi, untuk menyewa rahimnya. Dan kalau ia setuju dengan sejumlah angka uang sewa atau kontrak, maka pada suatu saat ia akan mengandung benih pasangan suami-isteri di atas tadi. Rahimnya disewakan seperti menyewa lahan kosong untuk dipergunakan selama satu jangka waktu tertentu. Jadi, benih yang dikonsepsi adalah benih dari pasutri tadi, cuma menumpang untuk ditumbuh-kembangkan dalam rahim perempuan tadi. Dan terjadilah demikian. Et factum est vespere et mane, dies primus. Ia menerima tantangan itu, sebab untuk itu ia menerima bayangan yang besar. Tidak lama sesudah itu, setelah melewati beberapa persiapan fisik dan psikologis, akhirnya, benih itu pun dipindahkan ke rahim dia. Maka ia pun mulai hamil. Tentu dengan segala macam risiko dan konsekwensinya.

Setelah sang kekasih mengetahui langkah yang ditempuh pacarnya tadi, ia sangat marah. Tetapi ia sudah terlanjur sangat mencintainya sehingga tidak bisa dan tidak mau juga memutuskan sang kekasih. Semula ia hanya marah. Maklum. Rahim sang kekasih, ditumpangi benih orang lain. Tetapi kemudian dalam perjalanan selanjutnya ada perkembangan psikologis yang lain yang mungkin tidak terduga-duga sama sekali sebelumnya. Setelah ia tahu bahwa ia hamil, wanita ini pun (Gabriela) semakin merasa dekat dengan pria yang empunya benih. Secara psikologis Gabriela merasa sangat dekat dengan Francisco. Kiranya hal itu sangat wajar. Apalagi ia sering sekali datang berkunjung untuk sekadar menanyakan perkembangan kehamilannya.

Kemudian ada juga sesuatu yang sangat aneh yang terjadi dan dirasakan si suami itu. Ia juga semakin merasa sangat dekat dengan perempuan itu. Bahkan lebih aneh lagi, bukan si perempuan itu yang ngidam melainkan justru si pria tadi. Ia tidak menyangka sama sekali akan terjadi seperti itu. Hal itu semakin menambah kerumitan dalam relasi suami dan isteri antara Francisco dan Amelia. Sang isteri merasa sangat cemburu dengan perempuan yang hamil benih cinta mereka. Kira-kira sama dengan rasa cemburu dan sakit hati yang dirasakan Sara isteri Abraham tatkala ia tahu bahwa Hagar, sang pembantu hamil dari Abraham (Kej.), hal mana menyebabkan Sara diberi hak oleh Abraham untuk menindas Hagar, si Budak. Kemudian kehamilan semakin besar. Sang kekasih dari perempuan yang hamil itu juga mengalami rasa cemburu yang luar biasa. Tetapi ia tidak bisa mengatasinya. Ia hanya bisa menunggu dan menunggu. Problem seperti itulah yang coba digarap dalam film di atas tadi.

Jujur saja bahwa sesungguhnya saya sudah tidak ingat lagi bagaimana proses peleraian akhir cerita film itu. Kalau tidak salah ingat, cerita kemudian berakhir setelah anak itu lahir, walau hal itu tidak serba mulus. Sebab masih ada kerumitan baru di bagian akhir, yaitu si wanita yang mengandung itu merasa sebagai pemilik anak. Secara natural kiranya hal itu dapat dibenarkan. Tetapi tidak secara legal yuridis. Sebab secara legal dan biologis, anak itu berasal dari benih orang tua yang lain. Perempuan itu hanya meminjam rahimnya. Pokoknya rumit sekali. Saat itu, production house tempat saya bekerja, mengerjakan film tersebut untuk sebuah televisi swasta (TPI). Saat ini saya merindukannya lagi. Saya ingin menontonnya lagi. Alangkah baiknya kalau film itu ditayangkan kembali saat ini. Tetapi entah harus meminta ke mana, sebab TPI sudah tidak ada lagi.


Bandung-Yogyakarta, 01 Oktober 2016

Monday, October 17, 2016

PERTOBATAN FILOSOFIS LUDWIG WITTGENSTEIN

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Sering sekali ada anggapan di antara orang-orang dewasa bahwa anak-anak dan dunianya adalah dunia yang belum selesai, sebuah dunia yang masih berproses, masih dalam proses menjadi (the process of becoming). Di satu pihak, kiranya anggapan itu ada benarnya juga sebab mnemang anak-anak sedang dalam proses menjadi dewasa dan tua. Mereka tidak pernah berhenti berkembang pada tahap sebagai anak-anak belaka, melainkan secara fisik dan rohani mereka terus bertumbuh kembang menjadi dewasa dan matang. Itu sebabnya, anak-anak dan dunianya sering sekali dianggap sebagai dua antara, dunia jembatan, menuju ke dunia berikut yang dianggap lebih mapan dan matang. Tetapi di pihak yang lain, secara filosofis eksistensial hal itu tidak benar seluruhnya juga, sebab dari segi filsafat proses tidak ada makhluk apa pun di dunia ini yang sudah selesai, melainkan semuanya selalu sedang dalam proses menjadi, termasuk juga orang-orang dewasa yang sering menganggap diri sudah jadi, sudah mapan, established. Mereka ini pun selalu dalam proses menjadi terus menerus. Bahkan dalam paham teologi proses pun, bukan hanya makhluk ciptaan saja yang sedang berproses, melainkan Allah juga selalu dalam proses, sedang berproses secara abadi. Jika dilihat dengan cara demikian, maka dunia anak-anak pun harus diakui mempunyai validitas dan otoritasnya sendiri yang harus diterima dan diakui.

Oleh karena itu, jangalah pernah menyepelekan anak-anak dan dunia anak-anak, cara berpikir, cara berbicara, cara berbahasa, sistem logika berpikir mereka. Bagaimanapun juga mereka mempunyai cara berpikir sendiri yang unik. Mengapa demikian? Sebab dunia anak-anak itu bisa saja mendatangkan efek transformatif dan efek metanoia pada manusia-manusia dewasa yang termasuk kategori filsuf besar pula. Itulah yang sesungguhnya pernah dan telah terjadi dalam diri Ludwig Wittgenstein itu. Sebab konon Wittgenstein mengalami proses pertobatan secara filosofis karena pengalaman perjumpaan dan keterlibatannya dalam dan dengan dunia anak-anak. Dunia anak telah berhasil mengubah dia. Dinamika dunia anak-anak telah mampu memunculkan pertobatan filosofis dalam diri Wittgenstein. Khususnya cara anak-anak itu memakai bahasa. Hal itu membuka sebuah bentangan baru filsafat bahasa baginya. Hal itu membuat Wittgenstein seakan-akan bisa keluar dari kemelut dan kebuntuhan yang pernah dialaminya, suatu kebuntuan yang menandai berakhirnya apa yang kini secara teknis disebut Ludwig Wittgenstein I. Sejak saat itu terbentanglah sebuah cakrawala filosofis baru. Kelak hal ini dikenal sebagai Ludwig Wittgenstein II. Hal itulah yang coba dilihat dan dibahas dalam tulisan yang singkat dan sederhana ini.

Pertobatan ialah perubahan dalam sikap dan pandangan hidup. Dengan mengikuti Lonergan, Neil Ormerod membedakan beberapa jenis pertobatan yang dapat dialami oleh manusia dalam hidupnya. Yaitu pertobatan religius, moral, intelektual, psikik. Sesungguhnya Lonergan hanya menyebut tiga jenis pertobatan. Jenis yang keempat diajukan oleh Robert Doran. Dengan mengikuti kedua tokoh ini, Neil Ormerod menggaris-bawahi jenis pertobatan baru yaitu pertobatan ekologis. Gagasan pertobatan ekologis ini mula-mula diajukan oleh Paus Yohanes Paulus II dan dikembangkan lebih lanjut oleh Paus Fransiskus sekarang ini, terutama sekali dalam ensiklik-nya Laudato Si itu. Setiap orang bisa mengalami setiap jenis pertobatan itu. Atau mungkin ada juga orang yang hanya secara intensif mengalami salah satu dari padanya. Tetapi dalam hemat saya, keempat jenis pertobatan ini erat terkait satu sama lain. Jika salah satu jenis pertobatan terjadi, maka pasti akan menyusul jenis pertobatan yang lainnya. Walau hal itu tidak terjadi secara otomatis. Dalam tulisan saya kali ini, saya tidak bermaksud menguraikan tentang pelbagai macam jenis pertobatan itu.

Tujuan saya hanya sesuatu yang sederhana saja, yaitu mencoba melukiskan drama pertobatan yang terjadi dalam diri seorang filsuf yang bernama Ludwig Wittgenstein. Para filsuf juga mengalami proses pertobatan, atau metanoia dalam perjalanan hidup dan terutama karier filosofisnya. Salah satunya ialah filsuf Ludwig Wittgenstein. Kita semua mengetahui bahwa dalam sejarah filsafat ia dikenal mempunyai dua tahap dalam perkembangan pemikiran filosofisnya. Yaitu Wittgenstein I dan Wittgenstein II. Pembedaan seperti itu misalnya bisa dengan sangat mudah kita lihat dan temukan dalam buku dari Prof.Kees Bertens (20...). Inti pokok dari pemikiran filosofis dalam Wittgenstein I dapat dirumuskan dalam sebuah kalimat berikut ini: teori gambar dari bahasa atau makna, the picture theory of language, or of meaning. Bahwa bahasa terdiri atas pernyataan atau proposisi yang melukiskan atau menggambar dunia (realitas). Ketika kita membaca satu pernyataan tertentu maka tampak dengan jelas satu imago dalam benak kita. Inilah yang ia sebut pernyataan faktual, bahasa faktual. Hanya yang seperti ini saja yang bermakna karena dapat diverifikasi (artinya: dibuktikan kebenarannya) secara empiris. Begitulah misalnya dengan pernyataan sbb: sapi itu putih. Itu adalah sebuah fakta empiris, dan hal itu bisa dicek di padang, bahwa ada sapi putih.

Dengan patokan ini maka bahasa teologis dan bahasa etis lalu menjadi tidak bermakna karena tidak dapat diverifikasi (baca: isi dari pernyataan itu tidak dapat dicek untuk membuktikan dan menegaskan kebenarannya). Contoh, misalnya pernyataan teologis-iman sbb: Allah itu ada. Ini adalah sebuah proposisi religius atau teologis. Pernyataan seperti ini dianggap tidak bermakna karena tidak bisa diverifikasi secara faktual empiris. Atau contoh: Si Anu itu baik. Ini adalah sebuah proposisi etis. Proposisi seperti ini juga tidak dapat diverifikasi maka karena itu ia tidak bermakna juga. Tetapi harus segera disadari bahwa tidak bermakna tidak lantas berarti salah. Hanya tidak bermakna saja. Itupun karena memakai satu prinsip uji saja, yaitu verifikasi empiris. Akhirnya Wittgenstein kena batu sendiri. Filsafat bahasanya yang tampak keren itu menimpa kembali kepada dirinya sendiri secara sangat dahsyat dan tragis. Mengapa? Sebab semua bahasa yang ia pakai untuk menjelaskan konsep filosofisnya juga pada akhirnya tidak juga dapat benar-benar diverifikasi. Wittgenstein sendiri sungguh menyadari hal itu dalam petualangan pemikiran filosofisnya. Maka ia pun mengalami jalan buntu dan dan ia mengalami kejenuhan karena jalan buntu tersebut. Maka untuk sementara ia pun berlari dari dunia filsafat. Bahkan boleh dikatakan ia berhenti sama sekali dari dunia filsafat paling tidak untuk sementara waktu. Maka dengan ini berakhirlah sudah tahap Wittgenstein I.

Setelah berhenti dari dunia filsafat, untuk mengisi hidupnya, ia sempat mengajar anak-anak. Bayangkan, seorang Filsuf besar sekaliber Wittgenstein menyimpang jauh untuk mengajar anak-anak. Bagi saya ini adalah sesuatu hal yang sangat menarik. Bahkan boleh dikatakan bahwa ini juga adalah sesuatu yang luar biasa. Ternyata pengalaman perjumpaan dia dengan anak-anak Wittgenstein mengalami pertobatan dan mendorong dia kembali ke dalam dunia filsafat. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Dalam dunia pergaulan dengan anak-anak inilah Wittgenstein akhirnya bisa menemukan sebuah dimensi baru dari filsafat bahasa itu sendiri. Jadi, selama ini, sesungguhnya ia barus menemukan dan menyadari salah satu dimensi saja dari filsafat bahasa itu. Sekarang ini, Wittgenstein bahkan banyak belajar filsafat dari dunia anak anak, khususnya dunia pemakaian bahasa anak anak.

Dalam dunia anak-anak itulah ia menemukan dan menyadari misalnya bahwa bahasa anak anak itu kaya dan kompleks sekali. Setelah merasa disegarkan lagi oleh dunia anak-anak yang menyebabkan dia menemukan sesuatu yang baru maka kini Wittgenstein kembali lagi ke dunia filsafat sebagai orang baru dengan konsep dan pandangan baru akan filsafat. Boleh dikatakan bahwa perjalanan karier filosofisnya slama ini sebagai filsuf (Wittgenstein I) membuat dia sedikit menjadi tidak suka dan bahkan juga sedikit rasa muak dengan filsafat itu (sebab berakhir dalam kebuntuan tadi). Tetapi dunia anak-anak ternyata bisa memulihkan hal itu. Dunia anak-anak bagi Wittgenstein menjadi sebuah ruang terapi filosofis baginya. Setelah sembuh lewat ruang terapi itu Wittgenstein pun kembali.

Ketika ia kembali ke filsafat sudah barang tentu ia tidak memegang lagi visi filosofisnya yang lama. Sebab sekarang ia mempunyai sebuah visi baru. Kini ia beranggapan bahwa filsafat itu tidak berguna jika tidak bisa memperbaiki pemikiran manusia tentang pertanyaan-pertanyaan penting dari kehidupan sehari-hari itu sendiri. Dengan kata lain, filsafat menurut dia akhirnya dan pada dasarnya harus bermuara secara etis, dan praktis pada hidup harian. Kalau tidak demikian, maka filsafat itu menjadi tidak bermakna sama sekali dan bahkan menjijikkan (memuakkan).

Sejak saat itulah Wittgenstein tidak lagi percaya pada picture theory of language, sebagaimana yang sudah diperjuangkannya dan dipertahankannya dalam tahap Wittgenstein I. Sekarang ia memulai sebuah tahap perjalanan filsafat baru, yang oleh para ahli sejarah filsafat sering disebut Wittgenstein II. Dalam Wittgenstein II ini ia mulai mencoba menggali relasi antara bahasa dan permainan. Inilah yang dimaksudkan dengan pertobatan atau metanoia filosofis Wittgenstein itu. Adapun inti dari cara baru filsafat ini ialah ssb: bahasa yang bermakna muncul dalam hidup manusia sebagaimana halnya mereka mengungkapkan hal-hal atau realitas secara tepat dalam artian bahasa faktual dalam tahap I, Tractatus itu. Makna kata tidak lagi tergantung pada bagaimana kata itu bisa melukiskan dunia. Sebaliknya, kini makna kata itu dikaitkan dengan bagaimana kata itu dipakai dalam satu bahasa tertentu. Jadi sekarang filsafat itu diarahkan pada situasi hidup nyata dari mana bahasa itu muncul dan dipergunakan secara nyata. Itulah yang ia sebut the language game. Masing-masing language game mempunyai aturan dan keabsahan sendiri.

Dan inilah inti pertobatan filosofis Wittgenstein itu. Jika dalam Wittgenstein I ia dengan tegas menolak pelbagai macam pernyataan teologis dan etis sebagai tidak bermakna karena tidak dapat diverifikasi, maka sekarang ini ia mulai bisa menerima pelbagai macam pernyataan seperti itu sebagai sesuatu yang bermakna juga. Sekarang ini ia mulai bisa menerima bahkan yakin juga bahwa kata-kata seperti Allah dan kebaikan (god and good), juga merupakan bagian yang berarti juga dari konstruksi bahasa itu sendiri. Kata-kata seperti ini termasuk dalam kategori permainan bahasa agama dan etik. Maknanya terletak dalam konteks pemakaiannya. Jika dahulu ia ngotot memandang yang tologis dan etis sebagai tidak bermakna, maka sekarang ini ia mengatakan bahwa istilah-istilah etis dan teologis itu tidak usah dibuang atau dimurnikan dalam rangka membentuk sebuah bahasa yang lebih sempurna. Sekarang dalam pandangan Wittgenstein, istilah-istilah religius dan etis itu baru dikatakan tidak bermakna jika mereka dilepaskan dari konteks pemakaiannya. Orang tidak dapat lagi serta-merta bahwa hal itu repot. Kini, dalam tahap ini, Wittgenstein itu lebih ramah terhadap teologi, agama dan etika. Hal itu terjadi, berkat jasa dunia anak anak.


Bandung, 28 Agustus 2015

Daftar Pustaka

Bertens, Kees,
Ormerod, Neil and Cristina Vanin, “Ecological Conversion: What Does it Mean?” in Theological Studies, 2016, vol.77 (2), 328-352.
Coppleston, Frederick,
Lonergan, Berjard J.F., 1972. Method in Theology, London: Darton, Longman and Todd).
Paus Fransiskus, 2015. Laudato Si, Jakarta: Obor.
Doran, Robert M., and Robert C.Crocken (ed), 2005. Philosophical and Theological Papers 1965-1980, Toronto: University of Toronto.

Sunday, October 16, 2016

KISAH FILSAFAT (THE STORY OF PHILOSOPHY)

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Di perpustakaan kami di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan Bandung, ada dua buah buku dengan judul yang persis sama. Judulnya ialah The Story of Philosophy. Hal ini menarik karena, mereka lebih menekankan the story dan bukan the history. Tentu saja penekanan dan cara pandang seperti itu bisa saja menimbulkan diskusi dan perbincangan yang panjang. Tetapi untuk sementara hal itu tidak saya bahas lebih lanjut di sini. Saya langsung saja menukik kepada kedua buku tadi. Buku yang satu adalah hasil karya seorang yang bernama Bryan Magee. Buku ini termasuk cukup tebal. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan sebuah edisi lux (gambar ilustrasi berwarna). Buku ini diterbitkan oleh penerbit Kanisius pada tahun 2008. Buku yang satunya lagi berasal dari beberapa orang pengarang yaitu Christoph Delius, Matthias Gatzemeier, Deniz Sertcan, Kathleen Wuenscher. Buku yang kedua ini belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Buku ini tidak terlalu tebal. Buku yang kedua ini mempunyai sebuah keterangan sebagai judul kecil: From antiquity to the Present (Mulai dari jaman Kuno, sampai pada masa kini).

Bagi saya kedua buku ini menjadi sangat menarik karena ada kemiripan dalam hal judul dengan sebuah buku yang sudah cukup tua usianya, sebab buku ini sudah terbit pada tahun 1926. Buku ini berasal dari seorang pengarang yang bernama Will Durrant. Tetapi berbeda dengan buku dari Durrant ini, kedua buku yang sudah disebutkan di atas tadi, mempunyai apresiasi yang besar dan tinggi terhadap seluruh tahapan perkembangan sejarah filsafat Barat. Mulai dari jaman Yunani Kuno, hingga ke masa modern dewasa ini. Tidak ada tahap yang dihilangkan, atau dianggap tidak ada sama sekali. Hal itu misalnya sangat berbeda dari Will Durrant. Dalam buku Durrant ini kita tidak akan menemukan ulasan mengenai abad pertengahan. Durrant sama sekali tidak memasukkan abad pertengahn tersebut ke dalam bukunya. Durrant memulai kisah filsafatnya dari Yunani Kuno, itupun hanya terbatas pada Sokrates dan Plato dan Aristoteles saja. Sesudah mengulas filsafat Yunani, ia langsung loncat ke abad keenambelas, yaitu mulai dengan filsafat modern, yang ditandai dengan kemunculan tokoh seperti Cartesius itu. Oleh banyak orang dewasa ini, Cartesius memang dipandang sebagai Bapa Filsafat modern itu sendiri. Oh ya, buku dari Will Durrant itu, atas permintaan dari penerbit Mizan, sudah saya terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, walaupun hingga saat ini, belum juga diterbitkan menjadi buku (padahal sudah diterjemahkan kira-kira sepuluh tahun yang lalu).

Lalu muncul sebuah pertanyaan historis kritis. Mengapa kurun abad pertengahan itu dihilangkan oleh Will Durrant? Di sini saya mau menekankan satu hal. Bahwa Durrant mungkin sangat dipengaruhi oleh pandangan kaum rasionalis-pencerahan yang sangat mendewakan rasio dan menyingkirkan segala sesuatu yang lain yang dianggap tidak rasional. Memang dari sudut pandang kaum rasionalis pencerahan ini, masa kejayaan peradaban pemikiran filsafat barat itu hanya ditandai oleh dua tonggak besar saja. Tonggak pertama, ialah filsafat Yunani, dan tonggak kedua ialah filsafat Barat modern yang dimulai oleh Descartes. Masa atau kurun yang terletak di antara kedua tonggak itu adalah jaman kegelapan, the dark Ages. Karena terletak di antara kedua tonggak besar peradaban tersebut, maka kurun antara itu tadi, disebut medium aevum, middle ages, abad pertengahan, abad yang terletak di antara kedua tonggak besar peradaban filsafat.

Secara kebetulan sekali bahwa kurun itu ditandai dengan kehadiran gereja yang cukup mencolok. Peranan gereja dalam kehidupan masyarakat sangat kuat, hampir di segala bidang. Tidak hanya bidang keagamaan, melainkan juga bidang politik, hukum, militer, bahkan ekonomi. Nah kurun inilah yang tidak dipandang oleh Durrant sebagai kurun yang significan dalam perjalanan sejarah filsafat barat itu sendiri. Gereja dianggap tidak rasional, karena mendasarkan penalaran hidupnya atas dasar wahyu. Cukup mengherankan bahwa seorang sejarah Gereja Katolik yang ternama, Henri Daniel-Rops, tampaknya seperti menerima begitu saja nama the Dark Ages itu, sebab salah satu judul buku sejarah gerejanya yang sangat monumental itu ialah The Church in the Dark Ages (terdiri atas dua volume). Dan memang kurun ini adalah kurun gereja.

Di hadapan fakta seperti itu, saya lalu bertanya secara kritis: Apakah gereja memang tidak mempunyai sumbangan apapun terhadap perkembangan peradaban barat? Apakah gereja itu hanya sebuah tonggak yang tidak bermakna sama sekali? Saya tidak sependapat dengan hal itu. saya lebih condong kepada pendapat para ahli sejarah gereja khususnya sejarah gereja katolik. Saya sebut dua nama secara khusus di sini. Pertama, W.L.Helwig, dan kedua Henri Daniel-Rops. Pada umumnya mereka berpandangan bahwa, gereja mempunyai peranan yang besar dalam sejarah perkembangan pemikiran filosofis barat. Helwig misalnya cukup tegas mengatakan bahwa justu orang-orang Gereja-lah yang menjadi titik sambung yang tidak terputus antara peradaban Yunani ke peradaban Barat modern. Ia berpendapat bahwa hampir tidak mungkin dibayangkan ada dan terjadinya peradaban Barat modern, jika tidak ada peranan gereja yang berhasil menyimpan terus warisan agung peradaban lama. Begitulah misalnya, peranan para tokoh seperti Agustinus dan Thomas Aquinas yang dianggap sebagai benang merah utama yang menjadi jembatan kultural antara dunia kuno dan dunia Barat modern itu sendiri. Dengan cukup seimbang para penulis sejarah Gereja berpendapat bahwa Gereja, selama abad kegelapan itu, tetap berfungsi sebagai mercu suar yang memberi panduan arah bagi perjalanan dan perkembangan peradaban barat itu sendiri.

Maka agak sangat mengherankan kalau muncul orang seperti Will Durrant yang sepertinya mengabaikan begitu saja tonggak antara itu. Durrant sama sekali tidak berbicara tentang Agustinus, Bonaventura, Thomas Aquinas, Dun Scotus, William Ockham, dll. Bahkan Durrant juga sama sekali tidak berbicara tentang Neoplatonisme. Bagi Durrant, semuanya itu seakan-akan tidak ada saja. Maka dari dunia Yunani, ia langsung meloncat ke abad modern. Sikap Durrant ini, cukup ironis jika dibandingkan dengan sikap Bertrand Russel yang tidak pernah mengaku diri sebagai Kristiani (entah Protestan maupun Katolik). Bagi Russel yang tidak Kristiani sekalipun, dan bahkan menegaskan sikapnya itu dengan menulis buku menarik, mengapa aku bukan seorang Kristen?, dalam buku sejarah filsafat Baratnya yang juga sudah monumental, tetap memberi perhatian yang besar kepada kurun abad pertengahan tersebut.

Untunglah bahwa sikap Durrant ini tidak mewabah sehingga menjadi semacam pelecehan terhadap fakta sejarah itu sendiri. Cukup banyak ahli sejarah filsafat barat yang tetap memberi porsi yang penuh terhadap kurun abad pertengahan itu sendiri. Bahwa pada akhir abad keduapuluh silam, muncul dalam Gereja Katolik, apa yang disebut gerakan neo-thomisme itu, bagi saya itu adalah sebuah pertanda bahwa kurun abad pertengahan itu mempunyai daya pengaruh dan ilham yang kuat dalam sejarah pemikiran barat itu sendiri. Lagipula, berdasarkan studi pastor J.P.Migne, kita tahu bahwa para bapa Gereja baik Yunani (Patrologia Greeca) dan Latin (Patrologia Latina) telah menghasilkan pemikiran yang sangat cemerlang baik di bidang teologi maupun filsafat. Sadar akan semuanya itu, maka saya berpendapat bahwa sikap Durrant itu adalah sebuah sikap pelecehan ilmiah yang tidak sepatutnya terjadi. Jelas itu adalah sebuah kebohongan ilmiah publik dan sekaligus juga pembodohan publik.

Bandung, 10 Oktober 2016

Monday, October 3, 2016

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 130

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Judul Mazmur ini dalam Alkitab kita ialah “Seruan dari dalam Kesusahan.” Konon ini mazmur favorit Martin Luther. Ia sangat menyukainya. Kiranya tidak hanya bagi Luther. Bagi kita juga demikian. Sebab Mazmur itu berperan besar dalam liturgi kita, terkait dengan tobat. Mazmur ini juga dipakai sebagai salah satu mazmur dalam doa malam (completorium) terutama pada hari Rabu. Mazmur ini termasuk pendek (hanya 8 ayat). Salah satu hal yang mencolok ialah ia mulai dengan individu, tetapi lalu menjadi kolektif. Saya tidak membagi Mazmur ini ke dalam unit-unit. Saya akan membahasnya dengan melihat dinamika isinya dari ayat ke ayat.

Dalam ayat 1 dilukiskan bahwa ia berseru dari sheol. Dalam Alkitab kita kata sheol itu diterjemahkan dengan “jurang yang dalam”. Pemazmur melukiskan keadaan hidupnya, bahwa ia sudah berada dalam situasi keterpurukan, berada dalam ngarai yang dalam. Itulah fakta kesusahan yang digunakan dalam judul mazmur ini. Pasti di sana ada kegelapan, kelembaban, sebab sinar matahari tidak bisa masuk. Ini adalah garis besar yang mencoba mengungkapkan fakta bahwa ia merasa tidak pantas untuk berdiri di hadapan (menghadap) Allah. Walaupun ia berada dalam sheol itu ia tetap berseru kepada Allah. Dalam ayat 2 ia memohon agar Allah mau mendengarkan doa dan seruan permohonannya. Tentu ini sebuah paradoks: merasa tidak pantas menghadap Allah, tetapi tetap berseru memohon kepada-Nya.

Dalam ayat 3 ia mengungkapkan alasan ia memohon ampunan, yaitu bahwa sebab tanpa ampunan Allah, orang tidak dapat hidup. Jadi, ampunan dan belas kasih Allah menjadi prasyarat bagi manusia untuk hidup di dunia ini. Menurut ayat ini, orang hidup dari belas kasih dan ampunan Allah. Ide ampunan di sini diungkapkan dengan ungkapan “melupakan”. Tuhan diharapkan tidak lagi mengingat-ingat (alias melupakan; amnesia) kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia dalam hidupnya di dunia ini. Sebab kalau Tuhan mengingat semuanya itu, maka tidak ada manusia yang bisa bertahan hidup di hadapan pengadilan dan hukuman Allah.

Lalu dalam ayat 4 ia mengungkapkan keyakinan dasarnya yaitu bahwa Allah mau mengampuni. Ampunan Allah itu dimaksudkan agar ada sikap takwa dari pihak manusia, sebab ia yakin bahwa sikap takwa itu adalah buah hasil dari ampunan dan belas-kasih Tuhan. Perubahan dalam hidup manusia ke arah ketakwaan, bisa muncul karena rahmat ampunan Allah. Dengan demikian perubahan itu adalah peristiwa rahmat juga. Dalam ayat 5 si pemazmur melukiskan bahwa ia menantikan Tuhan dalam sheol, dalam ngarai, tempat ia meringkuk dan terpuruk, Ia menantikan ampunan dan belas-kasihan Allah. Ia menantikan firman-Nya. Menurut saya, kiranya itu sebabnya Mazmur ini (dalam Liturgi gereja Katolik) banyak dipakai dalam masa Advent dan Natal, sebab pada masa liturgis itu kita didorong untuk menantikan (mengharapkan) belas-kasih dan rahmat Allah sendiri.

Dalam ayat 6 pemazmur memakai sebuah metafora yang sangat baik untuk melukiskan pengharapan dan penantiannya. Ia memakai ibarat penjaga kota untuk melukiskan intensitas dan kedalaman penantiannya akan Allah. Ibarat itu dipakai sebanyak dua kali. Situasi penjaga kota ini penting dan genting. Giliran jaga pagi, yang berlangsung kira-kira pada jam 3-6, memang paling gawat. Mengapa? Pada jam-jam tersebut, para penjaga biasanya dilanda rasa kantuk yang sangat berat; udara pagi sangat dingin; sementara itu ada ancaman panah musuh. Bila para penjaga yang berdiri di atas benteng penjagaan, memandang ke bawah, maka akan tampak gelap. Semuanya tampak samar-samar karena tertutup kabut. Tetapi konon pemandangan dari bawah ke atas kelihatan sangat jelas dan terang. Karena itu mereka yang berada di atas menara benteng jaga itu mudah sekali menjadi sasaran empuk para pemanah musuh yang menyusup dan mengintai dari bawah. Itulah situasi genting yang dialami oleh para peronda yang berjaga di atas benteng kota. Dalam situasi kegentingan seperti ini, mereka sangat berharap pada pertolongan dan campur tangan Allah.

Akhirnya dalam ayat 7-8 terjadi sebuah loncatan besar: yaitu loncatan dari doa pribadi (ayat 1-6) ke doa umat atau menjadi doa umat. Di sini terjadi pergeseran besar. Di sini ada sebuah seruan pemazmur agar bangsa Israel berharap pada Allah, sebab Allah itulah penyelamat. Pemazmur berdoa, bukan lagi demi kepentingan pribadinya, melainkan demi kepentingan Israel. Berdasarkan pengalaman historis, pemazmur yakin bahwa Tuhan itu penuh kasih setia dan sering bertindak untuk membawa shalom bagi Israel. Hal itu bisa terjadi tepat pada waktunya. Tidak ada pihak lain yang bisa mendatangkan pembebasan dan penyelamatan bagi Israel selain Tuhan Allah (ayat 8). Itulah keyakinan pokok pemazmur. Ia sungguh yakin bahwa shalom (keselamatan, damai sejahtera) adalah kata terakhir yang berasal dari Allah, dan bukan sheol. Sheol itu hanya sebuah eksistensi semu belaka.

Bandung, 05 Agustus 2009
Dosen Teologi Biblika, UNPAR Bandung.


Thursday, September 1, 2016

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 129

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Pengalaman penderitaan bisa dialami manusia sejak masa muda. Bentuk penderitaan itu, terutama adalah penderitaan yang disebabkan orang lain. Ada orang lain di sekitar dia yang tega mendatangkan sakit dan penderitaan itu kepadanya. Misalnya, mencelakakan dia, meracuni dia, ataupun menjelek-jelekkan namanya tanpa bukti dan fakta. Kiranya hal seperti itulah yang dilukiskan si pemazmur dalam mazmur ini. Mazmur ini dalam Alkitab kita berjudul “Terluput dari kesesakan”. Pengalaman penderitaan menyebabkan orang menderita kesesakan tidak lagi secara jasmani, melainkan terutama secara rohani dan psikologis (walaupun keduanya bisa tampak secara jasmani). Mazmur ini cukup pendek, hanya terdiri atas 8 ayat. Mazmur ini dimasukkan dalam kategori mazmur ziarah (mazmur yang dipakai saat orang mengadakan ziarah ke Yerusalem).

Berdasarkan dinamika internal teks itu sendiri, mazmur ini dapat dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama: ayat 1-3. Bagian kedua: ayat 4. Bagian ketiga: ayat 5-8. Jika dilihat berdasarkan pola struktur seperti ini, maka tampak bahwa mazmur ini terdiri atas dua lembar “pigura” (ay 1-3 dan ay 5-8) yang dihubungkan dengan sebuah engsel di tengah sebagai pemersatu (ay 4). Lembar pigura yang satu (ay 1-3) melukiskan nasib pemazmur. Lembar pigura yang lain (ay 5-8) melukiskan nasib orang yang mendatangkan penderitaan dan kemalangan atas si pemazmur dan kelompok orang yang bersama dengan dia. Kedua lembar pigura ini dihubungkan dengan satu ayat penghubung yang sangat penting, sebab di dalam ayat ini dilukiskan tindakan yang dilakukan Tuhan (ay 4). Ini adalah campur tangan Tuhan dalam derita manusia.

Saya mulai dengan melihat pigura pertama (ay 1-3). Di sini dilukiskan derita yang dialami pemazmur sejak masa mudanya. Ada sekelompok orang (mereka) yang mendatangkan kesesakan atas hidup si pemazmur. Hal itu sudah dilakukan sejak ia masih muda (ay 1-2). Tetapi, biarpun ia mengalami kesesakan itu, ia tidak mati. Mereka tidak dapat mengalahkan dia. Dalam ayat 3 pemazmur memakai sebuah metafora untuk melukiskan dahsyatnya sengsara dan deritanya. Ia melukiskan bahwa ada pembajak yang membajak di atas punggungnya. Kiranya yang dimaksudkan di sini adalah bentuk penindasan dalam relasi pekerja (buruh) dan majikan. Tidak main-main. Para pembajak itu membuat alur-alur bajak yang panjang. Betapa itu mendatangkan sengsara dan rasa sakit yang luar biasa. Ini adalah metafora untuk penindasan yang didatangkan para penguasa dan penindas atas orang yang mereka kuasai dan tindas. Itulah lukisan tentang situasi derita dan kemalangan si pemazmur yang ditimpakan orang lain.

Tetapi itu bukanlah kata terakhir bagi hidupnya. Sebab dalam ayat 4 kita melihat tindakan Tuhan yang melakukan campur-tangan atas hidup si pemazmur. Tuhan tidak membiarkan situasi penindasan itu berlangsung terus menerus tanpa jalan keluar dari kemelut. Dalam situasi seperti ini, Tuhan bertindak untuk menunjukkan kasih-setia dan keadilanNya. Hal itu ditampakkan Tuhan dengan memotong tali-tali orang fasik. Dengan tindakan ini, maka orang fasik tidak mampu lagi mendatangkan sengsara dan penindasan atas orang lain. Tali-tali adalah alat penindasan dan penyiksaan. Jika Tuhan sudah bertindak memutuskan tali-tali itu, hal itu berarti Tuhan menghentikan penindasan dan kekerasan yang dilakukan sekelompok orang atas sekelompok orang lain yang biasanya lebih lemah. Karena tindakan Tuhan, maka alat penindasan para penindas (tali) sudah terputus dan tidak bisa dipergunakan lagi.

Setelah campur tangan Tuhan, maka dalam bagian berikut kita melihat pelukisan nasib orang jahat yang mendatangkan sengsara dan penindasan atas sesamanya. Pertama, dalam ayat 5 dilukiskan bahwa orang yang membenci Sion akan mendapat malu. Rupanya penindasan yang disinggung dalam bagian terlebih dahulu, ada kaitannya dengan perilaku para bangsa terhadap Sion. Para pembenci Sion tidak akan hidup lama. Mereka memang bisa bertumbuh tetapi akan cepat layu dan mati. Itulah makna ungkapan yang muncul dalam ayat 6 di mana nasib orang-orang tersebut dilukiskan secara metaforis dengan rumput di atas sotoh (atap rumah berbentuk datar). Di sana tidak ada tanah. Memang sesuatu bisa tumbuh, tetapi tidak bisa bertahan lama karena tidak ada tanah dan kena sinar panas matahari. Tanpa campur tangan para pemangkas dan penyabit sekalipun rumput yang tumbuh di atas sotoh akan mati sendiri (ayat 7).

Bila melihat nasib orang seperti itu, maka orang yang menyaksikannya akan mendapat simpulan yang jelas: mereka tidak diberkati Tuhan (ayat 8). Karena itu, maka mereka cepat mati, tidak bertahan hidup. Atas mereka itu, tidak ada orang yang mengucapkan berkat atas nama Tuhan. Bahkan sebaliknya, atas mereka diucapkan kutuk dan sumpah serapah. Karena campur tangan Tuhan, maka orang yang menderita kesesakan pun luput (dinyatakan dengan jelas dalam judul mazmur).

Jadi, berkat campur-tangan Tuhan, maka masalah derita dan kemalangan dalam hidup manusia bisa teratasi. Tuhan bertindak dengan cara memutuskan dan menghilangkan alat-alat penindasan yang selama ini ada di tangan penindas. Campur-tangan Tuhan tentu mendatangkan pembebasan dan sukacita.

Bandung, Mei 2016.
Dosen Teologi Biblika, FF UNPAR Bandung.


Wednesday, August 3, 2016

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 128

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Judul mazmur ini dalam Alkitab kita ialah “Berkat atas rumah tangga”. Mazmur ini juga masih termasuk dalam kategori mazmur Ziarah. Mazmur ini terdiri atas enam ayat. Ada banyak rumusan dan persepsi mengenai orang yang bahagia dan kebahagiaan (hidup bahagia). Hidup bahagia itu sendiri, menurut Failasuf Aristoteles, adalah tujuan dasar hidup manusia. Manusia hidup untuk menjadi (mencari, mengupayakan) bahagia. Kebahagiaan itu bisa didefinisikan secara ekonomis, psikologis, sosiologis, moral. Tetapi dalam Mazmur 128 ini ada sebuah definisi teologis mengenai orang yang berbahagia dan kebahagiaan.

Menurut ayat 1, ada dua kriteria bagi orang yang berbahagia. Pertama, orang yang berbahagia adalah orang yang takut akan TUHAN. Ketakutan yang dimaksudkan di sini, bukanlah sebuah ketakutan yang biasa, seperti takut akan setan, takun akan binatang buas, atau takut akan kegelapan, ketakutan akan ketinggian, ketakutan akan ruang tertutup. Semua jenis ketakutan ini adalah sejenis phobia. Ketakutan yang terutama dimaksudkan di sini bukanlah semacam fobia itu. Melainkan rasa takut yang suci, yang biasanya disebut dengan kata lain yaitu takwa, sebuah rasa takut yang suci.

Kedua, orang yang berbahagia adalah orang yang hidup menurut jalan TUHAN. Jalan Tuhan yang dimaksudkan tentu saja hukum Taurat dan juga para nabi dan pelbagai wejangan kaum berhikmat. Ayat 1 di atas tadi menetapkan sebuah syarat teologis-vertikal untuk kebahagiaan itu. Ayat 2 menetapkan sebuah syarat manusiawi-horizontal untuk kebahagiaan itu. Menurut ayat 2 ini, orang disebut berbahagia dan baik keadaannya jika orang itu menikmati hasil jerih-payah dan kerja-tangannya sendiri. Itulah kebahagiaan seorang manusia, yaitu jika ia beres dalam relasinya dengan Tuhan dan juga beres dengan relasinya dengan dirinya sendiri.

Sekarang dalam ayat 3, ditunjukkan secara jelas mengenai buah hasil dari hidup yang berbahagia itu, atau hasil dari relasi yang serba beres itu. Di sana disebutkan dua pihak lain dalam hidup berumah-tangga. Pertama, ialah isteri, dan kedua ialah anak-anak. Secara eksplisit disebutkan di sana bahwa dalam relasi hidup yang beres dan benar itu, sang isteri akan menjadi seperti pohon anggur yang subur. Pohon anggur itu bisa hidup subur karena ada kondisi yang memungkinkan hal itu terjadi, ada kesuburan. Maka pohon anggur itu, bisa bertumbuh subur dan tentu saja diharapkan akan berbuah banyak juga. Begitu juga halnya dengan anak-anak. Mereka menjadi seperti tunas pohon zaitun. Kedua pohon ini, anggur dan ziatun, adalah pohon yang sangat penting dalam kehidupan orang-orang Israel dulu. Dua pohon itu sering sekali dijadikan sebagai tanaman yang diupayakan dan dibudidayakan untuk kehidupan manusia. Jika kedua hal ini terjadi, yaitu ketika kehidupan isteri dan anak-anaknya hidup bahagia, maka itu adalah kebahagiaan sejati bagi seorang pria, seorang ayah, seorang suami. Ia akan mendapatkan dan mengalami sebuah situasi ketenangan rohani dan jasmani.

Tetapi sekali lagi di dalam ayat 4 itu ditekankan sebuah syarat, yaitu orang laki-laki yang takut akan Tuhan. Jika orang hidup dalam ketakutan akan Tuhan, maka orang itu akan diberkati Tuhan. Relasi yang benar dengan Tuhan, juga akan menentukan relasi yang benar dengan Sion, dengan Yerusalem, tempat kudus milik Tuhan sendiri. Dikatakan dengan jelas dalam ayat 5, Tuhan akan memberkati dia dari Sion, agar orang itu bisa menyaksikan dan mengalami Yerusalem yang berbahagia, makmur dan damai sejahtera. Kalau Yerusalem mengalami situasi damai-sejahtera, maka orang bisa datang berziarah ke sana dengan tenang, tanpa ada rasa ketakutan sama sekali. Tidak ada kecemasan dan gelisah, misalnya karena takut akan musuh yang tiba-tiba datang menyerang. Kondisi tenang dan penuh damai-sejahtera ini juga menjadi “hadiah” bagi orang yang hidup dalam relasi yang baik dan benar dengan Tuhan.

Dan akhirnya, orang yang hidup dengan baik dan benar juga akan diberkati dengan umur panjang. Memang umur panjang, dalam pandangan Perjanjian Lama, adalah pertanda bahwa orang itu mendapat rahmat dan perkenanan Tuhan sendiri. Umur pendek, atau mati muda adalah pertanda keadaan terkutuk. Oleh karena seseorang itu berusia panjang dalam hidupnya di dunia ini, maka ia bisa menyaksikan anak-anak cucunya. Umur panjang juga termasuk salah satu berkat yang berasal dari Tuhan sendiri. Kiranya bagi orang ini, tidak berlaku apa yang dikatakan dalam Mazmur 90:9: “Sungguh, segala hari kami berlalu karena gemasMu, kami menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh”. Oleh karena itu, kiranya dapatlah dipahami bahwa untaian mazmur ini di akhir ayat 6 ditutup dengan sebuah seruan tentang Damai sejahtera atas Israel.

Bandung, Mei 2016.
Dosen Teologi Biblika, UNPAR Bandung.


PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...