Monday, October 3, 2016

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 130

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Judul Mazmur ini dalam Alkitab kita ialah “Seruan dari dalam Kesusahan.” Konon ini mazmur favorit Martin Luther. Ia sangat menyukainya. Kiranya tidak hanya bagi Luther. Bagi kita juga demikian. Sebab Mazmur itu berperan besar dalam liturgi kita, terkait dengan tobat. Mazmur ini juga dipakai sebagai salah satu mazmur dalam doa malam (completorium) terutama pada hari Rabu. Mazmur ini termasuk pendek (hanya 8 ayat). Salah satu hal yang mencolok ialah ia mulai dengan individu, tetapi lalu menjadi kolektif. Saya tidak membagi Mazmur ini ke dalam unit-unit. Saya akan membahasnya dengan melihat dinamika isinya dari ayat ke ayat.

Dalam ayat 1 dilukiskan bahwa ia berseru dari sheol. Dalam Alkitab kita kata sheol itu diterjemahkan dengan “jurang yang dalam”. Pemazmur melukiskan keadaan hidupnya, bahwa ia sudah berada dalam situasi keterpurukan, berada dalam ngarai yang dalam. Itulah fakta kesusahan yang digunakan dalam judul mazmur ini. Pasti di sana ada kegelapan, kelembaban, sebab sinar matahari tidak bisa masuk. Ini adalah garis besar yang mencoba mengungkapkan fakta bahwa ia merasa tidak pantas untuk berdiri di hadapan (menghadap) Allah. Walaupun ia berada dalam sheol itu ia tetap berseru kepada Allah. Dalam ayat 2 ia memohon agar Allah mau mendengarkan doa dan seruan permohonannya. Tentu ini sebuah paradoks: merasa tidak pantas menghadap Allah, tetapi tetap berseru memohon kepada-Nya.

Dalam ayat 3 ia mengungkapkan alasan ia memohon ampunan, yaitu bahwa sebab tanpa ampunan Allah, orang tidak dapat hidup. Jadi, ampunan dan belas kasih Allah menjadi prasyarat bagi manusia untuk hidup di dunia ini. Menurut ayat ini, orang hidup dari belas kasih dan ampunan Allah. Ide ampunan di sini diungkapkan dengan ungkapan “melupakan”. Tuhan diharapkan tidak lagi mengingat-ingat (alias melupakan; amnesia) kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia dalam hidupnya di dunia ini. Sebab kalau Tuhan mengingat semuanya itu, maka tidak ada manusia yang bisa bertahan hidup di hadapan pengadilan dan hukuman Allah.

Lalu dalam ayat 4 ia mengungkapkan keyakinan dasarnya yaitu bahwa Allah mau mengampuni. Ampunan Allah itu dimaksudkan agar ada sikap takwa dari pihak manusia, sebab ia yakin bahwa sikap takwa itu adalah buah hasil dari ampunan dan belas-kasih Tuhan. Perubahan dalam hidup manusia ke arah ketakwaan, bisa muncul karena rahmat ampunan Allah. Dengan demikian perubahan itu adalah peristiwa rahmat juga. Dalam ayat 5 si pemazmur melukiskan bahwa ia menantikan Tuhan dalam sheol, dalam ngarai, tempat ia meringkuk dan terpuruk, Ia menantikan ampunan dan belas-kasihan Allah. Ia menantikan firman-Nya. Menurut saya, kiranya itu sebabnya Mazmur ini (dalam Liturgi gereja Katolik) banyak dipakai dalam masa Advent dan Natal, sebab pada masa liturgis itu kita didorong untuk menantikan (mengharapkan) belas-kasih dan rahmat Allah sendiri.

Dalam ayat 6 pemazmur memakai sebuah metafora yang sangat baik untuk melukiskan pengharapan dan penantiannya. Ia memakai ibarat penjaga kota untuk melukiskan intensitas dan kedalaman penantiannya akan Allah. Ibarat itu dipakai sebanyak dua kali. Situasi penjaga kota ini penting dan genting. Giliran jaga pagi, yang berlangsung kira-kira pada jam 3-6, memang paling gawat. Mengapa? Pada jam-jam tersebut, para penjaga biasanya dilanda rasa kantuk yang sangat berat; udara pagi sangat dingin; sementara itu ada ancaman panah musuh. Bila para penjaga yang berdiri di atas benteng penjagaan, memandang ke bawah, maka akan tampak gelap. Semuanya tampak samar-samar karena tertutup kabut. Tetapi konon pemandangan dari bawah ke atas kelihatan sangat jelas dan terang. Karena itu mereka yang berada di atas menara benteng jaga itu mudah sekali menjadi sasaran empuk para pemanah musuh yang menyusup dan mengintai dari bawah. Itulah situasi genting yang dialami oleh para peronda yang berjaga di atas benteng kota. Dalam situasi kegentingan seperti ini, mereka sangat berharap pada pertolongan dan campur tangan Allah.

Akhirnya dalam ayat 7-8 terjadi sebuah loncatan besar: yaitu loncatan dari doa pribadi (ayat 1-6) ke doa umat atau menjadi doa umat. Di sini terjadi pergeseran besar. Di sini ada sebuah seruan pemazmur agar bangsa Israel berharap pada Allah, sebab Allah itulah penyelamat. Pemazmur berdoa, bukan lagi demi kepentingan pribadinya, melainkan demi kepentingan Israel. Berdasarkan pengalaman historis, pemazmur yakin bahwa Tuhan itu penuh kasih setia dan sering bertindak untuk membawa shalom bagi Israel. Hal itu bisa terjadi tepat pada waktunya. Tidak ada pihak lain yang bisa mendatangkan pembebasan dan penyelamatan bagi Israel selain Tuhan Allah (ayat 8). Itulah keyakinan pokok pemazmur. Ia sungguh yakin bahwa shalom (keselamatan, damai sejahtera) adalah kata terakhir yang berasal dari Allah, dan bukan sheol. Sheol itu hanya sebuah eksistensi semu belaka.

Bandung, 05 Agustus 2009
Dosen Teologi Biblika, UNPAR Bandung.


No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...