Oleh: Fransiskus Borgias M.
Mazmur ini dalam Alkitab kita mempunyai judul berikut ini: “Berkat TUHAN pangkal selamat.” Keselamatan bisa terjadi karena berkat Tuhan. Tentu itu adalah sebuah pengalaman iman yang snagat menarik. Mazmur ini termasuk dalam kategori sebuah mazmur ziarah. Tetapi di sini diberikan sebuah keterangan khusus, yaitu nyanyian ziarah Salomo. Judul mazmur di atas tadi kiranya sudah menggambarkan seluruh isi mazmur itu sendiri. Tidak ada sumber lain bagi shalom kita, selain Tuhan itu sendiri. Oleh karena itu, manusia tidak boleh mengharapkan keselamatan dari sumber-sumber yang lain.
Ada dua aktifitas hidup manusia yang diangkat si pemazmur di sini untuk melukiskan penyelenggaraan Tuhan atas hidup manusia. Kedua aktifitas itu termasuk dalam kategori aktifitas dasar dalam hidup manusia. Pertama, ialah aktifitas membangun rumah. Rumah adalah tempat tinggal, dalam artian bangunan fisik, sebuah space. Tetapi rumah juga di sini bisa diartikan secara rohani. Yang dimaksudkan ialah hidup rumah tangga, hidup keluarga itu sendiri yang memang tinggal dalam sebuah rumah, sebuah home sweet home. Upaya manusia membangun “rumah” dalam artian luas tadi, akan menjadi sia-sia jika upaya itu tidak dilakukan dalam dan bersama Tuhan. Atau kalau upaya itu dilakukan tidak dalam kesadaran akan kuasa kasih dan penyelenggaraan Tuhan sendiri. Kiranya itu sebabnya dalam pelbagai kebudayaan orang selalu membangun rumah dengan diawali dengan sebuah ritual tertentu, ritual membangun rumah.
Kedua, aktifitas mengawal kota. Ini adalah tugas para peronda atau penjaga malam. Tugas ini dimaksudkan untuk menjaga dan menjamin keamanan kota. Tugas utama mereka ialah untuk bisa mengetahui apakah kota itu aman, apakah tidak ada musuh yang datang menyerang. Menurut si pemazmur, tugas ini juga akan menjadi sia-sia belaka, jika dilakukan tanpa bantuan Tuhan sendiri. Itulah pokok yang diungkapkan dalam ayat 1 mazmur ini.
Ayat 2 cukup sulit juga untuk dipahami. Di sini dilukiskan mengenai kesibukan dan aktifitas manusia, mulai dari pagi hari hingga malam hari. Tentu yang dimaksudkan di sini adalah aktifitas pekerjaan manusia di siang hari; aktifitas yang baik-baik maksudnya (bukan merampok, membunuh, mencuri, membunuh, korupsi, dll). Semuanya itu akan terasa sia-sia juga kalau tidak dilandaskan pada iman akan Tuhan. Sebab hasil dari usaha dan jerih payah manusia tidak lagi ditentukan oleh manusia itu sendiri, melainkan oleh campur tangan Tuhan sendiri. Buah hasil upaya manusia, yaitu roti atau makanan, pada akhirnya diberikan oleh Tuhan sendiri kepada orang-orang yang dikasihiNya. Dan yang menarik ialah bahwa justru buah hasil upaya itu diberikan oleh Tuhan pada waktu si manusia itu tidur. Dengan kata lain, buah hasil itu bukan jerih payah manusia, melainkan rahmat dan kasih Allah belaka.
Ayat 3-5 mengandung suatu isi yang lain sama sekali. Di sini kita dapat melihat sebuah lompatan. Di sini pemazmur berbicara tentang anak dan keturunan. Anak-anak (walaupun disebut secara eksplisit di sana, anak-anak lelaki, tetapi kiranya saya mau memperluasnya juga kepada anak-anak perempuan) adalah milik pusaka dari Tuhan. Seperti kata Kahlil Gibran, anak-anak adalah milik sang Pencipta. Mereka datang melalui orang tua yang melahirkan, tetapi mereka (anak-anak tadi) bukanlah milik mereka (orang tua). Mereka adalah upah yang diberikan atau berasal dari Tuhan (ay 3). Anak-anak itu adalah kebanggaan. Terutama anak-anak yang dilahirkan pada masa muda. Anak-anak itu, diibaratkan sebagai anak panah di tangan para pahlawan (ay 4).
Dalam ayat 5 kita menemukan sebuah metafora yang lain. Seorang pahlawan (ksatria) biasanya membawa bekal senjata busur dengan tabung anak panah yang penuh terisi. Seorang pahlawan seperti itu menjadi ibarat bagi orang yang mempunyai anak di masa mudanya. Orang seperti ini dinilai perkasa dan mempunyai otoritas (kewibawaan) dan kekuatan di mata masyarakat, di ruang publik (ay 5). Jika ia tampil berbicara di ruang publik (pintu gerbang) maka ia tidak akan mendapat malu, dan tidak ada musuh yang bisa membuatnya takut dan gentar di pintu gerbang kota.
Ketika membahas poin terakhir ini, saya tergelitik untuk bertanya bagaimana dengan orang yang tidak mempunyai anak? Dalam bingkai konteks Perjanjian Lama, di satu pihak, hal itu dianggap sebagai sebuah kutukan (terutama bagi kaum perempuan yang tidak bisa memberi anak dan keturunan bagi suaminya). Tetapi di pihak yang lain, dalam Perjanjian Baru kita menemukan pujian bagi rahim yang tidak pernah mengandung, dan susu yang tidak pernah menyusui (Luk 23:29). Para pembaca Katolik cenderung membaca teks ini dan mengkaitkannya dengan cara hidup para perawan yang tidak menikah. Tetapi kiranya ada cara baca yang lain yang mengkaitkan teks ini dengan sebuah bingkai visi akhir jaman (eskatologi). Bahkan mereka dipuji jauh lebih berbahagia daripada semua yang lain. Ini juga sebuah paradoks dalam pandangan hidup manusia. Tidak selalu mudah untuk memahaminya. Tetapi paradoks akan berhenti menjadi indah jika selalu bisa dijelaskan dan dipahami.
Bandung, akhir Maret 2016
Fransiskus Borgias M. (Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung).
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Friday, July 1, 2016
Sunday, May 8, 2016
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 126
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Mazmur ini dalam Alkitab kita mempunyai judul menarik: “Pengharapan di tengah-tengah penderitaan.” Mazmur ini terdiri atas enam ayat. Jadi, mazmur ini termasuk cukup pendek. Judul itu mengandung sebuah paradoks yang tidak selalu mudah untuk dihayati: berharap di tengah himpitan derita. Memang penderitaan adalah sebuah pengalaman negatif. Tidak jarang pengalaman negatif itu bisa membuat manusia jatuh terjerembab dalam situasi putus-asa. Tetapi ternyata dalam refleksi si pemazmur ini, situasi penderitaan justru membangkitkan pengharapan. Tidak selamanya penderitaan itu membelenggu manusia. Gelombang penderitaan itu ada akhirnya juga. Itulah yang menjadi keyakinan si pemazmur di sini. Pada saat itulah ia akan mengalami situasi keceriaan, situasi penuh sukacita dan tawa.
Itulah sebabnya begitu seseorang keluar dari sebuah kungkungan pengalaman negatif, ia tidak pernah menduga bahwa hal itu terjadi. Ia bahkan menduga bahwa itu mungkin hanya sekadar sebuah mimpi saja. Tetapi ternyata tidak. Itu adalah pengalaman yang amat nyata: Tuhan memulihkan keadaan Sion (ay 1). Ketika hal itu terjadi maka kita menjadi sangat bersukacita, penuh tawa gembira, lidah bersorak-sorai (ay 2). Perasaan hati, diungkapkan lewat mulut, lewat lidah, lewat alat tutur kita. Maka orang-orang lain di sekitar kita pun bisa melihat pengalaman sukacita itu. Bahkan mereka juga bisa melihat pengalaman penyelamatan yang dikerjakan Tuhan.
Itu sebabnya dalam ayat 2bc kita melihat para bangsa bersaksi mengenai perbuatan ajaib yang telah dikerjakan Tuhan bagi umatNya. Mereka menegaskan kembali pengalaman mukjizat itu sehingga harus diungkapkan dalam rasa sukacita yang besar (ay 3). Di ayat 4 ada sebuah permohonan agar Tuhan sudi memulihkan keadaan umat sebagaimana Tuhan memulihkan batang air kering di tanah Negeb. Tidak jelas bagi saya, mukjizat historis mana yang dimaksudkan di sini.
Lalu disusul dengan ayat 5 yang sangat terkenal itu: “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” Di sini dilukiskan sebuah paradoks: apa yang awalnya dilakukan dalam suasana duka, akan diakhiri dalam suasana sukaria. Pengalaman paradoksal itu dilanjutkan terus dalam ayat 6, masih dengan memakai ungkapan yang diangkat dari dunia pertanian. Ini adalah sebuah paradoks dalam pekerjaan pertanian, mengolah ladang.
Ketika orang mengolah ladang, orang bersusah payah, berlelah-lelah, badan menjadi letih, menjadi sakit karena kerja keras. Tetapi aktifitas bercocok-tanam itu selalu dibingkai sebuah bayang-bayang dan harapan bahwa suatu hari kelak, apa yang telah ditabur itu akan menghasilkan buah berlimpah. Saat ditanam atau ditaburkan, memang penuh dengan keletihan badan. Tetapi nanti, saat dituai, dipanen, ada juga kerja-keras untuk melakukan hal itu, tetapi lebih banyak ditandai oleh pengalaman sukacita dan sorak-sorai.
Semua itu terjadi di dalam Tuhan dan karena Tuhan. Jerih-payah yang dikeluarkan dalam proses mengolah ladang dan menabur benih, dibayang-bayangi dengan harapan bahwa nanti akan ada hasil dari bumi yang melimpah, yang bisa menjamin hidup dan masa depan. Tidak akan ada kelaparan dan segala macam penyakit yang terkait atau disebabkan oleh kelaparan tersebut. Jerih-payah bertani selalu dilakukan dalam bingkai musim panen kelak. Derita saat ini selalu dihayati dalam bingkai harapan bahwa semuanya akan segera berlalu. Harapan selalu lebih besar daripada himpitan derita. Itu pesan dasar mazmur ini bagi kita sekalian. Hiduplah selalu dalam perspektif pengharapan. Itulah inti dari hidup dalam iman. Hidup dalam pengharapan adalah tanda adanya iman dan hidup yang ditandai oleh harapan dan iman itu hanya dimungkinkan dalam landasan dan bingkai kasih.
Bandung, akhir Desember 2015.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.
Mazmur ini dalam Alkitab kita mempunyai judul menarik: “Pengharapan di tengah-tengah penderitaan.” Mazmur ini terdiri atas enam ayat. Jadi, mazmur ini termasuk cukup pendek. Judul itu mengandung sebuah paradoks yang tidak selalu mudah untuk dihayati: berharap di tengah himpitan derita. Memang penderitaan adalah sebuah pengalaman negatif. Tidak jarang pengalaman negatif itu bisa membuat manusia jatuh terjerembab dalam situasi putus-asa. Tetapi ternyata dalam refleksi si pemazmur ini, situasi penderitaan justru membangkitkan pengharapan. Tidak selamanya penderitaan itu membelenggu manusia. Gelombang penderitaan itu ada akhirnya juga. Itulah yang menjadi keyakinan si pemazmur di sini. Pada saat itulah ia akan mengalami situasi keceriaan, situasi penuh sukacita dan tawa.
Itulah sebabnya begitu seseorang keluar dari sebuah kungkungan pengalaman negatif, ia tidak pernah menduga bahwa hal itu terjadi. Ia bahkan menduga bahwa itu mungkin hanya sekadar sebuah mimpi saja. Tetapi ternyata tidak. Itu adalah pengalaman yang amat nyata: Tuhan memulihkan keadaan Sion (ay 1). Ketika hal itu terjadi maka kita menjadi sangat bersukacita, penuh tawa gembira, lidah bersorak-sorai (ay 2). Perasaan hati, diungkapkan lewat mulut, lewat lidah, lewat alat tutur kita. Maka orang-orang lain di sekitar kita pun bisa melihat pengalaman sukacita itu. Bahkan mereka juga bisa melihat pengalaman penyelamatan yang dikerjakan Tuhan.
Itu sebabnya dalam ayat 2bc kita melihat para bangsa bersaksi mengenai perbuatan ajaib yang telah dikerjakan Tuhan bagi umatNya. Mereka menegaskan kembali pengalaman mukjizat itu sehingga harus diungkapkan dalam rasa sukacita yang besar (ay 3). Di ayat 4 ada sebuah permohonan agar Tuhan sudi memulihkan keadaan umat sebagaimana Tuhan memulihkan batang air kering di tanah Negeb. Tidak jelas bagi saya, mukjizat historis mana yang dimaksudkan di sini.
Lalu disusul dengan ayat 5 yang sangat terkenal itu: “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” Di sini dilukiskan sebuah paradoks: apa yang awalnya dilakukan dalam suasana duka, akan diakhiri dalam suasana sukaria. Pengalaman paradoksal itu dilanjutkan terus dalam ayat 6, masih dengan memakai ungkapan yang diangkat dari dunia pertanian. Ini adalah sebuah paradoks dalam pekerjaan pertanian, mengolah ladang.
Ketika orang mengolah ladang, orang bersusah payah, berlelah-lelah, badan menjadi letih, menjadi sakit karena kerja keras. Tetapi aktifitas bercocok-tanam itu selalu dibingkai sebuah bayang-bayang dan harapan bahwa suatu hari kelak, apa yang telah ditabur itu akan menghasilkan buah berlimpah. Saat ditanam atau ditaburkan, memang penuh dengan keletihan badan. Tetapi nanti, saat dituai, dipanen, ada juga kerja-keras untuk melakukan hal itu, tetapi lebih banyak ditandai oleh pengalaman sukacita dan sorak-sorai.
Semua itu terjadi di dalam Tuhan dan karena Tuhan. Jerih-payah yang dikeluarkan dalam proses mengolah ladang dan menabur benih, dibayang-bayangi dengan harapan bahwa nanti akan ada hasil dari bumi yang melimpah, yang bisa menjamin hidup dan masa depan. Tidak akan ada kelaparan dan segala macam penyakit yang terkait atau disebabkan oleh kelaparan tersebut. Jerih-payah bertani selalu dilakukan dalam bingkai musim panen kelak. Derita saat ini selalu dihayati dalam bingkai harapan bahwa semuanya akan segera berlalu. Harapan selalu lebih besar daripada himpitan derita. Itu pesan dasar mazmur ini bagi kita sekalian. Hiduplah selalu dalam perspektif pengharapan. Itulah inti dari hidup dalam iman. Hidup dalam pengharapan adalah tanda adanya iman dan hidup yang ditandai oleh harapan dan iman itu hanya dimungkinkan dalam landasan dan bingkai kasih.
Bandung, akhir Desember 2015.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 125
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Pertama-tama perlu diingat bahwa untaian mazmur ini adalah termasuk salah satu dari untaian nyanyian ziarah yang dipakai saat orang-orang Israel mengadakan perjalanan ziarah ke kota Yerusalem. Saya sendiri belum pernah sampai ke Yerusalem. Tetapi dari kesaksian orang dan catatan geografis yang hingga saat ini bisa saya dengar dan saya ketahui, jelas bahwa dulu ketika para peziarah itu (umumnya berjalan kaki) melihat kota Yerusalem dari kejauhan maka tampak bahwa daerah itu dikelilingi gunung-gunung. Bukit Sion terletak di tengah-tengah untaian gunung-gunung tersebut.
Lalu dari situ muncullah sebuah bayangan keagamaan (imajinasi religius) bahwa kota itu akan aman terus-menerus karena musuh tidak mungkin datang menyerangnya, sebab secara geografis ia tampak seperti sangat terlindung (ada benteng alami berupa gunung-gunung). Tentu saja secara historis anggapan dan keyakinan itu salah besar, sebab dalam kenyataannya sepanjang sejarah sudah terbukti bahwa kota itu menjadi sasaran empuk serangan para bangsa (Asyur, Babel, Mesir, Helenis, Romawi, Arab, bahkan Eropa modern juga).
Untuk sementara kita lupakan dulu fakta sejarah tragis itu. Pokoknya yang jelas bahwa bagi si pemazmur-peziarah itu, Sion yang terletak di atas bukit dan juga dikelilingi oleh gunung-gunung, menjadi sumber rasa aman bahkan rasa damai sentosa. Kota itu tidak akan pernah goyah untuk selama-lamanya (ay 1). Kota Yerusalem yang terlindungi oleh gunung-gunung itu, dalam imajinasi religius si pemazmur-peziarah dibayangkan sebagai perlindungan Tuhan bagi umat-Nya. Dikatakan di sana bahwa sebagaimana Yerusalem itu aman karena dikelilingi gunung-gunung, demikian juga umat Tuhan menjadi aman karena Tuhan menjadi gunung yang melindunginya; dan hal itu berlangsung selama-lamanya (ay 2).
Setelah melukiskan Israel, Umat Tuhan, sekarang dilukiskan mengenai nasib para bangsa lain di sekitarnya. Dikatakan bahwa kekuasaan para bangsa lain (yang di sini dilambangkan dengan tongkat kerajaan) akan musnah karena mereka adalah orang-orang yang fasik (ay 3). Bahkan kerajaan itu akan goyah di atas tanah yang tidak akan mereka miliki untuk selamanya, sebab dalam kenyataannya tanah itu diundikan kepada orang-orang yang benar (ay 3b). Hal itu terjadi, agar orang-orang yang benar hidupnya, tidak sampai jatuh terseret kepada kejahatan juga; agar mereka tidak tertular oleh perilaku jahat (ay 3cd).
Tetapi serentak disadari juga bahwa hal itu tidak selalu mudah. Hal itu tidak terjadi secara otomatis, seperti membalikkan telapak tangan. Selalu ada kemungkinan dan ancaman untuk terseret kepada hal-hal yang jahat. Maka dalam ayat 4 si pemazmur memohon kepada Tuhan agar Tuhan sudi membuat kebaikan kepada orang-orang yang baik dan tulus hati (ay 4ab). Hanya pertolongan Tuhan sajalah yang membuat orang bisa terluput dari hal-hal negatif (dosa dan kefasikan) dalam dan selama hidupnya di dunia ini. Si Pemazmur-peziarah juga memohon agar Tuhan mengenyahkan orang-orang fasik, orang-orang jahat, orang-orang yang suka menyimpang ke jalan yang berbelit-belit (ay 5). Siapakah yang dimaksudkan dengan kelompok orang seperti ini? Tidak selalu mudah untuk menjawabnya.
Tetapi kiranya, yang dimaksud dengan ungkapan yang terakhir ini ialah orang yang suka kepada perilaku kejahatan dan kemudian berusaha membenarkan perilaku jahat itu dengan kelicikan kata-kata lewat pengadilan. Proses seperti ini berbelit-belit dan menimbulkan banyak kesulitan dan kerepotan hidup. Model orang seperti itu tentu sangat menyakitkan dan kiranya juga tidak disukai. Karena itu, pemazmur memohon agar orang seperti itu hendaknya dienyahkan oleh Tuhan. Tetapi kita tidak bisa memaksa Tuhan mengabulkan permohonan itu. Kita harus dengan hati lapang membiarkan Tuhan bertindak dalam kasih dan keadilan dan hukum-hukumNya. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik.
Bandung, akhir Desember 2015.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.
Pertama-tama perlu diingat bahwa untaian mazmur ini adalah termasuk salah satu dari untaian nyanyian ziarah yang dipakai saat orang-orang Israel mengadakan perjalanan ziarah ke kota Yerusalem. Saya sendiri belum pernah sampai ke Yerusalem. Tetapi dari kesaksian orang dan catatan geografis yang hingga saat ini bisa saya dengar dan saya ketahui, jelas bahwa dulu ketika para peziarah itu (umumnya berjalan kaki) melihat kota Yerusalem dari kejauhan maka tampak bahwa daerah itu dikelilingi gunung-gunung. Bukit Sion terletak di tengah-tengah untaian gunung-gunung tersebut.
Lalu dari situ muncullah sebuah bayangan keagamaan (imajinasi religius) bahwa kota itu akan aman terus-menerus karena musuh tidak mungkin datang menyerangnya, sebab secara geografis ia tampak seperti sangat terlindung (ada benteng alami berupa gunung-gunung). Tentu saja secara historis anggapan dan keyakinan itu salah besar, sebab dalam kenyataannya sepanjang sejarah sudah terbukti bahwa kota itu menjadi sasaran empuk serangan para bangsa (Asyur, Babel, Mesir, Helenis, Romawi, Arab, bahkan Eropa modern juga).
Untuk sementara kita lupakan dulu fakta sejarah tragis itu. Pokoknya yang jelas bahwa bagi si pemazmur-peziarah itu, Sion yang terletak di atas bukit dan juga dikelilingi oleh gunung-gunung, menjadi sumber rasa aman bahkan rasa damai sentosa. Kota itu tidak akan pernah goyah untuk selama-lamanya (ay 1). Kota Yerusalem yang terlindungi oleh gunung-gunung itu, dalam imajinasi religius si pemazmur-peziarah dibayangkan sebagai perlindungan Tuhan bagi umat-Nya. Dikatakan di sana bahwa sebagaimana Yerusalem itu aman karena dikelilingi gunung-gunung, demikian juga umat Tuhan menjadi aman karena Tuhan menjadi gunung yang melindunginya; dan hal itu berlangsung selama-lamanya (ay 2).
Setelah melukiskan Israel, Umat Tuhan, sekarang dilukiskan mengenai nasib para bangsa lain di sekitarnya. Dikatakan bahwa kekuasaan para bangsa lain (yang di sini dilambangkan dengan tongkat kerajaan) akan musnah karena mereka adalah orang-orang yang fasik (ay 3). Bahkan kerajaan itu akan goyah di atas tanah yang tidak akan mereka miliki untuk selamanya, sebab dalam kenyataannya tanah itu diundikan kepada orang-orang yang benar (ay 3b). Hal itu terjadi, agar orang-orang yang benar hidupnya, tidak sampai jatuh terseret kepada kejahatan juga; agar mereka tidak tertular oleh perilaku jahat (ay 3cd).
Tetapi serentak disadari juga bahwa hal itu tidak selalu mudah. Hal itu tidak terjadi secara otomatis, seperti membalikkan telapak tangan. Selalu ada kemungkinan dan ancaman untuk terseret kepada hal-hal yang jahat. Maka dalam ayat 4 si pemazmur memohon kepada Tuhan agar Tuhan sudi membuat kebaikan kepada orang-orang yang baik dan tulus hati (ay 4ab). Hanya pertolongan Tuhan sajalah yang membuat orang bisa terluput dari hal-hal negatif (dosa dan kefasikan) dalam dan selama hidupnya di dunia ini. Si Pemazmur-peziarah juga memohon agar Tuhan mengenyahkan orang-orang fasik, orang-orang jahat, orang-orang yang suka menyimpang ke jalan yang berbelit-belit (ay 5). Siapakah yang dimaksudkan dengan kelompok orang seperti ini? Tidak selalu mudah untuk menjawabnya.
Tetapi kiranya, yang dimaksud dengan ungkapan yang terakhir ini ialah orang yang suka kepada perilaku kejahatan dan kemudian berusaha membenarkan perilaku jahat itu dengan kelicikan kata-kata lewat pengadilan. Proses seperti ini berbelit-belit dan menimbulkan banyak kesulitan dan kerepotan hidup. Model orang seperti itu tentu sangat menyakitkan dan kiranya juga tidak disukai. Karena itu, pemazmur memohon agar orang seperti itu hendaknya dienyahkan oleh Tuhan. Tetapi kita tidak bisa memaksa Tuhan mengabulkan permohonan itu. Kita harus dengan hati lapang membiarkan Tuhan bertindak dalam kasih dan keadilan dan hukum-hukumNya. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik.
Bandung, akhir Desember 2015.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.
Tuesday, March 8, 2016
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 124
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dalam mazmur 124 ini terungkap sebuah kesadaran diri orang Israel yang muncul setelah mereka merenungkan kembali perjalanan dan sejarah hidup mereka. Dalam sejarah hidup mereka sudah muncul sangat banyak para bangsa yang berniat untuk menyerang dan menghancurkan mereka. Dikatakan di sana bahwa para bangsa itu berniat untuk menelan mereka hidup-hidup (ay 3a); para bangsa itu murka sampai bernyala-nyala amarahnya terhadap mereka (ay 3b). Bahkan disebut juga di situ unsur alam yaitu air. Dikatakan bahwa air itu mengancam untuk menghanyutkan hidup mereka (ay 4a), dan menenggelamkan mereka (ay 4b dan 5).
Tentu yang diingat atau dibayangkan pemazmur di sini adalah ancaman para bangsa dalam perjalanan mereka keluar dari tanah Mesir menuju ke Tanah Terjanji. Dalam konteks permenungan historis ini, maka air yang dimaksudkan tadi tentu saja adalah air laut Teberau (Laut Merah; Kel 14:15-31) dan juga air sungai Yordan (Yos 3), tatkala orang-orang Israel menyeberangi keduanya demi menghindarkan diri dan menjauh dari orang-orang Mesir yang mengejar mereka. Itulah shalom yang dialami secara sangat nyata oleh Israel dalam renungan pemzmur ini. Dan semuanya itu bisa terjadi, tidak lain hanya karena Tuhan memihak mereka (ay 1.2). Karena pertolongan Tuhanlah maka mereka selamat, luput dari serangan para lawan, juga luput dari ancaman alam berupa air (laut dan sungai). Tanpa pertolongan dan campur tangan Tuhan, maka mereka pasti sudah binasa semuanya. Tanpa sisa apa-apa lagi. Mungkin hanya tinggal kenangan belaka.
Dari dan atas dasar pengalaman inilah maka mengalirlah lagu ucapan syukur dalam sisa-sisa ayat mazmur ini. Karena Tuhan sudah meluputkan mereka, maka mereka pun melambungkan puji-pujian kepada Tuhan yang tidak menyerahkan mereka kepada gigi para musuh mereka (ay 6). Pengalaman shalom yang berasal dari Allah itu juga menjadi nyata dalam pengalaman terluput seperti burung yang luput dari jerat penangkap. Bahkan tidak hanya luput saja, jerat itu sendiripun sudah putus (ay 7); kalau jerat itu sudah putus, maka itu berarti sudah tidak ada ancaman lagi. Betapa sangat aman dan nyamannya hidup tanpa ancaman. Itulah shalom yang berasal dari Allah sang sumber shalom itu sendiri. Sebaliknya, betapa sangat tidak nyamannya hidup yang selalu dibayang-bayangi oleh ancaman. Kiranya itulah sebabnya mazmur ini diberi judul yang menarik, “Terpujilah Penolong Israel.”
Pengalaman shalom, aman, tenteram itulah yang dipadatkan dalam rumusan keyakinan iman terakhir dalam ayat 8 itu, yang kiranya sangat terkenal di telinga dan hati kita karena sering sekali dipakai sebagai sebuah doa: “Pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.” Sang pencipta langit dan bumi menjadi sumber pertolongan dan keselamatan kita. Kiranya tidak ada lagi sumber shalom yang lebih tinggi dan lebih mantap dan meyakinkan dari itu sebab shalom itu berasal dari sang pencipta itu sendiri. Maka segala macam bentuk ancaman kehidupan menjadi relatif, menjadi tidak berarti apa-apa lagi sebab kita mengalami sumber pertolongan dan shalom itu dari Tuhan sang pencipta itu sendiri.
Bandung, akhir Desember 2015.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.
Dalam mazmur 124 ini terungkap sebuah kesadaran diri orang Israel yang muncul setelah mereka merenungkan kembali perjalanan dan sejarah hidup mereka. Dalam sejarah hidup mereka sudah muncul sangat banyak para bangsa yang berniat untuk menyerang dan menghancurkan mereka. Dikatakan di sana bahwa para bangsa itu berniat untuk menelan mereka hidup-hidup (ay 3a); para bangsa itu murka sampai bernyala-nyala amarahnya terhadap mereka (ay 3b). Bahkan disebut juga di situ unsur alam yaitu air. Dikatakan bahwa air itu mengancam untuk menghanyutkan hidup mereka (ay 4a), dan menenggelamkan mereka (ay 4b dan 5).
Tentu yang diingat atau dibayangkan pemazmur di sini adalah ancaman para bangsa dalam perjalanan mereka keluar dari tanah Mesir menuju ke Tanah Terjanji. Dalam konteks permenungan historis ini, maka air yang dimaksudkan tadi tentu saja adalah air laut Teberau (Laut Merah; Kel 14:15-31) dan juga air sungai Yordan (Yos 3), tatkala orang-orang Israel menyeberangi keduanya demi menghindarkan diri dan menjauh dari orang-orang Mesir yang mengejar mereka. Itulah shalom yang dialami secara sangat nyata oleh Israel dalam renungan pemzmur ini. Dan semuanya itu bisa terjadi, tidak lain hanya karena Tuhan memihak mereka (ay 1.2). Karena pertolongan Tuhanlah maka mereka selamat, luput dari serangan para lawan, juga luput dari ancaman alam berupa air (laut dan sungai). Tanpa pertolongan dan campur tangan Tuhan, maka mereka pasti sudah binasa semuanya. Tanpa sisa apa-apa lagi. Mungkin hanya tinggal kenangan belaka.
Dari dan atas dasar pengalaman inilah maka mengalirlah lagu ucapan syukur dalam sisa-sisa ayat mazmur ini. Karena Tuhan sudah meluputkan mereka, maka mereka pun melambungkan puji-pujian kepada Tuhan yang tidak menyerahkan mereka kepada gigi para musuh mereka (ay 6). Pengalaman shalom yang berasal dari Allah itu juga menjadi nyata dalam pengalaman terluput seperti burung yang luput dari jerat penangkap. Bahkan tidak hanya luput saja, jerat itu sendiripun sudah putus (ay 7); kalau jerat itu sudah putus, maka itu berarti sudah tidak ada ancaman lagi. Betapa sangat aman dan nyamannya hidup tanpa ancaman. Itulah shalom yang berasal dari Allah sang sumber shalom itu sendiri. Sebaliknya, betapa sangat tidak nyamannya hidup yang selalu dibayang-bayangi oleh ancaman. Kiranya itulah sebabnya mazmur ini diberi judul yang menarik, “Terpujilah Penolong Israel.”
Pengalaman shalom, aman, tenteram itulah yang dipadatkan dalam rumusan keyakinan iman terakhir dalam ayat 8 itu, yang kiranya sangat terkenal di telinga dan hati kita karena sering sekali dipakai sebagai sebuah doa: “Pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.” Sang pencipta langit dan bumi menjadi sumber pertolongan dan keselamatan kita. Kiranya tidak ada lagi sumber shalom yang lebih tinggi dan lebih mantap dan meyakinkan dari itu sebab shalom itu berasal dari sang pencipta itu sendiri. Maka segala macam bentuk ancaman kehidupan menjadi relatif, menjadi tidak berarti apa-apa lagi sebab kita mengalami sumber pertolongan dan shalom itu dari Tuhan sang pencipta itu sendiri.
Bandung, akhir Desember 2015.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 123
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Judul mazmur ini ialah “Berharap kepada anugerah TUHAN.” Memang hidup kita ini dilandaskan pada anugerah Tuhan semata-mata. Bahkan hidup kita ini seluruhnya adalah anugerah Allah belaka yang diberikan secara cuma-cuma kepada kita, gratia gratis data. Tuhan yang telah memberikan rahmat kehidupan ini kepada kita. Maka dalam segala hal, kita harus senantiasa mengarahkan pandangan dan hati kita kepada-Nya. Tuhan yang bertahta di surga menjadi arah dan tujuan pandangan mata kita untuk memohonkan bantuan dan berkat untuk hidup ini (ay 1).
Hal itulah yang dilukiskan dalam mazmur ini dengan mengambil metafora hubungan antara tuan-puan dan para hambanya (ay 2). Dikatakan di sana bahwa para hamba laki-laki dan hamba perempuan memandang kepada tangan tuan dan puannya (ay 2bc) untuk memohon belas kasihan dan pemahaman. Memang para hamba dulu selalu siap-sedia untuk menunggu perkataan dan arah tangan sang tuan menunjuk dan memberi perintah atau mengatur segala pekerjaan yang harus dilakukan. Si Pemazmur mengambil metafora itu untuk melukiskan kesetiaan jiwa manusia untuk menantikan petunjuk dan perintah dari Tuhan. Kita memandang kepada Tuhan dengan tujuan agar Tuhan akhirnya berbelaskasihan kepada kita dan mengasihani kita (ay 2de).
Hal itu kita lakukan karena kita sedang dalam keadaan kesusahan hidup. Hal itulah yang coba dilukiskan secara sangat singkat dalam kedua ayat yang terakhir (ay 3-4). Pemazmur memohon kepada Tuhan agar Tuhan sudi mengasihani dia karena mereka sudah lama mengalami penghinaan. Sedemikian lamanya mereka mengalami penghinaan itu sampai dikatakan bahwa mereka sudah kenyang dengan penghinaan itu (ay 3). Karena ia memakai kata kenyang, berarti itu menyangkut perut, atau tubuh secara keseluruhan. Dalam ayat 4 ia menyinggung jiwa yang juga menderita karena olok-olokan orang-orang yang merasa aman. Dikatakan bahwa jiwa pun sudah kenyang dengan olok-olokan itu. Jadi penderitaan itu menyangkut jiwa dan badan (terwakili oleh perut). Suatu pelukisan pengalaman derita yang bersifat menyeluruh.
Saya tergelitik untuk bertanya, siapakah orang-orang yang menghina dan mengolok-olok kelompok pemazmur ini? Di ayat 4 disebutkan dua kelompok orang. Pertama, orang-orang yang merasa aman, dan kedua orang-orang yang sombong. Kedua kelompok ini pada dasarnya satu dan sama saja. Tetapi ada baiknya kalau dilihat secara lebih rinci. Orang-orang yang merasa aman ialah orang yang merasa hidupnya serba berkecukupan secara ekonomis dan sosial. Dalam keadaan seperti itu, orang lalu menjadi tidak tahu diri dan cenderung meremehkan orang lain yang dipandangnya tidak beruntung. Biasanya orang seperti ini juga, walau tidak semua tentu saja, mudah menjadi orang yang sombong alias tinggi hati. Dari sikap batin seperti inilah, maka mereka mudah menjadi angkuh dan menghina serta mengolok-olok orang lain. Tidak jarang penderitaan batin (psikologis) akibat penghinaan seperti ini menjadi sangat berat sehingga orang hanya berlari kepada Tuhan untuk memohonkan perlindungan dan juga jalan keluar dari kesesakan. Hal seperti itulah yang dilakukan si pemazmur di sini. Mereka berharap Tuhan menjadi benteng hidup mereka (bdk.Mzm 27:1; Yer 16:19).
Bandung, akhir Desember 2015.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.
Judul mazmur ini ialah “Berharap kepada anugerah TUHAN.” Memang hidup kita ini dilandaskan pada anugerah Tuhan semata-mata. Bahkan hidup kita ini seluruhnya adalah anugerah Allah belaka yang diberikan secara cuma-cuma kepada kita, gratia gratis data. Tuhan yang telah memberikan rahmat kehidupan ini kepada kita. Maka dalam segala hal, kita harus senantiasa mengarahkan pandangan dan hati kita kepada-Nya. Tuhan yang bertahta di surga menjadi arah dan tujuan pandangan mata kita untuk memohonkan bantuan dan berkat untuk hidup ini (ay 1).
Hal itulah yang dilukiskan dalam mazmur ini dengan mengambil metafora hubungan antara tuan-puan dan para hambanya (ay 2). Dikatakan di sana bahwa para hamba laki-laki dan hamba perempuan memandang kepada tangan tuan dan puannya (ay 2bc) untuk memohon belas kasihan dan pemahaman. Memang para hamba dulu selalu siap-sedia untuk menunggu perkataan dan arah tangan sang tuan menunjuk dan memberi perintah atau mengatur segala pekerjaan yang harus dilakukan. Si Pemazmur mengambil metafora itu untuk melukiskan kesetiaan jiwa manusia untuk menantikan petunjuk dan perintah dari Tuhan. Kita memandang kepada Tuhan dengan tujuan agar Tuhan akhirnya berbelaskasihan kepada kita dan mengasihani kita (ay 2de).
Hal itu kita lakukan karena kita sedang dalam keadaan kesusahan hidup. Hal itulah yang coba dilukiskan secara sangat singkat dalam kedua ayat yang terakhir (ay 3-4). Pemazmur memohon kepada Tuhan agar Tuhan sudi mengasihani dia karena mereka sudah lama mengalami penghinaan. Sedemikian lamanya mereka mengalami penghinaan itu sampai dikatakan bahwa mereka sudah kenyang dengan penghinaan itu (ay 3). Karena ia memakai kata kenyang, berarti itu menyangkut perut, atau tubuh secara keseluruhan. Dalam ayat 4 ia menyinggung jiwa yang juga menderita karena olok-olokan orang-orang yang merasa aman. Dikatakan bahwa jiwa pun sudah kenyang dengan olok-olokan itu. Jadi penderitaan itu menyangkut jiwa dan badan (terwakili oleh perut). Suatu pelukisan pengalaman derita yang bersifat menyeluruh.
Saya tergelitik untuk bertanya, siapakah orang-orang yang menghina dan mengolok-olok kelompok pemazmur ini? Di ayat 4 disebutkan dua kelompok orang. Pertama, orang-orang yang merasa aman, dan kedua orang-orang yang sombong. Kedua kelompok ini pada dasarnya satu dan sama saja. Tetapi ada baiknya kalau dilihat secara lebih rinci. Orang-orang yang merasa aman ialah orang yang merasa hidupnya serba berkecukupan secara ekonomis dan sosial. Dalam keadaan seperti itu, orang lalu menjadi tidak tahu diri dan cenderung meremehkan orang lain yang dipandangnya tidak beruntung. Biasanya orang seperti ini juga, walau tidak semua tentu saja, mudah menjadi orang yang sombong alias tinggi hati. Dari sikap batin seperti inilah, maka mereka mudah menjadi angkuh dan menghina serta mengolok-olok orang lain. Tidak jarang penderitaan batin (psikologis) akibat penghinaan seperti ini menjadi sangat berat sehingga orang hanya berlari kepada Tuhan untuk memohonkan perlindungan dan juga jalan keluar dari kesesakan. Hal seperti itulah yang dilakukan si pemazmur di sini. Mereka berharap Tuhan menjadi benteng hidup mereka (bdk.Mzm 27:1; Yer 16:19).
Bandung, akhir Desember 2015.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.
Sunday, January 10, 2016
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 122
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Ada banyak alasan untuk melakukan sesuatu, termasuk alasan untuk berdoa. Dalam Mazmur ini diberikan alasan mengapa orang harus berdoa bagi Yerusalem. Mazmur 122 ini cukup singkat; hanya 9 ayat. Karena itu saya tidak membaginya menjadi beberapa unit. Saya membahasnya sebagai satu kesatuan. Judul mazmur ini ialah sbb: “Doa sejahtera untuk Yerusalem.” Judul ini dengan tepat mengungkapkan isi pokok Mazmur ini. Bersama dengan Mzm 120-134, Mazmur ini termasuk dalam kategori Mazmur ziarah. Biasanya dipakai oleh para peziarah ketika mereka berziarah ke Yerusalem.
Maka dalam ayat 1 pemazmur langsung melukiskan suatu pengalaman religius yaitu satu perasaan sukacita ketika ada orang yang mengajak dirinya untuk pergi ke rumah Tuhan. Ajakan seperti itu membuat dia merasa senang. Ada sebuah disposisi batin dalam diri pemazmur untuk mengarahkan orientasi sukacitanya ke rumah Tuhan. Beda dengan orientasi rasa sukacita kita sekarang: lebih bersukacita kalau diajak ke mall, ke tempat rekreasi, dll. Tidak hanya berhenti pada ajakan saja, melainkan mereka sungguh-sungguh melakukan ziarah itu, sehingga dalam ayat 2 dikatakan bahwa mereka sudah berdiri di pintu gerbang kota tujuan ziarah, Yerusalem. Jadi, rumah Tuhan itu ialah Yerusalem sebab di sana ada Bait Allah.
Selanjutnya bagian sisa mazmur ini (ayat 3-9) berbicara tentang Yerusalem itu. Ada beberapa hal yang diungkapkan di sana. Pertama, ada pelukisan mengenai Yerusalem sebagai kota yang dibangun dengan benteng berupa tembok keliling yang bersambung rapat (ay 3). Ke sanalah suku-suku Tuhan berziarah; menarik bahwa tujuan ziarah itu ialah untuk mengucapkan syukur kepada nama Tuhan (ay 4); dan hal itu dilakukan sesuai dengan peraturan bagi Israel. Hal itu berbeda sekali dengan tujuan ziarah kita dewasa ini, yang kebanyakan kali dilakukan untuk memohon dan memohon.
Kedua, dalam ayat 5 diberikan alasan mengapa Yerusalem menjadi sentrum ziarah para bangsa. Alasannya ialah karena di kota itulah ada kursi pengadilan keluarga Daud. Sedemikian pentingnya Yerusalem bagi Israel sehingga ia menjadi pusat ziarah dan pernah menjadi pusat pemerintahan. Karena itu, selain penting, posisi Yerusalem itu juga senantiasa sangat genting. Sebab ia terletak di tengah percaturan kekuatan politik Utara dan Selatan pada masa itu. Itulah sebabnya dalam ayat 6 pemazmur mengajak para peziarah untuk berdoa bagi kota itu agar orang-orang yang mencintainya (peziarah yang datang dari luar kota) menjadi sentosa (konotasi kenyamanan politik) dan orang-orang yang mendiami kota itu mendapat sejahtera (konotasi kenyamanan ekonomi, ayat 7). Doa itu dilanjutkan terus dalam ayat 8 dan di sini doa itu dimaksudkan untuk memohon damai sejahtera bagi para penghuni kota Yerusalem itu.
Akhirnya dalam ayat 9 diberikan alasan paling penting mengapa para peziarah itu diwajibkan untuk berdoa bagi kota Yerusalem dan para penghuninya. Alasannya tidak lain karena di kota Yerusalem itu terletak rumah Tuhan. Jadi, Yerusalem itu menjadi pusat ziarah yang harus didoakan karena Rumah Tuhan ada di sana.
Bandung, akhir Oktober 2015.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.
Ada banyak alasan untuk melakukan sesuatu, termasuk alasan untuk berdoa. Dalam Mazmur ini diberikan alasan mengapa orang harus berdoa bagi Yerusalem. Mazmur 122 ini cukup singkat; hanya 9 ayat. Karena itu saya tidak membaginya menjadi beberapa unit. Saya membahasnya sebagai satu kesatuan. Judul mazmur ini ialah sbb: “Doa sejahtera untuk Yerusalem.” Judul ini dengan tepat mengungkapkan isi pokok Mazmur ini. Bersama dengan Mzm 120-134, Mazmur ini termasuk dalam kategori Mazmur ziarah. Biasanya dipakai oleh para peziarah ketika mereka berziarah ke Yerusalem.
Maka dalam ayat 1 pemazmur langsung melukiskan suatu pengalaman religius yaitu satu perasaan sukacita ketika ada orang yang mengajak dirinya untuk pergi ke rumah Tuhan. Ajakan seperti itu membuat dia merasa senang. Ada sebuah disposisi batin dalam diri pemazmur untuk mengarahkan orientasi sukacitanya ke rumah Tuhan. Beda dengan orientasi rasa sukacita kita sekarang: lebih bersukacita kalau diajak ke mall, ke tempat rekreasi, dll. Tidak hanya berhenti pada ajakan saja, melainkan mereka sungguh-sungguh melakukan ziarah itu, sehingga dalam ayat 2 dikatakan bahwa mereka sudah berdiri di pintu gerbang kota tujuan ziarah, Yerusalem. Jadi, rumah Tuhan itu ialah Yerusalem sebab di sana ada Bait Allah.
Selanjutnya bagian sisa mazmur ini (ayat 3-9) berbicara tentang Yerusalem itu. Ada beberapa hal yang diungkapkan di sana. Pertama, ada pelukisan mengenai Yerusalem sebagai kota yang dibangun dengan benteng berupa tembok keliling yang bersambung rapat (ay 3). Ke sanalah suku-suku Tuhan berziarah; menarik bahwa tujuan ziarah itu ialah untuk mengucapkan syukur kepada nama Tuhan (ay 4); dan hal itu dilakukan sesuai dengan peraturan bagi Israel. Hal itu berbeda sekali dengan tujuan ziarah kita dewasa ini, yang kebanyakan kali dilakukan untuk memohon dan memohon.
Kedua, dalam ayat 5 diberikan alasan mengapa Yerusalem menjadi sentrum ziarah para bangsa. Alasannya ialah karena di kota itulah ada kursi pengadilan keluarga Daud. Sedemikian pentingnya Yerusalem bagi Israel sehingga ia menjadi pusat ziarah dan pernah menjadi pusat pemerintahan. Karena itu, selain penting, posisi Yerusalem itu juga senantiasa sangat genting. Sebab ia terletak di tengah percaturan kekuatan politik Utara dan Selatan pada masa itu. Itulah sebabnya dalam ayat 6 pemazmur mengajak para peziarah untuk berdoa bagi kota itu agar orang-orang yang mencintainya (peziarah yang datang dari luar kota) menjadi sentosa (konotasi kenyamanan politik) dan orang-orang yang mendiami kota itu mendapat sejahtera (konotasi kenyamanan ekonomi, ayat 7). Doa itu dilanjutkan terus dalam ayat 8 dan di sini doa itu dimaksudkan untuk memohon damai sejahtera bagi para penghuni kota Yerusalem itu.
Akhirnya dalam ayat 9 diberikan alasan paling penting mengapa para peziarah itu diwajibkan untuk berdoa bagi kota Yerusalem dan para penghuninya. Alasannya tidak lain karena di kota Yerusalem itu terletak rumah Tuhan. Jadi, Yerusalem itu menjadi pusat ziarah yang harus didoakan karena Rumah Tuhan ada di sana.
Bandung, akhir Oktober 2015.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 121
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Mazmur 121 ini cukup singkat; hanya 8 ayat. Karena itu saya tidak membaginya menjadi beberapa unit seperti biasanya. Saya membahasnya sebagai satu kesatuan. Judul mazmur ini dalam Alkitab kita ialah sbb: “TUHAN, Penjaga Israel.” Judul ini memang dengan tepat mengungkapkan isi dan pesan pokok Mazmur ini. Bersama dengan Mzm 120-134, Mazmur ini termasuk dalam kategori Mazmur ziarah. Biasanya dipakai oleh para peziarah ketika mereka berziarah ke Yerusalem.
Langsung dalam ayat 1, pemazmur mulai dengan sebuah pernyataan di mana ia melayangkan pandangan matanya ke gunung-gunung. Ia tampak seperti orang yang sedang kebingungan, ketakutan dan serba gelisah. Dalam kebingungan itu ia mencari-cari dari manakah ia bisa mengharapkan datangnya pertolongan. Rupanya ia sedang dalam situasi terancam sehingga ia sangat mengharapkan pertolongan. Yang menarik ialah mengapa ia mengarahkan pandangan matanya ke gunung. Ini misteri bagi saya.
Yang menarik ialah bahwa pertanyaan dalam ayat 1 itu langsung dijawab secara tegas dan positif dalam ayat 2. Jawaban tegas itu ialah: “Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” Bagian lanjutan Mazmur ini berbicara tentang Tuhan Allah. Tuhan sang penolong itu akan menjaga kaki kita saat kaki itu dipergunakan untuk berdiri dan berjalan (ay 3). Kaki itu akan kuat, kokoh, tidak akan goyah. Tuhan sang penolong itu adalah sang penjaga yang tidak akan pernah tertidur, Gusti ora sare. Hal itu ditegaskan lagi dalam ayat 4. Tuhan tidak akan terlelap dalam tugasnya menjaga dan melindungi kita. Selain sebagai penjaga, Tuhan juga menjadi naungan bagi kita (ay 5). Ia berdiri di sebelah kanan kita. Karena kita dilindungi dan dinaungi Tuhan, maka kita tidak akan pernah kepanasan akibat matahari di waktu siang (ay 6); juga di waktu malam, bulan tidak akan menyakiti kita (ini terasa aneh).
Sebagai pelindung dan naungan bagi kita, maka Tuhan menjaga kita dari segala celaka, segala nasib buruk. Tuhan menjaga hidup kita (ay 7). Dalam kehidupan kita sehari-hari, tentu kita akan keluar-masuk rumah kediaman kita untuk melakukan pelbagai pekerjaan dan kegiatan kita. Tentu hal itu yang menjadi rutinitas dalam hidup kita. Pada saat kita melakukan rutinitas itu pun Tuhan juga tetap menjaga dan melindungi kita. Dan hal itu tidak hanya berlangsung sekarang ini saja, melainkan akan berlangsung terus menerus hingga kekal (ay 8).
Tentu ini adalah sebuah pengalaman rohani yang amat menarik: mulai dengan sebuah pengalaman kebingungan dan ketidak-tahuan, tetapi kemudian bermuara pada kepastian iman bahwa Tuhan adalah penjaga dan pelindung hidup kita. Di tanganNyalah kita aman sentosa. Tidak perlu ada kecemasan dan ketakutan. Tidak usah ada gelisah. Kira-kira itulah dan begitulah pesan pokok dari Mazmur ini bagi kita.
Bandung, akhir November 2015.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.
Mazmur 121 ini cukup singkat; hanya 8 ayat. Karena itu saya tidak membaginya menjadi beberapa unit seperti biasanya. Saya membahasnya sebagai satu kesatuan. Judul mazmur ini dalam Alkitab kita ialah sbb: “TUHAN, Penjaga Israel.” Judul ini memang dengan tepat mengungkapkan isi dan pesan pokok Mazmur ini. Bersama dengan Mzm 120-134, Mazmur ini termasuk dalam kategori Mazmur ziarah. Biasanya dipakai oleh para peziarah ketika mereka berziarah ke Yerusalem.
Langsung dalam ayat 1, pemazmur mulai dengan sebuah pernyataan di mana ia melayangkan pandangan matanya ke gunung-gunung. Ia tampak seperti orang yang sedang kebingungan, ketakutan dan serba gelisah. Dalam kebingungan itu ia mencari-cari dari manakah ia bisa mengharapkan datangnya pertolongan. Rupanya ia sedang dalam situasi terancam sehingga ia sangat mengharapkan pertolongan. Yang menarik ialah mengapa ia mengarahkan pandangan matanya ke gunung. Ini misteri bagi saya.
Yang menarik ialah bahwa pertanyaan dalam ayat 1 itu langsung dijawab secara tegas dan positif dalam ayat 2. Jawaban tegas itu ialah: “Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” Bagian lanjutan Mazmur ini berbicara tentang Tuhan Allah. Tuhan sang penolong itu akan menjaga kaki kita saat kaki itu dipergunakan untuk berdiri dan berjalan (ay 3). Kaki itu akan kuat, kokoh, tidak akan goyah. Tuhan sang penolong itu adalah sang penjaga yang tidak akan pernah tertidur, Gusti ora sare. Hal itu ditegaskan lagi dalam ayat 4. Tuhan tidak akan terlelap dalam tugasnya menjaga dan melindungi kita. Selain sebagai penjaga, Tuhan juga menjadi naungan bagi kita (ay 5). Ia berdiri di sebelah kanan kita. Karena kita dilindungi dan dinaungi Tuhan, maka kita tidak akan pernah kepanasan akibat matahari di waktu siang (ay 6); juga di waktu malam, bulan tidak akan menyakiti kita (ini terasa aneh).
Sebagai pelindung dan naungan bagi kita, maka Tuhan menjaga kita dari segala celaka, segala nasib buruk. Tuhan menjaga hidup kita (ay 7). Dalam kehidupan kita sehari-hari, tentu kita akan keluar-masuk rumah kediaman kita untuk melakukan pelbagai pekerjaan dan kegiatan kita. Tentu hal itu yang menjadi rutinitas dalam hidup kita. Pada saat kita melakukan rutinitas itu pun Tuhan juga tetap menjaga dan melindungi kita. Dan hal itu tidak hanya berlangsung sekarang ini saja, melainkan akan berlangsung terus menerus hingga kekal (ay 8).
Tentu ini adalah sebuah pengalaman rohani yang amat menarik: mulai dengan sebuah pengalaman kebingungan dan ketidak-tahuan, tetapi kemudian bermuara pada kepastian iman bahwa Tuhan adalah penjaga dan pelindung hidup kita. Di tanganNyalah kita aman sentosa. Tidak perlu ada kecemasan dan ketakutan. Tidak usah ada gelisah. Kira-kira itulah dan begitulah pesan pokok dari Mazmur ini bagi kita.
Bandung, akhir November 2015.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...