Tuesday, March 8, 2016

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 123

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Judul mazmur ini ialah “Berharap kepada anugerah TUHAN.” Memang hidup kita ini dilandaskan pada anugerah Tuhan semata-mata. Bahkan hidup kita ini seluruhnya adalah anugerah Allah belaka yang diberikan secara cuma-cuma kepada kita, gratia gratis data. Tuhan yang telah memberikan rahmat kehidupan ini kepada kita. Maka dalam segala hal, kita harus senantiasa mengarahkan pandangan dan hati kita kepada-Nya. Tuhan yang bertahta di surga menjadi arah dan tujuan pandangan mata kita untuk memohonkan bantuan dan berkat untuk hidup ini (ay 1).

Hal itulah yang dilukiskan dalam mazmur ini dengan mengambil metafora hubungan antara tuan-puan dan para hambanya (ay 2). Dikatakan di sana bahwa para hamba laki-laki dan hamba perempuan memandang kepada tangan tuan dan puannya (ay 2bc) untuk memohon belas kasihan dan pemahaman. Memang para hamba dulu selalu siap-sedia untuk menunggu perkataan dan arah tangan sang tuan menunjuk dan memberi perintah atau mengatur segala pekerjaan yang harus dilakukan. Si Pemazmur mengambil metafora itu untuk melukiskan kesetiaan jiwa manusia untuk menantikan petunjuk dan perintah dari Tuhan. Kita memandang kepada Tuhan dengan tujuan agar Tuhan akhirnya berbelaskasihan kepada kita dan mengasihani kita (ay 2de).

Hal itu kita lakukan karena kita sedang dalam keadaan kesusahan hidup. Hal itulah yang coba dilukiskan secara sangat singkat dalam kedua ayat yang terakhir (ay 3-4). Pemazmur memohon kepada Tuhan agar Tuhan sudi mengasihani dia karena mereka sudah lama mengalami penghinaan. Sedemikian lamanya mereka mengalami penghinaan itu sampai dikatakan bahwa mereka sudah kenyang dengan penghinaan itu (ay 3). Karena ia memakai kata kenyang, berarti itu menyangkut perut, atau tubuh secara keseluruhan. Dalam ayat 4 ia menyinggung jiwa yang juga menderita karena olok-olokan orang-orang yang merasa aman. Dikatakan bahwa jiwa pun sudah kenyang dengan olok-olokan itu. Jadi penderitaan itu menyangkut jiwa dan badan (terwakili oleh perut). Suatu pelukisan pengalaman derita yang bersifat menyeluruh.

Saya tergelitik untuk bertanya, siapakah orang-orang yang menghina dan mengolok-olok kelompok pemazmur ini? Di ayat 4 disebutkan dua kelompok orang. Pertama, orang-orang yang merasa aman, dan kedua orang-orang yang sombong. Kedua kelompok ini pada dasarnya satu dan sama saja. Tetapi ada baiknya kalau dilihat secara lebih rinci. Orang-orang yang merasa aman ialah orang yang merasa hidupnya serba berkecukupan secara ekonomis dan sosial. Dalam keadaan seperti itu, orang lalu menjadi tidak tahu diri dan cenderung meremehkan orang lain yang dipandangnya tidak beruntung. Biasanya orang seperti ini juga, walau tidak semua tentu saja, mudah menjadi orang yang sombong alias tinggi hati. Dari sikap batin seperti inilah, maka mereka mudah menjadi angkuh dan menghina serta mengolok-olok orang lain. Tidak jarang penderitaan batin (psikologis) akibat penghinaan seperti ini menjadi sangat berat sehingga orang hanya berlari kepada Tuhan untuk memohonkan perlindungan dan juga jalan keluar dari kesesakan. Hal seperti itulah yang dilakukan si pemazmur di sini. Mereka berharap Tuhan menjadi benteng hidup mereka (bdk.Mzm 27:1; Yer 16:19).

Bandung, akhir Desember 2015.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.


1 comment:

Unknown said...

Terima kasih untuk penjabarannya...menjadi berkat bagi saya..

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...