Saturday, October 4, 2014

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 111

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Di pelbagai tempat dalam Kitab Suci dibentangkanlah kepada kita puji-pujian akan kebajikan Allah. Kebajikan dan kebaikan Allah itu tampak dalam seluruh bentangan karya ciptaan-Nya. Karya ciptaan Allah menjadi corong yang mewartakan dengan sangat lantang kebajikan dan kebaikan Tuhan bagi kita umat manusia. Itulah sebabnya ketika kita memandang karya ciptaan Tuhan maka muncul semacam sensus-religiosus (cita-rasa keagamaan, perasaan keagamaan) dalam diri kita yang mendorong kita kepada tindakan dan aksi untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Pemahaman seperti ini sudah ada sejak dahulu kala; sudah ada pada santo Agustinus dari Hippo, dan terus dipertahankan oleh orang-orang dewasa ini seperti Romano Guardini dan Rudolf Otto. Intuisi dasar religius seperti itulah yang dapat kita lihat dan rasakan dalam Mazmur ini.

Tetapi sebelum melangkah lebih lanjut, sebagaimana biasanya, terlebih dahulu saya akan mencoba mengemukakan beberapa hal teknis terkait upaya pemahaman dan penjelasan akan mazmur ini. Judul mazmur ini dalam Alkitab kita ialah “Kebajikan Allah”. Mazmur ini dimulai dengan seruan Haleluya, yaitu seruan untuk memuji (Halel) Tuhan (Yahweh). Mazmur ini termasuk cukup pendek, yaitu hanya mencakup 10 ayat saja. Oleh karena itu, saya tidak akan membaginya menjadi beberapa bagian, melainkan hanya akan diuraikan sebagai satu kesatuan utuh saja.

Langsung dalam ayat 1 si pemazmur menyatakan niatnya yang agung untuk bersyukur kepada Allah. Ia mau melakukan hal itu di tengah jemaat dan orang-orang benar. Kiranya itulah konteks yang baik dan tepat bagi pujian bagi Allah, walau tidak dapat disangkal bahwa masih ada pelbagai macam konteks yang lain. Ayat 2-9 membentangkan alasan bagi niatnya yang terungkap dalam ayat 1 di atas tadi. Dalam ayat 2-4 secara khusus ia menekankan keagungan dan semarak karya-Nya. Karya ciptaan itu pantas diselidiki oleh manusia (ay.2). Karya Tuhan senantiasa agung dan semarak dan ditandai keadilan untuk selama-lamanya (ay.3). Semuanya itu dijadikan Tuhan atas dasar kasih dan sayangnya bagi umat manusia; perbuatan Tuhan yang penuh keajaiban itu menjadi peringatan bagi kita semua, yaitu yang mengingatkan kita senantiasa akan Tuhan itu sendiri (ay.4). Kemudian dalam ayat 5-9 ia memusatkan perhatian pada apa yang telah diperbuat oleh Tuhan sang Pencipta itu. Misalnya dalam ay.5, dilukiskan bahwa Tuhan memberi rezeki kepada orang yang takut akan Dia. Tuhan itu adalah setia, dan dalam kesetiaanNya Ia tidak lupa akan perjanjianNya. Tuhan itu bertindak bagi umat-Nya, yaitu Ia memberikan segala sesuatu dari segala bangsa kepada umat-Nya, dan hal itu membuktikan kekuatan dan kedahsyatan perbuatanNya (ay.6). Semua perbuatan dan karya Tuhan ditandai dengan kebenaran dan keadilan; tidak ada yang bisa melawan perintahNya (ay.7), sebab titahNya itu akan berlangsung untuk selama-lamanya; semua itu menjadi mungkin karena dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran (ay.8).

Dalam ay.9 kita temukan sesuatu yang menarik perhatian, karena di sini pemazmur berbicara tentang kebebasan. Memang di satu pihak, Tuhan telah mengikat umatNya dengan sebuah ikatan perjanjian yang akan berlangsung untuk selama-lamanya, tetapi serentak di pihak yang lain, Tuhan juga memberikan kebebasan kepada manusia itu sendiri, apakah ia mau taat atau tidak. Rupanya si pemazmur mengandaikan bahwa manusia dapat dan bahkan harus mampu melaksanakan kebebasannya secara bertanggung-jawab. Hanya kebebasan yang dilaksanakan secara bertanggung-jawab itulah yang bisa bermakna bagi hidup manusia. Menarik sekali bahwa dalam ayat 10 pemazmur memakai sebuah tema yang sangat umum dalam sastra hikmat Israel kuno, yaitu bahwa permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan. Artinya, sikap takwa itulah yang menjadi titik awal, prasyarat, dan persemaian yang baik tempat bisa tumbuhnya hikmat. Hikmat tidak mungkin bisa tumbuh tanpa sikap dan rasa takut akan Tuhan. Bahkan menurut mazmur ini, orang yang takut akan Tuhan, itulah pertanda bahwa orang itu adalah orang yang berakal budi baik (ay.10b).

Di sini kita dapat menemukan sebuah paham dan pandangan mengenai akal budi manusia: akal budi manusia diabdikan kepada pelaksanaan iman akan Tuhan. Akal budi tidak lagi dibaktikan sebagai medium untuk memberontak terhadap Tuhan (seperti halnya para filsuf ateis modern dewasa ini). Jika manusia memakai akal budinya dengan baik, maka itu akan menjadi syarat yang penting dan mendasar bahwa Puji-pujian kepada Tuhan akan berlangsung selama-lamanya. Akal budi manusia tidak akan dipakai secara sembarangan sebagai alat pemberontakan. Jelas ini adalah sebuah filsafat manusia yang sudah sangat progresif yang telah diajukan oleh si pemazmur ini. Kita tidak usah menunggu refleksi filsafat manusia modern abad keduapuluh ini untuk dapat memahami hal-hal tadi, sebab si pemzmur tadi sudah membentangkannya sejak sangat lama dan menjadi warisan rohani dan iman kita.


Yogyakarta, 06 Agustus 2014

Tuesday, August 5, 2014

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 110

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Dari Mazmur 109 ke Mazmur 110, jika perhatikan dengan baik, terasa ada sebuah loncatan yang besar sebab di sini (dalam Mazmur 110) ia berbicara tentang sebuah tema yang lain sama sekali yaitu tentang penobatan seorang raja-imam, padahal sebelumnya (dalam Mazmur 109) ia berbicara tentang doa orang yang terkena fitnah. Sosok manusia dalam Mazmur 109 adalah manusia pada umumnya, tetapi seorang raja juga bisa mengalami hal seperti itu. Daud sebagai seorang raja, juga bisa mengalami fitnah seperti itu. Sekarang dalam Mazmur 110 sosok raja itu coba dilihat dari perspektif yang lain. Menarik sekali bahwa di sini kedua jabatan itu (imam-raja) disandingkan dan mungkin juga disatukan dalam satu diri pribadi tertentu. Artinya, dalam diri seorang pribadi, dua jabatan itu bisa disatukan; satu orang pribadi bisa mengemban sekaligus dua jabatan tersebut (imam dan raja). Kedua jabatan ini adalah dua dari tiga tiang utama kehidupan sosial-teologis Israel. Tiang utama ketiga ialah nabi (kenabian). Jabatan publik perlu mendapat legitimasi (pengesahan) dan justifikasi (pembenaran) religius-teologis. Seorang raja dinobatkan sebagai raja yang dikehendaki Tuhan dan ia memerintah atas nama Tuhan juga. Hal seperti itulah yang diungkapkan di sini.

Tetapi sebelum melangkah lebih jauh, terlebih dahulu saya mau mengajukan beberapa hal teknis terkait upaya pemahaman dan penjelasan akan Mazmur ini secara lebih baik dan mengena. Pertama, Mazmur ini termasuk cukup singkat, yaitu hanya terdiri atas tujuh ayat saja. Judul Mazmur ini ialah “Penobatan raja imam”. Judul ini sebenarnya sudah disinggung secara tidak langsung dalam alinea pertama tadi. Walaupun singkat, saya akan mencoba membaginya menjadi dua bagian besar. Bagian I meliputi ayat 1-4. Bagian II meliputi ayat 5-7. Dalam bagian berikut ini saya akan mencoba menjelaskan Mazmur ini dengan mengikuti pembagian garis besar di atas tadi.

Ini adalah salah satu teks yang terkenal dalam sejarah teologi Kristologi karena teks ini sering sekali dipakai oleh para pengarang Perjanjian Baru untuk menjelaskan tentang pokok misteri Kristus. Dua jabatan besar (imam dan raja) disandingkan di sini seperti sudah dikatakan di atas tadi. Tugas dan jabatan pertama yang disinggung ialah tugas dan martabat sebagai raja. Tugas itu, ditetapkan oleh Tuhan sendiri, bukan oleh yang lain. Pertama ditunjukkan tempat kedudukan tahtanya, yaitu terletak di sebelah kanan Tuhan Allah (ay.1). Itu adalah sebuah kedudukan yang sangat unggul dan mulia. Sebagai seorang raja ia akan berkuasa atas para musuhnya. Tuhan sendiri yang akan membantu dia untuk menegakkan tongkat kekuasaannya (ay.2). Perlu saya katakan bahwa bagi saya ay.3 adalah sekaligus menarik dan misterius, dan indah juga. Entah apa yang dimaksudkan. Tetapi sejauh pemahaman saya sendiri, yang dimaksudkan ialah bahwa sang imam-raja harus melaksanakan tugasnya dengan kekudusan dan hal itu pada gilirannya akan mendatangkan kemuliaan dan semangat muda. Bagian I ini diakhiri dengan sebuah pernyataan tertentu tentang tugas dan martabat imamat. Dengan sumpah yang tidak dapat ditarik kembali, Tuhan menegaskan bahwa sang raja itu adalah sekaligus juga imam abadi menurut tata cara imam agung Melkisedek (ay.4). Sedemikian besarnya daya pengaruh teks ini sehingga ia juga masuk ke dalam salah satu doa syukur agung kita (lihat Doa Syukur Agung I, TPE, hal.122) yang secara khusus menyinggung nama Melkisedek dengan martabat luhurnya sebagai imam agung.

Bagian II melukiskan lebih lanjut kuasa dan pemerintahan sang raja. Tuhan sendiri menyertai sang raja dalam pelaksanaan tugasnya sebagai raja (termasuk ekspansi kekuasaan, otoritas dan wilayah); ada banyak raja yang ditaklukkan, ada banyak bangsa yang ditaklukkan (ay.5-6). Ia menjadi makmur dan sentosa dalam masa pemerintahannya; tidak ada yang mengancam keselamatan dia ketika ia mencoba memuaskan dahaganya di tepi sungai. Ia tidak takut sedikit pun akan bencana yang mengancam keselamatan hidupnya karena ia sungguh-sungguh dilindungi Tuhan (ay.7).


Yogyakarta, 05 Juli 2014

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 109

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Hidup manusia di dunia ini dan di tengah masyarakat yang nyata ini tidak selalu mudah. Ada-ada saja masalah dan tantangan bagi kehidupan itu. Ada rasa saling curiga, ada rasa saling cemburu dan iri hati, ada rasa saling benci. Hal itu tidak hanya ada dan terjadi pada masa sekarang saja, melainkan sudah terjadi sejak dari masa silam. Rupanya itu adalah semacam penyakit bawaan manusia. Manusia tidak bisa luput dari warisan dosa sosial itu. Mungkin itu sebabnya Paul Ricoeur, dalam pembelaannya atas teologi mengenai dosa asal (peccatum originale, original sin) berkata, bahwa realitas dosa asal itu bersifat interioritas (selain beberapa sifat yang lainnya seperti exterioritas, superioritas, anterioritas, posterioritas, dll). Sifat interioritas maksudnya adalah bahwa dosa itu memang sudah ada dalam diri manusia sebagai sebuah sifat dan kecenderungan dasar manusia itu sendiri. Hal seperti inilah yang juga dilukiskan dalam Mazmur 109 ini dengan memusatkan perhatian pada masalah fitnah. Memang manusia mudah sekali jatuh dalam dosa fitnah. Mungkin karena tendensi fitnah itu memang muncul sejak cukup awal dalam sejarah eksistensi manusia di dunia ini (bdk.Kej.3). Manusia memfitnah sesamanya, saling memfitnah satu sama lain. Tidak jarang saling fitnah itu bermuara pada saling berantam satu sama lain, bahkan ada yang sampai pada peristiwa kematian para pihak yang terlibat dan terkait. Fitnah memang bisa berakibat amat fatal bagi hidup manusia. Masalah fitnah seperti itulah yang menjadi topik mazmur ini.

Tetapi sebelum melangkah lebih jauh terlebih dahulu saya mau mengemukakan beberapa hal teknis sehubungan dengan proses dan upaya pemahaman mazmur ini. Mazmur ini judulnya, “Doa seorang yang kena fitnah.” Memang pengalaman terkena fitnah itu sangat menyakitkan karena kita tidak tahu apa yang menjadi masalahnya, tiba-tiba nama kita sudah menjadi bahan pembicaraan orang tetapi dalam konotasi negatif. Mazmur ini termasuk cukup panjang yaitu mencapai 31 ayat. Untuk memudahkan proses dan upaya pemahamannya, Mazmur ini dapat dibagi menjadi empat bagian. Bagian I, meliputi ayat 1-5. Bagian II meliputi ayat 6-20. Bagian III meliputi ayat 21-25. Bagian IV meliputi ayat 26-31.

Dalam Bagian I, Mazmur ini dimulai dengan seruan kepada Allah agar ia tidak lagi berdiam diri. Pemazmur mendesak kepada Tuhan karena ia sudah tidak tahan lagi dengan ancaman dari orang-orang fasik yang ada di sekitarnya. Mereka itu dilukiskan seperti binatang yang siap menerkam dan menelan mangsanya dengan mulutnya. Ia merasa takut terhadap ancaman mereka, sepak terjang mereka yang penuh tipu muslihat. Sebagai ganti kasih mereka pamerkan kebencian terhadap pemazmur. Ada banyak tuduhan palsu terhadapnya. Ia mendoakan mereka tetapi mereka justru menuduh dia yang bukan-bukan. Air susu dibalas dengan air tuba. Kira-kira begitulah keadaannya jika harus dilukiskan dengan memakai pepatah Melayu Klasik. Pemazmur tidak tahan lagi dengan itu semua, maka ia pun datang menghadap kepada pengadilan Allah yang maha kuasa. Ia berharap agar pengadilan Allah akan bisa mendatangkan keadilan dan kebaikan baginya.

Seluruh Bagian II ini adalah kutuk yang diucapkan si pemazmur atas orang fasik dan orang jahat tadi. Isinya cukup kejam. Sesungguhnya saya tidak tega mengulasnya satu persatu di sini. Tetapi saya harus tetap mengulasnya juga. Saya melihat hal ini sebagai suatu reaksi yang amat wajar dan sangat manusiawi jika orang sedang berada dalam keadaan seperti itu. Misalnya ia berharap agar dalam pengadilan ia didapati bersalah. Ia juga mendoakan agar umurnya tidak panjang, dengan akibat anaknya akan menjadi yatim dan isterinya menjadi janda. Sebuah kehidupan yang tidak nyaman di tengah situasi sosial pada masa itu. Jika hal ini terjadi, maka anaknya akan menjadi sangat merana. Ia juga berharap agar ia dililit utang dan hartanya dijarah orang. Jika hal itu terjadi semoga tidak ada yang membela atau berbelas kasih terhadap dia. Bahkan ia berharap agar garis keturunannya berhenti, musnah. Saya tidak tega lagi mengulas sisanya di sini, maka saya akhiri saja. Saya beralih ke bagian III.

Dalam Bagian III, pemazmur, setelah mengucapkan doa kutuk sumpah serapahnya tadi, kembali lagi kepada Allah dan memohon agar Dia bertindak cepat dan adil dan tepat pada waktunya. Ia mendesak Allah agar segera bertindak untuk menyelamatkan dia karena situasi dia sudah sangat gawat dan kritis. Ia mengatakan bahwa ia sengsara dan miskin. Hatinya terluka. Hidupnya laksana bayang-bayang berlalu. Hanya sebentar dan tiada berbekas lagi. Dalam dan selama doa ini ia juga berpuasa dan hal itu menyebabkan ia menjadi lemah lutut, dan badannya kurus karena kehabisan lemak. Dirinya sudah tidak lagi bermakna bagi orang-orang lain di sekitarnya. Bahkan ia menjadi celaan bagi mereka. Ia dicemoohkan orang. Sedih.

Menimbang keadaan yang kritis dan gawat ini, maka dalam Bagian III ini, ia meminta pertolongan dari Tuhan. Ia meminta agar Tuhan menyelamatkan dia. Tujuan dia bukan terutama keselamatan dia sendiri saja, melainkan agar nama Tuhan dimuliakan dalam segala perbuatannya membela orang-orang benar dan saleh. Ia berharap agar dengan campur tangan Allah, mereka semua bisa berubah dan terjadi drama pembalikan. Bila hal itu sudah terjadi maka ia akan melambungkan syukur dan pujian kepada Tuhan. Alasan syukur itu ialah karena Tuhan sudah bertindak dengan baik, benar, dan adil yaitu membela orang miskin dan menyelamatkan orang yang terancam celaka karena hukuman yang dijatuhkan orang-orang jahat. Betapa pedih dan tragisnya jika hal itu sampai terjadi. Mungkin ia akan mengutuk Tuhan dan menjadi seorang ateis praktis, yaitu orang yang hidup dan berbuat seakan-akan Allah itu tidak ada, atau bahwa Allah itu tidak relevan bagi perjuangan dan pemaknaan hidup manusia di dunia ini.

Dempol, 30 Juli 2014

Tuesday, June 3, 2014

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 108

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Memang manusia hidup pada masa sekarang ini, tetapi sesungguhnya hidup manusia itu tidak pernah terlepas sungguh dari masa silam sebab di masa silam itu tersimpan sangat banyak kenangan dan pengalaman yang bisa menjadi guru kehidupan yang sangat baik bagi kita sekalian dalam menjalankan hidup kita sekarang di dunia ini. Ada banyak pengalaman positif, dan ada banyak pengalaman negatif yang kita alami di sana. Semuanya bisa menjadi pelajaran kehidupan yang sangat baik bagi kita sekalian. Itulah sebabnya orang bijak selalu berkata bahwa “pengalaman adalah guru kehidupan yang terbaik.” Pemazmur juga kiranya sangat menyadari arti penting pengalaman dari masa silam itu untuk mengarungi kehidupan pada masa kini dan mengarungi kehidupan di masa yang akan datang, sebab bagaimanapun juga manusia juga hidup dari perspektif masa depan. Ia mempunyai pengalaman positif di masa silam akan pertolongan dari Tuhan yang mendatangkan efek keselamatan hidup baginya. Hal itu pada gilirannya menyebabkan dia untuk selalu berharap akan pertolongan Tuhan itu secara nyata sekarang dan di sini dalam pelbagai persoalan kehidupan yang dihadapinya. Hal seperti itulah yang coba dilukiskan si pemazmur dalam mazmur ini.

Tetapi sebelum melangkah lebih lanjut, terlebih dahulu saya mau mengemukakan beberapa hal teknis yang erat terkait dengan upaya penjelasan dan pemahaman akan mazmur ini. Mazmur ini termasuk cukup singkat yaitu hanya mencakup 14 ayat saja. Judulnya pun sederhana saja: “Syukur dan doa.” Untuk dapat menikmati dan memahaminya dengan baik, kita dapat membagi Mazmur ini menjadi beberapa bagian. Bagian I meliputi ayat 1-6. Bagian II meliputi ayat 7-10. Bagian III meliputi ayat 11-14. Dalam bagian berikut ini saya akan mencoba mengulas satu persatu Bagian-bagian tersebut di atas agar kita bisa memperoleh pemahaman yang lebih baik akan Mazmur ini. Mudah-mudahan dengan cara itu kita pun bisa menikmatinya juga dan bisa menimba daya kekuatan rohani dari dalamnya.

Dalam Bagian I (ayat 1-6), pemazmur menyatakan niatnya yang luhur dan mulia untuk memuji dan memuliakan Tuhan dengan mengajak jiwanya untuk bangun lalu mengambil alat musik lalu melambungkan lagu pujian dan hormat kepada Tuhan Allah. Ia mengatakan bahwa ia siap untuk melakukan tugas yang luhur dan mulia itu. Pemazmur mengatakan, ia mau memuji dan memuliakan Tuhan di antara segala bangsa. Alasannya hanya satu, yaitu karena ia mengalami secara sangat nyata kasih setia Tuhan yang sangat besar bagi kehidupannya (ayat 5). Oleh karena itu, dengan semangat itu ia meminta agar Tuhan menampakkan kemuliaan-Nya agar dilihat dan dipuji segala bangsa dan kaum yang ada di muka bumi ini.

Dalam Bagian II (ayat 7-10) pemazmur merayakan keselamatan sebagai hasil karya tangan Tuhan. Hal itu memang sudah seharusnya dan sewajarnya demikian, karena Tuhanlah sang penyelamat kita. Dengan bahasa metafor si pemazmur mencoba melukiskan kuasa Allah atas pelbagai wilayah dan suku-suku yang mendiami wilayah tersebut. Mereka semua menjadi alat keselamatan di tangan Allah sendiri. Itulah tempat yang menjadi sumber sukacita bagi Tuhan sendiri. Maka seharusnya juga menjadi sumber sukacita bagi umat termasuk sang pemazmur sendiri di dalamnya.

Akhirnya dalam Bagian III (ayat 11-14), pemazmur dengan sebuah pertanyaan retoris mencoba mengungkapkan pengalamannya akan keselamatan itu sendiri. Memang Tuhan telah membuang mereka tetapi Tuhan sendiri jugalah yang telah membebaskan dan menyelamatkan mereka. Sadar bahwa hanya Tuhan saja yang dapat diandalkan maka ia meminta pertolongan dari Tuhan. Ia tidak mau lagi berharap pada pertolongan manusia sebab hal itu sama sekali tidak dapat diandalkan. Rupanya ia mendapat jawaban positif dari Allah bahwa Ia akan sudi menolong dirinya. Ia juga yakin akan hal tersebut berdasarkan untaian pengalamannya sendiri di masa silam. Maka ia sangat yakin bahwa kita akan mampu melakukan perbuatan-perbuatan ajaib dalam Tuhan dan juga justru karena Tuhan. Tanpa pertolongan yang berasal dari Tuhan, maka sia-sialah segala usaha kita manusia. Maka kita selalu berharap pada pertolongan Tuhan. Mungkin itu sebabnya salah satu doa tradisional kita dimulai dengan rumusan sbb: “Pertolongan kita dalam nama Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.” Ya memang Tuhan sang pencipta itulah yang menjadi sumber pertolongan dan keselamatan bagi kita dalam hidup ini.


Labuan Bajo, awal Desember 2013


Monday, June 2, 2014

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 107

Oleh: Fransiskus Borgias M


Manakala kita manusia sudah mengalami sebuah peristiwa penting yang mendatangkan keselamatan dalam hidup kita, seperti sembuh dari sakit, luput dari celaka maut, maka secara spontan kita akan melambungkan lagu syukur dan pujian kepada Tuhan sang penyelenggara hidup ini. Berkat kasih setia dan penyelenggaraan Dia-lah kita merasa dapat selamat, dapat terbebaskan. Masyarakat Jawa mengungkapkan hal itu dengan sebuah ungkapan yang terkenal: Untung. Setelah rumah kebobolan maling, semua barang berharga digondol maling, sang pemilik masih sempat berkata: Untung, mereka tidak merampas nyawa kita. Fenomena seperti ini ada dalam hampir semua suku bangsa yang ada di muka bumi ini, hanya mungkin saja istilahnya yang berbeda dari satu tempat ke tempat yang lain. Pengalaman seperti itulah yang coba dilukiskan dalam mazmur ini.

Tetapi sebelum melangkah lebih jauh terlebih dahulu saya coba membeberkan beberapa hal teknis terkait dengan upaya penjelasan dan pemahaman akan mazmur ini. Judul mazmur ini dengan sangat tepat memadatkan ide dasar yang sudah diungkapkan dalam alinea pertama di atas tadi: nyanyian syukur dari orang-orang yang ditebus Tuhan. Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu mencapai 43 ayat. Saya akan membaginya dalam beberapa bagian besar berikut ini. Bagian I meliputi ayat 1-3. Bagian II meliputi ayat 4-9. Bagian III meliputi ayat 10-22. Bagian IV meliputi ayat 23-32. Bagian V meliputi ayat 33-38. Bagian VI meliputi ayat 39-43. Saya akan mencoba membahas bagian-bagian itu satu persatu dalam bagian berikut di bawah ini.

Bagian I, seperti Mazmur yang terdahulu dimulai dengan sebuah refrein yang terkenal dari Mazmur 136 itu: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasannya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya”. Jadi di sini orang hidup dalam kesadaran akan kebaikan Tuhan dan akan kasih setia-Nya yang bersifat kekal dan abadi. Pemazmur menghendaki agar hal itu disampaikan kepada orang-orang tebusan, kepada orang yang dikumpulkan dari segala negeri. Dengan kata lain, hal ini hendaknya disampaikan kepada segala orang yang dipanggil dan diselamatkan Tuhan sendiri. Itulah orang-orang pilihan Tuhan.

Pelukisan rinci mengenai orang-orang seperti ini masih diteruskan dalam Bagian II. Tuhan membebaskan dan menyelamatkan orang-orang yang tersesat di gurun, yang tidak dapat menemukan jalan yang benar dan yang karena itu terancam mati kelaparan dan kehausan. Tuhan menuntun orang-orang seperti itu menuju ke kota hunian manusia, sebab di sanalah mereka bisa selamat, memperoleh makanan dari para penghuni kota. Pemazmur berharap agar orang-orang yang diselamatkan Tuhan memuji dan memuliakan Tuhan karena ia baik dan kasih setia-Nya bersifat kekal dan abadi.

Kisah penyelamatan dan pembebasan anonim itu artinya tidak secara spesifik tertuju kepada orang-orang Israel saja, dilanjutkan terus dalam Bagian III yang cukup panjang. Di sana dilukiskan bahwa ada orang yang dihukum Tuhan karena pemberontakan mereka. Tetapi ketika mereka berteriak meminta tolong maka Tuhan pun akan segera menolong dan membebaskan mereka dari kegelapan dan belenggu mereka. Jadi, hukuman Tuhan bukanlah kata terakhir. Kasih setia Tuhan selalu lebih besar dari pada pelanggaran dan dosa manusia. Lagi-lagi pemazmur berharap agar mereka itu berkenan memuji Tuhan karena karya-Nya yang ajaib yang mendatangkan pembebasan. Lalu dilukiskan model penderitaan yang lain yaitu sakit berat. Mereka ini pun ditolong oleh Allah bila mereka meminta tolong kepada-Nya. Lalu muncul lagi refrein tetap yang menegaskan agar mereka itu memuji dan memuliakan Tuhan.

Dalam Bagian IV ini dilukiskan karya Tuhan yang lain yaitu misteri-misteri laut yang luas, dalam, dan berombak (bergelombang), yang penuh dengan badai dan taufan yang ganas dan yang memusingkan dan memabukkan para pelaut dan para petualang. Tetapi jika mereka berseru kepada Tuhan maka mereka akan selamat. Hal itu mendatangkan sukacita dan tibalah mereka di pelabuhan yang aman dan tenang. Sebagai muaranya mereka pun bersyukur kepada Tuhan, memuji dan memuliakan nama Dia.

Dalam Bagian V ini kita melihat karya paradoks Tuhan. Sungai menjadi kering. Mata air menjadi tanah gersang. Tanah subur menjadi asin. Itu semua terjadi karena kejahatan para penghuninya. Jadi, di sini ditegaskan bahwa sikap etis manusia berdampak pada bencana dan krisis ekologis. Tidak ada sikap etis yang bersifat netral. Sebaliknya di tempat lain Tuhan justru berbuat yang kebalikannya. Gurun menjadi kolam, tanah kering menjadi mata air. Sebagai penghuninya Tuhan menempatkan orang yang miskin dan rendah hati. Dengan cara itu Tuhan membalikkan tata dunia. Mereka bertani dengan sukses di sana. Tuhan memberkati mereka sehingga mereka sehat dan berkembang biak dengan baik, baik mereka sendiri maupun juga ternak mereka.

Akhirnya dalam Bagian VI kita melihat suatu pelukisan kemerosotan pasca sukses. Hidup tidak selalu di atas. Tidak jarang terjadi bahwa sesudah mencapai sukses tertentu orang bisa mengalami kegagalan. Hidup ini memang ada ups and down-nya. Hal itu terjadi karena faktor usia, dan juga faktor celaka dan duka. Juga karena hukuman Tuhan atas mereka. Orang tinggi dihukumnya tetapi yang hina-dina diperhatikannya. Hal ini serta-merta mengingatkan kita akan kidung Maria dan Hana itu. Hal itu mendatangkan sukacita besar bagi orang-orang benar. Sadar akan hal itu semuanya, si pemazmur pun mengajak semua pendengar dengan sebuah pertanyaan retoris: siapa yang mempunyai Hikmat? Kalau orang mempunyai hikmat semoga dengan itu orang tersebut berpegang pada hikmat itu dan hanya memperhatikan kerahiman Allah saja dalam hidup ini. Itulah kebahagiaan. Itulah Shalom.


Dempol, awal Desember 2013

Thursday, April 3, 2014

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 106

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Selalu ada banyak realitas paradoksal dalam hidup umat manusia di dunia ini; hal itu termasuk juga paradoks dalam hidup imannya. Ternyata tidak selalu mudah untuk bersikap setia dalam relasi perjanjian baik antara manusia maupun dengan Tuhan Allah. Selalu ada pelbagai macam alasan untuk melanggar relasi perjanjian itu; selalu ada banyak alasan untuk tidak setia dalam perjanjian. Seakan-akan benar apa yang orang katakan dengan berkelakar: Perjanjian dan hukum dibuat untuk dilanggar. Dalam relasi perjanjian antara Tuhan Allah dan Israel, Tuhan Allah sudah memberikan meterai kasih setia-Nya (hesed) pada relasi perjanjian itu. Hesed Yahweh itu menyebabkan adanya kepastian bahwa perjanjian itu tidak akan pernah batal lagi dari pihak Yahweh sendiri. Tetapi hesed Yahweh itu tidak selalu ditanggapi dengan tanggapan yang sepatutnya dari pihak manusia. Manusia Israel menanggapi hesed Yahweh itu dengan hati yang tegar, keras, dan membatu. Kasih setia Tuhan tidak ditanggapi dengan tanggapan yang sepantasnya. Fransiskus Asisi mengatakan, Amor non Amatur, Kasih yang tidak ditanggapi dengan kasih (hal ini sering menyebabkan Fransiskus menjadi sedih dan menangis). Saya menambahkan Vox non auditur (Sabda/Suara yang tidak didengarkan, karena ketulian dan ketidakpedulian hati manusia). Hal ini menyebabkan Yahweh menderita, pathos Yahweh dalam istilah yang dulu pernah diajukan oleh Yoachim Yeremias. Hal seperti itulah yang dapat kita temukan dan rasakan dalam Mazmur 106 ini.

Tetapi sebelum melangkah lebih lanjut terdahulunya saya mau mengungkapkan beberapa hal teknis yang kiranya bisa membantu dalam proses penjelasan dan pemahaman Mazmur ini. Judul Mazmur ini kiranya dengan tepat dan padat mengungkapkan ide pokok yang diungkapkan dalam alinea pertama di atas tadi: “Kasih setia Allah dan ketegaran hati Israel.” Mazmur ini termasuk cukup panjang, mencapai 48 ayat. Agar dapat mencerna dan menikmatinya dengan baik, maka saya mencoba membaginya ke dalam beberapa bagian. Bagian I: ay.1-12. Bagian II: ay.13-33. Bagian III: ay.34-48. Tentu pembagian ini masih terlalu besar. Nanti akan dibuat sebuah pembagian rinci dalam ulasan bagian demi bagian dalam bagian berikut di bawah ini.

Mazmur ini diawali dan diakhiri dengan seruan halleluya (Pujilah Tuhan; ay.1.48). Jadi, Mazmur ini adalah salah satu Mazmur hallel yang terkenal itu. Dalam ay.1 kita jumpai sebuah ayat yang terkenal yang juga menjadi refrein atau ayat ulangan dalam Mazmur 136 yang terkenal itu. Kita diajak untuk memuji dan memuliakan Tuhan karena kita sadar akan kebaikan Tuhan, dan akan kasih setia-Nya yang kekal abadi. Kedua hal itu tampak sangat kentara dalam seluruh perjalanan sejarah pembebasan Israel dari kungkungan perbudakan Mesir. Sejarah pembebasan itu dikisahkan dengan singkat dan padat dalam ay.6-12 (setelah sebelumnya, ay.3-5, ia lebih banyak berkutat dengan pergulatan pribadi dalam relasi dengan Allah). Campur tangan Allah dalam perjalanan sejarah itu membuat Israel akhirnya bermuara pada sikap iman dan percaya (ay.12).

Tetapi setelah mereka bermuara dalam sikap iman dan percaya, anehnya Bagian II ini segera dimulai dengan sebuah pelukisan tentang sikap kebalikan dari iman itu sendiri. Itulah realitas paradoksal yang disinggung dalam alinea pertama di atas tadi. Mereka mudah lupa akan kebaikan dan kasih setia Tuhan, dan karena itu mereka pun menjadi kelompok manusia yang durhaka. Seluruh Bagian ini melukiskan secara singkat dan padat sejarah pembangkangan mereka karena pelbagai sebab dan godaan serta tantangan hidup. Salah satu yang terkenal ialah godaan patung berhala di kaki gunung Sinai itu (ay.19-22, yang tentu mengacu kepada kisah dalam Kitab Keluaran 32 itu). Kita semua tahu, akibat dari pembangkangan itu yang sangat fatal: Tuhan mengancam untuk menghukum mereka (ay.23) dan Musa pun terhukum karena tidak dapat mengendalikan kata-katanya sehingga ia terkutuk tidak dapat masuk ke tanah terjanji dan hanya melihatnya dari kejauhan saja (ay.33). Bagian ini adalah ringkasan sejarah pembebasan Israel dari tanah Mesir melewati padang gurun menuju ke tanah terjanji. Dengan demikian bagian ini tersambung secara terpadu dan historis dengan bagian terdahulu.

Bagian III, melukiskan pembangkangan lebih lanjut Israel dalam bidang agama. Hal itu terjadi ketika Israel sudah mulai berkenalan secara tetap dengan para bangsa lain di Kanaan. Pada saat itulah mereka semakin cenderung kepada agama-agama dari para bangsa sekitar dengan pelbagai macam berhalanya dan ritualnya yang bagi mereka pada saat itu mungkin sangat indah dan menarik perhatian. Misalnya, ada ritual kurban anak laki-laki, ada ritual berhala perempuan (ay.37), dan dengan demikian mereka pun menjadi najis dan kotor (ay.38-39). Sebagai akibatnya, maka bangkitlah murka Tuhan (ay.40) terhadap mereka sehingga mereka pun dihukum-Nya (ay.41-43). Tetapi kasih setia Tuhan akhirnya muncul lagi di dalam derita umat yang berteriak minta tolong (ay.44-46). Memang Tuhan tidak dapat lupa akan janji-Nya. Tuhan tidak dapat lupa akan hesed-Nya sendiri. Atas dasar kesadaran akan hal itu maka dalam ay.47 muncul sebuah doa permohonan yang meminta shalom dari Allah: “Selamatkanlah kami, ya TUHAN, Allah kami, dan kumpulkanlah kami dari antara bangsa-bangsa, supaya kami bersyukur kepada nama-Mu yang kudus, dan bermegah dalam puji-pujian kepada-Mu”. Tidaklah mengherankan bahwa seluruh untaian panjang ayat-ayat dalam Mazmur ini ditutup dengan sebuah maklumat tentang fakta bahwa Tuhan itu terpuji untuk selama-lamanya. Dan umat menyetujui hal itu dengan seruan amin (ay.48). Dan memang demikianlah adanya.


Dempol, akhir Oktober 2013.


MENIKMATI MAZMUR 105

Oleh: Fransiskus Borgias M.,


Waktu/sejarah, sejauh disadari, diarungi manusia dalam hidupnya di dunia ini, terbagi dalam tiga kurun besar: masa silam, masa kini, dan masa depan. Masa silam adalah masa yang sudah lewat, sudah berlalu. Masa kini adalah masa yang kini sedang berlangsung, saat kita hidup dan berada, dan melakukan aktifitas dan pekerjaan. Masa depan adalah masa yang masih dinantikan datangnya kelak. Waktu berjalan menuju ke masa depan. Tetapi bisa juga dikatakan sebaliknya yaitu waktu mengalir dari masa depan. Kedua perspektif itu bisa dibela dengan baik dengan argumentasi filosofis yang memadai. Dalam bentangan masa silam sudah terjadi sangat banyak hal, baik apa yang dilakukan manusia maupun yang dilakukan Tuhan. Dalam mazmur ini kita melihat keyakinan Pemazmur bahwa di masa silam kita dapat menemukan amat banyak karya Tuhan yang patut disyukuri dan dipuji. Itulah fokus Mazmur ini yang dengan tepat dipadatkan dalam judulnya: “Puji-pujian atas segala perbuatan Allah di masa lampau.”

Tetapi sebelum melangkah lebih jauh terlebih dahulu saya mau mengungkapkan beberapa hal teknis yang dapat membantu memudahkan kita memahami dan menikmatinya. Mazmur ini termasuk cukup panjang, mencapai 45 ayat. Untuk memudahkan pemahaman akan mazmur ini saya membaginya ke dalam beberapa bagian pokok: Bagian I: ay.1-6; Bagian II: ay.7-11; Bagian III: ay.12-15; Bagian IV: ay.16-22; Bagian V: ay.23-36; Bagian VI: ay.37-45. Tentu ini hanya sebuah pembagian garis besar mengikuti apa yang disugestikan oleh pembagian dalam teks itu. Di bawah ini saya akan melihat keenam bagian itu satu persatu. Saya mulai dengan Bagian I.

Seluruh Bagian I (ay.1-6) dari mazmur ini tidak lain adalah sebuah ajakan kepada kaum keturunan Abraham dan Yakub (ay.6) agar mereka memuji dan memuliakan Tuhan dalam nyanyian Mazmur (ay.2). Mereka diajak untuk memperkenalkan segala perbuatan Tuhan kepada segala bangsa (ay.1); mereka juga diminta agar membicarakan nama-Nya di antara segala bangsa (ay.2b). Mereka diajak untuk bermegah di dalam nama Tuhan (ay.3). Mereka diajak untuk selalu mencari Tuhan dan wajah-Nya (ay.4). Mereka diminta untuk selalu ingat akan segala perbuatan ajaib Tuhan di masa silam (ay.5-6).

Bagian II (ay.7-11) dimulai dengan sebuah penegasan pengakuan iman bahwa Tuhan itu ialah Allah kita dan seluruh bumi berada di bawah hukum dan penghukuman-Nya (ay.7). Di dalam konteks ini muncullah teologi perjanjian, yaitu bahwa Tuhan telah mengikat perjanjian yang kekal dan abadi dengan Abraham dan Yakub dan kaum keturunannya (ay.8). Terlebih lagi ada sebuah penegasan dan keyakinan iman Israel bahwa Tuhan tidak akan lupa (ay.8-10) akan relasi perjanjian itu di mana Tuhan sendiri telah menjanjikan tanah Kanaan bagi Israel (ay.11), sesuatu yang dewasa ini masih menjadi persoalan dalam percaturan politik internasional, khususnya dalam hubungan antara Israel dan Palestina.

Bagian III (ay.12-15) secara sangat singkat mengisahkan pemeliharaan dan penyelenggaraan Allah atas hidup umat perjanjian-Nya. Tuhan memelihara dan melindungi mereka ketika jumlah mereka masih kecil (ay.12-13). Untuk dan dalam rangka itu Tuhan tidak membiarkan para bangsa lain mengusik dan menindas mereka (ay.14). Jika hal itu sampai terjadi maka Tuhan sendiri yang akan menghukum serta menindas para penindas itu. Tuhan sendiri yang meminta bahkan menuntut hal itu dengan sangat tegas (ay.15).

Bagian IV (ay.16-22) secara singkat mengisahkan sejarah bangsa Israel pada masa Yusuf. Ketika terjadi bencana kekeringan dan kelaparan di Palestina, Yusuf diutus untuk menjadi pengatas krisis kemanusiaan akibat kelaparan itu. Hal itulah yang dapat kita baca dalam ay.16-22. Tentu hal ini serta merta mengingatkan kita akan kisah dalam kitab Kejadian itu (Kej.37-50), walaupun tentu dengan detail yang berbeda, sebab Kitab Kejadian adalah semacam penelusuran sejarah, sedangkan apa yang ada dalam Mazmur ini hanyalah pemadatan dari seluruh bentangan sejarah yang panjang tersebut. Di sini seluruh kisah Yusuf dipadatkan dalam beberapa ayat saja.

Bagian V (ay.23-36). Lewat peristiwa Yusuf yang dijual ke Mesir dan di sana ia berhasil menjadi pemimpin yang disegani karena kearifannya, akhirnya Israel (Yakub dan anak-anaknya) bisa datang dan kemudian menetap di tanah Mesir. Tuhan membuat mereka bertumbuh subur dan berkembang biak di sana; jumlah mereka semakin banyak di negeri itu (ay.24). Hal itu menimbulkan kecemasan bagi anak negeri, sehingga timbullah rasa benci dan diikuti dengan sebuah penindasan yang terasa hampir sangat sistematik (ay.25). Mereka dijadikan budak di sana dan dipaksa untuk melakukan kerja paksa yang mengerikan dan tiada berperi-kemanusiaan. Mereka menjadi sangat menderita dan bersengsara di negeri itu. Maka diutuslah Musa dan Harun untuk membebaskan mereka dari sana (ay.26-27). Dalam rangka itu mereka mengadakan banyak mukjizat dan perbuatan ajaib atas nama Tuhan bagi umat Tuhan. Tidak lupa juga disinggung di sini mengenai kesepuluh tulah yang menimpa Mesir itu (ay.28-36).

Bagian VI (ay.37-45): Dalam bagian ini dikisahkan kisah pembebasan Israel dari tanah Mesir. Ikut disinggung juga tentang apa yang mereka alami dalam proses pembebasan itu. Mereka membawa serta emas dan perak (ay.37), bahkan mereka pergi tanpa dihalang-halangi oleh orang-orang Mesir, sebab kepergian mereka dianggap sebagai pembebasan juga bagi orang-orang Mesir sendiri yang mulai ketakutan karena pelbagai perbuatan ajaib Tuhan yang menghukum Mesir (ay.38). Juga disinggung tentang karya agung lain dalam perjalanan pembebasan itu: misalnya tiang awan (ay.39), burung puyuh (ay.40), manna (roti dari surga; ay.40), mukjizat air minum (ay.41). Semua itu terjadi karena Tuhan tidak akan pernah lupa akan perjanjian-Nya dengan umat-Nya (ay.42-44). Sebab Ia adalah Tuhan yang mahasetia. Tuhan berbuat begitu agar umat setia mengikuti Tuhan, agar mereka tetap berpegang teguh pada ajaran dan hukum-hukum-Nya (ay.45).


Pérang, Akhir Oktober 2013


PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...