Thursday, April 3, 2014

MENIKMATI MAZMUR 105

Oleh: Fransiskus Borgias M.,


Waktu/sejarah, sejauh disadari, diarungi manusia dalam hidupnya di dunia ini, terbagi dalam tiga kurun besar: masa silam, masa kini, dan masa depan. Masa silam adalah masa yang sudah lewat, sudah berlalu. Masa kini adalah masa yang kini sedang berlangsung, saat kita hidup dan berada, dan melakukan aktifitas dan pekerjaan. Masa depan adalah masa yang masih dinantikan datangnya kelak. Waktu berjalan menuju ke masa depan. Tetapi bisa juga dikatakan sebaliknya yaitu waktu mengalir dari masa depan. Kedua perspektif itu bisa dibela dengan baik dengan argumentasi filosofis yang memadai. Dalam bentangan masa silam sudah terjadi sangat banyak hal, baik apa yang dilakukan manusia maupun yang dilakukan Tuhan. Dalam mazmur ini kita melihat keyakinan Pemazmur bahwa di masa silam kita dapat menemukan amat banyak karya Tuhan yang patut disyukuri dan dipuji. Itulah fokus Mazmur ini yang dengan tepat dipadatkan dalam judulnya: “Puji-pujian atas segala perbuatan Allah di masa lampau.”

Tetapi sebelum melangkah lebih jauh terlebih dahulu saya mau mengungkapkan beberapa hal teknis yang dapat membantu memudahkan kita memahami dan menikmatinya. Mazmur ini termasuk cukup panjang, mencapai 45 ayat. Untuk memudahkan pemahaman akan mazmur ini saya membaginya ke dalam beberapa bagian pokok: Bagian I: ay.1-6; Bagian II: ay.7-11; Bagian III: ay.12-15; Bagian IV: ay.16-22; Bagian V: ay.23-36; Bagian VI: ay.37-45. Tentu ini hanya sebuah pembagian garis besar mengikuti apa yang disugestikan oleh pembagian dalam teks itu. Di bawah ini saya akan melihat keenam bagian itu satu persatu. Saya mulai dengan Bagian I.

Seluruh Bagian I (ay.1-6) dari mazmur ini tidak lain adalah sebuah ajakan kepada kaum keturunan Abraham dan Yakub (ay.6) agar mereka memuji dan memuliakan Tuhan dalam nyanyian Mazmur (ay.2). Mereka diajak untuk memperkenalkan segala perbuatan Tuhan kepada segala bangsa (ay.1); mereka juga diminta agar membicarakan nama-Nya di antara segala bangsa (ay.2b). Mereka diajak untuk bermegah di dalam nama Tuhan (ay.3). Mereka diajak untuk selalu mencari Tuhan dan wajah-Nya (ay.4). Mereka diminta untuk selalu ingat akan segala perbuatan ajaib Tuhan di masa silam (ay.5-6).

Bagian II (ay.7-11) dimulai dengan sebuah penegasan pengakuan iman bahwa Tuhan itu ialah Allah kita dan seluruh bumi berada di bawah hukum dan penghukuman-Nya (ay.7). Di dalam konteks ini muncullah teologi perjanjian, yaitu bahwa Tuhan telah mengikat perjanjian yang kekal dan abadi dengan Abraham dan Yakub dan kaum keturunannya (ay.8). Terlebih lagi ada sebuah penegasan dan keyakinan iman Israel bahwa Tuhan tidak akan lupa (ay.8-10) akan relasi perjanjian itu di mana Tuhan sendiri telah menjanjikan tanah Kanaan bagi Israel (ay.11), sesuatu yang dewasa ini masih menjadi persoalan dalam percaturan politik internasional, khususnya dalam hubungan antara Israel dan Palestina.

Bagian III (ay.12-15) secara sangat singkat mengisahkan pemeliharaan dan penyelenggaraan Allah atas hidup umat perjanjian-Nya. Tuhan memelihara dan melindungi mereka ketika jumlah mereka masih kecil (ay.12-13). Untuk dan dalam rangka itu Tuhan tidak membiarkan para bangsa lain mengusik dan menindas mereka (ay.14). Jika hal itu sampai terjadi maka Tuhan sendiri yang akan menghukum serta menindas para penindas itu. Tuhan sendiri yang meminta bahkan menuntut hal itu dengan sangat tegas (ay.15).

Bagian IV (ay.16-22) secara singkat mengisahkan sejarah bangsa Israel pada masa Yusuf. Ketika terjadi bencana kekeringan dan kelaparan di Palestina, Yusuf diutus untuk menjadi pengatas krisis kemanusiaan akibat kelaparan itu. Hal itulah yang dapat kita baca dalam ay.16-22. Tentu hal ini serta merta mengingatkan kita akan kisah dalam kitab Kejadian itu (Kej.37-50), walaupun tentu dengan detail yang berbeda, sebab Kitab Kejadian adalah semacam penelusuran sejarah, sedangkan apa yang ada dalam Mazmur ini hanyalah pemadatan dari seluruh bentangan sejarah yang panjang tersebut. Di sini seluruh kisah Yusuf dipadatkan dalam beberapa ayat saja.

Bagian V (ay.23-36). Lewat peristiwa Yusuf yang dijual ke Mesir dan di sana ia berhasil menjadi pemimpin yang disegani karena kearifannya, akhirnya Israel (Yakub dan anak-anaknya) bisa datang dan kemudian menetap di tanah Mesir. Tuhan membuat mereka bertumbuh subur dan berkembang biak di sana; jumlah mereka semakin banyak di negeri itu (ay.24). Hal itu menimbulkan kecemasan bagi anak negeri, sehingga timbullah rasa benci dan diikuti dengan sebuah penindasan yang terasa hampir sangat sistematik (ay.25). Mereka dijadikan budak di sana dan dipaksa untuk melakukan kerja paksa yang mengerikan dan tiada berperi-kemanusiaan. Mereka menjadi sangat menderita dan bersengsara di negeri itu. Maka diutuslah Musa dan Harun untuk membebaskan mereka dari sana (ay.26-27). Dalam rangka itu mereka mengadakan banyak mukjizat dan perbuatan ajaib atas nama Tuhan bagi umat Tuhan. Tidak lupa juga disinggung di sini mengenai kesepuluh tulah yang menimpa Mesir itu (ay.28-36).

Bagian VI (ay.37-45): Dalam bagian ini dikisahkan kisah pembebasan Israel dari tanah Mesir. Ikut disinggung juga tentang apa yang mereka alami dalam proses pembebasan itu. Mereka membawa serta emas dan perak (ay.37), bahkan mereka pergi tanpa dihalang-halangi oleh orang-orang Mesir, sebab kepergian mereka dianggap sebagai pembebasan juga bagi orang-orang Mesir sendiri yang mulai ketakutan karena pelbagai perbuatan ajaib Tuhan yang menghukum Mesir (ay.38). Juga disinggung tentang karya agung lain dalam perjalanan pembebasan itu: misalnya tiang awan (ay.39), burung puyuh (ay.40), manna (roti dari surga; ay.40), mukjizat air minum (ay.41). Semua itu terjadi karena Tuhan tidak akan pernah lupa akan perjanjian-Nya dengan umat-Nya (ay.42-44). Sebab Ia adalah Tuhan yang mahasetia. Tuhan berbuat begitu agar umat setia mengikuti Tuhan, agar mereka tetap berpegang teguh pada ajaran dan hukum-hukum-Nya (ay.45).


PĂ©rang, Akhir Oktober 2013


No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...