Oleh: Dr. Fransiskus Borgias, MA
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR, Bandung.
Saya langsung mulai dengan untaian kegiatan hari itu, mendengarkan ceramah, dengan ketiga teman, dan CG. Letih. Tetapi saya berusaha menyimak semua yang disampaikan Pater. Untung tidak lama. Setengah jam. Lalu kami hening. Saya ke kamar, melepaskan rasa kantuk karena hampir semalaman tidak bisa tidur. Untung saya bisa tidur cukup sepuluh menit sehingga terbangun lagi agar dapat mengikuti sesi selanjutnya.
Ternyata skema ret-ret CG ialah mengikuti alur hidup manusia: masa kecil (kanak-kanak), masa remaja, sebagai pemuda, kemudian masa orang dewasa penuh, dan akhirnya masa tua, dan menyiapkan diri menyongsong kematian. Hidup manusia dibentangkan dalam untaian ceramah selama sebulan. Ada juga kegiatan lain. Minggu kedua itu kami dihidangkan renungan tentang masa muda, rentang duapuluhan sampai tigapuluhan, masa-masa kami saat itu. Pada usia itu hidup terasa penuh gairah, penuh semangat. Punya cita-cita tinggi, semangat menggebu-gebu, juga termasuk gairah seksual. Banyak pikiran dan gagasan cemerlang. Banyak rencana yang ingin diwujudkan. Semua ingin serba tergesa-gesa. Benturan dengan orang tua biasanya muncul di sini, karena anak muda biasanya ingin cepat dan gesit sementara orang tua mulai lamban gerak dan pikir. Drama gap generation. Sangat biasa. Alamiah.
Saat istirahat, dalam suasana hening, silentium strictum, saya duduk sendiri di sudut taman rumah ret-ret itu. Mencoba mendengarkan bunyi burung di tebing pinggir kali. Juga bunyi dedaunan bergesek karena dibuai bayu siang. Sesekali terdengar orang kampung berteriak dari kali di bawah sana. Di lereng kali di sebelah sana, saya melihat lelaki tua menuruni lereng itu menuju kali. Susah sekali ia berjalan.
Tiba-tiba saat itu, saya teringat akan tulisan CG dalam majalah bulanan Rohani, November 1988, yang baru terbit. Saya sudah membaca salah satu karangan di dalamnya. Saya tertarik karena beberapa artikel utama dalam edisi itu berbicara tentang hari tua.
CG juga omong tentang hari tua. Dan yang paling kuat dalam ingatan saya ialah penutup artikel itu. Di sana CG mengutip refleksi si filsuf ataupun teolog skeptis (maaf kalau saya menyebutnya begitu, walau saya yakin dia juga adalah orang yang percaya, tetapi karena beberapa kalimat di dalam kitabnya, maka saya berani menyebut dia skeptis, segala sesuatu adalah sia-sia, demikian bunyi refrain terkenal dalam kitabnya), Pengkotbah itu. Ia mulai dengan Memento creatoris, seruan kepada orang muda agar ingat akan Pencipta pada masa mudamu. Dia serukan hal ini jangan sampai orang muda, dalam gairah kemudaannya lupa diri, lupa dunia, dan mungkin juga lupa Tuhan. Mumpung masih muda, penuh gairah, jangan lupa Tuhan sang Pencipta. Bijaksana sekali.
Kalimat selanjutnya menjadi sangat pedih dan tragis bagi saya. Mengapa orang muda harus ingat akan Pencipta? Ya, sebagai persiapan untuk menyongsong hari-harimu kelak. Yaitu hari-hari yang ditandai dengan hal-hal menyedihkan. Berikut ini saya daftarkan hal-hal itu:
“…sebelum tiba hari-hari yang malang
dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan:
"Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!”,
sebelum matahari dan terang, bulan dan bintang-bintang menjadi gelap,
dan awan-awan datang kembali sesudah hujan,
pada waktu penjaga-penjaga rumah gemetar,
dan orang-orang kuat membungkuk,
dan perempuan-perempuan penggiling berhenti karena berkurang jumlahnya,
dan yang melihat dari jendela semuanya menjadi kabur,
dan pintu-pintu di tepi jalan tertutup,
dan bunyi penggilingan menjadi lemah,
dan suara menjadi seperti kicauan burung,
dan semua penyanyi perempuan tunduk,
juga orang menjadi takut tinggi, dan ketakutan ada di jalan,
pohon badam berbunga,
belalang menyeret dirinya dengan susah payah
dan nafsu makan tak dapat dibangkitkan lagi –
karena manusia pergi ke rumahnya yang kekal
dan peratap-peratap berkeliaran di jalan,
sebelum rantai perak diputuskan dan pelita emas dipecahkan,
sebelum tempayan dihancurkan dekat mata air
dan roda timba dirusakkan di atas sumur,
dan debu kembali menjadi tanah seperti semula
dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.” (Pkth.12:1-7).
Bagian akhir ini lagi-lagi sebuah memento creatoris, ingat akan titik awal saat daya hidup diberikan. Si Pengkotbah teringat akan kisah penciptaan pada awal dalam Kejadian, di mana Tuhan menghembuskan rohNya maka tanah liat itupun hidup (Kej 2:5-7). Tetapi di bagian tengah penuh dengan memento mori. Memento mori, dibingkai memento creatoris di awal dan akhir. Indah sekali refleksi filsuf ini. Ia ingin agar memento mori itu tidak terlalu menjadi beban. Berbeda dengan ritual Rabu Abu, “kau berasal dari debu dan akan kembali menjadi abu,” Si Pengkotbah mengingatkan kita, “kau berasal dari sang Pencipta dan akan kembali kepada sang Pencipta.”
Waktu itu saya tidak banyak tahu tentang makna kata-kata itu. Tetapi keindahan sebuah puisi hanya bisa dirasakan tidak usah harus dimengerti. Dalam keindahan yang bisa saya rasakan itu saya yakin pasti ada makna walau tidak selalu mudah disingkapkan. Ingin sekali saya ke kamar CG untuk menanyakan arti kata-kata itu, tetapi kini saya rada takut karena melihat wajahnya tadi pagi saat saya baru tiba. Saat saya melihat kakek tua di lereng kali itu, saya teringat akan gerak dramatis belalang itu, yang menyeret dirinya dengan susah payah.
Saya juga ingat bahwa CG menulis karangan itu selain untuk pembaca umum juga terutama ingin menyapa para pembaca dari kalangan biarawan-biarawati. Apa yang akan kau lakukan tatkala semua itu tiba? Saat tatapan mata sudah tidak maksimal lagi, sehingga cahaya matahari yang sebenarnya masih cerah, tetapi karena matamu yang tua sudah rabun, lalu kecerlangan mentari menjadi suram? Apa yang akan kau lakukan wahai biarawan-biarawati ketika “bunyi penggilingan semakin melemah karena perempuan-perempuan penggiling berhenti karena berkurang jumlahnya?” Saya pernah mengintip sebuah buku tafsir tentang ayat-ayat dramatis ini. Ternyata perempuan-perempuan penggiling itu adalah metafora untuk gigi. Ya tatkala semakin tua, jumlah gigi semakin berkurang dan karena berkurang maka aktifitas menggiling yaitu mengunyah mulai berkurang bahkan juga berhenti. Ah dramatis sekali. Tragis. Pada saat seperti itu, nafsu makan tidak dapat dibangkitkan lagi.
CG, di dalam artikel itu benar-benar mengantar para pembaca untuk benar-benar serius memikirkan hari-hari itu. Jangan sampai terkejut. Karena suka ataupun tidak suka, hari-hari itu akan datang. Hari Tuhan datang seperti pencuri di waktu malam. Kita sama sekali tidak bisa menduganya apalagi menundanya. Ya, tempus Dei bukanlah tempus homini. Camkan itu.
Ret-ret pribadiku di pinggir tebing kali yang dipagari tembok itu tiba-tiba terputus dan berakhir karena mendengar bunyi lonceng kecil. Itulah tanda kami harus makan siang. Saya berdiri dengan mencoba meyakinkan bahwa saya masih muda. Tetapi walaupun masih muda, jangan lupa akan Tuhan. Hendaklah Memento creatoris sebelum memento mori. Sebuah kearifan hidup.
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Friday, May 15, 2020
Thursday, May 14, 2020
ATG – PERGULATAN YANG PANJANG
Oleh: Fransiskus Borgias.
Dosen FF-UNPAR, BANDUNG. Ketua Sekolah Kitab Suci K3S Bandung.
Roh kuat daging lemah. Ataukah daging kuat? Roh lemah? Ataukah roh kuat bersama daging? Memang hubungan antara roh dan daging itu suatu tema yang sangat rumit di dalam refleksi filsafat dan teologi. Apakah daging ini hanya sekadar wahana bagi roh yang bebas? Ataukah ada suatu ikatan yang sangat erat di antara keduanya sehingga keduanya identic? Ataukah sekadar seperti ungkapan dalam filsafat Yunani yang melukiskan badan itu sebagai ruang yang mengungkung jiwa. Soma estin sema. Tubuh adalah penjara. Entahlah. Saya tidak lagi mau pusing dengan refleksi filosofis itu. Yang jelas saat ini saya benar-benar mengalami paradox Paulus, saya tahu apa yang seharusnya saya lakukan dan saya pilih sekarang, tetapi saya seperti tidak mempunyai kemampuan untuk memilih dan memutuskannya sekarang. Tinggallah saya di dalam kegamangan dan kegalauan.
Akhirnya lewat suatu permenungan dan pergulatan batin yang panjang, dan setelah berbicara khusus dengan pater provincial yang datang ke Yogyakarta untuk beberapa agenda, juga mengagendakan pertemuan dengan saya karena dalam surat lamaran, saya mengajukan penundaan kaul kekal sampai setahun lagi, dan lewat suatu pembicaraan yang mendalam dari hati ke hati dengan beliau tentang pelbagai segi pertimbangan tentang hidup dan masa depan, akhirnya saya merasa kuat dan berani untuk maju. Hal itu terjadi awal Desember. Saya diminta untuk menulis ulang surat permohonan: bukan lagi meminta penundaan setahun, melainkan saya menyatakan siap mengucapkan kaul kekal dalam jadwal yang sudah ditetapkan bersama dengan tiga kawan (Dominikus Minggu, Paskalis B.Syukur, Petrus C.Aman). Memang setelah pembicaraan yang sangat intens dari hati ke hati dengan pater Provinsial malam itu, saya merasa dikuatkan dan merasa bersemangat lagi untuk maju. Dan jadilah demikian. Maka fixed, bahwa yang akan maju kaul kekal ada tiga frater dan satu Bruder. Jadwal retret agung di Rumah retret Sukabumi dijadwalkan pada pertengahan Desember.
Tetapi tiba-tiba setelah merasa yakin di dalam pembicaraan dengan pater provincial, hanya jarak dalam beberapa hari saja, tiba-tiba saya jatuh sakit. Sebenarnya itu hanya gejala kambuhnya batuk, yang menyebabkan saya demam, menggigil dan lemas. Saya meminta untuk diperiksakan di Panti Rapih. Mungkin karena melihat kondisi yang lemas, demam dan menggigil dokter langsung menyuruh saya dirawat. Waduh. Gawat. Saya tidak bisa ikut ret-ret nich. Pada sore hari itu saya langsung masuk ruang rawat inap dan mendapat infus, karena saya dinilai kekurangan cairan dalam tubuh. Saya ingat saya masuk Panti Rapih sekitar tanggal 7 atau 8 Desember. Setelah dirawat dua hari, saya merasa bahwa saya sudah mulai membaik, saya berdialog dengan suster perawat untuk menanyakan sakit saya. Dia tidak menjawab. “Kalau besok pagi dokter berkunjung, frater tanyakan langsung kepada dia.” Begitu jawab suster itu. Saya tidak memaksa. Ketika besok pagi dokter berkunjung, saya langsung bertanya. “Dokter, saya sakit apa?” Dokter itu memandang saya dan tersenyum. “Hemm…. Sakit apa ya? Frater tidak sakit. Hanya stress berat. Karena itu harus istirahat.” “Hanya begitu dokter?” “Ini stressnya berat. Maka harus istirahat satu dua hari lagi yah. Istirahat. Jangan banyak pikiran. Makan yang cukup.” Dokter pulang. Satu dua hari lagi istirahat artinya, mungkin saya baru bisa keluar tanggal 14 atau 15 Desember. Padahal Retret di Sukabumi dimulai tanggal 14 atau 15. Saya sangat gelisah karenanya.
Untunglah pada jam besuk sore, P.Yan Ladju mengunjungi saya. Saya menampilkan diri bahwa saya sudah sehat. Setidaknya saya sudah tidak demam atau menggigil lagi, walaupun masih sedikit lemas dan pusing. Seperti biasa pater datang dengan bercanda untuk menanyakan keadaan saya. “Ah tampaknya sudah sehat nich.” “Rasanya begitu pater. Tetapi kata dokter saya masih harus istirahat dua atau tiga hari lagi.” “Tidak apa-apa toh. Yang penting bisa pulih.” “Tetapi nanti saya terlambat untuk ret-ret dengan teman-teman.” “Tenang saja. Kamu bisa datang menyusul nanti. Tinggal nanti lapor kepada CG mengapa kamu terlambat.” “Jadi, tidak apa-apa saya datang belakangan pater?” “Tidak apa-apa. Frans kan sakit.” Setelah membahas beberapa hal akhirnya pater pulang.
Malam mulai datang menjelang. Sebagai frater fransiskan saya dirawat di kelas 3. Kami ada beberapa pasien. Kalau tidak salah ada enam orang. Pokoknya ramai rasanya. Tetapi tatkala malam datang, tetap terasa juga sepi yang datang mencengkam. Malam memang selalu memaksa kita untuk masuk ke dalam diri sendiri. Kegelapan malam itu seperti ruang bagi manusia untuk masuk ke dalam diri sendiri. Maka malam itu saya memikirkan banyak hal. Ah sebenarnya mencemaskan banyak hal. Saya mencemaskan teman-temanku yang lamaran kaulnya ditolak. Malam itu saya ingat temanku Yosef H, temanku Ariwibowo, kami satu angkatan. Apa yang mereka rasakan? Apa yang mereka pikirkan? Setelah tujuh tahun lebih bersama (Yosef) dan enam tahun lebih bersama (Ari) apa yang mereka rasakan. Yang jelas, waktu itu saya melihat wajah terkejut dan kecewa di mata mereka. Walaupun tetap berusaha senyum. Senyum harus memikirkan hidup dari titik nol. Atau mungkin juga bahkan dari titik di bawah nol. Saya juga memikirkan adik kelasku yang lamaran kaulnya ditolak. Ada Okto, si hitam periang itu. Malam itu saya benar-benar galau memikirkan mereka. Ah teman-teman kita harus mulai memikirkan masa depan kita masing-masing mulai dari sekarang.
Malam itu saya juga memikirkan retret kami. Retret kami itu akan dipimpin oleh CG sendiri. Dan ret-ret itu akan berlansung selama 1 bulan. Sebenarnya lebih dari sebulan, yaitu 35, karena totalnya ada lima minggu. Jadi, selama lima Minggu kami akan tinggal di rumah ret-ret mengolah hidup batin, hidup rohani kami, bersama pembimbing. Saya belum bisa membayangkan bagaimana rasanya ret-ret selama lima minggu itu. Que sierra sierra, whatever will be will be… lalu saya pun tertidur.
Beberapa hari kemudian, saya sudah dibelikan tiket bis malam oleh Br.Mulyanto, ekonom di Papringan. Beberapa hari lalu saya sudah keluar dari rumah sakit. Setelah istirahat satu dua hari di biara, saya memutuskan untuk ke Sukabumi. Saya berangkat tanggal 20 sore. Tiba di sana 21 pagi. Begitu tiba, saya langsung melapor ke CG di kamarnya. “Akhirnya kamu datang juga?” “Iya pater.” “Tetapi kami sudah berproses satu minggu di sini. Siapa yang menyuruh kamu ke sini?” “Pater Yan.” “Ya sudah. Kamu ikut saja dengan teman-teman di sana.” Pater CG tampak serius sekali. Serem melihatnya. Mungkin dia marah. Kecewa. Karena saya terlambat datang. Entahlah. Saya harus segera mulai mengejar ketertinggalan satu minggu. Ketiga kawan menyambut dengan hangat dan senyum. Tetapi semua dalam diam.
Dosen FF-UNPAR, BANDUNG. Ketua Sekolah Kitab Suci K3S Bandung.
Roh kuat daging lemah. Ataukah daging kuat? Roh lemah? Ataukah roh kuat bersama daging? Memang hubungan antara roh dan daging itu suatu tema yang sangat rumit di dalam refleksi filsafat dan teologi. Apakah daging ini hanya sekadar wahana bagi roh yang bebas? Ataukah ada suatu ikatan yang sangat erat di antara keduanya sehingga keduanya identic? Ataukah sekadar seperti ungkapan dalam filsafat Yunani yang melukiskan badan itu sebagai ruang yang mengungkung jiwa. Soma estin sema. Tubuh adalah penjara. Entahlah. Saya tidak lagi mau pusing dengan refleksi filosofis itu. Yang jelas saat ini saya benar-benar mengalami paradox Paulus, saya tahu apa yang seharusnya saya lakukan dan saya pilih sekarang, tetapi saya seperti tidak mempunyai kemampuan untuk memilih dan memutuskannya sekarang. Tinggallah saya di dalam kegamangan dan kegalauan.
Akhirnya lewat suatu permenungan dan pergulatan batin yang panjang, dan setelah berbicara khusus dengan pater provincial yang datang ke Yogyakarta untuk beberapa agenda, juga mengagendakan pertemuan dengan saya karena dalam surat lamaran, saya mengajukan penundaan kaul kekal sampai setahun lagi, dan lewat suatu pembicaraan yang mendalam dari hati ke hati dengan beliau tentang pelbagai segi pertimbangan tentang hidup dan masa depan, akhirnya saya merasa kuat dan berani untuk maju. Hal itu terjadi awal Desember. Saya diminta untuk menulis ulang surat permohonan: bukan lagi meminta penundaan setahun, melainkan saya menyatakan siap mengucapkan kaul kekal dalam jadwal yang sudah ditetapkan bersama dengan tiga kawan (Dominikus Minggu, Paskalis B.Syukur, Petrus C.Aman). Memang setelah pembicaraan yang sangat intens dari hati ke hati dengan pater Provinsial malam itu, saya merasa dikuatkan dan merasa bersemangat lagi untuk maju. Dan jadilah demikian. Maka fixed, bahwa yang akan maju kaul kekal ada tiga frater dan satu Bruder. Jadwal retret agung di Rumah retret Sukabumi dijadwalkan pada pertengahan Desember.
Tetapi tiba-tiba setelah merasa yakin di dalam pembicaraan dengan pater provincial, hanya jarak dalam beberapa hari saja, tiba-tiba saya jatuh sakit. Sebenarnya itu hanya gejala kambuhnya batuk, yang menyebabkan saya demam, menggigil dan lemas. Saya meminta untuk diperiksakan di Panti Rapih. Mungkin karena melihat kondisi yang lemas, demam dan menggigil dokter langsung menyuruh saya dirawat. Waduh. Gawat. Saya tidak bisa ikut ret-ret nich. Pada sore hari itu saya langsung masuk ruang rawat inap dan mendapat infus, karena saya dinilai kekurangan cairan dalam tubuh. Saya ingat saya masuk Panti Rapih sekitar tanggal 7 atau 8 Desember. Setelah dirawat dua hari, saya merasa bahwa saya sudah mulai membaik, saya berdialog dengan suster perawat untuk menanyakan sakit saya. Dia tidak menjawab. “Kalau besok pagi dokter berkunjung, frater tanyakan langsung kepada dia.” Begitu jawab suster itu. Saya tidak memaksa. Ketika besok pagi dokter berkunjung, saya langsung bertanya. “Dokter, saya sakit apa?” Dokter itu memandang saya dan tersenyum. “Hemm…. Sakit apa ya? Frater tidak sakit. Hanya stress berat. Karena itu harus istirahat.” “Hanya begitu dokter?” “Ini stressnya berat. Maka harus istirahat satu dua hari lagi yah. Istirahat. Jangan banyak pikiran. Makan yang cukup.” Dokter pulang. Satu dua hari lagi istirahat artinya, mungkin saya baru bisa keluar tanggal 14 atau 15 Desember. Padahal Retret di Sukabumi dimulai tanggal 14 atau 15. Saya sangat gelisah karenanya.
Untunglah pada jam besuk sore, P.Yan Ladju mengunjungi saya. Saya menampilkan diri bahwa saya sudah sehat. Setidaknya saya sudah tidak demam atau menggigil lagi, walaupun masih sedikit lemas dan pusing. Seperti biasa pater datang dengan bercanda untuk menanyakan keadaan saya. “Ah tampaknya sudah sehat nich.” “Rasanya begitu pater. Tetapi kata dokter saya masih harus istirahat dua atau tiga hari lagi.” “Tidak apa-apa toh. Yang penting bisa pulih.” “Tetapi nanti saya terlambat untuk ret-ret dengan teman-teman.” “Tenang saja. Kamu bisa datang menyusul nanti. Tinggal nanti lapor kepada CG mengapa kamu terlambat.” “Jadi, tidak apa-apa saya datang belakangan pater?” “Tidak apa-apa. Frans kan sakit.” Setelah membahas beberapa hal akhirnya pater pulang.
Malam mulai datang menjelang. Sebagai frater fransiskan saya dirawat di kelas 3. Kami ada beberapa pasien. Kalau tidak salah ada enam orang. Pokoknya ramai rasanya. Tetapi tatkala malam datang, tetap terasa juga sepi yang datang mencengkam. Malam memang selalu memaksa kita untuk masuk ke dalam diri sendiri. Kegelapan malam itu seperti ruang bagi manusia untuk masuk ke dalam diri sendiri. Maka malam itu saya memikirkan banyak hal. Ah sebenarnya mencemaskan banyak hal. Saya mencemaskan teman-temanku yang lamaran kaulnya ditolak. Malam itu saya ingat temanku Yosef H, temanku Ariwibowo, kami satu angkatan. Apa yang mereka rasakan? Apa yang mereka pikirkan? Setelah tujuh tahun lebih bersama (Yosef) dan enam tahun lebih bersama (Ari) apa yang mereka rasakan. Yang jelas, waktu itu saya melihat wajah terkejut dan kecewa di mata mereka. Walaupun tetap berusaha senyum. Senyum harus memikirkan hidup dari titik nol. Atau mungkin juga bahkan dari titik di bawah nol. Saya juga memikirkan adik kelasku yang lamaran kaulnya ditolak. Ada Okto, si hitam periang itu. Malam itu saya benar-benar galau memikirkan mereka. Ah teman-teman kita harus mulai memikirkan masa depan kita masing-masing mulai dari sekarang.
Malam itu saya juga memikirkan retret kami. Retret kami itu akan dipimpin oleh CG sendiri. Dan ret-ret itu akan berlansung selama 1 bulan. Sebenarnya lebih dari sebulan, yaitu 35, karena totalnya ada lima minggu. Jadi, selama lima Minggu kami akan tinggal di rumah ret-ret mengolah hidup batin, hidup rohani kami, bersama pembimbing. Saya belum bisa membayangkan bagaimana rasanya ret-ret selama lima minggu itu. Que sierra sierra, whatever will be will be… lalu saya pun tertidur.
Beberapa hari kemudian, saya sudah dibelikan tiket bis malam oleh Br.Mulyanto, ekonom di Papringan. Beberapa hari lalu saya sudah keluar dari rumah sakit. Setelah istirahat satu dua hari di biara, saya memutuskan untuk ke Sukabumi. Saya berangkat tanggal 20 sore. Tiba di sana 21 pagi. Begitu tiba, saya langsung melapor ke CG di kamarnya. “Akhirnya kamu datang juga?” “Iya pater.” “Tetapi kami sudah berproses satu minggu di sini. Siapa yang menyuruh kamu ke sini?” “Pater Yan.” “Ya sudah. Kamu ikut saja dengan teman-teman di sana.” Pater CG tampak serius sekali. Serem melihatnya. Mungkin dia marah. Kecewa. Karena saya terlambat datang. Entahlah. Saya harus segera mulai mengejar ketertinggalan satu minggu. Ketiga kawan menyambut dengan hangat dan senyum. Tetapi semua dalam diam.
Wednesday, May 13, 2020
ATG -- DAYA ITU PALING KUAT (BGN II)
Oleh: Fransiskus Borgias
Dosen Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.
Ya, saya tekankan sebuah kesadaran dalam diri saya bahwa dalam kaul kemiskinan, saya sudah berjuang untuk belajar hidup sederhana, einfach Leben wie Franziscus, hidup sederhana seperti Fransiskus. Ada yang mengusulkan terjemahan yang lebih tragis: Hidup Urakan Seperti Fransiskus. Ah tidak. Urakan itu berlebihan. Kata Ugahari jauh lebih baik untuk dipakai sebagai terjemahan einfach. Einfach Leben, Hidup ugahari. Toh kata itu dipakai dalam salah satu madah Completorium.
Tidak ada kemewahan di tubuh saya. Celana saya sederhana. Baju sederhana. Ada satu jubah. Sepatu? Hemmm…. Rasanya hampir tidak pernah memiliki sepatu, apalagi sepatu mahal. Saya hanya punya kasut, sepatu sandal, khas sepatu biarawan, sepatu frater. Itu pun usianya sudah tua, karena sudah beberapa kali ditambal. Hanya itu. Rasanya kedudukan kasut itu sudah pas dan akrab di kaki saya. Sayang kalau dibuang. Aku juga tidak punya tas kuliah mahal. Tas sederhana. Paling sering saya menyulap kaus kutangku untuk kujadikan tas kain kuliah. Nyentrik.
Kamar saya juga sederhana. Hanya tikar dan papan alas tidur. Tidak ada kemewahan. Barangku hanya beberapa buku yang saya beli dari uang saku. Jadi, saya sudah berusaha hidup miskin dengan tidak memiliki apa-apa. Tidak ada kamera, tidak ada tape recorder, radio kecil pun tidak. Hiburan satu-satunya hanya membaca, menulis buku harian, menulis puisi, dan bernyanyi baik tanpa gitar maupun dengan gitar. Oh ya, di tangan saya tidak ada jam tangan. Juga tidak ada cincin. Karena ada yang memakai cincin emas. Ya aku benar-benar apa adanya. Di kamarku tidak ada gambar mewah dengan pigura indah. Hanya ada orat-oret tanganku pada sebuah kain putih lusuh. Saya gambar sosok Ebed Adonai, Hamba Yahwe yang Menderita (Yes 53:1-13), sosok yang selalu menawan. Kemewahan saya hanya rokok. Bersaing dengan pater CG. Ya saya sudah berusaha belajar kemiskinan di “sekolah” membiara ini.
Lalu kaul kemurnian? Apakah saya sudah berusaha hidup murni? Apa itu hidup murni? Apa itu kemurnian? Saya berusaha keras untuk itu. Memang kemurnian itu bukan terutama soal hubungan pria dan wanita dengan konotasi tendensius. Kemurnian itu adalah perkara hati dan pikiran. Saya teringat akan nasihat dalam pelajaran hidup rohani dan hidup doa di novisiat dulu. Salah satu bab yang paling melekat dalam ingatan saya ternyata, bukan definisi doa dan hidup rohani, melainkan tentang pelanturan. Saat berdoa dan meditasi, pikiran tidak bisa dipusatkan pada objek meditasi, tidak bisa diarahkan kepada Tuhan, melainkan melantur ke mana-mana, sampai ke sudut-sudut dunia yang tidak seorang pun tahu. Itulah pelanturan. Dalam pelanturan itu ada banyak yang menarik dan menggoda. Pelanturan selalu dalam kebersamaan. Kedua buku pegangan itu disusun P.CG dan P.Alex. Tetapi yang mengajarkan kami bahan-bahan itu ialah, P.Alex. “Karena aksi pelanturan, maka bisa terjadi, bahwa badan orang ada di Kapel, tetapi hatinya ada di Malioboro, ataupun di Bioskop dan itupun tidak sendirian. Ada temannya.” Begitu kata P.Alex memberi penjelasan tentang Pelanturan itu dengan contoh kongkret. Memang daya khayal manusia luar biasa. Bisa ke mana-mana, walaupun secara jasmani ia ada di sini. Tiada batas apa pun bagi imajinasi manusia. Tidak ada batas apa pun bagi daya fantasi manusia. Fantasi itu bisa berbahaya karena membayangkan apa saja. Kita tidak bisa menghapus fantasi itu. Fuer die Fantasie es gibt keine Seife. Kata orang Jerman. Pelanturan bisa disebabkan oleh macam-macam hal. Pengaruh bacaan, apa yang didengar, apa yang dilihat, ditonton. Juga oleh ingatan, kenangan, nostalgia.
Saya pernah menghibur diri dengan mengatakan “toh sejak kaul pertama tahun 1983 sampai sekarang saya sudah hidup murni. Saya mempertahankan kemurnian badani saya dengan tidak bermain-main yang bukan-bukan. Misalnya mencari perempuan. Tetapi jujur saja, itu yang mengganggu hidup saya. Apakah saya bisa hidup tanpa mencintai perempuan? Mencintainya secara khusus dalam relasi intensif, intim dan personal. Pikiran itu selalu mengganggu. Dalam hal pengalaman dicintai perempuan saya merasa miskin. Karena dalam hidup saya sampai saat itu hanya ada dua perempuan: Ibu dan kakak perempuan saya. Mereka mengasihi saya sebagai ibu dan kakak. Saya pernah berpikir bahwa hidup saya terlalu miskin kalau hanya disayangi oleh dua perempuan itu. Hidup saya mungkin akan menjadi lebih kaya kalau dicintai dan disayangi oleh perempuan lain selain ibu dan kakak. Tetapi siapa? Di mana? Bagaimana? Sebagai lelaki saya merasa bahwa saya harus mencintai seorang perempuan dalam artian yang sesungguhnya.
Dalam kegalauan itu, akhirnya saya mendatangi pater CG. “Pater, menjelang persiapan kaul kekal ini ternyata saya belum bisa mengendalikan diriku, mengendalikan daya-daya seksualku sebagai laki-laki. Maksudnya, bukan mengumbar nafsu ke mana-mana. Tidak pater. Hanya saya merasa bahwa semakin dekat saat putusan itu, semakin takut rasanya. Rasanya “masa-novisiat” saya untuk kaul kemurnian tidak lulus, mungkin juga tidak selesai.” Dengan sangat hati-hati dan serius pater CG memandang muka saya. Tangan kanannya memegang sisa-sisa puntung rokoknya yang diisapnya sore itu. “Frans, jangan bermimpi bahwa kau bisa bebas dari gairah seksual itu. Itu akan tetap ada seumur hidupmu.” Lalu ia merokok lagi, menghembuskannya dan memandang arah naiknya asap itu. “Kau tahu Frans, dulu waktu novisiat saya katakan” (masih ingat juga rupanya, aku membatin), “bahwa jubah tidak mengubahmu menjadi malekat. Kamu tetaplah kau, dalam kepriaanmu, dalam kejantananmu.” Merokok lagi. “Jadi, jangan pernah berpikir bahwa jubah itu menyulap dirimu menjadi malekat. Tidak.” Merokok lagi. “Ingat, daya seksual itu paling kuat dalam diri manusia. Kata kedokteran, itulah daya yang paling akhir mati, ketika manusia mati. Jadi, daya itu kuat sekali.” Merokok lagi. Memandangi kepulan asapnya. “Ya, daya seksual itu mati paling akhir. Itu sebabnya, kalau ada laki-laki yang gantung-diri, maka polisi akan cepat-cepat memeriksa apakah air maninya sudah keluar. Kalau belum keluar, itu pertanda ia masih hidup; mungkin masih bisa diselamatkan. Tetapi kalau air mani sudah keluar, dia sudah lewat. Ya, sedemikian kuatnya, sehingga ia mati paling akhir.” (Aku membatin: Berarti bapa tua ini juga masih berjuang juga hingga saat ini. Baru pada saat itu saya mengerti kalau ada imam yang keluar bahkan pada usia di atas 60an tahun).
Sesudah itu, pater CG berbalik dari saya dan kembali ke bukunya. Itu pertanda bagi saya bahwa saya harus keluar. Saya pamit dan terima kasih. Sampai di luar kamar saya lalu memandang ke bawah. Ternyata ia yang paling kuat. Saya kira selama ini system syaraf di otak yang mati paling akhir. Eh ternyata dia. Hemmmmm…..
Dosen Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.
Ya, saya tekankan sebuah kesadaran dalam diri saya bahwa dalam kaul kemiskinan, saya sudah berjuang untuk belajar hidup sederhana, einfach Leben wie Franziscus, hidup sederhana seperti Fransiskus. Ada yang mengusulkan terjemahan yang lebih tragis: Hidup Urakan Seperti Fransiskus. Ah tidak. Urakan itu berlebihan. Kata Ugahari jauh lebih baik untuk dipakai sebagai terjemahan einfach. Einfach Leben, Hidup ugahari. Toh kata itu dipakai dalam salah satu madah Completorium.
Tidak ada kemewahan di tubuh saya. Celana saya sederhana. Baju sederhana. Ada satu jubah. Sepatu? Hemmm…. Rasanya hampir tidak pernah memiliki sepatu, apalagi sepatu mahal. Saya hanya punya kasut, sepatu sandal, khas sepatu biarawan, sepatu frater. Itu pun usianya sudah tua, karena sudah beberapa kali ditambal. Hanya itu. Rasanya kedudukan kasut itu sudah pas dan akrab di kaki saya. Sayang kalau dibuang. Aku juga tidak punya tas kuliah mahal. Tas sederhana. Paling sering saya menyulap kaus kutangku untuk kujadikan tas kain kuliah. Nyentrik.
Kamar saya juga sederhana. Hanya tikar dan papan alas tidur. Tidak ada kemewahan. Barangku hanya beberapa buku yang saya beli dari uang saku. Jadi, saya sudah berusaha hidup miskin dengan tidak memiliki apa-apa. Tidak ada kamera, tidak ada tape recorder, radio kecil pun tidak. Hiburan satu-satunya hanya membaca, menulis buku harian, menulis puisi, dan bernyanyi baik tanpa gitar maupun dengan gitar. Oh ya, di tangan saya tidak ada jam tangan. Juga tidak ada cincin. Karena ada yang memakai cincin emas. Ya aku benar-benar apa adanya. Di kamarku tidak ada gambar mewah dengan pigura indah. Hanya ada orat-oret tanganku pada sebuah kain putih lusuh. Saya gambar sosok Ebed Adonai, Hamba Yahwe yang Menderita (Yes 53:1-13), sosok yang selalu menawan. Kemewahan saya hanya rokok. Bersaing dengan pater CG. Ya saya sudah berusaha belajar kemiskinan di “sekolah” membiara ini.
Lalu kaul kemurnian? Apakah saya sudah berusaha hidup murni? Apa itu hidup murni? Apa itu kemurnian? Saya berusaha keras untuk itu. Memang kemurnian itu bukan terutama soal hubungan pria dan wanita dengan konotasi tendensius. Kemurnian itu adalah perkara hati dan pikiran. Saya teringat akan nasihat dalam pelajaran hidup rohani dan hidup doa di novisiat dulu. Salah satu bab yang paling melekat dalam ingatan saya ternyata, bukan definisi doa dan hidup rohani, melainkan tentang pelanturan. Saat berdoa dan meditasi, pikiran tidak bisa dipusatkan pada objek meditasi, tidak bisa diarahkan kepada Tuhan, melainkan melantur ke mana-mana, sampai ke sudut-sudut dunia yang tidak seorang pun tahu. Itulah pelanturan. Dalam pelanturan itu ada banyak yang menarik dan menggoda. Pelanturan selalu dalam kebersamaan. Kedua buku pegangan itu disusun P.CG dan P.Alex. Tetapi yang mengajarkan kami bahan-bahan itu ialah, P.Alex. “Karena aksi pelanturan, maka bisa terjadi, bahwa badan orang ada di Kapel, tetapi hatinya ada di Malioboro, ataupun di Bioskop dan itupun tidak sendirian. Ada temannya.” Begitu kata P.Alex memberi penjelasan tentang Pelanturan itu dengan contoh kongkret. Memang daya khayal manusia luar biasa. Bisa ke mana-mana, walaupun secara jasmani ia ada di sini. Tiada batas apa pun bagi imajinasi manusia. Tidak ada batas apa pun bagi daya fantasi manusia. Fantasi itu bisa berbahaya karena membayangkan apa saja. Kita tidak bisa menghapus fantasi itu. Fuer die Fantasie es gibt keine Seife. Kata orang Jerman. Pelanturan bisa disebabkan oleh macam-macam hal. Pengaruh bacaan, apa yang didengar, apa yang dilihat, ditonton. Juga oleh ingatan, kenangan, nostalgia.
Saya pernah menghibur diri dengan mengatakan “toh sejak kaul pertama tahun 1983 sampai sekarang saya sudah hidup murni. Saya mempertahankan kemurnian badani saya dengan tidak bermain-main yang bukan-bukan. Misalnya mencari perempuan. Tetapi jujur saja, itu yang mengganggu hidup saya. Apakah saya bisa hidup tanpa mencintai perempuan? Mencintainya secara khusus dalam relasi intensif, intim dan personal. Pikiran itu selalu mengganggu. Dalam hal pengalaman dicintai perempuan saya merasa miskin. Karena dalam hidup saya sampai saat itu hanya ada dua perempuan: Ibu dan kakak perempuan saya. Mereka mengasihi saya sebagai ibu dan kakak. Saya pernah berpikir bahwa hidup saya terlalu miskin kalau hanya disayangi oleh dua perempuan itu. Hidup saya mungkin akan menjadi lebih kaya kalau dicintai dan disayangi oleh perempuan lain selain ibu dan kakak. Tetapi siapa? Di mana? Bagaimana? Sebagai lelaki saya merasa bahwa saya harus mencintai seorang perempuan dalam artian yang sesungguhnya.
Dalam kegalauan itu, akhirnya saya mendatangi pater CG. “Pater, menjelang persiapan kaul kekal ini ternyata saya belum bisa mengendalikan diriku, mengendalikan daya-daya seksualku sebagai laki-laki. Maksudnya, bukan mengumbar nafsu ke mana-mana. Tidak pater. Hanya saya merasa bahwa semakin dekat saat putusan itu, semakin takut rasanya. Rasanya “masa-novisiat” saya untuk kaul kemurnian tidak lulus, mungkin juga tidak selesai.” Dengan sangat hati-hati dan serius pater CG memandang muka saya. Tangan kanannya memegang sisa-sisa puntung rokoknya yang diisapnya sore itu. “Frans, jangan bermimpi bahwa kau bisa bebas dari gairah seksual itu. Itu akan tetap ada seumur hidupmu.” Lalu ia merokok lagi, menghembuskannya dan memandang arah naiknya asap itu. “Kau tahu Frans, dulu waktu novisiat saya katakan” (masih ingat juga rupanya, aku membatin), “bahwa jubah tidak mengubahmu menjadi malekat. Kamu tetaplah kau, dalam kepriaanmu, dalam kejantananmu.” Merokok lagi. “Jadi, jangan pernah berpikir bahwa jubah itu menyulap dirimu menjadi malekat. Tidak.” Merokok lagi. “Ingat, daya seksual itu paling kuat dalam diri manusia. Kata kedokteran, itulah daya yang paling akhir mati, ketika manusia mati. Jadi, daya itu kuat sekali.” Merokok lagi. Memandangi kepulan asapnya. “Ya, daya seksual itu mati paling akhir. Itu sebabnya, kalau ada laki-laki yang gantung-diri, maka polisi akan cepat-cepat memeriksa apakah air maninya sudah keluar. Kalau belum keluar, itu pertanda ia masih hidup; mungkin masih bisa diselamatkan. Tetapi kalau air mani sudah keluar, dia sudah lewat. Ya, sedemikian kuatnya, sehingga ia mati paling akhir.” (Aku membatin: Berarti bapa tua ini juga masih berjuang juga hingga saat ini. Baru pada saat itu saya mengerti kalau ada imam yang keluar bahkan pada usia di atas 60an tahun).
Sesudah itu, pater CG berbalik dari saya dan kembali ke bukunya. Itu pertanda bagi saya bahwa saya harus keluar. Saya pamit dan terima kasih. Sampai di luar kamar saya lalu memandang ke bawah. Ternyata ia yang paling kuat. Saya kira selama ini system syaraf di otak yang mati paling akhir. Eh ternyata dia. Hemmmmm…..
Tuesday, May 12, 2020
ATG - DAYA ITU PALING KUAT BGN I
Oleh: Fransiskus Borgias
Dosen Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.
Saya TOP dengan mengajar Postulan OFM di Biara Santo Yosef Pagal, Manggarai. Setelah menyelesaikan masa itu saya kembali ke Yogya setelah sebelumnya mengantar para frater postulant ke Jakarta, untuk selanjutnya mereka akan ke novisiat di Depok. Ada pengalaman-pengalaman kegoncangan tersendiri yang saya alami dalam masa TOP itu, tetapi tidak dapat saya ceritakan di sini. Oh mungkin satu hal bisa saya ceritakan sedikit. Di akhir masa TOP, pimpinan OFM di Manggarai meminta saya untuk memimpin Postulan dengan konsekwensi bahwa di akhir masa postulant saya harus memutuskan siapa lolos masuk novisiat siapa yang gagal. Semula saya mengira itu tugas mudah. Ternyata tidak. Saat saya duduk untuk menilai apakah mengirim atau tidak si A dan Si B ke novisiat, saya mengalami kesulitan berat. Saya merasa tidak punya cukup kekuatan untuk tega memulangkan seseorang. Tatkala saya harus memutuskan apakah seseorang tidak diterima, ternyata tidak mudah. Segala macam pertimbangan saya kerahkan dari kemampuan berpikir saya, ternyata akhirnya yang menang bukanlah manusia rasional yang menilai segala sesuatu secara rasional. Yang menang ialah manusia berhati yang menilai dengan hati. Maka saya putuskan untuk mengirim mereka semua ke novisiat. Walaupun saya punya feeling kuat bahwa ada beberapa orang yang tidak cocok untuk masuk novisiat, tetapi karena saya sendiri sedang mengalami kegoyangan, maka saya pun tidak bisa mengambil keputusan yang baik dengan berani dan tegar.
Satu bulan setelah tiba di Papringan orang pertama yang saya datangi ialah pater CG. Dia mau mendengarkan cerita saya. Dia juga memberi pendapat dan pandangan tetapi tidak dapat saya ceritakan di sini. Yang jelas setelah pulang dari TOP kami diminta untuk lebih serius memikirkan kelanjutan hidup panggilan kami. Kami diminta untuk menulis lamaran kepada pater propinsial di Jakarta. Saya masih ingat saat itu sekitar awal bulan November 1988. Hasilnya diperoleh pada awal Desember. Ada yang diterima kaulnya, ada yang ditolak, baik untuk pembaharuan kaul maupun untuk kaul kekal. Saya pun ikut menuliskan surat itu.
Tibalah saatnya bagi saya untuk membuka bagian yang paling berat dari untaian cerita saya selama ini. Semakin dekat masa putusan itu, makin tegang saja rasanya di dalam hati. Ada suatu kegelisahan yang tidak dapat dijelaskan dengan mudah. Ada juga kebingungan. Seperti berdiri di ambang batas awan-awan ketidak-tahuan, the cloud of unknowing. Saya seperti merasa berada di tengah awan itu. Suatu keadaan yang membuat lupa. Saya lupa arah perjalanan. Saya lupa dari mana saya datang. Saya belum tahu ke mana saya akan pergi melangkah dan terbang lebih lanjut. Benar-benar mandek. Padahal dulu dalam pelajaran di novisiat ada sebuah nasihat yang mengatakan bahwa dalam hidup rohani orang tidak boleh berhenti bergerak dalam perjalanan spiritual. Sebab berhenti bahkan sudah sama dengan mati itu sendiri. Saya merasa bahwa sekaranglah saya merasakan hal itu benar. Itu bukan sebuah omongan yang melayang-layang tanpa kaitan dengan kenyataan dan pengalaman. Saya sekarang benar-benar seperti berhenti, padahal saya dituntut untuk bergerak dan berjalan. Sementara itu saya bingung saya harus melangkah bagaimana dan ke mana?
Salah satu pertanyaan pokok yang mengganggu saya pada waktu itu ialah apakah saya bisa menjalani hidup itu kelak, menyerahkan diri sepenuhnya, ya kata sepenuhnya itu, secara utuh, di dalam janji suci kaul-kaul ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian. Bisakah saya melaksanakan hal itu? “Ya, ini memang bukan putusan main-main. Ini putusan yang sangat serius, karena menyangkut seluruh hidupmu di masa depan.” Begitu kata pater CG saat saya datang mencurahkan isi hati dan kegelisahan saya kepadanya. “Hidup ini adalah hidup dalam iman, dan hidup dalam iman itu bagaikan meloncat ke dalam kegelapan. Masalahnya ialah kamu harus meloncat, tidak bisa lagi tinggal dan diam di sini. Harus ada keberanian untuk berserah. Tetapi kamu harus meloncat, kamu harus mengambil keputusan sekarang.” Begitu katanya lagi dengan sangat serius, mungkin karena melihat pancaran kegalauan di wajah saya. Lalu saya pamit.
Kemudian saya juga merenungkan bahwa sebenarnya sudah beberapa waktu lamanya saya telah merenung dalam hati bahwa saya sudah melatih diri dalam kaul ketaatan. Saya sudah mencoba belajar untuk taat, taat kepada aturan, taat kepada kesepakatan bersama, taat kepada para pemimpin. Saya merasa saya tidak bermasalah dengan soal ketaatan itu, entahlah nanti kalau saya sudah menjadi orang besar atau orang pintar dengan pendidikan yang lebih tinggi lagi, suatu peluang yang kiranya bisa saya dapatkan juga mengingat apa yang sudah saya capai sampai sejauh ini. Saya merasa saya mempunyai ranah dalam mana saya melatih diri untuk taat. Saya merasa ada “sekolah” bagi saya untuk belajar taat dan mempraktekkan ketaatan itu, walaupun tidak selalu mudah.
Saya juga merasa bahwa dengan kaul kemiskinan tidak ada masalah. Saya sudah belajar untuk hidup miskin, mencoba menerima hidup apa adanya, tanpa banyak menuntut ataupun memaksakan kehendak dan keinginan sendiri. Saya berusaha belajar dan mempelajari anggaran dasar ordo dan konstitusi dalam rangka untuk berusaha melaksanakanannya dan mentaatinya. Saya tidak pernah mengatakan bahwa saya sangat istimewa, tetapi saya berusaha. Pelajaran-pelajaran spiritualitas yang diberikan oleh para dedengkot spiritualitas fransiskan (CG sendiri, P.Alex, Mgr.Leo, almarhum P.Yan Laju), benar-benar menantang saya juga, terutama terkait dengan pertarungan antara kubu yang menghendaki “ad litteram sine glosa”, dan kubu yang menghendaki adaptasi-kompromi. Saya benar-benar mencoba mentaati nasihat santo Bonaventura, yang pada suatu saat dalam nasihat-nasihatnya kepada para suster berkata: Janganlah kamu belajar kesombongan pada sekolah kerendahan hati. Yang ia maksudkan dengan sekolah kerendahan hati ialah hidup membiara dengan monasterinya yang megah. Di dalam sekolah kerendahan hati itu, adalah haram hukumnya kalau orang belajar kesombongan dan menjadi sombong benaran juga pada akhirnya. Saya sungguh berjuang untuk itu, walaupun tidak selalu mudah. Harus saya akui saya jatuh bangun. (Bersambung)….
Dosen Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.
Saya TOP dengan mengajar Postulan OFM di Biara Santo Yosef Pagal, Manggarai. Setelah menyelesaikan masa itu saya kembali ke Yogya setelah sebelumnya mengantar para frater postulant ke Jakarta, untuk selanjutnya mereka akan ke novisiat di Depok. Ada pengalaman-pengalaman kegoncangan tersendiri yang saya alami dalam masa TOP itu, tetapi tidak dapat saya ceritakan di sini. Oh mungkin satu hal bisa saya ceritakan sedikit. Di akhir masa TOP, pimpinan OFM di Manggarai meminta saya untuk memimpin Postulan dengan konsekwensi bahwa di akhir masa postulant saya harus memutuskan siapa lolos masuk novisiat siapa yang gagal. Semula saya mengira itu tugas mudah. Ternyata tidak. Saat saya duduk untuk menilai apakah mengirim atau tidak si A dan Si B ke novisiat, saya mengalami kesulitan berat. Saya merasa tidak punya cukup kekuatan untuk tega memulangkan seseorang. Tatkala saya harus memutuskan apakah seseorang tidak diterima, ternyata tidak mudah. Segala macam pertimbangan saya kerahkan dari kemampuan berpikir saya, ternyata akhirnya yang menang bukanlah manusia rasional yang menilai segala sesuatu secara rasional. Yang menang ialah manusia berhati yang menilai dengan hati. Maka saya putuskan untuk mengirim mereka semua ke novisiat. Walaupun saya punya feeling kuat bahwa ada beberapa orang yang tidak cocok untuk masuk novisiat, tetapi karena saya sendiri sedang mengalami kegoyangan, maka saya pun tidak bisa mengambil keputusan yang baik dengan berani dan tegar.
Satu bulan setelah tiba di Papringan orang pertama yang saya datangi ialah pater CG. Dia mau mendengarkan cerita saya. Dia juga memberi pendapat dan pandangan tetapi tidak dapat saya ceritakan di sini. Yang jelas setelah pulang dari TOP kami diminta untuk lebih serius memikirkan kelanjutan hidup panggilan kami. Kami diminta untuk menulis lamaran kepada pater propinsial di Jakarta. Saya masih ingat saat itu sekitar awal bulan November 1988. Hasilnya diperoleh pada awal Desember. Ada yang diterima kaulnya, ada yang ditolak, baik untuk pembaharuan kaul maupun untuk kaul kekal. Saya pun ikut menuliskan surat itu.
Tibalah saatnya bagi saya untuk membuka bagian yang paling berat dari untaian cerita saya selama ini. Semakin dekat masa putusan itu, makin tegang saja rasanya di dalam hati. Ada suatu kegelisahan yang tidak dapat dijelaskan dengan mudah. Ada juga kebingungan. Seperti berdiri di ambang batas awan-awan ketidak-tahuan, the cloud of unknowing. Saya seperti merasa berada di tengah awan itu. Suatu keadaan yang membuat lupa. Saya lupa arah perjalanan. Saya lupa dari mana saya datang. Saya belum tahu ke mana saya akan pergi melangkah dan terbang lebih lanjut. Benar-benar mandek. Padahal dulu dalam pelajaran di novisiat ada sebuah nasihat yang mengatakan bahwa dalam hidup rohani orang tidak boleh berhenti bergerak dalam perjalanan spiritual. Sebab berhenti bahkan sudah sama dengan mati itu sendiri. Saya merasa bahwa sekaranglah saya merasakan hal itu benar. Itu bukan sebuah omongan yang melayang-layang tanpa kaitan dengan kenyataan dan pengalaman. Saya sekarang benar-benar seperti berhenti, padahal saya dituntut untuk bergerak dan berjalan. Sementara itu saya bingung saya harus melangkah bagaimana dan ke mana?
Salah satu pertanyaan pokok yang mengganggu saya pada waktu itu ialah apakah saya bisa menjalani hidup itu kelak, menyerahkan diri sepenuhnya, ya kata sepenuhnya itu, secara utuh, di dalam janji suci kaul-kaul ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian. Bisakah saya melaksanakan hal itu? “Ya, ini memang bukan putusan main-main. Ini putusan yang sangat serius, karena menyangkut seluruh hidupmu di masa depan.” Begitu kata pater CG saat saya datang mencurahkan isi hati dan kegelisahan saya kepadanya. “Hidup ini adalah hidup dalam iman, dan hidup dalam iman itu bagaikan meloncat ke dalam kegelapan. Masalahnya ialah kamu harus meloncat, tidak bisa lagi tinggal dan diam di sini. Harus ada keberanian untuk berserah. Tetapi kamu harus meloncat, kamu harus mengambil keputusan sekarang.” Begitu katanya lagi dengan sangat serius, mungkin karena melihat pancaran kegalauan di wajah saya. Lalu saya pamit.
Kemudian saya juga merenungkan bahwa sebenarnya sudah beberapa waktu lamanya saya telah merenung dalam hati bahwa saya sudah melatih diri dalam kaul ketaatan. Saya sudah mencoba belajar untuk taat, taat kepada aturan, taat kepada kesepakatan bersama, taat kepada para pemimpin. Saya merasa saya tidak bermasalah dengan soal ketaatan itu, entahlah nanti kalau saya sudah menjadi orang besar atau orang pintar dengan pendidikan yang lebih tinggi lagi, suatu peluang yang kiranya bisa saya dapatkan juga mengingat apa yang sudah saya capai sampai sejauh ini. Saya merasa saya mempunyai ranah dalam mana saya melatih diri untuk taat. Saya merasa ada “sekolah” bagi saya untuk belajar taat dan mempraktekkan ketaatan itu, walaupun tidak selalu mudah.
Saya juga merasa bahwa dengan kaul kemiskinan tidak ada masalah. Saya sudah belajar untuk hidup miskin, mencoba menerima hidup apa adanya, tanpa banyak menuntut ataupun memaksakan kehendak dan keinginan sendiri. Saya berusaha belajar dan mempelajari anggaran dasar ordo dan konstitusi dalam rangka untuk berusaha melaksanakanannya dan mentaatinya. Saya tidak pernah mengatakan bahwa saya sangat istimewa, tetapi saya berusaha. Pelajaran-pelajaran spiritualitas yang diberikan oleh para dedengkot spiritualitas fransiskan (CG sendiri, P.Alex, Mgr.Leo, almarhum P.Yan Laju), benar-benar menantang saya juga, terutama terkait dengan pertarungan antara kubu yang menghendaki “ad litteram sine glosa”, dan kubu yang menghendaki adaptasi-kompromi. Saya benar-benar mencoba mentaati nasihat santo Bonaventura, yang pada suatu saat dalam nasihat-nasihatnya kepada para suster berkata: Janganlah kamu belajar kesombongan pada sekolah kerendahan hati. Yang ia maksudkan dengan sekolah kerendahan hati ialah hidup membiara dengan monasterinya yang megah. Di dalam sekolah kerendahan hati itu, adalah haram hukumnya kalau orang belajar kesombongan dan menjadi sombong benaran juga pada akhirnya. Saya sungguh berjuang untuk itu, walaupun tidak selalu mudah. Harus saya akui saya jatuh bangun. (Bersambung)….
Monday, May 11, 2020
ATG – FRATER JATUH CINTA?
Oleh: Fransiskus Borgias
Dosen dan Peneliti Fakultas Filsafat UNPAR Bandung
Kemeriahan pesta bapa Fransiskus sudah berlalu. Saya selalu mempunyai rasa sepi yang amat mengganggu, yang datang menghinggap ketika baru saja sebuah pesta kemeriahan terjadi. Rasa sepi itu terasa seperti menggigit hati dari dalam. Beberapa kali saya hampir tidak bisa mengatasinya. Tetapi akhirnya saya bisa mengatasinya dengan cara menulis dan menggambar di buku harian saya. Membunuh sepi dengan menulis dan menggambar.
Sekarang rasa sepi itu datang lagi. Pesta Bapa Serafik telah menyedot seluruh perhatian kami. Ada makanan. Ada sukacita. Ada persaudaraan-persaudarian. Luar biasa. Saat itu semua usai, lalu ada sepi. Benar-benar seperti mencengkeram dalam hati. Tiba-tiba saya sadar bahwa rasa sepi kali ini tercampur dengan suatu perasaan aneh. Saya tertarik kepada seorang suster. Saya tidak usah menyebut namanya, maupun kongregasinya. Senang melihatnya. Entahlah kalau berada di dekatnya. Tetapi saya hanya bisa sampai di greget dalam hati. Tidak ada langkah lanjut. Dalam beberapa kasus seperti itu saya memutuskan untuk menjadi the silent admirer saja. Entah kenapa, saya merasa bahwa saya tidak boleh membiarkan diri terhanyut dalam rasa itu. Tetapi mengapa? Apakah itu salah? Apakah itu dosa? Hati kecilku memberontak. Ah tidak mungkin cinta, rasa cinta, jatuh cinta itu dosa. Lalu bagaimana? Untuk apa rasa seperti itu muncul dalam hati saya? Hidup rasanya akan jauh lebih mudah kalau rasa itu tidak pernah mampir. Tetapi ia termasuk kategori tamu yang tidak diundang, tetapi nekad datang. Datangnya lagi seperti bikin lobang dan sayangnya lobang itu seperti dibiarkannya terbuka tanpa diberinya obat pembunuh rasa.
Aneh sekali. Saya takut jatuh cinta. Oh bukan. Bukan takut jatuh cinta. Hanya takut mengaku cinta. Takut menyatakan cinta. Tetapi apakah memang frater harus jatuh cinta? Apakah frater harus menyatakan cinta? Mungkin saja harus dan boleh. Tetapi saya membayangkan sakitnya kalau ternyata tidak diterima, kalau disambut dengan dingin. Rasa jatuh cinta yang ditahan-tahan itu saja sudah sakit. Akan lebih sakit lagi kalau sesudah ditahan-tahan lalu dicoba dikumpulkan tenaga untuk dinyatakan, eh ternyata ditertawakan. Ah bukankah lebih baik didiamkan saja dalam hati. Menjadi sebuah cinta Platonik, cinta dalam diam, cinta dalam hening. Hemmmm….
Apakah Fransiskus dulu begitu juga dengan Klara? Atau sebaliknya, apakah Klara juga begitu dulu terhadap Fransiskus? Sutradara Franco Zefirelli, dalam film BROTHER SUN SISTER MOON, seperti memberi sinyal ada tanda-tanda seperti itu. Entah sudah berapa kali saya nonton film itu, saya selalu terpesona dan bertanya-tanya, apa yang ada dalam hati Klara dan Fransiskus tatkala mereka berlari slowmotion di padang untuk mendekat satu sama lain? Walaupun hanya sekilas, begitu bertemu, saya bisa melihat sedikit pancaran visio beatifica itu di sudut mata Klara dan mata Fransiskus. Benar-benar “bintang film,” mereka yang memerankan itu. Bahasa hati yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata mampu diungkapkan dengan Bahasa gambar, Bahasa film, dan itu pasti atas arahan sutradara, dan pasti dilatar-belakangi oleh pandangan tertentu yang dianutnya. Mungkin Zefirrelli menganut pandangan bahwa dua anak muda itu yang jarak umurnya kira-kira 9-10 tahun, bisa saja pernah jatuh cinta. Siapa tahu. Hanya Fransiskus dan Clara dan Tuhan yang tahu.
Anehnya, bukan baru kali ini saya mengalami gelora rasa seperti ini. Pada masa postulant saya mengalaminya. Tetapi ia seperti berlalu bersama berlalunya waktu. Hemmmm…. Mungkin waktu yang berlalu adalah obat paling mujarab bagi hati yang luka, hati yang lara karena jatuh cinta. Ah memang istilahnya juga dramatis-tragis, fall in love, jatuh cinta. Mengapa tidak bangun cinta? Kalau bangun cinta barangkali tidak sakit kalau tidak jadi. Hemmm… Tiba-tiba saya sadar bahwa harus jatuh dulu baru bangun. Harus jatuh cinta dulu sesudah itu bangun cinta. Tidak bisa langsung bangun cinta kalau tidak terlebih dahulu jatuh cinta. Ahhhh… Mengapa harus sedramatis itu? Mengapa pula frater, yang mau jadi imam harus merepotkan diri dengan hal itu semua?
Dulu waktu di postulant saya punya bapa rohani di seminari menengah. Dalam keadaan bingung karena fall in love itu saya tulis surat kepadanya. “Pater, apakah saya salah kalau jatuh cinta?” Dengan berdebar-debar saya menunggu jawaban beliau. Sebulan, datanglah balasan pater. “Frans, pertama-tama, kau harus tahu dulu, bahwa cinta dan jatuh cinta itu tidak ada yang salah. Kalau ada pihak yang harus disalahkan karena jatuh cinta, maka pihak itu ialah Tuhan sendiri. Karena Tuhanlah yang menggerakkan cinta itu. Jadi, tenang saja. Jangan sampai kamu menjadi lumpuh rasa karena hal itu.” Saya membalas, “Terima kasih pater.” Dengan modal jawaban itu, saya menjadi tidak terlalu tersiksa oleh perasaan yang bergolak itu yang celakanya tidak bisa saya tolak.
Saya kira dengan berlalunya masa postulant, maka saya tidak akan mengalami lagi pengalaman-pengalaman seperti itu, yang sayangnya tidak pernah saya alami di seminari kecil dan menengah, karena di seminari kami semuanya dunia laki-laki. Ternyata hal itu tidak bisa hilang. Ia seperti melekat entah di bagian mana di dalam relung hati saya.
Dalam keadaan bingung, awal November 1982, saya memberanikan diri untuk mendatangi kamar pater CG. Begitu masuk, ia tidak menoleh kepada saya. Ia juga tidak menyuruh saya duduk. Saya berdiri saja. Kemudian ia berkata, “Duduk. Kamu mau bicara apa lagi?” Ia ucapkan pertanyaan itu tanpa menoleh ke saya. Matanya tetap menukik ke sebuah buku tebal yang terbuka. Dia pasti sedang sibuk membaca. “Pater, mungkin saya jatuh cinta.” Begitu saya omong begitu, ia terbahak-bahak dan menoleh kepada saya. Dia sama sekali tidak tanya, kamu jatuh cinta dengan siapa? Mengapa kamu jatuh cinta? Apakah kamu sudah menyatakannya? Dia tidak tanyakan itu. Melainkan dia langsung memberi pendapat. Yang menarik ialah, seakan-akan dia tahu, entah dari mana, entah bagaimana, saya sedang jatuh cinta dengan suster, sehingga ia lalu berkata dengan suaranya yang sengau dan cempreng: “Frans, hati-hati dengan jubah-jubah putih bersih itu. Itu semua betina-betina di dalamnya. Dan kamu sendiri juga, kamu berjubah tetapi di dalamnya tetap ada jantan.” Lalu ia diam lagi. “Tidak ada cara lain, kamu harus mengambil jarak. Cari banyak kesibukan. Banyaklah berdoa. Banyaklah membaca dan menulis. Hanya dengan itu kamu akan sembuh dari sebuah luka karena drama jatuh cinta. Waktu yang berlalu akan mengobati hatimu. Hanya itu.”
Saya pulang. Tetap bingung. Tetapi berusaha menjalankan hal yang ia nasihatkan. Tetapi itu hanya pengalihan. Hanya sublimasi. Berusaha melupakan. Tetapi ia tetap ada. Di sana. Mungkin sedang memelihara sebuah luka yang sesewaktu bisa terbuka di satu kala.
Dosen dan Peneliti Fakultas Filsafat UNPAR Bandung
Kemeriahan pesta bapa Fransiskus sudah berlalu. Saya selalu mempunyai rasa sepi yang amat mengganggu, yang datang menghinggap ketika baru saja sebuah pesta kemeriahan terjadi. Rasa sepi itu terasa seperti menggigit hati dari dalam. Beberapa kali saya hampir tidak bisa mengatasinya. Tetapi akhirnya saya bisa mengatasinya dengan cara menulis dan menggambar di buku harian saya. Membunuh sepi dengan menulis dan menggambar.
Sekarang rasa sepi itu datang lagi. Pesta Bapa Serafik telah menyedot seluruh perhatian kami. Ada makanan. Ada sukacita. Ada persaudaraan-persaudarian. Luar biasa. Saat itu semua usai, lalu ada sepi. Benar-benar seperti mencengkeram dalam hati. Tiba-tiba saya sadar bahwa rasa sepi kali ini tercampur dengan suatu perasaan aneh. Saya tertarik kepada seorang suster. Saya tidak usah menyebut namanya, maupun kongregasinya. Senang melihatnya. Entahlah kalau berada di dekatnya. Tetapi saya hanya bisa sampai di greget dalam hati. Tidak ada langkah lanjut. Dalam beberapa kasus seperti itu saya memutuskan untuk menjadi the silent admirer saja. Entah kenapa, saya merasa bahwa saya tidak boleh membiarkan diri terhanyut dalam rasa itu. Tetapi mengapa? Apakah itu salah? Apakah itu dosa? Hati kecilku memberontak. Ah tidak mungkin cinta, rasa cinta, jatuh cinta itu dosa. Lalu bagaimana? Untuk apa rasa seperti itu muncul dalam hati saya? Hidup rasanya akan jauh lebih mudah kalau rasa itu tidak pernah mampir. Tetapi ia termasuk kategori tamu yang tidak diundang, tetapi nekad datang. Datangnya lagi seperti bikin lobang dan sayangnya lobang itu seperti dibiarkannya terbuka tanpa diberinya obat pembunuh rasa.
Aneh sekali. Saya takut jatuh cinta. Oh bukan. Bukan takut jatuh cinta. Hanya takut mengaku cinta. Takut menyatakan cinta. Tetapi apakah memang frater harus jatuh cinta? Apakah frater harus menyatakan cinta? Mungkin saja harus dan boleh. Tetapi saya membayangkan sakitnya kalau ternyata tidak diterima, kalau disambut dengan dingin. Rasa jatuh cinta yang ditahan-tahan itu saja sudah sakit. Akan lebih sakit lagi kalau sesudah ditahan-tahan lalu dicoba dikumpulkan tenaga untuk dinyatakan, eh ternyata ditertawakan. Ah bukankah lebih baik didiamkan saja dalam hati. Menjadi sebuah cinta Platonik, cinta dalam diam, cinta dalam hening. Hemmmm….
Apakah Fransiskus dulu begitu juga dengan Klara? Atau sebaliknya, apakah Klara juga begitu dulu terhadap Fransiskus? Sutradara Franco Zefirelli, dalam film BROTHER SUN SISTER MOON, seperti memberi sinyal ada tanda-tanda seperti itu. Entah sudah berapa kali saya nonton film itu, saya selalu terpesona dan bertanya-tanya, apa yang ada dalam hati Klara dan Fransiskus tatkala mereka berlari slowmotion di padang untuk mendekat satu sama lain? Walaupun hanya sekilas, begitu bertemu, saya bisa melihat sedikit pancaran visio beatifica itu di sudut mata Klara dan mata Fransiskus. Benar-benar “bintang film,” mereka yang memerankan itu. Bahasa hati yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata mampu diungkapkan dengan Bahasa gambar, Bahasa film, dan itu pasti atas arahan sutradara, dan pasti dilatar-belakangi oleh pandangan tertentu yang dianutnya. Mungkin Zefirrelli menganut pandangan bahwa dua anak muda itu yang jarak umurnya kira-kira 9-10 tahun, bisa saja pernah jatuh cinta. Siapa tahu. Hanya Fransiskus dan Clara dan Tuhan yang tahu.
Anehnya, bukan baru kali ini saya mengalami gelora rasa seperti ini. Pada masa postulant saya mengalaminya. Tetapi ia seperti berlalu bersama berlalunya waktu. Hemmmm…. Mungkin waktu yang berlalu adalah obat paling mujarab bagi hati yang luka, hati yang lara karena jatuh cinta. Ah memang istilahnya juga dramatis-tragis, fall in love, jatuh cinta. Mengapa tidak bangun cinta? Kalau bangun cinta barangkali tidak sakit kalau tidak jadi. Hemmm… Tiba-tiba saya sadar bahwa harus jatuh dulu baru bangun. Harus jatuh cinta dulu sesudah itu bangun cinta. Tidak bisa langsung bangun cinta kalau tidak terlebih dahulu jatuh cinta. Ahhhh… Mengapa harus sedramatis itu? Mengapa pula frater, yang mau jadi imam harus merepotkan diri dengan hal itu semua?
Dulu waktu di postulant saya punya bapa rohani di seminari menengah. Dalam keadaan bingung karena fall in love itu saya tulis surat kepadanya. “Pater, apakah saya salah kalau jatuh cinta?” Dengan berdebar-debar saya menunggu jawaban beliau. Sebulan, datanglah balasan pater. “Frans, pertama-tama, kau harus tahu dulu, bahwa cinta dan jatuh cinta itu tidak ada yang salah. Kalau ada pihak yang harus disalahkan karena jatuh cinta, maka pihak itu ialah Tuhan sendiri. Karena Tuhanlah yang menggerakkan cinta itu. Jadi, tenang saja. Jangan sampai kamu menjadi lumpuh rasa karena hal itu.” Saya membalas, “Terima kasih pater.” Dengan modal jawaban itu, saya menjadi tidak terlalu tersiksa oleh perasaan yang bergolak itu yang celakanya tidak bisa saya tolak.
Saya kira dengan berlalunya masa postulant, maka saya tidak akan mengalami lagi pengalaman-pengalaman seperti itu, yang sayangnya tidak pernah saya alami di seminari kecil dan menengah, karena di seminari kami semuanya dunia laki-laki. Ternyata hal itu tidak bisa hilang. Ia seperti melekat entah di bagian mana di dalam relung hati saya.
Dalam keadaan bingung, awal November 1982, saya memberanikan diri untuk mendatangi kamar pater CG. Begitu masuk, ia tidak menoleh kepada saya. Ia juga tidak menyuruh saya duduk. Saya berdiri saja. Kemudian ia berkata, “Duduk. Kamu mau bicara apa lagi?” Ia ucapkan pertanyaan itu tanpa menoleh ke saya. Matanya tetap menukik ke sebuah buku tebal yang terbuka. Dia pasti sedang sibuk membaca. “Pater, mungkin saya jatuh cinta.” Begitu saya omong begitu, ia terbahak-bahak dan menoleh kepada saya. Dia sama sekali tidak tanya, kamu jatuh cinta dengan siapa? Mengapa kamu jatuh cinta? Apakah kamu sudah menyatakannya? Dia tidak tanyakan itu. Melainkan dia langsung memberi pendapat. Yang menarik ialah, seakan-akan dia tahu, entah dari mana, entah bagaimana, saya sedang jatuh cinta dengan suster, sehingga ia lalu berkata dengan suaranya yang sengau dan cempreng: “Frans, hati-hati dengan jubah-jubah putih bersih itu. Itu semua betina-betina di dalamnya. Dan kamu sendiri juga, kamu berjubah tetapi di dalamnya tetap ada jantan.” Lalu ia diam lagi. “Tidak ada cara lain, kamu harus mengambil jarak. Cari banyak kesibukan. Banyaklah berdoa. Banyaklah membaca dan menulis. Hanya dengan itu kamu akan sembuh dari sebuah luka karena drama jatuh cinta. Waktu yang berlalu akan mengobati hatimu. Hanya itu.”
Saya pulang. Tetap bingung. Tetapi berusaha menjalankan hal yang ia nasihatkan. Tetapi itu hanya pengalihan. Hanya sublimasi. Berusaha melupakan. Tetapi ia tetap ada. Di sana. Mungkin sedang memelihara sebuah luka yang sesewaktu bisa terbuka di satu kala.
Sunday, May 10, 2020
ATG - “MEREBUT” TOKOH FRANSISKUS ASISI
Oleh: Fransiskus Borgias
Dosen dan peneliti pada Fakultas Filsafat UNPAR, Bandung. Ketua Sekolah Kitab Suci Keuskupan Bandung.
Selama saya di Seminari Pius XII Kisol, saya belum pernah mendengar nama G.K.Chesterton dan nama besar lainnya, seperti Kardinal John Henry Newmann, Etienne Gilson, sekadar menyebut beberapa. Memang tidak perlu juga saya harus mengetahui nama-nama itu di tingkat itu. Tetapi waktu di Kisol saya banyak mengetahui nama santo-santa karena sering dibaca sebagai bacaan rohani. Misalnya, waktu di Seminari Kisol saya membaca tentang St.Fransiskus Asisi, St.Ignatius Loyola, St.Agustinus dari Hippo, St.Benediktus dari Nursia, St.Dominikus, dll. Saya juga menyebut beberapa santa, seperti Sta.Monika, Sta.Klara di Offreducio (Klara dari Asisi).
Tahun 1981 saya tamat dari Kisol. Lalu kami memutuskan, apakah berhenti ataukah terus ke seminari tinggi. Saya memutuskan untuk terus ke seminari tinggi, karena ingin menjadi imam. Saat itu ada lagu yang saya hafal sejak hari-hari pertama di Seminari. Sepotong syairnya berbunyi sbb: “…supaya aku menjadi, imam suci sejati, supaya aku menjadi imam suci sejati.” Itu lagu komunio yang terkait dengan Hati Kudus Yesus. Awalnya berbunyi sbb: “O hati imam Kristus sah, kembara hanya tegal jiwa… etc…” Bagian akhirnya, sudah dikutip. Syair itu terus bergema saat saya tamat, Hehehe... Setelah memutuskan untuk terus ke seminari tinggi, tinggal satu keputusan lagi yang harus diambil. Harus lanjut ke seminari tinggi mana. Dari pengenalan saya akan beberapa ordo dan kongregasi akhirnya saya memilih lanjut ke OFM. Saat itu kami bersama-sama beberapa teman: saya, Paskalis, Karel Jande. Kami tiga dari Kisol. Setelah tiba di Pagal kami bertemu dengan beberapa teman kelas: ada Peter Aman, ada Yosef Hambur, ada juga Heri Ngabut dan beberapa teman lainnya.
Di postulat OFM kami ada kelas pengenalan spiritualitas dan tradisi hidup fransiskan. Salah satu pembina kami waktu itu ialah Bapa Cypri Aur. Kelas beliaulah yang memperkenalkan saya dengan beberapa nama besar. Dalam kelas itu bapa Cypri meminta kami membaca buku Pater Dr.N.G.M. Van Doornik, MSC yang menulis disertasi tentang Fransiskus. Judulnya, FRANSISKUS, NABI BAGI MASA KINI. Buku itu sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh SEKAFI tahun 1976, dalam rangka merayakan 800 tahun gerakan Fransiskus Asisi yang dirayakan dalam beberapa event dan dengan beberapa moto menarik. Salah satu moto yang saya ingat ialah kaos-kaos sederhana fransiskan yang bertuliskan: Einfach Leben wie Franziscus.
Di postulant tidak mudah bagi sasya untuk memahami buku itu. Itu sebabnya di novisiat saya membaca buku itu lagi dengan tekun. Tidak mudah juga, terutama karena munculnya beberapa nama yang belum saya ketahui latar belakang mereka dan urusan mereka dengan bapa Serafik. Akhirnya, sesudah ceramah awal Oktober 1982, saya memberanikan diri lagi mendatangi pater CG di kamarnya dengan membawa van Doornik. “Mau tanya tentang ini Pater.” Dia ambil buku itu. “Hemmm… ini buku tidak mudah. Mau tanya apa?” “Saya bingung pater, karena ada beberapa nama yang ternyata Protestan, Paul Sabatier, Ernest Renan dan G.K.Chesterton, tetapi mereka omong tentang Fransiskus.” “Hehehe…. Fransiskus milik semua orang. Tetapi dua nama tadi memang mau “merebut” Fransiskus dan menjadikannya orang bebas dan kalau sudah bebas, dijadikan Protestan. Chesterton, itu Katolik, melawan mereka. Begitu. Van Doornik itu seperti dalang dalam buku ini. Mula-mula ia tampilkan Sabatier dan Renan, kemudian ia tampilkan Chesterton.” “Oh begitu.” Saya tertegun. “Sudah.” Kata pater lagi. Itu pertanda saya harus pulang. “Terima kasih pater,” kata saya sambil keluar.
Setelah penjelasan singkat pater CG akhirnya pemahaman saya semakin jelas. Nama besar sejarawan dan teolog protestan Perancis P.Sabatier. Juga nama besar filsuf, E.Renan. Juga Perancis. Kedua orang ini mempunyai agenda yang sama, mau melepaskan Fransiskus dari “cengkeraman” Gereja Katolik Roma, terlebih dari tahta suci kepausan. Klaim mereka tidak main-main. Terutama P.Sabatier, sebagai ahli sejarah dan teologi, mengatakan bahwa sebenarnya Fransiskus itu bukan Katolik. Ia adalah sosok pembaharu yang bergerak bebas di luar sistem lembaga, bertiup seperti hembusan angin ke mana saja ia mau dan dari mana saja ia datang. Nah, proses romanisasi, vatikanisasi, dan bahkan klerikalisasi Fransiskus Asisi terjadi mula-mula melalui Uskup Asisi, Guido, dan kemudian melalui Kardinal Hugolino yang berperan sebagai Cardinal Protector bagi gerakan Fransiskus. Kalau semua hal itu tidak ada, maka Fransiskus adalah orang bebas, di luar system, apalagi system Roma. Kira-kira begitu pendapat Sabatier yang didukung Renan. Itu sejauh yang saya tangkap dan pahami.
Berkaitan dengan klaim kedua pakar Protestan tersebut, muncul nama besar lain yaitu Gilbert Keith Chesterton. Dengan lantang suara Chesterton ini ditampilkan van Doornick dengan kurang lebih mengatakan bahwa Fransiskus, sejak dini adalah Katolik Roma. Atas kehendaknya sendiri, dan dengan tuntunan dan ilham Roh Kudus ia meminta bimbingan tahta suci, dalam bentuk Cardinal Protector agar tidak menyimpang. Adalah inisiatif Fransiskus sendiri yang dengan susah payah datang ke Roma (jalan kaki lho) untuk meminta tuntunan dan bimbingan. Hal itu sangat perlu mengingat saat itu ada banyak sekali gerakan kaum penitent yang mirip Fransiskus, tetapi membangkang dan karena itu menyimpang dari gereja Roma yang kudus. Salah satu kelompok yang terkenal ialah yang berasal dari Perancis selatan yaitu Kaum Albigensians (Cathari). Di Italia sendiri terkenallah Petrus Waldo yang mengawali gerakan “gereja” Waldensians yang bersamaan dengan gerakan Fransiskus merayakan 800 tahun beberapa tahun silam. Chesterton dengan gigih mengatakan Fransiskus adalah tokoh katolik sejati. Pendapat itu sejalan dengan banyak ahli fransiskanologi lainnya yang amat menekankan ketaatan Fransiskus kepada Bapa Suci. Kalau tiga abad kemudian, Ignatius dari Loyola juga mencanangkan ketaatan kepada Tahta Suci sebagai salah satu ciri khasnya, maka hal itu sudah diupayakan oleh Fransiskus atas kesadaran dan kemauannya sendiri untuk menempatkan seluruh hidup dan gerakannya dalam naungan dan dekapan jubah uskup sebagaimana disimbolkan dengan sangat baik oleh peristiwa di alun-alun Asisi, di mana saat Fransiskus menanggalkan semua busana bapanya, lalu ia dirangkul oleh uskup Guido dengan jubah kebesarannya sebagai uskup. Dengan itu Fransiskus berada di bawah tahta suci. Tidak bisa direbut oleh Sabatier dan Renan. Direbut dalam rangka untuk dijadikan protestan.
Di sini saya tiba-tiba teringat akan peristiwa di awal-awal kematian Fransiskus. Ada beberapa buku sumber riwayat hidup yang menceritakan bahwa jenazah Fransiskus pernah jadi rebutan antar kota agar dikuburkan di kota mereka. Tetapi akhirnya, Asisi, kota kelahirannya yang menang, dan ia memang lahir di sana, meninggal di sana, dan dimakamkan di sana, tetap dalam dekapan tahta suci, dalam dan melalui contoh teladan ketaatannya yang tidak terbantahkan kepada Roma, ROME SWEET HOME.
Dosen dan peneliti pada Fakultas Filsafat UNPAR, Bandung. Ketua Sekolah Kitab Suci Keuskupan Bandung.
Selama saya di Seminari Pius XII Kisol, saya belum pernah mendengar nama G.K.Chesterton dan nama besar lainnya, seperti Kardinal John Henry Newmann, Etienne Gilson, sekadar menyebut beberapa. Memang tidak perlu juga saya harus mengetahui nama-nama itu di tingkat itu. Tetapi waktu di Kisol saya banyak mengetahui nama santo-santa karena sering dibaca sebagai bacaan rohani. Misalnya, waktu di Seminari Kisol saya membaca tentang St.Fransiskus Asisi, St.Ignatius Loyola, St.Agustinus dari Hippo, St.Benediktus dari Nursia, St.Dominikus, dll. Saya juga menyebut beberapa santa, seperti Sta.Monika, Sta.Klara di Offreducio (Klara dari Asisi).
Tahun 1981 saya tamat dari Kisol. Lalu kami memutuskan, apakah berhenti ataukah terus ke seminari tinggi. Saya memutuskan untuk terus ke seminari tinggi, karena ingin menjadi imam. Saat itu ada lagu yang saya hafal sejak hari-hari pertama di Seminari. Sepotong syairnya berbunyi sbb: “…supaya aku menjadi, imam suci sejati, supaya aku menjadi imam suci sejati.” Itu lagu komunio yang terkait dengan Hati Kudus Yesus. Awalnya berbunyi sbb: “O hati imam Kristus sah, kembara hanya tegal jiwa… etc…” Bagian akhirnya, sudah dikutip. Syair itu terus bergema saat saya tamat, Hehehe... Setelah memutuskan untuk terus ke seminari tinggi, tinggal satu keputusan lagi yang harus diambil. Harus lanjut ke seminari tinggi mana. Dari pengenalan saya akan beberapa ordo dan kongregasi akhirnya saya memilih lanjut ke OFM. Saat itu kami bersama-sama beberapa teman: saya, Paskalis, Karel Jande. Kami tiga dari Kisol. Setelah tiba di Pagal kami bertemu dengan beberapa teman kelas: ada Peter Aman, ada Yosef Hambur, ada juga Heri Ngabut dan beberapa teman lainnya.
Di postulat OFM kami ada kelas pengenalan spiritualitas dan tradisi hidup fransiskan. Salah satu pembina kami waktu itu ialah Bapa Cypri Aur. Kelas beliaulah yang memperkenalkan saya dengan beberapa nama besar. Dalam kelas itu bapa Cypri meminta kami membaca buku Pater Dr.N.G.M. Van Doornik, MSC yang menulis disertasi tentang Fransiskus. Judulnya, FRANSISKUS, NABI BAGI MASA KINI. Buku itu sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh SEKAFI tahun 1976, dalam rangka merayakan 800 tahun gerakan Fransiskus Asisi yang dirayakan dalam beberapa event dan dengan beberapa moto menarik. Salah satu moto yang saya ingat ialah kaos-kaos sederhana fransiskan yang bertuliskan: Einfach Leben wie Franziscus.
Di postulant tidak mudah bagi sasya untuk memahami buku itu. Itu sebabnya di novisiat saya membaca buku itu lagi dengan tekun. Tidak mudah juga, terutama karena munculnya beberapa nama yang belum saya ketahui latar belakang mereka dan urusan mereka dengan bapa Serafik. Akhirnya, sesudah ceramah awal Oktober 1982, saya memberanikan diri lagi mendatangi pater CG di kamarnya dengan membawa van Doornik. “Mau tanya tentang ini Pater.” Dia ambil buku itu. “Hemmm… ini buku tidak mudah. Mau tanya apa?” “Saya bingung pater, karena ada beberapa nama yang ternyata Protestan, Paul Sabatier, Ernest Renan dan G.K.Chesterton, tetapi mereka omong tentang Fransiskus.” “Hehehe…. Fransiskus milik semua orang. Tetapi dua nama tadi memang mau “merebut” Fransiskus dan menjadikannya orang bebas dan kalau sudah bebas, dijadikan Protestan. Chesterton, itu Katolik, melawan mereka. Begitu. Van Doornik itu seperti dalang dalam buku ini. Mula-mula ia tampilkan Sabatier dan Renan, kemudian ia tampilkan Chesterton.” “Oh begitu.” Saya tertegun. “Sudah.” Kata pater lagi. Itu pertanda saya harus pulang. “Terima kasih pater,” kata saya sambil keluar.
Setelah penjelasan singkat pater CG akhirnya pemahaman saya semakin jelas. Nama besar sejarawan dan teolog protestan Perancis P.Sabatier. Juga nama besar filsuf, E.Renan. Juga Perancis. Kedua orang ini mempunyai agenda yang sama, mau melepaskan Fransiskus dari “cengkeraman” Gereja Katolik Roma, terlebih dari tahta suci kepausan. Klaim mereka tidak main-main. Terutama P.Sabatier, sebagai ahli sejarah dan teologi, mengatakan bahwa sebenarnya Fransiskus itu bukan Katolik. Ia adalah sosok pembaharu yang bergerak bebas di luar sistem lembaga, bertiup seperti hembusan angin ke mana saja ia mau dan dari mana saja ia datang. Nah, proses romanisasi, vatikanisasi, dan bahkan klerikalisasi Fransiskus Asisi terjadi mula-mula melalui Uskup Asisi, Guido, dan kemudian melalui Kardinal Hugolino yang berperan sebagai Cardinal Protector bagi gerakan Fransiskus. Kalau semua hal itu tidak ada, maka Fransiskus adalah orang bebas, di luar system, apalagi system Roma. Kira-kira begitu pendapat Sabatier yang didukung Renan. Itu sejauh yang saya tangkap dan pahami.
Berkaitan dengan klaim kedua pakar Protestan tersebut, muncul nama besar lain yaitu Gilbert Keith Chesterton. Dengan lantang suara Chesterton ini ditampilkan van Doornick dengan kurang lebih mengatakan bahwa Fransiskus, sejak dini adalah Katolik Roma. Atas kehendaknya sendiri, dan dengan tuntunan dan ilham Roh Kudus ia meminta bimbingan tahta suci, dalam bentuk Cardinal Protector agar tidak menyimpang. Adalah inisiatif Fransiskus sendiri yang dengan susah payah datang ke Roma (jalan kaki lho) untuk meminta tuntunan dan bimbingan. Hal itu sangat perlu mengingat saat itu ada banyak sekali gerakan kaum penitent yang mirip Fransiskus, tetapi membangkang dan karena itu menyimpang dari gereja Roma yang kudus. Salah satu kelompok yang terkenal ialah yang berasal dari Perancis selatan yaitu Kaum Albigensians (Cathari). Di Italia sendiri terkenallah Petrus Waldo yang mengawali gerakan “gereja” Waldensians yang bersamaan dengan gerakan Fransiskus merayakan 800 tahun beberapa tahun silam. Chesterton dengan gigih mengatakan Fransiskus adalah tokoh katolik sejati. Pendapat itu sejalan dengan banyak ahli fransiskanologi lainnya yang amat menekankan ketaatan Fransiskus kepada Bapa Suci. Kalau tiga abad kemudian, Ignatius dari Loyola juga mencanangkan ketaatan kepada Tahta Suci sebagai salah satu ciri khasnya, maka hal itu sudah diupayakan oleh Fransiskus atas kesadaran dan kemauannya sendiri untuk menempatkan seluruh hidup dan gerakannya dalam naungan dan dekapan jubah uskup sebagaimana disimbolkan dengan sangat baik oleh peristiwa di alun-alun Asisi, di mana saat Fransiskus menanggalkan semua busana bapanya, lalu ia dirangkul oleh uskup Guido dengan jubah kebesarannya sebagai uskup. Dengan itu Fransiskus berada di bawah tahta suci. Tidak bisa direbut oleh Sabatier dan Renan. Direbut dalam rangka untuk dijadikan protestan.
Di sini saya tiba-tiba teringat akan peristiwa di awal-awal kematian Fransiskus. Ada beberapa buku sumber riwayat hidup yang menceritakan bahwa jenazah Fransiskus pernah jadi rebutan antar kota agar dikuburkan di kota mereka. Tetapi akhirnya, Asisi, kota kelahirannya yang menang, dan ia memang lahir di sana, meninggal di sana, dan dimakamkan di sana, tetap dalam dekapan tahta suci, dalam dan melalui contoh teladan ketaatannya yang tidak terbantahkan kepada Roma, ROME SWEET HOME.
Saturday, May 9, 2020
ATG - IO FRATRE FRANCESCO
Oleh: Fransiskus Borgias
Tiga bulan pertama di Novisiat Papringan Yogyakarta, kami disibukkan dengan beberapa rangkaian acara persiapan perayaan Hari Raya Santo Fransiskus dari Asisi, tanggal 4 Oktober. Biasanya dirayakan sejak tanggal 2 Oktober dan ditandai dengan beberapa acara dan kegiatan. Ada Perayaan Ekaristi bersama, ada ceramah, ada beberapa kegiatan lain. Semua kegiatan itu tidak dilakukan di Papringan, melainkan di komunitas suster-suster Fransiskanes Semarang di Senopati, Yogyakarta. Memang di Yogyakarta ada kerjasama antar keluarga-keluarga fransiskan dan fransiskanes se Yogyakarta, yang disingkat Kanesta.
Dari semua kegiatan itu saya ingat akan satu hari puncak yaitu 3 Oktober 1982. Pada hari itu semua anggota berkumpul di biara osf Senopati sebab hari itu ada acara yang sangat special. Pater CG akan menyampaikan ceramah. Itu merupakan salah satu inti dari kegiatan perayaan Bapa Serafik Fransiskus tahun itu. Bukan baru pertama kali saya mendengarkan ceramah. Beberapa kali di seminari Kisol dulu, kami mendengarkan ceramah dari beberapa narasumber.
Tetapi sekarang, bagi saya ceramah ini menjadi sangat istimewa karena yang akan menjadi narasumbernya ialah Pater Dr.Cletus Groenen OFM. Sudah beberapa kali saya mengikuti mata pelajarannya tentang pengantar ke dalam kitab suci di novisiat. Sudah beberapa kali saya mendengar dia berkotbah, baik dalam misa di biara, maupun misa di biara Santa Klara di Mrican (beliau mendapat tugas khusus untuk merayakan ekaristi di sana). Juga sudah mendengar suara dia di kamarnya. Tetapi saya belum pernah mendengar dia di panggung meja narasumber berceramah. Karena itu, menjelang awal Oktober saya diliputi rasa penasaran untuk mendengarkan beliau, yang saya kenal lewat tulisan-tulisannya di Rohani, di Perantau, di Orientasi. Saat itu saya belum tahu apa judul ceramah beliau. Yang menjadi moderator dalam acara itu ialah Pater Alex Lanur OFM, magister novis. Wow. Magister kami menjadi manager yang mengatur lalulintas ceramah itu.
Pada hari H, acara dimulai pada pagi hari dengan acara pokok ceramah pater CG. Pada saat itulah, ketika saya masuk ke ruang ceramah, tentu dengan jubah hitam, saya bersiap-siap mendengarkan pater CG berbicara. Dengan suara yang rada cempreng dan sengau, ia membacakan judul ceramahnya, Io Fratre Francesco, Aku saudara Fransiskus. Judul ceramah itu, juga dijelaskan saat itu, diambil dari judul buku Carlo Carretto, anggota sebuah kongregasi yang nama kongregasinya mirip-mirip dengan ordo fransiskan. Serikat itu didirikan oleh Charles de Foucauld (1858-1916; bukan Mitchel Foulcault). Nama serikatnya Petit Frere de Jesu yang artinya Saudara-saudara Kecil (Dina) dari Yesus. Carlo Carretto adalah anggota serikat yang didirikan oleh Charles de Foucauld tadi. Carlo Carretto ini sangat terkenal di seluruh dunia sebagai penulis rohani yang beken, kondang dan mempunyai daya pengaruh transformative yang sangat kuat.
Carlo Carreto sudah menulis banyak buku. Akhir tahun 1979 atau mungkin tahun 1980 ia menerbitkan buku dengan judul Io Fratre Francesco (Italia). Ternyata buku itu menjadi best-seller sehingga dalam waktu sangat singkat, di akhir tahun 1980, muncul terjemahan ke Inggris, I Francis. Beberapa tahun kemudian muncul terjemahan ke dalam Bahasa Jerman, Ich Franziscus. Saya hanya bisa menelusuri kedua versi terjemahan itu. Buku international-best-seller itulah yang dipakai Pater CG sebagai bahan dasar ceramahnya ini.
Apa kekuatan buku ini? Kekuatan buku ini ialah bahwa Carretto seakan-akan mampu masuk ke dalam diri Fransiskus dari abad ketigabelas itu, dan dalam diri Carretto yang sudah masuk ke dalam diri Fransiskus itulah, Fransiskus masa silam itu, tampil lagi pada masa kini dan menyapa manusia masa kini dengan pelbagai persoalan dan tantangan hidupnya yang nyata sekarang dan di sini. Saya merasa Carretto sangat berhasil memainkan peranan itu, kira-kira seperti peranan dari si pengarang kitab Pengkotbah yang konon secara imajinatif masuk ke dalam salah satu tokoh wisdom Perjanjian Lama, yaitu Salomo. Itulah kunci keberhasilan buku Carretto itu.
Sekarang pater CG. Pater CG hari itu, saya melihat, ia tidak hanya berhasil masuk ke dalam diri Carlo Carretto (pengarang buku), melainkan, bersama Carretto ia masuk ke dalam Fransiskus dan Fransiskus itulah yang tampil berbicara kepada para pendengarnya hari itu. Hanya sejauh yang saya ingat, Pater Cletus menampilkan gaya ceramahnya seperti sebuah surat personal dari Fransiskus yang menyapa, mengeritik, mengecam, para pendengarnya. Terkadang pater CG terdengar seperti sedang menangis tatkala menyampaikan apa yang ia lihat dan ia rasakan di dalam perkembangan yang terjadi dan dihayati oleh anak-anaknya. Saya masih ingat dengan sangat baik, ada bagian dari surat itu di mana Fransiskus seperti tidak mengenal lagi anak-anaknya yang hidup dalam dunia modern dewasa ini, karena perkembangan dan mungkin penyimpangan yang begitu jauh dari apa yang ia cita-citakan dulu.
Dan saat membacakan hal itu, dan ini serius, saya mendengar Pater CG seperti menangis, eh tidak, memang ia menangis tersedu-sedu. Saya merasa hari itu, semua orang dalam ruangan itu menangis, seakan-akan sedang mendengar Fransiskus sendiri berbicara dari hatinya. Memang Carretto menampilkan Fransiskus sedang berbicara dari hatinya dan menumpahkan isi hatinya kepada anak-anaknya dalam dunia modern dewasa ini.
Saat itu saya sempat tertegun, kok bisa ya Pater CG bisa menyuarakan hal itu dengan sangat personal dan sangat menyentuh perasaan. Saya benar-benar kagum padanya. Oh ya, saya juga tidak lupa memperhatikan, bahwa Pater Alex yang biasanya tampak tegar itu juga mengeluarkan saputangannya dari saku jubahnya walaupun seperti dengan rada sembunyi-sembunyi antara melap keringat dan di dahi dan melap butir-butir air mata. Ah saya melihat kedua pater itu menangis di sore hari itu.
Sejak itu saya berusaha mencari buku Carretto itu. Tetapi tidak menemukannya. Saya baru menemukannya pada tahun 1987 (lima tahun kemudian). Maka saya membacanya dari terjemahan Inggris, I Francis. Saya memutuskan untuk menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia. Dan berhasil. Dengan malu-malu saya mengantarkan naskah itu ke Kanisius. Hanya dalam seminggu saya mendapat tanggapan: mereka mau menerbitkan buku itu. Mereka mulai mengolahnya. Tiga bulan sesudah penantian itu, tiba-tiba saya mendapat kabar lagi bahwa Kanisius membatalkan niat itu karena ternyata Kanisius, ya saya juga, kalah cepat. Nusa Indah sudah naik cetak. Buku itu diterjemahkan oleh P.Herman Embuiru SVD. Dengan demikian ada tiga buku Carretto yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Ketiganya diterbitkan Nusa Indah.
Terima kasih pater CG karena telah mengenalkan saya kepada Fransiskus yang ditemukan kembali oleh Carlo Carretto dan pater CG menuntun anggota Kanesta untuk mengenal Bapa Serafik dengan lebih baik lagi secara kontekstual, sekarang dan di sini. Hari itu aku “melihat” Fransiskus.
Tiga bulan pertama di Novisiat Papringan Yogyakarta, kami disibukkan dengan beberapa rangkaian acara persiapan perayaan Hari Raya Santo Fransiskus dari Asisi, tanggal 4 Oktober. Biasanya dirayakan sejak tanggal 2 Oktober dan ditandai dengan beberapa acara dan kegiatan. Ada Perayaan Ekaristi bersama, ada ceramah, ada beberapa kegiatan lain. Semua kegiatan itu tidak dilakukan di Papringan, melainkan di komunitas suster-suster Fransiskanes Semarang di Senopati, Yogyakarta. Memang di Yogyakarta ada kerjasama antar keluarga-keluarga fransiskan dan fransiskanes se Yogyakarta, yang disingkat Kanesta.
Dari semua kegiatan itu saya ingat akan satu hari puncak yaitu 3 Oktober 1982. Pada hari itu semua anggota berkumpul di biara osf Senopati sebab hari itu ada acara yang sangat special. Pater CG akan menyampaikan ceramah. Itu merupakan salah satu inti dari kegiatan perayaan Bapa Serafik Fransiskus tahun itu. Bukan baru pertama kali saya mendengarkan ceramah. Beberapa kali di seminari Kisol dulu, kami mendengarkan ceramah dari beberapa narasumber.
Tetapi sekarang, bagi saya ceramah ini menjadi sangat istimewa karena yang akan menjadi narasumbernya ialah Pater Dr.Cletus Groenen OFM. Sudah beberapa kali saya mengikuti mata pelajarannya tentang pengantar ke dalam kitab suci di novisiat. Sudah beberapa kali saya mendengar dia berkotbah, baik dalam misa di biara, maupun misa di biara Santa Klara di Mrican (beliau mendapat tugas khusus untuk merayakan ekaristi di sana). Juga sudah mendengar suara dia di kamarnya. Tetapi saya belum pernah mendengar dia di panggung meja narasumber berceramah. Karena itu, menjelang awal Oktober saya diliputi rasa penasaran untuk mendengarkan beliau, yang saya kenal lewat tulisan-tulisannya di Rohani, di Perantau, di Orientasi. Saat itu saya belum tahu apa judul ceramah beliau. Yang menjadi moderator dalam acara itu ialah Pater Alex Lanur OFM, magister novis. Wow. Magister kami menjadi manager yang mengatur lalulintas ceramah itu.
Pada hari H, acara dimulai pada pagi hari dengan acara pokok ceramah pater CG. Pada saat itulah, ketika saya masuk ke ruang ceramah, tentu dengan jubah hitam, saya bersiap-siap mendengarkan pater CG berbicara. Dengan suara yang rada cempreng dan sengau, ia membacakan judul ceramahnya, Io Fratre Francesco, Aku saudara Fransiskus. Judul ceramah itu, juga dijelaskan saat itu, diambil dari judul buku Carlo Carretto, anggota sebuah kongregasi yang nama kongregasinya mirip-mirip dengan ordo fransiskan. Serikat itu didirikan oleh Charles de Foucauld (1858-1916; bukan Mitchel Foulcault). Nama serikatnya Petit Frere de Jesu yang artinya Saudara-saudara Kecil (Dina) dari Yesus. Carlo Carretto adalah anggota serikat yang didirikan oleh Charles de Foucauld tadi. Carlo Carretto ini sangat terkenal di seluruh dunia sebagai penulis rohani yang beken, kondang dan mempunyai daya pengaruh transformative yang sangat kuat.
Carlo Carreto sudah menulis banyak buku. Akhir tahun 1979 atau mungkin tahun 1980 ia menerbitkan buku dengan judul Io Fratre Francesco (Italia). Ternyata buku itu menjadi best-seller sehingga dalam waktu sangat singkat, di akhir tahun 1980, muncul terjemahan ke Inggris, I Francis. Beberapa tahun kemudian muncul terjemahan ke dalam Bahasa Jerman, Ich Franziscus. Saya hanya bisa menelusuri kedua versi terjemahan itu. Buku international-best-seller itulah yang dipakai Pater CG sebagai bahan dasar ceramahnya ini.
Apa kekuatan buku ini? Kekuatan buku ini ialah bahwa Carretto seakan-akan mampu masuk ke dalam diri Fransiskus dari abad ketigabelas itu, dan dalam diri Carretto yang sudah masuk ke dalam diri Fransiskus itulah, Fransiskus masa silam itu, tampil lagi pada masa kini dan menyapa manusia masa kini dengan pelbagai persoalan dan tantangan hidupnya yang nyata sekarang dan di sini. Saya merasa Carretto sangat berhasil memainkan peranan itu, kira-kira seperti peranan dari si pengarang kitab Pengkotbah yang konon secara imajinatif masuk ke dalam salah satu tokoh wisdom Perjanjian Lama, yaitu Salomo. Itulah kunci keberhasilan buku Carretto itu.
Sekarang pater CG. Pater CG hari itu, saya melihat, ia tidak hanya berhasil masuk ke dalam diri Carlo Carretto (pengarang buku), melainkan, bersama Carretto ia masuk ke dalam Fransiskus dan Fransiskus itulah yang tampil berbicara kepada para pendengarnya hari itu. Hanya sejauh yang saya ingat, Pater Cletus menampilkan gaya ceramahnya seperti sebuah surat personal dari Fransiskus yang menyapa, mengeritik, mengecam, para pendengarnya. Terkadang pater CG terdengar seperti sedang menangis tatkala menyampaikan apa yang ia lihat dan ia rasakan di dalam perkembangan yang terjadi dan dihayati oleh anak-anaknya. Saya masih ingat dengan sangat baik, ada bagian dari surat itu di mana Fransiskus seperti tidak mengenal lagi anak-anaknya yang hidup dalam dunia modern dewasa ini, karena perkembangan dan mungkin penyimpangan yang begitu jauh dari apa yang ia cita-citakan dulu.
Dan saat membacakan hal itu, dan ini serius, saya mendengar Pater CG seperti menangis, eh tidak, memang ia menangis tersedu-sedu. Saya merasa hari itu, semua orang dalam ruangan itu menangis, seakan-akan sedang mendengar Fransiskus sendiri berbicara dari hatinya. Memang Carretto menampilkan Fransiskus sedang berbicara dari hatinya dan menumpahkan isi hatinya kepada anak-anaknya dalam dunia modern dewasa ini.
Saat itu saya sempat tertegun, kok bisa ya Pater CG bisa menyuarakan hal itu dengan sangat personal dan sangat menyentuh perasaan. Saya benar-benar kagum padanya. Oh ya, saya juga tidak lupa memperhatikan, bahwa Pater Alex yang biasanya tampak tegar itu juga mengeluarkan saputangannya dari saku jubahnya walaupun seperti dengan rada sembunyi-sembunyi antara melap keringat dan di dahi dan melap butir-butir air mata. Ah saya melihat kedua pater itu menangis di sore hari itu.
Sejak itu saya berusaha mencari buku Carretto itu. Tetapi tidak menemukannya. Saya baru menemukannya pada tahun 1987 (lima tahun kemudian). Maka saya membacanya dari terjemahan Inggris, I Francis. Saya memutuskan untuk menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia. Dan berhasil. Dengan malu-malu saya mengantarkan naskah itu ke Kanisius. Hanya dalam seminggu saya mendapat tanggapan: mereka mau menerbitkan buku itu. Mereka mulai mengolahnya. Tiga bulan sesudah penantian itu, tiba-tiba saya mendapat kabar lagi bahwa Kanisius membatalkan niat itu karena ternyata Kanisius, ya saya juga, kalah cepat. Nusa Indah sudah naik cetak. Buku itu diterjemahkan oleh P.Herman Embuiru SVD. Dengan demikian ada tiga buku Carretto yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Ketiganya diterbitkan Nusa Indah.
Terima kasih pater CG karena telah mengenalkan saya kepada Fransiskus yang ditemukan kembali oleh Carlo Carretto dan pater CG menuntun anggota Kanesta untuk mengenal Bapa Serafik dengan lebih baik lagi secara kontekstual, sekarang dan di sini. Hari itu aku “melihat” Fransiskus.
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...