Saturday, May 9, 2020

ATG - IO FRATRE FRANCESCO

Oleh: Fransiskus Borgias



Tiga bulan pertama di Novisiat Papringan Yogyakarta, kami disibukkan dengan beberapa rangkaian acara persiapan perayaan Hari Raya Santo Fransiskus dari Asisi, tanggal 4 Oktober. Biasanya dirayakan sejak tanggal 2 Oktober dan ditandai dengan beberapa acara dan kegiatan. Ada Perayaan Ekaristi bersama, ada ceramah, ada beberapa kegiatan lain. Semua kegiatan itu tidak dilakukan di Papringan, melainkan di komunitas suster-suster Fransiskanes Semarang di Senopati, Yogyakarta. Memang di Yogyakarta ada kerjasama antar keluarga-keluarga fransiskan dan fransiskanes se Yogyakarta, yang disingkat Kanesta.

Dari semua kegiatan itu saya ingat akan satu hari puncak yaitu 3 Oktober 1982. Pada hari itu semua anggota berkumpul di biara osf Senopati sebab hari itu ada acara yang sangat special. Pater CG akan menyampaikan ceramah. Itu merupakan salah satu inti dari kegiatan perayaan Bapa Serafik Fransiskus tahun itu. Bukan baru pertama kali saya mendengarkan ceramah. Beberapa kali di seminari Kisol dulu, kami mendengarkan ceramah dari beberapa narasumber.

Tetapi sekarang, bagi saya ceramah ini menjadi sangat istimewa karena yang akan menjadi narasumbernya ialah Pater Dr.Cletus Groenen OFM. Sudah beberapa kali saya mengikuti mata pelajarannya tentang pengantar ke dalam kitab suci di novisiat. Sudah beberapa kali saya mendengar dia berkotbah, baik dalam misa di biara, maupun misa di biara Santa Klara di Mrican (beliau mendapat tugas khusus untuk merayakan ekaristi di sana). Juga sudah mendengar suara dia di kamarnya. Tetapi saya belum pernah mendengar dia di panggung meja narasumber berceramah. Karena itu, menjelang awal Oktober saya diliputi rasa penasaran untuk mendengarkan beliau, yang saya kenal lewat tulisan-tulisannya di Rohani, di Perantau, di Orientasi. Saat itu saya belum tahu apa judul ceramah beliau. Yang menjadi moderator dalam acara itu ialah Pater Alex Lanur OFM, magister novis. Wow. Magister kami menjadi manager yang mengatur lalulintas ceramah itu.

Pada hari H, acara dimulai pada pagi hari dengan acara pokok ceramah pater CG. Pada saat itulah, ketika saya masuk ke ruang ceramah, tentu dengan jubah hitam, saya bersiap-siap mendengarkan pater CG berbicara. Dengan suara yang rada cempreng dan sengau, ia membacakan judul ceramahnya, Io Fratre Francesco, Aku saudara Fransiskus. Judul ceramah itu, juga dijelaskan saat itu, diambil dari judul buku Carlo Carretto, anggota sebuah kongregasi yang nama kongregasinya mirip-mirip dengan ordo fransiskan. Serikat itu didirikan oleh Charles de Foucauld (1858-1916; bukan Mitchel Foulcault). Nama serikatnya Petit Frere de Jesu yang artinya Saudara-saudara Kecil (Dina) dari Yesus. Carlo Carretto adalah anggota serikat yang didirikan oleh Charles de Foucauld tadi. Carlo Carretto ini sangat terkenal di seluruh dunia sebagai penulis rohani yang beken, kondang dan mempunyai daya pengaruh transformative yang sangat kuat.

Carlo Carreto sudah menulis banyak buku. Akhir tahun 1979 atau mungkin tahun 1980 ia menerbitkan buku dengan judul Io Fratre Francesco (Italia). Ternyata buku itu menjadi best-seller sehingga dalam waktu sangat singkat, di akhir tahun 1980, muncul terjemahan ke Inggris, I Francis. Beberapa tahun kemudian muncul terjemahan ke dalam Bahasa Jerman, Ich Franziscus. Saya hanya bisa menelusuri kedua versi terjemahan itu. Buku international-best-seller itulah yang dipakai Pater CG sebagai bahan dasar ceramahnya ini.

Apa kekuatan buku ini? Kekuatan buku ini ialah bahwa Carretto seakan-akan mampu masuk ke dalam diri Fransiskus dari abad ketigabelas itu, dan dalam diri Carretto yang sudah masuk ke dalam diri Fransiskus itulah, Fransiskus masa silam itu, tampil lagi pada masa kini dan menyapa manusia masa kini dengan pelbagai persoalan dan tantangan hidupnya yang nyata sekarang dan di sini. Saya merasa Carretto sangat berhasil memainkan peranan itu, kira-kira seperti peranan dari si pengarang kitab Pengkotbah yang konon secara imajinatif masuk ke dalam salah satu tokoh wisdom Perjanjian Lama, yaitu Salomo. Itulah kunci keberhasilan buku Carretto itu.

Sekarang pater CG. Pater CG hari itu, saya melihat, ia tidak hanya berhasil masuk ke dalam diri Carlo Carretto (pengarang buku), melainkan, bersama Carretto ia masuk ke dalam Fransiskus dan Fransiskus itulah yang tampil berbicara kepada para pendengarnya hari itu. Hanya sejauh yang saya ingat, Pater Cletus menampilkan gaya ceramahnya seperti sebuah surat personal dari Fransiskus yang menyapa, mengeritik, mengecam, para pendengarnya. Terkadang pater CG terdengar seperti sedang menangis tatkala menyampaikan apa yang ia lihat dan ia rasakan di dalam perkembangan yang terjadi dan dihayati oleh anak-anaknya. Saya masih ingat dengan sangat baik, ada bagian dari surat itu di mana Fransiskus seperti tidak mengenal lagi anak-anaknya yang hidup dalam dunia modern dewasa ini, karena perkembangan dan mungkin penyimpangan yang begitu jauh dari apa yang ia cita-citakan dulu.

Dan saat membacakan hal itu, dan ini serius, saya mendengar Pater CG seperti menangis, eh tidak, memang ia menangis tersedu-sedu. Saya merasa hari itu, semua orang dalam ruangan itu menangis, seakan-akan sedang mendengar Fransiskus sendiri berbicara dari hatinya. Memang Carretto menampilkan Fransiskus sedang berbicara dari hatinya dan menumpahkan isi hatinya kepada anak-anaknya dalam dunia modern dewasa ini.

Saat itu saya sempat tertegun, kok bisa ya Pater CG bisa menyuarakan hal itu dengan sangat personal dan sangat menyentuh perasaan. Saya benar-benar kagum padanya. Oh ya, saya juga tidak lupa memperhatikan, bahwa Pater Alex yang biasanya tampak tegar itu juga mengeluarkan saputangannya dari saku jubahnya walaupun seperti dengan rada sembunyi-sembunyi antara melap keringat dan di dahi dan melap butir-butir air mata. Ah saya melihat kedua pater itu menangis di sore hari itu.

Sejak itu saya berusaha mencari buku Carretto itu. Tetapi tidak menemukannya. Saya baru menemukannya pada tahun 1987 (lima tahun kemudian). Maka saya membacanya dari terjemahan Inggris, I Francis. Saya memutuskan untuk menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia. Dan berhasil. Dengan malu-malu saya mengantarkan naskah itu ke Kanisius. Hanya dalam seminggu saya mendapat tanggapan: mereka mau menerbitkan buku itu. Mereka mulai mengolahnya. Tiga bulan sesudah penantian itu, tiba-tiba saya mendapat kabar lagi bahwa Kanisius membatalkan niat itu karena ternyata Kanisius, ya saya juga, kalah cepat. Nusa Indah sudah naik cetak. Buku itu diterjemahkan oleh P.Herman Embuiru SVD. Dengan demikian ada tiga buku Carretto yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Ketiganya diterbitkan Nusa Indah.

Terima kasih pater CG karena telah mengenalkan saya kepada Fransiskus yang ditemukan kembali oleh Carlo Carretto dan pater CG menuntun anggota Kanesta untuk mengenal Bapa Serafik dengan lebih baik lagi secara kontekstual, sekarang dan di sini. Hari itu aku “melihat” Fransiskus.

2 comments:

Cupertinho said...

Trims Bapa. Semoga Fransiskan makin hari makin menjadi Dina agar bisa bersaudara dengan siapaun dan apapun. Doakan, nasihati terus melalui tulisan2. Trims Bapa. Gbu

canticumsolis said...

Sama-sama ya....
terima kasih juga sudah sudi mampir di sini...
membaca dan memberi komentar....
mari kita saling mendoakan terus menerus...
walaupun di sini namamu tidak ada... hehehehe....
salam damai... pace e bene...

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...