Monday, May 11, 2020

ATG – FRATER JATUH CINTA?

Oleh: Fransiskus Borgias
Dosen dan Peneliti Fakultas Filsafat UNPAR Bandung



Kemeriahan pesta bapa Fransiskus sudah berlalu. Saya selalu mempunyai rasa sepi yang amat mengganggu, yang datang menghinggap ketika baru saja sebuah pesta kemeriahan terjadi. Rasa sepi itu terasa seperti menggigit hati dari dalam. Beberapa kali saya hampir tidak bisa mengatasinya. Tetapi akhirnya saya bisa mengatasinya dengan cara menulis dan menggambar di buku harian saya. Membunuh sepi dengan menulis dan menggambar.

Sekarang rasa sepi itu datang lagi. Pesta Bapa Serafik telah menyedot seluruh perhatian kami. Ada makanan. Ada sukacita. Ada persaudaraan-persaudarian. Luar biasa. Saat itu semua usai, lalu ada sepi. Benar-benar seperti mencengkeram dalam hati. Tiba-tiba saya sadar bahwa rasa sepi kali ini tercampur dengan suatu perasaan aneh. Saya tertarik kepada seorang suster. Saya tidak usah menyebut namanya, maupun kongregasinya. Senang melihatnya. Entahlah kalau berada di dekatnya. Tetapi saya hanya bisa sampai di greget dalam hati. Tidak ada langkah lanjut. Dalam beberapa kasus seperti itu saya memutuskan untuk menjadi the silent admirer saja. Entah kenapa, saya merasa bahwa saya tidak boleh membiarkan diri terhanyut dalam rasa itu. Tetapi mengapa? Apakah itu salah? Apakah itu dosa? Hati kecilku memberontak. Ah tidak mungkin cinta, rasa cinta, jatuh cinta itu dosa. Lalu bagaimana? Untuk apa rasa seperti itu muncul dalam hati saya? Hidup rasanya akan jauh lebih mudah kalau rasa itu tidak pernah mampir. Tetapi ia termasuk kategori tamu yang tidak diundang, tetapi nekad datang. Datangnya lagi seperti bikin lobang dan sayangnya lobang itu seperti dibiarkannya terbuka tanpa diberinya obat pembunuh rasa.

Aneh sekali. Saya takut jatuh cinta. Oh bukan. Bukan takut jatuh cinta. Hanya takut mengaku cinta. Takut menyatakan cinta. Tetapi apakah memang frater harus jatuh cinta? Apakah frater harus menyatakan cinta? Mungkin saja harus dan boleh. Tetapi saya membayangkan sakitnya kalau ternyata tidak diterima, kalau disambut dengan dingin. Rasa jatuh cinta yang ditahan-tahan itu saja sudah sakit. Akan lebih sakit lagi kalau sesudah ditahan-tahan lalu dicoba dikumpulkan tenaga untuk dinyatakan, eh ternyata ditertawakan. Ah bukankah lebih baik didiamkan saja dalam hati. Menjadi sebuah cinta Platonik, cinta dalam diam, cinta dalam hening. Hemmmm….

Apakah Fransiskus dulu begitu juga dengan Klara? Atau sebaliknya, apakah Klara juga begitu dulu terhadap Fransiskus? Sutradara Franco Zefirelli, dalam film BROTHER SUN SISTER MOON, seperti memberi sinyal ada tanda-tanda seperti itu. Entah sudah berapa kali saya nonton film itu, saya selalu terpesona dan bertanya-tanya, apa yang ada dalam hati Klara dan Fransiskus tatkala mereka berlari slowmotion di padang untuk mendekat satu sama lain? Walaupun hanya sekilas, begitu bertemu, saya bisa melihat sedikit pancaran visio beatifica itu di sudut mata Klara dan mata Fransiskus. Benar-benar “bintang film,” mereka yang memerankan itu. Bahasa hati yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata mampu diungkapkan dengan Bahasa gambar, Bahasa film, dan itu pasti atas arahan sutradara, dan pasti dilatar-belakangi oleh pandangan tertentu yang dianutnya. Mungkin Zefirrelli menganut pandangan bahwa dua anak muda itu yang jarak umurnya kira-kira 9-10 tahun, bisa saja pernah jatuh cinta. Siapa tahu. Hanya Fransiskus dan Clara dan Tuhan yang tahu.

Anehnya, bukan baru kali ini saya mengalami gelora rasa seperti ini. Pada masa postulant saya mengalaminya. Tetapi ia seperti berlalu bersama berlalunya waktu. Hemmmm…. Mungkin waktu yang berlalu adalah obat paling mujarab bagi hati yang luka, hati yang lara karena jatuh cinta. Ah memang istilahnya juga dramatis-tragis, fall in love, jatuh cinta. Mengapa tidak bangun cinta? Kalau bangun cinta barangkali tidak sakit kalau tidak jadi. Hemmm… Tiba-tiba saya sadar bahwa harus jatuh dulu baru bangun. Harus jatuh cinta dulu sesudah itu bangun cinta. Tidak bisa langsung bangun cinta kalau tidak terlebih dahulu jatuh cinta. Ahhhh… Mengapa harus sedramatis itu? Mengapa pula frater, yang mau jadi imam harus merepotkan diri dengan hal itu semua?

Dulu waktu di postulant saya punya bapa rohani di seminari menengah. Dalam keadaan bingung karena fall in love itu saya tulis surat kepadanya. “Pater, apakah saya salah kalau jatuh cinta?” Dengan berdebar-debar saya menunggu jawaban beliau. Sebulan, datanglah balasan pater. “Frans, pertama-tama, kau harus tahu dulu, bahwa cinta dan jatuh cinta itu tidak ada yang salah. Kalau ada pihak yang harus disalahkan karena jatuh cinta, maka pihak itu ialah Tuhan sendiri. Karena Tuhanlah yang menggerakkan cinta itu. Jadi, tenang saja. Jangan sampai kamu menjadi lumpuh rasa karena hal itu.” Saya membalas, “Terima kasih pater.” Dengan modal jawaban itu, saya menjadi tidak terlalu tersiksa oleh perasaan yang bergolak itu yang celakanya tidak bisa saya tolak.

Saya kira dengan berlalunya masa postulant, maka saya tidak akan mengalami lagi pengalaman-pengalaman seperti itu, yang sayangnya tidak pernah saya alami di seminari kecil dan menengah, karena di seminari kami semuanya dunia laki-laki. Ternyata hal itu tidak bisa hilang. Ia seperti melekat entah di bagian mana di dalam relung hati saya.

Dalam keadaan bingung, awal November 1982, saya memberanikan diri untuk mendatangi kamar pater CG. Begitu masuk, ia tidak menoleh kepada saya. Ia juga tidak menyuruh saya duduk. Saya berdiri saja. Kemudian ia berkata, “Duduk. Kamu mau bicara apa lagi?” Ia ucapkan pertanyaan itu tanpa menoleh ke saya. Matanya tetap menukik ke sebuah buku tebal yang terbuka. Dia pasti sedang sibuk membaca. “Pater, mungkin saya jatuh cinta.” Begitu saya omong begitu, ia terbahak-bahak dan menoleh kepada saya. Dia sama sekali tidak tanya, kamu jatuh cinta dengan siapa? Mengapa kamu jatuh cinta? Apakah kamu sudah menyatakannya? Dia tidak tanyakan itu. Melainkan dia langsung memberi pendapat. Yang menarik ialah, seakan-akan dia tahu, entah dari mana, entah bagaimana, saya sedang jatuh cinta dengan suster, sehingga ia lalu berkata dengan suaranya yang sengau dan cempreng: “Frans, hati-hati dengan jubah-jubah putih bersih itu. Itu semua betina-betina di dalamnya. Dan kamu sendiri juga, kamu berjubah tetapi di dalamnya tetap ada jantan.” Lalu ia diam lagi. “Tidak ada cara lain, kamu harus mengambil jarak. Cari banyak kesibukan. Banyaklah berdoa. Banyaklah membaca dan menulis. Hanya dengan itu kamu akan sembuh dari sebuah luka karena drama jatuh cinta. Waktu yang berlalu akan mengobati hatimu. Hanya itu.”

Saya pulang. Tetap bingung. Tetapi berusaha menjalankan hal yang ia nasihatkan. Tetapi itu hanya pengalihan. Hanya sublimasi. Berusaha melupakan. Tetapi ia tetap ada. Di sana. Mungkin sedang memelihara sebuah luka yang sesewaktu bisa terbuka di satu kala.

5 comments:

canticumsolis said...

Dibandingkan dengan cerita yang kemarin, cerita saya hari ini jauh lebih menarik. dan sudah dilihat oleh banyak orang. bahkan melampaui capaian cerita-cerita yang kemarin. tetapi sayangnya belum ada satu pun pembaca yang mampir memberi catatan atau komentar... hahahaha...

Unknown said...

Interesting...yg bergulat dlm pikiran sya setelah membaca tulisan ini adalah sepakat Jatuh ccinta bgi frater atau imam adalah sngat wajar normal. Dibalik jubah putih ada jantan didlmnya. Frater pasti jatuh cinta. Tetapi sepertinya Ia mesti jatuh cinta pada Yesus?samakah kualitasjatuh cinta pd yesus dan pda lawan jenis?

Sebastian said...

Kisahnya bsa jadi script sinetron berseri e...kraeng tua...Mantap..mengingatkan saya akan apa yg pernah diungkapkan Henry Bergson bahwa perasaan jatuh cinta sbg sebuah hakikat dalam diri merupakan elan vital yg menggairahkan hidup...so, nikmati fall in love sampai sepanjang hayatπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜

canticumsolis said...

Romo Anton SMM ysh...
terima kasih banyak sudah sudi mampir memberi comment di sini...
terima kasih juga atas dukungan mengenai satu dua pandangan saya di sana...
mengenai pertanyaan romo itu, tentu saja para frater itu harus jatuh cinta kepda Yesus... walaupun yang sering terjadi ialah tidak demikian... dalam kondisi seperti itu, tentu peran pembimbing rohani menjadi sangat penting...
tabe ga...

canticumsolis said...

Ase Sebastian ysh...
terima kasih banyak sudah sudi mampir komentar di sini...
terima kasih juga atas apresiasinya...
terutama sekali terima kasih banyak atas perspektf Bergsonian itu tentang jatuh cinta sebagai elan vital bagi hidp manusia... wow... keren... dan memang benar seperti itu... elan vital... hehehehehe....

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...