Oleh: Fransiskus Borgias
Kemarin brader Hortensius Mandaru menampilkan sebuah puisi mahaterkenal dari Chairil Anwar, Penyair angkatan 30an (persisnya angkatan 33 sesuai dengan tahun terbitnya buku Siti Nurbaya yang dianggap sebagai tonggak pembatas dengan periodisasi sebelumnya yaitu angkatan 20). Puisi itu sangat terkenal karena sifatnya yang paradoksal. Dalam tulisan ini sesungguhnya saya hanya mau berusaha melukiskan dan membuktikan sifat paradoks dari puisi tersebut. Tetapi sebelum itu, ijinkan saya tambahkan juga sebuah keterangan singkat historis, yang juga sudah disinggung brader Tensi kemarin, bahwa puisi ini dulu terkenal sekali di Seminari Pius XII Kisol, karena hampir setiap tahun pada Hari Jumat Agung, puisi ini dibacakan. Kiranya puisi ini juga sangat berkesan bagi brader Yosef Hambur yang di angkatan kelas kami merupakan seorang deklamator handal dan terkenal dengan suara bassnya yang sangat berwibawa dan menggentarkan, yang membuat baris-baris puisi itu seperti menjadi sangat hidup dan meloncat-loncat keluar dari bibir-bibirnya, alat tuturnya yang luar biasa.
Sekarang saya mau masuk ke dalam sifat paradoksal dari puisi itu. Pertama, puisi itu adalah tentang Isa, yang menurut klaim orang Muslim adalah nama lain dari Yesus, Yesus menurut versi Islam, walaupun klaim itu belum tentu benar, sebab mungkin saja Isa itu berbeda dengan Yesus, sebab Yesus adalah anak Maria, sedangkan Isa adalah anak Mariam yang adalah saudari Musa. Oke-lah. Saya tidak mau mempersoalkan hal itu lebih lanjut di sini. Kita terima saja bahwa Isa yang dimaksudkan Chairil Anwar adalah sama dengan Yesus Kristus, apalagi Chairil mempersembahkan puisinya itu kepada orang Kristen, sebagaimana ia katakan di awal puisinya, Kepada Nasrani Sedjati. Oh ya, Nasrani adalah sebutan versi Al Quran untuk orang-orang Kristiani. Chairil Anwar, yang adalah seorang muslim (penganut Islam) menulis puisi tentang Yesus yang ditujukan kepada orang-orang Kristiani yang sejati (hemmm.... berarti ada yang tidak sejati, Kristiani yang gadungan, istilah yang sangat disukai oleh pater Cletus Groenen OFM).
Dalam terminologi teologi dialog agama-agama ala John S.Dunne, dalam bukunya The Way of All the Earth, Chairil Anwar melakukan aksi passing over, yaitu menyeberang, melintas batas, keluar dari zona nyaman religiusnya sendiri dan masuk ke dalam kandang religiositas Kristiani dan mencoba mengatakan sesuatu dari dalam kolam spiritualias itu untuk para penghuni kolam spiritualitas itu sendiri. Dan bagi saya itu sesuatu yang sangat luar biasa. Itu adalah sesuatu yang sangat berani. Dan hampir dapat dipastikan bahwa Chairil Anwar diperkaya oleh ziarahnya dalam aksi passing over itu dan terutama dalam upayanya membuat puisi tentang Isa. Hampir dapat dipastikan juga bahwa Chairil Anwar juga melakukan timbal balik dari aksi passing-over dalam teologi Dunne tadi, yaitu coming back. Biarpun Chairil Anwar menulis puisi tentang Isa untuk orang Kristen, toh ia tetap seorang penganut muslim yang taat. Setelah melakukan aksi passing over tadi, ia pasti coming back ke dalam samudera spiritualitasnya yang asli sebagai orang Islam. Yang jelas, setelah ia kembali lagi (coming back) dari perjalanan passing over itu, Chairil pasti mengalami semacam metanoia, semacam metamorphosis batiniah. Ia pasti menjadi seorang Islam yang "lain" karena pertautannya yang sangat dalam dengan Kristianitas itu sendiri.
Masih ada satu hal lain yang juga menjadi sangat misteri bagi saya, mengapa Chairil Anwar menulis tentang Isa ini. Dan inilah paradoks yang kedua, yaitu bahwa berbeda dengan teologi Islam (Quran), Chairil Anwar, dalam dan melalui puisi ini memperlihatkan suatu pandangan yang mendasar bahwa Isa itu sungguh-sungguh menderita di salib dan mati di salib. Ini adalah suatu yang tidak ada di dalam Quran. Ini adalah suatu yang disangkal di dalam Quran itu sendiri. Menurut Kristologi (ilmu tentang Kristus, dan bukan ilmu tentang orang Kristen sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang Islam) Quran, yang mati di salib itu bukan Yesus (Isa) melainkan orang yang diserupakan dengan Dia. Saya membayangkan bagaimana perjuangan batin si Chairil Anwar ketika menulis puisi ini. Sebab di satu pihak, sebagai orang Islam kiranya ia menganut paham Kristologi Quran (yang tidak mengakui bahwa Yesus menderita sengsara dan mati di salib), dan di pihak lain, toh ia sudah menulis puisi tentang Isa, yang melukiskan tragedi sengsara salib dan kematian itu secara sangat nyata dan gamblang. Bagi saya ini adalah suatu yang luar biasa. Juga masih merupakan misteri. Apa yang saya ungkapkan di sini adalah hipotesis saya saja. Belum tentu Chairil Anwar memang memaksudkannya demikian.
Tetapi begitulah kekayaan jarak atau distansi antara pengarang dan pembacanya pada masa kini. Distansi itu menciptakan ruang untuk membangun dan merekonstruksi makna. Proses distansiasi, istilah dari filsuf hermeneutik besar, Paul Ricoeur, menciptakan ruang dan peluang bagi munculnya tafsir dan pemahaman baru, juga eksplorasi baru. Itu yang saya lakukan sekarang dan di sini. Memaksimalisasi kesadaran akan adanya ruang yang tercipta oleh adanya jarak antara pengarang dan saya sebagai penafsir. Sebab menurut Ricoeur lagi, begitu sebuah karya sudah terbit, maka pengarangnya sudah mati, sudah terkubur di balik karyanya yang sejak terbit menjalani hidupnya sendiri, artinya ia bebas dibaca dan ditafsirkan para penafsir. Sia-sia kita mencari intentio auctoris, kata Ricoeur, karena teks itu selalu bersifat foreward, tidak bersifat backward, jadi teks itu sendiri mengantar kita untuk mencari apa yang dilontarkannya ke depan, foreward, dan tidak usah sibuk mencari ke belakangnya, ke belakang layar, backward.
Tetap tinggal sebuah pertanyaan misterius, mengapa Chairil Anwar melakukan Passing over itu? Apakah hanya sekadar mencari sensasi agar mendapat simpati dari para sastrawan dan kawannya yang Kristiani yang pada angkatan 33 itu memang ada juga yang berpengaruh seperti Johannes Engelbertus Tatengkeng itu. Saya kira tidak hanya sekadar mencari sensasi. Kalau bukan sensasi, lalu apa? Mengapa dan untuk apa Chairil menempuh risiko passing over itu? Setelah cukup lama saya mencari-cari penjelasan dari beberapa penafsir, misalnya dari orang seperti Goenawan Muhammad (tetapi saya lupa di mana ia menulis tentang hal itu, mungkin di salah satu caping dia yang terkenal itu), saya tidak atau lebih baik belum menemukan penafsiran ini. Oleh karena itu, saya mengklaim tafsir ini sebagai penemuan saya, paling tidak untuk sementara waktu sekarang ini.
Yang saya maksudkan ialah suatu penafsiran eksistensial. Menurut pembacaan historis-filosofis saya, Chairil menulis puisi tentang sengsara dan wafat Isa itu karena ia sangat gandrung akan filsafat eksistensialisme yang pada tahun 40an sampai tahun 60an masih merebak dan menjadi mode pemikiran filosofis di seluruh dunia. Terkait dengan nafas pengaruh filsafat eksistensialisme ini, tentu Chairil di Indonesia tidak sendirian. Ada orang seperti Sutan Takdir Alisyabana yang juga dipengaruhi oleh eksistensialisme, bahkan oleh sebuah wujud yang lebih radikal dari eksistensialisme itu dalam tradisi Katolik, yaitu oleh personalisme. STA juga sangat dipengaruhi oleh eksistensialsime Karl Jaspers. Selain STA, masih ada juga orang seperti Iwan Simatupang yang dalam beberapa novelnya yang nyentrik mencoba menggali dan menggambarkan filsafat eksistensialisme itu. Baca saja bukunya yang terkenal, Ziarah, yang oleh Dami N.Toda (sastrawan dari Manggarai, teman angkatan dari Prof.Alan saat di Seminari Kecil dan Menengah di Mataloko dulu, tetapi Toda, ke Ledalero, Prof.Allan ke Cicurug) dianggap sebagai tonggak eksistensialisme Iwan, walaupun saya tidak begitu setuju dengan hal itu, sebab saya lebih suka memilih novel yang lain sebagai tonggak, yaitu Merahnya Merah, sebuah judul yang aneh juga. Kita stopkan di sini ulasan mengenai eksistensialsime dan pengaruhnya ke Indonesia pada tahun 40an hingga 60an.
Lalu ada apa dengan eksistensialisme itu? Apa hubungan antara eksistensialisme itu dengan aksi passing over Chairil yang menghasilkan puisi Isa yang terkenal itu? Hubungannya ialah ini. Salah satu tema paling menarik perhatian para filsuf eksistensialis pada saat itu ialah misteri wajah penderitaan. Para filsuf eksistensialis, seperti Heidegger, Sartre, Camus, dll, berjuang memberi penjelasan dan pemahaman tentang misteri Penderitaan itu. Tetapi tetap saja misteri itu tidak terjelaskan. Dan salah satu contoh sejarah dari penderitaan tragis itu, atau dalam istilah teologis Schillebeeckx, MENDERITA BEGITU SAJA, (yang berbeda dari menderita demi, atau menderita karena), ialah penderitaan yang dialami oleh Yesus Kristus. Menderita bukan karena salahnya sendiri, menderita walaupun ia tidak tahu mengapa harus menderita (seperti drama tragis Ayub itu). Hampir di sepanjang sejarah seni dan sastra di dunia ini, terutama di Eropa, wajah derita Yesus itu memang mewakili secara hakiki inti dari filsafat eksistensialisme itu sendiri.
Nah, Chairil Anwar yang pada tahun 40an juga sangat gandrung akan filsafat eksistensialisme itu, pasti juga menangkap dan memahami bahwa derita Yesus adalah derita eksistensialis, derita yang bisa menggambarkan dengan sangat tepat intuisi dasar filsafat eksistensialisme itu. Dalam drama dan pengalaman penderitaan, manusia diperhadapkan dengan eksistensinya sendiri, berhadapan dengan momen di mana ia harus dan mau tidak mau memutuskan proses pemaknaan hidup itu sendiri. Chairil Anwar kiranya menangkap keterkaitan yang mendasar itu. Oleh karena itu, menurut saya, walaupun dia Islam, tetapi karena dalam wajah derita Yesus terpantul inti dari filsafat eksistensialisme, maka ia pun tidak segan-segan memakainya sebagai sumber ilham puisi eksistensialismenya, walaupun dengan risiko berbeda dan bahkan bertentangan dengan keyakinannya sendiri sebagai seorang muslim.
Untuk menutup catatan ini saya kutipkan lagi di sini puisi itu. Mari kita baca bersama-sama.
ISA
Chairil Anwar
Kepada Nasrani Sedjati
Itoe Toeboeh
mengoetjoer darah
mengoetjoer darah
roeboeh
patah
mendampar tanja: akoe salah?
koelihat Toeboeh mengoecoer darah
akoe berkatja dalam darah
terbajang terang dimata masa
bertoekar roepa ini segara
mengatoep loeka
akoe bersoeka
Itoe Toeboeh
mengoecoer darah
mengoecoer darah
12/11-1943
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Friday, April 10, 2020
JUMAT AGUNG YANG HENING
Oleh: Fransiskus Borgias
Dalam satu WAG yang saya ikuti, ada sebuah percakapan menarik tentang Hari Jumat Agung yang hening. Hening, artinya tidak ada suara apa pun yang mengganggu ketenangan alam. Yang ada paling-paling hanya suara alam seperti suara burung yang beterbangan di udara, suara ayam berkokok atau berkotek, suara anak ayam menciap, ataupun suara angin yang bertiup. Kalau orang berdiam di pinggir hutan bambu maka akan terdengar suara gemerisik dari daun dan batang bamboo. Atau kalau orang berdiam di dekat sungai, maka orang akan mendengar suara deru air mengalir. Hanya itu. Mungkin sesekali di udara terdengar suara pesawat terbang yang melintas di ketinggian. Mungkin juga sesekali terdengar bunyi oto yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan karena sekadar terbang dibawa angin.
Apa yang baru saja dilukiskan itu terasa seperti sebuah impian. Ah tidak. Itu sebuah kenyataan. Paling tidak, itu adalah kenyataan yang pernah saya alami dulu saat masih duduk di Sekolah Dasar Katolik di Lamba-Ketang. Pada saat itu, memang Jumat Agung kami lewatkan dalam suasana keheningan. Pernah beberapa tahun, pada hari Jumat Agung, pertandingan (sepak bola, dll) tetap diadakan. Tetapi kemudian, akhirnya diterima umum (setidaknya di Ketang), pertandingan hanya boleh pada hari Rabu, Kamis, dan Sabtu. Jumat Agung harus hening. Keheningan itu masih bisa saya ingat dan bahkan rasakan dalam memori masa kecil saya, yang entah kenapa masih terus tersimpan dan sekarang ini kembali muncul ke permukaan. Betapa kuatnya ingatan itu.
Sejak Hari Kamis pagi, sebelum pertandingan-pertandingan dimulai, ada ibadat Lamentasi, ibadat Ratapan. Ada lagu ratapan yang dibawakan oleh sekelompok penyanyi. Bahkan nyanyian itu sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Manggarai. Sepotong teks ayat ulangannya berbunyi sbb: Yerusalem, Yerusalem, kole ngger one agu Mori Keraeng de hau. (Lalu diselipi dengan beberapa huruf Ibrani yang relevan, seperti Alef, Beth, Ghimel, Daleth, He, Vav, Zain, Heth, Teth, Iof, Kaf, Lamed, Mem, Nun, Samech, dll). Bahkan bagian pengantar dari Lamentasi itu berbunyi sbb: Wangkan tilir, di Yeremias, propheta (kemudian kata propheta ini diterjemahkan menjadi, nabi nggeluk). Lalu sesudah itu ada pertandingan-pertandingan. Biasanya anak-anak SD yang ada dalam lingkup Paroki tersebut. Tetapi semua pertandingan dihentikan (berhenti) pada jam dua sore. Syukur kalau sebelumnya sudah selesai. Walau pernah terjadi, juga di Ketang, pertandingan sampai sore. Tetapi pastor marah karenanya. Sebab orang lalu keletihan dan tidak mau ke gereja lagi. Hahahahaha….. ata ngonde muing ba wekid ata situ e opa tuang Moma….
Lalu hari Jumat pagi, juga dimulai dengan ibadat lamentasi. Sesudah lamentasi biasanya dilanjutkan dengan ibadat jalan salib (yang memang biasanya dilakukan setiap hari Jumat selama masa Puasa itu). Tetapi tidak ada pertandingan. Orang-orang pada berdiam diri saja. Juga tidak ke kebun. Karena hari itu adalah hari libur. Barulah pada sore hari, tepatnya jam 3, dimulailah rangkaian ibadat Jumat Agung. Ibadat Lamentasi juga masih dilakukan pada hari Sabtu Pagi. Adapun inti dari ibadat Lamentasi itu ialah mengenang sengsara dan wafat Yesus. Peristiwa sengsara Yesus itu disimbolisasi dengan lilin yang dipasang pada sebuah kaki lilin yang dibuat berbentuk segitiga. Pada sisi yang satu ada enam lilin. Pada sisi yang lain ada enam lilin. Di puncak segitiga ada satu lilin (biasanya lebih besar ukurannya dari pada keduabelas lilin yang lain). Keenam lilin di kedua sisi segitiga itu melambangkan keduabelas murid Yesus. Lilin di puncak itu melambangkan tentu saja Yesus sendiri. Setiap sesudah beberapa ayat lagu lamentasi dinyanyikan, dua lilin dipadamkan, satu di kiri, satu di kanan. Mulai dari lilin yang paling bawah. Begitu terus, sampai akhirnya hanya tinggal satu lilin yaitu lilin yang ada di puncak segitiga itu. Itu adalah simbolisasi peristiwa di mana Yesus ditinggalkan oleh para muridNya, sampai Dia hanya sendirian saja menghadapi maut-Nya sendiri, bahkan di ketinggian salib, terangkat dari muka bumi. Begitulah kira-kira salah satu penjelasan yang pernah saya ketahui tentang ibadat yang penuh simbolisme itu.
Sekarang kembali ke suasana Jumat Agung yang hening itu. Apakah pengalaman masa kecil itu sudah tidak ada lagi di Manggarai? Mungkin di beberapa daerah pedalaman hal itu masih ada, masih bisa dirasakan, masih bisa dialami. Tetapi daerah perkotaan dan di daerah yang terletak di pinggir jalan, hal itu mungkin sudah susah dialami dan dirasakan. Sekarang sudah ada banyak sekali bunyi yang mengganggu. Yang paling kuat misalnya, suara motor, suara mobil yang lalu lalang. Dulu pada tahun 70an, suara-suara itu masih sangat langka. Sekarang sudah tidak terhindarkan lagi. Ditambah lagi suara manusia yang lalu lalang dengan pelbagai kegiatan mereka. Katakanlah itu semua adalah termasuk atau dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang alami, yang kiranya pada hari libur seperti pada hari Jumat Agung, mungkin bisa sangat diminimalisir.
Dalam pembicaraan di WAG yang saya singgung di atas tadi, ada beberapa teman yang menyinggung mengenai suara yang dihasilkan oleh pengeras suara pada hari Jumat terutama di kota-kota. Hemmm….. Menarik untuk membahas tentang hal itu. Dan saya mau melakukan hal itu di sini. Tetapi sebelum itu saya ke Bali dulu. Di Bali, sekali setahun ada perayaan Nyepi, di mana semua aktifitas dihentikan. Tidak ada pergerakan. Tidak ada suara. Tidak ada api. Tidak ada kerja. Orang hanya diam. Bahkan dunia internasional pun taat. Dunia penerbangan juga taat. Semua sudah mengatur jadwal mereka. Dan semua orang taat. Tidak ada yang mau melanggar. Tidak terkecuali, siapa pun anda, dan apa pun agama anda, apa pun jabatan atau pekerjaan anda, apapun status social dan ekonomi dan politik anda, semua orang taat dan paham, mengerti, simpati, empati. Di Bali hal itu bisa dilakukan, dengan mengemukakan ke-Hindu-an Balinya.
Bagaimana dengan di Manggarai atau di Flores pada umumnya? Bisakah hal semacam nyepi itu dilakukan? Sebuah praksis NYEPI Jumat Agung, walaupun tentu saja tidak usah disebut dengan sebutan itu. Hanya sekali setahun. Orang berdiam diri, termasuk pengeras suara masjid. Rasanya hal itu bisa dilakukan dan bisa diterima. Tentu orang sama sekali tidak dilarang berdoa. Bukan itu juga maksdunya. Tetapi tidak dengan pengeras suara. Hanya selama satu hari saja sepanjang Tahun, yaitu pada Hari Jumat Agung. Rasanya bisa. Bali bisa dengan mengedepankan ke-Bali-annya. Mengapa Manggarai, atau Flores tidak bisa dengan mengedepankan ke-Flores-annya.
Hanya mungkin jika hal itu akan diwujudkan, kiranya perlu diatur lagi dengan begitu ketat bahwa ketika orang-orang Katolik sudah menuntut hal itu, maka orang-orang Katolik sendiri juga harus memperlihatkan kesalehan dan ketaatan untuk melaksanakannya dengan tekun, taat dan khusyuk. Pelbagai praksis ibadat yang pernah ada dalam tradisi gereja untuk hari Jumat Agung bisa dihidupkan lagi. Misalnya, di pagi hari ada Lamentasi (yang dilaksanakan dengan meriah dan bersama-sama seluruh umat). Lalu sekitar jam 11-an dilanjutkan dengan upacara Jalan Salib bersama dan meriah juga. Dan Jam tiga sore, ditutup dengan rangkaian ibadat Jumat Agung, seperti perarakan Salib, peninggian Salib, Kisah Sengsara, Penyembahan Salib, Doa Umat Meriah (dengan tata cara yang memang meriah), dst.dst. Tentu diharapkan bahkan diwajibkan agar pada hari Jumat Agung ini, semua orang Katolik harus berpuasa dan berpantang sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh Gereja.
Mungkin akan ada yang bertanya: mangapa dan untuk apa hal itu dilakukan? Apakah ada dasar biblisnya? Dalam kisah sengsara (passio) injil Markus 15:33 (bdk. Luk 23:44-45a) dilukiskan demikian: “Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga.” Bagaimana persisnya keadaan itu dahulu tidak diketahui lagi. Tetapi saya membayangkan bahwa di sana dulu terjadi keheningan yang luar biasa karena matahari tidak lagi bersinar, seperti kata penginjil Lukas. Sebuah suasana keheningan yang dirasakan alam saat akan terjadi gerhana matahari seperti yang dulu pernah saya alami pada tahun 1983, saat gerhana matahari total melintas di atas Yogyakarta. Kiranya hal ini (deskripsi injil Markus dan Lukas tadi) bisa dijadikan sebagai dasar biblis dari praksis ini. Gereja dan orang-orang lain bersama-sama menghormati keheningan semesta itu pada hari Jumat Agung, dengan melakukan keheningan juga, membiarkan hanya suara alam yang bisa terdengar, mengiringi duka gereja, duka semesta karena Yesus bersengsara dan wafat dan dimakamkan. Jika hal ini terjadi (baca: bisa diwujudkan, bisa dilakukan), saya membayangkan hal ini bisa menjadi sebuah ikon pariwisata rohani kultural di Flores yang terpadu dengan baik dengan Semana Santa di Larantuka yang fenomenal itu.
Selamat berdiskusi.
Dalam satu WAG yang saya ikuti, ada sebuah percakapan menarik tentang Hari Jumat Agung yang hening. Hening, artinya tidak ada suara apa pun yang mengganggu ketenangan alam. Yang ada paling-paling hanya suara alam seperti suara burung yang beterbangan di udara, suara ayam berkokok atau berkotek, suara anak ayam menciap, ataupun suara angin yang bertiup. Kalau orang berdiam di pinggir hutan bambu maka akan terdengar suara gemerisik dari daun dan batang bamboo. Atau kalau orang berdiam di dekat sungai, maka orang akan mendengar suara deru air mengalir. Hanya itu. Mungkin sesekali di udara terdengar suara pesawat terbang yang melintas di ketinggian. Mungkin juga sesekali terdengar bunyi oto yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan karena sekadar terbang dibawa angin.
Apa yang baru saja dilukiskan itu terasa seperti sebuah impian. Ah tidak. Itu sebuah kenyataan. Paling tidak, itu adalah kenyataan yang pernah saya alami dulu saat masih duduk di Sekolah Dasar Katolik di Lamba-Ketang. Pada saat itu, memang Jumat Agung kami lewatkan dalam suasana keheningan. Pernah beberapa tahun, pada hari Jumat Agung, pertandingan (sepak bola, dll) tetap diadakan. Tetapi kemudian, akhirnya diterima umum (setidaknya di Ketang), pertandingan hanya boleh pada hari Rabu, Kamis, dan Sabtu. Jumat Agung harus hening. Keheningan itu masih bisa saya ingat dan bahkan rasakan dalam memori masa kecil saya, yang entah kenapa masih terus tersimpan dan sekarang ini kembali muncul ke permukaan. Betapa kuatnya ingatan itu.
Sejak Hari Kamis pagi, sebelum pertandingan-pertandingan dimulai, ada ibadat Lamentasi, ibadat Ratapan. Ada lagu ratapan yang dibawakan oleh sekelompok penyanyi. Bahkan nyanyian itu sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Manggarai. Sepotong teks ayat ulangannya berbunyi sbb: Yerusalem, Yerusalem, kole ngger one agu Mori Keraeng de hau. (Lalu diselipi dengan beberapa huruf Ibrani yang relevan, seperti Alef, Beth, Ghimel, Daleth, He, Vav, Zain, Heth, Teth, Iof, Kaf, Lamed, Mem, Nun, Samech, dll). Bahkan bagian pengantar dari Lamentasi itu berbunyi sbb: Wangkan tilir, di Yeremias, propheta (kemudian kata propheta ini diterjemahkan menjadi, nabi nggeluk). Lalu sesudah itu ada pertandingan-pertandingan. Biasanya anak-anak SD yang ada dalam lingkup Paroki tersebut. Tetapi semua pertandingan dihentikan (berhenti) pada jam dua sore. Syukur kalau sebelumnya sudah selesai. Walau pernah terjadi, juga di Ketang, pertandingan sampai sore. Tetapi pastor marah karenanya. Sebab orang lalu keletihan dan tidak mau ke gereja lagi. Hahahahaha….. ata ngonde muing ba wekid ata situ e opa tuang Moma….
Lalu hari Jumat pagi, juga dimulai dengan ibadat lamentasi. Sesudah lamentasi biasanya dilanjutkan dengan ibadat jalan salib (yang memang biasanya dilakukan setiap hari Jumat selama masa Puasa itu). Tetapi tidak ada pertandingan. Orang-orang pada berdiam diri saja. Juga tidak ke kebun. Karena hari itu adalah hari libur. Barulah pada sore hari, tepatnya jam 3, dimulailah rangkaian ibadat Jumat Agung. Ibadat Lamentasi juga masih dilakukan pada hari Sabtu Pagi. Adapun inti dari ibadat Lamentasi itu ialah mengenang sengsara dan wafat Yesus. Peristiwa sengsara Yesus itu disimbolisasi dengan lilin yang dipasang pada sebuah kaki lilin yang dibuat berbentuk segitiga. Pada sisi yang satu ada enam lilin. Pada sisi yang lain ada enam lilin. Di puncak segitiga ada satu lilin (biasanya lebih besar ukurannya dari pada keduabelas lilin yang lain). Keenam lilin di kedua sisi segitiga itu melambangkan keduabelas murid Yesus. Lilin di puncak itu melambangkan tentu saja Yesus sendiri. Setiap sesudah beberapa ayat lagu lamentasi dinyanyikan, dua lilin dipadamkan, satu di kiri, satu di kanan. Mulai dari lilin yang paling bawah. Begitu terus, sampai akhirnya hanya tinggal satu lilin yaitu lilin yang ada di puncak segitiga itu. Itu adalah simbolisasi peristiwa di mana Yesus ditinggalkan oleh para muridNya, sampai Dia hanya sendirian saja menghadapi maut-Nya sendiri, bahkan di ketinggian salib, terangkat dari muka bumi. Begitulah kira-kira salah satu penjelasan yang pernah saya ketahui tentang ibadat yang penuh simbolisme itu.
Sekarang kembali ke suasana Jumat Agung yang hening itu. Apakah pengalaman masa kecil itu sudah tidak ada lagi di Manggarai? Mungkin di beberapa daerah pedalaman hal itu masih ada, masih bisa dirasakan, masih bisa dialami. Tetapi daerah perkotaan dan di daerah yang terletak di pinggir jalan, hal itu mungkin sudah susah dialami dan dirasakan. Sekarang sudah ada banyak sekali bunyi yang mengganggu. Yang paling kuat misalnya, suara motor, suara mobil yang lalu lalang. Dulu pada tahun 70an, suara-suara itu masih sangat langka. Sekarang sudah tidak terhindarkan lagi. Ditambah lagi suara manusia yang lalu lalang dengan pelbagai kegiatan mereka. Katakanlah itu semua adalah termasuk atau dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang alami, yang kiranya pada hari libur seperti pada hari Jumat Agung, mungkin bisa sangat diminimalisir.
Dalam pembicaraan di WAG yang saya singgung di atas tadi, ada beberapa teman yang menyinggung mengenai suara yang dihasilkan oleh pengeras suara pada hari Jumat terutama di kota-kota. Hemmm….. Menarik untuk membahas tentang hal itu. Dan saya mau melakukan hal itu di sini. Tetapi sebelum itu saya ke Bali dulu. Di Bali, sekali setahun ada perayaan Nyepi, di mana semua aktifitas dihentikan. Tidak ada pergerakan. Tidak ada suara. Tidak ada api. Tidak ada kerja. Orang hanya diam. Bahkan dunia internasional pun taat. Dunia penerbangan juga taat. Semua sudah mengatur jadwal mereka. Dan semua orang taat. Tidak ada yang mau melanggar. Tidak terkecuali, siapa pun anda, dan apa pun agama anda, apa pun jabatan atau pekerjaan anda, apapun status social dan ekonomi dan politik anda, semua orang taat dan paham, mengerti, simpati, empati. Di Bali hal itu bisa dilakukan, dengan mengemukakan ke-Hindu-an Balinya.
Bagaimana dengan di Manggarai atau di Flores pada umumnya? Bisakah hal semacam nyepi itu dilakukan? Sebuah praksis NYEPI Jumat Agung, walaupun tentu saja tidak usah disebut dengan sebutan itu. Hanya sekali setahun. Orang berdiam diri, termasuk pengeras suara masjid. Rasanya hal itu bisa dilakukan dan bisa diterima. Tentu orang sama sekali tidak dilarang berdoa. Bukan itu juga maksdunya. Tetapi tidak dengan pengeras suara. Hanya selama satu hari saja sepanjang Tahun, yaitu pada Hari Jumat Agung. Rasanya bisa. Bali bisa dengan mengedepankan ke-Bali-annya. Mengapa Manggarai, atau Flores tidak bisa dengan mengedepankan ke-Flores-annya.
Hanya mungkin jika hal itu akan diwujudkan, kiranya perlu diatur lagi dengan begitu ketat bahwa ketika orang-orang Katolik sudah menuntut hal itu, maka orang-orang Katolik sendiri juga harus memperlihatkan kesalehan dan ketaatan untuk melaksanakannya dengan tekun, taat dan khusyuk. Pelbagai praksis ibadat yang pernah ada dalam tradisi gereja untuk hari Jumat Agung bisa dihidupkan lagi. Misalnya, di pagi hari ada Lamentasi (yang dilaksanakan dengan meriah dan bersama-sama seluruh umat). Lalu sekitar jam 11-an dilanjutkan dengan upacara Jalan Salib bersama dan meriah juga. Dan Jam tiga sore, ditutup dengan rangkaian ibadat Jumat Agung, seperti perarakan Salib, peninggian Salib, Kisah Sengsara, Penyembahan Salib, Doa Umat Meriah (dengan tata cara yang memang meriah), dst.dst. Tentu diharapkan bahkan diwajibkan agar pada hari Jumat Agung ini, semua orang Katolik harus berpuasa dan berpantang sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh Gereja.
Mungkin akan ada yang bertanya: mangapa dan untuk apa hal itu dilakukan? Apakah ada dasar biblisnya? Dalam kisah sengsara (passio) injil Markus 15:33 (bdk. Luk 23:44-45a) dilukiskan demikian: “Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga.” Bagaimana persisnya keadaan itu dahulu tidak diketahui lagi. Tetapi saya membayangkan bahwa di sana dulu terjadi keheningan yang luar biasa karena matahari tidak lagi bersinar, seperti kata penginjil Lukas. Sebuah suasana keheningan yang dirasakan alam saat akan terjadi gerhana matahari seperti yang dulu pernah saya alami pada tahun 1983, saat gerhana matahari total melintas di atas Yogyakarta. Kiranya hal ini (deskripsi injil Markus dan Lukas tadi) bisa dijadikan sebagai dasar biblis dari praksis ini. Gereja dan orang-orang lain bersama-sama menghormati keheningan semesta itu pada hari Jumat Agung, dengan melakukan keheningan juga, membiarkan hanya suara alam yang bisa terdengar, mengiringi duka gereja, duka semesta karena Yesus bersengsara dan wafat dan dimakamkan. Jika hal ini terjadi (baca: bisa diwujudkan, bisa dilakukan), saya membayangkan hal ini bisa menjadi sebuah ikon pariwisata rohani kultural di Flores yang terpadu dengan baik dengan Semana Santa di Larantuka yang fenomenal itu.
Selamat berdiskusi.
Thursday, April 9, 2020
MAKAN SAMBIL MENANGIS
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Kira-kira seminggu yang lalu saya menemukan sebuah foto di laman instagram seorang pegiat media sosial (yang kiranya tidak perlu saya sebutkan namanya di sini). Foto itu sangat menyentuh perasaan saya. Jelas, foto itu juga sangat menyentuh perasaan sang pegiat medsos itu. Dalam foto itu tampak tergambar seorang pria yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online. Ada dua gambar. Gambar satu, ia sedang makan. Gambar yang kedua, ia sedang menangis, makan sambil menangis. Semula saya tidak begitu paham, ada apa dengan orang tersebut. Saya baru mengerti setelah membaca keterangan yang diberikan oleh si pegiat medsos tersebut. Ternyata pria itu sedang memakan makanan yang dipesan seorang pelanggan, tetapi setelah dibelinya, ternyata si pelanggan tersebut membatalkannya. Tidak ada cara lain bagi si pengemudi ojol itu, selain memakan makanan mewah dari restoran tersebut.
Saya bisa memahami mengapa ia menangis. Mungkin karena, ia sudah mengeluarkan sejumlah biaya dari accountnya, tetapi ternyata si pelanggan sudah membatalkan pesanannya. Tentu ia bisa memakan makanan itu, tetapi belum tentu itulah menu makanan yang hendak ia makan hari itu. Mungkin saja ia merencanakan makanan yang lebih sederhana dari itu. Tetapi ia terpaksa menyantapnya dalam dukacita, dalam tangis. Kata-kata yang ditulis oleh si pegiat medsos itu juga membuat saya sedih, karena ia mencoba mendorong dan menghibur pria itu sambil berharap akan suatu hal yang lebih baik di masa depan, walaupun sekarang ia harus melewati hal sedih seperti ini.
Saat saya membaca dan melihat gambar itu, saya langsung teringat akan beberapa hal. Pertama, beberapa tahun silam beredar sebuah film pendek, kalau tidak salah dari Filipina. Ada sebuah keluarga miskin, pemulung. Ayahnya bekerja sebagai pemulung. Pada suatu saat ia memulung di tempat sampah sebuah restoran mewah. Pada malam sebelumnya ada dua atau tiga perempuan remaja mampir makan di sana. Mereka membeli banyak makanan. Tetapi mereka tidak menghabiskan makanan yang telah mereka pesan. Maka tidak ada pilihan lain bagi pihak restoran selain membuang makanan yang tidak dihabiskan itu ke tempat sampah mereka.
Nah besok paginya, ayah keluarga pemulung itu, lewat di sana. Saat ia membuka tempat sampah, ia melihat kotak-kotak yang masih bersih. Ia mengambilnya, dan membukanya. Tampak sekali ia berbahagia melihat apa yang ditemukannya hari itu di tempat sampah. Ada dada ayam yang masih lumayan utuh. Hanya ada bekas sobekan sedikit di salah satu pinggirnya. Ada juga paha ayam yang hampir masih utuh. Ada juga paham ayam yang sebagian dagingnya sudah dimakan. Tetapi masih ada dagingnya yang menempel pada tulang itu. Ia mengambil dan menyimpannya baik. Dan ada juga nasi yang tidak habis dimakan.
Selesai memulung, ia pun pulang ke rumahnya di sore hari. Rumahnya terletak di bilangan yang kumuh. Isteri dan anak-anaknya sudah menunggu ia pulang. Mereka juga berharap sang ayah akan kembali dengan membawa berkat dan rejeki mereka untuk hari itu. Dan betul saja. Sang ayah membawa berkat yang tidak terkira. Ia membuka bungkusannya di atas meja sederhana yang sudah disiapkan isterinya. Setelah semua sudah tersedia, mereka sudah tidak sabar menyantap makanan itu. Anaknya yang paling kecil tampaknya sudah tidak sabar lagi. Ia mengulurkan tangannya untuk mengambil salah satu potong ayam tadi. Tetapi aksi anaknya itu dirintanginya, karena sebelum makan mereka harus terlebih dahulu berdoa.
Maka mereka pun berdoa. Si ayah memimpin doa itu dengan mengawalinya dengan tanda salib. Ternyata mereka keluarga Katolik. Setelah berdoa, mereka pun menyantap makanan itu dengan penuh sukacita. Apa yang dibuang orang dari kelimpahan mereka, menjadi berkat yang tidak terkira bagi orang lain yang berkekurangan. Apa yang dibuang dari kekenyangan satu golongan berada, menjadi rahmat dan sukacita bagi orang yang berkekurangan.
Entah ada kaitan atau tidak, yang jelas Paus Fransiskus juga menyerukan agar manusia membuang mentalitas "cepat membuang". Ia mencoba melawan mentalitas cari enak, mentalitas dan budaya instant yang maunya cepat-cepat membuang apa saja yang dianggap tidak lagi dibutuhkannya. Paus juga pernah mengatakan bahwa kalau kita membuang makanan kita, itu sama dengan kita merampas makanan yang seharusnya menjadi hak orang miskin dari mulut dan perut mereka yang lapar. Kita membuang dari kelimpahan kita, dan membiarkan orang lain menderita di dalam ketiadaan mereka (bukan sekadar kekurangan, melainkan ketiadaan).
Saat saya menulis ini juga saya langsung teringat akan kisah dalam Injil Lukas tentang si Lazarus dan orang kaya itu (Luk 16:19-31). Lazarus, orang miskin itu datang ke pintu rumah si orang kaya yang sedang makan. Mungkin Lazarus menunggu apa yang mungkin diberikan atau tersisa dari meja si kaya. Tetapi tidak ada. Yang ada, anjing-anjing si kaya menjilati bilur-bilur lukanya. Si kaya lalai, tidak menyadari kehadiran Lazarus. Ini yang kiranya disebut dosa kelalaian. Doa yang sering diakukan pada awal Ekaristi, "...saya telah berdosa dengan pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian." Lalai maksudnya bukan keliru. Lalai maksudnya kita tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
Si kaya lalai, karena seharusnya dia memberi sesuatu kepada si miskin yang hadir di depan pintunya, tetapi ia tidak memberikannya. Betapa dosa lalai seperti ini sering sekali terjadi atau dilakukan oleh kita semua. Dosa lalai itu mempunyai efek mengerikan bagi sesama. Padahal kita dipanggil untuk menaruh perhatian dan peduli pada sesama. Kita dipanggil untuk memberi per-hati-an kepada sesama. Kata Emmanuel Levinas, penampakan wajah sesama, terutama yang menderita, adalah sebuah tantangan dan panggilan etis bagi kita untuk bertindak dan berpihak.
Taman Kopo Indah II, Blok D4 No.40, Bandung.
10 April 2018. Renungan pagi Jumat Agung 2020.
Kira-kira seminggu yang lalu saya menemukan sebuah foto di laman instagram seorang pegiat media sosial (yang kiranya tidak perlu saya sebutkan namanya di sini). Foto itu sangat menyentuh perasaan saya. Jelas, foto itu juga sangat menyentuh perasaan sang pegiat medsos itu. Dalam foto itu tampak tergambar seorang pria yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online. Ada dua gambar. Gambar satu, ia sedang makan. Gambar yang kedua, ia sedang menangis, makan sambil menangis. Semula saya tidak begitu paham, ada apa dengan orang tersebut. Saya baru mengerti setelah membaca keterangan yang diberikan oleh si pegiat medsos tersebut. Ternyata pria itu sedang memakan makanan yang dipesan seorang pelanggan, tetapi setelah dibelinya, ternyata si pelanggan tersebut membatalkannya. Tidak ada cara lain bagi si pengemudi ojol itu, selain memakan makanan mewah dari restoran tersebut.
Saya bisa memahami mengapa ia menangis. Mungkin karena, ia sudah mengeluarkan sejumlah biaya dari accountnya, tetapi ternyata si pelanggan sudah membatalkan pesanannya. Tentu ia bisa memakan makanan itu, tetapi belum tentu itulah menu makanan yang hendak ia makan hari itu. Mungkin saja ia merencanakan makanan yang lebih sederhana dari itu. Tetapi ia terpaksa menyantapnya dalam dukacita, dalam tangis. Kata-kata yang ditulis oleh si pegiat medsos itu juga membuat saya sedih, karena ia mencoba mendorong dan menghibur pria itu sambil berharap akan suatu hal yang lebih baik di masa depan, walaupun sekarang ia harus melewati hal sedih seperti ini.
Saat saya membaca dan melihat gambar itu, saya langsung teringat akan beberapa hal. Pertama, beberapa tahun silam beredar sebuah film pendek, kalau tidak salah dari Filipina. Ada sebuah keluarga miskin, pemulung. Ayahnya bekerja sebagai pemulung. Pada suatu saat ia memulung di tempat sampah sebuah restoran mewah. Pada malam sebelumnya ada dua atau tiga perempuan remaja mampir makan di sana. Mereka membeli banyak makanan. Tetapi mereka tidak menghabiskan makanan yang telah mereka pesan. Maka tidak ada pilihan lain bagi pihak restoran selain membuang makanan yang tidak dihabiskan itu ke tempat sampah mereka.
Nah besok paginya, ayah keluarga pemulung itu, lewat di sana. Saat ia membuka tempat sampah, ia melihat kotak-kotak yang masih bersih. Ia mengambilnya, dan membukanya. Tampak sekali ia berbahagia melihat apa yang ditemukannya hari itu di tempat sampah. Ada dada ayam yang masih lumayan utuh. Hanya ada bekas sobekan sedikit di salah satu pinggirnya. Ada juga paha ayam yang hampir masih utuh. Ada juga paham ayam yang sebagian dagingnya sudah dimakan. Tetapi masih ada dagingnya yang menempel pada tulang itu. Ia mengambil dan menyimpannya baik. Dan ada juga nasi yang tidak habis dimakan.
Selesai memulung, ia pun pulang ke rumahnya di sore hari. Rumahnya terletak di bilangan yang kumuh. Isteri dan anak-anaknya sudah menunggu ia pulang. Mereka juga berharap sang ayah akan kembali dengan membawa berkat dan rejeki mereka untuk hari itu. Dan betul saja. Sang ayah membawa berkat yang tidak terkira. Ia membuka bungkusannya di atas meja sederhana yang sudah disiapkan isterinya. Setelah semua sudah tersedia, mereka sudah tidak sabar menyantap makanan itu. Anaknya yang paling kecil tampaknya sudah tidak sabar lagi. Ia mengulurkan tangannya untuk mengambil salah satu potong ayam tadi. Tetapi aksi anaknya itu dirintanginya, karena sebelum makan mereka harus terlebih dahulu berdoa.
Maka mereka pun berdoa. Si ayah memimpin doa itu dengan mengawalinya dengan tanda salib. Ternyata mereka keluarga Katolik. Setelah berdoa, mereka pun menyantap makanan itu dengan penuh sukacita. Apa yang dibuang orang dari kelimpahan mereka, menjadi berkat yang tidak terkira bagi orang lain yang berkekurangan. Apa yang dibuang dari kekenyangan satu golongan berada, menjadi rahmat dan sukacita bagi orang yang berkekurangan.
Entah ada kaitan atau tidak, yang jelas Paus Fransiskus juga menyerukan agar manusia membuang mentalitas "cepat membuang". Ia mencoba melawan mentalitas cari enak, mentalitas dan budaya instant yang maunya cepat-cepat membuang apa saja yang dianggap tidak lagi dibutuhkannya. Paus juga pernah mengatakan bahwa kalau kita membuang makanan kita, itu sama dengan kita merampas makanan yang seharusnya menjadi hak orang miskin dari mulut dan perut mereka yang lapar. Kita membuang dari kelimpahan kita, dan membiarkan orang lain menderita di dalam ketiadaan mereka (bukan sekadar kekurangan, melainkan ketiadaan).
Saat saya menulis ini juga saya langsung teringat akan kisah dalam Injil Lukas tentang si Lazarus dan orang kaya itu (Luk 16:19-31). Lazarus, orang miskin itu datang ke pintu rumah si orang kaya yang sedang makan. Mungkin Lazarus menunggu apa yang mungkin diberikan atau tersisa dari meja si kaya. Tetapi tidak ada. Yang ada, anjing-anjing si kaya menjilati bilur-bilur lukanya. Si kaya lalai, tidak menyadari kehadiran Lazarus. Ini yang kiranya disebut dosa kelalaian. Doa yang sering diakukan pada awal Ekaristi, "...saya telah berdosa dengan pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian." Lalai maksudnya bukan keliru. Lalai maksudnya kita tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
Si kaya lalai, karena seharusnya dia memberi sesuatu kepada si miskin yang hadir di depan pintunya, tetapi ia tidak memberikannya. Betapa dosa lalai seperti ini sering sekali terjadi atau dilakukan oleh kita semua. Dosa lalai itu mempunyai efek mengerikan bagi sesama. Padahal kita dipanggil untuk menaruh perhatian dan peduli pada sesama. Kita dipanggil untuk memberi per-hati-an kepada sesama. Kata Emmanuel Levinas, penampakan wajah sesama, terutama yang menderita, adalah sebuah tantangan dan panggilan etis bagi kita untuk bertindak dan berpihak.
Taman Kopo Indah II, Blok D4 No.40, Bandung.
10 April 2018. Renungan pagi Jumat Agung 2020.
Monday, August 19, 2019
MEMAHAMI DAN MENIKMATI KIDUNG AGUNG 6:4-7:5
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI.
Jika dalam bagian terdahulu, kita mendengar pujian mempelai wanita akan mempelai pria, maka dalam bagian ini kita mendengar mempelai pria memuji mempelai wanita. Di sini mempelai pria memakai metafora kota sebagai ibarat kecantikan si perempuan (mempelai wanita). Ia menyebut nama dua kota yang indah, Tirza dan Yerusalem. (Tetapi jika tidak salah Tirza adalah nama lain untuk Yerusalem; jadi, ada satu kota saja). Keindahan kota itu (Yerusalem alias Tirza) ia jadikan metafora bagi kecantikan sang kekasih (ay 4). Secara khusus ia menyinggung mengenai keindahan sorotan mata sang kekasih yang begitu tajam, penuh pesona kelembutan yang menyebabkan dia bingung jika ditatap (ay 5a). Keindahan rambutnya ia ibaratkan dengan kawanan kambing yang turun bergelombang dari Gilead (ay 5b; bdk.4:1).
Metafora fauna ini dilanjutkan dalam ayat 6 di mana kekasih pria memakai perlambang kawanan domba untuk melukiskan keindahan gigi sang kekasih. Dalam ayat 7 kita melihat peralihan ke metafora fauna, di mana sang kekasih memakai buah tetumbuhan (flora) untuk melukiskan pelipis si nona cantik. Dalam ayat 8-9 kita temukan fakta bahwa si mempelai pria membandingkan kecantikan kekasihnya melampaui semua kekasih yang lain, yaitu enam puluh permaisuri (ay.8) dan delapan puluh selir, ditambah dara yang tidak terhitung jumlahnya. Tetapi kecantikan kekasih tetap tidak terkalahkan (ay 9). Karena itu para puteri memuji dia sebagai orang yang berbahagia begitu juga permaisuri dan selir.
Dalam bentuk pertanyaan retoris (ay 10) ia melukiskan kecantikan sang kekasih dengan memakai metafora astral (benda langit: matahari dan bulan). Tidak begitu mudah menafsirkan ayat 11-12. Tetapi bisa dikatakan bahwa dalam kedua ayat ini kekasih pria melukiskan kebingungannya saat berhadapan dengan kekasih yang cantik mempersona, tetapi sekaligus membingungkan saat dipandang (ay 11-12). Karena itu, ia pun dilanda rindu akan gadis itu, sehingga ia memanggilnya pulang dan berharap ia kembali kepadanya (ay 13). Dalam ayat 13b ada pertanyaan kepada sang kekasih pria itu, mengapa ia tertarik memandang gadis itu?
Jawaban atas pertanyaan ini ditemukan dalam ayat-ayat berikutnya. Singkatnya, ia tertarik pada gadis itu karena ia cantik. Dalam Kid 7:1, ia mulai melukiskan kecantikan wanita itu lewat pelukisan cara jalannya yang indah ditambah dengan wataknya yang tinggi (ay 1). Ia mengibaratkan keindahan lengkung pinggangnya dengan perhiasan hasil karya seniman. Satu persatu ia menyebut beberapa bagian indah dalam tubuh wanita, khususnya wanita Timur Tengah dulu yang pakaiannya terbuka pada bagian perut sehingga pusar kelihatan. Itu sebabnya dalam 7:2, kita membaca perbandingan pusar itu dengan memakai perlambang cawan bulat. Keindahan perut juga dilukiskan bagaikan timbunan gandum yang dipagari bunga-bunga cantik (ay 3).
Dari bagian bawah tubuh ia naik ke atas. Mula-mula ia melukiskan buah dada dengan memakai metafora dua anak rusa dan anak kijang kembar, metafora yang kita temukan sebelumnya. Kemudian ia naik ke leher. Ia lukiskan keindahan leher itu dengan metafora menara gading (ay 4). Lalu berturut-turut ia memuji keindahan mata dan hidung sang kekasih. Mata ia ibaratkan dengan telaga Hesybon, hidung ia ibaratkan dengan menara di gunung Libanon (ay 4). Dari situ ia naik ke kepala dan rambut, bagian tertinggi badan manusia. Kepala ia ibaratkan dengan bukit Karmel. Rambut ia ibaratkan dengan sesuatu yang merah lembayung. Benar-benar indah dan sempurna. Di hadapan keindahan sempurna itu, sang raja (kekasih tadi), seakan-akan terkesima dan seperti ditawan oleh daya sihir kecantikan yang terpancar dari kepang-kepang rambutnya yang indah.
Mungkin ada yang bertanya, mana nilai religius puji-pujian yang sekular ini? Seperti dikatakan pada pengantar untaian renungan ini, kita harus melihat semuanya sebagai alegori (perumpamaan) mengenai relasi cinta dan keterpesonaan manusia beriman di hadapan kebaikan dan keindahan anugerah Tuhan yang membuat dia terhanyut dalam keterpesonaan yang tiada tara.
Lingungan St.Margaretha Alaqoque.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI.
Jika dalam bagian terdahulu, kita mendengar pujian mempelai wanita akan mempelai pria, maka dalam bagian ini kita mendengar mempelai pria memuji mempelai wanita. Di sini mempelai pria memakai metafora kota sebagai ibarat kecantikan si perempuan (mempelai wanita). Ia menyebut nama dua kota yang indah, Tirza dan Yerusalem. (Tetapi jika tidak salah Tirza adalah nama lain untuk Yerusalem; jadi, ada satu kota saja). Keindahan kota itu (Yerusalem alias Tirza) ia jadikan metafora bagi kecantikan sang kekasih (ay 4). Secara khusus ia menyinggung mengenai keindahan sorotan mata sang kekasih yang begitu tajam, penuh pesona kelembutan yang menyebabkan dia bingung jika ditatap (ay 5a). Keindahan rambutnya ia ibaratkan dengan kawanan kambing yang turun bergelombang dari Gilead (ay 5b; bdk.4:1).
Metafora fauna ini dilanjutkan dalam ayat 6 di mana kekasih pria memakai perlambang kawanan domba untuk melukiskan keindahan gigi sang kekasih. Dalam ayat 7 kita melihat peralihan ke metafora fauna, di mana sang kekasih memakai buah tetumbuhan (flora) untuk melukiskan pelipis si nona cantik. Dalam ayat 8-9 kita temukan fakta bahwa si mempelai pria membandingkan kecantikan kekasihnya melampaui semua kekasih yang lain, yaitu enam puluh permaisuri (ay.8) dan delapan puluh selir, ditambah dara yang tidak terhitung jumlahnya. Tetapi kecantikan kekasih tetap tidak terkalahkan (ay 9). Karena itu para puteri memuji dia sebagai orang yang berbahagia begitu juga permaisuri dan selir.
Dalam bentuk pertanyaan retoris (ay 10) ia melukiskan kecantikan sang kekasih dengan memakai metafora astral (benda langit: matahari dan bulan). Tidak begitu mudah menafsirkan ayat 11-12. Tetapi bisa dikatakan bahwa dalam kedua ayat ini kekasih pria melukiskan kebingungannya saat berhadapan dengan kekasih yang cantik mempersona, tetapi sekaligus membingungkan saat dipandang (ay 11-12). Karena itu, ia pun dilanda rindu akan gadis itu, sehingga ia memanggilnya pulang dan berharap ia kembali kepadanya (ay 13). Dalam ayat 13b ada pertanyaan kepada sang kekasih pria itu, mengapa ia tertarik memandang gadis itu?
Jawaban atas pertanyaan ini ditemukan dalam ayat-ayat berikutnya. Singkatnya, ia tertarik pada gadis itu karena ia cantik. Dalam Kid 7:1, ia mulai melukiskan kecantikan wanita itu lewat pelukisan cara jalannya yang indah ditambah dengan wataknya yang tinggi (ay 1). Ia mengibaratkan keindahan lengkung pinggangnya dengan perhiasan hasil karya seniman. Satu persatu ia menyebut beberapa bagian indah dalam tubuh wanita, khususnya wanita Timur Tengah dulu yang pakaiannya terbuka pada bagian perut sehingga pusar kelihatan. Itu sebabnya dalam 7:2, kita membaca perbandingan pusar itu dengan memakai perlambang cawan bulat. Keindahan perut juga dilukiskan bagaikan timbunan gandum yang dipagari bunga-bunga cantik (ay 3).
Dari bagian bawah tubuh ia naik ke atas. Mula-mula ia melukiskan buah dada dengan memakai metafora dua anak rusa dan anak kijang kembar, metafora yang kita temukan sebelumnya. Kemudian ia naik ke leher. Ia lukiskan keindahan leher itu dengan metafora menara gading (ay 4). Lalu berturut-turut ia memuji keindahan mata dan hidung sang kekasih. Mata ia ibaratkan dengan telaga Hesybon, hidung ia ibaratkan dengan menara di gunung Libanon (ay 4). Dari situ ia naik ke kepala dan rambut, bagian tertinggi badan manusia. Kepala ia ibaratkan dengan bukit Karmel. Rambut ia ibaratkan dengan sesuatu yang merah lembayung. Benar-benar indah dan sempurna. Di hadapan keindahan sempurna itu, sang raja (kekasih tadi), seakan-akan terkesima dan seperti ditawan oleh daya sihir kecantikan yang terpancar dari kepang-kepang rambutnya yang indah.
Mungkin ada yang bertanya, mana nilai religius puji-pujian yang sekular ini? Seperti dikatakan pada pengantar untaian renungan ini, kita harus melihat semuanya sebagai alegori (perumpamaan) mengenai relasi cinta dan keterpesonaan manusia beriman di hadapan kebaikan dan keindahan anugerah Tuhan yang membuat dia terhanyut dalam keterpesonaan yang tiada tara.
Lingungan St.Margaretha Alaqoque.
Saturday, July 27, 2019
DISELAMATKAN RENHA ROSARY
Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR, Bandung. Anggota LBI dan ISBI.
Tahun 2000 saya belajar teologi sistematik interkultural pada Fakultas Teologi Katholieke Universiteit Nijmegen, Netherlands. Tahun 2001 seorang imam muda dari kongregasi SSCC, juga ikut belajar teologi pada fakultas yang sama. Kami tinggal sama-sama di sebuah kolese yang disebut Nijmegen College yang terletak di Heemraadstraat 6, Brakenstein, Nijmegen. Pastor muda itu tidak lain adalah Romo Fransiskus Dedi Riberu SSCC. Kami semua biasa memanggilnya Romo Dedi Riberu. Beberapa tahun sebelum ia ditahbiskan menjadi imam, ia adalah salah satu mahasiswa saya pada Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Tetapi di Nijmegen, kami sama-sama berstatus sebagai mahasiswa S2. Pada saat itulah, apalagi kami tinggal pada Dormitory yang sama, maka kami sering ngobrol bersama-sama. Dan kami mengobrolkan tentang bermacam-macam hal.
Pada suatu hari kami ngobrol tentang kampung halaman kami masing-masing. Kebetulan kami berasal dari Pulau Flores. Hanya saya berasal dari Manggarai, yang terletak di ujung barat, sedangkan Romo Dedi berasal dari Flores Timur, persisnya dari Kota Larantuka, yang terletak di ujung timur. Nah saya ingat, pada saat itulah ia mulai menceritakan tentang kampung kecilnya di tepi laut yang terletak di kota Larantuka. Kota itu sendiri terletak di kaki sebuah gunung api purba, Illemandiri. Entah mengapa, cerita kami kemudian berfokus pada bencana alam banjir bandang yang terjadi pada tahun 1979 yang menimpa kota Larantuka. Peristiwa itu sendiri akhirnya dikenal dengan sebutan tragedi 27 Februari 1979. “Dua tujuh malam Rabu, Februari bulan itu. Tujuh sembilan yang kelabu, tak dapat kulupakan.” Begitulah kira-kira awal syair sebuah lagu pop yang pada masa itu mencoba mengisahkan peristiwa itu dalam sebuah syair lagu yang indah.
Rupanya peristiwa itu sangat berbekas dalam ingatan Romo Dedi, karena pada saat ia menceritakannya saya bahkan bisa merasakan bahwa memang dia sangat tersentuh. Tampak seperti ada sesuatu yang ia ingat dari peristiwa itu, sebab ia sangat emosional saat ia mengisahkannya kembali kepada saya. Sangat terasa bahwa ia tidak hanya mengisahkan kembali sebuah kisah di masa silam, melainkan seperti sedang menghadirkan lagi sekarang dan di sini sebuah trauma, sebuah tragedi. Entahlah mengapa. Pada tahap ini saya belum bisa memahami mengapa ia tampak seperti begitu terhanyut dalam alur ceritanya.
Saya sendiri pada waktu peristiwa itu terjadi sedang duduk di bangku kelas 1 SMA pada Seminari Pius XII Kisol. Peristiwa itu terjadi cukup jauh dari tempat kami. Hanya yang jelas bahwa peristiwa itu terjadi pada masa musim hujan, alias dureng (bahasa Manggarai), yaitu hujan yang berkepanjangan pada akhir bulan Februari.
Lalu Romo Dedi bertanya kepada saya: “Apa yang bapa tahu dan ingat tentang peristiwa itu?” Sejenak saya berpikir: “Saya hanya ingat cerita beberapa guru kami tentang kota Larantuka yang luluh lantak karena diterjang banjir bandang yang mahadahsyat.” Kemudian saya tambahkan: “Saya juga tahu beberapa hal dari laporan majalah HIDUP dan DIAN tentang kejadian yang mengerikan itu.”
Saat saya menyinggung nama kedua Majalah itu, khususnya menyinggung nama majalah HIDUP, Romo Dedi pun bertanya lebih lanjut kepada saya: “Apakah bapa baca juga di HIDUP tentang dua anak kecil yang ditemukan dalam keadaan selamat sedang terapung-apung jauh dari pantai di atas sebuah kasur?” Sekilas saya mencoba mengingat detail berita di HIDUP itu dulu, sebab sudah berlalu sangat lama, 1979 dan 2000. Dan samar-samar saya mengingatnya juga: “Ya, saya ingat. Dua anak kecil. Adik dan kakak. Selamat oleh Kasur. Katanya juga ada penampakan sosok perempuan penyelamat yang menyelamatkan mereka di atas kasur itu.”
Saat saya sudah selesai mengemukakan sepenggal ingatan saya itu, Romo Dedi pun dengan cepat mengatakan: “Bapa, mungkin bapa tidak percaya ya.” Kemudian Romo Dedi terdiam sejenak. “Anak itu tidak lain adalah saya dan adik saya.” Mendengar pengakuan itu saya sontak terkejut dan mundur dari kursi dan meja tempat kami duduk. Hal itu terjadi karena saya merasa sedang berhadapan langsung dengan sebuah peristiwa mukjizat, yang memang sudah terjadi di masa silam, tetapi si subjek pengalaman itu, saat ini ada di depan mata saya, berhadapan langsung dengan saya, dan sedang bercerita kepada saya tentang hal itu. Saya merasa sedang berhadapan langsung dengan sebuah peristiwa mukjizat. Betapa tidak, di tengah banjir bandang yang menerjang di malam hari itu, konon dengan bunyi gemuruh yang sangat dahsyat dan mencengkam, ada dua anak kecil yang selamat di atas sebuah sekoci berupa kasur, yang dijaga seorang perempuan. Melihat reaksi saya seperti itu, Romo Dedi bertanya: “Mengapa Bapa begitu?” “Ya karena saya berhadapan dengan sebuah legenda hidup.” Terdiam sejenak. “Ya, ini sungguh-sungguh mengagumkan. Saya sangat terharu karena saya seperti sedang berhadapan langsung dengan sebuah bukti mukjizat.
Kemudian dengan nada haru dan penuh keyakinan, romo Dedi mengatakan kepada saya bahwa “Sosok Perempuan Penolong itu tidak lain adalah Bunda Maria, Renha Rosary.” Saya tidak bisa dan juga tidak mau menyanggahnya. Jelas itu adalah sebuah mukjizat. Sebuah kejadian ajaib. Dan berkat aksi drama penyelamatan itu, kedua anak itu pun selamat. Kakaknya, yaitu romo Dedi, sudah menjadi imam dari kongregasi SSCC. Dan ternyata anak yang satu lagi adalah adik perempuan Romo Dedi. Dan pada saat kami bercerita di Nijmegen, sang adik sedang menempuh pendidikan rohani untuk menjadi seorang biarawati. Kalau tidak salah saat itu ia mau menjadi seorang biarawati di Ordo para Dominikan.
Peristiwa itu konon sontak mengagetkan seluruh kota Larantuka. Mereka, setidaknya yang beragama Katolik, sudah lama yakin dan percaya bahwa kota mereka memiliki seorang pelindung, yaitu Bunda Maria, Ratu Rosari, atau yang lebih dikenal di sana dalam versi bahasa Portugis, Renha Rosari. Saya sangat yakin, juga berdasarkan kesaksian dari romo Dedi sendiri, peristiwa itu semakin memperkuat kepercayaan dan keyakinan mereka, apalagi ada sebuah Kapela yang memang dibaktikan kepada sang Bunda Ratu Rosari yang, secara sangat ajaib selamat dari terjangan banjir bandang tersebut. Secara alamiah seharusnya kapela itu ikut ambruk dan terhanyut. Tetapi tidak sama sekali. Ia tetap tegak berdiri di sana hingga sekarang. Diam-diam dalam hati saya berkata bahwa malam itu, sejenak sang Bunda meninggalkan Kapelanya dan menunjukkan aksinya sebagai bukti bahwa ia memang menjadi pelindung warga dan kota Larantuka, sebab ia bertindak menyelamatkan yang kecil, hina-dina, dan tidak berdaya sama sekali. Luar biasa. Trima kasih banyak Romo Dedi, atas sharing ingatan yang sangat mengagumkan dan meneguhkan itu.
Oh ya, Romo Dedi sendiri sekarang, menjadi pastor Paroki di Paroki Santo Gabriel, Sumber Sari Bandung. Ia menjadi pastor paroki setelah sekian lama ia mengabdi di rumah formasi SSCC, baik di Bandung, maupun di Yogya, bahkan sampai ke Hawaii dan California, Amerika Serikat. Dan sang adik sendiri, kemudian meninggalkan biara dan menjadi awam dan hidup berkeluarga dan tinggal di kota asalnya, Larantuka.
(Cerita ini saya muat di Blog saya setelah beberapa malam lalu saya menceriterakannya di hadapan Pa Rafael dan Pa Vian di Restoran Pandan Wangi, Jalan Terusan Pasteur, Bandung).
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR, Bandung. Anggota LBI dan ISBI.
Tahun 2000 saya belajar teologi sistematik interkultural pada Fakultas Teologi Katholieke Universiteit Nijmegen, Netherlands. Tahun 2001 seorang imam muda dari kongregasi SSCC, juga ikut belajar teologi pada fakultas yang sama. Kami tinggal sama-sama di sebuah kolese yang disebut Nijmegen College yang terletak di Heemraadstraat 6, Brakenstein, Nijmegen. Pastor muda itu tidak lain adalah Romo Fransiskus Dedi Riberu SSCC. Kami semua biasa memanggilnya Romo Dedi Riberu. Beberapa tahun sebelum ia ditahbiskan menjadi imam, ia adalah salah satu mahasiswa saya pada Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Tetapi di Nijmegen, kami sama-sama berstatus sebagai mahasiswa S2. Pada saat itulah, apalagi kami tinggal pada Dormitory yang sama, maka kami sering ngobrol bersama-sama. Dan kami mengobrolkan tentang bermacam-macam hal.
Pada suatu hari kami ngobrol tentang kampung halaman kami masing-masing. Kebetulan kami berasal dari Pulau Flores. Hanya saya berasal dari Manggarai, yang terletak di ujung barat, sedangkan Romo Dedi berasal dari Flores Timur, persisnya dari Kota Larantuka, yang terletak di ujung timur. Nah saya ingat, pada saat itulah ia mulai menceritakan tentang kampung kecilnya di tepi laut yang terletak di kota Larantuka. Kota itu sendiri terletak di kaki sebuah gunung api purba, Illemandiri. Entah mengapa, cerita kami kemudian berfokus pada bencana alam banjir bandang yang terjadi pada tahun 1979 yang menimpa kota Larantuka. Peristiwa itu sendiri akhirnya dikenal dengan sebutan tragedi 27 Februari 1979. “Dua tujuh malam Rabu, Februari bulan itu. Tujuh sembilan yang kelabu, tak dapat kulupakan.” Begitulah kira-kira awal syair sebuah lagu pop yang pada masa itu mencoba mengisahkan peristiwa itu dalam sebuah syair lagu yang indah.
Rupanya peristiwa itu sangat berbekas dalam ingatan Romo Dedi, karena pada saat ia menceritakannya saya bahkan bisa merasakan bahwa memang dia sangat tersentuh. Tampak seperti ada sesuatu yang ia ingat dari peristiwa itu, sebab ia sangat emosional saat ia mengisahkannya kembali kepada saya. Sangat terasa bahwa ia tidak hanya mengisahkan kembali sebuah kisah di masa silam, melainkan seperti sedang menghadirkan lagi sekarang dan di sini sebuah trauma, sebuah tragedi. Entahlah mengapa. Pada tahap ini saya belum bisa memahami mengapa ia tampak seperti begitu terhanyut dalam alur ceritanya.
Saya sendiri pada waktu peristiwa itu terjadi sedang duduk di bangku kelas 1 SMA pada Seminari Pius XII Kisol. Peristiwa itu terjadi cukup jauh dari tempat kami. Hanya yang jelas bahwa peristiwa itu terjadi pada masa musim hujan, alias dureng (bahasa Manggarai), yaitu hujan yang berkepanjangan pada akhir bulan Februari.
Lalu Romo Dedi bertanya kepada saya: “Apa yang bapa tahu dan ingat tentang peristiwa itu?” Sejenak saya berpikir: “Saya hanya ingat cerita beberapa guru kami tentang kota Larantuka yang luluh lantak karena diterjang banjir bandang yang mahadahsyat.” Kemudian saya tambahkan: “Saya juga tahu beberapa hal dari laporan majalah HIDUP dan DIAN tentang kejadian yang mengerikan itu.”
Saat saya menyinggung nama kedua Majalah itu, khususnya menyinggung nama majalah HIDUP, Romo Dedi pun bertanya lebih lanjut kepada saya: “Apakah bapa baca juga di HIDUP tentang dua anak kecil yang ditemukan dalam keadaan selamat sedang terapung-apung jauh dari pantai di atas sebuah kasur?” Sekilas saya mencoba mengingat detail berita di HIDUP itu dulu, sebab sudah berlalu sangat lama, 1979 dan 2000. Dan samar-samar saya mengingatnya juga: “Ya, saya ingat. Dua anak kecil. Adik dan kakak. Selamat oleh Kasur. Katanya juga ada penampakan sosok perempuan penyelamat yang menyelamatkan mereka di atas kasur itu.”
Saat saya sudah selesai mengemukakan sepenggal ingatan saya itu, Romo Dedi pun dengan cepat mengatakan: “Bapa, mungkin bapa tidak percaya ya.” Kemudian Romo Dedi terdiam sejenak. “Anak itu tidak lain adalah saya dan adik saya.” Mendengar pengakuan itu saya sontak terkejut dan mundur dari kursi dan meja tempat kami duduk. Hal itu terjadi karena saya merasa sedang berhadapan langsung dengan sebuah peristiwa mukjizat, yang memang sudah terjadi di masa silam, tetapi si subjek pengalaman itu, saat ini ada di depan mata saya, berhadapan langsung dengan saya, dan sedang bercerita kepada saya tentang hal itu. Saya merasa sedang berhadapan langsung dengan sebuah peristiwa mukjizat. Betapa tidak, di tengah banjir bandang yang menerjang di malam hari itu, konon dengan bunyi gemuruh yang sangat dahsyat dan mencengkam, ada dua anak kecil yang selamat di atas sebuah sekoci berupa kasur, yang dijaga seorang perempuan. Melihat reaksi saya seperti itu, Romo Dedi bertanya: “Mengapa Bapa begitu?” “Ya karena saya berhadapan dengan sebuah legenda hidup.” Terdiam sejenak. “Ya, ini sungguh-sungguh mengagumkan. Saya sangat terharu karena saya seperti sedang berhadapan langsung dengan sebuah bukti mukjizat.
Kemudian dengan nada haru dan penuh keyakinan, romo Dedi mengatakan kepada saya bahwa “Sosok Perempuan Penolong itu tidak lain adalah Bunda Maria, Renha Rosary.” Saya tidak bisa dan juga tidak mau menyanggahnya. Jelas itu adalah sebuah mukjizat. Sebuah kejadian ajaib. Dan berkat aksi drama penyelamatan itu, kedua anak itu pun selamat. Kakaknya, yaitu romo Dedi, sudah menjadi imam dari kongregasi SSCC. Dan ternyata anak yang satu lagi adalah adik perempuan Romo Dedi. Dan pada saat kami bercerita di Nijmegen, sang adik sedang menempuh pendidikan rohani untuk menjadi seorang biarawati. Kalau tidak salah saat itu ia mau menjadi seorang biarawati di Ordo para Dominikan.
Peristiwa itu konon sontak mengagetkan seluruh kota Larantuka. Mereka, setidaknya yang beragama Katolik, sudah lama yakin dan percaya bahwa kota mereka memiliki seorang pelindung, yaitu Bunda Maria, Ratu Rosari, atau yang lebih dikenal di sana dalam versi bahasa Portugis, Renha Rosari. Saya sangat yakin, juga berdasarkan kesaksian dari romo Dedi sendiri, peristiwa itu semakin memperkuat kepercayaan dan keyakinan mereka, apalagi ada sebuah Kapela yang memang dibaktikan kepada sang Bunda Ratu Rosari yang, secara sangat ajaib selamat dari terjangan banjir bandang tersebut. Secara alamiah seharusnya kapela itu ikut ambruk dan terhanyut. Tetapi tidak sama sekali. Ia tetap tegak berdiri di sana hingga sekarang. Diam-diam dalam hati saya berkata bahwa malam itu, sejenak sang Bunda meninggalkan Kapelanya dan menunjukkan aksinya sebagai bukti bahwa ia memang menjadi pelindung warga dan kota Larantuka, sebab ia bertindak menyelamatkan yang kecil, hina-dina, dan tidak berdaya sama sekali. Luar biasa. Trima kasih banyak Romo Dedi, atas sharing ingatan yang sangat mengagumkan dan meneguhkan itu.
Oh ya, Romo Dedi sendiri sekarang, menjadi pastor Paroki di Paroki Santo Gabriel, Sumber Sari Bandung. Ia menjadi pastor paroki setelah sekian lama ia mengabdi di rumah formasi SSCC, baik di Bandung, maupun di Yogya, bahkan sampai ke Hawaii dan California, Amerika Serikat. Dan sang adik sendiri, kemudian meninggalkan biara dan menjadi awam dan hidup berkeluarga dan tinggal di kota asalnya, Larantuka.
(Cerita ini saya muat di Blog saya setelah beberapa malam lalu saya menceriterakannya di hadapan Pa Rafael dan Pa Vian di Restoran Pandan Wangi, Jalan Terusan Pasteur, Bandung).
Saturday, May 18, 2019
MEMAHAMI DAN MENIKMATI KIDUNG AGUNG 5:9-6:3
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika, FF-UNPAR, Bandung. Anggota LBI dan ISBI.
Di sini teks sebelumnya dilanjutkan dengan judul lain: “Mempelai perempuan memuji mempelai laki-laki di hadapan puteri-puteri Yerusalem.” Karena itu, dalam ay.9, puteri-puteri Yerusalem mengajukan dua pertanyaan tentang kelebihan sang kekasih pujaan (pria) dibandingkan dengan kekasih lain. Perhatikan bahwa puteri-puteri Yerusalem itu mengakui kejelitaan perempuan itu (hai jelita di antara wanita?). Mereka terdorong mengajukan pertanyaan itu karena di akhir bagian terdahulu, sang kekasih yang kasmaran itu menyumpahi mereka.
Lalu mulai dengan ay.10 ada untaian pujian dari mempelai terhadap kekasih prianya. Pertama ia melukiskan warna kulit: sang kekasih itu putih bersih dan merah cerah (ay.10), sehingga ia tampak sangat mencolok di antara orang lain. Kemudian ia melukiskan kepalanya yang terlihat laksana emas (mungkin karena memakai mahkota atau topi istimewa dan mahal). Rambutnya ia lukiskan “mengombak” dan berwarna hitam (ay.11). Lalu ia lukiskan matanya. Rada sulit memahami metafora merpati itu. Tetapi yang dimaksud ialah mengenai mata yang indah dan lincah selincah gerakan merpati saat minum air di sungai atau mandi di kolam susu. Selanjutnya ia melukiskan pipinya. Metafora ay.12 ini juga tidak mudah dipahami. Tetapi yang dimaksud ialah mengenai pipi yang dihiasi cambang dan terukir rapih seperti orang menata bedeng rempah-rempah ataupun petak-petak rempah-rempah akar (ay.13a). Ia juga melukiskan keindahan bibirnya yang ia ibaratkan dengan bunga bakung yang berteteskan cairan mur (ay.13b).
Lalu ia pindah dari bagian di sekitar kepala menuju ke anggota badan. Mula-mula dalam ay.14 ia melukiskan tangan. Kiranya yang dimaksud ialah lengannya yang kekar bulat dan dihiasi permata Tarsis (barang berharga mahal saat itu, ay.14). Kira-kira seperti hiasan lengan pria dan wanita yang tampil dalam tari Ramayana di Prambanan itu. Tangan yang indah itu bercokol pada tubuh yang juga indah dan keindahan itu dilukiskan dengan ukiran gading bertabur batu nilam. Kiranya pakaiannya penuh dengan perhiasan mahal. Akhirnya, ia juga melukiskan kaki sang kekasih yang ia ibaratkan dengan tiang-tiang marmar putih. Ia tampak berdiri kokoh di atas landasan kokoh (ay.15). Seluruh perawakan badannya laksana gunung Libanon yang indah dan perkasa. Ia juga dilukiskan sebagai yang terpilih laksana pohon-pohon aras.
Setelah melukiskan sosok sang kekasih secara jasmani dengan memakai banyak metafora, akhirnya ia tidak lupa melukiskan sang kekasih dari sudut yang lain yaitu tutur katanya (ay.16). Dikatakan bahwa tutur katanya manis dan menarik. Pokoknya benar-benar sempurna. Setelah itu, sang mempelai tadi mengatakan bahwa begitulah gambaran kekasihku (si pria idaman).
Setelah mendengar pemerian yang rinci dan indah itu, puteri-puteri Yerusalem pun bertanya tentang ke mana perginya sang kekasih, sebab mereka juga ingin membantu mencarinya (Kid 6:1). Mempelai wanita itu pun menjawab mereka (ay.2). Menurut mempelai itu, kekasihnya telah pergi bekerja ke lahan pertaniannya atau tempat pengolahan hasil pertanian (bedeng rempah-rempah). Tidak hanya itu. Ia juga pergi menggembalakan domba (peternak). Anehnya, ia menggembalakan domba itu dalam kebun. Sambil menggembalakan domba ia memetik bunga bakung. Makin aneh lagi. Karena itu saya menduga bahwa pemerian itu adalah metafora tentang upaya sang kekasih pria mencari kekasih wanitanya (sebab dalam bagian berikut, kita baca bahwa kekasih pria itu memuji kekasih wanita sebagai balasan atas pujian luhur yang ada di sini). Itu sebabnya dalam ay.3 mempelai wanita dengan yakin berkata: “Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku, yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung.” Dengan pemerian yang penuh percaya diri ini, tertutuplah pintu bagi puteri-puteri Yerusalem yang lain untuk mendapatnya walau mereka juga mendambakannya dengan berpura-pura ikut membantu menemukannya.
Hotel Ibis Kwitang, Jakarta, 12 Mei 2019.
Dosen Teologi Biblika, FF-UNPAR, Bandung. Anggota LBI dan ISBI.
Di sini teks sebelumnya dilanjutkan dengan judul lain: “Mempelai perempuan memuji mempelai laki-laki di hadapan puteri-puteri Yerusalem.” Karena itu, dalam ay.9, puteri-puteri Yerusalem mengajukan dua pertanyaan tentang kelebihan sang kekasih pujaan (pria) dibandingkan dengan kekasih lain. Perhatikan bahwa puteri-puteri Yerusalem itu mengakui kejelitaan perempuan itu (hai jelita di antara wanita?). Mereka terdorong mengajukan pertanyaan itu karena di akhir bagian terdahulu, sang kekasih yang kasmaran itu menyumpahi mereka.
Lalu mulai dengan ay.10 ada untaian pujian dari mempelai terhadap kekasih prianya. Pertama ia melukiskan warna kulit: sang kekasih itu putih bersih dan merah cerah (ay.10), sehingga ia tampak sangat mencolok di antara orang lain. Kemudian ia melukiskan kepalanya yang terlihat laksana emas (mungkin karena memakai mahkota atau topi istimewa dan mahal). Rambutnya ia lukiskan “mengombak” dan berwarna hitam (ay.11). Lalu ia lukiskan matanya. Rada sulit memahami metafora merpati itu. Tetapi yang dimaksud ialah mengenai mata yang indah dan lincah selincah gerakan merpati saat minum air di sungai atau mandi di kolam susu. Selanjutnya ia melukiskan pipinya. Metafora ay.12 ini juga tidak mudah dipahami. Tetapi yang dimaksud ialah mengenai pipi yang dihiasi cambang dan terukir rapih seperti orang menata bedeng rempah-rempah ataupun petak-petak rempah-rempah akar (ay.13a). Ia juga melukiskan keindahan bibirnya yang ia ibaratkan dengan bunga bakung yang berteteskan cairan mur (ay.13b).
Lalu ia pindah dari bagian di sekitar kepala menuju ke anggota badan. Mula-mula dalam ay.14 ia melukiskan tangan. Kiranya yang dimaksud ialah lengannya yang kekar bulat dan dihiasi permata Tarsis (barang berharga mahal saat itu, ay.14). Kira-kira seperti hiasan lengan pria dan wanita yang tampil dalam tari Ramayana di Prambanan itu. Tangan yang indah itu bercokol pada tubuh yang juga indah dan keindahan itu dilukiskan dengan ukiran gading bertabur batu nilam. Kiranya pakaiannya penuh dengan perhiasan mahal. Akhirnya, ia juga melukiskan kaki sang kekasih yang ia ibaratkan dengan tiang-tiang marmar putih. Ia tampak berdiri kokoh di atas landasan kokoh (ay.15). Seluruh perawakan badannya laksana gunung Libanon yang indah dan perkasa. Ia juga dilukiskan sebagai yang terpilih laksana pohon-pohon aras.
Setelah melukiskan sosok sang kekasih secara jasmani dengan memakai banyak metafora, akhirnya ia tidak lupa melukiskan sang kekasih dari sudut yang lain yaitu tutur katanya (ay.16). Dikatakan bahwa tutur katanya manis dan menarik. Pokoknya benar-benar sempurna. Setelah itu, sang mempelai tadi mengatakan bahwa begitulah gambaran kekasihku (si pria idaman).
Setelah mendengar pemerian yang rinci dan indah itu, puteri-puteri Yerusalem pun bertanya tentang ke mana perginya sang kekasih, sebab mereka juga ingin membantu mencarinya (Kid 6:1). Mempelai wanita itu pun menjawab mereka (ay.2). Menurut mempelai itu, kekasihnya telah pergi bekerja ke lahan pertaniannya atau tempat pengolahan hasil pertanian (bedeng rempah-rempah). Tidak hanya itu. Ia juga pergi menggembalakan domba (peternak). Anehnya, ia menggembalakan domba itu dalam kebun. Sambil menggembalakan domba ia memetik bunga bakung. Makin aneh lagi. Karena itu saya menduga bahwa pemerian itu adalah metafora tentang upaya sang kekasih pria mencari kekasih wanitanya (sebab dalam bagian berikut, kita baca bahwa kekasih pria itu memuji kekasih wanita sebagai balasan atas pujian luhur yang ada di sini). Itu sebabnya dalam ay.3 mempelai wanita dengan yakin berkata: “Aku kepunyaan kekasihku, dan kepunyaanku kekasihku, yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung.” Dengan pemerian yang penuh percaya diri ini, tertutuplah pintu bagi puteri-puteri Yerusalem yang lain untuk mendapatnya walau mereka juga mendambakannya dengan berpura-pura ikut membantu menemukannya.
Hotel Ibis Kwitang, Jakarta, 12 Mei 2019.
Saturday, May 11, 2019
MEMAHAMI DAN MENIKMATI KIDUNG AGUNG 5:1-8
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI.
Bagian awal teks ini (ay.1) masih melanjutkan bagian terdahulu yaitu ungkapan hati dan perasaan mempelai laki-laki terhadap kekasihnya dan terutama tentang perjumpaan yang dibayangkan terjadi di antara mereka. Untuk melukiskan kekasihnya ia memakai metafora agrikultural, melukiskan kekasih sebagai kebun. Kebun itu indah dan menghasilkan banyak hal indah dan menyenangkan. Sebagai persiapan ia membawa mur dan rempah-rempah. Setibanya di sana ia mau memakan semua yang enak yang ada dalam kebun itu. Di akhir ay.1 ia melukiskan apa yang bisa dilakukan jika orang sampai di kebun itu. Biasanya orang berpesta-ria menikmati dan merayakan cinta.
Dalam bagian berikut kita membaca pelukisan isi hati dan ungkapan perasaan mempelai perempuan. Ia menanti kedatangan kekasih, dengan penuh harap, rindu, dan hasrat serta kegairahan. Di sini kita membaca dinamika perasaan hati yang menanti sekaligus dilanda rindu, cinta, dan gairah. Ia mencoba tidur, tetapi tidak tertidur. Mata mencoba tidur, tetapi hati tetap terjaga menantikan kedatangan kekasih (ay.2). Ternyata kekasih itu sudah tiba dan ia berseru-seru agar dibukakan pintu. Dengan bahasa indah laki-laki itu memanggil kekasihnya (merpatiku, idamanku, manisku). Ia mendesak agar segera dibukakan pintu karena ia tertimpa dinginnya embun malam. Dalam penantian yang penuh rindu dan damba itu, ia mencoba berlambat sejenak karena merasa bahwa ia sudah menanti dan menyiapkan segala sesuatu untuk pesta cinta itu (baju ditanggalkan, kaki dibasuh; jadi ia sudah di tempat tidur, ay.3).
Dalam detik penantian yang penuh campuran cinta, damba, dan berlambat karena manja, perempuan itu melihat tangan kekasih prianya masuk melalui lubang pintu untuk membuka pintu itu dari dalam. Si kekasih pria aktif datang mencari cinta dan menikmati asmara (Dalam rumah dulu disediakan lubang kecil di pintu agar kalau tuan rumah pergi ia bisa mengunci pintu dari luar dan bisa membuka dari luar. Kekasih pria tadi mencoba pintu rumah kekasihnya melalui lubang kecil itu). Saat melihat tangan kekasih yang masuk dan membuka pintu itu, hati mempelai perempuan pun berdebar-debar (ay.4). Ia tidak tahan lagi sekadar menanti walaupun ia sudah berlambat. Sekarang ia juga aktif menerima sang cinta. Ia ke pintu untuk membuka. Saat itu perasaannya campur-baur. Ia lukiskan perasaan itu dengan melukiskan tangannya yang penuh tetesan barang mewah dan berharga, mur. Sebenarnya ini adalah pelukisan mengenai perasaan hati yang berbunga-bunga saat sejenak lagi akan berjumpa dengan dambaan (ay.5).
Begitu saatnya tiba, ia membukakan pintu bagi kekasih pria (ay.6). Tetapi begitu pintu terbuka ia mendapati kekasihnya sudah pergi meninggalkan dia. Persis saat ia menghilang, kekasih perempuan itu seperti jatuh pingsan (kelimpungan) beberapa lamanya. Dalam kebingungan ia mencoba mencarinya tetapi tidak juga ia temukan. Mungkin di sini pembaca bertanya, apa yang terjadi sehingga perjumpaan itu berakhir begini? Ini adalah pelukisan drama perjumpaan dalam angan-angan yang rindu: ia merasa sudah akan berjumpa, tetapi sesungguhnya yang dirindu belum ada di tempat. Ia mencari sekarang dan di sini seseorang yang masih belum ada di sini, tetapi yang sudah sangat dirindukan dan didambakannya.
Para penafsir mistik memakai ayat-ayat ini untuk melukiskan drama perjumpaan antara jiwa manusia yang rindu akan Tuhan dan rindu itu laksana rusa yang rindu akan sumber air. Saat si perindu itu merasa sudah dekat, ternyata tidak demikian adanya. Itu menimbulkan kebingungan yang luar biasa. Kebingungan seperti itulah yang dilukiskan dalam ay.7: dalam upaya pencariannya akan kekasih yang sudah pergi dan menghilang itu, ia mengalami banyak rintangan dari orang sekitarnya (peronda kota, penjaga tembok). Di dalam kebingungan itu, ia pun menyampaikan pesan kepada puteri-puteri Yerusalem agar mereka sudi menyampaikan pesannya kepada dia apabila mereka menemukan kekasihnya itu. Inti pesannya ialah pelukisan mengenai betapa hatinya sakit karena dilanda rindu dan sakit asmara: “Katakanlah, bahwa sakit asmara aku!” (ay.8).
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI.
Bagian awal teks ini (ay.1) masih melanjutkan bagian terdahulu yaitu ungkapan hati dan perasaan mempelai laki-laki terhadap kekasihnya dan terutama tentang perjumpaan yang dibayangkan terjadi di antara mereka. Untuk melukiskan kekasihnya ia memakai metafora agrikultural, melukiskan kekasih sebagai kebun. Kebun itu indah dan menghasilkan banyak hal indah dan menyenangkan. Sebagai persiapan ia membawa mur dan rempah-rempah. Setibanya di sana ia mau memakan semua yang enak yang ada dalam kebun itu. Di akhir ay.1 ia melukiskan apa yang bisa dilakukan jika orang sampai di kebun itu. Biasanya orang berpesta-ria menikmati dan merayakan cinta.
Dalam bagian berikut kita membaca pelukisan isi hati dan ungkapan perasaan mempelai perempuan. Ia menanti kedatangan kekasih, dengan penuh harap, rindu, dan hasrat serta kegairahan. Di sini kita membaca dinamika perasaan hati yang menanti sekaligus dilanda rindu, cinta, dan gairah. Ia mencoba tidur, tetapi tidak tertidur. Mata mencoba tidur, tetapi hati tetap terjaga menantikan kedatangan kekasih (ay.2). Ternyata kekasih itu sudah tiba dan ia berseru-seru agar dibukakan pintu. Dengan bahasa indah laki-laki itu memanggil kekasihnya (merpatiku, idamanku, manisku). Ia mendesak agar segera dibukakan pintu karena ia tertimpa dinginnya embun malam. Dalam penantian yang penuh rindu dan damba itu, ia mencoba berlambat sejenak karena merasa bahwa ia sudah menanti dan menyiapkan segala sesuatu untuk pesta cinta itu (baju ditanggalkan, kaki dibasuh; jadi ia sudah di tempat tidur, ay.3).
Dalam detik penantian yang penuh campuran cinta, damba, dan berlambat karena manja, perempuan itu melihat tangan kekasih prianya masuk melalui lubang pintu untuk membuka pintu itu dari dalam. Si kekasih pria aktif datang mencari cinta dan menikmati asmara (Dalam rumah dulu disediakan lubang kecil di pintu agar kalau tuan rumah pergi ia bisa mengunci pintu dari luar dan bisa membuka dari luar. Kekasih pria tadi mencoba pintu rumah kekasihnya melalui lubang kecil itu). Saat melihat tangan kekasih yang masuk dan membuka pintu itu, hati mempelai perempuan pun berdebar-debar (ay.4). Ia tidak tahan lagi sekadar menanti walaupun ia sudah berlambat. Sekarang ia juga aktif menerima sang cinta. Ia ke pintu untuk membuka. Saat itu perasaannya campur-baur. Ia lukiskan perasaan itu dengan melukiskan tangannya yang penuh tetesan barang mewah dan berharga, mur. Sebenarnya ini adalah pelukisan mengenai perasaan hati yang berbunga-bunga saat sejenak lagi akan berjumpa dengan dambaan (ay.5).
Begitu saatnya tiba, ia membukakan pintu bagi kekasih pria (ay.6). Tetapi begitu pintu terbuka ia mendapati kekasihnya sudah pergi meninggalkan dia. Persis saat ia menghilang, kekasih perempuan itu seperti jatuh pingsan (kelimpungan) beberapa lamanya. Dalam kebingungan ia mencoba mencarinya tetapi tidak juga ia temukan. Mungkin di sini pembaca bertanya, apa yang terjadi sehingga perjumpaan itu berakhir begini? Ini adalah pelukisan drama perjumpaan dalam angan-angan yang rindu: ia merasa sudah akan berjumpa, tetapi sesungguhnya yang dirindu belum ada di tempat. Ia mencari sekarang dan di sini seseorang yang masih belum ada di sini, tetapi yang sudah sangat dirindukan dan didambakannya.
Para penafsir mistik memakai ayat-ayat ini untuk melukiskan drama perjumpaan antara jiwa manusia yang rindu akan Tuhan dan rindu itu laksana rusa yang rindu akan sumber air. Saat si perindu itu merasa sudah dekat, ternyata tidak demikian adanya. Itu menimbulkan kebingungan yang luar biasa. Kebingungan seperti itulah yang dilukiskan dalam ay.7: dalam upaya pencariannya akan kekasih yang sudah pergi dan menghilang itu, ia mengalami banyak rintangan dari orang sekitarnya (peronda kota, penjaga tembok). Di dalam kebingungan itu, ia pun menyampaikan pesan kepada puteri-puteri Yerusalem agar mereka sudi menyampaikan pesannya kepada dia apabila mereka menemukan kekasihnya itu. Inti pesannya ialah pelukisan mengenai betapa hatinya sakit karena dilanda rindu dan sakit asmara: “Katakanlah, bahwa sakit asmara aku!” (ay.8).
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...