Thursday, April 9, 2020

MAKAN SAMBIL MENANGIS

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Kira-kira seminggu yang lalu saya menemukan sebuah foto di laman instagram seorang pegiat media sosial (yang kiranya tidak perlu saya sebutkan namanya di sini). Foto itu sangat menyentuh perasaan saya. Jelas, foto itu juga sangat menyentuh perasaan sang pegiat medsos itu. Dalam foto itu tampak tergambar seorang pria yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online. Ada dua gambar. Gambar satu, ia sedang makan. Gambar yang kedua, ia sedang menangis, makan sambil menangis. Semula saya tidak begitu paham, ada apa dengan orang tersebut. Saya baru mengerti setelah membaca keterangan yang diberikan oleh si pegiat medsos tersebut. Ternyata pria itu sedang memakan makanan yang dipesan seorang pelanggan, tetapi setelah dibelinya, ternyata si pelanggan tersebut membatalkannya. Tidak ada cara lain bagi si pengemudi ojol itu, selain memakan makanan mewah dari restoran tersebut.

Saya bisa memahami mengapa ia menangis. Mungkin karena, ia sudah mengeluarkan sejumlah biaya dari accountnya, tetapi ternyata si pelanggan sudah membatalkan pesanannya. Tentu ia bisa memakan makanan itu, tetapi belum tentu itulah menu makanan yang hendak ia makan hari itu. Mungkin saja ia merencanakan makanan yang lebih sederhana dari itu. Tetapi ia terpaksa menyantapnya dalam dukacita, dalam tangis. Kata-kata yang ditulis oleh si pegiat medsos itu juga membuat saya sedih, karena ia mencoba mendorong dan menghibur pria itu sambil berharap akan suatu hal yang lebih baik di masa depan, walaupun sekarang ia harus melewati hal sedih seperti ini.

Saat saya membaca dan melihat gambar itu, saya langsung teringat akan beberapa hal. Pertama, beberapa tahun silam beredar sebuah film pendek, kalau tidak salah dari Filipina. Ada sebuah keluarga miskin, pemulung. Ayahnya bekerja sebagai pemulung. Pada suatu saat ia memulung di tempat sampah sebuah restoran mewah. Pada malam sebelumnya ada dua atau tiga perempuan remaja mampir makan di sana. Mereka membeli banyak makanan. Tetapi mereka tidak menghabiskan makanan yang telah mereka pesan. Maka tidak ada pilihan lain bagi pihak restoran selain membuang makanan yang tidak dihabiskan itu ke tempat sampah mereka.

Nah besok paginya, ayah keluarga pemulung itu, lewat di sana. Saat ia membuka tempat sampah, ia melihat kotak-kotak yang masih bersih. Ia mengambilnya, dan membukanya. Tampak sekali ia berbahagia melihat apa yang ditemukannya hari itu di tempat sampah. Ada dada ayam yang masih lumayan utuh. Hanya ada bekas sobekan sedikit di salah satu pinggirnya. Ada juga paha ayam yang hampir masih utuh. Ada juga paham ayam yang sebagian dagingnya sudah dimakan. Tetapi masih ada dagingnya yang menempel pada tulang itu. Ia mengambil dan menyimpannya baik. Dan ada juga nasi yang tidak habis dimakan.

Selesai memulung, ia pun pulang ke rumahnya di sore hari. Rumahnya terletak di bilangan yang kumuh. Isteri dan anak-anaknya sudah menunggu ia pulang. Mereka juga berharap sang ayah akan kembali dengan membawa berkat dan rejeki mereka untuk hari itu. Dan betul saja. Sang ayah membawa berkat yang tidak terkira. Ia membuka bungkusannya di atas meja sederhana yang sudah disiapkan isterinya. Setelah semua sudah tersedia, mereka sudah tidak sabar menyantap makanan itu. Anaknya yang paling kecil tampaknya sudah tidak sabar lagi. Ia mengulurkan tangannya untuk mengambil salah satu potong ayam tadi. Tetapi aksi anaknya itu dirintanginya, karena sebelum makan mereka harus terlebih dahulu berdoa.

Maka mereka pun berdoa. Si ayah memimpin doa itu dengan mengawalinya dengan tanda salib. Ternyata mereka keluarga Katolik. Setelah berdoa, mereka pun menyantap makanan itu dengan penuh sukacita. Apa yang dibuang orang dari kelimpahan mereka, menjadi berkat yang tidak terkira bagi orang lain yang berkekurangan. Apa yang dibuang dari kekenyangan satu golongan berada, menjadi rahmat dan sukacita bagi orang yang berkekurangan.

Entah ada kaitan atau tidak, yang jelas Paus Fransiskus juga menyerukan agar manusia membuang mentalitas "cepat membuang". Ia mencoba melawan mentalitas cari enak, mentalitas dan budaya instant yang maunya cepat-cepat membuang apa saja yang dianggap tidak lagi dibutuhkannya. Paus juga pernah mengatakan bahwa kalau kita membuang makanan kita, itu sama dengan kita merampas makanan yang seharusnya menjadi hak orang miskin dari mulut dan perut mereka yang lapar. Kita membuang dari kelimpahan kita, dan membiarkan orang lain menderita di dalam ketiadaan mereka (bukan sekadar kekurangan, melainkan ketiadaan).

Saat saya menulis ini juga saya langsung teringat akan kisah dalam Injil Lukas tentang si Lazarus dan orang kaya itu (Luk 16:19-31). Lazarus, orang miskin itu datang ke pintu rumah si orang kaya yang sedang makan. Mungkin Lazarus menunggu apa yang mungkin diberikan atau tersisa dari meja si kaya. Tetapi tidak ada. Yang ada, anjing-anjing si kaya menjilati bilur-bilur lukanya. Si kaya lalai, tidak menyadari kehadiran Lazarus. Ini yang kiranya disebut dosa kelalaian. Doa yang sering diakukan pada awal Ekaristi, "...saya telah berdosa dengan pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian." Lalai maksudnya bukan keliru. Lalai maksudnya kita tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

Si kaya lalai, karena seharusnya dia memberi sesuatu kepada si miskin yang hadir di depan pintunya, tetapi ia tidak memberikannya. Betapa dosa lalai seperti ini sering sekali terjadi atau dilakukan oleh kita semua. Dosa lalai itu mempunyai efek mengerikan bagi sesama. Padahal kita dipanggil untuk menaruh perhatian dan peduli pada sesama. Kita dipanggil untuk memberi per-hati-an kepada sesama. Kata Emmanuel Levinas, penampakan wajah sesama, terutama yang menderita, adalah sebuah tantangan dan panggilan etis bagi kita untuk bertindak dan berpihak.

Taman Kopo Indah II, Blok D4 No.40, Bandung.
10 April 2018. Renungan pagi Jumat Agung 2020.

No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...