Friday, April 10, 2020

PUISI CHAIRIL ANWAR "ISA"

Oleh: Fransiskus Borgias

Kemarin brader Hortensius Mandaru menampilkan sebuah puisi mahaterkenal dari Chairil Anwar, Penyair angkatan 30an (persisnya angkatan 33 sesuai dengan tahun terbitnya buku Siti Nurbaya yang dianggap sebagai tonggak pembatas dengan periodisasi sebelumnya yaitu angkatan 20). Puisi itu sangat terkenal karena sifatnya yang paradoksal. Dalam tulisan ini sesungguhnya saya hanya mau berusaha melukiskan dan membuktikan sifat paradoks dari puisi tersebut. Tetapi sebelum itu, ijinkan saya tambahkan juga sebuah keterangan singkat historis, yang juga sudah disinggung brader Tensi kemarin, bahwa puisi ini dulu terkenal sekali di Seminari Pius XII Kisol, karena hampir setiap tahun pada Hari Jumat Agung, puisi ini dibacakan. Kiranya puisi ini juga sangat berkesan bagi brader Yosef Hambur yang di angkatan kelas kami merupakan seorang deklamator handal dan terkenal dengan suara bassnya yang sangat berwibawa dan menggentarkan, yang membuat baris-baris puisi itu seperti menjadi sangat hidup dan meloncat-loncat keluar dari bibir-bibirnya, alat tuturnya yang luar biasa.

Sekarang saya mau masuk ke dalam sifat paradoksal dari puisi itu. Pertama, puisi itu adalah tentang Isa, yang menurut klaim orang Muslim adalah nama lain dari Yesus, Yesus menurut versi Islam, walaupun klaim itu belum tentu benar, sebab mungkin saja Isa itu berbeda dengan Yesus, sebab Yesus adalah anak Maria, sedangkan Isa adalah anak Mariam yang adalah saudari Musa. Oke-lah. Saya tidak mau mempersoalkan hal itu lebih lanjut di sini. Kita terima saja bahwa Isa yang dimaksudkan Chairil Anwar adalah sama dengan Yesus Kristus, apalagi Chairil mempersembahkan puisinya itu kepada orang Kristen, sebagaimana ia katakan di awal puisinya, Kepada Nasrani Sedjati. Oh ya, Nasrani adalah sebutan versi Al Quran untuk orang-orang Kristiani. Chairil Anwar, yang adalah seorang muslim (penganut Islam) menulis puisi tentang Yesus yang ditujukan kepada orang-orang Kristiani yang sejati (hemmm.... berarti ada yang tidak sejati, Kristiani yang gadungan, istilah yang sangat disukai oleh pater Cletus Groenen OFM).

Dalam terminologi teologi dialog agama-agama ala John S.Dunne, dalam bukunya The Way of All the Earth, Chairil Anwar melakukan aksi passing over, yaitu menyeberang, melintas batas, keluar dari zona nyaman religiusnya sendiri dan masuk ke dalam kandang religiositas Kristiani dan mencoba mengatakan sesuatu dari dalam kolam spiritualias itu untuk para penghuni kolam spiritualitas itu sendiri. Dan bagi saya itu sesuatu yang sangat luar biasa. Itu adalah sesuatu yang sangat berani. Dan hampir dapat dipastikan bahwa Chairil Anwar diperkaya oleh ziarahnya dalam aksi passing over itu dan terutama dalam upayanya membuat puisi tentang Isa. Hampir dapat dipastikan juga bahwa Chairil Anwar juga melakukan timbal balik dari aksi passing-over dalam teologi Dunne tadi, yaitu coming back. Biarpun Chairil Anwar menulis puisi tentang Isa untuk orang Kristen, toh ia tetap seorang penganut muslim yang taat. Setelah melakukan aksi passing over tadi, ia pasti coming back ke dalam samudera spiritualitasnya yang asli sebagai orang Islam. Yang jelas, setelah ia kembali lagi (coming back) dari perjalanan passing over itu, Chairil pasti mengalami semacam metanoia, semacam metamorphosis batiniah. Ia pasti menjadi seorang Islam yang "lain" karena pertautannya yang sangat dalam dengan Kristianitas itu sendiri.

Masih ada satu hal lain yang juga menjadi sangat misteri bagi saya, mengapa Chairil Anwar menulis tentang Isa ini. Dan inilah paradoks yang kedua, yaitu bahwa berbeda dengan teologi Islam (Quran), Chairil Anwar, dalam dan melalui puisi ini memperlihatkan suatu pandangan yang mendasar bahwa Isa itu sungguh-sungguh menderita di salib dan mati di salib. Ini adalah suatu yang tidak ada di dalam Quran. Ini adalah suatu yang disangkal di dalam Quran itu sendiri. Menurut Kristologi (ilmu tentang Kristus, dan bukan ilmu tentang orang Kristen sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang Islam) Quran, yang mati di salib itu bukan Yesus (Isa) melainkan orang yang diserupakan dengan Dia. Saya membayangkan bagaimana perjuangan batin si Chairil Anwar ketika menulis puisi ini. Sebab di satu pihak, sebagai orang Islam kiranya ia menganut paham Kristologi Quran (yang tidak mengakui bahwa Yesus menderita sengsara dan mati di salib), dan di pihak lain, toh ia sudah menulis puisi tentang Isa, yang melukiskan tragedi sengsara salib dan kematian itu secara sangat nyata dan gamblang. Bagi saya ini adalah suatu yang luar biasa. Juga masih merupakan misteri. Apa yang saya ungkapkan di sini adalah hipotesis saya saja. Belum tentu Chairil Anwar memang memaksudkannya demikian.

Tetapi begitulah kekayaan jarak atau distansi antara pengarang dan pembacanya pada masa kini. Distansi itu menciptakan ruang untuk membangun dan merekonstruksi makna. Proses distansiasi, istilah dari filsuf hermeneutik besar, Paul Ricoeur, menciptakan ruang dan peluang bagi munculnya tafsir dan pemahaman baru, juga eksplorasi baru. Itu yang saya lakukan sekarang dan di sini. Memaksimalisasi kesadaran akan adanya ruang yang tercipta oleh adanya jarak antara pengarang dan saya sebagai penafsir. Sebab menurut Ricoeur lagi, begitu sebuah karya sudah terbit, maka pengarangnya sudah mati, sudah terkubur di balik karyanya yang sejak terbit menjalani hidupnya sendiri, artinya ia bebas dibaca dan ditafsirkan para penafsir. Sia-sia kita mencari intentio auctoris, kata Ricoeur, karena teks itu selalu bersifat foreward, tidak bersifat backward, jadi teks itu sendiri mengantar kita untuk mencari apa yang dilontarkannya ke depan, foreward, dan tidak usah sibuk mencari ke belakangnya, ke belakang layar, backward.

Tetap tinggal sebuah pertanyaan misterius, mengapa Chairil Anwar melakukan Passing over itu? Apakah hanya sekadar mencari sensasi agar mendapat simpati dari para sastrawan dan kawannya yang Kristiani yang pada angkatan 33 itu memang ada juga yang berpengaruh seperti Johannes Engelbertus Tatengkeng itu. Saya kira tidak hanya sekadar mencari sensasi. Kalau bukan sensasi, lalu apa? Mengapa dan untuk apa Chairil menempuh risiko passing over itu? Setelah cukup lama saya mencari-cari penjelasan dari beberapa penafsir, misalnya dari orang seperti Goenawan Muhammad (tetapi saya lupa di mana ia menulis tentang hal itu, mungkin di salah satu caping dia yang terkenal itu), saya tidak atau lebih baik belum menemukan penafsiran ini. Oleh karena itu, saya mengklaim tafsir ini sebagai penemuan saya, paling tidak untuk sementara waktu sekarang ini.

Yang saya maksudkan ialah suatu penafsiran eksistensial. Menurut pembacaan historis-filosofis saya, Chairil menulis puisi tentang sengsara dan wafat Isa itu karena ia sangat gandrung akan filsafat eksistensialisme yang pada tahun 40an sampai tahun 60an masih merebak dan menjadi mode pemikiran filosofis di seluruh dunia. Terkait dengan nafas pengaruh filsafat eksistensialisme ini, tentu Chairil di Indonesia tidak sendirian. Ada orang seperti Sutan Takdir Alisyabana yang juga dipengaruhi oleh eksistensialisme, bahkan oleh sebuah wujud yang lebih radikal dari eksistensialisme itu dalam tradisi Katolik, yaitu oleh personalisme. STA juga sangat dipengaruhi oleh eksistensialsime Karl Jaspers. Selain STA, masih ada juga orang seperti Iwan Simatupang yang dalam beberapa novelnya yang nyentrik mencoba menggali dan menggambarkan filsafat eksistensialisme itu. Baca saja bukunya yang terkenal, Ziarah, yang oleh Dami N.Toda (sastrawan dari Manggarai, teman angkatan dari Prof.Alan saat di Seminari Kecil dan Menengah di Mataloko dulu, tetapi Toda, ke Ledalero, Prof.Allan ke Cicurug) dianggap sebagai tonggak eksistensialisme Iwan, walaupun saya tidak begitu setuju dengan hal itu, sebab saya lebih suka memilih novel yang lain sebagai tonggak, yaitu Merahnya Merah, sebuah judul yang aneh juga. Kita stopkan di sini ulasan mengenai eksistensialsime dan pengaruhnya ke Indonesia pada tahun 40an hingga 60an.

Lalu ada apa dengan eksistensialisme itu? Apa hubungan antara eksistensialisme itu dengan aksi passing over Chairil yang menghasilkan puisi Isa yang terkenal itu? Hubungannya ialah ini. Salah satu tema paling menarik perhatian para filsuf eksistensialis pada saat itu ialah misteri wajah penderitaan. Para filsuf eksistensialis, seperti Heidegger, Sartre, Camus, dll, berjuang memberi penjelasan dan pemahaman tentang misteri Penderitaan itu. Tetapi tetap saja misteri itu tidak terjelaskan. Dan salah satu contoh sejarah dari penderitaan tragis itu, atau dalam istilah teologis Schillebeeckx, MENDERITA BEGITU SAJA, (yang berbeda dari menderita demi, atau menderita karena), ialah penderitaan yang dialami oleh Yesus Kristus. Menderita bukan karena salahnya sendiri, menderita walaupun ia tidak tahu mengapa harus menderita (seperti drama tragis Ayub itu). Hampir di sepanjang sejarah seni dan sastra di dunia ini, terutama di Eropa, wajah derita Yesus itu memang mewakili secara hakiki inti dari filsafat eksistensialisme itu sendiri.

Nah, Chairil Anwar yang pada tahun 40an juga sangat gandrung akan filsafat eksistensialisme itu, pasti juga menangkap dan memahami bahwa derita Yesus adalah derita eksistensialis, derita yang bisa menggambarkan dengan sangat tepat intuisi dasar filsafat eksistensialisme itu. Dalam drama dan pengalaman penderitaan, manusia diperhadapkan dengan eksistensinya sendiri, berhadapan dengan momen di mana ia harus dan mau tidak mau memutuskan proses pemaknaan hidup itu sendiri. Chairil Anwar kiranya menangkap keterkaitan yang mendasar itu. Oleh karena itu, menurut saya, walaupun dia Islam, tetapi karena dalam wajah derita Yesus terpantul inti dari filsafat eksistensialisme, maka ia pun tidak segan-segan memakainya sebagai sumber ilham puisi eksistensialismenya, walaupun dengan risiko berbeda dan bahkan bertentangan dengan keyakinannya sendiri sebagai seorang muslim.

Untuk menutup catatan ini saya kutipkan lagi di sini puisi itu. Mari kita baca bersama-sama.

ISA
Chairil Anwar
Kepada Nasrani Sedjati

Itoe Toeboeh
mengoetjoer darah
mengoetjoer darah

roeboeh
patah

mendampar tanja: akoe salah?

koelihat Toeboeh mengoecoer darah
akoe berkatja dalam darah

terbajang terang dimata masa
bertoekar roepa ini segara
mengatoep loeka

akoe bersoeka

Itoe Toeboeh
mengoecoer darah
mengoecoer darah

12/11-1943

4 comments:

Unknown said...

Waooo, keren. Sangat members pendalaman akan manna terdalam dari puisi dan pengarang itu sendiri. Mantap.

Unknown said...

Trims ya teman AWANAMA, sdh beri komentar apreaiatif di sini. Sayang sy tdk tahu nama anda. Trima kasih yah...

Unknown said...

Sangat inspiratif ulasan ini..thanks a lot

canticumsolis said...

Trima kasih ya atas atensi dan apresiasinya... sayangnya saya tidak kenal nama anda di sini... tapi tidak apa-apa...

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...