Saturday, April 11, 2020

MAKAM KOSONG, PETI KOSONG

Oleh: Dr. Fransiskus Borgias MA.

Pada tahun 2009 saya menerjemahkan buku dari Karen Armstrong yang terbit dua tahun sebelumnya, 2007, dengan judul BIBLE, A BIOGRAPHY. Saya terjemahkan menjadi ALKITAB, SEBUAH BIOGRAFI. Buku itu baru terbit empat tahun kemudian, 2013, pada penerbit MIZAN Bandung, yang telah meminta saya untuk menerbitkannya.

Pada Minggu pagi paskah 2020 ini, saya tiba-tiba teringat akan sepenggal kisah yang diangkat oleh Armstrong dalam salah satu Bab bukunya itu. Kita semua tahu bahwa Bait Allah di Yerusalem dihancurkan oleh Roma pada tahun 70 Masehi. Itulah penghancuran yang kedua sesudah penghancuran yang pertama yang dilakukan oleh Nebukadnezar, Raja Babel, pada tahun 586/585 SM. Dari dalam asap api penghancuran Yerusalem itu, kata Armstrong, kemudian muncul dua mitos kebangkitan, yaitu kebangkitan dari sebuah makam kosong, dan kebangkitan dari sebuah peti mati (coffin) yang kosong. Nah tulisan ini sebenarnya hanya mau bercerita tentang dua kisah itu: penemuan Makam kosong dan peti kosong. Ada apa yang terjadi sebenarnya?

Tetapi sebelum ke sana, saya meneruskan sedikit penelusuran historis saya tentang drama penghancuran itu. Sesudah penghancuran pertama terhadap bait Allah nan megah yang dibangun Raja Salomo itu, kira-kira 70 tahun sesudah itu, atas prakarsa Ezra dan Nehemia, yang diijinkan kembali ke Yehuda oleh Cyrus (penguasa Persia yang kemudian menjungkalkan keperkasaan Babel), Bait Allah pertama dari Salomo itu dibangun kembali. Kiranya tidak semegah bangunan Salomo. Maklum, lagi dalam krisis moneter. Bait Allah itu mengalami beberapa kali penghancuran atau setidaknya pencemaran sejak jaman itu sampai ke jaman Makabe, kira-kira abad kedua sebelum Masehi. Sesudah itu masih ada lagi raja yang mencoba memperbaiki, memperindah, mempercantik Bait Allah yang kedua ini. Dan hal itu bertahan sampai tahun 70M.

Pada tahun itu, terjadilah sebuah pemberontakan orang Yahudi terhadap Roma. Roma yang tidak mau direpotkan dengan perkara keamanan yang mengganggu idealisme Pax Romana itu, dengan segera mengambil tindakan tegas. Mereka mengepung Yerusalem selama beberapa bulan. Sejarawan Yahudi, Yosephus, bahkan menulis novel sejarah yang indah dan menarik tentang drama pengepungan itu. Roma berharap agar penghuni Yerusalem segera menyerahkan diri tanpa harus ada pertumpahan darah. Bahkan ada sesi-sesi perundingan juga. Tetapi rupanya para satria Israel dalam benteng Yerusalem itu, sudah bertekad untuk mati, berjuang sampai titik darah penghabisan, karena ada yang yakin bahwa mereka akan menang, bahwa tembok Yerusalem tidak akan bisa ditembusi oleh musuh. Ternyata hal itu tidak terbukti. Setelah pengepungan yang mengerikan selama beberapa bulan, akhirnya tentara Roma maju untuk menghancurkan tembok itu dan kemudian juga menghancurkan bait Allah sampai rata tanah dan membakarnya. Konon terjadi juga semacam aksi harakiri, bunuh diri massal di dalam tembok itu.

Dari mana cerita tentang peti mati yang kosong itu? Itulah yang mau saya ceritakan dalam bagian berikut ini. Yang jelas bahwa di samping faksi-faksi yang radikal di dalam tembok kota, ada juga faksi-faksi yang lembut dan realistis dan mencoba mencari jalan damai. Menurut Karen Armstrong, mereka itu adalah kaum Farisi. Konon kubu liberal Farisi ini sebenarnya sudah mau menyerahkan diri, tetapi mereka dihalang-halangi oleh kaum radikal fanatik. Bahkan mereka pun susah sekali untuk bisa keluar dari dalam kota untuk melakukan perundingan dengan Roma. Di kalangan orang Farisi ini muncul diskusi teologis dan eskatologis: kalau sekarang kita semua mati di sini, maka selesailah sudah agama Israel, agama Yahudi ini, tidak akan ada lagi yang meneruskan tradisi agung ini. Bayangan akan kemusnahan total dan terhentinya sejarah, dalam bahasa Manggarai disebut mempo, yaitu hilang tidak berbekas lagi, benar-benar mengganggu kaum Farisi ini.

Oleh karena itu, mereka mencoba mencari cara bagaimana mereka bisa meloloskan salah satu rabi mereka keluar dari tembok tanpa ketahuan dan nanti di luar tembok kota akan melakukan perundingan dengan Roma untuk merancang sebuah masa depan bagi mereka. Sementara orang sibuk mempersiapkan detik-detik terakhir menyongsong kematian di dalam benteng Yerusalem, tiba-tiba berhembus berita dari luar benteng bahwa ada seorang rabi yang diijinkan oleh tentara Roma untuk mendirikan mazhab Yahudi, yang kemudian dikenal dengan sebutan mazhab rabinik dari mana kita kini mengenal Yahudi rabinic, di Javna. Rabi itu secara sangat ajaib bangkit dari peti mati.

Cerita itu benar-benar menghebohkan orang-orang dalam benteng. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang terjadi ialah, para murid dari sang Rabi (farisi) itu, sudah lama menyiapkan kondisi itu. Mereka menyebarkan cerita bahwa sang rabi yang sudah tua itu sakit-sakitan dan hampir mati. Kemudian memang dia "mati". Hanya "mayat" yang boleh dibawa keluar melewati pintu gerbang dengan suatu penjagaan dan pemeriksaan yang sangat ketat. Peti mati itu lewat dan keluar dari pintu gerbang untuk "dimakamkan". Setelah jauh dari tembok pintu gerbang, "mayat" dari dalam "peti mati" itu bangkit. Sebab memang dia tidak mati. Itu hanya cara dari para murid sang rabi untuk meloloskan sang rabi keluar dari benteng kota yang terkepung itu.

Dengan segera, tentu saja dengan persetujuan Roma sebagai balasan atas sikap mereka yang melunak terhadap Roma, sang Rabi pergi ke Javna dan mendirikan sebuah sekolah alkitab di sana. Dan dari sekolah itu kemudian berkembanglah salah satu versi agama Yahudi, agama Yahudi rabinic sebagaimana yang kita kenal dewasa ini. Rabi itu bernama Yohannan ben Zakkai. Itulah cerita kebangkitan yang pertama, bangkit dari peti mati, dan karena itu peti itu pun ditemukan dalam keadaan kosong.

Sekarang tentang makam kosong. Sesungguhnya, Kekristenan pun lahir dari rahim agama Yahudi di detik-detik terakhir dari krisis eksistensi historis keyahudian itu. Hanya cerita Kekristenan lebih keren karena dirangkaikan dalam sebuah "biografi" yang panjang dari seorang tokoh agung, yang bernama Yeshua bin Maria orang Nazaret itu. Setelah selama hidupNya, Yeshua ini selalu berbenturan dengan pelbagai ajaran dan ideologi agama mainstream, misalnya "melanggar Sabat," atau pun bergaul dengan orang-orang pinggiran yang dianggap sampah masyarakat, sering membuat para petinggi agama itu mati langkah dalam perdebatan, tampil dengan kuasa agung lewat pelbagai mukjizatnya, akhirnya Ia dihukum mati lewat suatu persekongkolan yang keji antara petinggi agama dengan jejalin rumit hukum agama, dan petinggi politik, juga dengan jejalin rumit hukum negara. Ia dihukum mati dengan cara disalibkan.

Oleh para pengagumNya yang setia, Ia dimakamkan, dan tiba-tiba pada hari ketiga sesudah Ia dimakamkan, tiba-tiba tersebar cerita yang sangat menghebohkan di Yerusalem dan sekitarnya, bahwa makam Yeshuha sudah kosong. Para wanita yang suka mengikuti Dia dalam pelbagai perjalananNya, pagi-pagi datang ke makam, dan menemukan makam itu sudah kosong, dan ada seorang pemuda yang memberi kesaksian bahwa Ia sudah bangkit, Ia sudah tidak ada di sini.

Di atas cerita tentang "kebangkitan" itulah kemudian kekristenan mulai tumbuh dan berkembang. Cerita itu sudah ada terlebih dahulu dari cerita peti mati yang kosong di atas tadi. Bahkan Kekristenan sudah bertumbuh pesat juga saat drama pengepungan Yerusalem itu terjadi. Paulus sudah berjalan ke mana-mana, begitu juga Petrus dan Barnabas, dan para Rasul yang lain, termasuk seperti Filipus yang membaptis Sida-sida dari Etiopia itu. Oleh karena itu, wajarlah jika orang-orang Kristianoi awal ini merasa bahwa merekalah satu-satunya warisan yang sah dan resmi yang bisa tumbuh keluar dari agama Yahudi yang semakin merosot dan akhirnya hancur dengan kehancuran Bait Allah.

Rupanya anggapan itu, semula memang tidak ada yang mempersoalkannya sama sekali. Baru menjadi persoalan tatkala mazhab Yahudi Rabinic di Javna mulai mengibarkan sayapnya. Mereka juga mengklaim diri sebagai pewaris yang sah dan original dari Keyahudian pasca kehancuran Bait Allah itu. Maka sejak itu terjadi persaingan dan pertikaian antara dua kelompok itu. Persaingan itu, menurut seorang pakar Perjanjian Baru yang besar, pater Raymond Edward Brown, SS, itu terekam dalam ketiga injil sinoptik maupun juga injil Yohanes. Cukup sering kita menyaksikan bahwa Yesus ditampilkan dalam keempat injil itu khususnya sinoptik (yang lebih tua dari Yohanes) sering bertikai dan berdebat dengan orang-orang Farisi dan Saduki, dua faksi yang menjadi pilar utama Keyahudian pada jaman inter-testament dan awal Perjanjian Baru. Dan sering kali pula Yesus menang dan para lawannya kalah, mati langkah.

Tetapi masih menurut Brown juga bahwa rupanya dalam perjalanan sejarah, orang-orang Kristen merasa bahwa tidak baik juga kalau harus bertikai terus dengan sesama saudara. Itulah sebabnya di sana-sini kita menyaksikan bahwa dalam tulisan-tulisan yang jauh lebih kemudian usianya, misalnya Yohanes dan Lukas (khususnya Kisah), Yesus ditampilkan sudah mulai bersahabat dengan orang Farisi. Bahkan menurut Injil Yohanes, ada juga murid Yesus yang berasal dari kalangan Farisi tetapi diam-diam karena takut dan malu-malu. Itulah Nikodemus (yang dilukiskan pada awal Injil, dan kemudian Yusuf dari Arimatea yang berperan dalam drama pemakaman Yesus). Bahkan Yesus sendiri, paling tidak menurut Matius dan Lukas juga sudah mulai mengembangkan teologi pasifisme. Misalnya dalam Matius, Yesus mencegah kekerasan dalam kerusuhan Getsemani akibat drama pemotongan telinga dalam gerombolan yang rusuh itu: Kalau kau pakai pedang, maka kamu akan mati juga oleh pedang. Bahkan menurut Lukas, Yesus juga berdoa dari atas salib untuk mengampuni orang-orang yang menyalibkan dia. Akhirnya, dalam Kisah kita bahkan melihat sikap yang sangat bersahabat dari salah satu tokoh Farisi, Gamaliel (diakui sebagai guru Paulus yang juga si Farisi) yang mengembangkan sikap toleransi teologis yang terkenal itu: Kalau gerakan ini tidak berasal dari Allah, pasti akan mati sendiri. Tetapi kalau gerakan ini berasal dari Allah, jangan-jangan kita justru melawan Allah. Perkataan ini melunakkan sedikit sikap keras orang Yahudi terhadap para murid. Akhirnya, Lukas dalam Kisah mengisahkan drama pertobatan seorang tokoh Farisi terkenal: Paulus.

Jadi, menurut Brown, dalam perkembangan historisnya, Kekristenan akhirnya juga mulai mencoba merangkul orang-orang yang tadi-tadinya memukul mereka. Kalau di bagian awal Kisah Para Rasul kita menyaksikan bagaimana orang Kristen itu mengalami persekusi ngeri karena dikejar-kejar si tukang jagal bernama Saulus dari Tarsus, tetapi belakangan kita tahu bahwa ia bertobat. Tetapi hal itu tidak mematikan rasa benci orang Yahudi sama sekali. Dalam seluruh kisah dan juga dalam surat-surat Paulus kita sering bertemu dengan drama pertikaian dengan orang Yahudi.

Dewasa ini, ada yang beranggapan bahwa apa yang disebut antisemitisme itu diciptakan oleh orang Kristen. Anggapan itu semakin diperteguh sesuddah perang dunia kedua, di mana banyak orang Yahudi yang menjadi korban keganasan nazi jerman. saya sendiri tidak sependapat dengan anggapan itu, sebab antisemitisme itu sendiri sudah berada di dalam perjanjian lama. tengok saja kekejaman firaun atas budak-budak Ibrani di Mesir. Mereka bahkan ingin menghancurkan budak-budak itu dengan sistem kerja paksa yang berat. tengok juga kekejaman asyur yang menghancurkan samaria pada tahun 732 dan 722. tengok juga kekejaman Babel yang menghancurkan Yerusalem pada tahun 586. tengok juga kekejian yang dialami oleh Ester dan Mordekhai akibat persekongkolan jahat Haman yang merencanakan semacam pemusnahan etnis atas orang Yahudi. Tengok saja kekejaman Antiokus Epifanes dari Syria yang melakukan penindasan sehingga menimbulkan drama kemartiran yang ngeri termasuk tujuh kakak beradik dan ibu mereka yang dikisahkan dalam kitab Makabe itu.

Baiklah, kita terima saja anggapan itu. Maka pasca perang dunia kedua, muncul gerakan di dalam gereja Katolik untuk melihat kembali seluruh luka sejarah dalam relasi dengan Yahudi. Sejak itu muncul banyak gerak pendamaian dan hal itu akhirnya memuncak dalam Konsila Vatikan II. Melalui salah satu dokumennya, yaitu Nostra Aetate, gereja mencoba menjalin kembali relasi dengan pelbagai agama lain. Pakar Perjanjian Baru seperti Brown, mempunyai peranan besar juga dalam rangka melakukan beberapa revisi terhadap teks-teks liturgis, khususnya IMPROPRERIA, doa umat Meriah pada Jumat Agung itu, yang salah satunya mengandung semacam cercaan terhadap orang Yahudi, yang dianggap sebagai pembunuh Tuhan, Deicida. Betapa ngeri gelar itu, sebab kalau yang lain hanya dituduh sebagai genosida, ataupun homisida, atau fratrisida, orang Yahudi dijuluki Deicida. Vatikan II berusaha mencabut gelar itu. Dan sudah melakukannya juga. Jelas itu sebuah langkah yang dahsyat, sebab cukup lama Kekristenan di Eropa mempunyai sikap yang anti Yahudi. Selama abad pertengahan, gettho Yahudi di Eropa, pada masa Puasa, khususnya pada hari-hari Jumat, apalagi Jumat Agung, tidak boleh macam-macam. Kalau mereka macam-macam, maka dengan gampang saja emosi masa disulut untuk menumpahkan kemarahan kepada mereka sebagai kelompok pembunuh Tuhan, deicida tadi.

Yang menarik ialah bahwa tatkala Gereja Katolik mengumumkan penghapusan cap keji deicida itu, yang justru merasa kecewa dan bahkan marah adalah dunia Arab (Islam) yang sejak 1948, menganggap Israel sebagai luka, kangker dalam tubuh Arab dengan proklamasi negara Israel itu pada tahun 1948 tadi. Tadinya dunia Arab merasa mempunyai kawan di dalam menggembar-gemborkan kebencian kepada Israel, zionis itu, tetapi sejak Gereja Katolik mencabut gelar Deicida itu, mereka tiba-tiba merasa kehilangan kawan perjuangan. Itulah peliknya sebuah luka sejarah. Ia mempunyai cabang-cabang abses yang tidak terduga-duga. Mau disembuhkan cabang borok yang ini, ternyata cabang borok yang lain tidak terima. Tetapi Gereja Katolik tidak mundur. Teks Liturgi Jumat Agung direvisi. Bagian yang terlalu bernada menghina orang Yahudi, Israel, dihapus, itu yang saya tahu.

Semoga ke depan yang lebih dikedepankan ialah teologi pendamaian, teologi rekonsiliasi. Terkait dengan teologi pendamaian ini, saya teringat akan teolog agung dari Chicago, tamatan Nijmegen, murid Schillebeeckx, yaitu Robert J.Schreiter, yang pada tahun 80 menulis dua buku tentang teologi rekonsiliasi ini. Kedua buku itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan diterbitkan di Nusa Indah. Saya lupa penerjemahnya. Tetapi ada satu hal yang jelas, ialah bahwa pater Schreiter memakai kisah-kisah sengsara dan kebangkitan sebagai basis dari teologinya. Terasa sangat paradoksal, tetapi itu yang ia lakukan. Ia hanya mau mengatakan bahwa aksi pendamaian, kemauan untuk rekonsiliasi hanya bisa datang dari sang kurban, victim, sedangkan the victimizer mungkin tidak akan pernah sadar. Sang Victim harus membangun semacam solidaritas di antara sesama kurban, dan di atas solidaritas sesama kurban mereka bisa datang dan menghadap the victimizer, bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk membangun sebuah relasi baru. Menurut Schreiter, itulah yang dilakukan Yesus, yang dalam beberapa kisah penampakan, selalu mulai dengan ucapan, DAMAI BAGIMU. Coba kita bayangkan, Dia yang sengsara, yang menderita, yang terluka, yang mati, tetapi sekarang Dia juga yang datang membawa DAMAI. Dia yang ditinggalkan sendirian oleh para muridNya, sekarang Ia datang lagi kepada mereka. Kiranya Yeshuha sadar bahwa para muridNya itu dirundung ketakutan dan teror, maka tidak ada orang lain yang bisa menyembuhkan mereka dari teror itu, selain Dia sendiri. Karena itu Ia datang membawa Damai. Dengan bekal damai itu, ia membangun semangat para muridNya yang sempat goyang dan bingung, agar bisa bangkit lagi.

Salah satu contoh murid yang bingung ialah Petrus, kata Pater Schreiter. Sesudah Yesus disalibkan, ia merasa kosong dan gamang. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah sang guru mati konyol di salib. Dalam kebingungan, pater Schreiter mengatakan, orang bisa mengambil dua sikap. Pertama, sikap mencoba menerobos kegamangan itu. Tetapi itu tidak dilakukan Petrus. Kedua, ialah kembali lagi ke pekerjaan lama. Petrus menempuh ini. Ia kembali ke perahunya ke danau. Tetapi coba anda bayangkan. Ia yang sudah tiga tahun meninggalkan pekerjaan itu sekarang ia coba lagi sekadar menghapus kebingungan dan kegamangan. Maka tidak mengherankan bahwa Petrus tidak mendapat apa-apa. Ia sudah terasing dari keahliannya yang lama. Sementara jalan baru sudah tertutup. Ia hampir putus asa. Tetapi tiba-tiba muncul seseorang yang mengatakan bahwa coba kau tebar jalamu ke sebelah kanan perahumu. Petrus masih sempat menampik dengan mengatakan, sudah semalaman kami menangkap tapi tidak berhasil. SED IN VERBO TUO LAXABO RETTE. Dan terjadilah mukjizat. Petrus pun tersungkur sujud setelah menyadari bahwa orang asing yang tadinya ia anggap remeh perintahnya, ternyata adalah Yesus Tuhan yang Bangkit.

Kita bisa membayangkan betapa semangat petrus bisa bangkit lagi. Dan dengan semangat itu, Petrus bangkit dan memimpin teman-temannya untuk memulai sebuah gerakan. Dengan ini, kata Brown lagi, terpenuhi doa yang diucapkan Yesus dalam Injil Lukas, sebuah doa yang sangat menarik bagi saya. Menurut Lukas pada saat perjamuan Malam, terjadi percakapan intensif antara Yesus dan para muridNya khususnya dengan Petrus (Luk 22:24-38). Di ayat 31 kita baca sbb: "Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau jikalau engkau sudh insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu." Kata Brown, inilah saatnya di kisah-kisah penampakan itu Petrus yang sempat menyangkal Yesus, menjadi kuat kembali dan setelah ia kuat, ia bisa menguatkan saudara-saudaranya. Dan dengan itu dimulailah sebuah kisah baru, sebuah gerakan baru, hingga sekarang ini.

1 comment:

canticumsolis said...

Tulisan ini masih bersifat sangat spontan. rujukan belum dicek ulang dengan teliti. rujukan hanya dimasukkan sejauh yang bisa saya ingat secara spontan. masih dibutuhkan langkah lanjutan untuk mengeditnya lagi...

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...