Thursday, January 24, 2019

MAKAN JAGUNG MUDA MAMAKU

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.


Setiap bulan Januari datang, entah mengapa, saya selalu teringat akan mamaku tercinta, mama Katharina. Mungkin karena bulan Januari adalah bulan yang penuh hujan. Dan hujan selalu memunculkan rasa melankoli dalam hati sanubari. Khususnya saya tiba-tiba teringat akan masa kecilku di SDK Lamba-Ketang. Pada tahun 1974 saya duduk di kelas VI SDK Lamba-Ketang itu.

Pada awal tahun itu, guru kelas kami di kelas VI, bapak Pit Darut (almarhum), sudah memberi pengumuman kepada kami tentang siapa yang berminat untuk ikut testing masuk Seminari Kisol. Begitu mendengar nama Seminari Kisol, hati saya pun mulai berbunga-bunga. Sudah cukup lama saya ingin sekali masuk Seminari itu. Rasa tertarik itu lebih disebabkan oleh sebuah daya pesona, entah apa, dari beberapa siswa seminaris yang berasal dari sekolah kami itu. Setiap kali mereka pulang libur, mereka tampak lain, entah apa. Saya juga tidak tahu. Saya sebut saja nama-nama seperti, almarhum Pius Wans Mahdi. Ada juga Yohanes Bong. Ada juga almarhum Markus Hambut. Kemudian ada juga Norbertus Nempung, dan Dr.Philipus Ngorang. Itulah beberapa kakak kelas saya yang sudah lulus masuk ke Seminari Kisol. Entah mengapa, saya selalu merasa sangat tertarik dengan penampilan dan kepribadian mereka. Ada suatu aura lain yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Oleh karena itu, saat ada pengumuman itu, saya langsung menyatakan ingin ikut dalam testing seminari itu. Dari kelas kami ada empat orang yang mendaftar: Saya sendiri, Barnabas Selasa, Romanus Pas, dan Stanislaus Peluru (almarhum). Semuanya laki-laki. Maklum sekolah itu hanya untuk laki-laki. Dalam hati kecil saat itu saya sudah bertanya: mengapa tidak ada seminari untuk perempuan? Sudahlah. Itu persoalan lain. Dari empat nama tadi, kemudian ada dua orang yang tidak jadi ikut yaitu Barnabas Selasa dan Stanislaus Peluru.

Testing itu sendiri dijalankan di kota Ruteng dengan mengambil tempat di Sekolah Dasar Ruteng V. Singkat cerita, pada bulan November sudah ada kepastian bahwa saya lulus testing dan diterima masuk ke Seminari Kisol. Temanku Romanus Pas tidak lulus. Saya menjadi sedih karenanya, sebab dengan itu berarti saya sendirian dari SDK Lamba-Ketang. Tidak apa-apa. Ayah dan ibu saya sangat mendukung rencana saya untuk masuk ke seminari. Kakak sulung saya juga, kakak Sin Saina, yang saat itu sudah duduk di kelas 1 SKKP Ruteng juga ikut mendukung. Begitu juga dengan adik Maksimus yang langsung di bawah saya. Ia juga ikut mendukung dan ikut senang. Adik-adik yang lain masih kecil. Saya sangat senang dan bangga karena hal itu.

Lalu liburan Desember sudah tiba. Jagung-jagung di kebun kami sudah lumayan tua. Tetapi ayah kami mempunyai kebiasaan yang ketat yaitu tidak boleh memetik jagung sebelum masa panen tiba. Masa panen itu artinya, semua jagung dalam kebun sudah tua semuanya dan sudah cukup untuk dipetik dan disimpan dalam jangka panjang sebagai persiapan menghadapi musim kering pada tahun berikutnya. Dan tidak ada seorang anak pun yang berani melanggar ketetapan dan peraturan itu. Sebab juga tidak mungkin untuk melanggar. Sebab kalau jagung itu dipetik, lalu akan dibakar di mana?

Tetapi beberapa kali selama masa liburan Natal mama biasanya mengambil beberapa jagung yang sudah cukup matang usianya untuk dimakan bersama-sama. Kalau mama yang mengambil maka papa biasanya tidak marah. Biasanya jagung itu baru bisa ditanam di akhir bulan Oktober. Jarang sekali terjadi jagung itu bisa ditanam pada bulan September. Umumnya pada akhir bulan Oktober. Dan usia jagung itu kira-kira tiga bulan lebih. Artinya, panen raya baru bisa dilakukan pada akhir bulan Januari. Itulah masa giok latung. Seluruh jagung di kebun ditebang dan buah jagungnya diambil dan dikumpulkan di rumah. Pada malam hari, para sanak saudara dan kenalan akan datang untuk putu latung dan dibuat dalam satuan deleng. Masing-masing deleng terdiri atas 12 tongkol jagung. Enam sebelah, enam sebelah. Setelah di-deleng, lalu jagung itu ditumpuk dalam satuan limbu. Satu tumpukan limbu terdiri atas duapuluh empat deleng ataupun gampo.

Itu adalah masa-masa yang paling indah di masa kecil kami. Kami makan jagung muda. Baik yang dibakar, maupun yang direbus, dan di-tunu (dibakar dengan kulitnya sekalian). Semuanya terasa manis dan nikmat.

Pada akhir tahun 1974 itu saya sudah menghitung bahwa saya tidak akan mendapat kesempatan untuk menikmati jagung muda itu. Sebab pada bulan Januari tanggal 15 kami sudah harus berada di Kisol untuk masuk asrama seminari. Itu artinya, saya tidak akan mendapat kesempatan menikmati jagung muda itu. Sebab panen raya baru bisa dilakukan di atas tanggal 20 atau 25 Januari. Saya merasa sedih sekali membayangkan hal itu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya tidak mendapat kesempatan langka untuk menikmati jagung muda itu. Sedih sekali rasanya. Rasanya seperti mau menangis. Tetapi tidak boleh menangis, sebab itu sudah menjadi pilihan sendiri. Harus berani melangkah terus.

Ternyata ibu saya sudah mempunyai perhitungan sendiri. Di sebuah sudut kebun kami di Ketang ibu sudah menanam satu petak jagung khusus yang usianya tidak sampai tiga bulan lebih. Pokoknya, dua setengah bulan lebih sudah bisa dipanen. Benih jagung itu tidak mudah didapat. Tetapi mama berusaha mendapatkannya pada musim tanam tahun 1974 itu. Bapa tidak tahu akan hal itu.

Kira-kira satu minggu sebelum tiba giliran saya untuk berangkat ke seminari, kami bisa makan jagung dengan puas. Mama sudah memanen jagung yang sudah dipersiapkannya sendiri agar saya bisa memakan jagung itu walau panen raya belum tiba. Saya sangat terkejut. Tetapi sekaligus juga merasa senang karenanya. Malam menjelang besoknya saya berangkat ke Ruteng untuk menuju Kisol, mama menceritakan kepada saya rahasia yang ia lakukan.

Pada pertengahan bulan Oktober ia sudah meminta benih jagung dari seorang ende tua di Lando. Jenis jagung yang usianya tidak lama. Mama memperlakukan benih jagung itu secara khusus dalam semacam ritual wuat wini. Ketika musim tanam tiba, ia mengatakan kepada benih-benih itu agar mereka bisa bertumbuh cepat dan juga cepat berbuah dan menjadi matang karena anakku yang laki-laki akan segera pergi ke tempat yang jauh dan mungkin tidak akan sempat menikmati ritual makan jagung bersama-sama pada saat panen raya. Dengan doa ritual wuat wini seperti itu, mama Kathie pun menanam jagungnya. Itu sebabnya, sebelum akhir Januari (saat masa panen raya tiba), kami sudah bisa memakan jagung yang sudah matang duluan karena sudah diantisipasi oleh mama dengan cara yang khusus seperti itu.

Dalam kilas balik, saya juga ingat bahwa setahun sebelumnya, yaitu pada awal tahun 1974 kami juga sudah makan jagung pada pertengahan Januari. Ternyata mama juga sudah melakukan ritual itu pada akhir Oktober 1973 karena pada awal Januari 1974 anak putrinya yang sulung, untuk pertama kalinya pergi jauh meninggalkan kami semua. Saya masih ingat, betapa mama kuat dan tegar mengantar kakak Sin sampai wa mbarud dise Pius yang terletak di dekat Wae Teku Ketang. Setelah itu kakak Sin berangkat terus ke Ruteng bersama bapa. Mama sama sekali tidak menangis. Saya kagum. Tetapi pada sore hari itu, saya lihat dia menangis karena kepergian putri sulungnya yang selama ini selalu setia dan rajin membantu dia.

Jauh di kemudian hari saat saya sudah membaca banyak pelbagai buku psikologi, akhirnya saya tahu bahwa itulah yang disebut kekosongan. Para psikolog menyebutnya fenomena sindrom sarang kosong, empty nest syndrome. Sebuah sindrom yang menyedihkan dan menyakitkan. Tadinya di rumah (sarang) selalu ada dia (puterinya), selalu terdengar suara bicara dan tawanya, tiba-tiba sekarang ia sudah pergi jauh untuk sekolah. Kekosongan itulah yang membawa kepedihan dan rasa sakit yang melanda hampir setiap orang tua.

Ya Januari, seperti sekarang ini, saya selalu aku teringat akan itu semua. Tidak akan terlupakan. Juga setelah mama pergi dari sini. Tetapi justru dengan itu, ia secara ajaib selalu jauh lebih dekat di hati kami masing-masing. Ia tetap hidup di sini. Itu sudah pasti.


Bandung, pertengahan Januari 2019.

Monday, January 14, 2019

MEMAHAMI DAN MENIKMATI KIDUNG AGUNG 2:8-17

Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI.




Dalam deru gejolak rasa rindunya yang mendamba, sang kekasih perempuan itu melihat dan menantikan kedatangan sang kekasih dalam sukacita dan riang ria. Ia memakai ungkapan yang menampakkan keriangan itu, melompat-lompat dan meloncat-loncat di atas gunung dan bukit (ay 8). Ia lukiskan kekasih pria dengan metafora kijang dan anak rusa yang bermain di padang dan di lereng bukit (ay 9a). Sekarang kekasih pria berdiri begitu dekat dengan kekasih wanita, yaitu di balik dinding (ay 9b). Dari dalam ia memandang dengan rindu. Dari luar kekasih pria juga mencoba melihat dengan rindu (ay 9c).

Ternyata tidak berhenti pada saling memandang. Kekasih yang datang dari lereng gunung itu mulai menyapa dan membangunkan kekasih wanitanya (ay 10). Ia membangunkannya untuk menyaksikan perubahan musim yang begitu indah: dari musim dingin dan musim hujan (ay 11) ke musim bunga (musim semi) dan musim memangkas (ay 12). Ada juga burung yang ikut menikmati perubahan musim yang indah itu. Di sini secara khusus disebut tekukur (ay 12).

Pepohonan mulai menampakkan perubahan. Secara khusus disebut pohon ara yang mulai berbuah (musim semi). Juga pokok anggur: menyembulkan bunga harum semerbak dan indah (ay 13). Kekasih pria yang datang seakan sedang melukiskan sebuah panggung alam tempat mereka mengadakan perjumpaan penuh kasih dan rindu. Itu sebabnya, ia sekali lagi mengulang ajakannya yang ia ucapkan dalam ayat 10 (Bangunlah, manisku, jelitaku, marilah). Ia mengajak sang kekasih untuk keluar menikmati alam yang indah bersama-sama. Betapa romantisnya ia membayangkan perjumpaan itu.

Rupanya kekasih perempuan itu belum keluar atau menampakkan diri. Itu sebabnya dalam ayat 14a ia menyebut kekasihnya itu dengan sebutan “merpatiku” yang bersembunyi di celah-celah batu, di lereng-lereng gunung. Ia meminta dengan sangat agar kekasih perempuan itu segera memperlihatkan wajah dan memperdengarkan suara (ay 14b). Ia merindukan wajah dan suara itu karena suara itu merdu dan wajah itu elok (ay 14c). Itulah pertanda luapan rasa rindu yang semakin kuat dan menggelora di dalam kalbu.

Kerinduan itu rupanya belum kesampaian. Tetapi ia tahu bahwa kekasih wanita itu sedang menanti di suatu tempat. Karena itu, dalam ayat 15 kita saksikan perubahan subjek tutur. Jika sebelumnya kekasih prialah yang berbicara, maka di sini yang bertutur adalah kekasih wanita. Dari dalam persembunyiaannya (tetapi serentak sedang mengintip rindu) ia sayup-sayup menyampaikan keinginannya kepada kekasih pria yang sedang mengembara di padang. Kekasih wanita berharap agar kekasih pria itu menjaga kebun-kebun anggur mereka dari gangguan rubah-rubah kecil yang sering menggerogoti pokok anggur yang sedang berbunga (ay 15b). Rubah kecil ini dapat dibaca sebagai metafora tentang para pengganggu relasi cinta mereka yang sedang dibangun dan berbunga-bunga. Kekasih wanita berharap agar rubah-rubah itu tidak merusak cinta mereka (dilambangkan dengan kebun anggur yang sedang berbunga itu).

Dalam gejolak rasa rindunya ia tetap yakin dan optimis bahwa ia adalah kepunyaan sang kekasihnya dan sebaliknya sang kekasih adalah kepunyaanya. Ini adalah relasi kepemilikan yang unik dan aneh dalam relasi cinta yang bersemi ria. Kekasih perempuan membayangkan kekasih prianya sebagai gembala yang menggembalakan domba-dombanya di tengah bunga bakung (banyak tumbuh di padang) (ay 16). Juga dalam derap gejolak rindunya, kekasih wanita berharap agar sang kekasih pria itu kembali kepadanya dengan berlari-lari seperti kijang. Ia mengharapkan agar hal itu bisa terjadi sebelum angin senja berhembus (menjelang kegelapan malam tiba), sebelum bayang-bayang menghilang (dalam kegelapan malam, kita tidak bisa melihat bayang-bayang).

Itu artinya, ia diharapkan segera tiba sebelum malam datang (ay 17a). Kekasih wanita itu juga berharap agar kekasih prianya datang kepadanya laksana anak rusa yang bermain-main di gunung-gunung tanaman rempah-rempah (ay 17b). Dalam imajinasinya kekasih wanita itu membayangkan kekasih pria laksana anak rusa yang bermain di sebuah perkebunan indah. Hal itu membuat gejolak rindu dalam hatinya semakin membara karena cinta mendamba. Hal itulah yang akan kita baca dalam bagian awal Bab 3.

Tuesday, January 1, 2019

RELASI INTERSUBJEKTIFITAS MENURUT MARTIN BUBER

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA
Dosen Teologi Fakultas Filsafat UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI.



Martin Buber (1878-1965) adalah salah satu filsuf Jerman yang besar pada abad keduapuluh. Ia terutama dikenal dengan pemikiran filosofisnya tentang hubungan antar manusia (relasi intersubjektifitas). Ia menuangkan pemikiran filosofis itu dalam buku babonnya, Ich und Du (1923; Jerman). Terjemahan Inggrisnya I and Thou (1970, W.Kaufmann). Sampai kini belum ada terjemahan Indonesia. Sebelum melangkah lebih jauh saya tambahkan beberapa detail data biografis beliau. Ia adalah filsuf Jerman berdarah Yahudi, seperti beberapa filsuf Jerman lain (Herman Cohen, Franz Rosenzweig). Prof.K.Bertens (Filsafat Barat: Inggris-Jerman, Jakarta: Gramedia 1983). bisa membantu kita memahami pokok-pokok pemikiran filosofis Buber tentang relasi antar manusia.

Menurut Buber, manusia mampu membangun dua relasi fundamental. Pertama, relasi antara Aku dan Engkau, Ich und Du, I and Thou. Relasi ini dibangun sang subjek manusia dengan sesamanya. Lebih jauh relasi ini juga bisa dibangun oleh manusia dengan Tuhan. Relasi ini harus senantiasa ditandai oleh kesadaran akan otonomi subjektifitas si subjek yang lain. Pihak lain harus dihormati, dihargai, dan diakui apa adanya. Relasi model pertama ini, menurut Buber, ditandai Beziehung (Bertens 1983:163). Tidak mudah menerjemahkan kata ini ke bahasa Indonesia. Prof.Bertens menerjemahkannya hubungan (relationship). Baik juga kalau dipahami sebagai perjumpaan (encounter, walaupun untuk perjumpaan itu ada kata khusus dalam Jerman, Begegnung). Beziehung (relationship, hubungan, perjumpaan) ini mengandaikan relasi antar pribadi, inter-persona.

Kedua, relasi Aku dan benda, Ich und es, I-It (Aku dan Itu, Aku dan Benda). Menurut Buber, model relasi kedua ini terjadi antara manusia dan benda atau binatang. Dalam relasi model ini, ada mentalitas pemilikan dan penguasaan. Manusia menguasai dan memiliki benda. Bahkan binatang juga dimiliki dan dikuasai manusia. Relasi model kedua ini, menurut Buber, ditandai Erfahrung (Bertens 1983:163). Tidak mudah menerjemahkan kata ini ke bahasa Indonesia. Sebaiknya kita terjemahkan dengan pengalaman (experience). Hal ini sangat berbeda dengan model relasi pertama tadi, di mana tidak boleh ada pemilikan dan penguasaan. Du harus dihormati di dalam kebebasan dan otonominya. Martabat dan otonomi kebebasannya tidak boleh dilanggar, ataupun diperkosa.

Sampai di sini kita bisa memahami inti pemikiran filosofis Buber. Lebih lanjut ia mengatakan, dan inilah persoalan dimensi etis relasi intersubjektifitas itu, bahwa manusia bisa membolak-balikkan ataupun menukarkan kedua pola dasar relasi tadi. Maksudnya dalam relasi Aku-Engkau, seharusnya sang Engkau dihormati sebagai subjek yang tidak boleh diobjektivasikan. Tetapi kalau hal ini terjadi, itulah drama tragedi objektifikasi martabat subjek. Jika hal itu terjadi, maka subjek pun sudah tidak ada lagi, sebab ia sudah berhenti menjadi subjek, lalu menjadi objek. Lingkup Beziehung diperosotkan menjadi sekadar Erfahrung. Lebih tragis dan dramatis lagi, sang subjek bisa diperosotkan sedemikian rupa sampai menjadi benda (objek). Itulah yang disebut proses reifikasi (dari kata Res, Latin, artinya hal ataupun benda), proses pembendaan subjek, subjek diperlakukan sebagai sekadar benda. Bila manusia diobjektivikasikan ataupun dibendakan, maka tinggal selangkah lagi orang bisa tega melakukan apa saja untuk menghancurkan manusia itu tanpa harus dilanda ataupun disiksa rasa bersalah (guilty feeling) dan apalagi rasa berdosa (sinful feeling).

Dulu dalam situasi kekejaman dan kengerian dari Perang Dunia II, salah satu akibat dari tendensi objektivikasi dan reifikasi itu ialah kekejaman Nazi yang berujung pada tragedi Holocaust yang sangat mengerikan itu. Jika di sini saya mengangkat contoh dalam konteks Perang Dunia II, itu tidaklah berarti bahwa kini (khususnya di Indonesia) tendensi itu sudah tidak ada lagi. Sama sekali tidak. Tendensi itu masih ada juga sekarang dan di sini, di negeri ini. Kalau ada sekelompok orang yang tega meneriakkan di ruang publik bahwa darah (sekelompok) orang itu halal (boleh ditumpahkan, hanya karena orang itu berbeda secara ras dan keyakinan religius dan ideologis dari mereka), itu adalah bentuk kongkret dan vulgar dari tendensi objektifikasi dan reifikasi tadi. Jika sesama itu hanya benda, atau diperlakukan sebagai benda (objek) belaka, maka sah-sah saja jika dibunuh atau dilenyapkan, tanpa harus merasa bersalah ataupun berdosa. Ini baru di satu sisi.

Di sisi lain, bisa saja terjadi bahwa manusia, si subjek tadi, memperlakukan sang id, es, benda tadi menjadi seperti manusia, bahkan seperti Tuhan. Jika ini yang terjadi, maka manusia sudah terperosok ke dalam dosa pemujaan berhala (idolatreia), yaitu memper-tuhan-kan benda dan mungkin juga mem-benda-kan Tuhan. Kiranya tendensi hidup yang sangat materialistik dan konsumeristik adalah tendensi dan nafsu yang mempertuhankan benda. Benda dikejar mati-matian demi dirinya sendiri dan bila perlu dengan mengorbankan sesama, dan juga mengorbankan Tuhan.
Karena sadar akan tendensi itu (kata G.Vahanian: manusia mudah jatuh ke berhala kalau ia tidak lagi mengalami Tuhan sejati), maka para penulis kitab Taurat, khususnya Kejadian memperkenalkan gagasan Sabat, sebagai hari istirahat. Pada hari Sabat manusia harus beristirahat dari kerja, dari nafsu dan kegiatan bekerja, mereka harus berhenti dari aktifitas mengolah tanah, menguasai alam. Pada hari Sabat, alam seakan diberi jeda atau istirahat singkat. Lalu pada saat itu manusia sejenak berlibur bersama Tuhan yang beristirahat pada hari Sabat itu.

Pelaksanaan Sabat itu tidak lagi hanya sekadar berlibur bersama Tuhan, melainkan juga terutama berlibur bagi atau untuk Tuhan. Aspek untuk/bagi itu diwujud-nyatakan dengan cara mengisi liburan Sabat dengan kegiatan peribadatan dan doa. Dalam hidup dunia modern dewasa ini, kiranya banyak orang lupa akan hal itu. Week-end adalah demi manusia saja. Manusia berlibur untuk tujuan egois. Padahal sejatinya libur itu haruslah berlibur bersama Tuhan dan untuk Tuhan. Jika ini tidak terjadi, sesungguhnya manusia modern sudah terperosok ke dalam egoisme dan sikap kontra-altruisme. Tinggal selangkah lagi maka manusia akan binasa. Sebab hidup tanpa Tuhan adalah sebentuk kematian dini itu sendiri.

Thursday, December 27, 2018

PERISTIWA NATAL DAN AYUB

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA
Dosen FF-UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI



Begitu membaca judul di atas pasti anda bertanya: adakah hubungan antara Natal dan Ayub? Bukankah ada jarak waktu yang sangat besar antara Ayub dan peristiwa Natal? Menurut Yehezkiel, Ayub hidup pada jaman Bapa Bangsa, sebab ia menyebut namanya bersama daftar nama mereka (Yeh 14:14,20). Sedangkan Natal adalah peristiwa pada jaman akhir, yang mengawali perjanjian baru. Kalau ada, maka hubungan seperti apakah itu? Tulisan ini dimaksudkan untuk menjelaskan misteri hubungan itu.

Saya mulai dengan Natal. Menurut Lukas, kelahiran Yesus adalah peristiwa yang merepotkan sebab terjadi dalam perjalanan, bukan di rumah. Karena perintah cacah jiwa Kaisar Agustus berangkatlah Maria dan Yusuf ke Betlehem (kota asal Yusuf, keturunan Daud). Saat itu Maria, tunangan Yusuf, sedang mengandung (Luk 2:5). Bisa dibayangkan betapa perjalanan itu menyusahkan sebab Maria mengandung tua. Begitu tiba di Betlehem, kata Lukas, “...tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin” (Luk 2:6). Kelahiran itu juga pasti merepotkan karena mereka tidak mendapatkan penginapan. Anak itu lahir di tempat sederhana, tetapi Lukas tidak melukiskan tempat seperti apa itu. Yang jelas cukup sederhana, sebab begitu anak itu lahir, ia dibungkus dengan kain lampin dan dibaringkan dalam palungan, semacam wadah untuk memberi makanan ternak.

Dari sinilah muncul imajinasi religius kita yang membayangkan bahwa itu adalah kandang hewan milik para gembala. Jangan kita bayangkan bahwa di situ hanya ada ternak saja. Pasti ada manusia, yaitu gembala. Sebab gembala jaman itu, hidup bersama ternak. Karena hidup bersama setiap hari, mereka bisa “mengenal” dan “mengetahui” bau masing-masing. Domba mengenal bau tuannya. Bukan berarti gembala tidak mandi. Melainkan, pakaian mereka menyerap aroma domba. Begitu gembala datang, mereka akan membaui. Saat mencium aroma yang sama dengan aroma mereka, maka mereka tenang karena mereka mengenal tuannya melalui bau mereka yang sudah lengket pada pakaian si gembala.

Imajinasi tentang kehadiran gembala itu menjadi semakin kuat sebab dalam bagian berikut kisah Lukas kita diberitahu tentang gembala. Di tengah rutinitas hidup mereka, tiba-tiba mereka didatangi malaekat. Semula hanya satu Malaekat. Ia bercahaya gilang gemilang. Penglihatan itu sangat asing bagi mereka. Itu sebabnya mereka sangat ketakutan. Malaekat itu mengatakan agar jangan takut karena ia membawa kabar sukacita besar, yakni kelahiran Yesus Kristus, di kota Daud (Luk 2:11). Malaekat itu juga memberi tanda khas bayi itu (ay 12). Keadaan makin semarak karena turunlah serombongan malaekat, bala tentara surgawi. Kita bisa bayangkan keadaan di luar Betlehem di padang penggembalaan menjadi sangat ramai karena para malaekat itu bernyanyi memuji Allah: Gloria in excelsis Deo. Et in terra pax hominibus, bonaevoluntatis (Luk 2:14).

Saya bisa membayangkan betapa penampakan itu sungguh membuat hati para gembala itu terpesona dan diliputi sukacita besar. Sebab begitu penglihatan itu berlalu mereka bergegas ke Betlehem untuk membuktikan kebenaran kabar malaekat itu. Lukas tidak memberitahukan apa perasaan mereka. Tetapi kita bisa membayangkan betapa mereka heran dan penuh sukacita tatkala melihat bahwa yang dikatakan malaekat itu benar: ada bayi yang lahir dan dibaringkan di palungan. Keheranan dan sukacita mereka dan kabar yang mereka sampaikan membuat orang yang mendengarnya keheranan juga. Rupanya, cerita kelahiran langka itu cepat menyebar di Betlehem sehingga banyak orang datang melihatnya sebelum gembala itu. Kelahiran itu membawa sukacita besar. Apalagi bagi kedua orang tuanya. Hari lahir, Dies Natalis, membawa sukacita, dirayakan sebagai peristiwa sukacita besar. Hari lahir dikisahkan sebagai peristiwa sukacita besar.

Apa hubungannya dengan Ayub? Tentu Ayub, saat lahir, pasti membawa sukacita bagi orang tuanya dan sanak keluarganya. Lalu apa masalahnya? Masalahnya ialah bahwa jauh di kemudian hari, saat Ayub sudah tua, ia pernah mengutuk hari lahirnya (Ayb 3). Dalam hidupnya semula Ayub adalah orang sukses sehingga ia menjadi kaya. Ia memiliki harta benda yang sangat banyak. Ia orang paling bahagia dalam ukuran Perjanjian Lama. Walaupun sangat kaya, ia tidak lalai. Ia tetap hidup saleh dan tidak bercela di hadapan Allah. Bahkan Tuhan memuji kesalehan hidup Ayub. Kesalehan Ayub bahkan cenderung tampak seperti scruple. Hal itu tampak dalam perbuatannya yang setiap pagi mempersembahkan kurban bagi anak-anaknya. Siapa tahu mereka itu, tidak lagi ingat akan Tuhan.

Suatu hari, tanpa ia ketahui sebabnya, tiba-tiba ia jatuh miskin karena bencana alam dan perampokan. Tidak hanya berhenti di situ. Tidak lama sesudah itu ia sakit berat. Seluruh tubuhnya terkena borok mulai dari kepala sampai ke telapak kaki. Karena itu ia tidak tinggal di rumah melainkan di luar rumah dalam kotak abu. Di sanalah ia merenungi nasibnya. Ia tidak memahami mengapa ia yang hidupnya saleh dan kaya tiba-tiba jatuh miskin dan sakit. Tetapi ia tidak meninggalkan imannya. Justru isterinyalah yang jatuh ke dalam ateisme praktis yaitu hidup seakan Allah tidak ada. Walau menderita ia tetap saleh. Tidak mengutuk Allah. Dalam deritanya yang berat itu kita tahu bahwa Ayub mengutuk hari lahirnya. Dari dalam tubir derita ia membayangkan bahwa lebih baik dulu jika ia tidak lahir, jika dulu tidak ada kabar sukacita tentang kelahiran. Kalau terlanjur ia lahir, sebaiknya ia mati saja saat masih bayi merah yang tidak tahu apa-apa. Ini semua terjadi karena ia tidak dapat memahami lagi misteri deritanya.

Di sinilah hubungannya: jika natal yang kita rayakan membawa sukacita, Ayub dari dalam tubir deritanya justru mengutuk hari lahirnya, membayangkan bahwa hari lahir (dies natalis) itu dulu sebaiknya tidak pernah ada. Natal dalam imajinasi religius Ayub yang menderita, adalah hari terkutuk yang sebaiknya tidak pernah ada, dan tidak pernah diwartakan. Sedangkan bagi kita natal adalah hari sukacita, hari Tuhan Yesus lahir ke dunia ini, hari misteri verbum caro factum est, sabda menjadi daging. Ya, selamat Natal.

#imajinasi religius #gembala #natal #ayub #peristiwa natal #ateisme praktis

Wednesday, December 26, 2018

DATANGLAH KERAJAANMU: BAPA ALEX NAHAL DAN DOA “BAPA KAMI”

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.
Dosen FF-UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI.




Awal Agustus 2017 yang lalu saya dan isteri berkesempatan untuk bertemu dan melakukan wawancara dan berdialog dengan Bapa Alex Nahal di rumah kediamannya di Borong. Hal itu saya lakukan dalam rangka menyusun sebuah buku tentang Bapa Alex. Untuk itu saya berusaha menggali banyak segi dalam kehidupannya untuk diungkapkan kepada Publik dalam sebuah buku nantinya. Sudah banyak tulisan singkat-singkat yang sudah berhasil saya lakukan. Tetapi belum sempat-sempat juga untuk merangkumnya menjadi sebuah buku yang utuh dan penuh. Oleh karena itu saya memutuskan untuk mulai saja menerbitkan potongan-potongan tulisan itu dalam blog pribadi saya agar publik bisa menikmatinya juga terlebih dahulu. Siapa tahu ada juga masukan-masukan yang berharga demi perbaikan isi buku itu nantinya. Daya pendengaran beliau sudah mulai berkurang. Begitu juga dengan daya ingatnya. Tetapi untunglah kami banyak dibantu oleh sang Isteri yang bersedia mendampingi kami. Juga kami mendapat sangat banyak bantuan dari salah satu anak lelakinya yang kebetulan rumah kediamannya sangat berdekatan dengan Bapa Alex.

Salah satu hal (dari sekian banyak hal) yang amat menarik yang saya dan isteri temukan dari kekayaan hidup rohani bapa Alex ialah ketekunannya dalam hidup doa. Memang bapa Alex adalah sosok orang guru Katolik yang saleh. Salah satu doa favorit dia adalah Doa Bapa Kami. Sebagai orang Katolik, tentu saja dia sangat hafal akan doa itu, baik dalam versi bahasa Indonesia, maupun versi terjemahan bahasa Manggarainya. Sebagai generasi guru tua di Manggarai, dapat juga dipastikan bahwa dia juga tahu atau hafal versi bahasa Latinnya. Saya sendiri mendengar ia mengucapkan doa Bapa Kami itu dalam bahasa Indonesia dan bahasa Manggarai (sedikit bergaya logat Mukunan).

Pertama-tama saya harus mengatakan bahwa masing-masing orang Kristiani yang memakai doa ini, pasti memiliki sudut pandang sendiri dan pengalaman sendiri dalam mencoba memahami dan mencintai Doa Tuhan Yesus itu. Misalnya, mungkin ada orang yang sangat terpesona dengan bagian awal doa itu: Dimuliakanlah NamaMu. Atau mungkin ada juga yang sangat terpesona dengan ucapan penggal “Ampunilah kesalahan kami”. Ataupun ada yang tertarik dengan penggal “Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan”. Dan seterusnya. Dan seterusnya. Menurut pengakuan bapa Alex sendiri dalam sesi wawancara itu, ia terutama sangat tertarik dengan dua penggal dari doa Bapa Kami itu. Yakni ia sangat tertarik dengan ungkapan “Datanglah kerajaanMu” dan “Berilah kami rejeki pada hari ini.”

Saat saya mendengar pengakuan itu sesungguhnya saya tidak terlalu merasa heran juga dengan rasa ketertarikan itu. Sebab dalam sejarah penafsiran cukup banyak orang juga yang tertarik dengan kedua penggal ungkapan itu dari doa Bapa Kami. Para pejuang teologi pembebasan (terutama pembebasan dari kemiskinan) misalnya sangat suka akan ungkapan “Berilah kami rejeki pada hari ini.” (Bahkan mereka suka akan versi Latinnya yang meminta Roti sehari-hari, Daily Bread; hal itu berbeda dengan bahasa Indonesia yang memakai ungkapan rejeki, walau ada juga yang memakai terjemahan roti hari ini). Tetapi yang menjadi sangat menarik bagi saya ialah alasan mengapa bapa Alex merasa sangat tertarik dengan kedua baris itu. Alasan dia adalah karena ia mau “memakai” kedua ungkapan dalam Doa Tuhan Yesus itu sebagai dasar untuk pembangunan dan pemberdayaan kehidupan sosial ekonomi rakyat. Saat saya mendengar hal itu saya secara spontan sangat terkejut. Maka secara spontan saya pun balik bertanya: Mengapa bapa berpikir seperti itu? Dengan penuh semangat (yaitu dengan mata rada membelalak) ia mencoba menjelaskan pandangan dan pendiriannya. Dan penjelasan yang ia berikan juga sangat menarik.

Begini katanya pada waktu itu: Nak Frans dan Nak Atin, saya sangat yakin bahwa ketika Tuhan Yesus berdoa (atau mengajak kita berdoa) agar “Kerajaan Tuhan itu datang”, tentu itu tidak main-main. Itu bukan sebuah doa yang mengandung kata-kata kosong belaka. Itu bukan hanya sekadar bunyi bibir saja (saya tambahkan bahwa ungkapan itu dalam bahasa kerennya ialah lip-service, hiasan bibir). Kata Bapa Alex: Tentu Tuhan Yesus sungguh-sungguh menginginkan agar Kerajaan Allah itu datang dan terjadi sekarang dan di sini, di Borong ini, di Ketang, di Mukun, di Manggarai ini. Tetapi syaratnya hanya satu: Yakni saya harus ikut ambil bagian di dalamnya. Saya memahami doa itu dengan cara seperti itu. Doa “Datanglah KerajaanMu” itu saya jadikan sebagai dasar atau titik berangkat untuk pembangunan dan pemberdayaan hidup sosial ekonomi masyarakat. Saya dulu yang mulai di Ketang dengan upaya menanam pohon cengkeh. Dan itu tidak mudah, sebab tanah di Ketang itu tanah merah, tidak subur. Saya harus membuat pupuk sendiri (sekarang disebut pupuk kompos). Sebelum saya, Ketang itu masih kosong. Mungkin dulunya penuh dengan kayu Ketang, tetapi semua sudah hilang (karena ditebang orang, penebangan liar). Sebagai seorang guru, saya mulai dengan upaya memberi contoh teladan bagi masyarakat. Saya menanam pohon cengkeh. Kegunaannya dua. Satu efek penghijauan (segi ekologi), dan dua tentu saja untuk meningkatkan kehidupan ekonomi, meningkatkan pendapatan. Kalau hidup ekonomi rakyat (masyarakat) meningkat, nah itulah Kerajaan Allah itu. Kerajaan Allah itu sudah datang dan terjadi di sini, di Ketang.

Nah, permintaan kedua yaitu “Berilah kami rejeki pada hari ini”. Ya kita meminta rejeki dengan cara bekerja, bukan hanya dengan menadahkan tangan saja; bahasa Manggarainya, “nggelak” (nggelak tiba helang) saja. Kita harus bekerja, yaitu menanam tadi, dan Tuhan pasti akan menumbuhkan. Dan pada akhirnya kitalah yang petik hasil panennya. Nak Frans, Tuhan tidak pernah mengambil lagi hasil panennya. Betapa Tuhan itu baik. Betul kata Mazmur itu. Kecaplah dan rasalah sendiri, betapa sedapnya Tuhan. Pada awal tahun 70an, saya hanya menanam dan menamam saja. Ya, tentu saja saya dan anak-anak saya memang menyiram juga. Tetapi saya yakin Tuhan yang menumbuhkan. Ia menumbuhkannya dengan sangat subur. Itu sebabnya Ketang lalu menjadi hijau permai oleh pohon cengkeh. Ketang yang tadinya tandus, sekarang menjadi hijau permai dan indah. Yang hijau-hijau itu memang indah. Hal itu mungkin terjadi, sebab contoh teladan yang telah saya berikan dengan cukup cepat menular juga kepada masyarakat lain di sekitar. Semua sudah melihat dan sadar bahwa Tuhan menumbuhkan, dan Tuhan tidak pernah mengambil lagi hasilnya. Kita-kita inilah yang menikmati hasilnya. Hanya sering sekali kita lupa untuk berterima kasih.

Lalu ia memberi keterangan tambahan bahwa sejak ia pensiun dan tidak begitu kuat lagi kerja fisik (opus manuale) ia mulai memahami dan mengartikan secara baru dan lain teks doa favoritnya itu. Ia mengaku bahwa Doa “Datanglah KerajaanMu” itu sekarang ini ia coba wujudkan dengan mendorong masyarakat agar terlibat dalam kegiatan ekonomi mikrofinance, melalui credit union yang puji Tuhan di seluruh Manggarai Raya (termasuk Manggarai Timur dengan ibukota Borong) sangat getol digalakkan oleh pihak Gereja melalui Paroki-paroki yang ada. Dalam hal ini ia sangat mendukung upaya gereja paroki dalam rangka pemberdayaan itu. Secara kebetulan saat kami melakukan wawancara untuk calon bahan buku ini ada seorang imam keuskupan Ruteng yang adalah tokoh penggerak credit union yang bernama RD.Simon Nama. Kebetulan saat kami ada di Borong ia bekerja di Ibukota Manggarai Timur itu (Hanya sayang kami tidak sempat bertemu dengan beliau). Bapa Alex merasa sangat sejalan dengan gerakan itu. Ia melihat gerakan CU itu sebagai bagian utuh dari doa Bapa Kami itu: “Datanglah kerajaanMu” dan “Berilah Kami Rejeki pada hari ini.” Oh, ya sebelum CU ia juga menggalakkan gerakan arisan dan aktifitas menabung.

Saat saya mendengar ulasan atau lebih tepat sharing pengalaman dan pemahaman itu, saya benar-benar merasa kagum. Saya kagum karena model penafsiran seperti ini menurut saya benar-benar otentik (original). Mengapa saya berani mengatakan begitu? Karena selama saya belajar teologi dan Kitab Suci saya sudah cukup banyak mempelajari para teolog yang mencoba menafsirkan doa Bapa Kami itu. Misalnya model penafsiran dari para Bapa Gereja (Patrologi) yang menjadikan Doa Tuhan (Oratio Dominica) sebagai sebuah teks dasar dalam teologi mereka. Setidaknya sampai saat ini saya belum menemukan penafsiran dan pemahaman seperti yang dimiliki oleh Bapa Alex ini. Sebagian besar para Bapa Gereja itu memahami teks “Datanglah KerajaanMu” itu secara eskatologis. Yaitu mengharapkan Parousia, saat Tuhan akan datang lagi. Jadi, doa itu menurut mereka, mengarahkan perhatian kita ke akhir jaman (parousia). Tetapi bapa Aleks tidak begitu. Ia membawa perhatian kita dalam doa itu justru untuk masa sekarang ini. Mungkin karena dalam pemahaman dia, masa depan atau akhir jaman itu nanti sangat ditentukan oleh masa sekarang ini. Menurut dia doa Bapa Kami itu adalah doa untuk hari ini. Bukan doa untuk hari-hari yang akan datang. Apalagi doa untuk akhir jaman. Hal itu jauh sekali dari apa yang dipikirkan dan dibayangkan oleh Bapa Alex.

Beberapa para exegese (ahli tafsir kitab suci) yang pernah saya rujuk untuk mencoba menggali makna dan memahami doa Bapa Kami juga amat menekankan nada eskatologis dan orientasi parousia dari doa Bapa Kami itu, khususnya penggalan yang dimaksudkan tadi. Misalnya, saya pernah mendalami buku dari exeget Joachim Jeremis yang mendalami Doa Tuhan itu (Lord’s Prayer). Di sana kentara sekali nada eskatologis dan orientasi parousia itu. saya juga pernah mendalami tafsir dari perspektif sejarah teologi liturgis dari romo Joseph Jungman SJ (pakar sejarah Liturgi Yesuit), History of Christian Prayer. Saya juga mendalami ulasan doa Bapa Kami yang ada dalam buku Katekismus Gereja Katolik yang terbit tahun 90an (abad yang lalu) pada masa pontifikat santo Yohanes Paulus II. Akhirnya yang terbaru (atau relatif baru, tahun 2007) saya juga sudah mencoba mendalami doa Bapa Kami yang diupayakan oleh Joseph Ratzinger yang menjadi Paus Benediktus XVI. Semuanya menekankan dimensi eskatologis dan orientasi parousia dari doa itu. Itulah sebabnya, saya berani mengatakan bahwa tafsir dan pemahaman bapa Alex tadi adalah sangat khas dan mungkin original. Saya akan tetap mempertahankan cap original-otentik ini sampai saya bisa menemukan tafsir yang serupa yang sudah mendahului bapa Alex, tetapi yang masih luput dari jangkauan pencarian dan pendalaman saya.

Dalam artian itulah saya merasa bahwa Bapa Alex telah menjadi guru saya dalam memahami dan mengartikan Kitab Suci. Maka sekali lagi saya menjadi semakin yakin bahwa apa yang disebut “tafsir eksistensial” (existential interpretation) atas Kitab Suci itu sungguh-sungguh ada dan sungguh-sungguh absah juga. Kita tidak dapat dan tidak boleh mengabaikannya ataupun meremehkannya, karena tafsir eksistensial seperti itu sungguh ada dan benar-benar mengalir dan memancar keluar dari perjuangan hidup seseorang itu sendiri dan memperkaya hidup orang itu juga secara sangat kuat dan mendalam.

Dan memang dalam hal itu, maksud saya, dalam hal hidup rohani, bapa Alex tentu saja tidak usah diragukan. Tadi pagi saat saya datang agak pagi ke rumahnya untuk sesi wawancara lanjutan, ternyata ia belum pulang dari gereja untuk mengikuti ekaristi pagi, sebuah rutinitas yang ia tekuni tanpa terlewat satu hari pun kecuali kalau ia sedang sakit berat. Kalau tidak ia akan berjalan kaki ke gereja untuk mengikuti perayaan ekaristi harian. Luar biasa. Ia benar-benar cinta dan rindu bertemu dengan Tuhan Yesus.

#bapa kami #datanglah kerajaanMu #di bumi #di surga #ketang #usaha kecil #alex nahal #hidup rohani

Monday, December 24, 2018

GULUNGAN TEKS-TEKS LAGU

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA
Dosen FF-UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI


Guru Inggris saya dulu di SMP Seminari Pius XII Kisol, Bapa Willem Beribe, berkenan mampir memberi komentar di postinganku di grup Wela Runus Sanpio XII tentang lagu Transeamus Usque Bethlehem. Dalam komentarnya beliau mengingatkan kita akan kehebatan dan kreatifitas para Guru SR/SD dulu di Flores (khususnya di Manggarai Raya) yang mampu melatih murid-murid sekolah mereka yang kelas 5-6 (terkadang mulai kelas 4 bahkan 3) untuk menyanyikan lagu-lagu Latin dalam perayaan liturgi gerejani. Dalam komentar itu ia juga mengatakan bahwa media latihan itu bukan lembar jilidan hasil cetakan komputer atau fotocopy melainkan tulisan tangan pada kertas manila berukuran besar. Saat membaca komentar itu imajinasi saya terangsang untuk menulis tentang hal itu. Memang tahun 60an dan 70an media latihan koor ialah kertas karton manila (buffalo) berukuran besar. Itulah yang saya sebut dengan Gulungan teks-teks lagu.

Untuk menghasilkan teks-teks besar seperti itu dibutuhkan orang khusus. Orang seperti itu adalah seniman grafis. Sebab ia harus mempunyai tulisan tangan bagus. Ia juga harus bekerja rapih dan hati-hati. Mengapa? Ini yang amat menarik. Si penulis itu biasanya harus menulis sambil berdiri dan kertas tadi harus ditempelkan pada papan tulis atau dinding rumah. Alat tulisnya juga bukan spidol, apalagi spidol besar. Waktu itu belum ada spidol seperti itu di Flores. Karena itu, si penulis tadi memakai lidi atau belahan bambu yang ujungnya dihaluskan agar bisa menjadi seperti sapuan kuas. Saat ia mulai menulis, terlebih dahulu ia harus mencelupkan ujung lidi atau bambu yang sudah dihaluskan tersebut ke dalam botol tinta (merek ink-well, belum ada merek parker, kalaupun ada, mahal harganya). Kalau itu belum ada maka dipakai tinta tradisional yang dibuat dari campuran jelaga pantat priuk dan getah pohon tertentu yang dulu biasa dipakai orang Manggarai (terutama ibu-ibu) untuk mewarnai anyaman yang terbuat dari bambu (talok atau gurung).

Si seniman tulisan tangan harus mencelupnya sedemikian rupa agar tinta itu tidak menetes ke mana-mana dan sia-sia. Ia harus bekerja sangat rapih. Setelah bekerja beberapa lamanya, biasanya ia bisa menghasilkan beberapa lembar untuk satu lagu saja. Apalagi jika lagu itu cukup panjang. Dia harus menulis lengkap empat suara (sopran, alto, tenor, bass). Akan lebih merepotkan lagi, jika lagu itu terdiri atas messo-sopran, contra-alto dan bariton. Setelah selesai maka teks itu dijemur agar kering. Setelah kering akan digulung rapi. Teks itu disimpan dengan cara digulung.

Kalau jemaat Kristen purba (sebenarnya dimulai dengan jemaat Perjanjian Lama) memiliki gulungan kitab, maka jemaat Katolik awal dulu di Manggarai juga memiliki gulungan teks lagu liturgi gerejani. Biasanya gulungan-gulungan teks lagu seperti itu bisa ditemukan di rumah-rumah si dirigen pelatih koor, ataupun di rumah guru-guru khususnya guru katekis, atau juga bisa ditemukan di rumah-rumah para guru agama di kampung-kampung. Boleh dikatakan itulah harta karun perpustakaan rohani mereka (pelatih, guru, guru agama).

Saat saya menulis karangan ini saya membayangkan apakah teks-teks lama dari tahun 60an dan 70an itu masih ada? Masih adakah yang menyimpannya? Kalau masih ada, itu sungguh luar biasa. Sebuah tonggak historis yang mengagumkan. Terkadang saya merindukannya lagi sekarang ini saat saya juga sibuk menjadi dirigen dan pelatih koor di lingkungan dan paroki saya sendiri di Bandung.

Tetapi ini bukan sekadar nostalgia. Saya melihat ada keuntungan tertentu dengan memakai metode seperti itu. Dengan memakai satu teks besar seperti itu posisi dirigen benar-benar menjadi sentrum/pusat karena yang dilihat anggota koor ialah dirigen dan teks. Dengan demikian anggota koor berada di bawah komando tunggal. Selain itu, anggota koor mau tidak mau harus angkat muka untuk memandang teks lagu yang diangkat tinggi dengan bantuan tongkat oleh seorang yang memang tugasnya hanya itu. Dan ditaruh di belakang dirigen. Dengan demikian, para penyanyi tidak lagi terpaku pada teks masing-masing seperti sekarang ini di mana anggota koor memiliki fotocopyan sendiri. Akibatnya mereka merunduk dan menekuni teks sendiri. Dirigen tidak diperhatikan. Itulah keuntungan sistem itu dahulu. Semua berada di bawah satu komando. Dan anggota koor, karena teks yang terbatas itu, terdorong untuk menghafal teks lagu dan nada-nada yang menjadi tanggung-jawabnya. Penghafalan ini mempunyai fungsi ganda: pertama, untuk mengurangi ketergantungan pada teks. Kedua, agar teks itu bisa menjadi sebuah teks yang hidup, sebuah hafalan yang bisa dipakai di mana pun saja.

Kembali ke teknik penyimanan tadi. Begitu selesai dipakai untuk satu sesi latihan, biasanya gulungan teks-teks itu disimpan dengan cara digulung di dalam sebuah bambu berukuran besar. Agar tidak dimakan tikus dan tidak menjadi mainan anak-anak atau sekadar tercecer di mana-mana. Ada juga yang menempel teks lagu itu sebagai tempelan tetap pada dinding rumah si pelatih koor sehingga latihan harus selalu di rumah beliau. Tetapi ini tidak banyak. Yang paling banyak ialah teknik penyimpanan seperti sudah disebutkan di atas tadi. Begitu suatu masa liturgis gerejani sudah lewat maka teks-teks itu disimpan lagi dengan baik untuk dapat dipakai lagi nanti pada perayaan berikut.

Saya masih ingat dengan baik di paroki Ketang dulu (semula di Rejeng), teks-teks yang tersimpan cukup lama ialah teks-teks lagu lamentasi dalam bahasa Manggarai. Waktu itu saya masih kecil. Tetapi karena para guru sering melatihnya pada masa pantang dan puasa maka saya pun hafal juga: Wangkan tilir di Yeremias profeta. Yerusalem, Yerusalem, kole one agu Mori Kraeng de hau. Alef... dst.dst... Atau yang terkait masa natal ada lagu seperti Wie Nggeluk Bail, Gloria in Excelsis Deo, Ata Sambe Poli Loas, Mai Ata Serani, dll.

Ini adalah sebuah ingatan dan nostalgia yang indah dan menarik. Warisan kreatifias para guru-guru tua dulu di Manggarai dalam rangka membuat gereja berurat dan berakar dalam hati sanubari orang Manggarai. Suatu usaha mulia.

Sunday, December 23, 2018

TRANSEAMUS USQUE BETHLEHEM

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.
Dosen Teologi dan Filsafat FF-UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI
.



Dalam tradisi Kristiani ada banyak sekali lagu natal. Ada yang sudah klasik. Ada juga lagu natal hasil gubahan masa kini. Salah satu lagu Natal yang sudah klasik ialah yang berjudul Transeamus usque Bethlehem. Tulisan ini dimaksudkan untuk membuat catatan tentang lagu tersebut. Sebelum melangkah lebih lanjut terlebih dahulu saya cantumkan teks lagu itu di sini.

Teksnya berbunyi demikian: “Transeamus usque Bethlehem, et videamus hoc verbum quod factum est. Mariam et Joseph, et infantem positum in praesepio. Gloria in excelsis Deo. Et in terra pax hominibus bonaevoluntatis. Audiamus multitudinem militiae coelestis laudantium Deum.” Jika teks lagu itu dipersingkat maka itulah beberapa baris pesan dasarnya. Pesan dasar itu dapat diterjemahkan dengan agak bebas sebagai berikut: “Marilah kita ke Betlehem, dan melihat berita yang disampaikan. Maria dan Yusuf, dan bayi terbaring di palungan. Kemuliaan kepada Allah di tempat tinggi. Dan damai di bumi bagi manusia yang berkehendak baik. Kami mendengar banyak balatentara surgawi memuji Allah.”

Setiap kali menyanyikan lagu ini, imajinasi religius saya selalu teringat akan cerita Lukas (Luk 2:8-20). Memang teks lagu ini dibuat berdasarkan inspirasi yang sangat kuat dari Injil Lukas, yang tidak hanya menginspirasi pengarang lagu, melainkan juga mengilhami seniman pelukis. Betapa sangat banyak karya lukisan dan ukiran dibuat oleh seniman Kristiani dengan menimba dari cerita Lukas itu.

Menurut cerita Lukas, Maria dan Yusuf tinggal di Nazaret. Tetapi karena ada titah Kaisar Agustus agar semua penduduk kembali ke kota asal mereka untuk cacah jiwa (sensus), maka Yusuf yang berasal dari Betlehem (karena ia keturunan Daud) kembali ke Betlehem (Luk 2:1-7). Karena sangat banyak orang datang ke Betlehem, maka Maria dan Yusuf tidak kebagian penginapan. Bukan karena orang Betlehem tidak mau menerima, melainkan karena semua sudah penuh. Karena itu, menurut Lukas, Maria melahirkan anaknya di tempat lain di luar Betlehem (tetapi masih dekat kota). Ia membungkusnya dengan kain lampin (semacam bedong) lalu dibaringkannya dalam palungan (praesepium). Sesungguhnya tidak begitu jelas deskripsi tempat kelahiran itu dalam kisah Lukas. Tetapi kita bisa konstruksi demikian: ada palungan. Itu adalah semacam box untuk menaruh makanan ternak saat makanan itu diberikan kepada ternak. Ada juga pelukisan tentang gembala. Mereka sedang bertugas menjaga kawanan ternak mereka.

Saat kelahiran itu terjadi di sekitar Betlehem, terjadilah peristiwa penampakan di padang penggembalaan di sekitar kota kecil itu. Ada malaekat yang hadir di tengah para gembala. Kehadirannya membuat malam itu menjadi bercahaya. Para gembala sangat ketakutan, sebab penampakan itu terjadi begitu saja secara tiba-tiba di tengah rutinitas hidup mereka sehari-hari, tanpa terduga-duga. Tetapi malaekat itu menenangkan mereka. Saat itulah malaekat itu menyampaikan kabar sukacita: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:11). Inilah inti Maklumat Natal.

Malaekat itu juga memberikan pengenal khas bayi yang baru lahir itu. Mungkin tanda kain lampin itu agak umum (setiap bayi yang baru lahir dibedong dengan pembungkus agar tidak kedinginan). Tetapi yang paling khas ialah terbaring di palungan (praesepium-o) (ay 12). Begitu malaekat itu selesai menyampaikan maklumat natal itu, tiba-tiba tampaklah sejumlah besar bala tentara surgawi, yang dalam teks lagu di atas disebut multitudinem militiae coelestis (Luk 2:13). Mereka tidak berdiri bengong melainkan melambungkan pujian bagi Allah. Beginilah isi pujian itu: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Luk 2:14). Dalam bahasa Latin yang dikutip teks lagu di atas tadi berbunyi: “Gloria in excelsis Deo, et in terra pax hominibus bonaevoluntatis.” Dalam injil Lukas tidak ada pelukisan mengenai bagaimana reaksi para gembala itu. Tetapi kita dapat membayangkan secara imajinatif bahwa mereka terkejut, tercampur rasa takut, dan rasa heran yang luar biasa. Malam itu menjadi terang benderang dan sangat ramai karena kehadiran dan suara pujian para malaekat itu.

Setelah mendengar pemberitahuan malaekat itu, dan para malaekat (bala tentara surgawi tadi) sudah meninggalkan mereka, para gembala itu mengajak satu sama lain untuk ke Betlehem: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” (ay.15). Kalimat inilah yang dipakai di dalam teks lagu di atas tadi di bagian awal: “Transeamus usque Bethlehem, et videamus hoc verbum quod factum est.” Kiranya para gembala itu bergegas ke Betlehem (cepat-cepat berangkat, ay 16). Di sana mereka menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring dalam palungan. Itulah yang diungkapkan dalam lagu di atas dengan kalimat Latin ini: Mariam et Yoseph, et infantem positum in praesepio.

Setelah menganalisis lagu tersebut dengan cara seperti di atas tadi, saya berharap pembaca menjadi sadar bahwa pengarang syair lagu itu benar-benar menimba dari teks Injil. Saat ia mengarang teks lagu natal ini, ia tidak hanya asal mengarang saja, melainkan mencoba mengacu kepada informasi yang berasal dari Injil. Kiranya itulah yang seharusnya menjadi patokan dasar bagi para pengarang lagu kita dewasa ini dalam upaya mengarang lagu-lagu gereja sesuai dengan masa liturgis gereja yang ada. Kreatifitas dan daya imajinasi dibatasi dengan apa yang dikatakan dalam Injil. Dengan memakai pendekatan itu, sesungguhnya cukup banyak teks lagu gerejani yang bisa diciptakan dengan menimba ilham Kitab Suci. Hal itu mungkin, asal orang tekun melakukannya.

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...