Sunday, December 9, 2018

"TRANSFORMASI LIDAH" ORANG MANGGARAI

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.
Dosen Fakultas Filsafat UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI.


Namaku Fransiskus. Ibu memanggilku Ransis atau Sis. Bapa memanggilku Frans. Itulah yang dikenal orang banyak. Teman-teman memanggilku Frans. Tetapi setiap kali berlibur di kampung kakek-nenekku di Dempol dan Wol ada yang aneh. Nenekku dari pihak bapa (Samong) tidak bisa melafalkan huruf F, sebab huruf itu tidak ada dalam bahasa Manggarai. Bahasa Manggarai hanya mengenal huruf W. Karena itu, ia memanggilku Wras. Hal yang sama terjadi juga dengan nenek dari pihak ibu. Ia memanggilku Wras atau Weras. Itu karena mereka tidak bisa mengucapkan huruf F. Juga tidak bisa mengucapkan dua konsonan berturutan. Nama FRANS tadi, diubah F-nya menjadi W dan dua konsonan berturutan di akhir dikorbankan, dengan memilih salah satu. Nenekku di Wol, kadang mengganti huruf F dengan P sehingga akupun dipanggilnya Pran atau Pras. Tidak pernah Frans atau Prans. Kakekku (dari pihak ibu) jarang memanggil namaku. Sesekali saya mendengar dia memanggilku. Ternyata kakek, yang pernah menjabat kepala Desa (terkenal sebagai Kraeng Kepala Dempol di tahun 60an dan 70an) juga tidak bisa mengucapkan huruf F dengan baik. Ia memanggilku Wras.

Untuk apa saya catat ini semua? Begini. Setelah saya berusia setengah abad lebih, saya telusuri kembali apa yang saya sebut “transformasi lidah” orang Manggarai. Pertama, sejauh saya amati, orang Manggarai dulu tidak bisa mengucapkan huruf F, karena huruf itu tidak ada dalam kosa kata Manggarai. Kamus Manggarai J.Verheijen SVD (1967), tidak memiliki lema F. Dari lema Huruf E di halaman 127 langsung ke lema huruf G pada halaman yang sama. Hal itu juga ada dalam kamus yang terbit sekarang. Kamus Manggarai, Robertus Sutardi Ebat (2018), juga mencatat hal yang sama. Dari lema huruf E pada halaman 103 langsung ke lema huruf G pada halaman yang sama. Saya menunggu kamus yang baru diberitakan penerbitannya di beberapa Grup WA yang disusun STKIP Ruteng. Kiranya hasilnya juga sama seperti itu: tidak ada lema huruf F. Tidaklah mengherankan bahwa orang Manggarai dulu sulit melafalkan F itu.

Kedua, saya juga mengamati bahwa ada beberapa kombinasi konsonan dalam bahasa Indonesia yang awalnya susah diucapkan orang Manggarai. Beberapa contoh: kombinasi KS (terkadang ditulis dengan huruf X saja), NS, NY. Sampai tahun 70an banyak orang Manggarai belum bisa mengucapkan kombinasi KS dengan baik. Memang saat itu belum ada banyak kata yang berakhir KS atau X. Tetapi nama baptis sudah dikenal, Felix. Nama ini pun dilafalkan Pelis. Saya mengetahui hal ini sejak kecil karena ayah saya bernama Felix dan kebanyakan orang pada masa kecilku susah mengucapkan nama beliau. Mereka menyebutnya tuang guru Pelis. Itu saya dengar di Arus (Lambaleda), di Wewo (Pongkor), dan di Ketang (Lelak), dan di Dempol, Rangga, Wol, Daleng (Lembor, Wontong). Kesulitan menyebut NS sudah saya uraikan di awal tadi terkait dengan nama panggilan saya. Yang mungkin terasa aneh ialah kombinasi NY yang hingga tahun 70an di beberapa tempat di Manggarai susah diucapkan. NY diucapkan dengan NG, sehingga Menyanyi diucapkan Mengangi. Nyonya, diucapkan dengan versi Porto yang lebih sederhana pengaruh Flotim, Nora (Senhora). Mungkin generasi Manggarai sekarang menganggap saya mengada-ada dengan pengamatan itu. Tetapi teman kelasku di SD ada yang susah mengucapkan kombinasi NY tersebut. Juga “ata kampong” susah mengucapkan kombinasi itu.

Yang menarik ialah bahwa walaupun beberapa kombinasi “asing” itu pada awalnya susah diucapkan orang Manggarai, tetapi dalam bahasa Manggarai sendiri ada beberapa kombinasi huruf mati. Berbeda dengan ketiga kombinasi di atas tadi yang terletak di akhir kata, kombinasi konsonan Manggarai yang saya amati ini terletak di awal kata. Misalnya kombinasi Mb, Nd, Ng, Mp, Nt. Mb: mbare, mbang, mbata, mber, mbeng, mberong, mbe, mbesol, dst. Nd: ndilep, ndilek, ndodol, ndondok, ndael, ndekar, ndatar, dll. Nt: Nte’er, Ntileng, Nterlango, Nta’ur, ntewar. (Lihat Verheijen, hlm.452-454; bahkan Verheijen mendaftarkan kombinasi tiga huruf mati NTJ; tetapi saya tidak daftarkan di sini karena kombinasi itu sekarang tidak dipakai lagi). Ng: Ngkerok, Ngkeros, Ngkor, Ngkaer, ngkeleng, ngkero, ngkek, ngkebing, dll (Verheijen, hlm.449-452; bahkan dia membedakan antara kombinasi NGK dan NGG; ia melakukan hal ini mungkin karena ia menilai bahwa fenomena itu cukup khas dalam bahasa Manggarai yaitu sebuah kata dimulai dengan ng atau ngg, sesuatu yang jarang dijumpai dalam kosa kata bahasa lain). Mp: mpeong, mpirang, mpuing, mpedal, dll. (Verheijen, hlm.359-361; ada banyak contoh, tetapi sebagian besar tidak dipakai lagi).

Kembali ke persoalan awal tadi (orang Manggarai dulu sulit mengucapkan beberapa kombinasi konsonan dalam bahasa Indonesia). Kesulitan itu terkait dengan tingkat pendidikan. Kalau orang belum sekolah, maka dia sulit mengucapkan beberapa huruf dan kombinasi konsonan itu. Tetapi begitu orang bersekolah biarpun hanya SD, pasti dia akan mengalami “transformasi lidah”. Tadinya ia sulit mengucapkan huruf tertentu (F) karena tidak ada dalam bahasa ibunya, dan sulit mengucapkan beberapa variasi kombinasi konsonan (KS, NS, NY), tetapi karena sekolah orang bisa mengucapkannya. Saya ingat bahwa salah satu tugas guru sekolah dasar tahun 60an dan 70an ialah melatih siswanya mengucapkan hal-hal yang sulit itu. Tetapi begitu anak bisa mengucapkannya maka ia pun terlatih dan tidak melupakannya lagi. Ia sudah beralih dari orang yang tidak berpendidikan menjadi orang berpendidikan.

Betapa saya heran dan terkejut ketika tahun 1982 untuk pertama kali saya ke Yogya. Saya mendengar semua teman saya yang Jawa tidak bisa mengucapkan nama saya Frans, dan diganti Fran. Di tengah masyarakat juga saya mendengar hal seperti itu. Maka saya pun berkesan bahwa orang-orang ini tidak mengalami transformasi lidah. Bahkan diam-diam dalam hati saya tergoda untuk berpikir bahwa jangan-jangan orang-orang ini tidak berpendidikan. Tetapi penilaian saya itu tentu saja bertolak dari cara pandang saya sendiri.


Saturday, December 8, 2018

PAULUS DAN TERANCAMNYA BISNIS DEMETRIUS

Oleh: EFBE Ndungwelarunu


Pagi itu Demetrius berdiri di depan tokonya. Ia merasakan ada yang aneh. Mula-mula ia tidak begitu menyadarinya. Beberapa saat kemudian. Untuk pertama kalinya ia sadar bahwa tokonya semakin sepi pengunjung. Ia mulai cemas dengan hal itu. Sepi pembeli berarti mati produksi. Tidak ada penghasilan. Itu berari kemiskinan, kelaparan, kematian. Ia ingat bahwa di belakang tokonya ada bengkel tempat dia membuat kerajinan perak. Yang paling banyak dibuat adalah kuil-kuilan mini Dewi Artemis, pujaan kota Efesus. Kuil itu dan patung Dewi Artemis berdiri megah di alun-alun kota. Bengkel Demetrius hanya membuat miniaturnya untuk kenang-kenangan dan perhiasan devosional di rumah pribadi. Di bengkel itu ia memiliki beberapa pengrajin dan pekerja. Bengkel itu, berikut pengrajinnya hanya bisa hidup karena ramainya toko penjualan di depan. Sekarang toko itu sepi. Ia terbayang akan nasib para pengrajin dan tukangnya. Suram sekali.

*****
Demetrius pun berpikir keras mencari penyebab semua ini. Ia teringat Paulus. Nama Paulus akhir-akhir ini sangat terkenal di sekitar Efesus dan juga kota Efesus. Berkat kotbah dan pengajaran serta mukijzatnya, banyak orang bertobat dan mengubah jalan hidup dari kekafiran kepada iman. Kitab-kitab sihir ditinggalkan. Bahkan ada yang dibakar. Demetrius belum pernah bertemu Paulus. Tetapi ia pernah mendengar ajaran baru yang dibawanya. Ia menjadikan Paulus “Kambing Hitam.” Lalu ia mengumpulkan karyawannya. Ia hasut mereka.

Demetrius sadar bahwa kalau ia mengangkat isu krisis ekonomi, mungkin mereka tidak marah. Maka ia mengangkat isu agama yang bisa mengobok emosi massa. Mulailah ia berpidato: “Saudara-saudara, kamu tahu, bahwa kemakmuran kita adalah hasil perusahaan ini! Sekarang kamu sendiri melihat dan mendengar, bagaimana Paulus, bukan saja di Efesus, tetapi juga hampir di seluruh Asia telah membujuk dan menyesatkan banyak orang dengan mengatakan, bahwa apa yang dibuat oleh tangan manusia bukanlah dewa.” Saat itu mereka membelalak. Demetrius lanjutkan: “Dengan jalan demikian bukan saja perusahaan kita berada dalam bahaya untuk dihina orang, tetapi juga kuil Artemis, dewa besar itu, berada dalam bahaya akan kehilangan artinya. Dan Artemis sendiri, Artemis yang disembah oleh seluruh Asia dan seluruh dunia yang beradab, akan kehilangan kebesarannya.” Demetrius mengkaitkan masalah itu dengan nasib usahanya. Ia samakan nasib perusahaannya dengan nasib Artemis. Nasib Artemis akan suram, padahal kita menjual miniatur kuil Artemis. Kalau Artemis suram, maka suram juga nasib kita. Perusahaan ini akan dilecehkan. Dewi Artemis juga akan dilecehkan. Demetrius mengangkat isu agama yang sensitif di kota itu.

*****
Mendengar pidato Demetrius itu, maka massa yang mendengarnya marah. Mereka berseru mengagungkan nama sang Dewi: Hidup Artemis, Hidup Artemis, Hidup Efesus, Hidup Efesus, Hidup Artemis. Pekik suara mereka memenuhi seluruh kota itu. Gema suara mereka ditanggapi warga kota. Kota itu pun menjadi rusuh. Massa semakin banyak berkumpul di toko Demetrius. Dari sana mereka berarak sambil berteriak ke gedung kesenian. Mereka ingin mengadili Paulus. Tetapi mereka tidak menemukan dia. Yang mereka temukan adalah dua teman perjalanan Paulus yang berasal dari Makedonia. Mereka adalah Gayus dan Aristarkhus. Massa mau mengadili kedua orang itu.

Menyadari bahaya yang menimpa keduanya, Paulus ingin masuk ke tengah gerombolan massa tersebut untuk menjelaskan perkaranya. Tetapi niat itu dicegah beberapa pihak. Semula Paulus ngotot dan mendesak. Tetapi beberapa pembesar kota yang bersahabat membujuk dia agar tenang dalam persembunyian. Paulus tetap ngotot. Namun akhirnya ia mengalah setelah mendapat jaminan mereka, bahwa mereka akan mencari jalan keluar dari krisis kerusuhan kota itu.

Situasi sangat gawat. Kalau Paulus masuk ia akan menjadi sasaran empuk kemarahan massa itu yang omong tidak karu-karuan. Mereka meneriakkan hal-hal yang berbeda. Tidak jelas. Bahkan ada juga yang tidak tahu untuk apa mereka berkumpul di tempat itu. Yang penting, ikut arus ramai sambil berteriak. Saat itu ada seseorang, bernama Aleksander. Ia mencoba memberi penjelasan tentang apa yang terjadi. Tetapi karena orang banyak itu tahu bahwa dia orang Yahudi, mereka tidak mau mendengarkan kesaksiannya. Padahal orang Yahudi di kota itu, mau memakai kesempatan itu untuk menjatuhkan Paulus. Untunglah massa itu tidak mendengarkan Aleksander. Mereka bahkan berteriak selama dua jam menyerukan pekik pemuliaan dewi Artemis: “Hidup Artemis, Hidup Efesus.”

*****
Melihat itu, panitera kota pun turun tangan. Ia tempuh jalan aman dan nyaman. Ia memuja selangit Efesus dan penduduknya. Ia memuji Penduduk Efesus sebagai orang yang paling setia mengabdi Dewi Artemis mahabesar, yang patungnya turun dari langit. Saat mendengar kata-kata itu, mereka diam. Ia meminta agar penduduk Efesus berpikir jernih. Ia mengatakan bahwa kedua orang ini tidak bersalah. Mereka tidak merampok kuil Dewi Artemis. Mereka tidak menghujat sang Dewi. Mereka semua terdiam. Kalau Demetrius dan orangnya ada masalah dengan kedua orang ini, hendaknya menempuh jalur hukum. Jangan memakai pengadilan jalanan. “Kita harus memakai pengadilan rakyat yang sah. Jika tidak kita akan dituduh membuat kegaduhan dan huru-hara pada hari ini. Padahal kita tidak punya alasan kuat untuk kumpul massa yang banyak dan rusuh ini. Kita tidak dapat membenarkan kumpulan rusuh dan kacau ini.”

Mendengar itu, gerombolan massa itu pun bubar dengan tertib.

(cerpen dibuat berdasarkan Kis 19:21-40).

Wednesday, December 5, 2018

FEMINISME KEBABLASAN

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias M.
Dosen Biblika Fakultas Filsafat UNPAR Bandung, anggota LBI.




Beberapa waktu yang lalu di beberapa WAG yang saya ikuti, beredar sebuah video yang berisi rekaman aksi demo kaum feminis radikal di Buenos Aires yang menuntut agar Paus Fransiskus dibunuh, Gereja Katolik dibubarkan, aksi pembakaran Patung Bunda Maria di sebuah Katedral. Untuk membendung aksi yang rada brutal itu, ada Kelompok para Lelaki yang membentuk pagar betis melindungi gereja; kelompok para lelaki ini melakukan perlawanan sambil berdoa Salam Maria dalam bahasa Spanyol. Di hadapan mereka ada dua orang wanita telanjang dan berperilaku sangat provokatif dan erotis terhadap para lelaki tersebut yang menghadapi mereka dengan sangat tenang sambil berdoa.

Seorang teman di WAG bertanya: Ini Fenomena apa ya? Secara singkat saya berkata sebagai berikut: Ini adalah gerakan kaum feminis di Amerika Latin (persisnya di Argentina) radikal yang menolak segala bentuk dominasi dan supremasi kaum pria (dominasi patriarki, supremasi kuriarkis), dan gereja Katolik dipandang sebagai salah satu bentuk dan lambang dominasi serta supremasi itu. Itulah sebabnya serangan itu diarahkan kepada Gereja Katolik dan Paus sebagai representasi institusional dan personal (semacam corporate-personality) dari dominasi dan supremasi itu. Di dalam Gereja (Katolik) itu tentu saja ada pelbagai macam praktik devosi kepada Bunda Maria, yang dituding selama berabad-abad telah melestarikan dominasi dan supremasi itu. Secara pribadi saya menduga bahwa ada unsur Amerika di belakangnya; Amerika yang protestan itu kiranya mau menggoncang-goncang sendi-sendi dan sentrum Kekatolikan di Amerika Latin, mulai di negara asal Paus, Argentina. Jadi, boleh jadi atau patut diduga bahwa ada kekuatan duit kapitalis Amerika Serikat di sana. Diakui ataupun tidak diakui. Saya menduga bahwa ini adalah bagian utuh dari gelombang dan badai yang menggoncang Gereja Katolik yang seakan-akan tiada habis-habisnya terutama yang paling seru ialah kasus pedofilia yang menimpa beberapa keuskupan di Amerika Serikat, Irlandia, Austria, dan di pelbagai negara yang lainnya.

Setelah menonton video provokatif dan erotis tersebut, saya tiba-tiba teringat akan sebuah buku novel rekaan yang saya beli pada tahun 1983 di sebuah tokoh buku di Yogya. Nama toko buku itu Liberty yang kalau tidak salah ingat terletak di kawasan Malioboro. Entahlah, apakah toko buku itu masih ada dewasa ini. Judul buku yang saya beli itu sangat provokatif: “Bunuh Semua Laki-laki.” Buku itu diterbitkan oleh Penerbit Liberty Yogyakarta. Buku itu tidak terlalu tebal. Sebuah buku yang tipis saja. Sayang sekali bahwa sekarang ini saya sudah lupa nama pengarangnya. Yang pasti itu adalah sebuah buku terjemahan dari bahasa Inggris. Sayang juga buku itu sudah hilang dari koleksi buku-buku saya. Tetapi isinya tidak pernah saya lupakan hingga sekarang ini. Ada pun isi pokok buku itu dapat diringkaskan sebagai berikut ini.

Dalam sebuah kota muncul sebuah kelompok wanita radikal yang tidak suka akan laki-laki. Mereka menolak dominasi dan supremasi kaum pria di muka bumi ini. Mereka menolak dunia dan masyarakat yang dikuasai kaum pria. Mereka mencita-citakan sebuah dunia dan masyarakat tanpa laki-laki (semacam maleless world atau maleless society; kedua istilah ini berasal dari saya sendiri). Maka dari sini muncullah sebuah ide yang sangat gila dan liar, yakni ide untuk membayangkan satu dunia yang dikuasai kaum wanita, sebuah dunia yang serba terbalik dari apa yang kini ada dan berlaku. Tetapi hal itu tidak serba gampang. Hal itu tidak akan dapat diwujudkan kalau struktur dunia lelaki yang sekarang ini masih ada. Pasti akan muncul banyak rintangan dan keberatan dari kaum lelaki. Oleh karena itu, mereka mau membunuh semua lelaki. Kalau semua lelaki sudah mati terbunuh maka akan muncul sebuah tatanan dunia dan masyarakat baru yang didominasi oleh kaum perempuan saja. Nah dalam dunia yang baru itu nanti para lelaki boleh dimunculkan lagi. Tetapi lelaki yang muncul itu adalah lelaki yang baru sama sekali yang tidak diracuni oleh tata dunia lama. Sebaliknya, lelaki yang akan dimunculkan kembali itu, akan tunduk sepenuhnya pada kaum wanita.

Sebagai persiapan ke arah itu mereka membangun sebuah bank-sperma untuk menampung sperma. Nanti kalau semua kaum lelaki sudah mati, maka dalam dunia baru itu, laki-laki akan dimunculkan lagi dari benih-benih sperma yang sudah disimpan di dalam bank sperma tadi. Persiapan yang kedua digagas oleh seorang dokter perempuan yang sangat cerdas (yang menjadi sang penggagas ide gila tersebut sekaligus menjadi pemimpin gerakan tersebut). Untuk tujuan itu, ia lalu menciptakan sebuah zat kimia yang ketika ditebarkan ke udara, akan mematikan semua kaum pria, karena mereka berstruktur kromosom XY. Paduan kromosom XX (jadi, wanita) akan luput dan bertahan hidup. Jadi, ini semacam program pembasmian dan pembantaian kaum pria, tetapi aksi tidak boleh berlangsung kejam dan berdarah-darah. Harus cara yang halus dan ilmiah seperti yang sudah diungkapkan tadi.

Persiapan ketiga, membentuk sebuah pasukan perempuan pamungkas. Mengapa begitu? Karena ternyata zat Kimia tadi tidak akan mampu mematikan kromosom XY yang berdarah 0. Nah, pasukan pamungkas tadi dibentuk untuk dengan kekuatan senjata modern membasmi kaum pria (XY) yang berdarah 0. Ketika zat kimia itu mulai disebar di udara, maka mati lemas semua kaum pria, dengan gejala-gejala seperti sesak nafas, tubuh membengkak dan membiru, lalu mati dan mengering (tidak membusuk). Ketika menyaksikan hal itu kaum pria pun segera sadar akan adanya keanehan yang dirancang seperti ini. Maka kaum pria yang berdarah 0 pun mulai juga membentuk pasukan pembelaan diri dan juga perlawanan. Demi survive, demi bertahan hidup.

Mula-mula mereka sulit melakukan perlawanan. Teapi tetap ada peluang. Dokter perempuan sang pemimpin tadi sudah mengindoktrinasi agar semua kaum perempuan membenci lelaki dan melupakan semua lelaki. Kita bisa membangun dunia baru tanpa laki-laki. Kalau kita butuh laki-laki nanti kita bisa memunculkan lagi mereka dari sperma di Bank data kita. Tetapi lelaki yang muncul itu nanti adalah lelaki yang dikuasai perempuan.

Tetapi rupanya indoktrinasi itu tidak efektif. Ada satu perempuan anggota pauskan elit tadi yang jatuh cinta lama pada seorang pria berdarah 0. Cinta mereka sangat kuat. Tidak luntur oleh indoktrinasi dan bayangan akan dunia baru. Nah perempuan tentara inilah yang membocorkan rahasia kepada kaum pria, sehingga kaum pria mampu membangun strategi perlawanan yang jitu. Setelah rahasia mereka terbongkar, maka perlawanan pun diarahkan kepada si Dokter sang otak utama. Kalau dokter itu sudah mati, maka gerakan itu akan mati juga. Dan betul demikian. Pesan cerita: tidak mungkin wanita tanpa ada pria.

Monday, December 3, 2018

BURUNG YANG SEHIDUP DAN SEMATI

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.
Dosen Filsafat dan Teologi FF-UNPAR, Bandung. Anggota LBI.




Hari ini (2 Desember 2018) saya mendapat sebuah kiriman video yang sangat menarik dalam sebuah WA group. Itu adalah sebuah video tentang sepasang burung. Yang seekor sudah mati. Kaku, terbujur dan tergeletak di tanah. Perut ke atas. Kaki sudah kaku. Yang seekor lagi masih hidup. Tetapi ia tetap menempel pada leher burung yang sudah mati itu. seakan-akan ia tidak mau pergi untuk meninggalkan burung pasangannya itu yang sudah mati. Rupanya ada seseorang (mungkin sekali si pembuat video) yang mencoba menggeser burung yang sudah mati untuk menjauhkannya dari burung yang masih hidup. Tetapi burung yang masih hidup itu tidak mau pergi. Ia terus mendekat dan mencoba menempel pada leher burung yang sudah mati itu. Orang itu mencoba sekali lagi menarik untuk menggeser burung itu. Dan lagi burung yang masih hidup itu tidak mau pergi melainkan terus mendekat dan menempel pada leher burung tadi. Tidak beberapa lama kemudian, burung yang tadinya masih hidup itu, tampak seperti lesu, pasrah di atas tubuh burung yang sudah mati terlebih dahulu. Orang tadi, menyentuhnya. Dan burung itu sudah tidak lagi bergerak. Ia juga sudah mati. Dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Tampak drama kisahnya kira-kira seperti ini. Sang pasangan sudah mati. Pasangannya yang masih hidup, tidak mau pergi. Ia juga ingin mati di sisinya. Ia menunggu peristiwa itu tepat di sisi pasangannya itu. Ia tidak mau hidup berlama-lama lagi setelah tahu bahwa pasangannya sudah mati. Sebuah video yang sangat luar biasa. Benar-benar mengagumkan.

Selama ini yang orang gembar-gemborkan sebagai model pasangan yang setia sehidup dan semati adalah burung merpati. Konon merpati juga seperti itu. bila pasangannya sudah mati, maka merpati yang masih hidup (entah jantan ataupun betina) akan ditimpa kemurungan yang luar biasa sehingga akhirnya ia juga akan mati menyusul pasangannya. Hanya bedanya, hingga saat ini saya belum pernah melihat rekaman peristiwa kesetiaan dari merpati. Bahwa mereka adalah pasangan yang setia, dan tidak pernah berganti pasangan, sudah pernah ada yang membuat percobaan dan saya tonton video percobaan itu. Pasangan merpati itu ditandai dengan tanda tertentu. Dari pengamatan atas tanda-tanda tertentu tersebut tampak jelas bahwa sepanjang hari, mereka berdua terus berdekatan satu sama lain, biarpun di tengah kerumunan banyak merpati. Luar biasa. Tetapi saya belum pernah menyaksikan video seperti ini. Mungkin sudah ada, tetapi saya belum pernah melihatnya. Baru kali inilah saya mendapat video seperti itu.

Orang yang mengirim video tersebut ialah bapak Frans Tantri OFS. Ia mengirimnya dalam WAG gabungan mantan OFM dan saudara OFM. Pengirim juga memberi sebuah keterangan singkat berikut: Pertama, informasi mengenai nama burung itu. Burung itu bernama Tookunangkuruvi. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan Baya Weaver Bird. Burung ini sering tampak dan hidup terutama di Yelagiri, Tamil Nadu India. Lalu ada sebuah keterangan tambahan bahwa “....ini adalah satu-satunya burung yang mati sendiri ketika pasangannya mati.” Tidak lupa keterangan singkat itu diberi sebuah penutup bernada teologis: “Tuhan membuat hatinya sedemikian rupa....” sebuah kalimat atau pernyataan yang menggantung dan tidak selesai. Titik dan penyelesaian akhir dari kalimat itu tergantung atau terserah kepada para pembaca saja.

Karena video ini terasa sangat menarik maka saya pun meminta ijin untuk segera meneruskannya kepada para sahabatku di beberapa WAG yang lain, maupun yang tidak termasuk dalam salah satu WAG. Sama seperti saya, reaksi mereka pun bermacam-macam: ada yang mengatakan, wow, ini contoh pasangan setia, benar-benar sehidup semati. Menakjubkan. Mengharukan. Keren.

Tetapi ada juga teman yang mengajukan pertanyaan. Bagaimana dengan manusia? Manusia ternyata tidak seperti itu. bagaimana pendapat atau komentar anda tentang hal itu? Saya tidak dapat menjawab pertanyaan yang menantang itu secara spontan. Saya butuh beberapa waktu lamanya untuk berpikir dan memikirkan jawaban yang kiranya tepat.

Setelah merenung sejurus lamanya, akhirnya saya menulis jawaban seperti ini. Sesungguhnya reaksi manusia dapat dikategorikan dua. Reaksi kaum pria dan reaksi kaum wanita. Pada umumnya kaum wanita akan bereaksi untuk menerima keadaan ditinggalkan pasangan dan menjanda seumur hidup. Tidak ada upaya yang aktif untuk mencari pasangan baru. Mungkin hal ini erat terkait dengan kultur di mana kaum wanitalah yang menunggu. Tidak bagus rasanya kalau wanita itu aktif mencari atau mengejar. Sedangkan pada umumnya kaum pria bereaksi dengan mencoba mengatasi keadaan itu dengan mencari seorang pengganti. Tentu untuk kedua kategori jawaban itu, ada juga kekecualian. Tetapi ini adalah jawaban tentang kecenderungan umum.

Kalau melihat kelompok yang tidak lagi mencari pengganti pasangan (entah pria ataupun wanita), mereka akan terus menduda atau menjanda dengan mencoba memberi kesaksian tentang cinta yang pernah terjalin semasa hidup. Bahwa cinta itu begitu indah dan mengagumkan dan subur, sehingga tidak dimungkinkan untuk ada lagi yang lain setelah pasangan telah pergi. Mungkin itulah yang pernah dikatakan filsuf Gabriel Marcel, bahwa cinta melampaui maut, cinta tidak diputus oleh kematian. Kata kitab suci, cinta itu kuat seperti maut. Mungkin itu sebabnya filsuf-ekonomicus Austria, Joseph Schumpeter, cukup lama menduda setelah isterinya meninggal. Bahkan untuk mengobati luka hatinya ia mengungsi ke Amerika. Di sana ia pernah menikah lagi dengan wanita lain, tetapi dengan syarat bahwa wanita itu bersedia menerima devosinya akan isterinya yang sudah mati itu. Dalam artian itu, model orang seperti ini adalah model orang yang sangat setia. Ia tetap mencinta walau sang cinta sudah tiada. Ah mungkin sebenarnya bukan tiada, hanya tidak kelihatan saja sekarang dan di sini. Sesungguhnya sang cinta itu masih ada, juga di sini.

Sekarang mari kita melihat kelompok orang yang segera mencari pengganti. Umumnya yang ini adalah kaum lelaki. Tetapi di sana-sini ada juga perempuan. Mengenai hal ini, beginilah pendapat dan pandangan saya: tindakan mereka ini bukanlah tanda bahwa tidak ada lagi kesetiaan. Melainkan, kelompok orang ini ingin sekali terus merayakan keindahan dan kemuliaan cinta itu, selama mereka hidup. Tidak berarti bahwa cinta lama sudah mati. Melainkan cinta lama itu dirayakan secara baru dalam sebuah relasi baru. Sebuah relasi secara substansial memang selalu terbuka kepada yang lain. Bahwa kemudian ia memutuskan untuk memilih pasangan baru, bagi saya itu bukanlah pertanda ketidak-setiaan, melainkan pertanda bahwa cinta sebagai sesuatu yang mulia dan berharga, memang pantas dirayakan dan dihayati terus menerus. Jadi, akhirnya di mata saya, kasus yang kedua ini pun adalah perwujudan cinta juga.


Sunday, December 2, 2018

TIME-SQUARE DAN DANAU HENING DI BEKAS MENARA KEMBAR NEW YORK

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.
Dosen Filsafat dan Teologi FF-UNPAR Bandung, Anggota LBI
.



Tanggal 29 November 2014, empat tahun lalu, saya ke New York, bersama keluarga Pa Rachmat Putranto, staf yang bekerja pada divisi perdagangan di Kedubes RI di Washington DC. Saat itu, selama kurang-lebih empat bulan saya tinggal di Amerika untuk menjalankan program sandwich pada Georgetown University di Washington DC. Untuk menghemat ongkos, maka saya tidak tinggal di DC, melainkan memilih tinggal di Maryland, menumpang di rumah pa Rachmat tadi. Ongkos hidup dan indekost di DC hampir dua kali lipat lebih dari biaya yang sama di Maryland. Akhir bulan November 2014, mereka mempunyai kebiasaan untuk melewatkan liburan Thanksgiving Day di New York. Saya pun diajak juga ke sana. Sebuah perjalanan yang mengasyikkan bagi saya karena sebuah perjalanan yang baru sama sekali, juga untuk pertama kalinya. Di New York kami menginap di sebuah hotel di kawasan Time Square yang terkenal itu. Kami menginap di sebuah Hotel besar di sana, dan kami menempati kamar di lantai yang bagi saya sangat tinggi, yaitu lantai 43, itupun belum merupakan lantai tertinggi di hotel itu. Setelah check-in di hotel tersebut, kami meletakkan tas-tas kami. Kemudian kami berkeliling ke daerah sekitar sambil menikmati makanan yang ditawarkan di pinggir jalan dan menikmati pawai pelbagai kelompok yang meramaikan thanksgiving day. Setelah letih, lagipula hari mulai malam, kami kembali ke hotel untuk menginap.

Keesokan harinya, saya diberi kebebasan untuk menjelajahi New York sendirian asal sore hari sudah harus kembali lagi ke hotel. Semula saya ketakutan. Saya takut tersesat di tengah hutan belantara pencakar langit New York yang terasa sangat asing itu. Tetapi saya harus mengambil risiko itu. Setelah mencari informasi yang perlu akhirnya saya pun memutuskan untuk berjalan sendirian menjelajahi New York. Waktu saya sangat terbatas. Hanya setengah hari. Saya memutuskan untuk mengambil jalur bis kota wisata yang bisa dengan bebas turun di beberapa spot yang menurut saya penting dan layak dikunjungi. Nanti dengan tiket yang sama bisa dilanjutkan lagi perjalanan ke titik tujuan akhir Bis itu. Dan terjadilah demikian. Saya mengambil Bis dari Time Square yang mengarah ke tepi sungai di mana terdapat patung Liberty yang terkenal itu. Tetapi saya turun dua kali. Pertama, saya turun di sebuah taman kota yang direkomendasikan pemandu wisata dalam bis itu. Saya turun dan mencoba menikmati taman itu, tetapi jujur saja saya tidak begitu tertarik dengan taman itu. Maka saya kembali lagi ke halte bis tadi menunggu bis berikutnya.

Setelah bis dengan nomor yang sama tiba, saya pun naik lagi. Spot wisata kedua yang ingin saya kunjungi adalah titik nol, yaitu kawasan bekas gedung kembar menara WTC yang terkenal itu, yang tahun 2001 hancur karena diserang teroris. Begitu saya turun di situ sudah tampak banyak petunjuk tentang sisa-sisa peristiwa ngeri tersebut. Ada gedung yang ditandai sebagai “survivor” serangan teroris itu. Ada gereja, ada rumah biasa, ada juga gedung tinggi. Bagi saya gedung-gedung itu sudah sangat tinggi. Tetapi dari gambar yang saya peroleh, gedung-gedung tinggi itu hanya setengah tingginya dari almarhum menara kembar itu. Saya membayangkan betapa menara kembar itu dulu sangat tinggi.

Begitu saya mendekati titik nol tersebut, saya mendengar keterangan dari orang-orang di sekitar saya bahwa gedung menara kembar itu sekarang sudah diganti dengan satu gedung tunggal yang juga menjulang sangat tinggi. Saat saya berdiri di dekat kakinya, walau tidak mungkin sangat mendekat, karena pengawasan security sangat ketat, saya hampir tidak bisa melihat ujung paling tinggi gedung itu. Pokoknya sangat tinggi. Di bagian belakang gedung itu, ada sebuah kolam besar (hampir seperti danau buatan kecil) dan gedung museum survivor pengeboman itu. Saya tidak sempat masuk ke dalam museum bawah tanah tersebut karena harus membayar ekstra lagi. Saya hanya melihat danau buatan kecil itu. Airnya sebagian biru karena memantulkan warna langit biru. Sebagian berwarna hitam karena memantulkan warna dinding marmer hitam. Airnya tenang dan hening. Di beberapa bagian dinding tampak air merembes. Sunyi sekali. Orang yang datang mendekati tempat itu juga pada diam dan hening.

Setelah saya mendekat barulah saya tahu bahwa orang-orang yang datang mendekat ke batas danau kecil itu boleh jadi adalah keluarga dekat korban bom bunuh diri tersebut. Karena ternyata pada marmer hitam dinding kolam tersebut ada lobang-lobang kecil dan di masing-masing lobang itu tertulis nama-nama orang yang sudah meninggal karena bencana kemanusiaan itu. Ada ribuan nama orang. Saya melihat bahwa ada yang menancapkan kembang di lubang itu, ada yang menyalakan lilin di tempat yang sudah disediakan. Ada yang meletakkan rosario. Para pengunjung itu berdiri di sana. Ada yang berdoa. Ada yang hanya berdiri dalam diam dan hening. Ada juga yang menangis sambil mengusap-usap nama yang tertulis pada pualam tersebut. Saya juga terhanyut dalam keheningan itu. Persis pada saat itu ada angin sepoi-sepoi yang sangat dingin berhembus di permukaan air kolam itu. Air kolam itu seperti bergerak dalam riak-riak kecil seakan-akan mengatakan bahwa arwah-arwah orang yang mati di sana sedang bergerak menari di atas permukaan air menyambut kedatangan pengunjung, terutama menyambut kedatangan sanak saudara yang dilanda duka nestapa karena kematian itu datang begitu tiba-tiba, seperti kata sebuah syair lagu mungkin dari Celine Dion, bahwa ia datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, bagai tamu yang tidak diundang. Suka atau tidak suka, ia pasti datang begitu saja, pada saat yang telah ditetapkannya bagi masing-masing orang. Dan tidak ada orang yang bisa menolak atau menghindar daripadanya.

Wajah-wajah para pengunjung itu, tampak sedang berjuang dalam sebuah permenungan mengenang, meraih dan menghadirkan kembali sekarang dan di sini, dia ataupun mereka yang sosoknya sekarang hanya tinggal sebuah ukiran nama pada permukaan pualam hitam. Mudah-mudahan kenangan itu juga akan abadi. Mungkin itu yang mereka harapkan. Yang jelas, bagi mereka tersedia sebuah tanda (penanda) di mana harus datang menumpahkan cinta dan rindu. Ada juga banyak korban keganasan sesama manusia yang hilang tiada ketahuan rimbanya. Sebuah kehilangan yang mengerikan sebab tidak bertanda, tidak memiliki penanda. Hanya sebuah kekosongan abadi. Saya segera tinggalkan tempat itu sebelum kekosongan abadi itu menghanyutkan saya berlama-lama dalam permenungan yang sedih dan mendalam. Selamat tinggal pualam hitam. Semoga suatu saat saya masih bisa datang kembali mengusap lembut dan dinginmu. Semoga. Suatu saat di masa yang akan datang.


Friday, November 23, 2018

MENAKAR POSISI VLADIMIR SOLOVYEV

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.
Dosen Teologi Biblika pada FF-UNPAR Bandung, dan anggota LBI.



Beberapa tahun yang lalu sebelum saya melanjutkan studi saya ke jenjang S3 pada ICRS Yogya, saya menemukan sebuah buku yang sangat menarik di perpustakaan kami. Sebuah buku yang pada saat itu masih relatif baru sebenarnya walaupun rada telat juga masuk ke perpustakaan kami. Buku itu adalah sebuah buku tua dari seorang pengarang Russia yang bernama Vladimir Solovyov. Judul buku itu juga bagi saya sangat menarik: The Justification of the Good. Judul kecilnya juga sangat menarik, yaitu An Essay on Moral Philosophy (2005. Wm.B.Eerdmans Publishing Co., Grand Rapids, Michigan).

Di atas tadi saya sudah mengatakan bahwa buku itu sangat menarik. Daya tarik buku ini pertama-tama terkait dengan fakta bahwa sesungguhnya buku ini usianya sudah termasuk sangat tua. Pengarang Vladimir Solovyov (Copleston menulis Solovyev, tetapi kedua nama itu adalah orang yang satu dan sama) sendiri adalah seorang pemikir filsafat sosial keagamaan Russia yang hidup pada tahun 1853-1900 (informasi dari cover belakang buku ini, juga informasi yang saya ambil dari Frederick Copleston, Philosophy in Russia, From Herzen to Lenin and Berdyaev, Search Press, Notre Dame: 1986). Buku dari Solovyev ini terbit pertama kali pada tahun 1897 (berarti saat sang pengarang masih berusia 44 tahunan). Judul aslinya dalam bahasa Russia ialah Opravdanie dobra: Nravstvennaya filosofiia. Terjemahan Inggris yang pertama muncul pada tahun 1918 (berdasarkan informasi dalam cover depan bagian dalam dari buku itu).

Semakin terasa menarik lagi ialah fakta bahwa buku “kuno” (dari akhir abad kesembilanbelas) ini, mengalami terbit ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 2005 setelah jauh-jauh hari sebelumnya sudah pernah diterbitkan oleh penerbit yang berbeda dengan penerbit pada tahun 1918.

Setelah saya selesai studi S3 saya, saya pun mulai dengan serius membaca beberapa bagian yang erat terkait dengan pemikiran politis dari buku tokoh ini. Oleh karena saya tidak mengajar filsafat politik di fakultas saya, maka saya belum sempat membaca secara serius dan berkesinambungan buku ini sampai tamat. Namun saya tetap membacanya sedikit demi sedikit. Hal ini saya lakukan mengingat fakta bahwa seluruh pendidikan filsafat saya sesungguhnya hanya dibatasi pada sejarah filsafat Barat saja. Itupun banyak difokuskan pada filsafat Perancis, Jerman, Inggris, sedikit Belanda, dan sedikit negara-negara Skandinavia (Soeren Kierkegaard).

*****
Dalam peta kurikulum studi filsafat itu, saya hampir tidak pernah mempelajari secara serius para pemikir dari kawasan Eropa Selatan seperti dari Spanyol (baru jauh di kemudian hari saya mengenal nama besar seperti Miguel Unamuno), Italia (tentu saja saya tahu nama-nama seperti Benedeto Croce, Nicholo Machiavelli, Antonio Rosmini yang pernah dikutuk tetapi namanya dipulihkan kembali dalam ensiklik Fides et Ratio dari tahun 1998 itu, dll), dan Portugal, ataupun Eropa Timur seperti Yunani, kawasan Balkan dan negara-negara lain di sekitarnya. Bahkan lebih sedikit lagi pengajaran yang saya dapatkan tentang para filsuf dari Eropa Timur seperti dari Polandia, Yugoslavia, Cheko, dan terutama Russia.

Beruntunglah bahwa beberapa buku dari Paus Yohanes Paulus II juga sudah saya baca terutama karya-karyanya yang erat terkait dengan filsafat personalisme (semisal The Acting Person, sebuah filsafat fenomenologi personalisme, Love and Responsibility). Melalui jendela karya-karya Carol Woytilla itu, maka saya sedikit mendapat gambaran ke dalam pemikiran filosofis dan teologis dari Polandia. Perlu diingat bahwa Carol Woytilla sendiri adalah seorang filsuf yang mendalami secara khusus tentang etika dari Max Scheller, sehingga beliau layak disebut tokoh Schellerian juga.

Mengenai pemikiran filosofis Russia, saya sedikit banyak terbantu oleh buku sejarah Filsafat Russia yang ditulis oleh seorang pater Yesuit, Frederick Copleston, yang sangat terkenal dengan karya-nya yang berjilid-jilid tentang Sejarah Filsafat. Kalau tidak, maka persepsi saya tentang Russia hanya sebatas nama-nama besar mereka di bidang sastra. Misalnya nama-nama seperti Leo Tolstoy, Boris Pasternak, Dostoyevski, Solniyetzin, dll., dengan pelbagai mahakarya mereka yang sangat dahsyat: Kamarazov Bersaudara, Perang dan Damai, Anna Karenina, dll., Dengan bantuan Copleston akhirnya saya mendapat banyak pengetahuan tentang para filsuf Russia dan pemikiran filosofis yang berkembang atau dikembangkan di Russia itu.

*****
Beberapa hari yang lalu, saya mendapat telpon dari seorang mantan mahasiswa saya (di FF-UNPAR Bandung) yang kini sedang belajar filsafat politik (filsafat sosial) pada jenjang S3 di Russia. Ia mendiskusikan bersama saya mengenai rencana penelitian dia yang akan ia ajukan kepada para promotornya di sana. Tentu saja saya mengaku berterus terang bahwa saya tidak tahu banyak tentang pemikiran filosofis dan teologis Russia, sebagaimana yang sudah saya ungkapkan di atas tadi. Tetapi mahasiswa Filsafat Politik di Moskow tadi tetap mendesak saya untuk memberikan sumbangan pemikiran dari perspektif saya yang sangat terbatas itu.

Karena didesak seperti itu, maka teringatlah saya akan Vladimir Solovyev ini. Maka saya pun menyebut nama ini, karena nama ini adalah seorang pemikir Filsafat Moral Russia yang kiranya relevan dengan rencana topik penelitian mahasiswa yang bersangkutan. Eduardus Lemanto pun langsung merasa tertarik dengan tokoh ini. Hanya sayangnya, nama tokoh Solovyev ini tidak terdapat dalam daftar isi dari Bab-bab utama dalam buku Copleston mengenai filsafat Russia itu.

Tetapi mengingat fakta bahwa bukunya yang mengalami terbit ulang dalam dunia modern dewasa ini (2005), maka saya menduga bahwa pemikiran filosofis-etis-moral tokoh ini sangat penting. Hal itu tampak sangat kentara dalam pelbagai topik yang ia bahas dalam bab-bab yang terkandung dalam buku tersebut. Sebagai gambaran umum misalnya saya akan memberi gambaran singkat mengenai apa yang ia bentangkan dalam Bab 1 dari bukunya itu. Bab 1 itu ia beri judul The Primary Data of Morality (Data Primer Moralitas). Ada beberapa hal yang ia tunjuk sebagai Data Primer Moralitas. Misalnya, ia mulai dengan hal paling bawah yaitu rasa malu (feeling of shame), sesudah itu ada pity or the sympathetic feeling, lalu ada rasa hormat atau kesalehan.

Lalu dikatakan, dan saya mengutip dari ringkasan beliau sendiri: “Perasaan-perasaan malu, sedih, dan hormat mencakup seluruh rentang relasi-relasi moral yang mungkin bagi manusia, yakni, relasi-relasi dengan apa yang berada di bawah dia, pada satu tataran dengan dia, dan yang melampaui dia. Relasi-relasi normal ini ditentukan sebagai penguasaan (mastery) atas sensualitas material, sebagai solidaritas (solidarity) dengan makhluk-makhluk hidup yang lain, dan sebagai sikap-tunduk-pasrah (submission) terhadap prinsip superhuman. Penetapan-penetapan lain mengenai hidup moral, yakni semua kebajikan (virtues), bisa ditunjukkan sebagai modifikasi-modifikasi dari tiga fakta fundamental ini, atau sebagai satu hasil dari interaksi antara mereka dan hakekat intelektual dari manusia (contoh atau teladan).”

Pelbagai macam tema besar dan mendasar dan menarik dibeberkan kepada para pembaca dalam bab-bab yang mencakup buku yang tebalnya melebihi empatratus halaman ini. Sungguh luar biasa. Walaupun Solovyev tidak mendapat bab khusus dalam buku Copleston yang sudah disebutkan di atas tadi, namun dalam kata pengantarnya Copleston juga memberikan sebuah peranan yang dimainkan Solovyov dalam seluruh peta pemikiran filosofis Russia. Bahkan Copleston menyebut Solovyev, Russia’s greatest religious philosopher (p.2). Berikut ini adalah beberapa informasi penting yang saya petik dari buku Copleston terkait dengan Solovyev ini. Menurut Peter Chaadaev (1794-1856), Russia yang coba dimodernisasi oleh Petrus yang Agung (1672-1725) merupakan “selembar kertas kosong”, tanpa suatu tata nilai ataupun tradisi-tradisi kepunyaannya sendiri. Tetapi para pemikir Slavophile menganggap pernyataan itu terlalu berlebih-lebihan. Sebaliknya menurut mereka, Russia mempunyai tradisi agung kulturalnya sendiri. Russia bisa membangun upaya modernisasi di atas tradisi agung itu. Dan dalam kenyataannya mereka juga menuntut suatu upaya pengembangan sebuah filsafat yang sejalan dengan tradisi asli Russia ini, khususnya dengan tradisi keagamaan Ortodoks. Diyakini bahwa filsafat ini adalah filsafat murni Russia yang kiranya bebas dari cacat-cela keangkuhan “rasionalisme” Barat.

****
Dan sekarang tibalah kita pada peranan yang menurut Copleston dapat dimainkan oleh Solovyev tadi. Menurut Copleston, Solovyev dapat memainkan peranan penting dalam membangun tradisi filsafat agung Russia yang khas dan unik itu di atas kertas putih yang kosong itu (semacam tabula rasa, papan putih kosong yang siap untuk ditulisi ataupun digambar). Tetapi, akhirnya Copleston juga sedikit banyak merelativir peranan Solovyev untuk bisa membangun filsafat “murni” Russia, karena menurut Copleston, pada akhirnya Solovyev pun sangat banyak dipengaruhi oleh tradisi filsafat Barat. Kata Copleston, pemikiran filsafat Solovyev sama sekali bukannya tanpa pengaruh dari pemikiran filosofis barat.

Atas dasar itulah Copleston berkata, bahwa walaupun Solovyev itu mempunyai para pengganti atau pengikut pada abad keduapuluh, dan karena itu mereka diharapkan bisa meneruskan program pembangunan filsafat Russia yang khas, namun tidak dapat disangkal bahwa justru pada abad keduapuluh ini, filsafat yang mempunyai asal-usul baratlah, yaitu Marxisme, yang menjadi ideologi yang didukung secara resmi di Russia sesudah Revolusi itu. Dengan kata lain, proyek pembangunan filsafat Russia “yang murni” tanpa pengaruh dari Barat, boleh dikatakan gagal. Tidak lama sesudah kematian Solovyev pada tahun 1900, Marxisme dalam bentuk yang sudah dimodifikasi ala Russia, justru yang menguasai Russia sejak Revolusi Bosyevicki pada tahun 1917 yang mahaterkenal itu. Ya, itulah dan begitulah nasib akhir sebuah pergerakan filsafat tentu saja. Namun demikian ia tetap tinggal dikenang sebagai sebuah master-mind dan blue-print. Mungkin karena itu, buku Solovyev dari akhir abad ke-19 diterbitkan kembali pada awal abad ke-21 (2005). Sebuah prestasi dan pencapaian yang luar biasa tentu saja.

Thursday, November 15, 2018

IMAN SEDERHANA LEO TOLSTOY

By: Dr.Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika Fakultas Filsafat UNPAR, Bandung, anggota LBI.



Beberapa tahun silam (17 October 2011) saya membeli sebuah buku di toko-buku di UGM Yogyakarta. Lalu saya langsung membacanya. Buku itu adalah hasil karya pengarang kenamaan Russia, Leo Tolstoy. Judul buku itu ialah Sebuah Pengalaman. Dalam bahasa Inggris judulnya ialah A Confession. Karena itu, berdasarkan judul Inggris, seharusnya terjemahan bahasa Indonesianya ialah Sebuah Pengakuan, seperti terjemahan karya agung Agustinus dari Hippo, Confessiones, menjadi Pengakuan-pengakuan. Entah mengapa, si penerjemah menerjemahkannya menjadi Pengalaman.

Menurut saya buku kecil ini sangat menarik dan menantang baik secara literer maupun secara teologis. Dalam catatan singkat ini, saya hanya akan berbicara tentang aspek teologis dari buku tersebut. Dalam buku itu ada pelukisan yang menarik tentang apa yang disebut “Dilema Tolstoy”. Apa inti dilema tersebut? Mungkin dilema itu dialami oleh setiap orang beriman, terutama orang beriman yang berpendidikan tinggi. Dilema itu dapat dirumuskan demikian: itu adalah perjuangan untuk menghayati iman dalam hidup sehari-hari.

Kita tahu bahwa sebagai orang Russia, Leo Tolstoy dibaptis dalam Gereja Ortodox Russia karena ia dilahirkan dan dibesarkan dalam sebuah keluarga kelas mengengah atas gereja Rusia Ortodox. Jadi, ia dididik dan dibesarkan sebagai seorang Kristiani. Agama Kristiani itu mengajarkan kepada pengikutnya untuk percaya akan Allah sebagaimana dicanangkan dalam syahadatnya Credo in unum Deum, Aku percaya akan satu Allah. Tetapi serentak Tolstoy juga sadar bahwa hal percaya kepada Allah itu tidaklah serba mudah. Hal beriman itu bukanlah sebuah perkara gampang. Ada banyak tantangan yang tidak ringan.

Karena itu ia pun mulai berpikir untuk meninggalkan hidup beriman itu, meninggalkan tempat suci, aura suci, aura sacra, lalu memulai satu hidup tanpa iman, hidup di luar tempat suci, hidup dalam ranah dunia, ranah sekular. Tetapi hal ini tidak serba gampang juga bagi Tolstoy karena pada dasarnya Tolstoy itu benar-benar percaya akan Allah. Pada dasarnya ia percaya bahwa Allah itu sungguh ada, walau ia juga tahu bahwa tidak mudah membuktikan keberadaan Allah hanya dengan memakai daya kekuatan akal budi manusia semata-mata. Sebagai orang terpelajar kiranya ia tahu pelbagai wacana filosofis dan teologis tentang bukti-bukti keberadaan Allah. Misalnya wacana tentang lima jalan (quinque viae) dari Tomas Aquinas. Begitu juga halnya dengan wacana teologis dari Agustinus yang menjelaskan dan membuktikan keberadaan Allah. Begitu juga pelbagai wacana teologis dari para teolog gereja Timur itu sendiri.

Tetapi akhirnya, semua wacana filosofis dan teologis ini hanya merupakan sarana yang sangat terbatas dan serba terbata-bata untuk berbicara tentang Allah. Bagaimana pun juga semua wacana verbal itu adalah garis batas bagi kata-kata dan pikiran manusia. Karena itu, untuk sementara waktu ia dengan sengaja memutuskan untuk menjadi seorang ateis praktis, yaitu hidup seakan-akan Allah tidak ada, atau walaupun Allah ada, namun Ia tidak punya daya pengaruh apa pun atas hidupnya. Ateisme praktis itu kira-kira sama dengan apa yang pernah dianjurkan isteri Ayub di hadapan penderitaan total sang suami, Ayub. Tetapi sekali lagi, Tolstoy sadar bahwa cara hidup ateistik juga bukan merupakan jalan keluar yang baik dan tepat bagi dilema tersebut.

Karena itu, pada suatu saat ia memikirkan dengan sungguh-sungguh untuk menempuh jalan bunuh diri saja sebagai jalan keluar dari masalah yang sulit itu, masalah menghayati hidup sebagai orang beriman. Tentu ini adalah sebuah filsafat pesimistik seperti yang pernah dianut oleh Arthur Schopenhauer, yang pernah menganjurkan bunuh diri sebagai jalan keluar dari kemelut dan masalah kehidupan di dunia ini. Tetapi sebagai orang yang beriman, Tolstoy juga menyadari bahwa ini juga bukan merupakan jalan keluar yang baik dari masalah tersebut. Maka Tolstoy benar-benar menghadapi sebuah masalah yang tidak mudah.

Tetapi di sini Tolstoy harus memilih dan memutuskan sesuatu. Ia harus bisa mencari jalan keluar dari kondisi yang menyesakkan dan memuakkan ini, kondisi yang bisa menyebabkan orang bisa muntah, nauseea, meminjam istilah Jean Paul Sartre, filsuf eksistensialis Perancis. Tolstoy sungguh yakin bahwa jalan filsafat pesimistik itu bukan merupakan jalan keluar yang tepat bagi dilema keagamaan seperti ini. Umat manusia, tidak dapat dan juga tidak boleh memecahkan dilema iman dengan memakai filsafat pesmisme seperti itu. Karena itu, Tolstoy pun harus berupaya keras untuk menemukan jalan keluar yang baik dan baru bagi dilema ini.

Untuk mengakhiri dilema ini, Tolstoy memutuskan untuk menempuh jalan hidup “iman sederhana” (simple faith). Apa itu? Itu adalah iman sebagaimana dihayati oleh ribuan petani Rusia yang sederhana di dusun-dusun. Tolstoy menyebut pilihan ini jalan ketiga (third way) setelah dua jalan terdahulu, ateisme dan bunuh diri. Jalan ketiga yang ia tempuh ini merupakan jalan keluar dari dilema ini. Tolstoy tahu bahwa hidup iman sederhana dari para petani Russia di dusun-dusun itu adalah iman yang penuh makna, iman yang berdaya transformatif, hidup iman yang sungguh mengubah hidup mereka secara sangat mendalam. Model hidup iman seperti itu adalah iman yang tidak terlalu pusing dengan upaya mempersoalkan dan membutikan tentang Allah (theos-logos, God-talking, Gottesprache). Melainkan iman yang terutama sekali memberi penekanan pada praktik berbicara atau berdialog dengan Allah.

Dan memang, berbicara atau berdialog dengan Allah merupakan salah satu cara untuk mendefinisikan doa itu sendiri. Doa adalah pertama-tama hal berdialog dengan Allah dan bukan pertama-tama hal berbicara tentang Allah. Kiranya Tolstoy akhirnya percaya bahwa hidup beriman itu pada dasarnya adalah perkara percaya dan berserah diri begitu saja kepada Allah, sang ada dan kehadiran itu sendiri. Hidup beriman itu bukan terutama perkara bertanya dan berbicara tentang eksistensi dan kehendak Allah. Hidup beriman adalah perkara percaya kepada Allah begitu saja tanpa prasyarat apa pun. Hidup beriman bukan hidup yang mencoba bertanya dan mempertanyakan tentang kehendak Allah, karena, seperti ungkapan bahasa Jerman, Gottes Wille hat keine Warum, Kehendak Allah tidak untuk ditanyakan (apalagi dipertanyakan ataupun dipersoalkan). Dengan “iman sederhana” ini, akhirnya Tolstoy menemukan jalan keluar dari dilema hidupnya sebagai orang beriman.


PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...