Monday, December 3, 2018

BURUNG YANG SEHIDUP DAN SEMATI

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.
Dosen Filsafat dan Teologi FF-UNPAR, Bandung. Anggota LBI.




Hari ini (2 Desember 2018) saya mendapat sebuah kiriman video yang sangat menarik dalam sebuah WA group. Itu adalah sebuah video tentang sepasang burung. Yang seekor sudah mati. Kaku, terbujur dan tergeletak di tanah. Perut ke atas. Kaki sudah kaku. Yang seekor lagi masih hidup. Tetapi ia tetap menempel pada leher burung yang sudah mati itu. seakan-akan ia tidak mau pergi untuk meninggalkan burung pasangannya itu yang sudah mati. Rupanya ada seseorang (mungkin sekali si pembuat video) yang mencoba menggeser burung yang sudah mati untuk menjauhkannya dari burung yang masih hidup. Tetapi burung yang masih hidup itu tidak mau pergi. Ia terus mendekat dan mencoba menempel pada leher burung yang sudah mati itu. Orang itu mencoba sekali lagi menarik untuk menggeser burung itu. Dan lagi burung yang masih hidup itu tidak mau pergi melainkan terus mendekat dan menempel pada leher burung tadi. Tidak beberapa lama kemudian, burung yang tadinya masih hidup itu, tampak seperti lesu, pasrah di atas tubuh burung yang sudah mati terlebih dahulu. Orang tadi, menyentuhnya. Dan burung itu sudah tidak lagi bergerak. Ia juga sudah mati. Dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Tampak drama kisahnya kira-kira seperti ini. Sang pasangan sudah mati. Pasangannya yang masih hidup, tidak mau pergi. Ia juga ingin mati di sisinya. Ia menunggu peristiwa itu tepat di sisi pasangannya itu. Ia tidak mau hidup berlama-lama lagi setelah tahu bahwa pasangannya sudah mati. Sebuah video yang sangat luar biasa. Benar-benar mengagumkan.

Selama ini yang orang gembar-gemborkan sebagai model pasangan yang setia sehidup dan semati adalah burung merpati. Konon merpati juga seperti itu. bila pasangannya sudah mati, maka merpati yang masih hidup (entah jantan ataupun betina) akan ditimpa kemurungan yang luar biasa sehingga akhirnya ia juga akan mati menyusul pasangannya. Hanya bedanya, hingga saat ini saya belum pernah melihat rekaman peristiwa kesetiaan dari merpati. Bahwa mereka adalah pasangan yang setia, dan tidak pernah berganti pasangan, sudah pernah ada yang membuat percobaan dan saya tonton video percobaan itu. Pasangan merpati itu ditandai dengan tanda tertentu. Dari pengamatan atas tanda-tanda tertentu tersebut tampak jelas bahwa sepanjang hari, mereka berdua terus berdekatan satu sama lain, biarpun di tengah kerumunan banyak merpati. Luar biasa. Tetapi saya belum pernah menyaksikan video seperti ini. Mungkin sudah ada, tetapi saya belum pernah melihatnya. Baru kali inilah saya mendapat video seperti itu.

Orang yang mengirim video tersebut ialah bapak Frans Tantri OFS. Ia mengirimnya dalam WAG gabungan mantan OFM dan saudara OFM. Pengirim juga memberi sebuah keterangan singkat berikut: Pertama, informasi mengenai nama burung itu. Burung itu bernama Tookunangkuruvi. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan Baya Weaver Bird. Burung ini sering tampak dan hidup terutama di Yelagiri, Tamil Nadu India. Lalu ada sebuah keterangan tambahan bahwa “....ini adalah satu-satunya burung yang mati sendiri ketika pasangannya mati.” Tidak lupa keterangan singkat itu diberi sebuah penutup bernada teologis: “Tuhan membuat hatinya sedemikian rupa....” sebuah kalimat atau pernyataan yang menggantung dan tidak selesai. Titik dan penyelesaian akhir dari kalimat itu tergantung atau terserah kepada para pembaca saja.

Karena video ini terasa sangat menarik maka saya pun meminta ijin untuk segera meneruskannya kepada para sahabatku di beberapa WAG yang lain, maupun yang tidak termasuk dalam salah satu WAG. Sama seperti saya, reaksi mereka pun bermacam-macam: ada yang mengatakan, wow, ini contoh pasangan setia, benar-benar sehidup semati. Menakjubkan. Mengharukan. Keren.

Tetapi ada juga teman yang mengajukan pertanyaan. Bagaimana dengan manusia? Manusia ternyata tidak seperti itu. bagaimana pendapat atau komentar anda tentang hal itu? Saya tidak dapat menjawab pertanyaan yang menantang itu secara spontan. Saya butuh beberapa waktu lamanya untuk berpikir dan memikirkan jawaban yang kiranya tepat.

Setelah merenung sejurus lamanya, akhirnya saya menulis jawaban seperti ini. Sesungguhnya reaksi manusia dapat dikategorikan dua. Reaksi kaum pria dan reaksi kaum wanita. Pada umumnya kaum wanita akan bereaksi untuk menerima keadaan ditinggalkan pasangan dan menjanda seumur hidup. Tidak ada upaya yang aktif untuk mencari pasangan baru. Mungkin hal ini erat terkait dengan kultur di mana kaum wanitalah yang menunggu. Tidak bagus rasanya kalau wanita itu aktif mencari atau mengejar. Sedangkan pada umumnya kaum pria bereaksi dengan mencoba mengatasi keadaan itu dengan mencari seorang pengganti. Tentu untuk kedua kategori jawaban itu, ada juga kekecualian. Tetapi ini adalah jawaban tentang kecenderungan umum.

Kalau melihat kelompok yang tidak lagi mencari pengganti pasangan (entah pria ataupun wanita), mereka akan terus menduda atau menjanda dengan mencoba memberi kesaksian tentang cinta yang pernah terjalin semasa hidup. Bahwa cinta itu begitu indah dan mengagumkan dan subur, sehingga tidak dimungkinkan untuk ada lagi yang lain setelah pasangan telah pergi. Mungkin itulah yang pernah dikatakan filsuf Gabriel Marcel, bahwa cinta melampaui maut, cinta tidak diputus oleh kematian. Kata kitab suci, cinta itu kuat seperti maut. Mungkin itu sebabnya filsuf-ekonomicus Austria, Joseph Schumpeter, cukup lama menduda setelah isterinya meninggal. Bahkan untuk mengobati luka hatinya ia mengungsi ke Amerika. Di sana ia pernah menikah lagi dengan wanita lain, tetapi dengan syarat bahwa wanita itu bersedia menerima devosinya akan isterinya yang sudah mati itu. Dalam artian itu, model orang seperti ini adalah model orang yang sangat setia. Ia tetap mencinta walau sang cinta sudah tiada. Ah mungkin sebenarnya bukan tiada, hanya tidak kelihatan saja sekarang dan di sini. Sesungguhnya sang cinta itu masih ada, juga di sini.

Sekarang mari kita melihat kelompok orang yang segera mencari pengganti. Umumnya yang ini adalah kaum lelaki. Tetapi di sana-sini ada juga perempuan. Mengenai hal ini, beginilah pendapat dan pandangan saya: tindakan mereka ini bukanlah tanda bahwa tidak ada lagi kesetiaan. Melainkan, kelompok orang ini ingin sekali terus merayakan keindahan dan kemuliaan cinta itu, selama mereka hidup. Tidak berarti bahwa cinta lama sudah mati. Melainkan cinta lama itu dirayakan secara baru dalam sebuah relasi baru. Sebuah relasi secara substansial memang selalu terbuka kepada yang lain. Bahwa kemudian ia memutuskan untuk memilih pasangan baru, bagi saya itu bukanlah pertanda ketidak-setiaan, melainkan pertanda bahwa cinta sebagai sesuatu yang mulia dan berharga, memang pantas dirayakan dan dihayati terus menerus. Jadi, akhirnya di mata saya, kasus yang kedua ini pun adalah perwujudan cinta juga.


2 comments:

Silvester Goridus Sukur said...

Bagus kisah dan renungannya. Luar biasa

canticumsolis said...

KRAENG SIL...
TRIMA KASIH BANYAK GE SUDAH SUDI CENGGO CEE NATAS DAKU HOO...
TABE GA...

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...