Sunday, December 9, 2018

"TRANSFORMASI LIDAH" ORANG MANGGARAI

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.
Dosen Fakultas Filsafat UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI.


Namaku Fransiskus. Ibu memanggilku Ransis atau Sis. Bapa memanggilku Frans. Itulah yang dikenal orang banyak. Teman-teman memanggilku Frans. Tetapi setiap kali berlibur di kampung kakek-nenekku di Dempol dan Wol ada yang aneh. Nenekku dari pihak bapa (Samong) tidak bisa melafalkan huruf F, sebab huruf itu tidak ada dalam bahasa Manggarai. Bahasa Manggarai hanya mengenal huruf W. Karena itu, ia memanggilku Wras. Hal yang sama terjadi juga dengan nenek dari pihak ibu. Ia memanggilku Wras atau Weras. Itu karena mereka tidak bisa mengucapkan huruf F. Juga tidak bisa mengucapkan dua konsonan berturutan. Nama FRANS tadi, diubah F-nya menjadi W dan dua konsonan berturutan di akhir dikorbankan, dengan memilih salah satu. Nenekku di Wol, kadang mengganti huruf F dengan P sehingga akupun dipanggilnya Pran atau Pras. Tidak pernah Frans atau Prans. Kakekku (dari pihak ibu) jarang memanggil namaku. Sesekali saya mendengar dia memanggilku. Ternyata kakek, yang pernah menjabat kepala Desa (terkenal sebagai Kraeng Kepala Dempol di tahun 60an dan 70an) juga tidak bisa mengucapkan huruf F dengan baik. Ia memanggilku Wras.

Untuk apa saya catat ini semua? Begini. Setelah saya berusia setengah abad lebih, saya telusuri kembali apa yang saya sebut “transformasi lidah” orang Manggarai. Pertama, sejauh saya amati, orang Manggarai dulu tidak bisa mengucapkan huruf F, karena huruf itu tidak ada dalam kosa kata Manggarai. Kamus Manggarai J.Verheijen SVD (1967), tidak memiliki lema F. Dari lema Huruf E di halaman 127 langsung ke lema huruf G pada halaman yang sama. Hal itu juga ada dalam kamus yang terbit sekarang. Kamus Manggarai, Robertus Sutardi Ebat (2018), juga mencatat hal yang sama. Dari lema huruf E pada halaman 103 langsung ke lema huruf G pada halaman yang sama. Saya menunggu kamus yang baru diberitakan penerbitannya di beberapa Grup WA yang disusun STKIP Ruteng. Kiranya hasilnya juga sama seperti itu: tidak ada lema huruf F. Tidaklah mengherankan bahwa orang Manggarai dulu sulit melafalkan F itu.

Kedua, saya juga mengamati bahwa ada beberapa kombinasi konsonan dalam bahasa Indonesia yang awalnya susah diucapkan orang Manggarai. Beberapa contoh: kombinasi KS (terkadang ditulis dengan huruf X saja), NS, NY. Sampai tahun 70an banyak orang Manggarai belum bisa mengucapkan kombinasi KS dengan baik. Memang saat itu belum ada banyak kata yang berakhir KS atau X. Tetapi nama baptis sudah dikenal, Felix. Nama ini pun dilafalkan Pelis. Saya mengetahui hal ini sejak kecil karena ayah saya bernama Felix dan kebanyakan orang pada masa kecilku susah mengucapkan nama beliau. Mereka menyebutnya tuang guru Pelis. Itu saya dengar di Arus (Lambaleda), di Wewo (Pongkor), dan di Ketang (Lelak), dan di Dempol, Rangga, Wol, Daleng (Lembor, Wontong). Kesulitan menyebut NS sudah saya uraikan di awal tadi terkait dengan nama panggilan saya. Yang mungkin terasa aneh ialah kombinasi NY yang hingga tahun 70an di beberapa tempat di Manggarai susah diucapkan. NY diucapkan dengan NG, sehingga Menyanyi diucapkan Mengangi. Nyonya, diucapkan dengan versi Porto yang lebih sederhana pengaruh Flotim, Nora (Senhora). Mungkin generasi Manggarai sekarang menganggap saya mengada-ada dengan pengamatan itu. Tetapi teman kelasku di SD ada yang susah mengucapkan kombinasi NY tersebut. Juga “ata kampong” susah mengucapkan kombinasi itu.

Yang menarik ialah bahwa walaupun beberapa kombinasi “asing” itu pada awalnya susah diucapkan orang Manggarai, tetapi dalam bahasa Manggarai sendiri ada beberapa kombinasi huruf mati. Berbeda dengan ketiga kombinasi di atas tadi yang terletak di akhir kata, kombinasi konsonan Manggarai yang saya amati ini terletak di awal kata. Misalnya kombinasi Mb, Nd, Ng, Mp, Nt. Mb: mbare, mbang, mbata, mber, mbeng, mberong, mbe, mbesol, dst. Nd: ndilep, ndilek, ndodol, ndondok, ndael, ndekar, ndatar, dll. Nt: Nte’er, Ntileng, Nterlango, Nta’ur, ntewar. (Lihat Verheijen, hlm.452-454; bahkan Verheijen mendaftarkan kombinasi tiga huruf mati NTJ; tetapi saya tidak daftarkan di sini karena kombinasi itu sekarang tidak dipakai lagi). Ng: Ngkerok, Ngkeros, Ngkor, Ngkaer, ngkeleng, ngkero, ngkek, ngkebing, dll (Verheijen, hlm.449-452; bahkan dia membedakan antara kombinasi NGK dan NGG; ia melakukan hal ini mungkin karena ia menilai bahwa fenomena itu cukup khas dalam bahasa Manggarai yaitu sebuah kata dimulai dengan ng atau ngg, sesuatu yang jarang dijumpai dalam kosa kata bahasa lain). Mp: mpeong, mpirang, mpuing, mpedal, dll. (Verheijen, hlm.359-361; ada banyak contoh, tetapi sebagian besar tidak dipakai lagi).

Kembali ke persoalan awal tadi (orang Manggarai dulu sulit mengucapkan beberapa kombinasi konsonan dalam bahasa Indonesia). Kesulitan itu terkait dengan tingkat pendidikan. Kalau orang belum sekolah, maka dia sulit mengucapkan beberapa huruf dan kombinasi konsonan itu. Tetapi begitu orang bersekolah biarpun hanya SD, pasti dia akan mengalami “transformasi lidah”. Tadinya ia sulit mengucapkan huruf tertentu (F) karena tidak ada dalam bahasa ibunya, dan sulit mengucapkan beberapa variasi kombinasi konsonan (KS, NS, NY), tetapi karena sekolah orang bisa mengucapkannya. Saya ingat bahwa salah satu tugas guru sekolah dasar tahun 60an dan 70an ialah melatih siswanya mengucapkan hal-hal yang sulit itu. Tetapi begitu anak bisa mengucapkannya maka ia pun terlatih dan tidak melupakannya lagi. Ia sudah beralih dari orang yang tidak berpendidikan menjadi orang berpendidikan.

Betapa saya heran dan terkejut ketika tahun 1982 untuk pertama kali saya ke Yogya. Saya mendengar semua teman saya yang Jawa tidak bisa mengucapkan nama saya Frans, dan diganti Fran. Di tengah masyarakat juga saya mendengar hal seperti itu. Maka saya pun berkesan bahwa orang-orang ini tidak mengalami transformasi lidah. Bahkan diam-diam dalam hati saya tergoda untuk berpikir bahwa jangan-jangan orang-orang ini tidak berpendidikan. Tetapi penilaian saya itu tentu saja bertolak dari cara pandang saya sendiri.


No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...