Wednesday, November 14, 2018

BUNDA DARI LA VANG

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika pada FF-UNPAR Bandung, dan Anggota LBI.



Dari bulan September hingga bulan Desember 2014 saya tinggal di Maryland Amerika Serikat karena pada saat itu saya sedang melaksanakan Sandwich-programme pada Georgetown University (universitas milik Yesuit yang terkenal itu) yang terletak di dalam kawasan Washington DC. Selama tinggal empat bulan di sana, saya mengunjungi tempat-tempat wisata yang terkenal. Salah satunya ialah Basilika Santa Perawan Maria yang berukuran raksasa yang terletak di dalam kawasan Catholic University of America. Lebih dari lima kali saya datang ke sana untuk berdoa dan juga untuk berwisata. Sebab ada banyak sekali aspek dari gereja itu yang bisa diceritakan. Kali ini saya mau menceritakan salah satu aspek dari gereja tersebut. Yang jelas dalam Gereja itu ada banyak sekali Kapel devosional yang dibaktikan kepada pelbagai tempat ziarah Maria yang terkenal di seluruh dunia. Salah satunya ialah kapel Bunda dari La Vang.

Kapel Bunda dari La Vang ini berasal dari Vietnam. Kapel La Vang sendiri di Vietnam berasal dari pengalaman historis Umat Katolik di sana. Hampir sepanjang abad ke-18, Vietnam mengalami situasi kacau-balau karena terjadi beberapa drama perebutan kekuasaan. Ada banyak pihak yang ingin berkuasa. Selain itu ada juga beberapa pemberontakan para petani. Maka tidaklah mengherankan kalau ada banyak pasukan pemberontakan yang muncul dan berkeliaran di seluruh negeri itu. Semuanya mengganggu keamanan dan stabilitas negeri itu.

Perlu diketahui bahwa agama Katolik mulai masuk ke sana sejak abad ke-16 antara lain dengan tokoh pewarta yang terkenal di sana, seorang Yesuit yang bernama Alexander de Rhodes itu (kurang lebih sejaman dengan Fransiskus Xaverius yang terkenal di Indonesia, Formosa, Jepang). Sebagaimana de Rhodes menghasilkan sebuah katekismus untuk orang-orang Vietnam, begitulah juga Fransiskus Xaverius pun menghasilkan katekismus bagi orang-orang di Ambon, Ternate (mungkin juga pernah di Flores Timur dan Timor Leste). Tetapi pada abad ke-18 tadi, Kaisar yang bernama Canh Thinh, sangat membatasi ruang gereka gereja; bahkan lebih dari itu ia juga menghambat perkembangan gereja. Tindakan itu ia lakukan karena ia takut bahwa Gereja itu nanti akan menjadi sangat kuat dan menguasai negeri itu. Oleh karena itu, ia pun mulai melakukan tindakan pengejaran dan penyiksaan (persekusi) terhadap Gereja dan jemaat Kristiani yang ada di sana.

Tatkala tindakan persekusi dari sang kaisar itu sudah sangat menjadi-jadi, orang-orang Kristen dari desa-desa setempat dan paroki-paroki setempat melarikan diri ke hutan rimba di daerah La Vang. Menurut kata legenda historis, istilah atau nama La Vang itu sendiri berasal dari kata bahasa Vietnam yang artinya ialah “berseru” ataupun “menangis”. Makna ini biasanya mengacu kepada dua hal berikut ini. Pertama, ia mengacu kepada suara-suara para pelarian itu yang mencoba mengusir binatang-binatang buas yang mengancam mereka. Kedua nama itu juga mengacu kepada teriakan minta tolong dari orang-orang Kristen yang dikejar-kejar dan dianiaya tadi. Tetapi, sekali lagi, itu kata cerita legenda. Kata para ahli bahasa modern lain lagi. Menurut mereka kata La Vang itu berasal dari sebuah kebiasaan kuno orang-orang Vietnam (kiranya juga kebiasaan itu ada di tempat lain) yaitu kebiasaan untuk memberi nama kepada satu tempat berdasarkan jenis pohon atau tetumbuhan yang ada di tempat itu, yaitu La (Daun) Vang (bebijian herbal). Jika ini benar, tentu saja ini adalah sejenis toponim, nama tempat berdasarkan pohon yang ada di sana.

Konon saat mereka mengungsi dan bersembunyi di hutan itu, jemaat gereja tadi berkumpul setiap malam di bawah sebuah pohon besar untuk berdoa rosario. Dan terjadilah sebuah keajaiban, sebuah mukjizat. Pada suatu malam seorang perempuan cantik yang mengenakan jubah yang berwarna agung-cemerlang, sambil menggendong seorang bayi, menampakkan diri kepada mereka. Ia memperkenalkan diri kepada mereka sebagai Bunda Tuhan. Dikatakan bahwa pada saat itu ia juga menghibur dan menguatkan hati mereka. Ia memberi kepada mereka sebuah tanda khusus dari perhatiannya yang penuh kasih. Tanda itu berupa daun pakis (fern) untuk mengobati sakit dan luka-luka tubuh mereka. Sang Bunda juga berjanji untuk menerima doa-doa mereka dengan kelemah-lembutan seorang ibu. Sang Bunda menampakkan diri banyak kali di tempat yang sama ini selama hampir 100 tahun masa penindasan dan pengejaran agama tersebut.

Kapel Bunda Kita La Vang terletak di dusun yang dewasa ini dikenal sebagai Hiu Phu, di daerah Mai Link, Propinsi Quang Tei, di Vietnam Tengah. La Vang menjadi Pusat Maria Nasional Vietnam pada tanggal 13 April 1961. Paus Yohanes xXIII mengangkat Gereja Bunda Kita La Vang ke tingkat Basilika minor pada tanggal 22 Agustus 1961.

Sebagai akibat perang saudara antara Vietnam Utara dan Selatan pada tahun 70an, maka banyak orang Vietnam mengungsi ke luar ke berbagai negara meminta suaka. Misalnya ada yang berlari ke Indonesia (dan cukup lama menempati pulau Galang, di Bangka Belitung Selatan). Ada juga yang ke Australia. Waktu di Belanda saya juga mengenal komunitas orang Vietnam yang meminta suaka di sana. Tentu ada juga yang meminta suaka ke Amerika Serikat. Maka terbentuklah komunitas Vietnam yang kuat di Amerika Serikat. Ada dari kalangan orang-orang ini yang menjadi orang sukses, baik sebagai pedagang, maupun sebagai ilmuwan, teolog, dan pelbagai macam profesi lainnya. Waktu di Georgetown University saya bekerja sama dengan seorang profesor Teologi yang merupakan kelompok pengungsi akibat perang Vietnam itu. Dia adalah Prof.Dr.Peter C.Phan.

Komunitas orang-orang Vietnam di Amerika Serikat ini kemudian berjuang agar kapel La Vang itu juga dimasukkan sebagai salah satu kapel devosional di Basilika St.Maria tersebut. Tentu saja untuk tujuan itu mereka harus mengumpulkan dana yang tidak sedikit. Dan mereka mampu melakukannya. Maka kapel Bunda Maria dari La Vang itu pun sekarang bisa dinikmati sebagai bagian utuh dari Basilika Santa Maria tersebut. Saat saya mengunjungi kapel itu pada awal Oktober 2014, saya menyaksikan bahwa ada cukup banyak juga pengunjung yang kiranya sebagian besar orang Katolik itu, berdoa di dalam Kapel tersebut.

Saat kita memasuki kapel itu, maka kita akan melihat bahwa di sebelah kiri ada sebuah mosaik indah, yang melukiskan ke-114 martir Vietnam (nama-nama mereka tertera pada plakat perunggu; termasuk dalam nama-nama itu ialah dua nama yang sudah tidak asing lagi bagi kita karena sudah masuk ke dalam kalender liturgi kita, Andreas Dung Lac dan kawan-kawan). Mereka dikanonisasi oleh Paus Paulus VI. Di sebelah kanan juga ada sebuah mosaik yang indah. Mosaik ini melukiskan angkatan-angkatan kaum beriman di Vietnam. Mereka dilukiskan dalam pakaian mereka pada jaman itu.

Tuesday, November 13, 2018

GENIUS FEMININ

Oleh:Dr.Fransiskus Borgias M.
(Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung, Anggota LBI).


Di perpustakaan kami pada Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan Bandung, ada buku yang sangat menarik perhatian saya. (Saya sudah membacanya pada awal tahun 2017 silam, dan juga sudah menulis sesuatu tentang buku itu dalam buku harian saya. Tetapi baru sekarang ini saya sempat menerbitkannya dalam blog pribadi saya). Buku itu berasal dari seorang pengarang yang bernama Matthew Levering. Adapun judul buku itu ialah sebagai berikut: The Feminine Genius of Catholic Theology (atau Genius Feminin Teologi Katolik). Jadi, buku ini adalah sebuah buku teologi, tetapi dari sudut pandang para pemikir feminis dalam tradisi Katolik yang sudah sangat panjang usianya. Tetapi sesungguhnya tema yang diulas dalam buku ini sangatlah tradisional, yaitu misalnya tentang Allah dan misteri Trinitas (Teologi), tentang Yesus Kristus (Kristologi), Penciptaan dan Penyelenggaraan ilahi (Providentia Dei), tentang Dosa, tentang sakramen-sakramen, tentang Gereja, tentang Keutamaan-keutamaan, tentang Maria dan Para kudus, tentang Doa dan kehidupan kekal. Hal-hal itulah yang dibahas dalam buku ini. Dalam artian itu, buku ini adalah sebuah buku teologi sistematik tradisional.

Namun demikian ada satu hal yang sangat unik dan menarik dari buku ini. Yang saya maksudkan ialah bahwa pengarang buku ini memberi perhatian yang sangat besar terhadap pemikiran teologis kaum perempuan dalam sejarah Gereja. Secara tradisional biasanya mereka itu disebut mistika. Tetapi sesungguhnya mereka berteologi; jadi, mereka itu teolog, ahli teologi juga. Tetapi para teolog laki-laki (yang sebagian besar ialah para imam) selama ini tidak mau mengakui mereka sebagai teolog. Karena itu mereka dikategorikan sebagai mistika atau ahli spiritualitas belaka. Karya-karya mereka, betapa pun hebat dan terkenal, paling-paling hanya disebut karya di bidang spiritualitas saja. Tentu saja ini adalah sebuah sikap yang sangat diskriminatif. Berbeda dengan sikap diskriminatif itu, bahkan saya berani mengatakan bahwa mereka adalah para teolog dalam artian ketat dari kata itu. Tidak ada alasan apa pun untuk menyingkirkan mereka dari makna teologia yang sesungguhnya.

Adapun kaum teolog perempuan yang dirujuk dalam buku ini mencakup satu rentang masa yang sangat panjang: mulai dari abad ke-empat sampai abad ke-20 atau kalau harus menyebut nama tokoh, maka dimulai dari tokoh bernama Egeria (abad keempat tadi) hingga ke Bunda Teresa dari Calcuta (abad keduapuluh). Di antara kedua tonggak yang besar itu ada banyak nama perempuan yang disebut oleh si pengarang tadi. Berikut ini saya daftarkan saja nama-nama mereka secara berurutan: Hildegard von Bingen (1098-1179), Elisabeth dari Schoenau, Mechtidis dari Magdeburg, Hadewijch, Angela dari Foligno, Gertrudis Agung dari Helfta, Brigitta dari Swedia, Juliana dari Norwich, Catharina dari Siena, Catharina dari Genoa, Teresia dari Avila, Jane de Chantal, Louise de Marilla, Juana Ines de la Cruz, Elisabeth Ann Seton, Elisabeth Leseus, Theresee Lissieux, Elisabeth dari Trinitas, Teresa Benedicta dari Salib atau Edith Stein, Maria Faustina Kowalska, Teresa dari Calenta (pp.4-5).

Kemudian Matthew Levering sendiri mengatakan, setelah ia memberi sebuah daftar panjang ini, sebagai berikut: tokoh protagonis sentral dari buku ini adalah Hildegard, Catherina dari Siena, Juliana, dan Therese (p.5). Penetapan tokoh protagonis ini sendiri dilakukan berdasarkan peranan para perempuan itu yang sangat significan dalam sejarah. Sebagai contoh misalnya, Catherina dari Siena (1347-1380) adalah tokoh perempuan yang menghasilkan sebuah buku yang terkenal yang berjudul Istana Batiniah. Pada jamannya ia adalah seorang tokoh hidup rohani yang sangat berwibawa dan sangat disegani oleh banyak orang, juga disegani oleh banyak para petinggi gereja. Misalnya, saat Kepausan terancam oleh perpecahan karena ada lebih dari satu paus yang mengklaim tahta suci (Roma, dan Avignon, dan juga bahkan pernah di Pisa), hal mana menimbulkan kebingunan yang luar biasa di tengah gereja dan umat, diketahui bahwa Santa Katarina dari Siena, pernah dimintai pendapat dan nasihatnya untuk menjernihkan dan mendamaikan masalah itu. Walau tidak selalu diakui dengan jujur, pandangan dan nasihat si perempuan kudus ini akhirnya berhasil mengatasi masalah itu dengan baik. Paus kembali berkedudukan di Roma hingga sekarang ini. Begitu juga halnya dengan tokoh Hildegard von Bingen (1098-1179) dari masa kurang lebih dua abad sebelum Catharina. Ia adalah seorang tokoh spiritualitas mistik yang sangat terkenal yang pemikiran teologinya banyak dirujuk oleh para penulis modern dewasa ini. Hildegard ini juga dikenal sebagai penulis dan pengarang lagu.

Tetapi karena nama paling pertama dari daftar itu adalah perempuan yang bernama Egeria, maka selanjutnya saya menulis tentang si Egeria ini. Egeria ini pernah mengadakan sebuah perjalanan ziarah ke tanah suci pada abad abad kelima. Laporannya dapat dibaca dalam buku hariannya yang berjudul Egeria, Diary of a Pilgrimage. Buku harian dia ini dimulai dengan sebuah catatan tentang pengalaman dan apa yang ia lihat saat ia tiba di Sinai. Ia mendaki gunung itu bersama sekelompok rahib dan imam. Di puncak bukit itu ada sebuah gereja. Di sana ada banyak rahib dan imam yang datang dari daerah sekitar untuk merayakan ekaristi. Beginilah persisnya dia melaporkannya: “Semua teks yang perlu dari kitab Musa dibacakan, kurban pun dipersembahkan menurut tata cara yang telah ditetapkan, dan kami menerima komuni (Egeria, Ibid, Terjemahan George E.Gingras, NY: Newmann Press, 1970:52).

Sesudah misa ia melihat tempat-tempat di mana Moses dulu datang; dari atas bukit itu dia bisa melhat tanah Mesir dan Palestina. Dia juga berjalan ke tempat Elia tinggal di gunung Horeb. Ia juga ikut Misa di sana. Lokasi semak bernyala juga sudah menjadi situas wisata pada masa itu. di sana para imam juga merayakan ekaristi bagi kelompok para perziarah Egeria. Dia juga melukiskan secara rinci kebiasan liturgi di Yerusalem selama Pekan Suci. Perjalanan ziarah dia berpusat pada misteri-misteri dan Tanah Suci yang disebut dalam Kitab Suci. Dengan demikian juga berpusat pada sakramen-sakramen dengan mana kita ikut ambil bagian di dalam pelbagai misteri itu.

Buku harian Egeria ini memberi kesaksian tentang abad ke-empat akhir, atau awal abad ke-5. Mungkin dia mempunyai kaul religius; oleh karena itu, ia pun menulis kepada sesama para sustenya. Diduga bahwa ia berasal dari Spanyol. Rombongan perjalanan dia mendapat pengawalan dan perlindungan militer. Atas dasar itu diduga bahwa Egeria ini berasal dari keluarga yang terpandang dan kaya-raya. Buktinya? Ia mampu menyewa tentara profesional untuk melindungi dia dalam dan selama perjalanan ziarahnya itu. Perlindungan tentara profesional itu sangat perlu agar mereka (terutama kaum yang dominan perempuan) luput dari gangguan para pengacau yang tidak hanya merampok barang-barang berharga yang mereka bawa, tetapi juga bisa memperkosa mereka.

Monday, November 12, 2018

MENIKMATI KIDUNG AGUNG 1:7-17

Oleh: Fransiskus Borgias M.
(Dosen Biblika FF UNPAR Bandung; anggota LBI).


Kid 1:7-8: Kekasih, yang dalam ay 4 disebut “raja,” di sini disebut gembala dan “jantung hatiku” (bdk., 3:1-4). Si Kekasih (perempuan) berusaha mengetahui cara menemukan kekasihnya (pria). Ia bertanya di mana si kekasih (kakanda, gembala) menggembalakan dombanya di petang hari agar bisa menemaninya. Pertanyaan “di mana”, menandakan adanya motif pencarian. Ungkapan “jantung hatiku” menandakan betapa dalamnya cinta si Kekasih (perempuan). Ungkapan “teman-temanmu” (ay 7) hanya ada di sini dan 8:13. Kiranya sama dengan “para puteri” atau “gadis-gadis”. Bedanya, mereka tidak berbicara. Ay 8 agak susah dipahami. Di sini puteri itu berbicara kepada dirinya: jika engkau tak tahu (ay 8a). Ia menyebut diri “jelita di antara wanita-wanita” (bdk., 5:9; 6:1). Walau ayat ini dimulai dengan ungkapan kebingungan (dalam “jika engkau tak tahu” tadi), tetapi kita tahu bahwa kekasih perempuan itu tahu di mana harus mencari sang gembala, kekasih hati. Caranya mudah: ikutilah jejak-jejak domba (ay 8b), pasti engkau menemukan kekasih di sana. Bila sudah bertemu, tidak usah pergi jauh-jauh lagi, melainkan harus menggembalakan anak-anak kambingmu dekat perkemahan para gembala (ay 8c), agar selalu dekat dengan pujaan hati.

Kid 1:9-11: Dalam bagian ini kita mendengar kedua kekasih (laki-laki dan perempuan) saling memuji. Dalam bagian awal kita mendengar pujian mempelai pria kepada mempelai perempuan. Ia mengumpamakan kemolekan tubuh sang kekasih dengan kemolekan tubuh kuda betina dari kereta-kereta Firaun (ay 9). Ia memiliki pipi molek (ay 10) yang semakin molek karena aneka perhiasan. Lehernya jenjang menawan karena dihiasi kalung. Melihat semua keindahan itu, si kekasih pun seakan berjanji kepada dirinya bahwa dia akan membuat perhiasan dari emas dan manik-manik dari perak (ay 11) bagi sang kekasih, untuk menambah kemolekannya.

Kid 1:12-14: Di sini kita mendengar pujian mempelai perempuan untuk kekasihnya. Kita membayangkan bahwa kekasih perempuan mendekati kekasih yang duduk di mejanya (ay 12a); saat mendekati itulah ia merasakan aroma semerbak minyak wangi yang dipakai sang raja (ay 12b). Lalu terlontarlah sebuah ungkapan yang terkenal dalam sejarah tafsir mistik atas kalimat itu. Si perempuan mengumpamakan kekasihnya dengan sebungkus mur (sejenis damar harum; dulu dipakai sebagai minyak wangi; ay 13a). Itu adalah barang berharga mahal, karena barang import. Karena sangat berharga, maka mur itu ditempatkan di tempat paling istimewa, di antara buah dadaku (ay 13b). Kemudian ia mengibaratkan kekasihnya itu dengan setangkai bunga pacar (yang daunnya dipakai untuk mewarnai kuku) yang tumbuh di kebun Anggur di En Gedi (ay 14).

Kid 1:15-17: Pujian kekasih perempuan tadi mendapat balasan di sini. Kini yang bicara ialah kekasih pria. Ia mulai dengan memuji kecantikan sang kekasih. Dua kali ia menyebut kata cantik ditambah sebutan manis (ay 15). Agak sulit kita memahami metafora kuno di akhir ay 15 itu; ia mengumpamakan mata kekasihnya dengan merpati. Yang digambarkan ialah gerak bola mata sang kekasih yang lincah seperti merpati. Tetapi yang dimaksudkan ialah sesuatu yang positif, bukan mata liar atau jelalatan, tetapi bola mata yang lincah dan bening, cantik, indah. Dalam ayat 16 ia memakai kosa kata lain untuk memuji sang kekasih, yaitu tampan. Ketampannnya amat menarik. Ia membayangkan bahwa nanti kalau mereka seketiduran kekasih pria itu akan mengalami petiduran sejuk. Tidak panas, tidak gerah. Kekasih pria itu membayangkan rumah mereka terbuat dari kayu aras (kayu bermutu dari Libanon). Begitu juga dinding rumahnya terbuat dari kayu bermutu yaitu kayu eru (sejenis cemara, Casuarina equisetifolia). Ini juga import dari utara (Libanon yang subur, indah, permai).

SURUP ATAU CURUP

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias M.



Menarik untuk mengamati kosa kata dalam pelbagai bahasa-bahasa dunia yang dipakai oleh pelbagai kelompok suku bangsa. Dalam bahasa Indonesia misalnya, ada dua kata yang berbeda untuk mengungkapkan apa yang disebut bahasa dan apa yang disebut aksi atau tindakan untuk berbicara. Kedua kata itu adalah bahasa (itu yang pertama) dan bicara (itu yang kedua). Begitu juga halnya dalam bahasa Inggris. Ada language (bahasa) dan ada juga talk (bicara). Hal yang sama juga dapat kita temukan dalam bahasa Latin: ada lingua (untuk bahasa) dan ada dicere (untuk berbicara, omong). Menarik bahwa bahasa Jerman juga kurang lebih seperti itu: ada Sprache (untuk bahasa) dan ada sprechen (untuk berbicara).


Saya belum sempat mencaritahu juga data dari beberapa bahasa-bahasa besar di Eropa seperti Prancis, Spanyol, Italia, Russia, dst. Tetapi setidak-tidaknya tiga bahasa pertama yang baru saja saya sebut kiranya mempunyai kosa kata yang sama juga dengan bahasa Latin sebagai akarnya yang paling pertama dan utama. Dalam rangka memperluas cakrawala perbandingan, maka kiranya perlu juga dibuat sebuah studi perbandingan dengan pelbagai bahasa daerah di Indonesia. Pasti hal itu akan sangat indah dan menarik. Mungkin juga akan sangat memperkaya pengalaman dan perspektif kita berbahasa dan bertutur.


Nah, bagaimanakah halnya dengan bahasa Manggarai? Sebelum melangkah lebih lanjut, yang saya maksudkan dengan bahasa Manggarai ialah bahasa Manggarai tengah yang dominan di Manggarai dan bisa dipahami oleh sebagian besar orang-orang di pelbagai belahan Manggarai Raya. Itu adalah bahasa Manggarai yang dituturkan oleh orang-orang di wilayah kedaluan Ruteng, Rahong, Lelak, Cibal, Pongkor, Todo, Ndoso, Welak, Wontong, Cibal, Lambaleda, Sita, Torok Golo, dll. Kurang lebih bahasa Manggarai mereka sama walau mungkin ada sedikit perbedaan dialek dan idiolek dan juga beberapa kosa kata. Tetapi pada umumnya kurang lebih sama. Akan berbeda misalnya saat kita memasuki beberapa kedaluan di Manggarai Timur yang mempunyai bahasa yang berbeda, seperti Manus, Riwu, Ronggakoe, Kepo, Rajong, dll. Bahasa mereka berbeda sama sekali. Mereka bisa memahami bahasa Manggarai Tengah dan juga memakainya dengan baik, tetapi pada umumnya orang dari Manggarai Tengah rada sulit untuk memahami bahasa Mereka. Nah, bahasa Manggarai yang saya maksudkan di sini adalah bahasa Manggarai Tengah yang dominan itu. Penegasan ini perlu agar orang Manggarai dari bagian Timur tidak melakukan protes kepada saya.


Dalam bahasa Manggarai dikenal beberapa varian kata untuk mengungkapkan gagasan “bicara” itu. Misalnya kita mengenal kata jaong, tombo, surup atau cukup, jangka, tae. Beberapa contoh pemakaian dapat diberikan sebagai berikut: “Co’o bao tombo data hitu e?” (Bagaimana tadi bicaranya orang itu?) “Apa jaong dise bao?” (Apa yang mereka katakan tadi?) “Co’o jangka dise ga?” (Bagaimana pendapat mereka?). Atau “Co’o surup/curup dise ga?” (Bagaimanakah perkataan mereka?). Saya tidak akan membahas semua kata-kata dan contoh-contoh kalimat itu. Di sini saya hanya fokus pada kata surup atau curup saja.


Dalam Tatabahasa Manggarai, kata surup atau curup itu dipakai sebagai terjemahan dari kata benda, yaitu bahasa. Surup adalah bahasa. Hal itu misalnya tampak dalam salah satu pemakaian berikut ini: Surup Melaju atau Bahasa Melayu (Bahasa Indonesia). Tetapi menurut saya kata surup atau curup itu tidak sepenuhnya bisa dipakai untuk menjadi kata benda saja, karena struktur kalimat dalam tata bahasa Manggarai yang tidak memungkinkan hal seperti itu bisa terjadi. Sebab dalam tata bahasa Manggarai, ada sebuah kaitan yang sangat erat antara surup sebagai bahasa tutur dan surup sebagai proses atau peristiwa tutur itu sendiri.


Bagi saya hal itu tidak sangat mengherankan karena bahasa (bahasa mana pun di dunia ini) pada dasarnya adalah sebuah peristiwa, sebuah kata kerja. Kira-kira sama seperti definisi kebudayaan dari beberapa antropolog yang mengatakan bahwa kebudayaan itu adalah kata kerja dan bukan terutama kata benda. Definsi kebudayaan sebagai kata kerja itu dimaksudkan untuk mengungkapkan sebuah anggapan dan keyakinan dasar bahwa kebudayaan itu selalu hidup dan dinamis dalam perkembangan historisnya. Mungkin pernyataan seperti ini sangat mengejutkan bagi sementara orang. Mungkin juga ada orang yang tidak bisa atau tidak mau menerimanya.


Tetapi bagi saya hal itu ada benarnya juga. Bahasa adalah sebuah peristiwa, bahasa adalah sebuah kata kerja. Sebagai sebuah peristiwa, atau sebagai kata kerja, maka bahasa itu dinamis, dan hidup. Mungkin tongue dalam bahasa Inggris bisa membantu untuk sedikit menjelaskan hal ini. Tongue itu bisa menunjuk pada lidah, tetapi bisa juga menunjuk pada aksi lidah untuk menghasilkan bunyi, fonem, yang merupakan elemen paling dasar dari konstruksi kalimat dan bahasa itu sendiri. Terkait dengan hal ini adalah sangat menarik bahwa dalam bahasa Manggarai kata lema (lidah atau tongue tadi), bisa mempunyai beberapa arti. Pertama, ia bisa berarti lidah (tongue). Kedua, ia juga bisa berarti bohong, tipu, adong. Dalam ungkapan seperti gega-lema, ia bisa berarti bercanda. Sedangkan dalam ungkapan seperti gangga-lema, ia bisa berarti berdebat, bertengkar, ataupun bersilat lidah.


Sekarang kembali ke kata surup atau curup lagi. Kalau diterima bahwa dalam tata bahasa Manggarai surup itu adalah bahasa, maka dalam bahasa Manggarai, bahasa dan aksi berbicara itu erat terkait satu sama lain. Mengapa demikian? Itu tidak lain karena keduanya memiliki satu sumber dan satu alat utamanya yaitu mulut tentu saja termasuk lidah juga di dalamnya.


Nah misteri satu alat dan satu sumber inilah yang menyebabkan saya berpikir bahwa surup dalam bahasa Manggarai itu multi-makna. bahasa itu hidup dan dinamis, dan justru karena ia satu dan menyatu dalam sumber utamanya. Dalam bahasa Manggarai, bahasa (surup) dan aksi berbicara (surup) adalah satu dan sama saja. Mungkin akan ada yang berkata bahwa ini adalah sebuah fenomena kurang kota kata, atau gejala dalam dinamika berkembangnya satu bahasa tertentu. Oke. Bisa saja ada pandangan dan anggapan seperti itu. tetapi bagi saya itu adalah sebuah misteri: bahwa kata dan aksi yang melahirkan kata itu adalah satu dan sama. Luar biasa, bukan?


Sunday, November 11, 2018

SEBUAH KARIKATUR

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias M.



Tiba-tiba saja saya teringat akan sebuah buku sejarah dunia yang saya baca saat saya masih duduk di kelas dua SMP dulu di Flores. Sayang sudah lupa nama pengarang buku tersebut. Kiranya hal itu tidak begitu penting lagi. Yang paling penting ialah ingatan saya akan sebagian isi dari buku tersebut. Dan itulah yang akan saya paparkan dalam tulisan singkat dan sederhana ini. Buku itu secara sangat ringkas membeberkan sejarah dunia, yaitu sejarah pelbagai bangsa yang ada di dunia ini. Khususnya para bangsa di Asia.

Dalam bab yang mencoba melukiskan bangsa Jepang, ada sebuah ilustrasi berupa sebuah gambar karikatur untuk melukiskan sejarah orang-orang Jepang. Sejauh yang saya masih ingat, karikatur itu melukiskan tentang bangsa yang datang dari luar ke Jepang. Kiranya orang luar itu ialah orang-orang atau lebih tepat para penjajah yang datang dari Barat. Dalam karikatur tadi, orang luar itu membawa senapan laras panjang di tangan kanannya, dan roti di tangan kirinya. Ia tawarkan keduanya kepada orang-orang Jepang. Mereka ditantang untuk memilih: entah memilih roti ataukah memilih senapan.

Ternyata karikatur itu pun tidak luput dari perhatian sang guru sejarah yang mengajarkan kami sejarah dunia dengan memakai buku itu sebagai pegangan bersama. Sang guru sejarah kami itu kemudian menjelaskan apa yang menjadi makna dasar dari karikatur tersebut. Katanya: pilihan itulah yang membuat bangsa Jepang berbeda dari para bangsa lain di Asia ini. Bangsa-bangsa lain, demikianlah kata sang guru sejarah itu, begitu melihat dua macam tawaran tadi, merasa ditantang untuk berkelahi. Tawaran itu ditafsirkan sebagai tantangan untuk berkelahi sehingga mereka itu cepat tersinggung dan marah. Nalurinya untuk melawan langsung tersulut saat melihat “tantangan” seperti itu. dalam situasinya yang marah-marah dan tersinggung itu, ia pun mengambil senjata dari tangan si orang asing tadi. Padahal ia miskin dan lapar. Tentu saja berkelahi dalam keadaan lapar pasti akan sia-sia, sebab pasti akan kalah. Ia lemah dan lemas. Lagipula senjata orang yang datang dari luar itu jauh lebih modern dan banyak jumlahnya. Maka mereka pasti akan menang. Mereka menaklukkan bangsa tersebut.

Contoh kasus ialah bangsa-bangsa yang ada di kawasan Nusantara ini. Sang guru dengan sangat hati-hati belum menyebut Indonesia, sebab kesadaran keindonesiaan adalah suatu kesadaran yang muncul jauh-jauh di kemudian hari dalam perkembangan historis kawasn ini. Bahkan sebutan Indonesia itu juga muncul jauh belakangan. Itu sebabnya ia menyebut dengan sebutan Nusantara saja, yaitu nusa-nusa yang terletak di antara: persisnya di antara dua benua (Asia dan Australia), dan di antara dua lautan (Hindia dan Pasifik). Saat para penjajah datang mereka langsung melawan. Tetapi mereka melawan dalam keadaan lapar, dalam keadaan lemah dan lemas. Masih kata sang guru sejarah tadi dalam lanjutan penjelasannya.

Itulah perbedaan pokok dari bangsa Jepang. Konon saat ditantang dengan dua pilihan seperti itu, orang Jepang memilih roti terlebih dahulu. Roti itu adalah komoditas dagang. Roti itu adalah bahan makanan. Roti itulah yang diambil atau diterimanya dalam drama tawaran itu. lalu ia makan roti itu. maka ia pun menjadi kenyang. Nah setelah ia kenyang, maka ia pun lalu mengatur strategi kerja, termasuk strategi untuk melawan. Kiranya orang Jepang itu yakin dan berpandangan bahwa melawan dalam keadaan kenyang itu jauh lebih efektif. Kemudian sang guru saya itu lebih lanjut menjelaskan: hal inilah yang konon bisa menjelaskan mengapa bangsa Jepang itu tidak pernah dijajah oleh bangsa-bangsa lain. Ada banyak bangsa dari luar yang datang ke Jepang, tetapi tidak pernah berhasil menjajah mereka.

Hal itu sangat berbeda dengan bangsa-bangsa lain di Asia. Semuanya pernah dijajah dan diinjak-injak harga dirinya sebagai sebuah bangsa. Penyebabnya, ya itu tadi: melawan dalam keadaan lapar, melawan dalam keadaan lemah dan lemas.

Kalau dalam sejarah filsafat Yunani, ada sebuah semboyan yang sangat terkenal sebagai berikut: makan dulu baru berfilsafat (Prius manducare, diende philosophari). Jadi, orang harus berfilsafat dalam keadaan kenyang. Kenyang adalah syarat agar dapat berfilsafat dengan baik. Kalau tidak orang akan menjual filsafat untuk mencari makan. Filsafat menjadi barang dagangan yang bisa menjadi dagangan murahan. Hal itu pasti menurunkan mutu filsafat dan proses berfilsafat itu sendiri.

Kiranya begitulah juga bagi orang Jepang. Bagi mereka berlaku prinsip yang sama: Makan dulu barulah berperang. Kenyang dulu baru berperang. Jangan sampai terbalik. Sebab kalau terbalik, maka hasilnya sudah jelas, yaitu kekalahan. Kalau terbalik, maka jelas nanti bisa jadi celaka. Jadi, karikatur itu dengan sangat singkat dan jelas dan padat melukiskan pilihan politik orang-orang Jepang. Mereka tidak terburu-buru untuk bereaksi memberi perlawanan. Melainkan mempersiapkan diri dengan baik untuk melakukan perlawanan. Hemmmm..... sebuah pelajaran sejarah yang sangat baik. Yaitu saat menghadapi orang yang datang dari luar, kita tidak usah reaktif, melainkan memikirkan dengan baik sikap apa yang paling baik untuk menghadapinya. Kita harus mengendalikan apa yang kita perbuat. Tidak hanya bertindak secara spontan saja. Apalagi didorong oleh rasa marah. Sebab jika hal itu terjadi maka pasti akan berdampak buruk bagi diri kita sendiri.


Saturday, November 10, 2018

BOHEMIAN RHAPSODY

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias M.



Kemarin Sore, 10 November 2018, bersama isteriku tercinta, Emcies, menonton film di Miko Mall, Bohemian Rhapsody. Sebuah film tentang Freddy Mercury yang diangkat dari judul salah satu lagunya yang terkenal dengan judul yang sama. Saya sudah pernah membaca sesuatu tentang tokoh ini saat di SMA Seminari Pius XII Kisol, di Flores. Tetapi saya baru bisa mendengar lagu-lagunya saat belajar Filsafat di STF Driyarkara Jakarta tahun 1983. Saat itu saya mulai mengenal banyak lagu Queen. Tetapi dalam tulisan ini saya tidak bermaksud menulis tentang film Bohemian Rhapsody itu. Saya mau menulis tiga hal lain yang menyembul keluar saat iklan Film ini muncul di radio dan media lainnya.


Pertama, tentang keyakinan religius Freddy Mercury. Saat pertama kali saya menikmati lagu Bohemian Rhapsody, saya mengira Freddy adalah Islam, karena ada sebuah kata yang dipakai Freddy dalam lagu itu yang secara natural kita hubungkan dengan Islam, Bismillah. Kata itu diulang beberapa kali dalam lagu itu. Ternyata tidak. Ia bukan pemeluk Islam. Ia adalah keturunan Parsi dari Pakistan (tahun 40an wilayah India). Keluarganya hijrah ke Sanzibar di Afrika Timur yang termasuk Tanzania, diduga karena tekanan Islam di India (Pakistan). Freddy lahir di Sanzibar tahun 1946. Kemudian keluarganya pindah ke Inggris. Di sana mereka dikenal sebagai orang Pakistan (sebutan populer Paki, yang dalam Film itu dikenakan kepada Freddy, yang terkesan tidak suka dengan sebutan itu).


Saya sudah lama tahu bahwa Freddy bukan muslim melainkan penganut Zoroaster, sebuah agama kuno Persia (Iran). Banyak sejarawan agama menduga bahwa agama ini punah. Ternyata agama ini masih hidup hingga ke jaman modern ini. Setidaknya, saya mengenal (lewat pembacaan, bukan lewat perjumpaan langsung) dua musisi dunia yang berkeyakinan religius (agama) Zoroaster. Pertama, Freddy Mercury. Sebagaimana sudah dikatakan di atas ia lahir dari keluarga yang berkeyakinan Zoroaster yang berpindah dari Pakistan ke Sanzibar dan kemudian berpindah ke Inggris dan menjadi besar dan terkenal di sana.


Di Fakultas Filsafat Unpar saya mengampu matakuliah Fenomenologi Agama. Dalam pengajaran, salah satu agama yang saya perkenalkan kepada para mahasiswa ialah Zoroaster, yang sejak sangat dini pernah merasuk ke dalam Kekristenan lewat keyakinan religius yang diajarkan oleh tokoh bernama Mani, dari mana nama Manikeisme itu berasal. Diduga ajaran ini merasuki Kekristenan pada abad ketiga Masehi. Salah satu tokoh terkenal dalam teologi Latin, yaitu Agustinus, pernah selama 9 tahun menjadi penganut aliran Manikeisme ini walau hanya sebagai novis saja. Artinya tidak masuk ke dalam kelompok inti, kaum tercerahkan (illuminati) ataupun kelompok elit pilihan (ellecti).


Manikeisme mencoba memadukan ajaran Zoroaster dengan ajaran Kristianitas dan dengan cara itu meracuni Kristianitas dengan ajaran dualismenya, tentang dua prinsip awal mula, prinsip kebaikan atau prinsip terang, Ahura Mazda, dan prinsip keburukan (jahat) atau prinsip gelap, Ahriman. Kedua prinsip ini terus menerus berkonflik secara abadi. Hal ini tentu sangat sulit didamaikan dengan keyakinan monoteisme yang dianut Kekristenan. Tetapi ajaran ini amat menarik bagi orang yang mencoba menjelaskan tentang misteri kejahatan dan penderitaan. Tetapi saya tidak mau melanjutkan pembahasan itu di sini. Semoga di kesempatan lain saya punya kesempatan untuk menguraikan hal itu.


Tokoh kedua yang saya ketahui secara persis sebagai penganut Zoroaster adalah Zuben Mehta. Siapa dia? Dia juga musisi. Dia pernah datang ke Indonesia tahun 1984. Saat itu ia konduktor New York Philaharmonic Orchestra. Saya tidak menonton orchestra itu secara langsung, tetapi sempat menonton pemberitaannya sekilas di Televisi. Dari laporan pandangan mata Mingguan Tempo, saya akhirnya bisa mengenal lebih banyak dan mendalam tentang tokoh ini. Dari Tempo saya tahu bahwa pak Zuben Mehta adalah penganut Zoroaster. Saya tidak sempat mencaritahu lebih lanjut tentang tokoh Zuben Mehta itu. Yang jelas, penampilan mereka di Jakarta saat itu termasuk sukses, bisa menghibur penggemar musik klasik di Jakarta. Dari kedua tokoh inilah akhirnya saya sadar bahwa Zoroaster itu bukan agama dari masa silam yang sudah punah, yang hanya tinggal puing-puing dan fosil saja dalam ingatan kolektif manusia, melainkan agama itu masih hidup juga di jaman modern ini. Bahkan dua tokoh musisi dunia yang terkenal di panggung blantika musik bergengsi, termasuk penganut setia agama ini.


Sekarang kembali lagi ke Freddy. Secara pribadi saya suka lagu Bohemian Rhapsody yang kini diangkat menjadi judul film itu. Tetapi, ini hal ketiga yang ingin saya tulis, sejak saya mendengar Freddy dari tahun 1983, saya menyukai dua lagu dia yang lain. Yang pertama ialah lagu Love of My Life. Yang kedua ialah lagu Teo Torriatte. Selanjutnya mau membahas lagu kedua ini secara singkat. Saya sangat suka akan nada dan kata lagu ini. Pertama karena ada kata-kata Jepang yang terasa ajaib dicampur bahasa Inggris. Saya tidak tahu bahasa Jepang. Tetapi teks berbahasa Jepang itu kiranya merupakan terjemahan dari teks Inggris dengan nada yang sama. Kedua, karena pesan yang terkandung dalam teks berbahasa Jepang itu mengandung arti yang sangat mendalam bagi saya dan juga bagi masyarakat manusia. Itu sebabnya saya menulis dan membagikannya di sini.


Saya tidak akan mengutip seluruh lagu itu di sini. Saya hanya mengutip bagian yang saya anggap sebagai refrein lagu tersebut: “Let us cling together as the years go by, oh my love my love, in the quiet of the night, let our candle always burned, let us never lose the lessons we have learnt”. Wow.... Menurut saya ini adalah pesan yang sangat indah. Sesudah versi Inggris lalu muncul versi Jepang sbb: “Teo torriatte konomama iko Aisuruhito yo, shizukana yoini Hikario tomoshi, Itoshiki oshieo idaki”. Seperti sudah dikatakan di atas teks Jepang itu adalah terjemahan dari Inggris. Inilah versi terjemahan Indonesia menurut intuisi saya: “Marilah kita berjalan bergandengan tangan saat tahun demi tahun (dari hidup kita ini) berlalu, wahai kekasihku kekasihku, di dalam keheningan malam, baiklah lilin kita tetap bernyala, dan jangan sampai kita lupa nasihat-nasihat yang pernah kita pelajari.”


Ya, jangan sampai kita melupakan pelajaran yang pernah kita dapatkan agar kita tidak menjadi orang bodoh, orang dungu, orang tolol, orang gila dalam sejarah ini, yakni mengulang kesalahan karena kita melupakan sejarah. Tepat kata Bung Karno: Jasmerah, jangan sampai melupakan sejarah. Sebab orang yang melupakan sejarah cenderung melakukan ketololan yang sama, padahal even a donkey will not stumble over twice upon the same stone. Freddy, lewat lagu ini, meminta kita agar tidak menjadi keledai dungu.

Friday, November 9, 2018

JIKA AKU MENJADI II

Oleh: Fransiskus Borgias M.



Pengalaman kerja liburan saya yang kedua terjadi pada tahun 1985. Saat itu saya bekerja di Panti Rehabilitasi Sosial di Cibadak Sukabumi. Yang disuruh bertugas di sana saat itu adalah saya sendiri dan Peter Aman (sekarang sudah menjadi Imam OFM). Panti itu adalah sebuah panti rehabilitasi sosial bagi orang yang sudah dinyatakan sembuh secara medis dari Rumah Sakit Jiwa di Bogor, dan tinggalproses sosialisasi ke tengah masyarakat dan keluarga. Dalam rangka persiapan proses rehabilitasi itu, di sana mereka diberi pelbagai latihan ketrampilan kerja seperti menyulam bagi kaum perempuan, membuat keset, mengelas, merenda, ataupun berkebun, dll. Ada banyak hal yang ingin saya catat di sini sebenarnya. Tetapi saya akan membatasi diri pada beberapa hal yang penting dan menarik saja.


Saat itu saya dan Peter diterima di sana oleh Pak Samuel dan Bang Barus. Yang terdahulu berasal dari tanah Toraja, dan yang lain berasal dari Sumatera Utara (orang Batak). Ketika baru tiba pada hari pertama, kami diantar berkeliling untuk melihat-lihat kompleks itu dan berkenalan dengan para pegawai yang bekerja di sana. Pada saat itu terus terang saja saya hampir tidak bisa membedakan dengan baik mana pegawai, mana para pasien penghuni Panti rehabilitasi tersebut. Sebab pada saat itu di sana ada banyak orang yang berpakaian rapih dan necis seperti para pegawai saja. Saya baru bisa mengenal dan membedakan mereka setelah tinggal dan menginap dalam panti selama satu hari. Saya membayangkan hal itu tidak mudah. Pada hari minggu berikutnya kebetulan ada jadwal kunjungan keluarga dari para pasien yang ada di sana. Saat itu saya bayangkan betapa para anggota keluarga yang datang berkunjung juga mengalami kesulitan yang sama seperti yang kami alami beberapa hari sebelumnya: sulit membedakan mana pegawai, mana pasien. Saya membiarkan diri dianggap “gila” saja oleh mereka. Tidak apa-apa.


Kedua, di sana juga ada peristiwa jatuh cinta dan ada rasa cemburu. Ada pasien yang jatuh cinta satu sama lain; tapi rupanya rupanya ada juga yang senang pada Peter, sehingga setiap pagi dan sore ia datang ke rumah tempat kami menginap dan berdiri di pintu lalu mulai memanggil: Piterrrrr.... itu menjadi kekhasannya dia, menyebut huruf r dengan panjang. Piter itu adalah teman saya, seorang frater yang datang ke sana bekerja bersama dengan saya. Ada juga kisah mengenai seorang pasien perempuan yang jatuh cinta kepada seorang pegawai pria yang kebetulan sudah beristeri dan isterinya itu juga pegawai di sana. Sang suami adalah orang Bali. Sedangkan sang isteri adalah orang Sunda. Sang isteri saat itu sedang hamil tua. Si pasien tahu, istri itu menjadi penghalang cintanya pada pria Bali itu. Maka sang isteri itu harus disingkirkan. Di suatu pagi perempuan itu menikam perut isteri orang itu ketika pegawai itu berdiri di pintu untuk mengawasi para pasien makan pagi. Ternyata ia bersembunyi di balik pintu kamar makan. Kejadian itu tentu saja sangat menghebohkan. Nyawa bayi dalam kandungan itu tidak dapat diselamatkan. Hanya nyawa sang ibu saja yang bisa diselamatkan. Memang harus memilih. Tragis sekali. Ibu itu harus istirahat hamil selama kurang lebih dua tahun sebelum ia boleh hamil lagi.


Selain itu ada juga pasien yang megalomaniak; namanya Sukarno. Suatu pagi, ia diam-diam menyelinap masuk ke rumah kami dan mencuri baju kami dan membuang air besar sembarangan di rumah kami, sehingga rumah kami saat itu bau sekali. Untung rumah bisa segera dibersihkan oleh pegawai dengan karbol, sehingga bersih dan segar lagi. Selain itu, ada juga pasien yang sangat terobsesi pada seni khususnya seni puisi. Maka ia selalu menulis puisi dan mendeklamasikan puisinya sambil mengisap sisa-sisa puntung rokok yang ia kumpulkan dari terminal bis Cibadak sepanjang malam. Ia tidak tidur malam. Tetapi ia kuat sekali badannya karena walau tidak tidur ia masih bisa bekerja di siang harinya. Akhirnya, ada juga yang mantan anggota partai terlarang (komunis), yang kekiri-kirian, yang tidak percaya kepada Tuhan. Ia hanya percaya kepada daya kekuatan alam semesta ini saja. Mungkin karena berideologi kiri, maka ia selalu memiringkan kepalanya ke kiri. Aneh juga.


Keempat, setiap kali mengamati mereka pada saat libur atau istirahat kerja, mereka tampak seru berdialog satu sama lain. Seperti terjadi sebuah pembicaraan yang sangat lancar, tukar pikiran antara dua orang teman. Tetapi ternyata jika diperhatikan baikbaik dari dekat, pokok pembicaraanmereka sangat berbeda satusama lain. Mereka hanya berbicara sama-sama saja di suatu tempat dan tidak sedang membahas satu persoalan yang satu dan sama. Yang satu bicara ke utara, yang lain bicara ke arah selatan. Yang satu bicara ke arah timur, yang lain bicara ke arah barat. Ada seorang ibu tua yang mempunyai kebiasaan memelihara kucing yang berkeliaran di kompleks panti itu. Ia mengenal satu per satu perilaku kucing-kucing itu, dan kucing-kucing itu juga mengenal dia. Relasi yang sangat akrab.


Akhirnya kelima, ada penilaian dari para pegawa bahwa sebenarnya ada banyak dari mereka yang sudah layak untuk pulang lagi ke tengah keluarga, ke tengah masyarakat karena mereka dinyatakan sudah sehat, sudah normal. Tetapi setelah beberapa hari tinggal di rumah atau di kampung mereka, ternyata mereka pulang lagi karena mereka tidak tahan tinggal di sana. Sebab di kampung, ternyata orang kampung dan bahkan anggota keluarga mereka sendiri tidak siap menerima mereka dan tetap menganggap mereka masih gila. Maka para pegawai itu pun bertanya secara kritis: siapakah yang gila sesungguhnya? Mereka itukah? Atau justru masyarakat? Mungkin yang kedua itulah yang benar, seperti dikatakan oleh Erik Fromm, the insane society.


Lempong Lor, 11 Maret 2013


PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...