Monday, November 12, 2018

SURUP ATAU CURUP

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias M.



Menarik untuk mengamati kosa kata dalam pelbagai bahasa-bahasa dunia yang dipakai oleh pelbagai kelompok suku bangsa. Dalam bahasa Indonesia misalnya, ada dua kata yang berbeda untuk mengungkapkan apa yang disebut bahasa dan apa yang disebut aksi atau tindakan untuk berbicara. Kedua kata itu adalah bahasa (itu yang pertama) dan bicara (itu yang kedua). Begitu juga halnya dalam bahasa Inggris. Ada language (bahasa) dan ada juga talk (bicara). Hal yang sama juga dapat kita temukan dalam bahasa Latin: ada lingua (untuk bahasa) dan ada dicere (untuk berbicara, omong). Menarik bahwa bahasa Jerman juga kurang lebih seperti itu: ada Sprache (untuk bahasa) dan ada sprechen (untuk berbicara).


Saya belum sempat mencaritahu juga data dari beberapa bahasa-bahasa besar di Eropa seperti Prancis, Spanyol, Italia, Russia, dst. Tetapi setidak-tidaknya tiga bahasa pertama yang baru saja saya sebut kiranya mempunyai kosa kata yang sama juga dengan bahasa Latin sebagai akarnya yang paling pertama dan utama. Dalam rangka memperluas cakrawala perbandingan, maka kiranya perlu juga dibuat sebuah studi perbandingan dengan pelbagai bahasa daerah di Indonesia. Pasti hal itu akan sangat indah dan menarik. Mungkin juga akan sangat memperkaya pengalaman dan perspektif kita berbahasa dan bertutur.


Nah, bagaimanakah halnya dengan bahasa Manggarai? Sebelum melangkah lebih lanjut, yang saya maksudkan dengan bahasa Manggarai ialah bahasa Manggarai tengah yang dominan di Manggarai dan bisa dipahami oleh sebagian besar orang-orang di pelbagai belahan Manggarai Raya. Itu adalah bahasa Manggarai yang dituturkan oleh orang-orang di wilayah kedaluan Ruteng, Rahong, Lelak, Cibal, Pongkor, Todo, Ndoso, Welak, Wontong, Cibal, Lambaleda, Sita, Torok Golo, dll. Kurang lebih bahasa Manggarai mereka sama walau mungkin ada sedikit perbedaan dialek dan idiolek dan juga beberapa kosa kata. Tetapi pada umumnya kurang lebih sama. Akan berbeda misalnya saat kita memasuki beberapa kedaluan di Manggarai Timur yang mempunyai bahasa yang berbeda, seperti Manus, Riwu, Ronggakoe, Kepo, Rajong, dll. Bahasa mereka berbeda sama sekali. Mereka bisa memahami bahasa Manggarai Tengah dan juga memakainya dengan baik, tetapi pada umumnya orang dari Manggarai Tengah rada sulit untuk memahami bahasa Mereka. Nah, bahasa Manggarai yang saya maksudkan di sini adalah bahasa Manggarai Tengah yang dominan itu. Penegasan ini perlu agar orang Manggarai dari bagian Timur tidak melakukan protes kepada saya.


Dalam bahasa Manggarai dikenal beberapa varian kata untuk mengungkapkan gagasan “bicara” itu. Misalnya kita mengenal kata jaong, tombo, surup atau cukup, jangka, tae. Beberapa contoh pemakaian dapat diberikan sebagai berikut: “Co’o bao tombo data hitu e?” (Bagaimana tadi bicaranya orang itu?) “Apa jaong dise bao?” (Apa yang mereka katakan tadi?) “Co’o jangka dise ga?” (Bagaimana pendapat mereka?). Atau “Co’o surup/curup dise ga?” (Bagaimanakah perkataan mereka?). Saya tidak akan membahas semua kata-kata dan contoh-contoh kalimat itu. Di sini saya hanya fokus pada kata surup atau curup saja.


Dalam Tatabahasa Manggarai, kata surup atau curup itu dipakai sebagai terjemahan dari kata benda, yaitu bahasa. Surup adalah bahasa. Hal itu misalnya tampak dalam salah satu pemakaian berikut ini: Surup Melaju atau Bahasa Melayu (Bahasa Indonesia). Tetapi menurut saya kata surup atau curup itu tidak sepenuhnya bisa dipakai untuk menjadi kata benda saja, karena struktur kalimat dalam tata bahasa Manggarai yang tidak memungkinkan hal seperti itu bisa terjadi. Sebab dalam tata bahasa Manggarai, ada sebuah kaitan yang sangat erat antara surup sebagai bahasa tutur dan surup sebagai proses atau peristiwa tutur itu sendiri.


Bagi saya hal itu tidak sangat mengherankan karena bahasa (bahasa mana pun di dunia ini) pada dasarnya adalah sebuah peristiwa, sebuah kata kerja. Kira-kira sama seperti definisi kebudayaan dari beberapa antropolog yang mengatakan bahwa kebudayaan itu adalah kata kerja dan bukan terutama kata benda. Definsi kebudayaan sebagai kata kerja itu dimaksudkan untuk mengungkapkan sebuah anggapan dan keyakinan dasar bahwa kebudayaan itu selalu hidup dan dinamis dalam perkembangan historisnya. Mungkin pernyataan seperti ini sangat mengejutkan bagi sementara orang. Mungkin juga ada orang yang tidak bisa atau tidak mau menerimanya.


Tetapi bagi saya hal itu ada benarnya juga. Bahasa adalah sebuah peristiwa, bahasa adalah sebuah kata kerja. Sebagai sebuah peristiwa, atau sebagai kata kerja, maka bahasa itu dinamis, dan hidup. Mungkin tongue dalam bahasa Inggris bisa membantu untuk sedikit menjelaskan hal ini. Tongue itu bisa menunjuk pada lidah, tetapi bisa juga menunjuk pada aksi lidah untuk menghasilkan bunyi, fonem, yang merupakan elemen paling dasar dari konstruksi kalimat dan bahasa itu sendiri. Terkait dengan hal ini adalah sangat menarik bahwa dalam bahasa Manggarai kata lema (lidah atau tongue tadi), bisa mempunyai beberapa arti. Pertama, ia bisa berarti lidah (tongue). Kedua, ia juga bisa berarti bohong, tipu, adong. Dalam ungkapan seperti gega-lema, ia bisa berarti bercanda. Sedangkan dalam ungkapan seperti gangga-lema, ia bisa berarti berdebat, bertengkar, ataupun bersilat lidah.


Sekarang kembali ke kata surup atau curup lagi. Kalau diterima bahwa dalam tata bahasa Manggarai surup itu adalah bahasa, maka dalam bahasa Manggarai, bahasa dan aksi berbicara itu erat terkait satu sama lain. Mengapa demikian? Itu tidak lain karena keduanya memiliki satu sumber dan satu alat utamanya yaitu mulut tentu saja termasuk lidah juga di dalamnya.


Nah misteri satu alat dan satu sumber inilah yang menyebabkan saya berpikir bahwa surup dalam bahasa Manggarai itu multi-makna. bahasa itu hidup dan dinamis, dan justru karena ia satu dan menyatu dalam sumber utamanya. Dalam bahasa Manggarai, bahasa (surup) dan aksi berbicara (surup) adalah satu dan sama saja. Mungkin akan ada yang berkata bahwa ini adalah sebuah fenomena kurang kota kata, atau gejala dalam dinamika berkembangnya satu bahasa tertentu. Oke. Bisa saja ada pandangan dan anggapan seperti itu. tetapi bagi saya itu adalah sebuah misteri: bahwa kata dan aksi yang melahirkan kata itu adalah satu dan sama. Luar biasa, bukan?


1 comment:

canticumsolis said...

Kpd para pembaca trims sdh bc tulisan sy ini. Sy akan sangat bertrima kasih kalo ada feed back kritis dr para pembaca sekalian utk tulisan sy ini. Maksh....

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...