Thursday, March 2, 2017

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 135

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Mazmur ini terdiri atas 21 ayat. Judulnya dalam Alkitab kita ialah “Hanya TUHAN yang patut dipuji”. Untuk memahaminya dengan baik dan mudah, saya membagi mazmur ini ke dalam lima unit pendek. Pertama, ayat 1-7; kedua, ay.8-12; ketiga, ay.13-14; keempat, ay.15-18; kelima, ay.19-21.

Saya mulai dengan penggal pertama (ay.1-7). Mazmur ini dimulai dengan ajakan untuk memuji Tuhan. Ajakan itu diserukan kepada para Hamba Tuhan (ay.1), juga kepada orang yang datang memberi pelayanan di Rumah Tuhan (ay.2). Mulai di ay.3-7 diberikan beberapa alasan untuk pujian itu. Alasan yang ada di sini terkait dengan sifat Allah sendiri dan misteri karya penciptaan. Dikatakan di sana bahwa Allah itu baik dan Ia memiliki nama yang indah (ay.3). Allah itu mahabesar (ay.5). Secara khusus disinggung pilihan atas Israel sebagai milik Tuhan (ay.4). Tuhan berjaya dalam alam ciptaan (ay.6-7). Ia mengatur dan menyelenggarakan alam semesta ini.

Dalam penggal kedua (ay.8-12) mazmur ini menyinggung penyertaan Tuhan dalam hidup Israel. Secara khusus di sini disinggung sejarah Keluaran, di mana Tuhan melakukan banyak intervensi dalam hidup Israel. Disebutkan bagaimana Tuhan melakukan beberapa tindakan perkasa di Mesir sehingga Mesir akhirnya mengijinkan orang Israel meninggalkan negeri itu (ay.8-9). Tidak hanya itu. Tindakan Tuhan menyertai dan melindungi Israel berlanjut terus. Misalnya di akhir perjalanan, disinggung tentang tindakan Tuhan yang mengalahkan banyak bangsa dan raja yang kuat (ay.10-11), dengan menyebut beberapa nama (Sihon, raja orang Amori, dan Og, raja negeri Basan). Setelah penguasanya dikalahkan, tanahnya diambil dan diserahkan kepada Israel (ay.12).
Atas semua karya tersebut, dalam penggal ketiga (ay.13-14), Israel mengingatkan dirinya sendiri mengenai Nama Tuhan. Nama itu kekal dan abadi karena terus diingat dari angkatan ke angkatan. Israel ingat akan Tuhan karena Tuhan sudah berbuat adil kepada umat-Nya dan menyayangi mereka, hamba-Nya.

Pengalaman akan penyelenggaraan Tuhan itu, dalam penggal keempat (ay.15-18), dipertentangkan dengan eksistensi berhala yang disembah para bangsa. Berbeda dengan Yahweh, berhala para bangsa bukan siapa-siapa. Mereka bukan tandingan Yahweh yang perkasa. Berhala itu hanya patung buatan tangan manusia. Terbuat dari emas dan perak dan tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak hidup, sebab beberapa indra yang disebut di sana tidak berfungsi (mata, mulut, telinga). Tidak ada nafas kehidupan di dalam mereka. Jadi, mereka benda mati. Ini adalah serangan kepada berhala para bangsa. Sebagaimana sembahannya yang “mati” tersebut, begitulah nasib orang yang menyembahnya (ay.18).

Sadar akan hal itu, maka dalam penggal kelima (ay.19-21), orang Israel diberitahu agar tidak meninggalkan Tuhan Allah mereka, misalnya dengan tergoda untuk menyembah alah lain yaitu berhala para bangsa tadi. Beberapa suku disebut sebagai perwakilan seluruh Israel: kaum Israel, kaum Harun, kaum Lewi. Singkatnya, semua orang yang “takut akan Tuhan” hendaknya memuji dan memuliakan Tuhan. Jika orang Israel taat melakukan hal ini (selalu memuji Tuhan) maka Tuhan akan senantiasa terpuji di Sion, di Yerusalem, kota kediaman-Nya. Sebagaimana pada awal, mazmur ini diawali dengan seruan Halleluia, maka di bagian akhir juga ditutup dengan pekik yang sama, Halleluia.

Bandung, Februari 2017.
Penulis: Dosen teologi biblika Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.


Sunday, February 26, 2017

PIGRIMAGE OF PAUL COELHO

By: Fransiskus Borgias M.

Two years ago I have bought the book of Paulo Coelho in a certain book store in Bumi Serpong Damai, Tangerang. Two or three days afterward I have finished reading it. Its title is The Pilgrimage; it is translated as Ziarah into Indonesian language. I think this is a very interesting book. Its main plot is a story of the journey of a certain pilgrim, in this case is the personal pilgrimage of Paulo Coelho himself, making a journey of pilgrimage to Santiago Compostela, in Spain. There are a lot of interesting aspects I found in this book. But here I will only concentrate on some important and interesting point for me of course from my present apprehension of the book. First of all, I would like to put emphasis on the importance or significance of pilgrimage itself. According to Paulo Coelho, pilgrimage was very important for Christian life in the early period of its historical existence until the present time. Christians at that time expressed their religious belief and religious life among other things through the pratices of making pilgrimages to the holy shrines.

According to this book of Paulo Coelho, the first road of pilgrimage was headed to Rome. In Rome there is the tomb of St.Peter, St.Paul, some martyrs, and many other holy places (including old churches, catacombs). Usually the pilgrims tracing this way while putting on the symbol of cross on their body. It is said that if we see people put on the cross of crucifix, then we are sure that they are pilgrims to Rome. The second road of pilgrimage was the road to Jerusalem. This is one of the holy places for Christianity since the very old time (although I do not deny the historical fact that it is also apply for the Jews people and the Muslims in the world). In Jerusalem there is a holy sepulchre (the sacred tomb) of Jesus Christ. Of course there are some other holy places in the places near by Jerusalem, for example Betlehem, Nazaret, Kafernaum, river of Jordan, the Dead Sea and the Galilean Sea. The pilgrims tracing this way usually bring the palm leaves. Hence they are called the palm-leaves-bearer. Palm leaves is welknown because this was the leaves used by people in Jerusalem to welcome Jesus just a week before his tragic drama of passion and crucifixion. Nowadays we know this event with the name of Palm Sunday, celebrated just a week before the Week of Holy Easter.

The third road is the road to Compostella, in Spain. There we will find the sepulchre of San Tiago, one of the disciple of Jesus. This sepulchre lays in the city of Compostela. By the way, San Tiago is the Spanish version of the name of Jacob(us), or James, or Giacomo, of Jacques. According to a very old Christian legend, Mary, the mother of Jesus also went to Spain to spread the good news of the Kingdom of God. The name of that places is Compostela, literary means a field full of stars (Campus + stella). Such name is based on a legend of a certain shepherd who saw the stars upon this big field. Field means compos or campos in Spanish and Latin. Stella is Stars. Maybe that is the reason why this road is also known as the Bimasakti road. According to Coelho, the pilgrims who go to make a pilgrimage through this way using the shelf. Until today this road is still used. It is said that Karel the Great (Charlemagne) also walked this way making a certain pilgrimage to that holy place in Spain; it is believed also that St.Francis of Assisi has walked through this way in his journey to Spain; it is believed also that the pope John Paul II himself in our modern time traces this road.

In the later and modern day there appear some other center of pilgimage. For example in Lourdes (related to saint Bernadette), in Fatima (related to Lucia, Jasinta, Francesco), in Russia, in Poland. Now in some countries of Asia we can find also some center for pilgrimage, for example in Vietnam, in Japan, in South Korea, in Taiwan, in the Phillipines, and even also here in Indonesia (Sendangsono, Goa Kerep, Sendang Jatiningsih, Sendang Sriningsih, Lawang Seh, Puh Sarang, Sawer Rahmat, Kanada or Kampung Narindang Dalam, just to mention some pilgrimage centers available in Java). In the USA also there are some centers for Catholic pilgrimage. I have visited the great and grandionse basilica of Saint Mary in the middle of Catholic University of America in Washington DC. What a beautiful and amazing place. I have visited also a Marian pilgrimage in the State of Maryland, which is considered to be the miniature and the imitation of the Lourdes (so it is known as the States Lourdes).
Some few years ago I remembered that, the late Father Kurris SJ, wrote, in Hidup Weekly Catholic Magazine, a story of the Road to Santiago Compostella. I have read the story when it is published as a short story in Hidup. Therefore, I have to find this book to read it once again in its contionus and complete version.

Now in these days I read another interesting book by a certain Spanish journalist, who is also welknown because one of his book has been translated into the Indonesian language, Allah Semacam Ini (Nusa Indah, back in the eighties). The title of this book of Juan Arias, is “Paulo Coelho: Obrolan Dengan Sang Penziarah.” It is a translation from the original work in Spanish: “Paulo Coelho: Las Confesiones del Peregrino.” From this book I came finally to know that Paulo Coelho wrote his book, Ziarah, after he has himself made a journey, a pilgrimage to Santiago of Compostela. It is said by Juan Arias in this book, that Coelho made this pilgrimage journey after he has totally abandoned the atheistic period of his life and decide to come back to the religious belief of his family, his father and his mother, that is Catholic religious faith. He wanted to sign this conversion of life, this metanioa by making a journey of pilgrimage to one of the important holy shrine in Europe. Now I can easily understood why in many of his book, Paulo Coelho write so many things about the detail of Catholic religious life and tradition. For example in the book of “By the River Piedra I Sat Down and Wept,” Coelho wrote many things about the spiritual life of a certain young seminarian who want to become a priest but he also at the same time feel that he is fall in a love with a beautiful girl. The same also can be said about “The Alchemist,” his another book, even his masterpiece, in which he mentions so many things from the Bible (especially the New Testament).

Now in this new book of Juan Arias, I find a very interesting thing about his vision of Catholic practices of religious life. For example Juan Arias asked about the dogma of Catholic church, whether he believes it or not. The answer of Paulo Coelho is very interesting and amazing. He said that he totally believes in those dogmas, because he really want to be a humble religious believer. To underline this religious belief, Paulo Coelho quotes the expression of C.G.Jung, who once said that the dogma is the brilliant expression of the religious geniuses after a very long struggle in theological debates and confrontation. Coelho therefore said, that dogma already has a very long tradition, while I am only fifty years old only by now (at the time of the writing of the book). How small his life and age are compared to the long tradition of life of dogmas and religious doctrines. It seems that he believes dogmas like the welknown expression of Tertullian from the third century of history of Christianity: “credo quia absurdum.” But then he also said that he wants to be believe in order to understand: “credo ut intelligam.” Again this expressions of Tertullian are not a simplistic expression, a shortcut in front of the mystery of faith. No. It is not an easy expression at all. They are born out of the an intellectual struggle to explain and understand the content of the faith doctrines itself.

Plemburan, 31 Mei 2011
Computerized and edited in Nglempong Lor, 26 Februari 2013


Thursday, February 2, 2017

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 134

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Mazmur ini sangat pendek. Hanya tiga ayat. Judulnya “Puji-pujian pada waktu malam.” Itu sebabnya mazmur ini dipergunakan dalam Completorium (Minggu). Ayat 1 adalah ajakan untuk datang memuji Tuhan. Ajakan itu ditujukan kepada semua hamba Tuhan. Biasanya mereka datang di rumah Tuhan untuk memberi layanan kepada Tuhan dan kepada Jemaat yang datang ke sana. Secara khusus di sini disinggung tentang petugas yang bertugas di waktu malam. Malam, biasanya adalah saat tidur, setelah letih bekerja seharian. Malam itu identik dengan lelah, dan ngantuk. Ada godaan besar untuk melalaikan tugas-kewajiban memuji Tuhan di waktu malam. Sadar akan godaan itu pemazmur mengingatkan agar petugas (liturgi) malam tidak boleh melalaikan tugas-kewajibannya. Begitu misalnya, kalau sudah menyanggupi untuk tugas lektor, cantor, ataupun koor, maka harus datang biarpun ada godaan untuk pergi-pergi. Melayani Tuhan lebih dahulu. Tuhan diutamakan di atas kepentingan sendiri.

Dalam ayat 2 disinggung sikap doa yang dianjurkan. Para pendoa itu mengangkat tangan ke tempat kudus. “Angkat tangan” itu bukan tanda menyerah kalah. Tetapi tanda pasrah kepada Tuhan. Mereka memuji Tuhan dengan cara mengangkat tangan. Angkat tangan adalah ekspresi jasmani dari aksi mengarahkan hati kepada Tuhan di tempat kudus-Nya. Dalam Tata Perayaan Ekaristi Latin, kita mendengar pengantar Prefasi berikut ini: Sursum corda, “Habemus ad Dominum” (arti: “arahkan hati ke atas, kepada Tuhan).” (Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan. Sudah kami arahkan). Kita berharap agar Tuhan sudi menerima dan menyatukan kita di dalam kasih-Nya. Kalau kita sudah mengangkat tangan kita sebagai ekspresi angkat hati, maka kita mempunyai dasar dan alasan untuk berharap bahwa Tuhan akan memberkati kita dari tempat-Nya yang kudus di Sion.

Tuhan adalah penyelenggara hidup, Tuhan yang sama, pencipta langit dan bumi (ay.3), Tuhan itulah yang kita percayai dalam Credo yang kita ucapkan setiap Minggu: Aku percaya akan Allah yang mahakuasa, pencipta langit dan bumi. Jadi, datangnya malam jangan menimbulkan kelalaian karena malas sehingga kita abaikan doa. Mazmur ini mengingatkan kita akan hal itu. Sebelum tidur malam, angkatlah tangan dan hati kepada Tuhan untuk memuji dan mengucap syukur. Dengan tangan terangkat kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan sambil berharap agar Tuhan menjaga dan memeliharanya melewati malam agar besok pagi kita bisa bangun lagi dengan semangat baru dan segar untuk memulai lagi tugas kita dalam rangka memuji dan memuliakan Tuhan. Hidup seluruhnya menjadi pujian kepada Allah, Ad Maiorem Dei Gloriam.

Yogyakarta, Desember 2016
Penulis: Dosen teologi pada Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.

Monday, January 2, 2017

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 133

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Mazmur 133 ini sangat pendek. Hanya terdiri atas beberapa ayat saja. Mazmur ini masih termasuk dalam kelompok nyanyian ziarah. Menilik isinya, maka ini adalah mazmur tentang persaudaraan. Dalam mamzur ini si pemazmur mengimpikan hidup rukun bagai saudara dan sebagai saudara.

Mengapa dan dalam situasi seperti apa ia mengimpikan hidup bersaudara itu? Tidak mudah menjawab pertanyaan itu. Karena mazmur ini adalah nyanyian ziarah (dipakai untuk mengiringi perjalanan ziarah ke Yerusalem), patut diduga bahwa ia mengimpikan persaudaraan itu sebagai “persaudaraan rohani” (spiritual brother and sisterhood) yang terbangun dalam dan selama perjalanan ziarah ke tempat suci, Sion di Yerusalem.

Dalam ziarah itu orang bersatu dalam sebuah rasa, sebuah angan untuk segera tiba di kota impian, Yerusalem. Peziarah itu datang dari pelbagai penjuru termasuk Libanon. Itu sebabnya ia memakai embun gunung Hermon sebagai metafora. Embun itu bening, indah, sejuk. Embun itu mengalir hingga membasahi bukit Sion. Rasa nikmat anggur dan minyak wangi juga ia pakai sebagai metafora persaudaraan. Ini adalah gambaran kemakmuran ekonomis dan politis.

Apakah persaudaraan rohani itu saja yang ia impikan? Tidak. Ia impikan persaudaraan manusia, meminjam istilah saudara kita muslim, ukhuwah insaniah. Saudara itu konon berasal dari kata sa-wudara, yang aslinya ialah satu-perut, satu-rahim. Kita mengenal kata lain seperti sepupu, yang konon akar katanya ialah sa-pupu, satu paha, satu pangkuan. Persaudaraan jasmaniah, sawudara dan sapupu itu, oleh pemazmur diperluas menjadi persaudaraan semesta, persaudaraan universal yang tidak lagi hanya mencakup pertalian darah (blood affinity) belaka, melainkan melibatkan cita-rasa kemanusiaan (humanity) itu sendiri.

Cita-cita persaudaraan ini relevan juga saat ini di saat kita mendengar banyak ujaran kebencian (hate speech) yang merusak persaudaraan. Di hadapan maraknya ujaran kebenciaan di media sosial, ada baiknya saya ulangi lagi mazmur ini dalam Latin: “Ecce quam bonum et quam iucundum habitare fratres in unum” (Betapa baik dan indahnya jika para saudara berdiam dalam persatuan). Atau seperti refrein lagu ciptaan Dan Schutte SJ: “Oh how good, how wonderful it is, when brother and sister live as one” (Oh betapa baik dan mengagumkan ketika saudara dan saudari hidup rukun). Hidup rukun, bersatu inilah yang dicita-citakan pemazmur ini. Kiranya ia sadar bahwa hal itu tidak selalu mudah terwujud. Karena itu tiada henti-hentinya, ia menyuarakannya kembali dan terus menerus.


Penulis: Dosen Teologi Biblika FF UNPAR Bandung.
Yogyakarta, akhir November 2016



Friday, December 23, 2016

NATAL MINIMALIS DAN EKSISTENSIALIS

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Natal minimalis. Apa itu? Saya belum segera menjawabnya sekarang. Nanti dalam proses akan menjadi jelas apa arti dari ungkapan ini. Saat itu, untuk kedua kalinya secara berturut-turut saya tidak dapat ikut serta bersama keluarga kecilku merayakan hari Natal di gereja dan di rumah kami. Sedih juga rasanya.

Yang pertama, terjadi pada Natal tahun yang lalu (2014), karena saya sedang dalam perjalanan pulang dari Washington DC ke Jakarta. Saya terbang dari Bandara Dulles (Philadelphia) pada malam hari tanggal 23 Desember dan tiba di kota Doha, Qatar kira-kira jam 4 sore hari berikut tanggal 24. Saya harus menunggu penerbangan berikut ke Jakarta, selama kira-kira 8 jam lebih. Saya menunggu di dalam ruang tunggu Bandara Doha karena jadwal penerbangan berikut kira-kira pukul 1 dinihari. Lagipula saya juga tidak bisa menanggalkan bandara karena saya tidak mempunyai visa untuk masuk Qatar. Selama menunggu di bandara Doha itulah saya merayakan natal minimalis saya.

Apa itu? Kira-kira sbb: Saya mencoba menciptakan suasana dan ruang hening dalam hatiku sendiri, dengan cara memejamkan mataku. Setelah saya merasa sudah bisa mendapatkan suasana hening itu dalam hati saya, lalu saya mulai menyanyikan lagu klasik ekumenis natal, Malam Kudus dalam dua bahasa, Indonesia dan Manggarai (bahasa Ibuku). Saya menyanyi kecil dengan suara menggumam dan saya merasa aman karena orang-orang cukup jauh dari kursi tempat saya duduk di ruang tunggu bandara Doha (Qatar). Apalagi suasana ruang tunggu sangat ramai, ada banyak suara walaupun tidak sampai terasa sangat bising. Di beberapa tempat juga tampak beberapa hiasan (ornamen) Natal. Butuhkan waktu kira-kira empat sampai lima menit untuk menyanyikan lagu itu, masing-masing satu ayat saja. Saya menyanyikannya sambil merem, dalam suasana ruang doa minimalis, hening-bening. Saya terhanyut dalam doa dan suasana natal dalam hatiku sendiri.

Begitu saya selesai menyanyi, saya membuka mata, dan tepat di samping kiriku ada seorang perempuan cantik, masih muda. Ia berbaju panjang dan berkerudung indah: “Are you a Christian?” Begitu tanyanya sambil tersenyum manis, bahkan teramat manis? Saya mulai rada takut dan curiga: “Jangan-jangan ini polisi sari’ah yang menyamar seperti calon penumpang.” Begitu gumamku dalam hati. Tetapi karena ia bertanya dengan sangat ramah dan tersenyum manis, maka saya pun dengan terus terang dan berani mengatakan, “Yes I am. How do you know it?” begitu kataku balik bertanya kepadanya: “Hmmm...from the song you sang (humming). Is it a “Silent Night” right? What a simple but a very beautiful song composed by an Austrian Priest.” Saya tersenyum mengagumi pengetahuannya tentang lagu tersebut. Memang itu benar: lagu itu diciptakan seorang pastor katolik tetapi kini menjadi lagu Natal ekumenis, yang pasti dinyanyikan di hampir semua gereja dari pelbagai denominasi yang ada. Luar biasa. Tiba tiba dia ulurkan tangan: “Then merry christmas for you sirrr...” “Ipran” (I said, introducing myself to her)...., “sir Ipran.” “I am Anissa. I am from Yamman, precisely South Yamman. I am on my flight-journey to Malaysia. To celebrate new year eve in my friend's house. Malaysia is more liberal compared to Yamman, in terms of the rules on woman's dress. For example, in Malaysia I can put off this jilbab and can walk on the street without being afraid of being watched by others.”

Saya terkejut sekali dengan pernyataan itu. Bukankah anda muslim? Lalu dia bilang, “Actually I am not. But I will not tell you. Let me give you a clue. I am from a mixed marriage family. My mother from Russia and my father from Yamman. My mother is a stubborn pious Christian lady. And I am a daughter of such lady.” Dan tentu saja saya cukup terkejut juga dengan pengakuan dan perkenalan diri dia yang serba sekilas itu. Saya pun bertanya lagi kepadanya: “Apa kata bapamu tentang hal itu?” Dia tersenyum saja dan berkata: “Bapaku tidak banyak menyoalkan hal ini; bagi dia yang penting hidup kami sebagai sebuah keluarga rukun-rukun dan damai saja. Itu sudah cukup.” Cerita ini saya hentikan di sini karena sesungguhnya percakapan kami panjang tetapi saya harus pindah ke topik lain yang menjadi focus dari tulisan ini.

Pengalaman yang kedua, ya terjadi malam 24 Desember 2015 silam. Saat itu saya merasa sejak balik dari Yogya minggu yang sebelumnya, saya merasa kurang fit. Badan saya terasa lemah. Terkadang suhu badan bisa berubah tiba-tiba naik. Maka saya pun memutuskan untuk tidak ikut ke gereja. Akhirnya, Atin, Yoan, Agung ke gereja bertiga. Saya menunggu di rumah. Sekitar jam tujuh malam saya laksanakan lagi ritual saya, ritual natal minimalis, persis sama dengan apa yang saya lakukan di atas tadi. Sedih sekali rasanya karena tidak bisa pergi bersama-sama keluarga ke gereja. Padahal ini adalah sebuah kesempatan yang sangat langka. Biasanya kedua anak kami tinggal jauh dari kami, yang satu di sebuah sekolah berasrama van Lith di Muntilan, yang lain kost di Babarsari Yogyakarta dekat kampusnya di UAJY. Saat mereka libur sebenarnya merupakan kesempatan emas bagi kami untuk bisa tampil lengkap dan utuh sebagai keluarga di tengah jemaat gereja di paroki kami. Sayangnya hal itu tidak bisa terjadi. Itulah yang membuat saya menjadi sangat sedih.

Pengalaman natal-minimalis ini tiba-tiba mengingatkan saya akan dua hal. Pertama, sebutan itu mengingatkan saya akan natal tahun 2003. Saat itu saya sedang dalam perjalanan dengan Bis pulang ke Flores untuk menghadiri pernikahan seorang saudari saya di sana. Saya menempuh perjalanan darat dengan bis dari Jakarta ke Bima bersama dengan dua atau tiga saudariku. Tadinya kami berharap bahwa pada tanggal 24 Desember siang kami sudah bisa tiba di kampung halaman orang tuaku, Dempol. Ternyata ada banyak rintangan di jalan. Akhirnya malam natal saya lewatkan di penginapan pelabuhan penyeberangan Sape. Pada hari-hari itu, kami tidak bisa segera menyeberang pagi hari karena tidak ada ferry yang mengangkut kami. Kami baru bisa menyeberang pada keesokan harinya. Akhirnya malam natal itu kami lewatkan di sana, di penginapan di Sape. Itulah natalku yang pertama di dalam perjalanan. Tetapi pengalaman itu menjadi sebuah pengalaman yang istimewa karena hal itu serta-merta menyadarkan saya bahwa natal sesungguhnya (paling tidak menurut Injil Lukas) adalah sebuah peristiwa yang terjadi dalam rangka dan konteks sebuah perjalanan mudik (pulang kampung). Natal adalah sebuah peristiwa iman dalam perjalanan. Sejak saya menyadari hal itu untuk pertama kalinya, maka hal itu tidak pernah lagi hilang dari kesadaran rohani saya. Saya bahkan pernah menulis sebuah tulisan singkat dan sederhana tentang hal itu dalam majalah paroki kami di Bandung, Bergema.

Kedua, saya tiba-tiba teringat akan sebuah pengalaman masa kecilku. Ayah saya adalah seorang guru SD yang bekerja di SD yang menjadi pusat paroki. Memang sebagian besar karir ayah saya sebagai guru selalu mendapat tempat di pusat Paroki, kecuali di SDK Arus. Yang lainnya adalah pusat paroki semuanya; seperti misalnya di Wewo, kemudian di Ketang, dan akhirnya di Rangga. Ketiga SDK ini adalah pusat paroki. Oleh karena itu, setiap kali hari raya (natal, paskah, pentakosta), rumah kami selalu penuh dengan tamu yang datang menginap. Mereka adalah keluarga-keluarga guru ataupun bukan guru, yang datang dari sekolah-sekolah yang terletak di stasi-stasi yang jauh untuk merayakan hari raya terkait. Misalnya di sini hari raya natal. Dalam situasi seperti ini ibu saya menjadi orang paling sibuk sedunia. Sejauh saya ingat, saat itu ibu hampir tidak pernah bisa ikut ke gereja. Saya ingat hal itu terjadi pada tahun 70 ataupun 71. Pada saat itu, Pastor memang sudah tinggal di dekat sekolah kami tetapi gereja belum dibangun. Gereja masih harus ke kampung tetangga, yaitu Rejeng; sebab memang pusat paroki sebelumnya terletak di Rejeng ini, sebelum akhirnya dipindahkan ke Ketang. Pada malam natal itu saya ingat juga bahwa saya tidak bisa menemani papa ke gereja karena hujan, sungai banjir, dan saya sendiri juga sedang sakit. Maka kami tinggal di rumah. Kami berlima. Kakak sulung ke gereja karena tugas koor anak sekolah dasar. Saya dan ketiga adik saya yang masih kecil tinggal di rumah bersama mama kami. Saat itu saya duduk di kelas dua atau tiga SD.

Seperti biasa, pada saat-saat seperti itu, mama selalu sibuk di dapur. Saat ketiga adik saya (simus, rius, kanis) sudah pada makan malam dan tidur, saya melihat mama sesekali keluar rumah di malam yang gelap gulita itu. Tidak lama. Hanya sebentar saja. Lalu dia masuk lagi ke dalam rumah. Pada saat itu dia selalu bilang begini kepada saya: “Belum nana. Belum selesai misa natal-nya.” Kira-kira hampir setengah sepuluh malam, saya diajak mama keluar rumah. Malam terasa dingin. Gelap sekali di luar. Sebagai seorang anak kecil saya biasanya rada takut berada di luar rumah di malam hari. Tetapi malam ini tidak. Sebab begitu kami berada di luar rumah, kami menyaksikan sebuah pemandangan yang indah. Ya, betapa pemandangan malam itu sangat indah. Dari daerah sekitar gereja di Rejeng gerombolan orang-orang tampak bergerak secara perlahan-lahan menjauh dari gereja yang semula tampak terang karena lampu gas (sebutan lokal untuk lampu petromax), tetapi lama kelamaan gereja itu mulai tampak redup dan akhirnya gelap sama sekali. Satu persatu lampu petromax dibawa pulang oleh para pemiliknya untuk menerangi perjalanan mereka pulang ke rumah masing-masing. Nah perjalanan cahaya lampu di tengah malam gelap itulah yang sangat indah dalam ingatan dan kenangan saya. Ada juga yang berupa obor-obor yang bernyala.

Hal yang menarik ialah bahwa di tengah kegelapan malam dan di kejauhan nyala-nyala api itu tampak seperti berjalan sendiri, melayang-layang di dalam kegelapan malam, sebab orang-orang yang membawanya tidak tampak sama sekali; mereka seakan-akan tenggelam dan tertelan dalam kegelapan malam. Karena merasa pasti bahwa itu adalah lampu-lampu natal umat serani yang baru bubar misa, maka saya tidak takut sama sekali. Tentu saja itu bukan api ja, api yang dalam kepercayaan orang Manggarai adalah api setan. Oh, pasti itu bukan api ja. Itu adalah nyala api natal yang bernyala-nyala dalam kegelapan malam dan di atas kepala-kepala manusia yang baru pulang dari gereja. Pasti nyala api natal itu juga sudah bernyala di dalam hati mereka masing-masing. Malam natal telah tiba. Gloria in excelsis Deo, Christus natus est in Betlehem.
Mama biasanya berdiri dengan tenang memandang itu semua, sambil ia memberi keterangan cukup rinci mengenai arah tujuan perjalanan lampu-lampu di malam gelap itu: “Nana Ransis, cahaya yang dibawa orang-orang itu akan menuju ke kampung ini (sambil menyebut nama kampung tersebut), dan cahaya orang-orang itu pasti akan menuju ke kampung ini (sambil menyebut namanya).” Ya, mama hafal semua nama-nama kampung yang terletak di sekitar paroki kami. Lalu ia tiba-tiba berkata lagi: “Nak Ransis, dengan perjalanan cahaya-cahaya itulah saya bisa membayangkan natal para gembala di padang di luar kota Betlehem dulu.” Hanya itu yang ia katakan kepada saya. Tetapi kalimat singkat itu sangat kuat berkesan dalam hati saya, hingga sekarang ini.

Jauh di kemudian hari, ketika saya sudah dewasa dan sudah berjalan begitu jauh dalam studi teologi dan kitab suci, saya akhirnya mengistilahkan natal ibu saya itu, natal minimalis, tetapi walau minimalis sangat efektif membawa dekat hati kita ke rasa natal dalam devosi saleh hati kita masing masing. Ya, itu natal minimalis tetapi sekaligus juga sangat eksistensialis. Saya ingat malam itu ibu sama sekali tidak takut berada di luar di dalam kegelapan malam. Sebab ada banyak juga cerita tentang perjalanan api malam yang serem. Api ja, api data tako (api yang dibawa para pencuri yang berkeliling kampung untuk melakukan aksinya mencuri ternak orang kampung). Malam natal tidak ada api yang serem. Cahaya malam natal adalah cahaya obor atau petromax dalam perjalanan pulang dari gereja ke kampung masing masing.

Bandung, 24 Desember 2016.
artikel sudah ditulis desember 2015

Wednesday, November 30, 2016

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 132

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Ternyata ada manusia yang dipilih Tuhan, yang kepadanya Tuhan berkenan. Salah satu orang seperti itu adalah Daud. Dalam status dan martabat seperti itu ada satu tuntutan sikap atau perilaku tertentu yang harus diperlihatkan orang. Ada juga tempat yang dipilih Tuhan menjadi tempat istimewa. Salah satu tempat seperti itu adalah Sion. Tempat seperti itu juga harus menjadi tempat yang istimewa. Mazmur 132 ini berbicara tentang kedua hal tersebut.

Judul mazmur ini dalam Alkitab kita ialah “Daud dan Sion, pilihan Tuhan.” Mazmur ini termasuk cukup pendek, hanya terdiri atas 18 ayat. Mazmur ini termasuk nyanyian ziarah. Kita dapat membagi mazmur ini menjadi empat bagian: pertama ayat 1-5, kedua ayat 6-10, ketiga ayat 11-12, keempat ayat 13-18. Kita telusuri mazmur ini bagian demi bagian.

Dalam bagian pertama, pemazmur mulai dengan pelukisan tentang Daud yang bersumpah dan bernazar (ay 2) untuk membangun tempat istirahat bagi Tuhan (ay 5). Daud bernazar walaupun ia sedang menderita (ay 1). Jadi, keadaan menderita tidak menghalangi Daud untuk bernazar dan untuk mewujudkan nazar itu. Tetapi apa isi nazarnya itu? Ia bernazar untuk membangun rumah bagi Tuhan (ay 5). Sebelum hal itu terwujud Daud rela melakukan tiga hal: tidak akan masuk ke dalam kemahnya, tidak akan berbaring di ranjangnya (ay 3), dan yang terakhir tidak akan tidur (ay 4). Jadi, mazmur ini ditulis sebelum ada Bait Allah di Yerusalem. Walau kemah suci sudah ada, tetapi masih bersifat sementara. Ia mau mendirikan sesuatu yang permanen.

Dalam ayat 6-8, dilukiskan lebih rinci tentang cita-cita itu. Orang mendengar gema rencana dan keinginan itu di Efrata, daerah asal Daud. Bahkan kemah suci itu sudah ada di padang (ay 6). Tetapi orang mengimpikan sesuatu yang permanen. Di tempat permanen yang diimpikan itu, orang ingin datang sujud di tumpuan kaki Tuhan, yaitu tabut perjanjian. Diharapkan Tuhan sudi datang dan tinggal di tempat kediaman permanen itu, yang juga disebut tempat perhentinan, sebab sampai sekarang Tuhan selalu dalam perjalanan bersama umat yang juga sedang berjalan (ay 7). Kalau tempat permanen itu sudah terwujud maka para imam bisa melakukan tugas mereka dengan meriah dan dengan sepatutnya (ay 8). Orang sungguh berharap agar impian itu bisa terwujud, dan dasarnya ialah Daud. Tuhan diharapkan tidak menolak keinginan Daud itu (ay 10).

Lalu bagian ketiga, ay 11-12. Di sini dilukiskan tanggapan Tuhan terhadap keinginan dan cita-cita itu. Tuhan telah bersumpah bahwa Ia tidak lupa akan Daud (ay 11). Tuhan berjanji bahwa anak kandung Daud akan menjadi penggantinya di atas tahtanya. Tetapi hal itu bukan tanpa syarat. Ada syaratnya juga, yaitu anak-anak itu harus berpegang teguh pada janji dan aturan Tuhan. Tuhan menuntut iman dan kesetiaan dan kasih setia dari manusia (ay 12). Jika syarat itu terpenuhi maka tahta akan langgeng. Begitu juga sebaliknya.

Akhirnya, keempat, ia berbicara tentang Sion. Tuhan memilih Sion menjadi kediamanNya (ay 13-14). Sebagai tempat pilihan Tuhan maka Sion akan makmur, tidak lapar, ada roti. Tidak ada orang miskin dan terlantar. Sebuah kemakmuran ekonomi yang indah dan nikmat (ay 15). Tidak hanya makmur ekonomi tetapi juga makmur rohani, makmur ritual (ay 16) dengan cara imam diberi shalom, orang saleh bisa bergirang (ay 16). Di Sion itulah Tuhan membangkitkan kuasa Daud. Daud menjadi raja perkasa. Tidak hanya kuat secara militer tetapi juga secara rohani sebab Tuhan memberi terang bagi dia (ay 17). Jika hal terjadi maka para musuh akan kalah dan malu (ay 18). Sementara Daud akan tetap meraja dan Sion menjadi kota tahtanya. Tuhan tidak akan meninggalkan dia.

Yogya, Akhir Oktober 2016.
Penulis: dosen teologi biblika Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.


Saturday, November 5, 2016

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 131

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Judul mazmur ini dalam Alkitab kita “Menyerah kepada TUHAN”. Ini termasuk Nyanyian Ziarah Daud, sebagaimana ditulis di sana. Mazmur ini sangat singkat. Hanya tiga ayat. Karena itu, saya akan melihatnya sebagai satu kesatuan saja tanpa perlu dibagi ke dalam beberapa unit yang lebih kecil.

Dalam mazmur ini pemazmur mulai dengan sebuah pernyataan (deklarasi) hati di hadapan Tuhan, bahwa dirinya tidak tinggi hati. Ia juga tidak memandang dengan angkuh. Dengan kata lain, ia menegaskan bahwa dirinya adalah orang yang rendah hati (bukan rendah diri). Untuk semakin menegaskan hal itu, ia lebih lanjut mengatakan bahwa dalam hidupnya ia tidak mengejar, mencoba meraih, mengupayakan hal-hal yang terlalu besar. Ia secara realistik mengusahakan hal-hal yang kecil, yang sesuai dengan kemampuannya yang riil. Ia juga mengatakan bahwa ia tidak mencari-cari hal-hal yang sangat ajaib. Dalam ayat pertama ini, pemazmur menegaskan kerendahan hatinya dengan menegaskan empat hal ini: tidak tinggi hati, tidak bermata angkuh, tidak mengejar hal yang terlalu besar, tidak mengejar hal-hal yang terlalu ajaib. Ia hanya orang yang biasa-biasa saja.

Sikap rendah hati adalah kebajikan moral. Karena itu, ia harus diperjuangkan. Agar bisa bersikap rendah hati, orang harus berjuang, harus melatih diri terus menerus. Ia tidak datang begitu saja, melainkan terlebih merupakan hasil proses, hasil perjuangan yang tidak selalu serba gampang. Hal itulah yang ia ungkapkan dalam ayat kedua. Mungkin pada awalnya jiwanya, dalam gelora usia muda, mendambakan hal-hal yang besar-besar, yang muluk-muluk, bahkan yang sangat ajaib. Kiranya hal itu biasa saja dalam hidup seorang manusia. Jiwanya melonjak-lonjak mencari dan mengupayakan hal-hal itu. Jiwanya tidak dapat tenang. Mungkin hal itu tidak mendatangkan ketenangan, kebahagiaan baginya. Maka ia berusaha menenangkan jiwanya. Rupanya ia berhasil. Sekarang, setelah berhasil, ia melaporkan keberhasilan itu kepada Allah. Keberhasilan itu diibaratkan dengan seorang anak yang disapih. Tidak selalu mudah menenangkan anak yang disapih, dijauhkan dari susu ibunya. Tetapi setelah latihan dan pendidikan yang berlangsung beberapa waktu lamanya, anak sapihan itu bisa juga ditenangkan dan menjadi tenang, dan ia pun dapat tidur dengan nyenyak di sisi ibunya. Keadaan anak sapihan yang bisa tidur dengan tenang itulah dipakai pemazmur untuk melukiskan ketenangan jiwanya.

Akhirnya, dalam ayat ketiga, pemazmur menegaskan sebuah seruan untuk hanya berharap kepada Allah. Saya tergelitik untuk bertanya: mengapa ia menutup mazmur ini dengan seruan harapan itu? Mungkin hal itu ada kaitannya dengan gelora jiwa tadi. Jiwa manusia, mungkin menginginkan dan mendambakan sangat banyak hal dalam hidup ini. Untuk itu, manusia berusaha sedapat mungkin agar dapat mewujudkan semua keinginan itu. Boleh jadi, orang sangat mengandalkan usahanya, sampai lupa berharap dan percaya pada Allah. Kiranya itu sebabnya pemazmur mengakhiri mazmur ini dengan seruan harapan. Dengan ini, kita bisa memahami mengapa mazmur ini diberi judul seperti di atas.

Bandung, Awal September 2016
Penulis: dosen teologi biblika FF-UNPAR Bandung.


PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...