Oleh: Fransiskus Borgias M.
Mazmur 120 ini cukup singkat; hanya 7 ayat. Di sini saya tidak membaginya menjadi beberapa unit sebagaimana biasanya. Saya membahasnya sebagai satu kesatuan.
Judul mazmur ini: “Dikejar-kejar fitnah.” Di sini pemazmur mempersonifikasi (membuat menjadi seperti person/orang) fitnah; personifikasi fitnah itu sedang mengejar pemazmur. Itu yang menyebabkan dia merasa kesesakan (ay 1). Dari dalam kesesakan itu, ia lambungkan permohonan kepada Tuhan dan Tuhan mengabulkannya. Apa isi doanya? Pemazmur meminta kepada Tuhan agar Tuhan membebaskan dia dari dua sosok yang mengancam hidupnya: Pertama, pendusta (bibir dusta, ay 2), kedua, penipu (lidah penipu, ay 2). Keduanya sinonim, tetapi diungkapkan dengan dua ungkapan berbeda, yang satu memakai bibir, yang lain memakai lidah. Keduanya adalah alat ucap (artikulasi) yang memungkinkan manusia bisa berbicara, berbahasa.
Kedua alat-tutur itu bisa dipakai sebagai sarana pendidikan (didaktik), tetapi di sini dipakai untuk penyesatan/penipuan. Karena itu dalam ayat 3 pemazmur terdorong mengajukan pertanyaan retoris terhadap pendusta/penipu itu: “Apakah yang diberikan kepadamu dan apakah yang ditambahkan kepadamu, hai lidah penipu?” Jawabannya jelas dalam ayat 4: ia tidak mendapat apa-apa, selain kekerasan yang pasti menimpa penipu-pendusta itu. Secara khusus di sini disebutkan dua bentuk kekerasan: panah tajam, bara kayu arar. Panah menusuk, melukai; bara api menghanguskan, membakar. Para pendusta/penipu pasti mengalami kengerian seperti ini. Itu keyakinan pemazmur.
Rupanya pengalaman pemazmur ini bertolak dari pengalaman kongkret yaitu pergaulan dengan orang yang tidak menghendaki hidup rukun, perdamaian, melainkan pertikaian, peperangan. Pemazmur menyebut nama tempat Mesekh dan Kedar (ay 5). Rupanya orang di sana adalah orang yang tidak mau hidup berdampingan secara damai dengan orang lain, dengan orang asing, dengan pendatang. Itu sebabnya pemazmur merasa hidup sebagai orang asing di tengah mereka. Ia merasa tidak betah, merasa tidak diterima, karena watak, perilaku, perangai berbeda. Di satu pihak, pemazmur yakin bahwa ia adalah orang suka damai, dan suka membicarakan perdamaian (ay 7), tetapi orang di sekitarnya membenci perdamaian (ay 6). Mereka mengembangkan wacana berbeda: Pemazmur wacana damai (ay 7), mereka wacana perang (ay 7).
Tidak mudah hidup dengan orang seperti itu. Dan itu tidak hanya tantangan bagi pemazmur dulu, tetapi juga tantangan bagi kita sekarang. Betapapun itu tidak mudah, tetapi sebagai pengikut Kristus kita dipanggil untuk hidup berdamai dengan orang lain, sebab Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat 5:9). Kalau kita mau disebut anak-anak Allah, hiduplah dalam damai. Kalau tidak, maka kita adalah.... bisa diisi sendiri.
Bandung, akhir Oktober 2015.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Friday, December 4, 2015
Thursday, November 12, 2015
MEMAHAMI DAN MENIKMAT MAZMUR 119 BAGIAN VI
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dengan ini, akhirnya kita sampai pada bagian akhir dari ulasan singkat mengenai Mazmur 119 yang paling panjang dari antara semua mazmur-mazmur yang lain (mencapai 176 ayat). Ini adalah bagian yang keenam. Seperti biasa saya akan membagi bagian akhir Mazmur 119 ini dalam beberapa sub-unit lagi. Unit I meliputi ayat 151-160. Unit II meliputi ayat 161-168. Unit III meliputi ayat 169-176. Dalam bagian berikut saya akan mencoba melihat masing-masing bagian itu.
Dalam bagian pertama kita masih dapat merasakan kesinambungan renungan bagian ini dengan bagian yang terdahulu (Bagian V). Misalnya, langsung dalam bagian awal ini, si Pemazmur mengungkapkan kesadarannya bahwa Tuhan dekat padanya dan ia menemukan kebenaran dalam perintah-perintah Tuhan yang ada dalam Taurat-Nya (ay 151). Ia sudah mengetahui hal itu sejak dahulu (ay 152). Ia menempatkan diri dalam relasi yang sangat dekat dengan Allah. Oleh karena itu, ia berdoa agar Allah sudi meringankan deritanya (ay 153), dan mengurus perkaranya (ay 154). Tidak lupa ia juga meminta kepada Allah agar menghidupkan dia sesuai dengan janji-Nya. Dalam konteks itu ia sadar bahwa rahmat Allah itu sangat berlimpah (ay 156). Sebaliknya, orang-orang fasik dan durhaka tidak mendapat shalom (ay 155.157). Alasannya jelas: karena orang-orang ini tidak mencari hukum Allah. Selanjutnya, walau ia dihimpit oleh orang-orang fasik dan durhaka tadi, si pemazmur tidak menyimpang sedikit pun dari jalan Allah. Sebab sangat gampang terjadi bahwa dalam situasi terhimpit orang bisa menjauh dari Tuhan. Tidak demikianlah halnya dengan si pemazmur. Ia merasa bosan melihat orang-orang pengkhianat; ya, kira-kira seperti halnya kita bosan melihat badut-badut politik di TV. Di akhir unit ini si pemazmur lagi-lagi mengatakan bahwa ia tetap cinta akan perintah-perintah Allah (ay 159), dan ia ingin hidup oleh kasih setia (hesed) Allah. Ia yakin karena firman Tuhan itu kokoh dan berlaku untuk selama-lamanya. Segala sesuatu boleh berubah, tetapi firman Tuhan akan berlangsung selama-lamanya.
Dalam unit berikut ini (II) ia mulai berbicara tentang relasi dengan penguasa. Para penguasa, mungkin karena kuasa yang ada di tangannya, bisa menjadi sewenang-wenang, menjadi rusak dan busuk, seperti kata Lord Acton itu (power tends to corrupt). Di sini pemazmur merasa dikejar-kejar tanpa alasan yang jelas; tetapi walau demikian ia tidak takut karena ia berharap pada Allah, ia mengharapkan pertolongan dari Allah sendiri (ay 161). Oleh karena itu, hidupnya pun ditandai oleh kegembiraan, karena ia berharap pada janji Allah; dan sukacita itu besar (ay 162). Ia cinta akan Taurat dan karena itu ia tidak akan dusta (ay 163). Dalam ay 164 ia menyinggung tentang tradisi tujuh-waktu doa Yahudi, yang juga ada dalam tradisi Kristiani. Si pemazmur yakin bahwa hidup menurut Taurat akan mendatangkan rasa aman dan bahkan nyaman; tidak ada batu sandungan (ay 165). Oleh karena ia melakukan perintah Allah (Taurat), maka ia berharap mendapat shalom (keselamatan) dari Allah (ay 166). Selanjutnya kita melihat bahwa si pemazmur juga amat cinta pada hukum Allah, dan oleh karena itu ia memegangnya dengan teguh (ay 167). Pemazmur merasa bahwa hidupnya serba terbuka (sama sekali tidak ada yang tertutup) di hadapan Allah, dan oleh karena itu ia tidak mau menyimpang dari hukum-hukum Allah.
Akhirnya kita sampai ke Unit ke-III. Dalam dua ayat awal dari penggalan ini ia melukiskan diri sedang berdoa dan ia berharap bahwa doanya sampai ke hadapan Allah; ia juga berharap, moga-moga Allah segera membebaskan dia (ay 169-170). Doa-doa itu masih diteruskan dalam ayat berikut ini: (ay 171-172). Ia memberikan juga alasan bagi doa dan pujian itu: alasannya tidak lain ialah karena perintah Allah itu benar dan karena Allah mengajarkan ketetapan-ketetapanNya kepadanya. Doa itu diteruskan dalam ay 173, di mana ia berharap agar Allah dapat menjadi penolong baginya. Dalam tiga ayat yang terakhir terasa ada sebuah hal yang baru dan semakin menarik juga. Pertama, ia sedang mengungkapkan rasa rindunya akan Allah. Kedua, ia meminta juga agar Allah membiarkan jiwanya tetap hidup. Ketiga, ia berharap agar Allah mencari dia jika dia tersesat laksana domba yang hilang itu dalam kisah-kisah injil (174, 175, 176). Jadi, Mazmur ini ditutup dengan sebuah metaphor, yaitu Allah sebagai sang gembala, tema yang sudah sering sekali muncul dalam Kitab Suci kita.
Bandung, akhir Oktober 2015.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.
Dengan ini, akhirnya kita sampai pada bagian akhir dari ulasan singkat mengenai Mazmur 119 yang paling panjang dari antara semua mazmur-mazmur yang lain (mencapai 176 ayat). Ini adalah bagian yang keenam. Seperti biasa saya akan membagi bagian akhir Mazmur 119 ini dalam beberapa sub-unit lagi. Unit I meliputi ayat 151-160. Unit II meliputi ayat 161-168. Unit III meliputi ayat 169-176. Dalam bagian berikut saya akan mencoba melihat masing-masing bagian itu.
Dalam bagian pertama kita masih dapat merasakan kesinambungan renungan bagian ini dengan bagian yang terdahulu (Bagian V). Misalnya, langsung dalam bagian awal ini, si Pemazmur mengungkapkan kesadarannya bahwa Tuhan dekat padanya dan ia menemukan kebenaran dalam perintah-perintah Tuhan yang ada dalam Taurat-Nya (ay 151). Ia sudah mengetahui hal itu sejak dahulu (ay 152). Ia menempatkan diri dalam relasi yang sangat dekat dengan Allah. Oleh karena itu, ia berdoa agar Allah sudi meringankan deritanya (ay 153), dan mengurus perkaranya (ay 154). Tidak lupa ia juga meminta kepada Allah agar menghidupkan dia sesuai dengan janji-Nya. Dalam konteks itu ia sadar bahwa rahmat Allah itu sangat berlimpah (ay 156). Sebaliknya, orang-orang fasik dan durhaka tidak mendapat shalom (ay 155.157). Alasannya jelas: karena orang-orang ini tidak mencari hukum Allah. Selanjutnya, walau ia dihimpit oleh orang-orang fasik dan durhaka tadi, si pemazmur tidak menyimpang sedikit pun dari jalan Allah. Sebab sangat gampang terjadi bahwa dalam situasi terhimpit orang bisa menjauh dari Tuhan. Tidak demikianlah halnya dengan si pemazmur. Ia merasa bosan melihat orang-orang pengkhianat; ya, kira-kira seperti halnya kita bosan melihat badut-badut politik di TV. Di akhir unit ini si pemazmur lagi-lagi mengatakan bahwa ia tetap cinta akan perintah-perintah Allah (ay 159), dan ia ingin hidup oleh kasih setia (hesed) Allah. Ia yakin karena firman Tuhan itu kokoh dan berlaku untuk selama-lamanya. Segala sesuatu boleh berubah, tetapi firman Tuhan akan berlangsung selama-lamanya.
Dalam unit berikut ini (II) ia mulai berbicara tentang relasi dengan penguasa. Para penguasa, mungkin karena kuasa yang ada di tangannya, bisa menjadi sewenang-wenang, menjadi rusak dan busuk, seperti kata Lord Acton itu (power tends to corrupt). Di sini pemazmur merasa dikejar-kejar tanpa alasan yang jelas; tetapi walau demikian ia tidak takut karena ia berharap pada Allah, ia mengharapkan pertolongan dari Allah sendiri (ay 161). Oleh karena itu, hidupnya pun ditandai oleh kegembiraan, karena ia berharap pada janji Allah; dan sukacita itu besar (ay 162). Ia cinta akan Taurat dan karena itu ia tidak akan dusta (ay 163). Dalam ay 164 ia menyinggung tentang tradisi tujuh-waktu doa Yahudi, yang juga ada dalam tradisi Kristiani. Si pemazmur yakin bahwa hidup menurut Taurat akan mendatangkan rasa aman dan bahkan nyaman; tidak ada batu sandungan (ay 165). Oleh karena ia melakukan perintah Allah (Taurat), maka ia berharap mendapat shalom (keselamatan) dari Allah (ay 166). Selanjutnya kita melihat bahwa si pemazmur juga amat cinta pada hukum Allah, dan oleh karena itu ia memegangnya dengan teguh (ay 167). Pemazmur merasa bahwa hidupnya serba terbuka (sama sekali tidak ada yang tertutup) di hadapan Allah, dan oleh karena itu ia tidak mau menyimpang dari hukum-hukum Allah.
Akhirnya kita sampai ke Unit ke-III. Dalam dua ayat awal dari penggalan ini ia melukiskan diri sedang berdoa dan ia berharap bahwa doanya sampai ke hadapan Allah; ia juga berharap, moga-moga Allah segera membebaskan dia (ay 169-170). Doa-doa itu masih diteruskan dalam ayat berikut ini: (ay 171-172). Ia memberikan juga alasan bagi doa dan pujian itu: alasannya tidak lain ialah karena perintah Allah itu benar dan karena Allah mengajarkan ketetapan-ketetapanNya kepadanya. Doa itu diteruskan dalam ay 173, di mana ia berharap agar Allah dapat menjadi penolong baginya. Dalam tiga ayat yang terakhir terasa ada sebuah hal yang baru dan semakin menarik juga. Pertama, ia sedang mengungkapkan rasa rindunya akan Allah. Kedua, ia meminta juga agar Allah membiarkan jiwanya tetap hidup. Ketiga, ia berharap agar Allah mencari dia jika dia tersesat laksana domba yang hilang itu dalam kisah-kisah injil (174, 175, 176). Jadi, Mazmur ini ditutup dengan sebuah metaphor, yaitu Allah sebagai sang gembala, tema yang sudah sering sekali muncul dalam Kitab Suci kita.
Bandung, akhir Oktober 2015.
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.
Friday, October 9, 2015
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 119 BAGIAN V
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Relasi kedekatan dan kecintaan pemazmur dengan Tuhan dan Tauratnya, masih juga menjadi pokok refleksi utama Bagian V ini (sebagaimana Bagian IV). Bagian V ini mencakup ayat-ayat sbb: 121-150. Bagian V ini dapat dibagi menjadi empat bagian. Bagian I: ay 121-128. Bagian II: ay 129-136. Bagian III: ay 137-144. Bagian IV: ay 145-150. Uraian selanjutnya mengikuti alur pembagian di atas, bagian demi bagian.
Dalam Bagian I, refleksi dimulai pemazmur dengan menegaskan bahwa dirinya telah mentaati hukum dan keadilan Tuhan, dan karena itu ia berharap agar Tuhan tidak menyerahkan dirinya kepada para pemerasnya (ay.121). Ia berharap agar orang yang kurang ajar, jangan memeras dirinya; ia juga berharap agar Tuhan menjadi jaminan kebaikan bagi dirinya di hadapan lawannya (ay 122). Rupanya situasi hidup pemazmur sangat gawat, sehingga ia mendambakan janji keselamatan dari Tuhan (ay 123). Atas dasar janji keselamatan itu, pemazmur berharap agar Tuhan memperlakukan dirinya berdasarkan kasih setia-Nya (hesed); ia juga berharap agar Tuhan mengajarkan ketetapan-ketetapanNya kepada dirinya (ay 124), agar ia bisa memahami semuanya itu (ay 125) sebab dirinya adalah hamba Tuhan. Di tengah masyarakat manusia ini ada juga orang yang tidak taat kepada Taurat Tuhan, bahkan mereka merombak Taurat itu, maka pemazmur berharap agar Tuhan segera bertindak agar mereka tidak mendatangkan kerusakan yang lebih parah (ay 126). Dalam hidup di dunia ini, pemazmur mencintai Taurat Tuhan melebihi apa pun, termasuk barang paling berharga di mata manusia (emas; ay 127). Karena ia mencintai Taurat Tuhan maka ia menjalani hidup jujur menurut perintah Tuhan, dan ia menjauhi hidup yang penuh dusta (ay 128).
Dalam Bagian II, refleksi pemazmur dilanjutkan dengan pengalamannya akan Hukum Tuhan yang serba ajaib, dan karena itu ia berpegang teguh padanya (ay 129). Bagi orang yang tekun mencari Firman Tuhan, maka firman itu akan tersingkap dan apabila ia tersingkap maka Firman itu akan menerangi jalan hidup manusia (ay 130); bahkan orang bodoh pun bisa mendapat pencerahan dan pengertian karena Firman ini. Dalam ay 131 kita menemukan metafora yang menarik: karena sangat mendambakan Hukum Tuhan, maka pemazmur merasa bahwa mulutnya menganga dan megap-megap karena terengah oleh rindu (ay 131). Dalam megap-megap rindu itu, ia berharap agar Tuhan berpaling segera kepadanya sebagaimana sudah seharusnya sikap Tuhan terhadap orang yang mencintaiNya (ay 132). Lalu ia memohon dua hal: agar Tuhan meneguhkan langkahnya, dan agar jangan sampai ia dikuasai oleh yang jahat (ay 133). Pemazmur juga berharap agar Tuhan membebaskan dia dari pemeras (ay 134). Ia juga berharap agar Tuhan menyinari wajahnya dengan cahaya wajahNya dan juga agar Tuhan mengajarkan ketetapanNya kepada dirinya (ay 135). Bagian ini ditutup dengan refleksi personal di mana ia menjadi sedih dan menangis karena orang di sekitarnya hidup tanpa berpegang pada Taurat (ay 136). Dengan kata lain, sikap hidup manusia yang tiada mempedulikan Taurat Tuhan, membuat dia menjadi bersedih hati.
Bagian III dilanjutkan dengan refleksi teologis mengenai keadilan dan hukum Tuhan; ia mengalami secara nyata bahwa Tuhan itu adil dan hukumNya benar (ay 137). Pemazmur juga mengalami bahwa Tuhan memerintah dengan keadilan dan kesetiaan, dua sifat Tuhan (ay 138). Pemazmur merasa bahwa ia mencintai Hukum Tuhan; cinta itu diibaratkannya laksana api yang berkobar-kobar dan membakar sampai ia merasa terhangus karena menyaksikan orang yang tiada mempedulikan hukum Tuhan (ay 139). Dalam ay 140 pemazmur melanjutkan refleksi mengenai setia-janji Tuhan, hal mana menyebabkan para hambaNya mencintai janji tersebut. Kemudian refleksi pemamzur menukik ke dalam dirinya dan ia sampai pada sebuah kesadaran paradoksal: walau pun ia merasa kecil dan hina-dina, namun dalam kedinaannya ia tidak melupakan perintah Tuhan (ay 141). Pemazmur juga sadar bahwa keadilan dan Hukum Tuhan akan berlangsung hingga kekal (ay 142). Selanjutnya dalam ay 143, kembali pemazmur berefleksi menukik ke dalam hidupnya sendiri: walau ia terdesak dan tersesak, namun kondisi itu tidak sampai menyebabkan dia lupa hukum Tuhan; sebaliknya ia sangat menyukai hukum Tuhan. Dalam ay 144 kita menemukan sebuah unsur menarik: ia meminta agar Tuhan menumbuhkan pengertian dalam dirinya akan peringatan Tuhan yang adil, dan pengertian itu akan menjadi prasyarat hidup baginya. Dengan kata lain, ia meminta agar ia hidup di atas dasar pengertian dan pemahaman akan perintah Tuhan.
Bagian IV dimulai dengan dialog yang dengan Tuhan. Ia berharap agar Tuhan menjawab seruannya (ay 145). Ia memohon agar Tuhan sudi menyelamatkan dirinya (ay 146). Menarik bahwa untuk kedua ayat ini (145-146) ia teguhkan dengan sebuah niat untuk berpegang-teguh pada ketetapan (145) dan peringatan Tuhan (146). Di pagi hari pemazmur sudah berseru kepada Tuhan (doa pagi) agar Tuhan menolongnya (ay 147). Sebelum waktu jaga malam tiba, pemazmur sudah bangun untuk merenungkan janji Tuhan (ay 148), sebuah cara hidup yang benar-benar berdisiplin di dalam Tuhan. Tiada hentinya pemazmur berharap agar Tuhan mendengarkan suaranya karena Tuhan itu penuh kasih dan setia; ia juga berharap agar Tuhan menghidupkan dia sesuai dengan hukumNya (ay 149). Untaian refleksi ini ditutup dalam ay 150 dengan sebuah refleksi yang paradoksal: orang yang berniat jahat terhadap pemamzur mendekati dirinya, tetapi justru dengan itu sebaliknya mereka semakin menjauh dari Taurat Tuhan.
Jakarta, 15 Juli 2015.
Relasi kedekatan dan kecintaan pemazmur dengan Tuhan dan Tauratnya, masih juga menjadi pokok refleksi utama Bagian V ini (sebagaimana Bagian IV). Bagian V ini mencakup ayat-ayat sbb: 121-150. Bagian V ini dapat dibagi menjadi empat bagian. Bagian I: ay 121-128. Bagian II: ay 129-136. Bagian III: ay 137-144. Bagian IV: ay 145-150. Uraian selanjutnya mengikuti alur pembagian di atas, bagian demi bagian.
Dalam Bagian I, refleksi dimulai pemazmur dengan menegaskan bahwa dirinya telah mentaati hukum dan keadilan Tuhan, dan karena itu ia berharap agar Tuhan tidak menyerahkan dirinya kepada para pemerasnya (ay.121). Ia berharap agar orang yang kurang ajar, jangan memeras dirinya; ia juga berharap agar Tuhan menjadi jaminan kebaikan bagi dirinya di hadapan lawannya (ay 122). Rupanya situasi hidup pemazmur sangat gawat, sehingga ia mendambakan janji keselamatan dari Tuhan (ay 123). Atas dasar janji keselamatan itu, pemazmur berharap agar Tuhan memperlakukan dirinya berdasarkan kasih setia-Nya (hesed); ia juga berharap agar Tuhan mengajarkan ketetapan-ketetapanNya kepada dirinya (ay 124), agar ia bisa memahami semuanya itu (ay 125) sebab dirinya adalah hamba Tuhan. Di tengah masyarakat manusia ini ada juga orang yang tidak taat kepada Taurat Tuhan, bahkan mereka merombak Taurat itu, maka pemazmur berharap agar Tuhan segera bertindak agar mereka tidak mendatangkan kerusakan yang lebih parah (ay 126). Dalam hidup di dunia ini, pemazmur mencintai Taurat Tuhan melebihi apa pun, termasuk barang paling berharga di mata manusia (emas; ay 127). Karena ia mencintai Taurat Tuhan maka ia menjalani hidup jujur menurut perintah Tuhan, dan ia menjauhi hidup yang penuh dusta (ay 128).
Dalam Bagian II, refleksi pemazmur dilanjutkan dengan pengalamannya akan Hukum Tuhan yang serba ajaib, dan karena itu ia berpegang teguh padanya (ay 129). Bagi orang yang tekun mencari Firman Tuhan, maka firman itu akan tersingkap dan apabila ia tersingkap maka Firman itu akan menerangi jalan hidup manusia (ay 130); bahkan orang bodoh pun bisa mendapat pencerahan dan pengertian karena Firman ini. Dalam ay 131 kita menemukan metafora yang menarik: karena sangat mendambakan Hukum Tuhan, maka pemazmur merasa bahwa mulutnya menganga dan megap-megap karena terengah oleh rindu (ay 131). Dalam megap-megap rindu itu, ia berharap agar Tuhan berpaling segera kepadanya sebagaimana sudah seharusnya sikap Tuhan terhadap orang yang mencintaiNya (ay 132). Lalu ia memohon dua hal: agar Tuhan meneguhkan langkahnya, dan agar jangan sampai ia dikuasai oleh yang jahat (ay 133). Pemazmur juga berharap agar Tuhan membebaskan dia dari pemeras (ay 134). Ia juga berharap agar Tuhan menyinari wajahnya dengan cahaya wajahNya dan juga agar Tuhan mengajarkan ketetapanNya kepada dirinya (ay 135). Bagian ini ditutup dengan refleksi personal di mana ia menjadi sedih dan menangis karena orang di sekitarnya hidup tanpa berpegang pada Taurat (ay 136). Dengan kata lain, sikap hidup manusia yang tiada mempedulikan Taurat Tuhan, membuat dia menjadi bersedih hati.
Bagian III dilanjutkan dengan refleksi teologis mengenai keadilan dan hukum Tuhan; ia mengalami secara nyata bahwa Tuhan itu adil dan hukumNya benar (ay 137). Pemazmur juga mengalami bahwa Tuhan memerintah dengan keadilan dan kesetiaan, dua sifat Tuhan (ay 138). Pemazmur merasa bahwa ia mencintai Hukum Tuhan; cinta itu diibaratkannya laksana api yang berkobar-kobar dan membakar sampai ia merasa terhangus karena menyaksikan orang yang tiada mempedulikan hukum Tuhan (ay 139). Dalam ay 140 pemazmur melanjutkan refleksi mengenai setia-janji Tuhan, hal mana menyebabkan para hambaNya mencintai janji tersebut. Kemudian refleksi pemamzur menukik ke dalam dirinya dan ia sampai pada sebuah kesadaran paradoksal: walau pun ia merasa kecil dan hina-dina, namun dalam kedinaannya ia tidak melupakan perintah Tuhan (ay 141). Pemazmur juga sadar bahwa keadilan dan Hukum Tuhan akan berlangsung hingga kekal (ay 142). Selanjutnya dalam ay 143, kembali pemazmur berefleksi menukik ke dalam hidupnya sendiri: walau ia terdesak dan tersesak, namun kondisi itu tidak sampai menyebabkan dia lupa hukum Tuhan; sebaliknya ia sangat menyukai hukum Tuhan. Dalam ay 144 kita menemukan sebuah unsur menarik: ia meminta agar Tuhan menumbuhkan pengertian dalam dirinya akan peringatan Tuhan yang adil, dan pengertian itu akan menjadi prasyarat hidup baginya. Dengan kata lain, ia meminta agar ia hidup di atas dasar pengertian dan pemahaman akan perintah Tuhan.
Bagian IV dimulai dengan dialog yang dengan Tuhan. Ia berharap agar Tuhan menjawab seruannya (ay 145). Ia memohon agar Tuhan sudi menyelamatkan dirinya (ay 146). Menarik bahwa untuk kedua ayat ini (145-146) ia teguhkan dengan sebuah niat untuk berpegang-teguh pada ketetapan (145) dan peringatan Tuhan (146). Di pagi hari pemazmur sudah berseru kepada Tuhan (doa pagi) agar Tuhan menolongnya (ay 147). Sebelum waktu jaga malam tiba, pemazmur sudah bangun untuk merenungkan janji Tuhan (ay 148), sebuah cara hidup yang benar-benar berdisiplin di dalam Tuhan. Tiada hentinya pemazmur berharap agar Tuhan mendengarkan suaranya karena Tuhan itu penuh kasih dan setia; ia juga berharap agar Tuhan menghidupkan dia sesuai dengan hukumNya (ay 149). Untaian refleksi ini ditutup dalam ay 150 dengan sebuah refleksi yang paradoksal: orang yang berniat jahat terhadap pemamzur mendekati dirinya, tetapi justru dengan itu sebaliknya mereka semakin menjauh dari Taurat Tuhan.
Jakarta, 15 Juli 2015.
Monday, September 7, 2015
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 119 BGN IV
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dari penggal Mazmur ini kita bisa melihat betapa kuat dan dalamnya relasi pemazmur dengan Taurat. Relasi itulah yang menjadi pokok refleksi pemazmur dalam penggal keempat ini. Bagian IV dari Mazmur 119 ini mencakup ayat 97-120. Secara garis besar, Bagian IV ini dapat dibagi lagi menjadi tiga unit yang lebih kecil. Unit I terdiri atas ay.97-104; unit II terdiri atas ay.105-112; unit III terdiri atas ay.113-120. Saya akan mencoba mengulasnya dengan mengikuti alur pembagian unit-unit di atas tadi.
Dalam unit pertama, ia semakin secara mendalam melukiskan relasinya dengan Taurat Tuhan. Relasi itu sudah sedemikian rupa sehingga masuk ke dalam relasi cinta; karena ia sangat mencintainya maka ia merenungkannya sepanjang hari (ay.97). Sebagai buah hasilnya, pemazmur merasa bahwa ia lebih bijaksana karena Taurat itu sudah ada dalam dirinya (ay.98), sudah “ditulis dalam hatinya” kalau meminjam gagasan “teologi perjanjian baru” dari Yeremia dan Yehezkiel. Kita bisa menyebut hal ini peran didaktik (didactic role) dari relasi yang intens dengan Taurat; relasi itu mengubah orang dari dalam dan orang itu pun menjadi lebih bijaksana. Peran didaktik itu dilanjutkan dalam dua ayat berikutnya, di mana pemazmur merasa lebih berakal budi (ay.99) dan merasa lebih mengerti (ay.100) karena kedekatan relasinya dengan Taurat Tuhan. Dalam dua ayat berikutnya pemazmur melukiskan dua implikasi praktis dari pengetahuannya akan Taurat. Karena Taurat Tuhan ia menjauhkan langkah kakinya dari lorong kejahatan (ay.101); ia juga tidak mau menyimpang sedikitpun dari Taurat Tuhan, sebab Tuhan sendirilah yang bersabda di dalamnya (ay.102). Pemazmur merasakan betapa Taurat itu sangat manis bagai madu (ay.103). Berkat Taurat itulah ia merasa menjadi lebih berhikmat dan hal itu juga mempunyai implikasi praktis bagi perilaku hidup, yaitu ia benci akan segala dusta (ay.104; ingat perintah ke-8 dari Dekalog).
Di bagian awal unit kedua, kita menemukan sebuah ayat yang terkenal karena menjadi ayat ulangan dalam mazmur antar bacaan: Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku (ay.105). Fungsi Taurat itu tidak lagi hanya untuk mulut, otak, hati, melainkan juga untuk kaki, menjadi petunjuk praktis untuk jalan hidup, perilaku hidup. Bisa dimengerti bahwa pemazmur kembali bersumpah untuk tidak akan pernah meninggalkan hukum Tuhan, melainkan ia akan selalu menepatinya (ay.106). Selanjutnya, kita menemukan lagi sebuah sisi gelap dari hidup pemazmur; ia merasa tertindas, namun demikian ia tetap berharap agar Tuhan menghidupkan dia (ay.107). Ia meminta agar Tuhan senantiasa mengajarkan hukum-Nya kepada dia, dan ia selalu mempunyai kesempatan untuk melambungkan puji-pujian kepada Tuhan; ia yakin bahwa pujian seperti itulah yang sungguh berkenan kepada Tuhan (ay.108). Hidup menurut Taurat Tuhan rupanya selalu mengandung risiko sosial dan moral berupa tantangan dari dunia sekitar; namun demikian pemazmur tidak pernah melupakan Taurat Tuhan (ay.109). Bahkan ada orang fasik yang memasang jerat baginya, tetapi ia tetap tidak tergoda sedikitpun untuk menyimpang dari perintah Tuhan (ay.110). Mungkin kita bertanya, mengapa pemazmur begitu dekat dengan Taurat Tuhan? Jawabannya ada dalam dua ayat terakhir dari unit ini. Itu tidak lain karena Taurat Tuhan sudah menjadi milik pusakanya (ay.111), dan sudah menjadi kecenderungan dasar hidupnya untuk melakukan perintah-perintah Tuhan (ay.112). Taurat sudah menjadi kebiasaan, menjadi habitus baginya.
Dalam unit ketiga, pemazmur merenungkan beberapa hal penting dan menarik. Karena ia sendiri teguh mencintai dan mentaati Taurat Tuhan, maka ia tidak suka akan orang-orang yang suka dilanda bimbang hati dalam melaksanakan Taurat; hal itu berbeda dengan dirinya yang selalu mencintai Taurat tersebut (ay.113). Pemazmur merasa bahwa Tuhanlah pelindung dan perisai hidupnya; maka ia hanya berharap pada firman Tuhan (ay.114). Karena ia sudah mempunyai keinginan kuat untuk berpegang teguh pada firman Tuhan, maka ia menghalau para penjahat (ay.115).
Dalam ayat berikut ada sebuah doa yang dirumuskan dengan sangat indah, di mana pemazmur mengungkapkan harapannya agar Tuhan selalu menopang hidupnya; hal itu penting bagi dia agar ia tidak menjadi malu karena pengharapannya akan Tuhan (ay.116). Doa pengharapan dan permohonan yang indah itu dilanjutkan dalam ayat berikut; di sini ia memakai kata lain tetapi tetap mengungkapkan ide pokok yang sama: sokonglah aku agar ia hidup; kalau ia hidup maka ia akan selalu bersukacita dalam hukum Tuhan (ay.117). Dalam dua ayat berikut pemazmur melukiskan dua model hidup dari orang yang bertentangan dengan Taurat Tuhan; pertama adalah orang-orang yang sesat (ay.118) yang ditolak Tuhan karena tipu muslihat dalam hidup mereka. Kedua adalah orang-orang fasik yang dipandangnya sebagai sanga (KUBI: buih atau kotoran logam yang dilebur; ay.119). Maka di akhir ayat 119 ia kembali menegaskan relasi cintanya dengan Taurat Tuhan. Segi lain dari relasi itu, ia ungkapkan dalam bagian akhir dari unit ini (ay.120). Ia mengungkapkan rasa takutnya akan Tuhan; tetapi takut yang dimaksudkan di sini bukanlah seperti takut akan setan, melainkan sebuah ketakutan yang suci, atau biasa disebut takwa. Jadi, akhirnya, dalam refleksinya, ia bermuara pada ketakwaan. Luar biasa.
Geithersburg, Maryland, USA, Medio Desember 2014.
KUBI: Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Dari penggal Mazmur ini kita bisa melihat betapa kuat dan dalamnya relasi pemazmur dengan Taurat. Relasi itulah yang menjadi pokok refleksi pemazmur dalam penggal keempat ini. Bagian IV dari Mazmur 119 ini mencakup ayat 97-120. Secara garis besar, Bagian IV ini dapat dibagi lagi menjadi tiga unit yang lebih kecil. Unit I terdiri atas ay.97-104; unit II terdiri atas ay.105-112; unit III terdiri atas ay.113-120. Saya akan mencoba mengulasnya dengan mengikuti alur pembagian unit-unit di atas tadi.
Dalam unit pertama, ia semakin secara mendalam melukiskan relasinya dengan Taurat Tuhan. Relasi itu sudah sedemikian rupa sehingga masuk ke dalam relasi cinta; karena ia sangat mencintainya maka ia merenungkannya sepanjang hari (ay.97). Sebagai buah hasilnya, pemazmur merasa bahwa ia lebih bijaksana karena Taurat itu sudah ada dalam dirinya (ay.98), sudah “ditulis dalam hatinya” kalau meminjam gagasan “teologi perjanjian baru” dari Yeremia dan Yehezkiel. Kita bisa menyebut hal ini peran didaktik (didactic role) dari relasi yang intens dengan Taurat; relasi itu mengubah orang dari dalam dan orang itu pun menjadi lebih bijaksana. Peran didaktik itu dilanjutkan dalam dua ayat berikutnya, di mana pemazmur merasa lebih berakal budi (ay.99) dan merasa lebih mengerti (ay.100) karena kedekatan relasinya dengan Taurat Tuhan. Dalam dua ayat berikutnya pemazmur melukiskan dua implikasi praktis dari pengetahuannya akan Taurat. Karena Taurat Tuhan ia menjauhkan langkah kakinya dari lorong kejahatan (ay.101); ia juga tidak mau menyimpang sedikitpun dari Taurat Tuhan, sebab Tuhan sendirilah yang bersabda di dalamnya (ay.102). Pemazmur merasakan betapa Taurat itu sangat manis bagai madu (ay.103). Berkat Taurat itulah ia merasa menjadi lebih berhikmat dan hal itu juga mempunyai implikasi praktis bagi perilaku hidup, yaitu ia benci akan segala dusta (ay.104; ingat perintah ke-8 dari Dekalog).
Di bagian awal unit kedua, kita menemukan sebuah ayat yang terkenal karena menjadi ayat ulangan dalam mazmur antar bacaan: Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku (ay.105). Fungsi Taurat itu tidak lagi hanya untuk mulut, otak, hati, melainkan juga untuk kaki, menjadi petunjuk praktis untuk jalan hidup, perilaku hidup. Bisa dimengerti bahwa pemazmur kembali bersumpah untuk tidak akan pernah meninggalkan hukum Tuhan, melainkan ia akan selalu menepatinya (ay.106). Selanjutnya, kita menemukan lagi sebuah sisi gelap dari hidup pemazmur; ia merasa tertindas, namun demikian ia tetap berharap agar Tuhan menghidupkan dia (ay.107). Ia meminta agar Tuhan senantiasa mengajarkan hukum-Nya kepada dia, dan ia selalu mempunyai kesempatan untuk melambungkan puji-pujian kepada Tuhan; ia yakin bahwa pujian seperti itulah yang sungguh berkenan kepada Tuhan (ay.108). Hidup menurut Taurat Tuhan rupanya selalu mengandung risiko sosial dan moral berupa tantangan dari dunia sekitar; namun demikian pemazmur tidak pernah melupakan Taurat Tuhan (ay.109). Bahkan ada orang fasik yang memasang jerat baginya, tetapi ia tetap tidak tergoda sedikitpun untuk menyimpang dari perintah Tuhan (ay.110). Mungkin kita bertanya, mengapa pemazmur begitu dekat dengan Taurat Tuhan? Jawabannya ada dalam dua ayat terakhir dari unit ini. Itu tidak lain karena Taurat Tuhan sudah menjadi milik pusakanya (ay.111), dan sudah menjadi kecenderungan dasar hidupnya untuk melakukan perintah-perintah Tuhan (ay.112). Taurat sudah menjadi kebiasaan, menjadi habitus baginya.
Dalam unit ketiga, pemazmur merenungkan beberapa hal penting dan menarik. Karena ia sendiri teguh mencintai dan mentaati Taurat Tuhan, maka ia tidak suka akan orang-orang yang suka dilanda bimbang hati dalam melaksanakan Taurat; hal itu berbeda dengan dirinya yang selalu mencintai Taurat tersebut (ay.113). Pemazmur merasa bahwa Tuhanlah pelindung dan perisai hidupnya; maka ia hanya berharap pada firman Tuhan (ay.114). Karena ia sudah mempunyai keinginan kuat untuk berpegang teguh pada firman Tuhan, maka ia menghalau para penjahat (ay.115).
Dalam ayat berikut ada sebuah doa yang dirumuskan dengan sangat indah, di mana pemazmur mengungkapkan harapannya agar Tuhan selalu menopang hidupnya; hal itu penting bagi dia agar ia tidak menjadi malu karena pengharapannya akan Tuhan (ay.116). Doa pengharapan dan permohonan yang indah itu dilanjutkan dalam ayat berikut; di sini ia memakai kata lain tetapi tetap mengungkapkan ide pokok yang sama: sokonglah aku agar ia hidup; kalau ia hidup maka ia akan selalu bersukacita dalam hukum Tuhan (ay.117). Dalam dua ayat berikut pemazmur melukiskan dua model hidup dari orang yang bertentangan dengan Taurat Tuhan; pertama adalah orang-orang yang sesat (ay.118) yang ditolak Tuhan karena tipu muslihat dalam hidup mereka. Kedua adalah orang-orang fasik yang dipandangnya sebagai sanga (KUBI: buih atau kotoran logam yang dilebur; ay.119). Maka di akhir ayat 119 ia kembali menegaskan relasi cintanya dengan Taurat Tuhan. Segi lain dari relasi itu, ia ungkapkan dalam bagian akhir dari unit ini (ay.120). Ia mengungkapkan rasa takutnya akan Tuhan; tetapi takut yang dimaksudkan di sini bukanlah seperti takut akan setan, melainkan sebuah ketakutan yang suci, atau biasa disebut takwa. Jadi, akhirnya, dalam refleksinya, ia bermuara pada ketakwaan. Luar biasa.
Geithersburg, Maryland, USA, Medio Desember 2014.
KUBI: Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Tuesday, August 4, 2015
MENIKMATI MAZMUR 119 BAGIAN III
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Refleksi pemazmur dalam bagian terdahulu, dilanjutkan terus di sini, sehingga refleksi itu harus dilihat sebagai satu kesatuan utuh. Sekarang saya mau membahas penggal yang ketiga. Bagian III dari Mazmur 119 ini mencakup ayat 73-96. Secara garis besar, Bagian III ini dapat dibagi lagi menjadi tiga unit yang lebih kecil. Unit I terdiri atas ay.73-80; unit II terdiri atas ay.81-88; unit III terdiri atas ay.89-96. Saya akan mencoba mengulasnya dengan mengikuti alur pembagian unit-unit di atas tadi.
Dalam unit pertama, pemazmur merenungkan beberapa hal penting. Pertama, ia merenungkan misteri awal mula hidup dan keberadaannya di dunia ini: ia mengaku dengan rendah hati bahwa Tuhanlah yang telah menjadikan dia (ay.73). Oleh karena itu ia pun memohon agar Tuhan sudi memberinya pengertian agar ia dapat mempelajari perintah Tuhan. Ia juga hidup dengan berharap pada firman Tuhan (ay.74) dan hal itu menimbulkan rasa sukacita dalam diri orang-orang yang takut akan Tuhan. Ia juga menyadari bahwa hukum-hukum Tuhan itu adil dan keadilan hukum Tuhan itulah yang terkadang menghukum dia dan hal itu pasti terasa pedih sebagai orang yang beriman sebab di sini terasa sesuatu yang bertentangan (ay.75). Kemudian dalam lima ayat berturut-turut pemazmur seakan-akan menampakkan sikap pasrahnya kepada kerahiman dan penyelenggaraan Tuhan. Hal itu tampak jelas dalam pemakaian kata biarlah yang muncul di awal dari masing-masing kelima ayat tadi. Dua kata biarlah yang pertama (ay.76-77) menyangkut dirinya sendiri: Ia ingin agar kasih setia Tuhan menjadi penghiburannya; ia juga ingin agar rahmat Tuhan menjadi sumber kehidupannya. Dua kata biarlah berikutnya (ay.78-79) menyangkut orang-orang lain di sekitarnya: Ia juga berharap agar semua kebaikan Tuhan terhadap dirinya bisa mendatangkan efek pertobatan bagi orang-orang yang selama ini berlaku kurang ajar terhadapnya. Dan satu kata biarlah yang terakhir (ay 80) kembali menyangkut dirinya sendiri: Ia berharap agar ia tetap mempunyai hati yang tulus dalam mengikuti ketetapan Tuhan, dengan demikian ia tidak akan mendapat malu.
Dalam unit kedua, kita dapat membayangkan betapa situasi pemazmur ini berat karena ia dikejar-kejar orang tanpa alasan yang jelas, juga karena ada orang yang memasang jebakan (lubang) bagi langkah kakinya (ay.84-86). Dalam situasi seperti ini ia tetap merindukan Tuhan dan pelbagai janjiNya (ay.81-82). Ia rindu agar Tuhan menjadi pokok keselamatannya. Ia rindu agar Tuhan menjadi penghiburannya (bdk.ay.76). Kepengapan situasi hidupnya ia ibaratkan seperti kirbat (kantong air) yang diasapi. Dalam kondisi itu ia tetap tidak melupakan hukum Tuhan (ay.83). Ia merasa bahwa ia sudah hampir sampai pada situasi batas, situasi terjepit oleh para pengejarnya; namun ia tetap tidak meninggalkan Tuhan dan hukumNya (ay.87). Oleh karena itu di akhir unit ini, pemazmur kembali meminta kepada Tuhan agar Tuhan tetap memberikan kehidupan kepadanya agar dalam kesempatan hidup yang kedua itu, ia masih tetap bisa bersaksi tentang hidup dan kasih setia Tuhan, dengan cara berpegang teguh pada peringatan Tuhan (ay.88).
Dalam unit ketiga, pemazmur melanjutkan renungannya tentang hidup dan relasinya dengan Tuhan dan sesama. Ia menegaskan bahwa firman Tuhan itu kekal abadi di surga (ay.89). Ia yakin bahwa kesetiaan Tuhan itu tidak akan berkesudahan, sebab akan terus dirasakan dari angkatan yang satu ke angkatan yang lain (ay.90); kesetiaan Tuhan itulah yang menjadikan bumi ini bisa ada dan tegak berdiri kokoh pada tempatnya. Bahkan segala sesuatu bisa berada hanya karena ketetapan hukum Tuhan belaka (ay.91). Hukum-hukum Tuhan itu tidak lain ialah Taurat; dan selama hidupnya pemazmur telah mentaati Taurat; Taurat itu menjadi kegemaran hidupnya, dan itulah yang membuat dia selamat dari sengsara (ay.92). Karena itu, dalam ay.93, pemazmur seakan-akan sedang bersumpah bahwa ia tidak akan melupakan hukum-hukum Tuhan sampai selama-lamanya. Karena selama ini, ia merasa telah hidup menurut hukum Tuhan, maka ia merasa bahwa dirinya adalah milik Tuhan; atas dasar itu ia meminta agar Tuhan menyelamatkan dia (ay.94). Bagi dia, permohonan ini sangat penting, sebab ia berada dalam situasi genting, situasi krisis, yakni adanya ancaman orang fasik, orang yang tidak memperdulikan hukum Tuhan; orang-orang ini menghendaki kebinasaan pemazmur (ay.95). Akhirnya, sampailah pemazmur pada kesadaran bahwa perintah Tuhan itu sangat luas (ay.96), tidak ada batasnya. Dalam hidup di dunia ini, pemazmur merasa sudah pernah melihat batas-batas kesempurnaan, tetapi ia akhirnya sadar bahwa masih ada yang serba melampaui kesempurnaan itu, yakni perintah Tuhan sendiri, yang teramat luas, tiada terselami, tiada terukur oleh akal budi manusia.
Geithersburg, Maryland, USA, Medio Desember 2014.
Refleksi pemazmur dalam bagian terdahulu, dilanjutkan terus di sini, sehingga refleksi itu harus dilihat sebagai satu kesatuan utuh. Sekarang saya mau membahas penggal yang ketiga. Bagian III dari Mazmur 119 ini mencakup ayat 73-96. Secara garis besar, Bagian III ini dapat dibagi lagi menjadi tiga unit yang lebih kecil. Unit I terdiri atas ay.73-80; unit II terdiri atas ay.81-88; unit III terdiri atas ay.89-96. Saya akan mencoba mengulasnya dengan mengikuti alur pembagian unit-unit di atas tadi.
Dalam unit pertama, pemazmur merenungkan beberapa hal penting. Pertama, ia merenungkan misteri awal mula hidup dan keberadaannya di dunia ini: ia mengaku dengan rendah hati bahwa Tuhanlah yang telah menjadikan dia (ay.73). Oleh karena itu ia pun memohon agar Tuhan sudi memberinya pengertian agar ia dapat mempelajari perintah Tuhan. Ia juga hidup dengan berharap pada firman Tuhan (ay.74) dan hal itu menimbulkan rasa sukacita dalam diri orang-orang yang takut akan Tuhan. Ia juga menyadari bahwa hukum-hukum Tuhan itu adil dan keadilan hukum Tuhan itulah yang terkadang menghukum dia dan hal itu pasti terasa pedih sebagai orang yang beriman sebab di sini terasa sesuatu yang bertentangan (ay.75). Kemudian dalam lima ayat berturut-turut pemazmur seakan-akan menampakkan sikap pasrahnya kepada kerahiman dan penyelenggaraan Tuhan. Hal itu tampak jelas dalam pemakaian kata biarlah yang muncul di awal dari masing-masing kelima ayat tadi. Dua kata biarlah yang pertama (ay.76-77) menyangkut dirinya sendiri: Ia ingin agar kasih setia Tuhan menjadi penghiburannya; ia juga ingin agar rahmat Tuhan menjadi sumber kehidupannya. Dua kata biarlah berikutnya (ay.78-79) menyangkut orang-orang lain di sekitarnya: Ia juga berharap agar semua kebaikan Tuhan terhadap dirinya bisa mendatangkan efek pertobatan bagi orang-orang yang selama ini berlaku kurang ajar terhadapnya. Dan satu kata biarlah yang terakhir (ay 80) kembali menyangkut dirinya sendiri: Ia berharap agar ia tetap mempunyai hati yang tulus dalam mengikuti ketetapan Tuhan, dengan demikian ia tidak akan mendapat malu.
Dalam unit kedua, kita dapat membayangkan betapa situasi pemazmur ini berat karena ia dikejar-kejar orang tanpa alasan yang jelas, juga karena ada orang yang memasang jebakan (lubang) bagi langkah kakinya (ay.84-86). Dalam situasi seperti ini ia tetap merindukan Tuhan dan pelbagai janjiNya (ay.81-82). Ia rindu agar Tuhan menjadi pokok keselamatannya. Ia rindu agar Tuhan menjadi penghiburannya (bdk.ay.76). Kepengapan situasi hidupnya ia ibaratkan seperti kirbat (kantong air) yang diasapi. Dalam kondisi itu ia tetap tidak melupakan hukum Tuhan (ay.83). Ia merasa bahwa ia sudah hampir sampai pada situasi batas, situasi terjepit oleh para pengejarnya; namun ia tetap tidak meninggalkan Tuhan dan hukumNya (ay.87). Oleh karena itu di akhir unit ini, pemazmur kembali meminta kepada Tuhan agar Tuhan tetap memberikan kehidupan kepadanya agar dalam kesempatan hidup yang kedua itu, ia masih tetap bisa bersaksi tentang hidup dan kasih setia Tuhan, dengan cara berpegang teguh pada peringatan Tuhan (ay.88).
Dalam unit ketiga, pemazmur melanjutkan renungannya tentang hidup dan relasinya dengan Tuhan dan sesama. Ia menegaskan bahwa firman Tuhan itu kekal abadi di surga (ay.89). Ia yakin bahwa kesetiaan Tuhan itu tidak akan berkesudahan, sebab akan terus dirasakan dari angkatan yang satu ke angkatan yang lain (ay.90); kesetiaan Tuhan itulah yang menjadikan bumi ini bisa ada dan tegak berdiri kokoh pada tempatnya. Bahkan segala sesuatu bisa berada hanya karena ketetapan hukum Tuhan belaka (ay.91). Hukum-hukum Tuhan itu tidak lain ialah Taurat; dan selama hidupnya pemazmur telah mentaati Taurat; Taurat itu menjadi kegemaran hidupnya, dan itulah yang membuat dia selamat dari sengsara (ay.92). Karena itu, dalam ay.93, pemazmur seakan-akan sedang bersumpah bahwa ia tidak akan melupakan hukum-hukum Tuhan sampai selama-lamanya. Karena selama ini, ia merasa telah hidup menurut hukum Tuhan, maka ia merasa bahwa dirinya adalah milik Tuhan; atas dasar itu ia meminta agar Tuhan menyelamatkan dia (ay.94). Bagi dia, permohonan ini sangat penting, sebab ia berada dalam situasi genting, situasi krisis, yakni adanya ancaman orang fasik, orang yang tidak memperdulikan hukum Tuhan; orang-orang ini menghendaki kebinasaan pemazmur (ay.95). Akhirnya, sampailah pemazmur pada kesadaran bahwa perintah Tuhan itu sangat luas (ay.96), tidak ada batasnya. Dalam hidup di dunia ini, pemazmur merasa sudah pernah melihat batas-batas kesempurnaan, tetapi ia akhirnya sadar bahwa masih ada yang serba melampaui kesempurnaan itu, yakni perintah Tuhan sendiri, yang teramat luas, tiada terselami, tiada terukur oleh akal budi manusia.
Geithersburg, Maryland, USA, Medio Desember 2014.
Friday, May 8, 2015
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 119 BAGIAN II
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Secara garis besar, seluruh Bagian II ini melukiskan perjuangan orang yang mencoba hidup dengan setia dalam lorong, ketetapan dan firman Allah. Ia sadar bahwa itu tidak mudah, bahkan menyakitkan, tetapi jika dijalankan dengan tekun, akan mendatangkan buah rohani yang baik dalam hidup orang itu sendiri. Dalam bagian ini saya fokus pada Bagian II, yang mencakup ayat 41-72. Dengan berpatokan pada pemakaian beberapa kata kerja yang ada di sana, saya membagi penggal ini dalam beberapa unit. Unit I: ayat 41-48; unit II: ayat 49-56; unit III: ayat 57-64; unit IV: ayat 65-72.
Saya langsung melihat Unit I. Ayat 41 masih melanjutkan refleksi dari Bagian I. Pemazmur berharap agar kasih setia (hesed) Tuhan menaungi dia (ay.41). Dengan hesed dan shalom Tuhan, ia hadapi para pencelanya selama ini (ay.42). Ia minta agar Tuhan tidak mencabut firmanNya dari mulutnya agar tetap melekat pada mulutnya (ay.43). Lalu dalam 5 ayat berikutnya ia menyatakan niatnya, yang diungkapkan dengan “aku hendak” yang muncul beberapa kali di sini: hendak berpegang pada Taurat Tuhan (ay.44), hendak hidup menurut titah Tuhan (ay 45), hendak berbicara tentang peringatanTuhan (ay 46), hendak bersukacita dalam firman Tuhan (ay 47), hendak merenungkan ketetapan Tuhan (ay 48).
Dalam unit II kita melihat orang yang sungguh berjuang hidup menurut jalan Tuhan. Ia sadar bahwa harapan dapat muncul dalam hatinya karena harapan itu dibangkitkan oleh Firman Tuhan (ay 49). Ia sadar bahwa sumber hiburan baginya ialah janji Tuhan sendiri (ay 50). Ia sadar bahwa untuk hidup dalam lorong Tuhan tidak mudah, sebab ada pencemooh; tetapi cemoohan itu tidak membuat dia menyimpang (ay.51). Sebaliknya, ia semakin ingat akan firman Tuhan, dan hal itu menjadi sumber hiburan baginya (ay 52). Jika ada orang mangkir dari Firman Tuhan, ia akan marah (ay 53). Ia menjadikan hukum Tuhan sebagai nyanyian mazmurnya (ay 54). Ia tidak melupakan nama Tuhan, biarpun itu di waktu malam; ia selalu ingat nama Tuhan (ay 55). Ia mendapati dirinya tetap setia berpegang pada hukum Tuhan (ay 56).
Unit III dimulai dengan sebuah niatan suci (ay 57) untuk selalu berpegang pada firman Tuhan. Atas dasar itu ia berani memohon agar dikasihani Tuhan (ay 58). Ia juga berniat untuk mengatur hidupnya menurut hukum Tuhan (ay 59). Dalam hal ini ia tidak mau menunda-nunda, melainkan ia bertindak segera (ay 60). Ia menegaskan bahwa walaupun ada kesulitan hidup, ia tidak melupakan firman Tuhan (ay 61). Tiada hentinya ia mengucapkan syukur kepada Tuhan, bahkan malam pun tidak menghalangi dia untuk melambungkan puji-syukur itu (ay 62). Ia tidak mau sendirian dalam mengupayakan hidup di jalan Tuhan, melainkan ia mau melakukan hal itu dengan sesama (ay 63). Jika demikian, seluruh bumi penuh kasih setia Tuhan (ay 64); hal itu mendorong pemazmur untuk terus berharap agar Tuhan mengajarkan ketetapanNya kepadanya.
Kita sampai pada Unit IV. Di sini ada beberapa hal menarik. Pertama, ia sadar bahwa Tuhan telah bertindak sesuai firmanNya sendiri, yaitu melakukan kebajikan kepada dirinya (ay 65). Ia merasa bahwa bekal terbaik dalam hidup ini ialah kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, maka ia meminta kepada Tuhan agar Ia sudi mengajarkan hal itu kepadanya (ay 66). Kemudian muncul kesadaran bahwa kesusahan hidupnya (tertindas) disebabkan oleh karena ia menyimpang dari Tuhan (ay 67). Namun Tuhan tetap berbuat baik kepadanya dengan mengajarkan ketetapanNya kepadanya (ay 68). Tidak mudah untuk hidup saleh dan benar; selalu ada orang yang kurang ajar (ay 69); tetapi ada dan kehadiran mereka itu tidak membuat pemazmur menjadi ciut hati dan menyimpang. Sebaliknya, pemazmur tetap menjadikan ketetapan Tuhan sebagai sumber sukacita hidupnya (ay 70).
Menjelang akhir unit ini (ay 71) kita temukan sebuah paradoks yang amat penting dan menarik, walau tidak mudah dipahami. Pemazmur merasa bahwa situasi ketertindasan hidupnya, mempunyai fungsi didaktis, yaitu supaya ia semakin belajar dan belajar. Jadi, sengsara karena hidup menurut hukum Tuhan itu, dipandang secara positif, mempunyai peranan didaktik dan bahkan penyembuhan (didactic and therapeutic role). Akhirnya seluruh untaian ini diakhiri dengan sebuah perbandingan menarik: Ia merasa bahwa ribuan keping emas dan perak, tidak ada bandingannya sama sekali dengan Taurat yang berasal dari Tuhan sendiri (ay 72).
Catholic University of America, Washington DC, Medio Desember 2014.
Secara garis besar, seluruh Bagian II ini melukiskan perjuangan orang yang mencoba hidup dengan setia dalam lorong, ketetapan dan firman Allah. Ia sadar bahwa itu tidak mudah, bahkan menyakitkan, tetapi jika dijalankan dengan tekun, akan mendatangkan buah rohani yang baik dalam hidup orang itu sendiri. Dalam bagian ini saya fokus pada Bagian II, yang mencakup ayat 41-72. Dengan berpatokan pada pemakaian beberapa kata kerja yang ada di sana, saya membagi penggal ini dalam beberapa unit. Unit I: ayat 41-48; unit II: ayat 49-56; unit III: ayat 57-64; unit IV: ayat 65-72.
Saya langsung melihat Unit I. Ayat 41 masih melanjutkan refleksi dari Bagian I. Pemazmur berharap agar kasih setia (hesed) Tuhan menaungi dia (ay.41). Dengan hesed dan shalom Tuhan, ia hadapi para pencelanya selama ini (ay.42). Ia minta agar Tuhan tidak mencabut firmanNya dari mulutnya agar tetap melekat pada mulutnya (ay.43). Lalu dalam 5 ayat berikutnya ia menyatakan niatnya, yang diungkapkan dengan “aku hendak” yang muncul beberapa kali di sini: hendak berpegang pada Taurat Tuhan (ay.44), hendak hidup menurut titah Tuhan (ay 45), hendak berbicara tentang peringatanTuhan (ay 46), hendak bersukacita dalam firman Tuhan (ay 47), hendak merenungkan ketetapan Tuhan (ay 48).
Dalam unit II kita melihat orang yang sungguh berjuang hidup menurut jalan Tuhan. Ia sadar bahwa harapan dapat muncul dalam hatinya karena harapan itu dibangkitkan oleh Firman Tuhan (ay 49). Ia sadar bahwa sumber hiburan baginya ialah janji Tuhan sendiri (ay 50). Ia sadar bahwa untuk hidup dalam lorong Tuhan tidak mudah, sebab ada pencemooh; tetapi cemoohan itu tidak membuat dia menyimpang (ay.51). Sebaliknya, ia semakin ingat akan firman Tuhan, dan hal itu menjadi sumber hiburan baginya (ay 52). Jika ada orang mangkir dari Firman Tuhan, ia akan marah (ay 53). Ia menjadikan hukum Tuhan sebagai nyanyian mazmurnya (ay 54). Ia tidak melupakan nama Tuhan, biarpun itu di waktu malam; ia selalu ingat nama Tuhan (ay 55). Ia mendapati dirinya tetap setia berpegang pada hukum Tuhan (ay 56).
Unit III dimulai dengan sebuah niatan suci (ay 57) untuk selalu berpegang pada firman Tuhan. Atas dasar itu ia berani memohon agar dikasihani Tuhan (ay 58). Ia juga berniat untuk mengatur hidupnya menurut hukum Tuhan (ay 59). Dalam hal ini ia tidak mau menunda-nunda, melainkan ia bertindak segera (ay 60). Ia menegaskan bahwa walaupun ada kesulitan hidup, ia tidak melupakan firman Tuhan (ay 61). Tiada hentinya ia mengucapkan syukur kepada Tuhan, bahkan malam pun tidak menghalangi dia untuk melambungkan puji-syukur itu (ay 62). Ia tidak mau sendirian dalam mengupayakan hidup di jalan Tuhan, melainkan ia mau melakukan hal itu dengan sesama (ay 63). Jika demikian, seluruh bumi penuh kasih setia Tuhan (ay 64); hal itu mendorong pemazmur untuk terus berharap agar Tuhan mengajarkan ketetapanNya kepadanya.
Kita sampai pada Unit IV. Di sini ada beberapa hal menarik. Pertama, ia sadar bahwa Tuhan telah bertindak sesuai firmanNya sendiri, yaitu melakukan kebajikan kepada dirinya (ay 65). Ia merasa bahwa bekal terbaik dalam hidup ini ialah kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik, maka ia meminta kepada Tuhan agar Ia sudi mengajarkan hal itu kepadanya (ay 66). Kemudian muncul kesadaran bahwa kesusahan hidupnya (tertindas) disebabkan oleh karena ia menyimpang dari Tuhan (ay 67). Namun Tuhan tetap berbuat baik kepadanya dengan mengajarkan ketetapanNya kepadanya (ay 68). Tidak mudah untuk hidup saleh dan benar; selalu ada orang yang kurang ajar (ay 69); tetapi ada dan kehadiran mereka itu tidak membuat pemazmur menjadi ciut hati dan menyimpang. Sebaliknya, pemazmur tetap menjadikan ketetapan Tuhan sebagai sumber sukacita hidupnya (ay 70).
Menjelang akhir unit ini (ay 71) kita temukan sebuah paradoks yang amat penting dan menarik, walau tidak mudah dipahami. Pemazmur merasa bahwa situasi ketertindasan hidupnya, mempunyai fungsi didaktis, yaitu supaya ia semakin belajar dan belajar. Jadi, sengsara karena hidup menurut hukum Tuhan itu, dipandang secara positif, mempunyai peranan didaktik dan bahkan penyembuhan (didactic and therapeutic role). Akhirnya seluruh untaian ini diakhiri dengan sebuah perbandingan menarik: Ia merasa bahwa ribuan keping emas dan perak, tidak ada bandingannya sama sekali dengan Taurat yang berasal dari Tuhan sendiri (ay 72).
Catholic University of America, Washington DC, Medio Desember 2014.
MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 119 BGN I
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Ada banyak alasan orang menjadi bahagia dalam hidup di dunia ini. Ada yang bahagia karena tumpukan materi: uang, harta. Ada yang bahagia karena bisa membahagiakan orang lain dalam pelbagai karya pelayanan kemanusiaan, lewat ilmu dan karya kemanusiaan lain. Ada juga orang yang bisa merasa bahagia karena melihat orang lain menderita, kebahagiaan sado-masokhistis. Ada juga orang yang bahagia karena hidup menurut hukum Tuhan yang tertuang dalam kitab-kitabNya.
Itulah yang dibahas dalam Mazmur 119 yang sangat panjang ini: 176 ayat. Karena itu, tidak mungkin dibahas dalam satu uraian. Saya membahasnya dalam enam unit. Pembagiannya saya atur menurut prinsip perimbangan, artinya, membagi mazmur ini dengan membaginya secara imbang; bukan prinsip pembagian berdasarkan dinamika isi mazmur itu. Saya membaginya sbb: Bagian I: ayat 1-40. Bagian II: 41-72. Bagian III: 73-96. Bagian IV: 97-120. Bagian V: 121-150. Bagian VI: 151-176.
Sekarang saya fokus pada Bagian I: 1-40, yang bisa dibagi menjadi beberapa unit: ayat 1-8; ayat 9-16; ayat 17-24; ayat 25-32; ayat 33-40. Mazmur ini dimulai dengan sebuah pernyataan berbahagia. Definisi orang bahagia menurut mazmur ini adalah orang yang hidupnya tidak bercela, dan hidup menurut hukum Tuhan, memegang peringatanNya (ay.1.2). Inilah definisi positif hidup bahagia. Dalam ay 3 ada definisi negatif hidup bahagia, tetapi sekaligus juga menekankan lagi definisi positif. Hukum itu disampaikan Tuhan sendiri (ay.4). Pemazmur menandaskan bahwa arah dan tujuan hidupnya ialah mau memegang ketetapan Tuhan (ay.5). Ia yakin bahwa jika ia memegang hukum Tuhan maka ia tidak mendapat malu (ay.6). Dalam ay 7-8 ia membuat sebuah tekad untuk berpegang teguh pada hukum Tuhan dan ia berharap agar dengan itu Tuhan tidak meninggalkan dia.
Dalam unit II (9-16) ada refleksi mengenai hidup kaum muda yang penuh tantangan dan godaan, tetapi mereka bisa mengatasinya dengan menjaga firman Tuhan (ay.9), dengan mencari Tuhan setiap waktu (ay.10), dengan terus menyimpan janji Tuhan dalam hati (ay.11), dengan meminta kepada Tuhan agar mengajarkan hukum itu kepadanya (ay.12), dengan mewartakan firman itu kepada yang lain (ay.13), dengan merenungkan titah Tuhan dan mengamati jalan Tuhan (ay.15), dengan menyukai firman Tuhan dan tidak melupakannya (ay.16). Orang muda harus mengupayakan hidup yang sukacitanya bukan harta melainkan peringatan Tuhan (ay.14).
Dalam unit III (17-24), ia melanjutkan refleksinya tentang hukum Tuhan. Ia sadar bahwa ia hanya bisa hidup karena hukum Tuhan dan berpegang padaNya (ay.17). Hal itu hanya mungkin jika ia bisa melihat keajaiban Hukum Tuhan (ay.18); maka ia memohon agar Tuhan membuka matanya, meningkatkan kemampuannya melihat keajaiban itu. Ia meminta hal ini karena ia merasa sebagai orang asing di dunia ini (ay.19). Ia juga mengungkapkan kerinduannya akan Hukum Tuhan dengan bahasa puitis: hancur jiwaku karena rindu (ay.20). Ia sadar bahwa Tuhan menghukum manusia jika menyimpang (ay.21). Ia berharap agar Tuhan menghapus cela dari hidupnya karena ia bertekun dalam firmanNya (ay.22). Dalam dua ayat terakhir ia canangkan program hidupnya: hanya merenungkan perintah Tuhan dan menjadikan perintah Tuhan itu sumber kegemaran hidupnya dan ia yakin bahwa dengan itu ia tidak goyah biarpun ada banyak yang merencanakan hal jahat terhadapnya (ay.23-24).
Dalam unit IV (25-32) ada niat untuk hanya hidup semata-mata bagi Tuhan dan melaksanakan hukumNya; hal itu ia ungkapkan dengan pelbagai cara (ay.25.26). Ia mohon agar ia dibantu untuk memahami hukum Tuhan (ay.27). Ia juga memohon agar ia dijauhkan dari jalan dusta (ay.29). Karena Hukum Tuhan telah ia jadikan sebagai jalan hidup (ay.30), maka ia memohon agar setia pada jalan itu (ay.31). Ia merasa bahwa hal itu akan melapangkan hatinya (ay.32). Dalam unit V (33-40) ia meminta beberapa hal penting dalam rangka hidup menurut hukum Tuhan: agar Tuhan menunjukkan hukum itu (ay.33), agar dibantu dalam pemahaman (ay.34), dibantu agar menyukainya (ay.35), dibantu agar hatinya dicondongkan kepada hukum itu (ay.36). Dalam ay.37.39 ia meminta agar Tuhan menghindarkan matanya dari hal-hal hampa (ay.37); ia juga meminta agar ia tidak mendapat celaka (ay.39). Akhirnya dalam ay.38.40, ia meminta agar Tuhan sudi memperkuat niat dan keinginan hatinya (38), dan ia menegaskan bahwa ia sungguh rindu akan hukum Tuhan, dan memohon agar ia boleh hidup berdasarkan keadilan Tuhan (ay.40).
Catholic University of America, Washington DC, Medio Desember 2014.
Ada banyak alasan orang menjadi bahagia dalam hidup di dunia ini. Ada yang bahagia karena tumpukan materi: uang, harta. Ada yang bahagia karena bisa membahagiakan orang lain dalam pelbagai karya pelayanan kemanusiaan, lewat ilmu dan karya kemanusiaan lain. Ada juga orang yang bisa merasa bahagia karena melihat orang lain menderita, kebahagiaan sado-masokhistis. Ada juga orang yang bahagia karena hidup menurut hukum Tuhan yang tertuang dalam kitab-kitabNya.
Itulah yang dibahas dalam Mazmur 119 yang sangat panjang ini: 176 ayat. Karena itu, tidak mungkin dibahas dalam satu uraian. Saya membahasnya dalam enam unit. Pembagiannya saya atur menurut prinsip perimbangan, artinya, membagi mazmur ini dengan membaginya secara imbang; bukan prinsip pembagian berdasarkan dinamika isi mazmur itu. Saya membaginya sbb: Bagian I: ayat 1-40. Bagian II: 41-72. Bagian III: 73-96. Bagian IV: 97-120. Bagian V: 121-150. Bagian VI: 151-176.
Sekarang saya fokus pada Bagian I: 1-40, yang bisa dibagi menjadi beberapa unit: ayat 1-8; ayat 9-16; ayat 17-24; ayat 25-32; ayat 33-40. Mazmur ini dimulai dengan sebuah pernyataan berbahagia. Definisi orang bahagia menurut mazmur ini adalah orang yang hidupnya tidak bercela, dan hidup menurut hukum Tuhan, memegang peringatanNya (ay.1.2). Inilah definisi positif hidup bahagia. Dalam ay 3 ada definisi negatif hidup bahagia, tetapi sekaligus juga menekankan lagi definisi positif. Hukum itu disampaikan Tuhan sendiri (ay.4). Pemazmur menandaskan bahwa arah dan tujuan hidupnya ialah mau memegang ketetapan Tuhan (ay.5). Ia yakin bahwa jika ia memegang hukum Tuhan maka ia tidak mendapat malu (ay.6). Dalam ay 7-8 ia membuat sebuah tekad untuk berpegang teguh pada hukum Tuhan dan ia berharap agar dengan itu Tuhan tidak meninggalkan dia.
Dalam unit II (9-16) ada refleksi mengenai hidup kaum muda yang penuh tantangan dan godaan, tetapi mereka bisa mengatasinya dengan menjaga firman Tuhan (ay.9), dengan mencari Tuhan setiap waktu (ay.10), dengan terus menyimpan janji Tuhan dalam hati (ay.11), dengan meminta kepada Tuhan agar mengajarkan hukum itu kepadanya (ay.12), dengan mewartakan firman itu kepada yang lain (ay.13), dengan merenungkan titah Tuhan dan mengamati jalan Tuhan (ay.15), dengan menyukai firman Tuhan dan tidak melupakannya (ay.16). Orang muda harus mengupayakan hidup yang sukacitanya bukan harta melainkan peringatan Tuhan (ay.14).
Dalam unit III (17-24), ia melanjutkan refleksinya tentang hukum Tuhan. Ia sadar bahwa ia hanya bisa hidup karena hukum Tuhan dan berpegang padaNya (ay.17). Hal itu hanya mungkin jika ia bisa melihat keajaiban Hukum Tuhan (ay.18); maka ia memohon agar Tuhan membuka matanya, meningkatkan kemampuannya melihat keajaiban itu. Ia meminta hal ini karena ia merasa sebagai orang asing di dunia ini (ay.19). Ia juga mengungkapkan kerinduannya akan Hukum Tuhan dengan bahasa puitis: hancur jiwaku karena rindu (ay.20). Ia sadar bahwa Tuhan menghukum manusia jika menyimpang (ay.21). Ia berharap agar Tuhan menghapus cela dari hidupnya karena ia bertekun dalam firmanNya (ay.22). Dalam dua ayat terakhir ia canangkan program hidupnya: hanya merenungkan perintah Tuhan dan menjadikan perintah Tuhan itu sumber kegemaran hidupnya dan ia yakin bahwa dengan itu ia tidak goyah biarpun ada banyak yang merencanakan hal jahat terhadapnya (ay.23-24).
Dalam unit IV (25-32) ada niat untuk hanya hidup semata-mata bagi Tuhan dan melaksanakan hukumNya; hal itu ia ungkapkan dengan pelbagai cara (ay.25.26). Ia mohon agar ia dibantu untuk memahami hukum Tuhan (ay.27). Ia juga memohon agar ia dijauhkan dari jalan dusta (ay.29). Karena Hukum Tuhan telah ia jadikan sebagai jalan hidup (ay.30), maka ia memohon agar setia pada jalan itu (ay.31). Ia merasa bahwa hal itu akan melapangkan hatinya (ay.32). Dalam unit V (33-40) ia meminta beberapa hal penting dalam rangka hidup menurut hukum Tuhan: agar Tuhan menunjukkan hukum itu (ay.33), agar dibantu dalam pemahaman (ay.34), dibantu agar menyukainya (ay.35), dibantu agar hatinya dicondongkan kepada hukum itu (ay.36). Dalam ay.37.39 ia meminta agar Tuhan menghindarkan matanya dari hal-hal hampa (ay.37); ia juga meminta agar ia tidak mendapat celaka (ay.39). Akhirnya dalam ay.38.40, ia meminta agar Tuhan sudi memperkuat niat dan keinginan hatinya (38), dan ia menegaskan bahwa ia sungguh rindu akan hukum Tuhan, dan memohon agar ia boleh hidup berdasarkan keadilan Tuhan (ay.40).
Catholic University of America, Washington DC, Medio Desember 2014.
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...