Oleh: Fransiskus Borgias
Saya menyelesaikan tahun postulant pada Mei 1982. Pada awal Juli, kami terbang dari Ruteng ke Denpasar lalu naik Bis malam ke Yogyakarta. Untuk mempermudah perjalanan, suster-suster FMM di Pagal menjahitkan baju seragam dari bahan sederhana. Mungkin dari gorden jendela. Tetapi kami senang, sebab seragam itu tampak indah saat kami mengenakannya bersama-sama. Tibalah hari terbang itu. Singkat cerita kami pun tiba di Yogyakarta, beberapa hari sesudahnya. Kami istirahat beberapa hari setelah kami ditunjukkan kamar masing-masing. Kami masih harus menunggu beberapa hari untuk Misa penjubahan. Hal itu terjadi tanggal 15 Juli, pada Pesta St. Bonaventura, pelindung biara Papringan itu. Pemimpin novisiat, sudah memberikan beberapa pengarahan kepada kami untuk mempersiapkan diri dalam rangka Misa penjubahan.
Saya tergetar menunggu saat itu sejak di seminari Kisol. Saya membayangkan bagaimana tampaknya diri saya kalau mengenakan jubah coklat tua itu, dengan tali eksotik itu. Keinginan itu tertunda, karena kami harus menempuh masa postulant. Masa itu sudah lewat. Sekarang tinggal beberapa saat lagi saya akan mengenakan jubah coklat tua itu. Jubah yang membuat beberapa frater, romo, bruder tampak berwibawa. “Apakah saya akan berwibawa tatkala saya berjubah?” Pertanyaan itu mengiang-ngiang dalam hati saya. Hal itu meningkatkan penasaran. Hal itu semakin membuat saya rindu akan Misa penjubahan dan berharap hal itu akan mendatangkan mukjizat perubahan, misalnya mungkin saya menjadi lebih tenang, tidak memikirkan, melamunkan hal-hal yang tidak perlu.
Sementara itu sejak hari-hari pertama di Papringan untuk pertama kalinya saya melihat sosok yang selama ini saya kagumi, pater CG. Orangnya tenang. Serius. Sangat tekun bekerja. Tidak banyak bicara. Oh ya, satu hal. Selalu berjubah. Tidak pernah saya melihat dia tanpa jubah. Maksud saya, tidak pernah saya melihat dia berpakaian sipil. Selalu berjubah. Orangnya sangat sederhana. Ia mencuci pakaian sendiri. Tetapi rokok tidak pernah lepas dari tangannya kecuali saat ekaristi, dan tidur. Ia juga makan sangat sedikit. Mati raganya kuat. Saya sungguh mengagumi orang ini. Diam-diam dalam hati, saya yakin bahwa tentu ada mukjizat kalau ia mengenakan jubah terus menerus. Saya pun berniat agar selama masa novisiat ini minimal dua kali saya harus pernah berbicara dengan dia dalam rangka bimbingan rohani. Saya menunggu datangnya saat itu. Entah kapan.
Sementara itu, akhirnya, hari penjubahan pun tiba. Banyak orang ikut perayaan ekaristi penjubahan itu. Senang rasanya, karena kami bertemu banyak orang baru, wajah baru. Pada misa hari itu, kami awali dengan mengenakan baju kami masing-masing yang biasa sehari-hari, kemeja, celana panjang, dan sepatu sandal. Lalu Misa berlangsung seperti biasa sehari-hari. Setelah injil dibacakan, lalu imam pemimpin upacara berkotbah. Lalu tibalah saat itu. Kami, duapuluh frater muda, berdiri dan maju untuk menerima penjubahan itu.
Kami dari Flores, ada 11 orang (Saya, Paskalis B.Syukur, Peter Aman, Karel D.Jande, Yohanes Kasor, Heribertus Ngabut, Yosef Hambur, Yakobus Kila, Raymundus Ngebu, Wilhelmus Mola Wea, Gregorius Podhi). Dari Mertoyudan (ada satu orang, M.C.Prihminto Widodo). Dari Bogor ada empat orang (A.A.Ariwibowo, Hendrikus Parijo, Theodorus Dwi Kunjono, Yonas Kuremas). Dari Papua ada empat orang (Dominikus Minggu, Aloysius Lani, Sylvester Markus Iyayi, Gerry Servatius Takege). Jadi, angkatan novisiat kami duapuluh orang. Konon itulah jumlah pertama yang cukup besar dalam sejarah OFM di Indonesia. Tidak main-main: novisiat berjumlah duapuluh orang. Luar biasa.
Kami diberitahu bahwa jubah yang akan kami pakai pada penjubahan ini adalah jubah bekas. Saya tidak mempersoalkan hal itu. Yang penting itu adalah jubah. Saya pun tidak tahu itu bekas siapa. Pokoknya kami terima saja penjubahan itu. Ketika moment itu tiba, saya berdebar-debar. Jubah itu diserahkan kepada saya, dan saya mengenakannya. Hal itu tidak terlalu masalah karena jubah-jubah itu semuanya berukuran besar dan panjang. Jubah yang saya dapat siang itu, adalah jubah berwarna hitam dan kainnya cukup tebal dan bekas dari seorang imam yang berbadan cukup tinggi. Tatkala saya kenakan, jubah itu kepanjangan. Tetapi kalau saya mengenakan sepatu sandal yang cukup tinggi, jubah itu tetap menutup mata kakiku. Saya biarkan saja. Saya kencangkan talinya dan dengan itu jubah bisa sedikit dinaikkan.
Begitu kami sudah mengenakan jubah, kami sempat berdiri bersama-sama dan tampak bahwa di dalam kebersamaan kami gagah juga. Indah di dalam kebersamaan. Luar biasa. Misa selanjutnya kami rayakan dengan berjubah. Senang rasanya. Saya berdoa agar jubah itu bisa mendatangkan mukjizat perubahan di dalam hidup saya, menjadi lebih tenang, bisa mengendalikan pikiran, dan segala keinginan dan kemauan dalam diri saya sebagai anak muda, sebagai seorang pria.
Sesudah itu masa novisiat kami pun secara resmi dimulai. Rutinitas hidup pun dimulai. Bangun pagi, doa pagi, misa pagi, makan pagi, pelajaran, kerja tangan, makan siang, istirahat siang, kerja tangan sore, belajar, vesper, makan malam, belajar. Pada hari-hari tertentu ada rekreasi satu jam. Jam Sembilan malam ditutup dengan completorium, lalu tidur malam. Semua serba rutin. Termasuk memakai jubah pun menjadi rutin. Biasa-biasa saja rasanya. Hehehehe… tidak lagi menggebu-gebu seperti saat penantian dulu. Tanda apakah ini? Apakah saya sudah mulai bosan? Entahlah?
Untuk memastikan perasaan itu, saya memberanikan diri datang berbicara, meminta bimbingan rohani kepada pater CG. “Pater, saya merasa bahwa setelah memakai jubah ini, saya merasa tetap biasa-biasa saja. Tidak ada yang berubah drastic dalam diri saya. Semua masih seperti kemarin-kemarin. Masalah tetap ada. Apalagi masalah sebagai laki-laki, tetap saja muncul.” Saya serius sekali menyampaikan perjuangan batin saya. Tanpa saya duga tiba-tiba pater CG terbahak-bahak, “Hehehehe... Frans…. kau jangan mengira pakai jubah itu seperti sulap simsalabim, plug, kau masuk jubah, lalu kau jadi malaekat.” Oh iya, suara pater CG itu sengau. “Kau tetaplah seperti kau yang kemarin.” Katanya lagi sambil mengisap rokoknya. “Jubah tidak mengubah kau menjadi malaekat yang mati rasa. Kau tetap manusia, kau tetap pria dengan segala rasa gairahmu.” Isap rokok lagi. Beberapa percikan api rokok itu jatuh ke atas jubahnya. Tetapi pater CG tenang-tenang saja. “Jadi jangan kau bermimpi menjadi orang lain dengan jubah ini. Kau tetaplah kau.” Sesudah itu ia diam lalu tanpa babibu, ia kembali ke bukunya. Mungkin karena saya masih duduk di situ, ia lalu berbalik lagi, “Tunggu apa lagi? Sudah selesai. Hanya itu nasihat saya.” Dengan bergegas saya keluar dari kamarnya. Ada kelegaan. Tetapi bukan lega karena mendapat nasihat rohani. Saya lega karena saya berhasil berbicara dengan dia dari hati ke hati. Setidaknya saya sudah mencoba. Nanti saya coba lagi.
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Friday, May 8, 2020
Thursday, May 7, 2020
ATG: OPA SEPEDA, NONA DAN MESIN TIK LISTRIK
Oleh: Fransiskus Borgias
Pada tahun 1982-1983, saat kami menjalani tahun novisiat di Biara Santo Bonaventura (Bitora), Yogyakarta, saya amati bahwa hampir seminggu sekali kami melihat ada seorang bapa tua yang datang ke Papringan dengan naik sepeda, sambil membonceng cucunya, seorang putri cilik yang manis. Saat turun dari sepeda di bawah naungan pohon yang rindang di halaman depan biara, bapa tua itu mula-mula melepaskan ikatan tali dari bagian bawah sadel sepedanya. Ternyata ia sedang melepaskan ikatan kaki putri cilik itu. Hehehehe…. Saya harus akui dengan jujur bahwa baru pada saat itu saya tahu kalau anak-anak kecil, pada saat mereka naik sepeda, kakinya diikat kain ke depan ke bawah sadel. Hal itu dimaksudkan untuk mencegah jangan sampai kakinya yang menggantung itu masuk ke dalam jari-jari roda sepeda yang berputar kencang. Maklumlah, saya datang dari kampung di Manggarai. Bahkan baru belajar naik sepeda di Papringan, Yogyakarta, itu pun dengan susah payah, penuh cerita pedih dan perih. Mungkin butuh lembar dan waktu lain untuk bisa menceritakan pengalaman itu.
Oke, saya tinggalkan hal itu dan kembali focus ke cerita saya yang awal tadi. Semula saya selalu bertanya dalam hati, siapakah Bapa tua itu, dan untuk apakah bapa tua itu datang ke Papringan. Belakangan barulah saya tahu, bahwa bapa tua itu adalah seorang bapa tua yang biasa membantu pater Cletus untuk mengetik semua naskah tulisan tangan pater Cletus. Wow. Baru pada saat itulah saya mengerti bahwa dia hampir datang setiap minggu ke Papringan. Dari para frater dan bruder senior saya tahu bahwa bapa tua itu mengayuh sepeda cukup jauh, katanya. Tetapi pada mulanya saya tidak bisa membayangkan jauhnya karena pada awal-awal saya tinggal di Yogyakarta, saya juga belum bisa ke mana-mana karena belum bisa naik sepeda. Paling-paling naik sepedanya masih di dalam pagar biara, di dalam kebun dan itupun dengan pengalaman jatuh bangun. Keberanian untuk keluar dari pagar biara belum ada, apalagi kalau harus sampai pergi jauh di tengah keramaian kota. Serem rasanya. Padahal pada saat itu, semua orang juga bersepeda. Yogya, lautan sepeda. Sungguh. Terkesan seperti semut sepeda saja.
Kembali ke bapa tua itu. Bapa tua itu ternyata tukang ketik tulisan tangan pater Cletus. Hemmmm…. Sungguh luar biasa. Maka bisa dipastikan bahwa semua buku-buku dan semua artikel, semua bahan ceramah hasil karya Pater Cletus Groenen yang terbit, sebelumnya pasti sudah dibaca juga terlebih dahulu oleh bapa tua itu. Saya membayangkan betapa luar biasanya pengetahuan bapa tua itu. Semua pergulatan intelektual dan rohani pater Groenen dia ikuti juga karena ia mengetiknya. Wonderful, cos it is full of wonder. Kalau buku-buku ataupun artikel-artikel dari Pater Groenen itu bisa menyapa dan berbicara kepada para pembacanya setelah diterbitkan, maka mungkin saja mereka itu (baca: teks-teks terbitan) akan mengatakan kepada para pembacanya: sebelum aku ada di depan matamu (dan kamu baca), aku sudah ada di depan mata si bapa tua tukang ketik dari mBener itu, aku sudah menari-nari di depan mata dia, aku juga sudah menjadi kesenangan dan buah ketekunan dia. Hemmmm…. Saya membayangkan mungkin juga teks-teks pater Groenen itu sudah menuntun, membimbing, mencerahkan, menantang, dan mungkin juga membuat dia bingung dan bertanya-tanya. Entahlah. Saya ini kan hanya menerka dan menduga saja. Saya menyaksikan adegan kunjungan itu hampir setiap minggu selama saya menjalani masa novisiat kami. Sesudah menyelesaikan masa novisiat, maka pada bulan Juni 1983, kami berpindah ke Jakarta, karena kami harus menempuh kuliah filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Studi itu dilakukan selama tiga tahun. Itu berarti kami selesaikan studi kami tahun 1986. Lalu kami pindah lagi ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan teologi di Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta. Sebuah pengalaman yang menarik dan menyenangkan juga.
Pada tahun 1986, saat kami kembali lagi ke Yogya, setelah kami menyelesaikan studi filsafat kami di STF Driyarkara Jakarta, kami masih beberapa kali melihat bapa tua itu datang. Tetapi pada saat itu saya melihat bahwa bapa tua itu memang sudah sangat tua. Genjotan sepedanya sudah tidak lagi segesit dan sekencang tiga atau empat tahun silam. Ia sudah dimakan usia. Factor U memang tidak bisa ditipu, tidak bisa ditantang. Ia datang begitu saja. Makanya saya bisa mengerti bahwa kali ini, si bapa tua itu sudah tidak lagi datang dengan membonceng cucunya. Mungkin cucu putri itu sudah gede, sudah tidak mau lagi ikut sang eyang kakung karena hal itu akan semakin membebani si bapa tua itu. Ya, mungkin putri itu sudah menjadi remaja, Bahasa sekarang sudah abg, sehingga tidak mau ikut-ikutan lagi naik sepeda dengan kakek tua. Memang sesudah itu ia tidak pernah datang lagi ke Papringan.
Pada saat itu kami dengar bahwa Pater Bernhard Kiesser SJ menghadiahi beliau dengan sebuah mesin ketik elektrik. Saya tidak tahu persis, apakah mesin tik listrik itu diberikan kepada pater Groenen karena bapa tua tukang ketik itu sudah sungguh-sungguh pensiun, ataukah jangan-jangan bapa tua itu pensiun karena bapa tua Groenen sudah punya mesin tik elektrik. Kalau poin kedua ini yang terjadi, hehehehe…. Kasihan sekali bapa tua itu…. Ia tersingkirkan oleh teknologi mesin ketik yang canggih. Pada waktu itu, mesin tik elektrik sangat canggih. Tetapi saya yakin bapa tua itu pensiun dari pekerjaannya membantu pater Groenen karena sudah tua. Sesudah itu, kami tidak pernah tahu lagi kabar tentang bapa tua itu. Juga kabar tentang cucunya si putri manis yang mungil itu, yang selalu nangkring di belakang sepeda eyang kakungnya, untuk datang menjenguk eyang kakung Groenen di Papringan.
Sekarang kembali lagi ke mesin tik itu. Mesin tik baru itu katanya diberikan sebagai hadiah ulang tahun pater Groenen. Saya membayangkan betapa tidak mudah juga bagi pater Groenen untuk memakai teknologi mesin tik listrik itu. Pasti butuh latihan dan pendampingan juga. Pater Kiesser membantunya dalam hal itu dengan tekun dan setia. Suatu yang sangat luar biasa.
Kembali ke Bapa tua itu. Saya merasa bahwa bapa tua itu sungguh luar biasa, sebab ia bisa membaca tulisan tangan pater Groenen. Kalau ia tidak mahir membacanya, ia pasti kerepotan dan bingung. Jangan-jangan ada yang ditambahkan si bapa tua. Hehehehe…. Memang tulisan tangan pater Groenen sangat jelek. Tidak mudah untuk dibaca. Ya saya mempunyai pengalaman pribadi yaitu terkait dengan proses bimbingan penulisan skripsi saya, yang sudah saya ceritakan kemarin.
Pada tahun 1982-1983, saat kami menjalani tahun novisiat di Biara Santo Bonaventura (Bitora), Yogyakarta, saya amati bahwa hampir seminggu sekali kami melihat ada seorang bapa tua yang datang ke Papringan dengan naik sepeda, sambil membonceng cucunya, seorang putri cilik yang manis. Saat turun dari sepeda di bawah naungan pohon yang rindang di halaman depan biara, bapa tua itu mula-mula melepaskan ikatan tali dari bagian bawah sadel sepedanya. Ternyata ia sedang melepaskan ikatan kaki putri cilik itu. Hehehehe…. Saya harus akui dengan jujur bahwa baru pada saat itu saya tahu kalau anak-anak kecil, pada saat mereka naik sepeda, kakinya diikat kain ke depan ke bawah sadel. Hal itu dimaksudkan untuk mencegah jangan sampai kakinya yang menggantung itu masuk ke dalam jari-jari roda sepeda yang berputar kencang. Maklumlah, saya datang dari kampung di Manggarai. Bahkan baru belajar naik sepeda di Papringan, Yogyakarta, itu pun dengan susah payah, penuh cerita pedih dan perih. Mungkin butuh lembar dan waktu lain untuk bisa menceritakan pengalaman itu.
Oke, saya tinggalkan hal itu dan kembali focus ke cerita saya yang awal tadi. Semula saya selalu bertanya dalam hati, siapakah Bapa tua itu, dan untuk apakah bapa tua itu datang ke Papringan. Belakangan barulah saya tahu, bahwa bapa tua itu adalah seorang bapa tua yang biasa membantu pater Cletus untuk mengetik semua naskah tulisan tangan pater Cletus. Wow. Baru pada saat itulah saya mengerti bahwa dia hampir datang setiap minggu ke Papringan. Dari para frater dan bruder senior saya tahu bahwa bapa tua itu mengayuh sepeda cukup jauh, katanya. Tetapi pada mulanya saya tidak bisa membayangkan jauhnya karena pada awal-awal saya tinggal di Yogyakarta, saya juga belum bisa ke mana-mana karena belum bisa naik sepeda. Paling-paling naik sepedanya masih di dalam pagar biara, di dalam kebun dan itupun dengan pengalaman jatuh bangun. Keberanian untuk keluar dari pagar biara belum ada, apalagi kalau harus sampai pergi jauh di tengah keramaian kota. Serem rasanya. Padahal pada saat itu, semua orang juga bersepeda. Yogya, lautan sepeda. Sungguh. Terkesan seperti semut sepeda saja.
Kembali ke bapa tua itu. Bapa tua itu ternyata tukang ketik tulisan tangan pater Cletus. Hemmmm…. Sungguh luar biasa. Maka bisa dipastikan bahwa semua buku-buku dan semua artikel, semua bahan ceramah hasil karya Pater Cletus Groenen yang terbit, sebelumnya pasti sudah dibaca juga terlebih dahulu oleh bapa tua itu. Saya membayangkan betapa luar biasanya pengetahuan bapa tua itu. Semua pergulatan intelektual dan rohani pater Groenen dia ikuti juga karena ia mengetiknya. Wonderful, cos it is full of wonder. Kalau buku-buku ataupun artikel-artikel dari Pater Groenen itu bisa menyapa dan berbicara kepada para pembacanya setelah diterbitkan, maka mungkin saja mereka itu (baca: teks-teks terbitan) akan mengatakan kepada para pembacanya: sebelum aku ada di depan matamu (dan kamu baca), aku sudah ada di depan mata si bapa tua tukang ketik dari mBener itu, aku sudah menari-nari di depan mata dia, aku juga sudah menjadi kesenangan dan buah ketekunan dia. Hemmmm…. Saya membayangkan mungkin juga teks-teks pater Groenen itu sudah menuntun, membimbing, mencerahkan, menantang, dan mungkin juga membuat dia bingung dan bertanya-tanya. Entahlah. Saya ini kan hanya menerka dan menduga saja. Saya menyaksikan adegan kunjungan itu hampir setiap minggu selama saya menjalani masa novisiat kami. Sesudah menyelesaikan masa novisiat, maka pada bulan Juni 1983, kami berpindah ke Jakarta, karena kami harus menempuh kuliah filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Studi itu dilakukan selama tiga tahun. Itu berarti kami selesaikan studi kami tahun 1986. Lalu kami pindah lagi ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan teologi di Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta. Sebuah pengalaman yang menarik dan menyenangkan juga.
Pada tahun 1986, saat kami kembali lagi ke Yogya, setelah kami menyelesaikan studi filsafat kami di STF Driyarkara Jakarta, kami masih beberapa kali melihat bapa tua itu datang. Tetapi pada saat itu saya melihat bahwa bapa tua itu memang sudah sangat tua. Genjotan sepedanya sudah tidak lagi segesit dan sekencang tiga atau empat tahun silam. Ia sudah dimakan usia. Factor U memang tidak bisa ditipu, tidak bisa ditantang. Ia datang begitu saja. Makanya saya bisa mengerti bahwa kali ini, si bapa tua itu sudah tidak lagi datang dengan membonceng cucunya. Mungkin cucu putri itu sudah gede, sudah tidak mau lagi ikut sang eyang kakung karena hal itu akan semakin membebani si bapa tua itu. Ya, mungkin putri itu sudah menjadi remaja, Bahasa sekarang sudah abg, sehingga tidak mau ikut-ikutan lagi naik sepeda dengan kakek tua. Memang sesudah itu ia tidak pernah datang lagi ke Papringan.
Pada saat itu kami dengar bahwa Pater Bernhard Kiesser SJ menghadiahi beliau dengan sebuah mesin ketik elektrik. Saya tidak tahu persis, apakah mesin tik listrik itu diberikan kepada pater Groenen karena bapa tua tukang ketik itu sudah sungguh-sungguh pensiun, ataukah jangan-jangan bapa tua itu pensiun karena bapa tua Groenen sudah punya mesin tik elektrik. Kalau poin kedua ini yang terjadi, hehehehe…. Kasihan sekali bapa tua itu…. Ia tersingkirkan oleh teknologi mesin ketik yang canggih. Pada waktu itu, mesin tik elektrik sangat canggih. Tetapi saya yakin bapa tua itu pensiun dari pekerjaannya membantu pater Groenen karena sudah tua. Sesudah itu, kami tidak pernah tahu lagi kabar tentang bapa tua itu. Juga kabar tentang cucunya si putri manis yang mungil itu, yang selalu nangkring di belakang sepeda eyang kakungnya, untuk datang menjenguk eyang kakung Groenen di Papringan.
Sekarang kembali lagi ke mesin tik itu. Mesin tik baru itu katanya diberikan sebagai hadiah ulang tahun pater Groenen. Saya membayangkan betapa tidak mudah juga bagi pater Groenen untuk memakai teknologi mesin tik listrik itu. Pasti butuh latihan dan pendampingan juga. Pater Kiesser membantunya dalam hal itu dengan tekun dan setia. Suatu yang sangat luar biasa.
Kembali ke Bapa tua itu. Saya merasa bahwa bapa tua itu sungguh luar biasa, sebab ia bisa membaca tulisan tangan pater Groenen. Kalau ia tidak mahir membacanya, ia pasti kerepotan dan bingung. Jangan-jangan ada yang ditambahkan si bapa tua. Hehehehe…. Memang tulisan tangan pater Groenen sangat jelek. Tidak mudah untuk dibaca. Ya saya mempunyai pengalaman pribadi yaitu terkait dengan proses bimbingan penulisan skripsi saya, yang sudah saya ceritakan kemarin.
Wednesday, May 6, 2020
ATG: MENEBAK TULISAN TANGAN GROENEN
Oleh: Fransiskus Borgias
Dosen dan Peneliti FAKULTAS FILSAFAT UNPAR, Bandung.
Pada tahun 1986-1987 merupakan tahun paling sulit dan berat dalam hidup saya sebagai seorang mahasiswa. Sebab pada kedua tahun itu kami, setidaknya itulah yang saya alami, harus menulis dua skripsi. Yang pertama, skripsi untuk BA Filsafat yang harus saya selesaikan dan serahkan di STF Driyarkara Jakarta. Pada saat itu, saya masih ingat dengan sangat baik, saya dibimbing oleh Pater Alex Lanur OFM. Saya menulis sebuah skripsi kecil dan sederhana dengan judul Ateisme dan Pembebasan. Walaupun itu sebuah skripsi yang kecil dan sederhana, tetapi tetap memerlukan dan mengerahkan energy dan pemikiran yang tidak sedikit, karena harus membaca beberapa buku, harus berdialog dalam proses pembimbingan dengan dosen pembimbing. Bahkan sempat saya hampir batalkan judul itu karena dikritik keras oleh pater Vicente yang saat itu menjadi pemimpin kami di biara Fransiskus Kramat. “Tema itu tidak cocok dengan hidup rohani”, begitu kata pater Vicente kepada saya memberi alasan. Saya mencoba membela diri dengan mengatakan bahwa topik itu sangat saya sukai. Tetapi ya, akhirnya, dengan bantuan pater Alex, saya boleh meneruskan menulis skripsi dengan tema itu. Belum lagi harus berjuang mengantre agar mendapat giliran mesin tik.
Terpaksa harus mengetik di malam hari agar tidak diganggu oleh teman lain yang juga membutuhkan jasa mesin tik itu. Tetapi masalahnya kalau ketik di malam hari, maka suara mesin tik itu akan terasa semakin nyaring di tengah kesunyian malam hari. Tetapi saya tidak pernah kehabisan akal. Biarpun ada cerita serem tentang ruang perpustakaan di biara Fransiskus di Kramat saya tidak takut. Dengan bekal sebungkus rokok gudang garam merah, saya melewatkan malam di sana. Untuk meredam bunyi mesin ketik, maka mesin ketik pun saya alas dengan bantal yang tebal. Bantal itu membantu meredam bunyi mesin tik sehingga tidak mengganggu teman-teman yang lain yang sedang tidur dan mungkin juga sedang bermimpi.
Setelah skripsi selesai saya serahkan ke tata usaha di STF. Dengan itu maka kami pun bisa mengikuti ujian. Puji Tuhan, saya lulus. Setelah tamat dari STF kami pindah ke Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta. Setelah mulai kuliah di sana, ternyata lagi-lagi kami semua diminta untuk menulis skripsi lagi sebagai syarat agar bisa pergi menjalankan Tahun Orientasi Pastoral. Nanti setelah selesai dan pulang dari program TOP kami bisa naik langsung ke persiapan untuk pendadaran Bachaloreat teologi. Mendengar cerita dan kesaksian para senior, serem rasanya mendengar dan membayangkan ujian pendadaran Bachaloreat teologi. Oleh karena itu kami sering memplesetkanya menjadi Bakalruwet teologi, teologi bakalruwet. Hehehehehe…. Dan memang dalam faktanya banyak juga teman yang pusing dan bingung karena keruwetan itu.
Nah pada saat akan menulis skripsi itu saya meminta Pater Cletus Groenen untuk menjadi pendamping dan pembimbing skripsi saya. Dan puji Tuhan, dia menyetujuinya. Judul skripsi saya itu ialah Praksis Perdamaian Fransiskus Asisi. Sebelumnya saya mengajukan judul Konsep Perdamaian Fransiskus Asisi. Tetapi Pater Groenen mengkritik judul itu. Menurut dia bahwa yang bisa kita telusuri hanya praksis hidup, bukan konsep. Praksis itu empiris. Konsep itu teoretikus. Dan Fransiskus bukan homo theoreticus. Kita berharap agar moga-moga via praksis, dengan menelusuri praksis akhirnya nanti kita bisa mencapai sebuah konsep, sebuah gagasan. Tidak terbalik. Akhirnya saya menerima saja pandangan beliau sebagai pembimbing. Tidak boleh membangkang dari awal. Hehehehe…. Nanti repot. Walaupun dalam hati saya ingin sekali mendebat beliau dengan mengatakan bahwa konsep yang ingin saya cari juga via penelusuran praksis hidup kok pater. Tetapi sudahlah. Saya diam saja. Daripada dia nanti ngambek, dan tidak mau lagi menjadi pembimbing saya. Eh ngambek. Belum pernah dengar sih cerita tentang itu.
Nah, di dalam proses diskusi dan bimbingan itulah saya mengalami sangat banyak kesulitan yang tidak mudah. Kesulitan yang paling sering saya alami ialah bahwa saya tidak mudah membaca tulisan tangan Pater Cletus. Ia menulis dengan cepat-cepat sehingga ada banyak huruf yang sudah tidak bisa dibaca lagi. Biasanya pater Cletus catatan koreksi dan catatan kritik yang panjang. Terima kasih untuk hal itu, sehingga saya bisa maju di dalam studi dan penelitian saya. Luar biasa membantu dan memperkaya saya. Catatan-catatan beliau membantu memperdalam eksplorasi saya.
Saya berpikir, daripada saya terus menerus mengganggu dia untuk tanyakan ini dan itu terkait dengan skripsi saya ini, maka saya memutuskan untuk mencoba menerka apa yang ia maksud dengan bentuk huruf-huruf tertentu. Kalau sudah ketemu cara baca yang kiranya saya anggap tepat, maka biasanya saya memberi koreksi atas tulisan tangan beliau lalu saya rekonstruksi ulang catatan kritis dia pada kertas lepas tersendiri. Ya, saya berusaha menerka dan menebak apa yang ia maksud dengan bentuk huruf-huruf tertentu. Saya harus mengakui bahwa hal itu sama sekali tidak mudah.
Dalam saat-saat seperti itu saya membayangkan seorang Bapa Tua yang membantu mengetikkan naskah-naskah tulisan tangan pater Groenen. Kalau bapa tua yang tinggal di mBener, Pingit itu tidak bisa membaca tulisan tangan pater Gronen, maka dia pasti mencoba menerka saja apa yang pater maksudkan. Sebab tidak mungkin bapa tua itu datang tiap hari untuk mengkonfirmasi huruf-huruf tertentu dengan bersepeda dari mBener. Maka langkah “menebak dan menerka” seperti itulah yang saya lakukan. Saya mencoba menerka dari pola huruf dan gerak tangannya. Dan puji Tuhan dalam cukup banyak kasus rasanya saya berhasil membaca atau menebak tulisan tangan dia.
Tetapi pada suatu hari saya menemukan sebuah catatan-catatan yang benar-benar kabur. Saya tidak bisa baca sama sekali. Saya benar-benar bingung. Berulang-ulang kali saya mencoba menerka dengan cara membandingkan dengan huruf-huruf dari bagian-bagian lain dari catatan-catatan dia, tetapi tetap saja tidak bisa. Maka tidak ada jalan dan cara lain. Selain harus datang ke kamar beliau, mengganggu kontemplasi dia di dalam buku-buku. Ya, akhirnya saya datang dengan berani mengetuk pintu kamarnya. Setelah masuk, saya sodorkan kepada dia: “Bagaimana bacanya tulisan yang ini Pater?” Saya menunjuk pada bagian tertentu. Dia mengambil kacamatanya dan mencoba membaca tulisan tangannya sendiri.
Jidatnya mengernyit. Tetapi ia berusaha. Akhirnya: “Ah Frans, saya juga tidak bisa baca lagi saya tulis apa ini?” Dia pun tertawa terbahak-bahak. Saya juga ikut tertawa. “Tetapi sekarang kamu tulis ya. Ini yang saya maksudkan dengan catatan di bagian ini.” Lalu ia diktekan. “Begitu.” Katanya setelah selesai. Saya lega. Lalu saya kembali ke kamarku. Ya hermeneutika imajinasi amat perlu. Bapa tua itu punya hal itu.
Dosen dan Peneliti FAKULTAS FILSAFAT UNPAR, Bandung.
Pada tahun 1986-1987 merupakan tahun paling sulit dan berat dalam hidup saya sebagai seorang mahasiswa. Sebab pada kedua tahun itu kami, setidaknya itulah yang saya alami, harus menulis dua skripsi. Yang pertama, skripsi untuk BA Filsafat yang harus saya selesaikan dan serahkan di STF Driyarkara Jakarta. Pada saat itu, saya masih ingat dengan sangat baik, saya dibimbing oleh Pater Alex Lanur OFM. Saya menulis sebuah skripsi kecil dan sederhana dengan judul Ateisme dan Pembebasan. Walaupun itu sebuah skripsi yang kecil dan sederhana, tetapi tetap memerlukan dan mengerahkan energy dan pemikiran yang tidak sedikit, karena harus membaca beberapa buku, harus berdialog dalam proses pembimbingan dengan dosen pembimbing. Bahkan sempat saya hampir batalkan judul itu karena dikritik keras oleh pater Vicente yang saat itu menjadi pemimpin kami di biara Fransiskus Kramat. “Tema itu tidak cocok dengan hidup rohani”, begitu kata pater Vicente kepada saya memberi alasan. Saya mencoba membela diri dengan mengatakan bahwa topik itu sangat saya sukai. Tetapi ya, akhirnya, dengan bantuan pater Alex, saya boleh meneruskan menulis skripsi dengan tema itu. Belum lagi harus berjuang mengantre agar mendapat giliran mesin tik.
Terpaksa harus mengetik di malam hari agar tidak diganggu oleh teman lain yang juga membutuhkan jasa mesin tik itu. Tetapi masalahnya kalau ketik di malam hari, maka suara mesin tik itu akan terasa semakin nyaring di tengah kesunyian malam hari. Tetapi saya tidak pernah kehabisan akal. Biarpun ada cerita serem tentang ruang perpustakaan di biara Fransiskus di Kramat saya tidak takut. Dengan bekal sebungkus rokok gudang garam merah, saya melewatkan malam di sana. Untuk meredam bunyi mesin ketik, maka mesin ketik pun saya alas dengan bantal yang tebal. Bantal itu membantu meredam bunyi mesin tik sehingga tidak mengganggu teman-teman yang lain yang sedang tidur dan mungkin juga sedang bermimpi.
Setelah skripsi selesai saya serahkan ke tata usaha di STF. Dengan itu maka kami pun bisa mengikuti ujian. Puji Tuhan, saya lulus. Setelah tamat dari STF kami pindah ke Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta. Setelah mulai kuliah di sana, ternyata lagi-lagi kami semua diminta untuk menulis skripsi lagi sebagai syarat agar bisa pergi menjalankan Tahun Orientasi Pastoral. Nanti setelah selesai dan pulang dari program TOP kami bisa naik langsung ke persiapan untuk pendadaran Bachaloreat teologi. Mendengar cerita dan kesaksian para senior, serem rasanya mendengar dan membayangkan ujian pendadaran Bachaloreat teologi. Oleh karena itu kami sering memplesetkanya menjadi Bakalruwet teologi, teologi bakalruwet. Hehehehehe…. Dan memang dalam faktanya banyak juga teman yang pusing dan bingung karena keruwetan itu.
Nah pada saat akan menulis skripsi itu saya meminta Pater Cletus Groenen untuk menjadi pendamping dan pembimbing skripsi saya. Dan puji Tuhan, dia menyetujuinya. Judul skripsi saya itu ialah Praksis Perdamaian Fransiskus Asisi. Sebelumnya saya mengajukan judul Konsep Perdamaian Fransiskus Asisi. Tetapi Pater Groenen mengkritik judul itu. Menurut dia bahwa yang bisa kita telusuri hanya praksis hidup, bukan konsep. Praksis itu empiris. Konsep itu teoretikus. Dan Fransiskus bukan homo theoreticus. Kita berharap agar moga-moga via praksis, dengan menelusuri praksis akhirnya nanti kita bisa mencapai sebuah konsep, sebuah gagasan. Tidak terbalik. Akhirnya saya menerima saja pandangan beliau sebagai pembimbing. Tidak boleh membangkang dari awal. Hehehehe…. Nanti repot. Walaupun dalam hati saya ingin sekali mendebat beliau dengan mengatakan bahwa konsep yang ingin saya cari juga via penelusuran praksis hidup kok pater. Tetapi sudahlah. Saya diam saja. Daripada dia nanti ngambek, dan tidak mau lagi menjadi pembimbing saya. Eh ngambek. Belum pernah dengar sih cerita tentang itu.
Nah, di dalam proses diskusi dan bimbingan itulah saya mengalami sangat banyak kesulitan yang tidak mudah. Kesulitan yang paling sering saya alami ialah bahwa saya tidak mudah membaca tulisan tangan Pater Cletus. Ia menulis dengan cepat-cepat sehingga ada banyak huruf yang sudah tidak bisa dibaca lagi. Biasanya pater Cletus catatan koreksi dan catatan kritik yang panjang. Terima kasih untuk hal itu, sehingga saya bisa maju di dalam studi dan penelitian saya. Luar biasa membantu dan memperkaya saya. Catatan-catatan beliau membantu memperdalam eksplorasi saya.
Saya berpikir, daripada saya terus menerus mengganggu dia untuk tanyakan ini dan itu terkait dengan skripsi saya ini, maka saya memutuskan untuk mencoba menerka apa yang ia maksud dengan bentuk huruf-huruf tertentu. Kalau sudah ketemu cara baca yang kiranya saya anggap tepat, maka biasanya saya memberi koreksi atas tulisan tangan beliau lalu saya rekonstruksi ulang catatan kritis dia pada kertas lepas tersendiri. Ya, saya berusaha menerka dan menebak apa yang ia maksud dengan bentuk huruf-huruf tertentu. Saya harus mengakui bahwa hal itu sama sekali tidak mudah.
Dalam saat-saat seperti itu saya membayangkan seorang Bapa Tua yang membantu mengetikkan naskah-naskah tulisan tangan pater Groenen. Kalau bapa tua yang tinggal di mBener, Pingit itu tidak bisa membaca tulisan tangan pater Gronen, maka dia pasti mencoba menerka saja apa yang pater maksudkan. Sebab tidak mungkin bapa tua itu datang tiap hari untuk mengkonfirmasi huruf-huruf tertentu dengan bersepeda dari mBener. Maka langkah “menebak dan menerka” seperti itulah yang saya lakukan. Saya mencoba menerka dari pola huruf dan gerak tangannya. Dan puji Tuhan dalam cukup banyak kasus rasanya saya berhasil membaca atau menebak tulisan tangan dia.
Tetapi pada suatu hari saya menemukan sebuah catatan-catatan yang benar-benar kabur. Saya tidak bisa baca sama sekali. Saya benar-benar bingung. Berulang-ulang kali saya mencoba menerka dengan cara membandingkan dengan huruf-huruf dari bagian-bagian lain dari catatan-catatan dia, tetapi tetap saja tidak bisa. Maka tidak ada jalan dan cara lain. Selain harus datang ke kamar beliau, mengganggu kontemplasi dia di dalam buku-buku. Ya, akhirnya saya datang dengan berani mengetuk pintu kamarnya. Setelah masuk, saya sodorkan kepada dia: “Bagaimana bacanya tulisan yang ini Pater?” Saya menunjuk pada bagian tertentu. Dia mengambil kacamatanya dan mencoba membaca tulisan tangannya sendiri.
Jidatnya mengernyit. Tetapi ia berusaha. Akhirnya: “Ah Frans, saya juga tidak bisa baca lagi saya tulis apa ini?” Dia pun tertawa terbahak-bahak. Saya juga ikut tertawa. “Tetapi sekarang kamu tulis ya. Ini yang saya maksudkan dengan catatan di bagian ini.” Lalu ia diktekan. “Begitu.” Katanya setelah selesai. Saya lega. Lalu saya kembali ke kamarku. Ya hermeneutika imajinasi amat perlu. Bapa tua itu punya hal itu.
Tuesday, May 5, 2020
BELAJAR HIKMAT HIDUP DARI NICOLAUS CUSANUS
Oleh: Fransiskus Borgias.
Coincidentia Oppositorum adalah gagasan filosofis yang indah dan menarik. Istilah itu adalah pokok pemikiran filosofis dan teologis dari seorang tokoh abad pertengahan yang bernama Nikolaus dari Cusa (Nicolaus Cusanus). Sepintas, orang mudah berkesan bahwa itu adalah gagasan filosofis abstrak dan spekulatif dan mungkin mengawang-awang di angkasa pemikiran yang tinggi. Tetapi sesungguhnya itu bukanlah gagasan filosofis abstrak-spekulatif. Sebaliknya itu adalah realitas yang nyata, dan kongkret.
Apa arti istilah asing itu? Istilah itu berasal dari bahasa Latin. Mungkin ada orang lain yang menerjemahkannya dengan cara tertentu. Tetapi saya punya terjemahan yang harfiah sbb: Berada secara bersama-samanya (serentak, coincidentia) hal-hal yang sebenarnya saling bertentangan satu sama lain (oppositorum). Itulah kemungkinan terjemahan pertama. Atau kemungkinan kedua, terjadinya secara bersama (coincidentia) hal-hal yang saling bertentangan satu sama lain (oppositorum). Jadi, realitas yang dilukiskan adalah sesuatu yang bersifat paradoksal sekali: hal-hal yang saling bertentangan (oppositorum) berada atau terjadi serentak, terjadi secara bersama-sama (coincidentia). Kalau mau jujur sebenarnya realitas paradoks seperti ini sulit dibayangkan. Tetapi hal itu sungguh-sungguh terjadi, bisa menjadi sebuah objek pengalaman dan pengamatan manusia. Adalah Nicolaus Cusanus orang yang pertama kali memakai istilah itu sebagai sebuah terminologi filsafat-teologi.
Apa arti ungkapan ini bagi dia? Bagi Nikolaus Cusanus apa yang ada di balik ungkapan ini adalah sebuah pengalaman rohani, sebuah pengalaman berjarak (pengalaman distansiasi). Bisa juga disebut pengalaman ekstase, atau pengalaman transenden. Jadi, dengan demikian ini bukan sekadar gagasan filosofis belaka, melainkan sebuah pengalaman rohani yang teramat kongkret.
Tetapi pertanyaan sekarang ialah: Di mana dan kapan ia mengalami pengalaman rohani seperti ini? Pengalaman itu dapat dikisahkan dalam uraian atau kisah berikut ini. Sejak abad 11 (persisnya pada tahun 1054) Gereja Katolik terbelah menjadi dua yaitu Gereja Katolik Barat atau Roma dan Gereja Katolik Timur atau Yunani (kemudian dikenal dengan sebutan Katolik Ortodox). Hal itu terjadi setelah melewati beberapa abad pertikaian dan kesalah-pahaman timbal-balik antara Timur dan Barat. Tentu saja ada banyak sekali faktor yang menyebabkan terjadinya perpecahan itu. Ada faktor politik; di timur kekuasaan semakin terpusatkan pada sosok Kaisar yang berkedudukan di KOnstantinopel. Memang ada Patriarch Konstantinopel, tetapi kekuasaan dia hanya terbatas pada kuasa-kuasa kegerejaan saja. Sebaliknya di Barat, Roma menempuh dan mengalami perkembangan tersendiri. Paus mendapat kedudukan, posisi dan peranan yang sangat penting. Kalau di Timur gereja menyibukkan diri dengan upaya agar tetap bisa survive dari ancaman dan kepungan Islam yang sangat agresif, maka di Barat, gereja (Paus) sibuk dengan upaya mengkristenkan dunia Eropa Utara dan Barat yang cukup lama masih kafir itu. Maka hubungan diplomasi gereja Roma terlebih membangun koordinasi di dalam dunia Barat itu sendiri. Dengan akibat bahwa muncul kesan dan salah paham bahwa gereja Roma seperti tidak menaruh peduli pada nasib dan apa yang terjadi dengan gereja Timur.
Tetapi selain factor politik di atas tadi, sesungguhnya menurut saya yang lebih dominan ialah faktor teologis yang nyerempet dan tercampur dengan factor-faktor kultural. Di dalam ranah teologis ini misalnya, ada kontroversi ikonoklasme yang panas dan berkepanjangan itu, ada juga kontroversi filioque (yang kiranya tidak perlu dijelaskan lebih lanjut di sini). Apapun factor itu, yang jelas ialah bahwa setelah drama tragis perpecahan tersebut terjadi, maka muncul juga pelbagai upaya untuk mencari jalan menuju rekonsiliasi. Hal itu terjadi dari kedua belah pihak. Salah satu upaya ke arah itu terjadi pada abad kelimabelas (pada abad ketigabelas juga terjadi upaya rekonsilisi di Konsili Lyon 1274 yang dihadiri Tomas dan Bonaventura, tetapi Tomas batal karena ia wafat) dan salah satu tokoh teolog yang berperan ke arah itu ialah Nicolaus Cusanus. Konon bersama rombongan dari Roma ia ke Constantinopel untuk membahas peluang rekonsiliasi antara Roma dan Gereja Timur. Rupanya pada saat itu, rekonsiliasi tidak berhasil sehingga rombongan itu pun pulang lagi ke Roma.
Dalam perjalanan pulang dari Constantinopel itulah, Nikolaus naik di atas geladak kapal dari pelabuhan Konstantinopel menuju ke Roma. Ketika kapal itu masih merapat di dermaga, ia melihat amat banyak hal yang mencolok, menonjol, bahkan sangat bertentangan satu sama lain. Warna, bentuk, ukuran, ketinggian, kedalaman, dll. Semua seolah-olah berlomba menegaskan eksistensi dirinya masing-masing. Terkesan serba hiruk-pikuk. Tetapi sekaligus amat indah, menarik, dan juga mengesankan. Tetapi ketika kapal itu mulai menjauh dari pantai, semua yang tadi menonjol dan mendesak, kini menghablur, melebur dalam sebuah harmoni realitas. Dalam harmoni ini, hal-hal yang tadinya berbeda dan bertentangan kini serentak berada bersama (co) membangun sebuah simetri harmoni artistik. Itu hanya mungkin dalam sebuah peristiwa distansiasi, sebuah proses menjarak, dan berjarak. Dalam proses distansiasi itu ada dan terciptalah makna. Distansiasi memang menciptakan atau mengkonstruksi makna, kata Ricoeur (kiranya juga diilhami terlebih dahulu oleh Gadamer). Itulah pengalaman rohani yang disebut coincidentia oppositorum itu. Itulah ilustrasi pertama untuk memudahkan pemahaman kita akan gagasan tersebut.
Ilustrasi kedua dapat digambarkan sebagai berikut. Bayangkan seorang ibu yang akan melahirkan anak. Pada saat yang satu dan sama ia mengalami rasa sakit yang ngeri. Tetapi serentak ia sadar sesudah sakit ini akan ada kehidupan baru. Pada saat sakit ia bergulat dengan maut, tetapi hal itu amat perlu untuk menghantar hidup baru. Paradoks sekali. Hal-hal bertentangan (oppositorum) serentak berada dan terjadi secara bersama-sama pada saat dan tempat yang sama. Anehnya lagi coincidentia itulah yang bisa menghasilkan makna. Ini tidak mudah. Maka jangan menolak conincidentia oppositorum ini. Jangan menolak perbedaan. Sebab perbedaan itu bisa juga memaknai dan menghasilkan makna hidup yang baru.
Coincidentia Oppositorum adalah gagasan filosofis yang indah dan menarik. Istilah itu adalah pokok pemikiran filosofis dan teologis dari seorang tokoh abad pertengahan yang bernama Nikolaus dari Cusa (Nicolaus Cusanus). Sepintas, orang mudah berkesan bahwa itu adalah gagasan filosofis abstrak dan spekulatif dan mungkin mengawang-awang di angkasa pemikiran yang tinggi. Tetapi sesungguhnya itu bukanlah gagasan filosofis abstrak-spekulatif. Sebaliknya itu adalah realitas yang nyata, dan kongkret.
Apa arti istilah asing itu? Istilah itu berasal dari bahasa Latin. Mungkin ada orang lain yang menerjemahkannya dengan cara tertentu. Tetapi saya punya terjemahan yang harfiah sbb: Berada secara bersama-samanya (serentak, coincidentia) hal-hal yang sebenarnya saling bertentangan satu sama lain (oppositorum). Itulah kemungkinan terjemahan pertama. Atau kemungkinan kedua, terjadinya secara bersama (coincidentia) hal-hal yang saling bertentangan satu sama lain (oppositorum). Jadi, realitas yang dilukiskan adalah sesuatu yang bersifat paradoksal sekali: hal-hal yang saling bertentangan (oppositorum) berada atau terjadi serentak, terjadi secara bersama-sama (coincidentia). Kalau mau jujur sebenarnya realitas paradoks seperti ini sulit dibayangkan. Tetapi hal itu sungguh-sungguh terjadi, bisa menjadi sebuah objek pengalaman dan pengamatan manusia. Adalah Nicolaus Cusanus orang yang pertama kali memakai istilah itu sebagai sebuah terminologi filsafat-teologi.
Apa arti ungkapan ini bagi dia? Bagi Nikolaus Cusanus apa yang ada di balik ungkapan ini adalah sebuah pengalaman rohani, sebuah pengalaman berjarak (pengalaman distansiasi). Bisa juga disebut pengalaman ekstase, atau pengalaman transenden. Jadi, dengan demikian ini bukan sekadar gagasan filosofis belaka, melainkan sebuah pengalaman rohani yang teramat kongkret.
Tetapi pertanyaan sekarang ialah: Di mana dan kapan ia mengalami pengalaman rohani seperti ini? Pengalaman itu dapat dikisahkan dalam uraian atau kisah berikut ini. Sejak abad 11 (persisnya pada tahun 1054) Gereja Katolik terbelah menjadi dua yaitu Gereja Katolik Barat atau Roma dan Gereja Katolik Timur atau Yunani (kemudian dikenal dengan sebutan Katolik Ortodox). Hal itu terjadi setelah melewati beberapa abad pertikaian dan kesalah-pahaman timbal-balik antara Timur dan Barat. Tentu saja ada banyak sekali faktor yang menyebabkan terjadinya perpecahan itu. Ada faktor politik; di timur kekuasaan semakin terpusatkan pada sosok Kaisar yang berkedudukan di KOnstantinopel. Memang ada Patriarch Konstantinopel, tetapi kekuasaan dia hanya terbatas pada kuasa-kuasa kegerejaan saja. Sebaliknya di Barat, Roma menempuh dan mengalami perkembangan tersendiri. Paus mendapat kedudukan, posisi dan peranan yang sangat penting. Kalau di Timur gereja menyibukkan diri dengan upaya agar tetap bisa survive dari ancaman dan kepungan Islam yang sangat agresif, maka di Barat, gereja (Paus) sibuk dengan upaya mengkristenkan dunia Eropa Utara dan Barat yang cukup lama masih kafir itu. Maka hubungan diplomasi gereja Roma terlebih membangun koordinasi di dalam dunia Barat itu sendiri. Dengan akibat bahwa muncul kesan dan salah paham bahwa gereja Roma seperti tidak menaruh peduli pada nasib dan apa yang terjadi dengan gereja Timur.
Tetapi selain factor politik di atas tadi, sesungguhnya menurut saya yang lebih dominan ialah faktor teologis yang nyerempet dan tercampur dengan factor-faktor kultural. Di dalam ranah teologis ini misalnya, ada kontroversi ikonoklasme yang panas dan berkepanjangan itu, ada juga kontroversi filioque (yang kiranya tidak perlu dijelaskan lebih lanjut di sini). Apapun factor itu, yang jelas ialah bahwa setelah drama tragis perpecahan tersebut terjadi, maka muncul juga pelbagai upaya untuk mencari jalan menuju rekonsiliasi. Hal itu terjadi dari kedua belah pihak. Salah satu upaya ke arah itu terjadi pada abad kelimabelas (pada abad ketigabelas juga terjadi upaya rekonsilisi di Konsili Lyon 1274 yang dihadiri Tomas dan Bonaventura, tetapi Tomas batal karena ia wafat) dan salah satu tokoh teolog yang berperan ke arah itu ialah Nicolaus Cusanus. Konon bersama rombongan dari Roma ia ke Constantinopel untuk membahas peluang rekonsiliasi antara Roma dan Gereja Timur. Rupanya pada saat itu, rekonsiliasi tidak berhasil sehingga rombongan itu pun pulang lagi ke Roma.
Dalam perjalanan pulang dari Constantinopel itulah, Nikolaus naik di atas geladak kapal dari pelabuhan Konstantinopel menuju ke Roma. Ketika kapal itu masih merapat di dermaga, ia melihat amat banyak hal yang mencolok, menonjol, bahkan sangat bertentangan satu sama lain. Warna, bentuk, ukuran, ketinggian, kedalaman, dll. Semua seolah-olah berlomba menegaskan eksistensi dirinya masing-masing. Terkesan serba hiruk-pikuk. Tetapi sekaligus amat indah, menarik, dan juga mengesankan. Tetapi ketika kapal itu mulai menjauh dari pantai, semua yang tadi menonjol dan mendesak, kini menghablur, melebur dalam sebuah harmoni realitas. Dalam harmoni ini, hal-hal yang tadinya berbeda dan bertentangan kini serentak berada bersama (co) membangun sebuah simetri harmoni artistik. Itu hanya mungkin dalam sebuah peristiwa distansiasi, sebuah proses menjarak, dan berjarak. Dalam proses distansiasi itu ada dan terciptalah makna. Distansiasi memang menciptakan atau mengkonstruksi makna, kata Ricoeur (kiranya juga diilhami terlebih dahulu oleh Gadamer). Itulah pengalaman rohani yang disebut coincidentia oppositorum itu. Itulah ilustrasi pertama untuk memudahkan pemahaman kita akan gagasan tersebut.
Ilustrasi kedua dapat digambarkan sebagai berikut. Bayangkan seorang ibu yang akan melahirkan anak. Pada saat yang satu dan sama ia mengalami rasa sakit yang ngeri. Tetapi serentak ia sadar sesudah sakit ini akan ada kehidupan baru. Pada saat sakit ia bergulat dengan maut, tetapi hal itu amat perlu untuk menghantar hidup baru. Paradoks sekali. Hal-hal bertentangan (oppositorum) serentak berada dan terjadi secara bersama-sama pada saat dan tempat yang sama. Anehnya lagi coincidentia itulah yang bisa menghasilkan makna. Ini tidak mudah. Maka jangan menolak conincidentia oppositorum ini. Jangan menolak perbedaan. Sebab perbedaan itu bisa juga memaknai dan menghasilkan makna hidup yang baru.
Monday, May 4, 2020
ANTIPHONA MARIANA 2
Oleh: Fransiskus Borgias
Fakultas Filsafat UNPAR Bandung
Malam semakin hening. Para senior berbicara berbisik-bisik. Juga berjalan, bergerak perlahan-lahan. Ada juga senior yang berbicara menyampaikan kepada kami, ini saatnya SILENTIUM, saat hening, saat diam. Saya pun sedikit memperpanjang saat berlututku di dalam Kapela Seminari, untuk bersyukur kepada Tuhan atas penyelenggaraanNya hari ini. Kami semua sudah tiba dengan selamat di Asrama Seminari Pius XII, Kisol.
Malam semakin sunyi. Saya juga akhirnya perlahan-lahan meninggalkan Kapela. Begitu tiba di pintu depan Kapela, saya melihat masih ada teman-teman yang lain juga di situ. Semua pada berdiam diri, atau setidaknya hanya berbicara berbisik-bisik. Ada juga yang kemudian berjalan dengan tenang melewati gang di samping kapela dan menuju taman belakang kapela.
Saya mengikutinya. Ternyata di taman belakang itu ada sebuah gua dengan patung Bunda Maria yang diterangi dengan sinar temaram lampu listrik. ada juga beberapa lilin yang bernyala. Ada juga beberapa siswa seminaris yang berdiri di sana dan berdoa. Ternyata memang banyak siswa Seminaris yang berdoa di sana, setiap malam. Dan juga di pagi hari sebelum doa dan Misa pagi di mulai.
Saya juga ikut berdiri dan berdoa di sana. Tetapi saya tidak bisa berlama-lama, karena sudah mulai juga terasa dingin. Maka saya pun segera meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju ke bagian ruang tidur dari asrama seminari kami. Setelah tiba di sana, saya pun tidur. Itulah petang, itulah pagi, hari-hariku yang pertama di Seminari. Et factum est vespere et mane, dies primus. Maka jadilah petang dan pagi, hari pertama. Dan juga hari-hari selanjutnya yang saya harapkan akan berlangsung sebagaimana yang diharapkan.
Yang jelas, setelah menyanyikan antifon Maria Alma Redemptoris Mater itu, pikiranku menjadi semakin terbuka bahwa ada lebih banyak antifona mariana, bahkan juga dipakai menurut masa-masa liturgi gereja. Ini masih awal-awal tahun, tanggal belasan Januari. Jadi, di seminari kami masih memakai antifona itu. Dan seperti yang sudah saya katakan kemarin, antifon ini langsung melekat kuat di dalam ingatan saya dan tidak pernah lagi saya lupakan. Begitu saya sudah hafalkan, maka kata-kata syair lagu itu, menjadi seperti butir-butir air yang mengalir keluar begitu saja dari dalam mulut saya.
Dalam buku nyanyian yang ada di kapela kami memang tersedia beberapa versi lagu antifon Maria itu. Maka saya pun sudah mulai terbiasa dengan memakai antifona-antifona itu menurut masa-masa liturgisnya. Ah gereja, sungguh luar biasa tradisimu. Engkau mengatur pembagian waktu yang sesungguhnya secara natural berjalan seperti datar saja. Tetapi oleh Gereja diatur sedemikian rupa sehingga di dalam peristiwa berjalan mendatarnya waktu itu, ada momen-momen vertikal, di mana hati manusia seperti diangkat ke atas menuju kepada yang transenden untuk kemudian hanyut dalam puji dan sembah bakti.
Betapa membosankannya perjalanan waktu yang alami natural dan datar itu, tanpa selingan yang serba teratur dari gerak-gerak naik dari jiwa. Dan memang jiwa manusia, saya akhirnya bisa merasakannya juga, selalu ada keinginan untuk melayang-layang untuk naik ke atas, existere, melampaui derap-derap dan riak-riak gelombang horizontalisme yang datar. Dan Gereja memberi aturan dan petunjuk ke mana gerak hati yang ingin melayang naik itu harus diarahkan. Sursum corda. Begitu kata doa gereja nan agung di dalam Prefasi itu. Harfiah: "Angkatlah hatimu ke atas." Dan umat pun menjawab: Habemus ad Dominum. Harfiah: Ya, kami sudah lakukan itu kepada Tuhan. Wow.... Sebuah "Itinerarium mentis in Deum" kata santo Bonaventura.
Fakultas Filsafat UNPAR Bandung
Malam semakin hening. Para senior berbicara berbisik-bisik. Juga berjalan, bergerak perlahan-lahan. Ada juga senior yang berbicara menyampaikan kepada kami, ini saatnya SILENTIUM, saat hening, saat diam. Saya pun sedikit memperpanjang saat berlututku di dalam Kapela Seminari, untuk bersyukur kepada Tuhan atas penyelenggaraanNya hari ini. Kami semua sudah tiba dengan selamat di Asrama Seminari Pius XII, Kisol.
Malam semakin sunyi. Saya juga akhirnya perlahan-lahan meninggalkan Kapela. Begitu tiba di pintu depan Kapela, saya melihat masih ada teman-teman yang lain juga di situ. Semua pada berdiam diri, atau setidaknya hanya berbicara berbisik-bisik. Ada juga yang kemudian berjalan dengan tenang melewati gang di samping kapela dan menuju taman belakang kapela.
Saya mengikutinya. Ternyata di taman belakang itu ada sebuah gua dengan patung Bunda Maria yang diterangi dengan sinar temaram lampu listrik. ada juga beberapa lilin yang bernyala. Ada juga beberapa siswa seminaris yang berdiri di sana dan berdoa. Ternyata memang banyak siswa Seminaris yang berdoa di sana, setiap malam. Dan juga di pagi hari sebelum doa dan Misa pagi di mulai.
Saya juga ikut berdiri dan berdoa di sana. Tetapi saya tidak bisa berlama-lama, karena sudah mulai juga terasa dingin. Maka saya pun segera meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju ke bagian ruang tidur dari asrama seminari kami. Setelah tiba di sana, saya pun tidur. Itulah petang, itulah pagi, hari-hariku yang pertama di Seminari. Et factum est vespere et mane, dies primus. Maka jadilah petang dan pagi, hari pertama. Dan juga hari-hari selanjutnya yang saya harapkan akan berlangsung sebagaimana yang diharapkan.
Yang jelas, setelah menyanyikan antifon Maria Alma Redemptoris Mater itu, pikiranku menjadi semakin terbuka bahwa ada lebih banyak antifona mariana, bahkan juga dipakai menurut masa-masa liturgi gereja. Ini masih awal-awal tahun, tanggal belasan Januari. Jadi, di seminari kami masih memakai antifona itu. Dan seperti yang sudah saya katakan kemarin, antifon ini langsung melekat kuat di dalam ingatan saya dan tidak pernah lagi saya lupakan. Begitu saya sudah hafalkan, maka kata-kata syair lagu itu, menjadi seperti butir-butir air yang mengalir keluar begitu saja dari dalam mulut saya.
Dalam buku nyanyian yang ada di kapela kami memang tersedia beberapa versi lagu antifon Maria itu. Maka saya pun sudah mulai terbiasa dengan memakai antifona-antifona itu menurut masa-masa liturgisnya. Ah gereja, sungguh luar biasa tradisimu. Engkau mengatur pembagian waktu yang sesungguhnya secara natural berjalan seperti datar saja. Tetapi oleh Gereja diatur sedemikian rupa sehingga di dalam peristiwa berjalan mendatarnya waktu itu, ada momen-momen vertikal, di mana hati manusia seperti diangkat ke atas menuju kepada yang transenden untuk kemudian hanyut dalam puji dan sembah bakti.
Betapa membosankannya perjalanan waktu yang alami natural dan datar itu, tanpa selingan yang serba teratur dari gerak-gerak naik dari jiwa. Dan memang jiwa manusia, saya akhirnya bisa merasakannya juga, selalu ada keinginan untuk melayang-layang untuk naik ke atas, existere, melampaui derap-derap dan riak-riak gelombang horizontalisme yang datar. Dan Gereja memberi aturan dan petunjuk ke mana gerak hati yang ingin melayang naik itu harus diarahkan. Sursum corda. Begitu kata doa gereja nan agung di dalam Prefasi itu. Harfiah: "Angkatlah hatimu ke atas." Dan umat pun menjawab: Habemus ad Dominum. Harfiah: Ya, kami sudah lakukan itu kepada Tuhan. Wow.... Sebuah "Itinerarium mentis in Deum" kata santo Bonaventura.
Sunday, May 3, 2020
ANTIPHONA MARIANA
Oleh: Fransiskus Borgias.
Dulu waktu kecil, pada saat doa rosario di Bulan Oktober, saya hanya mengenal satu lagu antifon Maria, yaitu SALVE REGINA saja. Pada waktu kecil saya tidak tahu versi Latinnya. Yang saya atau kami hafal ialah versi terjemahannya ke dalam bahasa Manggarai, yang termaktub di dalam buku DERE SERANI. Di sana judul SALVE REGINA itu diterjemahkan menjadi TABE SENGAJI. Bahkan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia juga sudah ada di dalam buku YUBILATE, tetapi karena tidak pernah kami gunakan, maka saya pun tidak mengetahui versi terjemahan bahasa Indonesia tersebut.
Sebenarnya, masih ada satu lagi Lagu Antifon Maria yang ada dalam buku DERE SERANI, tetapi karena dulu pada waktu kecil Bulan Mei sebagai bulan Maria belum begitu akrab dipraktekkan orang di Manggarai. Pada umumnya orang hanya menjalankan tradisi BULAN ROSARIO saja di bulan Oktober. Kiranya itulah yang menyebabkan orang tidak begitu terbiasa memakai ANTIFON MARIA yang biasanya dipergunakan pada masa Paskah itu.
Antifona Maria pada masa Paskah ialah teks lagu yang dalam bahasa Latin judulnya, REGINA CAELI. Teks antifona ini pun sudah ada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia yang juga ada dalam buku Yubilate dan juga Syukur Kepada Bapa, buku-buku nyanyian gerejani yang sangat populer di Flores pada masa saya kecil. Nah, teks Regina Caeli ini juga sudah ada terjemahannya ke dalam bahasa Manggarai dan ada juga dalam buku DERE SERANI. Tetapi itu tadi. Karena tidak pernah dipergunakan secara rutin maka kami pun tidak begitu mengenalnya. Tetapi secara pribadi, saya sungguh sangat suka akan antifona Maria yang satu ini.
Cakrawala pengenalan saya akan ANTIPHONA MARIANA semakin luas dan banyak, tatkala saya masuk ke Seminari Kecil di Kisol, pada bulan Januari 1975. Pada saat itu, kami tiba di sore hari setelah melewati perjalanan yang melelahkan dari Ruteng menuju Kisol. Sebenarnya tidak begitu jauh. Hanya 65an kilometer saja. Tetapi karena pada tahun 70an itu, jalan Rayanya sangat buruk, maka perjalanan itu ditempuh hampir dalam waktu sehari. Berangkat dari Ruteng Pukul 8.00, sampai di Kisol sekitar pukul 3 sore. Itupun kalau semua berjalan lancar.
Begitu tiba di Kisol, badan kami semua keletihan. Tetapi sebagai anak baru dari kampung, saya mengagumi arsitektur gedung seminari yang bagi saya saat itu sangat luar biasa. Maka secara spontan saya pun mencoba menikmatinya.
Dan tibalah sore hari. Lembah Kisol sangat sunyi. Tidak terdengar suara anak-anak. Tidak terdengar suara mobil, karena memang semuanya itu masih sangat langka pada waktu itu. Yang paling saya ingat ialah bunyi burung-burung malam yang dalam mitologi di kampung terasa menyeramkan. Karena pada sore hari menjelang malam itu, dari kejauhan di pinggir hutan di belakang asrama Seminari saya mendengar bunyi burung hantu yang terasa menyeramkan... poh... poh... poh....
Sebentar-sebentar saya juga mendengar bunyi burung toak, entah apa namanya sebenarnya, dan entah seperti apa bunyinya. Yang jelas dari kejauhan bunyinya Toa o... toa o... toa o... Maka orang-orang di Ketang dan sekitarnya menyebut burung itu kaka Toa. Kata orang tua-tua, kalau didengar dari dekat, sebenarnya di belakang bunyi toa o itu ada lanjutannya... yaitu ta ta ta... Jadi selengkapnya, bunyinya toa o tah tah tah... toa o tah tah tah... Kata orang tua-tua dulu, sebenarnya burung malam itu adalah burung setan yang sedang menuntun paha-paha yang berjalan dan hanya paha-paha saja, dan itu adalah paha-paha orang hidup yang sebentar lagi akan segera mati. Oh betapa menyeramkan rasanya. Saya ketakutan.
Terkadang bunyi burung hantu itu terasa begitu dekat, karena rupanya burung itu bertengger di atas pohon Kihujan yang ada di halaman tengah seminari kami. Tetapi karena melihat para senior yang tenang-tenang dan santai saja, akhirnya saya pun menjadi terbiasa juga dengan semua bunyi itu.
Akhirnya tibalah pukul 20:45 malam. Ada bunyi lonceng yang memanggil dan mengarahkan semua siswa seminari untuk menuju ke kapel seminari. Saya ikut saja dalam arus itu. Para senior berbisik kita akan pergi completorium. Oh... saya mengangguk walaupun tidak mengerti apa itu. Bagaimana bisa mengerti, mengucapkannya saja masih susah. Ya sudah, pokoknya ikut saja.
Ternyata completorium itu adalah doa malam, doa yang menutup semua aktifitas dalam sehari. Tidak ada yang sangat istimewa dengan doa malam itu, sebab kami sendiri di rumah sudah biasa dengan doa malam itu, ngaji wie yang juga diucapkan dari hafalan Dere Serani.
Begitu selesai, lalu ada hening sejenak. Tiba-tiba hening itu dipecahkan oleh sebuah bunyi ajaib dari bagian atas belakang kapel itu. Kami menoleh. Para senior pada tersenyum. Ternyata itu adalah bunyi harmonium. Saya langsung jatuh cinta pada bunyi itu sejak pendengaran pertama. Setelah preludium yang indah mempesona itu, lalu para siswa senior pun menyanyikan sebuah lagu yang sangat indah. Kami para siswa baru hanya bengong.
Tetapi untunglah seorang senior di belakang saya, memberi sebuah buku nyanyi kepada saya dan langsung ke halaman lagu tersebut. Dan ada notnya juga. Maka saya pun juga langsung mencoba ikut bernyanyi, setidaknya hanyut dalam nada dan irama gregorian yang indah itu.
Alma Redemptoris Mater, quae pervia caeli porta manes, et stella maris, succurre cadenti, surgere qui curat populo, tu quae genuisti, natura mirante, tuum sanctum Genitorem, virgo prius ac posterius, Gabrielis ab ore, summens illud ave, peccatorum miserere.
Sesudah itu, masih ada sepotong doa dalam bahasa Latin yang tidak saya pahami saat itu. Yang jelas, sesudah semuanya itu, masih ada doa hening pribadi dan para siswa dengan diam, menuju ke kamar tidur untuk istirahat malam. Tetapi ada yang masih melanjutkan doa di belakang kapel seminari... (Bersambung)....
Dulu waktu kecil, pada saat doa rosario di Bulan Oktober, saya hanya mengenal satu lagu antifon Maria, yaitu SALVE REGINA saja. Pada waktu kecil saya tidak tahu versi Latinnya. Yang saya atau kami hafal ialah versi terjemahannya ke dalam bahasa Manggarai, yang termaktub di dalam buku DERE SERANI. Di sana judul SALVE REGINA itu diterjemahkan menjadi TABE SENGAJI. Bahkan terjemahan ke dalam bahasa Indonesia juga sudah ada di dalam buku YUBILATE, tetapi karena tidak pernah kami gunakan, maka saya pun tidak mengetahui versi terjemahan bahasa Indonesia tersebut.
Sebenarnya, masih ada satu lagi Lagu Antifon Maria yang ada dalam buku DERE SERANI, tetapi karena dulu pada waktu kecil Bulan Mei sebagai bulan Maria belum begitu akrab dipraktekkan orang di Manggarai. Pada umumnya orang hanya menjalankan tradisi BULAN ROSARIO saja di bulan Oktober. Kiranya itulah yang menyebabkan orang tidak begitu terbiasa memakai ANTIFON MARIA yang biasanya dipergunakan pada masa Paskah itu.
Antifona Maria pada masa Paskah ialah teks lagu yang dalam bahasa Latin judulnya, REGINA CAELI. Teks antifona ini pun sudah ada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia yang juga ada dalam buku Yubilate dan juga Syukur Kepada Bapa, buku-buku nyanyian gerejani yang sangat populer di Flores pada masa saya kecil. Nah, teks Regina Caeli ini juga sudah ada terjemahannya ke dalam bahasa Manggarai dan ada juga dalam buku DERE SERANI. Tetapi itu tadi. Karena tidak pernah dipergunakan secara rutin maka kami pun tidak begitu mengenalnya. Tetapi secara pribadi, saya sungguh sangat suka akan antifona Maria yang satu ini.
Cakrawala pengenalan saya akan ANTIPHONA MARIANA semakin luas dan banyak, tatkala saya masuk ke Seminari Kecil di Kisol, pada bulan Januari 1975. Pada saat itu, kami tiba di sore hari setelah melewati perjalanan yang melelahkan dari Ruteng menuju Kisol. Sebenarnya tidak begitu jauh. Hanya 65an kilometer saja. Tetapi karena pada tahun 70an itu, jalan Rayanya sangat buruk, maka perjalanan itu ditempuh hampir dalam waktu sehari. Berangkat dari Ruteng Pukul 8.00, sampai di Kisol sekitar pukul 3 sore. Itupun kalau semua berjalan lancar.
Begitu tiba di Kisol, badan kami semua keletihan. Tetapi sebagai anak baru dari kampung, saya mengagumi arsitektur gedung seminari yang bagi saya saat itu sangat luar biasa. Maka secara spontan saya pun mencoba menikmatinya.
Dan tibalah sore hari. Lembah Kisol sangat sunyi. Tidak terdengar suara anak-anak. Tidak terdengar suara mobil, karena memang semuanya itu masih sangat langka pada waktu itu. Yang paling saya ingat ialah bunyi burung-burung malam yang dalam mitologi di kampung terasa menyeramkan. Karena pada sore hari menjelang malam itu, dari kejauhan di pinggir hutan di belakang asrama Seminari saya mendengar bunyi burung hantu yang terasa menyeramkan... poh... poh... poh....
Sebentar-sebentar saya juga mendengar bunyi burung toak, entah apa namanya sebenarnya, dan entah seperti apa bunyinya. Yang jelas dari kejauhan bunyinya Toa o... toa o... toa o... Maka orang-orang di Ketang dan sekitarnya menyebut burung itu kaka Toa. Kata orang tua-tua, kalau didengar dari dekat, sebenarnya di belakang bunyi toa o itu ada lanjutannya... yaitu ta ta ta... Jadi selengkapnya, bunyinya toa o tah tah tah... toa o tah tah tah... Kata orang tua-tua dulu, sebenarnya burung malam itu adalah burung setan yang sedang menuntun paha-paha yang berjalan dan hanya paha-paha saja, dan itu adalah paha-paha orang hidup yang sebentar lagi akan segera mati. Oh betapa menyeramkan rasanya. Saya ketakutan.
Terkadang bunyi burung hantu itu terasa begitu dekat, karena rupanya burung itu bertengger di atas pohon Kihujan yang ada di halaman tengah seminari kami. Tetapi karena melihat para senior yang tenang-tenang dan santai saja, akhirnya saya pun menjadi terbiasa juga dengan semua bunyi itu.
Akhirnya tibalah pukul 20:45 malam. Ada bunyi lonceng yang memanggil dan mengarahkan semua siswa seminari untuk menuju ke kapel seminari. Saya ikut saja dalam arus itu. Para senior berbisik kita akan pergi completorium. Oh... saya mengangguk walaupun tidak mengerti apa itu. Bagaimana bisa mengerti, mengucapkannya saja masih susah. Ya sudah, pokoknya ikut saja.
Ternyata completorium itu adalah doa malam, doa yang menutup semua aktifitas dalam sehari. Tidak ada yang sangat istimewa dengan doa malam itu, sebab kami sendiri di rumah sudah biasa dengan doa malam itu, ngaji wie yang juga diucapkan dari hafalan Dere Serani.
Begitu selesai, lalu ada hening sejenak. Tiba-tiba hening itu dipecahkan oleh sebuah bunyi ajaib dari bagian atas belakang kapel itu. Kami menoleh. Para senior pada tersenyum. Ternyata itu adalah bunyi harmonium. Saya langsung jatuh cinta pada bunyi itu sejak pendengaran pertama. Setelah preludium yang indah mempesona itu, lalu para siswa senior pun menyanyikan sebuah lagu yang sangat indah. Kami para siswa baru hanya bengong.
Tetapi untunglah seorang senior di belakang saya, memberi sebuah buku nyanyi kepada saya dan langsung ke halaman lagu tersebut. Dan ada notnya juga. Maka saya pun juga langsung mencoba ikut bernyanyi, setidaknya hanyut dalam nada dan irama gregorian yang indah itu.
Alma Redemptoris Mater, quae pervia caeli porta manes, et stella maris, succurre cadenti, surgere qui curat populo, tu quae genuisti, natura mirante, tuum sanctum Genitorem, virgo prius ac posterius, Gabrielis ab ore, summens illud ave, peccatorum miserere.
Sesudah itu, masih ada sepotong doa dalam bahasa Latin yang tidak saya pahami saat itu. Yang jelas, sesudah semuanya itu, masih ada doa hening pribadi dan para siswa dengan diam, menuju ke kamar tidur untuk istirahat malam. Tetapi ada yang masih melanjutkan doa di belakang kapel seminari... (Bersambung)....
Saturday, May 2, 2020
ORANG KUDUS PROTESTAN VS ORANG KUDUS KATOLIK
Oleh: Fransiskus Borgias
Dua hari yang lalu, saya memposting di sini sebuah cerita yang pernah saya dengar dari Pater Nico Syukur Dister OFM, saat dulu masih di biara (eh aku pernah di biara soalnya, wkkkk... ga ada yang nanya ah... biarin... saya sendiri kok yang mau kasih tahu). Masih ada beberapa lagi cerita lucu-lucu yang saya dengar dari beliau, tentu saja di samping cerita-cerita yang serius. Tetapi saya masih mau menunda untuk menceritakannya.
Tetapi pada pagi hari ini, setelah pulang dari olah raga pagi, saya membuka HP ku dan langsung melihat ada WAG TERAS KRAMAT paling atas. Berarti WA yang masuk di sana paling baru. Maka saya langsung membukanya. Dan betul saja. Ternyata sejak kemarin dan tadi malam, para saudara OFM memposting beberapa video yang asyik-asyik, berupa rekaman beberapa lagu yang indah-indah.
Dan pagi ini, dalam rangka Minggu panggilan, mereka menampilkan sebuah video yang benar-benar mengagumkan dan mengharukan bagi saya. Mereka mewawancarai kesaksian pengalaman panggilan hidup pater Nico Dister. Wow... saya senang sekali. Saya bisa melihat pater Nico dalam keadaan sehat-sehat, segar dan selalu gembira dan optimis. Saya bisa mendengar suaranya yang khas dan sangat berwibawa. Walau hanya bisa melihat dan mendengar melalui video, tetapi saya sudah merasa sangat senang luar biasa.
Karena itu saya pun memutuskan untuk tidak lagi menunda-nunda menceritakan cerita yang pernah saya dengar dulu waktu di postulan Pagal tahun 1981 saat pater Nico datang memberi rekoleksi kepada kami di sana. Begini ceritanya.
Di Jerman sana ada dua orang yang bersahabat erat satu sama lain, walaupun mereka berbeda gereja, beda agama. Yang satu pendeta protestan, yang lain seorang imam Katolik. Mereka sama-sama punya jenggot yang lepat. Sebagai orang Jerman mereka juga punya hobby yang sama, minum bir dengan gelas besar-besar dan berbusa-busa, sampai nyangkut di jangkut Harun gitulah...
Pada suatu hari mereka sedang minum bir berdua. Pada saat minum Bir itu, tiba-tiba pendeta protestan itu berkata: "Hai pater, biarpun dalam gereja Katolik ada banyak orang kudus, tetap saja kami orang Protestan mempunyai orang kudus jauh lebih banyak."
Dengan tenang pater itu menjawab: "Saya tidak yakin begitu ah." "Kalau tidak percaya," kata pendeta itu, "mari kita buktikan saja." Tanpa ragu pastor itu menerima tantangan itu. "Tetapi bagaimana cara membuktikannya?" tanya pastor itu. "Gampang kok." Jawab pendeta itu. "Kita sebut satu persatu nama orang kudus kita masing-masing, dan satu nama orang kudus, satu jenggot dicabut." "Oke" jawab pastor itu mantap. Hemmmm satu jenggot untuk satu nama orang kudus. Gumam pastor itu dalam hati.
Lalu mereka gambling untuk menentukan siapa yang dicabut duluan. Ternyata bapa pendeta menang. Jadi dia yang duluan menyebut daftar orang kudusnya dan mencabut jenggot bapa pastor. Pastor itu pun duduk dengan tenang menantikan saat-saat derita itu. Bapak pendeta masuk ke dalam untuk mengambil Alkitab. Lalu dia mulai membuka dari Kitab Kejadian. Pokoknya semua nama yang ada dalam kitab suci, karena ada dalam kitab suci, walaupun mereka pendosa, ya sudah orang kudus semuanya.
"Adam, Hawa," dua jenggot copot. "Kain, Habel." empat. Kain, itu tadi, walau pendosa, pembunuh, ia orang kudus karena namanya ada dalam Kitab Suci. Begitu seterusnya, sesudah kitab Kejadian, lalu Keluaran, pokoknya selesai Perjanjian Lama. Pada saat selesai PL, bapa pastor sempat memegang jenggotnya yang sudah menipis. Ia sempat cemas juga, nanti jenggotnaya habis di pertengahan PB. Tetapi ia menguatkan hati. Lalu masuk ke dalam Perjanjian Baru. Nama-nama tokoh Perjanjian Lama di dalam silsilah Yesus disebut kembali karena muncul dalam daftar baru. Beres dari Matius sampai Wahyu. Begitu selesai kitab Wahyu, bapa pendeta berkata, "sudah selesai. Tidak habis sih, tetapi sudah sangat tipis jenggotmu." Bapa pendeta merasa bakal menang karena ia merasa jenggotanya lebih tebal.
Lalu tiba giliran bapa pastor. Bapa pendeta duduk tenang. Menunggu saat penderitaan itu. Karena sama-sama punya alkitab yang sama, pastor itu juga membuka kitab itu. membaca nama-nama itu satu per satu. Dari Kejadian sampai Maleakhi. Sampai di situ, bapa pendeta tetap senyum optimis karena jenggotnya masih tebal. "Sabar bapa pendeta. Saya tidak langsung ke PB lho seperti anda. Saya masih punya 9 kitab dalam daftar Deuterokanonika." Bapa pendeta mau protes, tidak bisa karena memang itulah kitab orang Katolik. Maka mulai cemaslah bapa pendeta.
Setelah selesai Deuterokanonika, barulah bapa Pastor masuk ke dalam PB, dari Matius sampai Wahyu. Saat sudah selesai surat-surat Paulus, bapa pendeta sempat meraba-raba jenggotnya dan masih ada alasan sedikit untuk optimis menang sampai di finis akhir kitab Wahyu.
Begitu sampai di nama terakhir dalam kitab Wahyu, bapa pendeta sudah mulai menampakkan senyum sumringah karena merasa bakal menang. Ia melihat di cermin, jenggot dia masih lebih banyak dari sisa jenggot bapa pastor. Tetapi bapa pendeta salah sangka. Tanpa disangka-sangka, selesai daftar Alkitab, bapa pastor mengambil kalender Liturgi. "Bapa pendeta, setiap hari dalam penanggalan liturgi kami, ada masing-masing orang kudusnya yang dirayakan, dipestakan, ataupun sekadar diperingati.
Bapa pendeta mau protes, tetapi tidak bisa karena dia tahu memang begitulah liturgi orang Katolik. Bapa pastor muali sebut satu persatu nama orang kudus mulai dari tanggal 1 Januari sampai 31 Januari. Lalu Februari, lalu Maret, Lalu April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober. Saat memasuki Oktober, bapa pastor membaca nama-nama santo-santa itu secara perlahan-lahan untuk menciptakan situasi dramatis. Akhirnya sampai pada tanggal 31 Oktober. Di tanggal itu, jenggot bapa pendeta sudah tinggal sedikit di ujung dagunya yang memang sengaja dicabut seperti itu oleh bapa pastor sehingga tampak seperti jenggot kambing.
Begitu memasuki tanggal 1 November, jenggot yang sisa sedikit itu, dipegang sekaligus oleh bapa pastor. Sambil berkata: "Pesta Segala Orang Kudus," jregggg.... cabut sekaligus, tidak bersisa. "Nah, bapa pendeta, bapa lihat sendirikan, baru tanggal 1 November jenggot bapa sudah habis. Saya belum sampai tanggal 31 Desember lho." Dengan muka mesem, akhirnya bapa pendeta ngaku kalah. ternyata orang kudus dalam gereja katolik jauh lebih banyak. hahahahahaha.... tertawalah... jangan ada yang murka... gereja dan menggereja juga harus penuh tawa dan canda juga dalam relasi antara pastor dan pendeta... hehehehe....
Dua hari yang lalu, saya memposting di sini sebuah cerita yang pernah saya dengar dari Pater Nico Syukur Dister OFM, saat dulu masih di biara (eh aku pernah di biara soalnya, wkkkk... ga ada yang nanya ah... biarin... saya sendiri kok yang mau kasih tahu). Masih ada beberapa lagi cerita lucu-lucu yang saya dengar dari beliau, tentu saja di samping cerita-cerita yang serius. Tetapi saya masih mau menunda untuk menceritakannya.
Tetapi pada pagi hari ini, setelah pulang dari olah raga pagi, saya membuka HP ku dan langsung melihat ada WAG TERAS KRAMAT paling atas. Berarti WA yang masuk di sana paling baru. Maka saya langsung membukanya. Dan betul saja. Ternyata sejak kemarin dan tadi malam, para saudara OFM memposting beberapa video yang asyik-asyik, berupa rekaman beberapa lagu yang indah-indah.
Dan pagi ini, dalam rangka Minggu panggilan, mereka menampilkan sebuah video yang benar-benar mengagumkan dan mengharukan bagi saya. Mereka mewawancarai kesaksian pengalaman panggilan hidup pater Nico Dister. Wow... saya senang sekali. Saya bisa melihat pater Nico dalam keadaan sehat-sehat, segar dan selalu gembira dan optimis. Saya bisa mendengar suaranya yang khas dan sangat berwibawa. Walau hanya bisa melihat dan mendengar melalui video, tetapi saya sudah merasa sangat senang luar biasa.
Karena itu saya pun memutuskan untuk tidak lagi menunda-nunda menceritakan cerita yang pernah saya dengar dulu waktu di postulan Pagal tahun 1981 saat pater Nico datang memberi rekoleksi kepada kami di sana. Begini ceritanya.
Di Jerman sana ada dua orang yang bersahabat erat satu sama lain, walaupun mereka berbeda gereja, beda agama. Yang satu pendeta protestan, yang lain seorang imam Katolik. Mereka sama-sama punya jenggot yang lepat. Sebagai orang Jerman mereka juga punya hobby yang sama, minum bir dengan gelas besar-besar dan berbusa-busa, sampai nyangkut di jangkut Harun gitulah...
Pada suatu hari mereka sedang minum bir berdua. Pada saat minum Bir itu, tiba-tiba pendeta protestan itu berkata: "Hai pater, biarpun dalam gereja Katolik ada banyak orang kudus, tetap saja kami orang Protestan mempunyai orang kudus jauh lebih banyak."
Dengan tenang pater itu menjawab: "Saya tidak yakin begitu ah." "Kalau tidak percaya," kata pendeta itu, "mari kita buktikan saja." Tanpa ragu pastor itu menerima tantangan itu. "Tetapi bagaimana cara membuktikannya?" tanya pastor itu. "Gampang kok." Jawab pendeta itu. "Kita sebut satu persatu nama orang kudus kita masing-masing, dan satu nama orang kudus, satu jenggot dicabut." "Oke" jawab pastor itu mantap. Hemmmm satu jenggot untuk satu nama orang kudus. Gumam pastor itu dalam hati.
Lalu mereka gambling untuk menentukan siapa yang dicabut duluan. Ternyata bapa pendeta menang. Jadi dia yang duluan menyebut daftar orang kudusnya dan mencabut jenggot bapa pastor. Pastor itu pun duduk dengan tenang menantikan saat-saat derita itu. Bapak pendeta masuk ke dalam untuk mengambil Alkitab. Lalu dia mulai membuka dari Kitab Kejadian. Pokoknya semua nama yang ada dalam kitab suci, karena ada dalam kitab suci, walaupun mereka pendosa, ya sudah orang kudus semuanya.
"Adam, Hawa," dua jenggot copot. "Kain, Habel." empat. Kain, itu tadi, walau pendosa, pembunuh, ia orang kudus karena namanya ada dalam Kitab Suci. Begitu seterusnya, sesudah kitab Kejadian, lalu Keluaran, pokoknya selesai Perjanjian Lama. Pada saat selesai PL, bapa pastor sempat memegang jenggotnya yang sudah menipis. Ia sempat cemas juga, nanti jenggotnaya habis di pertengahan PB. Tetapi ia menguatkan hati. Lalu masuk ke dalam Perjanjian Baru. Nama-nama tokoh Perjanjian Lama di dalam silsilah Yesus disebut kembali karena muncul dalam daftar baru. Beres dari Matius sampai Wahyu. Begitu selesai kitab Wahyu, bapa pendeta berkata, "sudah selesai. Tidak habis sih, tetapi sudah sangat tipis jenggotmu." Bapa pendeta merasa bakal menang karena ia merasa jenggotanya lebih tebal.
Lalu tiba giliran bapa pastor. Bapa pendeta duduk tenang. Menunggu saat penderitaan itu. Karena sama-sama punya alkitab yang sama, pastor itu juga membuka kitab itu. membaca nama-nama itu satu per satu. Dari Kejadian sampai Maleakhi. Sampai di situ, bapa pendeta tetap senyum optimis karena jenggotnya masih tebal. "Sabar bapa pendeta. Saya tidak langsung ke PB lho seperti anda. Saya masih punya 9 kitab dalam daftar Deuterokanonika." Bapa pendeta mau protes, tidak bisa karena memang itulah kitab orang Katolik. Maka mulai cemaslah bapa pendeta.
Setelah selesai Deuterokanonika, barulah bapa Pastor masuk ke dalam PB, dari Matius sampai Wahyu. Saat sudah selesai surat-surat Paulus, bapa pendeta sempat meraba-raba jenggotnya dan masih ada alasan sedikit untuk optimis menang sampai di finis akhir kitab Wahyu.
Begitu sampai di nama terakhir dalam kitab Wahyu, bapa pendeta sudah mulai menampakkan senyum sumringah karena merasa bakal menang. Ia melihat di cermin, jenggot dia masih lebih banyak dari sisa jenggot bapa pastor. Tetapi bapa pendeta salah sangka. Tanpa disangka-sangka, selesai daftar Alkitab, bapa pastor mengambil kalender Liturgi. "Bapa pendeta, setiap hari dalam penanggalan liturgi kami, ada masing-masing orang kudusnya yang dirayakan, dipestakan, ataupun sekadar diperingati.
Bapa pendeta mau protes, tetapi tidak bisa karena dia tahu memang begitulah liturgi orang Katolik. Bapa pastor muali sebut satu persatu nama orang kudus mulai dari tanggal 1 Januari sampai 31 Januari. Lalu Februari, lalu Maret, Lalu April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober. Saat memasuki Oktober, bapa pastor membaca nama-nama santo-santa itu secara perlahan-lahan untuk menciptakan situasi dramatis. Akhirnya sampai pada tanggal 31 Oktober. Di tanggal itu, jenggot bapa pendeta sudah tinggal sedikit di ujung dagunya yang memang sengaja dicabut seperti itu oleh bapa pastor sehingga tampak seperti jenggot kambing.
Begitu memasuki tanggal 1 November, jenggot yang sisa sedikit itu, dipegang sekaligus oleh bapa pastor. Sambil berkata: "Pesta Segala Orang Kudus," jregggg.... cabut sekaligus, tidak bersisa. "Nah, bapa pendeta, bapa lihat sendirikan, baru tanggal 1 November jenggot bapa sudah habis. Saya belum sampai tanggal 31 Desember lho." Dengan muka mesem, akhirnya bapa pendeta ngaku kalah. ternyata orang kudus dalam gereja katolik jauh lebih banyak. hahahahahaha.... tertawalah... jangan ada yang murka... gereja dan menggereja juga harus penuh tawa dan canda juga dalam relasi antara pastor dan pendeta... hehehehe....
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...