Thursday, May 7, 2020

ATG: OPA SEPEDA, NONA DAN MESIN TIK LISTRIK

Oleh: Fransiskus Borgias



Pada tahun 1982-1983, saat kami menjalani tahun novisiat di Biara Santo Bonaventura (Bitora), Yogyakarta, saya amati bahwa hampir seminggu sekali kami melihat ada seorang bapa tua yang datang ke Papringan dengan naik sepeda, sambil membonceng cucunya, seorang putri cilik yang manis. Saat turun dari sepeda di bawah naungan pohon yang rindang di halaman depan biara, bapa tua itu mula-mula melepaskan ikatan tali dari bagian bawah sadel sepedanya. Ternyata ia sedang melepaskan ikatan kaki putri cilik itu. Hehehehe…. Saya harus akui dengan jujur bahwa baru pada saat itu saya tahu kalau anak-anak kecil, pada saat mereka naik sepeda, kakinya diikat kain ke depan ke bawah sadel. Hal itu dimaksudkan untuk mencegah jangan sampai kakinya yang menggantung itu masuk ke dalam jari-jari roda sepeda yang berputar kencang. Maklumlah, saya datang dari kampung di Manggarai. Bahkan baru belajar naik sepeda di Papringan, Yogyakarta, itu pun dengan susah payah, penuh cerita pedih dan perih. Mungkin butuh lembar dan waktu lain untuk bisa menceritakan pengalaman itu.

Oke, saya tinggalkan hal itu dan kembali focus ke cerita saya yang awal tadi. Semula saya selalu bertanya dalam hati, siapakah Bapa tua itu, dan untuk apakah bapa tua itu datang ke Papringan. Belakangan barulah saya tahu, bahwa bapa tua itu adalah seorang bapa tua yang biasa membantu pater Cletus untuk mengetik semua naskah tulisan tangan pater Cletus. Wow. Baru pada saat itulah saya mengerti bahwa dia hampir datang setiap minggu ke Papringan. Dari para frater dan bruder senior saya tahu bahwa bapa tua itu mengayuh sepeda cukup jauh, katanya. Tetapi pada mulanya saya tidak bisa membayangkan jauhnya karena pada awal-awal saya tinggal di Yogyakarta, saya juga belum bisa ke mana-mana karena belum bisa naik sepeda. Paling-paling naik sepedanya masih di dalam pagar biara, di dalam kebun dan itupun dengan pengalaman jatuh bangun. Keberanian untuk keluar dari pagar biara belum ada, apalagi kalau harus sampai pergi jauh di tengah keramaian kota. Serem rasanya. Padahal pada saat itu, semua orang juga bersepeda. Yogya, lautan sepeda. Sungguh. Terkesan seperti semut sepeda saja.

Kembali ke bapa tua itu. Bapa tua itu ternyata tukang ketik tulisan tangan pater Cletus. Hemmmm…. Sungguh luar biasa. Maka bisa dipastikan bahwa semua buku-buku dan semua artikel, semua bahan ceramah hasil karya Pater Cletus Groenen yang terbit, sebelumnya pasti sudah dibaca juga terlebih dahulu oleh bapa tua itu. Saya membayangkan betapa luar biasanya pengetahuan bapa tua itu. Semua pergulatan intelektual dan rohani pater Groenen dia ikuti juga karena ia mengetiknya. Wonderful, cos it is full of wonder. Kalau buku-buku ataupun artikel-artikel dari Pater Groenen itu bisa menyapa dan berbicara kepada para pembacanya setelah diterbitkan, maka mungkin saja mereka itu (baca: teks-teks terbitan) akan mengatakan kepada para pembacanya: sebelum aku ada di depan matamu (dan kamu baca), aku sudah ada di depan mata si bapa tua tukang ketik dari mBener itu, aku sudah menari-nari di depan mata dia, aku juga sudah menjadi kesenangan dan buah ketekunan dia. Hemmmm…. Saya membayangkan mungkin juga teks-teks pater Groenen itu sudah menuntun, membimbing, mencerahkan, menantang, dan mungkin juga membuat dia bingung dan bertanya-tanya. Entahlah. Saya ini kan hanya menerka dan menduga saja. Saya menyaksikan adegan kunjungan itu hampir setiap minggu selama saya menjalani masa novisiat kami. Sesudah menyelesaikan masa novisiat, maka pada bulan Juni 1983, kami berpindah ke Jakarta, karena kami harus menempuh kuliah filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Studi itu dilakukan selama tiga tahun. Itu berarti kami selesaikan studi kami tahun 1986. Lalu kami pindah lagi ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan teologi di Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta. Sebuah pengalaman yang menarik dan menyenangkan juga.

Pada tahun 1986, saat kami kembali lagi ke Yogya, setelah kami menyelesaikan studi filsafat kami di STF Driyarkara Jakarta, kami masih beberapa kali melihat bapa tua itu datang. Tetapi pada saat itu saya melihat bahwa bapa tua itu memang sudah sangat tua. Genjotan sepedanya sudah tidak lagi segesit dan sekencang tiga atau empat tahun silam. Ia sudah dimakan usia. Factor U memang tidak bisa ditipu, tidak bisa ditantang. Ia datang begitu saja. Makanya saya bisa mengerti bahwa kali ini, si bapa tua itu sudah tidak lagi datang dengan membonceng cucunya. Mungkin cucu putri itu sudah gede, sudah tidak mau lagi ikut sang eyang kakung karena hal itu akan semakin membebani si bapa tua itu. Ya, mungkin putri itu sudah menjadi remaja, Bahasa sekarang sudah abg, sehingga tidak mau ikut-ikutan lagi naik sepeda dengan kakek tua. Memang sesudah itu ia tidak pernah datang lagi ke Papringan.

Pada saat itu kami dengar bahwa Pater Bernhard Kiesser SJ menghadiahi beliau dengan sebuah mesin ketik elektrik. Saya tidak tahu persis, apakah mesin tik listrik itu diberikan kepada pater Groenen karena bapa tua tukang ketik itu sudah sungguh-sungguh pensiun, ataukah jangan-jangan bapa tua itu pensiun karena bapa tua Groenen sudah punya mesin tik elektrik. Kalau poin kedua ini yang terjadi, hehehehe…. Kasihan sekali bapa tua itu…. Ia tersingkirkan oleh teknologi mesin ketik yang canggih. Pada waktu itu, mesin tik elektrik sangat canggih. Tetapi saya yakin bapa tua itu pensiun dari pekerjaannya membantu pater Groenen karena sudah tua. Sesudah itu, kami tidak pernah tahu lagi kabar tentang bapa tua itu. Juga kabar tentang cucunya si putri manis yang mungil itu, yang selalu nangkring di belakang sepeda eyang kakungnya, untuk datang menjenguk eyang kakung Groenen di Papringan.

Sekarang kembali lagi ke mesin tik itu. Mesin tik baru itu katanya diberikan sebagai hadiah ulang tahun pater Groenen. Saya membayangkan betapa tidak mudah juga bagi pater Groenen untuk memakai teknologi mesin tik listrik itu. Pasti butuh latihan dan pendampingan juga. Pater Kiesser membantunya dalam hal itu dengan tekun dan setia. Suatu yang sangat luar biasa.

Kembali ke Bapa tua itu. Saya merasa bahwa bapa tua itu sungguh luar biasa, sebab ia bisa membaca tulisan tangan pater Groenen. Kalau ia tidak mahir membacanya, ia pasti kerepotan dan bingung. Jangan-jangan ada yang ditambahkan si bapa tua. Hehehehe…. Memang tulisan tangan pater Groenen sangat jelek. Tidak mudah untuk dibaca. Ya saya mempunyai pengalaman pribadi yaitu terkait dengan proses bimbingan penulisan skripsi saya, yang sudah saya ceritakan kemarin.

1 comment:

CV GRAFFIKO said...

SEBELAS JARI DI ATAS SATU MESIN TIK PINJAMAN

Saya bayangkan Pater Groenen berlatih mengetik dengan Pater Kiesser. Kedua orang tua itu mungkin tegang, mungkin ada gurauan, dan mungkin juga ada ejekan. Luar biasa, bukan hanya soal ketekunan dan kesetiaan seperti kata Kraeng Frans, tetapi terutama soal keteladanan yang patut ditiru oleh anak muda (kita, murid). Belajar untuk maju tidak ada batasan (usia, suku, gender) apalagi dalam konteks kemajuan teknologi sekarang.

Saya belajar mengetik dengan menggunakan mesin tik yang dipinjamkan oleh seorang kawan dari Bantul Yogyakarta. Kami berbeda latar belakang, berbeda jurusan di Sanata Dharma, dan berbeda pula tempat kos. Suatu hari awal tahun 1983 kawan itu bertamu ke kos temannya yang kebetulan satu kos dengan saya di Gang Buntu 5 Pringgondani.

Kawan itu melihat tulisan tangan saya di kamar kos. Dia baca cerita saya, "Iso ngarang ya Mas", komentarnya singkat. Lanjutnya, "Kalau mau, saya pinjamkan mesin tik". Tidak hanya bangga, saya pun semakin bersemngat karena ada daya dukung, yaitu ketulusan seseorang yang belakangan menjadi sahabat, Mas Widodo (mahasiswa Jurusan Matematika Angkatan 1980).

Dari Mas Widodo itu saya belajar mengetik dengan SEBELAS JARI. Dari 11 jari itulah awal mulanya tulisan saya dimuat di majalah MUTIARA di Jakarta. Senang luar biasa karena dari tulisan itu saya menerima honor Rp 60.000 (uang kuliah saya di Sadhar waktu itu tujuh ribu rupiah yang dipotong dari beasiswa yang saya terima dari Sadhar Rp 30.000 per bulan).

Dengan demikian, saya semakin mencintai dunia tulis-menulis, menekuninya, menyadari kekurangan setiap tulisan yang diterbitkan secara lokal maupun nasional. Saya pernah menerima kritikan dari orang buta-sempula. Orang buta-sempula adalah orang yang kritik kejelekan tulisan saya, tetapi sampai tahun 2020 ini si kerik-tikus itu tidak pernah memublikasikan tulisannya; jangankan nasional, tulisan "ciko-lokal" pun belum juga ada. Tidak lucu ee! Saya tetap sabar menunggu tulisan si kerik-tikus itu.

Ruteng, 11 Mei 2020
Kanis Barung

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...