Monday, April 13, 2015

MENIKMATI MAZMUR 118

OLEH: Fransiskus Borgias M.

Pengalaman akan Allah bisa mempunyai banyak wujud. Salah satunya, pengalaman akan kasih-setia dan kerahimanNya. Ada orang lain yang mengalami keagungan Allah dan merasa terpesona oleh keagungan itu dan terdorong menyerukannya dengan lantang. Ada juga orang lain yang mengalami pengalaman Allah itu secara negatif, dalam rupa pengalaman yang kurang menyenangkan, tetapi oleh si subjek pengalaman itu, pengalaman tersebut diolah sedemikian rupa sehingga bernilai rohani. Dalam Mazmur 118 ini kita menemukan model pertama, yaitu orang yang mempunyai pengalaman akan kasih-setia dan kerahiman Allah.

Sebelum melangkah lebih lanjut, baiklah kita melihat beberapa hal terkait mazmur ini. Pertama, judul mazmur ini ialah “Nyanyian puji-pujian.” Mazmur ini cukup panjang, 29 ayat. Untuk menikmatinya, saya membaginya dalam beberapa unit. Pertama: ayat 1-4. Kedua: 5-9. Ketiga: 10-12. Keempat: 13-18. Kelima: 19-21. Keenam: 22-23. Ketujuh: 24-25. Kedelapan: 26-27. Kesembilan: 28-29. Kita nikmati mazmur ini dengan melangkah dari unit pertama sampai terakhir. Mazmur ini dibuka dan ditutup dengan seruan yang sama: Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya (ay.1.29). Kedua ayat ini menjadi bingkai awal dan akhir. Di tengah bingkai ini, pemazmur menguraikan dinamika pengalaman rohaninya secara rinci.

Unit pertama, hanya mengulang keyakinan bahwa kasih-setia (hesed) Tuhan itu kekal abadi. Penekanan itu ia lakukan dengan mengajak tiga kelompok: Israel (ay.2), Harun (ay.3), dan orang yang takut akan TUHAN (ay.4). Jika dua kelompok pertama terasa eksklusif, maka kelompok ketiga, menjadi sangat inklusif, merangkul siapa saja, sejauh mereka itu adalah orang yang takut akan TUHAN. Berdasarkan keyakinan bahwa kasih-setia TUHAN itu kekal, maka dalam unit kedua, ia mencanangkan keyakinannya bahwa Ia hanya mengandalkan TUHAN dalam hidup ini. Apapun yang ia alami, ia tidak goyah: Ia berpegang teguh pada Tuhan, penolong, pembebas (ay.5), pelindung (ay.9). Segala kekuasaan lain relatif, tidak berarti apa-apa di hadapan Tuhan yang menjadi segala-galanya di dalam segala-galanya.

Pengalaman negatif itu dilanjutkan dalam unit ketiga. Ia merasa bahwa semua orang mengelilingi, untuk mengepung dia, tetapi ia tidak takut. Ia bisa mengalahkan mereka karena Tuhan melindungi dia (ay.10.11.12). Dalam ay.12 kita melihat metafora kehadiran para musuh dalam rupa lebah yang datang mengerubungi dia, dan juga api duri. Agak susah memahami metafora kedua ini. Singkatnya sbb: di gurun ada sejenis semak berduri, yang kalau terbakar, apinya tidak mudah dipadamkan, karena api terus menyala di dalam tanah, melalui akarnya, yang mengandung oksigen tinggi. Jadi, api itu tidak hanya mengepung dia di permukaan tanah, melainkan juga mengancam dia dari dalam tanah, berupa panas membara.

Gema pengalaman itu masih dilanjutkan dalam unit keempat. Di sini ada unsur baru, yaitu pengalaman ditolak (ay.13). Memang ia merasa ditolak, tetapi ia tidak terjatuh karena ia ditolong TUHAN. Atas dasar itulah ia mengungkapkan keyakinannya dalam ay.14 bahwa TUHAN adalah kekuatan dan keselamatanku. Karena Tuhan ada di pihak dia, maka dia pasti menang dan bersorak karenanya (ay.15). Secara khusus ia menyinggung tindakan Tuhan, melalui tangan kananNya (ay.16) yang melakukan keperkasaan. Atas dasar itu ia yakin bahwa ia tidak akan mati, melainkan hidup, tetapi bukan hidup demi dirinya sendiri, melainkan untuk mewartakan karya Tuhan (ay.17). Dalam ay.18 kita temukan sebuah pengalaman kontras: Tuhan memang menghajar dia, tetapi Tuhan tidak menyerahkan dia kepada maut. Jadi, ia tetap hidup.

Unit kelima. Setelah seuntaian pengalaman selamat dan luput dari maut seperti yang diungkapkan dalam beberapa unit terdahulu, sekarang pemazmur siap masuk ke dalam gerbang kebenaran. Apa itu? Itu adalah kediaman Tuhan, bahkan Tuhan itu sendiri; Tuhan adalah kebenaran. Si pemazmur mau masuk ke dalam gerbang kebenaran itu, dengan tujuan yaitu bersyukur kepada Tuhan karena Ia telah menjawab semua permohonannya, dan Tuhan telah menjadi keselamatan bagi dia (ay.21).

Unit keenam. Di sinilah kita menemukan sebuah ayat yang terkenal dan semoga kita hafal ayat 22: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Ini juga adalah pengalaman kontras. Apa yang tampak sepele di mata dunia, justru diangkat Allah. Dan itu adalah perbuatan TUHAN; itu adalah mukjizat agung bagi kita, perbuatan ajaib (ay.23). Unit ketujuh. Ayat 24 juga terkenal dan akrab bagi kita karena teks ini sering diangkat oleh komponis untuk dijadikan lagu. Mungkin kita akrab dengan Latinnya: Haec dies quam fecit, Dominus. Exultemus, et laetemur in Ea. (ay.24). Dalam ayat 25 kita masih membaca permohonan pemazmur agar diberi keselamatan dan kemujuran. Unit kedelapan. Ayat 26 juga terkenal karena dipakai dalam teks Kudus TPE. Setelah tinggal di dalam Rumah Tuhan dan mengalami keselamatan Tuhan, sekarang ia mau membagi berkat itu kepada orang lain. Itulah aspek lain dari ayat 26. Dalam ayat 27 ia melukiskan pengalaman lain akan Allah, yaitu sebagai Terang, yang menerangi kita. Bagian kedua dari ayat 27 itu mengingatkan kita akan kesibukan hari raya, di mana orang membawa banyak hewan kurban untuk dipersembahkan kepada Tuhan di mezbahNya.

Unit kesembilan. Puncak semua ini adalah ekspresi maksimal dari pemazmur yang dengan lantang mengatakan bahwa ia mau melambungkan lagu pujian dan syukur kepada Tuhan penyelamat (ay.28). Akhirnya, dalam ayat 29, seperti dikatakan tadi, pemazmur mengulang kembali refrein awal dengan meriah lagi: Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

Georgetown University, Washington DC, USA, Desember 2014.

Friday, April 10, 2015

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 117

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Inilah mazmur paling pendek dari 150 mazmur yang ada dalam Kitab Suci. Mazmur ini hanya terdiri atas dua ayat. Mazmur ini termasuk kategori mazmur pujian yang berciri universal (umum). Universal, artinya mazmur ini bisa dipakai oleh siapa saja, di mana saja dan kapan saja.

Pemazmur mulai dengan ajakan meriah untuk memuji dan memuliakan Yahweh, Pujilah Tuhan, Halleluyah. Ia mengajak segala bangsa untuk ikut serta dalam lagu pujian itu. Sedemikian besarnya keagungan dan kemuliaan Tuhan sehingga ia merasa tidak cukup untuk memujinya sendirian saja. Ia pun mengundang segala bangsa yang lain. Ia mengajak segala bangsa untuk memegahkan Tuhan. Bangsa dan sukubangsa adalah sinonim; sesungguhnya yang dimaksudkan sama, tetapi diungkapkan dengan kata lain.

Lalu dalam ayat 2 dia memberikan alasan pujian itu. Ia mencoba meyakinkan orang yang diajaknya itu, mengapa kita harus memuji-memuji Tuhan. Alasannya ada dua. Sebab kasih-Nya hebat atas kita dan kesetiaan Tuhan untuk selama-lamanya. Kasih dan setia adalah terjemahan dari kata hesed, salah satu sifat Tuhan. Hesed Yahweh itu menyertai kita, semacam love in action, cinta yang tampak nyata dalam perbuatan, dalam tindakan nyata. Hal itu akan berlangsung selama-lamanya. Tidak hanya sesaat saja; itulah janji kekal Allah. Mazmur ini ditutup dengan cara yang sama seperti pembukanya: Halleluiah, Pujilah Tuhan.

Gaithersburg, Maryland, USA, Awal Desember 2014.

Wednesday, February 25, 2015

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 116

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Ada banyak alasan bagi manusia beriman menghaturkan syukur berlimpah kepada Allah, pencipta dan penyelenggara hidup. Memang sudah seharusnya seluruh hidup manusia beriman senantiasa ditandai dengan untaian ucapan rasa syukur itu. Struktur dasar hidup seorang beriman ialah hidup penuh syukur. Ada bermacam-macam alasan untuk syukur tersebut. Salah satunya ialah pengalaman luput dari belenggu maut. Memang hidup adalah serba rapuh. Hidup secara niscaya terarah kepada kematian. Tidak ada makhluk hidup yang tidak akan mati. Semuanya pasti mati. Sein zum Tode, kata filsuf, Martin Heidegger. Tetapi Allah menolong kita dari kerapuhan hidup kita. Menurut orang beriman, maut bukanlah kata-kata terakhir, sebab akhirnya hidup itu akan kembali bermuara dalam kehidupan juga. Itu sudah pasti.

Hal seperti inilah yang, dengan kata-kata dan rumusan sendiri, direnungkan dalam Mazmur 116 ini. Mazmur ini termasuk cukup panjang, mencapai 19 ayat. Judul Mazmur ini dalam Alkitab kita ialah “Terluput dari belenggu maut”. Untuk dapat memahami dan menikmatinya dengan baik, maka sebaiknya Mazmur ini dibagi-bagi. Dalam pembacaan saya, Mazmur ini dapat dibagi tiga bagian. Bagian I, meliputi ay.1-11. Bagian II, meliputi ay.12-14. Bagian III, meliputi ay.15-19.

Ada dua tindakan Allah yang mendorong pemazmur bersyukur. Karena Allah mendengarkan; juga diungkapkan dengan kata kerja menyendengkan telinga (ay.2 dan 1). Allah membebaskan dia dari maut (diungkapkan dengan beberapa ungkapan, ay.3). Tetapi ia bebas karena menyerukan nama Allah (ay.4). Atas dasar semua pengalaman itu ia pun bersyukur kepada Allah. Dalam ay.5 ia menegaskan sifat-sifat Allah. Dalam ayat 6 ia menegaskan karya-karya Allah. Atas dasar kedua pengalaman itu (ay.5-6), ia pun meminta kepada jiwanya agar tenang, tidak usah takut dan cemas; du brauchts keine Angst zu haben (ay.7).

Ayat 8 ada perubahan gaya sebab ia seperti berbicara secara langsung dengan Allah. Berbeda dengan yang di atas tadi, di mana ia berbicara sebagai orang ketiga tentang Allah. Ia berwarta kepada orang lain di sekitar. Dalam ayat 8 ia berbicara langsung dengan Allah. Ada permainan dan perubahan antara tentang dan dengan. Dalam ayat 9 ia kembali seperti berbicara kepada yang lain tentang Allah. Ayat 10: pelukisan tentang pengalaman paradoks: tertindas tetapi tetap percaya. Iman tidak mati karena tertindas atau penindasan. Ayat 11 sangat terkenal: omnis homo mendax. Semua manusia pembohong. Dan hal itu sudah berlangsung sedari mula. Sebenarnya agak sulit memahami ucapan ini. Tetapi ayat 11a kiranya memberi kita kunci pemahaman. Ia mengaku bahwa pernyataan itu keluar dari kebingungannya. Ia mengucapkan pernyataan itu ketika ia bingung. Memang dalam situasi bingung, orang bisa berbuat dan mengucapkan apa saja yang bisa membingungkan orang lain. Tetapi pernyataan itu mengandung kebenaran juga, sebab memang sedari mula manusia sering melakukan kebohongan, bahkan kepada Allah (bdk.Kej.3).

Sekarang kita melihat bagian II yaitu ayat 12-14. Refleksi pemazmur terus berlanjut dalam bagian ini. Dan refleksi itu dimulai dalam ayat 12 dengan pertanyaan reflektif. Pertanyaan reflektif itu menyangkut pelbagai pengalaman positif pemazmur akan Allah di masa silam: Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? (ay.12). Pertanyaan reflektif itu dijawab dalam ayat 13-14, berupa dua buah untaian janji. Rupanya di masa silam, si pemazmur pernah bernazar, dan sekarang, setelah mengalami kebaikan Tuhan, ia bermaksud melunasi nazar-nazarnya itu (ay.13-14).

Dalam ayat 15 kita dapat merasakan peralihan. Ini bagian III mazmur ini. Dalam bagian ini, pemazmur mencoba menguraikan beberapa hal penting. Kematian adalah tidak terhindarkan. Semua makhluk hidup pasti mati. Tetapi apresiasi terhadap kematian itu berbeda-beda untuk setiap orang sesuai dengan olah kehidupannya di dunia ini. Orang yang dikasihi Tuhan, ketika mereka mati, itu bukan kematian sia-sia, sebab kematian mereka adalah sesuatu yang berharga di mata Tuhan. Sadar akan hal itu, pemazmur pun sampai kepada suatu kesadaran bahwa relasi dia dengan Allah adalah relasi yang sangat akrab laksana hubungan darah, antara ibu dan anak. Anak dan ibu merasa dekat satu sama lain (ayat 16). Dalam kesadaran akan relasi akrab-familial seperti itu, ia merasa sudah mengalami tindakan pembebasan yang dilakukan Allah dalam hidupnya. Itu sebabnya, dalam ayat 17, ia bernazar: mau mempersembahkan korban syukur kepada Allah, dan menyerukan nama TUHAN. Ia juga tidak menyembunyikan nazarnya itu kepada Tuhan, melainkan ia akan melunaskan nazar-nya itu di depan seluruh umat (ay.18). Tidak hanya di depan seluruh umat, melainkan juga ia akan mempersembahkan nazar itu di Yerusalem, di pelataran rumah Tuhan (ayat 19).

Georgetown University, Washington DC USA, Medio Desember 2014.

Tuesday, February 3, 2015

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 115

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Seorang teolog bernama Gabriel Vahanian pernah mengatakan bahwa umat manusia tidak mudah untuk membebaskan diri dari tendensi berhala yang ada dan hidup dalam struktur dasar eksistensinya. Tendensi itu tidak datang dari luar diri manusia, apalagi hanya sekadar di luar manusia, melainkan ada di dalam, menjadi struktur dasar hidup dan keberadaan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, jika Allah sejati tidak lagi disembah, maka pasti manusia akan mencari sesuatu sebagai penggantinya yang kepadanya manusia akan menyembah berhala. Memang manusia mudah sekali terperosok ke dalam perilaku berhala, kata seorang teolog lain, Harvey Cox. Kiranya mazmur ini juga berbicara tentang tendensi berhala yang ada dan hidup dalam diri manusia. Yaitu tendensi untuk menggeser Allah dari tempatnya yang sepatutnya lalu diganti dengan sesuatu yang lain yang dianggap dan diperlakukan sebagai sembahan.

Sebelum melangkah lebih jauh, terlebih dahulu saya membeberkan beberapa hal yang kiranya dapat membantu dalam proses pemahaman dan penikmatan kita akan mazmur ini. Dibandingkan dengan beberapa mazmur sebelumnya, mazmur ini termasuk cukup panjang yaitu mencapai 18 ayat. Judulnya dalam Alkitab kita ialah sbb: "Kemuliaan hanya bagi Allah." Judul itu sudah menegaskan apa yang menjadi isi dari seluruh mazmur ini. Mazmur ini jika kita mengikuti dinamika isinya, dapat dibagi menjadi tiga bagian besar. Bagian pertama, meliputi ayat 1-7. Bagian kedua, meliputi ayat 8-15. Bagian ketiga, meliputi ayat 16-18. Dalam bagian berikut saya akan mencoba melihat mazmur ini bagian demi bagian.

Dalam ay.1 dari bagian pertama langsung dibentangkan kepada kita penegasan mengenai siapa yang harus disembah. Bahwa yang disembah itu bukan diri manusia sendiri, melainkan nama Tuhan. Hanya kepada nama Tuhan itu sajalah kita memberi kemuliaan karena Tuhan itu penuh kasih dan setia (hesed). Ini adalah sebuah kebenaran fundamental dalam kehidupan umat Israel. Memang umat bisa saja tergoda jika mendengar pertanyaan retoris dari para bangsa yang bertanya tentang di mana Allah mereka? (ay.2). Pertanyaan itu dijawab dengan tegas dan sederhana: Allah kita ada di surga (ay.3). Allah itu adalah subjek tindakanNya sendiri. Hal itu sangat berbeda jauh dari berhala-berhala para bangsa. Mulai dari ayat 4-7 dilukiskan ciri-ciri berhala para bangsa. Pertama, ternyata berhala mereka hanya buatan tangan manusia belaka, terbuat dari bahan perak dan emas (ay.4). Di tempat lain dikatakan terbuat dari batu dan kayu. Berbeda dengan Allah Israel, berhala-berhala ini sama sekali tidak berdaya; mereka bukan subjek bagi tindakannya sendiri. Berhala-berhala itu lengkap secara fisik: ada mulut (ay.5), ada mata (ay.5), ada telinga, ada hidung (ay.6), ada tangan, ada kaki (ay.7), dan kerongkongan (ay.7), tetapi semuanya tidak dapat berfungsi sebagaimana sepatutnya. Mereka tampak seperti hidup, tetapi sesungguhnya mereka itu hanya seolah-olah hidup, sebenarnya tidak hidup sama sekali. Jadi, tidak nyata.

Dalam bagian kedua dilukiskan bagaimana nasib dari orang-orang yang menyembah berhala-berhala tadi. Dengan sangat tegas dikatakan bahwa nasib mereka akan sama tidak berdayanya juga dengan berhala-berhala yang mereka sembah. Jika berhala-berhala mereka tidak dapat berbuat apa-apa, demikian juga halnya mereka yang menyembahnya, akan menjadi tidak berdaya juga (ay.8).

Atas dasar itulah maka dalam bagian berikut si pemazmur mengajak kaum Israel dan kaum Harun agar jangan mencondongkan hati kepada berhala, melainkan harus percaya kepada Tuhan. Sebab hanya Tuhanlah pertolongan bagi mereka (ayat 9). Begitu juga halnya dengan kaum Harun; mereka dianjurkan untuk percaya kepada Tuhan sebab hanya Tuhan sajalah yang menjadi pertolongan dan perlindungan bagi mereka dan bukan yang lain (ay.10). Selain kaum Israel dan kaum Harun, dalam ayat 11 disebut kategori kelompok yang ketiga yang diajak untuk percaya kepada Tuhan, yaitu orang-orang yang takut akan Tuhan. Mereka ini adalah orang yang berasal dari kelompok para bangsa lain, tetapi mau percaya kepada Allah Israel.

Berbeda dengan berhala-berhala para bangsa, Tuhan Allah Israel itu tidak pernah lupa akan umat-Nya. Ia selalu ingat akan mereka (ay.12). Karena Ia ingat maka Ia memberi berkat, dan berkat itu berlaku untuk semua orang baik yang kecil maupun yang besar (ayat 13). Dalam ayat 14 kita mendengar sebuah doa yang secara khusus memohon pertambahan jumlah kaum Israel, agar mereka tidak lagi menjadi yang terkecil dan diremehkan orang. Pemazmur berharap agar Tuhan yang menjadikan langit dan bumi akan memberkati kaum Israel (ayat 15).

Dalam bagian ketiga kita temukan sesuatu yang penting dan menarik juga untuk dicermati. Dalam ayat 16 dibuat sebuah pembedaan antara langit dan bumi; langit untuk Tuhan, dan bumi untuk manusia. Sebagaimana Tuhan telah bertindak bijaksana dari surga terhadap makhluk ciptaanNya, demikian juga halnya dengan manusia, harus bertindak bijaksana di bumi ini (dalam relasinya dengan sesama makhluk ciptaan). Dalam dua ayat terakhir, dijawab sebuah pertanyaan iman yang penting: siapakah yang sesungguhnya akan memuji Tuhan? Apakah orang-orang yang sudah mati? Apakah orang-orang yang sudah turun ke tempat sunyi? Ternyata ayat 17 menegaskan bahwa yang memuji Tuhan itu bukan kedua kelompok orang tadi. Kalau demikian siapakah yang akan memuji Tuhan? Itulah yang dijawab dengan tegas dan lantang dalam ayat 18: bahwa yang memuji Tuhan ialah kita yang masih hidup sekarang ini, dan pujian itu akan berlangsung hingga selama-lamanya. Menarik bahwa di sini muncul lagi seruan haleluya sebagai penutup mazmur.


Georgetown University, Washington DC, 10 Desember 2014.


Thursday, December 11, 2014

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 114

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Cara kita memandang alam sangat tergantung pada pengalaman rohani dan psikis yang sedang kita alami pada suatu kurun waktu tertentu. Misalnya jika kita sedang jatuh sakit dan berbaring di tempat tidur, maka alam terasa seperti murung juga, padahal sebenarnya, pagi itu cerah sekali, ada banyak bunyi kicau burung yang indah di ranting-ranting pepohonan di taman. Tetapi karena kita sakit, maka semuanya itu tidak lagi terdengar atau tampak indah. Memang keadaan sakit membuat kita mengalami dunia di sekitar kita secara lain sama sekali. Begitu juga sebaliknya, jika kita sedang sehat dan dilanda rasa sukacita yang luar biasa, maka alam sekitar pun serasa ikut serta bersukacita juga bersama sukacita yang kita alami dalam hati dan jiwa kita, seperti kata sebuah lagu: semua bunga ikut bernyanyi, gembira hatiku, segala rumput pun riang-ria, Tuhan sumber gembiraku. Kiranya pengalaman seperti itulah yang coba dilukiskan oleh si pemazmur yang telah menulis mazmur 114 ini. Dalam nostalgia historis yang ia lakukan, ia mencoba mengenang kembali perjalanan historis Israel, yaitu perjalanan keluaran (exodus) dan pembebasan dari tanah perbudakan Mesir menuju ke tanah terjanji di Kanaan.

Tetapi sebelum melangkah lebih jauh, terlebih dahulu saya mau mengemukakan beberapa hal yang kiranya berguna dalam rangka upaya kita memahami dan menikmati mazmur ini dengan lebih baik. Mazmur ini termasuk cukup pendek juga, yaitu hanya mencakup 8 ayat saja. Judulnya dalam Alkitab kita ialah sbb: “Kejadian yang ajaib pada waktu Israel keluar dari Mesir.” Dari judul ini kiranya menjadi jelas bahwa mazmur ini mencoba melukiskan beberapa peristiwa ajaib-kosmis yang mengiringi perjalanan umat Israel keluar dari tanah perbudakan Mesir. Walaupun mazmur ini termasuk sangat singkat, tetapi kita masih dapat membaginya menjadi beberapa unit sebagaimana ditampilkan oleh pembagian yang disiratkan dalam Alkitab itu sendiri. Bagian Pertama, meliputi ayat 1-2. Bagian Kedua, meliputi ayat 3-4. Bagian Ketiga, meliputi ayat 5-8. Dalam bagian berikut ini saya akan mencoba membahas Mazmur ini bagian demi bagian.

Dalam Bagian Pertama, jelas si Pemazmur ini sedang melakukan sebuah pengenangan akan sejarah (nostalgia historis), ketika bangsa Israel keluar dari Mesir. Di sana mereka menjadi terasing, karena mereka tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa mereka, sebab bahasa orang di sana itu terasa asing bagi mereka. Keadaan tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa adalah sebentuk keterasingan juga dalam relasi dan komunikasi antar manusia. Namun demikian mereka tetap bisa berbangga karena bangsa itu menjadi tempat kudus Tuhan, dan menjadi daerah kekuasaan Tuhan. Kemudian atas penyelenggaraan Tuhan, mereka bisa keluar dari tanah perbudakan itu (exodus), dan menuju tanah Terjanji (Kanaan). Nah apa yang sesungguhnya terjadi, ketika umat Israel itu berjalan keluar dari tanah Mesir?

Itulah yang coba dibahas dalam Bagian Kedua dari Mazmur ini. Dalam bagian ini dilukiskan beberapa unsur dari alam yang seakan-akan memberi reaksi yang layak sepatutnya terhadap peristiwa pembebasan itu. Unsur alam pertama yang disebut ialah laut (ay.3). Laut itu dikatakan melarikan diri. Tentu saja hal ini mengacu kepada peristiwa dibelahnya laut Merah oleh tongkat Musa atas perintah Tuhan itu (Kel.14:16). Laut yang terbelah itu menyebabkan orang Israel bisa menyeberang dengan mudah dan meluputkan diri dari kejaran orang-orang Mesir, biarpun mereka memakai teknologi persenjataan “modern” pada saat itu. Unsur alam kedua yang disebut ialah sungai Yordan (ay.3). Tentu yang disinggung di sini adalah mukjizat alam (kosmis) yang dilakukan oleh Yoshua ketika orang Israel menyeberang sungai Yordan. Dikatakan bahwa Sungai Yordan itu berbalik ke hulu dan membiarkan umat Israel bisa menyeberang dengan mudah. Unsur alam ketiga yang disinggung di sini ialah gunung-gunung dan bukit-bukit (ay.4). Sesungguhnya tidak begitu jelas, gunung apa yang dimaksudkan di sini. Mungkin saja gunung Sinai yang bergoncang ketika terjadi gempa bumi tatkala ada teofani kepada Musa. Atau mungkin juga mengacu kepada bukit-bukit di Galiela dan Yudea yang di mata orang-orang yang mengembara itu seakan-akan sedang menari-nari menyongsong kedatangan mereka. Tidak jarang terjadi, sukacita yang dialami dan dirasakan dalam hati diekspresikan keluar sehingga tampak seakan-akan alam juga turut bersukacita bersama hati kita yang sedang bersukacita itu. Hati yang sudah exited bisa melihat alam secara lain sama sekali.

Mungkin kata kunci untuk bisa memahami semua perlambang yang dimainkan di sini ialah apa yang diungkapkan dalam ayat 7 itu. Dengan ini kita masuk ke dalam bagian ketiga dari Mazmur ini. Di hadapan Tuhan sang Raja semesta Alam, maka seluruh makhluk ciptaan harus tunduk dan gemetar. Tuhanlah yang bisa menjadikan segala sesuatu menjadi mungkin dalam pengalaman iman. Tuhan itulah yang telah melakukan campur tangan dalam hidup kaum beriman. Misalnya di sini disebutkan mengenai mukjizat mata air yang terpancar keluar dari gunung batu (Kel.17:6). Memang secara historis mukjizat itu dilakukan oleh Musa karena protes dan pemberontakan (sungut-sungut) dari umat yang terancam mati kehausan di tengah padang gurun. Tetapi akhirnya, mukjizat tetaplah sebuah mukjizat yang pasti mendatangkan rasa sukacita yang mendalam. Dan ketika semuanya itu dikilas balik dalam iman, maka semuanya itu akan mendatangkan sukacita dan pengalaman rohani yang luar biasa. Betapa alam selalu mengantar kita melampaui alam itu sendiri. Dalam hal ini alam mengantar kita menuju Tuhan sang pencipta alam itu. Alam selalu mengkondisikan kita untuk percaya. Alam mengantar kita kepada iman. Luar biasa.


Yogyakarta, Georgetown University, Washington DC, 05 Desember 2014

Wednesday, December 3, 2014

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 113

Oleh: Fransiskus Borgias M.


Tidak jarang kelompok kecil di tengah sebuah masyarakat mayoritas, dilanda oleh gejala kompleks rendah diri (inferioritas). Hal itu adalah sesuatu yang sangat wajar saja dalam masyarakat manusia. Ada saja kelompok yang seperti secara tidak sadar dikorbankan atau dipinggirkan dalam proses-proses sosial dan politik dan ekonomi dari sebuah tatatan masyarakat. Persoalannya sekarang ialah, apakah bagi kelompok orang seperti ini sudah tidak ada harapan lagi? Apakah mereka harus berputus-asa begitu saja karena tirani dan kesewenang-wenangan mayoritas? Mungkin ada yang berpandangan pesimistis lalu berkata bahwa dalam situasi seperti itu, sudah tidak ada harapan apa pun bagi mereka. Tetapi si Pemazmur dalam Mazmur 113 ini memberikan sebuah pandangan yang lain. Ia menegaskan bahwa sesungguhnya masih ada peluang sebuah jalan keluar. Adalah Tuhan yang meninggikan orang yang rendah. Itulah yang menjadi judul dari Mazmur ini: “Tuhan meninggikan orang rendah.” Tuhanlah yang menjadi sumber dan dasar pengharapan itu.

Tetapi sebelum melangkah lebih lanjut, terlebih dahulu saya memberikan beberapa catatan awal yang menarik yang kiranya bisa membantu kita dapat memahami dan menikmati Mazmur 113 ini. Mazmur ini termasuk sangat singkat, yaitu hanya mencakup 9 ayat saja. Karena termasuk sangat singkat maka saya tidak akan membaginya ke dalam satuan-satuan yang lebih kecil, melainkan saya akan mencoba melihat dan memahaminya sebagai satu kesatuan yang utuh saja.

Sebagaimana halnya kedua mazmur terdahulu (mazmur 111 dan 112), mazmur 113 inipun termasuk dalam mazmur hallel. Bedanya adalah bahwa dalam mazmur 113 ini, seruan Hallel itu ada pada bagian awal dan bagian akhir dari mazmur tersebut. Jadi, mazmur ini dibingkai oleh seruan halleluya itu, suatu hal yang tidak ada pada kedua mazmur terdahulu.

Seruan halleluya itu sendiri tidak lain berarti, pujilah Tuhan, Yahweh. Jadi, kiranya menjadi cukup jelas bahwa ini adalah sebuah ajakan kepada manusia (siapa saja) untuk memuji Tuhan. Seruan awal hallel itu dilanjutkan secara eksplisit dalam ayat 1b di mana ajakan pujian itu diulang kembali dan masih akan diulang lagi pada bagian akhir ayat 1c. Hal yang baru di sini ialah bahwa yang diajak untuk melakukan pujian itu adalah hamba-hamba Tuhan. Siapakah yang dimaksudkan dengan ungkapan ini? Mungkin semula ungkapan itu mengacu kepada kaum Levita saja, yang memang mempunyai tugas khusus di bait suci untuk mengidungkan kidung pujian di Bait Allah; semacam kelompok paduan suara (para cantores, yang berbeda dari para lectores). Tetapi lambat laun ungkapan itu juga bisa dipahami sebagai suatu istilah yang mengacu kepada Israel sebagai satu kesatuan dan keseluruhan. Israel itulah yang dimaksud dengan hamba-hamba Tuhan. Tetapi akhirnya, ungkapan itu juga bisa mengacu kepada semua makhluk ciptaan. Semua makhluk ciptaan itulah yang diajak untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Dalam ayat 2-3 kita dapat melihat sebuah struktur yang menarik yang dapat digambarkan sbb: 2a//3b dan 2b//3a. Maksudnya, ayat 2a sejajar dengan 3b dan 2b sejajar dengan 3a. Apa yang diungkapkan dalam 2a diulang lagi dalam 3b, dan apa yang diungkapkan 2b diulang lagi dengan ungkapan lain dalam 3a (fenomena paralelisme). Intinya ialah, ajakan untuk memuji dan memuliakan Allah secara tiada henti-hentinya. Dan hal itu memang seharusnya dan sepantasnya dilambungkan oleh semua makhluk hidup.

Selanjutnya dalam ayat 4-9 diberikan dua alasan untuk ajakan memuji Tuhan tersebut. Alasan pertama ada dalam ayat 4. Yang diangkat sebagai alasan di sini menyangkut martabat eksistensi Tuhan itu sendiri. Kita memuji Tuhan karena Tuhan itu mahatinggi; sedemikian tingginya sampai ia mengatasi segala bangsa (yang terpikirkan secara real-politik saat itu ialah Mesir, Babel, Asyur); kemuliaan Tuhan mengatasi langit. Kemudian dalam ay.5-6 kita menemukan sebuah reaksi iman Israel dengan Tuhan. Dengan sebuah pertanyaan retoris dalam ayat 5, si pemazmur menegaskan bahwa Tuhan itu berdiam di tempat yang sangat tinggi. Dari tempat yang tinggi itulah Tuhan rela tunduk membungkuk untuk memperhatikan langit dan bumi. Jadi, tempat tinggal yang jauh dan tinggi itu tidak berarti bahwa Allah tidak peduli. Berdasarkan ayat ini kita tidak dapat dan tidak boleh menyimpulkan tentang paham deisme (bahwa Allah ada, tetapi Allah itu tidak berbuat apa-apa lagi terhadap makhluk ciptaan). Sebaliknya di sini, kita melihat bahwa Allah itu dari tempat tinggalnya yang tinggi, tetap menaruh perhatian dan kepedulian atas semua makhluk ciptaanNya.

Dalam ayat 7 kita menemukan alasan yang kedua. Alasan yang ini adalah sebuah alasan etis, yang bertolak dari perbuatan Tuhan sendiri. Kita harus memuji Tuhan karena Tuhan telah menegakkan orang yang hina dina, dan mengangkat orang yang miskin. Jadi di sini disebutkan tiga kelompok orang yang diangkat oleh Tuhan, yaitu orang yang hina dina, orang yang miskin, dan perempuan yang mandul (ay.9). masing-masing disebutkan dari mana mereka itu telah diangkat oleh Tuhan. Orang yang hina dina (mungkin orang yang terkena penyakit kusta, luka borok seperti Ayub itu) dari dalam debu; orang yang miskin dari lumpur; perempuan mandul dari keadaan mereka yang serba tersingkirkan. Dalam ayat 8 dilukiskan bahwa setelah mereka diangkat Tuhan dari kondisi kerendahan mereka, lalu akhirnya Tuhan menempatkan mereka di antara para bangsawan. Begitu juga halnya dengan perempuan mandul, yang karena mandul tidak mempunyai go’el (pembela, penebus, penyelamat) dalam hidup ini. Tetapi Tuhan sendiri sudah berkenan menjadi Go’el bagi dia. Ia menjadikan perempuan mandul menjadi penuh sukacita sama seperti halnya para ibu yang telah melahirkan anak-anak. Atas semuanya itu, sekali lagi si pemazmur menyerukan agar kita memuji dan memuliakan Tuhan. Dengan nada yang terakhir ini, kita bisa melihat kesejajaran nada antara mazmur ini dan kidung Hana (1Sam.2:1-10) yang kemudian digemakan kembali dalam Kidung Maria yang amat terkenal itu, Magnificat (Luk.1:46-55).


Yogyakarta, 01 Agustus 2014.

Saturday, October 4, 2014

MEMAHAMI DAN MENIKMATI MAZMUR 112

Oleh: Fransiskus Borgias M.,

Mana pertanyaan yang benar: apa sumber kebahagiaan hidup manusia? Ataukah siapa sumber kebahagiaan hidup manusia? Pertanyaan yang dipilih akan sangat menentukan warna, pilihan, dan orientasi hidup manusia. Ada yang memilih pertanyaan yang pertama. Tetapi ada juga manusia yang memilih pertanyaan yang kedua. Rupanya si pemazmur yang menghasilkan mazmur 112 ini lebih condong memilih pertanyaan kedua. Maka apa yang bisa membahagiakan dia bukanlah terutama benda, atau barang, melainkan orang, atau pribadi, tetapi bukan pribadi manusia, melainkan pribadi Tuhan sendiri. Kebanyakan kali terjadi bahwa orang mengorientasikan hidupnya untuk mencari sumber kebahagiaan hidupnya pada apa, yaitu pada benda, pada materi. Dibutuhkan kearifan hidup agar orang bisa mencapai suatu tahap kesadaran bahwa yang sungguh membahagiakan hidup manusia di dunia ini adalah Tuhan Allah sendiri. Mungkin itulah sebabnya di dalam injil dikatakan bahwa carilah dahulu Kerajaan Allah dan segala sesuatu yang lain akan ditambahkan kepadamu. Kesadaran hidup seperti itulah yang coba dibahas dalam mazmur 112 ini.

Tetapi sebelum melangkah lebih lanjut, terlebih dahulu saya mau membahas beberapa hal penting yang kiranya dapat membantu proses penjelasan dan pemahaman akan mamzur ini. Judul mazmur ini dalam Alkitab kita ialah “Bahagia orang benar.” Mazmur ini termasuk cukup pendek, yaitu hanya mencakup 10 ayat saja. Karena teks dalam Alkitab kita tidak memberi tanda-tanda mengenai pembagian, maka di sini saya akan mencoba melihat dan membahasnya sebagai satu kesatuan utuh saja. Tiga mazmur ini, mulai dari mazmur 111 sampai mazmur 113, sama-sama dimulai dengan seruan Haleluya. Itulah sebabnya para ahli mengatakan bahwa ketiga mazmur ini termasuk dalam kategori mazmur halel. Di bagian berikut ini saya akan mencoba melihat dinamika isi mazmur ini dari ayat demi ayat yang ada.

Sesudah seruan haleluya pada awal, selanjutnya mazmur ini dalam ayat 1 dilanjutkan dengan penetapan mengenai apa sumber kebahagiaan manusia. Menurut penetapan ayat 1 ini, sumber kebahagiaan manusia adalah dua, yaitu jika orang takut akan Tuhan dan jika orang sangat suka akan segala perintah-Nya. Jika orang memenuhi kedua ketetapan tersebut maka akan muncul beberapa hasil atau akibat yang tidak hanya berlaku bagi dirinya sendiri saja, melainkan juga bagi orang-orang lain di sekitarnya. Misalnya, dalam ayat 2 dikatakan bahwa anak cucunya akan berjaya di muka bumi ini. Tidak hanya itu saja, rumahnya penuh dengan harta dan kekayaan (ayat 3). Rumah di sini bisa dipahami secara harfiah yaitu rumah kediaman, tetapi bisa juga dipahami sebagai kaum keturunan (atau dinasti). Jika dipahami dalam artian ini, maka berkat itu berkelanjutan dan berkepanjangan, sebab juga mencakup kaum keturunan. Tidak hanya harta kekayaan, melainkan juga kebajikan tetap menyertai dia untuk selama-lamanya. Orang seperti ini tidak akan pernah dilanda kegelapan (ay.4); orang yang adil biasanya adalah orang yang pengasih dan penyayang. Orang menaruh belas kasihan akan mengalami kemujuran dalam hidupnya (ay.5); orang seperti ini akan rela membantu orang lain dan tidak bermaksud memeras atau makan riba melainkan “melakukan urusannya dengan sewajarnya”.

Selanjutnya dikatakan bahwa orang seperti ini tidak akan goyah untuk selama-lamanya, dan ingatan akan dia tidak akan lenyap dari muka bumi ini (ay.6). Sebab orang akan terus mengenang perbuatan baik dia. Seperti kata pepatah: gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belalai. Manusia mati meninggalkan amal dan perbuatan baiknya, kebaikan dan kebajikannya. Orang seperti dikatakan akan hidup dengan tenang, dan tidak bisa dikejutkan dengan berita apa pun, juga termasuk berita celaka; itu semua terjadi karena ia percaya kepada Tuhan (ay.7). Itulah sebabnya ia dengan tenang menghadapi para musuhnya dan bahkan ia sama sekali tidak takut akan mereka (ay.8).

Orang seperti ini adalah orang yang bermurah hati karena ia suka menolong orang miskin, sehingga kebajikan hidupnya akan tetap dikenang untuk selamanya. Kekuatan dan kewibawaannya (yang dalam hal ini dilambangkan dengan tanduk) semakin bertambah besar dan tinggi (ay.9). Namun demikian, inilah kenyataan hidup: selalu saja ada orang di sekitar kita yang merasa iri terhadap mutu hidup orang seperti ini. Itulah orang fasik. Mereka tidak dapat melihat keberhasilan dan prestasi hidup orang yang benar. Mereka menjadi sakit hati karenanya. Dalam sakit hatinya mereka mencoba menggertakkan gigi, tentu dengan maksud untuk mengancam dan menakut-nakuti, tetapi justru kertakan gigi itu membawa kehancuran bagi dirinya sendiri. Memang pada akhirnya keinginan orang fasik akan mendatangkan kehancuran bagi orang fasik itu sendiri (ay.10).


Yogyakarta, 01 Agustus 2014

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...