Thursday, May 21, 2020

ATG – PENUH ILAM

Oleh: Fransiskus Borgias
Dosen dan Peneliti FF-UNPAR, Bandung.




Saat saya tinggal di Yogyakarta, saya sering sekali juga ikut perayaan ekaristi di Kapel kecil para suster Klaris Pacet di STM Pembangunan, Mrican. Biasanya yang memimpin perayaan ekaristi di sana adalah pater CG sendiri. Ternyata ada banyak juga umat yang menjadi penggemar dan pendengar setia Kotbah-kotbah Pater CG. Tidak hanya umat umum. Kalangan mahasiswa Katolik juga ada yang menaruh minat sangat besar kepada kotbah-kotbah beliau. Mereka menunggunya dengan sabar dan setia. Ya mereka menantikan kotbah Mingguan pater CG di sana dengan penuh harap dan rasa penasaran. “Kotbah tentang apalagi nanti Pater Groenen yah?” kira-kira begitulah ungkapan harapan dan penantian mereka.

Ada juga beberapa mahasiswa Manggarai yang menempuh studi di Universitas Sanata Dharma yang juga menjadi penggemar berat pater CG. Salah satunya ialah teman saya dari seminari Kisol dan menengah dulu, namanya Heribertus Sambang. Walaupun dia mengaku bahwa sudah banyak lupa karena banyak kesibukan, sudah ada jarak waktu yang sangat jauh juga, tetapi ada beberapa hal yang ia ingat tentang Pater CG. Ada satu poin yang paling dia sangat ingat baik dari rangkaian kotbah-kotbahnya, yaitu mengenai hubungan Israel dan Palestina. Tidak aka nada damai selain perang dan perang di antara keduanya karena memperebutkan Tempat Suci di Yerusalem. Para pihak saling mengklaim sebagai pihak yang paling berhak atas tempat suci itu. Hal kedua yang dia ingat ialah, tentang sosok kepribadian pater CG sendiri. Di mata temanku Heri, pater CG, sama seperti pater-pater OFM yang lainnya, “terkenal dengan kesederhanaannya, selalu hadir sebagai pelayan dalam segala bentuk kehidupan, termasuk dalam urusan dapur juga.” (Ini saya kutip dari WA temanku Heri itu).

Pa Heri memberi pengakuan jujur bahwa hingga sekarang ini ia tetap berangan-angan jika pada suatu saat kelak Vatikan memberi dispensasi kepada pasutri Katolik untuk hidup membiara, dia akan tetap memilih untuk menjadi OFM. Ia merasa bahwa OFM, sudah sangat melekat menyatu dengan hidupnya. Seorang temanku yang lain, Yohanes Rajawali, memberi sebuah kesaksian sbb: “Ia mengenal beliau karena dua hal. Pertama, karena buku pegangan untuk pelajaran agama Katolik. Kiranya buku yang dimaksudkan itu adalah buku Panggilan Kristen. Kedua, John juga pernah mendengar tentang kesederhanaan beliau dalam hidupnya. Ia mencuci sendiri jubah dan baju dalamnya. Bahkan ia hanya mempunyai satu jubah saja. John juga mengaku bahwa saat ia beberapa kali bertemu dengan Pater CG, John sangat merasakan pancaran aura kesucian di dalam hidupnya. Terasa seperti ada sesuatu yang memancar keluar dan sangat bisa kita rasakan pancaran itu. temanku yang lain, yang bernama Sylvester Manti, juga mempunyai kenangan tersendiri akan Pater CG. Pak Syl inilah yang menjadi salah satu penggemar dan penunggu setia kotbah-kotbah pater CG di kapela para suster itu.

Ben Galus, juga merupakan seorang teman yang termasuk orang yang menyukai pater CG. Ia sering menyampaikan kepada saya bahwa ia sudah membaca beberapa buku beliau. Walaupun untuk itu, ia harus mengernyitkan kening karena buku-buku itu membahas tentang Kitab Suci dan teologi, suatu bidang yang berbeda dengan bidang ilmu beliau sendiri. Namun demikian, beliau juga mengaku memiliki beberapa koleksi buku dari pater CG. Suatu hal yang mengagumkan. Masih ada juga beberapa nama lain yang termasuk dalam barisan orang-orang yang mengagumi Pater CG, baik itu terkait dengan cara hidupnya yang sederhana, maupun terkait dengan kotbah-kotbah biblis nya yang oleh banyak pendengarnya dianggap kena dan mendalam. Tetapi mungkin pada kesempatan lain saya akan mengulas tentang hal itu di sini. Untuk saat ini saya hanya menampilkan beberapa kutipan di atas saja. Sekian dan terima kasih.

Wednesday, May 20, 2020

ATG: BUKU-BUKU DARI CICURUG 01

Oleh: Fransiskus Borgias
Dosen dan Peneliti pada FF-UNPAR, Bandung.



Kita semua tahu bahwa rumah pendidikan bagi para Saudara-saudara Dina Fransiskan pernah ada di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat. Dalam perkembangan sejarah, rumah itu ditutup lalu rumah pendidikan dipindahkan ke Yogyakarta. Sehingga orang lalu berbicara tentang masa-masa Cicurug dan masa-masa Yogyakarta. Pada tahun 1984, untuk pertama kalinya novisiat OFM dipindahkan dari Yogyakarta ke Depok sehingga orang sekarang juga berbicara tentang kurun Depok. Semuanya berkembang dan mengalir begitu saja. Tetapi kali ini saya mau menulis sedikit tentang rumah studi awal di Cicurug itu.

Para Saudara Dina Cicurug pada tahun 50-an dan 60-an, di bawah koordinasi pater Cletus Groenen (selanjutnya disingkat CG), sangat produktif di bidang ilmiah dan literasi teologi, biblika, hidup rohani, spiritualitas (baik umum maupun khusus Fransiskan). Apa buktinya sehingga saya berani omong seperti ini? Buktinya sangat banyak. Tetapi yang relevan saya sebut di sini ialah kegiatan mereka menerbitkan banyak buku yang terkait dengan Kitab Suci dan teologi (biblika). Hal itu sudah terjadi jauh sebelum LBI SSD diadopsi oleh atau diintegrasikan ke dalam KWI (MAWI) tahun 1971. Di sini saya memberi beberapa catatan tentang buku-buku yang menjadi tonggak gerakan literasi teologi tersebut.

Buku pertama yang perlu saya sebut dan harus berikan komentar ialah buku yang berjudul “Kuliah Tertulis tentang Yesus Kristus Menurut Perjanjian Baru.” Ini adalah sebuah telaah Kristologi Perjanjian Baru dengan menelusuri pelbagai gelar-gelar Kristus yang muncul (dipakai) di dalam Kisab Suci Perjanjian Baru itu sendiri. Buku ini diterbitkan tahun 70an pada penerbit Nusa Indah, Ende Flores. Sebenarnya, buku ini adalah buku kedua. Dan buku pertama adalah buku tentang Gereja. Tetapi cukup lama saya baru bisa menemukan buku kedua ini. Sedangkan buku yang pertama sudah saya baca beberapa bagiannya (bab) pada waktu postulant dulu. Pada saat itu saya terutama memusatkan perhatian pada bagian appendix dari buku itu. Memang bagian appendix dari buku itu pada dasarnya merupakan semacam catatan pengantar untuk studi kitab suci baik perjanjian lama maupun perjanjian baru.

Pada waktu saya belajar filsafat dan teologi di Jakarta dan di Yogyakarta, saya membaca buku kedua itu secara lengkap. Pada saat ini saya mempunyai versi copyan dari Kolsani, Yogyakarta. Saya masih terus membacanya lagi sekarang ini. Pada tahun 1987 awal saya pernah membaca dan mendalami buku itu untuk kepentingan kuliah Kristologi Alkitabiah yang diampu oleh pater CG di Seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta. Sayang sekali hal itu tidak berlangsung lama, karena pater CG mengalami kecelakaan dan kakinya patah dalam peristiwa kecelakaan motor tersebut. Karena itu, maka kuliah yang tadinya diasuh oleh pater CG lalu diampu oleh Pater Tom Jacobs yang tentu memiliki pendekatan yang berbeda dari pater CG. Pada awal tahun 1980an terbit buku yang lebih ringan dari romo Darma, dengan judul Gelar-gelar Yesus dalam Perjanjian Baru. Tetapi bagi saya buku pater CG tetap sangat mendalam, dan tidak tergantikan sama sekali. Buku pater CG tidak terkalahkan dalam hal kedalaman dan keluasan daya eksplorasinya. Benar-benar mengagumkan.

Di atas saya mengatakan bahwa buku yang saya bahas ini adalah buku kedua. Lama sekali saya mencari buku pertama dalam serial tersebut. Akhirnya, saya menemukan buku itu dalam koleksi buku-buku tua kami di perpustakaan FF-UNPAR Bandung. Hal itu sangat mengherankan. Maka tanpa berpikir panjang lagi, segera saya meminta pegawai perpustakaan untuk membuatkan sebuah copyan yang bagus bagi saya. Judulnya ialah “Kuliah Tertulis tentang Gereja dalam Perjanjian Baru.” Jadi buku yang pertama ini adalah semacam eklesiologi Perjanjian Baru, sedangkan buku yang kedua adalah semacam kristologi Perjanjian Baru. Sekali lagi, itulah buku pertama yang sudah lama sekali saya cari. Penemuan itu sendiri baru terjadi pada tahun 2016. Padahal saya sudah mengajar di FF-UNPAR sejak awal tahun 1993. Kalau dipikir-pikir, buku-buku itu masih ada di sana sejak awal, sejak tahun 1993, tetapi barulah pada tahun 2016 saya bisa menemukannya, bisa menyadari kehadiran mereka di sana.

Saya sendiri juga merasakan sesuatu yang aneh dengan hal itu. Kenapa baru sekarang saya menemukannya? Padahal selama ini saya setiap hari ke perpustakaan dan juga sudah pernah mencarinya. Oleh karena itu, terkadang diam-diam saya berpikir bahwa mungkin saja ini adalah semacam peristiwa perwahyuan, yang memang harus datang dan terjadi secara tiba-tiba tanpa harus direncanakan oleh kita manusia. Kalau itu memang sebuah perwahyuan, lalu perwahyuan tentang apa? Ya, mungkin saja perwahyuan tentang kenyataan dan kerinduan dari warisan tua itu agar mereka tidak dibuang, agar mereka tidak dilupakan. Ketika saya sampai kepada pemikiran seperti itu, maka saya pun membuat copyan yang bagus dari buku-buku tersebut agar masih pantas dipajang di rak buku di kantor saya dan saya tidak usah harus malu-malu memamerkannya kepada para mahasiswa dan mahasiswi saya.

Oh ya, ada satu hal yang menarik juga yang terjadi di fakultas kami yaitu ada dua kongregasi para suster fransiskanes dari Sumatera yang mengirim para suster muda mereka untuk belajar filsafat dan teologi di tempat kami. Semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi akan ada para suster fransiskanes Kalimantan Barat yang mengirim suster-suster muda mereka untuk belajar di tempat kami di Bandung. Mereka bersemangat mendengar sesuatu tentang Fransiskus dan fransiskan. Dengan senang hati dan bangga saya bercerita tentang jejak-jejak sejarah yang mengagumkan ini dari para saudara tua di kota kecil di Sukabumi, persisnya di Cicurug. Saya memaknai peristiwa perjumpaan itu sebagai penyingkapan, Offenbahrung, wow, keren sekali. Pokoknya ada sebuah rahasia yang seperti tersingkap begitu saja di depan mata saya dan saya tidak bisa dan tidak boleh mendiamkannya.

Oh ya, sampai saat ini saya masih terus menerus membaca dan mendalami buku ini. Saya terus menerus mendalaminya. Pater CG memang sangat luar biasa. Pengetahuannya dalam bidang Kitab Suci dan teologi sangatlah luas dan mendalam. Saya belajar sangat banyak dari pater CG tentang kedalaman itu, juga tentang keberanian untuk melakukan eksplorasi ke dalam bidang teologi biblika. Saya harus mengatakan bahwa kedua buku yang sudah saya singgung tadi adalah termasuk dalam kategori buku yang sangat inspiratif bagi saya, kiranya juga bagi para pembaca lain. Sayang sekali bahwa buku-buku itu sudah tidak diterbitkan lagi. Walaupun buku-buku itu sudah tidak diterbitkan lagi, tetapi buku-buku lama itu menurut saya masih saja tetap menebar ilham dan daya tarik yang sangat luar biasa bagi para pembacanya, para penggali dan para pencari yang penuh minat dan tekun ingin memperkaya diri.

Tuesday, May 19, 2020

ATG – KEGAMANGAN

Oleh: Fransiskus Borgias
Dosen Teologi Biblika, FF-UNPAR, Bandung.




Hari baru, 01 Januari 1989. Hari baru. Hidup baru. Saya terbangun pagi dini hari. Karena hari itu kami tidak ada kegiatan serius, maka saya santai saja. Saya mandi. Semua sudah berubah. Semua sudah menjadi lain. Saya sudah lain. Ketiga teman juga sudah menjadi lain. Tetapi mereka tidak atau belum tahu apa yang terjadi semalam. Mereka tidak tahu apa yang saya lakukan semalam. Mereka belum tahu keputusan apa yang sudah saya ambil semalam. Tetapi mereka harus segera tahu. Sebelum saya pergi meninggalkan tempat ini, saya mau pergi baik-baik. Tidak menghilang begitu saja. Tanpa pamit. Saya harus pamit baik-baik kepada ketiga temanku ini. Kami sudah bersama sejak novisiat tahun 1982. Dan sekarang harus mengambil jalan sendiri-sendiri.

Sekarang di pagi hari ini, saya ingat lagi bagaimana semalam, dalam waktu yang tidak lebih dari lima menit, saya keluar dari kamar pater CG dengan membawa sebuah surat yang sudah dimasukkan ke dalam sebuah amplop panjang. Saya tidak tahu apa isinya. Yang jelas, perintahnya jelas: Hari ini saya harus kembali ke Jakarta dan membawa surat ini langsung ke pater Propinsial. Hanya itu. Sedih juga rasanya. Pater CG sangat dingin dan datar. Mungkin karena dia sudah tahu dan hafal semua perjuangan saya selama ini.

Sekarang saya ingat bahwa waktu novisiat dulu saya pernah ke kamar dia lebih dari tiga kali rasanya untuk meminta bimbingan rohani. Waktu belajar teologi entah berapa kali saya ke kamar dia. Tetapi yang terkait dengan bimbingan rohani ada tiga kali juga. Selebihnya saya ke kamar dia untuk bimbingan skripsi atau urusan lain misalnya menanyakan sebuah konsep teologis tertentu yang susah dipahami. Jadi total enam kali saya ke kamar dia untuk bimbingan rohani. Mungkin karena latar belakang itulah, maka saat saya mengatakan bahwa saya berhenti, dia tidak berusaha menahan-nahan lagi.

Tetapi satu hal saya juga merasa senang. Saya lewati tahun 1988 dengan sebuah putusan baru. Sampai kemarin saya masih manusia lama yang bingung. Sekarang per satu Januari 1989 saya sudah menjadi manusia baru, tetapi jujur saja, masih tetap bingung dan gamang juga. Harus hidup bagaimana.

Yang jelas saya harus mulai hidup sebagai manusia baru dengan berangkat dari titik nol, bahkan mungkin juga dari titik di bawah nol. Hal itu sudah jelas dengan sendirinya setelah sekian tahun saya dibentuk di dalam konteks cara hidup tertentu, dan sekarang saya harus terlepas bebas di luar sana. Ya, saya harus mulai. Dengan berani. Dengan tegar. Lega? Ya, setidaknya saya sudah bebas dari tegangan pilihan itu. Saya sudah berani memilih dan memutuskan salah satu. Tidak bisa dua-duanya. Saya lega dalam arti itu. Walaupun tetap juga ada cemas. Saya harus tinggal di mana nanti di Yogya? Bagaimana saya bisa hidup? Bagaimana saya harus kabarkan hal ini ke kampung? Bagaimana saya harus mengabarkan hal ini kepada adik saya yang saat itu ada di novisiat Transitus Depok. Ah semuanya harus dipikirkan. Semuanya harus dicemaskan.

Dulu saya pernah mendapat sebuah nasihat yang sangat indah dalam Bahasa Jerman, katanya: Du brauchst keine Angst zu haben. Engkau tidak usah takut ataupun cemas. Saat saya ingat lagi akan pesan itu, sayup-sayup terdengar lagi sebuah antiphon mazmur completorium: “Tuhan akan menudungi engkau, dengan kepak-Nya, engkau tak usah takut akan bahaya, di waktu malam.” Ah betapa indahnya lagu itu. Betapa indah himbauannya. Tetapi ternyata hal itu tidak mudah untuk dihayati.

Pengalaman keluar dari kelompok yang selama ini telah engkau akrabi dan yang juga telah membesarkan dirimu, saya rasakan seperti pengalaman Yudas. Saya bukannya mau menyamakan diri dengan Yudas. Tetapi saya membayangkan ada suatu kesamaan suasana psikologis. Saya membayangkan bahwa pada malam itu ia pergi meninggalkan kelompok nyamannya untuk pergi ke suatu tempat. Walaupun saya bukan seorang pengkhianat, tetapi rasanya saya bayangkan situasi batin dan psikologisnya mirip. Gamang tingkat dewa. Dari sini dia sudah terlepas atau melepaskan diri. Sementara ke sana (yaitu ke tujuannya) dia belum tentu diterima juga. Sebab di antara mereka yang ada hanya sekadar sebuah hubungan fungsional dan situasional saja.

Menurut Lukas dan Matius, Yudas mencari jalan keluar dari kegamangan itu dengan bunuh diri. Tidak. Saya harus tegar. Saya harus mengatasi kegamangan itu. tidak boleh jatuh ke dalam rasa putus asa. Oh ya, pada saat saya memutuskan hal ini saya belum menyelesaikan ujian pendadaran teologi saya. Mungkin itulah sebagian dari rasa gamang saya itu. di samping rasa gamang lain. Saya tidak bisa menggampangkan situasinya sekarang dengan mengatakan saya gamang, maka saya ada. Sesuatu yang biasanya sering diucapkan orang-orang termasuk saya, dengan memodifikasi ucapan filosofis Cartesius itu. Tidak. Saya mencoba tenang saja. Juga dalam situasi kegamangan. Saya harus mulai dari sini. Dengan hari baru ini. Cerah. 1 Januari 1989. Tidak akan terlupakan dalam hidup saya.

Setelah mandi pagi, saya perlahan-lahan berjalan menuju ke kamar makan. Rupanya pater CG sudah sarapan lebih dahulu sehingga ia tidak ada di sana. Saya merasa senang. Ada ketiga temanku di sana. Sedang pada sarapan. Setelah berdoa, dan belum mengambil sarapan, saya meminta waktu kepada ketiga teman saya. “Teman-temanku, Saya mau berbicara.” Terasa sekali saat itu hening. Mereka bertiga mau mendengar saya. “Teman-teman,” saya ucapkan satu persatu nama mereka masing-masing, “…Saya sudah memutuskan untuk berhenti.” Ketiganya memperlihatkan rasa terkejut. Juga ada rasa tidak percaya. Kok bisa. Bahkan saya masih ingat, salah seorang dari ketiganya mengatakan: “Frans, kau jangan menyangka bahwa kami ini tidak berjuang memikirkan bagaimana ke depannya hidup ini.” “Kita sama-sama berjuang Frans.” “Jatuh dan bangun. Memikirkan banyak kesulitan dan tantangan”. Lalu saya mengatakan: “Iya, teman-teman, saya tahu itu. Tetapi saya sudah memutuskan untuk berhenti. Cukup sampai di sini.” Hening sejenak.

“Bagaimana dengan bapa tua itu?” tanya Dominikus mengenai pater CG. “Ya, tadi malam, tepat jam 12 malam saya sudah menghadap beliau. Dan dia sudah setuju. Bahkan dia sudah menulis surat pengantar untuk saya bawa hari ini ke Jakarta ke Pater Propinsial.” “Jadi, Frans hari ini mau pulang?” tanya Domi lagi. Saya mengangguk. “Iya saya pulang.” Hening lagi.

Sedih juga rasanya karena sebentar lagi saya akan pergi meninggalkan ketiga teman saya itu. Dan karena hari itu memang tidak ada acara serius, terkait libur tahun baru, maka ketiga teman saya pun mengantar saya ke pinggir jalan raya. Dari saya naik angkot menuju ke terminal Cisaat. Cisaat ke Jakarta. Selesailah sudah. Consummatum est.

Monday, May 18, 2020

ATG - CONSUMMATUM EST

Oleh: Fransiskus Borgias
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.




Lonceng makan malam sudah berbunyi. Kami berjalan dengan tenang dan hening ke kamar makan. Kami makan dalam diam. Saya sempat melirik satu persatu companion-ku di meja malam itu. Oh ya, sengaja saya memakai kata companion itu di sini. Karena kata itu berasal dari gabungan dua kata Latin, cum-panis, roti (panis) bersama (cum). Jadi, companion adalah orang yang makan sehidangan dengan aku. Dengan sudut mata kiriku mula-mula aku melirik Pater CG. Ia kelahiran tahun 1921. Jadi saat ini ia sudah berusia 67 tahun lebih. Sudah hampir mendekati usia batasan pemazmur itu: Umur kami tujuhpuluh tahun atau delapan puluh jika kuat. Tetapi karena dia terlalu banyak merokok dan minum kopi, dan mati raga makanannya sangat kuat, maka ia sudah tampak sangat tua dalam usia segitu. Saya perhatikan sungguh-sungguh bahwa “perempuan-perempuan penggiling” (baca: gigi) yang ia miliki sudah tidak lagi banyak menggiling, karena jumlahnya sudah berkurang seperti kata Pengkotbah itu. Aku melihat ia lebih banyak mengunyah dengan gusi daripada dengan gigi. Kiranya gilingan gigi itu sudah tidak lagi selincah dulu. Tetapi ia sangat tenang. Bahkan terlalu tenang. Dan itu rasanya menakutkan. Cepat-cepat aku membuang mataku saat ia sepersekian detik memandang kepadaku seakan-akan sedang menyelidiki sesuatu pada jidatku.

Kemudian aku memandang ketiga temanku. Mulai dari yang paling senior, Dominikus. Lalu Paskalis, dan kemudian Peter. Seperti halnya tadi sore dan juga sudah demikian selama hari-hari ini, ketiganya tampak sangat tenang. Ketenangan itu membuat saya merasa sangat minder. Aku yang kelainan di sini. Ketenangan yang membuat saya merasa aneh sendiri. Tanpa terasa aku menghabiskan cukup banyak makanan. Bahkan kekenyangan juga.

Masih ada satu sesi singkat lagi malam itu. Sesudah itu kami harus istirahat. Santai. Sudah boleh memutus hening, memecah sunyi, memotong silentium strictum itu. Saya sudah tidak begitu menyimak lagi sesi malam itu. Saya lebih banyak mendengar bunyi margasatwa malam dari luar ruang konferensi kami. Bunyi itu sangat banyak. Ramai sekali. Seperti sebuah paduan suara makhluk alam, suara pujian malam. Mungkinkan itu semacam completorium bagi mereka. Mungkin saja. Seperti halnya di pagi hari, mereka juga berbunyi, melantunkan semacam kidung pujian pagi, Laudes. Bukan hanya manusia yang mempunyai intuisi seperti itu. Makhluk hidup yang lain juga demikian. Saya fokus mendengarkan bunyi kodok. Saling bersahutan. Mungkin saling memanggil. Saling memberi kode. Kode kasmaran. Kode cinta. Sangat alami. Tetapi apakah cinta itu hanya sekadar panggilan alami, kodrati? Ataukah itu juga sesuatu yang adikodrati?

Rasanya daya-daya dan panggilan cinta itu adikodrati. Mungkin itu sebabnya Paulus dengan lantang berkata, demikianlah tinggal ketiga hal ini, iman, harap, dan kasih. Dan yang paling besar di antaranya adalah kasih. Iman dan harap itu hanya berlaku dalam dan untuk hidup di dunia ini. Keduanya akan berhenti begitu hidup di dunia ini berhenti. Dan yang akan terus bekerja di dalam ranah keabadian ialah kasih. Hanya kasih yang akan bertahan hingga masuk ke dalam keabadian. Luhur sekali, kasih itu.

Di mana aku bisa merasakannya? Merayakannya? Menikmatinya? Kapan? Dengan siapa? Bagaimana? Semua pikiran itu tercampur baur dalam diri saya. Setelah selesai sesi singkat malam itu, kami lalu rekreasi. Tetapi karena kami sudah bertemu setiap hari, walaupun dalam sunyi dan hening, jadinya rekreasi itu seperti gema lanjutan dari keheningan kami masing-masing. Hanya diselingi dengan bunyi kacang kulit yang dipecahkan dan bunyi glek minuman jahe hangat. Selebihnya sunyi. Kami terlalu lelah untuk melakukan kilas balik apa yang sudah kami bahas selama beberapa hari ini.

Saya merasa harus segera kembali ke kamar. Bukan untuk tidur. Melainkan untuk menulis sesuatu. Di Buku Harianku. Aku pamit kepada teman-teman untuk kembali ke kamar lebih cepat. Begitu sampai di kamar, saya mengambil BH ku dan alat tulis. Aku membuka pada halaman untuk melanjutkan catatan. Tetapi tidak ada sesuatu yang bisa saya mulai catat. Saya hanya mencatat satu kata. Consumatum est. Selesailah sudah. Bahkan ada juga di sudut lain di halaman itu, ada tertulis, non possum. Tetapi belum jelas benar mengapa saya menulis begitu? Belum jelas benar ke mana arah dari tulisan tanganku yang seperti rada spontan itu. Seperti ada yang bukan diriku yang mengendalikan tanganku untuk menulis begitu. Sudahlah. Quod scripsi, scripsi. Tidak usah diubah lagi. Tidak usah dicoret. Tidak usah ditip-ex.

Tadi saya pamit dari teman-teman sekitar jam 9 malam. Sekarang jam 11. Saya belum juga mengantuk. Saya duduk membaca buku-buku yang saya bawa dari Yogya. Di tengah malam itu, sayup-sayup dari jauh saya mendengar bunyi petasan yang dimainkan orang-orang kampung menyongsong tahun baru 1989. Orang menghitung mundur. Masih satu jam.

Pada masa satu jam itulah saya memikirkan saya mau apa sekarang. Kegelisahan ini harus segera dihentikan. Kalau mau terus, maka “Hai jiwaku, tenanglah.” Tetapi kalau mau berhenti, maka “Hai jiwaku, beranilah mengambil keputusan.” Sekarang. Maju. Mundur. Maju. Mundur. Maju. Mundur. Berbelok. Maju. Berbelok. Demikian saya ucapkan kata-kata itu mengikuti bunyi detak jarum jam di tengah malam itu. Tidak ada bunyi tokek.
Pada titik inilah saya sadar bahwa pilihan untuk maju tidak mudah juga. Tetapi pilihan untuk mundur juga ternyata tidak mudah. Tetapi harus ada pilihan. Harus ada putusan. Seperti yang kemarin sudah dikatakan, harus berani meloncat. Tidak bisa tinggal di sini. Tidak bisa diam di sini. Harus meloncat sekarang. Desakan itu sangat kencang dalam diri saya.

Sekarang sudah pukul 11:45. Count down orang-orang di mana-mana sudah semakin kencang. Count-down saya sendiri juga semakin kencang. Apa yang terjadi dengan tahun baru ini bagi saya. Karena saya tidak bisa tenang dan tidak bisa tidur, maka saya keluar. Kamar saya ada di ujung. Saya menelusuri gang antar kamar. Semua sudah sunyi. Lampu kamar sudah mati. Saya mampir di kamar makan. Saya mengambil sesuatu untuk minum. Di ujung sana, di dekat pintu keluar, kamar pater CG masih bernyala. Dia belum tidur. Rupanya dia berjaga, menyongsong datangnya tahun baru.
Dengan sisa-sisa kekuatanku akhirnya saya datangi pintu kamarnya. Saya memasang telinga. Dia belum tidur. Pukul 11:58. Tok…tok…tok… “Ya,” jawab dari dalam dengan sengau. “Masuk.” Saya masuk. “Mau apa?” “Mau pulang pater.” “Baik sudah. Tunggu sebentar. Saya cari kertas. Saya tulis surat kepada propinsial. Besok kamu bawa.” Sudah selesai. Saya terkejut juga. Tidak ada upaya sedikit pun dari dia untuk menahan saya. Ataupun menyuruh saya, coba pikir baik-baik. Tidak. Tepat jam 12:00. Saya berhenti.

Sunday, May 17, 2020

ATG - DOMINE, NON POSSUM

Oleh: Fransiskus Borgias
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR, Bandung.



Tanpa terasa kami sudah memasuki tanggal 31 Desember 1988. Ya, hari terakhir tahun itu. Karena besoknya tahun baru, maka direncanakan bahwa pada hari itu, kami berlibur. Tidak ada kegiatan ceramah ataupun pendalaman. Bahkan kami juga boleh berjalan keluar. Tetapi hal itu baru akan terjadi besok. Hari ini, masih ada sebuah kegiatan lain yang harus kami lewati. Rupanya hari terakhir di akhir tahun ini mau dibuat oleh Pater CG menjadi sebagai simbolisme bagi titik akhir perjalanan hidup manusia di dunia ini. Maka pada hari ini kami diajak untuk merenungkan tentang puncak-puncak hari tua dan misteri kematian itu sendiri. Ya, kematian itu adalah sebuah misteri. Tidak ada seorang pun yang pernah pulang dari seberang gerbang alam maut itu. Bagi saya istilah mati-suri adalah bukan mati. Paling-paling kita manusia yang masih hidup di dunia ini hanya mencoba membayangkan apa yang akan terjadi di sana.

Dalam untaian refleksinya ini, tidak lupa pater CG memberikan insight fransiskan tentang kematian itu. Kematian adalah sakramen kemiskinan terakhir. Kira-kira begitulah inti teologi fransiskan dan Fransiskus tentang kematian. Pandangan teologi seperti ini dapat dengan mudah kita temukan dalam buku-buku teologi dan spiritualitas standar kefransiskanan. Tetapi dalam bentuk yang popular saya paling suka akan apa yang dibentangkan oleh Carlo Carretto dalam bukunya Io Francesco itu. Entah pengalaman rohani seperti apa yang dialami dan dirasakan oleh Fransiskus, yang jelas dalam salah satu baris dari puisi kosmisnya yang terkenal itu, Kidung Saudara Matahari, Canticum Solis itu, kita menemukan sebuah sapaan yang sangat akrab dan mesra akan maut. Fransiskus menyebut maut itu sebagai saudarinya: Selamat datang saudari maut badani.

Kalau sepanjang hidupmu anda sudah hidup miskin, itu artinya setiap kali anda melakukan aksi let it go, let it go, suatu aksi detachment, melepaskan, membiarkan, pasrah, tidak mengungkungi, tidak mengehaki. Kalau sepanjang hidupmu engkau sudah melakukan aksi let it go itu, maka tatkala maut datang, ia datang sebagai saudari yang merangkul dan memeluk kita dalam kasihnya yang begitu hangat. “Selamat datang saudari maut.” Begitu kata Fransiskus. Dan bersama sang saudari itu kita masuk dan melewati pintu menuju ke ruang keabadian.

Dan tidak lupa Carlo Carretto mengingatkan bahwa sang Tuan Putri Kemiskinan, Domina Paupertas, Lady Poverty itu, mengantar kita melalui sang pintu, yaitu Yesus yang dalam salah satu ucapanNya pernah menyatakan diri sebagai pintu (Yoh 10:9). Dan keajaiban pintu ialah bahwa ia membuka atau terbuka dan begitu terbuka maka sampailah kita di seberang saat itu juga dengan sangat pasti. Dahsyat banget omongan Carretto ini. Secara lebih prosa-liris, sastrawan Amerika, Murray Bodo juga melukiskan kemesraan datangnya saudari maut itu dalam bukunya Saint Francis, Journey and the Dream. Sebuah buku yang indah sekali.

Namun demikian, tetap saja semua hal itu bagi saya seperti sebuah yang seakan-akan menggiring saya ke sebuah lubang hitam, titik akhir. Dan hal itu amat menyesakkan dada dan juga sekaligus menakutkan. Ah, kenapa semua permenungan ini harus sampai bermuara ke sini? Ah hebat sekali pater CG memainkan semuanya ini. Mungkin dia ingin kami agar dilahirkan kembali nanti sesudah pengalaman kesesakan itu. Entahlah. Semoga begitu. Yang jelas sekarang saya seperti merasa terjepit.

Teringat lagi dua hari yang lalu, Provinsial datang secara khusus dari Jakarta untuk mengunjungi kami berempat di Bunut, Sukabumi. Sebagai Bapa ia mengajak kami satu persatu berbicara dari hati ke hati tentang perkembangan yang kami rasakan. Pada saat itu, saya sudah berjuang antara, apakah saya harus jujur sekarang atau tidak? Harus berani jujur sekarang atau tidak? Akhirnya saya memutuskan untuk menunda keberanian dan kejujuran itu. Oleh karena itu, dengan sangat tenang saya mengatakan kepada pater provincial bahwa saya baik-baik saja dan akan terus melangkah dengan pasti.

“Bagus Frans. Undangan Misa Kaul Kekal sudah dicetak. Ada empat nama.” Walaupun terkejut, tetapi saya tetap simpan keterkejutan itu dalam hati saya. Pater provincial tidak menginap di rumah ret-ret. Setelah berbicara dengan masing-masing dari kami, beliaupun pulang lagi ke Jakarta. Itu sudah dua hari yang lalu. Sekarang sudah harus berjuang lagi.

Hari sudah mulai condong ke barat. Kami akan segera mulai lagi sesi di sore hari itu. 31 Desember. Besok adalah hari libur, hari pembebasan dari rutinitas ini. Begitu seruku dalam hati. Setelah mendengarkan lanjutan sesi sore di mana Pater CG membeberkan beberapa pandangan filosofis tentang realitas maut itu dan dicampur juga dengan pandangan teologi pengharapan dari Ladislaus Boros, dan Juergen Moltmann dan Schillebeeckx, saya kembali ke rutinitas personalku di tebing itu. Mendengarkan alam dan suara hatiku sendiri.

Di situlah aku merasa bahwa aku harus segera memutuskan sesuatu. Ataukah saya harus bicarakan dulu dengan ketiga temanku? Sesungguhnya saya ingin sekali membahas dulu hal itu dengan mereka. Tetapi saya melihat dan merasa bahwa ini masalah personal. Lagipula saya melihat mereka bertiga sangat tenang. Seperti tidak ada masalah. Dominikus, yang paling senior di antara kami, karena ia masuk usia sesudah lama bekerja sebagai katekis di Papua, tampak sangat tenang. Dan saya menjadi sangat sungkan melihat gerakannya yang sangat tenang. Saya hanya bisa melihatnya dari jauh. Saya mencoba melihat temanku yang lain, Paskalis Bruno Syukur. Dia pun tampak sangat tenang. Seperti sungguh menguasai diri. Saya lalu menjadi sangat minder melihat ketenangan mereka. Ah jangan-jangan aku yang aneh di sini. Aku yang gila.

Diam-diam kuberharap agar bisa melihat pintu masuk melalui temanku yang ketiga. Saya berharap begitu karena selama ini, kami suka bercanda, suka main gitar dan nyanyi bersama, suka merokok bersama. Tatkala saya melihat dia juga, ah dia juga sangat tenang. Saya merasa semua pintu untuk aku seperti sudah tertutup. Susah sekali rasanya untuk mulai berbicara manakala hatimu sendiri sedang bingung dan goyah, sementara orang yang kau ingin ajak bicara tempat sangat tenang. Jangan-jangan dia tidak akan mempedulikannya? Jangan-jangan dia akan meremehkan? Jangan-jangan dia akan menertawakannya.

Saya sempat berpikir dan mencoba meyakinkan diriku bahwa yang kau lihat itu pada mereka belum tentu benar. Siapa tahu begitu engkau berani mendekati salah satu di antara ketiganya, mungkin akan ada pintu yang terbuka, mungkin akan ada sharing yang menghidupkan dan memberi semangat baru. Sempat pikiran positif itu kubiarkan muncul. Tetapi begitu aku melirik mereka lagi, mereka sudah terhanyut dalam keheningan doa dan kontemplasi mereka masing-masing. Ah Frans, janganlah kau rusakkan kontemplasi mereka dengan kegilaanmu ini. Berhentilah. Berhentilah.

Saturday, May 16, 2020

ATG – MENERAWANG PERJALANAN PANJANG

Oleh: Dr. Fransiskus Borgias, MA.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung.


Tanpa terasa saya sudah hari kelima dalam ret-ret itu. Saya mencoba menjalani rutinitas yang berjalan sangat lambat itu. Rutinitas itu berulang-ulang. Namanya juga rutinitas. Harus berulang-ulang. Saya harus ikut berputar di dalam perputaran roda pengulangan itu.

Tetapi ada empat hal yang selalu menjadi alternatif bagi saya dalam rutinitas itu, yang akhirnya menjadi sebuah rutinitas tersendiri juga bagi saya. Pertama, mendengarkan bunyi burung-burung. Pada suatu hari saya bahkan bisa membedakan bunyi burung. Pada pagi hari bunyi burung itu seperti penuh semangat dan gembira ria. Di siang hari mulai terasa semakin sunyi, masih ada satu dua, tetapi sebagian besar sunyi, entahlah di tempat lain. Tetapi di perdu di tebing kali itu, bunyi burung semakin kurang terdengar di siang hari. Atau mungkin karena kalah bersaing dengan bunyi kebisingan siang hari sebab banyak juga bunyi lain yang seperti menteror bunyi alam yang alami itu.

Kedua, mendengarkan bunyi angin bertiup. Baik di pagi hari, maupun di siang hari, suara angin selalu terasa merdu. Tetapi di sore hari, mungkin karena panas matahari sudah mulai berkurang, suara angin tidak lagi begitu terasa. Semua seperti pada diam. Hal itu tampak pada dedaunan. Seperti tertunduk lesu. Seakan-akan masuk ke dalam kontemplasi, runduk memandang diri sendiri, memandang pangkalnya di tanah. Ketiga, mendengarkan bunyi dedaunan yang bergesek karena ditiup angin. Jadi, yang ketiga ini terkait dengan yang kedua. Dedaunan seperti menari-nari, lincah menanggapi colekan bayu pagi, bayu siang. Dedaunan yang sudah tua, jatuh pasrah, let it go. Yang masih muda, masih tahan terpaan angin. Seakan-akan mereka meledek kekuatan angin bertiup. Tetapi angin itu seperti bersabar: tunggu giliranmu. Nanti juga kau kering. Dan pada saat itu kau tidak akan bisa lagi meledek kekuatanku selain pasrah melepaskan diri dan jatuh ke bawah, membusuk dan menjadi mata rantai makanan bagi ibu bumi.

Keempat, saya mendengar bunyi detak jantungku dan juga terutama suara hatiku sendiri. Ke mana aku sesudah ini? Mengapa aku di sini? Untuk apa aku di sini? Semua pertanyaan itu seperti datang mencerca aku dan aku seperti tidak diberinya kesempatan untuk menjawab satu per satu. Semuanya seperti ingin dijawab duluan. Benar-benar menyesakkan dada. Saya melihat ketiga temanku sepertinya tenang-tenang saja. Sepertinya mereka tidak ada masalah sama sekali dengan keadaan ini. Saya melihat mereka sangat serius dalam permenungan masing-masing sehingga rasanya sulit untuk diajak berbicara, berbuka dari hati ke hati.

Rutinitas keempat inilah yang paling tidak mengenakkan bagi saya. Sebenarnya pada saat-saat seperti ini, aku tidak suka berhadapan dengan diriku sendiri. Tetapi ternyata di dalam kesunyian, mau tidak mau kita harus menghadap tahta pengadilan suara hati kita sendiri. Kamu ini siapa? Mau apa? Mau ke mana? Sungguhkah kau mau ke sana? Jangan-jangan ke sinilah yang lebih cocok bagimu. Benar-benar terasa sesak dan menyesakkan.

Apalagi tadi siang, kami dijejali dengan refleksi mengenai hal “menghadapi hari tua.” Mula-mula CG memberi gambaran kepada kami, bagaimana kira-kira gambaran hari tua sebagai seorang bapa keluarga, dengan suka dan dukanya. Tentu ada sukanya. Tetapi ada juga dukanya dan lukanya.

Lalu CG juga memberi gambaran kepada kami, bagaimana kira-kira gambaran hari tua sebagai imam atau biarawan. Ya, dengan suka dan dukanya. Semuanya dibuka satu per satu. Dikupas tuntas oleh CG dengan dimensi kedalaman yang luar biasa. Semuanya memancar dari pengalaman dia sendiri, dari pengamatannya yang jernih dan tajam terhadap pelbagai macam cara dan jalan hidup. Tentu juga dibantu pelbagai bacaan yang sudah ia baca selama ini.

Ketika CG membicarakan tantangan hidup sebagai seorang imam atau biarawan di masa tuanya, pasti, suka ataupun tidak suka, ditandai kesunyian. Walaupun belum tentu kesunyian itu adalah kesepian. Memang kesunyian bisa sangat mudah berubah menjadi kesepian. Tetapi dalam teori hidup rohani kesunyian adalah dimaksudkan untuk mencinta. Tidak mudah menjelaskan hal ini. Ya, ketika CG omong tentang hal itu tiba-tiba saja pikiran saya tertuju kepada Pater Flori Laot OFM. Dialah Bapa Rohani saya saat saya menjalani TOP di Pagal. Selama hampir setahun menjalani tahun pastoral, setidaknya saya empat atau lima kali berbicara dari hati ke hati dengan dia. Kami membicarakan macam-macam hal yang terkait dengan hidup rohani sebagai biarawan. Hal itu kami lakukan baik saat dia datang ke Pagal ataupun saat dia datang ke Ruteng (Ibu kota Kabupaten).

Saya teringat akan sesi pembicaraan terakhir menjelang akhir TOP itu. “Menurut pater, apa sebabnya, seorang imam jatuh ke dalam dosa godaan seksual?” Begitu tanyaku. Dia tidak memandang saya. Ia seperti bapa pengakuan yang mendengarkan pengakuan dosa seorang pendosa. Ia menghadap ke jendela ke arah timur. Saya duduk ke telinga kanannya, menghadap ke utara. Tanpa memandang ke saya, dia menjawab dengan sangat tenang. “Frans, sebabnya hanya satu.” “Apa itu Pater?” “Karena imam itu tidak bisa lagi berdoa. Ia mengalami krisis hidup doa. Krisis hidup rohani. Kalau tidak bisa lagi berdoa, maka mudah berdosa. Beda satu huruf saja.” Sejenak dia diam. “Frans, saya kasih tahu yah… Saat kamu masih muda seperti ini, kamu gesit bekerja, memperjuangkan apa saja, bekerja maksimal, sampai badanmu letih. Tidak apa-apa. Tatkala malam datang, kamu ke tempat tidurmu, dan segera tertidur. Aman.”

“Maksud pater?” tanyaku. “Begini Frans. Ada saatnya, di usia tertentu dalam hidup imamat dan membiara ini, saat gerakmu sudah tidak gesit lagi, lebih banyak diam, tiba-tiba saja di malam hari, kita merasa bahwa tempat tidur ini kosong. Kita merasa ada yang aneh dengan kekosongan itu. Kita mengalami “terror ruang kosong” seperti kata seorang seniman di Bali, lupa namanya, saat menghadapi tempat tidur kosong itu. Terror itu kuat sekali sehingga kita terdorong untuk mengisinya. Kamu tahu maksud saya.” Diam sejenak dan senyum ke Timur.

“Frans, kalau hidup doamu pada saat itu tidak kokoh, kamu pasti jatuh. Kamu akan mencari “dia” untuk mengisi “kekosongan” itu yang seperti sedang menterror kesendirian dan kesunyian kita.” Sesudah itu dia diam. Seperti meredam terror sunyinya sendiri. “Frans, jangan pernah menelantarkan hidup doa.” Diam lagi. “Hanya itu.”

Sekarang, tatkala Groenen mengkonfrontasikan kami dengan bayangan akan hari-hari tua itu, terutama sebagai imam atau biarawan, saya teringat akan kata-kata P. Flori, “terror ruang kosong” itu, yang sebenarnya mungkin bermula dalam sebuah sudut di hati, tetapi kemudian menjalar keluar, sampai ke tempat tidur, ke ruang tidur yang kosong. Semuanya seperti menteror kita. Ah terror ruang kosong itu.

BUMI YANG LEBIH HIJAU

Oleh: Fransiskus Borgias M.






Malam ini (tanggal 14 Mei kemarin), kami berdoa Rosario "Laudato Si" Hari Keempatbelas. Kami memilih peristiwa Cahaya. Gambar-gambar ilustrasi yang ada dalam buku panduan doa rosario itu bagus-bagus. Salah satunya ialah gambar yang saya tampilkan dalam status saya di bawah ini. Dalam gambar itu, tampak ada dua tangan. Tangan yang dari sebelah kiri sedang memegang bola bumi. Sedangkan tangan yang sebelah kanan, tampak sedikit lebih kecil dari tangan yang di sebelah kiri tadi, sedang siap untuk menerima bola bumi yang tampaknya seperti akan diserahkan kepada si pemilik tangan itu di sebelah kanan.

Ketika saya melihat gambar ini, maka pemikiran spontan yang muncul dalam diri saya ialah bahwa gambar itu mau memberi pesan kepada kita semua agar kita yang dari generasi sekarang ini, mempunyai kewajiban moral-etis untuk mewariskan sebuah ibu-bumi yang lebih baik dari bumi yang telah kita diami selama ini. Bahkan kalau bisa, bumi yang kita wariskan itu adalah bumi yang lebih hijau, hijau dengan hutan-hutan. Sebab hutan itu adalah sumber kehidupan. Hutan adalah menjadi sumber oksigen yang sangat penting bagi manusia dan makhluk hidup yang lain.

Oleh karena itu, cara dan sikap hidup sekarang ini haruslah sedemikian rupa sehingga apa pun yang kita lakukan terhadap ibu bumi ini, harus kita lakukan dengan memperhitungkan generasi yang akan datang. Kita yang sekarang ini bukanlah penghuni satu-satunya bagi bumi ini. Melainkan sesudah kita masih akan ada generasi-generasi yang lain. Jangan sampai kita mewariskan bumi yang sudah rusak, bumi yang sudah berantakan kepada anak cucu kita. Sebab jika hal itu yang terjadi, maka kita akan dicerca dan dicaci-maki oleh anak cucu kita.

Ketika saya menulis tentang hal ini saya selalu teringat akan sebuah poster lingkungan hidup pada awal tahun 80an dulu. Poster itu berukuran sedang. Tampak gambar pohon-pohon yang meranggas, tidak ada lagi dedaunan yang rimbun. Sementara itu tanah di bawah pohon itu kering kerontang, sehingga terbelah semuanya. Seperti rawa-rawa yang mengering, maka tanah yang tadinya berair akan menjadi terbelah. Retak. Dan hal terpenting yang ingin saya kutip ialah pesan yang ada di bagian bawah dari poster itu. BUMI INI BUKANLAH WARISAN DARI NENEK MOYANG KITA. MELAINKAN PINJAMAN DARI ANAK CUCU KITA.

Karena itu tanggung jawab kita terhadap bumi ini adalah tanggung jawab ke masa depan. Kita harus mempertanggungjawabkan keadaan bumi ini kepada generasi yang akan datang. Semoga ini menjadi sebuah penyadaran yang maha penting bagi kita semua. Amin.

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...