Friday, April 17, 2020

MERENUNGKAN KURBAN ABRAHAM

Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen dan peneliti Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.



Abraham adalah tokoh besar dalam Perjanjian Lama, seorang Bapa Perjanjian. Kepadanya Tuhan telah memberikan sebuah janji keturunan yang besar dan banyak jumlahnya, sebanyak bintang di langit, dan butir pasir di tepi pantai (bdk.Kej.22:17, bahkan di bagian akhir ay 17 ini ada janji bahwa keturunan Abraham akan menduduki kota-kota musuhnya, semacam ekspansionisme politis dan teritorial). Jadi, betapa luar biasanya janji yang diucapkan Tuhan kepada Abraham. Tentu kita dapat dengan mudah membayangkan betapa Abraham menjadi sangat berbesar hati karena janji yang diucapkan Tuhan kepadanya. Ia sangat berharap bahwa hal itu akan terwujud. Kalau bisa dengan sangat segera, sekarang dan di sini. Bukan harus menunggu pada suatu saat di masa depan, sebuah rentang waktu yang tidak selalu sangat pasti, justru karena sifatnya yang mendatang, yang memang “mendatangi” namun ia mengalir dari sebuah tabir misteri masa depan yang tidak selalu serba pasti walaupun sangat dinanti-nanti dengan hati yang sangat berbakti.

Tetapi kita semua tahu bahwa sampai di senja usianya, ia belum juga mendapat seorang anak pun. Itulah sebabnya kata-kata perjanjian itu terasa sangat paradoksal, bahkan menjadi sangat tidak mungkin juga. Kita juga bisa membayangkan dengan pasti betapa penantian itu menimbulkan semacam keresahan di dalam diri Abraham. Lagipula pada saat itu isterinya, yang bernama Sara, pun sudah tua. Kedua orang itu, sepasang suami isteri, tetapi terutama Abraham, sudah “mati pucuk”. Itu adalah suatu keadaan tidak dapat bertunas dan suatu keadaan yang tidak dapat bertumbuh kembali (sebuah ungkapan atau metafora yang diambil dari dunia tetumbuhan). Menyadari kondisi sudah “mati pucak” seperti itu, tentu saja kita juga bisa membayangkan dengan sangat mudah bahwa Abraham, sebagai seorang manusia biasa, pasti menjadi sangat cemas dan gelisah memikirkan dan merenungkan masa depannya; intinya ialah, siapa yang akan meneruskan garis keturunannya di masa yang akan datang? Dari perspektif sekarang ini, hal itu sangat kelam, karena ia sudah “mati pucak”. Tidak ada sebuah jawaban yang serba pasti dan jelas. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa tatkala Sara menyodorkan Hagar (sang budak dari Mesir) untuk dijadikan “isteri”, maka Abraham pun menerimanya, dan mungkin berharap ada secercah harapan di sana. Ternyata, ya. Hagar pun hamil dan melahirkan seorang putera yang diberi nama Ismail (Kej.16:1-4).

Tetapi itu bukanlah rencana Tuhan. Tuhan mempunyai rencana lain, yaitu memberikan “anak perjanjian” yang sah dari Sara, isterinya yang sah. Tidak lama sesudah peristiwa di bawah pohon di Mamre yang terkenal itu (Kej.18:1-16; khususnya ayat 10 yang relevan di sini), Sara pun hamil di usianya yang sudah sangat tua itu dan kemudian melahirkan anak Isaak, anak perjanjian (Kej.21:1-7). Ketika Hagar sadar bahwa ia hamil, ia memandang rendah Sara dan hal itu menyebabkan Sara sakit hati sehingga ia pun menindasnya. Hagar, rupanya termasuk kategori pembantu (yang kemudian berubah status menjadi isteri) yang tidak tahu diri: sesudah diangkat sang majikan, ia kemudian menghempaskan sang majikan itu sehingga sang majikan itu merasa sangat sakit hati dan menindasnya dengan sangat keras. Lalu Hagar lari dan di dalam pelarian itu ia dijumpai Tuhan, yang dinamainya El-Roi (Kej.16:13). Sang El-Roi itu menyuruhnya untuk kembali ke sang nyonya. Tetapi kemudian, setelah Ishak lahir, Hagar dan Ismail anaknya, diusir Abraham atas permintaan Sara. Tatkala melihat bahwa Ismail dan Ishak sedang bermain, Sara merasa tidak suka dan meminta agar Ismael dan ibunya diusir (Kej.21:10).

Lahirnya Ishak pasti mendatangkan rasa bahagia yang tidak terkira pada diri Abraham. Kita dapat membayangkan hal itu dengan mudah secara manusiawi, walau tidak ada data yang jelas tentang hal itu dalam Kitab Suci. Tetapi kita dapat membayangkan kebahagiaan itu dengan metode membaca hermeneutik, reading between the lines itu. Misalnya kita bisa merasakan sukacita dan kebahagiaan itu dari semua upacara yang dibuat Abraham bagi Ishak (Kej.21:4). Pasti Abraham merasa bahwa dalam diri Ishak ia tidak hanya melihat pantulan dirinya, tetapi juga melihat gambaran masa depannya yang sangat cerah. Ishak menjadi bagian dari diri Abraham. Ia adalah daging dari dagingku, dan tulang dari tulangku. Kiranya kata-kata Adam kepada Hawa dulu (Kej.2:24-25) bisa juga dipakai dan diterapkan di sini. Maka kita dapat membayangkan ada dan terbangunnya sebuah relasi yang akrab dan penuh kasih antara Abraham (sang ayah) dan Ishak (sang anak).

Tetapi betapa Abraham kemudian sangat terkejut dan bingung, karena Tuhan meminta agar ia mengorbankan anak terkasih itu di gunung Moria (Kej.22:1-19). Apa yang sudah didapatnya sebagai karunia, wujud janji masa depan, kini harus diserahkan kembali kepada Tuhan, harus dikurbankan/dipersembahkan kepada Tuhan. Kiranya Tuhan tidak main-main dengan hal itu. Abraham pasti kebingungan ketika mendengar hal ini. Tetapi betapa pun ia bingung, ia tetap mau melaksanakan tuntutan Tuhan itu. Ia pun pergi ke gunung Moria untuk mengurbankan Isaak, anaknya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang meminta (mengambil kembali). Terpujilah nama Tuhan. Mungkin seperti itu gumam Abraham dalam hatinya, seperti gumam yang diucapkan oleh Ayub itu (Ayub 1:21). Ketika sudah tiba di gunung Moria, maka saat-saat dramatis itu pun akan segera tiba. Tetapi justru pada saat-saat dramatis itulah, Tuhan campur tangan, Tuhan menyediakan. Itulah detik di mana terjadi sebuah revolusi peradaban yang luar biasa di mana Kurban manusia diganti dengan kurban hewan. Pada detik itu, terjadilah sebuah perubahan yang sangat besar dalam sejarah peradaban agama-agama manusia. Mungkin selama itu, adalah sangat biasa orang mengurbankan manusia (khususnya anak-anak, terutama anak sulung) kepada para Dewa. Tetapi sejak drama Abraham di gunung Moria ini, terjadilah sebuah pembalikan. Manusia tidak lagi dikurbankan kepada para dewa, melainkan diganti dengan binatang.

Tetapi pada dasarnya kurban itu adalah suatu yang melekat pada diri kita manusia. Tendensi berkurban adalah suatu yang kuat melekat dalam peradaban manusia. Yang dikurbankan hendaknya, sesuatu yang ada pada diri kita, misalnya, diambil dari hewan peliharaan, bukan sesuatu yang dibeli. Sebab kurban pertama-tama adalah kurban hati, pikiran, dan rasa. Kurban itulah yang paling bermutu tinggi. Di dalam perkembangan sejarahnya, khususnya bagi penghayatan teologis orang Kristen kurban itu tidak perlu lagi sebab sudah ada kurban Kristus, yaitu kurban yang hanya satu kali tetapi untuk selama-lamanya (Ibr.7:27). Karena itu, orang Kristiani tidak perlu lagi mengulang kurban Abraham itu, sebuah drama kebengisan kolosal yang terjadi secara massal. Saya membayangkan betapa tangis pedih makhluk ciptaan yang disembelih itu, membumbung tinggi ke hadirat Tuhan yang menciptakannya.

Thursday, April 16, 2020

FILSUF-FILSUF YANG MENGENALKAN FILSAFAT YUNANI

Oleh: Fransiskus Borgias
Pengajar Sejarah Filsafat Abad Pertengahan, Fakultas Filsafat UNPAR, Bandung.



Selama ini selalu dikatakan bahwa dunia Barat (Eropa) mengenal Filsafat Yunani, terutama tokoh-tokoh besarnya seperti Aristoteles, melalui jasa para filsuf Islam Andalusia, di Spanyol, yaitu antara lain dalam diri salah satu tokoh agungnya, Averroes (Ibnu Rusdh). Begitulah misalnya dikatakan bahwa Thomas Aquinas mengenal Aristoteles dari Averroes. Memang Averroes, harus diakui, merupakan salah satu filsuf yang sangat menguasai filsafat Aristoteles pada waktu itu di Eropa. Kalau kita membaca sejarah filsafat Barat dari Prof.Kees Bertens misalnya, hal ini disebut dengan istilah jalan tidak langsung. Disebut demikian karena filsafat itu dikenal melalui jasa pihak ketiga, yaitu dari para filsuf yang berasal dari konteks non-Kristiani (persisnya Islam di Spanyol). Sesungguhnya yang berjaya di Andalusia Spanyol itu tidak hanya filsuf Islam, melainkan juga filsuf dari tradisi Yahudi. Mereka juga mempunyai jasa dalam menghidupkan jalan tidak langsung ini. Misalnya yang paling terkenal ialah tokoh bernama Moses Maimon (yang dikenal sebagai Moses Maimonides).

Tentu hal itu (yakni peranan jalan tidak-langsung) tidak seluruhnya benar juga. Mengapa? Pertama, karena apa yang disebut khasanah filsafat Yunani itu sesungguhnya sangat luas; tidak hanya Aristoteles. Plato dan Neoplatonisme juga mempunyai arus pengaruh yang kuat di dalam Kristianitas di Barat terutama lewat tokoh agung seperti santo Agustinus dari Hippo. Bahkan menurut seorang filsuf modern, Alfred North Whitehead, hanya ada satu filsuf sejati di dunia ini, di dalam sejarah filsafat, dan orang itu adalah Plato. Semua filsuf lain sesudah itu hanya sekadar menulis catatan kaki saja pada filsuf agung itu. Dan penulis catatan kaki pertama pada Plato ialah Aristoteles. Kalau filsafat Plato bisa dipadatkan dengan istilah idealisme, maka filsafat Aristoteles bisa dipadatkan dengan realisme. Kalau aktifitas filosofis Plato bisa diibaratkan dengan aksi-metaforis “berjalan sambil menatap ke langit, menikmati indah-indahnya bintang-bintang” (dengan risiko, kaki terluka karena terantuk pada batu), maka sebaliknya, seluruh aktifitas filosofis Aristoteles bisa diibaratkan dengan aksi-metaforis “berjalan sambil menatap ke tanah, memperhatikan bebatuan dan berhati-hati menikmati indahnya rerumputan dan menjaga jangan sampai kaki terantuk pada batu.” Metafora pertama memadatkan idealisme Plato. Metafora kedua memadatkan realisme Aristoteles.

Selain mengenal tradisi pemikiran filosofis Yunani melalui jalan tidak langsung, Thomas juga mengenal Aristoteles secara langsung, yaitu lewat terjemahan langsung dari Bahasa Yunani yang dikerjakan oleh Moerbecke (yang kurang lebih sejaman dengan Thomas) dan juga sebelumnya (pada abad keenam) oleh orang yang bernama Boethius (yang terkenal dengan buku filsafatnya yang berjudul Penghiburan Filsafat, De Consolatione Philosopiae). Jalan langsung ini sebenarnya mempunyai peranan yang besar juga dalam seluruh tradisi pemikiran filosofis Kristiani di Barat.
Karena itu, menurut saya penekanan pada peranan filsuf Islam (Andalusia, Spanyol) sebagai jembatan Aristoteles ke dunia Kristiani di Barat melalui Thomas, kiranya jangan terlalu dibesar-besarkan. Mengapa demikian? Sebab, selain pengenalan melalui jalan langsung tadi, sebenarnya jauh sebelum Islam ada dalam panggung sejarah dunia ini, artinya sebelum abad ketujuh Masehi, sudah ada juga komentator dan translator karya-karya filsafati Aristoteles yang berasal dari kalangan Kristiani itu sendiri.

Adalah sejarawan filsafat Barat, F.J. Thonnard, yang menyebut dua nama besar yang berjasa dalam bidang itu. Pertama, ialah orang yang bernama Yohanes Philosophonus. Kedua, ialah orang yang bernama David si orang Armenia itu. Keduanya adalah filsuf Kristiani yang berasal dari abad ke-enam Masehi. Kedua orang ini, sudah ada sebelum Islam muncul dalam panggung sejarah. Kedua orang inilah yang mengomentari filsafat-filsafat Yunani terutama Aristoteles ke dalam konteks Kristianitas.

Tentu secara historis, ada juga jasa filsuf Islam. Tetapi hal itu tidak boleh dan tidak bisa disangkal. Hanya menurut saya jangan juga dibesar-besarkan, seakan-akan hanya melalui mereka sajalah warisan agung filsafat Yunani disebarkan di Barat dan tidak ada jalan lain. Jasa Islam, secara historis menurut saya jangan terlalu dibesar-besarkan, karena sebuah factor atau gejala historis lain juga. Yaitu, jangan sampai dilupakan bahwa Islam (dunia Timur, khususnya Persia) mengenal Filsafat Yunani karena Filsafat itu dimatikan dalam dunia Kristen, tahun 529, sebuah angka yang sangat terkenal di dalam sejarah gereja.

Apa yang terjadi tahun 529 itu? Pada tahun itu Kaisar Yustinianus memerintahkan agar filsafat Yunani dilarang diajarkan dalam wilayah kekaisarannya. Itu adalah peristiwa sangat tragis dalam sejarah gereja, di dalam sejarah Kekristenan. Pada tahun 529, karena sangat yakin, sebagai orang Kristiani (Katolik), Yustinianus merasa bahwa yang lain-lain tidak diperlukan lagi. Karena itu maka dibuang. Ia perintahkan pembakaran perpustakaan neoplatonis yang sangat besar dan kaya koleksinya di Alexandria. Ia juga memerintahkan pembubaran academia philosophia di Athena. Menurut Bertrand Russell, sejak itu filosof Yunani lari ke Timur, menjauh dari tentara kekaisaran Romawi. Tetapi kemudian, mereka balik lagi setelah penindasan semakin berkurang. Jadi, dunia Timur mengenal pemikiran filosofis karena pengejaran yang dilakukan di dalam wilayah kekaisaran Romawi Timur itu sendiri.

Bahkan sebelum kedua tokoh yang disebutkan di atas tadi, sebenarnya sudah ada juga orang lain yang disebut komentator Neoplatonik atas Aristoteles. Lagi-lagi Thonnard di sini menyebut beberapa nama. Pertama, orang yang bernama Themistius yang berasal dari paruh kedua abad ke-empat Masehi. Dilaporkan bahwa tokoh ini mendirikan sekolah di Konstantinopel dan ia, sebagai neoplatonis, juga memberi komentar atas Aristoteles. Kedua, ialah orang yang bernama Simplisius, seorang tokoh yang berasal dari abad ke-lima Masehi. Orang ini juga diketahui menulis beberapa karya berupa komentar atau tafsir atas beberapa karya filsafati Aristoteles. Misalnya, diketahui bahwa Simplisius, menulis komentar atas karya-karya seperti Categories, Physics, On the Heavens. Akhirnya, ketiga, masih ada juga tokoh lain bernama Ammonius yang berasal dari kurun akhir abad ke-lima Masehi. Ia diketahui menulis sebuah esei yang mencoba membuat semua harmonisasi antara Plato dan Aristoteles, semacam upaya mendamaikan, upaya sintesis di antara kedua tokoh agung tersebut (Thonnard, 173).

Wednesday, April 15, 2020

“BIBLIA PAUPERUM” DAN “BIBLIA FIDELIUM”

OLEH: FRANSISKUS BORGIAS M.
Dosen Teologi Biblika dan Peneliti Senior Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.


Dalam konteks wacana historis tentang kesenian Kristiani, sering dikatakan bahwa gambar-gambar (juga patung dan ukiran) berfungsi sebagai “kitab bagi orang-orang buta huruf” (orang-orang yang tidak bisa membaca). Dalam bahasa Latin hal itu dikenal dengan sebutan “Biblia Pauperum”. Secara harfiah ungkapan itu artinya “kitab (biblia) untuk orang miskin (pauperum)”. Memang pada saat itu buku/kitab adalah barang super mewah yang hanya bisa dimiliki oleh sekelompok elit kecil dalam masyarakat, biasanya mereka adalah orang kaya, dan bisa membaca (melek huruf). Orang miskin, orang kebanyakan tidak mempunyai buku, karena buku itu harganya mahal, dan karena itu tidak semua orang bisa memilikinya. Buku mahal karena saat itu belum dicetak masal, lagipula teknologi percetakan belum ada. Semuanya ditulis (disalin) tangan. Karena itu, Kitab Suci bagi mereka bukan terutama huruf-huruf, melainkan lukisan/gambar yang dilukis/diukir pada dinding gereja, juga pada bagian bawah altar. Mereka (orang miskin, pauperum tadi) bisa “membaca” lukisan/gambar itu, sebab lukisan/gambar adalah bahasa komunikasi universal yang menembusi semua tembok batasan, termasuk tembok batasan pemisah antara kelompok Melek huruf dan Buta Huruf. Di sini saya mau menelusuri asal usul historis istilah itu.

Sebenarnya, tidak serba jelas dari masa asal-usul historis ungkapan itu. Banyak ahli sejarah gereja (juga sejarah kesenian Kristiani, seni gerejawi) beranggapan bahwa ungkapan ini mungkin sudah sangat tua usianya. Anggapan ini didasarkan pada keyakinan bahwa hal itu kiranya berasal dari Paus Gregorius Agung, tokoh agung dari akhir abad keenam dan awal abad ketujuh (590-604). Tokoh yang termasuk dalam kategori pembaharu gereja yang diakui oleh filsuf Inggris, Bertrand Russel (sehingga ia mengulas tokoh ini dalam History of Western Philosophy, persisnya dalam Bab “Catholic Philosophy”). Dialah Paus yang dikatakan mengalami penglihatan (vision) dalam sebuah perayaan ekaristi. Dalam penglihatan itu, ia melihat “Manusia Menderita”, Orang yang dilukiskan Yesaya 53, yang dikenal dengan sebutan Hamba Yahweh yang Menderita, Ebed Adonai itu. Oleh penulis Perjanjian Baru (Gereja purba), Hamba Yahweh yang Menderita ini, diyakini sebagai Yesus Kristus yang tersalib. Atau bisa dirumuskan secara lain seperti ini: Penulis Gereja Purba, melihat dalam diri Hamba Yahweh yang Menderita itu gambaran awal Yesus yang menderita. Ini adalah cara pembacaan orang Kristiani. Hal ini perlu ditegaskan karena pembacaan itu bukanlah satu-satunya yang ada saat itu. Masih ada cara penafsiran dari orang Yahudi, dari tradisi Rabinic pasca kehancuran Bait Allah di Yerusalem, yang berkembang dari mazhab Javnah.

Dalam sebuah surat kepada tokoh bernama St.Serenus, yang saat itu menjadi uskup Marseiles, Paus Gregorius mengungkapkan keyakinan dan pandangan pribadi dia yang sangat menarik. Ia mengatakan demikian: “Apa yang dibuat oleh tulisan bagi orang yang melek huruf, itulah yang dibuat oleh lukisan bagi orang yang tidak melek huruf. Ketika mereka memandang dan merenungkannya (lukisan), karena orang yang tidak bisa membaca, maka mereka bisa melihat dalam lukisan itu apa yang harus mereka lakukan” (Beth Williamson, Christian Art, A Very Short Introduction, Oxford: Oxford University Press, 2004:66). Di balik pernyataan ini tersimpan pandangan yang kuat bahwa gambar-gambar itu dibuat untuk tujuan pendidikan (pembinaan) bagi orang buta huruf, agar mereka bisa memahami kisah-kisah Kitab Suci dan dengan itu mereka memahami apa yang terjadi. Menurut Gregorius gambar-gambar itu bisa memenuhi satu tujuan yang berguna, tidak hanya dalam hal merangsang perasaan keagamaan, melainkan juga dalam hal menyampaikan pesan-pesan penting dari Kitab Suci kepada orang yang tidak bisa membacanya.

Tetapi apa yang dimaksudkan dengan “Buta huruf” dalam konteks ini? Diandaikan bahwa umat kebanyakan saat itu pada awal abad pertengahan (juga sebelumnya) benar-benar Buta Huruf. Hanya kelompok klerus yang paling terdidik saja (jumlahnya sangat sedikit) yang punya kemampuan/pengetahuan yang cukup akan bahasa dan huruf Latin (juga Bahasa dan huruf lain, Yunani, Ibrani). Tetapi studi dan riset ilmiah terbaru tidak mampu melihat dan membedakan gradasi-gradasi yang lebih halus dan tingkatan kemelekan itu. Misalnya orang tidak membuat gradisi, mulai dari pengetahuan membaca yang cukup akan bahasa daerah, lalu mungkin ada yang mampu membaca dan menulis dalam bahasa vernakular, ada yang bisa membaca dan menulis Latin dengan baik, tetapi juga bisa menulis dengan bahasa itu dengan baik dan indah. Mungkin ada beberapa orang awam yang sudah mempunyai kemampuan dasar untuk memahami beberapa hal yang terbatas dalam bahasa Latin. Tetapi boleh jadi mereka bisa menemukan gambar-gambar yang sangat membantu mereka, yang bisa mengingatkan mereka, atau pun menuntun mereka kepada “makna” dari teks-teks itu.

Karena itu, kita bisa berbicara tentang tiga level terkait tingkat kemelekan huruf (literasi) itu. Pertama, bagi kelompok yang buta huruf sama sekali maka gambar-gambar itu yang merupakan satu-satunya cara dan pintu masuk bagi mereka untuk memahami kitab suci. Kedua, bagi orang yang hanya buta huruf separuh, maka gambar-gambar itu berfungsi untuk memudahkan mereka mengingat kembali apa yang pernah mereka ketahui sebelumnya. Ketiga, bagi yang tidak buta huruf sama sekali gambar-gambar itu berfungsi sebagai ilustrasi yang berfungsi untuk memperjelas, mempertegas pesan dan pemahaman akan pesan tersebut.

Itu sebabnya orang modern kini tidak lagi berbicara tentang “Biblia Pauperum”, melainkan juga bicara tentang “Biblia Fidelium”. Maksudnya ialah bahwa gambar-gambar itu (yang berfungsi sebagai biblia tadi) bisa juga berfungsi bagi umat beriman pada umumnya (fidelium) dan tidak hanya bagi yang buta huruf. Itu sebabnya kita dewasa ini tetap tertarik pada gambar-gambar itu. Tidak hanya tertarik saja, melainkan juga bisa menggali, merekonstruksi, menarik dan mengembangkan banyak pesan dan makna dari sana. Lukisan itu bagaikan tambang mineral, dari mana kaum beriman bisa masuk dan menggali hal-hal berharga bagi kehidupan mereka. Kita, orang modern bisa merenung berlama-lama di hadapan gambar, di hadapan ikon karena dari sana ada makna rohani yang luar biasa kaya.


Tuesday, April 14, 2020

BUNUH SEMUA LAKI-LAKI


Oleh: Fransiskus Borgias

Pengantar Singkat: Ini adalah sebuah catatan dari awal November 2017, yang saya angkat dari Buku Harian saya. Maka semua time reference yang ada di sini berasal dari kurun waktu itu.

***

Sejak seminggu belakangan ini beredar Video rekaman aksi demo kaum feminis radikal di Buenos Aires, yang menuntut Paus Fransiskus dibunuh, gereja Katolik dibubarkan, mereka juga melakukan aksi pembakaran patung Bunda Maria di depan sebuah Katedral, sementara itu, dan ini yang amat menarik, justru kelompok para lelaki yang membentuk pagar betis melindungi gereja, dan mereka melakukan perlawanan sambil berdoa Salam Maria dalam bahasa Spanyol. Sementara itu ada dua orang wanita telanjang dan berperilaku provokatif dan bahkan juga erotis.

Seorang teman di sebuah WAG bertanya: Ini fenomena apa yah? Secara singkat yang berkata: Ini adalah gerakan kaum feminis radikal yang menolak segala bentuk dominasi kaum pria (dominasi patriarki), dan gereja Katolik dipandang sebagai salah satu lambang dominasi itu. Kira-kira begitu. Itulah sebabnya serangan itu diarahkan kepada gereja katolik dan Paus sebagai representasi institusional dan bahkan personal dominasi itu. Di balik itu ada praktek hidup devosional kepada Bunda Maria, yang dituding selama berabad-abad telah melestarikan dominasi itu. Saya menduga ada unsur campur tangan negara adidaya yang non-katolik di belakang aksi ini, interventi yang mau menggoncang-goncang sendi-sendi dan sentrum Katolik di Amerika Latin, mulai dari negara asal sang Paus, yaitu Argentina. Begitulah kira-kira dugaan saya. Jadi, ada kekuatan duit kapitalis adidaya di sana. Semoga dugaan saya itu salah.

****

Setelah menonton video itu, saya tiba-tiba teringat akan sebuah buku novel rekaan yang saya beli pada tahun 1983 di sebuah toko buku di Yogya, kalau tidak salah toko buku Liberty. Judul buku itu ialah "Bunuh Semua Laki-laki." Itulah yang saya angkat menjadi judul tulisan saya kali ini. Buku itu diterbitkan oleh sebuah Penerbit, kalau tidak salah namanya juga Penerbit Liberty, Yogyakarta. Sayang sekali saya sudah lupa nama pengarangnya. Itu adalah sebuah buku terjemahan dari bahasa Inggris. Sayang juga bahwa buku itu sudah hilang dari koleksi buku-buku saya.

Ada pun ide pokok buku itu dapat diringkaskan berikut ini. Dalam sebuah kota, muncul sebuah kelompok wanita yang radikal, yang sangat tidak suka akan laki-laki. Mereka menolak dominasi kaum pria. Mereka menolak dunia yang sudah terlanjut dikuasai kaum pria. Maka muncullah sebuah ide liar di tengah-tengah mereka, untuk membayangkan satu dunia baru yang dikuasai kaum wanita, sebuah dunia yang terbalik dari ap ayang kini ada dan berlaku. Tetapi mereka juga sekaligus sangat sadar bahwa hal itu tidak akan dapat diwujudkan kalau struktur dunia laki-laki yang ada sekarang ini masih ada. Oleh karena itu, mereka mau membunuh semua laki-laki. Kalau semua laki-laki sudah mati, maka akan muncul sebuah tatanan dunia baru yang didominasi kaum perempuan. Nah dalam dunia yang baru itu nanti, para lelaki boleh dimunculkan lagi setelah beberapa waktu lamanya. Tetapi laki-laki yang muncul itu harus tunduk ada kuasa wanita.

Sebagai persiapan ke arah itu maka mereka (kaum perempuan radikal tadi) membangun sebuah bank sperma untuk menampung sperma unggul dari kaum pria yang masih ada saat ini. Nanti kalau sudah mati semua laki-laki, maka dalam dunia baru, laki-laki akan dimunculkan lagi dari benih-benih bank sperma tersebut. Itulah langkah pertama. Persiapan ke arah sana digagas oleh seorang dokter perempuan yang sangat cerdas. Ia menciptakan sebuah zat Kimiawi yang ketika ditebarkan ke udara, akan mematikan semua pria, karena kaum pria itu berstruktur kromosom x-y. Paduan kromosom x-x (jadi, wanita) akan luput dan bisa bertahan hidup, tidak akan binasa karena zat kimia itu. Jadi ini adalah semacam program pembasmian kaum laki-laki. Tetapi hal itu harus dilakukan secara halus, tidak boleh kejam dan mencolok. Harus dengan cara ilmiah. Inilah langkah kedua. Langkah persiapan ketiga, ialah membentuk sebuah pasukan tentara perempuan, pasukan pamungkas. Mengapa?

Ternyata zat kimia yang disebut di atas tadi, tidak mampu mematikan kromosom x-y yang berdarah O. Nah, pasukan pamungkas perempuan yang dibentuk khusus tadi dimaksudkan untuk menghadapi mereka. Pasukan pamungkas ini dengan kekuatan senjata harus membasmi kaum pria (x-y) yang berdarah O. Itulah langkah terakhir. Sisa-sisa kaum pria yang berdarah O itu harus dibinasakan dengan kekuatan senjata.

***

Lalu tibalah hari H, hari murka yang mengerikan itu, Dies irae, dies illa. Dokter cerdas tadi dibantu oleh pasukan perempuan mulai menebarkan zat kimia itu di udara di dalam kota tempat mereka tinggal. Maka terjadilah hal yang amat mengerikan. Tiba-tiba semua laki-laki mati dengan gejala-gejala berikut ini. Mereka mengalami gejala sesak nafas, tubuh membengkak dan juga membiru. Lalu mati, dan terutama sekali mengering. Tubuh yang mati itu tidak membusuk, melainkan mengering. Sehingga tidak perlu dikuburkan, sebab tidak akan membusuk. Hanya mengering seperti kayu lalu musnah dan hilang begitu saja.

Pada saat itu kaum laki-laki pun mulai sadar akan adanya suatu keanehan di balik gejala ini. Suatu keanehan yang sengaja dirancang. Maka pria-pria yang masih bisa bertahan hidup pun berusaha mencari tahu apa penyebab dari semua ini. Tiba-tiba mereka juga sadar, berdasarkan data dari kota bahwa laki-laki yang bertahan hidup itu semuanya berdarah O. Oleh karena itu mereka pun membentuk pasukan bela diri. Sebab mereka melihat bahwa sudah mulai ada gejala kekerasan. Mereka memberi perlawanan. Demi survive. Mula-mula mereka sangat sulit melakukan perlawanan itu. Tetapi ada peluang juga.

Dokter perempuan yang cerdas tadi, sudah mengindoktrinasi pasukan pamungkas perempuannya agar membenci semua laki-laki dan harus berusaha melupaka semua laki-laki yang ada saat ini. Ia juga mengatakan bahwa kita bisa membangun dunia baru tanpa laki-laki. Kalau dunia baru kita nanti membutuhkan laki-laki, maka kita bisa memunculkan lagi mereka, lewat rekayasa genetika dari bank sperma yang sudah ada di Bank-bank mereka. Tetapi lelaki yang muncul nanti adalah laki-laki yang dikuasai perempuan, karena ia muncul di dunia yang sudah dikuasai dan diwarnai perempuan.

Tetapi rupanya indoktrinasi sang dokter gila itu tidak efektif mengikis rasa cinta, simpati dan empati semua anggota pasukan pamungkasnya. Ada satu orang perempuan anggota pasukan pamungkasnya yang sudah lama jatuh cinta pada seorang pria yang berdarah O. Cinta mereka sangat kuat. Bahkan juga tidak luntur oleh indoktrinasi sang dokter, maupun oleh bayangan akan dunia baru itu kelak, sebuah utopia, sekaligus sebuah eutopia. Nah perempuan anggota pasukan pamungkas inilah yang membocorkan rahasia gerakan kaum perempuan ini kepada kaum pria yang masih bertahan hidup, sehingga kaum pria mampu membangun rencana dan strategi perlawanan yang jitu.

Setelah rahasia mereka terbongkar, maka perlawanan pun diarahkan oleh kaum pria berdarah O itu langsung ke markas sang Dokter gila. Mereka berpikir, kalau sang dokter itu sudah mati, maka gerakan itu pun pasti mati. Indoktrinasi yang sudah ia tebarkan juga akan melemah. Dan memang betul demikian adanya. Dokter itu bisa dikalahkan dan mati. Maka gerakan itu pun mati. Kiranya, cerita fiksi, cerita rekaan ini hanya mau mengatakan bahwa tidak mungkin ada dunia tanpa pria dan wanita. Tidak mungkin wanita tanpa ada pria. Sekian.

Monday, April 13, 2020

SEPATU BISU DAN MARS KUNCI

Oleh: Dr. Fransiskus Borgias, MA


September sampai dengan Desember 2014, saya tinggal di Geithersberg, Maryland, USA. Saya tinggal di sana dalam rangka menjalani semester sandwich-programme saya pada Fakultas Theology di Georgetown University, salah satu universitas tertua di Amerika, yang didirikan oleh para romo Yesuit, kalau tidak salah pada tahun 1779 (jadi, tiga tahun sesudah Declaration of Independence, yang ditanda-tangani oleh Thomas Jefferson itu, 4 Juli 1776). Kegiatan utama saya pada waktu itu adalah riset kepustakaan dengan mitra dialog Prof.Dr.Peter C.Phan, profesor teologi di Georgetown, seorang teolog kelahiran Vietnam. Walaupun saya tinggal cukup jauh di luar Washington DC, tetapi setiap hari saya mengunjungi perpustakaan Georgetown itu yang memang terletak di dalam wilayah DC itu. Atas nasihat Prof.Peter Phan, saya bekerja keras pada hari Senin sampai Kamis. Sedangkan pada Hari Jumat sampai dengan Minggu, saya harus berjalan-jalan menikmati kota Washington dan sekitarnya. "Frans, from Monday to Thursday, you have to WORK HARD, while from Friday to Sunday, YOU HAVE TO WALK HARD." Begitu kata Prof.Peter Phan dengan nada bercanda. Dan saya melakukan hal itu dengan sungguh-sungguh.

Untuk itulah maka di akhir pekan saya selalu menyempatkan diri mengunjungi beberapa museum yang terletak di kawasan Gedung Capitol, di Smithsonian Avenue. Memang di kawasan itu ada banyak sekali museum yang indah-indah dan sangat mengagumkan. Sebagian besar museum itu terletak di bawah tanah. Pada saat itu saya masih ingat, sudah pada akhir bulan November dan bagi saya sudah terasa sangat dingin. Saya datang ke sana untuk mengunjungi secara khusus Holocaust Memorial Museum. Itu adalah museum peringatan akan kekejaman dan kebengisan Perang Dunia Kedua yang menimpa orang-orang Yahudi di seluruh dunia, khususnya di Eropa akibat penindasan yang dilakukan Nazi, semacam program pemusnahan etnis (ethnic cleansing) yang mengerikan. Dalam museum itu ada banyak hal yang menarik untuk dicermati dan dicatat dan diberi perhatian khusus. Tetapi saya kali ini sangat tertarik dengan satu ruangan besar yang berisi hanya sepatu-sepatu dari berbagai ukuran, baik itu sepatu untuk kaum pria maupun sepatu untuk kaum perempuan. Sebagian terbesar sepatu-sepatu itu sudah berwarna hitam, kelabu, kusam-kusam, mungkin karena sudah dimakan usia. Ada juga sepatu yang berwarna keabu-abuan. Ada juga yang berwarna kebiru-biruan.

Saat memasuki kawasan ruang sepatu itu, suasana terasa sangat sepi. Bahkan saya merasakan suasana yang rada mencengkam. Mungkin karena pada saat itu saya hanya sendirian saja di sana. Ruang itu sepi sekali, bisu. Hening. Dan sepatu-sepatu itu... juga diam membisu, hening, sunyi. Tidak bergerak. Kalau ada yang bergerak pasti saya lari ketakutan. Sampai akhirnya saya membaca satu keterangan tertulis di salah satu sudut ruang kaca tersebut. Di sana terbaca keterangan yang kurang lebih berbunyi demikian: Ini adalah sepatu-sepatu dari orang-orang yang menjadi korban (victim) keganasan Nazi di Jerman. Tubuh dan kaki orang-orang itu sudah mati di dalam ruang gas beracun. Tetapi kini sepatu-sepatu milik mereka seakan-akan sedang berbicara dengan sangat lantang dan keras-keras tentang keberadaan dan nasib mereka. Bahkan di dinding ruangan itu ada juga sebuah daftar nama dari orang-orang atau para pemilik sepatu-sepatu itu, yang kini sudah tiada. Hanya tinggal nama saja. Hanya tinggal sepatu saja. Diam. Membisu, membiru, abu-abu, kelabu. Tetapi bagi saya juga serentak menderu justru di dalam membisu itu. Paradoksal sekali. Aku seakan-akan melihat dan mendengar mereka, mendengar mereka sedang berteriak, mengaduh, merintih. Ah....

Kalau saya tidak salah ingat, tragedi gas beracun itu terjadi pada tahun 40an di Jerman dan di Polandia. Banyak orang Yahudi yang digiring ke dalam Kamar Gas beracun itu. Akibatnya, banyak orang Yahudi yang menjadi korban. Salah satu tokoh yang menyaksikan hal itu adalah seorang sastrawan Austria, Elie Wiessel, yang dari dalam bencana tragis itu dari mana dia akhirnya secara ajaib selamat, menuliskan trilogi novelnya yang sangat menarik dan indah. Semuanya berbicara tentang krisis kemanusiaan di Eropa itu. Saya masih ingat salah satu perkataan Wiessel dalam salah satu trilogi itu: Aku melihat Allah sudah terbakar, dan ia menjadi jelaga hitam yang keluar dari cerobong asap kamar gas maut. Kira-kira begitu. Ia terperosok ke dalam ateisme praktis, susah untuk menjadi percaya lagi akan Allah, karena tragedi penderitaan manusia yang sangat dahsyat dan mengerikan itu. Maka sebagai akibatnya, sejak saat itu gelombang Alia, yaitu kaum imigran yang lari mencari keselamatan dan keamanan ke tanah Kanaan (sekarang disebut Palestina) menjadi semakin gencar. Sehingga boleh dikatakan bahwa gerakan zionisme-politik dan religius di Eropa akhirnya memuncak dan bermuara pada peristiwa proklamasi berdirinya negara Israel pada bulan Mei 1948. Dan itu terjadi di tanah Kanaan. Ya, di Palestina.

Tentu saja pada saat itu negeri itu bukan sebuah negeri yang kosong, tanah yang tanpa tuan, tanah yang tidak diketahui, daerah tidak bertuan, terra incognita. Sekali lagi tidak. Yang jelas, bagaimanapun juga di sana sudah ada manusia. Di sana ada orang-orang Palestina. Ada juga orang-orang Yahudi. Dan ada juga orang-orang Kristiani. Hal itu bisa kita rasakan dengan sangat kuat dalam sebuah buku novel Palestina yang bernama Elias Chakour, seorang imam Palestina (kalau tidak salah dari tradisi iman Kristiani kaum Yakobit ataupun Melkit). Judul novel dia ialah SAUDARA SEKANDUNG, yang sudah diterjemahkan juga ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Sinar Harapan di akhir tahun 80an ataupun awal tahun 90an. Sebuah kisah tragis yang amat menyedihkan tentang orang-orang Palestina yang menjadi korban dari percaturan politik di kawasan itu.

Yang jelas ialah bahwa sejak berdirinya negara Israel tadi maka terjadi juga banyak drama pengusiran dan penggusuran terhadap orang-orang setempat, baik Israel yang sudah ada di sana sejak semula, maupun juga orang-orang Palestina, dan juga orang-orang Kristen Palestina, termasuk keluarga sang pendeta Chakour tadi. Sejak itu rumah-rumah orang Palestina digusur. Bahkan kampung halaman mereka juga digusur. Lahan-lahan pertanian mereka, di mana mereka selama ratusan tahun sudah menamam pohon ara, pohon zaitun, kebun anggur, apel, dan kurma, juga digusur. Tentu saja orang-orangnya sekalian digusur juga. Maka jadilah mereka gelandangan dan perantau di tanah mereka sendiri. Tragis sekali. Penggusuran itu, menurut kesaksian Chakour, dilakukan demi ekspansi Lebensraum, ruang hidup, pemukiman bagi orang-orang Israel, para pemukim baru yang datang dari seberang lautan itu. Maka sejak saat itu penduduk Palestina pun tergusur menjadi gelandangan. Tanpa rumah. Tanpa kampung halaman. Tanpa kebun. Tetapi semuanya masih mereka ingat, dalam ingatan kolektif mereka.

Pada tanggal 20 Maret tahun 2000, Paus Yohanes Paulus II, pergi mengunjungi tanah suci, Palestina (Kanaan). Di sana ia mengunjungi gunung Nebo yang sangat terkenal itu. Konon ia kesana untuk bisa merasakan apa yang dulu dirasakan dan dialami Musa saat ia berdiri sana untuk memandang ke tanah Kanaan, Tanah Terjanji, the Promised Land itu. Bapa Suci juga pergi mengunjungi kota Betlehem. Dan masih ada beberapa tempat yang lain lagi. Tidak hanya itu. Bapa Paus juga pergi mengunjungi kamp pengungsi Palestina yang bernama Dheishal, yang terletak di luar kota Betlehem, Rumah Roti itu. Para penghuni Kamp itu tidak lain adalah orang-orang keturunan Palestina yang telah kehilangan rumah-rumah dan lahan pertanian mereka sejak tahun 1948 itu, sejak program ekspansi para pemukim Yahudi.

Konon di sana, di kamp para pengungsi itu Bapa Paus disambut dengan "Mars Kunci (Gary M.Burge, Palestina, Milik Siapa?, Jakarta BPK, 2003:x). Apa itu Mars Kunci? "Mars Kunci" adalah bunyi gemerincing kunci-kunci rumah milik orang Palestina yang sudah digusur oleh Israel. Kunci-kunci itu sekarang ini dibawa oleh anak-anak Palestina, sebagai warisan, sebagai bukti historis bahwa dulu mereka pernah mempunyai rumah di sini, di atas tanah ini. Rumah itu sudah hancur binasa, sudah hilang. Tetapi kenangan akan rumah-rumah itu tidak akan pernah hilang, sebab mereka akan tetap hidup dan bahkan menjadi abadi di dalam bunyi gemerincing Mars Kunci-kunci itu. Pada saat melihat dan mendengar Mars Kunci-kunci itu, konon Bapa Paus, sangat trenyuh dan tampak sekali ia menjadi sangat sedih dan pilu, bahkan seperti akan menangis. Kata Burge demikian: "Beliau memeluk anak-anak yang membawa kunci-kunci besi milik kakek-kakek mereka" (p.x). Tragis. Sedih. Pilu. Jadi, di Washington ada Museum Sepatu Bisu, di Betlehem ada "Museum" Mars Kunci.

Hingga saat ini saya belum mempunyai kesempatan, lebih tepatnya belum memiliki kemampuan, untuk mengunjungi tanah Kanaan, Palestina, Israel, khususnya kota suci Yerusalem, kota suci tiga agama besar, Yahudi, Kristen, Islam (Harus disebut dengan urutan historis seperti itu, agar bisa memperlihatkan keadilan sejarah dengan sebaik-baiknya). Semoga pada satu saat saya bisa ke sana, berziarah. Tetapi waktu di Belanda, saya pernah diceritakan oleh seorang dosen Kitab Suci saya bahwa di Israel, kalau tidak salah di Haifah, ada juga sebuah museum suara, museum memorial korban-korban perang dunia kedua juga. Katanya, di dalam museum itu yang ada adalah justru tiada, sebuah ruang kosong. Katanya juga, hanya diterangi semacam cahaya lilin yang redup.

Tetapi saat para pengunjung masuk ke sana, mereka akan mendengar suara orang-orang yang hanya menyebut nama mereka masing-masing dan sekaligus menyebutkan keterangan singkat, lahir di mana, besar di mana, dan mati dengan cara seperti apa, di mana. Misalnya, "Saya adalah Moshe. Saya lahir di Belarus. Waktu itu saya masih anak-anak. Saya mati di kamp pengungsian akibat Perang dunia Kedua." Atau contoh lain, "Saya adalah Deborah. Saya lahir di Prussia. Saya mati di ruang gas beracun." Dst.dst., Kata dosen saya itu, rasanya mencengkam sekali. Ketika mendengar cerita itu saya langsung teringat akan perkataan Cletus Groenen tentang Yerusalem: Yerusalem adalah sebuah kota dengan masalah yang pelik. Dan tidak akan pernah selesai masalah itu. Kalau masalah Yerusalem sudah bisa diatasi, maka itu berarti sudah akan kiamat. Mungkin saja dia benar.

Samar-samar aku dengar sebuah lagu ziarah dari tahun 70an kalau tidak salah dilantunkan oleh Leks Trio: "O Yerusalem, kota mulia, hatiku rindu, ke sana. Tak lama lagi, Tuhanku datanglah, bawa aku masuk sana." Banyak orang dilanda rindu seperti itu: Mau Ke Yerusalem, seperti kata pemazmur juga, Kalau sampai aku melupakanmu Yerusalem, biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, biarlah tangan kananku dipotong (Mzm 137, yang konon dilantunkan oleh para exil, kaum buangan yang menangis sedih pilu rindu akan Yerusalem saat mereka duduk dengan kaki selonjor di tepi kanal-kanal indah di Babilon, sementara mereka gantungkan kecapi mereka di pohon gandarusa. Ah sebuah nostalgia yang indah, tetapi sekaligus pahit juga. hehehehe....

Sunday, April 12, 2020

KITAB SUCI YANG INKLUSIF


Oleh: Fransiskus Borgias


Pada tahun 2007, Karen Armstrong, pakar sejarah yang berasal dari Inggris itu, menerbitkan sebuah buku yang sangat penting dan menarik. Judulnya, THE BIBLE, A BIOGRAPHY. Puji Tuhan, dua tahun sesudah itu, yaitu pada awal 2009, saya didaulat oleh penerbit Mizan, Bandung, untuk menerjemahkan buku itu. Saya telah mengusahakan hal itu dengan baik pada tahun itu juga. Setelah itu, naskah itu masih mengalami beberapa proses editing dan koreksi dan juga masih harus masuk dalam daftar wailing-list yang cukup panjang, sehingga buku terjemahan itu baru bisa diterbitkan pada tahun 2013 saat saya sedang menekuni studi saya di program S3 ICRS-Yogya, UGM-UKDW-UIN SUKA. Tetapi puji Tuhan, akhirnya buku terjemahan itu sudah terbit.

Saat sudah terbit dan saya mendapat beberapa exemplar sebagai tanda bukti keterlibatan di dalam seluruh proses itu, maka hal pertama yang saya lihat di dalam buku yang baru terbit itu ialah siapa yang didaulat sebagai penulis kata pengantarnya. Memang sebelumnya saya sudah diberitahu nama-nama mereka. Tetapi saya belum pernah melihat apa yang mereka tulis. Dan tidak main-main, ada dua profesor yang didaulat untuk menulis kata pengantar untuk buku terjemahan saya itu. Satu profesor dari kalangan Islam. Profesor yang lain dari dunia Kristiani, persisnya dari dunia Katolik. Saya tidak perlu menyebut nama keduanya di sini.

Saya langsung mencoba menyimak apa yang mereka tulis dan mereka katakan di dalam kata pengantar itu. Tentu saja, apa yang mereka katakan, menurut saya sangat menarik dan dengan tepat menggambarkan keluasan dan kedalaman pengetahuan mereka akan kajian-kajian keagamaan dan terutama filsafat. Tetapi saya harus dengan jujur mengatakan bahwa tidak satupun dari kedua profesor itu, itulah kesan yang saya peroleh, yang membaca secara sangat serius hasil teks terjemahan saya tersebut. Mengapa saya mengatakan begitu? Atau apa atau mana buktinya sehingga saya berani mengatakan seperti itu?

Saya harus mempertanggung-jawabkan apa yang sudah saya katakan. Saya sudah membaca berulang-ulang kata pengantar yang ditulis oleh kedua profesor itu dan mencoba menyimak baik-baik kajian yang mereka berikan. Tetapi akhirnya saya pun sampai pada sebuah kesimpulan yang sangat jelas dan pasti bahwa kedua profesor itu sama sekali tidak menyinggung pesan dasar ataupun kepedulian utama dari Karen Armstrong, sehingga ia terdorong menulis buku BIOGRAFI ALKITAB ini. Saya sebagai penerjemah, sungguh bergelut dengan hal itu dalam seluruh proses terjemahan itu sendiri. Bahkan akhirnya saya pun bisa memahami atau menafsirkan mengapa Karen Armstrong, yang mantan biarawati Katolik itu, mengambil judul bukunya, A BIOGRAPHY. Sebab memang ia mau melakukan semacam riwayat hidup, riwayat terjadinya, proses kelahirannya, genesis dari kitab suci itu sendiri.

Kiranya Karen Armstrong dengan sadar dan sengaja memilih judul A BIOGRAPHY itu, karena ia mau menanamkan sebuah kesadaran yang kuat di kalangan para pembacanya bahwa apa yang sekarang ini dipegang oleh orang beriman sebagai Kitab Suci sesungguhnya tidak sekali jadi, apalagi ia diturunkan sebagai sebuah buku atau kitab yang sudah dijilid dengan sangat rapih dan indah, cantik, dari surga (seakan-akan di surga itu ada percetakan, ada penjilidan). Karen Armstrong merasa bahwa penegasan dan pemahaman ini sangat penting karena memang ada beberapa kalangan yang meyakini seperti itu. Kalau hanya berhenti pada level keyakinan sih tidak apa-apa. Masalahnya apa yang diyakini itu juga mempunyai konsekwensi sosial, politis, dan juga etis, yaitu ada efeknya dalam relasi dan pandangan si pemegang Kitab Suci itu akan sang Lian (the Other) yang selalu ada di sekelilingnya. Justru di situlah bahayanya. Jadi sekali lagi, Kitab Suci itu tidak sekali jadi, sebagai sebuah paket final. Melainkan, ia mengalami proses evolusi yang sangat panjang dan berbelit-belit.

Dalam proses dinamika evolusi itu ada banyak sekali editor yang mengedit ulang dan mengadaptasi teks-teks lama agar dapat disesuaikan dengan situasi dan perkembangan jaman yang ada. Bahkan lebih dari itu. Ada banyak tambahan-tambahan juga sesuai dengan pandangan teologis dari masing-masing para editor itu. Dengan sangat piawai Armstrong mengutip hasil studi ilmiah terhadap kitab suci selama dua abad belakangan ini yang dikenal dengan sebutan keren historical criticism, redaction criticism, sources criticism, form criticism, hal-hal yang saya pelajari dulu di STF Driyarkara Jakarta saat belajar Pengantar Studi Kitab Suci di bawah bimbingan Prof.Dr.Martin Harun, OFM, maupun saya pelajari lewat buku-buku pengantar Kitab Suci PL dan PB dari Prof.Dr.Cletus Groenen OFM. Tidak lupa saya juga banyak belajar dari buku populer dari Bapak Stefan Leks, Alkitab Untuk Anda.

Misalnya dengan sangat baik Armstrong melukiskan proses perpaduan historis antara tradisi Selatan dengan tokoh ideal Abraham dan tradisi Utara dengan tokoh ideal Musa dalam sebuah cerita "sejarah" perpindahan bangsa nomad mulai dari Ur-Haran, Kanaan, Mesir, Gurun Sinai, dan akhirnya menetap di Kanaan. Dalam proses "kisah" perjalanan itu berperanlah para teolog yang berhaluan Elohis (E), dan sedikit kemudian para teolog yang berhaluan Jahwistis (J, yang mulai sedikit bersifat rada eksklusif), lalu kemudian ada campur tangan para teolog yang berhaluan Deuteronomis (D), dan akhirnya ada campur tangan juga dari para teolog yang berhaluan Priest (P, yang menurut para ahli kitab lebih bersifat inklusif-merangkul dibandingkan dengan J dan D, khususnya D yang sangat tidak suka akan kaum Utara yang dipandang sebagai sumber pangkal sinkretisme dan pencemaran, penistaan terhadap agama Yudaisme). Armstrong berusaha keras menunjukkan ini semua sekali lagi untuk memperlihatkan sifat prosesif-dari kitab suci itu sendiri dengan konsekwensi harus menghindari sifat posesif apalagi sifat opresif-represif yang bersumberkan ilham dari ayat-ayat suci tersebut.

Nah, semua detil ini tidak begitu tampak (atau bahkan dengan sedikit lebih keras dan tegas, tidak ada) dalam ulasan pengantar kedua profesor itu. Padahal menurut saya sebagai penerjemah yang sungguh terlibat dalam proses terbitnya buku ini, justru hal itulah yang menjadi tujuan utama dari proyek buku Karen Armstrong itu. Jadi, dengan mengulas proses perjalanan "biografi" dari Kitab Suci itu, Armstrong mau membuka kepada kita bahwa sesungguhnya tidak boleh ada alasan untuk ngotot di dalam mempertahankan ayat, apalagi sampai harus karena ayat memayatkan hayat-hayat sesama. Mengapa begitu? Karena dalam proses lahirnya Kitab Suci itu sendiri, ada suatu proses yang bersifat dialogis, lentur, inklusif, merangkul, hidup dan serba memeluk, mengayomi. Kalau orang bisa melihat dan sadar akan biografi Kitab Suci, Armstrong berharap tidak akan ada lagi orang-orang radikal dungu-tolol yang mau membom demi ayat-ayat suci tetapi sayangnya justru menghasilkan mayat-mayat dengan mengorbankan hayat-hayat sesama yang masih dan sedang mencoba merajut hikayat kemanusiaan universal. Itulah proyek Armstrong.

Ketika menulis semuanya ini saya langsung teringat akan sebuah buku yang sangat menarik dari sastrawan dan budayawan kondang, Goenawan Mohamad, yang berjudul TEKS DAN IMAN (Tempo, Pt.grafiti pers, Jakarta: 2011). Buku ini terdiri atas tujuh bab. Tetapi yang paling relevan untuk saya singgung terkait dengan tulisan saya saat ini adalah Bab 1, Tentang Teks dan Iman (hlm.1-18). Dalam bab ini, khususnya pada halaman 14 GM menyinggung Karen Armstrong, tetapi bukan buku yang saya terjemahkan ini, melainkan bukunya yang lain, tetapi mempunyai nada dasar yang sama, yaitu The Battle for God (NY: Alfred A.Knopf, 2000, p.368). Untuk mengakhiri tulisan ini saya mau mengutip GM yang menyinggung KA dengan sangat indah dan mengena (dan karena itu saya tadinya berharap justru GM inilah yang memberi kata pengantar kepada buku itu, hehehehe): "Yang cukup memasygulkan ialah bahwa dorongan deras abad ke-20 itu juga mengurah sampai hampir kering sumber-sumber rohaniah - yang sebenarnya terjadi dalam agama-agama. Bahkan pada gilirannya agama-agama mereproduksi kekerasan yang terjadi. Dalam ketakutan akan kehancuran dirinya dalam sebuah masyarakat yang, untuk memakai dikotomi Karen Armstrong, lebih berpegang pada logos ketimbang pada mythos, agama-agama "mendefinsikan doktrin, membangun rintangan, menegakkan tapal batas, dan memisahkan mereka yang beriman dalam sebuah tempat terpisah yang suci di mana hukum dengan keras diberlakukan." (GM, Teks dan Iman, hlm.14).

Ah ngeri sekali rasanya wajah agama-agama itu. Mungkin itu sebabnya Hans Kueng dengan kawan-kawan, dalam proyek yang keren dan terkenal dengan sebutan "Welt-ethos project" itu, kembali menegaskan agar agama-agama kembali ke basis-basis dan pesan etisnya, sebab menurut Injil Matius (25:31-46) dalam pembacaan dari orang seperti Leonardo Boff, Juan Arias, dan Groenen, kita akan diadili pada tahta pengadilan surgawi kelak, berdasarkan kriteria etis (apa yang kau buat bagi orang yang paling kecil dan hina-dina), dan bukan berdasarkan kriteria kultis (apa yang anda percayai, apa iman anda, apa agama anda, berapa kali anda berdoa, bagaimana cara anda berdoa, di mana anda berdoa, anda berdoa dengan siapa, dst.dst.,). Semuanya itu kelak tidak akan laku lagi. Yang mutlak berlaku ialah kriteria etis itu, apakah saya menaruh per-hati-an (perhatikan, saya menulis kata itu dengan per-HATI-an, karena memang artinya memberi HATI) pada sesama khususnya yang kecil, menderita, dan disisihkan oleh yang berkuasa.

Saturday, April 11, 2020

MAKAM KOSONG, PETI KOSONG

Oleh: Dr. Fransiskus Borgias MA.

Pada tahun 2009 saya menerjemahkan buku dari Karen Armstrong yang terbit dua tahun sebelumnya, 2007, dengan judul BIBLE, A BIOGRAPHY. Saya terjemahkan menjadi ALKITAB, SEBUAH BIOGRAFI. Buku itu baru terbit empat tahun kemudian, 2013, pada penerbit MIZAN Bandung, yang telah meminta saya untuk menerbitkannya.

Pada Minggu pagi paskah 2020 ini, saya tiba-tiba teringat akan sepenggal kisah yang diangkat oleh Armstrong dalam salah satu Bab bukunya itu. Kita semua tahu bahwa Bait Allah di Yerusalem dihancurkan oleh Roma pada tahun 70 Masehi. Itulah penghancuran yang kedua sesudah penghancuran yang pertama yang dilakukan oleh Nebukadnezar, Raja Babel, pada tahun 586/585 SM. Dari dalam asap api penghancuran Yerusalem itu, kata Armstrong, kemudian muncul dua mitos kebangkitan, yaitu kebangkitan dari sebuah makam kosong, dan kebangkitan dari sebuah peti mati (coffin) yang kosong. Nah tulisan ini sebenarnya hanya mau bercerita tentang dua kisah itu: penemuan Makam kosong dan peti kosong. Ada apa yang terjadi sebenarnya?

Tetapi sebelum ke sana, saya meneruskan sedikit penelusuran historis saya tentang drama penghancuran itu. Sesudah penghancuran pertama terhadap bait Allah nan megah yang dibangun Raja Salomo itu, kira-kira 70 tahun sesudah itu, atas prakarsa Ezra dan Nehemia, yang diijinkan kembali ke Yehuda oleh Cyrus (penguasa Persia yang kemudian menjungkalkan keperkasaan Babel), Bait Allah pertama dari Salomo itu dibangun kembali. Kiranya tidak semegah bangunan Salomo. Maklum, lagi dalam krisis moneter. Bait Allah itu mengalami beberapa kali penghancuran atau setidaknya pencemaran sejak jaman itu sampai ke jaman Makabe, kira-kira abad kedua sebelum Masehi. Sesudah itu masih ada lagi raja yang mencoba memperbaiki, memperindah, mempercantik Bait Allah yang kedua ini. Dan hal itu bertahan sampai tahun 70M.

Pada tahun itu, terjadilah sebuah pemberontakan orang Yahudi terhadap Roma. Roma yang tidak mau direpotkan dengan perkara keamanan yang mengganggu idealisme Pax Romana itu, dengan segera mengambil tindakan tegas. Mereka mengepung Yerusalem selama beberapa bulan. Sejarawan Yahudi, Yosephus, bahkan menulis novel sejarah yang indah dan menarik tentang drama pengepungan itu. Roma berharap agar penghuni Yerusalem segera menyerahkan diri tanpa harus ada pertumpahan darah. Bahkan ada sesi-sesi perundingan juga. Tetapi rupanya para satria Israel dalam benteng Yerusalem itu, sudah bertekad untuk mati, berjuang sampai titik darah penghabisan, karena ada yang yakin bahwa mereka akan menang, bahwa tembok Yerusalem tidak akan bisa ditembusi oleh musuh. Ternyata hal itu tidak terbukti. Setelah pengepungan yang mengerikan selama beberapa bulan, akhirnya tentara Roma maju untuk menghancurkan tembok itu dan kemudian juga menghancurkan bait Allah sampai rata tanah dan membakarnya. Konon terjadi juga semacam aksi harakiri, bunuh diri massal di dalam tembok itu.

Dari mana cerita tentang peti mati yang kosong itu? Itulah yang mau saya ceritakan dalam bagian berikut ini. Yang jelas bahwa di samping faksi-faksi yang radikal di dalam tembok kota, ada juga faksi-faksi yang lembut dan realistis dan mencoba mencari jalan damai. Menurut Karen Armstrong, mereka itu adalah kaum Farisi. Konon kubu liberal Farisi ini sebenarnya sudah mau menyerahkan diri, tetapi mereka dihalang-halangi oleh kaum radikal fanatik. Bahkan mereka pun susah sekali untuk bisa keluar dari dalam kota untuk melakukan perundingan dengan Roma. Di kalangan orang Farisi ini muncul diskusi teologis dan eskatologis: kalau sekarang kita semua mati di sini, maka selesailah sudah agama Israel, agama Yahudi ini, tidak akan ada lagi yang meneruskan tradisi agung ini. Bayangan akan kemusnahan total dan terhentinya sejarah, dalam bahasa Manggarai disebut mempo, yaitu hilang tidak berbekas lagi, benar-benar mengganggu kaum Farisi ini.

Oleh karena itu, mereka mencoba mencari cara bagaimana mereka bisa meloloskan salah satu rabi mereka keluar dari tembok tanpa ketahuan dan nanti di luar tembok kota akan melakukan perundingan dengan Roma untuk merancang sebuah masa depan bagi mereka. Sementara orang sibuk mempersiapkan detik-detik terakhir menyongsong kematian di dalam benteng Yerusalem, tiba-tiba berhembus berita dari luar benteng bahwa ada seorang rabi yang diijinkan oleh tentara Roma untuk mendirikan mazhab Yahudi, yang kemudian dikenal dengan sebutan mazhab rabinik dari mana kita kini mengenal Yahudi rabinic, di Javna. Rabi itu secara sangat ajaib bangkit dari peti mati.

Cerita itu benar-benar menghebohkan orang-orang dalam benteng. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang terjadi ialah, para murid dari sang Rabi (farisi) itu, sudah lama menyiapkan kondisi itu. Mereka menyebarkan cerita bahwa sang rabi yang sudah tua itu sakit-sakitan dan hampir mati. Kemudian memang dia "mati". Hanya "mayat" yang boleh dibawa keluar melewati pintu gerbang dengan suatu penjagaan dan pemeriksaan yang sangat ketat. Peti mati itu lewat dan keluar dari pintu gerbang untuk "dimakamkan". Setelah jauh dari tembok pintu gerbang, "mayat" dari dalam "peti mati" itu bangkit. Sebab memang dia tidak mati. Itu hanya cara dari para murid sang rabi untuk meloloskan sang rabi keluar dari benteng kota yang terkepung itu.

Dengan segera, tentu saja dengan persetujuan Roma sebagai balasan atas sikap mereka yang melunak terhadap Roma, sang Rabi pergi ke Javna dan mendirikan sebuah sekolah alkitab di sana. Dan dari sekolah itu kemudian berkembanglah salah satu versi agama Yahudi, agama Yahudi rabinic sebagaimana yang kita kenal dewasa ini. Rabi itu bernama Yohannan ben Zakkai. Itulah cerita kebangkitan yang pertama, bangkit dari peti mati, dan karena itu peti itu pun ditemukan dalam keadaan kosong.

Sekarang tentang makam kosong. Sesungguhnya, Kekristenan pun lahir dari rahim agama Yahudi di detik-detik terakhir dari krisis eksistensi historis keyahudian itu. Hanya cerita Kekristenan lebih keren karena dirangkaikan dalam sebuah "biografi" yang panjang dari seorang tokoh agung, yang bernama Yeshua bin Maria orang Nazaret itu. Setelah selama hidupNya, Yeshua ini selalu berbenturan dengan pelbagai ajaran dan ideologi agama mainstream, misalnya "melanggar Sabat," atau pun bergaul dengan orang-orang pinggiran yang dianggap sampah masyarakat, sering membuat para petinggi agama itu mati langkah dalam perdebatan, tampil dengan kuasa agung lewat pelbagai mukjizatnya, akhirnya Ia dihukum mati lewat suatu persekongkolan yang keji antara petinggi agama dengan jejalin rumit hukum agama, dan petinggi politik, juga dengan jejalin rumit hukum negara. Ia dihukum mati dengan cara disalibkan.

Oleh para pengagumNya yang setia, Ia dimakamkan, dan tiba-tiba pada hari ketiga sesudah Ia dimakamkan, tiba-tiba tersebar cerita yang sangat menghebohkan di Yerusalem dan sekitarnya, bahwa makam Yeshuha sudah kosong. Para wanita yang suka mengikuti Dia dalam pelbagai perjalananNya, pagi-pagi datang ke makam, dan menemukan makam itu sudah kosong, dan ada seorang pemuda yang memberi kesaksian bahwa Ia sudah bangkit, Ia sudah tidak ada di sini.

Di atas cerita tentang "kebangkitan" itulah kemudian kekristenan mulai tumbuh dan berkembang. Cerita itu sudah ada terlebih dahulu dari cerita peti mati yang kosong di atas tadi. Bahkan Kekristenan sudah bertumbuh pesat juga saat drama pengepungan Yerusalem itu terjadi. Paulus sudah berjalan ke mana-mana, begitu juga Petrus dan Barnabas, dan para Rasul yang lain, termasuk seperti Filipus yang membaptis Sida-sida dari Etiopia itu. Oleh karena itu, wajarlah jika orang-orang Kristianoi awal ini merasa bahwa merekalah satu-satunya warisan yang sah dan resmi yang bisa tumbuh keluar dari agama Yahudi yang semakin merosot dan akhirnya hancur dengan kehancuran Bait Allah.

Rupanya anggapan itu, semula memang tidak ada yang mempersoalkannya sama sekali. Baru menjadi persoalan tatkala mazhab Yahudi Rabinic di Javna mulai mengibarkan sayapnya. Mereka juga mengklaim diri sebagai pewaris yang sah dan original dari Keyahudian pasca kehancuran Bait Allah itu. Maka sejak itu terjadi persaingan dan pertikaian antara dua kelompok itu. Persaingan itu, menurut seorang pakar Perjanjian Baru yang besar, pater Raymond Edward Brown, SS, itu terekam dalam ketiga injil sinoptik maupun juga injil Yohanes. Cukup sering kita menyaksikan bahwa Yesus ditampilkan dalam keempat injil itu khususnya sinoptik (yang lebih tua dari Yohanes) sering bertikai dan berdebat dengan orang-orang Farisi dan Saduki, dua faksi yang menjadi pilar utama Keyahudian pada jaman inter-testament dan awal Perjanjian Baru. Dan sering kali pula Yesus menang dan para lawannya kalah, mati langkah.

Tetapi masih menurut Brown juga bahwa rupanya dalam perjalanan sejarah, orang-orang Kristen merasa bahwa tidak baik juga kalau harus bertikai terus dengan sesama saudara. Itulah sebabnya di sana-sini kita menyaksikan bahwa dalam tulisan-tulisan yang jauh lebih kemudian usianya, misalnya Yohanes dan Lukas (khususnya Kisah), Yesus ditampilkan sudah mulai bersahabat dengan orang Farisi. Bahkan menurut Injil Yohanes, ada juga murid Yesus yang berasal dari kalangan Farisi tetapi diam-diam karena takut dan malu-malu. Itulah Nikodemus (yang dilukiskan pada awal Injil, dan kemudian Yusuf dari Arimatea yang berperan dalam drama pemakaman Yesus). Bahkan Yesus sendiri, paling tidak menurut Matius dan Lukas juga sudah mulai mengembangkan teologi pasifisme. Misalnya dalam Matius, Yesus mencegah kekerasan dalam kerusuhan Getsemani akibat drama pemotongan telinga dalam gerombolan yang rusuh itu: Kalau kau pakai pedang, maka kamu akan mati juga oleh pedang. Bahkan menurut Lukas, Yesus juga berdoa dari atas salib untuk mengampuni orang-orang yang menyalibkan dia. Akhirnya, dalam Kisah kita bahkan melihat sikap yang sangat bersahabat dari salah satu tokoh Farisi, Gamaliel (diakui sebagai guru Paulus yang juga si Farisi) yang mengembangkan sikap toleransi teologis yang terkenal itu: Kalau gerakan ini tidak berasal dari Allah, pasti akan mati sendiri. Tetapi kalau gerakan ini berasal dari Allah, jangan-jangan kita justru melawan Allah. Perkataan ini melunakkan sedikit sikap keras orang Yahudi terhadap para murid. Akhirnya, Lukas dalam Kisah mengisahkan drama pertobatan seorang tokoh Farisi terkenal: Paulus.

Jadi, menurut Brown, dalam perkembangan historisnya, Kekristenan akhirnya juga mulai mencoba merangkul orang-orang yang tadi-tadinya memukul mereka. Kalau di bagian awal Kisah Para Rasul kita menyaksikan bagaimana orang Kristen itu mengalami persekusi ngeri karena dikejar-kejar si tukang jagal bernama Saulus dari Tarsus, tetapi belakangan kita tahu bahwa ia bertobat. Tetapi hal itu tidak mematikan rasa benci orang Yahudi sama sekali. Dalam seluruh kisah dan juga dalam surat-surat Paulus kita sering bertemu dengan drama pertikaian dengan orang Yahudi.

Dewasa ini, ada yang beranggapan bahwa apa yang disebut antisemitisme itu diciptakan oleh orang Kristen. Anggapan itu semakin diperteguh sesuddah perang dunia kedua, di mana banyak orang Yahudi yang menjadi korban keganasan nazi jerman. saya sendiri tidak sependapat dengan anggapan itu, sebab antisemitisme itu sendiri sudah berada di dalam perjanjian lama. tengok saja kekejaman firaun atas budak-budak Ibrani di Mesir. Mereka bahkan ingin menghancurkan budak-budak itu dengan sistem kerja paksa yang berat. tengok juga kekejaman asyur yang menghancurkan samaria pada tahun 732 dan 722. tengok juga kekejaman Babel yang menghancurkan Yerusalem pada tahun 586. tengok juga kekejian yang dialami oleh Ester dan Mordekhai akibat persekongkolan jahat Haman yang merencanakan semacam pemusnahan etnis atas orang Yahudi. Tengok saja kekejaman Antiokus Epifanes dari Syria yang melakukan penindasan sehingga menimbulkan drama kemartiran yang ngeri termasuk tujuh kakak beradik dan ibu mereka yang dikisahkan dalam kitab Makabe itu.

Baiklah, kita terima saja anggapan itu. Maka pasca perang dunia kedua, muncul gerakan di dalam gereja Katolik untuk melihat kembali seluruh luka sejarah dalam relasi dengan Yahudi. Sejak itu muncul banyak gerak pendamaian dan hal itu akhirnya memuncak dalam Konsila Vatikan II. Melalui salah satu dokumennya, yaitu Nostra Aetate, gereja mencoba menjalin kembali relasi dengan pelbagai agama lain. Pakar Perjanjian Baru seperti Brown, mempunyai peranan besar juga dalam rangka melakukan beberapa revisi terhadap teks-teks liturgis, khususnya IMPROPRERIA, doa umat Meriah pada Jumat Agung itu, yang salah satunya mengandung semacam cercaan terhadap orang Yahudi, yang dianggap sebagai pembunuh Tuhan, Deicida. Betapa ngeri gelar itu, sebab kalau yang lain hanya dituduh sebagai genosida, ataupun homisida, atau fratrisida, orang Yahudi dijuluki Deicida. Vatikan II berusaha mencabut gelar itu. Dan sudah melakukannya juga. Jelas itu sebuah langkah yang dahsyat, sebab cukup lama Kekristenan di Eropa mempunyai sikap yang anti Yahudi. Selama abad pertengahan, gettho Yahudi di Eropa, pada masa Puasa, khususnya pada hari-hari Jumat, apalagi Jumat Agung, tidak boleh macam-macam. Kalau mereka macam-macam, maka dengan gampang saja emosi masa disulut untuk menumpahkan kemarahan kepada mereka sebagai kelompok pembunuh Tuhan, deicida tadi.

Yang menarik ialah bahwa tatkala Gereja Katolik mengumumkan penghapusan cap keji deicida itu, yang justru merasa kecewa dan bahkan marah adalah dunia Arab (Islam) yang sejak 1948, menganggap Israel sebagai luka, kangker dalam tubuh Arab dengan proklamasi negara Israel itu pada tahun 1948 tadi. Tadinya dunia Arab merasa mempunyai kawan di dalam menggembar-gemborkan kebencian kepada Israel, zionis itu, tetapi sejak Gereja Katolik mencabut gelar Deicida itu, mereka tiba-tiba merasa kehilangan kawan perjuangan. Itulah peliknya sebuah luka sejarah. Ia mempunyai cabang-cabang abses yang tidak terduga-duga. Mau disembuhkan cabang borok yang ini, ternyata cabang borok yang lain tidak terima. Tetapi Gereja Katolik tidak mundur. Teks Liturgi Jumat Agung direvisi. Bagian yang terlalu bernada menghina orang Yahudi, Israel, dihapus, itu yang saya tahu.

Semoga ke depan yang lebih dikedepankan ialah teologi pendamaian, teologi rekonsiliasi. Terkait dengan teologi pendamaian ini, saya teringat akan teolog agung dari Chicago, tamatan Nijmegen, murid Schillebeeckx, yaitu Robert J.Schreiter, yang pada tahun 80 menulis dua buku tentang teologi rekonsiliasi ini. Kedua buku itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan diterbitkan di Nusa Indah. Saya lupa penerjemahnya. Tetapi ada satu hal yang jelas, ialah bahwa pater Schreiter memakai kisah-kisah sengsara dan kebangkitan sebagai basis dari teologinya. Terasa sangat paradoksal, tetapi itu yang ia lakukan. Ia hanya mau mengatakan bahwa aksi pendamaian, kemauan untuk rekonsiliasi hanya bisa datang dari sang kurban, victim, sedangkan the victimizer mungkin tidak akan pernah sadar. Sang Victim harus membangun semacam solidaritas di antara sesama kurban, dan di atas solidaritas sesama kurban mereka bisa datang dan menghadap the victimizer, bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk membangun sebuah relasi baru. Menurut Schreiter, itulah yang dilakukan Yesus, yang dalam beberapa kisah penampakan, selalu mulai dengan ucapan, DAMAI BAGIMU. Coba kita bayangkan, Dia yang sengsara, yang menderita, yang terluka, yang mati, tetapi sekarang Dia juga yang datang membawa DAMAI. Dia yang ditinggalkan sendirian oleh para muridNya, sekarang Ia datang lagi kepada mereka. Kiranya Yeshuha sadar bahwa para muridNya itu dirundung ketakutan dan teror, maka tidak ada orang lain yang bisa menyembuhkan mereka dari teror itu, selain Dia sendiri. Karena itu Ia datang membawa Damai. Dengan bekal damai itu, ia membangun semangat para muridNya yang sempat goyang dan bingung, agar bisa bangkit lagi.

Salah satu contoh murid yang bingung ialah Petrus, kata Pater Schreiter. Sesudah Yesus disalibkan, ia merasa kosong dan gamang. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah sang guru mati konyol di salib. Dalam kebingungan, pater Schreiter mengatakan, orang bisa mengambil dua sikap. Pertama, sikap mencoba menerobos kegamangan itu. Tetapi itu tidak dilakukan Petrus. Kedua, ialah kembali lagi ke pekerjaan lama. Petrus menempuh ini. Ia kembali ke perahunya ke danau. Tetapi coba anda bayangkan. Ia yang sudah tiga tahun meninggalkan pekerjaan itu sekarang ia coba lagi sekadar menghapus kebingungan dan kegamangan. Maka tidak mengherankan bahwa Petrus tidak mendapat apa-apa. Ia sudah terasing dari keahliannya yang lama. Sementara jalan baru sudah tertutup. Ia hampir putus asa. Tetapi tiba-tiba muncul seseorang yang mengatakan bahwa coba kau tebar jalamu ke sebelah kanan perahumu. Petrus masih sempat menampik dengan mengatakan, sudah semalaman kami menangkap tapi tidak berhasil. SED IN VERBO TUO LAXABO RETTE. Dan terjadilah mukjizat. Petrus pun tersungkur sujud setelah menyadari bahwa orang asing yang tadinya ia anggap remeh perintahnya, ternyata adalah Yesus Tuhan yang Bangkit.

Kita bisa membayangkan betapa semangat petrus bisa bangkit lagi. Dan dengan semangat itu, Petrus bangkit dan memimpin teman-temannya untuk memulai sebuah gerakan. Dengan ini, kata Brown lagi, terpenuhi doa yang diucapkan Yesus dalam Injil Lukas, sebuah doa yang sangat menarik bagi saya. Menurut Lukas pada saat perjamuan Malam, terjadi percakapan intensif antara Yesus dan para muridNya khususnya dengan Petrus (Luk 22:24-38). Di ayat 31 kita baca sbb: "Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau jikalau engkau sudh insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu." Kata Brown, inilah saatnya di kisah-kisah penampakan itu Petrus yang sempat menyangkal Yesus, menjadi kuat kembali dan setelah ia kuat, ia bisa menguatkan saudara-saudaranya. Dan dengan itu dimulailah sebuah kisah baru, sebuah gerakan baru, hingga sekarang ini.

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...