Monday, April 13, 2020

SEPATU BISU DAN MARS KUNCI

Oleh: Dr. Fransiskus Borgias, MA


September sampai dengan Desember 2014, saya tinggal di Geithersberg, Maryland, USA. Saya tinggal di sana dalam rangka menjalani semester sandwich-programme saya pada Fakultas Theology di Georgetown University, salah satu universitas tertua di Amerika, yang didirikan oleh para romo Yesuit, kalau tidak salah pada tahun 1779 (jadi, tiga tahun sesudah Declaration of Independence, yang ditanda-tangani oleh Thomas Jefferson itu, 4 Juli 1776). Kegiatan utama saya pada waktu itu adalah riset kepustakaan dengan mitra dialog Prof.Dr.Peter C.Phan, profesor teologi di Georgetown, seorang teolog kelahiran Vietnam. Walaupun saya tinggal cukup jauh di luar Washington DC, tetapi setiap hari saya mengunjungi perpustakaan Georgetown itu yang memang terletak di dalam wilayah DC itu. Atas nasihat Prof.Peter Phan, saya bekerja keras pada hari Senin sampai Kamis. Sedangkan pada Hari Jumat sampai dengan Minggu, saya harus berjalan-jalan menikmati kota Washington dan sekitarnya. "Frans, from Monday to Thursday, you have to WORK HARD, while from Friday to Sunday, YOU HAVE TO WALK HARD." Begitu kata Prof.Peter Phan dengan nada bercanda. Dan saya melakukan hal itu dengan sungguh-sungguh.

Untuk itulah maka di akhir pekan saya selalu menyempatkan diri mengunjungi beberapa museum yang terletak di kawasan Gedung Capitol, di Smithsonian Avenue. Memang di kawasan itu ada banyak sekali museum yang indah-indah dan sangat mengagumkan. Sebagian besar museum itu terletak di bawah tanah. Pada saat itu saya masih ingat, sudah pada akhir bulan November dan bagi saya sudah terasa sangat dingin. Saya datang ke sana untuk mengunjungi secara khusus Holocaust Memorial Museum. Itu adalah museum peringatan akan kekejaman dan kebengisan Perang Dunia Kedua yang menimpa orang-orang Yahudi di seluruh dunia, khususnya di Eropa akibat penindasan yang dilakukan Nazi, semacam program pemusnahan etnis (ethnic cleansing) yang mengerikan. Dalam museum itu ada banyak hal yang menarik untuk dicermati dan dicatat dan diberi perhatian khusus. Tetapi saya kali ini sangat tertarik dengan satu ruangan besar yang berisi hanya sepatu-sepatu dari berbagai ukuran, baik itu sepatu untuk kaum pria maupun sepatu untuk kaum perempuan. Sebagian terbesar sepatu-sepatu itu sudah berwarna hitam, kelabu, kusam-kusam, mungkin karena sudah dimakan usia. Ada juga sepatu yang berwarna keabu-abuan. Ada juga yang berwarna kebiru-biruan.

Saat memasuki kawasan ruang sepatu itu, suasana terasa sangat sepi. Bahkan saya merasakan suasana yang rada mencengkam. Mungkin karena pada saat itu saya hanya sendirian saja di sana. Ruang itu sepi sekali, bisu. Hening. Dan sepatu-sepatu itu... juga diam membisu, hening, sunyi. Tidak bergerak. Kalau ada yang bergerak pasti saya lari ketakutan. Sampai akhirnya saya membaca satu keterangan tertulis di salah satu sudut ruang kaca tersebut. Di sana terbaca keterangan yang kurang lebih berbunyi demikian: Ini adalah sepatu-sepatu dari orang-orang yang menjadi korban (victim) keganasan Nazi di Jerman. Tubuh dan kaki orang-orang itu sudah mati di dalam ruang gas beracun. Tetapi kini sepatu-sepatu milik mereka seakan-akan sedang berbicara dengan sangat lantang dan keras-keras tentang keberadaan dan nasib mereka. Bahkan di dinding ruangan itu ada juga sebuah daftar nama dari orang-orang atau para pemilik sepatu-sepatu itu, yang kini sudah tiada. Hanya tinggal nama saja. Hanya tinggal sepatu saja. Diam. Membisu, membiru, abu-abu, kelabu. Tetapi bagi saya juga serentak menderu justru di dalam membisu itu. Paradoksal sekali. Aku seakan-akan melihat dan mendengar mereka, mendengar mereka sedang berteriak, mengaduh, merintih. Ah....

Kalau saya tidak salah ingat, tragedi gas beracun itu terjadi pada tahun 40an di Jerman dan di Polandia. Banyak orang Yahudi yang digiring ke dalam Kamar Gas beracun itu. Akibatnya, banyak orang Yahudi yang menjadi korban. Salah satu tokoh yang menyaksikan hal itu adalah seorang sastrawan Austria, Elie Wiessel, yang dari dalam bencana tragis itu dari mana dia akhirnya secara ajaib selamat, menuliskan trilogi novelnya yang sangat menarik dan indah. Semuanya berbicara tentang krisis kemanusiaan di Eropa itu. Saya masih ingat salah satu perkataan Wiessel dalam salah satu trilogi itu: Aku melihat Allah sudah terbakar, dan ia menjadi jelaga hitam yang keluar dari cerobong asap kamar gas maut. Kira-kira begitu. Ia terperosok ke dalam ateisme praktis, susah untuk menjadi percaya lagi akan Allah, karena tragedi penderitaan manusia yang sangat dahsyat dan mengerikan itu. Maka sebagai akibatnya, sejak saat itu gelombang Alia, yaitu kaum imigran yang lari mencari keselamatan dan keamanan ke tanah Kanaan (sekarang disebut Palestina) menjadi semakin gencar. Sehingga boleh dikatakan bahwa gerakan zionisme-politik dan religius di Eropa akhirnya memuncak dan bermuara pada peristiwa proklamasi berdirinya negara Israel pada bulan Mei 1948. Dan itu terjadi di tanah Kanaan. Ya, di Palestina.

Tentu saja pada saat itu negeri itu bukan sebuah negeri yang kosong, tanah yang tanpa tuan, tanah yang tidak diketahui, daerah tidak bertuan, terra incognita. Sekali lagi tidak. Yang jelas, bagaimanapun juga di sana sudah ada manusia. Di sana ada orang-orang Palestina. Ada juga orang-orang Yahudi. Dan ada juga orang-orang Kristiani. Hal itu bisa kita rasakan dengan sangat kuat dalam sebuah buku novel Palestina yang bernama Elias Chakour, seorang imam Palestina (kalau tidak salah dari tradisi iman Kristiani kaum Yakobit ataupun Melkit). Judul novel dia ialah SAUDARA SEKANDUNG, yang sudah diterjemahkan juga ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh penerbit Sinar Harapan di akhir tahun 80an ataupun awal tahun 90an. Sebuah kisah tragis yang amat menyedihkan tentang orang-orang Palestina yang menjadi korban dari percaturan politik di kawasan itu.

Yang jelas ialah bahwa sejak berdirinya negara Israel tadi maka terjadi juga banyak drama pengusiran dan penggusuran terhadap orang-orang setempat, baik Israel yang sudah ada di sana sejak semula, maupun juga orang-orang Palestina, dan juga orang-orang Kristen Palestina, termasuk keluarga sang pendeta Chakour tadi. Sejak itu rumah-rumah orang Palestina digusur. Bahkan kampung halaman mereka juga digusur. Lahan-lahan pertanian mereka, di mana mereka selama ratusan tahun sudah menamam pohon ara, pohon zaitun, kebun anggur, apel, dan kurma, juga digusur. Tentu saja orang-orangnya sekalian digusur juga. Maka jadilah mereka gelandangan dan perantau di tanah mereka sendiri. Tragis sekali. Penggusuran itu, menurut kesaksian Chakour, dilakukan demi ekspansi Lebensraum, ruang hidup, pemukiman bagi orang-orang Israel, para pemukim baru yang datang dari seberang lautan itu. Maka sejak saat itu penduduk Palestina pun tergusur menjadi gelandangan. Tanpa rumah. Tanpa kampung halaman. Tanpa kebun. Tetapi semuanya masih mereka ingat, dalam ingatan kolektif mereka.

Pada tanggal 20 Maret tahun 2000, Paus Yohanes Paulus II, pergi mengunjungi tanah suci, Palestina (Kanaan). Di sana ia mengunjungi gunung Nebo yang sangat terkenal itu. Konon ia kesana untuk bisa merasakan apa yang dulu dirasakan dan dialami Musa saat ia berdiri sana untuk memandang ke tanah Kanaan, Tanah Terjanji, the Promised Land itu. Bapa Suci juga pergi mengunjungi kota Betlehem. Dan masih ada beberapa tempat yang lain lagi. Tidak hanya itu. Bapa Paus juga pergi mengunjungi kamp pengungsi Palestina yang bernama Dheishal, yang terletak di luar kota Betlehem, Rumah Roti itu. Para penghuni Kamp itu tidak lain adalah orang-orang keturunan Palestina yang telah kehilangan rumah-rumah dan lahan pertanian mereka sejak tahun 1948 itu, sejak program ekspansi para pemukim Yahudi.

Konon di sana, di kamp para pengungsi itu Bapa Paus disambut dengan "Mars Kunci (Gary M.Burge, Palestina, Milik Siapa?, Jakarta BPK, 2003:x). Apa itu Mars Kunci? "Mars Kunci" adalah bunyi gemerincing kunci-kunci rumah milik orang Palestina yang sudah digusur oleh Israel. Kunci-kunci itu sekarang ini dibawa oleh anak-anak Palestina, sebagai warisan, sebagai bukti historis bahwa dulu mereka pernah mempunyai rumah di sini, di atas tanah ini. Rumah itu sudah hancur binasa, sudah hilang. Tetapi kenangan akan rumah-rumah itu tidak akan pernah hilang, sebab mereka akan tetap hidup dan bahkan menjadi abadi di dalam bunyi gemerincing Mars Kunci-kunci itu. Pada saat melihat dan mendengar Mars Kunci-kunci itu, konon Bapa Paus, sangat trenyuh dan tampak sekali ia menjadi sangat sedih dan pilu, bahkan seperti akan menangis. Kata Burge demikian: "Beliau memeluk anak-anak yang membawa kunci-kunci besi milik kakek-kakek mereka" (p.x). Tragis. Sedih. Pilu. Jadi, di Washington ada Museum Sepatu Bisu, di Betlehem ada "Museum" Mars Kunci.

Hingga saat ini saya belum mempunyai kesempatan, lebih tepatnya belum memiliki kemampuan, untuk mengunjungi tanah Kanaan, Palestina, Israel, khususnya kota suci Yerusalem, kota suci tiga agama besar, Yahudi, Kristen, Islam (Harus disebut dengan urutan historis seperti itu, agar bisa memperlihatkan keadilan sejarah dengan sebaik-baiknya). Semoga pada satu saat saya bisa ke sana, berziarah. Tetapi waktu di Belanda, saya pernah diceritakan oleh seorang dosen Kitab Suci saya bahwa di Israel, kalau tidak salah di Haifah, ada juga sebuah museum suara, museum memorial korban-korban perang dunia kedua juga. Katanya, di dalam museum itu yang ada adalah justru tiada, sebuah ruang kosong. Katanya juga, hanya diterangi semacam cahaya lilin yang redup.

Tetapi saat para pengunjung masuk ke sana, mereka akan mendengar suara orang-orang yang hanya menyebut nama mereka masing-masing dan sekaligus menyebutkan keterangan singkat, lahir di mana, besar di mana, dan mati dengan cara seperti apa, di mana. Misalnya, "Saya adalah Moshe. Saya lahir di Belarus. Waktu itu saya masih anak-anak. Saya mati di kamp pengungsian akibat Perang dunia Kedua." Atau contoh lain, "Saya adalah Deborah. Saya lahir di Prussia. Saya mati di ruang gas beracun." Dst.dst., Kata dosen saya itu, rasanya mencengkam sekali. Ketika mendengar cerita itu saya langsung teringat akan perkataan Cletus Groenen tentang Yerusalem: Yerusalem adalah sebuah kota dengan masalah yang pelik. Dan tidak akan pernah selesai masalah itu. Kalau masalah Yerusalem sudah bisa diatasi, maka itu berarti sudah akan kiamat. Mungkin saja dia benar.

Samar-samar aku dengar sebuah lagu ziarah dari tahun 70an kalau tidak salah dilantunkan oleh Leks Trio: "O Yerusalem, kota mulia, hatiku rindu, ke sana. Tak lama lagi, Tuhanku datanglah, bawa aku masuk sana." Banyak orang dilanda rindu seperti itu: Mau Ke Yerusalem, seperti kata pemazmur juga, Kalau sampai aku melupakanmu Yerusalem, biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, biarlah tangan kananku dipotong (Mzm 137, yang konon dilantunkan oleh para exil, kaum buangan yang menangis sedih pilu rindu akan Yerusalem saat mereka duduk dengan kaki selonjor di tepi kanal-kanal indah di Babilon, sementara mereka gantungkan kecapi mereka di pohon gandarusa. Ah sebuah nostalgia yang indah, tetapi sekaligus pahit juga. hehehehe....

No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...