Thursday, May 28, 2020

ORANG YAHUDI YANG PERCAYA PADA YESUS KRISTUS

Oleh: Dr. Fransiskus Borgias

Dosen Teologi Biblika pada FF-UNPAR Bandung

 

 

Beberapa hari lalu saya mendapat sebuah video singkat di WA Group, yang dikirim teman saya, pak Sylvester Manti. Video pendek itu berdurasi kurang lebih lima menit. Video itu berkisah tentang pertobatan seorang Yahudi menjadi pengikut Yesus. Peristiwa pertobatan itu ia istilahkan dengan sebuah rumusan menarik: menerima Yesus dalam diri dan hidupnya. Bagi dia bertobat berarti mau menerima Yesus di dalam hidup dan dirinya. Menarik sekali apa yang ia kisahkan di sana. Itulah yang saya kisahkan kembali dalam kata-kata sendiri, dalam tulisan singkat dan sederhana ini.

Ia mengatakan bahwa dalam sebuah keluarga Yahudi di mana pun di dunia ini selalu ditanamkan (diinternalisasi) sebuah pandangan bahwa Alkitab mereka adalah Tanakh, yang terdiri atas Torah, Nebiim, Ketubim (dan disingkat TANAKH). (Jadi kitab orang Yahudi itu bukan hanya Torah sebagaimana secara salah dipersepsikan oleh salah satu kelompok, sebab faktanya kitab suci orang Yahudi tidak hanya Torakh, melainkan ada juga Nebiim dan Ketubim). Orang Yahudi dalam video pendek itu rupanya tinggal di Italia. Karena itu, ia menyangka bahwa agama Kristen (Katolik) itu muncul di Italia. Bahkan ia juga menduga bahwa Yesus dan pengikutNya yang semula adalah orang Italia. Hal itulah yang ia ketahui dan pegang dan yakini sampai pada suatu saat ia sangat terkejut tatkala mengetahui bahwa agama Kristen itu muncul di tanah Kanaan, di Galilea dan Yudea (dengan sengaja saya tidak menyebut Palestina karena entitas ini adalah sesuatu yang muncul di kemudian hari). Tokoh kita tadi semakin terkejut lagi saat ia mengetahui bahwa Yesus adalah orang Yahudi yang lahir, besar, dan mati di Kanaan itu. Tadinya ia mengira Yesus adalah orang Italia. Dan dia juga bahkan semakin terkejut lagi setelah mengetahui bahwa ternyata agama Kristen itu lahir dari Rahim agama Yahudi juga.

Karena itu, sejak muncul semua pengetahuan dan kesadaran seperti itu, ia pun mulai diam-diam mencari dan menekuni asal-usul agama tersebut. Untuk itu, diam-diam dia mulai membaca Perjanjian Baru, kitab suci orang Kristen (tentu dia salah karena Kitab Suci orang Kristen itu tidak hanya PB, melainkan juga mencakup PL). Yang jelas ialah bahwa selama ini ia selalu diberi gambaran oleh orang tua dan lingkungan agama Yahudi yang ia anut, bahwa apa yang disebut PB adalah kitab yang ditulis oleh orang-orang yang dulu pada abad pertama pernah mengejar dan menganiaya orang Yahudi. Tentu saja informasi itu tidak benar. Bahkan sangat salah secara historis.

Betapa dia sangat terkejut lagi saat ia membaca secara langsung untaian kitab Perjanjian Baru. Untaian pertama ialah Injil Matius. Saat ia membaca bab pertama Injil Matius itu ia terperangah. Di sana dikatakan bahwa Yesus adalah anak Daud, anak Abraham. Jadi, jelas bahwa Yesus (yang ia lafalkan Yeshua, Yoshua) adalah orang Yahudi. Itu adalah fakta historis yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun. Lebih terkejut lagi karena selama ini selalu dikatakan di kalangan orang Yahudi bahwa orang Kristen yang semula adalah orang yang menganiaya orang Yahudi. Ternyata setelah ia membaca PB, justru yang terjadi ialah yang sebaliknya, yaitu orang Kristen-lah yang menjadi korban persekusi yang dilakukan orang Yahudi. Jadi, apa yang ia ketahui selama ini berdasarkan pendidikan dalam keluarga Yahudi, merupakan sebuah pembalikan dan penggelapan fakta sejarah yang mengerikan. Orang Yahudi masa kini mencitrakan diri sebagai kelompok yang baik, justru dengan menjelekkan peran orang Kristen jauh di masa silam. Padahal yang sesungguhnya terjadi secara historis ialah orang Kristen yang menjadi korban pengejaran (persekusi) yang dilakukan oleh orang Yahudi yang sangat fanatic dan berteriak-teriak di jalanan menyerukan nama Tuhan untuk menuntut darah orang.

Sejak munculnya kesadaran dan pengetahuan seperti itu, dia pun tidak ragu lagi menjadi Kristiani, dengan menerima Yesus Kristus. Sejak itu ia menjadi Christianoi (istilah yang diambil dari Kisah Para Rasul 11:26). Selama ini ia diam-diam dan merahasiakan hal itu dari lingkungan teman dan keluarganya. Tetapi pada suatu kesempatan, sekelompok orang Yahudi berkumpul dan di dalam perkumpulan itu mereka ditanya siapakah yang percaya dan siap menerima Yesus, ia dengan berani angkat tangan. Selain itu masih ada beberapa orang lain. Yang membuat dia terkejut ialah bahwa ternyata ayahnya juga mengangkat tangan. Ia klarifikasi: “Ayah ini yang ditanya ialah siapa yang percaya pada Yesus. Ayahnya juga tanpa ragu mengatakan, “Ya, saya percaya dan menerima Yesus. Jadi, ternyata ayahnya juga diam-diam sudah lama mempertimbangkan untuk menerima Yesus Kristus di dalam hidupnya.

Saat saya menonton video ini saya tiba-tiba teringat akan untaian kuliah Filsafat Yahudi dulu di STF Driyarkara yang diampu oleh Pater Alex Lanur OFM. Saya ingat, pada suatu saat, di dalam salah satu rangkaian kuliah itu, Pater Alex mengatakan sbb: “Hanya ada dua saja alasan untuk orang Yahudi agar mereka dapat menjadi orang Kristen dan menerima Yesus. Alasan pertama, mereka hidup sejaman dan setempat dengan Yesus. Itulah yang terjadi dengan para rasul dan orang-orang lain dalam PB yang menjadi percaya dan menerima Yesus saat mereka melihat dan mendengar pewartaan-Nya. Tetapi argument ini tidak seluruhnya benar. Sebab banyak orang Yahudi lain pada waktu itu yang tetap tidak percaya pada Yesus walaupun mereka melihat dan mengalami Yesus secara langsung. Bahkan mereka berusaha membunuh Yesus dan nyatanya juga sudah membunuh Yesus.

Alasan kedua, yaitu mereka mengalami sebuah mukjizat di dalam hidup mereka. Jadi, walaupun tidak hidup sejaman dengan Yesus, tetapi kalau mereka mengalami sebuah mukjizat, maka ada kemungkinan mereka akan mau bersedia untuk menerima Yesus dan menjadi pengikut Yesus. Contoh yang paling terkenal kiranya ialah Paulus. Ia yang tadinya adalah seorang pengejar dan penganiaya orang Kristiani, tetapi setelah mukjizat di perjalanan ke Damaskus itu, akhirnya ia bertobat dan menerima Yesus di dalam hidupnya. Kiranya orang di dalam video singkat tadi juga mengalami mukjizat perjumpaan yang membawa sebuah penyingkapan dalam hidupnya.

Akhirnya di sini saya juga ingat akan seorang teologi Yahudi masa kini, tetapi saya lupa namanya. Dalam bukunya ia pernah mengatakan bahwa krisis pembuangan Babel (abad 6 sebelum Masehi) telah mengilhami banyak karya rohani yang agung dalam sejarah dan tradisi Israel. Ia tidak menyebut PB sama sekali. Oleh karena itu, di sini saya menyebut PB juga. Bagi saya PB merupakan salah satu produk literer rohani yang luar biasa mengagumkan yang dihasilkan oleh orang-orang Yahudi pasca krisis penghancuran bait Allah di Yerusalem pada tahun 70 Masehi itu. luar biasa.

 


Wednesday, May 27, 2020

DAYA IMAJINASI MANUSIA

Oleh: Fransiskus Borgias.
Dosen dan Peneliti pada Fakultas Filsafat UNPAR, Bandung.




Murray Bodo OFM, adalah penulis Fransiskan asal Amerika Serikat. Ia produktif menulis karya-karya yang bernafaskan spiritualitas Fransiskan. Ia adalah imam Fransiskan yang berasal dari salah satu propinsi Fransiskan di sana. Salah satu bukunya ialah yang berjudul Santa Clara, Cahaya Dalam Taman (Nusa Indah Ende 1996). Aslinya ditulis dalam Bahasa Inggris: Clare, A Light in the Garden. Awal 90-an saya menerjemahkan buku itu ke Bahasa Indonesia. Tahun 1995, saya mengirim naskah itu ke Nusa Indah Ende. Ternyata mereka menerimanya dan menerbitkannya tahun 1996. Puji Tuhan.

Apa hal penting yang menyebabkan saya terdorong membuat catatan ini? Sebenarnya tidak mudah menjawab pertanyaan itu. Tetapi saya bisa mengatakannya begini. Dalam pengantar buku itu, ia pernah mengatakan sesuatu hal yang sangat menarik: Daya imajinasi manusia mempunyai kekuatan untuk mengingat dan menyimpan peristiwa yang terjadi dalam hidup manusia. Sejarah atau history mempunyai caranya sendiri untuk merekam dan mengingat, yaitu dengan mencatat pelbagai peristiwa yang terjadi dalam hidup. Dengan itu terbentuklah kronik dan catatan historis. Pencatatan itu demi mudah dan sistematikanya, entah berpusat pada tokoh besar tertentu, atau terpusat pada peristiwa atau kejadian dahsyat tertentu. Misalnya, yang berpusat pada tokoh tertentu, seperti Paus yang sangat mencolok perannya dalam percaturan politik internasional. Atau yang berpusat pada peristiwa-peristiwa besar dunia, seperti Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Atau dalam konteks Sejarah Gereja Katolik, orang berbicara tentang Konsili Vatikan II ataupun Konsili Vatikan I atau Konsili Trente. Pokoknya ada sentrum tertentu pada mana orang mengacu saat menulis pelbagai peristiwa atau kejadian.

Di pihak lain daya imajinasi manusia (imagination) mempunyai caranya sendiri yang unik untuk mengingat dan menyimpan peristiwa. Sebelum melangkah lebih lanjut, ada baiknya saya menyinggung dulu tulisan saya yang lain tentang imajinasi. Sedemikian kuatnya peran imajinasi dalam hidup manusia, sehingga orang bisa mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang bisa membangun imagi atau gambaran di dalam hati dan budinya. Tentu hal itu erat terkait dengan eksistensi manusia itu sebagai imago dei. Kemampuan manusia untuk bisa menggambar dan membayangkan di dalam kalbunya, bisa dijelaskan dengan fakta bahwa manusia, menurut Kejadian 1:26-28, adalah citra Allah, imago dei. Atas dasar itu ada yang mengatakan bahwa manusia adalah homo imaginans, makhluk yang bisa membangun dan membentuk gambar dalam dan dengan kekuatan akal budinya. Ungkapan homo imaginans ini dibentuk berdasarkan ungkapan-ungkapan lain yang sudah ada, seperti homo ridens, homo ludens, homo laborans, homo orans, dll.

Tetapi Murray Bodo sekali tidak menjelaskan lebih rinci mengenai apa cara unik itu, atau bagaimana cara kerjanya, cara menyimpan dan cara mengingatnya. Ia hanya mengatakan bahwa daya itu ada dan bekerja secara sangat ajaib dalam hidup manusia. Murray Bodo mengaku bahwa saat menulis buku ini (juga bukunya tentang Fransiskus) ia banyak memakai daya kekuatan imajinasinya untuk membangun cerita tentang Fransiskus dan Klara. Dan dalam artian itu, seperti halnya juga sejarah, daya imajinasi manusia mempunyai otoritas yang kuat. Dengan cara itu, ia pun bisa melengkapi sejarah.

Sejarah (history) tentu tidak mungkin mencatat semua hal, semua peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat maupun dalam relasi antar manusia. Pasti ada hal atau segi yang mungkin dilupakan. Ada yang dengan sengaja diabaikan untuk memberi prioritas dan penekanan pada hal-hal tertentu yang dianggap lebih penting dan lebih relevan untuk dikisahkan sebagai sejarah.

Menurut Murray Bodo, lubang-lubang atau kekosongan sejarah itu diisi dengan hasil-hasil kerja daya imajinasi manusia. Bahkan ketidak-tahuan sejarah juga bisa diisi dengan daya kekuatan imajinasi anak-anak manusia. Hal itu terutama berlaku bagi para penafsir sejarah. Dengan daya kekuatan imajinasi orang bisa mengembangkan pembacaan secara hermeneutic atas sejarah itu. Berkat kekuatan imajinasi, orang bisa mengembangkan cara baca just the lines of the texts, tetapi orang bisa juga mengembangkan cara baca between the lines (of the texts), dan akhirnya orang juga bisa mengembangkan cara baca also the lies in the process of producing the texts. Bodo mengatakan: “Jika anda percaya, sebagaimana aku percaya, bahwa daya khayal kadang-kadang membawa kita lebih dekat pada kebenaran daripada fakta, lalu barangkali anda berani eprcaya bahwa daya khayal dapat juga merekam sesuatu yang gagal direkam oleh sejarah.” (p.8).

Dengan bekal keyakinan itu Bodo mulai menyusun ceritanya yang indah tentang santa Clara. Hal itu dilakukannya setelah ia menyelesaikan bukunya tentang Fransiskus Asisi, yang berjudul Francis, A Journey and a Dream. Buku tentang Fransiskus Asisi ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Tim Spiritualitas OFM di bawah koordinasi P.Paskalis B.Syukur OFM (sekarang uskup Bogor) dan P.Ignas Wagut OFM. Sedangkan buku tentang Santa Klara sudah saya terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Dengan bekal daya imajinasi itu Bodo menyusun banyak cerita fiksi tentang apa yang kiranya dipikirkan Klara muda saat ia meninggalkan keluarganya, Bangsawan Offreducio, lalu pada malam hari, bergabung dengan Fransiskus dan para saudara lainnya. Hal itu dilukiskan dengan sangat indah dalam sebuah Bahasa Film oleh Franco Zeffirelli dalam filmnya Brother Sun and Sister Moon itu. Itulah yang pertama.

Hal lain yang diimajinasikan Bodo ialah renungan Klara di masa tuanya. Di sini ada sesuatu yang indah yang dilukiskan Bodo. Dalam imajinasi Bodo, dilukiskan bahwa Clara dan Fransiskus itu sesungguhnya juga saling mencintai. Walaupun tanpa noda-noda untuk saling memiliki apalagi saling menguasai. Menurut Bodo, cinta yang terjalin di antara mereka itu bersifat transparan, tembus pandang. Itulah sebabnya cinta mereka tidak tersangkut pada pribadi masing-masing, Fransiskus terpaku pada Clara dan Clara terpaku pada Fransiskus. Tidak seperti itu kata Bodo. Melainkan dalam peristiwa cinta di antara keduanya, mereka justru melampaui, go beyond, diri masing-masing dan akhirnya sampai kepada Allah, sang mahakasih itu. Lagi-lagi dalam imajinasi Bodo, saat mereka saling memandang dalam dan karena cinta, mereka tidak lagi terutama melihat manusia, melainkan melihat dan menemukan Allah. Sebab Allah adalah kasih. Yang berdiam dalam kasih, juga berdiam dalam Allah. Maka bisa dipahami bahwa mereka bisa sampai melihat Allah dalam dan karena saling mencintai.

Untuk memperkuat pandangan ini Bodo mengutip Paul Sabatier: “Kadang-kadang ada jiwa-jiwa yang begitu murni, begitu kurang duniawi, sehingga pada pertemuan mereka yang pertama, mereka masuk tempat yang paling suci; hal itu terjadi lebih sering dari yang kita duga. Dan begitu mereka berada di sana, maka pikiran mereka tentang suatu persatuan yang lain tidak hanya menjadi suatu perendahan, melainkan suatu yang tidak mungkin. Begitulah cinta Fransiskus dan Klara.” (p.7).

Tuesday, May 26, 2020

KITAB 1MAKABE: SEKILAS CATATAN

Oleh: Fransiskus Borgias
Dosen Teologi Biblika pada Fakultas Filsafat UNPAR, Bandung.




Kalau kita membolak-balik dan membaca kitab 1Makabe dengan teliti maka akan terasa sekali bahwa sesungguhnya rada sulit juga bagi kita untuk menemukan penyebutan nama Tuhan Allah dalam kitab 1Makabe tersebut. Mungkin hal itu terasa aneh, tetapi hal itu adalah suatu fakta yang jelas tidak terbantahkan juga. Banyak orang, atas dasar kenyataan tersebut, lalu menganggap bahwa kitab 1 Makabe itu hanyalah sebuah karya sastra keduniaan (sebuah sastra profan yang tidak ada kaitannya apa-apa dengan yang surgawi, yang adikodrati) belaka, tanpa suatu nilai keagamaan apa pun juga. Lebih jauh mereka juga tidak mau mengakui sifat inspiratif dari kitab itu. Artinya, kitab itu tidak berasal dari inspirasi ilahi, tidak turun dari ilham surgawi. Hal itu membawa akibat tertentu pada status kanonik kitab tadi. Yaitu akibatnya ialah bahwa kitab 1Makabe itu tidak lolos masuk daftar protokanon (kanon pertama). Ia hanya lolos dalam daftar deutero-kanon saja. Lumayanlah. Daripada tidak lolos masuk kanon sama sekali, walaupun deutero-kanon (kanon kedua). Sebab ada pihak yang sama sekali tidak mengakui kitab-kitab Deutero-kanonika tersebut.

Tetapi hendaknya selalu disadari oleh para pembaca nan budiman sekalian, bahwa walaupun tidak ada sebutan secara eksplisit nama-ilahi di dalam kitab itu, tetapi tidak bisa disangkal sama sekali bahwa ada rasa hormat yang luar biasa akan nama ilahi itu, sesuatu yang sangat biasa dalam jaman pasca-pembuangan. Jadi, kalau ada rasa hormat, maka rasa hormat itu mengandaikan ada yang dihormati, bukan? Jadi, adanya rasa hormat akan yang ilahi, kiranya sudah dengan sangat jelas memperlihatkan adanya kepercayaan akan yang ilahi itu. Sebab untuk apa ada rasa hormat, kalau yang dihormati itu tidak diyakini ada? Kira-kira begitulah jalan argumentasinya.

Tentu saja agar hal itu bisa diterima, maka ia harus dibuktikan. Cara pembuktiannya sederhana saja yaitu dengan menunjukkan beberapa contoh kongkret saja. Misalnya, rasa hormat itu tampak dalam beberapa gejala atau praktik berikut ini. Pertama, si penulis kitab 1Makabe itu memakai banyak paraphrase untuk Allah. Di sini bisa dikemukakan bebercapa contoh sebagai bukti pendukung: misalnya, ia memakai kata “surga/sorga” (hal itu tampak dalam beberapa teks berikut ini: 3:19: “Sebab bagi Sorga tiada bedanya menyelamatkan dengan perantaraan banyak orang…”; 4:10;40; 9:46; 12:15; 16:3: “Semoga bantuan dari Sorga selalu menyertai kamu”). Surga selalu berarti menunjuk suatu “tempat kediaman” Tuhan, entah bagaimana pun hal itu dibayangkan manusia dalam imajinasi keagamaan mereka (religious imagination of the faithful). Ataupun ia juga memakai kata ganti orang ketiga, “Dia” (hal itu antara lain tampak dalam beberapa teks-teks berikut ini: 2:61: “Belum pernahlah lemah barangsiapa percaya pada Tuhan (di dalam terjemahan kita dipakai kata Tuhan, seharusnya kata ganti orang ketiga “Dia”); 3:22: “Sorgalah (baca: Dialah) yang akan menggempur mereka di hadapan kita!”; 16:3).

Selain itu, para pahlawan yang dikisahkan dalam kitab 1Makabe ini pun, selalu berdoa sebelum mereka masuk ke dalam medan perang dan tentu saja hal itu mengandaikan bahwa mereka percaya pada kekuatan doa dan percaya kepada sang arah dan tujuan doa tersebut (hal itu misalnya tampak jelas dalam beberapa teks-teks berikut ini: 3:46-54: “Kemudian berserulah mereka ke Sorga dengan suara lantang…”; 4:10: “Nah sekarang, baiklah kita berseru kepada Sorga, semoga Tuhan (Dia) berkenan kepada kita dan ingat akan perjanjian dengan nenek moyang kita lalu pada hari ini juga menggempur bala yang di hadapan kita itu”; 7:37-38: “Rumah ini telah Kaupilih, supaya disebut menurut namaMu dan supaya menjaga rumah sembahyang dan doa bagi umat-Mu. Sudilah kiranya Kaubalas dendam kepada orang itu dan kepada bala tentaranya! Semoga mereka tewas karena pedang! Ingatlah kepada hujatan mereka dan jangan membiarkan mereka tetap hidup”; 9:46: “Maka dari itu menjeritlah sekarang kepada Sorga, supaya kamu diselamatkan dari tangan musuh kita!”; 11:71; 12:11).

Akhirnya, pengarang kitab itu juga berbicara tentang Allah sebagai sang penyelamat Israel (hal itu misalnya tampak jelas dalam beberapa teks berikut ini: 2:61; 3:10; 12:15: “Sebab kami telah mendapat bantuan dari Sorga yang datang membantu kami. Dan kamipun telah dibebaskan juga dari musuh kami yang direndahkan”; 16:3: “…Semoga bantuan dari Sorga selalu menyertai kamu!”). Dan kita semua sudah tahu dengan pasti bahwa doa selalu mengandaikan adanya iman dan harapan dan kasih akan Allah. Kalau orang berdoa, maka hal itu berarti orang percaya akan Allah. Tidak mungkin orang berdoa tanpa adanya sikap dasar percaya dan berharap tersebut.

Pengarang kitab 1Makabe juga tampak lebih menekankan elemen manusia daripada elemen ilahi di dalam sejarah; mungkin karena manusialah yang terlibat di dalam mengarungi gelombang dan dinamika sejarah itu sendiri. Walaupun ada penekanan seperti itu, adalah sangat jelas juga bahwa pengarang 1Makabe ini sangat dipengaruhi oleh satu kebenaran yang mendasar yaitu bahwa adalah Allah-lah yang menuntun perkembangan dan dinamika sejarah. Allah itu juga yang memutuskan dan menentukan perihal nasib dari umat Pilihan-Nya. Adalah satu hal yang sangat pasti tentang kitab ini. Yaitu bahwa melalui kitab ini sang penulis ingin membuat para pembacanya menjadi sangat terkesan akan kasih Allah, cinta akan bangsa, kesetiaan kepada hukum Taurat, dan keteguhan untuk mengabdi Allah, apapun dan bagaimanapun keadaannya. Semua nilai-nilai itulah yang ditunjukkan dan dihayati oleh para tokoh agung yang dikisahkan di dalam kitab ini.

Kalau dikatakan barusan bahwa pengarang menekankan rasa bakti kepada Allah, daripada kepada manusia, kiranya hal itu sangat jelas merupakan sikap antithesis orang Yahudi (para pemimpin yang sadar dan punya visi historis serta teologis tertentu) terhadap keangkuhan helenisme yang sangat bercorak antroposentris (berpusat pada manusia, menjadikan manusia sebagai pusat) itu. Nilai dan daya tarik yang kuat dan abadi dari kitab ini terletak di dalam ajakannya yang samar-samar namun kuat kepada para pembacanya, yaitu ajakan untuk menyamai bahkan bila perlu juga melampaui semangat, kegairahan, dan kelemah-lembutan dari para pahlawan Makabe ini sebagaimana yang sudah dibentangkan dengan sangat jelas dalam kitab ini.
Jadi, keagungan dan kesatriaan para pahlawan Makabe dikisahkan sedemikian rupa untuk dapat menjadi model bagi para pembacanya untuk dijadikan patokan dan teladan. Kalau bisa di dalam perilaku mereka, mereka berusaha menyamai idealisme para tokoh Makabe. Jauh lebih hebat lagi jika mereka bisa melampaui kehebatan para tokoh pahlawan Makabe tersebut. (NB: Hal ini sangat berbeda dengan kitab Esther, yang karena tidak ada sebutan nama YAHWEH sama sekali di dalamnya, maka diberi beberapa sisipan dan tambahan di sana sini; di dalam tambahan itulah ada nama Allah; dengan cara itu maka kitab itupun lalu memiliki nilai religious juga. Tanpa tambahan itu, maka kita Eshter adalah kitab roman percintaan dan perjuangan yang bersifat secular semata-mata).

Monday, May 25, 2020

ATG – MENGENAL CLETUS GROENEN OFM

Oleh: Fransiskus Borgias
Dosen Teologi Biblika pada FF-UNPAR, Bandung.




Pater Cletus Groenen. Sebuah nama besar dalam dunia teologi, khususnya teologi biblika di Indonesia. Ia adalah seorang dosen ilmu Kitab Suci pada Seminari Tinggi, Kentungan, Yogyakarta. Ia adalah seorang imam Fransiskan. Ia berasal dari negeri Belanda. Tetapi ia menamatkan sekolah Kitab Sucinya di Roma. Tetapi bukan di Biblikum, juga bukan di Gregoriana, melainkan di Antonianum, universitas milik para pater Fransiskan di Kota Abadi itu. sudah sejak tahun 50-an ia datang untuk berkarya di Indonesia. Mula-mula di Seminari Tinggi Fransiskan di Cicurug, Sukabumi, tetapi kemudian di Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta.

Sebenarnya saya sendiri sudah pernah mendengar dan membaca sesuatu tentang nama Cletus Groenen (selanjutnya akan disingkat CG saja) sejak saya masih duduk di bangku Seminari Kecil dan Menengah Pius XII, Kisol, Manggarai Timur, Flores. Pada saat itu saya membaca tentang dia dalam beberapa berita yang ada di dalam majalah mingguan Hidup, ataupun juga dalam pelbagai tulisan dia yang muncul di dalam majalah bulanan Rohani, juga dalam majalah spectrum dari KWI, juga dalam majalah Orientasi, dan terutama sekali dalam buku-buku kitab suci yang dia tulis dalam bidang Kitab Suci, baik yang terbit di Kanisius, maupun terutama yang terbit di Nusa Indah, Ende, Flores.

Setelah tamat dari Seminari Menengah Pius XII Kisol, saya masih melewatkan masa pendidikan Postulant OFM di Biara Santo Yosef Pagal, Manggarai. Di sanalah, selama satu tahun, saya semakin banyak mengenal pater CG lewat majalah bulanan khusus intern keluarga OFM, yaitu Taufan yang asyik dan menghibur itu. Saya juga bisa mengenal beliau melalui majalah dwi-bulanan keluarga Fransiskan, yaitu Perantau, sebab beliau sering sekali menulis di sana tentang hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas Fransiskan. Di postulant ini juga saya bisa mengenal beliau lewat beberapa kepustakaan yang khas Fransiskan.

Hingga tahun 1982, bulan Juli, saya masih belum sempat bertemu dengan dia secara langsung, dari muka ke muka. Karena saya masih di Flores dan dia tinggal di tanah Jawa, persisnya di kota Yogyakarta. Sampai saat itu saya juga tidak tahu apakah ia pernah ke Manggarai. Yang jelas ialah bahwa pertemuan saya yang pertama dengan beliau baru terjadi pada pertengahan bulan Juli 1982. Setelah selesai dengan masa pendidikan postulant kami di Pagal selama satu tahun, saya dengan teman-teman lalu ramai-ramai berangkat menuju ke Yogyakarta untuk memulai pendidikan lanjutan kami yaitu di dalam novisiat Fransiskan di Biara Santo Bonaventura, Yogyakarta.

Baru pada saat itulah saya baru sempat bisa bertemu secara langsung dari muka ke muka dengan beliau. Saat itu ia tinggal di biara santo Bonaventura, Jl.Legi Papringan, No.7, Kotak Pos 29, Yogyakarta. Sehari-hari ia mengajar di Fakultas Teologi di Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta, dan juga di STKAT Pradnyaparamita, Yogyakarta juga.

Sejak pertama kali saya melihatnya secara langsung saya langsung kagum dan terkesan sekali: Ia orangnya sangat serius, tekun, pekerja keras, matiraganya kuat (makannya sedikit) yaitu ia hanya makan roti sepotong saja di pagi hari, sedikit nasi di siang hari. Badannya sangat ramping (bahkan cenderung ke arah kurus). Ia juga selalu mengenakan jubah hitamnya. Hidupnya serba sangat teratur dan berirama. Yang sangat menarik perhatian saya ialah, walaupun dia seorang imam, seorang doctor Kitab Suci, seorang dosen yang terkenal, toh ia setiap hari mencuci pakaiannnya sendiri. Ia keringkan pakaiannya sendiri, pokoknya semuanya, dengan cara digantung dengan gantungan di jendela kamarnya yang terbuka kea rah taman bunga. Tampaknya tidak di setrika.

Ia juga seorang perokok sejati. Tidak ada waktu yang tanpa merokok. Ia hanya berhenti merokok kiranya saat ia tidur dan merayakan perayaan ekaristi dan brevir. Pada saat makan, dia juga makan cepat dan sesudah itu ia merokok. Di luar jam-jam itu ia merokok. Ia seorang perokok berat sudah bagaikan gerbong atau lokomotif Kereta Api yang terur berjalan. Ia bangun pagi-pagi dan pergi tidur larut malam, seperti kata pemazmur itu. Ia sangat rajin dan sangat tekun membaca. Di meja kamarnya selalu ada buku tebal yang terbuka dan sedang dibacanya dengan tekun.

Oleh karena ia sangat suka merokok, maka ada banyak lubang-lubang kecil pada jubahnya. Lubang-lubang kecil itu ada di mana-mana, karena pengaruh percikan apir rokoknya sendiri. Ia juga seorang penasihat dan bapa rohani yang tegas dan berwibawa, tetapi juga terkadang jenaka. Selama di masa novisiat saya lebih dari tiga kali pergi meminta waktu dia untuk bimbingan rohani, berbicara dari hati ke hati tentang masalah hidup doa dan hidup seksualitas dan tentang drama jatuh cinta anak manusia.

Di bagian lain saya akan menceritakan satu persatu momen-momen itu. tetapi di sini saya lanjutkan dulu peristiwa perkenalan awal saya dengan beliau. Yang jelas, tidak pernah sekalipun saya melihat dia mengenakan pakaian lain selain jubah. Ia selalu berjubah. Jubah itu adalah pakaiannya sehari-hari, bukan hanya sekadar pakaian formalitas untuk urusan liturgis kegerejaan dan kealtaran saja. Sungguh-sungguh mengagumkan.

Pada suatu kali, saya lupa persis kapan waktunya, saya melihat dia pergi keluar. Oh ya bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Pada saat itu ia mengenakan celana panjang hitam dan baju atasan biru sangat muda (cenderung kea rah putih) dan berlengan panjang. Bajunya itu ia masukin ke dalam celananya. Istilah kami di Flores, khususnya di Manggarai, stell-in (lawannya stell-out). Entah diperoleh dari mana istilah itu. pater CG tampak ramping sekali dan cakep juga. Malam itu ia dijemput oleh seorang bule. Jauh di kemudian hari saya baru tahu bahwa itu tidak lain adalah Pater Dr.Bernhard Kiesser SJ, dosen teologi Moral di seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta.

Saya mendapat penjelasan dari para senior bahwa konon mereka pergi makan di sebuah restoran karena pada hari itu pater CG sedang merayakan hari ulang tahunnya. Belakangan juga saya diberitahu bahwa hanya Pater Bernhard Kiesser sajalah yang bisa mengajak pater CG pergi keluar untuk makan di restoran dengan mengenakan busana sipil (non-jubah). Tetapi itupun tidak pada sembarang waktu. Melainkan hanya pada kesempatan ulang tahunnya saja.

Konon tidak pernah ada vicaris dan kemudian provincial OFM yang bisa membujuk atau mengajak pater CG untuk pergi keluar dengan mengenakan busana sipil, seperti yang bisa dilakukan oleh Pater Kiesser. Maklum, pater Kiesser, konon, dulu adalah mahasiswa kesayangan pater CG, dan hubungan yang baik itu masih terus berlangsung bahkan setelah pater Kiesser sendiri juga sudah menjadi dosen teologi Moral di Seminari Tinggi Kentungan. Ah, pater CG yang unik, nyentrik, eksentrik.

Sunday, May 24, 2020

MENANGIS DALAM HUJAN, MENANGIS DALAM ASAP

Oleh: Fransiskus Borgias
Dosen FF-UNPAR, Bandung.




Suatu saat saya menemukan sebuah tulisan singkat, entah di mana, entah kapan. Kalau tidak salah berasal dari Charlie Chaplin. Tulisan singkat itu demikian: “Aku suka menangis di tengah hujan, karena orang tidak tahu bahwa aku menangis.” Tetes-tetes air hujan membasahi rambut, kepala dan muka, sehingga tetes-tetes air mata tidak tampak. Kalau ia tampak, maka ia tampak sebagai tetes-tetes hujan. Hujan menyembunyikan sebuah tangis dalam hati. Tangis menjadi tidak tampak karena tetes-tetes air hujan itu menyamarkan tetes-tetes air mata. Ah mungkinkah tetes-tetes air hujan itu adalah tetes-tetes air mata langit yang berduka? Entahlah. Mungkin saja. Tetapi tetes-tetes air hujan itu, membawa kabar sukacita bagi bumi, bagi segala tetumbuhan yang ada di punggung bumi. Apabila hujan turun pertama kali sesudah musim kering yang panjang, akan terasa seperti alam menyongsong datangnya hujan dengan penuh sukacita. Alam seperti bersukacita, seperti berpesta pora menyambut kedatangan tetes-tetes air surga itu. Segala sesuatu yang ada di punggung bumi mulai hidup kembali berkat air hujan yang turun itu.

Beberapa minggu lalu, datang kabar gembira bagi dua keponakan saya. Mereka diterima masuk ke Seminari Pius XII Kisol. Keduanya, kata orang tua mereka sangat ingin belajar di seminari Kisol. Mereka berjuang untuk itu. Mereka belajar dengan keras. Puji Tuhan mereka berhasil mendapatkan tiket untuk masuk di sana. Kabar gembira itu segera tersebar di wag keluarga. Lalu muncullah beragam komentar menarik tentang hal itu. Salah satu komentar ialah pemberitahuan agar kedua orang tua dari kedua ponakan itu harus bersiap-siap untuk menangis dan merasa sedih karena akan ditinggalkan mereka berdua. Mereka akan tinggal jauh di asrama seminari.

Saya beritahukan bahwa mereka tidak boleh menangis. Mereka harus kuat dan tabah. Paling tidak mereka tidak boleh menangis di depan anak-anak itu saat mereka pergi. Kedua orang tua harus kuat dan tabah. Saat menulis hal itu saya teringat dua hal. Pertama, saya teringat akan saat ketika anakku Yoan dan Agung, tinggal di Asrama. Yoan, tahun 2011, diterima di Sedes Sapientiae, Bedono. Kami pindah ke Yogya. Sebelum ke asrama, Yoan tinggal bersama kami di Kontrakan di Nglempong Lor. Ketika tiba saatnya dia masuk asrama, maka dari Yogya kami mengantarnya ke Bedono. Lalu dengan berat hati kami harus tinggalkan dia di asrama. Saat itu belum terlalu berat rasanya. Barulah terasa berat saat kami sudah tiba kembali di sore hari di Kontrakan. Tiba-tiba kami sadar bahwa kamar yang biasanya ditempati Yoan, sekarang kosong. Biasanya kami menantikan dia keluar dari kamar itu. Sekarang pintu kamar itu tidak ada lagi yang membukanya. Sunyi sekali. Saat itulah saya merasakan kesedihan yang luar biasa. Bahkan saya sempat menulis artikel tentang empty-nest-syndrome, sindrom sarang-kosong. Itu adalah sindrom induk burung yang tiba-tiba merasa kesepian karena anak-anaknya yang selama ini ia jaga di sarangnya sekarang sudah pergi. Maka tinggallah induk burung dalam sunyi, dan karena itu pun ia berbunyi sepanjang hari, seakan-akan meratapi sunyi dan mencari-cari tiada henti tetapi mereka tidak akan pernah kembali lagi, ke sini, di sini. Saat Agung pergi tinggal di asrama van Lin di Muntilan. Saat itu terasa paling berat bagi saya dan Atin. Karena dengan itu kami akan tinggal berdua saja di kontrakan. Yoan belum tamat SMA. Sekarang Agung harus masuk asrama. Kami mengantar Agung ke asrama di Muntilan. Saat mengikuti rangkaian acara di sana, saya sudah merasa sangat sedih melihat Agung yang mulai berusaha bersosialisasi dengan teman-teman barunya, sementara kami berdua hanya menonton dari jauh. Saat pamit, saya berusaha sekuat tenaga agar tidak sampai menangis. Puji Tuhan, saya berhasil menahan diri untuk tidak menangis. Sebab kalau saya menangis, maka saya sangat yakin Atin juga pasti menangis, dan kalau Atin menangis, pasti Agung juga menangis. Setelah rangkaian acara selesai, saya dan Atin pun kembali ke Yogya. Di malam hari, ketika kami akan makan malam, sunyi sekali rasanya. Tidak ada lagi ritual memanggil Agung untuk makan malam bersama. Hanya berdua. Saat itulah saya menangis di meja makan. Kami berdua menangis berdua. Sedih rasanya. Kami tinggal berdua. Kedua anak di asrama. Begitu rupanya hidup.

Hal kedua yang saya ingat ialah dulu di masa kecilku. Tahun 1973 kakak sulung kami, Kaka Sin menamatkan sekolah dasar. Karena itu ia harus pindah ke Ruteng untuk masuk pendidikan Sekolah Kepandaian dan Ketrampilan Putri (SKKP, setingkat SMP). Yang mengantar kak Sin ke Ruteng adalah Bapa. Pagi itu, mereka berangkat pagi-pagi. Saya masih ingat mama mengantar sampai di punggung bukit di dekat wae teku. Sedangkan saya, mengikuti mereka sampai ke wae Lelang dekat Tango. Sesudah itu saya pulang. Dari jauh saya masih melihat mama menunggu mereka sampai hilang dari tatapan mata di balik kampung Tango itu. Saya pun balik lagi mencoba mengejar mereka. Tetapi tidak bisa karena rupanya mereka sudah cepat-cepat pulang. Saya merasakan benar sunyi itu di rumah kami. Kakak sulung saya sudah meninggalkan kami. Dia ke Ruteng. Siang hari, rasa sunyi itu belum begitu terasa. Mungkin karena masih terang siang hari. Masih terdengar banyak bunyi keramaian siang hari. Jadi sunyi tidak terasa begitu mencengkam.
Rasa sunyi itu baru terasa saat sore hari datang. Sinar mentari siang, sudah diganti oleh matahari yang memerah dan mulai meredup di sore hari. Mula-mula dimulai dengan leso holes, mata hari sudah mulai condong ke barat. Lalu tiba giliran wa leso, yaitu matahari sudah mulai turun. Dan akhirnya leso temba golo, artinya matahari di punggung bukit-bukit sebelah barat menjelang ia jatuh di balik bukit. Terdengar bunyi kokok ayam di sore hari bersiap-siap naik bertengger di pohon untuk tidur. Saat itulah mamaku mulai sibuk memasak makan malam. Ia duduk di sapo, mulai sempong api. Biasanya ia dibantu kakak Sin tetapi sekarang kak Sin sudah pergi. Sunyi sekali rasanya dapur kami karena kak Sin tidak ada lagi di situ. Sapo juga sepi rasanya. Tepat di saat itulah saya melihat mama menangis. Air matanya jatuh di pipi. Saya memberanikan diri bertanya: “Mama menangis?” dengan cepat ia coba tersenyum dan menjawab: “Aeh toe ye. Toe ita le hau nus api hoo ko?” begitu katanya sambil mencoba tersenyum dan menggosok matanya.

Memang kalau mata kita keasapan, air mata pasti akan keluar. Tetapi saya tahu betul, mama menangis. Air matanya mengalir di pipi, bukan karena asap api dari sapo, tetapi karena ia kehilangan. Tiba-tiba ada sebuah rasa sunyi yang mencengkam di tempat yang biasanya ramai karena kehadiran sang putri. Sekarang tempat yang satu dan sama tiba-tiba menjadi sunyi karena dia sudah pergi jauh. Benar kata Charlie Chaplin: saya suka menangis dalam hujan karena dengan itu orang tidak tahu saya menangis. Ya, saya senang melihat mamaku menangis. Tetapi ia menyembunyikannya dengan pemaaf yaitu asap api yang menyerang mata. Saya suka menangis di tengah asap api karena dengan itu orang tidak tahu saya menangis. Tetapi mataku tidak bisa ditipu mama: aku tahu mama menangis dalam asap, bersama asap. Pasti pedih dan perih, seperti pedih dan perih asap yang menyebabkan air mata itu keluar, tetapi air mata itu keluar untuk mengungkapkan Bahasa hati yang sunyi, Bahasa hati yang sepi.

Saturday, May 23, 2020

ATG - TORSO CG DI LBI SAHARJO

Oleh: Dr. Fransiskus Borgias.
Dosen dan Peneliti FF-UNPAR, Bandung.

Saya tidak tahu, entah sejak kapan LBI pindah dari Kramat Raya 134 ke Saharjo. Yang jelas ialah bahwa tatkala saya terpilih sebagai wakil ketua LBI dalam PERNAS di Malang untuk periode 2004-2008, LBI sudah ada di Jalan Saharjo itu. Karena itu, rapat pimpinan sering kami adakan di gedung itu. Maka saya pun mulai semakin akrab dengan keadaan di sekitar Gedung itu. Ada satu hal yang selalu menarik bagi saya di gedung itu. Di lantai tiga, di mana ada perpustakaan dan ruang kerja staf naskah LBI, ada patung torso pater CG. Entah sejak kapan patung torso itu ada di situ. Yang jelas, tatkala kita mau masuk ke Lantai tiga, kita akan disambut oleh patung Torso itu. Saya juta tidak tahu siapa seniman yang telah menghasilkannya. Yang jelas patung itu sangat hidup. Mirip Pater CG sendiri. Luar biasa.

Kehadiran patung torso itu di situ pasti menandakan sesuatu. Ada satu hubungan historis yang sangat erat dan kuat antara LBI dan CG. Memang LBI sebelum menjadi seperti sekarang ini, yaitu salah satu lembaga khusus di bawah KWI, merupakan sebuah lembaga yang dimulai oleh para Saudara-Saudara Dina Fransiskan Cicurug. Pada saat itu, LBI itu dikenal dengan sebutan LBI-SSD Cicurug.

Pada tahun 1971, Lembaga itu dibawa masuk ke dalam struktur KWI, menjadi salah satu lembaga di sana. Hal itu memang mau menandakan bahwa terkait dengan Sabda Allah, para uskup (baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama, collegialitas) harus bertanggung-jawab atas kerasulan Kitab Suci itu. Dan itulah sebabnya ada seorang uskup delegatus Kitab Suci dari KWI untuk LBI.

Nah, lewat torso tersebut kenangan akan jasa dan kehadiran Pater CG tetap akan dilestarikan, diabadikan di LBI. Jasa beliau tidak akan dilupakan begitu saja. Itulah juga sebabnya ada keinginan yang sangat kuat dalam tubuh LBI, untuk tetap mempertahankan ada dan kehadiran para saudara-saudara dina dalam kepengurusan LBI. Semoga keinginan yang ideal itu, bisa terwujud.

Semoga juga para SSD pun selalu memberikan salah satu atau salah dua anggotanya yang secara khusus belajar Kitab Suci agar tongkat estafet itu dapat berjalan dengan mulus dan lancar. Sudah lama sekali saya tidak ke LBI Saharjo. Padahal saya kangen sekali melihat torso pater CG itu.

Terkadang ada cerita di LBI, bahwa patung torso itu ada penghuninya, ada panunggunya. Diceritakan bahwa kadang-kadang ia "turun" untuk pergi melihat-lihat dan meninjau koleksi di ruang museum maupun di ruang koleksi buku-buku. Tentu saja itu adalah hobi yang memang sudah ada pada pater CG sejak ia masih hidup. Ia sering mengunjungi perpustakaan dan melihat-lihat buku2 itu.


Friday, May 22, 2020

TOBAT EKOLOGIS: BERTOBAT DENGAN 3R

Oleh: Dr. Fransiskus Borgias, MA
Dosen dan Peneliti pada FF UNPAR Bandung.





Malam ini (tadi malam) kami baru saja menyelesaikan doa Rosario LAUDATO SI keluarga kami, untuk hari yang ke-22 ini. Karena ini adalah Hari Jumat (tadi malam), maka kami mengambil Peristiwa Sedih untuk kami renungkan bersama di tengah keluarga kami. Dalam hampir semua peristiwa sedih itu, renungan yang disediakan buku petunjuk, mengkaitkan sengsara Yesus dengan kesedihan dan kepedihan yang dialami oleh bumi akibat dari dosa-dosa ekologis yang dilakukan oleh manusia. Bumi dilukiskan sedang merintih kesakitan akibat perbuatan kita manusia dengan segala macam tingkah polah kehidupan kita.

Salah satu wujud paling kentara dari dosa ekologis itu ialah budaya kita manusia yang dengan mudah saja membuang sampah, membuang begitu saja semua barang bekas pakai kita. Gaya hidup modern menyebabkan kita menghasilkan sangat banyak sampah. Terutama sampah plastik, dan juga limbah- industri. Masalahnya ialah bahwa tidak semua barang bekas pakai yang kita pergunakan mudah untuk didaur ulang. Sebab banyak dari barang bekas pakai itu terbuat dari plastik yang tidak mudah diurai secara alami oleh alam, dan juga stirofoam, yang juga susah diurai oleh alam.

Celakanya lagi, kita justru tidak mau repot dengan sampah-sampah yang telah kita hasilkan. Ah tentu saja ini sangat kontradiktif. Seharusnya, kita yang menghasilkan, ya kita juga yang harus bertanggung-jawab membereskannya. Tetapi kesadaran seperti itu tidak selalu muncul dalam hati dan pemikiran semua manusia. Lalu apa yang terjadi sebagai akibatnya? Yang terjadi ialah, orang mengambil jalan pintas saja.

Alih-alih orang menaruh sampah pada tempatnya, orang malah membuang sampah secara sembarangan saja. Di banyak tempat di bumi ini, sungai dan danau dijadikan sebagai tempat sampah kolektif. Tatkala hujan, dan banjir bandang datang, maka semua sampah plastik itu dibawa ke laut. Akhirnya, laut kita pun penuh dengan sampah plastik. Di kota-kota besar, sampah-sampah plastik juga menyebabkan mampetnya saluran alir, banjir-banjir kanal yang telah disediakan untuk menyiasati banjir.

Dan di sanalah kita baru melihat dan merasakan salah satu akibatnya yang amat mengerikan. Sudah ada sangat banyak ikan di laut yang mati karena menelan plastik yang telah kita buang. Pertama, kita sudah merusak banyak biota laut dengan limbah-limbah industri kita, yang menyebabkan mata rantai makanan ikan di laut menjadi semakin berkurang. Tatkala sampah plastik datang, dalam keadaan lapar, ikan-ikan itu mengira, itulah makanan. Ternyata itu adalah racun yang mematikan.

Ketika makanan itu sampai di dalam perut mereka, bahan-bahan plastik itu sama sekali tidak bisa diolah oleh perut mereka. Maka bahan plastik itupun menumpuk di dalam perut ikan-ikan itu. Akibatnya, ikan-ikan itu pun pada mati karena sakit perut. Dan hal itu tentu saja membawa dampak lebih lanjut, yaitu timbulnya bau busuk akibat bangkai-bangkai ikan yang mati dan membusuk di laut. Sungguh mengerikan, memprihatinkan, dan menyedihkan.

Lalu bagaimana? Seharusnya kita sendiri yang harus mengolah dan mengelola sampah kita. Sudah lama sekali saya pernah membaca dan juga menulis tentang prinsip 3R sebagai rumus dasar di dalam mengolah sampah kita. R pertama, adalah singkatan dari kata REDUCE. Sedapat mungkin kita harus berusaha untuk mengurangi sampah yang kita hasilkan. Dan itu adalah perkara budaya hidup, itu adalah perkara habitus. Kita harus berusaha mengurangi sampah sedapat mungkin, khususnya sampah plastik.

R kedua adalah singkatan dari REUSE, yang artinya ialah MEMPERGUNAKAN KEMBALI. Kalau ternyata kita tidak begitu berhasil mengurangi sampah (prinsip R pertama tadi), maka kita harus berusaha sedemikian rupa agar kita bisa memakai kembali (reuse) sampah-sampah yang telah kita hasilkan. Misalnya dengan membuat kerajinan dari sampah-sampah plastik yang ada.

R ketiga ialah RECYCLE, mendaur ulang. Kalau ternyata kita tidak bisa melakukan R pertama dan R kedua secara maksimal, masih ada jalan ketiga, yaitu RECYCLE. Kita berusaha mendaur ulang sampah-sampah yang telah kita hasilkan.

Kiranya dengan ketiga prinsip ini kita bisa membuat bumi kita akan menjadi lebih bersih, dan lebih hijau untuk kita bersama....Asal kita dengan tekun melaksanakan ketiga R ini, maka pasti kita sudah menyumbangkan sangat besar bagi pelestarian alam kita. Ingat bahwa alam ini, bumi ini, adalah rumah kita. Ingat bahwa bumi ini bukan warisan dari nenek moyang kita, melainkan pinjaman dari anak cucu kita. Ingat juga bahwa bumi ini sudah sakit, merintih kesakitan dan pedih. Mari kita mendengarkannya sekarang dan menaruh peduli dan rasa simpati dan empati kepadanya, ibu bumi, ibu kita, rumah kita.

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...