Saturday, May 23, 2020

ATG - TORSO CG DI LBI SAHARJO

Oleh: Dr. Fransiskus Borgias.
Dosen dan Peneliti FF-UNPAR, Bandung.

Saya tidak tahu, entah sejak kapan LBI pindah dari Kramat Raya 134 ke Saharjo. Yang jelas ialah bahwa tatkala saya terpilih sebagai wakil ketua LBI dalam PERNAS di Malang untuk periode 2004-2008, LBI sudah ada di Jalan Saharjo itu. Karena itu, rapat pimpinan sering kami adakan di gedung itu. Maka saya pun mulai semakin akrab dengan keadaan di sekitar Gedung itu. Ada satu hal yang selalu menarik bagi saya di gedung itu. Di lantai tiga, di mana ada perpustakaan dan ruang kerja staf naskah LBI, ada patung torso pater CG. Entah sejak kapan patung torso itu ada di situ. Yang jelas, tatkala kita mau masuk ke Lantai tiga, kita akan disambut oleh patung Torso itu. Saya juta tidak tahu siapa seniman yang telah menghasilkannya. Yang jelas patung itu sangat hidup. Mirip Pater CG sendiri. Luar biasa.

Kehadiran patung torso itu di situ pasti menandakan sesuatu. Ada satu hubungan historis yang sangat erat dan kuat antara LBI dan CG. Memang LBI sebelum menjadi seperti sekarang ini, yaitu salah satu lembaga khusus di bawah KWI, merupakan sebuah lembaga yang dimulai oleh para Saudara-Saudara Dina Fransiskan Cicurug. Pada saat itu, LBI itu dikenal dengan sebutan LBI-SSD Cicurug.

Pada tahun 1971, Lembaga itu dibawa masuk ke dalam struktur KWI, menjadi salah satu lembaga di sana. Hal itu memang mau menandakan bahwa terkait dengan Sabda Allah, para uskup (baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama, collegialitas) harus bertanggung-jawab atas kerasulan Kitab Suci itu. Dan itulah sebabnya ada seorang uskup delegatus Kitab Suci dari KWI untuk LBI.

Nah, lewat torso tersebut kenangan akan jasa dan kehadiran Pater CG tetap akan dilestarikan, diabadikan di LBI. Jasa beliau tidak akan dilupakan begitu saja. Itulah juga sebabnya ada keinginan yang sangat kuat dalam tubuh LBI, untuk tetap mempertahankan ada dan kehadiran para saudara-saudara dina dalam kepengurusan LBI. Semoga keinginan yang ideal itu, bisa terwujud.

Semoga juga para SSD pun selalu memberikan salah satu atau salah dua anggotanya yang secara khusus belajar Kitab Suci agar tongkat estafet itu dapat berjalan dengan mulus dan lancar. Sudah lama sekali saya tidak ke LBI Saharjo. Padahal saya kangen sekali melihat torso pater CG itu.

Terkadang ada cerita di LBI, bahwa patung torso itu ada penghuninya, ada panunggunya. Diceritakan bahwa kadang-kadang ia "turun" untuk pergi melihat-lihat dan meninjau koleksi di ruang museum maupun di ruang koleksi buku-buku. Tentu saja itu adalah hobi yang memang sudah ada pada pater CG sejak ia masih hidup. Ia sering mengunjungi perpustakaan dan melihat-lihat buku2 itu.


No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...