Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen dan peneliti Fakultas Filsafat UNPAR, Bandung.
Pengantar:
Kemarin sudah ditampilkan potongan kedua dari tulisan ini. Dua hari sebelumnya, ditampilkan bagian pertama. Pada Hari ini saya menayangkan bagian terakhir dari tiga tulisan ini. Dengan ini, catatan saya tentang Fauna Manggarai, berdasarkan jasa besar dan hebat kedua misionaris SVD di atas tadi sudah selesai. Semoga nanti pada kesempatan lain saya masih bisa menampilkan catatan dan hasil studi saya yang lain, STUDIA MANGGARAIANA.
Terep (Teureup, Citeureup?)
Saya juga mau berbicara tentang pohon Terep. Pohon ini dulu dikenal orang Manggarai dengan nama lain. Saya mengenal kata Terep sebagai nama pohon, setelah saya ke Sunda dan menemukan di sana ada tempat bernama ce-Terep dan itu dikaitkan dengan pohon, Terep. Ketika masih di Manggarai dulu, di Cibal, ada kampung Terep, tetapi saya tidak tahu bahwa Terep itu dulunya nama Pohon. Menurut P.Verheijen Terep (kluwih, sukun) tumbuh di Manggarai pada ketinggian antara 100-700m dpl. (Verheijen 1984:34). Biji kluwih atau sukun ini di Manggarai dulu disangrai (cero, sero) dan dimakan. Biji sangat lezat seperti kacang tanah atau biji jambu mete. Getah pohonnya dipakai untuk macam-macam kegunaan seperti menjerat burung (roku), menguatkan sambungan balok rumah. Yang paling banyak digunakan ialah kulit pohon itu. Kulit yang besar dipakai untuk membuat langkok (joreng, cecer), wadah raksasa (berbentuk melingkar, berdiameter minimal satu setengah meter) untuk menyimpan padi. Di beberapa tempat seperti Matawae (Mw?), kulit pohon ini dipakai untuk membungkus (rokot) mayat. Di beberapa tempat untuk pakaian dan tali. Kulit pohon diolah menjadi pewarna alami dalam tenun tradisional (Erb 1999:22;60, footnote no.4).
Tetapi kini di Manggarai pohon ini dikenal dengan nama Lale. Lale ini diabadikan sebagai nama lain untuk Manggarai. Mungkin itu nama asli Manggarai, Nusa Lale, Pulau Lale (Nunca, Nuca Lale; disebut seperti itu karena dulu di sana ada banyak lale; Verheijen 1967:393). Tetapi karena di beberapa tempat, misalnya di Cibal, ada kampung Terep, bagi P.Verheijen, itu adalah bukti historis memadai bahwa dulu kata Terep ini juga pernah dikenal di Manggarai. Kata/nama terep (teureup) inilah yang paling banyak dikenal di beberapa kawasan Nusantara ini (Erb 1999:60). Hanya Manggarai saja, kata Erb, yang memakai kata Lale untuk pohon yang di Nusantara disebut Terep. Hanya tetap menjadi misteri besar ialah mengapa dan bagaimana kata/nama Terep itu hilang di Manggarai sebagai nama pohon lalu diganti Lale.
Beberapa kemungkinan penjelasan hipotetis. Pertama, mungkin Lale adalah nama bawaan suku pendatang (imigrant). Lalu nama itu menjadi nama tempat seperti Lale Lombong dekat Perang, Deket dan Pana. Memang di tempat itu tumbuh Lale, walaupun kini terancam punah karena kayunya ditebang, sebab kayunya kuat dan keras. Jika penjelasan ini diterima maka diandaikan bahwa para pendatang itu pasti berasal dari tempat jauh yang tidak memakai Terep untuk menyebut pohon tadi, tetapi memakai Lale. Tetapi hipotesis ini sulit dibuktikan, kalau diselidiki dari mana asal-usul imigran itu, sehingga mereka tidak mengenal Terep, melainkan hanya mengenal Lale, padahal Terep dipakai di seluruh nusantara. Kedua, mungkin aslinya di banyak tempat nama pohon itu Terep, tetapi karena di tempat itu Terep punah maka orang tidak lagi mengenalnya. Sebagai gantinya orang mengenal Lale apalagi Lale itu diabadikan menjadi Nusa Lale, sehingga nama ini menjadi lebih populer dari pada Terep dalam pemakaian sehari-hari orang Manggarai dan juga dalam ingatan kolektif historis mereka.
Tetapi kedua penjelasan hipotetik ini belum bisa menyingkap misteri perubahan dari Terep ke Lale, karena hanya Manggarai yang mengenal Lale, sementara tempat lain tidak. Boleh jadi, Lale adalah kata asli Manggarai, bukan bawaan imigran. Jika ini benar, mungkin kita harus memikirkan ulang mengenai hipotesis asal-usul sebagian suku Manggarai yang konon berasal dari luar. Boleh jadi nama Lale itu berasal dari orang Manggarai “asli” yang tidak berasal dari luar, melainkan sudah ada di sana sejak purbakala. Entahlah. Semoga di masa depan, dengan studi perbandingan linguistik historis yang jauh lebih baik kiranya ada peneliti muda Manggarai yang bisa menyingkapkan hal ini. Dalam kasus Terep ini kita temukan fakta bahwa kata dan bahasa mampu merekam data dan fakta historis masa silam.
The Angry Earth: Sebuah konklusi ekologis
Di atas ada studi singkat atas fenomena kata atau nama tempat di Manggarai, yang merupakan nama tumbuhan (pohon dan rumput). Kini tumbuhan itu tidak ada lagi (witu dan lesem) atau nama itu lebih populer dikenal dengan nama lain (terep). Selama ini aktifitas ekonomis Manggarai, selain pertanian dan peternakan skala kecil, hanya berdagang. Hasil bumi dan alam diambil untuk perdagangan dan konsumsi sehari-hari. Skala dampak ekologis dari aktifitas itu tidak seberapa, walaupun tetap ada dampak ekologis. Mungkin dulu di Manggarai ada cendana, haju benge (Hemo 1987/88:35-36). Tetapi kini pohon itu punah karena eksploitasi sebagai side efek dari perdagangan internasional yang merambah ke kawasan Nusa Tenggara itu (Parimartha 2013; Pelras 2006; Toda 1999; Erb 1999).
Bayangkan kalau aktifitas ekonomis itu adalah eksplorasi tambang yang brutal. Berapa yang terancam punah? Kiranya yang punah bukan hanya flora dan fauna. Juga manusia. Sebab manusia hidup bersama Flora dan Fauna. Manusia adalah bagian utuh dari flora dan fauna. Kalau flora dan fauna musnah manusia pun punah juga. Tinggal tunggu waktu. Itu sebabnya saya ingatkan kita akan kesadaran ekologis baru. Saya berharap agar nama-nama pohon dan rerumputan yang kini hilang, tetapi yang kini tersimpan dalam daya rekam bahasa, bisa membangkitkan kesadaran ekologis kita.
Rekaman linguistik itu menyimpan bencana historis di masa silam. Diharapkan rekaman itu, bisa membangkitkan kesadaran kita akan bencana ekologis di masa yang akan datang jika kita tidak berhati-hati merawat Ibu Bumi. Dalam ritual kesuburan asli Manggarai, bumi disebut Ende Wa (Ibu di Bawah, bumi dan segala isinya) dengan pasangan Ema Eta (Bapa di Atas, langit, matahari) (Verheijen 1991:41-42; Erb 1999:22; Borgias 2016). Jika kita tidak perlakukan Ende Wa dengan baik, Ema Eta akan marah dan mendatangkan bencana ekologis bagi semua makhluk yang lahir dari rahim pertiwi ini, seperti disarankan Anthony Oliver-Smith and Susanna M.Hoffman (editor), yang menerbitkan The Angry Earth (Bumi Murka). Bumi tidak hanya marah. Menurut L.Boff, Bumi juga menangis. Tangis bumi, tangis orang Miskin. Cry of Earth, Cry of the Poor. Mari kita menjaga jangan sampai Bunda Bumi, menangis dan marah kepada kita. Kita yakin, sebagaimana dikidungkan Fransiskus dalam Gita Sang Surya-nya yang terkenal itu, Ibu Bumi yang memberi kita makan dan kehidupan dengan menumbuhkan pelbagai tumbuhan. Jika ibu bumi rusak, maka rusaklah sumber makanan, sumber hidup kita. Betapa itu menyeramkan. (Habis).
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Friday, April 24, 2020
Thursday, April 23, 2020
CATATAN TENTANG P. J. VERHEIJEN SVD: KATA, BAHASA, DAN KESADARAN EKOLOGIS BGN II
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen dan peneliti Fakultas Filsafat UNPAR, Bandung.
Pengantar
Kemarin sudah ditampilkan bagian pertama dari tulisan ini. Sekarang bagian kedua.
Witu, Werwitu
Pertama, kata Witu. Jujur saja, saya tidak tahu kata ini, apalagi sebagai nama rumput di Manggarai (dan Ende, sebagaimana diinformasikan P.Verheijen). Saya juga belum pernah mendengar tempat bernama Witu di Manggarai. Tetapi menurut studi linguistik-botani-biologi dari P.Verheijen, Witu adalah nama rumput yang hilang dalam pemakaian bahasa sehari-hari di Manggarai. Mungkin rumputnya masih ada, tetapi dewasa ini rumput itu disebut dengan nama lain. Sekarang orang Manggarai tidak tahu bahwa dulu ada rumput bernama Witu tetapi kini sudah punah. Secara fisik sudah tidak lagi ada bekasnya, tetapi eksistensinya terekam secara linguistik dalam bahasa. Tetapi P.J.Verheijen SVD bisa “menemukannya” lagi. Ia membuktikan bahwa dulu rumput itu pernah ada di Manggarai. Bagaimana caranya? Kita tahu bahwa P.Verheijen mengumpulkan banyak cerita rakyat Manggarai, menyusun kamus bahasa Manggarai, meneliti flora dan fauna Manggarai bersama P.Erwin Schmutz (Pater Erwin Schmutz, 1977-1980. Die Flora der Manggarai, 5 vols.). Kedua orang ini adalah pastor biasa, tetapi mempunyai perhatian khusus dalam bidang bahasa dan botani.
Dalam penelitian ini, P.Verheijen menemukan kata Manggarai berupa nama tempat (geographical names, toponym). Tetapi saat ia temukan, ia tidak tahu arti kata itu. Orang setempat pun tidak tahu artinya. Ada tempat bernama Liang Witu (North Riwu, Riwu Utara), juga Purang Witu (diduga di Todo). Ada juga nama tempat Werwitu (diduga di Lambaleda). Ada juga Liang Witu, artinya Gua Witu. Purang Witu artinya Kubangan Kerbau bernama Witu. Tetapi apa itu Werwitu? P.Verheijen, dalam studinya, menduga bahwa mungkin Werwitu itu aslinya Wae Witu. Tetapi dalam proses pengucapan singkat (the split of the tongue), lalu menjadi Werwitu. Jika ini benar maka Werwitu itu berarti Sungai Witu, atau tempat di dekat Sungai Witu.
Lalu dari mana dan atas dasar apa P.Verheijen yakin bahwa nama-nama itu aslinya adalah nama rerumputan? P.Verheijen menemukan hal itu lewat studi perbandingan linguistik (comparative linguistic) berdasarkan kunjungan risetnya ke beberapa daerah lain di luar Manggarai. P.Verheijen juga melakukan perjalanan keliling di beberapa tempat di Flores dalam rangka melakukan studi perbandingan linguistik. Di Ngadha dan Ende ia temukan kata Witu sebagai nama rumput (Latin: Saccharum spontaneum). Di East Sumba, rumput itu, selain disebut witu juga ada varian wicu, wucu, wusu. Di Sawu ada varian widu yang artinya ialah “rumput alang-alang” (Imperata cylindrica). Di Dawan, Eban di WTimor ada juga witu untuk nama rumput (Latin: Oplismenus sp..).
Atas dasar studi perbandingan itulah P.Verheijen menyimpulkan bahwa kata witu, yang tidak diketahui lagi artinya di Manggarai, tetapi yang tersimpan sebagai toponim di tempat lain, adalah nama rumput dulu di Manggarai dan kini hilang. Walau rumput itu punah, tetapi keberadaannya secara historis terekam dan bisa ditemukan kembali sebagai kosa kata NTT (tidak hanya di Manggarai). Kata itu, dalam artian asli, kini bisa ditemukan di tempat lain. Itulah keajaiban kata dan bahasa, yaitu menyimpan data historis masa silam. Berdasarkan rekaman kata Witu (sebagai nama tempat), kita bisa mengetahui bahwa di masa silam Manggarai, pernah ada sejenis rumput yang disebut Witu oleh orang setempat, dan kini hilang.
Lesem, Lecem, Leseng, Leceng
Selain kata Witu, P.Verheijen juga menemukan nama pohon buah-buahan yang kini tidak ada lagi di Manggarai. Tetapi namanya tetap disimpan sebagai nama tempat (toponim, geographical name), yaitu persisnya sebagai nama Kampung. Yang dimaksud ialah Lesem atau Lecem yang terletak di Cibal Utara. Saya harus mengakui bahwa saya tidak tahu jenis pohon Lecem atau Leseng ini. Yang saya tahu hanya bahwa itu adalah nama kampung di Cibal utara. Lecem adalah pohon buah-buahan liar di hutan, tidak dibudi-dayakan (Latin: Spondias malayana). Di Manggarai Barat dan Komodo pohon ini dikenal dengan nama leseng (Kmd: Komodo?); di Mw (Matawae?) pohon ini dikenal dengan nama Leceng. Tetapi dalam Kamus Manggarai P.Verheijen, tidak ada kata Lecem. Yang ada hanya Letjeng (Leceng): nama buah yang asam (kecut) (Verheijen 1967:278).
Di tempat lain kata itu sudah tidak lagi dikenal sebagai nama pohon melainkan sebagai nama tempat atau kampung (toponim, geographical name). Misalnya di Patjar (Pacar) dan di Riung barat ada kampung bernama Lesem dan di Cibal ada kampung bernama Lecem. Menurut P.Verheijen, saat ia bertanya tentang arti kata Lecem ini di Cibal atau di Riung, tidak ada lagi orang setempat yang tahu arti lecem/lesem/leceng itu dalam bahasa lokal. Orang juga tidak mengenal pohon Lecem atau Lesem. Tetapi P.Verheijen tidak ragu menyimpulkan bahwa nama pohon ini dulu pernah dipakai di tempat-tempat tadi ketika pohon itu masih hidup di sana. Bahkan kampung itu diberi nama demikian karena dulu di sana pernah tumbuh pohon Lesem. Untuk memastikan hal ini, masih harus dipelajari dengan teliti cara dan pola pemberian nama tempat dalam tradisi Manggarai. Salah satu polanya ialah dengan mengaitkan tempat itu dengan pohon atau rumput apa yang tumbuh di atasnya. Pasti ada cara lain seperti penjelasan mitologis, atau penjelasan berdasarkan nama tokoh yang pernah berperan dalam sejarah masa silam tempat tertentu.
Jadi eksistensi pohon itu diabadikan dalam nama tempat (geographical names, toponym) (Verheijen, 1984:37). Dalam catatan kaki P.Verheijen mengatakan bahwa tidak lama sesudah kebingungan awali itu, di kampung Lecem Cibal Utara, ada orang yang kemudian mengaku bahwa dia mengenal pohon Lecem itu. Bagi Verheijen, klaim pengenalan itu tidak mengubah kenyataan bahwa pohon itu sudah tidak ada lagi dalam fakta, juga tidak ada lagi bahkan dalam ingatan kolektif komunitas; eksistensi historisnya sekarang hanya terekam sebagai toponym belaka. Ia juga tambahkan informasi penting bahwa di Cibal ada kampung bernama Teni, tetapi tidak ada seorang pun di sana yang tahu bahwa teni itu adalah nama tumbuhan kategori umbi-umbian (tuberous plant). Walau di Cibal khususnya di Teni, orang tidak mengenal lagi teni sebagai umbi, tetapi Teni sebagai nama umbi masih dikenal di South Lamba-Leda (Verheijen 1984:78). Atas dasar temuan linguistitik perbandingan di Lamba-Leda itulah, Verheijen bisa memastikan mengenai arti Teni itu juga di tempat lain, termasuk di Cibal. (Bersambung...)
Dosen dan peneliti Fakultas Filsafat UNPAR, Bandung.
Pengantar
Kemarin sudah ditampilkan bagian pertama dari tulisan ini. Sekarang bagian kedua.
Witu, Werwitu
Pertama, kata Witu. Jujur saja, saya tidak tahu kata ini, apalagi sebagai nama rumput di Manggarai (dan Ende, sebagaimana diinformasikan P.Verheijen). Saya juga belum pernah mendengar tempat bernama Witu di Manggarai. Tetapi menurut studi linguistik-botani-biologi dari P.Verheijen, Witu adalah nama rumput yang hilang dalam pemakaian bahasa sehari-hari di Manggarai. Mungkin rumputnya masih ada, tetapi dewasa ini rumput itu disebut dengan nama lain. Sekarang orang Manggarai tidak tahu bahwa dulu ada rumput bernama Witu tetapi kini sudah punah. Secara fisik sudah tidak lagi ada bekasnya, tetapi eksistensinya terekam secara linguistik dalam bahasa. Tetapi P.J.Verheijen SVD bisa “menemukannya” lagi. Ia membuktikan bahwa dulu rumput itu pernah ada di Manggarai. Bagaimana caranya? Kita tahu bahwa P.Verheijen mengumpulkan banyak cerita rakyat Manggarai, menyusun kamus bahasa Manggarai, meneliti flora dan fauna Manggarai bersama P.Erwin Schmutz (Pater Erwin Schmutz, 1977-1980. Die Flora der Manggarai, 5 vols.). Kedua orang ini adalah pastor biasa, tetapi mempunyai perhatian khusus dalam bidang bahasa dan botani.
Dalam penelitian ini, P.Verheijen menemukan kata Manggarai berupa nama tempat (geographical names, toponym). Tetapi saat ia temukan, ia tidak tahu arti kata itu. Orang setempat pun tidak tahu artinya. Ada tempat bernama Liang Witu (North Riwu, Riwu Utara), juga Purang Witu (diduga di Todo). Ada juga nama tempat Werwitu (diduga di Lambaleda). Ada juga Liang Witu, artinya Gua Witu. Purang Witu artinya Kubangan Kerbau bernama Witu. Tetapi apa itu Werwitu? P.Verheijen, dalam studinya, menduga bahwa mungkin Werwitu itu aslinya Wae Witu. Tetapi dalam proses pengucapan singkat (the split of the tongue), lalu menjadi Werwitu. Jika ini benar maka Werwitu itu berarti Sungai Witu, atau tempat di dekat Sungai Witu.
Lalu dari mana dan atas dasar apa P.Verheijen yakin bahwa nama-nama itu aslinya adalah nama rerumputan? P.Verheijen menemukan hal itu lewat studi perbandingan linguistik (comparative linguistic) berdasarkan kunjungan risetnya ke beberapa daerah lain di luar Manggarai. P.Verheijen juga melakukan perjalanan keliling di beberapa tempat di Flores dalam rangka melakukan studi perbandingan linguistik. Di Ngadha dan Ende ia temukan kata Witu sebagai nama rumput (Latin: Saccharum spontaneum). Di East Sumba, rumput itu, selain disebut witu juga ada varian wicu, wucu, wusu. Di Sawu ada varian widu yang artinya ialah “rumput alang-alang” (Imperata cylindrica). Di Dawan, Eban di WTimor ada juga witu untuk nama rumput (Latin: Oplismenus sp..).
Atas dasar studi perbandingan itulah P.Verheijen menyimpulkan bahwa kata witu, yang tidak diketahui lagi artinya di Manggarai, tetapi yang tersimpan sebagai toponim di tempat lain, adalah nama rumput dulu di Manggarai dan kini hilang. Walau rumput itu punah, tetapi keberadaannya secara historis terekam dan bisa ditemukan kembali sebagai kosa kata NTT (tidak hanya di Manggarai). Kata itu, dalam artian asli, kini bisa ditemukan di tempat lain. Itulah keajaiban kata dan bahasa, yaitu menyimpan data historis masa silam. Berdasarkan rekaman kata Witu (sebagai nama tempat), kita bisa mengetahui bahwa di masa silam Manggarai, pernah ada sejenis rumput yang disebut Witu oleh orang setempat, dan kini hilang.
Lesem, Lecem, Leseng, Leceng
Selain kata Witu, P.Verheijen juga menemukan nama pohon buah-buahan yang kini tidak ada lagi di Manggarai. Tetapi namanya tetap disimpan sebagai nama tempat (toponim, geographical name), yaitu persisnya sebagai nama Kampung. Yang dimaksud ialah Lesem atau Lecem yang terletak di Cibal Utara. Saya harus mengakui bahwa saya tidak tahu jenis pohon Lecem atau Leseng ini. Yang saya tahu hanya bahwa itu adalah nama kampung di Cibal utara. Lecem adalah pohon buah-buahan liar di hutan, tidak dibudi-dayakan (Latin: Spondias malayana). Di Manggarai Barat dan Komodo pohon ini dikenal dengan nama leseng (Kmd: Komodo?); di Mw (Matawae?) pohon ini dikenal dengan nama Leceng. Tetapi dalam Kamus Manggarai P.Verheijen, tidak ada kata Lecem. Yang ada hanya Letjeng (Leceng): nama buah yang asam (kecut) (Verheijen 1967:278).
Di tempat lain kata itu sudah tidak lagi dikenal sebagai nama pohon melainkan sebagai nama tempat atau kampung (toponim, geographical name). Misalnya di Patjar (Pacar) dan di Riung barat ada kampung bernama Lesem dan di Cibal ada kampung bernama Lecem. Menurut P.Verheijen, saat ia bertanya tentang arti kata Lecem ini di Cibal atau di Riung, tidak ada lagi orang setempat yang tahu arti lecem/lesem/leceng itu dalam bahasa lokal. Orang juga tidak mengenal pohon Lecem atau Lesem. Tetapi P.Verheijen tidak ragu menyimpulkan bahwa nama pohon ini dulu pernah dipakai di tempat-tempat tadi ketika pohon itu masih hidup di sana. Bahkan kampung itu diberi nama demikian karena dulu di sana pernah tumbuh pohon Lesem. Untuk memastikan hal ini, masih harus dipelajari dengan teliti cara dan pola pemberian nama tempat dalam tradisi Manggarai. Salah satu polanya ialah dengan mengaitkan tempat itu dengan pohon atau rumput apa yang tumbuh di atasnya. Pasti ada cara lain seperti penjelasan mitologis, atau penjelasan berdasarkan nama tokoh yang pernah berperan dalam sejarah masa silam tempat tertentu.
Jadi eksistensi pohon itu diabadikan dalam nama tempat (geographical names, toponym) (Verheijen, 1984:37). Dalam catatan kaki P.Verheijen mengatakan bahwa tidak lama sesudah kebingungan awali itu, di kampung Lecem Cibal Utara, ada orang yang kemudian mengaku bahwa dia mengenal pohon Lecem itu. Bagi Verheijen, klaim pengenalan itu tidak mengubah kenyataan bahwa pohon itu sudah tidak ada lagi dalam fakta, juga tidak ada lagi bahkan dalam ingatan kolektif komunitas; eksistensi historisnya sekarang hanya terekam sebagai toponym belaka. Ia juga tambahkan informasi penting bahwa di Cibal ada kampung bernama Teni, tetapi tidak ada seorang pun di sana yang tahu bahwa teni itu adalah nama tumbuhan kategori umbi-umbian (tuberous plant). Walau di Cibal khususnya di Teni, orang tidak mengenal lagi teni sebagai umbi, tetapi Teni sebagai nama umbi masih dikenal di South Lamba-Leda (Verheijen 1984:78). Atas dasar temuan linguistitik perbandingan di Lamba-Leda itulah, Verheijen bisa memastikan mengenai arti Teni itu juga di tempat lain, termasuk di Cibal. (Bersambung...)
Wednesday, April 22, 2020
CATATAN TENTANG P. J. VERHEIJEN SVD: KATA, BAHASA, DAN KESADARAN EKOLOGIS
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen dan peneliti Fakultas Filsafat UNPAR, Bandung.
Pengantar Singkat:
Tahun 2017 saya pernah menulis artikel panjang yang saya terbitkan di Academia. Apa yang saya sajikan di sini hanya ringkasan ringan dari artikel tersebut.
Mungkin kita menganggap remeh studi dan riset linguistik para ahli linguistik karena kita tidak tahu apa yang mereka kerjakan. Kita tidak menyadari kegunaan dan aplikasi praktis dari studi mereka. Tetapi kita tidak dapat menyepelekan penelitian linguistik itu. Penelitian inipun bisa menghasilkan temuan cemerlang, yang bisa memberi sumbangan terhadap ilmu, kebudayan, dan kemanusiaan.
Misalnya hasil penelitian linguistik P.Jilis Verheijen SVD di Manggarai. Walau dia “hanya” pastor misionaris dan bukan ahli linguistik, tetapi dia telah melakukan penelitian terhadap bahasa Manggarai. Bagi orang yang menaruh minat besar terhadap antropologi, studi pater Verheijen itu amat penting. Berdasarkan studi beliau tentang nama tetumbuhan di Manggarai, muncul kamus nama tetumbuhan (Verheijen 1982). Kita dapat menemukan dua kategori temuan ajaib. Pertama, kita menemukan nama kuno dari tetumbuhan tertentu karena kini kata itu tidak dipakai lagi sebagai nama tetumbuhan, melainkan hanya sebagai nama tempat (toponim). Kedua, kita juga dapat menyingkapkan nama tetumbuhan yang diduga punah, tetapi kini masih dilestarikan sebagai nama tempat ataupun nama kampung tertentu. Contoh-contoh akan diberikan pada waktunya nanti.
Rekam Jejak Masa Silam Dalam Bahasa
Hal itu mungkin terjadi karena kata Pater Verheijen dalam bahasa-bahasa tersimpan sejumlah data historis masa silam yang bisa menyingkapkan misteri masa silam itu bagi masa kini dan masa depan (1982:34). Kita bisa temukan dalam “rekaman” linguistik itu nama tetumbuhan yang kini tidak lagi digunakan orang karena ada nama baru yang lebih popular. Tetapi popularitas nama baru itu tidak menggusur nama lama, nama arkais tadi. Dalam konteks bahasa yang tidak tertulis seperti Manggarai, proses kehilangan seperti itu hanya dapat ditunjukkan dengan beberapa contoh. Semuanya masih sangat terbatas. Tetapi dari yang terbatas itu, kita masih bisa menyingkapkan masa silam dengan baik.
Munandjar Widiyatmoko, dalam Cendana, dan Dinamika Masyarakat Nusa Tenggara Timur (2014:3-4) mengatakan bahwa dulu cendana tumbuh di sebagian besar pulau utama NTT (Flores, Sumba, Timor, Alor). Cendana dikenal dengan pelbagai nama. Di Manggarai disebut haju benge (Hemo 1987/1988:38). Tetapi akibat perdagangan internasional, kayu itu punah dari beberapa pulau utama di NTT. Kini hanya tersisa di Timor sehingga dewasa ini hanya Timor yang dikenal sebagai pulau Cendana. Sedangkan pulau lain (Flores, Sumba, Alor) hanya tinggal kenangan historis masa silam. Peristiwa kepunahan dalam sejarah masa silam NTT, tidak hanya menimpa Cendana saja. Masih ada cukup banyak jenis tetumbuhan, pepohonan lain yang sudah mengalami nasib yang sama, hanya mungkin belum terungkapkan dalam sebuah penelitian, maupun dokumentasi tertulis. Hal ini masuk akal karena NTT, menurut Parimartha (2002:181-255;363-364), berada di jalur perdagangan laut internasional sejak dahulu hingga kini. Cendana punah dari beberapa pulau NTT karena efek perdagangan internasional tersebut. Banyak orang datang mencarinya, menebangnya dan mengangkutnya untuk dipasarkan di pasar internasional, dengan meninggalkan di belakang pulau-pulau tandus, hamparan sabana dan stepa kering kerontang. Belum lagi kita perhitungkan persoalan lain seperti perubahan musim ekstrem, maupun bencana alam seperti letusan gunung berapi, seperti letusan Tambora tahun 1815 yang terkenal itu (Boers 1995:37-60), dan juga letusan gunung lain, yang sangat banyak di kawasan itu, sehingga orang mengenalnya juga dengan sebutan Ring of Fire (Cincin Api). Untuk menguak semuanya itu dibutuhkan studi mendalam.
Dalam tulisan ini, saya menelusuri nama tiga tetumbuhan di Manggarai. Dari ketiga nama tersebut ada dua pohon (haju) dan satu rumput (remang). Ketiganya ialah Lecem, Terep, Witu. Dalam uraian ini, saya mulai dengan rumput (remang Witu). Sesudah itu saya mengulas pohon (haju Lecem, Terep).
Dosen dan peneliti Fakultas Filsafat UNPAR, Bandung.
Pengantar Singkat:
Tahun 2017 saya pernah menulis artikel panjang yang saya terbitkan di Academia. Apa yang saya sajikan di sini hanya ringkasan ringan dari artikel tersebut.
Mungkin kita menganggap remeh studi dan riset linguistik para ahli linguistik karena kita tidak tahu apa yang mereka kerjakan. Kita tidak menyadari kegunaan dan aplikasi praktis dari studi mereka. Tetapi kita tidak dapat menyepelekan penelitian linguistik itu. Penelitian inipun bisa menghasilkan temuan cemerlang, yang bisa memberi sumbangan terhadap ilmu, kebudayan, dan kemanusiaan.
Misalnya hasil penelitian linguistik P.Jilis Verheijen SVD di Manggarai. Walau dia “hanya” pastor misionaris dan bukan ahli linguistik, tetapi dia telah melakukan penelitian terhadap bahasa Manggarai. Bagi orang yang menaruh minat besar terhadap antropologi, studi pater Verheijen itu amat penting. Berdasarkan studi beliau tentang nama tetumbuhan di Manggarai, muncul kamus nama tetumbuhan (Verheijen 1982). Kita dapat menemukan dua kategori temuan ajaib. Pertama, kita menemukan nama kuno dari tetumbuhan tertentu karena kini kata itu tidak dipakai lagi sebagai nama tetumbuhan, melainkan hanya sebagai nama tempat (toponim). Kedua, kita juga dapat menyingkapkan nama tetumbuhan yang diduga punah, tetapi kini masih dilestarikan sebagai nama tempat ataupun nama kampung tertentu. Contoh-contoh akan diberikan pada waktunya nanti.
Rekam Jejak Masa Silam Dalam Bahasa
Hal itu mungkin terjadi karena kata Pater Verheijen dalam bahasa-bahasa tersimpan sejumlah data historis masa silam yang bisa menyingkapkan misteri masa silam itu bagi masa kini dan masa depan (1982:34). Kita bisa temukan dalam “rekaman” linguistik itu nama tetumbuhan yang kini tidak lagi digunakan orang karena ada nama baru yang lebih popular. Tetapi popularitas nama baru itu tidak menggusur nama lama, nama arkais tadi. Dalam konteks bahasa yang tidak tertulis seperti Manggarai, proses kehilangan seperti itu hanya dapat ditunjukkan dengan beberapa contoh. Semuanya masih sangat terbatas. Tetapi dari yang terbatas itu, kita masih bisa menyingkapkan masa silam dengan baik.
Munandjar Widiyatmoko, dalam Cendana, dan Dinamika Masyarakat Nusa Tenggara Timur (2014:3-4) mengatakan bahwa dulu cendana tumbuh di sebagian besar pulau utama NTT (Flores, Sumba, Timor, Alor). Cendana dikenal dengan pelbagai nama. Di Manggarai disebut haju benge (Hemo 1987/1988:38). Tetapi akibat perdagangan internasional, kayu itu punah dari beberapa pulau utama di NTT. Kini hanya tersisa di Timor sehingga dewasa ini hanya Timor yang dikenal sebagai pulau Cendana. Sedangkan pulau lain (Flores, Sumba, Alor) hanya tinggal kenangan historis masa silam. Peristiwa kepunahan dalam sejarah masa silam NTT, tidak hanya menimpa Cendana saja. Masih ada cukup banyak jenis tetumbuhan, pepohonan lain yang sudah mengalami nasib yang sama, hanya mungkin belum terungkapkan dalam sebuah penelitian, maupun dokumentasi tertulis. Hal ini masuk akal karena NTT, menurut Parimartha (2002:181-255;363-364), berada di jalur perdagangan laut internasional sejak dahulu hingga kini. Cendana punah dari beberapa pulau NTT karena efek perdagangan internasional tersebut. Banyak orang datang mencarinya, menebangnya dan mengangkutnya untuk dipasarkan di pasar internasional, dengan meninggalkan di belakang pulau-pulau tandus, hamparan sabana dan stepa kering kerontang. Belum lagi kita perhitungkan persoalan lain seperti perubahan musim ekstrem, maupun bencana alam seperti letusan gunung berapi, seperti letusan Tambora tahun 1815 yang terkenal itu (Boers 1995:37-60), dan juga letusan gunung lain, yang sangat banyak di kawasan itu, sehingga orang mengenalnya juga dengan sebutan Ring of Fire (Cincin Api). Untuk menguak semuanya itu dibutuhkan studi mendalam.
Dalam tulisan ini, saya menelusuri nama tiga tetumbuhan di Manggarai. Dari ketiga nama tersebut ada dua pohon (haju) dan satu rumput (remang). Ketiganya ialah Lecem, Terep, Witu. Dalam uraian ini, saya mulai dengan rumput (remang Witu). Sesudah itu saya mengulas pohon (haju Lecem, Terep).
Tuesday, April 21, 2020
PATER ERWIN SCHMUTZ: SELAMAT DARI PREDATOR MANUSKRIP (BAGIAN III)
Oleh: Fransiskus Borgias
Dosen dan Peneliti Senior pada Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.
Dalam tulisan bagian pertama saya sudah singgung bahwa Pater Erwin mempunyai sebuah manuskrip setebal 800an halaman. Dan ditulis dalam Bahasa Jerman. Beberapa tahun silam, saya pernah membuat sebuah diskusi dan komunikasi singkat dengan dua orang. Yaitu Tarsis Hurmali dan seorang peneliti muda di Hutan Lindung Mbeliling, Ari Samsung. Dari percakapan itulah saya mendapat beberapa informasi berharga. Pertama informasi tentang kegiatan pater Erwin dan Pater Verheijen dan asisten local mereka, yang sedang merekam bunyi burung di hutan Mbeliling. Bahkan ada foto dokumentasi dari aktifitas itu di mana pater Erwin sedang memegang sebuah recorder kecil di tangannya dan sedang memberi perhatian serius kepada bunyi itu. Saya tidak punya hak untuk menampilkan foto itu di sini. Maafkan saya. Kedua, saya juga mendapat informasi tentang judul kumpulan catatan Pater Erwin dalam Bahasa Jerman: Die Flora der Manggarai, 1977-1980. Benar-benar luar biasa. Ketiga, dalam bagian kedua dari tulisan ini kemarin saya sudah menyinggung nama sebuah pohon yang ada di hutan Mbeliling. Pohon itu sangat tinggi menjulang. Namanya, ialah Sympetalandra schmutzii. Nah, saya lupa, entah siapa yang meng-attach foto pohon itu dalam dialog segitiga kami. Yang jelas dalam dialog di yahoo mail itu, saya dikirimi foto pohon itu. Saya juga tidak punya hak menampilkan gambar foto itu di sini. Yang jelas ada juga informasi dalam dialog itu, bahwa foto pohon itu diambil dari cover belakang sebuah buku yang melakukan semacam aktifitas konservasi hutan di Mbeliling. Kalua tidak salah judul buku itu juga menarik sekali: Searching for a Future. Luar biasa.
Dokumen setebal 800 halaman itu adalah sebuah warisan manuskrip yang sangat berharga bagi Manggarai khususnya, maupun bagi khasanah ilmu pengetahuan pada umumnya. Semoga semua dokumen itu masih selamat. Saya katakan demikian, karena ternyata semua dokumen hasil catatan-catatan bapa Uskup Wilhelmus van Bekkum sekarang ini sudah hilang, sudah tidak ada lagi. Hal itu konon yang menyebabkan bapa uskup emeritus itu menjadi sangat berputus-asa dan juga sangat marah. Walaupun saya bukan siapa-siapanya sang YM Bapa Uskup, saya pun menjadi sangat marah tatkala tahu bahwa ternyata di Manggarai bergentayangan apa yang saya sebut para “predator manuskrip”. Saya sungguh berharap bahwa dokumen pater Erwin itu tidak jatuh ke tangan para predator manuskrip seperti itu agar tidak mengalami nasib seperti semua manuskrip yang sudah dihasilkan oleh Bapa Uskup dan sekarang sudah tidak berbekas lagi.
Terkait semua manuskrip dari bapa Uskup memang ada beberapa versi cerita dan penjelasan, seperti halnya ada beberapa versi cerita dan penjelasan tentang mengapa ia tiba-tiba diganti sebagai uskup Ruteng pada waktu itu. Tetapi di sini, saya tidak mau berbicara banyak tentang hal yang terakhir ini, karena saya ini bukanlah siapa-siapa. Saya hanyalah seorang umat biasa saja. Tetapi saya mau berbicara tentang hilangnya pelbagai manuskrip beliau yang telah ia hasilkan dengan susah payah, dengan suatu kerja keras yang berkepanjangan. Apa yang sesungguhnya terjadi atau menimpa manuskrip-manuskrip itu? Ada yang mengatakan saat bapa uskup sejenak keluar dari Manggarai sesudah ia turun tahta, ada orang (entah siapa dia) yang katanya membuka kamar bapa uskup dan kemudian mengambil semua manuskrip beliau yang sesungguhnya sudah ia simpan dengan rapih dalam sebuah peti dokumen, lalu membakar semuanya sehingga tidak lagi berbekas sama sekali.
Aksi seperti inilah yang saya sebut dengan istilah aksi predator manuskrip, entah siapa pun orangnya, dan apa pun motivasi yang ada di belakangnya, atau bahkan siapa pun yang menyuruhnya bahkan mungkin juga menyewanya. Aksi pembakaran manuskrip seperti itu, kalua dilator-belakangi oleh ketidak-tahuan, maka saya anggap orang itu benar-benar orang bodoh. Kalau dilatar-belakangi oleh suatu niat jahat tertentu, saya mengatakan itu adalah aksi premanisme atas manuskrip, aksi premanisme terhadap sebuah hasil karya intelektual, hasil karya pemikiran. Itu sebabnya, sekali lagi saya sangat berharap agar dokumen dari pater Erwin tidak jatuh ke tangan para predator manuskrip seperti itu, agar kelak dokumen itu bisa menjadi warisan sejarah dan kultural Manggarai yang sangat penting dan berharga yang bisa menjadi sumbangan yang sangat penting dan berharga bagi cerita masa silam Manggarai.
Sejujurnya saya sendiri, hingga saat ini, belum pernah sempat melihat dokumen manuskrip pater Erwin itu. Dua kali saya sudah datang ke provinsialat SVD di Ruteng. Pada tahun 2013 saya pernah menghadap romo provincial SVD di Ruteng (Pater Servulus Isak SVD) untuk meminta ijin resmi dari pimpinan SVD Ruteng untuk bisa memakai teks Manggarai Teks sebagai salah satu basis sumber untuk pengerjaan disertasi saya (sebagaimana yang ditetapkan oleh Pater Verheijen sendiri pada bagian pengantar dari masing-masing dokumen tersebut). Tetapi sayangnya, pada waktu itu saya tidak sempat menanyakan hal itu (saya lupa menanyakannya karena kami sibuk membicarakan hal yang lain). Lalu pada tahun 2017 sekali lagi saya menghadap pater provincial SVD di Ruteng (Pater Joseph Masan Toron SVD). Kali ini saya datang untuk melaporkan bahwa saya sudah berhasil menyelesaikan studi saya dan sebagai buktinya saya menyerahkan salah satu eksemplar dari disertasi saya untuk diserahkan kepada SVD Ruteng dan dimasukkan ke dalam perpustakaan SVD (sebab hal ini juga diminta dengan jelas oleh Pater Jilis Verheijen sendiri). Tetapi lagi-lagi saya lupa menanyakan keberadaan dokumen manuskrip pater Erwin itu di perpustakaan SVD di Ruteng.
Tetapi saya sungguh-sungguh berharap bahwa manuskrip itu ada di Ruteng dan disimpan dengan baik dan tidak jatuh ke tangan para predator. Kalau tidak ada di Ruteng semoga ada sebuah lembaga internasional lain (semoga ada juga lembaga nasional, seperti yang menerbitkan jurnal NUSA di Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, yang beberapa edisinya pernah menerbitkan beberapa catatan dari Pater Verheijen sendiri) yang menyelamatkan dan menyimpan semua dokumen itu.
Saat melakukan sandwich program di Georgetown University di Washington DC, saya menemukan sebuah buku dari pater Verheijen tentang kamus nama tetumbuhan di Manggarai. Kamus itu diterbitkan di Australian National University (sebagai bagian utuh dari proyek studi Pasifik Selatan, Melanesia dan Polinesia). Pada saat itu saya diam-diam berharap semoga dokumen pater Erwin itu sudah selamat tiba di sana juga. Oh iya saya juga sudah pernah mendengar bahwa pater Erwin melewatkan masa tuanya di rumah SVD di salah satu kota di benua Kanguru tersebut, hanya saya lupa nama kotanya yang persis, mungkin di Sdyney. Syukur juga jika sudah ada juga yang membuat semacam studi dan kajian kritis atasnya. Tetapi hingga saat ini, sejauh pengetahuan saya, belum ada kajian kritis tentang hal itu. Setidaknya, hingga sekarang saya belum berhasil mendapatkannya. (selesai)
Dosen dan Peneliti Senior pada Fakultas Filsafat UNPAR Bandung.
Dalam tulisan bagian pertama saya sudah singgung bahwa Pater Erwin mempunyai sebuah manuskrip setebal 800an halaman. Dan ditulis dalam Bahasa Jerman. Beberapa tahun silam, saya pernah membuat sebuah diskusi dan komunikasi singkat dengan dua orang. Yaitu Tarsis Hurmali dan seorang peneliti muda di Hutan Lindung Mbeliling, Ari Samsung. Dari percakapan itulah saya mendapat beberapa informasi berharga. Pertama informasi tentang kegiatan pater Erwin dan Pater Verheijen dan asisten local mereka, yang sedang merekam bunyi burung di hutan Mbeliling. Bahkan ada foto dokumentasi dari aktifitas itu di mana pater Erwin sedang memegang sebuah recorder kecil di tangannya dan sedang memberi perhatian serius kepada bunyi itu. Saya tidak punya hak untuk menampilkan foto itu di sini. Maafkan saya. Kedua, saya juga mendapat informasi tentang judul kumpulan catatan Pater Erwin dalam Bahasa Jerman: Die Flora der Manggarai, 1977-1980. Benar-benar luar biasa. Ketiga, dalam bagian kedua dari tulisan ini kemarin saya sudah menyinggung nama sebuah pohon yang ada di hutan Mbeliling. Pohon itu sangat tinggi menjulang. Namanya, ialah Sympetalandra schmutzii. Nah, saya lupa, entah siapa yang meng-attach foto pohon itu dalam dialog segitiga kami. Yang jelas dalam dialog di yahoo mail itu, saya dikirimi foto pohon itu. Saya juga tidak punya hak menampilkan gambar foto itu di sini. Yang jelas ada juga informasi dalam dialog itu, bahwa foto pohon itu diambil dari cover belakang sebuah buku yang melakukan semacam aktifitas konservasi hutan di Mbeliling. Kalua tidak salah judul buku itu juga menarik sekali: Searching for a Future. Luar biasa.
Dokumen setebal 800 halaman itu adalah sebuah warisan manuskrip yang sangat berharga bagi Manggarai khususnya, maupun bagi khasanah ilmu pengetahuan pada umumnya. Semoga semua dokumen itu masih selamat. Saya katakan demikian, karena ternyata semua dokumen hasil catatan-catatan bapa Uskup Wilhelmus van Bekkum sekarang ini sudah hilang, sudah tidak ada lagi. Hal itu konon yang menyebabkan bapa uskup emeritus itu menjadi sangat berputus-asa dan juga sangat marah. Walaupun saya bukan siapa-siapanya sang YM Bapa Uskup, saya pun menjadi sangat marah tatkala tahu bahwa ternyata di Manggarai bergentayangan apa yang saya sebut para “predator manuskrip”. Saya sungguh berharap bahwa dokumen pater Erwin itu tidak jatuh ke tangan para predator manuskrip seperti itu agar tidak mengalami nasib seperti semua manuskrip yang sudah dihasilkan oleh Bapa Uskup dan sekarang sudah tidak berbekas lagi.
Terkait semua manuskrip dari bapa Uskup memang ada beberapa versi cerita dan penjelasan, seperti halnya ada beberapa versi cerita dan penjelasan tentang mengapa ia tiba-tiba diganti sebagai uskup Ruteng pada waktu itu. Tetapi di sini, saya tidak mau berbicara banyak tentang hal yang terakhir ini, karena saya ini bukanlah siapa-siapa. Saya hanyalah seorang umat biasa saja. Tetapi saya mau berbicara tentang hilangnya pelbagai manuskrip beliau yang telah ia hasilkan dengan susah payah, dengan suatu kerja keras yang berkepanjangan. Apa yang sesungguhnya terjadi atau menimpa manuskrip-manuskrip itu? Ada yang mengatakan saat bapa uskup sejenak keluar dari Manggarai sesudah ia turun tahta, ada orang (entah siapa dia) yang katanya membuka kamar bapa uskup dan kemudian mengambil semua manuskrip beliau yang sesungguhnya sudah ia simpan dengan rapih dalam sebuah peti dokumen, lalu membakar semuanya sehingga tidak lagi berbekas sama sekali.
Aksi seperti inilah yang saya sebut dengan istilah aksi predator manuskrip, entah siapa pun orangnya, dan apa pun motivasi yang ada di belakangnya, atau bahkan siapa pun yang menyuruhnya bahkan mungkin juga menyewanya. Aksi pembakaran manuskrip seperti itu, kalua dilator-belakangi oleh ketidak-tahuan, maka saya anggap orang itu benar-benar orang bodoh. Kalau dilatar-belakangi oleh suatu niat jahat tertentu, saya mengatakan itu adalah aksi premanisme atas manuskrip, aksi premanisme terhadap sebuah hasil karya intelektual, hasil karya pemikiran. Itu sebabnya, sekali lagi saya sangat berharap agar dokumen dari pater Erwin tidak jatuh ke tangan para predator manuskrip seperti itu, agar kelak dokumen itu bisa menjadi warisan sejarah dan kultural Manggarai yang sangat penting dan berharga yang bisa menjadi sumbangan yang sangat penting dan berharga bagi cerita masa silam Manggarai.
Sejujurnya saya sendiri, hingga saat ini, belum pernah sempat melihat dokumen manuskrip pater Erwin itu. Dua kali saya sudah datang ke provinsialat SVD di Ruteng. Pada tahun 2013 saya pernah menghadap romo provincial SVD di Ruteng (Pater Servulus Isak SVD) untuk meminta ijin resmi dari pimpinan SVD Ruteng untuk bisa memakai teks Manggarai Teks sebagai salah satu basis sumber untuk pengerjaan disertasi saya (sebagaimana yang ditetapkan oleh Pater Verheijen sendiri pada bagian pengantar dari masing-masing dokumen tersebut). Tetapi sayangnya, pada waktu itu saya tidak sempat menanyakan hal itu (saya lupa menanyakannya karena kami sibuk membicarakan hal yang lain). Lalu pada tahun 2017 sekali lagi saya menghadap pater provincial SVD di Ruteng (Pater Joseph Masan Toron SVD). Kali ini saya datang untuk melaporkan bahwa saya sudah berhasil menyelesaikan studi saya dan sebagai buktinya saya menyerahkan salah satu eksemplar dari disertasi saya untuk diserahkan kepada SVD Ruteng dan dimasukkan ke dalam perpustakaan SVD (sebab hal ini juga diminta dengan jelas oleh Pater Jilis Verheijen sendiri). Tetapi lagi-lagi saya lupa menanyakan keberadaan dokumen manuskrip pater Erwin itu di perpustakaan SVD di Ruteng.
Tetapi saya sungguh-sungguh berharap bahwa manuskrip itu ada di Ruteng dan disimpan dengan baik dan tidak jatuh ke tangan para predator. Kalau tidak ada di Ruteng semoga ada sebuah lembaga internasional lain (semoga ada juga lembaga nasional, seperti yang menerbitkan jurnal NUSA di Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, yang beberapa edisinya pernah menerbitkan beberapa catatan dari Pater Verheijen sendiri) yang menyelamatkan dan menyimpan semua dokumen itu.
Saat melakukan sandwich program di Georgetown University di Washington DC, saya menemukan sebuah buku dari pater Verheijen tentang kamus nama tetumbuhan di Manggarai. Kamus itu diterbitkan di Australian National University (sebagai bagian utuh dari proyek studi Pasifik Selatan, Melanesia dan Polinesia). Pada saat itu saya diam-diam berharap semoga dokumen pater Erwin itu sudah selamat tiba di sana juga. Oh iya saya juga sudah pernah mendengar bahwa pater Erwin melewatkan masa tuanya di rumah SVD di salah satu kota di benua Kanguru tersebut, hanya saya lupa nama kotanya yang persis, mungkin di Sdyney. Syukur juga jika sudah ada juga yang membuat semacam studi dan kajian kritis atasnya. Tetapi hingga saat ini, sejauh pengetahuan saya, belum ada kajian kritis tentang hal itu. Setidaknya, hingga sekarang saya belum berhasil mendapatkannya. (selesai)
Monday, April 20, 2020
PATER ERWIN: MENELITI FLORA DAN FAUNA MANGGARAI (BAGIAN II)
Oleh: Fransiskus Borgias
Dosen dan Peneliti Senior pada Fakultas Filsafat UNPAR, Bandung
Itulah sebabnya Pater Erwin secara luas diakui kepakarannya di bidang botani (walau pater sendiri sering sekali menyebut dirinya “an amateur botanist”). Begini kata P.J.Verheijen (kolega SVD) tentang dia: “...Erwin Schmutz, who has by now developed into an undisputed authority on Florinese flora” (p.3). Dalam kapasitas seperti itu, P.Erwin ikut membantu dalam proses menulis kamus nama tumbuhan Manggarai yang ditulis P.J.Verhejen. Dalam kamus ini, khusus dalam bagian Taxonomi Manggarai (ada Manggaraian-taxonomy, yang mulai dari bahasa biologi internasional) ada lima kolom. Kolom I: the Manggarai “classifiers”. Kolom II: the Manggarai names. Kolom III: the abbreviations of the find-spots. Kolom IV: the herbarium numbers. Kolom V: the Latin scientific nomenclature. Kolom ketiga menurut P.J.Verheijen, sebagian besar merupakan sumbangan P.Erwin: “One only has to take a look at the third column in the first list to recognize how prominent a share he took in the work” (p.3). Begitulah cara P.Verheijen mengakui peran dan kontribusi beliau dalam proses menulis buku itu.
Tetapi apa arti penting Kolom III ini dalam buku P.Verheijen? Arti pentingnya terletak dalam fakta bahwa Kolom III itu menunjukkan di mana tetumbuhan itu ada atau ditemukan di Manggarai. Biasanya yang disebut ialah wilayah ke-dalu-an, walau ada tetumbuhan yang tumbuh lintas ke-dalu-an. Untuk mengetahui hal itu, P.Erwin berkeliling seluruh Manggarai atau mereka dibantu oleh beberapa orang setempat. Itu sebabnya nama-nama mereka juga disebut lengkap dalam buku itu dan diakui peran dan jasanya (p.5). Ada juga bantuan dan koreksi langsung P.Erwin kepada P.Verheijen yang tidak lupa diakui dengan rendah hati oleh pater Verheijen juga: “In addition to direct contributions he gave me valuable advice and made corrections on various points” (p.3).
Konon ada tumbuhan yang baru ditemukan P.Erwin di hutan Sano Nggoang (hutan lindung Mbeliling). Dan pada saat itu tumbuhan itu belum ada nama Latinnya dalam kamus biologi internasional. Maka tumbuhan itu diberi nama Latin dan di belakangnya diberi penanda spesifikasi “schmutzii.” Jika besok lusa para pembaca sekalian ketemu dengan nama ini dalam buku/kamus biologi, nah itulah nama P.Erwin. Dalam kamus P.Verheijen yang disinggung di atas belum terdaftar. Maklumlah, kamus P.Verheijen terbit 1982, dan pengakuan itu terjadi sesudahnya. Mereka bisa berbuat begini karena mempunyai jaringan yang luas dan kuat juga secara finansial. Misalnya beliau didukung oleh botanical-studies dari Universitas Leiden (Belanda), dan juga bagian riset dan pengembangan Kebun Raya Bogor.
Kesaksian Verheijen: “Botanically speaking, the area is highly interesting. There are rainforest, monsoon forests, secondary forests, vast grassy plains both in dry and rainy areas” (p.1). Yang dimaksud dengan “vast grassy plains” ialah pumpuk (curculigo orchioides, p.57). Ini adalah sesuatu yang khas, unik, dan menarik kata P.Verheijen. Kini fenomena pumpuk itu menghilang karena reboisasi di mana-mana. Dalam kolom ketiga disebutkan finding-spot untuk pumpuk ialah Rego dan Pacar, padahal faktanya pumpuk dulu ada di mana-mana di Manggarai. Mungkin di kedua tempat tadi lebih luas daripada di tempat lain. Misalnya, di SDK Ketang (Lelak) dulu ada pumpuk yang besar. Begitu juga di Bung, Nte’er (Barat Norang), Pa’ang Lembor, di Ngkor. Dewasa ini sebagian besar “pumpuk” itu hilang karena kawasan pumpuk penuh pepohonan (baik yang ditanam manusia maupun yang tumbuh secara alami). Sejalan dengan menghilangnya pumpuk itu karena reboisasi dan ledakan penduduk, maka mungkin lama-lama kata pumpuk itu juga akan hilang dari perbendaharaan kosa kata bahasa Manggarai. Mungkin anak-anak Manggarai yang lahir di atas tahun 90-an sudah tidak tahu lagi kata pumpuk itu. tetapi syukurlah kata pumpuk itu sudah terselamatkan dalam kamus bahasa Manggarai yang merupakan salah satu hasil karya monumental dari Pater Verheijen.
P.Erwin mengabadikan namanya pada beberapa tumbuhan dan hal itu diakui dunia botani-biologi internasional. Pertama, ia memakai namanya pada pohon Narep (Naret) yang ditemukan di hutan Mbeliling. Pohon itu diabadikan dengan nama biologi-botani Sympetalandra schmutzii. Kata terakhir schmutzii ini berasal dari nama beliau, Schmutz (Verheijen, 1982:46). Kedua, ia juga memberi namanya pada pohon yang di Manggarai dikenal dengan nama Giro-Keker, atau Keker II, atau Keker Rona, yang ditemukan di Ruteng dan diabadikan dengan nama Saurauia schmutzii (Verheijen, 1982:22, 27, 122). Pohon ini ada dua jenis. Karena jenis pertama sudah diberi nama P.Erwin, maka jenis kedua diberi nama Latin dengan tambahan nama P.Verheijen, sehingga menjadi Saurauia verheijenii (1982:22; 122). Ketiga, pohon yang oleh orang setempat dikenal dengan sebutan Anak-Watu I. Pohon ini ditemukan di Mata wae, dan diberi nama biologi Diospyros schmutzii (Verheijen, 1982:12). Keempat, ia juga memberi namanya pada pohon yang disebut Lawar III, yang ditemukan di Matawae, sehingga nama Latin-nya ialah Eleaocarpus Schmutzii (Verheijen 1982:34). Pohon ini juga dikenal dengan nama Rangga-Po (Verheijen 1982:97). Tumbuhan tadi ada juga varian lain yang dikenal dengan nama Lawar-Koe, yang ditemukan di Matawae, diberi nama Latin Eleaocarpus Verheijenii (Verheijen 1982:97). Nama P.Verheijen juga bisa ditemukan pada nama Latin untuk tumbuhan Tempul-rona, yang ditemukan di Matawae, Kempo. Tumbuhan ini dalam kamus botani diberi nama Saurauia cf.verheijenii (Verheijen 1982:69).
Tidak hanya mengabadikan nama diri. P.Erwin sebagai peneliti juga mengabadikan nama SVD pada tumbuhan yang ditemukannya dan belum ada nama ilmiah Latinnya dalam kamus biologi internasional. Misalnya pohon yang di Manggarai dikenal dengan nama Lando-Rata II, yang ditemukan di Matawae. Tumbuhan ini diberi nama ilmiah Latin Hybanthus enneaspermus var.verbi-divini (Verheijen, 1982:33). Lando-Rata I, yang ditemukan di Wontong dan Berit oleh P.Erwin, juga dikenal dengan sebutan Mundung-Kuse (Verheijen 1982:33) dan diberi nama Latin ada tiga: Muntung-Kuse I (ditemukan di Denge), yang juga dikenal dengan varian Wae di Lelak, Eurya (Verheijen 1982:72), Muntung-Kuse II yaitu Polygonum (Verheijen 1982:45), Muntung-Kuse III (ditemukan di Todo), Clethra Canescens var.Canescens (Verheijen 1982:45).
Ada juga tetumbuhan yang diabadikan dengan memakai nama tempat ditemukannya tumbuhan tersebut. Di daerah Ruteng ada pohon yang bernama Piras IV, dari koleksi v, dengan nama Latin-ilmiah Elaeocarpus Rutengii (Verheijen 1982:6). Jadi, lumayan, setidaknya dalam kamus botani-biologi internasional kini ada nama kota Ruteng yang juga diabadikan. Selain itu ada juga yang diabadikan dengan nama pulau Flores. Nama ini dikenakan pada tumbuhan yang disebut Sasang-Manuk II, yang ditemukan di Matawae. Nama ilmiah-Latin botaninya ialah Urobotrya floresensis (Verheijen 1982:64). Pemakaian nama pulau Flores ini sangat penting sebab sebelumnya sudah ada pulau Timor, Sumba, dan Sumbawa, dan Jawa, dst., yang dipakai pada nama tumbuhan. (Bersambung…) (Bahan dasar untuk bagian ini ditulis di perpustakaan Georgetown University, Washington DC, di mana saya menemukan beberapa buku dari Pater Verheijen yang saya singgung dalam tulisan ini).
Dosen dan Peneliti Senior pada Fakultas Filsafat UNPAR, Bandung
Itulah sebabnya Pater Erwin secara luas diakui kepakarannya di bidang botani (walau pater sendiri sering sekali menyebut dirinya “an amateur botanist”). Begini kata P.J.Verheijen (kolega SVD) tentang dia: “...Erwin Schmutz, who has by now developed into an undisputed authority on Florinese flora” (p.3). Dalam kapasitas seperti itu, P.Erwin ikut membantu dalam proses menulis kamus nama tumbuhan Manggarai yang ditulis P.J.Verhejen. Dalam kamus ini, khusus dalam bagian Taxonomi Manggarai (ada Manggaraian-taxonomy, yang mulai dari bahasa biologi internasional) ada lima kolom. Kolom I: the Manggarai “classifiers”. Kolom II: the Manggarai names. Kolom III: the abbreviations of the find-spots. Kolom IV: the herbarium numbers. Kolom V: the Latin scientific nomenclature. Kolom ketiga menurut P.J.Verheijen, sebagian besar merupakan sumbangan P.Erwin: “One only has to take a look at the third column in the first list to recognize how prominent a share he took in the work” (p.3). Begitulah cara P.Verheijen mengakui peran dan kontribusi beliau dalam proses menulis buku itu.
Tetapi apa arti penting Kolom III ini dalam buku P.Verheijen? Arti pentingnya terletak dalam fakta bahwa Kolom III itu menunjukkan di mana tetumbuhan itu ada atau ditemukan di Manggarai. Biasanya yang disebut ialah wilayah ke-dalu-an, walau ada tetumbuhan yang tumbuh lintas ke-dalu-an. Untuk mengetahui hal itu, P.Erwin berkeliling seluruh Manggarai atau mereka dibantu oleh beberapa orang setempat. Itu sebabnya nama-nama mereka juga disebut lengkap dalam buku itu dan diakui peran dan jasanya (p.5). Ada juga bantuan dan koreksi langsung P.Erwin kepada P.Verheijen yang tidak lupa diakui dengan rendah hati oleh pater Verheijen juga: “In addition to direct contributions he gave me valuable advice and made corrections on various points” (p.3).
Konon ada tumbuhan yang baru ditemukan P.Erwin di hutan Sano Nggoang (hutan lindung Mbeliling). Dan pada saat itu tumbuhan itu belum ada nama Latinnya dalam kamus biologi internasional. Maka tumbuhan itu diberi nama Latin dan di belakangnya diberi penanda spesifikasi “schmutzii.” Jika besok lusa para pembaca sekalian ketemu dengan nama ini dalam buku/kamus biologi, nah itulah nama P.Erwin. Dalam kamus P.Verheijen yang disinggung di atas belum terdaftar. Maklumlah, kamus P.Verheijen terbit 1982, dan pengakuan itu terjadi sesudahnya. Mereka bisa berbuat begini karena mempunyai jaringan yang luas dan kuat juga secara finansial. Misalnya beliau didukung oleh botanical-studies dari Universitas Leiden (Belanda), dan juga bagian riset dan pengembangan Kebun Raya Bogor.
Kesaksian Verheijen: “Botanically speaking, the area is highly interesting. There are rainforest, monsoon forests, secondary forests, vast grassy plains both in dry and rainy areas” (p.1). Yang dimaksud dengan “vast grassy plains” ialah pumpuk (curculigo orchioides, p.57). Ini adalah sesuatu yang khas, unik, dan menarik kata P.Verheijen. Kini fenomena pumpuk itu menghilang karena reboisasi di mana-mana. Dalam kolom ketiga disebutkan finding-spot untuk pumpuk ialah Rego dan Pacar, padahal faktanya pumpuk dulu ada di mana-mana di Manggarai. Mungkin di kedua tempat tadi lebih luas daripada di tempat lain. Misalnya, di SDK Ketang (Lelak) dulu ada pumpuk yang besar. Begitu juga di Bung, Nte’er (Barat Norang), Pa’ang Lembor, di Ngkor. Dewasa ini sebagian besar “pumpuk” itu hilang karena kawasan pumpuk penuh pepohonan (baik yang ditanam manusia maupun yang tumbuh secara alami). Sejalan dengan menghilangnya pumpuk itu karena reboisasi dan ledakan penduduk, maka mungkin lama-lama kata pumpuk itu juga akan hilang dari perbendaharaan kosa kata bahasa Manggarai. Mungkin anak-anak Manggarai yang lahir di atas tahun 90-an sudah tidak tahu lagi kata pumpuk itu. tetapi syukurlah kata pumpuk itu sudah terselamatkan dalam kamus bahasa Manggarai yang merupakan salah satu hasil karya monumental dari Pater Verheijen.
P.Erwin mengabadikan namanya pada beberapa tumbuhan dan hal itu diakui dunia botani-biologi internasional. Pertama, ia memakai namanya pada pohon Narep (Naret) yang ditemukan di hutan Mbeliling. Pohon itu diabadikan dengan nama biologi-botani Sympetalandra schmutzii. Kata terakhir schmutzii ini berasal dari nama beliau, Schmutz (Verheijen, 1982:46). Kedua, ia juga memberi namanya pada pohon yang di Manggarai dikenal dengan nama Giro-Keker, atau Keker II, atau Keker Rona, yang ditemukan di Ruteng dan diabadikan dengan nama Saurauia schmutzii (Verheijen, 1982:22, 27, 122). Pohon ini ada dua jenis. Karena jenis pertama sudah diberi nama P.Erwin, maka jenis kedua diberi nama Latin dengan tambahan nama P.Verheijen, sehingga menjadi Saurauia verheijenii (1982:22; 122). Ketiga, pohon yang oleh orang setempat dikenal dengan sebutan Anak-Watu I. Pohon ini ditemukan di Mata wae, dan diberi nama biologi Diospyros schmutzii (Verheijen, 1982:12). Keempat, ia juga memberi namanya pada pohon yang disebut Lawar III, yang ditemukan di Matawae, sehingga nama Latin-nya ialah Eleaocarpus Schmutzii (Verheijen 1982:34). Pohon ini juga dikenal dengan nama Rangga-Po (Verheijen 1982:97). Tumbuhan tadi ada juga varian lain yang dikenal dengan nama Lawar-Koe, yang ditemukan di Matawae, diberi nama Latin Eleaocarpus Verheijenii (Verheijen 1982:97). Nama P.Verheijen juga bisa ditemukan pada nama Latin untuk tumbuhan Tempul-rona, yang ditemukan di Matawae, Kempo. Tumbuhan ini dalam kamus botani diberi nama Saurauia cf.verheijenii (Verheijen 1982:69).
Tidak hanya mengabadikan nama diri. P.Erwin sebagai peneliti juga mengabadikan nama SVD pada tumbuhan yang ditemukannya dan belum ada nama ilmiah Latinnya dalam kamus biologi internasional. Misalnya pohon yang di Manggarai dikenal dengan nama Lando-Rata II, yang ditemukan di Matawae. Tumbuhan ini diberi nama ilmiah Latin Hybanthus enneaspermus var.verbi-divini (Verheijen, 1982:33). Lando-Rata I, yang ditemukan di Wontong dan Berit oleh P.Erwin, juga dikenal dengan sebutan Mundung-Kuse (Verheijen 1982:33) dan diberi nama Latin ada tiga: Muntung-Kuse I (ditemukan di Denge), yang juga dikenal dengan varian Wae di Lelak, Eurya (Verheijen 1982:72), Muntung-Kuse II yaitu Polygonum (Verheijen 1982:45), Muntung-Kuse III (ditemukan di Todo), Clethra Canescens var.Canescens (Verheijen 1982:45).
Ada juga tetumbuhan yang diabadikan dengan memakai nama tempat ditemukannya tumbuhan tersebut. Di daerah Ruteng ada pohon yang bernama Piras IV, dari koleksi v, dengan nama Latin-ilmiah Elaeocarpus Rutengii (Verheijen 1982:6). Jadi, lumayan, setidaknya dalam kamus botani-biologi internasional kini ada nama kota Ruteng yang juga diabadikan. Selain itu ada juga yang diabadikan dengan nama pulau Flores. Nama ini dikenakan pada tumbuhan yang disebut Sasang-Manuk II, yang ditemukan di Matawae. Nama ilmiah-Latin botaninya ialah Urobotrya floresensis (Verheijen 1982:64). Pemakaian nama pulau Flores ini sangat penting sebab sebelumnya sudah ada pulau Timor, Sumba, dan Sumbawa, dan Jawa, dst., yang dipakai pada nama tumbuhan. (Bersambung…) (Bahan dasar untuk bagian ini ditulis di perpustakaan Georgetown University, Washington DC, di mana saya menemukan beberapa buku dari Pater Verheijen yang saya singgung dalam tulisan ini).
Sunday, April 19, 2020
MENGENAL KARYA P.ERWIN SCHMUTZ SVD (BAGIAN I) Sebuah Catatan Kecil
Oleh: Dr.Fransiskus Borgias, MA.
Peneliti dan dosen Fakultas Filsafat UNPAR Bandung
Dr.Karel Steenbrink (profesor misiologi Universitas Utrecht, Netherlands) pernah berkata, dalam bukunya Orang-orang Katolik di Indonesia 2, bahwa ada “tiga-raksasa” misionaris SVD yang sangat berjasa dalam bidang antropologi, etnologi, linguistik, dan agama asli di NTT. Dua di antaranya bekerja di Flores, dan satu bekerja di Timor. Yang di Flores ialah P.Paul Arndt SVD yang mendalami antropologi budaya (ragawi) mulai dari Bajawa ke timur (Ende, Maumere, Larantuka, hingga ke pulau-pulau kecil sebelah timur). P.Arndt menghasilkan beberapa karya besar. Beberapa di antaranya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan (kalau tidak salah) oleh Pusat Penelitian Antropologi SVD Chandraditya, Ledalero, Maumere, Flores, NTT.
Yang kedua ialah P.J.Verheijen SVD yang bekerja di Manggarai dan mendalami Manggarai (budaya, bahasa, antroplogi, kepercayaan asli). Dia tiba di Manggarai tahun 1936. Beliau juga sudah menghasilkan banyak karya monumental tentang Manggarai. Antara lain ia menerbitkan Kamus Bahasa Manggarai-Indonesia dan Indonesia-Manggarai dan buku tentang sistem kepercayaan asli Manggarai, dan Manggarai Text (17 jilid). Yang ketiga ialah P.Bernard Vroklage SVD, yang bekerja di Timor yang menghasilkan karya ilmiah tentang Timor (Steenbrink 2006/2:300-301). Di Timor, orang ini melakukan banyak penelitian antropologis-etnologis tentang sistem kepecayaan asli di sana.
Sedemikian besarnya jasa para raksasa misionaris ini, sehingga antropolog dan misiolog/teolog di kemudian hari yang meneliti NTT tidak mungkin mengabaikan nama-nama para misionaris agung ini sebab mereka sudah menghasilkan banyak karya penting tentang wilayah itu. Itulah yang disadari oleh A.Molnar (1997, 2000), M.Erb (1986, 1999), C.Allerton (2002, 2013), M.Moeliono (2000), G.Forth (1987), J.Fox (1988), P.Webb (1986, 1990), P.Ph.Tule SVD (2004), J.Hoskins (1993, 1998), E.Woga (1994), Dami N.Toda (1999), Robert Lawang (1999), Marsel Robot (2008), Fransiska Widyawati (2013), dll. Itu hanya beberapa nama. Pasti masih ada nama peneliti NTT lainnya yang luput dari pengamatan saya. Mereka pasti berurusan dengan tiga raksasa tadi. Betapa besar jasa mereka bagi peneliti masa kini di NTT. Saya sendiri, saat merampungkan studi, berutang budi pada P.J.Verheijen dan Uskup van Bekkum. Mereka menyumbang banyak gagasan/pemikiran bagi saya dalam proses penulisan disertasi tentang Manggarai.
Dengan mengikuti pola kategorisasi K.Steenbrink tadi, saya pun berpendapat bahwa ada “empat raksasa” misionaris SVD yang bekerja di dan sangat berjasa bagi Manggarai Raya. Keempat orang itu ialah sbb: 1). P.Jilis Verheijen SVD, 2). Uskup Wilhelmus van Bekkum SVD, 3). P.Adolf Burger SVD, dan akhirnya 4). P.Erwin Schmutz SVD. (NB: Sesungguhnya ada misionaris lain yang juga harus saya sebut namanya. Ia berasal dari kalangan OFM. Namanya P.Vicente Kunrath OFM. Pater Vicente ini juga adalah seorang yang menaruh minat yang sangat besar akan hidup dan kebudayaan orang Manggarai. seperti halnya ketiga tokoh di atas tadi, Pater Vicente pun mempunyai banyak catatan tulisan tangan tentang Manggarai. Hanya sayang belum ada yang diterbitkan. Mungkin juga tidak ada lagi catatan-catatan beliau tentang Manggarai yang masih selamat. Tetapi saya sungguh tahu bahwa ia rajin mencatat). Apa kehebatan dan kebesaran orang-orang ini sehingga patut dikenang dan ditulis? Itulah yang ingin saya bahas dalam untaian tulisan singkat dan sederhana ini. Di sini saya hanya mau mulai dengan mengulas tentang P.Erwin Schmutz. Saya berharap semoga pada kesempatan lain saya akan sempat membuat ulasan singkat juga tentang ketiga tokoh yang lainnya.
Siapa orang ini? Mungkin tidak banyak orang Manggarai yang mengenal dia, apalagi anak-anak Manggarai generasi 90an kemari (milenials), barangkali dengan kekecualian mereka yang berasal dari Manggarai Barat. Sejauh saya ketahui, sebagai pastor paroki ia mungkin kurang dikenal di bagian lain di Manggarai tetapi di Mabar ia dikenal luas, di banyak kalangan, juga di luar orang Katolik. Dia adalah pastor SVD. Ia datang ke Manggarai mungkin tidak lama sesudah PD II. Konon beliau adalah bekas tentara PD II yang bekerja di layanan medis militer Jerman. Selesai PD-II ia menjadi imam, sesuatu yang biasa pada waktu itu di daerah kantong Katolik Eropa. Tidak lama setelah itu ia diutus untuk bekerja sebagai misionaris SVD ke Manggarai. Sejauh saya ketahui ia banyak bertugas sebagai pastor paroki di Nunang. Ia sangat lama bekerja di Nunang. Oleh karena itu ia sangat akrab dengan Sano Nggoang dan hutan sekitarnya yang lebat, yaitu kawasan hutan lindung Mbeliling yang kini terkenal itu.
Sebagai mantan Pastor militer, ia orangnya berani dan tegas, bertampang cenderung galak, dengan sorot mata tajam menukik seperti rajawali, dengan alis mata lebat, yang seakan menyembunyikan tatapan bola mata biru dan bening. Tetapi sebenarnya ia adalah pastor yang ramah. Sebagai anggota militer yang memberi layanan medis, di pedalaman Nunang ia juga memberi layanan medis: Memberi obat-obatan dan menolong orang sakit bahkan juga ibu-ibu bersalin. Dalam hal ini ia termasuk kategori pemberani sejati (mungkin rada nekat juga). Tahun 80-an ia bekerja di paroki Rangga (Lembor). Cukup lama ia kerja di sana. Di Rangga itulah ia berkenalan dengan keluarga kami, terutama dengan ayah saya, seorang guru di SDK Rangga. Pastor Erwin juga dikenal sebagai perokok. Terkait hobinya ini, konon di pastoran Rangga ia pernah bercanda bahwa di sini ada asbak terbesar sedunia yaitu lantai.
Dalam riset lapangan saya di Perang akhir 2013, umat di Rangga, setelah mereka tahu bahwa saya adalah seorang peneliti kebudayaan (yang sedang meneliti dalam rangka menulis disertasi doktoral), berkata kepada saya demikian: Dulu pak Frans, Pater Erwin itu sering dijumpai di hutan-hutan. Kalau bertemu kita terkejut karena mengira dia “empo deghong”. Kalau ditanya, Pater cari apa? Dia menjawab: Cari lumut di hutan. Mereka (umat) mengaku bingung mendengar jawaban itu. Mereka tidak tahu tentang P.Erwin di luar tugas utamanya sebagai seorang pastor paroki. Umat hanya tahu bahwa ia adalah seorang pastor paroki. Di luar itu orang tidak tahu. Tetapi sebenarnya dia adalah seorang peneliti. Dan sebagai seorang peneliti ia meneliti botani dan biologi di daerah Mabar. Termasuk tumbuhan obat-obatan herbal. Apa hasilnya? Mengagumkan. Tentang hal itulah yang ingin saya sharingkan di dalam tulisan singkat ini. Hasil penelitiannya itu ia tulis, ia dokumentasikan dalam pelbagai catatan dan ketikan. Pater Verheijen dalam salah satu kesempatan menulis bahwa Pater Erwin mengumpulkan catatan penelitiannya sampai berjumlah 800an halaman. Semua ditulis dalam bahasa Jerman. Sesekali Pater Erwin juga mempublikasikan hasil penelitiannya, atau setidaknya ia mengkomunikasikan hasil risetnya kepada komunitas ilmuwan internasional. (Bersambung…)
Peneliti dan dosen Fakultas Filsafat UNPAR Bandung
Dr.Karel Steenbrink (profesor misiologi Universitas Utrecht, Netherlands) pernah berkata, dalam bukunya Orang-orang Katolik di Indonesia 2, bahwa ada “tiga-raksasa” misionaris SVD yang sangat berjasa dalam bidang antropologi, etnologi, linguistik, dan agama asli di NTT. Dua di antaranya bekerja di Flores, dan satu bekerja di Timor. Yang di Flores ialah P.Paul Arndt SVD yang mendalami antropologi budaya (ragawi) mulai dari Bajawa ke timur (Ende, Maumere, Larantuka, hingga ke pulau-pulau kecil sebelah timur). P.Arndt menghasilkan beberapa karya besar. Beberapa di antaranya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan (kalau tidak salah) oleh Pusat Penelitian Antropologi SVD Chandraditya, Ledalero, Maumere, Flores, NTT.
Yang kedua ialah P.J.Verheijen SVD yang bekerja di Manggarai dan mendalami Manggarai (budaya, bahasa, antroplogi, kepercayaan asli). Dia tiba di Manggarai tahun 1936. Beliau juga sudah menghasilkan banyak karya monumental tentang Manggarai. Antara lain ia menerbitkan Kamus Bahasa Manggarai-Indonesia dan Indonesia-Manggarai dan buku tentang sistem kepercayaan asli Manggarai, dan Manggarai Text (17 jilid). Yang ketiga ialah P.Bernard Vroklage SVD, yang bekerja di Timor yang menghasilkan karya ilmiah tentang Timor (Steenbrink 2006/2:300-301). Di Timor, orang ini melakukan banyak penelitian antropologis-etnologis tentang sistem kepecayaan asli di sana.
Sedemikian besarnya jasa para raksasa misionaris ini, sehingga antropolog dan misiolog/teolog di kemudian hari yang meneliti NTT tidak mungkin mengabaikan nama-nama para misionaris agung ini sebab mereka sudah menghasilkan banyak karya penting tentang wilayah itu. Itulah yang disadari oleh A.Molnar (1997, 2000), M.Erb (1986, 1999), C.Allerton (2002, 2013), M.Moeliono (2000), G.Forth (1987), J.Fox (1988), P.Webb (1986, 1990), P.Ph.Tule SVD (2004), J.Hoskins (1993, 1998), E.Woga (1994), Dami N.Toda (1999), Robert Lawang (1999), Marsel Robot (2008), Fransiska Widyawati (2013), dll. Itu hanya beberapa nama. Pasti masih ada nama peneliti NTT lainnya yang luput dari pengamatan saya. Mereka pasti berurusan dengan tiga raksasa tadi. Betapa besar jasa mereka bagi peneliti masa kini di NTT. Saya sendiri, saat merampungkan studi, berutang budi pada P.J.Verheijen dan Uskup van Bekkum. Mereka menyumbang banyak gagasan/pemikiran bagi saya dalam proses penulisan disertasi tentang Manggarai.
Dengan mengikuti pola kategorisasi K.Steenbrink tadi, saya pun berpendapat bahwa ada “empat raksasa” misionaris SVD yang bekerja di dan sangat berjasa bagi Manggarai Raya. Keempat orang itu ialah sbb: 1). P.Jilis Verheijen SVD, 2). Uskup Wilhelmus van Bekkum SVD, 3). P.Adolf Burger SVD, dan akhirnya 4). P.Erwin Schmutz SVD. (NB: Sesungguhnya ada misionaris lain yang juga harus saya sebut namanya. Ia berasal dari kalangan OFM. Namanya P.Vicente Kunrath OFM. Pater Vicente ini juga adalah seorang yang menaruh minat yang sangat besar akan hidup dan kebudayaan orang Manggarai. seperti halnya ketiga tokoh di atas tadi, Pater Vicente pun mempunyai banyak catatan tulisan tangan tentang Manggarai. Hanya sayang belum ada yang diterbitkan. Mungkin juga tidak ada lagi catatan-catatan beliau tentang Manggarai yang masih selamat. Tetapi saya sungguh tahu bahwa ia rajin mencatat). Apa kehebatan dan kebesaran orang-orang ini sehingga patut dikenang dan ditulis? Itulah yang ingin saya bahas dalam untaian tulisan singkat dan sederhana ini. Di sini saya hanya mau mulai dengan mengulas tentang P.Erwin Schmutz. Saya berharap semoga pada kesempatan lain saya akan sempat membuat ulasan singkat juga tentang ketiga tokoh yang lainnya.
Siapa orang ini? Mungkin tidak banyak orang Manggarai yang mengenal dia, apalagi anak-anak Manggarai generasi 90an kemari (milenials), barangkali dengan kekecualian mereka yang berasal dari Manggarai Barat. Sejauh saya ketahui, sebagai pastor paroki ia mungkin kurang dikenal di bagian lain di Manggarai tetapi di Mabar ia dikenal luas, di banyak kalangan, juga di luar orang Katolik. Dia adalah pastor SVD. Ia datang ke Manggarai mungkin tidak lama sesudah PD II. Konon beliau adalah bekas tentara PD II yang bekerja di layanan medis militer Jerman. Selesai PD-II ia menjadi imam, sesuatu yang biasa pada waktu itu di daerah kantong Katolik Eropa. Tidak lama setelah itu ia diutus untuk bekerja sebagai misionaris SVD ke Manggarai. Sejauh saya ketahui ia banyak bertugas sebagai pastor paroki di Nunang. Ia sangat lama bekerja di Nunang. Oleh karena itu ia sangat akrab dengan Sano Nggoang dan hutan sekitarnya yang lebat, yaitu kawasan hutan lindung Mbeliling yang kini terkenal itu.
Sebagai mantan Pastor militer, ia orangnya berani dan tegas, bertampang cenderung galak, dengan sorot mata tajam menukik seperti rajawali, dengan alis mata lebat, yang seakan menyembunyikan tatapan bola mata biru dan bening. Tetapi sebenarnya ia adalah pastor yang ramah. Sebagai anggota militer yang memberi layanan medis, di pedalaman Nunang ia juga memberi layanan medis: Memberi obat-obatan dan menolong orang sakit bahkan juga ibu-ibu bersalin. Dalam hal ini ia termasuk kategori pemberani sejati (mungkin rada nekat juga). Tahun 80-an ia bekerja di paroki Rangga (Lembor). Cukup lama ia kerja di sana. Di Rangga itulah ia berkenalan dengan keluarga kami, terutama dengan ayah saya, seorang guru di SDK Rangga. Pastor Erwin juga dikenal sebagai perokok. Terkait hobinya ini, konon di pastoran Rangga ia pernah bercanda bahwa di sini ada asbak terbesar sedunia yaitu lantai.
Dalam riset lapangan saya di Perang akhir 2013, umat di Rangga, setelah mereka tahu bahwa saya adalah seorang peneliti kebudayaan (yang sedang meneliti dalam rangka menulis disertasi doktoral), berkata kepada saya demikian: Dulu pak Frans, Pater Erwin itu sering dijumpai di hutan-hutan. Kalau bertemu kita terkejut karena mengira dia “empo deghong”. Kalau ditanya, Pater cari apa? Dia menjawab: Cari lumut di hutan. Mereka (umat) mengaku bingung mendengar jawaban itu. Mereka tidak tahu tentang P.Erwin di luar tugas utamanya sebagai seorang pastor paroki. Umat hanya tahu bahwa ia adalah seorang pastor paroki. Di luar itu orang tidak tahu. Tetapi sebenarnya dia adalah seorang peneliti. Dan sebagai seorang peneliti ia meneliti botani dan biologi di daerah Mabar. Termasuk tumbuhan obat-obatan herbal. Apa hasilnya? Mengagumkan. Tentang hal itulah yang ingin saya sharingkan di dalam tulisan singkat ini. Hasil penelitiannya itu ia tulis, ia dokumentasikan dalam pelbagai catatan dan ketikan. Pater Verheijen dalam salah satu kesempatan menulis bahwa Pater Erwin mengumpulkan catatan penelitiannya sampai berjumlah 800an halaman. Semua ditulis dalam bahasa Jerman. Sesekali Pater Erwin juga mempublikasikan hasil penelitiannya, atau setidaknya ia mengkomunikasikan hasil risetnya kepada komunitas ilmuwan internasional. (Bersambung…)
Saturday, April 18, 2020
HUTAN MANGGARAI: MUSEUM BIOLOGI YANG KAYA
Oleh: Fransiskus Borgias M
Dosen/Peneliti pada Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan Bandung
Beberapa hari lalu di sebuah WAG yang saya ikuti ada diskusi yang ramai tentang isu tambang di Manggarai Timur. Orang menduga ada perusahaan tambang diberi konsesi oleh otoritas setempat. Terhadap hal itu beberapa teman anggota WAG itu bereaksi keras. Mereka mengeritik kebijakan yang dengan mudah memberi ijin kepada beberapa perusahaan tambang untuk mengeksploitasi Manggarai. Cerita ini mengingatkan saya akan beberapa hal. Saya ingat tatkala saya mampir di kantor teman saya beberapa tahun lalu, P.Peter Aman OFM, direktur JPIC-OFM Indonesia, saya disodori “kertas-posisi” yang membahas perjuangan melawan eksplorasi tambang di beberapa tempat di Flores termasuk Manggarai. Sementara itu baru saja kemarin, peneliti muda Sun Spirit, Venan Harianto, yang bermarkas di Labuan Bajo menurunkan tulisan di sebuah koran online tentang terancamnya sumber mata air bagi penduduk di Sano Nggoang Nunang. Mata air alami itu terancam hilang karena ada rencana pembukaan eksplorasi geothermal di danau itu.
Tahun 2013 saya tinggal satu semester di Lembor untuk melakukan penelitian lapangan. Saat itu, beberapa kali saya ke Wae Lombur untuk mandi, dan terutama untuk menikmati bunyi air mengalir. Tetapi saya berkesan bahwa debit air sungai itu semakin berkurang. Mungkin saya keliru. Kemudian saya bertanya kepada beberapa orang tentang kesan itu. Ternyata mereka juga mempunyai kesan yang sama: debit air di sungai itu semakin berkurang dari tahun ke tahun. Pasti hal itu erat terkait dengan kondisi hutan di gunung yang pohonnya mungkin tidak terpelihara baik. Ada beberapa orang memberi kesaksian bahwa debit air di kota Ruteng juga semakin berkurang. Mungkin ada kaitan dengan kondisi hutan tropis di gunung yang tidak terpelihara. Mungkin juga ada aksi pengambilan air tanah untuk tujuan dan kepentingan tertentu.
Tatkala mengingat semuanya ini saya tiba-tiba teringat akan beberapa hal. Pertama, saya teringat akan seorang teman (sepupu isteri saya). Kedua, saya teringat akan P.Erwin Schmutz SVD. Ketiga, saya teringat akan Pater Jilis J.Verheijen SVD. Mulai hari ini, dalam tiga hari ke depan saya akan menurunkan tulisan yang terkait dengan apa yang saya ingat dari apa yang dikatakan dan diperbuat oleh orang-orang ini tentang dan terkait Manggarai.
Saya mulai dengan yang pertama, catatan sekilas tentang Ignatius Bambang Pepe. Dia adalah insinyur pakar kehutanan tamatan IPB. Dia berasal dari Kampung Sawah, Pondok Gede, Bekasi. Pada suatu kesempatan kami berbicara tentang hutan-hutan yang ada di Indonesia. Termasuk berbicara tentang bencana ekologis yang menimpa hutan-hutan hujan tropis di Indonesia, seperti karhutla, ekspansi sawit, ancaman pertambangan yang merambah ke hutan. Akhirnya pembicaraan kami juga sampai ke Manggarai. Hutan Manggarai pun terancam. Dia mengamini hal itu. Mendengar semua hal ini, saya sangat sedih.
Tatkala kami berbicara tentang Manggarai ia lalu mengatakan kepada saya bahwa “Hutan alami, hutan hujan-tropis di Manggarai sangat unik.” Tidak hanya itu. Kemudian ia lanjutkan: “Itulah salah satu kekayaan Indonesia.” Saya terperangah, sekaligus juga berbangga ketika mendengar informasi itu. “Mengapa?” Demikian tanya saya menyelidik kepadanya. Lalu ia jelaskan dengan memberi informasi sbb: “Umumnya alam NTT adalah sabana-steppa. Itulah yang mencirikan hampir semua pulau di NITT. Flores tidak terkecuali: itu adalah alam sabana-stepa.” Dia terhenti sejenak. Seakan-akan memberi jeda untuk mencerna apa yang ia katakan. “Tetapi di tengah jantung alam sabana-steppa itu ada hutan tropis, khususnya di Manggarai. Itu pasti sangat unik. Itu adalah sesuatu yang sangat istimewa. Hal itu pasti amat ajaib dan mengagumkan.”
Begitulah katanya untuk meyakinkan saya. Ia mengaku belum meneliti kekayaan dan keunikan museum biologi alami itu. Tetapi ia amat yakin akan adanya keunikan itu karena “hutan yang terletak di tengah alam Sabana-steppa” pasti menyimpan misteri kekayaan dan keunikan yang tidak terduga-duga. Begitulah dia mengungkapkan hal itu kepada saya dengan sangat yakin. Misalnya, mulai dari burung yang indah: warna bulunya, bunyinya yang unik, bentuk badannya yang indah. Begitulah dia mencoba memberi bayangan dan gambaran kepada saya. Selain itu ia juga mengatakan jenis kayu atau tetumbuhan tertentu mungkin saja ada di sana dan mungkin belum terdata dalam kamus biologi dunia. Bisa saja di sana terdapat anggrek hutan yang belum terdaftar dalam kamus penggemar anggrek. Itulah sekadar beberapa contoh.
Ia meyakinkan saya, bahwa Hutan Manggarai itu, sebagai hutan yang terletak di tengah alam sabana-stepa NTT adalah sangat unik dan istimewa. Dia bisa menjadi kamus, bisa menjadi museum “kepustakaan” hutan khas karena ada di tengah alam sabana. Ia bisa menjadi kamus dan museum dengan item yang tidak terduga. Mendengar ini saya terharu dan bangga dengan hutan Manggarai. Tetapi sedih juga karena nasibnya yang tidak menentu.
Itulah tantangan natural-ekologis Manggarai: ia menantang ilmuwan Manggarai untuk menjadi ahli peneliti museum ekologis-kosmis di tanah tumpah darah sendiri. Peran pemerintah daerah sangat sentral di sini: mendorong dan menyediakan dana agar ada ahli kehutanan yang profetis dan profesional, ilmuwan sejati, bukan hanya ekonom, politikus, atau ahli hukum. Saya tidak menyelidiki keunikan itu karena bidang saya lain. Paling-paling saya mengembangkan wacana spiritualitas ekologis, mendalami spiritualitas penciptaan yang gencar dilakukan teolog di Amerika. Salah satu bagian dari upaya mereka ialah menggali spiritualitas agama asli untuk mengembangkan ekoteologi, mengembangkan ekologi dalam (deep ecology). Sebab yang kita butuhkan bukan hanya ekonomi, politik, hukum, melainkan juga teologi dan filsafat. Filsafat hidup, filsafat perenial, itulah yang menghidupi kebudayaan manusia, termasuk Manggarai. Tidak ada kebudayaan yang dapat bertahan tanpa landasan filsafat. Ini PR Manggarai di bawah koordinasi para pemimpinnya. Semoga para pemimpin Manggarai bukan perambah hutan melainkan orang yang ramah terhadap hutan.
Dosen/Peneliti pada Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan Bandung
Beberapa hari lalu di sebuah WAG yang saya ikuti ada diskusi yang ramai tentang isu tambang di Manggarai Timur. Orang menduga ada perusahaan tambang diberi konsesi oleh otoritas setempat. Terhadap hal itu beberapa teman anggota WAG itu bereaksi keras. Mereka mengeritik kebijakan yang dengan mudah memberi ijin kepada beberapa perusahaan tambang untuk mengeksploitasi Manggarai. Cerita ini mengingatkan saya akan beberapa hal. Saya ingat tatkala saya mampir di kantor teman saya beberapa tahun lalu, P.Peter Aman OFM, direktur JPIC-OFM Indonesia, saya disodori “kertas-posisi” yang membahas perjuangan melawan eksplorasi tambang di beberapa tempat di Flores termasuk Manggarai. Sementara itu baru saja kemarin, peneliti muda Sun Spirit, Venan Harianto, yang bermarkas di Labuan Bajo menurunkan tulisan di sebuah koran online tentang terancamnya sumber mata air bagi penduduk di Sano Nggoang Nunang. Mata air alami itu terancam hilang karena ada rencana pembukaan eksplorasi geothermal di danau itu.
Tahun 2013 saya tinggal satu semester di Lembor untuk melakukan penelitian lapangan. Saat itu, beberapa kali saya ke Wae Lombur untuk mandi, dan terutama untuk menikmati bunyi air mengalir. Tetapi saya berkesan bahwa debit air sungai itu semakin berkurang. Mungkin saya keliru. Kemudian saya bertanya kepada beberapa orang tentang kesan itu. Ternyata mereka juga mempunyai kesan yang sama: debit air di sungai itu semakin berkurang dari tahun ke tahun. Pasti hal itu erat terkait dengan kondisi hutan di gunung yang pohonnya mungkin tidak terpelihara baik. Ada beberapa orang memberi kesaksian bahwa debit air di kota Ruteng juga semakin berkurang. Mungkin ada kaitan dengan kondisi hutan tropis di gunung yang tidak terpelihara. Mungkin juga ada aksi pengambilan air tanah untuk tujuan dan kepentingan tertentu.
Tatkala mengingat semuanya ini saya tiba-tiba teringat akan beberapa hal. Pertama, saya teringat akan seorang teman (sepupu isteri saya). Kedua, saya teringat akan P.Erwin Schmutz SVD. Ketiga, saya teringat akan Pater Jilis J.Verheijen SVD. Mulai hari ini, dalam tiga hari ke depan saya akan menurunkan tulisan yang terkait dengan apa yang saya ingat dari apa yang dikatakan dan diperbuat oleh orang-orang ini tentang dan terkait Manggarai.
Saya mulai dengan yang pertama, catatan sekilas tentang Ignatius Bambang Pepe. Dia adalah insinyur pakar kehutanan tamatan IPB. Dia berasal dari Kampung Sawah, Pondok Gede, Bekasi. Pada suatu kesempatan kami berbicara tentang hutan-hutan yang ada di Indonesia. Termasuk berbicara tentang bencana ekologis yang menimpa hutan-hutan hujan tropis di Indonesia, seperti karhutla, ekspansi sawit, ancaman pertambangan yang merambah ke hutan. Akhirnya pembicaraan kami juga sampai ke Manggarai. Hutan Manggarai pun terancam. Dia mengamini hal itu. Mendengar semua hal ini, saya sangat sedih.
Tatkala kami berbicara tentang Manggarai ia lalu mengatakan kepada saya bahwa “Hutan alami, hutan hujan-tropis di Manggarai sangat unik.” Tidak hanya itu. Kemudian ia lanjutkan: “Itulah salah satu kekayaan Indonesia.” Saya terperangah, sekaligus juga berbangga ketika mendengar informasi itu. “Mengapa?” Demikian tanya saya menyelidik kepadanya. Lalu ia jelaskan dengan memberi informasi sbb: “Umumnya alam NTT adalah sabana-steppa. Itulah yang mencirikan hampir semua pulau di NITT. Flores tidak terkecuali: itu adalah alam sabana-stepa.” Dia terhenti sejenak. Seakan-akan memberi jeda untuk mencerna apa yang ia katakan. “Tetapi di tengah jantung alam sabana-steppa itu ada hutan tropis, khususnya di Manggarai. Itu pasti sangat unik. Itu adalah sesuatu yang sangat istimewa. Hal itu pasti amat ajaib dan mengagumkan.”
Begitulah katanya untuk meyakinkan saya. Ia mengaku belum meneliti kekayaan dan keunikan museum biologi alami itu. Tetapi ia amat yakin akan adanya keunikan itu karena “hutan yang terletak di tengah alam Sabana-steppa” pasti menyimpan misteri kekayaan dan keunikan yang tidak terduga-duga. Begitulah dia mengungkapkan hal itu kepada saya dengan sangat yakin. Misalnya, mulai dari burung yang indah: warna bulunya, bunyinya yang unik, bentuk badannya yang indah. Begitulah dia mencoba memberi bayangan dan gambaran kepada saya. Selain itu ia juga mengatakan jenis kayu atau tetumbuhan tertentu mungkin saja ada di sana dan mungkin belum terdata dalam kamus biologi dunia. Bisa saja di sana terdapat anggrek hutan yang belum terdaftar dalam kamus penggemar anggrek. Itulah sekadar beberapa contoh.
Ia meyakinkan saya, bahwa Hutan Manggarai itu, sebagai hutan yang terletak di tengah alam sabana-stepa NTT adalah sangat unik dan istimewa. Dia bisa menjadi kamus, bisa menjadi museum “kepustakaan” hutan khas karena ada di tengah alam sabana. Ia bisa menjadi kamus dan museum dengan item yang tidak terduga. Mendengar ini saya terharu dan bangga dengan hutan Manggarai. Tetapi sedih juga karena nasibnya yang tidak menentu.
Itulah tantangan natural-ekologis Manggarai: ia menantang ilmuwan Manggarai untuk menjadi ahli peneliti museum ekologis-kosmis di tanah tumpah darah sendiri. Peran pemerintah daerah sangat sentral di sini: mendorong dan menyediakan dana agar ada ahli kehutanan yang profetis dan profesional, ilmuwan sejati, bukan hanya ekonom, politikus, atau ahli hukum. Saya tidak menyelidiki keunikan itu karena bidang saya lain. Paling-paling saya mengembangkan wacana spiritualitas ekologis, mendalami spiritualitas penciptaan yang gencar dilakukan teolog di Amerika. Salah satu bagian dari upaya mereka ialah menggali spiritualitas agama asli untuk mengembangkan ekoteologi, mengembangkan ekologi dalam (deep ecology). Sebab yang kita butuhkan bukan hanya ekonomi, politik, hukum, melainkan juga teologi dan filsafat. Filsafat hidup, filsafat perenial, itulah yang menghidupi kebudayaan manusia, termasuk Manggarai. Tidak ada kebudayaan yang dapat bertahan tanpa landasan filsafat. Ini PR Manggarai di bawah koordinasi para pemimpinnya. Semoga para pemimpin Manggarai bukan perambah hutan melainkan orang yang ramah terhadap hutan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...