Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung. Anggota LBI dan ISBI.
Judul teks ini ialah “Mempelai Laki-laki memuji mempelai perempuan.” Ini adalah serangkaian pujian mempelai pria kepada mempelai perempuan. Pujian itu menggambarkan betapa mempelai laki-laki tertarik kepada mempelai perempuan. Sebaliknya mempelai perempuan suka akan pujian tersebut. Buktinya, ia tidak menolaknya. Kita bisa membayangkan betapa hati si perempuan berbunga-bunga mendengarnya. Mungkin perasaan itu tampak di wajahnya yang memerah yang membuatnya semakin mempesona. Ahli kitab berbicara tentang kesejajaran tematik antara Kejadian dan Kidung Agung, khususnya dalam misteri relasi pria-wanita. Misteri itu dalam Kejadian dilukiskan dengan kisah penciptaan wanita dari rusuk pria. Dalam Kidung Agung, misteri itu muncul dalam wujud rasa tertarik satu sama lain yang bermuara dalam nada saling memuji dan damba.
Dari awal sampai akhir teks, kita temukan pujian mempelai pria untuk melukiskan kecantikan kekasihnya. Pada ay.1 ia memuji kecantikan kekasihnya yang jelita. Lalu menyusul untaian metafora yang dipakai si pria untuk melukiskan kecantikan wajah dan kemolekan tubuh kekasihnya. Ada metafora yang asing bagi kita kini. Tetapi biar seperti itu. Dalam ayat 1b sampai 2 ada metafora-fauna karena si pria memakai gambaran beberapa hewan untuk melukiskan kekasihnya. Kelincahan gerak mata kekasih diibaratkannya dengan gerak lincah merpati (1b). Rambut gelombang kekasih diibaratkannya dengan kawanan kambing yang turun dari lereng gunung (1cd). Untuk melukiskan keindahan warna gigi ia memakai gambaran domba yang baru dicukur, yang warnanya putih kemerahan, subur dan kuat (ay 2). Di ayat 3 ia memakai metafora flora (kirmizi dan delima) untuk melukiskan keindahan bibir dan mulut serta keindahan pelipis. Dalam ayat 4 ada metafora militer (menara Daud) sebab ia menyinggung perlengkapan militer untuk melukiskan keindahan leher kekasihnya. Betapa ia sangat detail dan vulgar dalam melukiskan kemolekan tubuh kekasihnya sebab dalam ay 5 ia kembali memakai metafora fauna (dua anak rusa, anak kembar kijang) untuk melukiskan keindahan buah dada kekasihnya.
Dalam ayat 6 kita menemukan baris selingan yang melukiskan keinginan hatinya untuk pergi merengkuh tubuh kekasihnya yang menebar aroma semerbak. Ia ingin hal itu terjadi sebelum malam menjelang, saat bayang-bayang menghilang. Dalam ayat 7 ia kembali memuji kekasihnya seperti di awal ay 1. Hanya di sini ada tambahan yaitu kekasih itu tidak ada celanya. Ia mengharapkan kekasih itu turun dari gunung, yaitu dari aura keanggunannya yang biasanya membuat lelaki canggung, takut, dan juga minder oleh kecantikannya (ay 8). Di sini ia memohon agar kekasih turun dari aura keanggunan itu karena (ay 9) ia mengaku bahwa saat ia melihatnya ia tergetar (berdebar). Dalam imajinasinya ia membayangkan betapa cinta dia itu sangat indah dan nikmat melampaui anggur (ay 10), dan aroma kasihnya melampaui minyak wangi.
Ay 11 melukiskan tutur kata indah dan manis yang keluar dari mulut si kekasih (alat tutur: mulut, bibir, lidah). Walau ia merasa sangat mencintai dan rindu akan kekasihnya itu, tetapi ia sadar bahwa si kekasih itu masih dalam pingitan (ay 12). Di sana ia tetap menampakkan pesona kecantikannya (ay 13-14) setidaknya dalam imajinasi dan bayang-bayang kekasih pria yang merindu dan mendamba. Rindu dan damba itu akhirnya terlontar keluar dalam sebuah pujian akan sang kekasih dalam bentuk metafora natural berupa mata air, sumber air hidup, Fons Vitae, yang mengalir dari gunung Libanon (ay 15).
Akhirnya, sepanjang 15 ayat ini yang kita dengar hanya ekspresi verbal pujaan dan rindu kekasih pria. Baru dalam ayat 16 ini kita mendengar suara mempelai wanita yang bersama mempelai pria mengucapkan refrein cinta merangkum damba dan rindu. Kadang saya berpikir bahwa mungkin di sini mereka memadu kasih yang dilukiskan dalam metafora sangat halus: Angin utara (lambang damba pria), angin selatan (lambang damba wanita); keduanya bertiup dalam kebun dan dari sana terpancar aroma cinta. Lalu ditutup dengan metafora perpaduan kasih yang plastis: “Semoga kekasihku datang ke kebunnya, dan makan buah-buahnya yang lezat.” Mungkin ada pembaca yang bertanya, inikan kisah asmara? Ya, tetapi kisah asmara itu juga bisa menggambarkan relasi cinta antara manusia yang mendamba Tuhan Penciptanya.
Hotel/Resort I-Park, di Kaki Mount Seorak, South Korea, 2 April 2019.
canticum solis adalah blogspot saya untuk pendalaman dan diskusi soal-soal filosofis, teologis, spiritualitas dan yang terkait. Kalau berkenan mohon menulis kesan atau komentar anda di bagian akhir dari artikel yang anda baca. Terima kasih... canticum solis is my blog in which I write the topics on philosophy, theology, spiritual life. If you don't mind, please give your comment or opinion at the end of any article you read. thanks a lot.....
Tuesday, April 9, 2019
Monday, March 4, 2019
MEMAHAMI DAN MENIKMATI KIDUNG AGUNG 3:6-11
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Penulis: Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung, Anggota LBI dan ISBI.
Dalam Kitab Suci kita, perikope ini diberi judul “Iring-iringan mempelai”. Dalam buku-buku tafsir berbahasa Inggris, bagian ini diberi judul “Perarakan Perkawinan Salomo”. Jadi, penggalan teks ini berbicara tentang pesta perkawinan. Sesungguhnya kedua judul itu kurang lebih sama saja. Walaupun judul yang kedua terasa lebih eksplisit daripada yang pertama. Kita juga harus menyadari bahwa teks yang ada di sini merupakan sebuah penggalan puisi. Teks puitis ini terasa mencolok karena sang pembicara tidak bisa dikenal dengan baik. Maksudnya, tidak begitu jelas siapakah yang berbicara di sini, apakah si mempelai perempuan, ataukah kekasih pria, ataukah justru seorang yang lain. Saya cenderung untuk mengatakan bahwa yang berbicara di sini adalah orang lain yang menunjuk kepada Salomo dan kemudian mengajak kaum perempuan yang konon mau datang untuk menyongsong sang tamu ajaib tersebut. Terasa mencolok juga bahwa di dalam teks ini juga tidak ada dialog.
Dalam ayat 6-8 dan 9-10 kita dapat menemukan dua pelukisan. Pertama, pelukisan mengenai “tempat tidur” Salomo yang dibawa dengan suatu perarakan meriah dari arah padang gurun (ay 6-8). Tempat tidur itu sangat indah dan wangi (karena ditaburi wewangian, mur, kemenyan, serbuk wangi, ay 6-9). Iring-iringan itu dikawal oleh sepasukan pengawal profesional dan terlatih (ay.7-8). Karena yang dikawal itu adalah seorang raja, maka para pengawal itu membawa pedang. Lagipula mereka berjalan di waktu malam. Pelukisan ini dibalut dalam sebuah bentuk pertanyaan retoris. Pertanyaan yang serupa itu muncul lagi dalam Kid 8:5. Tetapi di sana, pertanyaan retoris itu terutama menyangkut sang perempuan, sang kekasih itu. Di sini pertanyaan retoris itu menyinggung mengenai perarakan para pengawal raja yang terdiri atas pasukan elit dan cerdas. Kedua, pelukisan mengenai tandu pengusung sang mempelai sendiri, yaitu Salomo. Bahan untuk tandu tersebut dibuat dari kayu pilihan yang diambil dari Libanon. Tidak hanya itu saja. Tiang-tiang pada tandu tersebut terbuat dari perak. Dan sandaran sang mempelai juga terbuat dari emas. Tempat duduk di dalam tandu tersebut berwarna ungu. Dan warna ungu sendiri memang merupakan warna yang melambangkan kebesaran (keagungan) dari sang raja itu sendiri. Lalu dikatakan bahwa bagian dalam dari tandu itu terbuat dari kayu arang.
Sejujurnya saya tidak begitu tahu apa itu kayu arang. Yang jelas, bukan terbuat dari kayu-kayu yang sudah menjadi arang, melainkan dari kayu-kayu yang kuat dan mahal sehingga orang sering memakainya untuk perhiasan interior entah rumah ataupun hal-hal lain. Dalam hal ini misalnya menghiasi bagian dalam dari tandu sang raja mulia. Perhatikanlah dengan baik bahwa dalam ayat 11 kita membaca adanya sebuah ajakan kepada para puteri Yerusalem untuk keluar dari rumah-rumah mereka dan sekalian juga diajak untuk menyaksikan sang baginda raja di dalam busana keagungannya sebagai seorang raja. Hal itu terutama sekali tampak dengan mahkota yang dikenakan padanya oleh sang ibundanya. Perlu diperhatikan bahwa, jika teks Kidung Agung ini pada umumnya dipandang sebagai sebuah teks yang keluar dari sebuah perayaan perkawinan, maka hendaknya disadari bahwa inilah satu-satunya dalam seluruh teks Kidung Agung yang menyinggung secara eksplisit mengenai pesta perkawinan. Artinya di tempat lain di dalam kitab ini kita tidak akan menemukan singgungan eksplisit tentang perkawinan itu. hanya ada di sini. Namun demikian, teks tentang perarakan perkawinan itu sangat kuat sehingga saya berpendapat bahwa teks itu bisa menggambarkan seluruh isi Kitab itu sendiri.
Taman Kopo Indah II Blok D4 No.40.
Penulis: Dosen Teologi Biblika FF-UNPAR Bandung, Anggota LBI dan ISBI.
Dalam Kitab Suci kita, perikope ini diberi judul “Iring-iringan mempelai”. Dalam buku-buku tafsir berbahasa Inggris, bagian ini diberi judul “Perarakan Perkawinan Salomo”. Jadi, penggalan teks ini berbicara tentang pesta perkawinan. Sesungguhnya kedua judul itu kurang lebih sama saja. Walaupun judul yang kedua terasa lebih eksplisit daripada yang pertama. Kita juga harus menyadari bahwa teks yang ada di sini merupakan sebuah penggalan puisi. Teks puitis ini terasa mencolok karena sang pembicara tidak bisa dikenal dengan baik. Maksudnya, tidak begitu jelas siapakah yang berbicara di sini, apakah si mempelai perempuan, ataukah kekasih pria, ataukah justru seorang yang lain. Saya cenderung untuk mengatakan bahwa yang berbicara di sini adalah orang lain yang menunjuk kepada Salomo dan kemudian mengajak kaum perempuan yang konon mau datang untuk menyongsong sang tamu ajaib tersebut. Terasa mencolok juga bahwa di dalam teks ini juga tidak ada dialog.
Dalam ayat 6-8 dan 9-10 kita dapat menemukan dua pelukisan. Pertama, pelukisan mengenai “tempat tidur” Salomo yang dibawa dengan suatu perarakan meriah dari arah padang gurun (ay 6-8). Tempat tidur itu sangat indah dan wangi (karena ditaburi wewangian, mur, kemenyan, serbuk wangi, ay 6-9). Iring-iringan itu dikawal oleh sepasukan pengawal profesional dan terlatih (ay.7-8). Karena yang dikawal itu adalah seorang raja, maka para pengawal itu membawa pedang. Lagipula mereka berjalan di waktu malam. Pelukisan ini dibalut dalam sebuah bentuk pertanyaan retoris. Pertanyaan yang serupa itu muncul lagi dalam Kid 8:5. Tetapi di sana, pertanyaan retoris itu terutama menyangkut sang perempuan, sang kekasih itu. Di sini pertanyaan retoris itu menyinggung mengenai perarakan para pengawal raja yang terdiri atas pasukan elit dan cerdas. Kedua, pelukisan mengenai tandu pengusung sang mempelai sendiri, yaitu Salomo. Bahan untuk tandu tersebut dibuat dari kayu pilihan yang diambil dari Libanon. Tidak hanya itu saja. Tiang-tiang pada tandu tersebut terbuat dari perak. Dan sandaran sang mempelai juga terbuat dari emas. Tempat duduk di dalam tandu tersebut berwarna ungu. Dan warna ungu sendiri memang merupakan warna yang melambangkan kebesaran (keagungan) dari sang raja itu sendiri. Lalu dikatakan bahwa bagian dalam dari tandu itu terbuat dari kayu arang.
Sejujurnya saya tidak begitu tahu apa itu kayu arang. Yang jelas, bukan terbuat dari kayu-kayu yang sudah menjadi arang, melainkan dari kayu-kayu yang kuat dan mahal sehingga orang sering memakainya untuk perhiasan interior entah rumah ataupun hal-hal lain. Dalam hal ini misalnya menghiasi bagian dalam dari tandu sang raja mulia. Perhatikanlah dengan baik bahwa dalam ayat 11 kita membaca adanya sebuah ajakan kepada para puteri Yerusalem untuk keluar dari rumah-rumah mereka dan sekalian juga diajak untuk menyaksikan sang baginda raja di dalam busana keagungannya sebagai seorang raja. Hal itu terutama sekali tampak dengan mahkota yang dikenakan padanya oleh sang ibundanya. Perlu diperhatikan bahwa, jika teks Kidung Agung ini pada umumnya dipandang sebagai sebuah teks yang keluar dari sebuah perayaan perkawinan, maka hendaknya disadari bahwa inilah satu-satunya dalam seluruh teks Kidung Agung yang menyinggung secara eksplisit mengenai pesta perkawinan. Artinya di tempat lain di dalam kitab ini kita tidak akan menemukan singgungan eksplisit tentang perkawinan itu. hanya ada di sini. Namun demikian, teks tentang perarakan perkawinan itu sangat kuat sehingga saya berpendapat bahwa teks itu bisa menggambarkan seluruh isi Kitab itu sendiri.
Taman Kopo Indah II Blok D4 No.40.
Monday, February 18, 2019
MATI RAGA KUAT
Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA
Sebelum memasuki masa novisiat saya hanya satu kali bertemu Pater Cletus. Hal itu terjadi di Biara Rivotorto Karot, Ruteng, Manggarai, Flores, NTT. Saat itu ia berada di Manggarai. Saya tidak tahu ia ke sana untuk apa. Biasanya memberi ret-ret kepada kelompok biarawan ataupun para imam di sana. Karena itu saya tidak begitu tahu banyak cara hidup beliau sehari-hari. Pada waktu itu saya sudah mengenal nama dan muka beliau karena ia sering menulis di majalah bulanan Rohani tentang banyak topik yang menarik dan menantang pembaca. Saya sudah membaca dia sejak masih di Seminari Kecil dan Seminari Menengah di Kisol, Manggarai Timur.
Pada waktu saya masuk novisiat di Papringan, Yogyakarta, saya baru melihat cara hidup Pater Cletus secara lebih dekat. Ternyata ia adalah orang dengan praksis hidup mati raga yang kuat dan berdisiplin. Pada pagi hari ia hanya makan satu tangkap roti, sebutir telor, satu tomat (kalau ada), segelas kopi hitam. Semula saya heran dan bertanya-tanya, kok Pater bisa bertahan sampai jam makan siang. Sebagai makan siang, yang saya lihat waktu itu ia hanya mengambil nasi paling banyak hanya tiga sendok makan. Begitu juga makan malam. Di kamarnya tidak ada snack. Hal itu bisa saya pastikan. Pada jaman kami dulu tidak/belum ada jam snack, pagi maupun sore (biasanya di tempat lain, jam 10 dan 16 sore). Saat itu dulu, sehari-hari tidak ada snack atau makanan ekstra. Kecuali pada hari-hari rekreasi. Saat itulah ada snack. Ia juga bermati raga dalam hal cara berpakaian. Setiap hari ia hanya memakai jubah. Di kamarnya tidak ada lemari pakaian. Hanya rak-rak buku. Ia mencuci sendiri jubahnya. Ia menjemur jubahnya di kusen jendela kamarnya. Begitu juga celana dalamnya. Pokoknya sangat sederhana.
Tetapi terkait dengan hal ini ada satu yang sangat menarik perhatian saya. Yaitu, walaupun dia sendiri ketat sekali dalam hal mati raga terutama soal makan, namun ia tidak pernah menuntut standar yang sama dari para saudara lain, terutama dari biarawan-biarawan yang masih muda-muda. Misalnya, ia tidak pernah menuntut orang lain dengan cara menyindir-nyindir orang lain agar mati raga seperti dirinya. Ia hanya menerapkan standar yang ketat itu bagi dirinya sendiri. Saat makan juga ia lebih banyak berdiam diri. Tidak banyak omong. Lebih banyak ia memandang keluar kamar makan, memperhatikan perilaku ayam dan burung-burung di pohon rambutan. Ia hanya akan berbicara kalau ada saudara yang bertanya atau mengajak dia berbicara. Itupun akan dijawab kalau ia merasa hal itu penting dan menarik. Kalau tidak ia hanya akan mengangkat bahu atau sekadar mengernyitkan alis matanya. Ia matiraga juga dalam soal bicara. Silentium magnum et strictum.
Lama sekali saya baru bisa memahami praksis diam ini. Pada tahun 1986, dalam sebuah ceramah para putera-puteri Fransiskus Asisi di biara Suster-suster Fransiskanes Palembang di Klepu, ia berbicara tentang saudara Egidius, salah seorang saudara dina di awal sejarah pergerakan Fransiskan. Menurut ceramah itu, konon bruder Egidius ini sering mengulang-ulang kalimat yang menjadi judul ceramah pater Cletus. Konon bruder Egidius mengatakan: “Bobobo, multo dico pocco vo.” Kira-kira begitulah bunyinya. Konon artinya ialah: Waduh, banyak bicara, tetapi sedikit berbuat atau bekerja. Bruder Egidius, dengan kalimat itu, mau menyindir para saudara yang menyembunyikan kemalasan dengan selubung banyak omong. Banyak omong dipakai sebagai pemaaf untuk kemalasan. Padahal banyak omong bisa membawa potensi berbohong juga. Walaupun tidak disangkal bahwa di dalam banyak bicara bisa terjadi proses penyingkapan dan penyataan makna. Tetapi yang paling banyak terjadi ialah hanya semacam usaha tipu-tipu, yakni omong banyak untuk menipu orang lain, menutupi kemalasan. Tentu ini jahat. Rupanya Pater Cletus mau menghindarkan hal seperti itu. Ia lebih banyak diam agar hati dan pikirannya terarah ke atas. Wow. Luar biasa.
Taman Kopo Indah, Februari 2019.
Sebelum memasuki masa novisiat saya hanya satu kali bertemu Pater Cletus. Hal itu terjadi di Biara Rivotorto Karot, Ruteng, Manggarai, Flores, NTT. Saat itu ia berada di Manggarai. Saya tidak tahu ia ke sana untuk apa. Biasanya memberi ret-ret kepada kelompok biarawan ataupun para imam di sana. Karena itu saya tidak begitu tahu banyak cara hidup beliau sehari-hari. Pada waktu itu saya sudah mengenal nama dan muka beliau karena ia sering menulis di majalah bulanan Rohani tentang banyak topik yang menarik dan menantang pembaca. Saya sudah membaca dia sejak masih di Seminari Kecil dan Seminari Menengah di Kisol, Manggarai Timur.
Pada waktu saya masuk novisiat di Papringan, Yogyakarta, saya baru melihat cara hidup Pater Cletus secara lebih dekat. Ternyata ia adalah orang dengan praksis hidup mati raga yang kuat dan berdisiplin. Pada pagi hari ia hanya makan satu tangkap roti, sebutir telor, satu tomat (kalau ada), segelas kopi hitam. Semula saya heran dan bertanya-tanya, kok Pater bisa bertahan sampai jam makan siang. Sebagai makan siang, yang saya lihat waktu itu ia hanya mengambil nasi paling banyak hanya tiga sendok makan. Begitu juga makan malam. Di kamarnya tidak ada snack. Hal itu bisa saya pastikan. Pada jaman kami dulu tidak/belum ada jam snack, pagi maupun sore (biasanya di tempat lain, jam 10 dan 16 sore). Saat itu dulu, sehari-hari tidak ada snack atau makanan ekstra. Kecuali pada hari-hari rekreasi. Saat itulah ada snack. Ia juga bermati raga dalam hal cara berpakaian. Setiap hari ia hanya memakai jubah. Di kamarnya tidak ada lemari pakaian. Hanya rak-rak buku. Ia mencuci sendiri jubahnya. Ia menjemur jubahnya di kusen jendela kamarnya. Begitu juga celana dalamnya. Pokoknya sangat sederhana.
Tetapi terkait dengan hal ini ada satu yang sangat menarik perhatian saya. Yaitu, walaupun dia sendiri ketat sekali dalam hal mati raga terutama soal makan, namun ia tidak pernah menuntut standar yang sama dari para saudara lain, terutama dari biarawan-biarawan yang masih muda-muda. Misalnya, ia tidak pernah menuntut orang lain dengan cara menyindir-nyindir orang lain agar mati raga seperti dirinya. Ia hanya menerapkan standar yang ketat itu bagi dirinya sendiri. Saat makan juga ia lebih banyak berdiam diri. Tidak banyak omong. Lebih banyak ia memandang keluar kamar makan, memperhatikan perilaku ayam dan burung-burung di pohon rambutan. Ia hanya akan berbicara kalau ada saudara yang bertanya atau mengajak dia berbicara. Itupun akan dijawab kalau ia merasa hal itu penting dan menarik. Kalau tidak ia hanya akan mengangkat bahu atau sekadar mengernyitkan alis matanya. Ia matiraga juga dalam soal bicara. Silentium magnum et strictum.
Lama sekali saya baru bisa memahami praksis diam ini. Pada tahun 1986, dalam sebuah ceramah para putera-puteri Fransiskus Asisi di biara Suster-suster Fransiskanes Palembang di Klepu, ia berbicara tentang saudara Egidius, salah seorang saudara dina di awal sejarah pergerakan Fransiskan. Menurut ceramah itu, konon bruder Egidius ini sering mengulang-ulang kalimat yang menjadi judul ceramah pater Cletus. Konon bruder Egidius mengatakan: “Bobobo, multo dico pocco vo.” Kira-kira begitulah bunyinya. Konon artinya ialah: Waduh, banyak bicara, tetapi sedikit berbuat atau bekerja. Bruder Egidius, dengan kalimat itu, mau menyindir para saudara yang menyembunyikan kemalasan dengan selubung banyak omong. Banyak omong dipakai sebagai pemaaf untuk kemalasan. Padahal banyak omong bisa membawa potensi berbohong juga. Walaupun tidak disangkal bahwa di dalam banyak bicara bisa terjadi proses penyingkapan dan penyataan makna. Tetapi yang paling banyak terjadi ialah hanya semacam usaha tipu-tipu, yakni omong banyak untuk menipu orang lain, menutupi kemalasan. Tentu ini jahat. Rupanya Pater Cletus mau menghindarkan hal seperti itu. Ia lebih banyak diam agar hati dan pikirannya terarah ke atas. Wow. Luar biasa.
Taman Kopo Indah, Februari 2019.
Sunday, February 17, 2019
SANG PEROKOK BERAT
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Pater Groenen adalah perokok berat. Ia bagaikan kereta api batubara. Tiada saat tanpa ngepul asap. Selalu ngepul, kecuali saat doa, makan, dan tidur. Di luar itu ia selalu ngepul. Ngajar di depan mahasiswa pun ia ngelinting rokok dan ngepul.
Tentang hal ini ada beberapa cerita kenangan lucu dan kesaksian. Ada yang dikisahkan orang lain. Ada yang saya tahu sendiri. Yang saya tahu sendiri ialah beberapa cerita berikut ini.
Pertama, misalnya, karena ia perokok berat maka jubahnya banyak lubang kecil bekas api rokok yang jatuh. Terkesan seperti ventilasi pada jubah hitam itu. Kebanyakan di daerah bawah perut bagian depan tengah. Saya baru tahu mengapa begitu dan di situ. Ternyata karena saat ia baca buku di kamarnya, ia duduk bersila di atas kursi. Saya tahu ini karena saya melihatnya saat ke kamarnya untuk bimbingan rohani dan konsultasi beberapa masalah teologi. Saat baca buku dengan gaya duduk seperti itu, tentu ada percikan tembakau bernyala jatuh di atas jubahnya yang tidak ia sadari.
Kedua, saya tahu dari beberapa teman yang menceritakan pengalaman seorang bruder Papua, Bruder Yosef Tebai ofm. Konon awal tahun 80-an, Pater Cletus sakit. Untuk itu ia harus dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih. Karena sakit maka dia tidak boleh merokok. Tetapi saat itu, orang lain yang berkunjung atau berjaga boleh merokok dalam kompleks Rumah Sakit bahkan dalam kamar. Sekarang hal itu dilarang keras. Memang harus begitu. Saya dukung. Karena itu, Pater Cletus merasa senang kalau ia dijaga Bruder Yosef Tebai. Bahkan kalau bisa Bruder itulah yang menjaga dia. Mengapa? Inilah yang lucu. Kalau bruder itu menunggui dia, maka ia akan meminta Bruder itu untuk ngelinting rokok dan dinyalakan. Lalu nanti dialah yang isap rokok itu. Tetapi begitu ada suster atau bruder perawat atau dokter jaga yang datang ke kamar dia, maka cepat-cepat dia serahkan rokok itu kepada Bruder. Dan bruder Yosef pun berlagak seakan-akan dialah yang rokok, dan bukan pater Cletus. Kalau mereka sudah pergi maka ia akan meminta kembali rokok tadi dan tentu bruder Yosef menyerahkan rokok tersebut. Pantasan batuknya sangat keras dan tampak sangat parah.
Ketiga, ini adalah sesuatu yang saya tahu dan alami sendiri. Kalau ia memimpin ekaristi di kapel biara, saat ia mengucapkan salam pembuka “Tuhan sertamu” itu, saat mana imam biasanya merentangkan tangannya, maka tampak jelas bahwa jempolnya dijepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Kedua tangannya, kiri dan kanan, dua-duanya begitu. Mungkin itu adalah karena efek dari status sebagai perokok berat, sehingga jari telunjuk dan jari tengah selalu diganjal batang rokok. Tetapi saat perayaan ekaristi, batang tokok itu tidak ada. Saya bayangkan betapa saat-saat seperti itu sangat rawan bagi dia. Karena batang rokok tidak ada di tangan, maka terpaksa batang rokok itu digantikan dengan jempolnya sendiri yang dalam hal ini berfungsi sebagai semacam rokok lintingan. Mungkin bagi dia hal itu tidak menjadi masalah. Tetapi bagi para frater yang adalah orang Indonesia, hal itu menjadi sebuah masalah serius dan lucu.
Akhirnya, masih tentang kebiasaan dia ini, saya juga mendapat cerita dari anggota LBI tahun 70-an sampai 80an akhir. Konon tidak segan-segan ia meminta rapat rutin LBI dihentikan sejenak, agar dia bisa mengisap rokok. Saat istirahat itulah dia merokok. Mungkin karena biasanya mereka merokok dalam ruangan tertutup. Mungkin juga karena ada peserta pertemuan yang tidak merokok. Karena itu, maka peraturan rokok diberlakukan dengan ketat. Sangatlah tepat jika kita juluki dia sebagai ahli Taurat (karena dia adalah seorang ahli Kitab Suci), juga bisa dijuluki imam Bait Allah (karena ia selalu menghaturkan kurban bakaran, kurban asap, kurban dupa, asap yang keluar menyembul dari rokoknya).
Kopo, Februari 2019.
Pater Groenen adalah perokok berat. Ia bagaikan kereta api batubara. Tiada saat tanpa ngepul asap. Selalu ngepul, kecuali saat doa, makan, dan tidur. Di luar itu ia selalu ngepul. Ngajar di depan mahasiswa pun ia ngelinting rokok dan ngepul.
Tentang hal ini ada beberapa cerita kenangan lucu dan kesaksian. Ada yang dikisahkan orang lain. Ada yang saya tahu sendiri. Yang saya tahu sendiri ialah beberapa cerita berikut ini.
Pertama, misalnya, karena ia perokok berat maka jubahnya banyak lubang kecil bekas api rokok yang jatuh. Terkesan seperti ventilasi pada jubah hitam itu. Kebanyakan di daerah bawah perut bagian depan tengah. Saya baru tahu mengapa begitu dan di situ. Ternyata karena saat ia baca buku di kamarnya, ia duduk bersila di atas kursi. Saya tahu ini karena saya melihatnya saat ke kamarnya untuk bimbingan rohani dan konsultasi beberapa masalah teologi. Saat baca buku dengan gaya duduk seperti itu, tentu ada percikan tembakau bernyala jatuh di atas jubahnya yang tidak ia sadari.
Kedua, saya tahu dari beberapa teman yang menceritakan pengalaman seorang bruder Papua, Bruder Yosef Tebai ofm. Konon awal tahun 80-an, Pater Cletus sakit. Untuk itu ia harus dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih. Karena sakit maka dia tidak boleh merokok. Tetapi saat itu, orang lain yang berkunjung atau berjaga boleh merokok dalam kompleks Rumah Sakit bahkan dalam kamar. Sekarang hal itu dilarang keras. Memang harus begitu. Saya dukung. Karena itu, Pater Cletus merasa senang kalau ia dijaga Bruder Yosef Tebai. Bahkan kalau bisa Bruder itulah yang menjaga dia. Mengapa? Inilah yang lucu. Kalau bruder itu menunggui dia, maka ia akan meminta Bruder itu untuk ngelinting rokok dan dinyalakan. Lalu nanti dialah yang isap rokok itu. Tetapi begitu ada suster atau bruder perawat atau dokter jaga yang datang ke kamar dia, maka cepat-cepat dia serahkan rokok itu kepada Bruder. Dan bruder Yosef pun berlagak seakan-akan dialah yang rokok, dan bukan pater Cletus. Kalau mereka sudah pergi maka ia akan meminta kembali rokok tadi dan tentu bruder Yosef menyerahkan rokok tersebut. Pantasan batuknya sangat keras dan tampak sangat parah.
Ketiga, ini adalah sesuatu yang saya tahu dan alami sendiri. Kalau ia memimpin ekaristi di kapel biara, saat ia mengucapkan salam pembuka “Tuhan sertamu” itu, saat mana imam biasanya merentangkan tangannya, maka tampak jelas bahwa jempolnya dijepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Kedua tangannya, kiri dan kanan, dua-duanya begitu. Mungkin itu adalah karena efek dari status sebagai perokok berat, sehingga jari telunjuk dan jari tengah selalu diganjal batang rokok. Tetapi saat perayaan ekaristi, batang tokok itu tidak ada. Saya bayangkan betapa saat-saat seperti itu sangat rawan bagi dia. Karena batang rokok tidak ada di tangan, maka terpaksa batang rokok itu digantikan dengan jempolnya sendiri yang dalam hal ini berfungsi sebagai semacam rokok lintingan. Mungkin bagi dia hal itu tidak menjadi masalah. Tetapi bagi para frater yang adalah orang Indonesia, hal itu menjadi sebuah masalah serius dan lucu.
Akhirnya, masih tentang kebiasaan dia ini, saya juga mendapat cerita dari anggota LBI tahun 70-an sampai 80an akhir. Konon tidak segan-segan ia meminta rapat rutin LBI dihentikan sejenak, agar dia bisa mengisap rokok. Saat istirahat itulah dia merokok. Mungkin karena biasanya mereka merokok dalam ruangan tertutup. Mungkin juga karena ada peserta pertemuan yang tidak merokok. Karena itu, maka peraturan rokok diberlakukan dengan ketat. Sangatlah tepat jika kita juluki dia sebagai ahli Taurat (karena dia adalah seorang ahli Kitab Suci), juga bisa dijuluki imam Bait Allah (karena ia selalu menghaturkan kurban bakaran, kurban asap, kurban dupa, asap yang keluar menyembul dari rokoknya).
Kopo, Februari 2019.
Saturday, February 16, 2019
SELALU BERJUBAH HITAM
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Salah satu ciri khas pater Cletus Groenen ialah bahwa ia selalu mengenakan jubah kerahibannya. Tidak pernah ia tampil tanpa jubah di ruang publik. Ia benar-benar sosok seorang rahib atau biarawan sejati yang patut dijadikan teladan bagi gereja. Pater Cletus tidak pernah terlibat tanpa jubah di muka umum. Ia selalu berjubah. Itulah jubah hitam kekhasan dan kesayangannya. Memang ia benar-benar orang yang hidupnya sangat sederhana. Bahkan juga terkesan apa adanya. Orangnya dan cara hidupnya sungguh sederhana. Einfach Leben wie Franziskuz, kata sebuah tulisan di dada Kaus oblong yang banyak dikenakan para Fransiskan akhir tahun 70an dan awal 80an. Walaupun di atas tadi, sudah dikatakan bahwa ia selalu berjubah, namun demikian saya juga pernah melihat dia mengenakan pakaian sipil biasa. Hal itu pernah saya saksikan satu kali saat saya masih berada di tahun novisiat di Bitora Jl.Legi 7, Papringan Yogyakarta. Bitora itu sendiri adalah singkatan dari Biara Santo Bonaventura. Konon singkatan itu lahir sebagai bandingan Kolsani, markas para Yesuit di Kota Baru (Kolese Santo Ignatius).
Selain pada masa novisiat, masih beberapa kali juga saya melihatnya saat saya menjalani tahun sebagai mahasiswa teologi di tempat yang sama (tahun 1986-1989). Hal yang amat menarik ialah, ternyata setelah kami amati, hal itu terjadi pada hari yang sama, yaitu saat ia merayakan hari ulang tahun. Pada hari yang sangat istimewa itu, pater Groenen (begitu ia dikenal oleh umat dan mahasiswanya) tampak mengenakan busana sipil. Bajunya biasanya kemeja lengan panjang, berwarna biru sangat muda (cenderung ke arah putih kalau di bawah sorot lampu malam). Baju itu dipadu dengan celana panjang dari bahan kain berwarna hitam. Tampak tersetrika halus dan rapih. Pada kesempatan mengenakan busana seperti itu, ia tampak sangat ramping. Biasanya lengan bajunya tidak digulung. Bajunya dimasukkan ke dalam celana dengan ikat pinggang. Jangan-jangan itu juga sebuah pinjaman, karena sehari-hari ikat pinggang itu tidak ada (tidak kelihatan) di kamarnya. Diam-diam kami para frater berbisik-bisik: Waduh, ternyata ganteng juga pater Cletus kalau ia mengenakan busana sipil. Bentuk badannya langsing dan tinggi.
Seperti sudah dikatakan tadi, ia mengenakan pakaian sipil itu saat ia merayakan hari ulang tahun. Saat itu akan datang sebuah mobil, semacam Carry ataupun Combi. Biasanya mobil itu tiba di biara pukul setengah tujuh malam, pas sebelum jam makam malam tiba. Kami juga sudah hafal mobil itu. Itu mobil dari Kolsani, milik para romo Yesuit. Sebab OFM di Papringan saat itu tidak ada apa-apa. Telepon tidak ada, televisi juga tidak ada, apalagi sebangsa mobil (karena mobil itu barang istimewa, kira-kira semewah seperti kuda pada jaman Fransiskus Asisi dulu, sehingga ia melarang para saudara untuk naik barang mewah tersebut). Yang ada di Papringan hanya sepeda dan motor. Motor untuk para romo dan yang sudah kaul kekal. Untuk para frater hanya tersedia sepeda saja.
Ternyata sopir dalam mobil yang datang itu tidak main-main juga. Dia adalah Pater Dr.Bernhard Kiesser SJ. Dia juga adalah dosen kami di Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta. Ia mengajar teologi Moral di Kentungan. Konon pater Kiesser ini, begitu ia dipanggil oleh umat dan para mahasiswa, adalah mahasiswa kesayangan pater Cletus sejak pater Kiesser masih belajar teologi di Kentungan. Hubungan itu tidak pernah berhenti. Dan hanya pater Kiesser sajalah yang bisa mengajak pater Cletus untuk makan keluar di restoran. Hanya pater Kiesser saja yang bisa meminta pater Cletus untuk mengenakan busana sipil. Sejauh saya tahu, pater minister propinsi OFM sekalipun saat itu tidak ada yang bisa meminta pater Cletus untuk mengenakan busana sipil. Hanya pater Kiesser yang bisa melakukan hal itu. Luar biasa. Itu karena ada sebuah hubungan yang sangat baik dan istimewa antara guru (yang Fransiskan) dan murid (yang Yesuit).
Bandung, Februari 2019
Salah satu ciri khas pater Cletus Groenen ialah bahwa ia selalu mengenakan jubah kerahibannya. Tidak pernah ia tampil tanpa jubah di ruang publik. Ia benar-benar sosok seorang rahib atau biarawan sejati yang patut dijadikan teladan bagi gereja. Pater Cletus tidak pernah terlibat tanpa jubah di muka umum. Ia selalu berjubah. Itulah jubah hitam kekhasan dan kesayangannya. Memang ia benar-benar orang yang hidupnya sangat sederhana. Bahkan juga terkesan apa adanya. Orangnya dan cara hidupnya sungguh sederhana. Einfach Leben wie Franziskuz, kata sebuah tulisan di dada Kaus oblong yang banyak dikenakan para Fransiskan akhir tahun 70an dan awal 80an. Walaupun di atas tadi, sudah dikatakan bahwa ia selalu berjubah, namun demikian saya juga pernah melihat dia mengenakan pakaian sipil biasa. Hal itu pernah saya saksikan satu kali saat saya masih berada di tahun novisiat di Bitora Jl.Legi 7, Papringan Yogyakarta. Bitora itu sendiri adalah singkatan dari Biara Santo Bonaventura. Konon singkatan itu lahir sebagai bandingan Kolsani, markas para Yesuit di Kota Baru (Kolese Santo Ignatius).
Selain pada masa novisiat, masih beberapa kali juga saya melihatnya saat saya menjalani tahun sebagai mahasiswa teologi di tempat yang sama (tahun 1986-1989). Hal yang amat menarik ialah, ternyata setelah kami amati, hal itu terjadi pada hari yang sama, yaitu saat ia merayakan hari ulang tahun. Pada hari yang sangat istimewa itu, pater Groenen (begitu ia dikenal oleh umat dan mahasiswanya) tampak mengenakan busana sipil. Bajunya biasanya kemeja lengan panjang, berwarna biru sangat muda (cenderung ke arah putih kalau di bawah sorot lampu malam). Baju itu dipadu dengan celana panjang dari bahan kain berwarna hitam. Tampak tersetrika halus dan rapih. Pada kesempatan mengenakan busana seperti itu, ia tampak sangat ramping. Biasanya lengan bajunya tidak digulung. Bajunya dimasukkan ke dalam celana dengan ikat pinggang. Jangan-jangan itu juga sebuah pinjaman, karena sehari-hari ikat pinggang itu tidak ada (tidak kelihatan) di kamarnya. Diam-diam kami para frater berbisik-bisik: Waduh, ternyata ganteng juga pater Cletus kalau ia mengenakan busana sipil. Bentuk badannya langsing dan tinggi.
Seperti sudah dikatakan tadi, ia mengenakan pakaian sipil itu saat ia merayakan hari ulang tahun. Saat itu akan datang sebuah mobil, semacam Carry ataupun Combi. Biasanya mobil itu tiba di biara pukul setengah tujuh malam, pas sebelum jam makam malam tiba. Kami juga sudah hafal mobil itu. Itu mobil dari Kolsani, milik para romo Yesuit. Sebab OFM di Papringan saat itu tidak ada apa-apa. Telepon tidak ada, televisi juga tidak ada, apalagi sebangsa mobil (karena mobil itu barang istimewa, kira-kira semewah seperti kuda pada jaman Fransiskus Asisi dulu, sehingga ia melarang para saudara untuk naik barang mewah tersebut). Yang ada di Papringan hanya sepeda dan motor. Motor untuk para romo dan yang sudah kaul kekal. Untuk para frater hanya tersedia sepeda saja.
Ternyata sopir dalam mobil yang datang itu tidak main-main juga. Dia adalah Pater Dr.Bernhard Kiesser SJ. Dia juga adalah dosen kami di Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta. Ia mengajar teologi Moral di Kentungan. Konon pater Kiesser ini, begitu ia dipanggil oleh umat dan para mahasiswa, adalah mahasiswa kesayangan pater Cletus sejak pater Kiesser masih belajar teologi di Kentungan. Hubungan itu tidak pernah berhenti. Dan hanya pater Kiesser sajalah yang bisa mengajak pater Cletus untuk makan keluar di restoran. Hanya pater Kiesser saja yang bisa meminta pater Cletus untuk mengenakan busana sipil. Sejauh saya tahu, pater minister propinsi OFM sekalipun saat itu tidak ada yang bisa meminta pater Cletus untuk mengenakan busana sipil. Hanya pater Kiesser yang bisa melakukan hal itu. Luar biasa. Itu karena ada sebuah hubungan yang sangat baik dan istimewa antara guru (yang Fransiskan) dan murid (yang Yesuit).
Bandung, Februari 2019
Saturday, February 9, 2019
MAMAKU KATHARINA
Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.
Mama Katharina adalah nama mamaku. Nama lengkapnya ialah Katharina Bubur. Katharina adalah nama baptisnya (nama permandian, atau ngasang cebong dalam bahasa Manggarai). Sedangkan Bubur adalah namanya yang sebenarnya sebagai orang Manggarai. Dalam bahasa Manggarai nama belakang itu biasanya disebut “ngasang tu’ung” (terjemahannya, nama yang sebenarnya; tetapi itu bukan berarti bahwa nama baptis itu bukan nama yang sebenarnya. Itu juga nama yang sebenarnya. Itu sebuah persoalan rumit yang tidak akan bisa dibahas tuntas dalam tulisan singkat ini). Walaupun namanya Bubur, tetapi anehnya, dan ini sangat menarik perhatian saya sejak kecil dulu, ia mempunyai nama kecil (ngasang koe, alit) Buet. Nama kecil Buet ini, atau alonim dalam bahasa antropologi budayanya, rupanya dibuat berdasarkan sebuah nama yang terdaftar saat ia masuk sekolah dasar di SDK Waemata. Konon pada saat itu ia terdaftar (atau lebih baik didaftarkan) sebagai Bubut. Dari nama Bubut inilah muncul alonim (ngasang koe) Buet. Dan nama Buet inilah yang akhirnya kami hafal dan sangat ingat melekat dalam kalbu kami anak-anak dan juga para cucunya.
Tetapi dulu pada waktu saya masih di SD, saya pernah dilanda rasa malu karena nama ibuku adalah Bubur. Memang dalam bahasa Manggarai, kata bubur itu sepertinya tidak ada artinya. Tetapi dalam bahasa Indonesia, Bubur itu artinya ya bubur. Seperti dalam kata pepatah itu: nasi sudah jadi bubur. Dan bubur dalam bahasa Manggarai adalah lebo. Terkadang saya sedikit menyesali mengapa kakek dan nenek saya memilih nama Bubur untuk puteri tunggal mereka yang cantik itu. Saya tidak habis pikir mengapa mereka memilih nama itu untuk anak perempuan mereka satu-satunya (bahkan anak satu-satunya juga).
Sampai tiba pada suatu saat. Saya menyebutnya, saat perwahyuan. Entah bagaimana dalam sebuah pembicaraan di rumah kami di Ketang. Pada suatu sore hari ema tu’a Lando (ema Alung, kami tidak tahu namanya, tetapi Alung adalah nama isterinya, ende-tua Alung) datang berkunjung ke rumah. Biasanya kalau dia datang bertamu (lejong) kami ngobrol macam-macam hal. Sampai pada suatu saat kami berbicara tentang nama orang-orang Manggarai. Pada kesempatan itulah saya sempat melontarkan rasa tidak senang saya pada kakek dan nenek saya di Wol karena mereka sudah memberi nama Bubur kepada ibu saya. Ema tu’a Lando itu kemudian menatap saya dengan sangat serius. Ia lalu mengatakan bahwa tidak seharusnya kamu memiliki perasaan seperti itu kepada kedua kakek dan nenekmu di Wol. Dengan sedikit rasa kesal saya merajuk dan merengek untuk meyakinkan ema tu’a Alung mengenai sikap dan pendapat saya tadi. Saya mengatakan kepada dia bahwa saya kesal karena mereka telah memberi nama Bubur kepada ibuku. Dan teman-temanku, diam-diam menjadikan nama ibuku sebagai bahan olokan walaupun mereka tidak berani terang-terangan karena takut dimarahi ayahku yang adalah seorang guru sekolah dasar.
Tetapi sebagai anak kecil saya dapat merasakan bahwa mereka suka tertawa bila menyebut nama mamaku. Mendengar curahan hatiku itu, ema tua lando pun memulai pengajarannya. “Nana Frans, kamu tahu apa artinya bubur dalam bahasa Manggarai?” Tentu saya menggeleng. Lalu ia mengatakan: “Bubur itu mempunyai akar kata bur. Dan bur itu artinya matahari terbit, bur leso.” Saya mengatakan bahwa yang saya ketahui ialah par leso. Ema tua Lando mengatakan, bahwa par leso dan bur leso itu sama. Tetapi saya membantah lagi: “Itukan bur, bukan bubur.” Lalu ema tua lando mengatakan bahwa bu-bur itu adalah tahap yang sedikit lebih awal dari bur atau par itu. Kalau par dan bur itu artinya kita sudah melihat berkas-berkas sinar mentari pagi, maka bu-bur itu barulah percikan-percikan awal.
Saya kagum mendengar hal itu. Ia melanjutkan dengan penjelasan yang membuat saya semakin kagum. Mungkin saja kakek dan nenekmu dulu sangat mengharapkan kelahiran anak. Begitu anak itu lahir, ia bagaikan matahari yang terbit, bur, bu-bur, di tengah keluarga. Dengan yakin ema tu’a Lando mengatakan: “Saya sangat yakin bahwa ia adalah anak yang sangat dinantikan. Maka tidak mengherankan bahwa saat anak itu lahir, mereka tidak segan menyamakannya dengan matahari terbit, bur leso, bahkan tahap lebih dini dari bur leso itu, bu-bur leso.” Saya kagum mendengar penjelasan itu. Saya mendapat pengetahuan baru.
Sejak saat itu, saya tidak lagi merasa malu memiliki nama ibu Bubur. Sebab walaupun nama itu dalam bahasa Indonesia ia mempunyai arti yang lain sama sekali, tetapi dalam bahasa Manggarai, ia mempunyai arti yang sangat istimewa karena dikaitkan dengan proses terbitnya cahaya mentari pagi yang membawa sinar terang untuk segala makhluk hidup di bumi. Setelah mendengar penjelasan itu, saya lalu membayangkan betapa bahagianya kakek dan nenek dulu saat anak wanita mereka (ya anak mereka satu-satunya) terlahir ke dunia ini. Saya bisa memahami mengapa mereka menamainya dengan merujuk ke peristiwa agung-kosmis, terbitnya mentari pagi.
Jauh di kemudian hari, setelah saya semakin banyak belajar dan membaca di seminari, saya akhirnya tahu bahwa fase-fase awal sebelum matahari terbit dalam bahasa Latin disebut aurora. Maka terkadang saya menyebut nama mamaku, Katharina Aurora (Latin) alis Bubur (dalam bahasa Manggarai). Betapa cantiknya nama Bubur itu, sebab Bubur itu adalah Aurora, saat detik-detik awal sang mentari dibayangkan terbang ke atas dari balik bumi dan sebelum ia benar-benar tampak terbit di timur percik-percik cahayanya (aurora) sudah tiba duluan. Percik-percik cahaya yang tiba duluan itulah yang disebut aurora atau bubur dalam bahasa Manggarai. Jadi, mama Katharina adalah sang cahaya mentari dalam hidup keluarga kakek dan nenekku dan tentu saja dalam hidup kami anak-anak semuanya. Sebab dari sang Aurora, sang Bubur itu terlahirlah kami anak bersebelas, dengan komposisi enam perempuan dan lima laki-laki. Sungguh mengagumkan dan menyenangkan membayangkan semuanya itu. Saya bayangkan mama Buet tersenyum membaca ungkapan hati anaknya ini. Terima kasih mama. Engkaulah cahaya matahari dalam hidup kami semua.
Mama Katharina adalah nama mamaku. Nama lengkapnya ialah Katharina Bubur. Katharina adalah nama baptisnya (nama permandian, atau ngasang cebong dalam bahasa Manggarai). Sedangkan Bubur adalah namanya yang sebenarnya sebagai orang Manggarai. Dalam bahasa Manggarai nama belakang itu biasanya disebut “ngasang tu’ung” (terjemahannya, nama yang sebenarnya; tetapi itu bukan berarti bahwa nama baptis itu bukan nama yang sebenarnya. Itu juga nama yang sebenarnya. Itu sebuah persoalan rumit yang tidak akan bisa dibahas tuntas dalam tulisan singkat ini). Walaupun namanya Bubur, tetapi anehnya, dan ini sangat menarik perhatian saya sejak kecil dulu, ia mempunyai nama kecil (ngasang koe, alit) Buet. Nama kecil Buet ini, atau alonim dalam bahasa antropologi budayanya, rupanya dibuat berdasarkan sebuah nama yang terdaftar saat ia masuk sekolah dasar di SDK Waemata. Konon pada saat itu ia terdaftar (atau lebih baik didaftarkan) sebagai Bubut. Dari nama Bubut inilah muncul alonim (ngasang koe) Buet. Dan nama Buet inilah yang akhirnya kami hafal dan sangat ingat melekat dalam kalbu kami anak-anak dan juga para cucunya.
Tetapi dulu pada waktu saya masih di SD, saya pernah dilanda rasa malu karena nama ibuku adalah Bubur. Memang dalam bahasa Manggarai, kata bubur itu sepertinya tidak ada artinya. Tetapi dalam bahasa Indonesia, Bubur itu artinya ya bubur. Seperti dalam kata pepatah itu: nasi sudah jadi bubur. Dan bubur dalam bahasa Manggarai adalah lebo. Terkadang saya sedikit menyesali mengapa kakek dan nenek saya memilih nama Bubur untuk puteri tunggal mereka yang cantik itu. Saya tidak habis pikir mengapa mereka memilih nama itu untuk anak perempuan mereka satu-satunya (bahkan anak satu-satunya juga).
Sampai tiba pada suatu saat. Saya menyebutnya, saat perwahyuan. Entah bagaimana dalam sebuah pembicaraan di rumah kami di Ketang. Pada suatu sore hari ema tu’a Lando (ema Alung, kami tidak tahu namanya, tetapi Alung adalah nama isterinya, ende-tua Alung) datang berkunjung ke rumah. Biasanya kalau dia datang bertamu (lejong) kami ngobrol macam-macam hal. Sampai pada suatu saat kami berbicara tentang nama orang-orang Manggarai. Pada kesempatan itulah saya sempat melontarkan rasa tidak senang saya pada kakek dan nenek saya di Wol karena mereka sudah memberi nama Bubur kepada ibu saya. Ema tu’a Lando itu kemudian menatap saya dengan sangat serius. Ia lalu mengatakan bahwa tidak seharusnya kamu memiliki perasaan seperti itu kepada kedua kakek dan nenekmu di Wol. Dengan sedikit rasa kesal saya merajuk dan merengek untuk meyakinkan ema tu’a Alung mengenai sikap dan pendapat saya tadi. Saya mengatakan kepada dia bahwa saya kesal karena mereka telah memberi nama Bubur kepada ibuku. Dan teman-temanku, diam-diam menjadikan nama ibuku sebagai bahan olokan walaupun mereka tidak berani terang-terangan karena takut dimarahi ayahku yang adalah seorang guru sekolah dasar.
Tetapi sebagai anak kecil saya dapat merasakan bahwa mereka suka tertawa bila menyebut nama mamaku. Mendengar curahan hatiku itu, ema tua lando pun memulai pengajarannya. “Nana Frans, kamu tahu apa artinya bubur dalam bahasa Manggarai?” Tentu saya menggeleng. Lalu ia mengatakan: “Bubur itu mempunyai akar kata bur. Dan bur itu artinya matahari terbit, bur leso.” Saya mengatakan bahwa yang saya ketahui ialah par leso. Ema tua Lando mengatakan, bahwa par leso dan bur leso itu sama. Tetapi saya membantah lagi: “Itukan bur, bukan bubur.” Lalu ema tua lando mengatakan bahwa bu-bur itu adalah tahap yang sedikit lebih awal dari bur atau par itu. Kalau par dan bur itu artinya kita sudah melihat berkas-berkas sinar mentari pagi, maka bu-bur itu barulah percikan-percikan awal.
Saya kagum mendengar hal itu. Ia melanjutkan dengan penjelasan yang membuat saya semakin kagum. Mungkin saja kakek dan nenekmu dulu sangat mengharapkan kelahiran anak. Begitu anak itu lahir, ia bagaikan matahari yang terbit, bur, bu-bur, di tengah keluarga. Dengan yakin ema tu’a Lando mengatakan: “Saya sangat yakin bahwa ia adalah anak yang sangat dinantikan. Maka tidak mengherankan bahwa saat anak itu lahir, mereka tidak segan menyamakannya dengan matahari terbit, bur leso, bahkan tahap lebih dini dari bur leso itu, bu-bur leso.” Saya kagum mendengar penjelasan itu. Saya mendapat pengetahuan baru.
Sejak saat itu, saya tidak lagi merasa malu memiliki nama ibu Bubur. Sebab walaupun nama itu dalam bahasa Indonesia ia mempunyai arti yang lain sama sekali, tetapi dalam bahasa Manggarai, ia mempunyai arti yang sangat istimewa karena dikaitkan dengan proses terbitnya cahaya mentari pagi yang membawa sinar terang untuk segala makhluk hidup di bumi. Setelah mendengar penjelasan itu, saya lalu membayangkan betapa bahagianya kakek dan nenek dulu saat anak wanita mereka (ya anak mereka satu-satunya) terlahir ke dunia ini. Saya bisa memahami mengapa mereka menamainya dengan merujuk ke peristiwa agung-kosmis, terbitnya mentari pagi.
Jauh di kemudian hari, setelah saya semakin banyak belajar dan membaca di seminari, saya akhirnya tahu bahwa fase-fase awal sebelum matahari terbit dalam bahasa Latin disebut aurora. Maka terkadang saya menyebut nama mamaku, Katharina Aurora (Latin) alis Bubur (dalam bahasa Manggarai). Betapa cantiknya nama Bubur itu, sebab Bubur itu adalah Aurora, saat detik-detik awal sang mentari dibayangkan terbang ke atas dari balik bumi dan sebelum ia benar-benar tampak terbit di timur percik-percik cahayanya (aurora) sudah tiba duluan. Percik-percik cahaya yang tiba duluan itulah yang disebut aurora atau bubur dalam bahasa Manggarai. Jadi, mama Katharina adalah sang cahaya mentari dalam hidup keluarga kakek dan nenekku dan tentu saja dalam hidup kami anak-anak semuanya. Sebab dari sang Aurora, sang Bubur itu terlahirlah kami anak bersebelas, dengan komposisi enam perempuan dan lima laki-laki. Sungguh mengagumkan dan menyenangkan membayangkan semuanya itu. Saya bayangkan mama Buet tersenyum membaca ungkapan hati anaknya ini. Terima kasih mama. Engkaulah cahaya matahari dalam hidup kami semua.
MEMAHAMI DAN MENIKMATI KIDUNG AGUNG 3:1-6
Oleh: Fransiskus Borgias M.
Dosen Biblika pada FF-UNPAR Bandung; Anggota LBI dan ISBI.
Dalam bagian sebelumnya tokoh kitab ini sudah berbicara tentang rembang petang (Kid 2:17). Sebentar lagi malam tiba. Keadaan malam hari itulah yang dilukiskan dalam bagian ini. Sudah tentu, ketika malam tiba, manusia beristirahat dan tidur di peraduannya. Tidur adalah berhenti sejenak dari semua aktifitas di siang hari. Tubuh memang butuh istirahat demi pemulihan. Tetapi di sini kita membaca bahwa pencarian sang kekasih (perempuan) akan sang kekasih prianya tidak juga berhenti. Badannya boleh beristirahat. Tetapi hatinya tidak. Ia terus mencari, merindu, dan mendamba. Juga di atas ranjang istirahat di malam hari, ia terus mencari jantung hatiku (Kid 3:1).
Tetapi sayangnya, ia belum menemukan yang dicarinya. Karena itu, pencarian dilanjutkan. Apakah ayat kedua ini harus dibaca secara harfiah, ataukah secara metaforis? Saya membacanya secara metaforis. Maksudnya ialah bahwa walaupun kini ia mau bangun dari tempat tidurnya dan pergi berjalan mencari sang kekasih yang dirindukannya, namun sesungguhnya yang dimaksudkan ialah perjalanan pencarian di dalam jiwa, di dalam hati, dalam kerinduan. Sesungguhnya badannya sudah sungguh beristirahat di tempat tidur, tetapi hatinya yang merindu dan mendamba tetap bangun dan berkeliling di kota, di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kota (ayat 2ab). Jadi, dalam pembacaan saya, ia tidak sungguh bangun di malam hari lalu melakukan perjalanan malam, melainkan ia melakukan upaya pencarian itu dalam gelora rindu dan damba.
Lagi-lagi upaya pencarian itu belum sampai pada tujuannya. Ia belum berhasil menemukan kekasih yang dicari dan didambakannya dengan sepenuh hati (ay 2c; ini merupakan ulangan dari bagian akhir ay 1). Memang hati manusia bisa “melanglang buana” jauh melampaui kemampuan badaninya yang dibatasi ruang dan waktu. Sebaliknya, hati dan budi manusia tidak terikat ruang dan waktu. Ia bisa “berjalan” melintasi batas-batas itu, baik ke masa silam maupun ke masa depan. Itulah keajaiban hati dan budi manusia.
Di dalam upacara pencarian di malam hari itu, ia membayangkan bertemu dengan para penjaga malam. Kepada mereka ia lontarkan pertanyaan pencarian. Tetapi tidak ada jawab yang mereka berikan (ay 3). Itulah sebabnya ia meninggalkan mereka. Ia merasa tidak perlu berlama-lama mencari informasi pada mereka yang tidak sanggup menjawab, memberikan jalan keluar. Lalu terjadilah keajaiban, terjadilah sebuah mukjizat.
Tidak lama setelah ia meninggalkan peronda malam yang tidak mampu menjawab pencariannya, ternyata ia menemui jantung hatinya. Ungkapan “jantung hati” adalah metafora mengenai kekasih. Itu adalah pertanda betapa mereka mempunyai hubungan yang sangat erat. Sang kekasih itu diibaratkan organ tubuh yang vital di dalam tubuh manusia, jantung-hati, heart, cor. Itulah pusat pikiran dan perasaan manusia. Karena itu saat ia menemukan kekasihnya, pasti ia merasa seperti menemukan dirinya sendiri, menemukan salah satu bagian inti dari dirinya sendiri. Betapa bahagianya dan menyenangkan perjumpaan seperti itu. Perjumpaan yang menghidupkan. Karena itu, ia memegang kekasihnya dan tidak dilepaskannya lagi (ay 4b). Ia membawanya kembali ke rumah ibunya, yang melahirkannya, bahkan sampai ke kamar kelahiran. Ia mau mengatakan betapa sang kekasih dan perjumpaan dengannya sangat penting dan karena itu ia ibaratkan sebagai awal mula kehidupan di dunia ini, yaitu kelahiran (ay 4bcd). Akhirnya, penggal teks ini ditutup dengan ayat ulangan yang sudah muncul sebelumnya yaitu dalam Kidung 2:7. Karena itu saya tidak mengulanginya di sini. Yang jelas, upaya pencarian itu berakhir dalam sebuah drama perjumpaan dan drama perjalanan kembali pulang ke tempat awal kehidupan itu dimulai, yaitu di rumah kelahiran, di kamar kelahiran.
Kopo, 09 Februari 2019
Dosen Biblika pada FF-UNPAR Bandung; Anggota LBI dan ISBI.
Dalam bagian sebelumnya tokoh kitab ini sudah berbicara tentang rembang petang (Kid 2:17). Sebentar lagi malam tiba. Keadaan malam hari itulah yang dilukiskan dalam bagian ini. Sudah tentu, ketika malam tiba, manusia beristirahat dan tidur di peraduannya. Tidur adalah berhenti sejenak dari semua aktifitas di siang hari. Tubuh memang butuh istirahat demi pemulihan. Tetapi di sini kita membaca bahwa pencarian sang kekasih (perempuan) akan sang kekasih prianya tidak juga berhenti. Badannya boleh beristirahat. Tetapi hatinya tidak. Ia terus mencari, merindu, dan mendamba. Juga di atas ranjang istirahat di malam hari, ia terus mencari jantung hatiku (Kid 3:1).
Tetapi sayangnya, ia belum menemukan yang dicarinya. Karena itu, pencarian dilanjutkan. Apakah ayat kedua ini harus dibaca secara harfiah, ataukah secara metaforis? Saya membacanya secara metaforis. Maksudnya ialah bahwa walaupun kini ia mau bangun dari tempat tidurnya dan pergi berjalan mencari sang kekasih yang dirindukannya, namun sesungguhnya yang dimaksudkan ialah perjalanan pencarian di dalam jiwa, di dalam hati, dalam kerinduan. Sesungguhnya badannya sudah sungguh beristirahat di tempat tidur, tetapi hatinya yang merindu dan mendamba tetap bangun dan berkeliling di kota, di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kota (ayat 2ab). Jadi, dalam pembacaan saya, ia tidak sungguh bangun di malam hari lalu melakukan perjalanan malam, melainkan ia melakukan upaya pencarian itu dalam gelora rindu dan damba.
Lagi-lagi upaya pencarian itu belum sampai pada tujuannya. Ia belum berhasil menemukan kekasih yang dicari dan didambakannya dengan sepenuh hati (ay 2c; ini merupakan ulangan dari bagian akhir ay 1). Memang hati manusia bisa “melanglang buana” jauh melampaui kemampuan badaninya yang dibatasi ruang dan waktu. Sebaliknya, hati dan budi manusia tidak terikat ruang dan waktu. Ia bisa “berjalan” melintasi batas-batas itu, baik ke masa silam maupun ke masa depan. Itulah keajaiban hati dan budi manusia.
Di dalam upacara pencarian di malam hari itu, ia membayangkan bertemu dengan para penjaga malam. Kepada mereka ia lontarkan pertanyaan pencarian. Tetapi tidak ada jawab yang mereka berikan (ay 3). Itulah sebabnya ia meninggalkan mereka. Ia merasa tidak perlu berlama-lama mencari informasi pada mereka yang tidak sanggup menjawab, memberikan jalan keluar. Lalu terjadilah keajaiban, terjadilah sebuah mukjizat.
Tidak lama setelah ia meninggalkan peronda malam yang tidak mampu menjawab pencariannya, ternyata ia menemui jantung hatinya. Ungkapan “jantung hati” adalah metafora mengenai kekasih. Itu adalah pertanda betapa mereka mempunyai hubungan yang sangat erat. Sang kekasih itu diibaratkan organ tubuh yang vital di dalam tubuh manusia, jantung-hati, heart, cor. Itulah pusat pikiran dan perasaan manusia. Karena itu saat ia menemukan kekasihnya, pasti ia merasa seperti menemukan dirinya sendiri, menemukan salah satu bagian inti dari dirinya sendiri. Betapa bahagianya dan menyenangkan perjumpaan seperti itu. Perjumpaan yang menghidupkan. Karena itu, ia memegang kekasihnya dan tidak dilepaskannya lagi (ay 4b). Ia membawanya kembali ke rumah ibunya, yang melahirkannya, bahkan sampai ke kamar kelahiran. Ia mau mengatakan betapa sang kekasih dan perjumpaan dengannya sangat penting dan karena itu ia ibaratkan sebagai awal mula kehidupan di dunia ini, yaitu kelahiran (ay 4bcd). Akhirnya, penggal teks ini ditutup dengan ayat ulangan yang sudah muncul sebelumnya yaitu dalam Kidung 2:7. Karena itu saya tidak mengulanginya di sini. Yang jelas, upaya pencarian itu berakhir dalam sebuah drama perjumpaan dan drama perjalanan kembali pulang ke tempat awal kehidupan itu dimulai, yaitu di rumah kelahiran, di kamar kelahiran.
Kopo, 09 Februari 2019
Subscribe to:
Posts (Atom)
PEDENG JEREK WAE SUSU
Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari Puncak perayaan penti adala...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M., (EFBE@fransisbm) Mazmur ini termasuk cukup panjang, yaitu terdiri atas 22 ayat, mengikuti 22 abjad Ib...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Judul Mazmur ini dalam Alkitab ialah Doa mohon Israel dipulihkan. Judul itu mengandaikan bahwa keadaan Israe...
-
Oleh: Fransiskus Borgias M. Sebagai manusia yang beriman (percaya), kiranya kita semua sungguh-sungguh yakin dan percaya bahwa Tuhan itu...