Monday, June 15, 2020

PARA PAHLAWAN YANG MENGAJAR KAMI

Oleh: Dr.Fransiskus Borgias MA.


 

Saya sekolah di SDK Lamba-Ketang mulai dari kelas satu sampai dengan kelas enam SD. Saya masuk sekolah pada bulan Januari 1969. Saya tamat SD bulan Desember tahun 1974. Pas enam tahun. Sampai dengan tahun 1971, saya masih ingat para guru yang mengajar kami ialah nama-nama berikut ini. Bapak Alo Handuk yang bertugas sebagai kepala Sekolah. Ibu Sabina Imut yang mengajar di kelas dua SD. Ibu Sebina adalah isteri dari bapa Alo Handuk. Pada pertengahan tahun 1971, Bapa Alo dan Ibu Sebina meninggalkan sekolah Lamba-Ketang, dan berpindah ke Kempo, Kampung halaman Bapa Alo. Kalau tidak salah bapa Alo pindah ke SD Compang. Selain kedua guru tadi, ada juga guru-guru lain, yaitu Bapak Petrus Hanu, Bapak Frans Ebat dan Bapak Felix Mar (ayah saya sendiri). Jadi, total ada lima orang guru. Itu sudah bagus.

Setelah bapa Alo dan ibu Sebina pindah ke Kempo, keduanya diganti oleh bapa Gerardus Rengka dan juga bapak Guru Pit Darut. Tetapi tidak lama sesudah itu, bapak Pit Hanu pindah ke Denge, ke kampung asalnya beliau. Tetapi sepeninggal bapa Pit Hanu, ada juga seorang penggantinya yaitu Bapak Lambertus Jerawan BA yang pada saat itu baru saja menyelesaikan studinya di APK Ruteng. Pokoknya sejak tahun 1971 sampai tahun 1974 (saat saya tamat Sekolah Dasar) guru-guru yang ada di sana ialah Bapa Gerardus Rengka (sebagai Kepala Sekolah), Bapa Frans Ebat, Bapa Petrus Darut, Bapak Felix Mar, Bapak Lambertus Jerawan. Bapak guru Gerardus Rengka mengajar kelas 1 dan 2. Bapak Frans Ebat mengajar kelas 3. Bapak Lambertus Jerawan mengajar kelas empat. Bapak Feliks Mar mengajar kelas lima. Bapak Pit Darut mengajar kelas enam.

Kelima guru ini masing-masing mempunyai sumbangan yang sangat unik bagi perkembangan kepribadian para siswa. Saya sebut saja satu per satu di bawah ini. Bapa guru Pit Darut adalah seorang seniman music suling yang sangat handal. Dia melatih para siswa SD untuk bermian suling dan bahkan membentuk paduan suara seruling. Kami bisa memainkan beberapa lagu yang ia latihkan kepada kami. Dan saya masih ingat dengan sangat baik lagu-lagu tersebut hingga sekarang ini. Pada waktu itu, karena belum ada music rekaman seperti sekarang ini, kami paduan suara seruling itu sering diundang para pengantin yang akan menikah untuk mengiringi mereka dari kampung mereka ke gereja dan pulang lagi dari gereja ke kampung mereka. Ya, kami iringi perjalanan pengantin itu dengan bunyi seruling kami dan gendang (tambur).

Bapak Feliks Mar dan Bapak Frans Ebat sama-sama mempunyai minat dan perhatian yang besar akan misa-misa adat. Mereka juga mempunyai minat yang besar akan lagu-lagu sanda. Mereka membaktikan diri mereka berdua untuk mempelajari beberapa sanda yang sudah diadaptasi oleh beberapa komponis pada waktu itu dan melatihkannya kepada para siswa Sekolah Dasar. Beberapa sanda yang ada dalam buku Dere Serani pun mereka pelajari dengan baik dan juga mereka ajarkan kepada para siswa dengan baik. Jadi, kedua orang ini sangat sibuk memberi perhatian pada misa-misa inkulturatif gereja. Beberapa lagu mbata dan sanda dari dere serani akhirnya bisa saya kuasai karena jasa dari kedua orang ini yang bagi saya sangat luar biasa. Bahkan bapak Guru Frans juga pandai menyanyi sambil memukulkan gendang dengan irama mbata. Luar biasa.

Lain lagi ceritanya dengan bapak Guru Lambertus Jerawan BA. Bagi saya beliau adalah seorang guru katekis professional karena ia memang secara khusus belajar untuk tujuan itu di APK (Akademi Pendidikan Kateketik) Ruteng. Dia adalah seorang guru agama yang jago sekali bercerita. Saya masih ingat dengan sangat baik pada saat di kelas IV kami disuguhi cerita yang sangat hidup dan menarik tentang drama penyeberangan Laut Merat yang terkenal dahsyat itu di mana orang Israel luput dari kejaran orang-orang Mesir karena mereka lari di tengah laut yang membelah. Luar biasa. Selain itu, bapak Lambertus juga adalah seorang dirigen dan pelatih koor modern gereja. Boleh dikatakan itulah yang menjadi spesialisasi Bapa Lambert di SDK Lamba-Ketang.

Terakhir ada bapa guru Gerardus Rengka. Guru paling senior pada waktu itu. Beliau juga mempunyai sumbangan yang sangat unik. Suaranya bass dan dalam dan berat sekali. Beliaulah jagonya lagu-lagu Gregorian berbahasa Latin. Dan kami anak-anak sekolah pada waktu itu dilatih dengan keras dan penuh disiplin oleh beliau. Saya ingat itu dengan sangat baik. Kami harus belajar lagu-lagu Gregorian dalam Bahasa Latin. Saya masih ingat dulu, kalau pada tanggal 2 November setiap tahun ada misa Hitam. Disebut Hitam karena imamnya mengenakan busana liturgis berwarna Hitam. Sekarang warna hitam itu tidak pernah dipakai lagi. Nah, dalam misa Hitam itulah kami anak-anak SDK harus menyanyikan lagu-lagu misa requiem Latin itu. Dan Lagu persembahan yang panjang itu juga dinyanyikan. Dan tentu saja Bapa Gerardus dibantu oleh semua guru-guru menyanyikan lagu itu dengan baik. Benar-benar luar biasa.

Dari kelima nama bapa guru itu, yang masih hidup tinggal satu orang saja, yaitu Bapa guru Frans Ebat. Dia juga sudah pension sekarang ini. Dan sekarang dia sudah menetap lagi di Ketang setelah sempat pindah-pindah mengajar di beberapa tempat yang lain. Robert, anak sulung bapak guru Frans Ebat, memberitahukan saya tentang bapa Frans Ebat yang masih sehat walafiat. Puji Tuhan. Yang lain sudah meninggal. Bapa Pit Darut meninggal tahun 1978. Bapa Feliks meninggal tahun 2013. Bapa Lambert saya lupa persisnya, tetapi rasanya di atas tahun 87an. Bapa Gerardus juga sudah meninggal tetapi saya lupa tahunnya.

Saat saya ingat para guruku, saya ingat diri saya sendiri pada usia sekolah dasar. Tatkala ingat akan guru-guru itu, ingatan saya langsung meluncur ke masa silam itu. Masa saya masih anak-anak di sana, di SDK Lamba-Ketang. Pada saat itu saya dan teman-teman bisa bermain di kebun, bahkan bisa juga bermain di sawah, menelusuri pumpuk-pumpuk yang ada di sekitar Ketang untuk mencari pupuk kering (berupa cirit kuda ataupun cirit kerbau dan ciri sapi yang sudah mengering). Kami juga biasa pergi mencari rumput untuk pakan kuda, dan terutama juga mencari ikan kecil di sawah, wader kalau orang Jawa menyebutnya. Oh ya juga suka mencari katak.

Ada satu hal lagi yang harus saya ungkapkan bahwa kelima orang guru ini adalah guru-guru yang punya dedikasi tinggi untuk ilmu, di sekolah, juga untuk kehidupan agama di gereja dan di tengah masyarakat. Bersama-sama mereka mengembangkan sekolah ketang itu, dan juga memberikan pengabdian kepada masyarakat di sekitar. Benar-benar luar biasa mengagumkan.

 


No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...