Monday, June 15, 2020

CHOLID SALIM: ADIK HAJI AGUS SALIM MENJADI KRISTEN KATOLIK

Oleh: Fransiskus Borgias M.

 

 

Beberapa minggu yang lalu, kita di negeri ini dihebohkan oleh tuntutan gubernur Sumatera Barat kepada Menkominfo, agar sang Menteri menurunkan atau menghapus aplikasi Injil dalam Bahasa Minang yang disediakan di dalam Playstore. Adapun alasan yang dipakai ialah bahwa Budaya Minang itu sudah identic dengan Islam, sedangkan Injil adalah sesuatu yang berbau Kristen, dan karena itu bertentangan dengan atau tidak cocok dengan budaya Minang yang Islam.

Banyak pihak bereaksi dengan mengatakan bahwa permohonan itu tidak sepatutnya karena aplikasi itu sama sekali tidak melanggar undang-undang. Terdengar suara lantang dari Setara Institut. Juga ada suara dari sebuah lembaga khusus dari Presiden yang juga bersuara kurang lebih sama dengan suara Setara tersebut. Terkait dengan permintaan itu, ada beberapa peristiwa rentetan yang terjadi. Pertama, ada video kritik dari Ade Armando, dosen ilmu komunikasi dari UI. Inti dari kritik Ade Armando ialah bahwa permohonan seperti itu menunjukkan kemunduran Minang, yang dulu menghasilkan banyak intelektual besar untuk negeri ini, sekarang malah tidak ada lagi. Juga menurut Ade Armando, bahwa permohonan itu menunjukkan betapa rentannya iman Islam orang Minang itu. Apakah dengan masuknya aplikasi Injil ke dalam Playstore langsung akan menyebabkan murtadnya banyak orang Minang yang Islam? Kiranya hal itu sudah keterlaluan.

Akibat dari hal itu ialah Ade Armando pun dipecat dari status sebagai orang Minang, oleh orang yang mengkalim diri sebagai ketua adat ranah Minang. Ade Armando menanggapi hal itu dengan tenang saja. Pertama, ia nyatakan menerima hal itu. Kedua, ia juga mempertanyakan keminangan si orang yang menganggap diri sebagai ketua adat ranah Minang tersebut. Dari rekam jejaknya, jelas bahwa si ketua itu kemarin pernah maju sebagai calon DPD untuk dapil Sumatera Barat. Dan ternyata tidak berhasil lolos. Itu artinya apa? Menurut Ade Armando, itu artinya, bahwa dia sendiri juga sama sekali tidak mendapat dukungan di hati orang ranah Minang untuk dijadikan dan dipercaya sebagai wakil mereka. Masih ada lagi beberapa peristiwa rentetan sebagai akibat dari hal itu. Salah satunya ialah muncul aksi serupa di daerah Riau. Mereka lupa bahwa Klinkert itu sudah menerjemahkan Injil itu ke dalam Bahasa Melayu dari Riau itu (kalau tidak salah ingat).

Ketika saya membaca dan mendengar semuanya itu, saya teringat akan sebuah video. Video itu dikirim oleh seorang teman di sebuah WAG. Video itu berisi tentang kisah adik dari tokoh pahlawan Nasional, Haji Agus Salim (HAS). Bapak HAS, itu berasal dari daerah Minang, Sumetera Barat. Mungkin hal ini amat mengejutkan karena tidak banyak orang yang mengetahuinya. Adik kandung dari bapa HAS ini ada yang murtad menjadi Kristen Katolik. Nama tokoh itu Cholid Salim. Entah sejak kapan, sang adik ini menganut paham komunis. Dan ia terlibat sangat aktif di dalam aliran komunis itu di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui komunisme internasional itu sudah masuk dan berkembang di Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka. Bahkan mereka juga sudah membentuk semacam partai atau lebih tepat pergerakan politik.

Pada tahun 1926 pergerakan politik komunisme internasional ini yang dibentuk di Belanda kemudian masuk juga ke Indonesia, melakukan semacam pemberontakan. Dan adik dari bapak HAS pun ikut ditangkap karena ia juga adalah salah satu tokoh di dalam pemberontakan tersebut. Sebagai hukumannya, banyak dari para tokoh tersebut yang dibuang ke Boven Digul, Irian Barat, Papua. Tidak main-main. Ia mendekam di sana selama limabelas tahun. Pengalaman pembuangan Digul itu kemudian dibukukan dalam buku yang berjudul LIMABELAS TAHUN DI DIGUL. Digul itu dijulukinya sebagai semacam Kamp Konsentrasi, sebuah nama yang mengingatkan kita akan aksi keji dari Nazi Jerman dalam perang Dunia Kedua, tidak sampai dua decade sesudah pemberontakan komunis 1926 itu. sang adik dari bapak HAS ini bekerja sebagai wartawan.

Nah di Digul itulah si adik memutuskan untuk menjadi penganut agama Kristen Katolik. Tentu saja sebelum menganut ateisme ia dibesarkan dalam tradisi agama Islam. Dan dapat dipastikan juga bahwa ia adalah seorang muslim. Tetapi kemudian ia “meninggalkan” Islam dan menjadi seorang penganut ateisme dan terlibat di dalam pergerakan komunisme. Di Digul ia berkenalan dengan bapak Sukaryo Prawirojudo. Orang ini tidak lain adalah pelaku pemberontakan yang dalam sejarah disebut Zeven Provincien (Pemberontakan Pelaut Indonesia). Konon dari tokoh inilah ia mulai berkenalan dengan ajaran agama Kristen Katolik. Tentu saja pengenalan awal itu dilanjutkan dan diperdalam dengan pemelajaran sendiri yaitu dengan menekuni Katekismus Gereja Katolik.

Ia tidak main-main dengan pilihan itu sebab pada sehari sesudah Natal tahun 1942, ia dibaptis ke dalam gereja Katolik. Dan yang membaptisnya ialah seorang pastor yang bernama Mauwese (kiranya seorang pastor dari kongregasi MSC yang memang banyak melayani beberapa wilayah di Papua Selatan itu, di mana Digul itu terletak. Bapak Cholid, di dalam peristiwa pembaptisan itu memilih nama baptis Ignatius Fransiskus Michael Cholid Salim. Luar biasa sekali pilihan nama baptisnya.

Kemudian Cholid Salim lebih lanjut dibuang ke Australia. Tetapi entah bagaimana, sang kakak kemudian berjumpa dengan sang Adik di negeri Belanda. Dan di situlah sang kakak mengetahui bahwa sang adik sudah murtad dan menjadi seorang penganut agama Kristen Katolik. Konon Bapak HAS tenang-tenang saja. Bahkan ia merasa senang juga karena ia beranggapan bahwa setidak-tidaknya dengan itu sang adik sudah terlepas bebas dari komunisme-ateis.

Bapak HAS merasa yakin bahwa menjadi Katolik itu jauh lebih baik daripada menjadi ateis. Bahkan bapak HAS merasa bersyukur bahwa sang adik kembali percaya kepada Tuhan walaupun sudah di dalam bahtera yang lain. Bapak HAS beranggapan bahwa pilihan sang adik untuk menjadi penganut Kristen Katolik adalah sebuah takdir Illahi yang tidak usah dipersoalkan, melainkan harus diterima dan disyukuri. Ia tidak berteriak-teriak mengucapkan sumpah serapah mengutuk MURTAD, sesuatu yang sangat sering kita dengar dari mulut beberapa orang tertentu.

Tentu saja sikap bapak HAS adalah sebuah sikap yang luar biasa agung dari sang tokoh islam itu. Benar-benar mengagumkan. Memang bapak HAS adalah seorang tokoh Islam modern. Bapak HAS saat mengetahui bahwa sang adik sudah menjadi penganut agama Katolik, ia merasa bersyukur dan berseru alhamdulilah, sebuah seruan ucapan syukur di dalam tradisi Arab (Yahudi, Kristen, dan juga Islam).

Pertanyaannya ialah, mengapa ia berseru alhamdullilah seperti itu? itu tidak lain karena dalam pandangan bapak HAS, sebagai seorang penganut agama Katolik sang adik berada lebih dekat dengan sang abang dibandingkan ketika sang adik itu menjadi penganut ateisme. Sang kakak merasa sangat jauh sekali. Ia merasa terasing dari sang adik. Tetapi tatkala sang adik itu sudah menjadi penganut agama Katolik, maka sang kakak merasa sudah dekat kembali, walaupun berbeda kapal. Bapak HAS sama sekali tidak mempersoalkan kapal tumpangan itu, yang terpenting ialah bahwa sang adik sudah menjadi orang yang percaya kepada Tuhan. Dan untuk itulah bapak HAS telah melambungkan seruan alhamdullilahnya itu. Puji Tuhan.

Kiranya, orang yang menjadi Kristen dari ranah Minang tidak hanya bapak Cholid Salim. Pasti ada banyak juga yang lain. Mungkin ada baiknya juga perlu dibuat semacam data statistic. Data seperti itu penting untuk mengetahui seberapa orang yang memang mungkin memerlukan Injil di dalam Bahasa Minang itu. atau mungkin juga tidak diperlukan sebab orang-orang itu mungkin sudah berpendidikan tinggi sehingga bisa membaca Injil di dalam Bahasa-bahasa dunia modern yang lainnya. Tetapi paling tidak dengan cara itu, seruan yang berkonotasi sempit dan intoleran sang gubernur tadi yang menyerukan penghapusan aplikasi Injil dari Playstore tidak perlu ada.

 

Penulis: Dosen dan Peneliti pada FAKULTAS FILSAFAT UNPAR Bandung.

 


No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...