Saturday, June 13, 2020

DOMINE NON SUM DIGNUS 2

Oleh: Fransiskus Borgias M. 


Terkait hari Raya Tubuh dan Darah Kristus itu saya ingat akan sebuah cerita yang sudah sangat klasik. Cerita itu saya pernah baca dalam salah satu buku dari Paulo Coelho, penulis yang terkenal dari Brazil itu. Hanya saja saya sudah lupa judul buku dari Coelho tersebut. Tetapi yang paling penting ialah saya tetap ingat alur ceritanya. Di dalam buku itu, Coelho hanya mengisahkannya secara singkat saja. Mungkin juga dia meringkas dari sebuah sumber lain yang belum saya ketahui sampai sekarang ini. Nah tulisan saya kali ini tidak lain adalah upaya untuk mengisahkan kembali cerita itu dengan lebih detail dan lebih panjang, tentu saja menurut rumusan verbal saya sendiri. 

Dikisahkan bahwa dulu di Roma pada jaman Yesus Kristus, ada sebuah keluarga bangsawan Roma. Keluarga ini mempunyai dua orang anak laki-laki. Mereka memberi pendidikan yang sepatutnya bagi kedua anak itu menurut tuntutan tingkatan dan golongan sosial mereka. Setelah kedua anak itu bertumbuh menjadi dewasa, mulai tampaklah apa yang menjadi bakat, kemampuan dan kecenderungan kepribadian mereka. 

Si adik, mempunyai minat dan bakat yang sangat tinggi di bidang kesenian khususnya sastra. Ia pandai berbicara di muka umum dan juga pandai menulis. Setiap hari ia membaca banyak karya klasik sebagaimana yang memang menjadi trend para anak bangsawan pada masa itu. Bahkan sudah sejak sangat dini ia juga sudah bisa menulis beberapa puisi. Puisi itu juga dibacakan di beberapa forum kesenian yang memang disediakan juga di beberapa forum di Roma. Lambat laun, dia menjadi sangat populer di Roma karena karya-karyanya di bidang sastra, terutama puisi. Banyak dari karya puisinya itu dibacakan di arena-arena pertunjukan, baik dibacakan oleh dia sendiri, maupun dibacakan oleh orang lain. Pokoknya, sekali lagi, karena kata-katanya, karena produsir kata-katanya, si bungsi ini menjadi sangat terkenal. 

Semua orang Roma memuji-muji dia. Begitu juga halnya di tengah keluarga. Ia menjadi anak yang dipuja-puja, yang dianggap telah membesarka nama keluarga. Dan sekali lagi itu semua terjadi karena si bungsu tadi berhasil mengeluarkan banyak karya-karya sastra yang bermutu yang diakui banyak orang di dalam masyarakat. Si bungsu ini tidak hanya dipuja-puja, melainkan juga ia dipuja dalam perbandingan dengan si kakak yang dianggap tidak menghasilkan apa-apa untuk mengharumkan nama keluarga. 

Sebaliknya si kakak, itu orangnya pendiam. Ia tidak pandai berbicara. Sesungguhnya ia pandai berbicara, tetapi tidak banyak mengumbar kata-kata. Ia lebih banyak berdiam diri saja. Berbeda dengan si adik yang menaruh minat besar pada bidang sastra dan poetika, si abang ini mempunyai suatu kecenderungan lain sama sekali. Ia berminat di bidang militer, dinas ketentaraan. Suatu yang sangat luhur juga sebenarnya pada waktu di Kekaisaran Roma. Maka untuk mewujudkan cita-citanya ia pun masuk ke akademi militer yang terkenal di kota Roma, dari mana sudah dihasilkan banyak jenderal dan ahli strategi perang kekaisaran Roma. 

Sebagai orang yang terlibat dalam dunia militer, ia tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk mengasah kemampuannya di bidang disiplin ketentaraan, termasuk dalam hal pengendalian diri, pengendalian kata-kata, pengendalian moral, sebab di situlah letak dasar terutama dari idealisme keksatriaan Roma. Apa yang disebut courage di dalam empat kardinal virtue dari Aristoteles itu, sungguh-sungguh dipelajari di dalam disiplin kemiliteran Yunani dan Roma (Greeco-Roman Military academy). Sebagai seorang militer, ia mencapai sukses yang tidak kalah spektakuler dibandingkan dengan adiknya. Hanya memang dia tidak menjadi buah bibir masyarakat umum, sebab dunia militer memang bukan dunia artis yang heboh, melainkan dunia yang hening, beroperasi di dalam diam dan hening. 

Karena karakternya yang banyak diam dan hening, lagipula didukung dengan disiplin militer yang juga tidak banyak berbicara, sesungguhnya di dalam hatinya si abang ini juga mempunyai suatu pengembaraan intelektual dan rohani yang tidak kalah dahsyatnya. Ada semacam kehausan rohani yang melanda jiwanya yang tidak pernah bisa dihauskan dengan sistem keyakinan religious Romawi yang ada di sekitarnya, bahkan ia menjadi bagian utuh dari religious culture tersebut. Diam-diam ia mencari dan mencari. Berharap bisa menemukan suatu jawaban di suatu saat, dan di suatu tempat kelak. 

Sementara itu, lambat laun karier militernya menanjak dengan sangat pesat dan maju. Jabatan militer di Roma sudah tidak bisa lagi menampung dia. Memang dia harus naik ke jenjang yang lebih tinggi. Tetapi untuk itu ia harus lulus sebuah ujian. Dan ujian yang terberat pada masa itu ialah mengepalai dinas kemiliteran di daerah yang paling rawan secara politik dan militer. Dan daerah yang dianggap paling rawan pada waktu itu ialah negeri Kanaan yang meliputi Galilea dan Yudea. Di sanalah seorang prokurator Roma juga menjalani dinas kepemerintahannya. Dia adalah Pontius Pilatus. 

Nah si abang ini pun akhirnya diputuskan untuk terlebih dahulu menjalani dinas kemiliteran di negeri Kanaan itu, sebelum nantinya mendapat promosi ke jenjang jabatan yang lebih tinggi di kota Roma, ibukota kekaisaran pada masa itu. Dan terjadilah demikian. Dengan suatu pesta perpisahan yang ramai, ia dan keluarganya pun dilepaspergikan dari Roma menuju ke negeri Kanaan itu di Timur Tengah, negeri  yang tidak pernah sepi dari pergolakan militer maupun keagamaan. 

Jujur saja, sebenarnya secara manusiawi, si abang ini merasa ciut juga, apakah nanti di sana ia bisa mengembangkan karir militernya dengan baik agar bisa mencapai puncak tertinggi. Walaupun ada sejumput keraguan seperti itu, namun si abang tetap pergi dengan penuh percaya diri ke Kanaan, sebagaimana yang memang telah diajarkan oleh disiplin kemiliteran yang dipelajarinya selama ini. Ia maju tak gentar. Biarpun medan penuh hingar-bingar. Ia tetap berjalan tegar, kalau bisa orang-orang hingar-bingar pada bubar. 

Ia tidak ditempatkan di Yerusalem, melainkan di Kapernaum, di Galilea. Saat ia bertugas di sana, ia sudah sering mendengar kabar tentang seorang guru Agung yang namanya menjadi terkenal di seluruh Galilea dan Yudea dan bahkan juga di luar wilayah itu namanya terkenal. Ia sudah mendengar tentang apa yang dikerjakannya, mukjizat-mukjizat yang dikerjakannya. Tidak lupa ia juga sudah mendengar kabar tentang ajaran-ajaranNya. Entah bagaimana ia merasa tertarik sekali untuk bertemu dengan Guru Agung itu. Untuk melihat mukjizat-mukjizatNya yang terkenal itu. Terlebih lagi ia ingin sekali mendengarkan secara langsung kotbah-kotbahNya. Tetapi dari apa yang ia dengar dari kata-kata orang-orang ia sudah merasa sangat tertarik. Ia merasakan sebuah magnet menarik hatinya dari dalam. Dan daya tarik itu sangat kuat. 

Tetapi entahlah bagaimana, ada-ada saja hal yang menghalangi dia untuk bisa datang dan bertemu secara langsung dengan sang Guru Agung itu. Ada-ada saja alasan baginya untuk tidak bisa datang. Ada alasan  yang bersifat pribadi. Tetapi lebih banyak alasan yang berasal dari tugasnya sebagai seorang perwira tinggi militer. Sampai pada suatu saat ia tidak bisa menghindar lagi. Ia mempunyai seorang pegawai yang sangat baik. Karena itu, ia juga sangat menghargai pegawai itu. Entah kenapa, tiba-tiba si pegawai yang baik dan sangat dihargainya itu, jatuh sakit keras. Dan tampaknya ia akan segera mati karena sakit tersebut. 

Dalam keadaan panik, ia pun mengirim utusan untuk menghadapi sang Guru Agung. Ia meminta agar si Guru Agung itu datang untuk menyembuhkan pegawainya tersebut. Ternyata si Guru Agung berkenan untuk datang. Maka datanglah si Guru Agung ke arah rumah si perwira Roma tadi setelah diyakinkan oleh utusan orang-orang Yahudi bahwa si Perwira itu adalah orang yang sangat baik. Walaupun dia seorang Roma, tetapi ia menaruh perhatian pada bangsa Yahudi. Bahkan ia juga sudah membuktikan perhatiannya itu, dengan cara membangun rumah ibadat bagi orang Yahudi di Kapernaum. 

Tetapi begitu si Guru Agung itu, sudah mendekati rumahnya, si Perwira itu menyuruh utusannya untuk datang kepada Yesus. Ia menyuruh utusannya untuk menyampaikan kata-katanya kepada sang Guru Agung. Begini katanya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh." (Mat 8:8; Luk 7:1-10). Dan terjadilah mukjizat itu. Mukjizat itu terjadi karena bertemu dengan iman yang besar yang dipuji selangit oleh sang Guru Agung itu sendiri: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel." (Mat 8:10). 

Itulah satu-satunya kesempatan si abang itu omong dalam seluruh hidupnya. Dan omongan itu terekam di dalam injil. Tetapi si Perwira yang pendiam itu, mengucapkan sebuah kalimat efektif yang tepat waktu, tepat tempat, dan juga tepat pada seorang pendengar yang Agung dan mulia. Sejak kalimat itu terucapkan kalimat itu tidak pernah hilang lagi, bahkan menjadi abadi. Hingga saat ini setiap kali hari orang-orang Katolik di seluruh dunia, saat mereka merayakan ekaristi pasti akan mengucapkan kalimat itu menjelang komuni: "Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang kepada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh." Sudah mengalami modifikasi sedikit. Dalam bahasa Latin bunyinya demikian: Domine, non sum dignus, ut intres sub tectum meum, sed tantum dic verbo et sanabitur anima mea. Judul tulisan saya diambil dari teks bahasa Latin ini. 

Berbeda dengan ketenaran sang adik yang memprodusir mungkin ribuan mungkin juga jutaan kata-kata dalam pelbagai karya puisinya, dan juga sudah menikmati ketenaran karena kata-kata itu selama masa hidupnya, sang kakak hanya mengucapkan satu kali kalimat, tetapi kalimat itu sangat efektif, dan menjadi sangat abadi, melampaui usia si penuturnya sendiri. Luar biasa. 

Bersambung.... 

No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...