Saturday, June 27, 2020

BIARA MENYELAMATKAN GEREJA

Oleh: Fransiskus Borgias


 

W.L. Helwig, seorang penulis yang berasal dari negeri Belanda, sudah menulis sebuah buku Sejarah Gereja yang kiranya cukup terkenal dalam lingkup gereja Katolik di Indonesia. Pada akhir tahun 70an, buku ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Romo Dick Hartoko SJ, dan sudah mengalami cetak ulang sebanyak delapan kali (mungkin sekarang sudah lebih dari delapan kali, karena versi yang ada di tangan saya berasal dari awal tahun 90an). Ini adalah sebuah prestasi penerbitan yang sungguh luar biasa mengagumkan. Jarang sekali terbitan teologi seperti itu mencapai sukses yang sedemikian besar. Buku itu menjadi laris manis di pasaran buku Indonesia. Judul buku itu dalam versi terjemahan Bahasa Indonesia adalah Sejarah Gereja Kristus. Buku itu sendiri dalam versi Bahasa Indonesia terdiri atas tiga jilid, dari jilid satu sampai dengan jilid tiga. Judul asli dalam Bahasa Belanda ialah De Katholieke Kerk in de loop der eeuwen (kira-kira demikian, Gereja Katolik dalam rentang perjalanan jaman). Bahasa terjemahan dari pater Dick Hartoko, sangat menarik, indah dan renyah dibaca. Sama sekali tidak terasa kaku. Melainkan sangat serba lancar, membuat kita para pembaca seperti terbuai oleh keindahan tersebut.

Bagi saya ini adalah sebuah buku yang menarik. Menarik karena ia berhasil dengan sederhana menggambarkan secara singkat dan padat seluruh garis dan dinamika perkembangan historis Gereja Katolik sejak dari awal mula hingga ke abad duapuluh yang silam. Menurut pengamatan dan penilaian saya, pater Dick Hartoko juga sangat berhasil menampilkan gaya Bahasa yang indah dan sederhana itu di dalam versi terjemahannya sendiri. Saya tidak akan membuat catatan menyeluruh atas seluruh buku itu yang terdiri atas tiga jilid tadi. Di sini saya hanya mau memusatkan perhatian pada jilid satu saja.

Sebagai puncak dari jilid yang pertama kita menemukan Bab ketujuh yang berjudul Biara Menyelamatkan Gereja. Dalam tulisan saya kali ini saya mau memberi sebuah catatan khusus tentang hal ini. Dengan judul tersebut pengarang mau menunjukkan bagaimana hidup membiara akhirnya mampu menyelamatkan gereja dari sebuah krisis sejarah yang sangat besar yaitu krisis yang dikenal dengan sebutan krisis investitura. Pertikaian investitura itu sendiri singkatnya adalah campur tangan kaum awam ke dalam proses pemilihan para pejabat gereja, yang pada akhirnya sangat dipengaruhi oleh banyak kepentingan politik duniawi. Proses penyelamatan itu bisa terjadi berkat gerakan pembaruan yang mula-mula terjadi dalam lingkup biara itu sendiri, tetapi kemudian nafas dan ilham pembaharuan itu merambat keluar dari banteng-benteng biara sehingga bisa mempengaruhi seluruh gereja dan masyarakat Kristiani pada waktu itu. dan pusat gerakan pembaharuan biara itu dimulai di sebuah biara yang bernama Cluny (sebuah biara yang didirikan oleh seorang bangsawan yang bernama William dari Acquitane) dan kemudian berlanjut ke biara-biara yang lain seperti di Citeaux dan Clairvaux (semuanya dalam lingkup wilayah Perancis modern sekarang ini). Tentu saja hal itu sangat patut disyukuri. Salah satu tokoh terkenal dari Clairvaux ialah Santo Bernardus dari Clairvaux itu.

Dan hal yang paling menentukan ialah bahwa kemudian di dalam perkembangan sejarahnya gerakan pembaharuan Cluny ini mendapat momentum yang dahsyat dalam diri Paus Gregorius VII. Dia sendiri adalah seorang biarawan yang berasal dari lingkaran gerakan pembaharuan Cluny itu. setelah dia menjadi paus maka ia mengambil gerakan pembaharuan tersebut menjadi program seluruh gereja. Hal itulah yang bisa menjelaskan mengapa kemudian gerakan pembaharuan itu, yang semula hanya terbatas dalam biara-biara saja, akhirnya juga menjadi sebuah gerakan seluruh gereja. Efeknya ialah bahwa yang mengalami pembaharuan itu tidak hanya biara-biara (karena itulah yang menjadi tujuannya yang semula dan asali) melainkan berdampak juga bari seluruh gereja. Karena gerakan ini bermula dari Cluny (Burgundy) maka itulah sebabnya gerakan pembaharuan ini dikenal dengan sebutan Cluniac reform, atau reformasi Cluny tadi. Semuanya adalah gerakan pembaharuan dalam lingkup ordo Benediktin (karena itu juga dikenal dengan sebutan gerakan pembaharuan Benediktin), sebab itulah ordo-ordo besar yang ada dalam gereja pada jaman itu, selain Augustinian (Fransiskan dan Dominikan baru muncul pada abad ketigabelas, sebagai gerak lanjutan dari dinamika pembaharuan ini).

Tetapi ternyata saat gereja itu kemudian berkembang ke Timur seperti ke Asia (Jepang, Korea, China, India, dan Indonesia) tercatat sebuah fakta yang menarik dan mungkin juga amat mengejutkan bahwa yang bisa menyelamatkan hidup gereja di sana adalah justru kaum awam. Henry Daniel Rops misalnya pernah mencatat bahwa di Korea dan jepang pernah ada masa yang sangat panjang (mungkin hampir dua abad) di mana hidup gereja Katolik itu diselamatkan oleh kaum awam yang tetap bertekun di dalam iman dengan menjalani hidup devosional kerakyatan, tanpa nuansa-nuansa agama institusional hirarkis karena memang pada saat itu tidak ada para imam sama sekali. Lalu apa yang bisa menjelaskan hal itu? satu-satunya penjelasan ialah bahwa umat dengan setia menjaga dan memelihara hidup devosional mereka. Dengan cara itu, mereka tetap setia mempertahankan iman. Begitu para imam datang, maka mereka datang dan menabur firman di atas lahan subur yang telah disediakan oleh hidup devosional para umat yang dengan setia telah menghayati hidup devosional tersebut. Benar-benar luar biasa dan mengagumkan.

Begitu juga halnya dengan iman Katolik di Larantuka, yang bertahan karena peranan kaum awam. Sejauh yang saya ketahui gereja Katolik masuk ke daerah Larantuka, dan juga Timor Leste, karena jasa orang-orang Portugis yang menjajah wilayah tersebut sejak dari abad ke-enambelas (1500an ke atas). Hal itu berlangsung, sejauh pengetahuan saya, sampai tahun 1859 (jadi, abad kesembilan belas), di mana terjadi sebuah perjanjian singkat antara Belanda dan Portugis mengenai semacam pembagian wilayah kekuasaan dagang di kawasan Sunda Kecil. Sejak saat itu imam-imam Portugis meninggalkan wilayah Larantuka dan sekitarnya, dan hanya menyisakan Timor Leste saja (hingga tahun 1970an, saat perang kemerdekaan Timor Leste terjadi). Tatkala para imam Portugis meninggalkan wilayah tersebut, ternyata tidak segera mendapat para pengganti dari kalangan imam-imam Belanda. Para imam Belanda baru datang, sejauh pengetahuan saya, pada akhir abad ke-sembilan belas. Sesungguhnya sudah terjadi kekosongan di wilayah Larantuka mendahului tahun 1859 di atas tadi. Lalu, apa yang bisa menjelaskan bahwa iman Katolik itu hidup terus? Menurut saya, hanya satu saja jawabannya: yaitu iman umat awam, yang tetap setia memelihara iman itu dalam praksis hidup devosional mereka. Dan salah satu praksis devosional yang mereka hayati dan mereka tetap pelihara ialah praksis di sekitar perayaan pekan suci atau Semana Sancta yang terkenal itu. Hanya di atas praksis itulah, maka iman Katolik (Gereja Katolik) tetap bisa bertahan.

Tetapi peranan nyata kaum awam itu tidak menjadi judul khusus dalam buku-buku sejarah Gereja. Bagi saya itu adalah sebentuk pengabaian, suatu ketidak-relaan untuk mengakui peranan kaum awam yang sungguh nyata dan sama sekali tidak mengada-ada. Terlepas dari hal itu haruslah diakui bahwa hidup devosional umat awamlah yang menyelamatkan gereja.

 

Penulis: Dosen Teologi Biblika pada Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Ketua Sekolah Kitab Suci St.Hieronimus, Keuskupan Bandung.

 


No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...