Tuesday, June 9, 2020

BELAJAR DI BAWAH POHON (CERPEN KETANG)

Oleh: Dr. Fransiskus Borgias, MA.

 

Gedung sekolah kami, menurut saya pada waktu itu, termasuk sudah sangat bagus. Pada saat itu sekolah kami di SDK Lamba-Ketang, sudah berdinding papan. Fundasinya sudah bersemen. Walaupun lantainya belum bersemen. Tetapi itu sudah kokoh sekali. Di dalam sekolah kami merasa aman, terutama sekali saat hari-hari hujan. Kami aman dari kebasahan dan kedinginan karena diterpa angin tenggara yang kencang dan dingin itu. Angin itu serasa menerpa kencang dari belahan sebelah timur poco Ngkerok yang bertiup dari arah Kole, Hejar, Pela, Lembah Wae Lelang, dan menerpa bukit Ketang. Pada musim jagung, biasanya jagung-jagung di kebun rebah karenanya. Sungguh sebuah bencana, bencana angin. Seakan-akan lembah wae Lelang itu menjadi pintu masuk angin yang bertiup kencang dari laut selatan ke arah bagian tengah kawasan kedaluan Lelak.

Saat itu gedung sekolah kami sudah terdiri atas enam ruangan. Tidak ada ruang khusus untuk kantor para guru. Kantor para guru di masing-masing kelas guru yang bersangkutan. Pada saat itu, yang ada ialah guru kelas.  Bukan guru mata pelajaran. Artinya, kalau bapa guru A, mengajar di Kelas III, maka ia harus mengajarkan semua mata pelajaran di kelas itu. Tidak ada persoalan mengenai apa sang guru itu kompeten atau tidak. Rasanya waktu itu semua guru bisa mengajarkan semua mata pelajaran di kelas yang menjadi tanggung jawabnya. Luar biasa.

Kebetulan pintu-pintu ruang kelas sekolah kami itu menghadap ke utara. Gedung itu memanjang dari Timur ke Barat. Ruangan paling barat diperuntukkan bagi kelas satu dan kelas dua. Sesudah itu ada ruangan untuk kelas tiga. Lalu ada ruangan untuk kelas empat. Lalu ruangan untuk kelas lima. Lalu ada ruangan untuk kelas enam. Dan ruangan yang paling timur pada jaman kami dulu tidak pernah dipakai sebagai ruangan kelas. Karena ruangan di paling ujung timur itu adalah ruangan yang dikhususkan untuk kapel. Di sana ada sebuah altar. Ada juga tabernakel, dan patung bunda Maria. Di dindingnya digantung juga gambar jalan salib yang diteruskan ke ruangan kelas enam, karena ruang kapel itu tidak cukup untuk empatbelas gambar stasi jalan salib.

Berbeda dengan ruangan-ruangan kelas yang lainnya, maka ruangan yang keenam di ujung timur itu tidak dilengkapi bangku tinggi, melainkan hanya dilengkapi dengan bangku rendah (dengklek kalau Bahasa Jawanya) tempat umat ataupun anak sekolah duduk untuk mengikuti Misa ataupun Ibadat pada Hari Minggu.

Jadi, praktis, dari seluruh enam ruangan yang ada di sekolah kami itu, hanya lima yang efektif dipakai sebagai ruangan kelas bagi para siswa. Hal itu masih seperti itu semenjak saya meninggalkan sekolah tersebut saat saya masuk ke Seminari Pius XII Kisol.

Anak-anak kelas satu dan dua bisa memakai satu ruangan kelas yang sama karena biasanya anak-anak kelas dua masuk agak siang dan anak-anak kelas satu masuk pagi. Sesudah dua jam, anak-anak kelas satu akan bubar duluan. Barulah sesudah itu anak-anak kelas dua akan masuk kelas. Namun demikian, para siswa kelas dua tetap harus masuk pagi-pagi ke sekolah. Oleh karena itu, sementara menunggu giliran masuk kelas, para guru biasanya menyuruh kami anak-anak kelas dua untuk belajar sendiri.

Saya masih ingat ada beberapa hal yang harus kami pelajari bersama-sama, dan secara beramai-ramai. Di sebelah barat sekolah itu dulu ada sebuah pohon Alpukat (kami dulu menyebutnya Advokat) yang daunnya cukup rimbun. Biasanya kami anak-anak kelas dua berkumpul di bawah pohon Alpukat itu untuk belajar. Yang kami pelajari ialah doa-doa hafalan. Saat itu, anak-anak kelas dua SD sudah harus bisa menghafalkan doa-doa dalam tradisi Katolik di luar kepala. Itu adalah syarat mutlak untuk bisa diterima sambut baru. Kalau belum menghafal doa-doa tersebut maka anak tersebut tidak akan diterima untuk sambut baru. Dan hal itu tentu saja amat memalukan.

Maka kami secara bersama-sama mencoba menghafal doa-doa tersebut dalam Bahasa Manggarai tentu saja. Pagi-pagi, kami akan berkumpul di bawah pohon itu dan mulai menghafal: “Aku kali Mori, Mori Keraeng de hau. Ca, neka io pina naeng one ranga Daku. Sua, neka caro keta bon ngasang de Mori Kraeng. Telu Hiang ga leso de Mori Keraeng. Pat, hiang ga ende agu emam, kudut lewe mosem one lino hoo.” Biasanya, bagian inilah yang paling sulit untuk diingat dan dihafalkan, karena kalimatnya rada panjang-panjang. Mulai dari perintah kelima ke atas relatif cukup mudah dihafalkan karena rumusannya pendek-pendek. Dan semua siswa bisa melafalkannya di luar kepala dan berlomba cepat-cepatan dan keras-kerasan. Kencang dan ramai sekali.

Saya pikir-pikir justru hal itulah yang telah membantu mempermudah daya ingat bagi orang lain. Sebab kata-kata doa itu, karena diucapkan keras-keras, tidak lagi hanya tertera dalam bentuk tulisan huruf-huruf di kertas atau buku, melainkan kata-kata itu seakan-akan menjadi hidup dan meloncat-loncat di udara, seperti sedang berterbangan kian kemari. Sehingga dalam seluruh proses belajar (menghafal) ini yang berperan tidak lagi hanya mata yang melihat dan mempelototi bentuk-bentuk huruf, melainkan telinga juga sangat berperan, karena kata-kata itu diucapkan secara berirama oleh semua teman-teman. Dengan cara itulah kami saling bantu membantu.

“Lima, neka paki ata. Enam, neka ngoeng ata. Pitu, neka tako. Alo, neka nggopet. Ciok, neka humer naim te ngoeng ata. Cempulu, neka humer naim teo ngoeng ceca data.”

Setelah selesai menghafal Sepuluh Perintah Allah (dalam Bahasa Manggarai), lalu kami menghafal doa-doa cinta (ngaji momang), doa harapan (ngaji bengkes), doa pagi (ngaji gula), doa malam (ngaji wie), malekat Allah (malaekat de Mori Keraeng). Tidak lupa juga kami harus menghafal doa angelus dalam Bahasa Manggarai, Penggawa de Mori Keraeng mai kreba hi Maria Nggeluk, ai hia poli de’I le Nai Nggeluk…dst…dst. Kami juga harus menghafal doa Sengaji Surga (Ratu Surga, Regina Caeli) yang biasanya dipakai pada masa Paskah. Tentu saja kami juga harus menghafal doa Bapa Kami (Yo Ema Dami) dan doa Salam Maria (Tabe o Maria). Semuanya dilakukan secara bersama-sama dan beramai-ramai di bawah pohon alpukat itu.

Sesudah menghafal doa, maka tibalah giliran bagi kami untuk menghafal perkalian. Mulai dari perkalian satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, Sembilan, sepuluh. Untuk tingkat kelas dua awal cukup sampai sepuluh saja. Tetapi sesudah bulan-bulan pertama, hafalan perkalian itu juga harus sampai ke puluhan hingga ke serratus. Dan hafalan perkalian itupun diucapkan secara berirama juga. Agak sudah melukiskannya dengan kata-kata di sini. Pokoknya semua anak harus menghafalnya dengan irama lagu seperti itu. Tidak boleh dan memang juga tidak bisa dengan irama yang lain. Kalau dengan nada dan irama yang lain, maka akan terasa aneh. Dan hal itu akan langsung ditegur juga oleh guru-guru kami yang sesekali datang mengawasi kami belajar di kelas di bawah pohon alpukat yang rindang. Ah indah sekali. Penuh kenangan.

Tentu saja ada teman-teman yang nakal. Saya ingat saya punya teman, sebut saja namanya Robertus. Dia sama sekali bukan tipe orang yang bisa betah untuk duduk belajar. Dia selalu jalan-jalan. Dan suka ganggu cewek-cewek. Kebetulan di kelas kami ada satu teman puteri kami yang cantic. Sebut saja namanya Isaura. Si Robertus ini selalu mencoba duduk di dekat Isaura, walaupun si Isaura menjadi sangat malu dan marah karenanya. Tetapi Robertus sama sekali tidak peduli. Ia tetap menyosor saja. Sehingga kami pun mengolok-olok bahwa Robertus punya pacar di kelas kami yaitu Isaura. Tetapi Robertus tidak hanya suka akan teman kelas. Ia juga suka akan yang kakak kelas. Dan bahkan ada juga anak-anak kelas satu yang baru masuk sekolah. Yah begitulah cinta monyet anak-anak pada masa itu.

Kalau sudah menghafal kalian, biasanya kami juga disuruh untuk membaca teks-teks tertentu. Bahkan ada yang harus dihafalkan dari bacaan itu. Karena bacaan itu sepertinya bisa membentuk sikap dan pandangan hidup serta iman anak-anak. Dari semua bacaan hafalan yang paling saya ingat ialah hafalan bacaan teks berikut ini. ”Hatiku, milik Allah, Kepalaku milik Allah. Mataku milik Allah. Mulutku milik Allah.” Pokoknya kita disuruh dan dituntun oleh bacaan hafalan itu untuk menyebut seluruh anggota badan kita. Dan saat kita menyebut anggota badan itu, kita harus menyentuhnya juga. Misalnya, saat saya mengatakan, Hidungku milik Allah. Saya mengucapkan kata “hidungku” itu sambil memegang hidungku sendiri. Tentu yang disebut ialah bagian atau anggota tubuh yang patut disebut di muka public saja. Dan biasanya hafalan itu diakhiri dengan perkataan: Semuanya milik Allah.

Lagi-lagi Robertus. Orang ini juga paling banyak isengnya. Saat kita menghafalkan teks bacaan hafalan yang baru saja saya sebut tadi, biasanya Robertus memperagakannya secara sangat atraktif di depan teman-teman. Dan dia mulai dari atas. Kepala, telinga, hidung, mata, mulut, dagu, leher, dada, perut. Nah, lalu ia juga tunjuk ke bagian bawah perutnya. Sesudah itu ia berbalik dan menunjukkan pantatnya kepada kami semua. Tentu tidak ada yang menyangkal bahwa itu juga milik Allah karena diciptakan Allah. Tetapi rasanya tidak patut untuk disebutkan secara terang-terangan di depan public seperti dibuat oleh Robertus yang suka bikin ulah itu. Pada saat seperti itu biasanya kita semua pada tertawa. Tetapi ada teman-teman perempuan yang berusia lebih tua dari kami yang mengingatkan kami bahwa kita tidak boleh main-main dengan kata-kata itu. Karena semuanya adalah milik Allah.

Ya, memang teks-teks bacaan hafalan itu dimaksudkan untuk membentuk sikap dan keyakinan bahwa kita tidak boleh berbuat sembarangan saja dengan anggota badan kita, karena anggota badan kita adalah milik Allah.

Jauh di kemudian hari setelah saya membaca kitab suci secara langsung, saya lalu menjadi sadar bahwa teks hafalan itu kiranya berasal dari pandangan teologi santo Paulus yang pernah mengatakan bahwa Tubuh kita adalah Bait Roh Kudus. Karena tubuh kita adalah bait Roh Kudus, maka kita tidak boleh berdosa dengan tubuh kita. Kita harus memuliakan Tuhan dengan tubuh. Tubuh memang untuk Tuhan. Bukan untuk percabulan.

 

Penulis: Dosen dan Peneliti Senior FAKULTAS FILSAFAT UNPAR BANDUNG.

 


No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...