Sunday, June 21, 2020

ATG – MENGENAL CLETUS GROENEN OFM

Oleh: Fransiskus Borgias

Dosen Teologi Biblika pada FF-UNPAR, Bandung.

 

 

Pater Cletus Groenen. Sebuah nama besar dalam dunia teologi, khususnya teologi biblika di Indonesia. Ia adalah seorang dosen ilmu Kitab Suci pada Seminari Tinggi, Kentungan, Yogyakarta. Ia adalah seorang imam Fransiskan. Ia berasal dari negeri Belanda. Tetapi ia menamatkan sekolah Kitab Sucinya di Roma. Tetapi bukan di Biblikum, juga bukan di Gregoriana, melainkan di Antonianum, universitas milik para pater Fransiskan di Kota Abadi itu. sudah sejak tahun 50-an ia datang untuk berkarya di Indonesia. Mula-mula di Seminari Tinggi Fransiskan di Cicurug, Sukabumi, tetapi kemudian di Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta.

Sebenarnya saya sendiri sudah pernah mendengar dan membaca sesuatu tentang nama Cletus Groenen (selanjutnya akan disingkat CG saja) sejak saya masih duduk di bangku Seminari Kecil dan Menengah Pius XII, Kisol, Manggarai Timur, Flores. Pada saat itu saya membaca tentang dia dalam beberapa berita yang ada di dalam majalah mingguan Hidup, ataupun juga dalam pelbagai tulisan dia yang muncul di dalam majalah bulanan Rohani, juga dalam majalah spectrum dari KWI, juga dalam majalah Orientasi, dan terutama sekali dalam buku-buku kitab suci yang dia tulis dalam bidang Kitab Suci, baik yang terbit di Kanisius, maupun terutama yang terbit di Nusa Indah, Ende, Flores.

Setelah tamat dari Seminari Menengah Pius XII Kisol, saya masih melewatkan masa pendidikan Postulant OFM di Biara Santo Yosef Pagal, Manggarai. Di sanalah, selama satu tahun, saya semakin banyak mengenal pater CG lewat majalah bulanan khusus intern keluarga OFM, yaitu Taufan yang asyik dan menghibur itu. Saya juga bisa mengenal beliau melalui majalah dwi-bulanan keluarga Fransiskan, yaitu Perantau, sebab beliau sering sekali menulis di sana tentang hal-hal yang berkaitan dengan spiritualitas Fransiskan. Di postulant ini juga saya bisa mengenal beliau lewat beberapa kepustakaan yang khas Fransiskan.

Hingga tahun 1982, bulan Juli, saya masih belum sempat bertemu dengan dia secara langsung, dari muka ke muka. Karena saya masih di Flores dan dia tinggal di tanah Jawa, persisnya di kota Yogyakarta. Sampai saat itu saya juga tidak tahu apakah ia pernah ke Manggarai. Yang jelas ialah bahwa pertemuan saya yang pertama dengan beliau baru terjadi pada pertengahan bulan Juli 1982. Setelah selesai dengan masa pendidikan postulant kami di Pagal selama satu tahun, saya dengan teman-teman lalu ramai-ramai berangkat menuju ke Yogyakarta untuk memulai pendidikan lanjutan kami yaitu di dalam novisiat Fransiskan di Biara Santo Bonaventura, Yogyakarta.

Baru pada saat itulah saya baru sempat bisa bertemu secara langsung dari muka ke muka dengan beliau. Saat itu ia tinggal di biara santo Bonaventura, Jl.Legi Papringan, No.7, Kotak Pos 29, Yogyakarta. Sehari-hari ia mengajar di Fakultas Teologi di Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta, dan juga di STKAT Pradnyaparamita, Yogyakarta juga.

Sejak pertama kali saya melihatnya secara langsung saya langsung kagum dan terkesan sekali: Ia orangnya sangat serius, tekun, pekerja keras, matiraganya kuat (makannya sedikit) yaitu ia hanya makan roti sepotong saja di pagi hari, sedikit nasi di siang hari. Badannya sangat ramping (bahkan cenderung ke arah kurus). Ia juga selalu mengenakan jubah hitamnya. Hidupnya serba sangat teratur dan berirama. Yang sangat menarik perhatian saya ialah, walaupun dia seorang imam, seorang doctor Kitab Suci, seorang dosen yang terkenal, toh ia setiap hari mencuci pakaiannnya sendiri. Ia keringkan pakaiannya sendiri, pokoknya semuanya, dengan cara digantung dengan gantungan di jendela kamarnya yang terbuka kea rah taman bunga. Tampaknya tidak di setrika.

Ia juga seorang perokok sejati. Tidak ada waktu yang tanpa merokok. Ia hanya berhenti merokok kiranya saat ia tidur dan merayakan perayaan ekaristi dan brevir. Pada saat makan, dia juga makan cepat dan sesudah itu ia merokok. Di luar jam-jam itu ia merokok. Ia seorang perokok berat sudah bagaikan gerbong atau lokomotif Kereta Api yang terur berjalan. Ia bangun pagi-pagi dan pergi tidur larut malam, seperti kata pemazmur itu. Ia sangat rajin dan sangat tekun membaca. Di meja kamarnya selalu ada buku tebal yang terbuka dan sedang dibacanya dengan tekun.

Oleh karena ia sangat suka merokok, maka ada banyak lubang-lubang kecil pada jubahnya. Lubang-lubang kecil itu ada di mana-mana, karena pengaruh percikan apir rokoknya sendiri. Ia juga seorang penasihat dan bapa rohani yang tegas dan berwibawa, tetapi juga terkadang jenaka. Selama di masa novisiat saya lebih dari tiga kali pergi meminta waktu dia untuk bimbingan rohani, berbicara dari hati ke hati tentang masalah hidup doa dan hidup seksualitas dan tentang drama jatuh cinta anak manusia.

Di bagian lain saya akan menceritakan satu persatu momen-momen itu. tetapi di sini saya lanjutkan dulu peristiwa perkenalan awal saya dengan beliau. Yang jelas, tidak pernah sekalipun saya melihat dia mengenakan pakaian lain selain jubah. Ia selalu berjubah. Jubah itu adalah pakaiannya sehari-hari, bukan hanya sekadar pakaian formalitas untuk urusan liturgis kegerejaan dan kealtaran saja. Sungguh-sungguh mengagumkan.

Pada suatu kali, saya lupa persis kapan waktunya, saya melihat dia pergi keluar. Oh ya bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Pada saat itu ia mengenakan celana panjang hitam dan baju atasan biru sangat muda (cenderung ke arah putih) dan berlengan panjang. Bajunya itu ia masukin ke dalam celananya. Istilah kami di Flores, khususnya di Manggarai, stell-in (lawannya stell-out). Entah diperoleh dari mana istilah itu. pater CG tampak ramping sekali dan cakep juga. Malam itu ia dijemput oleh seorang bule. Jauh di kemudian hari saya baru tahu bahwa itu tidak lain adalah Pater Dr.Bernhard Kiesser SJ, dosen teologi Moral di seminari Tinggi Kentungan, Yogyakarta.

Saya mendapat penjelasan dari para senior bahwa konon mereka pergi makan di sebuah restoran karena pada hari itu pater CG sedang merayakan hari ulang tahunnya. Belakangan juga saya diberitahu bahwa hanya Pater Bernhard Kiesser sajalah yang bisa mengajak pater CG pergi keluar untuk makan di restoran dengan mengenakan busana sipil (non-jubah). Tetapi itupun tidak pada sembarang waktu. Melainkan hanya pada kesempatan ulang tahunnya saja.

Konon tidak pernah ada vicaris dan kemudian provincial OFM yang bisa membujuk atau mengajak pater CG untuk pergi keluar dengan mengenakan busana sipil, seperti yang bisa dilakukan oleh Pater Kiesser. Maklum, pater Kiesser, konon, dulu adalah mahasiswa kesayangan pater CG, dan hubungan yang baik itu masih terus berlangsung bahkan setelah pater Kiesser sendiri juga sudah menjadi dosen teologi Moral di Seminari Tinggi Kentungan. Ah, pater CG yang unik, nyentrik, eksentrik.

 

                                           


No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...