Saturday, June 20, 2020

DRAMA NATAL JEAN PAUL SARTRE

Oleh: Fransiskus Borgias M.

 

 

Jean Paul Sartre, sastrawan, dan filsuf eksistensialis Prancis yang terkenal itu, pernah juga menulis sebuah naskah drama Natal. Hal itu ia lakukan pada masa Perang Dunia Kedua sedang berlangsung dengan sengitnya di Eropa. Pada saat itu, Jerman (Nazi) sedang menyerbu dengan penuh nafsu negara-negara lain tetangganya. Hal itu terjadi di bawah masa pemerintahan Adolf Hitler, Der Fuehrer itu yang terkenal dengan Mein Kampft-nya itu. Memang judul karyanya adalah sebuah drama Natal. Tetapi sesungguhnya yang menarik perhatian Sartre di dalam naskah drama Natal itu bukanlah peristiwa Natal itu sendiri. Focus perhatian dia jauh sekali dari peristiwa Natal itu. Ia hanya memakai peristiwa Natal sebagai konteks historis bagi drama yang ia tulis. Yang pasti Natal itu sendiri tidak sangat menarik bagi Sartre yang pada saat itu sudah mengakui diri sebagai seorang ateis, walaupun oleh neneknya di masa kecilnya ia dibesarkan secara Katolik dan dalam tradisi Katolik Prancis yang kental dan kuat.

Di dalam naskah drama itu Sartre justru tertarik pada satu fakta yang lain sama sekali. Yaitu Negeri Kanaan (negara Israel modern dewasa ini) diserbu dan dikuasai oleh bala tentara Kekaisaran Roma. Di dalam naskah itu Sartre mengecam peristiwa penyerbuan dan pendudukan itu oleh bala tentara Roma. Jadi, Sartre menempatkan konteks historis dramanya jauh di masa silam, pada masa-masa awal jaman Perjanjian Baru, Common Era, Christ Event, Anno Domini, Tahun Masehi.

Tentu saja para pembaca dan penonton sama sekali tidak akan keliru di dalam menafsirkan dan memahami maksud dari drama Natal ini. Sesungguhnya Sartre mau mengecam penyerbuan dan pendudukan yang dilakukan oleh Jerman kepada negara-negara lain yang ada di sekitarnya. Dalam kasus Sartre tentu saja ialah pendudukan dan penyerbuan oleh Jerman terhadap Prancis. Jadi, boleh dikatakan bahwa matanya sebagai penulis drama memang sedang memandang ke masa silam, tetapi hatinya justru sedang ada di sini, sedang memandang ke masa kini, sekarang dan di sini (hic et nunc).

Dengan cara penulisan seperti ini, Sartre sebenarnya mau menghindari sebuah konfrontasi dan konflik. Ia tidak mau secara frontal mengecam Jerman. Sebab hal itu pasti akan sangat berbahaya bagi hidup Sartre sendiri. Tetapi harus ada kritik dan kecaman yang keras. Maka apa yang dibuat Sartre ialah menengok ke masa silam dan di sana ia menemukan kisah yang kurang lebih sama dengan apa yang sedang terjadi secara nyata sekarang dan di sini. Melalui pengolahan ulang atas cerita itu ia menyampaikan pesan dan kritik politiknya untuk dan pada masa kini. Informasi singkat tentang hal ini dapat dibaca di dalam buku dari Prof.Kees Bertens, Filsafat Barat Abad XX, Jilid 2, Prancis (Jakarta, Gramedia: 1996). Informasi khusus tentang drama Natal ini ada dalam halaman 85.

Ketika menulis tentang hal ini saya tiba-tiba teringat akan beberapa gejala lain yang kurang lebih seperti itu yang saya temukan di dalam Kitab Suci Yudeo-Kristiani. Di sana, di dalam Kitab Suci itu ada dua pengarang juga yang memakai metode yang sama. Yang pertama ialah Daniel dan yang kedua ialah Pengarang kitab Ruth. Sejauh yang saya ketahui, kitab Daniel itu ditulis atau muncul kurang lebih dua abad sebelum Masehi. Kita semua tahu bahwa pada kurun dua abad sebelum Masehi itu, negeri Kanaan (Israel) sedang berada di bawah himpitan dan tekanan pergerakan budaya dan agama Helenis. Terutama di bawah pemerintahan raja Antiokhus Epifanes dari Syria, maka orang-orang Israel di tanah Kanaan dipaksa untuk meninggalkan tradisi agama leluhurnya dan menjadi penganut agama Helenisme, sebab itulah yang menjadi cita-cita dasar dari pergerakan Helenisme yang mulai dicanangkan oleh Alexander Agung itu dan diteruskan lebih lanjut oleh para panglima perangnya.

Orang-orang Israel menjadi sangat menderita di bawah tekanan dan himpitan kekejaman militer dan terutama religious yang dilakukan oleh Antiokhus Epifanes. Terhadap tekanan itu muncullah pemberontakan kaum Makabe, yang memang untuk sementara waktu bisa mempertahankan kedaulatan Israel, tetapi akhirnya juga kalah. Berbeda dengan kaum Makabe, yang mengangkat senjata di bawah pimpinan Yudas Makabe itu, nabi Daniel menempuh sebuah jalan pendekatan yang lain. Ia mengecam dan mengeritik kebijakan sang raja itu, tetapi ia lakukan hal itu tidak secara langsung dan frontal. Melainkan ia menempatkan setting atau latar belakang ceritanya jauh ke masa silam, yaitu kea bad keenam ataupun kelima sebelum Masehi, di bawah masa pemerintahan Nebukadnezar.

Kekejaman Raja inilah yang ia lukiskan dan juga menubuatkan bahwa akan segera tiba saatnya untuk menjadi hancur dan runtuh. Sedangkan Israel akan menjadi selamat dan hal itu dilambangkan dengan tidak terbakarnya tiga pemuda Israel itu yang dihukum di dalam tanur api. Mereka tidak terbakar sama sekali karena mereka dilindungi oleh Malaekat, sehingga saat raja mengintip ke dalam tanur api itu, ia melihat ada empat orang, padahal ia hanya menjebloskan tiga orang saja. Dengan cara menempatkan setting cerita jauh ke masa silam, maka penguasa politik saat ini yang lalim dan kejam tidak bisa menjadi tersinggung sama sekali. Kalaupun toh ia tersinggung, Nabi Daniel bisa membela diri dengan mengatakan bahwa cerita yang ia susun bukanlah tentang dia melainkan tentang seseorang yang lain di masa silam. Titik. Beres. Habis perkara.

Pengarang yang lain ialah pengarang kitab Rut. Sesungguhnya orang ini adalah orang yang hidup pada masa Ezra dan Nehemia yang ditugaskan oleh Cyrus untuk membangun kembali Bait Allah di Yerusalem. Ketika Ezra melaksanakan tugas itu, ia juga melakukan semacam aksi pemurnian etnis. Caranya? Dengan menyuruh semua orang Israel yang kawin campur dengan orang bukan Israel agar segera menceraikan isteri-isteri mereka. Tentu saja hal itu amat menyedihkan. Maka muncullah penulis kitab Rut. Pesan pokok Rut hanya satu: Orang asing juga ada yang baik. Beristerikan orang asing tidak selalu merupakan hal yang tercela sama sekali. Buktinya? Ya si Rut itu. Rut adalah seorang perempuan Moab, jadi seorang Kafir. Tetapi ia berjanji setia kepada Naomi, sang ibu Mertua dan akhirnya kembali ke Betlehem dan menikah dengan Boaz di sana, dan itulah cikal-bakal leluhur Raja Daud yang terkenal itu. (Tentang Rut ini saya sudah membuat catatan yang lebih panjang di tempat yang lain).

Selain dengan cara seperti di atas tadi, ada juga pengarang lain yang memakai cara atau pendekatan yang lain. Misalnya dengan memakai fable. Memakai dunia binatang sebagai sindiran pedas kepada manusia. Mochtar Lubis memakai cara seperti ini. Hal itu tampak sangat jelas di dalam novelnya yang sangat menarik, Harimau-harimau. Lubis sebenarnya mengecam lawan politiknya yaitu Soeharto, sang arsitek dan penguasa Orde Baru. Harimau itu menjadi musuh bersama-sama para pencari kulit kayu manis di hutan. Ada seorang tokoh yang disebut Pak Dhe. Nah Pak Dhe ini mengembangkan sebuah narasi tentang harimau dan tentang takut akan harimau. Ia juga mengatakan bahwa hanya dia saja yang bisa mengatasi harimau karena dia saja yang jago menembak di kampung mereka. Hal itu orang percayai, karena hanya dia saja yang mempunyai senapan dan terbiasa memegang senapan itu. hal itu berlangsung sampai terbukti bahwa hal itu tidak benar. Maka sejak saat itu, otoritas Pak Dhe pun runtuh.

 


No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...