Wednesday, August 17, 2011

MAHATMA GANDHI

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Pada hari ini, 28 Januari 2010, saya tiba-tiba teringat akan sebuah buku biografi tentang Mahatma Gandhi, seorang tokoh agung dari India yang kita kenal semua. Buku itu sangat menarik perhatian saya. Tetapi sayang, sekarang saya sudah tidak ingat lagi apa persis judul buku tersebut. Namun demikian dari buku itu ada beberapa hal yang sangat penting untuk direnungkan bersama sekarang dan di sini. Itulah beberapa hal yang tetap hidup dalam ingatan saya sampai sekarang setelah membaca buku tersebut.

Salah satu adegan penting yang dikisahkan di sana ialah kisah pertobatan dramatis Gandhi sendiri yang menyebabkan dia menjadi seorang pahlawan besar bagi India paling tidak dengan dua prinsip hidup dan filsafatnya yang maha terkenal itu: ahimsa dan satyagraha. Gandhi itu adalah seorang yang berasal dari kaum keturunan Brahma (kasta yang tinggi dalam sistem kemasyarakatan India); dalam posisi sosial yang begitu tinggi dari keluarganya ia mendapat kesempatan besar untuk belajar di luar negeri yaitu tepatnya di Inggris. Ia tidak melewatkan kesempatan emas itu. Ia belajar di Oxford, sebuah universitas yang sangat terkenal di Inggris sejak dari Abad Pertengahan hingga sekarang ini. Sekali lagi saya tekankan di sini bahwa ia berasal dari kasta tertinggi di India.

Ia belajar dengan baik dan juga lumayan berprestasi. Setelah selesai belajar di Inggris ia kembali ke India. Sekarang boleh dikatakan bahwa ia memiliki modal sosial yang sangat besar dan kuat: pertama, ia berasal dari kasta tinggi, dan sekarang ia sudah terpelajar pula, apalagi ia seorang jebolan dari sebuah universitas ternama di Inggris. Maka jadilah ia sebagai seorang pegawai pada kantor pemerintah kolonial Inggris di India.

Tetapi kemudian ia ditugaskan di Afrika Selatan yang saat itu juga merupakan salah satu koloni Inggris. Di sana ia mengalami semacam cultural shock, bahkan juga mungkin mengalami semacam kebingungan orientasi sosial. Afrika Selatan saat itu berbasis rasialis yang ketat. Orang kulit putih dibedakan secara tegas dan ketat dari orang kulit hitam. Gerbong kereta api orang negro lain dari gerbong kereta api bagi orang-orang berkulit putih. Mereka tidak boleh tercampur atau salah masuk gerbong. Begitu juga dengan bis. Begitu juga sekolah. Begitu juga gereja jika mereka adalah penganut Kristiani. Begitu juga halnya dengan restauran.

Konon pada suatu saat Gandhi naik kereta api menuju ke suatu tempat tujuan tertentu. Di sinilah drama kebingungan orientasi sosial itu dimulai. Gandhi tidak mau membeli tiket di gerbong orang negro, karena ia bukan orang hitam (Afrika); ia berasal dari Asia, dari kasta tertinggi pula. Karena itu ia lalu membeli tiket untuk gerbong kereta orang kulit putih. Dan ia mendapat tiket itu.

Tetapi di tengah perjalanan konon ada pemeriksaan oleh petugas kereta api. Dan oleh para petugas itu ia dinyatakan kedapatan salah beli tiket, dan juga salah masuk gerbong. Tentu saja Gandhi tidak mau menerima anggapan dan tuduhan itu. Ia diminta untuk pergi ke gerbong orang hitam, namun ia tidak mau karena memang ia bukan orang berkulit hitam. Bahkan ia juga ikut memandang rendah orang hitam. Ya, memang ia adalah orang Asia. Tetapi aturan rasis tetaplah aturan rasis. Konon serta merta Gandhi dipaksa turun (bahkan ada versi yang mengatakan bahwa ia dibuang ke luar) di tempat itu juga, padahal itu bukanlah stasiun, melainkan masih di tengah hutan. Harga diri Gandhi sebagai orang Asia dari Kasta Tertinggi dan terpelajar pula, serta-merta serasa terbanting dan direndahkan. Tentu saja Gandhi sangat marah. Bagaimana mungkin ia dibuang begitu saja di tengah hutan. Tidak tahu harus meminta pertolongan ke mana atau dari mana.

Konon orang pertama yang datang untuk menolong dia adalah orang Negro. Dan itulah yang menjadi momen pertobatan bagi Gandhi. Orang yang kelompoknya selama ini ia hindari, bahkan mungkin ia pandang rendah juga, justru dari sanalah muncul pertolongan yang tidak terduga-duga, dan yang memang sangat ia butuhkan sekarang dan di sini dalam situasi keterlemparan dan keterpurukan. Maka sejak saat itu Mahatma Gandhi bersumpah untuk melawan kolonialisme dan rasialisme (praksis apartheid) di mana pun di muka bumi ini.

Setelah mengabdi beberapa waktu lamanya di Afrika Selatan ia kembali ke India dan di sana ia memulai sebuah gerakan sosial politik. Di sana ia sangat mengutamakan sebuah gerakan rohani, sebuah gerakan tanpa kekerasan, ahimsa, non-violence movement. Juga ia sangat menekankan agar orang berpegang teguh pada kebenaran (satyagraha). Ia juga sangat menekankan kedaulatan sandang dan pangan (swasembada, swadaya). Itulah sebabnya Gandhi sejak saat itu mulai mengenakan busana khas India, semacam sari (kain tanpa jahitan untuk menutup badan) tetapi yang untuk lelaki. Dan dengan itu ia pun mempunyai daya kekuatan dan basis moral untuk melakukan perjuangan-perjuangan politiknya. Dan akhirnya ia menang. Dan ia pun menjadi seorang tokoh sejarah yang penuh kharisma dan bisa mengilhami banyak orang lain di berbagai belahan dunia. Ia adalah seorang yang mempunyai jiwa besar: Maha Atma.


Bandung, 28 Januari 2010
Diketik dan diperluas, Yogyakarta 18 Agustus 2011

No comments:

PEDENG JEREK WAE SUSU

Oleh: Fransiskus Borgias Dosen dan Peneliti Senior pada FF-UNPAR Bandung. Menyongsong Mentari Dengan Tari  Puncak perayaan penti adala...